Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak terpisah dari benda-benda yang bersifat
logam. Benda ini biasa digunakan sebagai alat perlengkapan rumah tangga seperti sendok, garpu,
pisau, dan lain-lain (logam biasa), sampai pada tingkat perhiasan mewah seperti emas, perak, dan
lain-lain. Logam memiliki jenis yang berbeda-beda, yaitu logam biasa dan logam berat.
Logam berat merupakan komponen alami tanah. Logam berat yang ada di lingkungan, tanah,
air dan udara dengan suatu mekanisme tertentu masuk ke dalam tubuh makhluk hidup. Logam
berat terserap ke dalam jaringan tanaman melalui akar, yang selanjutnya akan masuk ke dalam
siklus rantai makanan.
Kontaminasi logam berat merupakan salah satu aspek kimia yang harus diwaspadai karena
dapat mengancam kesehatan dan keamanan konsumen. Arsenic (As), Lead (Pb), Mercury (Hg),
Kadmium (Cd) dan Chromium (Cr) merupakan beberapa contoh logam berat. Logam-logam
berat tersebut dalam konsentrasi tinggi akan berbahaya bagi kesehatan manusia bila ditemukan di
dalam lingkungan, baik di dalam air, tanah maupun udara.
Arsen (As) adalah salah satu logam toksik yang sering diklasifikasikan sebagai logam, Tetapi
lebih bersifat nonlogam. Tidak seperti logam lain yang membentuk kation, Arsen (As) dialam
berbentuk anion, seperti H2AsO4 (Ismunandar, 2004). Arsen (As) tidak rusak oleh lingkungan,
hanya berpindah menuju air atau tanah yang dibawa oleh debu, hujan, atau awan. Beberapa
senyawa Arsen (As) tidak bisa larut di perairan dan akhirnya akan mengendap di sedimen.
Senyawa arsen pada awalnya digunakan sebagai pestisida dan hibrisida, sebelum senyawa
organic ditemukan, dan sebagai pengawet kayu (Copper Chromated Arsenic (CCA)).

1.2 Tujuan Penulisan


Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui definisi arsen, mengetahui karakteristik
arsen, mengetahui mekanisme masuknya arsen dalam tubuh, mengetahui sumber-sumber
pencemar arsen dan mengetahui toksisitas arsen serta mengetahui cara mengatasi keracunan
arsenik.
BAB II
ISI

2.1 Definisi Arsenik


Arsen (As) adalah suatu unsur kimia metaloid (semilogam) golongan VA dengan nomor
atom 33. Arsen berwujud bubuk putih, tanpa warna dan bau. Nama arsenik sendiri pertama kali
berasal dari bahasa. Arsen merupakan bahan metaloid yang terkenal beracun dan memiliki tiga
bentuk alotropik, yaitu kuning, hitam dan abu-abu.
Arsen (As) dialam ditemukan berupa mineral, antara lain arsenopirit, nikolit, orpiment,
enargit, dan lain-lain. Demi keperluan industry mineral, Arsen (As) dipanaskan terlebih dahulu
sehingga As berkondensasi menjadi bentuk padat.
Bermacam-macam bentuk senyawa kimia dari arsen ini yaitu sebagai berikut ;
1. Arsen triokasida (As2O3), ialah bentuk garam inorganic dan bentuk trivial dari asam
arsenat (H4AsO4) berwarna putih dan padat seperti gula.
2. Arsen pentaoksida (As2O5)
3. Arsenat (misalnya : PbHAsO4), ialah bentuk garam dari asam arsenat, merupakan
senyawa arsen yang banyak dijumpai di alam dan bersifat kurang toksik.
4. Arsen organic, arsen berikatan kovalen dengan rantai karbon alifatik atau struktur
cincin,dimana arsen terikat dalam bentuk trivalent ataupun pentavalen. Bentuk senyawa
arsen ini kurang toksin dibandingkan denagn bentuk senyawa arsen inorganic trivalent.
Bentuk senyawa arsen yang paling beracun ialah gas arsin (AsH3), yang terbentuk bila
asam bereaksi dengan arsenat yang mengandung logam lain.

Selain dapat ditemukan di udara, air maupun makanan, arsen juga dapat ditemukan di
industri seperti industri pestisida, proses pengecoran logam maupun pusat tenaga geotermal.
Elemen yang mengandung arsen dalam jumlah sedikit atau komponen arsen organik (biasanya
ditemukan pada produk laut seperti ikan laut) biasanya tidak beracun (tidak toksik). Arsen dapat
dalam bentuk in organik bervalensi tiga dan bervalensi lima. Bentuk in organik arsen bervalensi
tiga adalah arsenik trioksid, sodium arsenik, dan arsenik triklorida., sedangkan bentuk in organik
arsen bervalensi lima adalah arsenik pentosida, asam arsenik, dan arsenat (Pb arsenat, Ca
arsenat). Arsen bervalensi tiga (trioksid) merupakan bahan kimia yang cukup potensial untuk
menimbulkan terjadinya keracunan akut.

2.2 Karakteristik Arsen


Arsen berwarna abu-abu, namun bentuk ini jarang ada di lingkungan. Arsen di air
ditemukan dalam bentuk senyawa dengan satu atau lebih elemen lain (Wijanto, 2005). Arsen
secara kimiawi memiliki karakteristik yang serupa dengan fosfor, dan sering dapat digunakan
sebagai pengganti dalam berbagai reaksi biokimia dan juga beracun. Ketika dipanaskan, arsen
akan cepat teroksidasi menjadi oksida arsen, yang berbau seperti bau bawang putih. Arsen dan
beberapa senyawa arsen juga dapat langsung tersublimasi, berubah dari padat menjadi gas tanpa
menjadi cairan terlebih dahulu. Zat dasar arsen ditemukan dalam dua bentuk padat yang
berwarna kuning dan metalik, dengan berat jenis 1,97 dan5,73.

2.3 Mekanisme Masuknya Arsen dalam Tubuh


Pemasukan arsen trioksida ke dalam tubuh manusia umumnya melalui oral, dari
makanan/minuman yang tercemar arsen dari air tanah karena karakteristik dari arsen trioksida
sendiri yang mudah larut dalam air. Arsen yang tertelan secara cepat akan diserap lambung dan
usus halus kemudian masuk ke peredaran darah (Wijanto, 2005).
Arsen trioksida mampu menghambat produksi ATP, sumber energi bagi sel-sel hidup,
melalui berbagai mekanisme. Di siklus Krebs arsenik menghambat enzim piruvat dehidrogenase,
sehingga sintesis ATP menjadi berkurang dan malah meningkatkan produksi hidrogen peroksida.
Hidrogen peroksida ini merupakan oksidator yang sangat reaktif terhadap sel hidup, maka justru
sel hidup itulah yang diserang.

2.4 Sumber-Sumber Pencemar Arsen


Keberadaan arsen di alam (meliputi keberadaan di batuan (tanah) dan sedimen, udara, air,
dan biota), produksi arsen di dalam industri, penggunaan dan sumber pencemaran arsen di
lingkungan. (Festri, 2014)
Contoh sumber pencemar dalam bidang industri diataranya yaitu industri pengolahan
bijih logam, industri pestisida, industri pertambangan, industri pelapisan logam dan industri
proses penghilangan cat (paint stripping).
2.5 Toksisitas
Toksisitas senyawa arsenik dan sangat bervariasi. Bentuk organik tampaknya memiliki
toksisitas yang lebih rendah daripada bentuk arsenik anorganik.. Penelitian telah menunjukkan
bahwa arsenites (trivalen bentuk) memiliki toksisitas akut yang lebih tinggi daripada arsenates
(pentavalent bentuk). Minimal dosis akut arsenik yang mematikan pada orang dewasa
diperkirakan 70-200 mg atau 1 mg/kg/hari. Sebagian besar melaporkan keracunan arsenik tidak
disebabkan oleh unsur arsenik, tapi oleh salah satu senyawa arsen, terutama arsenik trioksida,
yang sekitar 500 kali lebih beracun daripada arsenikum murni. Gejalanya antara lain: sakit di
daerah perut, produksi air liur berlebihan, muntah, rasa haus dan kekakuan di tenggorokan, suara
serak dan kesulitan berbicara, masalah muntah (kehijauan atau kekuningan, kadang-kadang
bernoda darah), diare, tenesmus, sakit pada organ kemih, kejang-kejang dan kram, keringat
basah, lividity dari ekstremitas, wajah pucat, mata merah dan berair (www.wikipedia.org, 2009).
Gejala keracunan arsenik ringan mulai dengan sakit kepala dan dapat berkembang menjadi
ringan dan biasanya, jika tidak diobati, akan mengakibatkan kematian (www.wikipedia.org,
2009).

2.6 Cara Mengatasi Keracunan Arsenik


Pertolongan pertama (standart treatment) bila kulit kita terpapar arsenik: cuci
permukaankulit dengan air mengalir secara kontinu kurang lebih 10 menit, atau sampai tidak
adakandungan bahan kimia di atas kulit. Bila perlu, gunakan sabun. Baju yang
terkontaminasiharus dilepaskan. Kemudian segera ke dokter untuk mendapat pertolongan medis.
Sementara bila racun masuk ke pencernaan, masukkan air dalam jumlah yang cukup besar ke
dalam mulut untuk mencuci. Tetapi, air jangan tertelan. Kalau bahan kimianya sudah tertelan,
minum kurang lebih 250 ml air dan jangan memaksakan muntah. Segera cari pertolongan medis.
Cara mengatasi keracunan arsenik berbeda antara keracunan akut dan kronik. Untuk keracunan
akut yang belum berlangsung 4 jam, korban diberi ipekak untuk merangsangnya muntah. Dapat
juga dilakukan bilas lambung apabila ia tidak dapat minum. Pemberian katartik atau karboaktif
dapat bermanfaat. Sedangkan untuk keracunan yang sudah berlangsung lebih lama (termasuk
juga keracunan kronik), sebaiknya diberi antidotumnya,yaitu suntikan intramuskuler dimerkaprol
3-5 mg/kgBB 4-6 kali sehari selama 2 hari.Pengobatan dilanjutkan 2-3 kali sehari selama 8 hari (
www.terselubung.blogspot.com, 2009).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1) Arsen merupakan logam berat dengan valensi 3 atau 5, dan berwarna metal (steel-grey).
2) Arsen berwarna abu-abu, namun bentuk ini jarang ada di lingkungan. Arsen di air
ditemukan dalam bentuk senyawa dengan satu atau lebih elemen lain
3) Toksisitas senyawa arsenik dan sangat bervariasi. Bentuk organik tampaknya memiliki
toksisitas yang lebih rendah daripada bentuk arsenik anorganik
4) Pemasukan arsen trioksida ke dalam tubuh manusia umumnya melalui oral, dari
makanan/minuman yang tercemar arsen dari air tanah karena karakteristik dari arsen
trioksida sendiri yang mudah larut dalam air.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan Agnesa. 2010. Makalah Toksikologi Industri ARSEN. http://kesmas-


unsoed.blogspot.com/2010/10/makalah-toksikologi-industri-arsen.html.
Cotton dan Wilkinson . 2009 . Kimia Anorganik Dasar . Jakarta : UI-Press
Darmono . 2006 . Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya Dengan Toksikologi
Seyawa Logam . Jakarta . UI-Press
Fhazira. 2010. Logam Berat Arsen. http://chitralestari.blogspot.com/2010/09/logam-berat-
arsen.html. 30 Maret 2012
Darmono . 2009 . Farmasi Forensik dan Toksikologi . Jakarta : UI-Press
http://id.wikipedia.org/wiki/Arsen
Sudarmaji, dkk. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 dan Dampaknya terhadap
Kesehatan.www.journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php
TUGAS MAKALAH
TOKSIKOLOGI

SENYAWA TOKSIK ARSEN

Disusun Oleh
Nama : Christi Yanthy J. Sihite
NIM : D1C012043

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


UNIVERSITAS JAMBI
2015