Anda di halaman 1dari 3

Cara Menurunkan COD dalam Air

Mari kita langsung saja untuk membicarakan tentang langkah yang harus diambil ketika
menginginkan nilai COD untuk turun.

1. Menggunakan Bahan Kimia Pengendap


dalam artikel sebelumnya, kita akan menemukan bahwa sebagian besar dari COD
adalah bersumber dari TSS atau padatan tidak terlarut yang biasa disebut dengan
sludge. Cara paling utama untuk menyingkirkan sludge adalah dengan menggunakan
koagulan dan flokulan.

Prinsipnya adalah dengan mengikat sludge tersebut satu sama lain sehingga menjadi
gumpalan sludge yang lebih besar dan kemudian dapat diendapkan dalam sebuah
tangki sedimentasi.
Beberapa bahan kimia yang biasa digunakan sebagai koagulan antara lain ; PAC,
FeCl3 (Ferric Chloride), dan Alum.

Proses pengendapan ini, akan sangat mempengaruhi terhadap nilai COD. Khususnya
pada air limbah dengan jumlah TSS yang cukup tinggi. Sebagai informasi tambahan
untuk 1 mg/L TSS anda bisa mendapatkan penurunan hingga 10 mg/L COD.

Agar proses penurunan COD menjadi lebih sempurna, disarankan untuk turut
memperhatikan proses mixing dan juga sedimentasi. Dikarenakan tanpa proses mixing
yang tepat, maka reaksi pengendapan yang terjadi akan kurang sempurna.

2. Penurunan COD dengan Proses Mikrobiologi


Proses penurunan COD dengan metode menggunakan bakteri atau mikroorganisme,
ditujukan untuk COD yang berasal dari zat organik dengan kandungan biodegradable
yang tinggi. Proses ini dilakukan melalui dua cara utama, yakni Aerasi dan anaerob.

Pada proses aerasi, COD diturunkan dengan cara membuat bakteri dapat memecah
senyawa organik dalam air. Bakteri ini disebut bakter heterotrop karena memecah
senyawa organik dengan menggunakan bantuan oksigen. Proses ini biasanya
digunakan pada air limbah dengan COD kurang dari 3000 mg/L.

Pada Proses Anaerob, bakteri bekerja pada ruangan dengan kandungan Oksigen
yang minim. Proses ini juga disebut proses fermentasi, dimana bakteri autotrop bekerja
dengan memecah senyawa organik dari air limbah dengan tiga tahapan salah satunya
adalah dengan mengambil oksigen dari senyawa organik.

Proses anaerob ini cocok untuk air limbah dengan kadar BOD lebih dari 2000
mg/L.
Sebelum memutuskan apakah ingin mengambil metode ini, penting sekali bagi Anda
untuk memahami apakah jenis air limbah yang Anda hadapi. Karena proses
mikrobiologi ini hanya cocok untuk limbah dengan kandungan organik. Anda bisa
mengetahui hal ini dengan melihat perbandingan antara COD dan BOD.

Beberapa proses yang sejenis dengan ini adalah proses menggunakan MBR,
SMBR ataupun SBR

Baca Juga : Pentingnya Memiliki Data History Di WWTP

3. Menurunkan COD dengan Oxidator


Beberapa bahan kimia, dapat membantu Anda untuk menurunkan COD dari air limbah.
Chlorine, Hydrogen Peroxida serta Ozone akan mengoksdiasikan zat-zat kimia dalam
air sehingga otomatis nilai COD akan turun. Namun tentu Anda harus membatasi dosis
penggunanaan dari oxidator, karena oxidator memiliki sifat yang cukup berhaya
terutama bagi mahluk hidup.

Teknik penurunan COD ini cocok untuk limbah yang memiliki nilai COD yang
bersumber dari limbah non biodegradable seperti Phenol, surfaktan, dsb.

4. Proses Penurunan COD dengan Reaksi Fenton


reaksi fenton adalah salah satu reaksi yang telah dikenal secara luas mampu untuk
menurunkan Nilai COD. Prinsipnya adalah pembentukan radikal bebas yang tercipta
dari reaksi antara reagent fenton yaitu FeSO4 dengan Hydrogen Peroxida.

Reaksi fenton inilah yang nantinya menjadi cikal bakal lahirnya sistem AOP.

5. Advanced Oxidation Process


AOP merupakan teknologi terkini yang mampu untuk menurunkan nilai COD dari air
limbah. Bahkan dari COD dengan nilai diatas 100 ribu sekalipun.
AOP diciptakan dari penyempurnaan reaksi fenton yang ditambahkan dengan adanya
injeksi Ozone sehingga menambahkan memperbanyak hidroksil bebas yang akhirnya
mampu untuk mengoksidasikan zat-zat kimia dalam air.
Kelebihan Proses AOP ini adalah kecepatan reaksinya yang sangat cepat. Jika dalam
proses pengolahan dengan mikrobiologi penurunan COD dapat memakan waktu
berhari-hari. Maka proses dengan AOP ini hanya memerlukan waktu hitungan jam
bahkan menit.
Kelebihan lainnya juga terletak pada area yang digunakan untuk sistem ini sangat kecil
dibandingakan dengan sistem yang lainnya.
Ditambah lagi, proses ini tidak memerlukan banyak bahan kimia untuk ditambahkan di
air limbah. Sehingga saat ini proses AOP mendapatkan banyak perhatian dari para ahli
diseluruh dunia.

6. Proses Filtrasi dan Absorpsi dengan Activated Carbon

Metode terakhir ini banyak digunakan pada proses finishing ataupun post treatment
setelah proses pengolahan utama. Biasanya digunakan activated carbon sebagai filter.
Karbon aktif akan menyerap zat-zat organik, ozone ataupun zat chlorine yang masih
tersisa pada hasil pengolahan. Sehingga effluent aman untuk dibuang ke lingkungan.
Penyaringan dengan menggunakan karbon aktif ini juga biasa dipakai pada proses
water treatment untuk menghilangkan bau, serta menurunkan kandungan zat kimia
pada air.