Anda di halaman 1dari 17

Artikel diambil dan diterjemahkan dari : http://www.ranker.

com/list/crazy-
womens-beauty-standards-from-history/machk

Standart Kecantikan pada Zaman Dahulu

Peradaban dunia adalah sesuatu yang selalu berubah dan berputar. Sesuatu
yang sekarang dianggap normal, dahulu mungkin dianggap aneh. Begitu juga
sesuatu yang dahulu dianggap lumrah, tetapi dianggap sangat aneh oleh
orang-orang di zaman sekarang ini.

Salah satu hal yang mengalami perubahan adalah standart kecantikan. Orang
Indonesia tentu akan sangat terkejut, ngeri, dan merasa aneh ketika melihat
suku di Afrika yang menganggap mulut yang dower sebagai sebuah standart
kecantikan.

Bayangkan melihat bagaimana dan apa yang dilakukan orang-orang di zaman


dahulu agar disebut cantik dan menarik. Apa yang mereka lakukan tentu akan
membuat siapapun di zaman ini jauh lebih terkejut.

Mengecat Kaki agar Tampak seperti Mengenakan Stoking


(Wanita Selama Perang Dunia ke 2)
Perang mengakibatkan berhentinya produksi nilon dan menyebabkan
kelangkaan stoking yang berbahan nilon. Karena saat itu penggunaan stoking
merupakan tren, kebutuhan, dan standart kecantikan, para wanitapun
berusaha untuk tampil kreatif.

Dengan menggunakan cat-cat yang memiliki kontur warna mirip dengan nilon,
mereka mengecat kaki agar tampak seolah-olah sedang menggunakan
stoking.

Memperban Kaki agar Ukuran Kaki Lebih Kecil


(Wanita Bangsawan China pada Era China Kuno)
Memperban kaki adalah bentuk modifikasi tubuh di antara bangsawan China
pada abad ke 13. Seorang gadis kakinya akan dibalut atau diperban dengan
erat sehingga pertumbuhan kaki sang gadis akan terhambat. Praktek ini
sangat menyakitkan dan menyebabkan kelumpuhan karena kaki tidak mampu
menopang berat badan.

Namun praktek ini sangat menyebar di kalangan keluarga bangsawan karena


beberapa faktor seperti :

para bangsawan menganggap wanita dengan kaki yang kecil memancarkan


daya tarik seksual yang lebih besar
wanita dengan kaki kecil dianggap adalah wanita yang setia karena tidak
mungkin untuk kabur dari rumah

Membentuk Tulang Kepala Bayi


(Bangsa Maya Kuno sekitar 1000 tahun SM)
Bangsa Maya Kuno akan meletakkan bayinya di atas sebuah papan yang
dimodifikasi dengan berbagai alat. Mereka akan mengatur agar tulang
tengkoran bergeser sehingga bentuk kepalanya menjadi tidak wajar.

Bangsa Maya Kuno percaya kecacatan tersebut merupakan sebuah


hiasan/ornamen yang cantik dan indah. Selain bangsa Maya Kuno, beberapa
suku bangsa lain juga memiliki tradisi kuno seperti ini, diantaranya suku-suku
Jermanik, Hun, Hawaii, Tahiti, Inca, dan Chinook.

Memelihara Kuku yang Sangat Panjang


(China masa Dinasti Qing)
Pria ataupun wanita bangsawan pada masa Dinasti Qing akan memelihara
kukunya 15 hingga lebih dari 20 centimeter. Selain sebagai sebuah standart
kecantikan, kuku yang panjang pada masa itu menjadi identitas sosial bahwa
mereka adalah bangsawan yang tidak perlu repot untuk bekerja. Dan tentunya
menjadi alasan agar segala kebutuhan mereka selalu dipenuhi.

Pria Berstoking dengan Betis Kekar


(Eropa pada Abad Pertengahan)
Jika pada zaman sekarang keindahan kaki wanita begitu dipuja, pada abad
pertengahan justru betis pria yang menjadi primadona. Pria akan
menggunakan stoking agar bentuk betis kakinya lebih terlihat. Bahkan agar
lebih terlihat gagah dan cantik, para pria akan meletakkan bantalan atau
padding di dalam stoking agar betis terlihat lebih besar, terbentuk, dan gagah.

Mencabuti Bulu Mata agar Dianggap Cantik


(Wanita Eropa pada Abad Pertengahan dan Zaman Renaisans)
Jika pada zaman sekarang wanita mencukur habis alisnya untuk kemudian
digambar menggunakan pensil alis, wanita zaman dahulu melakukan hal yang
jauh lebih extrim. Bukan hanya mencukur habis alisnya, merekapun
mencabuti bulu matanya hingga habis. Bayangkan berapa besar dan berapa
banyak kesakitan yang mereka rasakan.

Menghitamkan Gigi karena Gigi yang Hitam Dianggap Berkelas


(Wanita Jepang Sebelum Abad ke 19)
Menghitamkan gigi secara permanen atau Ohaguro dilakukan oleh wanita
Jepang setelah menikah sebagai simbol komitmen pernikahan. Wanita yang
melakukan ini konon dikatakan kecantikannya berlipat-lipat ganda. Namun
pada 5 Februari 1870 tren kecantikan ini resmi dilarang.

Selain di Jepang, tren kecantikan ini juga dilakukan di beberapa daerah di


tenggara China, Kepulauan Pasifik, dan Asia Tenggara.

Penggunaan Beauty Patches atau Kain seperti Tompel atau Tahi Lalat di
Wajah (Wanita Eropa pada Abad ke 18)
Jika pada abad sebelumnya perempuan cukup tampil dengan wajah apa
adanya, namun pada abas ke 18 penggunaan make up yang sangat tebal
menjadi sebuah keharusan. Penggunaan make up ini diiringi juga dengan
meletakkan kain-kain aneh pada wajah sehingga tampak seperti tompel atau
tahi lalat.

Kain-kain yang ditempel memiliki berbagai macam bentuk mulai dari bintang,
bulan sabit, kotak, ataupun bulat sempurna. Satu hal yang unik adalah bahwa
tempat menempelkan kain tersebut menunjukkan identitas wanita tersebut.
Misalnya, jika kain ditempel di pipi kanan artinya perempuan itu telah
menikah, dan jika ditempel di dekat mulut memberikan efek sensualitas/genit.

Menggambar Urat Nadi Kebiruan di Payudara


(Wanita Inggris pada Abad ke 17)
Pada zaman tersebut, pakaian dengan leher yang rendah dan menonjolkan
atau memperlihatkan payudara menjadi sebuah tren fashion. NAMUN ADA
SATU MASALAH :

Saat tren ini berkembang, Eropa sedang dilanda tren fashion bahwa semakin
putih dan pucat kulit seorang wanita maka wanita tersebut akan makin
dianggap sebagai wanita yang sehat, kaya, cantik, dan terhormat.

Di satu sisi para wanita Inggris ingin kulitnya tetap pucat sehingga
menghindari tubuhnya terkena paparan sinar matahari, namun di sisi lain
mereka ingin memperlihatkan leher dan payudara (saat itu belum ada tabir
surya).

Agar dapat keluar rumah namun tetap terhindar dari sinar matahari, solusi
kreatif para wanita di zaman tersebut adalah dengan menjaga kepucatan kulit
menggunakan bedak di wajah hingga payudara. Agar mereka tidak terlihat
menggunakan bedak pada payudara, para wanita mewarnai payudaranya
dengan warna kebiruan atau menggambarkan bentuk urat pada payudaranya
sehingga orang akan mengira itu adalah warna alami kulit mereka yang penuh
urat-urat pembuluh darah. Mirip-mirip seperti efek shading.

Tindik Erotis atau Menindik pada Organ Sensitif


( Inggris pada Era Ratu Victoria)

Pada Era Victoria ada sebuah kegiatan yang akan dilakukan pria dan wanita
agar dapat disebut cantik atau menarik, yaitu menggunakan pakaian ketat
yang menunjukkan sesedikit mungkin bagian tubuh mereka.

Tidak ada yang aneh ketika menggunakan pakaian ketat, namun pada zaman
itu sangatlah sulit mengatur bagian tubuh seperti payudara dan penis saat
memakai pakaian ketat. Beberapa wanita memiliki payudara yang tidak
menggantung simetris, dan beberapa pria memiliki penis yang tidak lurus atau
miring ke kiri atau kanan.

Bagaimana mereka mengatasinya benar-benar tidak akan berani dilakukan


oleh orang-orang zaman sekarang. Mereka menindik ujung penis atau puting
yang kemudian dikaitkan dengan rantai yang ada pada pakaian mereka.
Dengan demikian para pria dan wanita akan dapat memakai pakaian ketat
tanpa takut lekukan payudara atau penisnya mengalami dislokasi.

BTW, tindik pada ujung penis dikenal dengan sebutan Prince Albert.

Mencabut Bulu Kemaluan


(Para Wanita Penduduk Asli Amerika Sebelum Era Kolonialisasi Eropa)
Pada saat itu, belum diketemukan alat cukur seperti gunting ataupun silet.
Jadi para wanita tersebut akan mencabut/menarik satu persatu rambut
kemaluan mereka.

Para wanita melakukan hal gila dan menyakitkan tersebut karena pandangan
saat itu menganggap bulu di tubuh wanita (ketiak, kaki, dan kemaluan)
membuat wanita terlihat sama seperti babi. Oleh sebab itu, agar dapat
dianggap cantik dan menarik, para wanita akan mencabuti bulu tersebut satu
persatu (Tanpa Gunting atau Alat Cukur)

Penggunaan Korset agar Memiliki Pinggang Kecil dan Belahan Dada


yang Lebar
(Wanita Abad ke 16-29)
Sebenarnya pinggang yang kecil dan belahan dada yang lebar juga masih
dianggap sebagai salah satu standart kecantikan pada zaman sekarang.
Namun ukuran pinggang dan belahan dada tidak seekstrim dan berbahaya
zaman dahulu.

Pada zaman tersebut, untuk mendapatan pinggang kecil dan belahan dada
dengan jarak yang cukup lebar, para wanita mulai menggunakan korset
dengan ukuran yang sangat ketat hingga tidak jarang menimbulkan kesulitan
dan gangguan pernapasan.

Menggonta Ganti Warna dan Bentuk Alis


(Wanita pada Masa China Kuno)
Normalnya alis yang cantik adalah berwarna hitam. Namun pada masa China
Kuno, mewarnai alis adalah tren mode dan tren kecantikan wajib bagi setiap
wanita. Warna-warna yang dipakai sangat bervariasi seperti biru, kuning,
hijau, dan merah. Selain itu bentuk alis juga menjadi sebuah bentuk mode dan
ekspresi diri seperti marah, sedih, dan gembira. Untuk zaman sekarang,
rasanya tidak ada yang berani secara normal pergi ke kantor menggunakan
alis berwarna hijau atau biru.

Membuat Alis Nyambung


(Pria dan Wanita pada Zaman Yunani Kuno)
Alis nyambung tampak mengerikan untuk kebanyakan orang di zaman
sekarang ini. Namun pada zaman Yunani Kuno, alis nyambung pada wanita
dianggap sebagai tanda bahwa wanita tersebut dari kalangan atas, cerdas,
murni, dan cantik.

Sayangnya tidak semua wanita terlahir alisnya bisa nyambung, sehingga


mereka menggunakan pewarna yang terbuat dari pigmen kohl (stibnite) untuk
menggambar efek alis menyambung. BTW, stibnite adalah bahan pembuat
kosmetik dan peralatan makan pada zaman dahulu namun sebenarnya
merupakan zat berbahaya yang jika tercampur pada makanan dapat
menyebabkan kematian.

Memiliki Gigi yang Pendek


(Wanita pada Zaman Renaisans Eropa)
Penggunaan celana dengan kaki yang panjang, pinggul yang lebar, dan
pinggang yang kecil adalah standart fashion Eropa pada zaman Renaisans.
Selain daftar yang sudah disebut di atas, ada beberapa lagi standart
kecantikan pada zaman renaisans yang akan sangat sulit diterima atau
diterapkan pada zaman sekarang ini. Salah satunya adalah tren gigi pendek
dan mungil.

Pada masa tersebut, wanita dengan gigil yang pendek dan mungil dianggap
selain memancarkan aura kecantikan, juga dianggap imut dan berkelas.
Untuk mendapatkan gigi yang pendek dan mungil tersebut, tidak jarang
wanita akan mengamplas gigi mereka.

Memiliki Pipi yang Tembem dan Badan yang Gemuk


(Wanita pada Zaman Dinasti Tang 618-907 M)
Untuk kamu yang memiliki tubuh yang subur dan wajah bulat serta pipi yang
besar dan dahi yang lebar pasti akan sangat senang hidup di zaman Dinasti
Tang karena akan dianggap dan dipuja sebagai seorang dewi kecantikan.

Namun tentu saja tidak semua wanita dapat memiliki tubuh seperti itu karena
tubuh gemuk umumnya hanya dimiliki kaum bangsawan yang makanan dan
minumnya terjamin.