Anda di halaman 1dari 2

Pengadaan air

Pada proses Pembangkit Listrik Tenaga Uap di PT CHD lahat digunakan air
sebagai bahan baku utama pada Boiler. Air umpan diperoleh dari pemurnian air yang
berasal dari sungai Lematang di Merapi Barat. Jarak antara pembangkit dengan sungai
dimana merupakan sumber diperolehnya air baku yaitu berjarak 1 Km. Sebelum
dialirkan ke pembangkit, air diproses terlebih dahulu dengan beberapa tahapan, yaitu
proses koagulasi, proses flokulasi, proses sedimentasi, proses aerasi, proses filtrasi, dan
dilanjutkan pada proses demineralisasi sebelum menjadi air umpan dan digunakan
untuk membuat steam. Proses pengolahan air dilakukan dengan menghisap air dari
sungai Lematang. Pada tahap pengambilan air dari sungai menggunakan bantuan alat
berupa pompa, dan pompa yang dugunakan berjenis pompa sentrifugal, kemudian
masuk kedalam bangunan intake yang terdapat saringan dan penampung sampah (Trash
Rack). Saringan harus dilengkapi dengan sistem pembersih dengan air (spray water)
dan pembuang ikan. Saringan diperlukan didalam sistem siklus terbuka untuk mencegah
sampah dan biota sungai memasuki intake dan pompa. Trash rack dipasang disisi
masuk saringan untuk mengumpulkan sampah ukuran besar dan setelah dilakukan
proses penyaringan selanjutnya dilakukan pengolahan air baku guna dihasilkannya air
demineral yang akan digunakan untuk membuat steam. Berikut ini merupakan tahapan-
tahapan yang dilakukan dalam proses pengolahan air umpan, yaitu :

1. Koagulasi
Pada proses koagulasi ini dilakukan proses destabilisasi partikel koloid, karena
pada dasarnya air sungai atau air-air kotor biasanya berbentuk koloid dengan
berbagai partikel koloid yang terkandung di dalamnya. Destabilisasi partikel
koloid ini bisa dengan penambahan bahan kimia berupa tawas Al 2(SO4)3, ataupun
dilakukan secara fisik dengan rapid mixing (pengadukan cepat), hidrolis,
maupun secara mekanis (menggunakan batang pengaduk).
2. Flokulasi
Dalam proses flokulasi ini bertujuan untuk membentuk dan memperbesar flok
akibat gabungan dari koloid-koloid dalam air baku dengan koagulan. Teknisnya
adalah dengan dilakukan pengadukan lambat (slow mixing).
3. Sedimentasi
Setelah dilakukan proses destabilisasi partikel koloid melalui unit koagulasi dan
unit flokulasi, selanjutnya dilakukan proses sedimentasi. Proses sedimentasi ini
dilakukan dengan tujuan untuk mengendapkan partikel-partikel koloid yang
sudah di destabilisasi oleh unit sebelumnya. Unit ini menggunakan prinsip berat
jenis. Berat jenis partikel koloid (biasanya berupa lumpur) akan lebih besar dari
pada berat jenis air. Dalam bak sedimentasi, akan terpisah anatara air dan
lumpur hingga berbentuk sebuah endapan. Hal ini menyebabkan air akan tampak
lebih jernih yang kemudian air tersebut dimasukkan kedalam precleanning
water basin. Kemudian lumpur dan kotoran dari proses sedimentasi dialirkan
kembali ke sungai Lematang di Merapi Barat melalui bak slurry.
4. Filtrasi
Setelah proses sedimentasi, air yang ditampung di preceaning water basin
dialirkan ke iron dan manganese remolvale filter untuk dilakukan proses filtrasi.
Pada proses filtrasi ini dilakukan dengan tujuan untuk menyaring menggunakan
media berbutir dan dilakukan secara gravitasi. Penyaringan dilakukan dengan
mengalirkan air yang telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri
dari saringan pasir silica untuk menyaring kotoran yang masih terdapat dalam
air. hingga kotoran akan tertinggal pada pasir silica.
5. Aerasi
Setelah air menjadi bersih dan jernih, kemudian selanjutnya dilakukan proses
aerasi dengan menginjeksikan udara dari aerator dan menambahkan tri sodium
fosfat sebagai anti korosi.
6. Demineralisasi
Pada tahap demineralisasi dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan air
demineral sesuai dengan standar air yang akan diumpankan atau air bahan baku
untuk proses di Boiler. Kemudian air yang telah diproses tersebut akan
dipompakan dengan pompa ke high level tank, kemudian secara gravitasi
menuju ke mill dan kiln untuk pendingin bearing-bearing maupun untuk
keperluan laboratorium, conditioning tower, dan lain-lain. Setelah dipakai untuk
pendingin bearing, air ditampung dalam warm water basin.