Anda di halaman 1dari 28

KEBANGGAAN SEBAGAI BANGSA INDONESIA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunianya kami
berhasil menyelesaikan tugas makalah PKn tentang kebanggaan sebagai bangsa Indonesia,
makna sumpah pemuda, keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), serta
keterbukaan dan jaminan keadilan.
Makalah ini berisikan tentang materi pendidikan kewarganegaraan, semoga makalah ini
dapat memberikan pencerahan bagi para pembacanya.
Kami sadar bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami sangat butuh
kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini.
Kami berharap semoga makalah yang kami buat bisa bermanfaat bagi kita semua.
Aamiiin.

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Negara Indonesia disebut juga dengan istilah Nusantara. Nusantara berasal dari kata
nusa dan antara. nusa berarti pulau atau kepulauan, sedangkan antara artinya di antara.
Nusantara diartikan sebagai satu kesatuan wilayah kepulauan di antara pulau-pulau.
Satu nusa memiliki makna bahwa seseorang harus memiliki satu tanah air yang sama,
yaitu tanah air Indonesia. Satu bangsa memiliki satu makna walaupun kita berasal dari suku yang
berbeda, tetapi kita tetap satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Adapun satu bahasa memiliki
makna untuk mewujudkan persatuan bangsa.
Banyak di antara kita yang belum mengetahui dengan dalam tentang kebanggaan sebagai
bangsa Indonesia, makna Sumpah Pemuda ,keutuhan NKRI serta keterbukaan dan jaminan
keadilan. Oleh karena itu, untuk mengecek seberapa besar pengetahuan pembaca tentang
kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, makna Sumpah Pemuda ,keutuhan NKRI serta
keterbukaan dan jaminan keadilan maka disusunlah makalah ini demi menambah pengetahuan
pembaca tentang materi tersebut.

BAB II

PERMASALAHAN

Rumusan Masalah

1. Bagaimana bentuk sikap warga Indoneia yang bangga akan kebangsaannya ?

2. Apa makna SUMPAH PEMUDA ?

3. Bagaimana cara menjaga keutuhan NKRI/negara kesatuan republik Indonesia ?

4. Apa pengertian keterbukaan dan jaminan keadilan?

5. Apa pentingnya keterbukaan dan jaminan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?

BAB III

PEMBAHASAN MASALAH

(A) KEBANGGAAN SEBAGAI BANGSA INDONESIA

1) Sikap Semangat Kebangsaan (Nasionalisme dan Patriotisme) dalam Kehidupan


Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara
Sikap warga negara dari suatu negara sudah tentu memiliki keterikatan emosional dengan
negara yang bersangkutan sebagai perwujudan rasa bangga dan memiliki bangsa dan negaranya.
Perasaan bangga dan memiliki terhadap bangsanya akan mampu melahirkan sikap rela berkorban
untuk memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan serta kedaulatan negara. Hal ini
merupakan bentuk keterikatan kepada tanah air, adat istiadat leluhur, serta penguasa setempat
yang menghiasi rakyat/warga setempat sejak lama atau disebut dengan semangat kebangsaan.
Semangat kebangsaan dari setiap warga negara harus dapat dijadikan motivasi spiritual
dan horizontal dalam mencapai kemajuan dan kejayaan bangsa, menjaga keutuhan serta
persaudaraan antar sesama. Dengan mengerti dan memahami pentingnya semangat kebangsaan
bagi setiap warga negara diharapkan mampu melahirkan jiwa nasionalisme (cinta tanah air) dan
patriotisme (rela berkorban) dengan tetap menjunjung tinggi sikap-sikap sebagai berikut :
a) Mengedepankan keserasian, keselarasan, dan keharmonisan hidup yang dilandasi oleh nilai-nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa.
b) Mengutamakan kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi
atau golongan.
c) Menunjukkan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara.
d) Mengedepankan sikap keadilan sosial dalam hidup berbangsa dan bernegara.
e) Menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan, persaudaraan, kebersamaan, dan
keharmonisan dengan sesama.
f) Menghargai hak asasi manusia (HAM), tidak deskriminatif, dan bersikap demokratis.
g) Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan keadaban manusia.
1. Nasionalisme
Kata nasionalisme secara etimologis berasal dari kata nasional dan isme, yaitu
pemahaman kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air,
memiliki rasa kebanggan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa. Menurut
ensiklopedi Indonesia, nasionalisme diartikan sebagai sikap politik dan sosial dari kelompok-
kelompok suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa, dan wilayah serta
kesamaan cita-cita dan tujuan. Dengan demikian merasakan adanya kesetiaan mendalam
terhadap kelompok bangsa itu. Nasionalisme juga dapat diartikan sebagai suatu ikatan
antarmanusia yang didasarkan atas ikatan kekeluargaan, klan, dan kesukuan.
Nasionalisme dalam makna persatuan dan kesatuan merupakan bentuk sebuah kesadaran
keanggotaan di suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai,
mempertahankan, dan mengabadikan identitas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa. Di dalam
jiwa nasionalisme tertanam sebuah keinginan untuk membangun negara sesuai denga cita-cita,
harapan, dan kemampuan bangsa sendiri. Jiwa nasionalisme akan menjelma dalam ideologi
negara yang berlandaskan pada keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa dan negara
secara utuh dan menyeluruh tanpa bergantung pada bangsa lain.
Pemahaman nasionalisme dapat dibedakan antara nasionalisme dalam arti sempit dan
nasionalisme dalam arti luas.
a. Nasionalisme dalam arti sempit
Nasionalisme di sini diartikan sebagai perasaan kebangsaan atau cinta terhadap
bangsanya yang tinggi atau berlebih-lebihan sehingga memandang bangsa lain lebih rendah.
Paham yang demikian sering dikenal dengan istilah Chauvinisme, misalnya yang pernah dianut
oleh bangsa Italia (masa B. Mussolini), Jepang (masa Tenno Haika), dan Jerman (masa Hitler).
Di masa Hitler berkuasa (1921-1945) dicanangkan program Partai Nazi (Nazisme) yang
berdasarkan nasionalisme sempit, rasisme (terutama antiYahudi), autoriterisme, dan militerisme.
Gerakan chauvinisme Jerman dilaksanakan dengan persenjataan dan perluasan daerah
untuk merebut ruang hidup (labensraum) bagi ras leluhur (herrenrase) Teuton, serta pemulihan
harga diri dengan pemerintahan militer yang bersatu Ein Reich, Ein Volk, Ein Fuhrer (satu
negara, satu bangsa , satu pimpinan).
b. Nasionalisme dalam arti luas
Nasionalisme dalam pengertian luas adalah perasaan cinta atau bangga terhadap tanah air
dan bangsanya dengan tetap menghormati bangsa lain karena merasa sebagai bagian dari bangsa
lain di dunia. Dalam melakukan kejasama dengan negara lain, yang diutamakan adalah persatuan
dan kesatuan bangsa, kepentingan dan keselamatan bangsanya, serta tetap memandang bangsa
lain sederajat dan menghormatinya sebagaimana bangsanya sendiri. Oleh sebab itu, nasionalisme
dalam arti luas mengandung prinsip-prinsip : kebersamaan, persatuan dan kesatuan, demokrasi
atau demokratis.
Prinsip kebersamaan
Penerapan prinsip kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari menuntut setiap warga negara agar
memiliki sikap pengendalian diri untuk mengarahkan aktivitasnya menuju kehidupan yang
selaras, serasi, dan seimbang. Nilai kebersamaan menuntut setiap warga negara untuk
menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Prinsip persatuan dan kesatuan
Prinsip persatuan dan kesatuan terejawantahkan dalam bentuk kesetiaan/loyalitas yang tinggi
hanya untuk kepentingan negara. Ini berarti setiap warga negara harus mampu
mengesampingkan kepentingan pribadi atau golongan yang dapat menimbulkan perpecahan dan
anarkis (merusak). Untuk tetap tegaknya prinsip persatuan dan kesatuan, setiap warga negara
harus mampu mengedepankan sikap : kesetiakawanan sosial, peduli terhadap sesama, solidaritas,
dan berkeadilan sosial.
Prinsip demokrasi atau demokratis
Prinsip demokrasi atau demokratis memandang bahwa setiap warga negara mempunyai
kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Karena hakikat semangat kebangsaan adalah adanya
tekad untuk hidup bersama yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara yang tumbuh
dan berkembang dari bawah untuk bersedia hidup sebagai bangsa yang bebas, merdeka, bersatu,
berdaulat, adil, dan makmur.
2. Patriotisme
Makna patriotisme yang berasal dari kata patriot dan isme, yang merupakan sifat
kepahlawanan atau jiwa pahlawan (Indonesia) atau heroism dan patriotism (Inggris) adalah
sikap yang gagah berani, pantang menyerah, dan rela berkorban (harta/jiwa/raga) demi bangsa
dan negara. Sikap patriotisme merupakan sikap yang bersumber dari perasaan cinta pada tanah
air sehingga menimbulkan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negaranya.
Semangat patriotisme dapat melahirkan seorang pejuang sejati. Pejuang bangsa yang
mempunyai semangat, sikap dan perilaku terpuji, cinta tanah air. Pengejawantahan sikap
patriotisme dapat dilaksanakan pada masa darurat (perang) atau masa damai.
a. Pada masa darurat (perang)
Merupakan perjuangan melawan penjajah untuk mewujudkan kemerdekaan, kedaulatan, dan
martabat bangsa dan negara. Setiap warga negara yang mampu, berusaha mengangkat senjata,
ikut bertempur secara fisik di medan perang. Dan yang lain menjadi petugas dapur umum,
penolong yang terluka/meninggal, atau memberi sumbangan dalam bentuk harta benda, dan lain-
lain. Semua kegiatan tersebut merupakan bukti sikap patriotik yang didasari oleh rasa cinta tanah
air atau semangat nasionalisme sebagai warga bangsa.
b. Pada masa damai
Setiap warga negara yang tidak mengalami masa perang (pascakemerdekaan) dapat mewujudkan
semangat patriotisme yang dilandasi oleh rasa nasionalisme dengan cara:
Menegakkan hukum dan kebenaran
Meningkatkan kemampuan diri secara optimal
Memajukan pendidikan dengan memberantas kebodohan dan kemiskinan
Memelihara persaudaraan dan persatuan
Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dll
3. Penerapan Semangat Kebangsaan
Pembahasan tentang patriotisme tidak dapat dipisahkan dengan nasionalisme karena
keduanya merupakan perwujudan semangat kebangsaan. Para penyelenggara negara dituntut
memiliki kemampuan dalam upaya menegakkan kebenaran dan keadilan serta mengantisipasi
berbagai ancaman terhadap negara baik dari dalam (separatisme, konflik antarsuku, anarkisme,
korupsi, narkoba, dll) maupun dari luar (intervensi, agresi, propaganda yang mendiskreditkan,
dll) demi keutuhan negara dan kepentingan rakyatnya. Semangat kebangsaan harus diimbangi
dengan nilai-nilai religius dan pengendalian diri agar tidak menimbulkan perpecahan karena
saling merasa bahwa negara dan bangsanya dianggap paling penting untuk diperjuangkan.
Semangat kebangsaan dalam arti luas dapat diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah,
dan masyarakat sekitar dengan cara :
a) Keteladanan
Keteladanan atau teladan merupakan sikap dan perilaku yang patut dicontoh atau ditiru
karena perkataan dan perbuatannya. Keteladanan dapat diberikan di berbagai lingkungan seperti
rumah, sekolah, instansi pemerintahan dan swasta, serta masyarakat luas. Contoh: bekerja keras
dan disiplin dalam mengejar prestasi, membayar pajak tepat waktu, mematuhi tata tertib berlalu
lintas, bersedia bekerja bakti/gotong royong membersihkan lingkungan, tidak melakukan
korupsi, dan lain-lain.
b) Pewarisan
Pewarisan atau warisan merupakan cara atau proses menurunkan, memberi atau
menyerahkan sesuatu pada pihak lain. Pewarisan semangat kebangsaan adalah cara-cara
menurunkan nilai-nilai, sikap, dan perilau terpuji kepada generasi berikutnya. Contoh: tulus
ikhlas dalam membantu orang yang terkena musibah, berlaku jujur dan bertanggungjawab dalam
mengemban amanah, terbiasa belajar dan bekerja tiap waktu, dan lain-lain.
c) Ketokohan
Ketokohan atau tokoh merupakan sosok sesseorang yang terkenal dan disegani karena
pengaruhnya sangat besar di dalam masyarakat. Dalam semangat kebangsaan, ketokohan perlu
dijadikan sandaran pedoman (referensi) guna memberikan motovasi dan semangat bagi generasi
muda. Contoh: berupaya selalu mengambil inisiatif dalam hal-hal kebaikan (kerja bakti,
membantu sesama, dan belajar), tidak cepat puas dalam suatu prestasi, ingin selalu memberikan
yang terbaik, rajin membantu atau sedekah kepada orang lain yang membutuhkan, dan lain-lain.
2) Ciri Khas Bangsa Indonesia :
Hidup Bersama dalam Perbedaan; Bangsa Indonesia memiliki semboyan yang di kenal dengan
Bhineka Tunggal Ika istilah Bhineka Tunggal Ika berasal dari kitab Sutasoma karangan Mpu
Tantular. Bhineka Tunggal Ika, artinya berbeda-beda, tetapi satu tujuan. Bhineka Tunggal Ika
merupakan pemersatu keragaman bangsa Indonesia.
Kekayaan Alam; Kekayaan alam Indonesia juga tersebar di daratan dan lautan kekayaan tersebut
terdiri atas kekayaan hutan dan kekayaan laut.
Keramahtamahan penduduk dalam kehidupan sehari-sehari.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menunjukan rasa bangga menjadi bangsa Indonesia:
Menggunakan barang buatan dalam negeri
Berusaha meraih cita-cita
Hafal lagu kebangsaan Indonesia raya
Menghormati bendera merah putih
Mengikuti upacara bendera setiap senin di sekolah dengan khikmat;
Giat dan tekun belajar untuk meraih cita-cita.

(B) MAKNA SUMPAH PEMUDA


Beberapa perkumpulan atau sering disebut organisasi pemuda yang ada di daerah Nusantara, di
antaranya sebagai berikut :
1. Jong Batak, yaitu (perkumpulan pemuda batak)
2. Jong java, yaitu (perkumpulan para pemuda jawa)
3. Jong sumatranen bond, yaitu (perkumpulan para pemuda Sumatra)
4. Jong ambon, yaitu (perkumpulan para pemuda ambon)
5. Jong islamaten bond, yaitu (perkumpulan para pemuda islam)
6. Jong minahasa,yaitu (perkumpulan para pemuda minahasa)
7. Jong Celebes, yaitu (perkumpulan para pemuda Sulawesi).
Peranan sumpah pemuda
Organisasi kebangsaan Budi Utomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 mendorong
terbentuknya organisasi-organisasi pemuda. Budi Utomo dimulai sebagai organisasi kaum muda.
Organisasi yang benar-benar dipimpin dan diurus oleh pemuda adalah Tri Koro Darmo
yang didirikan pada tanggal 07 Maret 1917. Tujuan mulianya yaitu sakti, budi dan bakti. Namun
pada tahun 1918 namanya diubah menjadi Jong Java.
Selanjutnya bermunculan organisasi pemuda lain, seperti pemuda Sumatra mendirikan
Jong Sumatranen Bond, pemuda Jawa Barat mendirikan Jong Pasundan, pemuda Sulawesi
mendirikan Jong Celebes. Berikutnya : Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Ambon, dll.
Pada 30 april 2 mei 1926, para pemuda yang ingin mewujudkan persatuan nasional,
mengadakan kongres pemuda I di Jakarta yang diketuai oleh M. Tabrani dan Sumarto sebagai
wakilnya, sekretarisnya adalah Jamaludin Adinegoro dan Suwarso sebagai bendaharanya. Tujuan
kongres ini adalah menanamkan semangat kerja sama antar perkumpulan pemuda di Indonesia.
Pada 28 oktober 1926 dilaksanakan kongres pemuda II di Jakarta dengan susunan panitia
sebagai berikut :
Ketua : Sugondo Joyopuspito, wakil dari organisasi PPPI
Wakil Ketua : Joko Mursaid, wakil dari organisasi Jong Java
Sekretaris : Muh. Yamin, wakil dari organisasi Jong Sumatranen Bond
Bendahara : Amir Syarifudin, wakil dari organisasi Jong Batak
Pembantu I : Johan Muh. Tajai, wakil dari organisasi Jong Islamiten Bond
II : Koco Sungkono, wakil dari organisasi Pemuda Indonesia
III : Senduk, wakil dari organisasi Jong Celebes
IV : Laimena, wakil dari organisasi Jong Ambon
V : Rohyani, wakil dari organisasi Pemuda Kaum Betawi
Kongres pemuda II berhasil merumuskan suatu ikrar. Ikrar tersebut dikenal dengan
sebutan Sumpah Pemuda. Isi sumpah pemuda yaitu sebagai berikut :

SUMPAH PEMUDA
Kami Poetra dan Poetri Indoneisa Mangakoe
Bertoempah Darah jang Satoe, Tanah Indoneisa.
Kami Poetra dan Poetri Indoneisa Mengakoe
Berbangsa jang Satoe, Bangsa Indonesia.
Kami Poetra dan Poetri Indoneisa
Mendjoendjoeng Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Sebelum ikrar Sumpah Pemuda dibacakan, dinyanyikan lagu Indonesia Raya oleh Wage
Rudolf Supratman walaupun hanya secara instrumental dengan alat musik biolanya. Setelah itu,
setiap pertemuan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menggugah semangat
pemuda. Pada tanggal 22 Desember 1928 diadakan Kongres Organisasi Wanita di Jogjakarta.
Tanggal 22 Desember kemudian diperingati sebagai Hari Ibu.
Bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia digunakan dalam
bergaul dan berkomunikasi antarsuku di Indonesia. Lagu Indonesia Raya menggugah semangat
rakyat untuk bersatu mencapai cita-cita.
Setelah Kongres Pemuda II selesai, organisasi-organisasi pemudapun berusaha untuk
bersatu. Pada tanggal 31 Desember 1930, lahir organisasi baru bernama Indonesia Muda.
Lahirnya Indonesia Muda merupakan wujud dari Sumpah Pemuda dan Kongres Pemuda II.
Sumpah Pemuda sangat besar peranannya. Rasa persatuan dan kebangsaan semakin tebal.
Rasa persatuan itu tidak hanya di kalangan pemuda, tetapi juga di kalangan masyarakat luas.
(C) MENJAGA KEUTUHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
1) Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk republik
Indonesia memiliki pemerintahan yang berbentuk republik dan negara yang berbentuk
kesatuan. Hal ini sebagaimana di nyatakan dalam pasal 1 ayat (1) UUD 1945 bahwa negara
Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk republik.
Negara kesatuan adalah negara yang tidak terdiri atas negara-negara bagian. Di dalam
negara kesatuan, pemerintah pusatlah yang mempunyai kekuasaan mengatur seluruh daerahnya.
Negara kesatuan dapat di selenggarakan dengan dua cara, yaitu sentralisasi dan
desentralisasi. Negara kesatuan dengan sistem sentralisasi adalah negara kesatuan yang di dalam
penyelenggaraan pemerintahannya tidak terdapat pelimpahan pendelegasian wewenang
kekuasaan dari pemerintah daerah. Sedangkan di dalam negara kesatuan dengan sistem
desentralisasi terdapat keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kekuasaan. Daerah memiliki
hak otonomi untuk menyelenggarakan pemda/pemerintahan daerah.
2) Karakteristik wilayah Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan. Negara kepulauan adalah negara yang terdiri atas
pulau-pulau atau gugusan kepulauan yang di persatukan oleh laut. Jumlah pulau di Indonesia
kurang lebih ada 17.508 pulau dan baru 5.707 pulau yang di beri nama. Bangsa Indonesia
menyebut kepulauan Indonesia bercirikan nusantara. Nusantara berasal dari kata nusa dan antara.
Nusa artinya pulau dan antara artinya di antara, yang di maksudkan bahwa pulau-pulau itu
berada di antara dua benua dan dua samudra.
Indonesia berada di antara dua samudra dan dua benua; pada peta dunia, posisi Indonesia
terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia.
Indonesia terletak di garis khatulistiwa; garis khatulistiwa merupakan garis lintang yang
memisahkan wilayah utara dan wilayah selatan bumi. Indonesia terletak di antara 60 lintang utara
(LU)- 110 lintang selatan (LS) dan 950 bujur timur (BT)- 1410 bujur timur (BT).
Indoneisa beriklim tropis; Indonesia terletak di daerah tropis dan beriklim panas. Di
samping itu, Indonesia memiliki dua musim yaitu musim hujan dan kemarau.
Indonesia tanahnya subur sehingga semua rakyatnya kebanyakan bermata pencaharian
petani dan berkebun serta Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan sumber daya alam.
3) Wawasan Nusantara
Wawasan nusantara terdiri atas dua kata yaitu wawasan dan nusantara. Wawasan berarti
pandangan. Nusantara berasal dari kata nusa dan antara. Nusa artinya pulau, sedang antara yang
di maksud adalah di apit hal. Wawasan nusantara adalah pandangan bangsa terhadap nusantara
atau Indonesia.
(D) KETERBUKAAN DAN JAMINAN KEADILAN
1. Pengertian keterbukaan dan keadilan
Keterbukaan berasal dari kata buka dan terbuka. Keterbukaan berhubungan dengan hal
atau keadaan terbuka, terkuak, keadaan yang tidak tertutup, keadaan tidak ada rahasia atau tidak
ada sesuatu yang dirahasiakan. Menurut etimologi bahasa, keterbukaan berasal dari kata dasar
terbuka yang berarti suatu kondisi yang di dalamnya tidak terdapat suatu rahasia, mau menerima
sesuatu dari luar dirinya, dan mau berkomunikasi dengan lingkungan di luar dirinya. Adapun
keterbukaan dapat diartikan sebagai suatu sikap dan perasaan untuk selalu bertoleransi serta
mengungkapkan kata-kata dengan sejujurnya sebagai landasan untuk berkomunikasi. Dengan
demikian, keterbukaan berkaitan erat dengan komunikasi dan hubungan antarmanusia.
Keterbukaan sangat penting dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial karena
keterbukaan merupakan prasyarat bagi adanya komunikasi.
Apabila dikaitkan dengan struktur kekuasaan tertentu, keterbukaan berarti bahwa setiap
warga negara berhak untuk mengeluarkan pendapat, ide-ide, maupun gagasan sebagai wujud dari
aspirasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian, warga masyarakat juga
harus menerima pendapat, saran, dan pembaruan dalam masyarakat demi tercapainya kemajuan
bersama. Masyarakat harus sadar bahwa menutup diri hanya akan menghambat kemajuan.
Budaya menutup diri membuat manusia cenderung berpikir picik dalam memandang suatu
masalah, serta tidak mau menerima saran, kritik maupun pembaruan.
Keterbukaan juga diperlukan bagi pemerintah terutama mengenai kebijakan-kebijakan
yang akan diterapkan dalam masyarakat. Pemerintah harus transparan dalam menerapkan suatu
kebijakan serta tidak boleh memaksakan pelaksanaan suatu kebijakan tertentu kepada
masyarakat. Keterbukaan tersebut misalnya pemerintah harus memberitahukan kepada rakyat
alasan dan langkah serta strategi pelaksanaan kebijaksanaan yang telah diambil sesuai dengan
batas-batasnya. Di samping itu, pemerintah pun harus mau mendengar kritik maupun saran dari
rakyat dan menjawab segala pertanyaan dari rakyat.
Dalam hal keterbukaan, pemerintah harus menjadi pelopor bagi masyarakat dalam
menciptakan keterbukaan demi terciptanya tatanan sistem politik yang demokratis. Meskipun
keterbukaan sangat diperlukan, namun perlu diketahui pula batas dan tanggungjawabnya.
Masyarakat terbuka adalah masyarakat yang melindungi hak-hak individu, yang menjamin akses
pertanggungjawaban di para pemimpinnya, yang dapat meningkatkan ketahanan sosial, politik
dan ekonomi seluruh warga, serta memperbolehkan dan memberikan dialog terbuka bagi
keadilan pembangunan dalam hal prioritas dan nilai-nilai sosial. Masyarakat terbuka bertumpu
dan sekaligus bergantungan dengan adanya kemauan dan kemampuan masyarakat untuk
menggunakan hak dan kewajibannya dengan seimbang.
Sedangkan keadilan berasal dari kata adil yang mengandung arti tidak berat sebelah,
tidak memihak kecuali pada yang benar, berpegang pada kebenaran. Keadilan adalah sikap dan
tindakan yang tidak sewenang-wenang, memberikan hak kepada orang lain sebagaimana
mestinya, atau melaksanakan hak sesuai dengan kewajiban. Tindakan yang adil adalah tindakan
yang menghormati dan menghargai hak asasi manusia sesuai dengan kodrat, harkat dan martabat
tanpa membedakan keturunan, suku bangsa serta status sosialnya.
Ada beberapa pengertian mengenai keadilan yang pada dasarnya sama, antara lain :
1) Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keadilan mengandung arti sifat
perbuatan, perlakuan yang adil. Keadilan berarti perilaku/perbuatan yang dalam pelaksanannya
memberikan kepada pihak lain sesuatu yang menjadi haknya dan semestinya harus diterima oleh
pihak lain.
2) Menurut pendapat W.J.S Poerwadarminto, keadilan berarti tidak berat sebelah, sepatutnya
tidak sewenang-wenang.
3) Berdasarkan Ensiklopedia Populer Politik Pembangunan Pancasila, keadilan diartikan
sebagai keadaan yang menggambarkan dimana orang atau kelompok masyarakat atau negara
memberi kepada setiap orang segala sesuatu yang menjadi haknya atau yang semestinya diterima
sehingga setiap orang atau warga negara mampu melaksanakan hak dan kewajibannya tanpa
rintangan.
4) Menurut Franz Magnis Suseno, keadilan adalah sesuatu keadaan yang menggambarkan
semua orang dalam situasi yang sama dan diperlakukan secara sama.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa yang dimaksud keadilan adalah keadaan di mana setiap
orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama
dari kekayaan bersama. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keadilan adalah suatu hasil
pengambilan keputusan yang mengandung kebenaran, tidak memihak dan dapat
dipertanggungjawabkan dan memperlakukan setiap orang pada kedudukan yang sama dihadapan
hukum.

2. Macam-macam keadilan
a. Aristoteles membedakan keadilan sebagai berikut :
- keadilan distributif adalah keadilan yang berhubungan dengan distribusi jasa dan kemakmuran
menurut kerja dan kemampuan.
- keadilan komutatif adalah keadilan yang berhubungan dengan persamaan yang diterima oleh
setiap orang tanpa melihat jasa perorangan.
- keadilan kodrat adalah keadilan yang bersumber pada hukum alam/kodrat alam.
- keadilan konvensional adalah keadilan yang mengikat warga negara karena dinyatakan melalui
suatu kekuasaan.
b. Prof. Dr. Drs. Notonegoro, S.H. menambahkan satu macam keadilan lagi yaitu keadilan
legalitas atau keadilan hukum.
3. Jaminan keadilan HAM dalam pembukaan UUD 1945
Dalam Pembukaan UUD 1945 tersirat beberapa jaminan keadilan bagi warga negara
mengenai pelaksanaan hak asasi manusia sebagai warga negara Indonesia. Beberapa hak itu
antara lain :
a. Alinea pertama menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Alinea tersebut
memberikan gambaran bahwa negara mengakui hak asasi manusia, artinya rakyat memiliki
kebebasan dan bebas dari segala tekanan pihak manapun. Hal itu mengandung konsekuensi
bahwa negara juga memberi jaminan keadilan yang sama bagi seluruh rakyat untuk
melaksanakan hak kebebasannya.
b. Alinea kedua menyatakan mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang
kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
c. Alinea keempat menyatakan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia. Makna yang tersirat dalam alinea keempat ini adalah pengakuan
terhadap hak-hak dasar manusia dalam bidang ekonomi, sosial budaya, dan hukum. Negara
menjamin semua pelaksanaan hak-hak warga negara tersebut.
4. Jaminan keadilan HAM dalam batang tubuh UUD 1945
a) Pasal 27 ayat 1 yang menjamin HAM di bidang hukum (right of legal equality).
b) Pasal 27 ayat 2 yang menjamin untuk meningkatkan kesejahteraan sehingga mampu hidup
layak dengan mengembangkan ekonominya (property right).
c) Pasal 28 yang menjamin HAM di bidang politik (political right).
d) Pasal 29 ayat 2 yang menjamin pengakuan terhadap HAM yang bersifat pribadi (personal
right)
e) Pasal 30 ayat 1 yang menjamin hak untuk ikut serta dalam usaha pembelaan negara sebagai
bagian dari hak politik.
f) Pasal 30 ayat 1 yang menjamin pelaksanaan HAM yang bersifat sosial dan kebudayaan.
g) Pasal 34 yang memberi pengakuan HAM yang bersifat property right.
5. Landasan jaminan keadilan bagi masyarakat Indonesia
Pelaksanaan jaminan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
memerlukan suatu pedoman atau aturan yang telah disepakati bersama sebagai nilai kebenaran.
Adapun landasan jaminan keadilan itu adalah :
Pancasila, terutama sila ke-2 dan ke-5.
Pembukaan UUD 1945 alenia 1, 2 dan 4.
Batang tubuh UUD 1945, YAKNI PASAL 27, 28, 29, 30, 31 dan 34.
TAP MPR No. 11/1999 tentang GBHN, terutama dalam bidang hukum yang menegaskan
pentingnya menegakkan hukum secara konsisten untuk lebih menjamin kepastian hukum,
keadilan dan kebenaran, supremasi hukum, serta menghargai hak asasi manusia.
UU No. 39/1999 Tentang HAM, yakni pasal 3 ayat 2 yang mengatakan bahwa setiap orang
berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan perilaku hukum yang adil serta mendapat
kepastian hukum dan perilaku yang sama di depan hukum.
UU No. 5 Tahun 1998 Tentang Konvensi Menentang Penyiksaan dan Penghukuman yang Kejam.
UU No. 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum.
Perpu No. 1 Tahun 1999 Tentang HAM
6. Pentingnya jaminan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Terciptanya suatu keadilan merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh sebuah bangsa
termasuk bangsa Indonesia. Keadilan yang hendak dicapai oleh bangsa Indonesia bukan keadilan
yang diperuntukkan oleh sekelompok orang saja atau penguasa, namun keadilan bagi seluruh
rakyat Indonesia. Keadilan yang menjadi dambaan seluruh umat manusia diharapkan mampu
memberi jaminan keadilan bagi seluruh warga negara. Jaminan keadilan yang diberikan oleh
pemerintah berupa dasar negara, undang-undang dasar, dan peraturan perundang-undangan.
Seperti jaminan keadilan yang terkandung dalam Pancasila sila ke-5, Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia. Berpedoman pada sila tersebut, bangsa Indonesia ingin mewujudkan
keadilan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia di seluruh wilayah Nusantara.
Keadilan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia bukan hanya pada bidang tertentu
saja, akan tetapi seluruh bidang yang meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial dan
budaya, serta pertahanan dan keamanan. Keadilan sosial dapat diwujudkan melalui
pembangunan di segala bidang. Keadilan akan tampak apabila hasil pembangunan dapat
dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Artinya bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh
pemerintah harus dapat dirasakan hasilnya oleh seluruh masyarakat Indonesia dan mampu
menjamin kesejahteraan bersama sesuai dengan tujuan nasional bangsa Indonesia.
Terwujudnya keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat memperkokoh
persatuan dan kesatuan bangsa. Karena dengan adanya keadilan, seluruh masyarakat dapat
merasa sama sebagai satu bangsa dan satu negara. Semua masyarakat diperlakukan sama, baik
sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Dengan demikian, masalah ketidakadilan yang membawa perpecahan bangsa akan
dapat dihindarkan.
Di masa sekarang, masalah ketidakadilan yang sangat jelas adalah kemiskinan dan
ketergantungan struktural yang terwujud dalam struktur proses politik, sosial, ekonomi, dan
budaya. Permasalahan tersebut dapat memunculkan masalah disintegrasi bangsa. Hal tersebut
tampak dengan munculnya gerakan separatis yang memiliki tujuan memisahkan diri dari NKRI
(Negara Kesatuan Republik Indonesia). Contohnya adalah Gerakan Separatis Papua yang ingin
memisahkan diri dari wilayah Indonesia. Mereka ingin mendirikan negara yang merdeka dan
berdaulat penuh. Pengikut gerakan separatis ini merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah
Indonesia. Mereka menganggap pemerintah Indonesia mengeruk kekayaan rakyat Papua yang
dipusatkan di Jakarta.
Pelaksanaan jaminan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
memberikan arti penting dalam kewarganegaraan. Pemerintahan memastikan adanya jaminan
keadilan memiliki tujuan untuk memberi rasa keamanan bagi seluruh lapisan masyarakat di
berbagai bidang/aspek kehidupan. Jaminan keadilan memberi arti penting dalam segmen :
a. Meningkatkan rasa kesetiakawanan sosial
mengandung arti adanya sikap mempedulikan atau memperhatikan orang lain di lingkungan
sekitar. Dengan adanya jaminan keadilan setiap anggota masyarakat dapat saling memperhatikan
kewajiban masing-masing dan diharapkan warga mampu berperilaku sebagai berikut :
Memiliki sikap tenggangrasa kepada orang lain.
Mampu menempatkan diri pada situasi orang lain.
Saling menjaga dan menghormati hak asasi.
Memiliki rasa kebersamaan yang kuat.
Mampu mengendalikan diri dalam setiap tindakan.
Memiliki rasa persatuan dan kesatuan.
Memikirkan kepentingan orang lain (bersama).
b. Memiliki rasa keamanan dan ketertiban di masyarakat
Kehidupan di masyarakat yang serba majemuk membutuhkan jaminan keadilan dalam
mewujudkan kepentingan masing-masing individu. Setiap anggota masyarakat memiliki untuk
kesempurnaan hidup dan hanya dapat dipenuhi jika hidup bersama. Sikap saling menghormati
dalam hidup bersama sangat penting
Setiap anggota masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan secara
seimbang. Kewajiban sebagai anggota masyarakat adalah memelihara ketertiban, keamanan,
kaidan dan ketenangan hidup bersama. Ketentuan tersebut diharapkan akan menumbuhkan
kesadaran masing-masing individu untuk saling menghormati dan menjaga apa yang menjadi
milik umum. Setiap anggota masyarakat juga memiliki hak yang harus dipenuhi yaitu
diperlakukan secara adil oleh sesama anggota masyarakat , mendapat kesempatan yang sama
dalam mencapai kebutuhan hidup.
Hak dan kewajiban dapat berjalan seimbang jika ada jaminan keadilan dalam hidup di
masyarakat. Jaminan keadilan diperlukan sebagai landasan pokok untuk memberikan
kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk mencapai tujuan hidup sehingga
terwujud keamanan dan ketertiban hidup.
c. Menumbuhkan sikap kebersamaan hidup
Sikap kebersamaan adalah suatu sikap yang berpandangan bahwa dalam kehidupannya
manusia senantiasa hidup bersama dengan orang lain. Menciptakan kehidupan yang didasari
sikap kebersamaan tidaklah mudah, karena membutuhkan kesadaran dari seluruh anggota
masyarakat. Setiap anggota masyarakat harus dapat menimbulkan, menumbuhkan,
mengembangkan dan menjaga suasana harmonis dalam hidup bersama di masyarakat. Kesadaran
harus tumbuh dalam pribadi individu bahwa hidupnya merupakan bagian dari anggota
masyarakat umum. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain.
d. Mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan
sebagai makhluk sosial manusia berada di tengah masyarakat yang dituntut untuk selalu
bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Pergaulan yang berlangsung di
masyarakat membutuhkan sikap saling menghormati, menghargai, senasib sepenanggungan,
suka bekerja sama, dan saling mengasihi. Maka setiap anggota masyarakat memiliki kewajiban
untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam hidup bersama. Hal ini dapat
terwujud juka ada jaminan keadilan dalam hidup bermasyarakat. Dengan kata lain, ada pedoman
atau dasar yang dapat dijadikan landasan untuk berbuat/bertingkah laku.
e. Meningkatkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan
Pancasila sebagai ideologi bangsa telah memberikan dasar-dasar pokok sebagai pedoman
untuk hidup bersama. Setiap anggota masyarakat harus melakukan hal-hal berikut :
Mengembangkan perbuatan-perbuatan luhur yang mencerminkan kebersamaan dan
kegotongroyongan.
Memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa yang majemuk.
Saling menghargai perbedaan di segala bidang kehidupan.
Mengembangkan sikap toleransi kepada orang lain.
Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
7. Pentingnya Keterbukaan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Sesuai kodratnya, manusia melaksanakan peran sebagai makhluk sosial. Peran tersebut
ditunjukkan dengan perilaku manusia untuk saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain.
Keinginan untuk selalu berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain tersebut didasarkan pada
keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan mewujudkan tujuan bersama. Sebagai warga negara,
bentuk interaksi dilakukan di antara sesama warga negara dan antara warga negara dengan
pemerintah.
Hubungan antarwarga negara maupun dengan pemerintah dapat terjalin dengan baik
apabila dilandasi saling menghormati, menghargai, memercayai, dan saling terbuka. Dengan
demikian, dapat dihindari diri berbagai permasalahan sosial seperti pertentangan,
kesalahpahaman, dan konflik. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat melemahkan persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keterbukaan mempunyai peranan yang besar
dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan adanya keterbukaan, di antara
warga negara dan pemerintah saling memberikan kontribusi di dalam menjalankan tugas dan
tanggung jawabnya masing-masing. Keterbukaan merupakan syarat bagi terbentuknya persatuan
dan kesatuan bangsa, mengingat negara terbentuk karena kesepakatan kelompok-kelompok
masyarakat.
Adanya keterbukaan dalam suatu negara menunjukkan kemampuan suatu negara
menciptakan pemerintahan yang demokratis. Keterbukaan dalam kemasyarakatan dan
kenegaraan menjadi ciri pokok demokrasi. Keterbukaan berarti setiap warga negara berhak untuk
menyampaikan aspirasi dan pendapat masyarakat, menyampaikan kritik, saran, koreksi, usul, dan
untuk melakukan pengawasan, serta berhak membicarakan secara terbuka masalah-masalah
penting yang menyangkut kehidupan bersama sebagai bangsa.
Keterbukaan dalam pemerintahan dapat diterapkan dengan bentuk pemerintahan yang
terbuka dan transparan. Pemerintah menyampaikan dan memberitahukan kepada rakyat segala
kegiatan yang akan dilakukan untuk menentukan kebijakan bersama dengan penuh tanggung
jawab. Selain itu, pemerintah juga harus mau menerima segala macam kritik, saran dan usul
demi kepentingan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintahan yang terbuka
dan transparan, menjauhkan tindak penyalahgunaan maupun penyelewengan wewenang,
sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan dengan baik, serta persatuan
dan kesatuanpun makin kokoh.
Kelangsungan hidup semangat persatuan dan kesatuan bangsa sangat ditentukan oleh
peran serta masyarakat dalam proses penyelenggaraan negara, terutama dalam proses-proses
politik yang menyangkut kepentingan rakyat. Oleh karena itu, diperlukan sikap dan kemampuan
untuk menumbuhkembangkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, antara lain:
1. kemampuan menemukan, memelihara, dan menjaga kepentingan hidup bersama,
2. kemampuan bekerja sama dengan orang lain tanpa membedakan suku, agama, ras, dan adat
istiadat,
3. kemampuan menghargai dan menjunjung tinggi HAM,
4. kemampuan menjaga nilai dan norma masyarakat,
5. kemampuan menjadi bagian hidup masyarakat banyak,
6. kemampuan untuk menjaga sikap dan perilaku di berbagai situasi.
Kesimpulan
1. Paham kebangsaan sangat penting untuk dibangun dalam rangka memperkuat daya tahan
suatu bangsa untuk menghadapi berbagai ancaman baik dari dalam maupun dari luar. Dengan
paham kebangsaan, diharapkan akan terlahir jiwa nasionalisme (cinta tanah air) dan patriotisme
(rela berkorban) dengan tetap menjunjung tinggi sikap-sikap seperti: keserasian, kepentingan dan
keselamatan bangsa serta m,enghargau hak asasi manusia.
2. Penerapan semangat kebangsaan sangat penting untuk ditumbuhkembangkan bagi
generasi penerus bangsa (pelajar) baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di masyarakat.
Adapun cara yang dapat dilakukan antara lain melalui: sikap keteladanan, sikap pewarisan, dan
sikap ketokohan.
3. Bangsa Indonesia mempunyai ciri khas : Hidup bersama dalam perbedaan, kekayaan
alam yang melimpah dan keramahtamahan penduduk dalam kehidupan sehari-sehari
4. Isi Sumpah Pemuda :
Kami Poetra dan Poetri Indoneisa Mangakoe
Bertoempah Darah jang Satoe, Tanah Indoneisa.
Kami Poetra dan Poetri Indoneisa Mengakoe
Berbangsa jang Satoe, Bangsa Indonesia.
Kami Poetra dan Poetri Indoneisa
Mendjoendjoeng Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

5. Keterbukaan merupakan persyaratan bagi terjalinnya komunikasi antarindividu.


Keterbukaan berhubungan dengan hal atau keadaan terbuka, terkuak, keadaan yang tidak
tertutup, keadaan tidak ada rahasia atau tidak ada sesuatu yang dirahasiakan.

6. Keadilan berasal dari kata adil yang mengandung arti tidak berat sebelah, tidak memihak
kecuali pada yang benar, berpegang pada kebenaran. Keadilan adalah sikap dan tindakan yang
tidak sewenang-wenang, memberikan hak kepada orang lain sebagaimana mestinya, atau
melaksanakan hak sesuai dengan kewajiban. Tindakan yang adil adalah tindakan yang
menghormati dan menghargai hak asasi manusia sesuai dengan kodrat, harkat dan martabat tanpa
membedakan keturunan, suku bangsa serta status sosialnya.

7. Macam-macam keadilan : keadilan distributif, keadilan komutatif, keadilan kodrat,


keadilan konvensional, dan keadilan legalitas.

8. Landasan jaminan keterbukaan HAM :


Pancasila, terutama sila ke-2 dan ke-5,
Pembukaan UUD 1945 alenia 1, 2 dan 4,
Batang tubuh UUD 1945, yakni pasal 27, 28, 29, 30, 31 dan 34,
TAP MPR No. 11/1999 tentang GBHN terutama dalam bidang hukum,
UU No. 39/1999 Tentang HAM yang tercantum dalam pasal 3 ayat 2,
UU No. 5 Tahun 1998, UU No. 9 Tahun 1998
Perpu No. 1 Tahun 1999 Tentang HAM

Globalisasi dan Kerjasama Antarbangsa

2.1 Globalisasi sebagai Perspektif Tantangan Global


Berdasarkan kajian etimologi, kata globalisasi berasal dari kata globe ditambah dengan akhiran sasi.
Kata globe artinya adalah bola dunia, sedangkan akhiran sasi, maknanya adalah proses, maka pengertian
globalisasi secara etimologis adalah sebuah proses yang mendunia. Di Perancis, kata globalisasi di kenal dengan
mondialisasion,di Spanyol dan Amerika Latin dikenal dengan sebutan Globalisasi dan orang Jerman
menyebutnya Globalisierung.

Akbar S. Ahmed dan Hastings Donnan memberikan batasan bahwa globalisasi pada prinsipnya mengacu
pada perkembangan-perkembanganyang cepat dibidang teknologi, komunikasi, transformasi, dan informasi
yang dapat membawa bagian-bagian dunia yang jauh menjadi hal-hal yang dapat dijangkau dengan mudah.

Pada akhirnya pengaruh ini cepat atau lambat akan menimbulkan gesekan nilai-nilai budaya dan
agama di seluruh dunia yang memanfaatkan jasa komunikasi, transformasi, dan informasi hasil dari
modernisasi teknologi tersebut.

Pertemuan gesekan antar nilai budaya dan agama tersebut akan menghasilkan kompetisi yang
bebas yang berarti saling mempengaruhi dan dipengaruhi, saling bertentangan dan bertabrakan
antarnilai yang berbeda yang akhirnya akan menimbulkan kalah dan menang atau mungkin saling
kerjasama sehingga menghasilkan sintesis atau antithesis baru.

Menurut Samuel Huntington, pengertian modernisasi memiliki tiga proses, yaitu sebagai
berikut.

1. Penggantian jumlah besar dari hal-hal yang tradisional, bersifat keadaan, kekeluargaan, dan kekuasaan
nasional dan sekuler.
2. Munculnya fungsi-fungsi politik yang harus dikelola dengan hirarki administratif yang baru, terpilih atas
dasar kemampuan atau prestasi, bukan asal-usul mereka.
3. Meningkatnya partisipasi politik oleh kelompok-kelompok sosial dari seluruh masyarakat melalui
perkembangan institusi baru seperti partai politik dan kelompok interes.
Menurut Koentjaraningrat modernisasi merupakan istilah untuk menyebutkan konsep usaha
untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang. Bagi bangsa Indonesia modernisasi
harus diartikan mengubah berbagai sifat mentalitas yang tidak cocok dengan kehidupan zaman, dan
membiasakan diri menerapkan sikap mental sebagai berikut.

1. Lebih menilai fungsi orientasi (berpandangan) ke masa depan.


2. Bersifat hemat, lebih teliti memperhitungkan dimasa depan.
3. Lebih menilai tinggi untuk meningkatkan inovasi.
4. Lebih menilai tinggi inovasi dan karya.
5. Berusaha bekerja keras atas kemampuan sendiri.
6. Percaya pada diri sendiri.
7. Berdisiplin murni.
8. Berani bertanggung jawab.
Pengertian modernisasi berbeda dengan pengertian unsur-unsur barat dan westernisasi.
Menurut Koentjaraningrat modernisasi adalah usaha untuk hidup untuk sesuai dengan zaman dan
konstelasi dunia sekarang, sedangkan westernisasi berarti usaha untuk meniru secara berlebihan
misalnya gaya bicara, gaya berpakaian dengan mengikuti mode yang berubah-ubah dengan cepat,
pergaulan, pola berpesta (merayakan ulang tahun), pola rekreasi dan minum-minuman keras.

Alex Inkeles memberikan 9 ciri orang yang sudah dapat disebut modern yaitu sebagai berikut.

1. Terdapat kesediaan untuk menerima pengalaman-pengalaman yang baru dan keterbukaan bagi
pembaharuan dan perubahan.
2. Adanya kemampuan untuk membentuk dan mempunyai tanggapan terhadap sebuah persoalan yang
timbul baik dilingkunganya maupun di luar lingkungannya. Pada sisi lain orang yang modern adalah
orang yang demokratis yaitu adanya kesadaran akan peluang terjadinya keragaman pendapat.
3. Kemampuan manusia dalam mengatur waktu secara efektif dan produktif.
4. Kehidupannya terbiasa dengan pola perencanaan hidup.
5. Memiliki keyakinan yang tinggi terhadap kemampuan manusia, dalam arti punya keyakinan bisa
mempengaruhi bukannya dipengaruhi oleh lingkungan.
6. Mempunyai kemampuan evaluasi kritis dalam mengukur hasil pekerjaan, tidak bersifat untung-
untungan atau nasib-nasiban.
7. Memiliki kesadaran terhadap harga diri manusia. Orang modern adalah orang yang menghargai diri
sendiri dan juga harga diri orang lain.
8. Percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi dan bukan bersikap ramal-ramalan atau berangan-angan.
9. Adanya kesadaran dan kemampuan untuk bertindak secara adil dan berkesinambungan. Orang modern
yakin bahwa ganjaran harus diberikan kepada orang yang memiliki kemampuan lebih dan hukuman
diberikan kepada orang yang melakukan pelanggaran hukum. Percaya pada adanya distributive justice,
hasil yang diperoleh dilihat dari jasa yang diberikan bukan dari sebab lain.
Perspektif global adalah suatu sudut pandang terhadap situasi yang mendunia, untuk
kepentingan yang dalam bahasan ini dimaksudkan untuk kepentingan pendidikan. Robert Harvey (1982.
h. a) dalam Sapriya (02:146) menyatakan .a global perspective is not a quantum, something you either
have or dont have (perspektif global bukanlah suatu quantum, ialah sesuatu yang anda miliki atau
belum dimiliki).Sebagaimana yang diungkapkan oleh Merryfield (1990) dalam Sapriya (2002:147) bahwa
peran guru di sekolah perlu mempersiapkan diri untuk memiliki pengetahuan dan ketentuan sebagai
berikut.

1. Mengepersikan perbedaan dan persamaan budaya termasuk cara-cara mengajar keragaman dan
kesadaran akan perspektif.
2. Dunia sebagai suatu sistem dan konsep saling ketergantungan dan saling terkait.
3. Bagaimana keberadaan siswa yang ada pada suatu tempat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
hubungan orang dan organisasi global di seluruh dunia.
Ada tiga prinsip pembelajaran untuk menanamkan kesadaran tentang perubahan dinamika gelobal
tersebut.

1. Prinsip-Prinsip Perubahan Dasar dalam Sistem Sosial.


- Pencabangan unsur-unsur baru dari sistem sosial yang terbentuk.

- Akibat yang tidak dapat diperkirakan.

- Beberapa fungsi unsur-unsur yang terbuka dan tertutup terhadap perubahan umpan balikpositif maupun
negatif untuk bahan diskusi.

2. Pertumbuhan sebagai Bentuk Perubahan.


- Pertumbuhan yang diharapkan dalam pembangunan kesejahteraan manusia.

- Pertumbuhan yang tidak di harapkan sebagai akibat pertumbuhan penduduk, kapasitas sumberdaya alam yang
berkurang atau rusak, maupun prilaku penghuni planet bumi yang tidak bertanggung jawab.

3. Perencanaan Global
- Kepentingan nasional masing-masing bangsa peranannya dalam perencaan global, kondisiplanet bumi bersama
isinya.

- Upaya-upaya yang dilakukan sebagai model-model rekayasa dari maisng masing bangsa.

2.2 Dampak Globalisasi Terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara


Masalah-masalah yang saat ini sedang dihadapi umat manusia yaitu seperti penipisan lapisan ozon,
pemanasan global, penggundulan hutan, polusi, semakin langkanya spesies tanaman maupun hewan, krisis
energy dan sebagainya. Ini semua merupakan bentuk pengeksploitasian alam oleh manusia saat ini dengan
memakai teknologi terutama industri.

Adapun ciri-ciri isu-isu dan masalah-masalah global sebagaimana dikemukakan Sapriya (2002:
17) adalah sebagai berikut.

1. Ruang lingkupnya bersifat internasional. Asal-usul dan akibat dari masalah melintasi lebih dari satu
negara.
2. Isu-isu dan masalah-masalah hanya dapat diselesaikan tindakan multilateral. Penyelesaian dan
perbaikan tidak dapat dicapai hanya oleh tindakan satu negara.
3. Bahwa tingkat konflik berasal dari ketidaksepakatan tentang hakekat dan sebab masalah, dalam
membedakan nilai dan tujuan tentang hasil dan cara, dalam menemukan kesulitan dan tindakan yang
tepat yang diperlukan untuk menjamin hasil yang diharapkan.
4. Masalah dan isu-isu ini mempunyai sifat yang terus menerus (persistence). Masalah dan isu-isu ini telah
berkembang sebagai masalah dan isu yang berkelanjutan.
5. Isu dan masalah ini terkait dengan hal lain. Pada umumnya, penyelesaian pada satu masalah akan
mempunyai pengaruh pada beberapa faktor lainnya.
Sudah saatnya digencarkan tingkat kesadaran kembali dalam menyeimbangkan ekosistem alam
semesta dari sudut pandang global. Pendidikan global merupakan upaya untuk menanamkan suatu
pandangan (perspektif) tentang dunia kepada para siswa dengan memfokuskan bahwa terdapat keterkaitan
antarbudaya umat manusia dengan kondisi planet bumi (alam semesta).
Adapun tujuan dari pendidikan globaladalah untuk mengembangkan pengetahuan (knowledge),
keterampilan (sklill), dan sikap (attitude) yang diperlukan untuk hidup sesara efektif dalam dunia yang sumber
daya alamnya sudah menipis
dan ditandai oleh kenyataan keragaman etnis yang ada, fluraisme budaya sampai pada gaya dan cara hidup yang
semakin ketergantungan.

Diantaranya ada empat kategori isi pendidikan global yang jadi masukan untuk kurikulum Pendidikan
Global, sebagaimana dikemukakan Kniep (1986: 442-444) dalam Sapriya (2002:171) adalah sebagai berikut.

1. Isu Perdamaian dan Keamanan


Pada dasarnya, bangsa-bangsa mengetahui keamanan karena kehadiran atau ketiadaan
ancaman terhadap nilai-nilai atau sumber-sumber dasar yang menjadi landasan kehidupan. Perhatian
terhadap keamanan dapat beranekaragam, mulai dari perlindungan hak asasi manusia dan otonomi
nasional sampai pada mempertahankan kebebasan ekonomi.

2. Isu Pembangunan
Isu pembangunan akan memfokuskan pada sejumlah masalah kesenjangan antara orang kaya
dan orang miskin di dunia dan ketidakadilan serta penderitaan akibat dari kesenjangan ini. Kenyataan ini
merupakan ancaman terhadap keamanan global dan lingkungan. Selain itu, maslah ini merupakan
penyebab utama tingginya utang negara-negara dunia ketiga yang nampaknya semakin menjadi beban.

3. Isu Lingkungan
Isu-isu lingkungan terutama berkaitan dengan akibat-akibat eksploitasi sumber daya manusia
dan pengelolaan sumber kekayaan bumi berupa tanah, lautan dan unsur-unsur lainnya. Karena
penduduk bumi berkembang sangat cepat dan meningkatnya konsumerisme maka akibat-akibat
tersebut diperluas menjadi masalah-masalah krisis. Hujan asam, polusi sungai dan laut, pembentukan
karbondioksida dalam atmosfer, polusi dari industri, pemusnahan jenis tanaman dan hewan, penipisan
hutan dan sebagainya.

2.3 Pengertian Politik Luar Negeri


Menurut Couloumbis dan Wolfe tentang definisi politik luar negeri dilihat dari unsur-unsur
fundamentalnya, politik luar negeri terdiri dari dua elemen, yaitu tujuan nasional yang akan dicapai dan
alat-alat untuk mencapainya. Interaksi antara tujuan nasional dengan sumber-sumber untuk
mencapainya merupakan subjek kenegaraan yang abadi.
Politik luar Negara dari suatu Negara, menurut J.R Child adalah isi pokok dari hubungan luar
negerinya , sedangkan proses pelaksanaan politik luar negeri itu disebut diplomasi. Instrumen dalam
melaksanakan diplomasi tersebut terdiri dari dua yaitu sebagai berikut.

1. Departemen Luar Negeri yang merupakan otak politik luar negeri.


2. Perwakilan Diplomatik yang merupakan pancaindra atau penyambung lidah Negara yang diwakilinya.
Sifat politik luar negeri Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Bebas adalah tidak memihak, artinya tidak memihak dalam pertentangan antarblok, walaupun dalam
mengambil sikap yang kebetulan sejalan dengan pendirian salah satu blok, maka sikap yang diambil
adalah atas dasar kepetingan nasional suatu waktu dalam keadaan tertentu.
2. Aktif adalah tidak diam, artinya tidak boleh diam, tetapi harus melakukan komitmen secara aktif,
mengharuskan menghapus penjajahan, aktif memperjuangkan perdamaian dan aktif memperjuangkan
keadilan dalam suasana internasional.

2.4 Hubungan Kerjasama Antarbangsa


Kebijakan suatu Negara dalam mengimplementasikan hubungan kerjasama dengan berbagai
negara lain dituangkan dalam politik luar negeri dari negara tersebut. Hubungan antarbangsa terasa
lebih penting terutama pada era globalisasi yang menurut banyak kalangan ditandai dengan beberapa
karakteristik sebagai berikut.

1. Adanya homogenitas selera.


2. Iklim kompetitif yang sangat tinggi.
3. Kualitas sumber daya manusia sangat penting.
4. Peran ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat besar.
5. Saling ketergantungan (interdependensi) dirasakan semakin tinggi.
6. Keunggulan kompetitif sangat menentukan.
7. Kerjasama antarnegara sangat perlu untuk menjaga kelangsungan hidup suatu bangsa.
Adapun cara-cara bangsa Indonesia mengadakan hubungan dengan bangsa lain adalah dengan
hubungan perjanjian internasional baik bilateral, maupun multirateral, dengan melalui beberapa
tahapan sebagai berikut.

1. Tahap Perundingan (Negotiation)


Menurut tata cara yang berlaku, suatu perundingan dapat diwakili dengan membawasurat
kuasa penuh. Surat kuasa penuh adalah surat dokumen yang dikeluarkan oleh penguasa yang
berwenang dalam suatu Negara, baik untuk mengadakan perundingan, menerima, maupun
mengesahkan suatu naskah perjanjian, atau menyatakan persetujuan Negara untuk terikat perjanjian
tersebut.

Perundingan dapat diwakili oleh kepala pemerintahan, menteri luar negeri, dan duta besar.
Mereka tidak harus memperlihatkan surat kuasa penuh. Perjanjian bilateral biasanya disebut talk,
sedangkan perundingan dalam rangka perjanjian multilateral disebut diplomatic comferenceatau
konferensi.

2. Tahap Penandatangan (Signature)


Setelah perundingan selesai, maka dilakukan penerimaan atau penandatanganan naskah
perjanjian. Dalam perundingan multilateral, penandatanganan naskah perjanjian cukup dilakukan
dengan dua pertiga suara dari peserta yang hadir, kecuali jika ditentukan lain dalam perundingan itu.

Penandatanganan merupakan suatu tindakan yang sangat penting artinya. Hal tersebut
akanmenentukkan, apakah dengan ditandatanganinya perjanjian dianggap telah mengikat atau tidak.

3. Tahap Pengesahan (Ratification)


Setelah perjanjian ditandatangani oleh wakil-wakil Negara yang turut serta dalam perundingan,
naskah perjanjian itu dibawa masing-masing Negara untuk dipelajari. Apakah isi atau materi sudah
memenuhi kehendak atau tidak, apakah utusan yang telah diberikan kuasa penuh tidak melampaui
batas-batas kewenangan.

Jika isi atau materi telah diangggap memenuhi atau sesuai dengan kepentingan nasional dari
Negara yang bersangkutan, maka Negara dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
menguatkan atau mengesahkan perjanjian yang telah ditandatangani oleh wakil-wakil yang telah
berkuasa penuh. Tindakan pengesahan disebut ratifikasi.

Selain perjanjian internasional yang dibuat dengan tiha tahapan diatas, ada juga pendapat pihak
lain yang menyatakan bahwa perjanjian internasional dibuat melalui dua tahapan yaitu perundingan
(negotiation) dan penandatanganan (signature). Menurut Mochtar Kusumatmaja perjanjian dengan dua
tahap tersebut biasanya bersifat lebih sederhana artinya perjanjian itu tidak begitu penting dan tidak
memerlukan penyelesaian yang cepat seperti perjanjian perdagangan yang berjangka pendek.

Perjanjian internasional dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu:

1. Treaty contract, yaitu perjanjian atau kontrak dalam hukum pedata. Perjajian ini hanya akan berakibat
kepada hak dan kewajiban pihak yang mengadakan perjanjian. Contoh perjanjian ini adalah
dwikewarganegaraan, perjanjian perbatasan, perjajian perdagangan, perjanjian pemberantasan
penyelundupan, dan sebagainya.
2. Law making treatis, yaitu perjanjian yang meletakan ketentuan atau kaidah hukum bagi masyarakat
internasional secara keseluruhan. Misalnya konvensi Jenewa tahun 1949 tentang perlindungan korban
perang, Konvensi Vienna tahun 1961 tentang hubungan diplomatik, Konvensi Hukum Laut tahun 1958.
Negara-negara yang terlibat dalam perjanjian internasional terikat oleh perjanjian yang dibuat
itu. Dalam hal ini berlaku adagium atau semboyan yang sangat terkenal dalam konteks perjanjian
internasional yaitu Pacta Sun Servanda, yang artinya perjanjian atau persetujuan antar Negara harus
ditaati.

Jika perjanjian itu tidak dilaksankan atau diingkari oleh salah satu pihak atau beberapa pihak
yang terlibat dalam perjanjian tersebut, maka akan menimbulkan sengketa internasional. Dilihat dari sisi
hukum, pelanggaran perjanjian oleh suatu pihak peserta sama sifatnya dengan pembatalan perjanjian,
dengan perbedaan bahwa pembatalan berlaku untuk seluruh perjanjian, sedangkan pembatalan atau
penagguhan adalah sebagai akibat dari pelanggaran oleh peserta lain dapat dilakukan untuk sebuah
perjanjian.

2.5 Pentingnya Kerjasama Antarbangsa di Era Globalisasi


Suatu Negara sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat, berhak menentukan nasibnya
sendiri serta kebijaksanaan-kebijaksanaan luar negerinya. Bangsa atau Negara tidak mungkin sanggup
memenuhi semua kebutuhan warganya. Sebagaimana individu, bangsa juga memiliki kelebihan dan
kekurangan, oleh karenanya kerjasama dengan bangsa lain dalam bentuk hubungan internasional
mutlak diperlukan,baik yang menyangkut di bidang politik, ekonomi, maupun sosial dan budaya.
Disamping itu kerjasama internasional juga mutlak diperlukan dalam rangka menghadapi kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi di era globalisasi.