Anda di halaman 1dari 6

UJI MINYAK DAN LEMAK

MAKALAH
disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Analisis Pengolahan Pangan
yang dibimbing oleh Ibu

disusun oleh:
Offering GHI-P
Kelompok 2

Nana..... ()
Farhana Halimah R ()
Lirofiatillah ()
Monica Feby Zelvia ()
Siti Afiyatus Sholihah (150342601809)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2017
PEMDAHULUAN

Lemak merupakan sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri


atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, malam,
sterol, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak (contohnya A, D, E, dan K),
monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid, terpenoid (termasuk di dalamnya
getah dan steroid) dan lain-lain. Lemak secara khusus menjadi sebutan bagi
minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair,
yang terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa (Anonim 2010).
Mengekstraksi lemak secara murni sangat sulit dilakukan, sebab pada waktu
mengekstraksi lemak, akan terekstraksi pula zat-zat yang larut dalam lemak
seperti sterol, phospholipid, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, khlorofil, dan
lain-lain. Pelarut yang digunakan harus bebas dari air agar bahan-bahan yang larut
dalam air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak dan keaktifan pelarut
tersebut menjadi berkurang. Pelarut ini seperti dietil eter, hexana, benzena, dan
lain-lain. Ada dua kelompok umum untuk mengekstraksi lemak yaitu metode
ekstraksi kering dan metode ekstraksi basah. Metode kering pada ekstraksi lemak
mempunyai prinsip bahwa mengeluarkan lemak dan zat yang terlarut dalam lemak
tersebut dari sampel yang telah kering benar dengan menggunakan pelarut
anyhidrous. Keuntungan dari dari metode kering ini, praktikum menjadi amat
sederhana, bersifat universal, dan mempunyai ketepatan yang baik. Kelemahannya
metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, pelarut yang digunakan mudah
terbakar dan adanya zat lain yang ikut terekstrak sebagai lemak. Prinsip soxhlet
ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga
terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin
balik. Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit
(efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam
labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan
meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat. Kerugian metode
ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan
untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas. Tujuan Praktikum penerapan analisis
lemak ini dilakukan untuk mengukur kadar lemak analisis metode soxhlet

PENETAPAN LEMAK KASAR

1.) METODE EKSTRAKSI SOXHLET

a. Pengertian Metode Ekstraksi Soxhlet (Soxhletasi)

Metode ekstraksi soxhlet (Soxhletasi) adalah suatu metode pemisahan


suatu komponen yang terdapat dalam sampel padat dengan cara penyarian
(pengekstrakan) berulangulang dengan pelarut yang sama, sehingga semua
komponen yang diinginkan dalam sampel terisolasi dengan sempurna. Pelarut
yang digunakan ada 2 jenis, yaitu heksana ( C6H14) untuk sampel kering, dan
metanol (CH3OH) untuk sampel basah. Jadi, pelarut yang digunakan tergantung
dari sampel yang digunakan. Nama lain yang digunakan sebagai pengganti
sokletasi adalah pengekstrakan berulangulang (continous extraction) dari sampel
pelarut (Rahman, 2012).
b. Prinsip Kerja Soxhletasi
Bahan yang akan diekstraksi diletakkan dalam sebuah kantung ekstraksi
(kertas, karton, dan sebagainya) dibagian dalam alat ekstraksi dari gelas yang
bekerja kontinyu. Wadah gelas yang mengandung kantung diletakkan antara labu
penyulingan dengan labu pendingin aliran balik dan dihubungkan dengan labu
melalui pipa. Labu tersebut berisi bahan pelarut, yang menguap dan mencapai ke
dalam kondenser (pendingin aliran balik) melalui pipa tetes, berkondensasi di
dalamnya, menetes ke atas bahan yang diekstraksi dan mengekstrak keluar bahan
yang diekstraksi. Larutan berkumpul di dalam wadah gelas dan setelah mencapai
tinggi maksimalnya, secara otomatis dipindahkan ke dalam labu. Dengan
demikian zat yang terekstraksi terakumulasi melalui penguapan bahan pelarut
murni berikutnya.
Syarat syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi :
a. Pelarut yang mudah menguap, Misalnya : heksan, eter, petroleum eter, metil
klorida dan alkohol
b. Titik didih pelarut rendah.
c. Pelarut tidak melarutkan senyawa yang diinginkan.
d. Pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi.
e. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan.
f. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi, polar atau nonpolar.
Keunggulan dari metode sokletasi adalah sampel dapat diekstraksi dengan
sempurna karena dilakukan berulang ulang, jumlah pelarut yang digunakan
sedikit, jumlah sampel yang diperlukan sedikit, pelarut organik dapat mengambil
senyawa organik (lemak dalam simplisia) berulang kali. Sedangkan kekurangan
dari metode ini adalah waktu yang dibutuhkan untuk ekstraksi cukup lama
(sampai beberapa jam) sehingga kebutuhan energinya tinggi (listrik, gas).
Pemanasan bergantung pada lama ekstraksi, khususnya titik didih bahan pelarut
yang digunakan, dapat berpengaruh negatif terhadap bahan lemak yang peka suhu
(glikosida, alkaloida). Demikian pula bahan terekstraksi yang terakumulasi dalam
labu mengalami beban panas dalam waktu lama.

c. Alat ekstraksi Soxhletasi


Gambar 1. Alat Soxhletasi

Nama-nama instrumen dan fungsinya adalah:


1) Kondensor berfungsi sebagai pendingin, dan juga untuk mempercepat proses
pengembunan,
2) Timbal/klonsong berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang ingin diambil
zatnya,
3) Pipa F/vapor berfungsi sebagai jalannya uap, bagi pelarut yang menguap dari
proses penguapan,
4) Sifon berfungsi sebagai perhitungan siklus, bila pada sifon larutannya penuh
kemudian jatuh ke labu alas bulat maka hal ini dinamakan 1 siklus,
5) Labu alas bulat berfungsi sebagai wadah bagi ekstrak dan pelarutnya,
6) Hot plate atau penangas berfungsi sebagai pemanas larutan,
7) Water in sebagai tempat air masuk, dan
8) Water out sebagai tempat air keluar (Azam Khan, 2012)
PENGUJIAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE SOXHLET
a. Pengujian Kadar lemak dengan Menggunakan Metode Soxhlet
a. Alat yang digunakan

1. Alat ekstraksi Soxlet lengkap dengan kondenser dan labu lemak (Lihat Gambar
7.1.)

2. Alat pemanas listrik atau penangas uap,

3. oven.

4. Timbangan analitik.

5. kertas saring

6. Kain saring

7. Desikator

b. Cara Kerja

1. Ambil labu lemak yang ukurannya sesuai dengan alat ekstraksi Soxhlet yang
akan digunakan, keringkan labu lemak dalam oven, dinginkan dalam desikator
kemudian timbang labu lemak dan catat sebagai berat awal labu lemak.

2. Timbang 5 g sampel yang mengandung lemak dalam bentuk tepung langsung


dalam saringan timbel yang sesuai ukurannya, kemudian tutup dengan kapas
wool yang bebas lemak. Sebagai alternatif sampel dapat dibungkus dengan kertas
saring, sebagai berikut:
3. Letakkan timbel atau kertas saring yang berisi sampel tersebut dalam alat
ekstraksi Soxhlet, kemudian pasang alat kondenser di atasnya, dan labu lemak di
bawahnya (Lihat gambar 7.2).

4. Tuangkan pelarut dietil eter atau petroleum eter ke dalam labu lemak
secukupnya, sesuai dengan ukuran Soxhlet yang digunakan.

5. Lakukan refluks selama minimum 5 jam sampai pelarut yang turun kembali ke
labu lemak berwarna jernih.

6. Distilasi pelarut yang ada di dalam labu lemak, tampung pelarutnya.

7. Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam
oven pada suhu 1050 C.

8. Setelah dikeringkan sampai berat tetap dan didinginkan dalam desikator,


timbang labu beserta lemaknya tersebut. Berat lemak dapat di hitung.