Anda di halaman 1dari 12

Bentuk Pemerintahan Indonesia - Republik Konstitusional

Indonesia menerapkan bentuk pemerintahan republik konstitusional sebagai bentuk


pemerintahan. Dalam konstitusi Indonesia Undang-undang Dasar 1945 pasal 1 ayat(1)
disebutkan "Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik".
Bentuk pemerintahan republik sebenarnya masih dapat dibedakan menjadi republik absolut,
republik parlementer dan republik konstitusional. Bentuk Pemerintahan Republik Konstitusional
yang diterapkan di Indonesia memiliki ciri pemerintahan dipegang oleh Presiden sebagai kepala
pemerintahan yang dibatasi oleh konstitusi (UUD). Pasal 4 ayat(1) UUD 1945 dijelaskan
"Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang
Dasar." Presiden dibantu oleh wakil presiden saat menjalankan tugas dan kewajiban. Di negara
yang menggunakan bentuk pemerintahan republik konstitusional, kekuasaan presiden sebagai
kepala negara dan kepala pemerintahan tidak diwariskan. Terdapat masa jabatan tertentu dan
ketika masa jabatan tersebut habis, untuk menentukan presiden selanjutnya dilakukan melalui
cara tertentu sesuai konstitusi yang berlaku. Di Indonesia cara memilih presiden adalah secara
langsung melalui Pemilihan Umum(PEMILU). Presiden dan wakil presiden dipilih dalam satu
pasangan yang diusung partai politik atau koalisi parpol. Baca selengkapnya > Sistem Pemilu
Indonesia
Presiden dibatasi oleh UUD1945 sebagai konstitusi yang menjadi ladasan utama menjalankan
pemerintahan. UUD adalah sebuah kontrak sosial antara rakyat dan penguasa. UUD mengatur
pembagian kekuasaan, menjalankan kekuasaan, hak dan kewajiban, dan aturan lain tentang
kehidupan bernegara.

Indonesia merupakan negara yang menerapkan demokrasi dalam sistem pemerintahannya.


Namun, penerapan demokrasidi Indonesia mengalami beberapa perubahan sesuai kondisi politik
dan pemimpin kala itu. Berikut penjelasan sejarah demokrasi di Indonesia. Sejarah demokrasi di
Indonesia dari zaman kemerdekaan hingga zaman reformasi saat ini.

Sejak Indonesia merdeka dan menjadi negara pada tanggal 17 Agustus 1945, dalam UUD 1945
menetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menganut paham demokrasi, dimana
kedaulatan (kekuasaan tertinggi) berada ditangan Rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), atau tergolong sebagai negara yang menganut paham
Demokrasi Perwakilan.

Berikut periode perkembangan demokrasi di Indonesia:

Perkembangan Demokrasi Masa Revolusi Kemerdekaan


Tahun 1945 1950, Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda yang ingin kembali ke
Indonesia. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi belum berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan
oleh masih adanya revolusi fisik. Pada awal kemerdekaan masih terdapat sentralisasi kekuasaan
hal itu terlihat Pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi sebelum MPR, DPR dan DPA
dibentuk menurut UUD ini segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden denan dibantu oleh KNIP.
Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia adalah negara yang absolut pemerintah
mengeluarkan :

Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, KNIP berubah menjadi
lembaga legislatif.
Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang Pembentukan Partai Politik.
Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember 1945 tentang perubahan sistem pemerintahn
presidensil menjadi parlementer

Perkembangan demokrasi pada periode ini telah meletakkan hal-hal mendasar. Pertama,
pemberian hak-hak politik secara menyeluruh. Kedua, presiden yang secara konstitusional ada
kemungkinan untuk menjadi dictator. Ketiga, dengan maklumat Wakil Presiden, maka
dimungkinkan terbentuknya sejumlah partai politik yang kemudian menjadi peletak dasar bagi
system kepartaian di Indonesia untuk masa-masa selanjutnya dalam sejarah kehidupan politik
kita.

Perkembangan Demokrasi Parlementer (1950-1959)


Periode pemerintahan negara Indonesia tahun 1950 sampai 1959 menggunakan UUD Sementara
(UUDS) sebagai landasan konstitusionalnya. Pada masa ini adalah masa kejayaan demokrasi di
Indonesia, karena hampir semua elemen demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan
kehidupan politik di Indonesia. Lembaga perwakilan rakyat atau parlemen memainkan peranan
yang sangat tinggi dalam proses politik yang berjalan. Perwujudan kekuasaan parlemen ini
diperlihatkan dengan adanya sejumlah mosi tidak percaya kepad pihak pemerintah yang
mengakibatkan kabinet harus meletakkan jabatannya.

Pada tahun 1950-1959 bisa disebut sebagai masa demokrasi liberal yang parlementer, dimana
presiden sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala eksekutif. Masa demokrasi ini peranan
parlemen, akuntabilitas politik sangat tinggi dan berkembangnya partai-partai politik. Namun
demikian praktik demokrasi pada masa ini dinilai gagal disebabkan :

Dominannya politik aliran, sehingga membawa konsekuensi terhadap pengelolaan


konflik
Landasan sosial ekonomi yang masih lemah
Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS 1950
Persamaan kepentingan antara presiden Soekarno dengan kalangan Angkatan Darat, yang
sama-sama tidak senang dengan proses politik yang berjalan
Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 :

Bubarkan konstituante
Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950
Pembentukan MPRS dan DPAS

Perkembangan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Pengertian demokrasi terpimpin menurut Tap MPRS No. VII/MPRS/1965 adalah kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang berintikan
musyawarah untuk mufakat secara gotong royong diantara semua kekuatan nasional yang
progresif revolusioner dengan berporoskan nasakom dengan ciri:

Dominasi Presiden
Terbatasnya peran partai politik
Berkembangnya pengaruh PKI

Sejak berakhirnya pemillihan umum 1955, presiden Soekarno sudah menunjukkan gejala
ketidaksenangannya kepada partai-partai politik. Hal itu terjadi karena partai politik sangat
orientasi pada kepentingan ideologinya sendiri dan dan kurang memperhatikan kepentingan
politik nasional secara menyeluruh.disamping itu Soekarno melontarkan gagasan bahwa
demokrasi parlementer tidak sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia yang dijiwai oleh
Pancasila.

Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:

Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak yang dipenjarakan


Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya dibubarkan oleh presiden dan presiden
membentuk DPRGR
Jaminan HAM lemah
Terjadi sentralisasi kekuasaan
Terbatasnya peranan pers
Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok Timur)

Setelah terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965 oleh PKI, menjadi tanda akhir
dari pemerintahan Orde Lama.

Perkembangan Demokrasi dalam Pemerintahan Orde Baru


Pemerintahan Orde Baru ditandai oleh Presiden Soeharto yang menggantikan Ir. Soekarno
sebagai Presiden kedua Indonesia. Pada masa orde baru ini menerapkan Demokrasi Pancasila
untuk menegaskan bahwasanya model demokrasi inilah yang sesungguhnya sesuai dengan
ideologi negara Pancasila.

Awal Orde baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan disegala bidang melalui Pelita
I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru berhasil menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun
1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde
baru ini dianggap gagal sebab:

Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada


Rekrutmen politik yang tertutup
Pemilu yang jauh dari semangat demokratis
Pengakuan HAM yang terbatas
Tumbuhnya KKN yang merajalela
Sebab jatuhnya Orde Baru:
Hancurnya ekonomi nasional ( krisis ekonomi )
Terjadinya krisis politik
TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba
Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden Soeharto untuk turun jadi
Presiden.

Orde Baru mewujudkan dirinya sebagai kekuatan yang kuat dan relatif otonom, dan sementara
masyarakat semakin teralienasi dari lingkungan kekuasaan danproses formulasi kebijakan.
Kedaan ini adalah dampak dari (1) kemenangan mutlak dari kemenangan Golkar dalam pemilu
yang memberi legitimasi politik yangkuat kepada negara; (2) dijalankannya regulasi-regulasi
politik semacam birokratisasai, depolitisasai, dan institusionalisasi; (3) dipakai pendekatan
keamanan; (4) intervensi negara terhadap perekonomian dan pasar yang memberikan keleluasaan
kepda negara untuk mengakumulasikan modal dan kekuatan ekonomi; (5) tersedianya sumber
biaya pembangunan, baik dari eksploitasi minyak bumi dan gas serta dari komoditas nonmigas
dan pajak domestik, mauppun yang berasal dari bantuan luar negeri, dan akhirnya (6) sukses
negara orde baru dalam menjalankan kebijakan pemenuhan kebutuhan pokok rakya sehingga
menyumbat gejolak masyarakat yang potensinya muncul karena sebab struktural.

Perkembangan Demokrasi Pada Masa Reformasi (1998 Sampai Dengan Sekarang)


Sejak runtuhnya Orde Baru yang bersamaan waktunya dengan lengsernya Presiden Soeharto,
maka Indonesia memasuki suasana kehidupan kenegaraan yang baru, sebagai hasil dari
kebijakan reformasi yang dijalankan terhadap hampir semua aspek kehidupan masyarakat dan
negara yang berlaku sebelumnya. Kebijakan reformasi ini berpuncak dengan di amandemennya
UUD 1945 (bagian Batangtubuhnya) karena dianggap sebagai sumber utama kegagalan tataan
kehidupan kenegaraan di era Orde Baru.
Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke
Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.
Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis antara lain:

Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi


Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang Referandum
Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Negara yang bebas dari KKN
Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil
Presiden RI
Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV
Pada Masa Reformasi berhasil menyelenggarakan pemiluhan umum sudah dua kali yaitu
tahun 1999 dan tahun 2004.

Demokrasi yang diterapkan Negara kita pada era reformasi ini adalah demokresi Pancasila,
namun berbeda dengan orde baru dan sedikit mirip dengan demokrasi perlementer tahun 1950
1959. Perbedaan demkrasi reformasi dengan demokrasi sebelumnya adalah:

Pemilu yang dilaksanakan (1999-2004) jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya.
Ritasi kekuasaan dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampi pada tingkat desa.
Pola rekruitmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara terbuka.
Sebagian besar hak dasar bisa terjamin seperti adanya kebebasan menyatakan pendapat

Demikian penjelasan singkat mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia setelah


kemerdekaan sampai saat ini. Silakan kunjungi artikel sistem pemerintahan Indonesia lainnya.

ra-negara Monarki di Dunia (Negara Kerajaan) Yang dimaksud dengan Negara Monarki
adalah Negara yang dikepalai oleh seorang Raja/Ratu atau Kaisar sebagai Kepala Negaranya.
Monarki berasal dari bahasa Yunani yaitu Monos yang artinya satu dan archein yang berarti
pemerintahaan. Pada dasarnya, terdapat 3 jenis sistem pemerintahan Monarki yaitu Monarki
Konstitusional, Monarki Mutlak dan Monarki Semikonstitusional.

Dalam sistem Monarki Mutlak atau Monarki Absolut, Seorang Raja atau Ratu memiliki
kekuasaan penuh dalam memerintah Negaranya, dalam hal ini Raja atau Ratu adalah Kepala
Negara dan juga merupakan Kepala Pemerintahaan. Sedangkan Kepala Pemerintahaan pada
sistem Monarki Konstitusional dipimpin oleh seorang Perdana Menteri yang dipilih oleh
Rakyat. Raja atau Ratu pada sistem Monarki Konstitusional hanya sebagai Kepala Negara yang
bersifat ketua simbolis dan memiliki kekuasaan yang sangat terbatas.
Berbeda dengan Presiden yang memiliki masa jabatannya, masa jabatan Raja atau Ratu sebagai
Kepala Negara adalah seumur hidup dan tahtanya dapat diwariskan.

Negara-negara Monarki di Dunia

Hingga saat ini, masih ada 6 negara yang mengadopsi sistem pemerintahan Monarki Mutlak
diantaranya adalah Brunei, Oman, Qatar, Saudi Arabia, Swaziland dan Vatikan. Sedangkan
beberapa Negara yang mengadopsi sistem pemerintahaan Monarki Konstitusional diantaranya
seperti Jepang, Inggris (Britania Raya), Malaysia, Thailand dan masih banyak lagi. Berikut ini
adalah daftar lengkap Negara-negara yang masih menggunakan sistem pemerintahan Monarki
baik Monarki Mutlak maupun Monarki Konstitusional.

Negara-negara Monarki Mutlak (Monarki Absolut)

Nama Negara Nama Raja/Ratu/Kaisar

Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah

Oman Sultan Qaboos bin Said al Said

Qatar Amir TAMIM bin Hamad Al Thani

Saudi Arabia Raja Abdullah bin Abdulaziz

Swaziland Raja Mswati III

Vatikan Paus Fransiskus

Negara-negara Monarki Konstitusional/Semikonstitusional

Nama Negara Nama Raja/Ratu/Kaisar

Pangeran Franois Hollande danJoan


Andorra
Enric Vives Sicilia

Antigua dan Barbuda Ratu Elizabeth II

Australia Ratu Elizabeth II

Bahama Ratu Elizabeth II


Barbados Ratu Elizabeth II

Bahrain Raja HAMAD bin Isa Al-Khalifa

Belgia Raja Philippe

Belize Ratu Elizabeth II

Raja Jigme Khesar Namgyel


Bhutan
Wangchuck

Kamboja Raja Norodom SIHAMONI

Kanada Ratu Elizabeth II

Denmark Ratu Margrethe II

Grenada Ratu Elizabeth II

Jamaika Ratu Elizabeth II

Jepang Kaisar Akihito

Yordania Raja Abdallah

Amir SABAH al-Ahmad al-Jabir al-


Kuwait
Sabah

Lesotho Raja Letsie III

Liechtenstein Pangeran Hans Adam II

Luxembourg Kadipaten Agung Henri

Raja Tuanku Abdul Halim Muadzam


Malaysia
Shah

Manako Pangeran Albert II

Moroko Raja Mohammed VI

Belanda Raja Willem Alexander

Norwegia Raja Harald V


Selandia Baru Ratu Elizabeth II

Papua Nugini Ratu Elizabeth II

Saint Kitts dan Nevis Ratu Elizabeth II

Saint Lucia Ratu Elizabeth II

Saint Vincent dan


Ratu Elizabeth II
Grenadines

Kepulauan Solomon Ratu Elizabeth II

Spanyol Raja Felipe VI

Swedia Raja Carl XVI Gustaf

Thailand Raja Bhumibol Adulyade

Tonga Raja Tupou VI

Tuvalu Ratu Elizabeth II

Uni Emirat Arab Khalifa bin Zayid Al-Nuhayyan

Britania Raya Ratu Elizabeth II

WARGA NEGARA DAN SISTEM KEWARGANEGARAAN


May 10, 2013 | Dwi

A. Warga Negara
Pengertian rakyat atau penduduk sering terkacaukan, maka kita perlu mengetahui batas-batasnya.
a. Yang dimaksud dengan rakyat suatu negara haruslah mempunyai ketegasan bahwa mereka itu
benar-benar tunduk kepada Undang-Undang Dasar Negara yang berlaku, mengakui kekuasaan
Negara tersebut dan mengakui wilayah Negara tadi sebagai Tanah Airnya yang hanya satu-
satunya.
b. Penduduk adalah semua orang yang ada atau bertempat tinggal dalam wilayah negara dengan
ketegasan telah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang ditetapkan oleh peraturan
Negara.
Dari batasan-batasan diatas dapat kita mengetahui bahwa dalam pengertian rakyat sering
dikaitkan dengan pengertian warga negara, sedang dalam pengertian penduduk dapat mencakup
pengertian yang lebih luas.[1]

B. Sistem Kewarganegaraan
Pada asasnya ada beberapa sistem (kriteria umum) yang digunakan untuk menentukan siapa yang
menjadi warga negara suatu negara. Kriteria tersebut yaitu :
1. Sistem Kewarganegaraan berdasarkan Kelahiran
a. Asas Ius Soli (Law of The Soli)
Asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan Negara tempat kelahiran.
b. Asas Ius Sanguinis (Law of The Blood)
Penentuan Kewarganegaraan berdasarkan keturunan/kewarganegaraan orang tuanya.[2]
c. Masalah Kewarganegaraan

1) Apatride
Apatride terjadi apabila seorang anak yang Negara orang tuanya menganut asas Ius Soli lahir di
Negara yang menganut Ius Sanguinis.[3] Contoh : Seorang keturunan bangsa A (Ius Soli) lahir di
negara B (Ius Sanguinis) Maka orang tsb bukan warga negara A maupun warga negara B.

2) Bipatride
Bipatride terjadi apabila seorang anak yang Negara orang tuanya menganut Ius Sanguinis lahir di
Negara lain ynag menganut Ius Soli, maka kedua Negara tersebut menganggap bahwa anak
tersebut warga Negaranya.[4] Contoh : Seorang keturunan bangsa C (Ius Sanguinis) lahir di
negara D (Ius Soli). Sehingga karena ia keturunan negara C, maka dianggap warga negara C,
tetapi negara D juga menganggapnya sebagai warga negara,karena ia lahir di negara D.
3) Multipatride
Seseorang yang memiliki 2 atau lebih kewarganegaraan Contoh : Seorang yang bipatride juga
menerima pemberian status kewarganegaraan lain ketika dia telah dewasa, dimana saat
menerima kewarganegaraan yang baru ia tidak melepaskan status bipatride-nya.
2. Sistem Kewarganegaraan berdasarkan Perkawinan

a. Asas Kesatuan Hukum


Asas kesatuan hukum berangkat dari paradigma bahwa suami istri ataupun ikatan keluarga
merupakan inti masyarakat yang meniscayakan suasana sejahtera, sehat, dan tidak terpecah.
Dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakatnya,suami istri ataupun keluarga yang baik
perlu mencerminkan adanya suatu kesatuan yang bulat.
Supaya terdapat keadaan harmonis dalam keluarga diperlukan kesatuan secara yuridis maupun
dalam jiwa perkawinan, yaitu kesatuan lahir dan batn. Dan kesatuan hukum dalam keluarga ini
tidak bertentangan dengan filsuf persamaan antara suami istri sehingga sekedar mencari
manfaatnya bagi sang suami saja.
b. Asas Persamaan Derajat
Menurut asas persamarataan bahwa perkawinan sama sekali tidak mempengaruhi
kewarganegaraan seseorang, dalam arti masing-masing istri atau suami bebas menentukan sikap
dalam menen tukan kewarganegaraanya.
Asas ini menghindari terjadinya penyelundupan hukum, misalnya seseorang yang
berkewarganegaraan asing ingin memperoleh status kewarganegaraan suatu Negara dengan cara
atau berpura-pura melakukan pernikahan dengan pasangan di Negara tersebut.
3. Sistem Kewarganegaraan berdasarkan Naturalisasi
Adalah suatu perbuatan hukum yang dapat menyebabkan seseorang memperoleh status
kewarganegaraan, Misal : seseorang memperoleh status kewarganegaraan akibat dari pernikahan,
mengajukan permohonan, memilih/menolak status kewarganegaraan.
a. Naturalisasi Biasa
Yaitu suatu naturalisasi yang dilakukan oleh orang asing melalui permohonan dan prosedur yang
telah ditentukan.
b. Naturalisasi Istimewa
Yaitu kewarganegaraan yang diberikan oleh pemerintah (presiden) dengan persetujuan DPR
dengan alasan kepentingan negara atau yang bersangkutan telah berjasa terhadap negara.
Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan naturalisasi digunakan 2 stelsel,
yaitu :
1. Stelsel Aktif, yakni untuk menjadi warga negara pada suatu negara seseorang harus
melakukan tindakan-tindakan hukum secara aktif.
2. Stelsel Pasif, yakni seseorang dengan sendirinya dianggap sebagai warga negara tanpa
melakukan sesuatu tindakan hukum.

C. Sejarah Kewarganegaraan
Mengetahui tentang masalah kewarganegaraan juga melibatkan sejarah dari sistem
kewarganegaraan, yang berkembang dari masa ke masa. Diawali dengan:
1. Zaman penjajahan Belanda
Hindia Belanda bukanlah suatu negara, maka tanah air pada masa penjajahan Belanda tidak
mempunyai warga negara, dengan aturan sebagai berikut:
1) kawula negara belanda orang Belanda,
2) (2) kawula negara belanda bukan orang Belanda, tetapi yang termasuk Bumiputera,
3) (3) kawula negara belanda bukan orang Belanda, juga bukan orang Bumiputera, misalnya:
orang orang Timur Asing (Cina, India, Arab, dan lain-lain).[5]
2. Masa kemerdekaan
pada masa ini, Indonesia belum mempunyai UUD. Sehari setelah kemerdekaan, yakni tanggal 18
agustus 1945, panitia persiapan kemerdekaan Indonesia mengesahkan UUD 1945. Mengenai
kewarganegaraan UUD 1945 dalam pasal 26 ayat(1) menentukan bahwa Yang menjadi warga
negara ialah orang orang bangsa Indonesia aseli dan orang orang bangsa lain yang di sahkan
dengan undang undang sebagai warga negara, sedang ayat 2 menyebutkan bahwa syarat
syarat yang mengenai kewarganegaraan ditetapan dengan undang undang.[6]Sebagai
pelaksanaan dari pasal 26, tanggal 10 april 1946, diundangkan UU No. 3 Tahun 1946. Adapun
yang dimaksud dengan warga negara Indonesia menurut UU No. 3 Tahun 1946 adalah:
(1) Orang yang asli dalam daerah Indonesia,
(2) Orang yang lahir dan bertempat kedudukan dan kediaman di dalam wilayah negara
Indonesia,
(3) Anak yang lahir di dalam wilayah Indonesia.[7]
3. Persetujuan Kewarganegaraan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB)
Persetujuan perihal pembagian warga negara hasil dari konferensi meja bundar (KMB) tanggal
27 desember 1949 antara Belanda dengan Indonesia Serikat ada tiga hal yang penting dalam
persetujuan tersebut antara lain:
(1) Orang Belanda yang tetap berkewargaan Belanda, tetapi terhadap keturunannya yang lain dan
bertempat tinggal di Indonesia kurang lebih 6 bulan sebelum 27 desember 1949 setelah
penyerahan keddaulatan dapat memilih kewarganegaraan Indonesia yang disebut juga Hak
Opsi atau hak untuk memilih kewarganegaraan.
(2) Orang orang yag tergolong kawula Belanda (orang Indonesia asli) berada di Indonesia
memperoleh kewarganegaraan Indonesia kecuali tidak tinggal di Suriname / Antiland Belanda
dan dilahirkan di wilayah Belanda dan dapat memilih kewarganegaraan Indonesia,
(3) Orang orang Eropa dan Timur Asing, maka terhadap mereka dua kemungkinan yaitu: jika
bertempat tinggal di Belanda, maka dtetapkan kewarganegaraan Belanda, maka yang dinyatakan
sebagai WNI dapat menyatakan menolak dalam kurun waktu 2 tahun.[8]
4. Berdasarkan undang undang nomor 62 tahun 1958
Undang undang tentang kewarganegaraan Indonesia yang berlaku sampai sekarang adalah UU
No. 62 tahun 1958, yang mutlak berlaku sejak diundangkan tanggal 1agustus 1958. Beberapa
bagian dari undang undang itu, yaitu mengenai ketentuan ketentuan siapa warga negara
Indonesia, status anak anak an cara cara kehilangan kewarganegaraan, ditetapkan berlaku
surut hingga tanggal 27 desember 1949.
Hal hal selengkapnya yang diatur dalam UU No. 62 tahun 1958 antara lain: (1) siapa yang
dinyatakan berstatus warga negara Indonesia (WNI), (2) naturalisasi atau pewarganegaraan
biasa,(3) akibat pewarganegaraan, (4) pewarganegaraan istimewa, (5) kehilangan
kewarganegaraan Indonesia, dan (6) Siapa yang dinyatakan berstatus asing.
Menurut undang undang :
1) Mereka berdasarkan UU/ peraturan/perjanjian, yang terlebih dahulu (berlaku surut)
2) Mereka yang memenuhi syarat syarat tertentu yang ditentukan dalam undang undang itu.
Selain itu, mungkin juga seorang Indonesia menjadi orang asing karena :
1) Dengan sengaja, insyaf, dan sadar menolak kewarganegaraan RI,
2) Menolak kewarganegaraan karena khilaf atau ikut ikutan saja,
3) Di tolak oleh orang lain, misalnya seorang anak yang ikut status orang tuanya yang menolak
kewarganegaraan RI.[9]
D. Masalah Kedudukan Hukum Bagi Orang Asing
Sesuai dengan pasal 38 UU No. 9 Tahun 1992 tentang keimigrasian, menyatakan pengawasan
terhadap orang asing di Indonesia meliputi: pertama, masuk dan keluarnya ke dan dari wilayah
Indonesia, kedua, keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Indonesia. Adapun tugas
pengawasan terhadap orang asing yang berada di Indonesia dilakukan oleh menteri kehakiman
dengan koordinasi dengan badan atau instansi pemerintah yang terkait.
Masalah lain yang berkaitan dengan orang asing adalah tentang perkawinan campuran, yaitu
perkawinan antar a dua orang yang berbeda kewarganegaraan. Dan yang paling menimbulkan
persoalan serius adalah perkawinan campuran antar-agama.
1. Perkawinan campuran antar-golongan (intergentiel)
Bahwa hukum mana atau hukum apa yang berlaku , kalau timbul perkawinan antara dua orang,
yang masing masing sama atau berbeda kewarganegaraannya, yang tunduk pada peraturan
hukum yang berlainan. Misalnya, WNI asal Eropa kawin dengan orang Indonesia asli.
2. Perkawinan campuran antar-tempat (interlocal)
Yakni perkawinan antara orang orang Indonesia asli dari lingkungan adat. Misal , orang
Minang kawin dengan orang jawa.
3. Perkawinan campuran antar-agama (interriligius)
Mengatur hubungan (perkawinan) antara dua orang yang masing masing tunduk pada peraturan
agama yang berlainan.
Dalam tataran praksis perkawinan campuran antar-agama tidak dikenal di Indonesia. UU No. 1
tahun 1974 tentang perkawinan secara tegas tidak menganut perkawinan campuran antar-agama.
Berkaitan dengan status istri dalam perkawinan campuran, maka terdapat dua asas:
a) Asas mengikuti, maka suami/istri mengikuti suami/istri baik pada waktu perkawinan
berlangsung, kemudian setelah perkawinan berjalan.
Pasal 26 UU Kewarganegaraan menyatakan :
Ayat (1) perempuan warga negara Indonesia yang kawin dengan laki laki warga negara asing
kehilangan kewarganegaraan RI jika menurut hukum negara asal suaminya, kewarganegaraan
istri mengikuti kewarganegaraan suami sebagai akibat perkawinan tersebut. Ayat (2) Laki laki
warga negara Indonesia yang kawin dengan perempuan warga negara asing kehilangan
kewarganegaraanya RI jika menurut hukum asal istrinya, kewarganegaraan suami mengikuti
kewarganegaraan istri sebagai akibat perkawinan tersebut.

b) Asas persamamerataan
Menurut asas ini, bahwasanya perkawinan tidak mempengaruhi sama sekali kewarganegaraan
seseorang, dalam arti mereka (suami atau istri) bebas menentukan sikap dalam menentukan
kewarganegaraan asal sekalipun sudah menjadi suami istri.
Ketentuan ini di atur dalam pasal 26 ayat (3) UU kewarganegaraan , bahwa perempuan atau laki
laki WNI yang menikah dengan WNA tetap menjadi WNI jika yang bersangkutan memiliki
keinginan untuk tetap menjadi WNI. Adapun mekanismenya dengan, yaitu dengan jalan
mengajukan surat pernyataan mengenai keinginannya kepada pejabat atau perwakilan republik
Indonesia yang wilayahnya meliputi tempat tinggal perempuan atau laki-laki tersebut, kecuali
pengajuan tersebut mengakibatkan kewarganegaraan ganda.[10]