Anda di halaman 1dari 5

3.2.

1 Ulat penggulung daun pisang (Erionota thrax)


Bioekologi
Biologi dari hama ini adalah kupu-kupu dewasa betina meletakkan telur pada permukaan bawah
daun pada sore atau malam hari secara berkelompok berkisar antara 3-35 butir. Stadia larva
terdiri atas lima instar dan pada setiap instar terjadi penggantian kulit kepala (head capsule).
Pupa berukuran 60 mm, berwarna putih dan dilapisi oleh tepung serta mempunyai belalai
(proboscis) yang panjang. Siklus hama penggulung daun pisang dari telur sampai dewasa
(imago) berlangsung 35-39 hari dengan temperature 27-30oC. Serangga dewasa aktif pada sore
hari atau pagi hari dan memakan nectar pisang yang sedang berbunga. Seluruh siklus hidupnya
terjadi di dalam gulungan daun. Makin tinggi curah hujan maka populasi hama ini makin
meningkat (Harjaka dan S. Sudjono. 2005).
Gejala serangan
Kerusakannya berupa larva yang baru menetas memakan daun pisang dengan membuat gulungan
daun. Gulungan daun dibuat dengan cara memotong sebagian daun, dimulai dari pinggir daun
dan sejajar dengan tulang daun utama serta direkat dengan benang-benang halus yang
dikeluarkan oleh larva . jika makanan atau daun cukup tersedia maka larva dapat hidup terus
sampai membentuk pupa dalam satu gulungan daun, gulungan tersebut makin lama makin
membesar. Tetapi, apabila makanan kurang tersedia, larva ini dapat pindah ke bagian daun yang
lain dengan membentuk gulungan daun yang baru. Bila populasi hama ini tinggi maka daun
pisang dimakan habis, yang tertinggal hanyalah tulang daun yang tegak dengan gulungan-
gulungan daun yang menggantung.
Pengendalian
Pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Memangkas daun yang terserang kemudian dibakar.
2. Menggunakan musuh alami seperti Casinaria sp. (parasitoid larva)
3. Penyemprotan insektisida berbahan aktif Kuinalfos dan Triklorfon. Insektisida yang bersifat
sistemik akan lebih efektif mengingat ulat daun ini tersembunyi dalam gulungan daun.
Inang
Inang ulat ini adalah pada delepah pisang yang berdaun muda dan besar.
3.2.2 Lalat buah (Bactrocera sp)
Bioekologi
Lalat buah meminiki warna dada (thorax) kelabu, sedangkan perutnya (abdomen) berpita
melintang dengan warna kuning, kepalanya berwarna coklat kemerahan, sayapnya transparan.
Jika dibentangkan lebar sayap sekitar 5 7 mm panjang badannya 6 8 mm. Jika dilihat dari
atas, warna perutnya (abdomen) coklat muda dengan pita coklat tua melintang. Telurnya putih,
bentuknya memanjang dan runcing kedua ujungnya. Panjang telur 1,2 mm, sedangkan lebarnya
0,2 mm. larva yang muda berwarna putih. Namun, jika telah cukup dewasa, warna belatung
menjadi kekuningan, panjangnya 1 cm (Matnawy, H. 1989).
Gejala serangan
Hama ini menyerang pada fase larva. Batang menjadi bisul. buah yang terserang kecil dan
warnanya kuning. Serangan berat buah menjadi busuk. Gejala awal pada permukaan kulit buah
ditandai dengan adanya noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat
meletakkan telurnya ke dalam buah.
Pengendalian
Pembungkusan buah saat masih muda dengan kantong plastik, kertas semen, kertas koran, atau
daun pisang.
Inang
menyerang lebih dari 20 jenis buah-buahan, diantaranya belimbing, pepaya, jeruk, jambu,
pisang, dan cabai merah.
3.2.3 penggerek batang mangga (Rhytidodera simulans)
Bioekologi
Hama penggerek batang melalui pucuk yang telah berlubang akibat tusukan hama lain (biasa-
nya penggerek pucuk ) dengan jalan memasukkan telurnya ke dalam jaringan yang yang luka
tersebut. kemudian larvanya makan dan merusak jaringan pucuk sampai batang utama yang
menyebabkan kematian pada batang mangga tersebut. Karena mekanisme serangannya, hama ini
menyebabkan kerusakan yang sangat berat hingga dapat menghancurkan kebun mangga.
Gejala serangan
Pada awal serangan, terlihata adanya lubang yang mengeluarkan kotoran berupa gerekan seperti
serbuk gergaji pada pucuk atau cabang mangga, kemudian cabang yang menunjukkan gejala tadi
akan mengering dan mati. Karena cabang yang mendapat serangan pertama mati, selanjutnya
penggerek menuju kebagian tanaman yang masih hidupyaitu batangutama sehingga pada batang
utama akan timbul lubang-lubang yang disertai juga dengan keluarnya kotoran. Pada serangan
lanjut ini kese-luruhan tanaman mati (Matnawy, H. 1989).
Pengendalian
1. Lakukan monitoring secara cermat dan berkala untuk mengetahui ada tidak nya hama dan
gejala serangannya, terutama pada saat tanaman sedang flush.
2. Hindarkan serangan hama penggerek pucuk karena serangan hama ini membantu penggerek
batang untuk meletakkan telur, dengan jalan mengendalikan hama penggerek pucuk.
3. Apabila menemukan dewasa hama ini segera matikan secara mekanis
4. Apabila menemukan gejala seangannya, segera pangkas bagian tanaman yang terserang kurang
lebih 5 cm di bawah lubang yang masing- masing
mengeluarkan kotoran segar.
5. Matikan larva penggerek yang ada di ranting/cabang/batang yang telah
dipotong dengan jalan membelah bagian tanaman tersebut atau membakarnya.
6. Aplikasi insektisida pada fase tunas untuk menghindarkan tanaman mangga terserang oleh
perusak pucuk sekaligus menghindarkan serangan penggerek batang.
Inang
Inagn penggerek yang di amati praktikum ini adalah batang mangga.
3.2.3 Ulat Jeruk (Pepilio crespontes)
Bioekologi
Kupu- kupu betina meletakkan telur pada daun jeruk lebih kurang 4-9 butir.Stadia ulat
berlangsung selama 20 hari, stadia pupa selama 13 hari. Fase kritis saat pemantauan populasi
dilaksanakan pada daun- daun muda terutama pada pembibitan karena sangat mempengaruhi
pertumbuhan berikutnya.
Gejala serangan
Hama ini menyerang tanaman dengan memakan daun terutama pada saat masih muda. Tunas
yang terserang, biasanya kelihatan tinggal tangkai daunnya saja dan bahkan sampai habis
dimakan ulat ini.

Pengendalian
Pengendalian yaitu dengan melakukan monitoring pada tunas-tunas muda (telur), daun muda
untuk larva dan daun tua untuk stadia kepompong. Pengendalian dilakukan secara mekanis
apabila populasinya sedikit yaitu dengan membuang telur yang ada. Apabila populasinya tinggi
dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida yang bersifat kontak (BPTP Jatim,2013)
Inang
Tanaman inang pada pohon jeruk
3.2.4 Symphilid
Bioekologi
Hama symphylids berukuran sangat kecil (panjang 0,2-1,2 cm), berwarna putih krem dan
ditemukan pada semua jenis tanah. Symphylids (Gambar 2) mempunyai tekstur lunak, dengan
tubuh yang bersegmen sepanjang tubuhnya, biasanya ada 15 24 segmen, dengan ujungnya
terdapat dua titik cerci.Segmennya pada bagian dorsal ditutup oleh semacam plat pelindung
dorsal (Untung, K. 2006).
Gejala serangan
Akibat serangan symphilids efisiensi akar akan terganggu, serapan akar terhadap nutrisi dan air
pun berkurang, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu dan tanaman menjadi kerdil
Pengendalian
Metode pendugaan yang umumnya digunakan dalam sampling populasi hama simphylids pada
tanaman nanasadalah metode ekstraksi langsung dan metode umpan.
Inang
Inang pada hampir semua jenis perakaran
3.2.6 ulat kantung (pagodiel sp)
Bioekologi
Ulat kantong biasanya membuat kantong yang diproduksi dari zat kelenjar sutra sebagai
pelingung tubuhnya. Kantong yang panjangnya bisa mencapai 6 cm ini biasa direkatkan pada
bagian tanaman yang diserangnya, seperti daun dan ranting tanaman kakao. Kantong bagian
bawah dilengkapi dengan lubang yang berfungsi sebagai pembuang kotoran. Jika bagian
tanaman di sekitar ulat kantong habis termakan, ulat bersama kantongnya akan pindah ke bagian
tanaman lainnya yang masih memiliki persediaan makanan yang banyak. (Utomo et al., 2007).
Inang
Inang ulat ini adalah hampir semua jenis tanaman namun yang paling sering di
jumpai adalah pada tanaman singon, mahoni, jambu, jati, dll.
Gejala serangan
Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tajuk tanaman yang kering seperti terbakar.
Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi lebih cenderung
berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin
ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar
pelepah daun saling bersinggungan.
Pengendalian
Populasi dan serangan ulat kantong dapat dikendalikan dengan mengaplikasikan insektisida
lambung seperti dipterex dan thuricide. Penggunaan insektisida dari jenis racun lambung didasari
pada alasan karena ulat ini hidup di dalam kantong (Prawirosukarto, 2002)