Anda di halaman 1dari 33

BAB I

STATUS PASIEN

Identitas Pasien

Nama : M. Fahri

Usia : 1 tahun 11 bulan

Jenis Kelamin : Laki laki

Nama orang tua : Ibu K.

Alamat : Ponorogo

Taggal Masuk RS : 18 september 2017

No Rm :02A

Alloanamnesis pada ibu pasien

Keluhan Utama

mencret disertai muntah, dan demam

Riwayat Penyakit Sekarang

Diare sejak siang hari sebelum masuk rumah sakit. Diare lebih dari 3 kali
sehari, diare kurang lebih setengah gelas setiap kali diare, konsistensi cair dan
terdapat ampas berwarna kekuningan, tidak berlendir, tidak terdapat darah dan
disertai demam yang naik turun. Sebelum diare pasien juga mengeluh muntah
kurang lebih 10 kali sebanyak kurang lebih setengah gelas tiap muntah. Muntah
dikeluhkan terutama saat setelah makan, dan minum. Yang dikeluarkan pada saat
muntah berisikan makanan, dan cairan. Pasien lemah dan hanya tertidur, ibu
pasien mengatakan pasien sulit minum ASI padahal sebelumnya pasien tidak sulit
minum ASI. Keluhan BAK disangkal, BAK dalam sehari kurang lebih 3 kali.
Gejala mimisan atau gusi berdarah disangkal. Keluhan nyeri telinga disangkal,
nyeri telan disangkal, keluhan nyeri pada saat buang air kecil juga disangkal.
Sebelum pasien dirawat di RS kakak pasien menderita keluhan yang sama dengan
pasien, namun tidak sampai dirawat di RS. Menurut ibu pasien dirumah biasa
meminum air yang berasal dari air sumur yang telah dimasak. Seluruh alat makan
dicuci menggunakn air sumur yang sama. Botol susu biasanya hanya dicuci
dengan menggunakan air biasa bukan air mendidih.

a. Riwayat penyakit dahulu:


Sebelumnya pasien belum pernah mengalami keluhan serupa. Riwayat
asma disangkal, riwayat batuk lama disangkal, riwayat trauma disangkal,
riwayat kejang demam diakui.
b. Riwayat penyakit keluarga:
Riwayat alergi disangkal, riwayat asma dan TBC disangkal.
c. Riwayat Pengobatan
Alergi obat atau makanan disangkal, alergi susu diakui, riwayat alergi
pada orang tua disangkal.
d. Riwayat kehamilan:
Selama hamil ibu pasien memeriksakan kehamilan kebidan 1 bulan sekali.
Ibu hamil An. M.F pada usia 28 tahun. Ibu pasien mengatakan kehamilan
ke dua, selama hamil ibu pasien tidak menderita hipertensi, diabetes
melitus, eklamsi atau penyakit berat lainya.
Ibu makan dan minum susu sesuai anjuran bidan.
e. Riwayat Kelahiran
By. F lahir cukup bulan (9 bulan) dirumah ditolong oleh bidan. Pasien
merupakan anak kedua dari ibu G2P2A0. Pasien lahir spontan, dan
langsung menagis. Berat lahir 3100 gr, panjang badan 47cm, dan lingkar
kepala ibu tidak mengetahui.
f. Riwayat pemberian makanan
Anak diberikan ASI eksklusif tanpa makanan tambahan apapun semenjak
lahir hingga saat ini.
g. Riwayat perkembangan
- Motorik kasar
Usia 3 bulan sudah bis mengangkat kepala
Usia 8 bulan sudah bisa merangkak
Usia 11 bulan sudah bisa berdiri namun masih suka terjatuh
- Motorik halus
Usia 6 bulan sudh bisa menggapai benda
Usia 10 bulan memukulkan 2 benda ( saling disentuhkan)
- Bahasa : sudah bisa menybutkan nama dan sudah bisa berceloteh
- Sosial : berespon terhadap orang yang baru dienal, dan sudah bia
tersenyum.

h. Riwayat Imunisasi:
- Hepatitis B, BCG, Polio saat lahir
- DPT dengan HB sudah 3 kali
- Polio (ditetes) sudah 3kali
- Campak (di paha) 1 kali

Pemeriksaan Fisik

- Keadaan umum : tampak lemah, hanya tertidur dan malas minum


- Kesadaran : somnolen

Tanda Vital

- Suhu : 37
- Nadi : 120 kpm
- Pernapasan : 20 kpm
- Spo2 : 98%

Status Antropometri

- Panjang badan : 84 cm
- Berat badan : 13,7 kg
- Berat Badan ideal : 12 kg

Status Generalis

Kepala

- Bentuk : Nomocephal, Ubun-ubun cekung (+)


- Mata : Cekung(+), konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)
- Hidung : Sekret (-), darah (-), PCH(-)
- Telinga : Sekret (-), serumen(-)
- Mulut : Mukosa mulut kering (+)
- Leher : pembesaran KGB (-)

Thorax

- Pulmo
Inspeksi : Pergerakan dinding thoraks kiri dan kanan
simetris, tidak ada bekas luka, tiak ada benjolan, retraksi ICS (-
)
Palpasi : Fremitus kanan dan kiri sulit dinilai
Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi: Suara nafas vesikuler diseluruh lapang paru kiri-
kanan. Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
- Cor
Inspeksi :Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Ictus kordis teraba di sic 4 lines midclvicularis
sinistra
Auskultasi: Bunyi jantug I dan II reuler, murmur (-), gallop (-)
- Abdomen
Inspeksi : supel, datar, retraksi epigastrium (-)
Auskutasi : Bising usus meningkat
Palpasi : nyeri padda epigastrium(-), turgor kulit
menurun>2 detik
Perkusi : timpani pada ke empat kuadran abdomen
- Ekstremitas:
Akral hangat, edema (-),

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

No Parameter Jumlah Satuan Nilai Rujukan


1. Leukosit 14.6 uL 4000-10000 /uL
2. Lymph# 2.5 uL 0.8-4.0
3. Mid# 0.6 uL 0.1-1.5
4. Gran# 11.5 uL 2.0-7.0
5. Lymph% 16.9 % 20.0-40.0
6. Mid% 4.3 % 3.0-15.0
7. Gran% 78.8 % 50.0-70.0
8. Eritrosit 5.70 uL 3,50-5,5 / uL
9. Hemoglobin 9.9 gr/dl 11,0-16,0 g/dl
10. Hematokrit 32.0 % 37-54%
11. MCV 56.2 femtoliter 80-100 fl
12. MCH 17.4 Pikograms 27-34 pg
13. MCHC 30.9 g/dl 32-36 g/dl
14. RDW-CV 20.8 % 11.0-16.0
15. RDW-SD 38.6 fL 35.0-58.0
16. Trombosit 633 uL 150.000-450.000/uL
17. MPV 7.6 fL 6.5-12
18. PDW 15.0 9.0-17.0
19. PCT 4.81 Ml/l 1.08-2.82
20. P-LCC 128 uL 30-90
21. P-LCR 20.2 % 11.0-45.0
RESUME:
An.F usia 1 tahun 11 bulan, mencret sejak siang hari sebelum masuk rumah sakit.
Mencret >3x/hari, Sebanyak setengah gelas belimbing tiap mencret, konsistensi
cair, Ampas (+) kuning, Lendir (-), Darah (-). Muntah(+) 10x SMRS, muntah
makanan dan cairan, demam (+) naik turun sejak mencret. Anak tampak lemah
dan malas menetek.

Diagnosa kerja

Diare akut dengan dehidrasi berat e.c Viral infection

Diagnosa Banding

Diare akut dengan dehidrasi berat e.c Bacterial Infection

Rencana diagnosis

Pemeriksaan darah dan elektrolit

Pemeriksaan feses

Rencana Penatalaksanaan

- infus Rl 100cc loading


- injeksi cefotaxim 3x 1/3 ampul
- injeksi ranitidin 2x1/3 ampul
- injeksi ondancenttron 3x 1/3 ampul
- neokalana sirup 3 x 1cth
- zinc 1x20 mg
- Diet makanan lunak

Prognosis

- Quo ad vitam : ad bonam


- Quo ad functionam: ad bonam
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DIARE AKUT PADA ANAK

2.1.Definisi
Diare akut adalah buang air besar lembek /cair bahkan dapat berupa air
saja yang frekuensinya lebih sering biasanya (biasanya dalam sehari 3 kali atau
lebih) dan berlangsung kurang dari 7 hari.

2.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, 20-35 juta kejadian diare terjadi setiap tahunnya. Di
dunia sebesar 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare, di mana sebagian
kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Penyakit diare adalah salah satu
penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di seluruh dunia, yang
menyebabkan 1 miliar kejadian sakit dan 3-5 juta kematian setiap tahunnya.
Di Indonesia dilaporkan bahwa setiap anak mengalami diare sebanyak 1-2
episode per tahun. Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia tahun 2002-
2003, prevalensi diare pada anak anak dengan usia kurang dari 5 tahun di
Indonesia adalah : laki-laki 10,8% dan perempuan 11,2%. Berdasarkan umur,
prevalensi tertinggi terjadi pada usia 6-11 bulan(19,4%), 12-23 bulan (14,8) dan
24-35 bulan (12,0).
Berdasarkan laporan WHO 2003, kematian akibat diare di negara
berkembang telah turun dari 4,6 juta tahun 1982 menjadi 2,5 juta kematian pada
tahun 2003. Di Indonesia angka kematian diare juga telah turun tajam dari 40%
tahun 1972 menjadi 24,9 pada tahun 1980, 10% tahun 1985 hingga 7,4 % tahun
1996 dari semua kasus kematian. Walaupun angka kematian karena diare telah
turun, angka kesakitan karena diare tetap tinggi baik di negara maju maupun di
negara berkembang.
Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja
di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering
menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam
waktu yang singkat.

2.3 Etiologi
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral (infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
penyebab utama diare)
Infeksi bakteri : vibrio, E. coli, salmondla, shigella, campylo
bacter,yersinia, aeromonas, dan sebagainya
Infeksi virus : enterovirus, adenovirus, rotavirus, astrovirus, daii
lain-lain
Infeksi parasit : cacing (ascaris), protozoa (entamoeba
histolytica,giardia lamblia, tricomonas hominis dan jamur (candida
albicans)
b. Infeksi parenteral (infeksi diluar alat pencernaan) seperti: OMA (Otitis
Media Akut), tonsilitis, tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis,
dan sebagainya (sering terjadi pada bayi dan umur dibawah 2 tahun)
2. Faktor Malabsorpsi
a. Malabsorbsi karbohidrat
Disakarida ; intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa
Monosakarida: intoleransi glukosa, fruktosadan galaktosa
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Makanan besi, beracun, alergi terhadap makanan
4. Lain-lain
a. Imunodefisiensi
b. Gangguan psikologis (cemas dan takut)
c. Faktor-faktor langsung:
KKP (Kurang Kalori Protein)
Kesehatan pribadi dan lingkungan
Sosioekonomi

2.4 Patofisiologi
Menurut patofisiologinya diare dibedakan dalam beberapa kategori yaitu
diare osmotik, sekretorik dan diare karena gangguan motilitas usus.
- Diare osmotik terjadi karena terdapatnya bahan yang tidak dapat
diabsorpsi oleh usus akan difermentasi oleh bakteri usus sehingga
tekanan osmotik di lumen usus meningkat yang akan menarik cairan.
- Diare sekretorik terjadi karena toxin dari bakteri akan menstimulasi
cAMP dan cGMP yang akan menstimulasi sekresi cairan dan
elektrolit.
- Diare karena gangguan motilitas usus terjadi akibat adanya
gangguan pada kontrol otonomik, misal pada diabetik neuropati,
postvagotomi, post reseksi usus serta hipertiroid.
Mekanisme primer yang menyebabkan diare akut adalah:
1. Rusaknya vili-vili di sekitar daerah brush boarder usus halus, yang
menyebabkan malabsorbsi yang menyebabkan diare karena gangguan
osmotik.
2. Kuman yang melepaskan toxin yang berikatan dengan enterosit reseptor yg
spesifik yang menyebabkan terlepasnya ion klorida kedalam membran
intestinal sehingga menyebabkan gangguan absorbsi sehingga menyebabkan
diare.
Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang masuk
melalui makanan dan minuman sampai ke enterosit, akan menyebabkan infeksi
dan kerusakan villi usus halus. Enterosit yang rusak diganti dengan yang baru
yang fungsinya belum matang, villi mengalami atropi dan tidak dapat
mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik, akan meningkatkan tekanan
koloid osmotik usus dan meningkatkan motilitasnya sehingga timbul diare.
Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang
berhubungan dengan pengaturan transpor ion dalam sel-sel usus cAMP, cGMP,
dan Ca dependen. Patogenesis terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E coli
agak berbeda dengan patogenesis diare oleh virus, tetapi prinsipnya hampir sama.
Bedanya bekteri ini dapat menembus (invasi) sel mukosa usus halus sehingga
depat menyebakan reaksi sistemik.Toksin shigella juga dapat masuk ke dalam
serabut saraf otak sehingga menimbulkan kejang. Diare oleh kedua bakteri ini
dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja yang disebut disentri.

2.5 Manifestasi kinis


Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan
berkurang kemudian timbul diare. Tinja mungkin disertai lendir dan darah. Warna
tinja makin lama berubah kehijauan karena bercampur dengan, daerah anus dan
sekitarnya timbul luka lecet karena sering defekasi dan tinja yang asam akibat
laktosa yang tidak diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul
sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang
atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
Bila kehilangan cairan terus berlangsung tanpa pergantian yang memadai
gejala dehidrasi mulai tampak yaitu : BB turun, turgor kulit berkurang, mata dan
ubun-ubun cekung (bayi), selaput lender bibir dan mulut, serta kulit kering. Bila
keadaan ini terus berlanjut, akan terjadi renjatan hypovolemik dengan gejala
takikardi, denyut jantung menjadi cepat, nadi lemah dan tidak teraba, tekanan
daran turun, pasien tampak lemah dan kesadaran menurun, karena kurang cairan,
deuresis berkurang (oliguria-anuria). Bila terjadi asidosis metabolik pasien akan
tampak pucat, nafas cepat dan dalam (pernafasan kusmaul).

2.6. Komplikasi Diare


Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
1. Kehilangan cairan (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena output air lebih banyak dari pada input air.
Klasifikasi tingkat dehidrasi anak dengan diare yaitu :
Penilaian Dehidrasi Menurut MTBS
Terdapat dua atau lebih dari tanda-
tanda berikut ini:
Letargis atau tidak sadar DEHIDRASI BERAT
Mata cekung
Tidak bisa minum atau malas
minum
Cubitan kulit perut kembalinya
sangat lambat
Terdapat dua atau lebih dari tanda-
tanda berikut ini: DEHIDRASI
Gelisah, rewel/mudah masalah RINGAN/SEDANG
Mata cekung
Cubitan kulit perut kembalinya
lambat
Tidak cukup tanda-tanda untuk
diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat TANPA DEHIDRASI
atau ringan/sedang
Kriteria Dehidrasi menurut WHO 2000

2. Gangguan keseimbangan asam-basa (metabolik asidosis)


Metabolik asidosis terjadi karena :
a. Kehilangan Na-bikarbonat bersama feses
b. Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak yang tidak sempurna
sehingga benda keton tertimbun dalam tubuh.
c. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan.
d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak
dapat dikeluarkan oleh ginjal.
e. Pemindahan ion Na dari cairan ekstraselular ke dalam cairan
intraselular.
Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernapasan,
pernapasan bersifat cepat, teratur dan dalam yang disebut pernapasan kuszmaull.
Pernapasan ini merupakan homeostasis respiratorik yaitu usaha dari tubuh untuk
mempertahankan pH darah.
3. Hipoglikemia
Pada anak-anak dengan gizi baik/cukup, hipoglikemia ini jarang terjadi,
lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita KEP. Hal ini
terjadi karena :
a. Penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu
b. Adanya gangguan absorbsi glukosa.
Gejala hipoglikemia dapat muncul jika kadar glukosa darah menurun
sampai 40 mg% pada bayi dan 50 mg% pada anak-anak. Gejala hipoglikemia
tersebut berupa: lemas, apatis, peka rangsang, tremor, pucat, berkeringat, syok,
kejang sampai koma.

4. Gangguan gizi
Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat
terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena
:
a. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare dan/atau
muntahnya akan bertambah berat.
b. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengenceran.
c. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi
dengan baik karena adanya hiperperistaltik.

5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan
sirkulasi darah berupa rejatan (shock) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan
berkurang dan terjadi hipoksia dan asidosis bertambah berat. Kemudian dapat
mengakibatkan perdarahan di otak yang menimbulkan turunnya kesadaran
(soporokomatusa) dan bila tidak segera ditangani penderita dapat meninggal.

2.7. Kriteria Diagnosis


a. Anamnesis
Lama diare berlangsung, frekuensi diare dalam sehari, warna dan
konsistensi tinja, lendir dan atau darah dalam tinja
Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buang air
kecil terakhir, demam, sesak, kejang, kembung
Jumlah cairan yang masuk selama diare
Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare,
mengonsumsi makanan yang tidak biasa
Penderita diare disekitarnya dan sumber air minum

b. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum, kesadaran, dan tanda vital
Tanda utama: keadaan umum gelisah/cengeng atau
lemah/letargi/koma, rasa haus, turgor kulit abdomen menurun
Tanda tambahan: ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa
bibir, mulu, dan lidah
Berat badan
Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti napas
cepat dan dalam (asidosos metabolik), kembung (hipokalemia), kejang
(hipo atau hipernatremia)
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai kriteria berikut:
Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan < 5% berat badan)
Tidak ditemukan tanda utama dan tandda tambahan
Keadaan umum baik, sadar
Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada,
mukosa mulut dan bibir basah
Turgor abdomen baik, bising usus normal
Akral hangat

Dehidrasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)


Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda
tambahan
Keadaan umum gelisah atau cengeng
Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata
kurang, mukosa mulut dan bibir sedikit kering
Turgor kurang, akral hangat
Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)
Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah dengan 2 atau lebih
tanda tambahan
Keadaan umum lemah, letargi, atau koma
Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak
ada, mukosa mulut dan bibir sangat kering
Turgor sangat kurang dan akral dingin

c. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya
tidak diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan
misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain
selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat. Contoh :
pemeriksaan darah lengkap, kultur urine dan tinja pada sepsis atau infeksi
saluran kemih. Pemeriksaan laboratorium yang kadang-kadang diperlukan
pada saat diare akut :
Darah: darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah,
kultur dan kepekaan terhadap antibiotika.
Feses :
PH asam diare osmotic
Leukosit > 5 / LPB disentri
Hal yang dinilai pada pemeriksaan feses:
- Makroskopis : konsistensi, warna, lendir, darah, bau
- Mikroskopis : leukosit, eritrosit, parasit, bakteri
Bentuk klinis diare berdasarkan penyebabnya :

2.8. Pengobatan Diare


Prinsip penatalaksanaan penderita diare adalah:
a. Mencegah terjadinya dehidrasi
Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah dehidrasi.
Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan
memberikan minum lebih banyak dengan rumah tangga yang dianjurkan,
seperti air tajun, kuah sayur, air sup, air teh. Bila tidak memberikan cairan
rumah tangga yang dianjurkan, berikan air matang. Jangan diberikan cairan
yang osmolaritasnya tinggi, yaitu yang terlalu manis sepeti soft drink.
b. Mengobati dehidrasi
Bila terjadi dehidrasi terutama pada anak balita, penderit harus segera
dibawa ke petugas kesehatan atau sarana kesehatan untuk mendapatkan
pengobatan yang cepat dan tepat, yaitu dengan oralit. Bila terjadi dehidrasi
berat, penderita harus segera diberikan cairan intravena dengan Ringer Laktat
sebelum dilanjutkan terapi oral.
c. Pemberian ASI / makanan
Pemberian ASI / makanan selama serangan diare bertujuan untuk
memberikan gizi pada penderita terutama bertujuan agar anak tetap kuat dan
tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan.

d. Pemberian Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Lebih
dari 90 macam enzim dalam tubuh memerlukan zinc sebagai kofaktornya,
termasuk enzim superoksida dismutase (Linder,1999). Enzim ini berfungsi
untuk metabolisme radikal bebas superoksida sehingga kadar radikal bebas
ini dalam tubuh berkurang. Pada proses inflamasi, kadar radikal bebas
superoksida meningkat, sehingga dapat merusak berbagai jenis jaringan
termasuk jaringan epitel dalam usus (Cousins et al, 2006).
Zinc yang ada dalam tubuh akan hilang dalam jumlah besar pada saat
seorang anak menderita diare. Dengan demikian sangat diperlukan pengganti
zinc yang hilang dalam proses kesembuhan seorang anak dan untuk menjaga
kesehatannya di bulan-bulan mendatang.
Mulai tahun 2004, WHO-UNICEF merekomendasikan suplemen Zinc untuk
terapi diare karena suplementasi zinc telah terbukti menurunkan jumlah hari
lamanya seorang anak menderita sakit, menurunkan tingkat keparahan
penyakit tersebut, serta menurunkan kemungkinan anak kembali mengalami
diare 2-3 bulan berikutnya.
Banyak uji klinik yang melaporkan bahwa suplemen Zinc sangat bermanfaat
untuk membantu penyembuhan diare. Zinc sebaiknya diberikan sampai 10-14
11
hari, walaupun diarenya sudah sembuh. Sayangnya suplemen Zinc ini
belum banyak beredar di apotek di Indonesia. Di beberapa RS besar di
Indonesia telah menggunakan suplemen Zinc dalam bentuk suspensi untuk
penatalaksanaan diare akut.
Adapun cara pemberian Tablet Zinc yaitu :
Untuk bayi usia di bawah 6 bulan berikan setengah tablet zinc (10mg)
sekali sehari selama sepuluh hari berturut-turut.
Untuk anak usia 6 bulan ke atas berikan satu tablet zinc (20 mg) sekali
sehari selama sepuluh hari berturut-turut.
Larutkan tablet tersebut dengan sedikit (beberapa tetes)air matang atau
ASI dalam sendok teh.
Jangan mencampur tablet zinc dengan oralit
Tablet harus diberikan selama sepuluh hari penuh (walaupun diare telah
berhenti sebelum 10 hari)
Apabila anak muntah sekitar setelah jam setelah pemberian tablet zinc,
berikan lagi tablet zinc dengan cara memberikan potongan lebih kecil dan
berikan beberapa kali hingga satu dosis penuh.
Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus,tetap
berikan tablet zinc segera setelah anak dapat minum atau makan.

e. Pemberian Probiotik
Probiotik adalah suatu suplemen makanan, yang mengandung bakteri atau
jamur yang tumbuh sebagai flora normal dalam saluran pencernaan manusia,
yang bila diberikan sesuai indikasi dan dalam jumlah adekuat diharapkan
dapat memberikan keuntungan bagi kesehatan dengan cara meningkatkan
kolonisasi bakteri probiotik didalam lumen saluran cerna sehingga seluruh
epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui reseptor
dalam sel epitel usus. Dengan mencermati penomena tersebut bakteri
probiotik dapat dipakai dengan cara untuk pencegahan dan pengobatan diare
baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain,
speudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena
pemakaian antibiotika yang tidak rasional (antibiotik asociated diarrhea ) dan
travellerss diarrhea.
Terdapat banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana
diare akut pada anak. Hasil meta analisa Van Niel dkk menyatakan
lactobacillus aman dan efektif dalam pengobatan diare akut infeksi pada anak,
menurunkan lamanya diare kira-kira 2/3 lamanya diare, dan menurunkan
frekuensi diare pada hari ke dua pemberian sebanyak 1-2 kali. Kemungkinan
mekanisme efekprobiotik dalam pengobatan diare adalah : Perubahan
lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan anti mikroba terhadap
beberapa patogen, kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen pada
anterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin, efektrofik pada mukosa usus
dan imunno modulasi.
Terdapat berbagai macam jenis probiotik yang hingga saat ini sering
digunakan sebagai suplemen. Golongan yang paling banyak digunakan
adalah Lactic Acid Bacteria (LAB). Golongan LAB dapat mengubah gula dan
karbohidrat menjadi asam laktat, yang berfungsi menurunkan kadar pH
saluran gastrointestinal, sehingga menghambat pertumbuhan bakteri patogen.
Contoh strain golongan LAB adalah Lactobacillus dan Bifidobacterium.
Sejak dipublikasikan pertama kali oleh seorang peneliti Rusia, Eli
Metchnikoff, pada awal abad 20, penelitian tentang probiotik hingga saat ini
banyak dilakukan untuk menguji kemanfaatannya pada populasi anak.
Produk komersial yang mengandung probiotik sebagai suplemen banyak
tersedia di pasaran. Kemanfaatan probiotik terutama banyak dilihat dari aspek
pencegahan dan terapi penyakit, terutama penyakit alergi dan infeksi.
Penggunaan probiotik untuk diare pada anak merupakan fokus studi yang
paling banyak dilakukan dalam penilaian kemanfaatan probiotik. Secara
teoritis, probiotik dapat mengurangi keparahan diare melalui efek kompetisi
dengan patogen, imunomodulator, meningkatkan sekresi IgA mukosa usus,
dan mengurangi kejadian intoleransi laktosa.
Pemberian probiotik terlihat bermanfaat dalam tatalaksana diare akut. Meta-
analisis yang dilakukan oleh Szajewska et al menunjukkan bahwa pemberian
suplemen Lactobacillus mengurangi durasi diare akut sehari lebih cepat
dibandingkan plasebo (95% CI) dengan level of evidence 1a. Efektivitasnya
terutama lebih baik pada mereka dengan etiologi rotavirus, yang merupakan
penyebab terbanyak diare akut pada anak.
f. Pemberian Antibiotik
Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan
antibiotika oleh karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting).
Antibiotik hanya diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya
kholera shigella, karena penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus
(Rotavirus). Kecuali pada bayi berusia di bawah 2 bulan karena potensi
terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi kedalam
sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan secara klinis gajala yang
berat serta berulang atau menunjukkan gejala diare dengan darah dan lendir
yang jelas atau segala sepsis. Anti motilitis seperti difenosilat dan loperamid
dapat menimbulkan paralisis obstruksi sehingga terjadi bacterial overgrowth,
gangguan absorpsi dan sirkulasi.
Beberapa antimikroba yang sering dipakai antara lain:
Kolera : Tetrasiklin 12,5mg/kgBB/ dibagi 3 dosis (3 hari) atau
Erytromycin 12,5 mg/kgBB 4x sehari selama 3 hari
Shigella : Ciprofloxacin 15 mg/kgBB 2x sehari selama 3 hari atau
Ceftriaxone 50-100 mg/kgBB 1x sehari IM selama 2-5 hari.
Amebiasis : Metronidasol 10mg/kg/ 3x sehari selama 5 hari (10 hari pada
kasus berat), Untuk kasus berat : Dehidro emetin hidrokhlorida 1-1,5
mg/kg (maks 90mg)(im) s/d 5 hari tergantung reaksi (untuk semua umur)
Giardiasis : Metronidazole 5mg/kgBB 3x sehari selama 5 hari.

g. Mengobati masalah lain


Obat-obatan anti diare dan anti muntah tidak boleh diberikan pada anak
dengan diare. Anti diare tidak dianjurkan karena belum adanya bukti mengenai
diare yang berdaya guna, sehingga penggunaan anti diare hanya menimbulkan
beban biaya.

h. Pemberian nasehat
Pemberian nasehat kepada orang tua anak (pengasuh) untuk segera membawa
anaknya kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau
menderita sebagai berikut:
Buang air besar cair lebih sering
Muntah berulang-ulang
Rasa haus yang nyata
Makan atau minum sedikit
Demam
Tinja berdarah

DIARE TANPA DEHIDRASI


- Cairan rehidrasi oralit diberikan 5-10 mL/kgBB setiap diare cair atau
berdasarkan usia, yaitu umur < 1 tahun sebanyak 50-100 ml, umur 1-5
tahun sebanyak 100-200 ml, dan umur di atas 5 tahun semaunya.
Dapat diberikan cairan rumah tangga sesuai kemauan anak. ASI harus
tetap diberikan.
- Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi lain
(tidak mau minum, muntah terus menerus, diare frekuen dan profus)

DIARE DENGAN DEHIDRASI RINGAN SEDANG


- Cairan rehidrasi oral (CRO) hipoosmolar deberikan sebanyak 75
ml/kgBB dalam 3 jam untuk mengganti kehilangan cairan yang telah
terjadi dan sebanyak 5-10 ml/kgBB setiap diare cair
- Rehidrasi parenteral (intravena) diberikan bila anak muntah setiap
diberi minum walaupun telah diberikan dengan cara sedikit demi
sedikit atau melalui pipa nasogastrik. Cairan intravena yang diberikan
adalah ringer laktat atau KaEN 3B atau NaCl dengan jumlah cairan
dihitung berdasarkan berat badan. Status hidrasi dievaluasi secara
berkala.
- Berat badan 3-10 kg: 200 ml/kgBB/hari
- Berat badan 10-15 kg: 175 ml/kgBB/hari
- Berat badan > 15 kg: 135 ml/kgBB/hari
- Pasien dipantau selama proses rehidrasi sambil memberikan edukasi
kepada orangtua

DIARE DENGAN DEHIDRASI BERAT


- Diberikan cairan rehidrasi parenteral dengan ringer laktat atau ringer
asetat 100 ml/kgBB, dengan cara pemberian:
- Umur kurang dari 12 bulan: 30 ml/kgBB dalam 1 jam pertama,
dilanjutkan70 ml/kgBB dalam 5 jam berikutnya
- Umur di atas 12 bulan: 30 ml/kgBB dalam jam pertama, dilanjutkan
70 ml/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya
- Masukan cairan peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat
minum dimulai dengan 5 ml/kgBB selama proses rehidrasi

Rencana Terapi A : Terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan


malnutrisi
Anak-anak tanpa tanda-tanda dehidrasi memerlukan tambahan cairan dan
garam untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare. Jika ini tidak
diberikan, tanda-tanda dehidrasi dapat terjadi. (1)
Ibu harus diajarkan cara untuk mencegah dehidrasi di rumah dengan
memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya, bagaimana mencegah
kekurangan gizi dengan terus memberi makan anak, dan mengapa tindakan-
tindakan ini penting. Mereka harus juga tahu apa tanda-tanda menunjukkan bahwa
anak harus dibawa ke petugas kesehatan. Langkah-langkah tersebut dirangkum
dalam empat aturan Rencana Terapi A.
Aturan 1 : Memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya, untuk
mencegah dehidrasi
Cairan yang diberikan adalah cairan yang mengandung garam (oralit),
dapat juga diberikan air bersih yang matang.
Komposisi larutan oralit baru :
Natrium klorida 2,6 gram/liter
Glukosa 13,5 gram/liter
Kalium klorida 1,5 gram/liter
Trisodium sitrat 2,9 gram/liter
Komposisi larutan oralit lama :
Natrium klorida 3,5 gram/liter
Glukosa 20 gram/liter
Kalium klorida 1,5 gram/liter
Trisodium sitrat 2,55 gram/liter
Dengan menurunkan osmolaritas dengan mengurangi konsentrasi glukosa
dan garam (NaCl) dimaksudkan untuk menghindari hipertonisitas cairan selama
absorpsi cairan oralit.
Cairan yang mengandung garam, seperti oralit, minuman asin (seperti
minuman youghert), atau sayuran dan sup ayam dengan garam. Ajari ibu untuk
memasukan garam (kurang lebih 3g/L) pada minuman yang tidak bergaram
(seperti air matang, air teh, jus buah-buahan yang tidak diberi gula) atau sup
selama diare.
Larutan oralit yang dapat dibuat dirumah mengandung 3g/L garam dapur
(1 sendok teh penuh garam) dan 18g/L dari gula dapur (sukrosa) sangat efektif
namun tidak dianjurkan karena seringkali lupa resepnya.
Minuman yang tidak boleh diberikan ialah minuman bersoda, teh manis,
jus buah-buahan yang manis. Minuman tersebut dapat menyebabkan diare
osmotik dan hipernatremia. Sedangkan kopi tidak boleh diberikan karena bersifat
diuretik.
Umur (tahun) Jumlah Cairan Yang Harus
Diberikan
<> 50-100 ml cairan
2-10 100-200 ml
> 10 > 200 atau sebanyak yang mereka mau

Aturan 2 : Berikan tambahan zinc (10 - 20 mg) untuk anak, setiap hari
selama 10 14 hari
Zinc dapat diberikan sebagai sirup atau tablet, dimana formulasinya
tersedia dan terjangkau. Dengan memberikan zinc segera setelah mulai diare,
durasi dan tingkat keparahan episode serta risiko dehidrasi akan berkurang.
Dengan pemberian zinc selama 10 sampai 14 hari, zinc yang hilang selama diare
diganti sepenuhnya dan risiko anak memiliki episode baru diare dalam 2 sampai 3
bulan ke depan dapat berkurang. (1)
Pada pedoman penatalaksanaan diare sebelumnya tidak ada anjuran untuk
memberikan zinc, namun pada pedoman penatalaksanaan diare WHO 2005 ada
anjuran seperti ini.
Aturan 3 yaitu berikan anak makanan untuk mencegah kurang gizi
Diet bayi yang biasanya harus dilanjutkan selama diare dan ditingkatkan
setelahnya. Makanan tidak boleh ditahan dan makanan anak yang biasa tidak
boleh diencerkan. pemberian ASI harus dilanjutkan. Tujuannya adalah untuk
memberikan makanan yang kaya nutrisipada anak. Sebagian besar anak-anak
dengan diare cair mendapatkan kembali nafsu makan mereka setelah dehidrasi
diperbaiki, sedangkan orang-orang dengan diare berdarah seringkali nafsu makan
tetap buruk sampai penyakitnya sembuh. Anak-anak ini harus didorong untuk
mau makan secara normal sesegera mungkin.
Ketika makanan diberikan, gizi yang cukup biasanya diserap untuk
mendukung pertumbuhan dan pertambahan berat badan. Makan juga
mempercepat pemulihan fungsi usus normal, termasuk kemampuan untuk
mencerna dan menyerap berbagai nutrisi. Sebaliknya, pada anak-anak yang
dibatasi makannya dan makanan yang diencerkan dapat menurunkan berat badan,
menyebabkan diare lebih lama dan lebih lambat memulihkan fungsi usus.
Secara umum, makanan yang sesuai untuk anak dengan diare adalah sama
dengan yang diperlukan oleh anak-anak yang sehat.
o Bayi segala usia yang menyusui harus tetap diberi kesempatan untuk menyusui
sesering dan selama mereka inginkan. Bayi sering menyusui lebih dari
biasanya dan ini harus didukung.
o Bayi yang tidak disusui harus diberikan susu biasa mereka makan (atau susu
formula) sekurang-kurangnya setiap tiga jam, jika mungkin dengan cangkir.
o Bayi di bawah usia 6 bulan yang diberi makan ASI dan makanan lain harus
diberikan ASI lebih banyak. Setelah anak tersebut sembuh dan meningkatnya
pasokan ASI, makanan lain harus diturunkan.
Jika anak usia minimal 6 bulan atau sudah diberikan makanan lunak, ia
harus diberi sereal, sayuran dan makanan lain, selain susu. Jika anak di atas 6
bulan dan makanan tersebut belum diberikan, maka harus dimulai selama episode
diare atau segera setelah diare berhenti. Daging, ikan atau telur harus diberikan,
jika tersedia. Makanan kaya akan kalium, seperti pisang, air kelapa hijau dan jus
buah segar akan bermanfaat.
Berikan anak makanan setiap tiga atau empat jam (enam kali sehari).
Makan porsi kecil yang Sering, lebih baik daripada makan banyak tetapi lebih
jarang. Setelah diare berhenti, dapat terus memberi makanan dengan energi yang
sama dan membrikan satu lagi makan tambahan daripada biasanya setiap hari
selama setidaknya dua minggu. Jika anak kekurangan gizi, makanan tambahan
harus diberikan sampai anak telah kembali berat badan normal-untuk-height.
Aturan 4 Bawa anak ke petugas kesehatan jika ada tanda-tanda dehidrasi
atau masalah lainnya
Ibu harus membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak:
Buang air besar cair sering terjadi
Muntah berulang-ulang
Sangat haus
Makan atau minum sedikit
Demam
Tinja Berdarah
Anak tidak membaik dalam tiga hari.
Pedoman diare yang sebelumnya hanya mempunyai 3 aturan saja. Namun
WHO 2005 menambahkan pemberian zinc pada rencana terapi A ini.

Rencana Terapi B: Terapi rehidrasi oral untuk anak-anak dengan dehidrasi


ringan-sedang
Jika berat badan anak diketahui maka hal ini harus digunakan untuk
menentukan jumlah larutan yang tepat. Jumlah larutan ditentukan dari berat badan
(Kg) dikalikan 75 ml. Jika berat badan anak tidak diketahui maka penentuan
jumlah cairan ditentukan berdasarkan usia anak. Seperti yang terlihat pada tabel
2.5.
Jumlah Cairan yang Harus Diberikan Dalam 4 Jam Pertama
Usiaa <> 4 11 12 23 24 5 14 > 15
bulan bulan tahun tahun tahun
Berat <> 57.9 kg 8-10.9 kg 11- 16- > 30 kg
Badan 15.9kg 29.9kg
Jumlah 200-400 400-600 600-800 800-1200 1200- 2200-
(ml) 2200 4000
a
Digunakan apabila tidak diketahui berat badan pasien
Tabel 2.5 Pedoman Pengobatan Dehidrasi Pada Anak dan Dewasa dengan
Dehidrasi Sedang
Jika pasien menginginkan lebih banyak oralit, maka dapat diberikan.
Dorong ibu untuk terus menyusui anaknya.
Untuk bayi di bawah 6 bulan yang tidak menyusui, jika menggunakan larutan
oralit WHO yang lama yang mengandung 90 mmol / L natrium, juga memberi
100-200ml air bersih selama periode ini. Namun, jika menggunakan larutan
oralit osmolaritas rendah yang baru mengandung 75mmol / L natrium, hal ini
tidak perlu menambah air bersih.
Edema (bengkak) kelopak mata adalah tanda dari over-hidrasi. Jika hal ini
terjadi, hentikan penggunaan oralit, tapi dapat diberi ASI atau air putih, dan
makanan. Jangan beri diuretik. Bila edema telah hilang, lanjutkan pemberian
oralit atau cairan rumah sesuai dengan Rencana Terapi A.
Keluaraga harus diajarkan cara memberikan larutan oralit. Larutan dapat
diberikan pada anak-anak menggunakan sendok atau cangkir. Botol minum tidak
boleh digunakan. Untuk bayi dapat digunakan pipet atau syringe. Untuk anak
<>(1)
Jika tanda-tanda dehidrasi parah telah muncul, terapi intravena (IV) harus
dimulai sesuai Rencana Terapi C.
Jika anak masih memiliki tanda-tanda yang menunjukkan dehidrasi
beberapa, teruskan terapi rehidrasi oral dengan mengulangi Rencana Terapi B.
Pada saat yang sama dimulai pemberian makanan, susu dan cairan lain, seperti
yang dijelaskan dalam Rencana Terapi A, dan terus menilai kembali anak.
Jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi, harus dipertimbangkan rehidrasi telah
lengkap. Bila rehidrasi adalah lengkap:
Turgor kulit normal
Tidak haus
Urin
Anak menjadi tenang, tidak lagi mudah marah dan seringkali tertidur.
Ajarkan ibu cara untuk merawat anaknya di rumah dengan larutan oralit
dan makanan seperti pada Rencana Terapi A.
Dengan larutan oralit yang sebelumnya, tanda dehidrasi dapat menetap
atau muncul kembali selama pemberian oralit pada 5% anak-anak. Namun dengan
larutan oralit osmolaritas rendah yang baru, diperkirakan kegagalan pengobatan
sebelumnya dapat berkurang menjadi 3%, atau kurang.
Penyebab kegagalan tersering ialah:
Intake larutan oralit yang kurang (lebih dari 15-20 ml/kg/jam), seperti yang terjadi
pada beberapa anak-anak dengan kolera
Tidak cukup asupan larutan oralit karena kelelahan atau kelesuan
Sering terjadi muntah-muntah yang parah.
Anak-anak tersebut harus diberikan larutan oralit dengan selang
nasogastric (NG) atau larutan Ringer laktat intravena (IV) (75 ml/kg/4jam),
biasanya dilakukan di rumah sakit.
Mulailah untuk memberikan tambahan zinc, seperti dalam Rencana terapi
A, segera setelah anak dapat makan setelah 4 jam pertama periode rehidrasi.
Kecuali untuk ASI, makanan tidak boleh diberikan selama empat jam
pertama periode rehidrasi. Namun, anak-anak yang terus dalam Rencana Terapi B
lebih dari empat jam harus diberikan makanan setiap 3-4 jam seperti yang
dijelaskan dalam Rencana terapi A. Semua anak yang lebih tua dari 6 bulan harus
diberikan makanan sebelum pulang. Ini membantu untuk menekankan kepada
para ibu pentingnya terus makan selama diare.
Perbedaan dari rencana terapi B antara WHO tahun 2005 dan Depkes RI
1999 ialah adanya penambahan zinc pada terapi diare menurut WHO 2005 dan
adanya perbedaan untuk menentukan jumlah cairan rehidrasi yang ditentukan
berdasarkan usia. Pedoman yang dipakai Depkes RI 1999 ialah :

Rencana Terapi C : untuk Pasien dengan Dehidrasi Berat


Pengobatan bagi anak-anak dengan dehidrasi berat adalah rehidrasi
intravena cepat, mengikuti Rencana Terapi C. Jika mungkin, anak harus dirawat
di rumah sakit. Panduan untuk rehidrasi intravena diberikan dalam tabel 2.7.
Anak-anak yang masih dapat minum, walaupun buruk, harus diberikan
oralit secara peroral sampai infus berjalan. Selain itu, ketika anak dapat minum
tanpa kesulitan, semua anak harus mulai menerima larutan oralit (sekitar 5
ml/kg/jam), yang biasanya dalam waktu 3-4 jam (untuk bayi) atau 1-2 jam (untuk
pasien yang lebih tua). Ini memberikan tambahan dasar dan potasium, yang
mungkin tidak dapat secara memadai disediakan oleh cairan infus.
Mulai diberi cairan i.v segera. Bila pasien dapat minum berikan oralit
sampai cairan i.v dimulai. Berikan 100 ml/Kg cairan Ringer Laktat (atau cairan
normal salin bila ringer laktat tidak tersedia) yang dibagi sebagai berikut:
Tabel 2.7 Jumlah pemberian cairan secara intravena pada pasien dehidrasi berat(1)
Diulangi lagi bila denyut nadi masih lemah atau tidak teraba.
Nilai kembali penderita tiap 1-2 jam .Bila rehidrasi belum tercapai
pencepat tetesan intravena. Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi
penderita mengunakan Tabel Pernilaian Kemudian pilihlah rencana terapi yang
sesuai (A,B atau C ) untuk melanjutkan terapi.
Pasien harus dinilai ulang setiap 15-30 menit sampai denyut a. radialis
teraba kuat. Setelah itu, pasien harus dinilai ulang setidaknya setiap 1 (satu) jam
untuk memastikan bahwa hidrasi membaik. Jika tidak, maka infus harus diberikan
lebih cepat.
Lihat dan rasakan untuk semua tanda-tanda dehidrasi:
o Jika tanda-tanda dehidrasi berat masih ada, ulangi infus cairan IV seperti yang
diuraikan dalam Rencana terapi C.
o Jika anak membaik (dapat minum), tetapi masih menunjukkan tanda-tanda dari
dehidrasi sedang, hentikan infus IV dan berikan larutan oralit selama empat
jam, sebagaimana ditetapkan dalam Rencana terapi B.
o Jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi, ikuti Rencana terapi A. Ingatlah bahwa anak
membutuhkan terapi dengan larutan oralit sampai diare berhenti.
Jika fasilitas terapi IV tidak tersedia, tetapi dapat diberikan dalam jangka
waktu dekat (yaitu dalam waktu 30 menit), kirimlah anak untuk pengobatan IV
segera. Jika anak dapat minum, berikan ibu beberapa larutan oralit dan tunjukkan
kepadanya cara untuk memberikannya kepada anaknya selama perjalanan.
Jika terapi IV tidak tersedia di dekatnya, petugas kesehatan yang telah
dilatih dapat memberikan larutan oralit menggunakan selang Naso Gastrik,
dengan kecepatan 20 ml/kg BB /jam selama 6 (enam) jam (total 120 ml/kg BB).
Jika perut menjadi bengkak, larutan oralit harus diberikan perlahan-lahan sampai
menjadi kurang buncit.
Jika tidak bisa menggunakan selang NGT namun anak dapat minum,
larutan oralit harus diberikan melalui mulut dengan kecepatan 20 ml/kg BB/jam
selama 6 (enam) jam (total 120 ml / kg berat badan). Jika terlalu cepat, anak dapat
muntah berulang. Jika terjadi hal ini, maka memberikan larutan oralit secara lebih
lambat sampai muntah mereda.
Anak-anak menerima terapi NGT atau per oral harus dinilai ulang paling
sedikit setiap jam. Jika tanda-tanda dehidrasi tidak membaik setelah tiga jam,
anak harus segera dibawa ke fasilitas terdekat di mana terapi IV tersedia.
Kalau tidak, jika rehidrasi maju memuaskan, anak harus dinilai ulang
setelah enam jam dan keputusan pada perawatan lebih lanjut dibuat seperti yang
dijelaskan di atas untuk terapi IV yang diberikan.
Jika tidak ada fasilitas NGT dan tidak dapat dilakukan secara peroral, anak
harus segera dibawa ke fasilitas terdekat di mana terapi IV atau NGT tersedia.
Pada rencana terapi C tidak ada perbedaan antara WHO 2005 dengan
pedoman penatalaksanaan diare di Indonesia saat ini.

2.9. Tatalaksana Nutrisi Pada Diare


Ibu perlu dibimbing tentang cara pemberian makanan yang baik pada
anak, mengajari pentingnya meneruskan pemberian makanan penuh selama diare
dan membantu usaha mereka untuk mengikuti anjuran ini. Empat kunci utama
tatalaksana gizi diare yang benar:
Menilai status gizi
Memberi makanan yang tepat pada saat episode diare
Memberi makanan yang tepat pada waktu penyembuhan dengan tindak
lanjutnya.
Komunikasi yang efektif tentang anjuran diet kepada ibu.
Pemberian ASI selama diare tidak boleh di kurangi atau di hentikan tetapi
diperbolehkan sesering atau selama anak menginginkannya. ASI harus di berikan
untuk menambah larutan oralit. Susu sapi atau formula yang biasa di terima bila
timbul dehidrasi maka pemberian susu harus di hentikan selama rehidrasi untuk
4-6 jam dan kemudian dilanjutkan lagi. Makanan lunak bila anak berumur 4 bulan
atau lebih sudah bisa menerima makanan lunak, makanan ini harus di teruskan.
Bayi umur 6 bulan atau lebih
harus mulai di berikan makanan lunak bila belum pernah di beri. Bila
timbul dehidrasi makanan ini harus di hentikan 4 6 jan untuk rehidrasi untuk
kemudian di lanjutkan lagi. Paling tidak separuh makanan diet harus berasal dari
makanan porsi kecil tetapi sering (6 kali atau lebih) dan mereka harus di bujuk
untuk makan.
Banyak literatur yang menyebutkan bahwa probiotik memberikan
kebaikan dalam penanganan diare akut pada bayi. Probiotik dengan pemberian
dua kali sehari selama 5 hari dipercaya terbukti memberikan kebaikan dalam
mengurangi frekuensi, serta durasi penyakit diare. Probiotik dipercaya dapat
mengurangi lama waktu kesakitan, dengan meningkatkan respon imun,
memperbaiki mukosa usus, sebagai substansi penting dalam antimikroba dan
menyeimbangan jumlah mikroba diusus. Angka penguranga dari frekuensi
defekasi secara drastis dalam <3 hari terdapat pada kelompok yang memeperoleh
probiotik dengan kelompok kontrol. Konsistensi faeces yang lebih padat dan
durasi yang lebih pendek pada kelompok probiotik. Rata-rata lama durasi diare
juga mengalami hasil yang signifikan pada kelompok probiotik.

2.10. Pencegahan Diare


Penatalaksanaan kasus yang benar, yang terdiri dari upaya rehidrasi oral
dan pemberian makanan dapat mengurangi efek buruk diare yang meliputi
dehidrasi, kekurangan gizi dan resiko kematian. Cara-cara lain juga dibutuhkan,
untuk mengurangi insidensi diare, yaitu intervensi yang selain mengurangi
penyebaran mikroorganisme penyebab diare juga meningkatkan resistensi anak
terhadap infeksi kuman ini.
Sejumlah intervensi telah diusulkan untuk mencegah diare pada anak,
kebanyakan meliputi cara yang berhubungan dengan cara pemberian makanan
kepada bayi, kebersihan perseorangan, kebersihan makanan, penyediaan air
bersih, pembuangan tinja yang aman dan imunisasi. Ada 7 cara diidentifikasi
sebagai sasaran untuk promosi, yaitu:
1. Pemberian ASI
2. Perbaikan makanan pendamping ASI
3. Penggunaan air bersih untuk kebersihan dan untuk minum
4. Cuci tangan
5. Penggunaan jamban
6. Pembuangan tinja bayi yang aman
7. Imunisasi campak.

Penderita yang dirawat inap harus ditempatkan pada tindakan pencegahan


enterik, termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita,
penggunaan jas panjang bila ada kemungkinan pencemaran dan sarung tangan bila
menyentuh bahan yang terinfeksi. Penderita dan keluarganya harus dididik
mengenai cara penularan enteropatogen dan cara-cara mengurangi penularan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman, R.E et.all. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th edition.


International Edition. Saunders 2004. p 1239-1241
2. Budiarso, Aswita.dkk. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare .
Jakarta: Departement Kesehatan R.I PPM & PLP. 2009
3. Depatemen Kesehatan. Diare Pada Anak . Kamis, 31 September 2010
www.depkes.go.id
4. Ganna, Herry. Melinda, Heda. Ilmu Kesehatan Anak Pedoman Diagnosis
dan Terapi. Edisi 3. Bandung : 2005
5. Santoso, N. Budi, Diare Pada Bayi Dan Anak, Lab/SMF. Ilmu Kesehatan
Anak FK. Unibraw/RSU Dr. Saiful Anwar Malang. 2001
6. Pusponegoro. H, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2004
7. Rasad S., 2005, Radiologi Diagnostik (2nd edition), Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
8. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, 1985, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan
Anak. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta