Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses Masuknya Islam di Asia Tenggara


Menurut catatan sejarah, bangsa yang pertama kali diketahui hidup di Asia
Tenggara adalah orang Dongson di Vietnam. Mereka sudah tinggal di negeri itu
sejak 5000 tahun sebelum Masehi. Disusul kemudian oleh bangsa Thai di Thailand
pada 3000 tahun sebelum Masehi. Sedangkan, bangsa Melayu tercatat mulai
mengembangkan kehidupannya di Asia Tenggara pada 2500 tahun sebelum
Masehi. Selanjutnya, datanglah kaum pendatang dari China, khususnya bangsa
Yunani dan lembah Yangtse, di wilayah China Selatan, kemudian bangsa India,
Arab, dan Eropa.
Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang Muslim Persia dan
Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke
negeri China. Pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650) kaisar ke-2 dari
Dinasti Tang, telah datang empat orang Muslim dari jazirah Arabia. Yang pertama,
bertempat di Canton (Guangzhou), yang kedua menetap dikota Chow, yang ketiga
dan keempat bermukim di Coang Chow. Orang Muslim pertama, Saad bin Abi
Waqqas, adalah seorang muballigh dan sahabat Nabi Muhammad SAW dalam
sejarah Islam di China. Ia bukan saja mendirikan masjid di Canto, yang disebut
masjid Wa-Zhin-Zi (masjid kenangan atas nabi). Karena itu, sampai sekarang
kaum Muslim China membanggakan sejarah perkembangan Islam di negeri
mereka, yang dibawa langsung oleh sahabat dekat Nabi Muhammad SAW sendiri,
sejak abad ke-7 dan sesudahnya. Makin banyak orang Muslim berdatangan ke
negeri China baik sebagai pedagang maupun mubaligh yang secara khusus
melakukan penyebaran Islam.
Sebelum kedatangan Islam agama-agama Hindu dan Budha adalah
kepercayaan utama di Asia Tenggara. - di daratan (semenanjung) Asia Tenggara
pada umumnya memeluk agama Buddha, sedangkan - di kepulauan Melayu
(Nusantara) umumnya lebih dipengaruhi agama Hindu. Beberapa yang
berkembang di semenanjung ini, awalnya bermula di daerah yang sekarang
menjadi negara-negara Myanmar, Kamboja dan Vietnam. - kuno di Asia Tenggara
pada umumnya dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu - agraris dan - maritim.
Kegiatan utama - agraris adalah pertanian. Mereka kebanyakan terletak di
semenanjung Asia Tenggara. Contoh agraris adalah Ayutthaya, yang terletak di
delta sungai Chao Phraya (Thailand), dan Khmer yang berada di Tonle Sap. -
maritim kegiatan utamanya adalah perdagangan melalui laut. Malaka dan
Sriwijaya adalah contoh dari Maritim.

B. Teori-teori Islam ke Kawasan Asia Tenggara


Ada beberapa teori tentang masuknya Islam ke kawasan Asia Tenggara,
seperti teori kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari Arab, Cina dan India.
1. Teori kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari Arab
Dikemukakan oleh John Crawford. Menurutnya Islam datang dari Arab
melalui pedagang. Buktinya catatan China mengatakan orang Arab dan Persia
telah mempunyai pusat perniagaan di Canton sejak tahun 300 M. Pedagang
Arab yang ke China singgah di pelabuhan Asia Tenggara tepatnya di Selat
Malaka karena posisinya yang strategis, dalam jalur perdagangan. Kemudian
Pedagang Arab ini tinggal beberapa bulan di Asia Tenggara dan ada yang
menetap serta membina perkampungan Arab.Perkampungan ini juga menjadi
tempat untuk berdagang. Ada juga pedagang Arab yang menikah dengan wanita
setempat dan menyebarkan Islam.Karena sebagian besar pedagang
menggunakan jalur laut sebagai sarana transportasi maka pada masa menunggu
angin muson/musim digunakan oleh pedagang Arab untuk mengembangkan
Islam.
Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang Muslim Persia dan
Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke
negeri China.Pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650) kaisar ke-2 dari
Dinasti Tang, telah datang empat orang Muslim dari jazirah Arabia. Yang
pertama, bertempat di Canton (Guangzhou), yang kedua menetap dikota Chow,
yang ketiga dan keempat bermukim di Coang Chow. Orang Muslim pertama,
Saad bin Abi Waqqas, adalah seorang muballigh dan sahabat Nabi Muhammad
SAW dalam sejarah Islam di China. Ia bukan saja mendirikan masjid di Canto,
yang disebut masjid Wa-Zhin-Zi (masjid kenangan atas nabi). Karena itu,
sampai sekarang kaum Muslim China membanggakan sejarah perkembangan
Islam di negeri mereka, yang dibawa langsung oleh sahabat dekat Nabi
Muhammad SAW sendiri, sejak abad ke-7 dari sesudahnya. Adapun beberapa
bukti dari teori ini yaitu:
a. Telah ada perkembangan Arab di Sumatra (Barus) pada 625 M (menurut
literatur kuno Tionkok.
b. Persamaan penulisan dan kesusteraan Asia Tenggara dan Arab.
c. Karya-karya yang menceritakan pengislaman raja tempatan oleh Syeikh dari
Tanah Arab contohnya hikayat raja-raja samudra Pasai mengatakan Raja
Malik diislamkan oleh ahli sufi dari Arab yaitu Syeikh Ismail.
2. Teori kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari Cina.
Dikemukakan oleh E.G Eredia dan S.Q. Fatimi. Menurut Eredia, Canton
pernah menjadi pusat Perdagangan bagi para pedagang Arab hingga pedagang
Cina memeluk Islam. Pedagang China Islam ini kemudiannya berdagang di
Asia tenggara disamping menyebarkan Islam.
Sedangkan menurut Fatimi, pedagang Cina Canton pernah berpindah
beramai-ramai ke Asia Tenggara. Adapun bukti kedatangan Islam dari China
ini, yaitu :
a. Pada Batu Bersurat Terengganu, batu nisan yang mempunyai ayat al-Quran
di Pekan, Pahang.
b. Wujud persamaan antara seni Bangunan Cina dengan seni Bangunan masjid
di Kelantan, Melaka dan Jawa yaitu seperti bumbung pagoda, ciri khas atap
genteng dari China.
3. Teori kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari India/Gujarat.
Dikemukakan oleh S.Hurgronje, Menurutnya Islam datang dari
Gujarat/India dan pantai Koromandel di semenanjung India. Hubungan dagang
Asia Tenggara dengan India telah terwujud sejak lama, hal ini memberikan
peluang bagi pedagang Islam India untuk menyebarkan Islam. Adapun
beberapa bukti dari teori ini yaitu
a. Terdapat batu marmar pada batu nisan mempunyai cirri buatan India,
contohnya di batu nisan Raja Malik Pasai.
b. Unsur budaya India amat banyak kita jumpai di Negara-negara Asia
Tenggara.

C. Cara-cara Datang dan Berkembangnya Islam di Asia Tenggara


Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada beberapa yaitu:
1. Perdagangan
2. Pernikahan
3. Politik
4. Saluran Tasawuf
5. Saluran pendidikan
6. Saluran kesenian

D. Tahap-tahap Perkembangan Islam di Asia Tenggara


1. Kehadiran para pedagang Muslim (7 - 12 M)
Fase ini diyakini sebagai fase permulaan dari proses sosialisasi Islam di
kawasan Asia Tenggara, yang dimulai dengan kontak sosial budaya antara
pendatang Muslim dengan penduduk setempat.
Pada fase pertama ini, tidak ditemukan data mengenai masuknya penduduk
asli ke dalam Islam. Bukti yang cukup jelas mengenai hal ini baru diperoleh
jauh kemudian, yakni pada permulaan abad ke-13 M / 7 H. Sangat mungkin
dalam kurun abad ke 1 sampai 4 H terdapat hubungan perkawinan antara
pedagang Muslim dengan penduduk setempat, hingga menjadikan mereka
beralih menjadi Muslim. Tetapi ini baru pada tahap dugaan.
Walaupun di Leran - Gresik, terdapat sebuah batu nisan bertuliskan
Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 475 H / 1082 M. Namun dari
bentuknya, nisan itu menunjukkan pola gaya hias makam dari abad ke-16 M
seperti yang ditemukan di Campa, yakni berisi tulisan yang berupa do'a-do'a
kepada Allah.
2. Terbentuknya Kerajaan Islam (13-16 M)
Pada fase kedua ini, Islam semakin tersosialisasi dalam masyarakat
Nusantara dengan mulai terbentuknya pusat kekuasaan Islam. Pada akhir abad
ke-13 kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia
merebut jalur perdagangan di Selat Malaka yang sebelumnya dikuasai oleh
kerajaan Sriwijaya. Hal ini terus berlanjut hingga pada permulaan abad ke-14
berdiri kerajaan Malaka di Semenanjung Malaysia.
Sultan Mansyur Syah (w. 1477 M) adalah sultan keenam Kerajaan Malaka
yang membuat Islam sangat berkembang di Pesisir timur Sumatera dan
Semenanjung Malaka.Di bagian lain, di Jawa saat itu sudah memperlihatkan
bukti kuatnya peranan kelompok Masyarakat Muslim, terutama di pesisir utara.
3. Pelembagaan Islam
Pada fase ini sosialisasi Islam semakin tak terbendung lagi masuk ke pusat-
pusat kekuasaan, merembes terus sampai hampir ke seluruh wilayah.Hal ini
tidak bisa dilepaskan dari peranan para penyebar dan pengajar Islam.Mereka
menduduki berbagai jabatan dalam struktur birokrasi kerajaan, dan banyak
diantara mereka menikah dengan penduduk pribumi. Dengan kata lain, Islam
dikukuhkan di pusat-pusat kekuasaan di Nusantara melalui jalur perdagangan,
perkawinan dengan elit birokrasi dan ekonomi, di samping dengan sosialisasi
langsung pada masyarakat bawah. Pengaruh Islamisasi yang pada awalnya
hanya berpusat di satu tempat telah jauh meluas ke wilayah-wilayah lain di
Asia tenggara.
Islam Begitu cepat berkembang dan dapat diterima dengan baik di
masyarakat karena Dalam Penyebaran dan perkembangannya, dengan jalan
damai.tidak pernah ada ekspedisi militer ataupun kekerasan untuk Islamisasi
ini.

E. Negara-Negara Islam di Asia Tenggara


Umat islam merupakan mayoritas penduduk Asia Tenggara, anatara lain : di
negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Philiphina,Singapura, Vietnam
dan Kamboja.
1. Perkembangan Islam di Indonesia
Islam di Indonesia mulai berkembang mulai abad ke 1-5 H/7-8 M, cikal
bakal kekuasaan islam telah dirintis pada priode abad ini, tetapi semuanya
tenggelam dalam hegemoni maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan
kerajaan Hindu-Jawa seperti Singasari dan MajaPahit di Jawa Timur. Pada
priode ini para pedagang dan mubaligh muslim hanya berbentuk komunitas-
komunitas islam.
Islam tersebar di wilayah Indonesia pada pertengahan abad ke 8 H/ 14
setelah berdirinya beberapa kerajaan Islam. Salah satunya adalah kerajaan
Malaka yang memiliki peranan besar dalam penyebaran Islam di Indonesia.
Setelah itu para dai menyebarkannya ke seluruh pulau-pulau Indonesia dan giat
menyebarkannya sehingga Islam tersebar merata. Pada abad ke-10 H/ 16 M
Indonesia jatuh ke dalam penjajahan Portugis. Kemudian dikuasai Belanda
pada tahun 1230 H/1814 M.
Ilmuwan Belanda lainnya, Moquette, menyimpulkan bahwa asal-usul
Islam di Nusantara adalah Gujarat di pesisir selatan India. Dia mendasarkan
kesimpulannya setelah mempertimbangkan gaya batu nisan yang ditemukan di
Pasai, Sumatera Utara, khususnya yang bertanggal 17 Dzuhijjah 831 H / 27
September 1428 M, yang identik dengan batu nisan yang ditemukan di makam
Maulana Malik Ibrahim (1419 M) di Gresik, Jawa timur. Dia menyatakan lebih
lanjut bahwa corak batu nisan yang ada di Pasai dan Gresik sama dengan yang
ditemukan di Cambay, Gujarat. Dia berspekulasi bahwa dari penemuan-
penemuan itu, batu nisan Gujarat tidak hanya diproduksi untuk pasar lokal,
tetapi juga untuk pasar luar negeri termasuk Sematera dan Jawa. Oleh karena
itu, berdasarkan logika linier, Moquette menyimpulkan bahwa karena
mengambil batu nisan dari Gujarat, orang-orang Melayu-Indonesia juga
mengambil Islam dari wilayah tersebut. Dengan logika linier yang lemah itu
tidak heran kalau kesimpulan Moquette ditentang oleh Fatimi yang berpendapat
bahwa salah jika mengaitkan seluruh batu nisan yang ada di Pasai, termasuk
batu nisan Malik Al-Shalih, dengan Cambay. Menurut penelitiannya sendiri,
gaya batu nisan Malik Al-Shalih sangat berbeda dengan corak batu nisan
Gujarat dan prototype Indonesianya. Fatimi berpendapat bahwa pada
kenyataannya bentuk batu nisan itu sama dengan yang ada di Bengal. Oleh
karena itu, sama dengan logika linier Moquette, Fatimi ironisnya
menyimpulkan bahwa semua batu nisan itu pasti diimpor dari Bengal. Ini
menjadi alasan utamanya untuk menyimpulkan lebih lanjut bahwa asal-asul
Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia adalah daerah Bengal (Bangladesh).
Agaknya teori Fatimi sangat terlambat untuk menolak teori Moquette
karena ada sejumlah pakar lain yang telah mengambil alih kesimpulan
Moquette, yang menonjol diantara mereka adalah Kern, Bousquet, Vlekke,
Gonda, Schrieke dan Hall. Namun, sebagian diantara mereka memberikan
tambahan argumentasi untuk mendukung Moquette. Ahli sastra Melayu,
William Winstedt, misalnya menunjukkan batu nisan yang sama di Bruas,
tempat sebuah kerajaan melayu Kuno di Perlak, Semenanjung Malaya. Dia
menyatakan bahwa semua batu nisan di Bruas, Pasai dan Gresik diimpor dari
Gujarat, maka Islam pasti pula dibawa dari sana. Dia juga menulis bahwa
sejarah melayu mencatat adanya kebiasaan lama di daerah Melayu tertentu
untuk mengimpor batu nisan dari India.
Sosiolog asal Belanda, Schrieke, mendukung teori itu dengan
menekankan peranan penting yang dimainkan oleh para pedagang Muslim
Gujarat dalam perdagangan di Nusantara dan sumbangan mereka terhadap
penyebaran Islam. Namun, sebagian ahli lain memandang teori yang
menyatakan asal-usul Islam di Nusantara adalah Gujarat tidak terlampau kuat.
Marison, misalnya berpendapat bahwa beberapa batu nisan di bagian tertentu
Nusantara mungkin berasal dari Gujarat, tetapi tidak selalu berarti bahwa Islam
juga dibawa dari sana ke kawasan ini. Morison membantah teori tersebut
dengan menunjukkan kenyataan bahwa selama masa Islamisasi Samudera
Pasai, yang penguasa Muslim pertamanya meninggal pada tahun 698
H/1298 M.
Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu yang menunjukkan sikap
bermusuhan terhadap orang-orang Muslim. Baru pada tahun 699 H/1298 M
wilayah Cambay dikuasai oleh kaum Muslim. Jika Gujarat merupakan pusat
para juru dakwah Islam dalam melakukan perjalanan menuju kepulauan
Melayu-Indonesia, maka Islam pasti telah tegak dan tumbuh subur di Gujarat
sebelum kematian Malik al-Shalih, persisnya, sebelum 698 H/1297 M.
Morison lebih jauh mencatat, bahwa meskipun kaum Muslim menyerang
Gujarat beberapa kali pada tahun 415 H/1024 M, 574 H /1178 M dan 695
H/1197 M, para raja Hindu mampu mempertahankan kekuasaan disana sampai
698 H/1297 M. Kesimpulannya, Morison mengemukakan teorinya bahwa Islam
diperkenalkan dikepulauan Melayu-Indonesia oleh para juru dakwah Muslim
dari Coromandel pada akhir abad ke-13.
Penting dicatat bahwa menurut Arnold, Coromandel dan Malabar bukan
satu-satunya tempat asal kedatangan Islam, melainkan juga dari wilayah Arab.
Dalam pandangannya, padagang Arab juga membawa Islam ketika mereka
menguasai perdagangan Barat-Timur semenjak awal abad ke-7 dan ke-8.
Meskipun tidak ada catatan sejarah ihwal penyebaran Islam oleh mereka,
adalah patut diduga bahwa dalam satu hal atau lainnya mereka terlibat dalam
penyebaran Islam kepada kaum pribumi. Argumen ini tampaknya lebih masuk
akal jika orang mempertimbangkan, misalnya, fakta yang disebutkan sebuah
sumber di Cina bahwa menjelang perempatan ketiga abad ke-7 seorang Arab
pernah menjadi pemimpin pemukiman Arab Muslim di pesisir Barat
Sumatera. Beberapa orang Arab ini melakukan kawin campur dengan
penduduk pribumi sehingga kemudian membentuk sebuah komunitas Muslim
yang para anggotanya, ungkap Arnold telah memeluk Islam. Menurut Hikayat
raja-raja Pasai yang ditulis setelah 1350 ,seseorang bernama Syaikh Ismail
datang dengan perahu dari Makkah lewat Malabar menuju Pasai, tempat dia
menonversi Merah silau, penguasa daerah tersebut ke dalam Islam. Merah
Silau kemudian menggunakan gelar Malik Al-Shaleh, meninggal Dunia 1297
M. Kira-kira satu abad kemudian, sekitar 1414 M, menurut sejarah Melayu
(yang dikompilasi setelah 1500), penguasa Malaka juga diislamkan oleh Sayyid
Abd Al-Aziz, seorang Arab berasal dari Jeddah. Sang penguasa, Para meswara
menggunakan nama dan gelar Sultan Muhammad Syah tidak lama setelah
masuk Islam. (Tjandrasasmita, 1984 :12)
Ada empat hal utama yang ingin disampaikan historiografi tradisional
lokal semacam ini. Pertama, Islam di Nusantara dibawa langsung dari tanah
Arab. Kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru atau Juru Dakwah
profesional. Ketiga, orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah para
penguasa. Keempat, sebagian besar para juru dakwah professional datang di
Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Orang-orang Muslim dari luar memang
telah ada di Nusantara sejak abad pertama Hijriah, sebagaimana yang
dinyatakan oleh Arnorld dan ditegaskan oleh kalangan ahli Melayu-Indonesia,
tetapi jelas bahwa hanya setelah abad ke-12 pengaruh Islam dikepulauan
Melayu menjadi lebih jelas dan kuat. Oleh karena itu, Islamisasi tampaknya
baru mengalami percepatan khususnya selama abad ke-12 sampai abad ke-16.
(Hamka, 2006 : 670)
2. Perkembangan Islam di Malaysia
Islam masuk ke wilayah ini lewat jalan pedagang-pedagang Arab.
Disebutkan bahwa mereka sampai ke Malaka pada tahun 675 H / 1276 M. Raja
Malaka masuk Islam melalui tangan mereka, dan mengganti namanya menjadi
Muhammad Syah, lalu diikuti oleh rakyatnya. Malaka merupakan kerajaan
islam pertama di sana.
Islam sampai ke Malaysia belakangan dari sampainya Islam di Indonesia
yang sudah terlebih dahulu pada abad ke tujuh. Berdasarkan keterangan ini,
maka asal usul masuknya Islam ke Malaysia berdasar pada yang dikemukakan
Azyumardi Azra bahwa Islam datang dari India, yakni Gujarat dan Malabar.
Sebelum Islam datang wilayah Asia Tenggara, Malaysia adalah berada di
jalur perdagangan dunia yang Menghubungkan kawasan-kawasan di Arab dan
India dengan Wilayah China, dan dijadikan tempat persinggahan sekaligus
pusat perdagangan yang amat penting. Maka tidak heran jika wilayah ini juga
menjadi pusat bertemunya berbagai keyakinan dan agama (Across-Roads Of
Religion) yang berinteraksi secara kompleks lengkap. (Kenneth, 1949 : 30)
Pada abad ke-10 H/16 M, Protugis menginvansi Malaysia, kemudian
diikuti oleh orang-orang Belanda (1051-1210 H/1641-1795 M). Lalu Malaysia
tunduk kepada penjajahan Inggris pada tahun 1230 H/1814 M. Orang-orang
Jepang sempat menguasai negeri ini selama Perang Dunia II. Kemudian
wilayah ini kembali kepada Inggris setelah perang usai. Malaysia kemudian
mengumumkan kemerdekaannya pada tahun 1377 H / 1957M dan mendirikan
Federasi Malaysia yang terdiri dari 11 provinsi. Sabah dan Serawak serta
Singapura tergabung ke dalam wilayah ini. Kemudian Malaysia mengumumkan
negeri itu sebagai Monarki Konstitusional pada tahun 1383 H / 1962 M.
Azyumardi Azra menyatakan bahwa tempat asal datangnya islam ke Asia
Tenggara termasuk di Malaysia, setidaknya ada tiga teori. Pertama teori yang
menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab (Hadramaut). Kedua,
islam datang dari india, yakni Gujarat dan Malabar. Ketiga Islam datang dari
Benggali (Banglades).
Pola pertama Islam masuk ke Nusantara termasuk Malaysia melalui jalur
perdagangan dan ekonomi yang melibatkan orang dari berbagai etnik dan ras
yang berbeda-beda bertemu dan berinteraksi, serta bertukar pikiran tentang
masalah perdagangan, politik, sosial, dan keagamaan. Seiring itu pola kedua
mulai menyebar melalui pihak penguasa dimana istana sebagai pusat kekuasaan
berperan dibidang politik dan penataan kehidupan sosial, dengan dukungan
ulama yang terlibat langsung dalam biroksasi pemerintahan, hukum Islam
dirumuskan dan diterapkan, kitab sejarah ditulis sebagai landasan legitimasi
bagi penguasa muslim.
Memasuki abad ke-20, bertepatan dengan masa pemerintahan Inggris,
urusan-urusan agama dan adat Melayu lokal di Malaysia di bawah koordinasi
sultan-sultan dan hal itu diatur melalui sebuah departemen , sebuah dewan
ataupun kantor sultan. Setelah tahun 1984, setiap negara bagian dalam federasi
Malaysia telah membentuk sebuah departemen urusan agama. Orang-orang
muslim di Malaysia juga tunduk pada hukum Islam yang ditetapkan sebagai
hukum status pribadi, dan tunduk pada yurisdiksi pengadilan agama
(mahkamah syariah) yang diketua hakim agama. Bersamaan dengan itu, juga
ilmu pengetahuan semakin mengalami perkembangan dengan didirikannya
perguruan tinggi Islam dan dibentuk fakultas dan jurusan agama. Perguruan
tinggi kebanggaan Malaysia adalah Universitas Malaya yang kini kita kenal
Universitas Kebangsaan Malaysia.
Memasuki masa pasca kemerdekaan, jelas sekali bahwa pola
perkembangan Islam tetap dipengaruhi oleh pihak penguasa (top down). Sebab,
penguasa atau pemerintah Malaysia menjadikan Islam sebagai agama resmi
negara. Warisan undang-undang Malaka yang berisi tentang hukum Islam yang
berdasarkan konsep Quraniy berlaku di Malaysia. Malaysia merupakan negara
yang multi etnis, terdiri atas orang Melayu, Cina, India, dan Pakistan.
Mayoritas penduduknya beragama Islam, dan bahkan Islam merupakan agama
resmi negara. Namun agama-agama lain dapat diamalkan dengan aman di
Malaysia.
Dengan adanya perhatian pemerintahan terhadap Islam dan konstitusi
negara yang banyak menguntungkan kepentingan umat Islam dan dengan
adanya lembaga-lembaga dan organisasi Islam, pendidikan-pendidikan Islam
serta kegiatan-kegiatan dakwah Islam, maka perkembangan Islam di Malaysia
memiliki prospek yang sangat cerah. (Azyumardi, 2005 : 2-9).
3. Perkembangan Islam di Thailand
Di Muangthai (Thailand) terdapat sekitar 2,2 juta kaum muslimin atau 4% dari
penduduk umumnya. Muangthai dibagi menjadi 4 propinsi, yang paling banyak
menganut Islam yaitu di propinsi bagian selatan tepatnya di kota Satun,
Narathiwat, Patani dan Yala. Pekerjaan kaum muslimin Muangthai cukup
beragam, namun yang paling dominan adalah petani, pedagang kecil, buruh
pabrik, dan pegawai pemerintahan. Agama Islam di Muangthai, merupakan
minoritas yang paling kuat di daerah Patani pada awal abad ke-17 pernah menjadi
salah satu pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara dan menghasilkan ulama
besar seperti Daud bin Abdillah bin Idrisal-Fatani.
Umat Islam memiliki sejarah yang panjang dalam kerajaan Thailand.
Hubungan mereka dengan masyarakat Thailand serta peran mereka dalam negara
dapat ditelusuri kezaman kerajaan ayyuthaya. Kedatangan Islam di negeri
Muanghtai telah terasa pada masa kerajaan Sukhathai diabad ke-13, yang
merupakan buah dari hubungan dagang yang dibagun oleh para saudagar muslim.
Hal ini bermula dari dua orang bersaudara dari persia yaitu Syeikh Ahmad dan
Muhammad syaid yang juga disebut Khaek Chao Sen (satu cabang mazhab syiah),
menetap di kerajaan tersebut yang terus melakukan perdagangan sekaligus
menyebarkan agama Islam. Sebelum berdirinya kerajaan Ayyuthaya sebagai
pengganti kerajaan Shukhotai setelah yang terakhir ini runtuh pada abad ke-14,
Islam telah memiliki kekuatan politik yang sangat besar. Perdagangan
merupakan perintis proses islamisasi dan perkembangan politik kerajaan-kerajaan
maritim diwilayah kepulauan di abad ke-15, 16, dan 17. Perdagangan juga
pulalah yang merupakan faktor dominan yang mendekatkan Islam dengan kerajaan
Ayyuthaya.
Sekelompok Islam lainnya, yang menjadi penduduk mayoritas di negeri ini
sekarang tinggal di empat provinsi bagian selatan, yaitu Pattani, Yala, Naratiluat,
dan Satul. Juga termasuk bagian dari provinsi Shongkala. Seluruh provinsi ini
dahulunya masuk wilayah kerajaan Pattani pada abad ke-12, sebelum kerajaan
Sukhotai berdiri. Daerah ini merupakan wilayah muda di negara Thailand, baik
secara politik maupun administratif. Pencaplakan yang dilakukan oleh kerajaan
Thailand telah melahirkan masalah utama mengenai minoritas muslim di Thailand.
Orang-orang muslim yang berasal dari Pattani yang dibawa ke Bangkok oleh
tentara Thailand sebagai tawanan perang pada awal masa perang pertama dan
kedua. Dan orang-orang ini lah kemudian menjadi bagian utama dari masyarakat
Islam di Thailand Tengah dan sebagian dari mereka tetap memelihara budaya dan
bahasa mereka.
Secara historis kelompok masyarakat muslim telah ada sejak awal berdirinya
negara Thailand dan memiliki peran penting dalam masyarakat. Pada
perkembangan selanjutnya Muanghtai dikenal secara luas sebagai negara yang
mengalami perkembangan yang sangat cepat dibidang ekonomi sosial, budaya.
Sementara itu, komunitas muslim merupakan komunitas minoritas yang secara
umum dianggap salah satu yang paling konservatif dan tradisional dari masyarakat
Thailand sehubungan dengan lingkungan yang sedang mengalami perubahan.
Untuk itu relegio kultural merupakan identitas yang paling penting dalam jaringan
hubungan umat Islam dan Budha di Thailand. Karena perkembangan dan
dinamisasi masyarakat muslim Thailand banyak diwarnai oleh masalah tersebut.
(Wahyu, 2007 : 161 )
4. Perkembangan Islam di Philiphina
Hampir semua silsilah bermula pada masa raja sipad (Bahasa Sansekerta:
Raja Shiripaduka). Pada masa pemerintahan di pulau Jolo, datanglah seorang
muslim bernama Tuanku Mashaika ke suatu tempat yang disebut Maimbuang
(bagian selatan pulau Jolo). Sebuah batu nisan atas nama Maqhealhe ditemukan
di Badatto, tidak jauh dari Jolo pulau Sulu. Penemuan batu nisan inilah yang
dijadikan salah satu bukti Arkeologis masuk dan berkembangnya Islam di
Filipina, pada waktu itu masyarakat pulau Jolo masih menganut Animisme dan
Dinamisme.
Masuknya agama Islam di pulau Mindanao adalah di dalam abad kelima
belas juga. Yang mula-mula membawanya ialah Syarif Kebungsuan yang
datang dari negeri Johor. Kapten Thomas Forst, yang menulis ceritanya dalam
tahun 1775 M. Mengakui bahwa orang Arab yang mula-mula masuk pulau
Mindanao 300 tahun yang lalu, adalah keturunan-keturunan syarif dari Mekah.
Dalam catatan sejarah pulau Sulu (Filipina) memeluk islam, yang datang
ke sana ialah Sayid Abdul Aziz yang dahulu telah mengislamkan Sultan
Muhammad Syah di Melaka (permaisura itu juga). Kemudian itu datanglah
penyair Islam yang kedua, orang Arab juga, namanya Abu Bakar. Dia datang
kesana sudah melalui Palembang dan Brunei. Sesudah dia barulah datang
seorang bangsawan dari Minangkabau, bernama Rajo Bagindo.
Para peneliti sejarah menyebutkan bahwa Islam masuk ke wilayah Filipina
melalui jalan Sumatra dan Melayu, ini dimulai Sekitar Tahun 270 H/883 M.
(Munzir, 2006 : 32)
5. Perkembangan Islam di Myanmar
Agama Islam pertama kali tiba di Myanmar pada tahun 1055. Para
saudagar Arab beragama Islam ini mendarat di delta Sungai Ayeyarwady,
semenanjung Tanintharyi, dan daerah Rakhin. Kedatangan umat Islam ini
dicatat oleh orang-orang Eropa, Cina dan Persia. Populasi umat Islam yang ada
di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab, Persia, Turki, Moor , Pakistan
dan Melayu. Selain itu, beberapa warga Myanmar juga menganut agama Islam
seperti dari etnis Rakhin dan Shan. Populasi Islam di Myanmar sempat
meningkat pada masa penjajahan Britania Raya, dikarenakan banyaknya umat
Muslim India yang bermigrasi ke Myanmar. Tapi, populasi umat Islam
semakin menurun ketika perjanjian India-Myanmar ditandatangani pada tahun
1941.
Sebagian besar umat Muslim di Myanmar bekerja sebagai penjajah, pelaut,
saudagar dan tentara. Beberapa diantaranya juga bekerja sebagai penasehat
politik Kerajaan Burma. Muslim Persia menemukan Myanmar setelah
menjelajahi daerah selatan Cina. (Ajid, 2002 : 268).
6. Perkembangan Islam di Singapura
Islam masuk ke Singapura tidak dapat dipisahkan dari proses masuknya
islam ke Asia Tenggara secara umum, karena secara geografis Singapura
hanyalah salah satu pulau kecil yang terdapat di tanah Semenanjung Melayu.
Penyebaran Islam pada fase awal kepada masyarakat Asia Tenggara lebih
kental dengan nuansa tasawuf. Karena itu, penyebaran Islam di Singapura juga
tidak terlepas dari corak tasawuf. Buktinya pelajaran tasawuf sangat diminati
oleh ulama-ulama tempatan dan raja-raja Melayu. Kumpulan tarekat sufi
terbesar di Singapura yang masih ada sampai sekarang ialah Tariqah
Alawiyyah yang terdapat di Masjid Balawi. Tarekat ini dipimpin oleh Syed
Hasan bin Muhammad bin Salim al-Attas.
Selain tarekat itu, juga dijumpai tarekat Al-Qadariyyah Wa al-
Naqshabandiyyah yang berpusat di Geylang Road yang dikelola oleh organisasi
PERPTAPIS (Persatuan Taman Pengajian Islam), tarekat ini berasal dari
Suryalaya, Tasik Malaya, Jawa Barat. Gurunya bernama K.H Ahmad Tajul
Ariffin dan Haji Ali bin Haji Muhammad. Tarekat lainnya yang diamalkan di
Republik Singapura ialah Al-Shaziliyyah, Al-Idrisiyyah, Al-Darqawiyyah dan
Al-Rifaiyyah.
Wajah Islam di Singapura tidak jauh beda dari wajah muslim di negeri
jirannya, Malaysia. Banyak kesamaan, baik dalam praktek ibadah maupun
dalam kultur kehidupan sehari-hari.
7. Perkembangan Islam di Vietnam dan Kamboja
Komunitas Camp adalah warga kerajaan Campa, suatu kerajaan besar di
Asia Tenggara pada abad ke-17. Kontak dagang dengan berbagai negara
tetangga telah membuka jalan bagi masuknya agama Islam di kerajaan ini.
Islam masuk ke Campa diperkirakan pada tahun 1607. Banyak warga Campa
yang kemudian memeluk Islam, tak hanya warga biasa, keluarga kerajaan
banyak yang memeluk Islam. Campa, terletak di Vietnam tengah, garis lintang
17 utara hingga Saigon, merupakan sebuah kerajaan tertua yang pernah ada dan
disinggung dalam satu teks Cina pada akhir abad ke-11 Masehi. Di bagian akhir
tulisannya tentang Kedatangan Islam ke Campa- The Introduction of Islam to
Campa, Doctor Pierre-Yves menyatakan bahwa yang meyakinkan ialah bahwa
pemerintahan Campa memeluk Islam pada akhir abad ke-17 Masehi. Kemudian
oleh karena gangguan Vietnam, proses pengislaman itu berlaku sebagian saja
dan tidak menyeluruh. Seandainya golongan pendatang Camp ke Kamboja
diambil maka hampir 80% dari keseluruhan penduduk Camp memeluk agama
Islam.
Bukti-bukti tentang adanya hubungan negeri Campa dengan kawasan lain
Asia, khususnya Asia Tenggara, menunjukan dan menyanggahi kenyataan yang
menyebutkan hilangnya negeri Campa dari sejarah. (Munzir, 2006 : 32-33)
BAB III PENUTUP
DAFTAR ISI