Anda di halaman 1dari 23

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Pemecah Gelombang


Pemecah gelombang atau dikenal juga sebagai Pemecah ombak atau bahasa Inggris
breakwater adalah prasarana yang dibangun untuk memecahkan ombak/gelombang, dengan
menyerap sebagian energi gelombang. Pemecah gelombang digunakan untuk mengendalikan
abrasi yang menggerus garis pantai dan untuk menenangkan gelombang di pelabuhan
sehingga kapal dapat merapat di pelabuhan dengan lebih mudah dan cepat. Pemecah
gelombang harus didesain sedemikian sehingga arus laut tidak menyebabkan pendangkalan
karena pasir yang ikut dalam arus mengendap di kolam pelabuhan. Bila hal ini terjadi maka
pelabuhan perlu dikeruk secara reguler.
Sebenarnya breakwater atau pemecah gelombang dapat dibedakan menjadi dua
macam yaitu pemecah gelombang sambung pantai dan lepas pantai. Tipe pertama banyak
digunakan pada perlindungan perairan pelabuhan, sedangkan tipe kedua untuk perlindungan
pantai terhadap erosi. Secara umum kondisi perencanaan kedua tipe adalah sama, hanya pada
tipe pertama perlu ditinjau karakteristik gelombang dibeberapa lokasi disepanjang pemecah
gelombang, seperti halnya pada perencanaan groin dan jetty. Penjelasan lebih rinci mengenai
pemecah gelombang sambung pantai lebih cenderung berkaitan dengan palabuhan dan bukan
dengan perlindungan pantai terhadap erosi. Selanjutnya dalam tinjauan lebih difokuskan pada
pemecah gelombang lepas pantai.
Breakwater atau dalam hal ini pemecah gelombang lepas pantai adalah bangunan
yang dibuat sejajar pantai dan berada pada jarak tertentu dari garis pantai. Pemecah
gelombang dibangun sebagai salah satu bentuk perlindungan pantai terhadap erosi dengan
menghancurkan energi gelombang sebelum sampai kepantai, sehingga terjadi endapan
dibelakang bangunan. Endapan ini dapat menghalangi transport sedimen sepanjang pantai.
Seperti disebutkan diatas bahwa pemecah gelombang lepas pantai dibuat sejajar pantai dan
berada pada jarak tertentu dari garis pantai, maka tergantung pada panjang pantai yang
dilindungi, pemecah gelombang lepas pantai dapat dibuat dari satu pemecah gelombang atau
suatu seri bangunan yang terdiri dari beberapa ruas pemecah gelombang yang dipisahkan
oleh celah.

II-1
2.2 Fungsi Pemecah Gelombang
Bangunan ini berfungsi untuk melindungi pantai yang terletak di belakangnya dari
serangan gelombang yang dapat mengakibatkan erosi pada pantai. Perlindungan oleh
pemecahan gelombang lepas pantai terjadi karena berkurangnya energi gelombang yang
sampai diperairan dibelakang bangunan. Karena pemecah gelombang ini dibuat terpisah
kearah lepas pantai, tetapi masih didalam zona gelombang pecah (breakingzone). Maka
bagian sisi luar pemecah gelombang memberikan perlindungan dengan meredam energi
gelombang sehingga gelombang dan arus dibelakangnya dapat dikurangi.
Gelombang yang menjalar mengenai suatu bangunan peredam gelombang sebagian
energinya akan dipantulkan (refleksi), sebagian diteruskan (transmisi) dan sebagian
dihancurkan (dissipasi) melalui pecahnya gelombang, kekentalan fluida, gesekan dasar dan
lain-lainnya. Pembagian besarnya energi gelombang yang dipantulkan, dihancurkan dan
diteruskan tergantung karakteristik gelombang datang (periode, tinggi, kedalaman air), tipe
bangunan peredam gelombang (permukaan halus dan kasar, lulus air dan tidak lulus air) dan
geometrik bangunan peredam (kemiringan, elevasi, dan puncak bangunan). Berkurangnya
energi gelombang di daerah terlindung akan mengurangi pengiriman sedimen di daerah
tersebut. Maka pengiriman sedimen sepanjang pantai yang berasal dari daerah disekitarnya
akan diendapkan dibelakang bangunan. Pantai dibelakang struktur akan stabil dengan
terbentuknya endapan sedimen tersebut.

2.3 Material Pemecah Gelombang


Untuk material yang digunakan tergantung dari tipe bangunan itu sendiri. Seperti
halnya bangunan pantai kebanyakan, pemecah gelombang lepas pantai dilihat dari bentuk
strukturnya bisa dibedakan menjadi dua tipe yaitu: sisi tegak dan sisi miring. Untuk tipe sisi
tegak pemecah gelombang bisa dibuat dari material- material seperti pasangan batu, selturap
baja yang di dalamnya diisi tanah atau batu, tumpukan buis beton, dinding turap baja atau
beton, kaison beton dan lain sebagainya.
Dari beberapa jenis tersebut, kaison beton merupakan material yang paling umum
dijumpai pada konstruksi bangunan pantai sisi tegak. Kaison beton pada pemecah gelombang
lepas pantai adalah konstruksi berbentuk kotak dari beton bertulang yang di dalamnya diisi
pasir atau batu. Pada pemecah gelombang sisi tegak kaison beton diletakkan diatas tumpukan
batu yang berfungsi sebagai fondasi. Untuk menanggulangi gerusan pada pondasi maka
dibuat perlindungan kaki yang terbuat dari batu atau blok beton.
Sementara untuk tipe bangunan sisi miring, pemecah gelombang lepas pantai bisa

II-2
dibuat dari beberapa lapisan material yang ditumpuk dan dibentuk sedemikian rupa (pada
umumnya apabila dilihat potongan melintangnya membentuk trapesium) sehingga terlihat
seperti sebuah gundukan besar batu, dengan lapisan terluar dari material dengan ukuran
butiran sangat besar.

Gambar 2.1 Lapisan-lapisan material pemecah gelombang

Dari gambar dapat kita lihat bahwa konstruksi terdiri dari beberapa lapisan yaitu:
1. Inti (core) pada umumnya terdiri dari agregat galian kasar, tanpa partikel-partikel halus
dari debu dan pasir.
2. Lapisan bawah pertama (under layer) disebut juga lapisan penyaring (filter layer) yang
melindungi bagian inti (core) terhadap penghanyutan material, biasanya terdiri dari
potongan-potongan tunggal batu dengan berat bervariasi dari 500 kg sampai dengan 1
ton.
3. Lapisan pelindung utama (main armor layer) seperti namanya, merupakan pertahanan
utama dari pemecah gelombang terhadap serangan gelombang pada lapisan inilah
biasanya batu-batuan ukuran besar dengan berat antara 1-3 ton atau bisa juga
menggunakan batu buatan dari beton dengan bentuk khusus dan ukuran yang sangat
besar seperti tetrapod, quadripod, dolos, tribar, xbloc accropode dan lain-lain.
Secara umum, batu buatan dibuat dari beton tidak bertulang konvensional kecuali
beberapa unit dengan banyak lubang yang menggunakan perkuatan serat baja. Untuk unit-
unit yang lebih kecil, seperti dolos dengan rasio keliling kecil, berbagai tipe dari beton
berkekuatan tinggi dan beton bertulang (tulangan konvensional, prategang, fiber, besi, profil-
profil baja) telah dipertimbangkan sebagai solusi untuk meningkatkan kekuatan struktur unit-
unit batu buatan ini. Tetapi solusi-solusi ini secara umum kurang hemat biaya, dan jarang
digunakan.

II-3
Gambar 2.2 Beberapa macam material batu buatan

Seiring perkembangan jaman dalam konstruksi pemecah gelombang lepas pantai juga
mengalami perkembangan. Belakangan juga dikenal konstruksi pemecah gelombang
komposit. Yaitu dengan menggabungkan bangunan sisi tegak dan bangunan sisi miring.
Dalam penggunaan material dikombinasikan misalnya antara kaison beton dengan batu-
batuan sebagai pondasinya. Selain itu pula terdapat bangunan pemecah gelombang dari
potongan bambu yang dianyam, dan dari ban-ban bekas yang biayanya lebih murah namun
masih dipertanyakan mengenai keramahan lingkungannya.
Untuk melindungi daerah pantai dari serangan gelombang, suatu pantai memerlukan
bangunan peredam gelombang. Peredam gelombang adalah suatu bangunan yang bertujuan
untuk mereduksi atau menghancurkan energi gelombang. Gelombang yang menjalar
mengenai suatu bangunan peredam gelombang sebagian energinya akan dipantulkan
(refleksi), sebagian diteruskan (transmisi) dan sebagian dihancurkan (dissipasi) melalui
pecahnya gelombang, kekentalan fluida, gesekan dasar dan lain-lainnya. Pembagian besarnya
energi gelombang yang dipantulkan, dihancurkan dan diteruskan tergantung karakteristik
gelombang datang (periode, tinggi, kedalaman air), tipe bangunan peredam gelombang

II-4
(permukaan halus dan kasar).
Peredam gelombang bentuk kubus adalah merupakan peredam gelombang yang
mempunyai permukaan lebih kecil/sempit dikarenakan cara pemasangannya disesuaikan
dengan sifat dan arah datangnya gelombang, sehingga menyebabkan gelombang akan
kehilangan energi lebih besar karena gesekan dengan permukaan peredam gelombang datar
(kubus). Breakwater berbentuk kubus sangat efektif untuk meredam energi gelombang,
dengan cara pemasangan sudut menghadap arah datangnya gelombang. Gelombang akan
dipecah oleh sudut kubus sehingga energi yang dibawa oleh gelombang berkurang,
seterusnya energi yang sudah tereduksi diterima kembali oleh kubus dibelakangnya,
demikian seterusnya sampai gelombang laut benar-benar berkurang energinya.

2.4 Jenis Jenis Pemecah Gelombang


Dalam pemilihan pemecah gelombang ditentukan dengan melihat hal-hal sebagai berikut :
a. Bahan yang tersedia disekitar lokasi
b. Besar gelombang
c. Pasang surut air laut
d. Kondisi tanah dasar laut
e. Peralatan yang digunakan untuk pembuatannya
Untuk perencanaan bentuk dan kestabilan pemecah gelombang perlu diketahui :
a. Tinggi muka air laut akibat adanya pasang surut
b. Tinggi puncak gelombang dari permukaan air tenang
c. Perkiraan tinggi dan panjang gelombang
d. Run up gelombang

2.4.1 Berdasarkan Bentuk Model Penampang Melintangnya (Triatmodjo, 1999):


1. Pemecah gelombang dengan sisi miring
Pemecah gelombang dengan sisi miring dibuat dari beberapa lapisan material yang
ditumpuk dan dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah gundukan besar batu
alam dengan lapisan terluar dari material dengan butiran sangat besar yang dilindungi oleh
lapis pelindung berupa batu besar atau beton dengan ukuran tertentu. Pemecah gelombang
tipe ini bersifat fleksibel. Kerusakan yang terjadi karena serangan gelombang tidak secara
tiba-tiba. Jenis lapis pelindung pemecah gelombang tipe ini adalah Quadripod, Tetrapod,
Dolos. Pemecah gelombang dengan sisi miring dibuat untuk kedalaman kolam labuh yang
relative dangkal.

II-5
Gambar 2.3 Breakwater sisi miring

2. Pemecah gelombang dengan sisi tegak


Untuk tipe sisi tegak pemecah gelombang dibuat dari material-material seperti
pasangan batu, sel turap baja yang didalamnya diisi tanah atau batu, tumpukan buis beton,
dinding turap baja atau beton, kaison beton dan lain sebagainya.

II-6
Pemecah gelombang tipe ini ditempatkan di laut dengan kedalaman kolam labuh yang
lebih besar dari tinggi gelombang. Dimaksudkan untuk mengurangi jumlah material
penyusunnya. Pemecah ini dibuat apabila tanah dasar mempunyai daya dukung besar dan
tahan terhadap erosi. Bisa dibuat dari blok-blok beton massa yang disusun secara vertikal,
kaison beton, turap beton atau baja.
Syarat yang harus diperhatikan pada tipe pemecah gelombang sisi miring adalah:
1. Tinggi gelombang maksimum rencana harus ditentukan dengan baik.
2. Tinggi dinding harus cukup untuk memungkinkan.
3. Pondasi dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terjadi erosi pada kaki bangunan yang
dapat membahayakan stabilitas bangunan.

II-7
Gambar 2.4 Berbagai jenis breakwater sisi tegak

3. Pemecah gelombang bertipe campuran.


Ketiga model breakwater seperti ini, dicontohkan dengan tipe cellular cofferdam yaitu
suatu konstruksi yang menggunakan sheet pile secara langsung, dimana pile tersebut saling
menutup atau mengunci (interlocking) satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu
rangkaian elemen (cell) dimana cell tersebut berisikan material yang tak kohesif seperti pasir
untuk pemberat struktur di bagian bawahnya sedangkan bagian atasnya terdiri dari batu
lindung yang dapat berfungsi menjaga stabilitas struktur akibat pengaruh gelombang.
Konstruksi breakwater tipe cellular cofferdam seperti halnya beberapa jenis Offshore
Breakwater yang lain dibangun dengan puncak elevasi struktur yang mendekati Mean Sea
Level (MSL), sehingga hal tersebut memungkinkan energi yang menyertai terjadinya
gelombang dapat diteruskan melalui breakwater. Kondisi tersebut dinamakan dengan istilah
keadaan overtopping atau kondisi gelombang dapat melimpas. Alasan struktur dibangun

II-8
dengan kondisi overtopping adalah untuk pertimbangan disain secara ekonomis, dan juga
karena pertimbangan kondisi gelombang rata-rata yang terjadi cukup kecil.
Pemecah gelombang tipe ini dibuat apabila kedalaman air sangat besar dan tanah
dasar tidak mampu menahan beban dari pemecah gelombang sisi tegak. Ada tiga macam
pertimbangan tinggi sisi tegak dengan tumpukan batunya :
1. Tumpukan batu dibuat sampai setinggi air yang tertinggi, sedangkan bangunan sisi
tegak hanya sebagai penutup bagian atas.
2. Tumpukan batu setinggi air terendah sedang bangunan sisi tegak harus menahan air
tertinggi.
3. Tumpukan batu hanya merupakan tambahan pondasi dari bangunan sisi tegak.

2.4.2 Berdasarkan Letaknya


Pemecah gelombang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang
sambung pantai dan lepas pantai. Tipe pertama banyak digunakan pada perlindungan perairan
pelabuhan, sedangkan tipe kedua untuk perlindungan pantai terhadap erosi. Secara umum
kondisi perencanaan kedua tipe adalah sama, hanya pada tipe pertama perlu ditinjau
karakteristik gelombang di beberapa lokasi di sepanjang pemecah gelombang, seperti halnya
pada perencanaan groin dan jetty. Selanjutnya dalam bagian ini tinjauan lebih difokuskan
pada pemecah gelombang lepas pantai.
1. Pemecah gelombang sambung pantai (Shore-connected Breakwater)
Tipe ini banyak digunakan pada perlindungan perairan pelabuhan perlu ditinjau
karakteristik gelombang di beberapa lokasi di sepanjang pemecah gelombang, seperti
halnya pada perencanaan groin dan jetty.

Gambar 2.5 Pemecah gelombang sambung pantai

II-9
2. Pemecah gelombang lepas pantai (Offshore Breakwater)
Pemecah gelombang lepas pantai adalah bangunan yang dibuat sejajar pantai dan
berada pada jarak tertentu dari garis pantai. Bangunan ini direncanakan untuk melindungi
pantai yang terletak dibelakangnya dan serangan gelombang. Tergantung pada panjang pantai
yang dilindungi, pemecah gelombang lepas pantai dapat dibuat dari satu pemecah gelombang
atau suatu seri bangunan yang terdiri dari beberapa ruas pemecah gelombang yang dipisahkan
oleh celah.
Perlindungan oleh pemecahan gelombang lepas pantai terjadi karena berkurangnya
energi gelombang yang sampai di perairan di belakang bangunan. Berkurangnya energi
gelombang di daerah terlindung akan mengurangi pengiriman sedimen di daerah tersebut.
Pengiriman sedimen sepanjang pantai yang berasal dari daerah di sekitarnya akan diendapkan
dibelakang bangunan. Pengendapan tersebut menyebabkan terbentuknya cuspate. Apabila
bangunan ini cukup panjang terhadap jaraknya dari garis pantai, maka akan terbentuk
tombolo.
Pengaruh pemecah gelombang lepas pantai terhadap perubahan bentuk garis pantai
dapat dijelaskan sebagai berikut ini. Apabila garis puncak gelombang pecah sejajar dengan
garis pantai asli, terjadi difraksi di daerah terlindung di belakang bangunan, di mana garis
puncak gelombang membelok dan berbentuk busur lingkaran. Perambatan gelombang yang
terdifraksi tersebut disertai dengan angkutan sedimen menuju ke daerah terlindung dan
diendapkan di perairan di belakang bangunan.
Penambahan Suplai Pasir di Pantai (Sand Nourishment). Pantai berpasir mempunyai
kemampuan perlindungan alami terhadap serangan gelombang dan arus. Perlindungan
tersebut berupa kemiringan dasar pantai di daerah nearshore yang menyebabkan gelombang
pecah di lepas pantai, dan kemudian energinya dihancurkan selama dalam penjalaran menuju
garis pantai di surf zone. Dalam proses pecahnya gelombang tersebut sering terbentuk
offshore bar di ujung luar surf zone yang dapat berfungsi sebagai penghalang gelombang
yang datang (menyebabkan gelombang pecah).
Erosi pantai terjadi apabila di suatu pantai yang ditinjau terdapat kekurangan suplai
pasir. Stabilisasi pantai dapat dilakukan dengan penambahan suplay pasir ke daerah tersebut.
Apabila pantai mengalami erosi secara terus menerus, maka penambahan pasir tersebut perlu
dilakukan secara berkala, dengan laju sama dengan kehilangan pasir yang disebabkan oleh
erosi.

II-10
Gambar 2.6 Pemecah gelombang lepas pantai
Untuk mencegah hilangnya pasir yang ditimbun di ruas pantai karena terangkut oleh
arus sepanjang pantai, sering dibuat sistem groin. Dengan adanya groin tersebut, pasir yang
ditimbun akan tertahan dalam ruas-ruas pantai di dalam sistem groin. Tetapi perlu dipikirkan
pula bahwa pembuatan groin tersebut dapat menghalangi suplay sedimen ke daerah hilir,
yang dapat menimbulkan permasalahan baru di daerah tersebut.
a. Memasang Karang Buatan

Karang buatan yang dikembangkan pertama kali di Selandia Baru mulai tahun 1996,
energi gelombang akan berkurang sampai 70 persen ketika sampai di pantai. Pembangunan
konstruksi di bawah laut itu juga memungkinkan tumbuhnya terumbu karang baru.
b. Kubus Beton Tumpuk

Terlepas garis pantai terlindungi atau tidak, upaya menghentikan terjadinya abrasi
secara terus menerus perlu dilakukan langkah-langkah penanggulangannya. Terdapat banyak
metode dalam penanggulangan abrasi namun prinsip pokok penanggulangannya adalah
memecah gelombang atau meredam energi gelombang yang terjadi.

Gambar 2.7 Pemecah gelombang kubus beton tumbuk untuk melindungi kapal dari gelombang

II-11
Untuk mendapatkan type pemecah/peredam energi gelombang yang efektif perlu
dilakukan pengkajian yang mendalam terhadap :
1. Sifat dari pada karakteristik dan tinggi gelombang
2. Kondisi tanah
3. Pasang surut Bathimetry dan gradient pantai

Memperlihatkan kondisi tanah dan fungsi dari pada Breakwater itu sendiri, maka type
pemecah/peredam energi gelombang ada bermacam-macam dan salah satunya adalah type
box-beton (kubus beton), tipe ini memiliki beberapa keuntungan seperti :
1. Dari segi teknis sangat efektif sebagai peredam energi gelombang Kubus Beton memiliki
perbedaan berat jenis sekitar 2,4 kali dari berat jenis air atau sekitar 2,4 ton untuk 1 m3
beton.

2. Dari segi pelaksanaan data dibuat di tempat dan mudah dalam penataan. Bentuk kubus
memudahkan kita untuk menata bentuk breakwater sesuai keinginan kita. Kadang
breakwater murni kita gunakan sebagai pemecah gelombang namun kita dapat juga
menyusunnya hanya untuk mengurangi energi gelombangnya saja dengan bentuk susunan
berpori.

3. Untuk kondisi tertentu dari segi biaya jauh lebih murah. Untuk daerah-daerah yang tidak
memiliki tambang kelas C yang menyangkut batu gunung mulai berat 5 kg 700 kg
keputusan untuk menggunakan kubus beton dapat membantu dan mengurangi biaya
pengadaan dan mobilisasinya.

2.4.3 Definisi Perforated Breakwater


Perforated wall breakwater pertama kali diusulkan pada tahun 1961 oleh G.E. Jarlan.
Breakwater jenis ini diadopsi dari breakwater bentuk kaison dengan memodifikasi dinding
vertikal bagian depan kaison (yang menghadap ke laut) diberi perforasi, sedangkan dinding
kaison bagian belakang adalah dinding impermeable. Ruang yang ada diantara dinding depan
dan belakang disebut wave chamber.
Karena kemampuannya dalam menyerap energi gelombang dan stabilitas yang tinggi
terhadap gelombang, tipe kaison tersebut dimanfaatkan dan diadopsi sebagai seawall dan
breakwater. Meskipun pada awalnya perforated wall caisson (kaison dinding berpori)
ditujukan untuk laut yang relatif tenang, pada tahap selanjutnya sudah dimanfaatkan untuk
laut terbuka (Takahashi, 1996).

II-12
Gambar 2.8 Perforated-Wall Caison/ Breakwater (Takahashi, 1996 dalam Indra, 2011)

2.4.3.1 Beberapa Studi Perforated Breakwater


Suh dkk (2006) dalam Indra (2011) mengembangkan model numerik untuk
menghitung refleksi dari gelombang irreguler untuk breakwater kaison dengan perforasi
pada sebagian dindingnya. Mereka momodifikasi penelitian sebelumnya tentang model
numerik dari refleksi gelombang reguler pada breakwater kaison dengan perforasi penuh
pada dindingnya. Model numerik tersebut kemudian diverifikasi dengan melakukan
pengujian model fisik di laboratorium.
Dari pengujian model kaison dengan perforasi pada sebagian dindingnya (partially
perforated-wall caisson breakwater) diperoleh bahwa, koefisien refleksi bernilai minimum
baik untuk gelombang regular dan irregular pada saat B/Lc dan B/Lcs adalah sekitar 0,2
dimana B adalah lebar wave chamber, Lc adalah panjang gelombang didalam wave chamber
dan Lcs adalah panjang gelombang signifikan didalam wave chamber.

Gambar 2.9 Sketsa model perforated-wall caisson breakwater : (a) fully perforated-wall
(b) partially perforated-wall (Suh dkk, 2006 dalam Indra 2011)

II-13
Armono dan Hall 2002 dalam Ariyarathne 2007 dalam Andojo dkk 2010 melakukan
penelitian terhadap terumbu karang berongga/Hollow Hemispherical Shape Artificial Reef
(HSAR), mengungkapkan pengurangan tinggi gelombang dipengaruhi oleh kecuraman
gelombang (wave steepness), kedalaman struktur yang tenggelam dan geometri karang. Hasil
penelitian mengungkapkan sekitar 60% energi gelombang yang datang dapat dikurangi.
Konfigurasi penelitian oleh Armono dan Hall dapat dilihat pada Gambar 2.8 beserta dengan
parameter penelitian, dimana B adalah lebar total dari beberapa terumbu karang, h adalah
jarak dari dasar perairan hingga bagian teratas dari terumbu karang, dan d adalah kedalaman
perairan. Adapun dalam penelitian tersebut, Armono dan Hall meletakkan terumbu karang
buatan berongga di atas struktur solid.

Gambar 2.10 Sketsa konfigurasi penelitian Hollow Hemispherical


Shape Artificial Reefs (HSAR) oleh Armono dan Hall 2002

Ariyarathne 2007 dalam Andojo dkk 2010, melakukan penelitian terhadap Perforated
Breakwater. Dimana struktur breakwater terdiri dari struktur masif dari dasar hingga ke
bagian atas breakwater dengan bagian perforasi pada bagian atas (gambar 2.9), Ariyarathne
menemukan refleksi, transmisi dan energy disipasi
tergantung pada parameter B/L, dimana B adalah lebar struktur dan L adalah panjang
gelombang. Untuk kondisi gelombang yang diuji, energi disipasi berkisar antara 56% dan
78%, dan untuk lebih dari 75% dari kasus yang diuji, energi disipasinya di atas 69%. Ini
berarti struktur sangat efektif untuk energy disipasi. Sementara koefisien refleksi menurun
dengan meningkatnya B/L sampai sekitar 0,225 dan nilai koefisien refleksi mulai meningkat
kembali. Koefisien refleksi minimum terjadi pada B/L 0,2 - 0,25. Hal ini sejalan dengan
Kondo (1979), Suh, dkk. (2006) dan Hagiwara (1984).

II-14
Gambar 2.11. Sketsa percobaan perforated breakwater oleh Ariyarathne, 2007
(a) Tampak samping (b) Tampak depan

2.5 Formula Pemecah Gelombang

2.5.1 Dimensi Breakwater

2.5.1.1 Elevasi Puncak Breakwater


1. Wave Run-up
Pada waktu gelombang menghantam suatu bangunan, gelombang tersebut akan naik
(run-up) pada permukaan bangunan. Elevasi (tinggi) bangunan yang direncanakan tergantung
pada run-up dan limpasan yang diijinkan. Run-up tergantung pada bentuk dan kekasaran
bangunan, kemiringan dasar laut di depan bangunan, dan karakteristik gelombang. Karena
banyaknya variabel yang berpengaruh, maka besarnya run-up sangat sulit ditentukan secara
analitis. Berbagai penelitian tentang run-up gelombang gelombang telah dilakukan di
laboratorium. Hasil penelitian berikut berupa grafik-grafik yang dapat digunakan untuk
menentukan tinggi run-up. Gambar dibawah merupakan hasil percobaan yang dilakukan oleh
Irribaren untuk menentukan besar run-up gelombang pada bangunan dengan permukaan
miring untuk berbagai tipe material, sebagai fungsi bilangan Irribaren untuk berbagai jenis
lapis lindung yang mempunyai bentuk berikut :
tan
= 0.5 ...........................................................................................2.1(Triatmodjo,1999)
( )

Dengan :
Ir : bilangan Irribaren
r : sudut kemiringan sisi breakwater
H : tinggi gelombang di lokasi bangunan

II-15
L0 : panjang gelombang di laut dalam

Gambar 2.12 Grafik Run-up Gelombang


(Sumber : Triatmodjo 1999)
Grafik tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung run down (Rd) yaitu turunnya
permukaan air karena gelombang pada sisi breakwater. Kurva pada gambar tersebut
mempunyai bentuk tak berdimensi untuk runup relatif Ru/H atau Rd/H sebagai fungsi dari
bilangan Irribaren, di mana Ru dan Rd adalah runup dan run down yang dihitung dari muka
air laut rerata.
2. Elevasi puncak
Elevasi puncak breakwater dihitung berdasarkan kenaikan (run-up) gelombang yang
tergantung pada karakteristik gelombang. Elevasi puncak breakwater dapat dihitung dengan
rumus :
Elevasi puncak = HWS + Run Up + tinggi kebebasan................ 2.2(Triatmodjo, 1999)
Dengan :
HWS : muka air pasang
Run up : tinggi limpasan air pada bangunan
Tinggi kebebasan : diasumsikan 0,5 m

2.5.1.2 Lebar Breakwater


Lebar puncak juga tergantung pada limpasan yang diijinkan. Selain itu, lebar puncak
juga harus cukup lebar untuk keperluan operasi peralatan pada waktu pelaksanaan dan
perbaikan. Lebar puncak breakwater dapat dihitung dengan rumus berikut :

II-16
1/3
= . [] ..................................................................................... 2.3(Triatmodjo, 2009)

Dengan :
B : lebar puncak
n : jumlah armour unit tiap lapisan
k : koefisien lapis
W : berat butir armour unit
r : berat jenis armour unit

2.5.1.3 Berat Unit Lapisan Breakwater


Berat unit Armour dapat dihitung dengan rumus berikut :
.
= ............................................................................. 2.4(Triatmodjo, 2009)
(1)3


Dimana =

Dengan :
W : berat butir pelindung
r : berat jenis armour
a : berat jenis air laut
H : tinggi gelombang rencana
: sudut kemiringan sisi breakwater
KD : koefisien stabilitas

2.5.1.4 Jumlah Unit pada Lapisan Breakwater


Tebal lapis pelindung dari sebuah breakwater dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut ini :
1/3
= [] ............................................................................ 2.5 (Triatmodjo, 2009)

Sedangkan jumlah armour unit yang dibutuhkan dalam perencanaan ini adalah:
2/3
= . . [1 100] [ ] .................................................... 2.6 (Triatmodjo, 2009)

Dengan :
t : tebal lapis pelindung
n : jumlah unit armour dalam lapis pelindung
k : koefisien lapis
A : luas permukaan

II-17
P : porositas rerata lapis pelindung

N : jumlah armour unit untuk satuan luas permukaan A


t : berat jenis armour

2.5.2 Parameter Gelombang


Berdasarkan teori Airy maka gerak gelombang dianggap sebagai kurva sinus harmonis
(sinusiodal progressive wave), gelombang dapat dijelaskan secara geometris (Triatmojo,
1999) berdasarkan :
a. Tinggi gelombang (H), yaitu jarak antara puncak dan lembah gelombang dalam satu
periode gelombang.
b. Panjang gelombang (L), jarak antara dua puncak gelombang yang berurutan.
2
= 2
( ) ............................................................................ 2.7 (Triatmodjo, 2009)

Dengan menggunakan cara iterasi maka persamaan (2.7) dapat diselesaikan untuk
menentukan panjang gelombang (L). Pada persamaan (2.7) diperlukan panjang gelombang
awal (Lo) dengan menggunakan persamaan berikut:
= 1.56 ........................................................................................ 2.8 (Triatmodjo, 2009)
c. Jarak antara muka air rerata dan dasar laut (d) atau kedalaman laut. Ketiga parameter
tersebut diatas digunakan untuk menentukan parameter gelombang lainnya, seperti :
a. Kemiringan gelombang (wave steepness) = H/L
b. Ketinggian relatif (relative height) = H/d
c. Kedalaman relatif (relative depth) = d/L
Parameter penting lainnya seperti :

Amplitudo gelombang (A), biasanya diambil setengah tinggi gelombang ( 2 )

Periode gelombang (T), yaitu interval waktu yang dibutuhkan antara 2 puncak
gelombang (wave crest),
Frekuensi (f), yaitu jumlah puncak gelombang yang melewati titik tetap per-detik.
1
Frekuensi berbanding terbalik dengan periode, F = . Satu periode gelombang

dapat juga dinyatakan dalam ukuran sudut () = 2 seperti dijelaskan pada gambar
dibawah ini.

2.5.3 Teori Redaman Gelombang


Gelombang yang menjalar melalui suatu rintangan, sebagian dari energi gelombang
akan dihancurkan melalui proses gesekan, turbulensi dan gelombang pecah, dan sisanya akan
II-18
dipantulkan (refleksi), dihancurkan (disipasi) dan yang diteruskan (transmisi) tergantung dari
karakteristik gelombang datang (periode, tinggi gelombang dan panjang gelombang), tipe
perlindungan pantai (permukaan halus atau kasar) dan dimensi serta geometri perlindungan
(kemiringan, elevasi dan lebar halangan) serta kondisi lingkungan setempat (kedalaman air
dan kontur dasar pantai) (CERC, 1984). Parameter refleksi gelombang biasanya dinyatakan
dalam bentuk koefisien refleksi (Kr) yang didefinisikan sebagai berikut :

= = ............................................................................ 2.9 (Triatmodjo, 2009)

1 1
Dimana energi refleksi Er = dan energi gelombang datang adalah Ei =
8 8

dengan adalah rapat massa zat cair dan g adalah percepatan gravitasi. Nilai Kr berkisar dari
1,0 untuk refleksi total dan 0 untuk tidak ada refleksi. Sedangkan koefisien transmisi (Kt)
dihitung dengan persamaan berikut :

= = .......................................................................... 2.10 (Triatmodjo, 2009)

1
Dimana energi gelombang transmisi adalah Et = 8

Menurut Horikawa (1978) bahwa besarnya energi gelombang yang didipasikan


(dihancurkan/diredam) adalah besarnya energi gelombang datang dikurangi energi
gelombang yang ditransmisikan dan direflesikan (Kd = 1-Kr-Kt).

2.6 Variabel Penentu Pemecah Gelombang

2.6.1 Keadaan Geografi


a. Letak Geografis
b. Batas wilayah
c. Luas Wilayah

2.6.2 Kondisi Hidro Oseanografi


1. Angin
Tinggi dan periode gelombang yang dibangkitkan, dipengaruhi oleh angin dengan
variabel kecepatan angin U, lama hembus angin D, arah angin dan fetch F (daerah
dimana kecepatan dan arah angin konstan). Distribusi kecepatan angin diatas
permukaan laut terbagi dalam tiga daerah sesuai dengan elevasi di atas
permukaannya, yaitu :
a. Geostropik Region, berada pada lebih dari 1000 meter di atas permukaan air

II-19
b. Ekman Region, berada antara elevasi 100 1000 meter
c. Relative Isobaric Region, berada antara elevasi 10 100 meter, dengan tekanan relatif
konstan.
2. Pasang Surut
Kondisi pasang surut yang perlu diketahui dalam perencanaan pemecah
gelombang adalah :

a. Kedudukan permukaan air tertinggi (pasang).


b. Kedudukan permukaan air terendah (surut).
c. Waktu pasang dan waktu surut.

Dalam perencanaan pemecah gelombang, pengetahuan tentang pasang surut


sangat penting, untuk memprediksi elevasi di puncak pemecah gelombang, alur
pelabuhan dan mengetahui waktu pengecoran di pelabuhan dapat dilaksanakan.

Beberapa jenis elevasi permukaan air yang ditetapkan berdasarkan data pasut
dan dipakai dalam perencanaan pemecah gelombang adalah :

a. Muka Air Laut Tertinggi (High Water Level, HWL), yaitu muka air tertinggi yang
dicapai pada saat pasang dalam satu siklus pasang surut.
b. Muka Air Laut Terendah (Low Water Level, LWL), adalah kedudukan air terendah
yang dicapai pada saat surut dalam satu siklus pasut.
c. Muka Air Tinggi Rerata (Mean High Water Level, MHWL), yakni rerata muka air
tinggi selama periode tertentu, kurang lebih 19 tahun.
d. Muka Air Rendah Rerata (Mean Low Water Level), adalah rerata muka air rendah
selama periode tertentu, kurang lebih 19 tahun.
e. Muka Air Laut Rerata (Mean Sea Level, MSL), yaitu muka air rerata antara MHWL
dan MLWL.
f. Higher High Water Level (HHWL), adalah muka air tertinggi dari dua air tinggi
dalam satu hari, seperti pada pasut campuran.
g. Lower Low Water Level (LLWL), adalah muka air terendah dari dua air rendah dalam
satu hari, seperti pada pasut campuran.

Pada umumnya sifat pasang surut di perairan ditentukan dengan menggunakan


rumus Formzahl, yang berbentuk :

F = K1+O1 / M2+S2

II-20
dimana nilai Formzahl :

F=0.00 0.25; pasut bertipe ganda (semi diurnal)

F= 0.26 1.50 ; pasut bertipe campuran dengan tipe ganda yang menonjol
(mixed,mainly semi diurnal)

F= 1.51 3.00 ; pasut bertipe campuran dengan tipe tunggal yang menonjol
(mixed,mainlydiurnal)

F>3.00; pasut bertipe( diurnal)

O1 = unsur pasut tunggal utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan

K1 = unsur pasut tunggal yang disebabkan oleh gaya tarik matahari

M2 = unsur pasut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan

S2 = unsur pasut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik matahari

3. Gelombang
A. Karakteristik dan Parameter Gelombang
Pada perairan terbuka, bentuk gelombang mendekati bentuk lengkung sinus
(sinusoidal), dimana arah perambatannya dinyatakan dengan sudut kemiringan
terhadap arah angin. Gambar berikut menggambarkan suatu gelombang yang berada
pada sistem koordinat x-y, dengan penjalaran gelombang arah x.

Gambar 2.13 Ilustrasi Gelombang Sinusoidal

II-21
Beberapa notasi yang digunakan dalam perhitungan gelombang adalah sebagai
berikut :

D : jarak antara muka air rerata dengan dasar laut.

(x,t) : fluktuasi muka air terhadap muka air rerata.

a : amplitudo gelombang

H : tinggi gelombang (2a)

: panjang gelombang

T : periode gelombang, interval waktu yang diperlukan oleh partikel air untuk
kembali pada kedudukan yang sama dengan kedudukan sebelumnya.

C : cepat rambat gelombang (/T)

k : bilangan gelombang (2p/)

: frekuensi gelombang (2/T)

B. Refraksi Gelombang
Kecepatan gelombang tergantung pada kedalaman air dimana gelombang
tersebut merambat. Puncak gelombang bergerak menuju daerah yang dangkal dimana
akan terjadi penikungan arah terjang gelombang, proses perubahan arah terjang
gelombang inilah yang disebut dengan refraksi. Gelombang dengan periode yang
penjang akan lebih dulu terrefraksi pada air dalam, sehingga terbentuk gelombang
yang lebih tinggi pada saat gelombang mencapai tepian pantai.
Beberapa cara untuk membuat diagram refraksi diantaranya :
1. Wave Crest Method
2. Orthogonal Method

C. Difraksi Gelombang
Ketika dalam perjalanan serangkaian gelombang dijumpai penghalang
impermeable seperti breakwaters, pulau atau tanjung, maka puncak gelombang akan
berputar terhadap ujung penghalang dan bergerak ke daerah yang terlindungi oleh
penghalang tersebut. Fenomena gelombang seperti ini disebut Difraksi Gelombang.
Difraksi terjadi ketika terjadi perbedaan energi gelombang yang tajam sepanjang

II-22
puncak gelombang. Daerah yang telindungi oleh penghalang ketika terjadi difraksi
disebut dengan daerah difraksi Sedangkan perbandingan antara tinggi gelombang di
daerah difraksi (HA) dengan tinggi gelombang yang datang (Hi) disebut Koefisien
Difraksi (K).
HA = K x Hi

II-23