Anda di halaman 1dari 15

REKONSTRUKSI POHON FILOGENETIK DARI MARGA

Hibiscus BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI


Oleh:
Maria Virginia Claudia Thon ( E-mail : v.thon96@gmail.com )
Drs. Leonardus Banilodhu , M. S (E-mail : banilodhuleonardu@ymail.com )
Program Studi Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Katolik Widya Mandira
Jalan Jendral Achmad Yani 50-52 Kupang 85225, Timor-NTT-Indonesia

Makalah Penelitian
Untuk Dipresentasikan dalam Workshop Akademik Hasil Penelitian Pembelajaran
Berbasis Riset UNWIRA Semester Genap Tahun 2016-2017 pada 01-05 Agustus 2017
=================================================================
INTISARI. Mengkaji hubungan evolusioner spesies atau marga atau famili dari suatu
kelompok makhluk hidup merupakan suatu tema penting dalam biosistematika, demikian pula
upaya untuk memahami hubungan evolusioner dari 14 spesies dalam marga Hibiscus pada
penelitian ini. Dengan menggunakan sumberdaya dari internet dan spesimen basah yang
dapat diperoleh, penelitian ini menyusun kladistik spesies, matriks karakter dan keadaan
karakter untuk menentukan spesies parsimoni, menghitung koefisien spesies dengan indeks
Jaccard untuk menyusun matriks koefisien spesies, dan merekonstruksi filogenetik spesies.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan sinapomorfis, evolusi spesies dalam
marga Hibiscus adalah konvergen. Kesimpulan penelitian adalah bahwa 14 spesies dalam
marga Hibiscus diduga berasal dari satu nenek moyang yang sama.
Kata kunci: rekonstruksi, pohon filogenetik, spesies, Hibiscus, morfologi.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suku kapas-kapasan atau Malvaceae merupakan kelompok tumbuhan dikotil yang


anggota-anggotanya mencakup sejumlah tumbuhan penting, khususnya sebagai penghasil
serat tekstil dan minyak. Manfaat lainnya adalah sebagai tanaman hias dan farmakologi.
Beberapa anggota dari keluarga Malvaceae merupakan penghasil kayu
perdagangan.Taksonomi Malvaceae agak rumit. Dalam arti sempit (sensu stricto), Malvaceae
bersifat monofiletik (berkarakter tunggal), baik berdasarkan kajian fenotipe (morfologi)
maupun molekuler. Namun, kenyataan yang ditemukan secara molekuler menunjukkan
bahwa tiga suku yang diketahui berkerabat dekat dengan Malvaceae, yaitu Tiliadae,
Sterculidae, dan Bombacacedae, ternyata polifiletik (sebagai contoh, kakao yang
sebelumnya dianggap sebagai anggota Sterculiaceae ternyata lebih dekat kekerabatannya
dengan anggota-anggota Malvaceae s.s.). Untuk mengatasinya, cakupan (circumscriptum)
Malvaceae diperluas. Dalam arti luas (sensu lato), yang dipakai dalam penelitian ini,
Malvaceae mencakup sembilan anak suku yang mencakup pula anggota-anggota ketiga suku
yang berkerabat tadi. Pohon ini cepat tumbuh sampai tinggi 5-15meter, garis tengah batang
40-50 cm; bercabang dan berwarna coklat. Daun merupakan daun tunggal, berangkai,
berbentuk jantung, lingkaran lebar/bulat telur, tidak berlekuk dengan diameter kurang dari
19cm. Daun menjari, sebagian dari tulang daun utama dengan kelenjar berbentuk celah pada
sisi bawah dan sisi pangkal. Sisi bawah daun berambut abu-abu rapat. Daun penumpu bulat
telur memanjang, panjang 2.5 cm, meninggalkan tanda bekas berbentuk cincin. Bunga waru
merupakan bunga tunggal, bertaju 8-11. Panjang kelopak 2.5 cm beraturan bercangap 5.
Daun mahkota berbentuk kipas, panjang 5-7 cm, berwarna kuning dengan noda ungu pada
pangkal, bagian dalam oranye dan akhirnya berubah menjadi kemerah-merahan. Tabung
benang sari keseluruhan ditempati oleh kepala sari kuning. Bakal buah beruang 5, tiap rumah
dibagi dua oleh sekat semu, dengan banyak bakal biji. Buah berbentuk telur berparuh pendek,
panjang 3 cm, beruang 5 tidak sempurna, membuka dengan 5 katup
(SyamsuhidayatdanHutapea, 1991).
Pohon ini cepat tumbuh sampai tinggi 5-15 meter, garis tengah batang 40-50 cm;
bercabang dan berwarna coklat. Daun merupakan daun tunggal, berangkai, berbentuk
jantung, lingkaran lebar/bulat telur, tidak berlekuk dengan diameter kurang dari 19 cm. Daun
menjari, sebagian dari tulang daun utama dengan kelenjar berbentuk celah pada sisi bawah
dan sisi pangkal. Sisi bawah daun berambut abu-abu rapat. Daun penumpu bulat telur
memanjang, panjang 2.5 cm, meninggalkan tanda bekas berbentuk cincin.
Bunga waru merupakan bunga tunggal, bertajuk 8-11. Panjang kelopak 2.5 cm beraturan
bercangap 5. Daun mahkota berbentuk kipas, panjang 5-7 cm, berwarna kuning dengan noda
ungu pada pangkal, bagian dalam oranye dan akhirnya berubah menjadi kemerah-merahan.
Tabung benang sari keseluruhan ditempati oleh kepala sari kuning. Bakal buah beruang 5,
tiap rumah dibagi dua oleh sekat semu, dengan banyak bakal biji. Buah berbentuk telur
berparuh pendek, panjang 3 cm, beruang 5 tidak sempurna, membuka dengan 5 katup
(Syamsuhidayat et Hutapea, 1991).
Tanaman waru memiliki batang yang berbentuk bulat, berkayu dan berwarna cokelat,
tanaman ini termasuk dalam golongan pohon besar yang tingginya bisa mencapai 5-15 meter.
Batang cenderung tumbuh lurus pada tanah yang subur, dan tumbuh membengkok pada tanah
yang tidak subur. Tabung benang sari keseluruhan ditempati oleh kepala sari kuning.
Buahnya kotak, bentuk bulat telur, terbagi menjadi 5 ruang, tiap ruang dibagi lagi menjadi
dua bagian oleh sekat semu; bakal biji pada setiap buah berjumlah banyak. Buah berbentuk
telur, berparuh pendek, panjang 3cm,beruang 5 tidak sempurna, membuka dengan 5 katup.

1.1 Tujuan
a. Menentukan kemungkinan rekonstruksi filogeni dengan pendekatan kladistik dari
spesies dalam marga Hibiscus yang menggunakan marga yang diduga lebih primitif
dari marga Hibiscus.
b. Menghasilkan matriks karakter dan keadaan karakter dan filogeni dari spesies dalam
marga Hibiscus.
c. Menafsirkan sejarah evolusioner berdasarkan rekonstruksi filogenetik dari spesies
dalam marga Hibiscus.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana hubungan filogenetik spesies
dalam marga Hibiscus berdasarkan pada karakter morfologis dari spesiesnya?

1.3 Manfaat
Penelitian ini bermanfaat untuk menampilkan pohon filogenetik dari spesies dalam marga
Hibiscus berdasarkan matriks koefisien spesies.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 abelmoscus L

2.1.1 Klasifikasi Ilmiah


Kingdom: Plantae
Clade: Angiosperms
Clade: Eudicots
Clade: Rosids
Order: Malvales
Family: Malvaceae
Genus: Abelmoschus
Species: A. moschatus
(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/abelmoscus
2.1.2 Deskripsi Umum
Merupakan jenis bunga sepatu yang berasal dari India. Karakteristik dari bunga ini adalah
memiliki biji yang manis, berwarna kuning, memiliki aroma yang mirip musk atau bahan
dasar pembuatan parfum. Selain itu, biji dari bunga ini biasanya dijadikan campuran
dalam pembuatan kopi sedangkan tunas mudanya bisa dijadikan sebagai sayuran.

Gambar 1. Abelmoscus (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/abelmoscus Talipariti


tiliaceum (Pohon waru)

2.1 Deskripsi Umum


Talipariti tiliaceum atau pohon waru merupakan salah satu jenis dari bunga sepatu dan bisa
dikatakan bahwa bunga sepatu jenis ini memiliki ukuran paling besar. Di alam bebas pohon
waru mampu tumbuh hingga mencapai ketinggian 4-10 meter dengan diameter berkisar
antara 25-50 cm. Bunganya dari Talipariti tiliaceum biasanya bewarna orange dengan bagian
tengahnya berwarna merah pucat atau merah maroon. Yang unik dari bunga sepatu jenis ini
adalah duannya berbentuk love atau hati. Di Indonesia pohon ini biasa dipelihara untuk
dimanfaatkan kayunya.

Gambar 2. Talipariti tiliaceum (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/talipariti-tiliaceum

3. Hibiscus acetosella (kembang sepatu cranberry)


3.1 Deskripsi Umum
Hibiscus acetosella (kembang sepatu cranberry atau rosemallow Afrika) adalah
angiosperma dari genus Hibiscus atau rosemallow. Kata acetosella berasal dari bahasa
Latin dan berasal dari nama lama untuk sorrel (Oxalis) yang berasal dari rasa asam yang
dialami saat memakan daun muda tanaman tersebut. Hibiscus acetosella juga dikenal
bahasa sehari-hari sebagai rosela palsu, maroon mallow, kembang sepatu berdaun merah,
dan kembang sepatu perisai merah. Ini adalah salah satu dari sekitar 200-300 spesies
yang terlihat di daerah sub tropis dan tropik. Hias ini biasanya ditemukan di lahan
kosong atau area terbuka, rawa, dan pembukaan hutan. Cranberry kembang sepatu adalah
anggota dari kelompok abadi yang dikenal sebagai hardy kembang sepatu. Berbeda
dengan kembang sepatu tropis, kembang sepatu keras bisa mentolerir kondisi yang lebih
dingin, lebih kuat, tahan lama, dan memiliki bunga lebih besar. Di iklim yang lebih
dingin, Hibiscus acetosella mudah tahunan, namun sering dianggap sebagai abadi ke zona
8-11. Selama satu musim, tanaman bisa tumbuh tinggi 90-170 cm (3,0-5,6 kaki) dan
lebarnya 75 cm (30 inci) sebagai semak belukar.

Gambar 3. Hibiscus acetosella (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-acetosella

4. Hibiscus rosa-sinensis (kembang sepatu)


4.1 Deskripsi Umum
Hibiscus rosa-sinensis merupakan salah satu jenis bunga Hibiscus yang biasa kita kenal
dengan kembang sepatu, bunga sepatu Cina, kembang sepatu Hawaii, dll. Bunga jenis ini
merupakan spesies kembang sepatu yang hidup di kawasan tropis, tepatnya berasal dari
Asia Timur. Tanaman ini mampu tumbuh hingga mencapai ketinggian 2-5 meter.
Bunganya berwarna merah cerah dengan jumlah daun mahkota mencapai 5 helai di setiap
bunganya.

Gambar 4. Hibiscus rosa-sinensis (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-rosa-


sinensis)
4.2 Ciri Morfologi
Hibitus : Perdu, tahunan, tegak, tinggi 3 m. Batang : Bulat, berkayu, keras, diameter 9
cm, masih muda ungu setelah tua putih kotor. Daun : Tunggal, tepi beringgit, ujung
runcing, pangkal tumpul, panjang 10-16 cm, lebar 5-11 cm, hijau muda, hijau. Bunga :
Tunggal, bentuk terompet, di ketiak daun, kelopak bentuk lonceng, berbagi lima, hijau
kekuningan, mahkota terdiri dari lima belas sampai dua puluh daun mahkota, merah
muda, benang sari banyak, tangkai sari merah, kepala sari kuning, putik bentuk tabung,
merah. Buah : Kecil, lonjong, diameter 4 mm, masih muda putih setelah tua coklat.
Biji : Pipih, putih.Akar : Tunggang, coklat muda

5. Hibiscus calyphyllus (Lemonyellow Rosemallow)


5.1 Deskripsi Umum

Hibiscus calyphyllus merupakan salah satu tanaman bunga sepatu yang memiliki
kemampuan tumbuh hingga mencapai ketinggian 1-1,8 meter (3-6 kaki) tinggi. Tanaman
ini memiliki bunga yang lebar dan berwarna kuning dengan kecoklatan sebagai warna
pusatnya. Bunga kuning ini berasal dari Afrika yang beriklim tropis. Hibiscus calyphyllus
tumbuh setinggi 1-1,8 meter (3-6 kaki). Ini memiliki bunga yang tumbuh sampai 8-10 cm
(3-4 inci) lebar, dengan warna kuning dan pusat kecoklatan.

Gambar 5. Hibiscus calyphyllus (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-


calyphyllus)

6. Hibiscus coccineus (Scarlet Rosemallow)


6.1 Deskripsi Umum
Hibiscus coccineus atau rosemallow merah adalah salah satu jenis kembang sepatu yang
jika dilihat secara sekilas tanaman ini memiliki kemiripan dengan Cannabis sativa
(ganja). Selain itu, tanaman ini juga dikenal sebagai bunga bintang Texas, kembang
sepatu brilian, dan kembang sepatu merah. Tanaman ini mudah sekali kita temukan di
rawa-rawa, parit di dataran pesisir Tenggara Amerika Serikat. Hibiscus coccineus adalah
tanaman asli dari Southeastern Virginia bagian Utara dari Florida. Selain memiliki bunga
berwarna merah, tanaman ini juga memiliki bunga berwarna putih yang juga dikenal
sebagai bintang Texas putih atau bintang kembang sepatu tunggal.
Gambar 6. Hibiscus coccineus (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-coccineus)

7. Hibiscus genevii
7.1 Deskripsi Umum
Tanaman ini mampu tumbuh hingga ketinggian 3-5 meter dengan bunga berwarna ungu
muda, atau merah muda dengan warna merah sebagai warna pusatnya. Selain itu,
tanaman Ini merupakan salah satu dari empat spesies Hibiscus yang berasal dari pulau-
pulau di Mascarene (Mauritius, Reunion, Rodrigues), dan memiliki hubungan erat dengan
jenis Hibiscus liliiflorus dari Rodrigues dan Hibiscus fragilis.

Gambar 7. Hibiscus genevii (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-genevii)

8. Hibiscus Hastatus (kembang sepatu Tahiti)


8.1 Deskripsi Umum
Hibiscus Hastatus (Purau teruere atau kembang sepatu Tahiti) merupakan salah satu jenis
bunga kembang sepatu yang berasal dari Tahiti. H. Hastatus memiliki bunga warna
kuning pucat (kadang-kadang dengan margin kelopak merah pucat intermiten) dengan
merah tua sebagai warna pusat bunganya. Beberapa reteratur dan referensi menyatakan
bahwa H. Hastatus sebagai subspesies dari Hibiscus tiliaceus.

Gambar 8. Hibiscus hastatus (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-hastatus)


9. Hibiscus heterophyllus (bunga rosela)
9.1 Deskripsi Umum
Hibiscus heterophyllus atau yang juga dikenal sebagai bunga Rosella, adalah spesies
bunga kembang sepatu yang merupakan tanaman endemik New South Wales dan
Queensland di Australia . Tanaman ini mampu tumbuh hingga mencapai tinggi 1-2 meter
serta menghasilkan bunga yang berwarna putih, merah muda pucat atau kuning dengan
warna ungu sebagai warna pusat bunganya.

Gambar 9. Hibiscus heterophyllus (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-


heterophyllus)

10. Hibiscus insularis (Bunga sepatu Philip Island)


10.1 Deskripsi Umum
Philip Island Hibiscus (Hibiscus insularis) adalah salah satu spesies bunga kembang sepatu
yang merupakan tanaman endemik dari Phillip Island, sebuah pulau kecil yang berada di
selatan Pulau Norfolk. Tanaman ini menghasilkan bunga berwarna kuning kehijauan dan
berwarna ungu muda saat mendekati masa gugur atau rontok bunga.

Gambar 10. Hibiscus insularis (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-insularis)

11. Hibiscus schizopetalus(kembang sepatu karang)


11.1 Deskripsi Umum
Hibiscus schizopetalus adalah spesies Hibiscus yang berasal dari Afrika timur tropis di
Kenya, Tanzania dan Mozambik. Nama yang umum termasuk rosemallow berjumbai, lentera
Jepang, kembang sepatu karang, dan kembang sepatu laba-laba.
Hibiscus schizopetalus adalah semak yang tumbuh setinggi 3 meter (9,8 kaki). Bunga merah
atau merah muda sangat khas di kelopak berbulu halus dan halus. Bunga dengan kelopak
halus membelah memiliki berbagai warna, yang paling umum adalah bentuk merah. Daunnya
mirip dengan H. rosa-sinensis (Keena et al., 2002; Ng, 2006)
Gambar 11. Hibiscus schizophetalus (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-
schizophetalus)

12. Hibiscus sabdariffa


12.1 Deskripsi Umum

Roselle (Hibiscus sabdariffa) adalah spesies Hibiscus yang mungkin berasal dari Afrika
Barat, digunakan untuk produksi serat semut dan sebagai infus, yang dapat dikenal sebagai
carcade, tumbuh setinggi 2-2,5 m (7-8 kaki). Daunnya sangat panjang sampai lima lobus,
panjangnya 8-15 cm (3-6 in), disusun bergantian pada batangnya. Bunganya berdiameter 8-
10 cm (3-4 in), berwarna putih sampai kuning pucat dengan bintik merah gelap di dasar
kelopak masing-masing, dan memiliki kelopak bunga berdaging di dasar, 1-2 cm (0,39-0,79
In) lebar, membesar sampai 3-3,5 cm (1,2-1,4 in), berdaging dan merah cerah saat buahnya
matang. Mereka membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk dewasa.

Gambar 12. Hibiscus sabdariffa (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-


sabdariffa)

13. Hibiscus trionum


13.1 Deskripsi Umum
Tanaman ini tumbuh sampai ketinggian 20-50 sentimeter (7,9-19,7 inci), kadang-kadang
melebihi 80 sentimeter (31 inci), dan memiliki bunga putih atau kuning dengan pusat ungu.
Di pusat bunga yang sangat berpigmen, permukaannya memiliki lengkungan, yang
sebelumnya dianggap berperan sebagai kisi difraksi, menciptakan iridescence.

Gambar 13. Hibiscus trionum (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-troinum)

14. Hibiscus mutabilis


14.1 Deskripsi Umum
Bunga bisa ganda atau tunggal dan berdiameter 4 sampai 6 inci; Mereka terbuka putih atau
pink, dan berubah menjadi merah tua pada malam hari. Varietas 'Rubra' memiliki bunga
merah. Bunga mekar tunggal biasanya berbentuk cangkir. Musim kemarau biasanya
berlangsung dari musim panas sampai musim gugur. Perbanyakan akar stek paling mudah di
awal musim semi, tapi stek bisa diambil kapan saja. Bila tidak membeku, Konfederasi naik
bisa mencapai ketinggian 12 sampai 15 kaki dengan batang kayu; Namun, banyak bushier,
tanaman 5 atau 6 kaki lebih khas dan memberi lebih banyak berbunga.
Gambar 14. Hibiscus mutabilis (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-mutabilis)

15. Hibiscus denudatus


15.1 Deskripsi Umum
Bentuk tanaman cabang agak straggly vertikal mencapai 2-4 kaki (1,5 m), dan tidak selalu
semak penuh lebar. Daunnya kecil sampai 1 inci dan kira-kira sama lebarnya, dan dihias
dengan halus. Daunnya berwarna hijau kuning, berbulu, dan berbentuk bulat panjang sampai
ovoid. Bunga itu berwarna putih pucat, maka nama paleface, atau lavender pucat terang
berwarna pink. Kelopak bunga bisa jadi kertas beras tipis, dan pada beberapa tanaman hampir
tembus; Kelopak bunga yang luas dan bulat, juga tumpang tindih; Seluruh bunga adalah
bentuk cup yang lebar.

Gambar 15. Hibiscus denudatus (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-


denudatus)

16. Hibiscus syriacus


16.1 Deskripsi Umum

Hibiscus syriacus adalah semak belukar yang keras. Ini tegak dan berbentuk vas, setinggi 2-4
m (7-13 kaki), membawa bunga berbentuk sangkakala besar dengan benang sari putih
berujung kuning yang menonjol. Bunganya sering berwarna merah jambu, tapi bisa juga
berwarna pink tua (hampir ungu), pink muda atau putih. Bunga individu berumur pendek,
hanya bertahan satu hari. Tanah tempat Hibiscus tumbuh subur adalah campuran pasir, tanah
liat, kapur, dan lumpur yang lembab namun terkuras dengan baik. Mempertahankan kadar
Alkaline, Neutral pH (5.5 - 7.0).

Gambar 16. Hibiscus syriacus (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-syriacus)


2.4 Hipotesis
Sebagai pengarah dalam penelitian ini, maka hipotesis penelitian (H0) adalah:
0 : enam belas spesies dalam marga hibiscus berasal dari satu nenek moyang yang sama.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah di Perpustakaan UNWIRA dan Browsing Internet selama 2 bulan
yakni bulan Mei-Juni 2017.

3.2 Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah spesimen basah dari lapangan dan gambar
spesies dari pemeriksanaan Google. Spesimen basah adalah pohon waru (talipariti tiliaceum)
dan kembang sepatu (rosa-sinensis)

3.3 Rekonstruksi Pohon Filogenetik Spesies dalam Marga Hibiscus

Mengacu pada Banilodu (2017), maka langkah-langkah dalam rekonstruksi pohon filogenetik
spesies dari marga Hibiscus adalah:
1. Menentukan kelompok sebagai kelompok luar (outgroup) yang diduga lebih primitif dari
marga Hibiscus sebagai kelompok dalam (ingroup). Merekonstruksi filogeni dengan
pendekatan kladistik (hubungan evolusioner) dari 16 spesies dalam marga Hibiscus
dengan Abelmoscus sebagai outgroup. Ketika tahap ini selesai dikerjakan, maka tujuan
penelitian pertama dicapai.
2. Menyusun matriks karakter dan keadaan karakter untuk menentukan spesies primitif dan
spesies parsimoni (pelit). Pemeriksaan karakter dan keadaan karakter dari kelompok
outgroup dan kelompok ingroup, selain menggunakan spesimen basah juga
menggunakan gambar yang diperoleh melalui pemeriksaan Google. Selanjutnya, yang
disebut spesies primitif adalah spesies yang memiliki jumlah bobot sama dengan atau
lebih besar dari Pluchea, sedangkan spesies parsimoni adalah spesies yang jumlah bobot
karakternya terkecil, artinya paling sedikit mengalami evolusi karakter morfologisnya.
Ketika tahap ini selesai dikerjakan, maka tujuan penelitian kedua dicapai.
3. Menghitung koefisien spesies antara spesies sisa setelah mengeluarkan spesies primitif
dengan menggunakan rumus Jaccard: Koefisien spesies = c / (A+Bc) x 100 di mana c =
jumlah bobot yang angkanya lebih kecil; A = jumlah bobot spesies 1; dan B = jumlah
bobot spesies 2. Hasil perhitungan koefisien spesies dimuat dalam sebuah matriks yang
disebut matriks jarak, yaitu ukuran seberapa dekatnya suatu spesies terhadap spesies
lain dalam satu marga.
4. Membentuk pohon filogenetik berdasarkan koefisien spesies dari terbesar sebagai
pangkal ke koefisien spesies terkecil sebagai ujungnya. Hasil rekonstruksi adalah suatu
hubungan evolusioner yang membentuk kelompok (clade) secara bertangga.
5. Menafsirkan hubungan evolusioner yang dihasilkan. Beberapa pertanyaan pemandu
dalam melakukan penafsiran hubungan evolusioner antara lain: (a) mungkinkah suatu
sinapomorfis adalah hasil evolusi konvergen?; (b) apakah karakter masuk akal dari suatu
perspektif evolusioner?; (c) haruskah mempertimbangkan karakter lain?; dan (d)
haruskah mempertimbangkan takson tambahan? Ketika tahap ini selesai dikerjakan,
maka tujuan penelitian ketiga dicapai.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Rekonstruksi filogeni dengan pendekatan kladistik (hubungan evolusioner) dari 16


spesies dalam marga Hibiscus dengan Abelmoscus sebagai outgroup
Untuk menunjukkan hubungan evolusioner antara outgroup (A = Abelmoscus) dengan
ingroup (spesies 1-16 dari marga Hibiscus), maka akan terdapat 18 kemungkinan
hubungan evolusioner, yaitu:
Hubungan evolusioner pertama adalah outgroup (A = Abelmoscus) dengan urutan spesies
pada ingroup sebagai 1 = Talipariti tiliaceum, 2 = H. acetosella, 3 =H. rosa-sinensis, 4 = H.
calyphyllus, 5 = H. coccineus, 6 = H. genevii, 7 = H. hastatus, 8 = H. heterophyllus, 9 = H.
insularis, 10 = H. schizopetalus, 11 = H. sabdariffa, 12 = H. trionum, 13 = H. mutabilis, 14 =
H. denudatus, 15 = H. syriacus, seperti pada Gambar 1 di bawah ini.
1)
A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Gambar 17. Kemungkinan hubungan evolusioner pertama


2) Hubungan evolusioner kedua adalah outgroup (A) dengan urutan spesies pada ingroup
sebagai spesies 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16 dan 1 seperti pada
Gambar 2 di bawah ini.
A 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 1

Gambar 18. Kemungkinan hubungan evolusioner kedua


3) Hubungan evolusioner ketiga adalah outgroup (A) dengan urutan spesies pada
ingroup sebagai spesies 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 1, dan 2; dan
seterusnya seperti pada Gambar 3 di bawah ini.
A 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 1 2

Gambar 19. Kemungkinan hubungan evolusioner ketiga


4) Hubungan evolusioner keenam belas adalah outgroup (A) dengan urutan spesies pada
ingroup sebagai spesies 16, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, seperti pada
Gambar 4 di bawah ini.
A 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Gambar 20. Kemungkinan hubungan evolusioner keenam belas


4.1.2 Membentuk pohon filogenetik

Berdasarkan Tabel 1 di atas, koefisien spesies untuk membentuk matriks kesamaan spesies
dapat dihitung menggunakan rumus Jaccard, yang hasilnya ditunjukkan pada Tabel 2 di
bawah ini.
H.
H.rosa
H. Hasta Insul H.schizo
H.rosa X 22,22 17,85 20
H. hasta x 4,76 6,45
H. Insul X 4,76
H.schizo x

Berdasarkan pada Tabel 2 di atas, dapat ditunjukkan bahwa koefisien spesies yang
paling besar adalah 22,22 antara H. Hastatus dengan H. insularis. Sedangkan koefisien yang
paling kecil adalah 4,67 yakni antara H.hastatus dengan H.insularis dan H. Insularis dengan
H. schizophetallus
Selanjutnya, nilia dari koefisien spesies disusun dari nilai terbesar sebagai pangkal ke
nilai terkecil sebagai ujungnya. Berdasarkan urutan nilai dari koefisien spesies, hasil
rekonstruksi adalah suatu hubungan evolusioner yang membentuk kelompok (clade) tertentu

4.2 Pembahasan

4.2.1 Hasil Evolusi

Berdasarkan sinarpomorfis, evolusi dari 4 spesies dalam marga Hibiscus adalah evolusi
konvergen. Dengan demikian, berdasarkan sinarpomorfis hubungan evolusioner dari spesies
dalam marga Hibiscus adalah konvergen (saling terkait antara kelompok atau clade) dan
diduga berasal dari satu nenek moyang yang sama.

H. rosaxH. hasta 22,2 4,76


H.rosaxH.schizo 20 6,45
H.rosaxH.insul 17,9 17,85
H.hastaxH.schizo 6,45 20
H.hastaxH.insul 4,76 22,22
H.insulxH.schizo 4,76
H. H.
H.rosa
Hasta Insul H.schizo
Rekonstruksi filogenetik 4 spesies dalam marga hibiscus (famili malvaceae) setelah mengeluarkan
spesies primitif dengan bobot nilai sama dengan outgroup.

4.2.2 Karakter dari Perspektif Evolusioner

Tidak cukup spesies yang memiliki deskripsi karakter yang lengkap. Selain itu, dari 16
spesies dalam marga Hibiscus, peneliti menggunakan karakter basah hanya satu spesies yakni
H. Rosa-sinensis dan selebihnya menggunakan gambar spesies yang bersumber dari Website.
Dengan demikian, karakter dari perspektif evolusioner tidak cukup dipastikan bahwa karakter
cukup mewakili perubahan evolusioner.
4.2.3 Pertimbangan Karakter Lain
Meskipun pekerjaan rekonstruksi filogenetik adalah menarik dengan menggunakan data
morfologi, namun demikian keterbatasan sumberdaya (misalnya, ketiadaan spesimen kering
atau herbarium), menjadi suatu keterbatasan tersendiri dalam memastikan hasil dari
rekonstruksi filogenetik. Sangat jauh lebih baik apabila pekerjaan rekonstruksi filogenetik
berdasarkan data morfologi dapat dikombinasikan dengan data dari rantai nukleotida.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah bahwa hubungan evolusioner spesies
dalam marga Hibiscus adalah konvergen dan diduga berasal dari satu nenek moyang yang
sama.

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan dalam penelitian adalah:


1) Rekonstruksi filogenetik spesies dalam marga Hibiscus perlu didukung dengan
sumberdaya (spesimen kering atau herbarium) yang memadai.
2) Penggunaan data rantai nukleotida menjadi pertimbangan penting untuk memperkuat
rekonstruksi filogenetik berdasarkan data morfologi.

DAFTAR PUSTAKA

Daftar Pustaka dari Jurnal dan Makalah

"Angiosperm Phylogeny Website". Retrieved 15 July 2014.


Angiosperm Phylogeny Group (2009). "An update of the Angiosperm Phylogeny
Group classification for the orders and families of flowering plants: APG III" (PDF).
Botanical Journal of the Linnean Society. 161 (2): 105121. doi:10.1111/j.1095-
8339.2009.00996.x. Retrieved 2013-07-06.
Banilodhu 2017
Chen JJ, Huang SY, Duh CY, Chen IS, Wang TC, Fang HY, 2006, A new cytotoxic
amide from the stem wood of hibiscus tiliaceus, Planta Med,72(10)935-8
Christenhusz, M. J. M.; Byng, J. W. (2016). "The number of known plants species in
the world and its annual increase". Phytotaxa. Magnolia Press. 261 (3): 201217.
doi:10.11646/phytotaxa.261.3.1.
Judd, W. S., C. S. Campbell, E. A. Kellogg, P. F. Stevens and M. J. Donoghue (2008).
Plant Systematics: A Phylogenetic Approach (third ed.). ISBN 0878934073.
Martodisiswojoyo dan Rajakwangun, 1995
Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991

DAFTAR PUSTAKA DARI WEBSITES

https://id.wikipedia.org/wiki/abelmoscus [Diakses 10 Juni 2017].


https://id.wikipedia.org/wiki/talipariti-tiliaceum [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-acetosella [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-rosa-sinensis) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-calyphyllus) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-coccineus) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-genevii) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-hastatus) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-heterophyllus) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-insularis) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-schizophetalus) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-sabdariffa) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-troinum) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-mutabilis) [Diakses 10 Juni 2017].
https://id.wikipedia.org/wiki/hibiscus-denudatus) [Diakses 10 Juni 2017].