Anda di halaman 1dari 22

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK

Implementasi kebijakan publik menurut Lester dan Stewart

(Sholahuddin, 2010:97) adalah sebuah tahapan yang dilakukan setelah

aturan hukum ditetapkan melalui proses politik. James Anderson

(Solahuddin, 2010:97) mendefinisikan implementasi merupakan bagian

dari administrative process (proses administrasi). Pengertian implementasi

kebijakan publik menurut Van Meter dan Van Horn (Narendra, 2009:37).

Lebih lanjut, Van Meter dan Van Horn menyatakan bahwa:

Policy implementation encompasses those actions by public and


private individuals or groups that are directed at the
achievement of objectives set forth in policy decisions. This
includes both one-time efforts to transform decisions into
operational terms and continuing efforts to achieve the large and
small changes mandated by policy decisions.

-tindakan oleh
individu, publik dan swasta atau kelompok yang diarahkan pada
pencapaian tujuan yang ditetapkan dalam keputusan kebijakan.
Hal ini termasuk satu kali upaya untuk mengubah keputusan
dalam hal operasional dan melanjutkan upaya untuk mencapai
perubahan besar dan kecil yang diamanatkan oleh keputusan

Menurut Budi Winarno (2008:144), implementasi merupakan

fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu

proses, suatu keluaran (output) maupun sebagai suatu dampak (outcome).


perpustakaan.uns.ac.id 7
digilib.uns.ac.id

Daniel A.Mazmanian dan Paul A. Sabatier (Hariyanto, 2012), menyatakan

makna implementasi adalah:

ng senyatanya terjadi sesudah suatu program


dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian
implementasi kebijaksanaan, yakni kejadian-kejadian dan
kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-
pedoman kebijaksanaan negara, yang mencakup baik usaha-
usaha untuk mengadministrasikan maupun untuk menimbulkan
akibat nyata pada masyarakat atau kejadian-
Dalam kebijakan terdapat beberapa model implementasi

kebijakan. Salah satu model dalam implementasi kebijakan adalah model

implementasi kebijakan top-down. Pendekatan top-down dipakai untuk

mengklasifikasikan para peneliti Generasi II yang menggunakna logika

melihat keberhasilan atau kegagalan implementasi suatu kebijakan.

Menurut Hogwood dan Gunn (Erwan&Dyah, 2012: 37), pendekatan top-

down dilakukan oleh para peneliti dengan langkah sebagai berikut:

they started with policy decision (usually statue) and examined


the extent to which its legally-mandated objectives were achieved
over time and why
kebijakan (biasanya negara) dan meneliti sejauh mana tujuannya
secara legal dimandatkan yang dicapai dari waktu ke waktu dan
mengapa).
policy centered karena

fokus perhatian peneliti hanya tertuju pada kebijakan dan berusaha untuk

memperoleh fakta-fakta apakah kebijakan tersebut ketika

diimplementasikan mampu mencapai tujuannya atau tidak. Dalam

interpretasi Barret (Erwan&Dyah, 2012: 38), tujuan utama dari

penggunaan pendekatan top-down adalah:


perpustakaan.uns.ac.id 8
digilib.uns.ac.id

to identify the cause of implementation problems or failure and


suggest ways of enhancing the likelihood of obtaining
compliance with policy objectives, generally focused on
strategies for improved communication of intentions,

and control implementing agents


penyebab masalah implementasi atau kegagalan dan
menyarankan berbagai cara meningkatkan kemungkinan terbesar
untuk mendapatkan pemenuhan sesuai dengan tujuan kebijakan,
umumnya terfokus pada strategi untuk meningkatkan tujuan
komunikasi, koordinasi link dalam rantai, pengelolaan sumber
daya dan kontrol agen pelaksana).

Dari pernyataan Barret tersebut terlihat bahwa studi

implementasi Generasi II memiliki kecenderungan untuk menjelaskan

persoalan-persoalan (hambatan atau kegagalan) yang berkaitan dengan

implementasi suatu kebijakan dan memberikan solusi atas persoalan

tersebut. Pendekatan top-down memulai analisisnya dari pembuatan

keputusan yang dibuat oleh aparat pemerintah pusat.

Model top-down ini pada awalnya digagas oleh Donald Van

Meter dan Carl Van Horn. Menurut Kertya (2010), Van Meter dan Van

Horn mengidentifikasi enam item yang menghubungkan kebijakan dengan

performanya. Penjelasan mengenai item-item tersebut adalah:

1. Standar dan Tujuan Kebijakan

Van Meter dan Van Horn mengemukakan bahwasannya dalam

mengukur kinerja suatu implementasi kebijakan, para implementor

harus mencapai standar dan sasaran kebijakan. Standar dan sasaran

kebijakan harus terurai dengan jelas sehingga para implementor dapat

mengerti, memahami dan melaksanakan kebijakan yang telah


perpustakaan.uns.ac.id 9
digilib.uns.ac.id

ditetapkan. Implementasi kebijakan bisa jadi gagal ketika para

implementor tidak memahami betul atau bahkan menolak standar dan

tujuan kebijakan. Hal ini berakibat pada implementasi kebijakan yang

tidak dapat dilaksanakan dengan baik (gagal).

2. Sumber Daya Kebijakan (uang dan insentif lainnya)

Keberhasilan implementasi kebijakan sangat tergantung dari

kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sumber daya

dalam kebijaka terdiri dari 3 macam, yakni sumber daya manusia,

finansial dan waktu. Sumber daya manusia merupakan sumber daya

yang paling penting dalam pelaksanaan suatu kebijakan. Dalam

implementasi kebijakan, sumber daya manusia yang berkualitas sesuai

dengan bidangnya sangat dibutuhkan untuk mendorong keberhasilan

implementasi suatu kebijakan. Selain itu, sumber daya manusia

merupakan subjek dari kebijakan yang sangat berperan dalam setiap

tahapan kebijakan.

Sumber daya finansial merupakan sumber daya lain yang juga

penting keberadaannya dalam kebijakan. Sebagaimana yang

dikemukakan oleh Derthicks bahwa:

limited supply of federal incentives was a major contributor to the

failure o . Artinya, Studi kota baru menunjukkan bahwa

terbatasnya pasokan insentif federal sebagai penyumbang utama

kegagalan program.
perpustakaan.uns.ac.id 10
digilib.uns.ac.id

Van Meter dan Van Horn juga menegaskan bahwa:

(policy resources) tidak kalah


pentingnya dengan komunikasi. Sumber daya kebijakan ini harus
juga tersedia dalam rangka untuk memperlancar administrasi
implementasi suatu kebijakan. Sumber daya ini terdiri atas dana
atau insentif lain yang dapat memperlancar pelaksanaan
(implementasi) suatu kebijakan. Kurangnya atau terbatasnya
dana atau insentif lain dalam implementasi kebijakan, adalah
merupakan sumbangan besar terhadap gagalnya implementasi
(kertya, 2010).

Menurut Van Mater dan Van Horn, ketersediaan dana

merupakan salah satu bagian terpenting dalam menentukan berhasil

tidaknya suatu implementasi kebijakan. Selanjutnya, adalah sumber

daya waktu yang merupakan salah satu sumber daya yang menopang

keberhasilan suatu kebijakan. Waktu pelaksanaan kebijakan yang

relatif lama bahkan melebihi rencana awal dapat memicu kegagalan

kebijakan dan rentang waktu yang sesuai dengan target dapat

mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan.

3. Komunikasi dan Aktifitas Pelaksanaan Antar Organisasi

Komunikasi dalam hal ini adalah penyampaian informasi

kepada para pelaksana kebijakan mengenai standar dan tujuan yang

konsisten dan seragam dari berbagai sumber informasi. Menurut Van

Meter dan Van Horn, pelaksanaan kebijakan yang efektif adalah ketika

para implementor dapat memahami standar dan tujuan kebijakan serta

pencapaiannya. Jika dalam pelaksanaannya tidak ada kejelasan dan

konsistensi terhadap standar dan tujuan kebijakan, maka standar dan


perpustakaan.uns.ac.id 11
digilib.uns.ac.id

tujuan kebijakan sulit untuk dicapai. Hal ini dikarenakan kebijakan itu

sangat penting dimana para implementor kebijakan dapat mengetahui

apa yang diinginkan dan yang harus dilakukan. Dalam suatu organisasi

publik, seringkali komunikasi merupakan proses yang sulit dan

kompleks. Proses pentransferan berita kebawah di dalam organisasi

atau dari suatu organisasi ke organisasi lain, dan ke komunikator lain,

sering mengalami ganguan baik yang disengaja maupun tidak. Jika

sumber komunikasi berbeda akan memberikan penafsiran yang tidak

sama terhadap standar dan tujuan, atau sumber informasi yang sama

akan tetapi memberikan penafsiran yang berbeda atau bertentangan.

Maka dari itu, pada suatu saat pelaksana kebijakan akan menemukan

suatu kejadian yang lebih sulit untuk melaksanakan suatu kebijakan

secara intensif.

Dengan demikian, prospek implementasi kebijakan yang

efektif, sangat ditentukan oleh komunikasi kepada para pelaksana

kebijakan secara akurat dan konsisten. Disamping itu, koordinasi

merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi kebijakan.

Semakin baik koordinasi komunikasi di antara pihak-pihak yang

terlibat dalam implementasi kebijakan, maka kesalahan akan semakin

kecil, demikian sebaliknya.


perpustakaan.uns.ac.id 12
digilib.uns.ac.id

4. Karakteristik Agen Pelaksana

Pusat perhatian pada agen pelaksana meliputi organisasi formal

yang akan terlibat dalam pengimplementasian kebijakan. Hal ini

penting karena kinerja implementasi kebijakan akan sangat

dipengaruhi oleh ciri yang tepat serta cocok dengan para agen

pelaksananya. Hal ini berkaitan dengan konteks kebijakan yang akan

dilaksanakan pada beberapa kebijakan dituntut pelaksana kebijakan

yang ketat dan displin. Pada konteks lain diperlukan agen pelaksana

yang demokratis dan persuasif. Selain itu, cakupan atau luas wilayah

menjadi pertimbangan penting dalam menentukan agen pelaksana

kebijakan.

5. Kondisi Sosial, Politik, dan Ekonomi (sumber-sumber ekonomi di

dalam yurisdiksi implementasi, opini publik, dukungan kelompok

kepentingan)

Hal lain yang perlu diperhatikan untuk menilai kinerja

implementasi kebijakan adalah sejauh mana lingkungan eksternal ikut

mendorong keberhasilan kebijakan publik. Lingkungan sosial,

ekonomi dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi sumber

masalah dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan. Oleh karena

itu, upaya implementasi kebijakan mensyaratkan kondisi lingkungan

eksternal yang kondusif.


perpustakaan.uns.ac.id 13
digilib.uns.ac.id

6. Sikap Para Pelaksana atau Disposisi

Menurut Van Meter dan Van Horn, sikap penerimaan atau

penolakan dari agen pelaksana kebijakan sangat mempengaruhi

keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan publik. Hal ini

sangat mungkin terjadi dikarenakan kebijakan yang dilaksanakan

bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul

permasalahan dan persoalan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan

publik yang biasanya bersifat top down sangat memungkinkan para

pengambil keputusan untuk tidak mengetahui bahkan tak mampu

menyentuh kebutuhan, keinginan atau permasalahan yang harus

diselesaikan.

Sikap mereka tersebut dipengaruhi oleh cara pandangnya

terhadap suatu kebijakan dan cara melihat pengaruh kebijakan

terhadap kepentingan-kepentingan organisasinya serta kepentingan-

kepentingan pribadinya. Van Meter dan Van Horn menjelaskan sikap

pelaksana implementasi kebijakan diawali dengan penyaringan lebih

dahulu melalui persepsi dari pelaksana dalam batas mana kebijakan itu

dilaksanakan. Terdapat tiga macam elemen respon yang dapat

mempengaruhi kemampuan dan kemauannya untuk melaksanakan

suatu kebijakan, antara lain terdiri dari pertama, pengetahuan,

pemahaman dan terhadap kebijakan, kedua, arah respon mereka


perpustakaan.uns.ac.id 14
digilib.uns.ac.id

apakah menerima, netral atau menolak, dan yang ketiga adalah

intensitas terhadap kebijakan.

Pemahaman tentang maksud umum dari suatu standar dan

tujuan kebijakan adalah penting. Karena, bagaimanapun juga

implementasi kebijakan yang berhasil, bisa jadi gagal ketika para

pelaksana, tidak sepenuhnya menyadari terhadap standar dan tujuan

kebijakan. Arah disposisi para pelaksana terhadap standar dan tujuan

kebijakan juga merupakan hal yang . Implementors mungkin

bisa jadi gagal dalam melaksanakan kebijakan, dikarenakan mereka

menolak apa yang menjadi tujuan suatu kebijakan.

Sebaliknya, penerimaan yang menyebar dan mendalam

terhadap standar dan tujuan kebijakan diantara mereka yang

bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan tersebut, adalah

merupakan suatu potensi yang besar terhadap keberhasilan

implementasi kebijakan. Pada akhirnya, intesitas disposisi para

pelaksana dapat mempengaruhi pelaksana kebijakan. Kurangnya atau

terbatasnya intensitas disposisi ini, akan bisa menyebabkan gagalnya

implementasi kebijakan.

Keenam variabel tersebut membentuk arah hubungan dalam

model yang dilukiskan seperti di bawah ini.


perpustakaan.uns.ac.id 15
digilib.uns.ac.id

Gambar 2.1
Model Proses Implementasi Kebijakan Donald Van Meter
dan Carl Van Horn

Interorgnizational
Standards Communication
and Enforcement
And Activities

P
Characteristics of The
the Implementing E
Agencies Disposition
R
P
F
O
Resources Economic, Social, O
L and Political
Conditions R

Sumber :Solahuddin (2010: 113)

Disisi lain terdapat Daniel H. Mazmanian dan Paul A. Sabatier

ai variabel hasil karya para peneliti

Generasi II yang menggunakan pendekatan top-down menjadi sebuah

model yang komprehensif. Model yang dibangun oleh Mazmanian dan

Sabatier (Erwan&Dyah, 2012: 40) mensintesis lebih kurang 16

variabel dimana variabel-variabel tersebut kemudian dikelompokkan

kembali menjadi 3 jenis, yaitu:

1) Tractability of the problem atau tingkat kesulitan masalah yang

harus dipecahkan melalui implementasi suatu kebijakan. Semakin

sulit masalah yang harus dipecahkan, semakin kecil juga peluang

keberhasilan implementasinya;
perpustakaan.uns.ac.id 16
digilib.uns.ac.id

2) Ability of statute to structure implementation atau kemampuan

kebijakan dalam merespon masalah yang akan dipecahkan.

Semakin jelas tujuan, dukungan, sumber daya dan lain-lain maka

akan semakin besar pula peluang keberhasilan implementasi

kebijakan;

3) Non statutory variable atau variabel non kebijakan. Kelompok

variabel yang ketiga ini dapat juga disebut sebagai variabel konteks

atau lingkungan kebijakan. Semakin baik dukungan lingkungan,

semakin besar peluang keberhasilan dari implementasi

kebijakannya.
perpustakaan.uns.ac.id 17
digilib.uns.ac.id

Gambar 2.2
Model Implementasi Kebijakan Mazmanian dan Sabatier

MUDAH/SULITNYA MASALAH DIKENDALIKAN

1. Ketersediaan teori teknis yang valid dan teknologi


2. Keragaman perilaku kelompok target

KEMAMPUAN STATUTA VARIABEL NON STATUTA


MENSTRUKTUR YANG MEMPENGARUHI
IMPLEMENTASI IMPLEMENTASI

1. Kejelasan dan konsistensi tujuan 1. Kondisi sosio-ekonomi dan


2. Digunakannya teori kausal yang teknologi
memadai 2. Perhatian media terhadap
3. Sumberdaya financial masalah
4. Keterpaduan hirarki dalam dan 3. Dukungan publik
diantara lembaga pelaksana 4. Sikap dan sumber konstituen
5. Aturan-aturan keputusan dari 5. Dukungan pejabat teras
badan pelaksana 6. Komitmen dan kemampuan
6. Rekruitmen aparat pelaksana kepemimpinan aparat

TAHAP (VARIABEL TERIKAT) DALAM PROSES IMPLEMENTASI

Output Kesediaan Dampak Dampak Perbaikan


kebijakan kelompok nyata output mendasar
badan sasaran output kebijakan dalam
pelaksana mematuhi kebijakan sebagaimana statuta
output dipersepsi

Sumber : Solahuddin (2010: 115)

Dari kedua model tersebut, penulis memilih model Van Meter

dan Van Horn sebagai acuan dalam penelitian ini untuk menganalisis

faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya dampak dari implementasi

kebijakan pembangunan underpass Makamhaji. Hal tersebut

dikarenakan model Van Meter dan Van Horn lebih relevan dengan

penelitian yang ada di lapangan daripada model implementasi

kebijakan Mazmanian dan Sabatier.


perpustakaan.uns.ac.id 18
digilib.uns.ac.id

2. DAMPAK IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK

Inti daripada implementasi menurut Erwan&Dyah (2012:21)

adalah kegiatan untuk mendistribusikan keluaran kebijakan (to deliver

policy output) yang dilakukan oleh para implementer kepada kelompok

sasaran (target group) sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan

kebijakan. Tujuan kebijakan diharapkan akan muncul manakala policy

output dapat diterima dan dimanfaatkan dengan baik oleh kelompok

sasaran sehingga dalam jangka panjang hasil kebijakan akan mampu

diwujudkan.

Keberhasilan suatu implementasi tidak hanya berhenti pada

kepatuhan para implementor saja namun juga hasil yang dicapai

setelah prosedur implementasi dijalani. Maka, upaya untuk memahami

realitas implementasi kebijakan perlu dilihat secara detail dengan

mengikuti proses implementasi yang dilalui para implementer dalam

mewujudkan tujuan kebijakan tersebut (Erwan&Dyah, 2012:72).

Proses formulasi kebijakan berawal dari adanya suatu kebijakan atau

program yang diformulasikan dengan misi untuk mencapai tujuan dan

sasaran tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut maka suatu kebijakan

membutuhkan masukan-masukan kebijakan (policy input).

Input dari pembuat kebijakan akan diolah atau dikonversi

menjadi keluaran kebijakan (policy output). Output adalah keluaran

kebijakan yang diharapkan dapat muncul sebagai keluaran langsung

dari kebijakan (Dwiyanto, 2009:143). Dalam bahasa yang sederhana


perpustakaan.uns.ac.id 19
digilib.uns.ac.id

policy output merupakan instrumen kebijakan untuk dapat

mewujudkan tujuan-tujuan kebijakan yang telah ditetapkan. Output

biasanya dapat dilihat dalam waktu singkat pasca implementasi

kebijakan (Erwan&Dyah, 2012:73).

Gambar 2.3

Dimensi Waktu Output dan Outcomes Kebijakan

Implementasi

Kebijakan
Jangka

Pendek Output Kebijakan Jangka

Panjang

Outcomes Kebijakan

Sumber: Dwiyanto (2009:143)

Policy output dapat berupa: (i) pelayanan gratis yang diberikan

oleh pemerintah, misalnya: pendidikan, kesehatan, air bersih; (ii)

subsidi, contohnya: bibit, bahan bakar minyak, dan alat kontrasepsi;

(iii) hibah kepada masyarakat berupa peralatan pertanian, komputer

kepada para siswa sekolah dasar, kendaraan operasional untuk rumah

sakit; (iv) transfer dana misalnya bantuan uang tunai (cash transfer)

yang diberikan oleh pemerintah kepada keluarga miskin agar mereka

mampu memenuhi kebutuhan pokoknya (Erwan&Dyah, 2012:73).


perpustakaan.uns.ac.id 20
digilib.uns.ac.id

Policy output sebagai instrumen kebijakan tidak akan sampai

kepada kelompok sasaran tanpa dilakukannya kegiatan menghantarkan

policy output tersebut (berupa realisasi kegiatan atau distribusi

bantuan) kepada kelompok sasaran. Untuk menjamin implementasi

dapat berjalan lancar, sebelum kegiatan penyampaian berbagai

keluaran kebijakan dilakukan kepada kelompok sasaran dimulai, perlu

didahului dengan penyampaian informasi kepada kelompok sasaran.

Tujuan pemberian informasi ini adalah agar kelompok sasaran

memahami kebijakan yang akan diimplementasikan sehingga mereka

tidak hanya menerima berbagai program yang diinisiasi oleh

pemerintah akan tetapi berpartisipasi aktif dalam upaya untuk

mewujudkan tujuan-tujuan kebijakan (Erwan&Dyah, 2012:75).

Menurut Cole and Parston (Erwan&Dyah, 2012:77), ketika

policy output telah sampai kepada kelompok sasaran maka dapat

dikatakan bahwa kebijakan tersebut telah menimbulkan policy effect

(efek suatu kebijakan) atan dalam konseptualisasi para ahli sering

disebut sebagai initial outcome yaitu dampak yang langsung dirasakan

oleh kelompok sasaran ketika ada kegiatan delivery activities yaitu

kegiatan untuk menyampaikan policy output kepada kelompok sasaran.

Budi Winarno menyatakan bahwa akhirnya, pada tingkat abstraksi

yang paling tinggi dampak implementasi kebijakan mempunyai makna

bahwa telah ada perubahan yang bisa diukur dalam masalah yang luas
perpustakaan.uns.ac.id 21
digilib.uns.ac.id

yang dikaitkan dengan program, undang-undang publik, dan keputusan

yudisial.

3. PEMBANGUNAN UNDERPASS

Underpass merupakan sebuah bagian di bawah sesuatu, terutama

bagian jalan yang lewat di bawah jalan lain atau rel kereta api (Houghton

Mifflin Company: 2009). Pembangunan underpass diatur dalam beberapa

peraturan pemerintah dalam hal ini adalah Kementrian Perhubungan RI.

Terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan

underpass seperti yang tertera dalam Peraturan Menteri Perhubungan

Nomor: PM. 36 Tahun 2011 Tentang Perpotongan Dan/Atau

Persinggungan Antara Jalur Kereta Api Dengan Bangunan Lain Pasal 8

yaitu:

a. Untuk konstruksi bangunan minimal 80 centimeter dibawah kepala rel

atau dihitung sesuai dengan konstruksi jalan rel kecuali untuk pipa dan

kabel minimal 150 centimeter dibawah permukaan tanah (subgrade);

b. Untuk bangunan pipa dan kabel penanaman dimulai minimal 10 meter

dari sisi terluar jalur rel kereta api;

c. Dilengkapi dengan pengaman; dan

d. Memberi tanda kepemilikan.

Selain itu, dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM

53 Tahun 2000 Tentang Perpotongan Dan/Atau Persinggungan Antara

Jalur Kereta Api dengan Bangunan Lain tepatnya Pasal 8 ayat 3


perpustakaan.uns.ac.id 22
digilib.uns.ac.id

disebutkan bahwasannya jalan di bawah jalur kereta api (underpass) harus

memenuhi persyaratan sebagai beikut :

a. Konstruksi harus memenuhi persyaratan teknis jalan;

b. Jarak permukaan jalan dibawah jalur kereta api, minimal 5 meter

dihitung dari permukaan jalan sampai gelagar jembatan kereta api

paling bawah;

c. Letak sisi teratas konstruksi underpass minimal 1 meter dibawah kepala

rel;

d. Pembangunan lintas di bawah jalur kereta api diperhitungkan ruang

bebas untuk mengantisipasi rencana pembangunan jalur ganda kereta

api.

Menurut Dwi Sri Wiyanti (2011:40), pada dasarnya

pembangunan underpass dilakukan melalui beberapa tahapan pekerjaan.

Tahapan-tahapan tersebut adalah pekerjaan persiapan, pekerjaan

penyanggaan, pemasangan rel bendel, pemsangan H-Beam, dan pekerjaan

struktur (underpass). penjelasan mengenai tahapan-tahapan tersebut

adalah:

1. Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan persiapan dalam pembangunan underpass antara lain

membuat direksi keet, gudang dan los kerja, serta pembuatan papan

nama proyek. Direksi keet meliputi pengadaan perlengkapan dan

penerangan. Selanjutnya dilakukan pekerjaan pengukuran dan

pemasangan patok dilanjutkan pembersihan. Kemudian dibuat alat


perpustakaan.uns.ac.id 23
digilib.uns.ac.id

semboyan 2A dan 2B serta dilakukan penjagaan alat semboyan dan

gudang material. Pekerjaan persiapan yang lain adalah administrasi

dan dokumentasi.

2. Pekerjaan Penyanggaan

Pekerjaan Penyanggaan merupakan pekerjaan yang memerlukan

kecepatan. Pekerjaan ini melibatkan tenaga yang banyak dan harus

diawasi oleh pihak terkait serta diperlukan alat dan bahan yang

memadai. Peralatan yang digunakan antara lain mesin liyers, dongkrak

pal, excavator dan alat bantu lainnya. Sedangkan bahan yang

dibutuhkan adalah H beam, perancah, plat, bantalan kayu bekas, rel

bendel, kawat baja, plat bendel, dan bahan pendukung lainnya. Untuk

penempatan penyangga dilakukan galian yang disesuaikan dengan

jumlah penyangga yang dipakai. Sisi kanan dan kiri galian dipasang rel

pancang yang bertujuan untuk penahan tanah.

3. Pemasangan Rel Bendel

Rel bendel dipasang dengan posisi bolak balik sebanyak 3 rel dan

untuk sisi dalam digunakan 5 rel dipasang selang seling, ditumpangi

dengan bantalan kayu bekas untuk pegangan rel bendel.

4. Pemasangan H-Beam

Pemasangan H-Beam dilakukan setelah persiapan H-Beam arah

melintang track telah terpasang dan pemasangannya menggunakan

bantuan alat liyers. Bantalan gambangan yang telah terpasang dilepas

satu persatu untuk memasukkan H-Beam yang telah dibentuk diluar


perpustakaan.uns.ac.id 24
digilib.uns.ac.id

area. Setelah bantalan gambangan selesai diambil baru dilakukan

proses pemasukan H-Beam arah memanjang track dengan

menggunakan alat bantu tarik liyers atau alat bantu crane. Kereta yang

melewati area penyanggaan menggunakan kecepatan yang telah

disyaratkan agar tidak terjadi yang tidak diinginkan.

5. Pekerjaan Struktur (Underpass)

Pekerjaan sruktur underpass meliputi Pekerjaan Galian Tanah.

Pekerjaan galian bisa dikerjakan secara manual atau menggunakan alat

berat. Sebelum dilakukan penggalian dibuat proteksi keliling dengan

pancang rel dan turap untuk menghindari longsor. Tanah galian

sebagian digunakan untuk mengurug kembali dan sisanya dibuang dari

lokasi pekerjaan. Pekerjaan galian biasanya bersamaan dengan

pembuatan akses jalan. Setelah pekerjaan tanah sesuai dengan elevasi

yang ditentukan, di laksanakan pemasangan batu kosong yang

diteruskan dengan lantai kerja menggunakan beton mutu K 175.

Beton yang digunakan bisa menggunakan ready mix ataupun set

mix. Pekerjaan Pembesian dilakukan setelah Lean Concrete sudah

dilaksanakan dan selanjutnya dilakukan pekerjaan bekisting dan

pengecoran. Selanjutnya, adalah pekerjaan timbunan. Untuk pekerjaan

timbunan digunakan material tanah dan Sirtu dengan menggunakan

alat berat. Setelah proses penimbunan dilanjutkan dengan pembesian

plat injak dan pengecoran, tahap selanjutnya adalah pekerjaan

pembongkaran penyangga. Pembongkaran penyangga dilakukan


perpustakaan.uns.ac.id 25
digilib.uns.ac.id

setelah umur beton underpass telah memenuh syarat. Sebelum

melakukan pembongkaran perlu dipersiapan karung karung ballas

untuk mengisi ruang ruang kosong setelah H Beam Lepas.

Pembongkaran ini dilakukan dengan melepas gambangan dan H-

Beam menggunakan alat bantu tarik liyers, dilanjutkan dengan

pengisian ballas yang telah disiapkan sampai semuanya terpenuhi.

Untuk melakukan pekerjaan ini juga dibutuhkan tenaga yang cukup

banyak agar tidak mengganggu perjalanan Kereta Api.

Selanjutnya adalah pekerjaan sipil. Pekerjaan sipil ini meliputi

pembuatan box curvert untuk jalan, talud penahan tanah dan saluran-

saluran pembuangan air, kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan

pengaspalan. Untuk pengaspalan dapat digunakan hot mix atau dengan

manual. Proses selanjutnya adalah pembersihan lokasi pekerjaan dan

pembongkaran direksi keet. Pekerjaan ini termasuk demobilisasi alat

dan tenaga.

4. KERANGKA BERPIKIR

Pembangunan underpass Makamhaji dilaksanakan tepatnya pada

tanggal 4 September 2012 . Pada awal pembangunannya sudah menuai

banyak protes terutama dari masyarakat sekitar. Masyarakat merasa bahwa

mereka tidak diikutsertakan dalam pembuatan kebijakan tersebut. Selain

itu, mereka beranggapan bahwa pembangunan underpass akan berdampak

negatif terhadap kehidupan mereka selanjutnya terutama dari segi

pendapatan.
perpustakaan.uns.ac.id 26
digilib.uns.ac.id

Implementasi kebijakan pembangunan underpass yang terhitung

molor dari rencana sebelumnya yakni pada bulan April 2012 tersebut baru

dapat dilaksanakan 5 bulan kemudian. Waktu normal pengerjaan underpass

sendiri adalah sekitar 8 bulan dari pengerjaan awal hingga akhir.

Kemunduran waktu tersebut disebabkan lamanya proses sosialisasi yang

dilakukan oleh pemkab Sukoharjo kepada warga di sekitar lokasi

pembangunan yang terus-menerus melakukan penolakan. Hal tersebut

tentunya sangat berpengaruh pada proses implementasi selanjutnya selama

pembangunan underpass dilaksanakan.

Proses implementasi kebijakan pembangunan underpass yang tidak

tepat waktu tersebut menimbulkan beberapa dampak bagi masyarakat di

sekitar lokasi pembangunan underpass. Munculnya dampak tersebut

disebabkan oleh beberapa faktor yang terdapat dalam implementasi

kebijakan pembangunan underpass.

Penggalian mengenai dampak dan faktor-faktor yang menyebabkan

timbulnya dampak dari implementasi pembangunan underpass ini,

diharapkan mampu melihat dampak dan hal-hal yang timbul dari

implementasi kebijakan tersebut dan dapat diketahui juga upaya-upaya

untuk meminimalisir dampak yang terjadi pada pembangunan underpass

selanjutnya khususnya di Kota Surakarta serta di kota-kota lain pada

umumnya.
perpustakaan.uns.ac.id 27
digilib.uns.ac.id

Berikut merupakan kerangka berpikir dalam penelitian ini:

Gambar 2.4
Model Kerangka Pemikiran Penelitian

Pembangunan Underpass
Makamhaji

Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Dampak
Implementasi Kebijakan
Pembangunan Underpass:

1. Standar dan Tujuan


Kebijakan
Dampak Implementasi 2. Sumber Daya Kebijakan
Kebijakan Pembangunan 3. Komunikasi dan Aktivitas
Underpass Pelaksana Antar Organisasi
4. Karakteristik Agen Pelaksana
5. Kondisi Sosial, Politik, dan
Ekonomi
6. Sikap Para Pelaksana
(Disposisi)