Anda di halaman 1dari 8

Penerapan Lock Out-Tag Out

(LOTO)
Posted on 26/09/2014 by katigaku.id

Lock out-Tag out (LOTO) bertujuan untuk mengendalikan sumber-sumber


energi yang berbahaya. Cara ini dapat menjadi isolasi pada sumber listrik
kinetis dan potensial, kimia, panas, hidrolik, pnuematik, serta energi
gravitasi yang disebabkan oleh perbaikan alat, penyesuaian atau
pemindahannya (OSHA Standard 29 CFR 147).

LOTO difungsikan untuk menyediakan pekerja dengan perlindungan


dari energization secara tiba-tiba, penghidupan energi, atau juga pada
proses penyimpanan dan pelepasan energi ketika melakukan aktifitas
perbaikan dan pemeliharaan. LOTO juga dapat memisahkan 2 tipe
aktivitas di tempat kerja yaitu aktivitas perbaikan/pemeliharaan dan
aktivitas produksi normal.

Aktivitas produksi normal adalah mode ketika mesin selaku sumber energi
atau peralatan yang dioperasikan untuk melakukan proses pembuatan
produk atau digunakan untuk membantu proses pembuatan produk. Pada
aktivitas ini, bahaya-bahaya keselamatan kerja dapat saja muncul seperti
tersayat/terpotongnya bagian tubuh atau juga bahaya akibat pergerakan
mesin sehingga dapat menyebabkan risiko kecelakaan kerja akibat terjepit
mesin.

Pada akitivitas produksi normal, risiko-risiko keselamatan kerja akibat


sumber-sumber energi berbahaya sebenarnya sudah dikendalikan dengan
adanya pelindung pada setiap mesin. Akan tetapi, pelindung mesin itu
tidak akan dapat mengendalikan risiko keselamatan kerja apabila terdapat
proses perbaikan atau pemeliharaan mesin karena operator yang
melakukan perbaikan harus melepas atau menerobos pelindung tersebut,
menempatkan anggota tubuhnya di area dimana ia dapat terpajan
lepasnya energi secara tiba-tiba atau juga adanya risiko mesin yang ia
diperbaiki dapat dinyalakan oleh orang lain tanpa pemberitahuan ia.
Dalam kasus ini, LOTO dapat melindungi operator yang melakukan
perbaikan atau pemeliharaan dari risiko-risiko yang telah disebutkan
sebelumnya.

Aktivitas perbaikan/ pemeliharaan didefinisikan sebagai kegiatan di


tempat kerja yang meliputi kegiatan pemasangan, setting up (pemanasan
mesin), pemeriksaan, penyesuaian mesin, perbaikan, penggantian,
membangun, serta modifikasi. Ketika dalam proses
perbaikan/pemeliharaan mesin-mesin selaku sumber energi dimatikan
sehingga menyebabkan proses produksi terkait dapat berhenti. Hal ini
dapat menyebabkan operator perbaikan/pemeliharaan dapat terpajan
oleh terlepasnya energi secara tiba-tiba. LOTO merupakan salah salah satu
tindakan pengendalian yang tepat untuk untuk mencegah energi yang
lepas secara tiba-tiba karena teraktivasi atau dihidupkannya mesin ketika
proses perbaikan/pemeliharaan (OSHA Standard 29 CFR 147).

LOTO tidak diterapkan pada situasi di mana pajanan kepada bahaya dari
sumber energi (mesin), baik energi yang aktif atau tidak, dapat dengan
mudah dikontrol dengan melepaskan kabel sumber listrik mesin dari saklar
listrik atau ketika kabel yang terlepas itu berada dalam kontrol
sepenuhnya dari petugas perbaikan yang me-non aktif-kan mesin
(Erickson,1996). Namun, petugas K3 diharuskan untuk benar-benar
memperhatikan pilihan ini karena banyak keadaan ketika pekerja berpikir
bahwa dia telah melakukan pengendalian efektif melalui melepaskan kabel
dari sumber listrik, tapi kenyataannya pekerja itu belum/tidak
melakukannya sehingga dapat timbul risiko ketika ada pekerja lain yang
dapat kembali mengaktifkan mesin tersebut.

Prosedur Pengendalian Energi Menggunakan LOTO

Bagian penting dari program pengendalian energi adalah prosedur


pengendalian energi harus menggunakan langkah yang tepat selama
masa-masa perbaikan dari mesin untuk mencegah kecelakaan yang
bersumber dari terlepasnya energi. Masing-masing prosedur harus diatur
sesuai dengan masing-masing karakteristik dari mesin, namun jika
memang dalam suatu pabrik banyak memiliki mesin yang sejenis,seperti di
pabrik pengolahan plastik, maka prosedur yang sama dapat digunakan.

Sebelum melakukan prosedur pengendalian energi, petugas K3 harus


mengidentifikasi semua mesin atau peralatan yang dapat mengeluarkan
energi secara tiba-tiba dan menimbulkan kecelakaan ketika masa
perbaikan. Jenis-jenis energi harus benar-benar diperhatikan seperti enegi
mekanik (misalnya: tekanan dan torsi), hidrolik, pneumatik, kimia, panas,
gravitasi serta listrik (Erickson,1996).

Prosedur pengendalian energi harus mencakup informasi berikut


(Erickson,1996):

Nama perusahaan pembuat mesin/peralatan yang akan


dikendalikan energinya. Petugas K3 juga disarankan untuk memberikan
kode dalam setiap mesin termasuk mesin yang ingin dikendalikan
energinya. Biasanya, daftar nama mesin dan kode yang diberikan akan
termasuk pada lampiran pada laporan program LOTO.

Pernyataan kondisi spesifik yang sedang dilakukan seperti: general


maintenance (pemeliharaan umum), maintenance requiring
disassembly (pemeliharaan yang membutuhkan pelepasan bagian tertentu),
atau annual shutdown and inspection (inspeksi dan pe-non aktif-an
tahunan).

Identifikasi dari berbagai macam tipe dari energi aktif dan energi
yang disimpan (stored energy) termasuk pada jumlah setiap jenis energi
(misal: volt, psi, derajat fahrenheit). Bahaya energi kimia harus
diidentifikasi berdasarkan jenis dari bahayanya
seperti: corrosive,explosive atau toxic gas.
Petunjuk spesifik untuk mematikan mesin, isolasi, blocking, dan
mengamankan mesin atau peralatan untuk mengendalikan energi yang
berbahaya. Prosedur dasarnya meliputi penggunaan: (a) gembok, (b) label
peringatan atau (c) restraining devices (peralatan untuk menahan seperti
rantai atau jeruji, (d) kombinasi dari ketiganya.

Petunjuk spesifik untuk mencoba mesin atau peralatan untuk


mengetahui tingkat efektifitas dari LOTO

Persyaratatan lain untuk memastikan keselamatan dari personel


termasuk persyaratan terkait dengan pakaian pelindung dan persiapan
sebelum pemeliharaan yang lain
Gambar 2.6 Contoh Prosedur Pengendalian Energi

(Sumber : OSHA Standard 29 CFR Part 1910.147)


Adapun tahap-tahap berurutan dalam mengisolasi energi adalah sebagai
berikut:

1. Pemberitahuan mengenai personel yang terkena dampak. Tujuan


dari tahap ini adalah memberi informasi kepada pekerja yang terkena
dampak agar meminimalisasi kemungkinan cidera.

2. Persiapan untuk mematikan mesin. Tujuan dari tahap ini adalah


memastikan semua energi yang terhubung dengan mesin, baik aktif
ataupun pasif, sudah benar-benar dikendalikan.

3. Mematikan mesin.

4. Isolasi mesin atau peralatan.

5. Pemberian peralatan LOTO.

2.4.2 Piranti Keras (Hardware) LOTO

Piranti keras dasar yang termasuk ke dalam program pengendalian energi


meliputi 3 jenis alat (Erickson,1996):

1. Alat mengisolasi energi (isolating device), alat ini berfungsi untuk


mencegah transmisi atau terlepasnya energi yang berbahaya. Contoh dari
alat ini termasuk circuit breaker, panel energi, tombol pemutus hubungan
listrik serta line vavlve.

2. Alat pengunci (lockout device), alat ini menggunakan kunci atau


kombinasi untuk memastikan alat isolasi energi berada dalam kondisi yang
aktif.

3. Label (tagout device), alat ini merupakan label atau tanda yang
mencolok yang dapat mengkomunikasikan peringatan bahwa mesin atau
peralatan yang dipasang label tersebut, tidak dapat dioperasikan hingga
label dilepas.
LOTO memiliki peraturan khusus terkait dengan standar gembok (lock)
dan label (tags). Peraturan tersebut termasuk yang terkait dengan
kekuatan,daya tahan terhadap tekanan temperatur lingkungan,
kelembapan dan tingkat pengaratan, warna dan bentuk gembok serta
format cetak dan legenda dari label (Erickson,1996).

Gambar 2.7 Gembok serta Label LOTO

Berikut adalah Poin Penerapan Terbaik dalam LOTO yang pernah saya
temui:

1. Buat Pemetaan semua mesin/tombol yang menggunakan LOTO


beserta dengan jenis LOTO yang digunakan

2. Siapa yang memasang LOTO dia yang harus melepas LOTO

3. Masing-masing teknisi harus punya LOTO yang terdapat namanya

4. Berikan sign Lockout point dalam setiap titik yang harus


menggunakan LOTO

5. Record book LOTO harus selalu diisi sebagai bukti penggunaan LOTO
Referensi
Erickson, Paul A. (1990). Practical Guide To Occupational Health And
Safety. San Diego: Elsevier Science.

Occupational Safety and Health Administration. (2002) Factsheet


LockOut/TagOut. Wahsington: U.S. Departement Of Labor.