Anda di halaman 1dari 8

1.

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Oklusi berasal dari kata occlusion, yang terdiri dari dua kata yakni oc yang berarti ke
atas (up) dan clusion yang berarti menutup (closing). Jadi occlusion adalah closing up
atau menutup ke atas. Dengan demikian pengertian oklusi adalah berkontaknya gigi
geligi rahang atas dengan permukaan gigi geligi rahang bawah pada saat kedua rahang
tersebut menutup.

Oklusi merupakan fenomena komplek yang terdiri dari gigi geligi, ligamen
periodontal, rahang, sendi temporomandibular, otot, dan sistem saraf. Posisi oklusi gigi-
geligi berperan besar dalam keadaan fisiologis. Selain faktor fisiologis, kenyamanan
merupakan faktor penting lain yang menyebabkan oklusi gigi geligi perlu diperhatikan
secara tepat dan akurat. Suatu gigi yang hilang harus segera diganti dengan gigi tiruan
agar tidak mengganggu fungsi oklusi.

Pada hakikatnya penggantian gigi tiruan berfungsi untuk pengunyahan, pengucapan,


estetis, menjaga kesehatan jaringan, serta mencegah kerusakan lebih lanjut dari struktur
organ rongga mulut. Untuk menunjang fungsi-fungsi diatas diperlukan keseimbangan dan
keharmonisan antara komponen sistem pengunyahan, baik gigi-geligi, otot dan sendi
temporomandibular yang semuanya berfungsi dengan baik.

Posisi dan oklusi gigi berperan penting dalam mengunyah, menelan, dan juga
berbicara. Oklusi dapat diartikan sebagai kontak antara gigi geligi secara langsung yang
saling berantagonis dari satu rangkaian gerakan mandibula. Oklusi yang keliru bisa
menimbukan masalah, misalnya penyakit jaringan periodontal atau gangguan fungsi
sendi temporomandibular.

Oklusi gigi geligi terbagi atas :

1. Oklusi statis yang mengacu pada posisi dimana gigi-gigi atas dan bawah saling
berkontak.
2. Oklusi fungsional mengacu pada gerak fungsional dari mandibula dan karena itu, gigi
geligi bawah berkontak dengan gigi geligi atas. (T.D. Foster, 1997)

Pola posisi gigi yang bervariasi ditentukan oleh ukuran, bentuk, dan hubungan
rahang dengan otot-otot bibir, pipi, dan lidah. Gigi berkembang dalam rahang dan
sewaktu bererupsi ke dalam rongga mulut, gigi diarahkan ke posisinya oleh otot wajah
1
dan lidah. Idealnya dengan lidah di bagian dalam lengkung gigi dan bibir serta pipi
membentuk tekanan penuntunan perifer. Detail yang halus dari posisi gigi barangkali
ditentukan oleh posisi istirahat dan fungsional dari mandibula, walaupun situasinya bisa
saja terbalik dan posisi gigi yang tidak benar bisa mempengaruhi fungsi mandibula. (T.D.
Foster, 1997)

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana oklusi yang normal dan ideal ?
2. Bagaimana keadaan kelainan oklusi gigi geligi (maloklusi) ?

2. Pembahasan
2.1. Oklusi yang Normal dan Ideal
Leroy Johnson menggambarkan oklusi normal sebagai bentuk suatu kondisi oklusi
yang berfungsi secara harmonis dengan proses metabolik untuk mempertahankan struktur
penyangga gigi dan rahang berada dalam keadaan sehat. Oklusi dikatakan normal jika:
susunan gigi di dalam lengkung gigi teratur dengan baik; gigi dengan kontak proksimal;
hubungan seimbang antara gigi dan tulang rahang terhadap kranium dan muscular
disekitarnya. Perubahan terhadap oklusi normal terjadi pada kondisi kehilangan gigi ,
destruksi substansi gigi, migrasi gigi, dan sebagai akibatnya adalah maloklusi.
Oklusi ideal merupakan konsep teoritis dari struktural oklusal dan hubungan
fungsional yang mencakup prinsip dan karakteristik ideal yang harus dimiliki suatu
keadaan oklusi. Menurut Kamus Kedokteran Gigi, oklusi ideal adalah keadaan
beroklusinya setiap gigi , kecuali insisivus sentral bawah dan molar tiga atas, beroklusi
dengan dua gigi di lengkung antagonisnya dan didasarkan pada bentuk gigi yang tidak
mengalami keausan.
Andrew (1972) menyebutkan enam kunci oklusi normal, yang berasal dari hasil
penelitian yang dilakukannya terhadap 120 subyek yang oklusi idealnya mempunyai
enam ciri. Keenam ciri tersebut adalah :
1. Hubungan yang tepat dari gigi-gigi molar pertama tetap pada bidang sagital.
2. Angulasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang transversal.
3. Inklinasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang sagital.
4. Tidak adanya rotasi gigi-gigi individual.
5. Kontak yang akurat dari gigi-gigi individual dalam masing-masing lengkung gigi,
tanpa celah maupun berjejal.
6. Bidang oklusal yang datar atau sedikit melengkung.
Andrew memperkirakan bahwa jika satu atau beberapa ciri ini tidak tepat, hubungan
oklusan dari gigi geligi tersebut tidaklah ideal. Beberapa kriteria mengenai oklusi
fungsional yang ideal sudah diperkenalkan oleh Roth (1976). Berikut ini adalah salinan
dari konsep Roth, yang ditujukan terutama untuk mendapatkan efisiensi pengunyahan
2
maksimal yang konsisten dengan beban traumatik minimal yang mengenai gigi-gigi dan
jaringan pendukung serta otot dan aparatus pengunyahan skeletal :
1. Pada posisi interkuspal maksimal (oklusi sentrik), kondil mandibula harus berada
pada posisi paling superior dan paling retrusi dalam fosa kondilar. Ini berdampak
bahwa posisi interkuspal adalah sama dengan posisi kontak retrusi.
2. Pada saat menutup ke oklusi sentrik, stres yang mengenai gigi posterior harus
diarahkan sepanjang sumbu panjang gigi.
3. Gigi posterior harus berkontak setara dan merata, tanpa kontak pada gigi-gigi
anterior, pada oklusi sentrik.
4. Harus ada overjet dan overbite minimal, tetapi cukup besar untuk membuat gigi-
gigi posterior saling tidak berkontak pada gerak lateral dari mandibula, ke luar dari
oklusi sentrik.
5. Harus ada halangan minimal dari gigi-gigi terhadap gerak mandibula yang dibatasi
oleh sendi temporomandibular. (T.D. Foster, 1997)

Overjet insisal merupakan jarak horizontal antara gigi-gigi insisivus atas dan bawah
pada keadaan oklusi, di ukur pada ujung insisivus atas. Overjet tergantung pada inklinasi
dari gigi-gigi insisivus dan hubungan antero-posterior dari lengkung gigi. Pada sebagian
besar individu, ada overjet positif. Contohnya adalah sewaktu insisivus atas terletak di
depan insisivus bawah pad akeadaan oklusi, namun overjet juga bisa kebalikan, atau edge
to-edge.

Overbite insisal adalah jarak vertikal antara ujung gigi-gigi insisivus atas dan bawah.
Dipengaruhi oleh derajat perkembangan vertikal dari segmen dento-alveolar anterior.
Idealnya, gigi-gigi insisivus bawah harus berkontak dengan sepertiga permukaan palatal
dari insisivus atas pada keadaan oklusi, namun bisa juga terjadi overbite yang berlebihan
atau tidak ada kontak insisal. Pada keadaan ini overbite disebut tidak sempurna jika
insisivus bawah dia atas ketinggian edge insisal atas atau gigitan terbuka anterior, jika
insisvus bawah lebih pendek dari edge insisal atas pada oklusi.

2.2. Keadaan Kelainan Oklusi Gigi Geligi (Maloklusi)


Maloklusi gigi geligi adalah suatu kondisi dalam mulut yang memperlihatkan adanya
ketidakteraturan dari gigi geligi. Biasanya, gigi atas harus tepat berada diatas gigi bawah
dengan gigi molar (geraham) atas berada di groove gigi molar bawah. Kondisi sebaliknya
terjadi ketika pada seseorang yang menderita maloklusi gigi geligi akan ditemukan
penempatan gigi geligi yang tidak tepat, akibatnya gigitannya tidak sesuai. Ciri-ciri
maloklusi antara lain, gigi berjejal (crowded), gingsul (kaninus ektopik), gigi tonggos

3
(disto-oklusi), gigi cakil (mesio-oklusi), gigitan menyilang (crossbite), dan gigi jarang
(diastema).
Biasanya kondisi ini seringkali berkaitan dengan kondisi genetik seperti sumbing
bibir dan sumbing palatum pada anak-anak. Namun, ada faktor-faktor lain yang
memengaruhi terjadinya maloklusi gigi geligi ini, yaitu :
1. Kebiasaan yang dibuat-buat seperti menghisap jempol dan penggunaan botol susu
secara berkepanjangan juga ikut menyebabkan terjadinya kondisi seperti ini.
Kerusakan gigi karena susu botol adalah suatu kondisi gigi dimana kerusakan dini
pada gigi terjadi pada bayi dan balita yang dikarenakan minum jus buah atau
minuman manis dari botol secara rutin setiap malam hari.
2. Seseorang yang giginya mengalami impaksi juga bisa menyebabkan maloklusi
gigi geligi.
Gigi yang impaksi adalah suatu kondisi pada gigi geligi yang ditandai dengan
munculnya sebagian gigi dari gusi. Meskipun kondisi ini mungkin terjadi pada
gigi manapun, kondisi ini cenderung berkaitan dengan gigi geraham bungsu. Gigi
ini merupakan gigi terakhir yang tumbuh dan biasanya muncul pada remaja yang
berusia 17 sampai 21 tahun. Kondisi ini sangat sering terjadi dimana gigi geraham
bungsu terjebak didalam gusi. Pada beberapa kasus, kemungkinan ukuran rahang
terlalu kecil untuk menampung gigi geraham bungsu dan akibatnya terjadi
penumpukan gigi geligi ketika gigi ini mulai tumbuh keluar dari gusi, sehingga
gigi menjadi impaksi. Gigi yang hanya muncul sebagian dapat menyebabkan
terjebaknya makanan, plak di gusi, menyebabkan terjadinya peradangan dan rasa
nyeri pada gusi. Biasanya, kondisi ini dapat diatasi dengan mencabut gigi geraham
bungsu tersebut.

3. Menderita trauma pada gigi.


Trauma pada gigi adalah suatu kondisi dimana mulut termasuk didalamnya
gigi, bibir, gusi, lidah dan tulang rahang mengalami cedera akibat tindakan
biomekanis. Trauma pada gigi bisa disebabkan karena seseorang itu terlibat
perkelahian atau terluka di dalam kecelakaan. Trauma pada gigi biasanya di tandai
dengan fraktur gigi. Fraktur Gigi, kadang-kadang juga dikenal sebagai gigi retak,
adalah suatu kondisi gigi geligi yang memperlihatkan adanya keretakan gigi atau
gigi yang pecah. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh trauma pada bagian wajah
atau gigi geligi seperti olahraga yang melakukan kontak fisik atau terlibat dalam
kecelakan mobil.

4
Umumnya, fraktur gigi yang kecil tidak sampai menyebabkan pergeseran gigi
maupun perdarahan dari gusi. Individu yang mengalamai kondisi ini cenderung
tidak mengalami rasa sakit. Fraktur gigi dapat terjadi pada gigi manapun tetapi
cenderung mengenai gigi depan atas yang telah permanen. Pada kasus yang berat,
dimana sebagian besar gigi pecah, sehingga bagian dentin dan jaringan pulpa
terekspos, dapat menyebabkan rasa sakit yang akut dan kerusakan pada syaraf.
Untungnya, kondisi ini tidak membahayakan jiwa dan prosedur perawatan saraf
gigi dapat menyelamatkan gigi yang pecah tersebut.

Ini adalah klasifikasi dari hubungan antero-posterior lengkung gigi-gigi atas dan
bawah berdasarkan pada klasifikasi Edward Angle (1899). Klasifikasi ini tidak
melibatkan hubungan lateral serta vertikal, gigi berjejal dan malposisi lokal dari gigi-gigi.
1. Kelas 1
Hubungan ideal yang bisa ditolerir. Ini adalah hubungan antero-posterior yang
sedemikian rupa, dengan gigi-gigi berada pada posisi yang tepat di lengkung rahang,
ujung gigi kaninus atas berada pada bidang vertikal yang sama seperti ujung distal gigi
kaninus bawah. Gigi-gigi premolar atas berinterdigitasi dengan cara yang sama dengan
gigi-gigi premolar bawah, dan tonjol antero-bukal dari molar pertama atas tetap beroklusi
dengan alur (groove) bukal dari molar pertama bawah tetap. Jika insisivus berada pada
inklinasi yang tepat, overjet inisisal adalah sebesar 3 mm. Kelas ini merupakan hubungan
gigi ideal yang masih bisa ditolerir.

Gambar 1. Oklusi Kelas 1. Hubungan oklusal yang ideal.

2. Kelas 2
Pada hubungan kelas 2, lengkung gigi bawah terletak lebih posterior daripada
lengkung gigi atas dibandingkan pada hubungan kelas 1. Karena itulah, keadaan ini
kadang disebut sebagai hubungan postnormal.

5
Gambar 2. Maloklusi Kelas 2.

3. Kelas 3
Pada hubungan kelas 3, lengkung gigi bawah terletak lebih anterior terhadap
lengkung gigi atas dibandingkan pada hubungan kelas 1. Oleh karena itu, hubungan ini
kadang-kadang disebut juga sebagai hubungan prenormal.

Gambar 3. Oklusi kelas 3

Ada dua tipe utama dari hubungan kelas 3. Yang pertama, biasanya disebut kelas 3
sejati, dimana rahang bawah berpindah dari posisi istirahat ke oklusi kelas 3 pada saat
penutupan normal. Pada tipe yang kedua, gigi-gigi insisivus terletak sedemikian rupa
sehingga gerak menutup mandibula menyebabkan insisivus bawah berkontak dengan
insisivus atas sebelum mencapai oklusi sentrik. Oleh karena itu, mandibula akan bergerak
ke depan pada penutupan translokasi, menuju ke posisi interkuspal. Tipe hubungan
semacam ini biasanya disebut kelas 3 postural atau kelas 3 dengan pergeseran.

6
Gambar 4. Oklusi kelas 3 tipe 1 dan tipe 2.

Pada masing-masing tipe hubungan oklusal, malposisi gigi setempat bisa


mempengaruhi hubungan dasar dari kedua lengkung gigi. Jadi, rincian interkuspal dari
gigi-gigi tidak sama dengan klasifikasi keseluruhan dari hubungan lengkung gigi. Jika
banyak gigi yang malposisi, akan sulit bahkan tidak mungkin untuk menentukan
klasifikasi oklusi. Disamping itu, asimetris bisa menyebabkan hubungan pada satu sisi
rahang berbeda dari sisi yang lain. Pada situasi semacam ini, oklusi perlu dideskripsikan
dengan kata-kata, bukan hanya dengan klasifikasi verbal saja.

Umumnya, kondisi ini tidak membahayakan jiwa dan bracket ortodontik dapat
digunakan untuk mengatasi masalah ini. Pada kasus yang lebih berat, pencabutan gigi dan
tindakan bedah mungkin perlu dilakukan untuk memperbaiki posisi daripada gigi geligi.

3. Penutup
3.1. Kesimpulan
Oklusi adalah berkontaknya gigi geligi rahang atas dengan permukaan gigi geligi
rahang bawah pada saat kedua rahang tersebut menutup. Ada 2 jenis oklusi, yaitu : oklusi
statis dan oklusi fungsional. Kondisi oklusi statis dan oklusi fungsional yang ideal disebut
juga dengan oklusi ideal. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dari gigi
geligi. Kebiasaan yang buruk dapat membuat gigi jadi tumbuh abnormal. Abnormal gigi
disebut juga dengan maloklusi. Secara lengkap, maloklusi gigi geligi adalah suatu kondisi
dalam mulut yang memperlihatkan adanya ketidakteraturan dari gigi geligi. Untuk

7
mengembalikan fungsi gigi tersebut dapat dlakukan tindakan pencabutan gigi atau
pemasangan bracket orthodontik.

3.2. Saran
1. Makalah ini sangat penting untuk diketahui masyarakat awam, sebab kelainan
oklusi gigi geligi sangat mempengaruhi aktifitas tubuh.
2. Kelainan oklusi ini sebaiknya di deteksi sedini mungkin, karena mencegah
terjadinya kelainan lebih lanjut.

KEPUSTAKAAN

Foster, T.D. 1993. Buku Ajar Ortodonsi (alih bahasa : drg. Lilian Yuwono). Jakarta: EGC
Harty, F.J. 1995. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC
Suryani, Irma Damayanti. Relasi dan Oklusi Maksila Mandibula.
http://damasuryairma.blogspot.com/2012/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html ( diakses 18
Maret 2013)
W.H., Itjingningsih. 1991. Anatomi Gigi. Jakarta: EGC