Anda di halaman 1dari 13

Pemegang iup dan Iupk wajib membayar pendapatan negara dan

pendapatan daerah
1a.jelaskan dalam bentuk apa (dengan pembagian yang bagaimana)
pendapatan tersebut dibayar

BAB XII

PENDAPATAN NEGARA DAN DAERAH

Pasal 80

1.Pemegang IUP atau IUPK wajib membayar pendapatan negara dan


pendapatan daerah.

2.Pendapatan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas


penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak.

3.Penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:

pajak-pajak yang menjadi kewenangan Pemerintah sesuai dengan


ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan; dan
bea masuk dan cukai.

4.Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2)


terdiri atas:

iuran tetap;
iuran produksi;
kompensasi data informasi;
biaya pengganti investasi;
jasa penyediaan sistem ixnformasi data mineral dan batubara;
pendapatan lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

5.Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

pajak daerah;
retribusi daerah; dan
pendapatan lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 128

(1) Pemegang IUP atau IUPK wajib membayar pendapatan negara dan
pendapatan daerah.

(2) Pendapatan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas
penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak.

(3) Penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:

a. pajak-pajak yang menjadi kewenangan Pemerintah sesuai dengan


ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan; dan

b. bea masuk dan cukai.

(4) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
terdiri atas:

a. iuran tetap;

b. iuran eksplorasi;

c. iuran produksi; dan

d. kompensasi data informasi.

(5) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

a. pajak daerah;

b. retribusi daerah; dan

c. pendapatan lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan


perundang-undangan.
Pasal 129

(1) Pemegang IUPK Operasi Produksi untuk pertambangan mineral


logam dan batubara wajib membayar sebesar 4% (empat persen)
kepada Pemerintah dan 6% (enam persen) kepada pemerintah daerah
dari keuntungan bersih sejak berproduksi.

(2) Bagian pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


diatur sebagai berikut:

a. pemerintah provinsi mendapat bagian sebesar 1% (satu persen);

b. pemerintah kabupaten/kota penghasil mendapat bagian sebesar 2,5%


(dua koma lima persen); dan

c. pemerintah kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang sama


mendapat bagian sebesar 2,5% (dua koma lima persen).

B.jelaskan persentase yang dibayarkan oleh pemegang izin

Pasal 82

1.Pemegang IUPK Operasi Produksi untuk pertambangan Mineral Logam,


Mineral Tanah Jarang, dan Batubara wajib membayar sebesar 4% (empat
persen) kepada Pemerintah dan 6% (enam persen) kepada pemerintah
daerah dari keuntungan bersih sebelum pajak sejak berproduksi setiap
tahun.

2.Bagian pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur


sebagai berikut:

3.Pemerintah Daerah provinsi mendapat bagian sebesar 1% (satu persen);

4.Pemerintah Daerah kabupaten/kota penghasil mendapat bagian sebesar


2,5% (dua koma lima persen); dan
5.Pemerintah Daerah kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang sama
mendapat bagian sebesar 2,5% (dua koma lima persen).

Provinsi
Daerah 1%
Penghasil
2,5%

Daerah
lain 2,5%

6% Pendapatan
Pemerintah Daerah

C.apa hak dan kewajiban pemegang zin dalam membayar iuran

BAB IX

HAK DAN KEWAJIBAN


Bagian Kesatu

Hak

Pasal 66

(1)Pemegang IUP dan IUPK dapat:

A.melakukan sebagian atau seluruh tahapan usaha pertambangan baik


dalam IUP Eksplorasi maupun IUP Operasi Produksi;

B.memiliki lebih dari 1 (satu) IUP atau IUPK untuk komoditas yang sama
dalam Daerah provinsi;

C.memanfaatkan prasarana dan sarana umum untuk keperluan


pertambangan setelah memenuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan;

D.mengajukan izin sementara untuk melakukan pengangkutan dan


penjualan atas Mineral atau Batubara yang tergali pada kegiatan
eksplorasi kepada Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya;

E.mengajukan permohonan wilayah di luar WIUP atau WIUPK untuk


menunjang usaha kegiatan pertambangannya kepada Menteri atau
gubernur sesuai dengan kewenangannya;

F.bekerja sama dengan pihak lain dalam melaksanakan kegiatan usaha


pertambangannya;

G.menggunakan tenaga kerja asing setelah mendapatkan rekomendasi


dari Menteri.

(2)Tahapan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


yang berupa penambangan dapat dilakukan dengan cara:

A.tambang permukaan;
B.tambang bawah tanah; dan

C.tambang bawah laut/lepas pantai.

(3)Kegiatan operasi produksi tambang bawah tanah dan tambang bawah


laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c diberikan
oleh Menteri.

(4)Kriteria tambang permukaan, tambang bawah tanah, dan tambang


bawah laut/lepas pantai ditetapkan oleh Menteri.

(5)Tahapan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


yang berupa pengangkutan dan penjualan dapat dilakukan sendiri atau
melalui kerja sama dengan pihak lain yang telah mendapatkan IUP
Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan dari Menteri
atau gubernur sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 67

Pemegang IUP dan IUPK berhak:

A.memiliki mineral, termasuk mineral ikutannya, atau batubara yang


telah diproduksi apabila telah memenuhi iuran produksi, kecuali mineral
ikutan radioaktif;

B.untuk melakukan usaha pertambangan sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan;

C.mengajukan permohonan penghentian sementara kegiatan usaha


pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Pasal 68

Pemegang IUP atau IUPK wajib:

A.menerapkan kaidah pertambangan yang baik;

B.mengelola keuangan sesuai dengan sistem akuntansi Indonesia;

C.meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara;

D.menyusun dan melaksanakan program pengembangan dan


pemberdayaan masyarakat setempat;
E.mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan;

F.menjamin penerapan standar dan baku mutu lingkungan sesuai dengan


karakteristik suatu daerah;

G.membuat dan menyampaikan rencana kerja tahunan untuk


mendapatkan persetujuan dari Menteri atau gubernur sesuai dengan
kewenangannya;

H.menyampaikan laporan realisasi atas rencana kerjanya;

I.menyampaikan laporan kegiatan eksplorasi, estimasi sumber daya, dan


estimasi cadangan mineral atau batubara mengacu pada standar nasional
dan ditandatangani oleh orang yang berkompeten (competent person)
yang terakreditasi;

J.melakukan pemasangan tanda batas pada WIUP Operasi Produksi atau


WIUPK Operasi Produksi;

K.menyerahkan seluruh data yang diperoleh dari hasil eksplorasi dan


operasi produksi kepada Menteri atau gubernur sesuai dengan
kewenangannya;

L.pemanfaatan tenaga kerja setempat, barang, dan jasa dalam negeri


sesuai dengan ketentuan perundang-undangan;

M.melakukan peningkatan nilai tambah Mineral dan Batubara di dalam


negeri;

N.melakukan divestasi saham kepada peserta Indonesia;

O.menjaga kelestarian fungsi dan daya dukung sumber daya air yang
bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

P.menjamin penerapan standar dan baku mutu lingkungan sesuai dengan


karakteristik suatu daerah;

Q.mengikutsertakan pengusaha lokal yang ada di daerah tersebut sesuai


dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4.Pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan antara lain


dilakukan terhadap
A.Tehnis pertambangan

Pengawasan Teknis Pertambangan Mineral dan Batubara, meliputi: (a)


IUP atau IUPK Eksplorasi yang terdiri dari: pelaksanaan teknik
eksplorasi dan tata cara perhitungan sumber daya dan cadangan; (b) IUP
atau IUPK Operasi Produksi yang terdiri dari perencanaan dan
pelaksanaan konstruksi termasuk pengujian alat pertambangan
(commisioning); perencanaan dan pelaksanaan penambangan;
perencanaan dan pelaksanaan pengolahan dan pemurnian;
serta perencanaan dan pelaksanaan pengangkutan dan penjualan.

B.Konservasi sumber daya mineral dan batubara

Pengawasan Konservasi Sumberdaya Mineral dan Batubara

Konservasi bahan galian merupakan upaya untuk terwujudnya


pengelolaan bahan galian secara optimal dengan mempertimbangkan
berbagai kebutuhan, kemampuan perkembangan teknologi, ekonomi,
sosial budaya, politik dan sektor-sektor lain yang terkait.

Konservasi bahan galian berazaskan optimalisasi, penghematan,


berkelanjutan, bermanfaat bagi kepentingan rakyat secara luas dan
berwawasan lingkungan.

Konservasi bahan galian bertujuan untuk mengupayakan terwujudnya


pemanfaatan bahan galian secara bijaksana, optimal dan mencegah
pemborosan bahan galian dengan sasaran untuk mensejahterakan
masyarakat dan melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan.

Konservasi dilakukan dengan cara: (1) Recovery penambangan dan


pengolahan; (2) Pengelolaan dan/atau pemanfaatan cadangan marginal;
(3) Pengelolaan dan/atau pemanfaatan batubara kualitas rendah dan
mineral kadar rendah; (4) Pengelolaan dan/atau pemanfaatan mineral
ikutan; (5) Pendataan sumber daya serta cadangan mineral dan batubara
yang tidak tertambang, dan (6) Pendataan dan pengelolaan sisa hasil
pengolahan dan pemurnian.

C.K3 pertambangan
Pengawasan Pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pertambangan

Dalam rangka menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja


di tempat kerja yang melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi
dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan
mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat
kerja yang aman, efisien dan produktif diperlukan suatu Sistem
Manajemen K3.

Sistem Manajemen K3 berdasarkan Permenaker No. Per.05/1996 adalah


bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur
organisasi, perencanaan, tanggungjawab, pelaksanaan, prosedur, proses
dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan,
pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan
kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaiatan
dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien
dan produktif.

Ruang lingkup dari Sistem Manajemen K3 bervariasi tergantung pada


perusahaan, negara dan faktor lokal. Secara umum, Sistem Manajemen
K3 mensyaratkan, antara lain: adanya suatu Kebijakan K3, struktur
organisasi untuk menerapkan kebijakan di atas, Program implementasi,
metode untuk mengevaluasi keberhasilan penerapan dan adanya umpan
balik, serta rencana tindakan perbaikan untuk peningkatan secara
berkesinambungan. Sistem Manajemen K3 juga harus diterapkan dalam
pertambangan, baik dalam tambang terbuka maupun tambang bawah
tanah. Penerapan Sistem Manajemen K3 tersebut harus mengacu kepada
Kepmen No.555.K Tahun 1995 tentang K3 Pertambangan Umum.

Penerapan Sistem Manajemen K3 tidak akan berjalan tanpa adanya


komitmen terhadap sistem manajemen tersebut. Oleh karena itu, elemen
pertama dan memegang peran yang sangat penting adalah manajemen
puncak harus menyatakan kebijakan dan komitmennya terhadap K3.
Kemudian, untuk kepentingan operasional, maka disusun peraturan K3
perusahaan. Untuk penerapan kebijakan K3 diperlukan beberapa hal yang
masuk dalam elemen organizing, yaitu Kepala Teknik Tambang,
Pengawas Operasional / Teknis, Komite K3, Buku Tambang, pelatihan,
dan tim tanggap darurat. Mengingat skala risiko dan karakteristik
tambang bawah tanah, maka elemen organizing pada Sistem Manajemen
K3 Tambang Bawah Tanah ditambah dengan Kepala Tambang Bawah
Tanah, Buku Derek, Buku Kawat, Buku Catatan Ventilasi dan
Penyanggaan.

Elemen selanjutnya dalam Sistem Manajemen K3 Pertambangan


adalah Planning and Implementationyang terdiri atas Rencana Kerja
Tahunan Teknik dan Lingkungan (RKTTL), Rencana Kerja Anggaran
Biaya (RKAB), Rencana Jangka Panjang, Program K3, JSA dan
SOP. Nilai lebih Sistem Manajemen K3 Pertambangan adalah
perencanaan yang dibuat oleh perusahaan tambang harus mendapat
persetujuan dari pemerintah. Setiap tahun perusahaan pertambangan
harus menyampaikan dan mempresentasikan RKTTL dan RKAB di
depan pemerintah. RKTTL dan RKAB baru bisa dijalankan dan menjadi
acuan setelah disetujui oleh pemerintah.

Sebagai upaya pemantauan dan pengukuran kinerja dan penerapan K3 di


perusahaan diperlukan evaluasi. Elemen evaluation terdiri atas
pemantauan lingkungan kerja, seperti debu, pencahayaan, getaran, iklim
kerja, curah hujan, dan untuk tambang bawah tanah yakni penyanggaan,
ventilasi, drainase, dll.; pemantaun proses kerja seperti peledakan,
pengangkutan, dll.; investigasi kecelakaan; inspeksi dan audit.

Sistem Manajemen K3 yang merupakan sebuah sistem dengan siklus


tertutup memiliki sebuah karakteristik utama yaitu keharusan adanya
perbaikan yang berkelanjutan secara terus menerus (continuous
improvement). Oleh karena itu, elemen terakhir Sistem Manajemen K3
Pertambangan adalah adanya action for improvement dimana harus ada
peningkatan kinerja dan budaya K3.

D.Pengelolaan lingkungan hidup,reklamasi dan pasca tambang

Aspek Pengawasan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Reklamasi dan


Pascatambang, meliputi: (a) Pengelolaan dan pemantauan lingkungan
sesuai dengan dokumen pengelolaan lingkungan atau izin lingkungan
yang dimiliki dan telah disetujui; (b) Penataan, pemulihan dan perbaikan
lahan sesuai dengan peruntukannya; (c) Penetapan dan pencairan jaminan
reklamasi; (d) Pengelolaan pascatambang; (e) Penetapan dan pencairan
jaminan pascatambang; dan (f) Pemenuhan baku mutu lingkungan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Prinsip-prinsip Lingkungan Hidup, yaitu: (a) perlindungan terhadap


kualitas air permukaan, air tanah, air laut, dan tanah serta udara;
(b) perlindungan keanekaragaman hayati; (c) stabilitas dan keamanan
timbunan batuan penutup, kolam tailing, lahan bekas tambang serta
struktur buatan (man-made structure) lainnya; (d) pemanfaatan lahan
bekas tambang sesuai dengan peruntukannya; dan (e) menghormati
nilai-nilai sosial dan budaya setempat.
Aplikasi Prinsip-prinsip Lingkungan Hidup, antara lain: (a) Pemenuhan
baku mutu kualitas air, tanah dan udara; (b) Mempertahankan buffer
zone dalam rangka biodiversity; (c) Melakukan kajian geoteknik dalam
rangka memastikan stabilitas dan keamanan timbunan, dengan
mempertimbangkan kondisi curah hujan tertinggi di lokasi setempat;
(d) Melakukan pemulihan lahan bekas tambang agar berdaya guna dan
mempunyai nilai manfaat; (e) Menghormati nilai-nilai sosial dan budaya
setempat; dan (f) Mengembangkan etika lingkungan (responsible miners).

E.Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat

Pengawasan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat


terdiri dari program, pelaksanaan dan biaya pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat.

F.pengawasan,pengembangan dan penerapan tenologi pertambangan

Pengawasan penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi,


antara lain: pada kegiatan eksplorasi, penambangan, pengangkutan,
pengolahan dan pemurnian, reklamasi dan pascatambang sesuai dengan
kondisi pemegang IUP/IUPK serta keberadaan lokasi kegiatan.

G.Pemasaran

Pengawasan pemasaran, meliputi: (a) realisasi produksi dan realisasi


penjualan, termasuk kualitas dan kuantitas serta harga mineral dan
batubara; (b) kewajiban pemenuhan kebutuhan mineral atau batubara
untuk kepentingan dalam negeri; (c) rencana dan realisasi kontrak
penjualan mineral atau batubara; (d) biaya penjualan yang dikeluarkan; (e)
perencanaan dan realisasi penerimaan negara bukan pajak; (f) biaya
pengolahan dan pemurnian mineral dan/atau batubara.

H.Pengelolaan data mineral dan batubara


Pengawasan pengelolaan data mineral dan batubara terdiri dari
pengawasan terhadap kegiatan perolehan, pengadministrasian,
pengolahan, penataan, penyimpanan, pemeliharaan dan pemusnahan data
dan/atau informasi.

5.Sebuah perusahaan pertambangan a juga memiliki beberapa anak


perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan

a.bila status perusahaan tersebut adalah sebuah bumn,maka alternatif izin


pertambangan apa yang dapat dimilikinya

6.IUP,IPR,dan IUPK

a.Bagaimana cara mendapatkannya