Anda di halaman 1dari 15

JURNAL PRAKTIKUM

FISIKA DASAR
KEKENTALAN (VISKOSITAS) ZAT CAIR

Disusun oleh :
Nama : 1. Richard Erbachan (141810301003)
2. Evan Agus M (141810301019)
3. Muhammad Ilham F. (141810301025)
4. Diramisti P. (141810301026)
Jurusan : Kimia
Kelompok /shift: 1/IV

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Panas dan kalor merupakan dua hal yang berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Panas
adalah kualitas benda setelah benda diberi perlakuan, seperti digosok atau ditempatkan pada
tempat yang bersuhu tinggi. Kalor adalah suatu bentuk energi yang berpindah dari benda
yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah. Hal itu terjadi karena kedua benda saling
berhubungan. Akibatnya benda yang menerima kalor suhunya akan naik,sedangkan benda
yang meklepas kalor suhunya akan turun. Kalor jenis bahan didefinisikan sebagai banyaknya
kalor yang dibutuhkan oleh satu satuan massa zat untuk menaikkan suhunya sebesar satu
satuan suhu. Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang
dibebaskan oleh suatu zat.

Praktikum kalorimeter ini perlu dilakukan karena bermanfaat dalam kehidupan sehari hari.
Dengan menggunakan kalorimeter dapat menentukan kalor jenis panci alumunium sehingga
panci meskipun terkena panas ompor tidak sampai pecah saat pemuaian. Aplikasi kalorimeter
juga digunakan pada alat setrika listrik.

Percobaan kalorimeter dilakukan dengan cara memasukkan benda yang telah dipanaskan
ke dalam kalorimeter yang berisi air. Kemudian dicatat suhu awal air, suhu benda dan suhu
tertingginya. Tujuan percobaan kalorimeter adalah menentukan kalor jenis dan kalor lebur
suatu bahan dengan menggunakan pemanas, pengukur panas (termometer) dan kalorimeter.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam percobaan kalorimeter :

1. Bagaimana menghitung kalor jenis bahan besrta ralatnya ?

2. Bagaimana kalor lebur es beserta ralatnya ?

3. Bagaimana perbandingan semua hasil yang diperoleh dengan tabel literatur ?

4. Bagaimana menganalisa faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan hasil ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari adanya percobaan kalorimeter :

1. Mengetahui langkah-langkah menghitung kalor jenis bahan beserta ralatnya.


2. Mengetahui langkah-langkah meghitung kalor lebur es beserta ralatnya.
3. Mengetahui perbandingan semua hasil yang diperoleh dengan tabel literatur.
4. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan adnya penyimpangan hasil.

1.4 Manfaat

Manfaat dari adanya percobaan kalorimeter adalah

1. Kita dapat mengetahui jenis kalor yang diserap dan diterima oleh suatu benda.
2. Dalam kehidupan sehari-hari,kalorimeter juga sangat berguna. Misalnya pada
pembentukan es batu dari air
3. Kita juga dapat menentukan kapasitas panas suatu benda.
4. Dalam kehidupan sehari-hari kalorimeter juga sangat bermanfaat. Contohnya dengan
memanfaatkan panas listrik, kita dapat memasak nasi menggunakan magicom.
BAB 2. DASAR TEORI

Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang
dibebaskan oleh suatu zat. Kalor didefinisikan sebagai sesuatu yang dipindahkan diantara
sebuah sistem dan lingkungannya sebagai akibat adanya perbedaan temperatur. Satuan dari
kalor adalah joule atau kalori. 1 kalori adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk
menaikkan temperatur 1 gram air dari 14,5oC 15,5oC. Hubungan antara satuan joule dengan
kalori adalah : 1 joule : 0,24 kalori atau 1 kalori : 4,2 joule (Furoidah,1997).
Pada kenyataanya yang sesungguhnya jumlah kalor yang sama diberikan pada
beberapa jenis benda yang berbeda menunjukkan bahwa masing-masing benda mengalami
kenaikan suhuyang berbeda beda. Hal ini menunjukkan bahwa setiap jenis benda memiliki
kemampuan serap kalor yang berbeda-beda. Pada umumnya benda yang mempunyai sifat
menyerap kalor yang baik maka benda tersebut juga bersifat melepas kalor yang baik
( Sutarto, 1999 ).
Apabila suatru benda melepaskan kalor, peristiwa yang mungkin terjadi adalah suhu
benda akan turun atau wujud benda akan berubah. Seperti pada proses perubahan zat cair
menjadi padat. Air melepaskan kalor untuk mengubah wujud cair menjadi padat, sehingga
suhu air akan berkurang dan berubah menjadi dingin. Sedangkan apabila sejumlah kalor
diberikan pada benda, maka kemungkinan yang akan terjadi ialah suhu akan naik, atau
wujud(fase) benda akan berubah (Supriyanto, 2000 ).
Kemampuan menyerap atau melepas kalor suatu benda dikaitkan dengan massa yang
dimilikinya termasuk pembicaraan kalor jenis. Kalor jenis dapat diartikan sebagai banyaknya
kalor yang diperlukan atau dilepaskan untuk menaikkan suhu satu satuan suhu. Jika suatu zat
yang massanya memerlukan atau melepaskan kalor sebesar Q untuk mengubah suhunya
sebesar t, maka kalor jenis (c) zat itu dapat dinyatakan dengan persamaan : Q= m.c.t
(Sutarto, 1999).
Kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur benda bergantung pada massa
dan jenis benda. Kapasitas kalor merupakan perbandingan antara banyaknya kalor yang
dibutuhkan oleh benda untuk menaikkan temperaturnya sebesar t. Persamaanya ditulis :
Q
C = t

Kapasitas kalor persamaan massa disebut kalor jenis


C kapasitas kalor
C=m = massa
( Furoidah,1997 ).
Kalor lebur adalah banyaknya kalor yang diserap oleh satu satuan massa zat untuk
mengubah wujudnya pada suhu leburnya. Sedangkan kalor beku atau kalor laten pembekuan
adalah banyaknya kalor yang dilepaskan oleh satu satuan massa zat tersebut untuk mengubah
wujudnya dari cair ke padat pada suhu bekunya. Jika suatu suhu saat zat berubah wujud dari
padat kecair disebut titik lebur ( Suyuti,2001 ).
Kalor uap atau kalor didih adalah banyaknya kalor yang diserap oleh satu satuan
massa zat untuk mengubah wujudnya dari cair ke gas pada suhu didih zat tersebut.
Sedangkan kalor embun adalah banyaknya kalor yang dilepas oleh satu satuan massa zat
untuk mengubah wujudnya dari gas kecair pada suhu tertentu. Jika suhu suatu zat saat
berubah wjud dari cair ke gas disebut titik didih ( Suyuti,2001 ).

Untuk menentukan kalor jenis suatu benda, berlaku hubungan yaitu :

(mk.ck+ma.ca ) (TcTa)
Cb = mb (TbTc)

Sedangkan untuk menentukan kalor lebur es, digunakan persamaan :

(mk.ckma.ca )(TcTa).mc ca.ta


Les = mes

Dengan : Cb = kalor jenis bahan yang akan dicari (kal/groC)

Ck= kalor jenis kalorimeter dan pengaduknya

Ca= kalor jenis air

Mk= massa kalorimeter (gr)

Mc= massa campuran (gr)

Les= kalor lebur es (kal/gr)

Tb= suhu awal bahan (oC)

Mc= massa air (gr)

Mb= massa bahan (gr)


Mes= massa es (gr)

Ta= suhu air mula-mula

Tc= suhu campuran setimbang (oC) ( Furoidah,1997 ).


BAB 3. METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam dalam percobaan kalorimeter :

a. Kalorimeter dan pengaduknya,

berfungsi sebagai alat untuk menentukan kalor jenis bahan.

b. Termometer,

Berfungsi sebagai alat untuk mengukur suhu.

c. Pemanas listrik,

Berfungsi sebagai alat untuk memanaskan bahan.

d. Penukar panas,

Berfumgsi sebagai alat untuk menghantarkan panas.

e. Butir/Kubus lubang,

berfungsi sebagai alat untuk meletakkan termometer pada saat dilakukan percobaa.

f. Es,

Berfungsi sebagai sistem/bahan yang di ukur kalor leburnya.

g. Air,

Berfungsi sebagai sistem/bahan yang di ukur kalor jenisnya.

3.2 Desain Percobaan

Adapun desain percobaan dari praktikum kalorimeter :


Gambar 3.1 Kalorimeter
(Sumber : Petunjuk praktikum fisika dasar,2014).

3.3 Langkah kerja


Berikut ini adalah langkah kerja dalam percobaan kalorimeter :
3.3.1 menentukan kalor jenis bahan
a. kalorimeter dan pengaduknya ditimbang secara bersama-sama dan dicatat sebagai mk
b. kalorimeter diisi dengan air, kemudian ditimbang dan dicatat sebagai mak, maka ma =
mak - mk
c. kalorimeter dimasukkan ke dalam bejana pelindung, kemudian ditutup. Termometer
dipasang lalu dibaca dan dicatat suhu awal air sebagai Ta
d. bahan yang akan ditentukan kalor jenisnya ditimbang sebagai mb
e. bahan dipanaskan di dalam pemanas hingga mencapai suhu tertentu (minimal 70C)
f. suhu benda dicatat sebagai Tb, kemudian dengan cepat dimasukkan ke dalam
kalorimeter dan ditutup rapat-rapat
g. diaduk perlahan hingga suhu air yang akan naik turun lagi, suhu tertinggi dicatat suhu
tertinggi yang diperoleh (Tc)
h. percobaan a - g diulangi dengan suhu awal bahan Tb yang berbeda
i. langkah a - h diulangi untuk jenis bahan yang berbeda
3.3.2 menentukan kalor lebur es
a. kalorimeter dan pengaduknya ditimbang secara bersama-sama, dicatat sebagai mk
2
b. kalorimeter diisi dengan sejumlah air ( 3volume kalorimeter), kemudian ditimbang

dan dicatat sebagai mak, maka ma = mak - mk


c. air dipanaskan bersama kalorimeter hingga suhunya sekitar 70C, dicatat sebagai Ta
d. kalorimeter diangkat dengan cepat dan dimasukkan ke dalam bejana pelindung
e. sepotong es dimasukkan ke dalam kalorimeter, ditutup rapat-rapat dan diaduk pelan-
pelan
f. suhu seimbang yang diperoleh dicatat sebagai Tc
g. massa air, es dan kalorimeter ditimbang (mc), sehingga diperoleh massa es mes = mc-
mak
h. langkah-langkah diatas diulangi hingga mendapatkan 3 kali pengulangan.

3.4 Metode Analisis Data


Adapun metode analisis data yang digunakan dalam perhitungan kalorimeter :

3.4.1 Menentukan banyaknya kalor (Q)


=
=

Keterangan :
Q : kalor
m: massa zat (gram)
c: kalor jenis (kal/gram C
: perubahan suhu

3.4.2 Menentukan kalor jenis benda


( + )( )
= ( )

)
= (


= | | | | + | | | | + | | | | + || | | + | | | | +


| | | |


=
100%

= 100%


= 1 log

3.4.3 Menentukan kalor lebur es


( + )( )
=

. . + . . .. .. .
.


= ( )


= | | | | + | | | | + | | | | + | | | | + | | | |

(. . + . + . ( ) ( )
| 2
| | | + | | | | +
( )
( )
= | | | | +

( ) +
| | | | + | | | |


= 100%

= 100%


= 1 log


BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Adapun hasil yang diperoleh dari percobaan kalorimeter :

4.1.1 Hasil Pengamatan dari Menentukan Kalor Jenis Bahan tercantum di tabel berikut.
1. Alumunium
PERC Mb mk mak ma T T T Ca Cb Cb- Cb- cb ck Q
2
a b c

1 21,3 156,1 233,7 77,6 29 80 32 4200 13,09 0,0 25. 4,9 90 3,8
05 10-6 8 0 64
2 21,3 156,1 233,7 77,6 29 90 34 4200 24,14 0,0 24. 8,1 90 3,9
05 10-6 4 0 46
s
I (%) K(%) AP
41,17 58,83 2
25,26 75 2

2. Kuningan
PER Mb mk mak ma T T Tc Ca Cb Cb Cb-2 cb ck Q
C a b -
1 63, 156, 233, 77, 2 80 32 4200 14,0 0,0 10-4 3,86 90 3,5
1 1 7 6 9 5 1 0 67
2 63, 156, 233, 77, 2 90 34 4200 23,0 0,0 10-4 6,7 90 3,6
1 1 7 6 9 6 1 0 98
s
I (%) K(%) AP
38,18 56,07 2
24,24 09 2

3. Timbal
PER Mb mk mak ma Ta Tb Tc Ca Cb Cb Cb- cb ck Q
2
C -
1 87, 156, 233, 77, 29 80 35 42 13, 0,0 10-4 5,67 90 3,23
3 1 7 6 00 70 1 0 2
2 87, 156, 233, 77, 29 90 34 42 19, 0,0 10-4 8,67 90 3,34
3 1 7 6 00 08 1 6 0 6

I (%) K(%) AP
25,25 51,96 2
19,17 67 2

4.1.2 Hasil Pengamatan dari Menentukan Kalor Lebur Es tercantum di tabel berikut.

perc mk mak ma Ta Tc mc mes ck les les I(%) K(%) AP

1 156,1 317,3 161,2 72 55 230 12,7 900 44 19 20 80 2

2 156,1 294 137,9 72 55 303,4 9,4 900 45,7 21,7 31,5 68,5 2

3 156,1 303,4 177,3 72 51 320,9 17,5 900 42,8 16,9 33,71 66,3 2

4.2 Pembahasan

Berdasarkan percobaan calorimeter yang telah dilakukan dengan menentukan kalor jenis
bahan, sehingga diperoleh hasil yang terdapat pada table 4.1.1 pada percobaan yang
menentukan kalor jenis bahan. Bahan yang dipergunakan yaitu alumunium, kuningan dan
timbale. kalorimeter dan pengaduknya ditimbang dan dicatat sebagai mk. Kemudian
kalorimeter dimasukkan kedalam pelindung dan diukur suhunya sebagai Ta. Bahan yang
akan diukur kalor jenisnya dicatat sebagai mc. Bahan dipanaskan, kemudian dimasukkan dala
kalorimeter, diaduk dan diukur suhunya sebagai Tc. Setelah itu bias dihitung kalor jenis
bahan dari data data tersebut. Pada percobaan diperoleh kalor jenis alumunium 4,90 kal/groC
dan kalor jenis kuningan 3,86 kal/groC.
Pada percobaan yang menentukan kalor lebur es. Kalorimeter dan pengaduk ditimbang
dan dicatat massanya. Kemudian kalorimeter diisi dengan air sasmpai 2/3 bagaian dan
ditimbang sebagai Mak. Untuk Mair, maka Mak dikurangi dengan Mk. Kalorimeter
dipanaskan hingga suhu 70oC dan dicata sebagai Ta. Kalorimeter diangkat dan dimasukkan
kedalam bejana pelindung, dan dimasukkan es, kemudian diaduk dan diukur suhunya. Dalam
percobaan ini kalor lebur es diperoleh 45,7 kal/gr.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan didapatkan bahwa kalor jenis alumunium paling
besar diantara bahan lain yang dijadikan objek percobaan. Hal ini berarti alumunium
menyerap kalor lebih besdar daripada kuningan dan timbal.
Jika dibandingkan dengan literatur nilai yang didapat dari percobaan sangat dekat tepat,
hal ini disebabkan oleh adanya kelalaian. Misalnya praktikan yang lalai saat mengukur
suhu,masa ataupun saat memasukkan benda dalam kalorimeter.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat pada praktikum kalorimeter adalah :
1. Kalor jenis alumunium lebih besar daripada kuningan dan timbal.
2. Kalor jenis timbale lebih kecil daripada alumunium dan kuningan, dikarenakan timbal
menyerap kalor lebih kecil daripada alumunium dan kuningan.
3. Hasil perhitungan hampir sama dengan yang ada pada literatur.
4. Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang disebabkan
oleh suatu zat.

5.2 Saran
Sebelum melakukan praktikum, praktikan seharusnya mempelajari terlebih dahulu
tentang materi kalorimeter. Pada saat melakukan praktikum, praktikan harus melakukan
pengamatan dengan teliti. Praktikan juga harus serius dalam melakukan percobaan agar data
yang diperoleh menjadi hasil yang valid.
DAFTAR PUSTAKA

Furoidah, Inony. 1997. Fisika Dasar 1. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.


Supriyanto, Agus. 2000. Fisika Dasar Jilid 2. Jember : UNEJ.
Sutarto. 1999. Fisika Dasar Suhu dan Kalor. Jember : UNEJ.
Suyuti. 2001. Fisika Dasar. Yogyakarta : UGM