Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

Sistem Pengolahan Air Bersih dan Air Umpan Boiler

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah


Praktikum Teknik Konversi Energi

Nama anggota : M. Ariq Perdana (061440411706)


Oki Maman Suyadi (061440411711)
Putu Injario (061440411712)
Tomi Suharno (061440411715)
Candra Purna (061440412034)

Kelas : 6EG.C

Instruktur : Ir. H. Sahrul Effendy, M.T.

Program Studi DIV Teknik Energi


Jurusan Teknik Kimia
Politeknik Negeri Sriwijaya
2017
DASAR TEORI

PENGOLAHAN AIR BERSIH

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan
menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasan nya, air bersih
adalah yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air munum, dimana
persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi
kualitas fisik, kimia, biologis dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak
menimbulkan efek samping (Ketentuan Umum Permenkes No. 416/Menkes/PER/1990).
Air bersih dan sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang
menunjang kesehatan manusia. Lebih dari 1 milliar manusia di seluruh dunia kehilangan
akses terhadap sumber air bersih. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sekitar
1.6 juta anak di seluruh dunia meninggal akibat tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan
sanitasi yang sehat. Dampak tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut langsung dirasakan
oleh jutaan keluarga terutama anak-anak dan balita sebagai kelompok usia rentan. Jika
target penyediaan air bersih dan sanitasi tidak segera diatasi dunia diperkirakan
mengalami krisis meluas. Krisis akan lebih terasa diwilayah perkotaan karena
pertumbuhan penduduk yang cepat sehingga memunculkan tekanan pelayanan kesehatan
bagi warga kelas bawah.
Pada saat terpaksa, manusia dapat bertahan hidup tanpa makanan, tetapi tidak
dapat hidup tanpa air. Hal itu juga berhubungan dengan kenyataan bahwa 70% dari tubuh
manusia berupa cairan (air). Penggunaan air untuk keperluan sehari-hari tanpa
memperhatikan kualitasnya akan dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Karena air
dapat berperan dalam penyebaran penyakit yang berkaitan dengan air.
Beberapa fungsi air yang berguna untuk tubuh adalah sebagai bagian dari sistem
yang mengangkut nurisi dan gizi sebagai hasil metablisme dari makanan yang
dikonsumsi. Air juga berfungsi mengangkut sisa-sisa metabolisme dalam tubuh,
membantu memecahkan komponen dalam tubuh, menjaga keseimbangan suhu tubuh
karena proses oksidasi yang menghasilkan panas, menjaga elastisitas kulit, dan
membantu proses bernafas dengan melembabkan udara ketika dihembuskan. Walaupun
kita tidak beraktivitas tinggi, air yang dikeluarkan tubuh terhitung banyak. Salah satu
kesalahan yang sudah menjadi kebiasaan adalah mengkonsumsi air hanya ketika haus.
Hal ini berakibat fatal karena asupan air hanya sedikit. Tubuh membutuhkan sedikitnya
satu liter air lebih banyak dari rasa haus.
Air yang dikonsumsi sehari-hari harus memiliki syarat kesehatan agar tidak
menimbulkan penyakit Penyebab penyakit yang ada dapat dikelompokan menjadi 4
bagian:
1. Penyebab tak hidup yang menyebabkan penyakit tidak menular.
Penyakit tidak menular yang disebabkan air banyak sekali. Penyebabnya
dapat berupa zat-zat kimia seperti wabah yang disebabkan air raksa, cadmium, dan
cobalt.
2. Penyebab hidup yang menyebabkan penyakit menular
Penyakit menular lewat air dapat disebabkan oleh
a. organisme patogen seperti bakteri, vibrio cholera penyebab penyakit
kolera, salmonella thypipenyebab penyakit demam tipoid, sigella penyebab
penyakit disentri basilus, salmonella parathypi penyebab penyakit demam
parathypi, protozoa, virus penyebab penyakit hepetitis infeksiosa.
b. organisme nonpatogen seperti aetenomi cetes menyebabkan rasa dan bau
yang tidak diharapkan, algae dalam jumlah besar dapat menghambat
pekerjaan pada sistem saringan, bakteri coli dan coliform sebagai indikasi
apakah air tercemar oleh tinja manusia atau kotoran hewan.
3. Air sebagai sarang insekta penyebab penyakit
Air sebagai sarang insekta yang menyebarkan penyakit kepada masyarakat.
Insekta demikian disebut sebagai vektor penyakit. Vektor yang bersarang di air
dan terpenting di Indonesia pada umumnya nyamuk seperti nyamuk aedes aegypti
dan anopheles spp.
4. Air sebagai media penularan penyakit
Pola mekanisme penularan penyakit infeksi yang berkaitan dengan air minum
yaitu, sumber-air-manusia atau sumber-air-makanan, susu, sayuran-manusia.
Mengingat air berfungsi sebagai media penularan penyakit, maka untuk
mengurangi timbulnya penyakit atau menurunkan angka kematian usahanya
adalah meningkatkan penggunaan air minum yang memenuhi persyaratan kualitas
dan kuantitas
A. Penyakit Yang Berhubungan Dengan Air
Adapun penyakit-penyakit yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih,
diantaranya :
1. Karena keterbatasan air bersih. Manusia menjadi sangat hemat air, misalnya lebih
dipentingkan untuk minum, atau memasak, sedangkan untuk mencuci baju,
mandi/kebersihan badan, kurang dipenuhi. Akibatnya penyakit-2 kulit dapat
berkembang karena kurang bersih, jamur, bakteri tumbuh pada permukaan kulit
(kudis, panu, kurap, dsb)
2. Karena bakteri, virus, atau agent penyebab penyakit berada dalam air. Bila tidak
tersedia pilihan air bersih, maka dengan terpaksa manusia akan menggunakan air
bersih yang ada. Walaupun kriteria bersih yang digunakan relatif. Air bersih yang
sebetulnya kurang bersih (misalnya asal kelihatan jernih) digunakan untuk
mencuci beras, piring, sendok, gelas, sayuran. Sayuran setelah dicuci tidak
dimasak, misal digunakan sebagai lalapan, atau geals, piring sendok digunakan
sebagai wadah makanan atau minuman, maka kemungkinan terjadi penyakit
perut. Seperti diare, disentri, kolera, tiphus, dan sebagainya karena bakteri
penyebab penyakit memang berada dalam air yang sebelumnya digunakan.
3. Karena vektor pembawa kuman penyakit membutuhkan air dalam siklus
hidupnya. Misalnya penyakit dengan vektor nyamuk, seperti : demam berdarah,
malaria, demam kuning, kaki gajah. Nyamuk dalam perkembangbiakannya
membutuhkan media air. Telur nyamuk tumbuh berkembang menjadi jentik-jentik
dalam air, hingga suatua saat menjadi nyamuk dewasa. Bila nyamuk dewasa
tersebut menggigit manusia, yang dlam darahnya mengandung kuman/ bakteri
penyakit, maka nyamuk tersebut bila menggigit orang berikutnya akan
memasukkan kuman/bakteri penyakit dalam darahnya.

Banyak dijumpai masyarakat mengalami keracunan air minum karena


adanya senyawa kimia dalam air minum melebihi ambang batas konsentrasi yang
diizinkan.
Sebetulnya senyawa kimia ini bisa secara alamiah maupun akibat kegiatan
manusia mencemari air minum. Beberapa zat kimia yang bersifat racun terhadap tubuh
manusia adalah logam berat, pestisida, senyawa polutan hidrokarbon, zat-zat radio aktif
alami atau buatan dan sebagainya.
1. nitrat yang biasa ditemukan dalam kegiatan pertanian. Pencemaran nitrat
disebabkan air limbah pertanian mengandung senyawa nitrat akibat penggunaan
pupuk nitrogen (urea).
Senyawa nitrat dalam air minum dalam jumlah besar
menyebabkan methaemoglobinameia. Penyakit ini adalah kondisi haemoglobin
di dalam darah berubah menjadi methaemoglobin, sehingga darah kekurangan
oksigen.
2. Flourida (F) adalah senyawa kimia yang alami pada air di berbagai
konsentrasi. Pada konsentrasi kecil sekitar 1,5 mg/l akan bermanfaat pada
kesehatan gigi. Apabila konsentrasi tinggi (lebih dari 2 mg/l) menyebabkan
kerusakan gigi (gigi bercak-bercak0. ''Bila lebih besar lagi 3-6
mg/l menyebabkan kerusakan pada tulang. Dosis flourida di dalam air minum
maksimal 0,8 mg/l.''
3. Unsur berbahaya lainnya adalah air raksa (merkurium, Hg) adalah logam
berat berunsur racun terhadap tubuh. Limbah merkurium akibat industri
pernah menimbulkan korban jiwa pada kasus Minamata Jepang, 1950.
4. Air minum pun tidak boleh tercemar kadmium (Cd). Air minum biasanya
mengandung Cd dengan konsentrasi 1 ug atau kadang-kadang mencapai 5 ug.
WHO telah mengeluarkan rekomendasi kadar Cd dalam air minum sebesar 0,01
mg/l sedangkan Peraturan Pemerintah No 20/1990 kadar maksimum Cd dalam
air minum sebesar 0,005 mg/l.
5. Zat racun lainnya dalam Selenium yang biasa ditemukan di daerah
seleniferous (tadah hujan). Di daerah semacam itu kandungan selenium dalam
air tanah (sumur) ataupun permukaan bisa tinggi. WHO menetapkan kadar
selenium pada air minum sebesar 0,01 mg/l sedangkan Peraturan Pemerintah No
20/1990 merekomendasikan kadar selenium yang diperbolehkan 0,01 mg/l.

B. Peranan Terhadap Penurunan Penyakit


Telah diketahui bahwa dengan adnya suplai air bersih yang sehat, dapat
menurunkan angka penderita penyakit, khusus nya penyakit yang berhubungan dengan
air (Waterborne Deseases) tidak hanya disentri, kholera dan thypus, tetapi juga trachoma,
beberapa penyakit kulit dan penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit. Di negara
maju dimana suplai air bersih untuk masyarakat sudah hampir 100%, maka jumlah
penyakit akibat infeksi penyakit enterik misalnya penyakit kolera, thypus, disentri dan
sebagaianya dapat ditekan dengan tajam.
Hal ini juga ditunjang karena ada kemajuan medis berupa pengembangan obat-
obatan baru.walaupun demikian telah diyakini bahwa yang memeberikan kontribusi
terbesar adalah adanya suplai air bersih yang sehatuntuk kehidupan sehari-hari dengan
sistem yang sangat baik.
Di Jepang misalnya, jumlah konsumsi air bersih per kapita adlah 365 Ltr/hari dan
jumlah suplai air bersih dengan sistem perpipaan mencapai 13 milyard M3 untuk tahun
fiskal 1977. Prosentase pelayanan di daerah pedesaan lebih kecil daripada daerah
perkotaan. Di kota-kota besar di Jepang hampir seluruh penduduk telah menikmati
pelayanan air bersih dengan sistem perpipaan (water works system). Dengan kondisi
yang demikian, bedasarkan statistik (1977), jumlah penderita kolera dan polio nol,
disentri 737, thypus 340 dan pasien parathypus sebanyak 77 orang. Lalu kematian bayi
8,9 per 1000 kelahiran. Usia hidup rat-rata orang jepang adalah 72,69 tahun untuk laki-
laki dan 77,96 tahun untuk perempuan, yang merupakan angka tertinggi di dunia.
Apabila dibandingkan dengan di Indonesia , untuk kota jakarta misalnya, kapasitas
produksi air bersih oleh PAM 10,485 M3/detik , melayani sekitar 40-45 % dari 8 juta
penduduk jakarta (1989). Dalam kondisi yang demikian, berdasarkan data yang ada,
jumlah penderita penyakit yang berhubungan dengan air, yakni kolera, disentri dan
thypus adalah 2.146, 15.131, dan 2.220 penderita (rata-rata Th 1984-1988).
Dari data tersebut terlihat bahwa dengan adanya sistem penyedian air bersih yang
dpat melayani sebagian/seluruh masyarakat , maka jumlah penderita penyakit, khususnya
yang berkaitan dengan air dapat ditekan dengan tajam. Hal ini harus tentu perlu ditunjang
juga dengan sistem sanitasi lingkungan yang baik pula.

C. Sistem Pengolahan Air Bersih


Secara umum, pengolahan air bersih terdiri dari 3, yaitu pengolahan secara fisika,
kimia, dan biologi. Pada pengolahan secara fisika, biasanya dilakukan secara mekanis,
tanpa adanya penambahan bahan kimia. Contohnya adalah pengendapan, filtari, adsorpsi,
dan lain-lain. Pada pengolahan secara kimiawi, terdapat penambahan bahan kimia,
seperti klor, tawas, dan lain-lain, biasanya digunakan untuk menyisihkan logam-logam
berat yang terkandung dalam air. Pada pengolahan secara biologis, biasanya
memanfaatkan mikroorganisme sebagai media pengolahnya.
1. Teknik Pengolahan Air Bersih PDAM
PDAM, biasanya melakukan pengolahan secara fisika dan kimiawi dalam proses
penyediaan air bersih. Secara umum, skema pengolahan air bersih di daerah-daerah di
Indonesia terlihat seperti pada gambar di bawah. Terdapat 3 bagian penting dalam sistem
pengolahannya.

Skema pengolahan air bersih


a. Bangunan Intake
Bangunan intake ini berfungsi sebagai bangunan pertama untuk masuknya air dari
sumber air. Pada umumnya, sumber air untuk pengolahan air bersih, diambil dari sungai.
Pada bangunan intake ini biasanya terdapat bar screen yang berfungsi untuk menyaring
benda-benda yang ikut tergenang dalam air. Selanjutnya, air akan masuk ke dalam
sebuah bak yang nantinya akan dipompa ke bangunan selanjutnya, yaitu WTP Water
Treatment Plant.
b. Water Treatment Plant
Water Treatment Plant atau lebih populer dengan akronim WTP adalah bangunan
utama pengolahan air bersih. Biasanya bagunan ini terdiri dari 4 bagian, yaitu : bak
koagulasi, bak flokulasi, bak sedimentasi, dan bak filtrasi.
Koagulasi
Dari bangunan intake, air akan dipompa ke bak koagulasi ini. pada proses
koagulasi ini dilakukan proses destabilisasi partikel koloid, karena pada dasarnya air
sungai atau air-air kotor biasanya berbentuk koloid dengan berbagai partikel koloid yang
terkandung di dalamnya. Destabilisasi partikel koloid ini bisa dengan penambahan bahan
kimia berupa tawas, ataupun dilakukan secara fisik dengan rapid mixing (pengadukan
cepat), hidrolis (terjunan atau hydrolic jump), maupun secara mekanis (menggunakan
batang pengaduk). Biasanya pada WTP dilakukan dengan cara hidrolis berupa hydrolic
jump. Lamanya proses adalah 30 90 detik.
Proses Koagulasi Secara Mekanis dengan mesin pemutar
Flokulasi
Setelah dari unit koagulasi, selanjutnya air akan masuk ke dalam unit flokulasi.
Unit ini ditujukan untuk membentuk dan memperbesar flok. Teknisnya adalah dengan
dilakukan pengadukan lambat (slow mixing).

Proses Flokulasi Partikel Koloid


Sedimentasi
Setelah melewati proses destabilisasi partikel koloid melalui unit koagulasi dan
unit flokulasi, selanjutnya perjalanan air akan masuk ke dalam unit sedimentasi. Unit ini
berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel koloid yang sudah didestabilisasi oleh
unit sebelumnya. Unit ini menggunakan prinsip berat jenis. Berat jenis partikel koloid
(biasanya berupa lumpur) akan lebih besar daripada berat jenis air. Dalam bak
sedimentasi, akan terpisah antara air dan lumpur.

Proses Sedimentasi
Gabungan unit koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi disebut unit aselator
Unit Aselator pada Water Treatment Plant
Filtrasi
Setelah proses sedimentasi, proses selanjutnya adalah filtrasi. Unit filtrasi ini,
sesuai dengan namanya, adalah untuk menyaring dengan media berbutir. Media berbutir
ini biasanya terdiri dari antrasit, pasir silica, dan kerikil silica denga ketebalan berbeda.
Dilakukan secara grafitasi.

Unit Filtrasi
Selesailah sudah proses pengolahan air bersih. Biasanya untuk proses tambahan,
dilakukan disinfeksi berupa penambahan chlor, ozonisasi, UV, pemabasan, dan lain-lain
sebelum masuk ke bangunan selanjutnya, yaitu reservoir.
c. Reservoir
Setelah dari WTP dan berupa clear water, sebelum didistribusikan, air masuk ke
dalam reservoir. Reservoir ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air
bersih sebelum didistribusikan melalui pipa-pipa secara grafitasi. Karena kebanyakan
distribusi di kita menggunakan grafitasi, maka reservoir ini biasanya diletakkan di tempat
dengan eleveasi lebih tinggi daripada tempat-tempat yang menjadi sasaran distribusi.
Biasanya terletak diatas bukit, atau gunung.

Reservoir air bersih

Gabungan dari unit-unit pengolahan air ini disebut IPA Instalasi Pengolahan
Air. Untuk menghemat biaya pembangunan, biasanya Intake, WTP, dan Reservoir
dibangun dalam satu kawasan dengan ketinggian yang cukup tinggi, sehingga tidak
diperlukan pumping station dengan kapasitas pompa dorong yang besar untuk
menyalurkan air dari WTP ke reservoir. Barulah, setelah dari reservoir, air bersih siap
untuk didistribusikan melalui pipa-pipa dengan berbagai ukuran ke tiap daerah distribusi.

Berikut ini skema pengolahan air bersih

PENGOLAHAN AIR UMPAN BOILER

Boiler

Boiler merupakan bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air sampai
terbentuk air panas atau steam berupa energi kerja. Air adalah media yang berguna dan
murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air panas atau steam pada tekanan dan
suhu tertentu mempunyai nilai energi yang kemudian digunakan untuk mengalirkan
panas dalam bentuk energi kalor ke suatu proses. Jika air di didihkan sampai menjadi
steam, maka volumenya akan meningkat sekitar 1600 kali, menghasilkan tenaga yang
menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak, sehingga boiler merupakan peralatan
yang harus dikelola dan dijaga dengan sangat baik pada komponen-komponennya
Sistem Boiler

Sistem boiler terdiri dari sistem air umpan, sistem steam, dan sistem bahan bakar.
Berikut penjelasan mengenai sistem yang terdapat pada boiler :

1. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai dengan
kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan dan
perbaikan dari sistem air umpan, penanganan air umpan diperlukan sebagai
bentuk pemeliharaan untuk mencegah terjadi kerusakan dari sistem steam.
2. Sistem steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam boiler, steam
dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem,
tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat pemantau
tekanan.
3. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk menyediakan
bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan yang
diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang
digunakan pada sistem.

Prinsip kerja dari boiler

1. Air yang disuplay dari feed water tank ke dalam boiler dengan menggunakan
pompa sehingga air mencapai level yang telah ditentukan,maka feed pump ini star
atau stop secara automatis selama level air didalam boiler masih bergeser turun
mencapai batas yang telah ditentukan.
2. Selanjutnya untuk proses pembakaran dimana fuel pump burner akan bekerja
menekan bahan kedalam ruang chamber, sehingga mengubah bentuk seperti
kabut dan menyala untuk proses pemanasan air.

Pengolahan Air Umpan Boiler

Memproduksi steam yang berkualitas tergantung pada pengolahan air yang benar
untuk mengendalikan kemurnian steam, endapan dan korosi. Sebuah boiler merupakan
bagian dari sistem boiler, yang menerima semua bahan pencemar dari sistem di
depannya. Kinerja boiler, efisiensi dan umur layanan merupakan hasil langsung dari
pemilihan dan pengendalian air umpan yang digunakan dalam boiler. Jika air umpan
masuk boiler, kenaikan suhu dan tekanan menyebabkan komponen air memiliki sifat
yang berbeda. Hampir semua komponen dalam air umpan dalam keadaan terlarut. Walau
demikian dibawah kondisi panas dan tekanan hampir seluruh komponen terlarut keluar
dari larutan sebagai padatan partikuat, kadang-kadang dalam bentuk Kristal dan pada
waktu yang lain dalam bentuk amorph. Jika kelarutan komponen spesifik dalam air
terlewati, maka akan terjadi pembentukan kerak dan endapan. Air boiler harus cukup
bebas dari pembentukan endapan padat supaya terjadi perpindahan panas yang cepat dan
efisien dan harus tidak korosif terhadap logam boiler. Pengolahan air umpan boiler
terdapat 2 jenis,yaitu pengolahan secara internal dan eksternal. Berikut ini merupakan
penjelasan dari pengolahan air umpan boiler :

1. Pengolahan Air Internal

Pengolahan air internal adalah penambahan bahan kimia ke boiler untuk


mencegah pembentukan kerak. Senyawa pembentuk kerak diubah menjadi lumpur yang
mengalir bebas, yang dapat dibuang dengan blowdown. Metode ini terbatas pada boiler
dimana air umpan mengandung garam sadah yang rendah, dengan tekanan rendah,
kandungan TDS tinggi dalam boiler dapat ditoleransi, dan jika jumlah airnya sedikit. Jika
kondisi tersebut tidak terpenuhi, maka laju blowdown yang tinggi diperlukan untuk
membuang lumpur. Hal tersebut menjadi tidak ekonomis sehubungan dengan kehilangan
air dan panas. Jenis sumber air yang berbeda memerlukan bahan kimia yang berbeda
pula. Senyawa seperti sodium karbonat, sodium aluminat, sodium fosfat, sodium sulfit,
dan senyawa organic dan anorganik seluruhnya dapat digunakan untuk maksud ini.
Untuk setiap kondisi air diperlukan bahan kimia tertentu. Harus dikonsultasikan dengan
seorang spesialis dalam menentukan bahan kimia yang paling cocok untuk digunakan
pada setiap kasus. Pengolahan air hanya dengan pengolahan internal tidak
direkomendasikan.

2. Pengolahan Air Eksternal

Pengolahan eksternal digunakan untuk membuang padatan tersuspensi,padatan


terlarut (terutama ion kalsium dan magnesium yang merupakan penyebab utama
pembentukan kerak) dan gas-gas terlarut (oksigen dan karbondioksida). Proses perlakuan
eksternal yang ada adalah:

a. Pertukaran ion

b. Penghilangan mineral/demineralisasi.
c. De-aerasi

Sebelum digunakan cara diatas, perlu untuk membuang padatan dan warna dari bahan
baku air, sebab bahan tersebut dapat mengotori resin yang digunakan pada bagian
pengolahan selanjutnya.Metode pengolahan awal adalah sedimentasi dalam tangki
pengendapan atau pengendapan dalam clarifiers dengan bantuan koagulan dan flokulan.
Penyaring pasir bertekanan, dengan aerasi untuk menghilangkan karbondioksida dan
besi, dapat digunakan untuk menghilangkan garam-garam logam dari air sumur. Tahap
pertama pengolaha adalah menghilangkan garam sadah garam non sadah. Penghilangan
hanya garam sadah disebut pelunakan, sedangkan penghilangan total garam dari larutan
disebut penghilangan mineral atau demineralisasi. Berikut ini penjelasan mengenai
proses pengolahan air umpan boiler secara eksternal

a. Proses Pertukaran Ion (Plant Pelunakan).

Pada proses pertukaran ion, kesadahan dihilangkan dengan melewatkan air pada bed
zeolit alam atau resin sintetik dan tanpa pembentukan endapan. Jenis paling sederhana
adalah pertukaran basa dimana ion kalsium dan magnesium ditukar dengan ion
sodium. Setelah jenuh, dilakukan regenerasi dengan sodium klorida. Garam sodium
mudah larut, tidak membentuk kerak dalam boiler. Dikarenakan penukar basa hanya
menggantikan kalsium dan magnesium dengan sodium, maka tidak mengurangi
kandungan TDS, dan besarnya blowdown. Penukar basa ini juga tidak menurunkan
alkalinya.

b.Demineralisasi (Penghilangan mineral)

Demineralisasi merupakan penghilangan lengkap seluruh garam. Hal ini dicapai dengan
menggunakan resin kation, yang menukar kation dalam air baku dengan ion hydrogen
menghasilkan asam hidroklorida, asam sulfat dan asam karbonat. Asam karbonat
dihilangkan dalam menara degassing dimana udara dihembuskan melalui air asam.
Berikutnya, air melewati resin anion, yang menukar anion dengan asam mineral
(misalnya asam sulfat) dan membentuk air. Regenerasi kation dan anion perlu dilakukan
pada jangka waktu tertentu dengan menggunakan asam mineral dan soda
kaustik.Penghilangan lengkap silika dapat dicapai dengan pemilihan resin anion yang
benar. Proses pertukaran ion, jika diperlukan, dapat digunakan untuk demineralisasi yang
hampir total, seperti untuk boiler pembangkit tenaga listrik.

Reaksi pelunakan:

Na2R + Ca(HCO3) CaR + 2 Na(HCO3)

Reaksi regenerasi

CaR + 2 NaCl Na2R + CaCl2

c. Deaerasi

Dalam de-aerasi, gas terlarut seperti oksigen dan karbondioksida dibuang dengan
pemanasan awal air umpan masuk ke boiler. Seluruh air alam mengandung gas terlarut
dalam larutannya.Gas-gas tertentu seperti karbon dioksida dan oksigen sangat
meningkatkan korosi. Bila dipanaskan dalam sistem boiler, karbondioksida (CO2) dan
oksigen (O2) dilepaskan sebagai gas dan bergabung dengan air (H2O) membentuk asam
karbonat (H2CO3). Penghilangan oksigen, karbondioksida dan gas lain yang tidak dapat
terembunkan dari air umpan boiler sangat penting bagi umur peralatan boiler dan juga
keamanan operasi. Asam karbonat mengkorosi logam menurunkan umur peralatan dan
pemipaan. Asam ini juga melarutkan besi (Fe) yang jika kembali ke boiler akan
mengalami pengendapan dan menyebabkan terjadinya pembentukan kerak pada boiler
dan pipa. Kerak ini tidak hanya berperan dalam penurunan umur peralatan tapi juga
meningkatkan jumlah energi yang diperlukan untuk mencapai perpindahan panas.
ANALISA PRAKTIKUM

Pada pengolahan air dari DAM diolah menjadi air bersih dengan sistem yang
sama dengan pengolahan air di PDAM Tirta musi . Dengan menggunakan
mengendapkan air di beberapa bak penampungan dan menambahkan koagulan pada air
agar dapat membantu mengendapkan serta menjernihkan air baku atau ( raw water ) dari
DAM. Koagulasi merupakan pembubuhan bahan kimia Al2(SO4)3 atau tawas ke dalam
air agar kotoran berupa zat warna organik,lumpur halus, bakteri, dll dapat menggumpal
dan mengendap.

Proses yang terjadi pada pengolahan air , air di hisap menggunakan pompa masuk
ke dalam bak penampungan. Bak penampungan pertama diberikan koagulasi untuk
mepercepat pengendapan. Kemudian masuk ke bak penampungan kedua mengalir
melalui sekat bawah dan masuk ke bak selanjutnya masuk melalui sekat atas ketika
volume baknhya penuh. Kemudian masuk penampungan ketiga apabila ada endapan lagi
dapat mengendap dan masuk ke bak penampungan keempat melalui atas ketika
volumenya penuh. Pada bak ke empat memanjang dan bentuk dasar bak berbentuk
segitiga siku-siku fungsinya apabila masih ada endapan yang ikut dapat mengendap di
bawah segitiga siku-siku. Kemudian hasil dari bak penampungan itu masuk ke bak
penjernihan yang di dalamnya terdapat pasir. Ketika volume bak penuh selanjutnya
masuk ke bak penampungan air yang akan di distribusikan ke lab-lab atau penggunaan
lainnya.

Dapat di analisa dari proses tersebut penggunaan bak penampungan yang banyak
digunakan untuk benar-benar memastikan pengendapan dan tidak terdapat padat
resuspensi. Penggunaan koagulan berupa tawas untuk mempercepat pengendapan dan
pada bak yang berisi pasir digunakan untuk menjernihkan air. Hasil dari pengolahan air
dapat digunakan untuk keperluan lab dan penggunaan lainnya.

Selain pengolahan air bersih, praktikum ini juga memmpelajari tentang


pengolahan air umpan boiler. Air yang digunakan untuk umpan boiler adalah air
demineral yakni air yang tidak mengandung mineral lagi. Air yang di proses merupakan
air yang telah dihasilkan dari pengolahan air bersih.

Pengolahan air umpan boiler dilakukan sebanyak dua kali yakni pengolahan
secara internal dan eksternal. Pengolahan internal dilakukan di dalam tangki umpan
dengan penambahan Na3HPO4, sedangkan pengolahan eksternal dilakukan di luar tangki
umpan dengan proses ion exchanger (pertukaran anion dan kation)

Mula mula air umpan boiler dilakukan pengolahan eksternal dengan melakukan
ion excharger yang bertujuan mengikat mineral mineral dalam air agar air menjadi
demineral. Selanjutnya air akan dimasukkan ke dalam tangki unntuk dilakukan
pengolahan internal yang bertujuan menetralkan pH air antara 6,5 - 8,5 dengan
penambahan Na3HPO4.
KESIMPULAN

Tahapan pengolahan air bersih :


-Koagulasi
-Flokulasi
-Sedimentasi
-Filtrasi
Penggunaan bak penampungan yang banyak digunakan untuk benar-benar
memastikan pengendapan dan tidak terdapat padat resuspensi
Tahapan pengolahan air umpan bolier adalah :
- Pengolahan eksternal (pengolahan di luar tangki umpan dengan proses ion
exchanger)
- Pengolahan internal (pengolahan di dalam tangki umpan dengan penambahan
Na3HPO4 yang bertujuan menjaga pH)
Air umpan boiler yang digunakan adalah air yang tidak mengandung mineral lagi
dengan Ph 6,5 8,5.
Daftar pustaka

Google.com. 2012. Penolahan Air Bersih. (online),


(http://serbamurni.blogspot.co.id/2012/12/makalah-pengolahan-air-bersih.html,
diakses pada 3 Maret 2017)

Muetzz, Oby Chan. 2012. Makalah Pengolahan Air Bersih. (online),


(https://id.scribd.com/doc/121081008/makalah-pengolahan-air-bersih, diakses pada
3 Maret 2017)

Gooogle.com. 2016. Sistem Pengolahan Air Bersih. (online), )


(http://civildoqument.blogspot.com/2016/02/sistem-pengolahan-air-pdam.html,
diakses pada 3 Maret 2017)