Anda di halaman 1dari 37

Kumpulan Bahan dan Materi

Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Senin, 14 Januari 2013
Dasar K3

RANGKUMAN MATERI PELATIHAN


K3 PESAWAT UAP & BEJANA TEKAN

1. Riksa-uji pertama Ketel Uap tetap, yaitu riksa-uji yang dilakukan


sebelum
Ketel uapnya dilakukan penembokan / isolasi, sedangkan
riksa-uji berkala dilakukan secara teratur setiap sekian tahun sekali.

2. Pengujian pertama itu dilakukan sebelum Pesawat uapnya memiliki


AI, sedangkan
riksa-uji berkala dilakukan terhadap Pesawat Uap yang telah
memiliki AI.

3. Pengujian tersebut wewenang Pengawas Ketenagakerjaan spesialis


PU & BT
Depnaker/Disnaker, atau AK3 spesialis PU & BT dari PJK3.

4. Setiap Pesawat Uap harus dilengkapi perlengkapan dengan maksud


agar Pesawat
Uap dimaksud aman dipakai. Pada Ketel-ketel uap yang tergolong
modern,selain
dilengkai apendages yang wajib juga ditambah dengan
perlengkapan elektrik otomatis.

5. Ketel Uap tekanan diatas 0,5 Kg/Cm2 harus dilengkapi


perlengkapan (apendages)
yang terdiri dari ;
Manometer, Safety Valve, Gelas pedoman air, Batas air terendah,
Alarm, Pompa
Air pengisi, Check valve, Kerangan pembuang, Man hole , sludge
hole dan
Pelat nama.
6. Tingkap pengaman ( safety Valve ) pada Ketel uap berfungsi untuk
membuang
Steam dalam Ketel Uap secara otomatis jika terjadi kelebihan
tekanan, sedangkan
Gelas pedoman air berfungsi sebagai penunjuk tinggi permukaan air
dalam Boiler,
dan alarm berfungsi memberitahukan bilamana air dalam boiler
kurang.

7. Kekurangan air dalam Ketel Uap, dapat mengakibatkan over


heating dan
kemudian karena over heating itu Ketel tersebut bisa meledak.

8. Over heating juga bisa disebabkan adanya kerak ketel pada


permukaan pelat
dan pipa Ketel yang bersinggungan dengan air Ketel.

9. Kerak Ketel terjadi karena disebabkan mutu air pengisinya tidak


memenuhi
syarat atau blow down tidak diakukan dengan baik.

10. Ada Ketel Uap yang dipakai di perusahaan tetapi tidak wajib
memiliki Akte Izin, namun juga harus diawasi oleh Pengawas
Ketenagakerjaan.

11. Sebelum 1988 AI Ketel uap direrbitkan oleh Ditjen PPK/DPNK3


tetapi setelah tahun 1988 diterbitkan Depnaker Propinsi, tetapi
setelah Otoda ,Ketel yg dipakai
di kota-kab secara menetap, diterbitkan Disnaker setempat.

12. Perlengkapan ( Apendages ) untuk Ketel Uap tekanan rendah


antara lain;
- Gelas pedoman air.
- Pompa air
- pipa pengaman

13. Peledakan Ketel Uap yang telah memiiki AI bisa terjadi antara lain
karena;
- Safety valve tidak berfungsi
- Kekurangan air
- Adanya kerak yg mengakibatkan over heating.
14. Jika terjadi over heating,maka kekuatan pelat pipa Ketel akan
menjadi lebih
rendah dari semula.

15. Ketel uap ialah Pesawat penghasil uap dan uap itu dipergunakan
diluar
Pesawatnya.

16. Akte Izin Pesawat uap diterbitkan jika dari hasil riksa-uji oleh
yang berwenang ternyata konstruksi Pesawat uap
dan perlengkapannya memenuhi syarat.

17. Setiap bahan Bejana Tekan harus memiliki ; Sertifikat bahan atau
surat tanda
hasil uji bahan.

18. Jumah minimal Safety Valve Ketel Uap bertekanan kerja diatas 3
Kg/Cm2 minimal harus 2 unit, tetapi jika tekanan kerjanya hanya
3 Kg/Cm2 kebawah cukup satu saja.

19. Pemeriksaan berkala Ketel Uap kapal minimal sekali setiap tahun,
Ketel uap
darat sekali tiap 2 tahun, Ketel loco sekali tiap 3 tahun, Bejana
Uap sekali tiap
4 tahun.

20. Pemeriksaan berkala Bejana Tekan minimal sekali tiap 5 tahun.


Tetapi untuk
Bejana Tekan penampung Chlorine atau senyawanya minimal
sekali tiap 2 tahun.

21. Pesawat Uap atau Bejana Tekan baru dapat dimulai


pembuatannya di pabrik
pembuatnya setelah gambar rencananya disyahkan oleh Dirjen
Binwasnaker Depnakertrans RI, dan pembuatan ini harus diawasi
oleh Pengawas Ketenagakerjaan spesialis Pesawat Uap dan Bejana
Tekan.

22. Ketel uap hanya boleh dioperasikan oleh Operator yang


bersertifikat dari Dirjen
Binwasnaker Depnakertrans RI.
- Untuk Ketel Uap kapasitas diatas 10 Ton Uap per jam ;
Oprt,kelas I
- Untuk Ketel Uap kapasitas 10 T uap perjam atau kurang; Oprt
kelas II.

23. Untuk pemeriksaan pertama Pesawat Uap bertekanan kerja (Wp) 4


Kg/Cm2 tekanan uji padatnya (Hydro Test ) = 8 Kg/Cm2, untuk
Ketel Uap Wp= 6 Kg/Cm2 uji padatnya = 11 Kg/Cm2, untuk Ketel
Uap Wp 10 Kg/Cm2 uji padatnya=15 Kg/cm2.

24. Untuk pemeriksaan berkala Pesawat Uap bertekanan kerja


berapapun, tekanan
Uji padatnya = Wp + 3 Kg/Cm2.

25. Pada suatu saat ,Ketel uap harus dibersihkan. Untuk keperluan itu
Ketelnya harus
dimatikan dan air didalamnya harus dibuang.

26. Pemeriksaan visual pesawat uap baru bertujuan untuk mengetahui


kondisi seluruh bagian konstruksi dan seluruh perlengkapannya.

27. Jika HT dilakukan sampai tekanan tertentu sesuai peraturan ,


kemudian terjadi
pecah atau bocor atau kerusakan karenanya, hal itu menjadi
tanggung jawab
pemiliknya.

28. Jika Ketel Uap Wp ( Kg/cm2) x HS (m2) tidak lebih dari 0,2,
maka tidak wajib
memikiki AI untuknya, kecuali Wp nya lebih dari 2 Kg/Cm2.

29. Jika suatu Bejana penampung uap Wp ( Kg/Cm2) x Volume


(dm3) tidak
lebih dari angka 600, maka tidak wajib memiliki AI.

30. Jika suatu Superheater yang terbuat dari pipa-pipa dan terpisah
dari Ketel uapnya
memiliki ukuran diamater dalam pipa lebih dari 25 mm, maka
harus memiliki
AI tersendiri untuknya.

31. Jika suatu Pemanas air ( Economiser ) yang terbuat dari pipa-pipa
dan terpisah dari Ketel Uapnya memiliki ukuran diamater dalam
pipa lebih dari 50 mm, maka harus memiliki AI tersendiri
untuknya.
32. Pesawat Uap digolongkan menjadi dua yaitu Ketel Uap dan
Pesawat Uap selain Boiler.

33. Yang termasuk Pesawat Uap selain Boiler yaitu ; Pengering uap,
Pemanas air, Bejana Uap, Penguap.

34. Bejana Uap , media bertekanan didalamnya adalah steam.


Sedangan media didalam Bejana Tekan adalah ; Udara, atau Gas,
atau Gas yang
jika dikempa menjadi cair.

35. Botol baja berisi NH3 harus berwarna kuning muda, Botol baja
berisi N2 harus
berwarna abu-abu rokok, sedangkan Botol baja yang berisi O2
harus berwarna
putih atau biru muda.

36. Botol baja harus ditempatkan berdiri, tidak kena sinar matahari
langsung, dan
berkelompok sesuai jenis media yang ada didalamnya.

37. Setiap Bejana angin compressor harus dilengkapi dengan tingkap


pengaman,
Manometer dan kerangan pembuang.

38. Setiap botol baja harus dilengkapi katup pengaman.

39. Bejana tekan yang memiliki volume kurang dari 220 cm3 dan Wp
tidak lebih
dari 2 Kg/Cm2, tidak wajib memiliki Pengesahan pemakaian.

40. Tebal minimal Pesawat Uap atau Bejana Tekan yang dipakai di
Indonesia,
untuk menghitung tebal minimal yang diperbolehkan, dapat
memakai rumus
menurut JIS, ASME, DIN, BS dan Gronslagen.

41. Tingkap pengaman yang ukuran diamater dalamnya kurang besar,


dapat mengakibatkan tekanan steam dalam Boiler terus meningkat
melebihi tekanan
tertinggi yang diizinkan.
42. Setiap pesawat uap suatu saat akan mengalami
kerusakan. Sebelum dilakukan reparasinya harus diperiksakan
terebih dahulu kepada yang berwenang untuk
mendapatkan petunjuk-petunjuknya , selama repair diawasinya
dan setelah repair dilakukan riksa-uji kembali.. Pemeriksaan ini
tergolong pemeriksaan khusus.

43. Ketel Uap yang telah mencapai umur 35 tahun harus dilakukan
PB (Penelitian Bahan ). Sebelum di PB dan setelah di PB harus
diperiksakan kepada yang
berwenang. Pemeriksaan ini tergolong pemeriksaan khusus.

44. Untuk PB tersebut , pelat Ketel uap dipotong secara dingin,


dengan ukuran diamater luar pemotongan = 110 mm, dan diamater
dalam pemotongan=100mm,
yang berarti mata bor yang dipakai berdiameter 5 mm.

45. PB tersebut dimaksudkan untuk mengetahui sifat mekanis dan


chemis bahan,
melalui uji tarik, uji kekerasan dsb.

46. PB kemungkinan besar dapat dilakukan sampai 3 kali, tetapi


setelah itu Ketel
Uap nya harus diafkir.

47. Reparasi berat suatu Ketel Uap, gambar rencana reparasinya harus
mendapat
Pengesahan terlebih dahulu dari Dirjen Binwasnaker
Depnakertrans RI, tetapi
untuk reparasi ringan tidak memerlukan pengesahan rencana
gambar repair tsb.

48. Jika suatu Ketel pipa api akan diganti 100 % pipa apinya ,
termasuk reparasi
ringan.

49. Jika suatu Ketel pipa air akan diganti lebih dari 10 % jumlah
pipanya, termasuk
reparasi berat.

50. Jika las-lasan memanjang pada Drum Ketel pipa api atau Ketel
pipa air akan
dilakukan reparasi yang panjangnya lebih dari 25 % dari las-lasan
memanjang tersebut ,maka termasuk reparasi berat.
51. Welder yang melakukan pengelasan konstruksi Pesawat Uap
haruslah Juru
Las kelas I.

52. Juru Las Kelas I tersebut adalah juru las yang telah lulus uji G1,
G2,G3, G4, G5,
dan G6 , bersertifikat dari yang berwenang , serta masih berlaku.

53. Kawat las yang dipakai untuk mengelas Pesawat Uap harus yang
sejenis dengan
base materialnya / sesuai dengan standar internasional yang
berlaku,
Contoh Philips Ph 36, Nikko steel RD 360, Kobe LB 52.

===================================================
==========
LINGKUNGAN KERJA

1. Dasar hukum NAB Faktor Fisika ditempat kerja adalah


UU.No.1 tahun 1970 dan Kepmenaker No.Kep.51 / Men/1999.

1. Yang termasuk Faktor fisika ditempat kerja meliputi;


Iklim kerja, Kebisingan, Getaran, microwafe, sinar UV.

1. NAB ( Nilai ambang batas )


ialah :.................................................
( lihat Kepmenaker No.Kep.51/Men/1999)

1. Secara garis besar Hirarki pengendalian LK adalah meliputi ;


Engineering control, adminisrration control dan Personil
Protective Equipment.

1. Di suatu ruangan produksi pabrik paku, dilakukan pengukuran


kebisingan dengan Sound level meter ternyata menunjukkan
angka 120 dBA. Pekerja di ruangan tersebut semuanya
memamai ear muff sehingga kebisingan yang memajan para
pekerja tinggal mencapai 88 dBA. Maka sebaiknya waktu tugas
para pekerja di ruang tersebut berdasarkan
Kepmenaker No.Kep.51/Men/1999 dilakukan rotasi dengan
bagian lain setiap harinya yang intensitas kebisingannya tidak
terlalu tinggi, sehingga dalam setiap hari mereka hanya terpapar
kebisingan max 88 dBA selama 4 jam saja.

Jadi Hirarki pengendalian lingkungan kerja hendaknya berurut


yaitu dg metode Engineering control, kalau kurang berhasil
dengan Adinistration control dan jika sulit untuk dilakukan, maka
terakhir adalah penggunaan APD yang sesuai yaitu Ear Muff atau
Ear plug.

1. Terpajan kebisingan yang melebihi batas akan dapat


mengakibatkan penurunan daya dengan / tuli, dan mengurangi
konsentrasi kerja.

1. Orang yang bekerja di bagian ruangan yang panas selama 8


jam sehari termasuk istirahat 2 jam dengan beban kerja
sedang, tidak boleh terpajan tekanan panas (ISBB) lebih dari 28
derajat celsius ( Lamp.I ).
Nama alat ukur tekanan panas (ISBB) = Heat stress aparturs
Kalau sendainya melebihi batas bagaimana cara mengatasinya ?
. Engineering control misal = pasang kipas angin, ventilasi alam.
. Kalau belum berhasil, lakukan administration control misal =
rotasi.

8. Pekerja bagian mesin gerinda pada pabrik wajan bekerja


selama 9 jam sehari termasuk istirahat 1 jam, dikalukan
pengukuran pada lengan/tangannya dengan Human vibration
meter menunjukkan angka 10 m/det2.
Maka menurut ketentuan yang berlaku, berarti pekerja tersebut
telah terpajan getaran getaran melebihi batas.

1. Seorang pekerja yang melayani dapur peleburan logam, setiap


hari bekerja
9 jam kerja, termasuk istirahat 1 jam. Dari hasil pengukuran
dengan UVradiometer, Ia terpajan radiasi sinar UV yang
mamancar dari dapur tersebut = 0,2 mW/cm2. maka menurut
ketentuan yang berlaku maka radiasi sinar UV yang memajan
pekerja tersebut melebihi NAB.
Bagaimana teknik hirarki pengandaliannya ?
. Dengan engineering control misal : pasang shielding
- Kalau kurang berhasil---adm.control --rotasi
- Kalau rotasi tak mungkin dilakukan, maka terakhir PPE.
1. NAB faktor kimia di udara lingkungan kerja diatur dengan
UU.No.1 tahun 1970 dan SE.Menaker No.SE.01/Men/1997.

1. Pada pabrik pengilingan gandum, udara dalam ruang produksi


terjadi polusi debu gandum sedemikan rupa, dimana hasil
pengujian dengan Dust sampler dan Analitic
balance menunjukkan bahwa kandungan debu gandum di udara
lingkungan kerja tersebut mencapai 10 mg/m3. Menurut SE
Menaker No.SE.01/Men/1997 tentang NAB Faktor kimia diudara
lingkungan kerja ternyata telah memelbihi batas ( lebih dari 4
mg/m3).

1. Atas kondisi ruangan tersebut pada soal No.10 diatas,


perusahaan harus melakukan engineering contol dengan cara
memasang blower peghisap debu ( dust collector ), dan apabila
masih melebihi batas juga maka pekerja harus
memakai Masker yang disediakan perusahaan.

1. Pada pabrik pengolahan karet alam menjadi barang setengah


jadi untuk di export, menggunakan bahan kimia
yaitu NH3 ( Amoniak ).
Dari hasil pengukuran kandungan gas NH3 dalam ruang produksi
dengan menggunakan impinger & AAS ( Atomic absorbtion
spechtrtofotometric ) ternyata menunjukkan angka 20 mg/m3.
Menurut SE Manaker No.SE.01/Men/1997, maka kandungan gas
NH3 diudara lingkungan kerja tersebut telah melebihi NAB ( 17
mg/m3) oleh karena itu perusahaan wajib mengendalikannya
dengan Engineering control dg cara memasang exhaust fan dan
jika masih melebihi NAB, pekerja harus memakai repirator yang
disediakan perusahaan.

1. Pengendalian bahan kimia berbahaya di tempat kerja diatur


dengan UU.No.1 Tahun 1970 dan
Kepmenaker No.Kep.187/Men/1999.

1. Bahan kimia berbahaya memiliki sifat antara lain ; iritasi,


korosi, radiasi, mudah meledak/menyala.

1. Pengaruh bahan kimia berbahaya yang melebihi batas terhadap


manusia ;
sulit bernafas, kerusakan janin, kanker, pneomokoniosis dsb.
16. Masuknnya bahan kimia kedalam tubuh manusia melalui ;
makanan/tertelan atau pernapasan.

17. Tempat kerja yang menggunakan bahan kimia berbahaya


dengan jumlah melebihi NAK ( Nilai ambang kuantitas ) wajib
mengujikan faktor kimia diudara lingkungan kerjanya kepada
laboratorium yang berwenang, minimal sekali setiap 6 bulan.

18. Tempat kerja yang menggunakan bahan kimia berbahaya


dengan jumlah kurang dari NAK , wajib mengujikan faktor kimia
di udara lingkungan kerja kepada laboratorium yang berwenang,
minimal sekali setiap tahun.

1. Ergonomis ,artinya sudah sesuai antara ; pekerjaan, sikap dg


peralatan.
Contoh ; posisi permukaan meja tulis yang ergonomis adalah 10
Cm diatas pusat kita.

1. Ilmu pengetahuan Hygiene perusahaan, yaitu mempelajari


manusia dengan lingkungan kerjanya.

1. Dampak penerangan di tempat kerja yang kurang memenuhi


syarat ;
Kekelahan yang lebih cepat pada mata, menimbulkan kecelakaan
kerja.

1. Dampak penerangan yang baik antara lain mencegah


kecelakaan kerja, memelihara produktivitas kerja dan
kenyamanan kerja.

1. Penerangan yang memenuhi syarat memenuhi 7 kriteria sbb ;


a. Tidak menyilaukan.
b. Tidak menimbulkan panas yang berlebihan.
c. Tidak berasap.
d. Tidak menimbulkan kontras yang berlebihan.
e. Tidak berkedip
f. Cahayanya merata
g. Intensitasnya cukup ( alat ukurnya Lux meter )

1. Soal penerangan
Pada suatu ruangan administrasi di Kantor PT.ABD, dilakukan
pengukuran pada meja kerja dengan Lux meter menunjukkan
angka 200 Lux.
Menurut Peraturan Menteri Perburuhan No.7 Tahun 1964,
intensitas penerangan di ruang kerja tersebut
adalah kurang karena semestinya minimal 300 Lux.

Contoh memperlirakan berapa lux pemerangan di ruang


tsb ( kita tdk
Punya alat ukur )

I . A = N. L. Mf. Cf
Misal :
Luas ruangan ini ( A ) = 6 x 6 m = 36 m2
Menurut standart intensitas penerangan > 300 lux.
Jumlah lampu 13 buah, masing-masing 1000 lumens ..?
Cara pemasangan = Direck lifghting ( coefisien factor / Cf ) =
0,75
Maintanance faktor (Mf) = 0,60 lampu agak kotor
Hitung berapa sekitar berapa Lux intensitas penerangan
ruang ini
Jawab :
I x 36 = 13. 1000. 0,60. 0,65
I = 13. 1000. 0,60. 0.75 / 36
= 200 Lux.

Catatan :
Setiap merk lampu, walaupun watt nya sama, besarnya
lumens berbeda.
Contoh lampu neon, 10 watt merk philips, jumlah lumens =
370 lumens.
Tetapi untuk lampu pijar walaupun sama-sama philips 10
watt tidak sama dengan = 370 lumens. Apalagi merknya
beda maka besarnya lumen berbeda. Untuk melihat berapa
lumens pada suatu lampu dapat dilihat pada bungkus lampu
tsb.

1. Yang diatur dalam Kepmen 187/Men.1987 antara lain


menganai NAK, Petugas K3 Kimia, Ahli K3
Kimia, LDKB dan frekwensi pengujian.
1. Secara garis besar ada dua macam ventilasi ditempat kerja ,
yaitu ventilasi alam dan ventilasi buatan.

1. Beberapa macam APD antara lain ; Safety Helmet, Masker,


Respirator, Ear muff, ear plug, sarung tangan Safety shoes dsb.

1. APD yang baik, memenuhi kriteria sbb ; Modelnya tepat dan


baik, harga relatif murah, memberi perlindungan yang efektip,
meningkatkan rasa percaya diri, memiliki Sertifikat /
Recomondasi.

1. Menurut peraturan perundangan K3 yang berlaku, APD buatan


dalam negeri perlu ada sertifikat kelayakan dari Direktur
PNK3 Depnakertrans RI, dan
APD buatan luar negeri yang telah bersertifikat luar negeri
perlu recomondasi dari Direktur PNK3 Depnakertrans RI.

1. Menurut peraturan K3 yang berlaku, perusahaan


catering yang mengalola makanan di perusahaan wajib
memiliki Rekomondasi dari Disnaker setempat.

1. Menurut PMP No.7 tahun 1964, Cubic Space pada ruang


kerja di perusahaan
semestinya tidak kurang dari 1 : 10.
Sebagai contoh, pada suatu ruang Adm.di perusahaan berkuran 4
x 5 meter, tinggi lantai hingga internite= 4 meter, maka jumlah
staf administrasi yang
Bekerja disitu jangan lebih dari 4 x 5 x 4 dibagi 10 = 8 orang.

1. Suatu ruangan produksi di pabrik yang luasnya 12 X 20


meter, menurut peraturan K3 yang berlaku total luas jendelanya
minimal = 10 % x 240 M2= 24 m2.

1. Luas ruang gerak setiap pekerja menurut peraturan K3 yang


berlaku, minimal = 2 M2.

1. Menurut peraturan K3 yang berlaku ,Toilet bagi pekerja di


perusahaan harus terpisah antara toilet tenaga kerja pria dengan
toiletb tenaga kerja wanita.
36. Suatu perusahaan memiliki 60 pekerja pria dan 30 wanita, maka
toilet yang harus tersedia di perusahaan tersebut = 6 unit, yaitu 4
unit bagi tenaga kerja pria dan 2 unit bagi tenaga kerja wanita.

1. Tempat cuci muka yang disediakan bagi pekerja , menurut


peraturan K3 yang berlaku wajib tersedia di perusahaan.

1. Ruang ganti pakaian dan locker bagi pekerja yang untuk


bekerja di perusahaan harus berganti dengan pakaian kerja
tertentu ( misal pekerja pada bagian yang mau tidak mau terkena
kotoran seperti oli, gemok dsb, ) menurut peraturan K3 yang
berlaku harus disediakan di perusahaan.

1. Pada perusahaan yang mempekerjakan pekerja wanita,


menurut peraturan K3 yang berlaku wajib menyediakan Ruang
istirahat sekaligus tempat berhias
bagi pekerja wanita tsb.

1. Tempat pengumpulan sampah di perusahaan harus di


sediakan ,dan tidak
boleh menimbulkan akibat bersarangnya serangga /lalat disitu
dan tidak menganggu kesehatan pekerja.

1. Alat masak dan alat untuk makan/minum di Kantin perusahaan


harus bersih dan mudah dibersihkan. Kebersihan , penerangan
dan ventilasi
pada ruang makan/kantin/dapur harus diperhatikan.

1. Air minum yang disediakan bagi pekerja harus bersih dan


sehat yang dibuktikan dengan sertifikat dari Lab.kesehatan.

1. Pekerja yang melayani di dapur/kantin juga harus sehat dan


tidak menderita penyakit menular, yang dibuktikan dengan surat
keterangan dokter, dan pada waktu bertugas harus memakai
tutup kepala dan clemek.

1. Untuk perusahaan yang memiliki pekerja antara 50 sampai


200 orang,wajib menyediakan ruang makan, sedangkan
perusahaan yang memiliki pekerja lebih dari 200 orang wajib
menyediakan Kantin bagi pekerja.
1. Dasar hukum yang mengatur syarat-syarat
kebersihan,kesehatan dan penerangan di tempat kerja adalah
Peraturan Menteri Perburuhan No.7 Tahun 1964.

KESEHATAN KERJA

1. Dasar Hukum pemeriksaan awal, berkala dan khusus tenaga kerja


adalah
UU.No.1 tahun 1970 pasal 8 Juncto Permenaker
No.Per.02/Men/1980 tentang
Pemeriksaan kesehatan kerja dalam penyelenggaraan K3.

2. Menurut peraturan K3 yang berlaku, Frekwensi pemeriksaan berkala


bagi seluruh pekerja di perusahaan, adalah minimal sekali setiap
tahun.

3. Dokter pemeriksa kesehatan awal, berkala, khusus bagi


pekerja,menurut peraturan K3 yang berlaku adalah bahwa Dokter
yang ditunjuk oleh perusahaan itu sendiri, tetapi Dokter tersebut
telah memiliki SKP dari Dirjen Binwasnaker Depnakertrans RI.

4. Menurut Permenaker No.per.02/Men/1980, Dokter pemeriksan


kesehatan kerja tersebut adalah ada di perusahaan itu sendiri, dan
menurut Permenaker No.Per.04/Men/1995 Dokter pemeriksan
tersebut juga ada yang di PJK3 bidang kesehatan kerja.

5. Kewajiban melaporkan hasil pemeriksaan kesehatan berkala


pekerja tersebut harus disampaikan oleh perusahaan ke Disnaker
setempat selambat-lambatnya 2 bulan setelah pemeriksaan
dilakukan.

6. Jika ditemui Penyakit akibat kerja ( occupational decease ) pada


tenaga kerja dalam pemeriksaan kesehatan berkala atau khusus
tersebut, harus dilaporkan ke Disnaker setempat oleh perusahaan
dalam 2 X 24 Jam.

7. Jumlah Jenis PAK menurut Permenaker No.Per.01/Men/1981


adalah = 30 sedangkan jumlah jenis PAK menurut Kepres
No.22/1993 =
8. Perusahaa-perusahaan tertentu harus menyediakan pelayanan
kesehatan kerja.
(Klinik di perusahaan ). Menurut Permenaker
No.Per.01/Men/1976, Dokter perusahaan harus
memiliki Sertifikat Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan kerja dari
Depnakertrans, begitu juga tenaga Paramedisnya berdasarkan
Permenaker No.Per.01/Men/1979 harus
memiliki sertifikat pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja dari
Depnakertrans.

9. Menurut peraturan K3 yang berlaku, Frekwensi kunjungan Dokter


perusahaan pada pelayanan kesehatan kerja di perusahaan tergantung
kepada jumlah pekerja dan tingkat bahaya di perusahaan ybs.

10. Sarana P3K harus tersedia di perusahaan, yaitu meliputi Kotak


obat lengkap dengan isinya dan tandu.

11. Dasar Hukum pengawasan/penerapan kesehatan kerja di


perusahaan adalah sbb:
a. UU.No.1 Tahun 1970
b. Permenaker No.Per.02/Men/1980 tentang pemeriksaan
kesehatan kerja dalam
penyelenggaraan K3.
c. Pemenaker No.Per.03/Men/1982 tentang pelayanan kesehatan
ditempat kerja.
d. Permenaker No.Per.01/Men/1981 tentang Penyakit akibat kerja.
e. Permenaker No.Per.01/Men/1976
f. Permenaker No.Per.01.Men/1979.
g. Kepres No.22/1993.

PEMERIKSAAN INSTALASI /
SERTIFIKASI DISNAKER

Pemerikasaan instalasi akan memastikan kelayakan dari sebuah instalasi penangkal


petir yang terpasang

Setiap instalasi Penangkal Petir sebaiknya diperiksa setiap setahun sekali yang
dilakukan menjelang musim penghujan (Internal Cek) , diharapkan selama musim
penghujan instalasi yang telah terpasang dapat berfungsi dengan baik sehingga
bangunan akan aman dan terlindungi serta terhindar dari bahaya sambaran petir.

Setiap instalasi Penangkal Petir sebaiknya diperiksa setiap setahun


sekali secara mandiri oleh teknisi ( internal cek ) dan Pemeriksaan yang
mendapatkan sertifikasi disnaker tiap dua tahun sekali

Sebagaimana peraturan pemerintah RI NO. :PER. 02/MEN/1989 TENTANG


PENGAWASAN INSTALASI PENYALUR PETIR maka pemeriksaan berkala oleh instansi
terkait dalam hal ini adalah Disnaker, dilakukan setiap 2 tahun, hal ini dapat terwujud
apabila pihak Swasta/Instansi sadar perlunya keselamatan baik itu pada gedung dan
isinya maupun keselamatan bagi karyawan yang ada disekitar tempat kerja.

Kami sebagai Pihak Ketiga/Swasta menawarkan jasa akan keperluaan 2 hal tersebut :

1. Pemeriksaan berkala tahunan / Internal Cek


Bahwa pemerikasaan instalasi penyalur petir ini akan dilakukan dengan
mengikuti standarisasi teknis dan mengikuti aturan yang berlaku , Tujuan akhir
dari Internal Cek adalah memberikan kepastian akan kelayakan sebuah instalasi .
sehingga dari pihak pemilik bangunan akan benar benar yakin akan fungsi
penyalur petir yang terpasang .

2. Pemeriksaan / Sertifikasi Disnaker dan Re-Sertifikasi Disnaker setiap 2 tahun


sekali
Sedangkan Sertifikasi Disnaker dan Re-Sertifikasi Disnaker adalah
menyertakan pihak Instansi Terkait di daerah tersebut kali ini Disnaker
Setempat . Di libatkannya dipak pemerintahan tidak lain karena masih ada
keterkaitan akan hasil uji kelayakan ini dengan berbagai kepentingan yang lain
( ISO , Asuransi )

Beberapa dokumen harus di siapkan bila akan di lakukan ijin pengesahan Disnaker
diantaranya PERMOHONAN PENGESAHAN DISNAKER

Lingkup Kerja Pemeriksaan Instalasi

Pemeriksaan instalasi penangkal petir meliputi pemeriksaan yang terdiri dari


serangkaian pengujian terhadap sistem penyalur petir yang ada , mulai dari jenis dan
fisik material , spesifikasi teknis material , serta teknis pemasangan.

Hasil pemeriksaan instalasi penangkal petir berisi data teknis kondisi fisik instalasi
penyalur petir, serta hasil spesifikasi teknisnya sesuai standar operasional dan
ketentuan yang berlaku.
Rekomendasi perbaikan atau penggantian akan diberikan bila ditemukan kesalahan
ataupun potensi ketidaksesuaian , Untuk pelaksanaan perbaikan akan kembali menjadi
kebijakan pihak pemilik akan pelaksanaanya.

Proses Pemeriksaan Instalasi Meliputi :

Pemeriksaan data teknis yang ada


Pengamatan visual peralatan dan sistem instalasi penangkal petir ( di lokasi).
Pencatatan data lapangan ( di lokasi ).
Perbandingan kesesuaian teknis dengan standar nasional.
Melakukan evaluasi teknis dalam standarisasi yang dipakai
Analisa kelayakan instalasi
Laporan Hasil Pemeriksaan

Hasil Pelaporan Pemerikasaan Instalasi Penangkal Petir

Hasil laporan pemeriksaan akan disampaikan kepada pelanggan baik lesan atau
tulisan . Bila ada temuan kelemah menjadi dasar rekomendasi kami agar dilakukan
perbaikan.

Perbaikan akan kekurangan dan kelemahan dari instalasi menjadi tanggung jawab
penuh pihak pengelola bila tidak di lakukan perbaikan ( Internal Cek ), Tetapi akan
berbeda bila pemeriksaan berkala 2 tahunan , bila ditemukan ketidak sesuaian maka
dari Pihak Dinas Tenaga Kerja setempat tidak mensetujui kelayakan pakai dari fungsi
keselamatan Penyalur Petir .

Sertifikasi Disnaker

Sertifikasi Legal Regulasi akan dilakukan pihak Disnaker dengan menyertakan hasil
pelaporan pemeriksaan dan dilengkapi dokumen dokumen pendukung , gambar
situasi , detail instalasi dan surat Permohonan Pengesahan .

Bila ada ketidak sesuaian maka pihak Instansi terkait ini akan meminta untuk
melakukan perbaikan terlebih dahulu .

Pihak kami akan memprakarsai seluruh proses Sertifikasi Disnaker ini ,

Peraturan Pemerintah tetang PENANGKAL PETIR


MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA

NO. :PER. 02/MEN/1989

TENTANG PENGAWASAN INSTALASI PENYALUR PETIR

MENTERI TENAGA KERJA:

Menimbang :

a.bahwa tenaga kerja dan sumber produksi yang berada ditempat kerja perlu dijaga
keselamatan dan produktivitasnya.

b.bahwa sambaran petir dapat menimbulkan bahaya baik tenaga kerja dan orang
lainnya yang berada ditempat kerja serta bangunan dan isinya.

c.bahwa untuk itu perlu diatur ketentuan tentang instalasi penyalur petir dan
pengawasannya yang ditetapkan dalam suatu Peraturan Menteri.

Mengingat :

1.Undang-undang No. 3 Th. 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang


Pengawasan Perburuhaa No. 33 Th. 1948 dari Republik Indonesia.

2.Undang-undang No. 14 Th. 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai


Tenaga Kerja.

3.Undang-undang No. 1 Th. 1970 tentang Keselamatan Kerja.


4. Keputusan Presiden R.I No. 64/M Tahun 1988 tentang Pembentukan Kabinet
pembangunan V.

5.Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No.


PER-03/MEN/1978 tentang Persyaratan Penunjukan dan Wewenang serta
Kewajiban Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Ahli Keselamatan
Kerja.

6.Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER-03/IVIEN/1984 tentang Pengawasan


Ketenagakerjaan terpadu.

7.Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER-04/ MEN/1987 tentang Tata Cara
Penunjukan Ahli Keselamatan Kerja.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA TENTANG PENGAWASAN INSTALASI


PENYALUR PETIR

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :

a.Direktur ialah Pejabat sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang No. 1


Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;

b.Pegawai Pengawas ialah Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan yang ditunjuk oleh


Menteri Tenaga Kerja;

c. Ahti Keselamatan Kerja ialah Tenaga Tehnis berkeahlian khusus dari luar
Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawasi
ditaatinya Undang-undang No. l Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;

d.Pengurus ialah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab penuh terhadap
tempat kerja atau bagiannya,yang berdiri sendiri;
e.Pengusaha ialah orang atau badan hukum seperti yang dimaksud pasal 1 ayat (3)
Undang-undang No. I Tahun 1970;

f. Tempat kerja ialah tempat sebagaimana dimaksud pasal 1 ayat (1) Undang undang
No. 1 Tahun 1970;

g.Pemasang instalasi penyalur petir yang selanjutnya disebut Instalasi ialah badan
hukum yang melaksanakan pemasangan instalasi penyalur petir;

h.Instalasi penyalur petir ialah seluruh susunan sarana penyalur petir terdiri atas
penerima (Air Terminal/Rod), Penghantar penurunan (Down Conductor), Elektroda
Bumi (Earth Electrode) termasuk perlengkapan lainnya yang merupakan satu
kesatuan berfungsi untuk menangkap muatan petir dan menyalurkannya kebumi;

i.Penerima ialah peralatan dan atau penghantar dari logam yang menonjol lurus
keatas dan atau mendatar guna menerima petir;

j.Penghantar penurunan ialah penghantar yang menghubungkan penerima dengan


elektroda bumi;

k.Elektroda bumi ialah bagian dari instalasi penyalur petir yang ditanam dan kontak
langsung dengan bumi;

l.Elektroda kelompok ialah beberapa elektroda bumi yang dihubungkan satu dengan
lain sehingga merupakan satu kesatuan yang hanya disambung dengan satu
penghantar penurunan;

m.Daerah perlindungan ialah daerah dengan radius tertentu yang termasuk dalam
perlindungan instalasi penyalur petir;

n.Sambungan ialah suatu kontruksi guna menghubungkan secara listrik antara


penerima dengan penghantar penurunan, penghantar penurunan dengan penghantar
penurunan dan penghantar penurunan dengan elektroda bumi, yang dapat berupa las,
klem atan kopeling;

o.Sambungan ukur ialah sambungan yang terdapat pada penghantar penurunan


dengan sistem pembumian yang dapat dilepas untuk memudahkan pengukuran
tahanan pembumian;

p.Tahanan pembumian ialah tahanan bumi yang harus dilalui oleh arus listrik yang
berasal dari petir pada waktu peralihan, dan yang mengalir dari elektroda bumi
kebumi dan pada penyebarannya didalam bumi;
q.Massa logam ialah massa logam dalam maupun massa logam luar yang merupakaa
satu kesatuan yang berada didalam atau pada bangunan, misalnya
perancah-perancah baja, lift, tangki penimbun, mesin, gas dan pemanasan dari logam
dan penghantar penghantar listrik.

Pasal 2

(1) Instalasi penyalur petir harus direncanakan, dibuat, dipasang dan dipelihara sesuai
dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini dan atau standart yang diakui;

(2) Instalasi penyalur petir secara umum harus memenuhi persyaratan sebagai berikut

a.kemampuan perlindungan secara tehnis;

b.ketahanan mekanis;

c.ketahanan terhadap korosi;

(3) Bahan dan konstruksi instalasi penyalur petir harus kuat dan memenuhi syarat,

(4) Bagian-bagian instalasi penyalur petir harus memiliki tanda hasil pengujian dam
atau sertifikat yang diakui.

Pasal 3

Sambungan-sambungan harus merupakan suatu sambungan elektris, tidak ada


kemungkinan terbuka dan dapat menahan kekuatan tarik sama dengaa sepuluh kali
berat penghantar yang menggantung pada sambungan itu.

Pasal 4

(1) Penyambungan dilakukan dengan cara:

a. dilas.

b.diklem (plat k1em, bus kontak klem) dengan panjang sekurang-kurangnya 5 cm;

c.disolder dengan panjang sekurang-kurangnya 10 cm dan khusus untuk peng-hantar


penurunan dari pita harus dikeling.

(2) Sambungan harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak berkarat;

(3) Sambungan-sambungan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat


diperiksa dengan mudah.

Pasal 5
Semua penghantar penurunan petir harus dilengkapi dengan sambungan pada tempat
yang mudah dicapai.

Pasal 6

(1) Pemasangan instalasi penyalur petir harus dilakukan oleh Instalatir yang telah
mendapat pengesahan dari Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya;

(2) Tata cara untuk mendapat pengesahan sebagaimana dimaksud ayat (1), diatur
lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.

Pasal 7

Dalam hal pengaruh elektrolisa dan korosi tidak dapat dicegah maka semua bagian
instalasi harus dibalut dengan timah atau cara lain yang sama atau memperbaharui
bagiau-bagiannya dalam waktu tertentu.

BAB II

RUANG LINGKUP

Pasal 8

Yang diatur oleh Peraturan Menteri ini adalah Instalasi Penyalur Petir non radioaktip
di tempat kerja.

Pasal 9

(1)Tempat kerja sebagaimana dimaksud pasal 8 yang perlu dipasang instalasi penyalur
petir antara lain:

a. Bangunan yang terpencil atau tinggi dan lebih tinggi dari pada hangunan sekitarnya
seperti: menara-menara, cerobong, silo, antena pemancar, monumen dan lain-lain;

b.Bangunan dimana disimpan, diolah atau digunakan bahan yang mudah meledak
atau terbakar seperti pabrik-pabrik amunisi, gudang penyimpanan bahan peledak dan
lain-lain;

c. Bangunan untuk kepentingan umum seperti: tempat ibadah, rumah sakit, sekolah,
gedung pertunjukan, hotel, pasar, stasiun, candi dan lain-lain;

d.Bangunan untuk menyimpan barang barang yang sukar diganti seperti: museum,
perpustakaan, tempat penyimpanan arsip dan lain-lain;
e. Daerah-daerah terbuka seperti: daerah perkebunan, Padang Golf, Stadion Olah
Raga dan tempat-tempat lainnya.

(2)Penetapan pemasangan instalasi pcnyalur petir pada tempat kerja sebagaimana


dimaksud ayat (1) dengan memperhitungkan angka index seperti tercantum dalam
lampiran 1 Peraturan Menteri ini.

BAB III

PENERIMA (AIR TERMINAL)

Pasal 10

(1) Penerima harus dipasang ditempat atau bagian yang diperkirakan dapat
tersambar petir dimana jika bangunan yang terdiri dari bagian-bagian seperti
bangunan yang mempunyai menara, antena, papan reklame atau suatu blok bangunan
harus dipandang sebagai suatu kesatuan;

(2) Pemasangan penerima pada atap yang mendatar harus benar-benar menjamin
bahwa seluruh luas atap yang bersangkutan termasuk dalam daerah perlindungan;

(3) Penerima yang dipasang diatas atap yang datar sekurang-kurangnya lebih tinggi
15 cm dari pada sekitarnya;

(4) Jumlah dan jarak antara masing-masing penerima harus diatur sedemikian rupa
sehingga dapat menjamin bangunan itu termasuk dalam daerah perlindungan.

Pasal 11

Sebagai penerima dapat digunakan:

a.logam bulat panjang yang terbuat dari tembaga;

b.hiasan-hiasan pada atap, tiang-tiang, cerobong-cerobong dari logam yang


disambung baik dengan instalasi penyatur petir;

c. atap-atap dari logam yang disambung secara elektris dengan baik.

Pasal 12

Semua bagian bangunan yang terbuat dari bukan logam yang dipasang menjulang ke
atas

dengan tinggi lebih dari 1 (satu) meter dari atap harus dipasang penerima tersendiri.
Pasal 13

Pilar beton bertulang yang dirancangkan sebagai penghantar penurunann untuk suatu
instalasi penyalur petir, pilar beton tersebut harus dipasang menonjol di atas atap
dengan mengingat ketentuan-ketentuan penerima, syarat-syarat sambungan dan
elektroda bumi.

Pasal 14

(1) Untuk menentukan daerah perlindungan bagi penerima dengan jenis Franklin dan
sangkar Faraday yang berhentuk runcing adalah suatu kerucut yang mempunyai sudut
puncak 112 (seratus dua belas);

(3) Untuk menentukan daerah perlindungan bagi penerima yang berbentuk


penghantar mendatar adalah dua bidang yang saling memotong pada kawat itu dalam
sudut 112 (seratus dua belas);

(3) Untuk menentukan daerah perlindungan bagi penerima jenis lain adalah sesuai
dengan ketentuan tehnis dari masing-masing penerima;

BAB IV

PENGHANTAR PENURUNAN

Pasal 15

(1) Penghantar penurunan harus dipasang sepanjang bubungan (nok) dan atau
sudut-sudut bangunan ke tanah sehingga penghantar penurunan merupakan suatu
sangkar dari bangunan yang akan dilindungi.

(2) Penghantar penurunan harus dipasang secara sempuma dan harus diperhitungkan
pemuaian dan penyusutannya akibat perubahan suhu;

(3)Jarak antara alat-alat pemegang penghantar penurunan satu dengan yang lainnya
tidak boleh lebih dari 1,5 meter;

(4) Penghantar penurunan harus dipasang lurus kebawah dan jika terpaksa dapat
mendatar atau melampaui penghalang;

(5) Penghantar penurunan harus dipasang dengan jarak tidak kurang 15 cm dari atap
yang dapat terbakar kecuali atap dari logam, genteng atau batu;

(6) Dilarang memasang penghantar penurunan di bawah atap dalam bangunan.


Pasal 16

Semua bubungan (nok) harus dilengkapi dengan penghantar penurunan, dan untuk
atap yang datar harus dilengkapi dengan penghantar penurunan pada sekeliling
pinggirnya, kecuali persyaratan daerah perlindungan terpenuhi.

Pasal 17

(1) Untuk mengamankan bangunan terhadap loncatan petir dari pohon yang letaknya
dekat bangunan dan yang diperkirakan dapat tersambar petir, bagian bangunan yang
terdekat dengan pohon tesebut harus dipasang penghantar penurunan;

(2) Penghantar penurunan harus selalu dipasang pada bagian-bagian yang menonjol
yang diperkirakan dapat tersambar petir;

(3) Penghantar penurunan harus dipasang sedemikian rupa, sehingga pemeriksaan


dapat dilakukan dengan mudah dan tidak mudah rusak.

Pasal 18

(1) Penghantar penurunan harus dilindungi terhadap kerusakan-kerusakan mekanik,


pengaruh cuaca, kimia (elektrolisa) dan sebagainya.

(2) Jika untuk melindungi penghantar penurunan itu dipergunakan pipa logam, pipa
tersebut pada kedua ujungnya harus disambungkan secara sempurna baik elektris
maupun mekanis kepada penghantar untuk mengurangi tahanan induksi.

Pasal 19

(1) Instalasi penyalur petir dari suatu bangunan paling sedikit harus mempunyai 2
(dua) buah penghantar penurunan;

(2) Instalasi penyalur petir yang mempunyai lebih dari satu penerima, dari penerima
tersebut harus ada paling sedikit 2 (dua) buah penghantar penurunan;

(3) Jarak antara kaki penerima dan titik pencabangan penghantar penurunan paling
besar 5 (lima) meter.

Pasal 20

Bahan penghantar penurunan yang dipasang khusus harus digunakan kawat tembaga
atau bahan yang sederajat dengan ketentuan :

a.penampang sekurang-kurangnya 50 mm ?;
b.setiap bentuk penampang dapat dipakai dengan tebal serendah-rendahnya 2 mm.

Pasal 21

(1) Sebagai penghantar penurunan petir dapat digunakan bagian-bagian dari atap,
pilar-pilar, dinding-dinding, atau tulang-tulang baja yang mempunyai massa logam
yang baik;

(2) Khusus tulang-tulang baja dari kolom beton harus memenuhi syarat, kecuali;

a. Sudah direncanakan sebagai penghantar penurunan dengan memperhatikan


syarat-syarat sambungan yang baik dan syarat-syarat lainnya;

b.Ujung-ujung tulang baja mencapai garis permukaan air dibawah tanah sepanjang
waktu.

(3) Kolom beton yang bertulang baja yang dipakai sebagai penghantar penurunan
harus digunakan kolom beton bagian luar.

Pasal 22

Penghantar penurunan dapat digunakan pipa penyalur air hujan dari logam yang
dipasang tegak dengan jumlah paling banyak separuh dari jumlah penghantar
penurunan yang diisyaratkan dengan sekurang-kurangnya dua buah merupakan
penghantar penurunan khusus.

Pasal 23

(1)Jarak minimum antara penghantar penurunan yang satu dengan yang lain diukur
sebagai berikut;

a.pada bangunan yang tingginya kurang dari 25 meter maximum 20 meter;

b.pada bangunan yang tingginya antara 25 ?50 meter maka jaraknya {30 ?(0,4
x

tinggi bangunan) }

c.pada bangunan yang tingginya lebih dari 50 meter maximum 10 meter.

(2) Pengukuran jarak dimaksud ayat (I) dilakukan dengan menyusuri keliling
bangunan.

Pasal 24
Untuk bangunan-bangunan yang terdiri dari bagian-bagian yang tidak sama
tingginya, tiap-tiap bagian harus ditinjau secara tersendiri sesuai pasa1 23 kecuali
bagian banguna yang tingginya kurang dari seperempat tinggi bangunan yang
tertinggi, tingginya kurang dari 5 meter dan mempunyai luas dasar kurang dari 50
meter persegi.

Pasal 25

(1) Pada bangunan yang tingginya kurang dari 25 meter dan mempunyai
bagian-bagian yang menonjol kesamping harus dipasang beberapa penghantar
penurunan dan tidak menurut ketentuan pasal 23;

(2) Pada bangunan yang tingginya lebih dari 25 meter, semua bagian-bagian yang
menonjol ke atas harus dilengkapi dengan penghantar penurunan kecuali untuk
menara-menara.

Pasal 26

Ruang antara bangunan-bangunan yang menonjol kesamping yang merupakan


ruangan yang sempit tidak perlu dipasang penghantar penurunan jika penghantar
penurunan yang dipasang pada pinggir atap tidak terputus.

Pasal 27

(1)Untuk pemasangan instalasi penyalur petir jenis Franklin dan sangkar Faraday,
jenis-jenis bahan untuk penghantar dan pembumian dipilih sesuai dengan daftar pada
lampiran II Peraturan Menteri ini;

(2)Untuk pemasangan instalasi penyalur petir jenis Elektrostatic dan atau jenis lainnya,
jenis-jenis bahan untuk penghantar dan pembumian dapat menggunakan bahan sesuai
dengan daftar pada lampiran II Peraturan Menteri ini dan atau jenis lainnya sesuai
dengan standard yang diakui;

(3)Penentuan bahan dan ukurannya dari ayat (l) dan ayat (2) pasal ini, ditentukan
berdasarkan beberapa faktor yaitu ketahanan mekanis, ketahanan terhadap pengaruh
kimia terutama korosi dan ketahanan terhadap pengaruh lingkungan lain dalam batas
standard yang diakui;

(4) Semua penghantar dan pengebumian yang digunakan harus dibuat dari bahan
yang memenuhi syarat, sesuai dengan standard yang diakui.

BAB V
PEMBUMIAN

Pasal 28

(1) Elektroda bumi harus dibuat dan dipasang sedemikian rupa sehingga tahanan
pembumian sekecil mungkin;

(2) Sebagai elektroda bumi dapat digunakan:

a.tulang-tulang baja dari lantai-lantai kamar dibawah bumi dan tiang pancang yang
sesuai dengan keperluan pembumian;

b.pipa-pipa logam yang dipasang dalam bumi secara tegak;

c. pipa-pipa atau penghantar lingkar yang dipasang dalam bumi secara mendatar,

d.pelat logam yang ditanam;

e.bahan logam lainnya dan atau bahan-bahan yang cara pemakaian menurut
ketentuan pabrik pembuatnya.

(3) Elektroda bumi tersebut dalam ayat (2) harus dipasang sampai mencapai air
dalam bumi.

Pasal 29

(1) Elektroda bumi dapat dibuat dari:

a.Pipa baja yang disepuh dengan Zn (Zincum) dan garis tengah sekurang-kurangnya
25 mm dan tebal sekurang-kurangnya 3,25 mm;

b.Batang baja yang disepuh dengan Zn dan garis tengah sekurang-kurangnya 19 mm;

c.Pita baja yang disepuh dengan Zn yang tebalnya sekurang-kurangnya 3 mm dan


lebar sekurang-kurangnya 25 mm;

(2) Untuk daerah-daerah yang sifat korosipnya lebih besar, elektroda bumi harus
dibuat dari:

a.Pipa baja yang disepuh dengan Zn dan garis tengah dalam sekurang-kurangnya 50
mm dan tebal sekurang-kurangnya 3,5 mm;

b.Pipa dari tembaga atau bahan yang sederajat atau pipa yang disepuh dengan
tembaga atau bahan yang sederajat dengan garis tengah daIam sekurang-kurangnya
16 mm dan tebal sekurang-kurangnya 3 mm;
c.Batang baja yang disepuh dengan Zn dengan garis tengah sekurang-kurangnya 25
mm;

d.Batang tembaga atau bahan yang sederajat atau batang baja yang disalur dengan
tembaga atau yang sederajat dengan garis tengah sekurang-kurangnya 16 mm;

e.Pita baja yang disepuh dengan Zn dan tebal sekurang-kurangnya 4 mm dan lebar
sekurang-kurangnya 25 mm.

Pasal 30

(1)Masing-masing penghantar penurunan dari suatu instalasi penyalur petir yang


mempunyai beberapa penghantar penurunan harus disambungkan dengan elektroda
kelompok;

(2) Panjang suatu elektroda bumi yang dipasang tegak dalam bumi tidak boleh kurang

dari 4 meter, kecuali jika sebahagian dari elektroda bumi itu sekurang-kurangnya

2 meter dibawah batas minimum permukaan air dalam bumi;

(3)Tulang-tulang besi dari lantai beton dan gudang dibawah bumi dan tiang pancang
dapat digunakan sebagai elektroda bumi yang memenuhi syarat apabila sebahagian
dari tulang-tulang besi ini berada sekurang-kurangnya l (satu) meter dibawah
permukaan air dalam bumi;

(4)Elektroda bumi mendatar atau penghantar lingkar harus ditanam


sekurang-kurangnya 50 cm didalam tanah.

Pasal 31

Elektroda bumi dan elektroda kelompok harus dapat diukur tahanan pembumiannya
secara tersendiri maupun kelompok dan pengukuran dilakukan pada musim kemarau.

Pasal 32

Jika keadaan alam sedemikian rupa sehingga tahanan pembumian tidak dapat
tercapai secara tehnis, dapat dilakukan cara sebagai berikut:

a.masing-masing penghantar penurunan harus disambung dengan penghantar lingkar


yang ditanam lengkap dengan beberapa elektroda tegak atau mendatar sehingga
jumlah tahanan pembumian bersama memenuhi syarat;
b.membuat suatu bahan lain (bahan kimia dan sebagainya) yang ditanam bersama
dengan elektroda sehingga tahanan pembumian memenuhi syarat.

Pasal 33

Elektroda bumi yang digunakan untuk pembumian instalasi listrik tidak boleh
digunakan untuk pembumian instalasi penyalur petir.

Pasal 34

(1) Elektroda bumi mendatar atau penghantar lingkar dapat dibuat dari pita baja
yang disepuh Zn dengan tebal sekurang-kurangnya 3 mm dan lebar
sekurang-kurangnya 25 mm atau dari bahan yang sederajat;

(2) Untuk daerah yang sifat korosipnya lehih besar, elektroda burni mendatar atau
penghantar lingkar harus dibuat dari:

a.Pita baja yang disepuh Zn dengan ukuran lebar sekurang-kurangnya 25 mm dan


tebal sekurang-kurangnya 4 mm atau dari bahan yang sederajat;

b. Tembaga atau bahan yang sederajat, bahan yang disepuh dengan tembaga atau
bahan yang sederajat, dengan luas penampang sekurang-kurangnya 50 mm dan bila
bahan itu berbentuk pita harus mempunyai tebal sekurang-kurangnya 2 mm;

c.Elektroda pelat yang terbuat dari tembaga atau hahan yang sederajat dengan luas
satu sisi permukaan sekurang-kurangnya 0,5 m dan tebal sekurang-kurangnya 1 mm.
jika berbentuk silinder maka luas dinding silinder tersebut harus sekurang-kurangnya
1 m2.

BAB VI

MENARA

Pasal 35

(1) Instalasi Penyalur Petir pada bangunan yang menyerupai menara seperti menara
air, silo, masjid, gereja, dan lain-lain harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a.Bahaya meloncatnya petir;

b.Hantaran listrik;

c.Penempatan penghantar;

d.Daya tahan terhadap gaya mekanik;


e.Sambungan-sambungan antara massa logam dari suatu bangunan.

(2) Instalasi penyalur petir dari menara tidak boleh dianggap dapat melindungi
bangunan bangunan yang berada disekitarnya.

Pasal 36

(l) Jumlah dan penempatan dari penghantar penurunan pada bagian luar dari menara
harus diselenggarakan menurut pasal 23 ayat (1);

(2) Didalam menara dapat pula dipasang suatu penghantar penurunan untuk
memudahkan penyambungan-penyambungan dari bagian-bagian logam menara itu.

Pasal 37

Menara yang seluruhnya terbuat dari logam dan dipasang pada pondasi yang tidak
dapat menghantar, harus dibumikan sekurang-kurangnya pada dua tempat dan pada
jarak yang sama diukur menyusuri keliling menara tersebut.

Pasal 38

Sambungan-sambungan pada instalasi penyalur petir untuk menara harus betul-betul


diperhatikan terhadap sifat korosip dan elektrolisa dan harus secara dilas karena
kesukaran pemeriksaan dan pemeliharaannya.

BAB VII

BANGUNAN YANG MEMPUNYAI ANTENA

Pasal 39

(1)Antena harus dihubungkan dengan instalasi penyalur petir dengan menggunakan


penyalur tegangan lebih, kecuali jika antena tersebut berada dalam daerah yang
dilindungi dan penempatan antena itu tidak akan menimbulkan loncatan bunga api;

(2)Jika antena sudah dibumikan secara tersendiri, maka tidak perlu dipasang penyalur
tegangan lebih;

(3)Jika antena dipasang pada bangunan yang tidak mempunyai instalasi penyalur
petir, antena harus dihubungkan kebumi melalui penyalur tegangan lebih.

Pasa1 40
(1) Pemasangan penghantar antara antena dan instalasi penyalur petir atau dengan
bumi harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga bunga api yang timbul karena
aliran besar tidak dapat menimbulkan kerusakan;

(2) Besar penampang dari penghantar antara antena dengan penyalur tegangan lebih,
penghantar antara tegangan lebih dengan instalasi penyalur petir atau dengan
elektroda bumi harus sekurang-kurangnya 2,5 mm ?

(3) Pemasangan penghantar antara antena dengan instalasi penyalur petir atau
dengan elektroda bumi harus dipasang selurus mungkin dan penghantar tersebut
dianggap sebagai penghantar penurunan petir.

Pasa1 41

(1) Pada bangunan yang mempunyai instalasi penyalur petir, pemasangan penyalur
tegangan lebih antara antena dengan instalasi penyalur petir harus pada tempat yang
tertinggi;

(2) Jika suatu antena dipasang pada tiang logam, tiang tersebut harus dihubungkan
dengan instalasi penyalur petir;

Pasa1 42

(1) Pada bangunan yang tidak mempunyai instalasi penyalur petir, pemasangan
penyalur tegangan lebih antara antena dengan elektroda bumi harus dipasang diluar
bangunan;

(2) Jika antena dipasang secara tersekat pada suatu tiang besi, tiang besi ini harus
dihubungkan dengan bumi.

BAB VIII

CEROBONG YANG LEBIH TINGGI DARI 10 M

Pasal 43

(1) Pemasangan instalasi penyalur petir pada cerobong asap pabrik dan lain-lain yang
mempunyai ketinggian lebih dari 10 meter harus diperhatikan keadaan seperti
dibawah ini :
a.Timbulnya karat akibat adanya gas atau asap terutama untuk bagian atas dari
instalasi;

b.Banyaknya penghantar penurunan petir;

c.Kekuatan gaya mekanik.

(2) Akibat kesukaran yang timbul pada pemeriksaan dan pemeliharaan, pelaksanaan
pemasangan dari instalasi penyalur petir pada cerobong asap pabrik dan lain-lainnya
harus diperhitungkan juga terhadap korosi dan elektrolisa yang mungkin terjadi.

Pasa1 44

Instaiasi penyalur petir yang terpasang dicerobong tidak boleh dianggap dapat
bangunan yang berada disekitarnya.

Pasa1 45

(1)Penerima petir harus dipasang menjulang sekurang-kurangnya 50 cm diatas


pinggir cerobong;

(2) Alat penangkap bunga api dan cincin penutup pinggir bagian puncak cerobong
dapat digunakan sebagai penerima petir;

(3)Penerima harus disambung satu dengan lainnya dengan penghantar lingkar yang
dipasang pada pinggir atas dari cerobong atau sekeliling pinggir bagian luar, dengan
jarak tidak lebih dari 50 cm dibawah puncak cerobong;

(4) Jarak antara penerima satu dengan lainnya diukur sepanjang keliling cerobong
paling besar 5 meter. Penerima itu harus dipasang dengan jarak sama satu dengan
lainnya pada sekelilingnya;

(5)Batang besi, pipa besi dan cincin besi yang digunakan sebagai penerima harus
dilapisi dengan timah atau bahan yang sederajat untuk mencegah korosi.

Pasal 46

(1) Pada tempat-tempat yang terkena bahaya termakan asap, uap atau gas sedapat
mungkin dihindarkan adanya sambungan;

(2) Sambungan-sambungan yang terpaksa dilakukan pada tempat-tempat ini, harus


dilindungi secara baik terhadap bahaya korosi;
(3)Sambungan antara penerima yang dipasang secara khusus dan penghantar
penurunan harus dilakukan sekurang-kurangnya 2 meter dibawah pinggir puncak dari
cerobong.

Pasal 47

(1)Instalasi penyalur petir dari cerobong sekurang-kurangnya harus mempunyai 2


(dua) penghantar penurunan petir yang dipasang dengan jarak yang sama satu
dengan yang lain;

(2)Tiap-tiap penghantar penurunan harus disambungkan langsung dengan penerima.

Pasal 48

(1)Cerobong dari logam yang berdiri tersendiri dan ditempatkan pada suatu pondasi
yang tidak dapat menghantar harus dihubungkan dengan tanah;

(2)Sabuk penguat dari cerobong yang terbuat dari logam harus di sambung secara
kuat dengan penghantar penurunan.

Pasal 49

(1)Kawat penopang atau penarik untuk cerobong harus ditanamkan ditempat


pengikat pada alat penahan ditanah dengan menggunakan elektroda bumi sepanjang
2meter;

(2)Kawat penopang atau penarik yang dipasang pada bangunan yang dilindungi harus
disambungkan dengan instalasi penyalur petir bangunan itu.

BAB IX

PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN

Pasal 50

(I)Setiap instalasi penyalur petir dan bagian-bagiannya harus dipelihara agar selalu
bekerja dengan tepat, aman dan memenuhi syarat;

(2)Instalasi penyalur petir harus diperiksa dan diuji:

a.Sebelum penyerahan instalasi penyalur petir dari instalatir kepada pemakai;

b.Setelah ada perubahan atau perbaikan suatu bangunan dan atau instalasi penyalur
petir;
c.Secara berkala setiap dua tahun sekali;

d.Setelah ada kerusakan akibat sambaran petir;

Pasal 51

(1)Pemeriksaan dan pengujian instalasi penyalur petir dilakukan oleh pegawai


pengawas, ahli keselamatan kerja dan atau jasa inspeksi yang ditunjuk;

(2)Pengurus atau pemilik instalasi penyalur petir berkewajiban membantu pelaksanaan


pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan oleh pegawai pengawas, ahli keselamatan
kerja dan atau jasa inspeksi yang ditunjuk termasuk penyedian alat-alat bantu.

Pasa1 52

Dalam pemeriksaan berkala harus diperhatikan tentang hal-hal sebagai berikut:

a.elektroda bumi, terutama pada jenis tanah yang dapat menimbulkan karat;

b.kerusakan-kerusakan dan karat dari penerima, penghantar dan sebagainya;

c. sambungan-sarnbungan;

d.tahanan pembumian dari masing-masing elektroda maupun elektroda kelompok.

Pasa1 53

(1) Setiap diadakan pemeriksaan dan pengukuran tahanan pembumian harus dicatat
dalam buku khusus tentang hari dan tanggal hasil pemeriksaan;

(2) Kerusakan-kerusakan yang didapati harus segara diperbaiki.

Pasa1 54

(1) Tahanan pembumian dari seluruh sistem pembumian tidak boleh lebih dari 5 ohm

(2) Pengukuran tahanan pembumian dari elektroda bumi harus dilakukan sedemikian
rupa sehingga kesalahan-kesalahan yang timbul disebabkan kesalahan polarisasi bisa
dihindarkan; Pemeriksaan pada bagian-bagian dari instalasi yang tidak dapat dilihat
atau diperiksa, dapat dilakukan dengan menggunakan pengukuran secara listrik.

BAB X

PENGESAHAN
Pasal 55

(1) Setiap perencanaan instalasi penyalur petir harus dilengkapi dengan gambar
rencana instalasi;

(2) Gambar rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menunjukan: gambar
bagian tampak atas dan tampak samping yang mencakup gambar detail dari
bagian-bagaian instalasi beserta keterangan terinci termasuk jenis air terminal, jenis
dari atap bangunan, bagian-bagian lain peralatan yang ada diatas atap dan
bagian-bagian logam pada atau diatas atap.

Pasal 56

(1) Gambar rencana instalasi sebagaimana dimaksud pada pasal 55 harus mendapa
pengesahan dari Menteri atau pejabat yang ditunjuknya;

(2) Tata cara untuk mendapat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.

Pasa1 57

(1) Setiap instalasi penyalur petir harus mendapat sertifikat dari Menteri atau pejabat
yang ditunjuknya;

(2) Setiap penerima khusus seperti elektrostatic dan lainnya harus mendapat sertifikat
dari Menteri atau pejabat yang ditunjuknya;

(3) Tata cara untuk mendapat sertifikat sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2)
diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.

Pasal 58

Dalam hal terdapat perubahan instalasi penyalur petir, maka pengurus atau pemilik
harus mengajukan permohonan perubahan instalasi kepada Menteri cq. Kepala Kantor
Wilayah yang ditunjuknya dengan melampiri gambar rencana perubahan.

Pasal 59

Pengurus atau pemilik wajib mentaati dan melaksanakan semua ketentuan dalam
Peraturan Menteri ini.

BAB XI

KETENTUAN PIDANA
Pasa1 60

pengurus atau pemilik yang melanggar ketentuan pasal 2, pasal 6 ayat (1), pasal 55
ayat (1), pasal 56 ayat (1), pasal 57 ayat (1) dan (2), pasal 58 dan pasat 59 diancam
dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda
setinggi-tingginya Rp. 100.000,-(seratus ribu rupiah) sebagaimana dimaksud pasal
15 ayat (2) dan (3) Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

BAB XII

ATURAN PERALIHAN

Pasal 61

Instalasi penyalur petir yang sudah digunakan sebelum Peraturan Menteri ini
ditetapkan, Pengurus atau Pemilik wajib menyesuaikan dengan Peraturan ini dalam
waktu 1 (satu) tahun sejak berlakunya Peraturan Menteri ini.

BAB XIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 62

Peraturan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

DITETAPKAN DI: J A K A R T A

PADA TANGGAL :21 PEBRUARI 1989.

MENTERI TENAGA KERJA R.I

Tdd