Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu pelayanan kesehatan gigi yang sering dijumpai pada tempat

praktek dokter gigi, klinik swasta, poliklinik, puskesmas maupun rumah sakit

adalah pencabutan gigi. Negara Indonesia merupakan negara yang masih memiliki

tingkat pengetahuan dan kesadaran dari masyarakat tentang pemeliharaan

kesehatan gigi yang masih rendah. Penderita umumnya datang ke dokter gigi

dengan keluhan berupa rasa sakit yang sangat mengganggu dan terkadang disertai

kerusakan gigi yang parah, sehingga diperlukan pemeriksaan yang lebih teliti agar

tidak mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan perawatan (Permatasari

dkk, 2013). Pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan gigi atau akar gigi yang

utuh tanpa menimbulkan rasa sakit dengan trauma yang sekecil mungkin pada

jaringan penyangganya, sehingga luka bekas pencabutan gigi akan sembuh secara

normal dan tidak menimbulkan masalah setelah dilakukan pencabutan gigi (Ayu

KA dkk, 2008).

Tindakan pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan bedah mulut

yang paling banyak dilakukan di rumah sakit dan puskesmas. Dokter gigi akan

memberikan beberapa instruksi kepada pasien mengenai hal yang harus dilakukan

dan dihindari setelah pasien menerima tindakan pencabutan gigi. Contoh

instruksi yang diberikan setelah pencabutan gigi,yaitu apabila mendapatkan resep

taatilah aturan pakainya dan jika diberikan antibiotik, harus dihabiskan, gigit

kapas atau kasa selama 30 menit sampai 1 jam sesudah pencabutan, jangan

1
2

menghisap daerah bekas pencabutan, jangan merokok dan, jangan sering meludah

(Pederson, 2012).

Pasien wajib mengetahui dan mengikuti instruksi setelah pencabutan gigi,

dengan tujuan menghindari kemungkinan terjadinya komplikasi setelah

pencabutan dan terganggunya proses penyembuhan luka. Komplikasi yang dapat

terjadi setelah pencabutan, yaitu: dry socket; perdarahan; rasa sakit; edema;

infeksi; dan, trismus yang persisten. Dry socket disebabkan oleh kontaminasi

bakteri, merokok, dan penyakit sistemik (Bakar A, 2014).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa sajakah indikasi dan kontra indikasi pencabutan gigi

2. Bagaimanakah teknik pancabutan gigi

3. Apa sajakah instruksi kepada pasien setelah pencabutan gigi

4. Apa saja komplikasi yang akan terjadi setelah pencabutan gigi

1.3 Tujuan Penulisan

Untuk memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat bahwa

pentingnya mengetahui dan mematuhi hal-hal yang harus dilakukan setelah

melakukan pencabutan gigi atau hal-hal yang harus di instruksikan operator atau

dokter gigi kepada pasien setelah melakukan pencabutan gigi


BAB 2

PEBAHASAN

2.1 Defenisi Pencabutan Gigi

Pencabutan gigi (ekstraksi gigi) tindakan bedah yang meliputi jaringan

lunak dan jaringan keras dalam rongga mulut dimana jalan masuknya dibatasi

oleh bibir dan pipi serta dapat halangi oleh gerakan lidah dan mandibula.

Pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan gigi atau akar gigi yang utuh tanpa

menimbulkan rasa sakit dengan trauma yang sekecil mungkin pada jaringan

penyangganya, sehingga luka bekas pencabutan gigi akan sembuh secara normal

dan tidak menimbulkan masalah setelah dilakukan pencabutan gigi (Ayu KA dkk,

2008).

Gambar 2.1 Pencabutan gigi (Khairul Anam, 2012)

2.2 Indikasi Dan Kontra indikasi Pencabutan Gigi

Gigi sangat penting untuk proses mastikasi, fonasi dan estetika sehingga

kesehatan gigi dibutuhkan untuk mempertahankan gigi agar dapat sesuai dengan

fungsinya. Kehilangan gigi dapat mempengaruhi kualitas hidup berdasarkan

biologi, psikologis dan sosial.

3
4

Pencabutan gigi harus berdasarkan indikasi yang kuat. Beberapa indikasi

pencabutan gigi, yaitu (Balaji SM, 2007):

a. Karies berat

b. Penyakit periodontal yang tidak bisa diatasi dengan obat

c. Nekrosis pulpa

d. Impaksi

e. Supernumeri

f. Persistensi gigi

g. Abrasi dan atrisi gigi yang luas

h. Trauma pada gigi sehingga gigi tidak dapat dipertahankan

i. Keperluan ortodontik dan prostetik

j. Pre radiasi

k. Gigi yang berkaitan dengan lesi patologi

Pada kasus tertentu membutuhkan suatu perhatian khusus disebabkan

terdapat kontra indikasi terhadap pencabutan gigi dan gigi tersebut harus tetap

dipertahankan. Kontra indikasi pencabutan gigi dibagi menjadi dua, yaitu (Balaji

SM, 2007) :

a. Faktor lokal

1. Terdapat keganasan pada lokasi pencabutan karena pencabutan gigi

dapat menyebabkan penyebaran sel kanker

2. Pasien post radiasi kepala dan leher dengan derajat eksposur radiasi

tinggi karena pencabutan gigi dapat menyebabkan osteoradionekrosis

3. Terdapat infeksi pada daerah pencabutan yang tidak terkontrol seperti

acute necrotizing ulcerative gingivitis


5

b. Faktor sistemik

1. Terapi intravena bisphosphonate (kini maupun telah lalu) karena

pencabutan gigi dapat menyebabkan osteokemonekrosis yang lebih

berat daripada osteoradionekrosis dan lebih sulit disembuhkan

2. Penyakit hematologi tak terkontrol seperti hipertensi berat, leukemia,

hemofilia yang tak terkontrol

3. Diabetes tak terkontrol

4. Alcohol withdrawal syndrome

5. Kehamilan (kontra indikasi relatif pada trimester 1 dan 3)

2.3 Teknik Pencabutan Gigi

Teknik ekstraksi gigi ada 2 macam yaitu (Bakar A, 2012) :

1. Closed atau intralveolar yaitu tehnik pencabutan gigi tanpa pembedahan.

Tehnik pencabutan gigi ini dilakukan dengan prosedur pencabutan gigi

pada umumnya yang menggunakan alat seperti, forceps atau tang.

Penatalaksanaan teknik close method adalah sebagai berikut (Balaji

SM ,2007) :

a. Pertama, kita melonggarkan jaringan sekitar gigi dengan menggunakan

periosteal elevator. Dengan melakukan hal ini, forceps dan elevator

dapat diposisikan lebih apikal.

b. Luksasi gigi dengan elevator. Elevator digunakan untuk melapaskan

perlekatan gigi dengan jaringan lunak. Elevator diaplikasikan untuk

memperbesar soket alveolar dan merusak ligament periodontal

sehingga dapat membantu luksasi gigi dari soket.


6

c. Adaptasi forceps. Pemilihan forceps haruslah sesuai ukuran dan lokasi

gigi (maksila atau mandibula). Bagian beaks forceps diaplikasikan ke

akar gigi. Beak lingual diposisikan lebih dulu kemudian diikuti beak

bukal. Beak sebaiknya dipegang pada bagian ujung untuk

meningkatkan control. Beak diposisikan sesuai aksis gigi.

d. Luksasi gigi molar mandibula yaitu dengan tarikan ke bukal , tarikan

ke lingual dan pengangkatan di arah bukal.

e. Setelah gigi diluksasi, berikan tekanan yang cukup dan angkat gigi dari

soket. Setelah itu, soket bekas pencabutan di message dengan tangan

oleh operator.

f. Setelah gigi di ekstraksi, dilakukan penjahitan pada soket bekas

pencabutan gigi jika luka bekas soket terlalu besar atau untuk

mempercepat penyembuhan luka.

2. Open atau transalveolar yaitu suatu tehnik pencabutan gigi dengan

menggunakan prosedur bedah (surgical extraction) yang biasa disebut

dengan istilah pencabutan trans-alveolar, yang didahului dengan

pembuatan flap mukoperiosteal.

Indikasi dari pembedahan ekstraksi yaitu :

a. Akar giginya tidak normal atau lain dari biasanya.

b. Gigi dengan hypercementosis pada ujung akar.

c. Gigi dengan dilserasi pada ujung akar.

d. Gigi dengan akar ankylosis dan abnormal.

e. Gigi yang impaksi atau semi impaksi.


7

Kontra indikasi pembedahan ekstraksi :

a. Tanpa adanya gejalanya fraktur ujung akar, pulpa masih vital, lokasi

yang terlalu dalam pada soket.

b. Terdapat lesi periapikal pada akar gigi

c. Patahnya ujung akar yang tersisa di tulang alveolar.

2.4 Instruksi Pasca Pencabutan Gigi / Instruksi Post Ekstraksi

Instruksi setelah pencabutan sendiri hanya akan dilakukan selama tiga

sampai empat hari, perdarahan dan pembengkakan akan hilang dalam empat hari.

sementara penyembuhan secara keseluruhan biasanya akan terjadi setelah tiga

minggu (Chestnut IG, 2007). Terdapat beberapa teori yang mempengaruhi

kepatuhan pasien dalam program kesehatan, misalnya keseriusan penyakit,

kompleksitas pengobatan, teori perilaku, komunikasi dokter dan pasien dalam hal

memahami dan menerima, juga keyakinan rasional yang menimbang manfaat

pengobatan. Dokter gigi atau operator disini berperan penting dalam

meningkatkan kepatuhan pasien dalam melaksanakan instruksi pasca pencabutan

gigi yaitu dengan memberikan informasi kepada pasien akan manfaat dan

pentingnya kepatuhan terhadap instruksi yang diberikan serta memberikan

informasi resiko ketidakpatuhan (Bastable SB, 2002).

Beberapa hal yang harus dilakukan setelah melakukan pencabutan gigi /

istruksi post ekstraksi ialah (Miloro M ,2004):

1. Menggigit kain kassa atau tampon selama kurang lebih 30 menit sampai 1

jam

2. Memberikan obat antibiotic dan analgesic. Jelaskan kepada pasien bahwa

obat antibiotic yang kita berikan, harus dihabiskan oleh pasien. Agar
8

antibiotic yang kita berikan tersebut tidak resisten pada tubuh pasien

tersebut. Obat analgesic yang kita berikan untuk mencegah rasa sakit/nyeri

pada pasien setelah efek bius pada pencabutan giginya sudah hilang.

3. Untuk mencegah pembengkakkan pasien diisntruksikan untuk

mengkompres bagian ekstraoral dengan air dingin (air es) hanya pada hari

pertama setelah pencabutan gigi saja.

4. Pada 24 jam pertama hindari makanan yang panas dan pedas dan

dianjurkan untuk makan makanan yang dingin dan lembut serta

mengunyah pada sisi yang berlawanan dengan tempat pencabutan gigi.

5. Jangan mengosok gigi terlalu kuat dan keras pada bekas pencabutan gigi.

6. Jangan merokok selama 24 jam.

7. Jangan minum menggunakan sedotan serta tidak boleh memainkan lidah

pada bekas pencabutan gigi tersebut.

8. Menghubungi operator atau dokter gigi apabila terjadi masalah.

2.5 Komplikasi Pasca Pencabutan Gigi

Komplikasi, merupakan kondisi yang tidak diharapkan terjadi pada

tindakan medis. Berbicara masalah pencabutan gigi tidak terlepas dari beberapa

komplikasi normal yang menyertainya seperti terjadinya perdarahan sesaat, oedem

(pembengkakan) dan timbulnya rasa sakit. Komplikasi sendiri merupakan

kejadian yang merugikan dan timbul di luar perencanaan dokter gigi. Kita selaku

dokter gigi harus tetap mewaspadai segala kemungkinan dan berusaha untuk

mengantisipasinya sebaik mungkin, hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya

komplikasi lanjutan dengan resiko yang lebih besar pula (Miloro, 2004).
9

Adapun beberapa faktor penyebab terjadinya komplikasi diantaranya

karena kondisi sistemik dan lokal pasien lalu keahlian, keterampilan, dan

pengalaman operator serta standar prosedur pelaksanaan juga mempengaruhi

berbagai komplikasi dapat terjadi, seperti (Wray D, 2003) :

1. Komplikasi intra operatif:

a. Pendarahan

Jika pasien memiliki riwayat pendarahan setelah pencabutan

gigi sebaiknya dibatasi jumlah gigi yang akan dicabut.

b. Fraktur

Biasanya terjadi pada mahkota, ujung akar dan fragmen, gigi

tetangga dan gigi anatagonis, tulang alveolar, tuberositas maxilla,

mandibula.

c. Pergeseran/perpindahan gigi atau akar gigi

Perpindahan ke jaringan lunak, sinus maxillaries, fossa

infratemporalis, mandibula, pada, pemakaian anestesi umum.

d. Dislokasi

Dislokasi dari gigi tetangga dan dari sendi temporomandibula.

e. Cedera jaringan lunak

Seperti lecet, luka bakar, episema subkutan, dan cedera saraf.

2. Komplikasi pasca bedah:

a. Perdarahan

b. Rasa sakit: disebabakan oleh trauma pada jaringan keras yang mungkin

berasal dari tulang yang terluka.


10

c. Edema: kelanjutan normal dari setiap pencabutan dan pembedahan gigi

serta reaksi normal dari jaringan terhadap cedera.

d. Reaksi terhadap obat : reaksi segera setelah operasi adalah mual dan

muntah karena menelan analgesic narkotik atau non narkotik.

3. Komplikasi beberapa saat setelah operasi:

a. Syncope

b. Cardiac arrest

c. Mycocardial infarction

d. Akut alergi terhadap antibiotik atau golongan local anestesi :shock

anaphylactic, angiodema.
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa setiap

pasien yang telah melakukan tindakan pencabutan gigi harus diberikan instruksi

yang tepat agar tidak terjadi komplikasi-komplikasi pasca pencabutan. Instruksi

yang diberikan operator atau dokter gigi setelah melakukan pencabutan gigi ialah

menggigitkan tampon atau kain kassa kurang lebih 30 menit sampai 1 jam,

memberikan obat berupa antibiotic dan anlagesic, mengkompres bagian ekstraoral

dengan air dingin (air es), hindari makan yang panas dan pedas serta dianjurkan

makan yang dingin dan lembut, jangan merokok, jangan minum menggunakan

sedotan serta tidak boleh memainkan lidah pada bekas pencabutan gigi, dan yang

paling penting adalah menghubungi operator atau dokter gigi apabila terjadi

masalah atau komplikasi.

3.2 Saran

1. Diharapkan bagi tenaga kesehatan atau dokter gigi agar dapat

meningkatkan kualitas dalam proses komunikasi dokter dan pasien serta

memberikan pemahaman yang lebih baik lagi dalam memberikan instruksi

setelah pencabutan gigi.

2. Disarankan kepada operator atau dokter gigi yang menangani kasus

pencabutan gigi untuk memberikan lembaran berisi instruksi setelah

pencabutan gigi serta resiko tidak mematuhi instruksi yang bisa dibawa

pulang pasien.

11
DAFTAR PUSTAKA

Ayu KA, Soelistiono, Prihartiningsih. Pengaruh ekstrak batang salvadorapersica


terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus -haemolyticus hasil isolasi
paska pencabutan gigi molar ketiga mandibula; kajian in vitro.
2008:1:[internet]. Available from http://idaayu.files.Wordpress.com
/2008/01/paper01.pdf. Accessed September , 2017.

Bakar A. 2014. Kedokteran gigi klinis (2nd ed.).Yogyakarta.CV Quantum


Sinergis Media; p. 92-93.

Ballaji SM. 2009. Textbook of oral and maxillofacial surgery. Delhi: Elsevier;. p.
9-20.

Bastable SB. 2002. Perawat sebagai pendidik prinsip prinsip pengajaran dan
pembelajaran. Jakarta. EGC; p.140

Chestnut IG, Gibson J. 2007. Clinical dentistry (3rd ed.). China. Elsevier, p..163.

Khairul Anam, 2012. Sumber: http://anarm.net/tak-sakit-cabut-gigi.html Accessed


September 07, 2017

Miloro M, Ghali GE, Larsen PE, Waite PD. 2004. Petersons of principles of oral
and maxillofacial surgery. 2nd ed. London: BC Decker, p. 250-2.

Pederson WG. 2012. Buku ajar praktis bedah mulut (1st ed.). Jakarta. Buku
Kedokteran EGC. p. 36, 93- 99.

Permatasari N, Andari WK, Rr Merina DEN. Efek pemberian jus buah belimbing
manis (Averrhoa carambola L.) terhadap peningkatan jumlah sel
makrofag pada soket gigi tikus (Rattus novergicus) Strain Wistar pasca
pencabutan; 2:[internet]. Available from http://old.fk.ub.ac.id/
artikel/id/filedownload/gigi/MAJALAH%20yudistiaara.pdf.Accessed
September, 2017.

Wray D, Stenhouse D, Lee D, Clarck AJE. 2003. Textbook of general and oral
surgery. London: Churchill Livingstone, p.212-7.

12