Anda di halaman 1dari 4

Menyelamatkan Harimau Sumatra: Dimulai dari Mana?

Catatan untuk Hari Harimau Internasional



Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae)


merupakan sub spesies terakhir dari jenis harimau yang pernah ada di Indonesia. Dua
kerabatnya, Harimau Bali (P. t. balica) dan Harimau Jawa (P.t. sondaica) sudah lama hilang
jejaknya dari alam tempat mereka hidup. Harimau Bali telah dinyatakan punah sejak tahun 1940-
an sedangkan saudaranya yaitu Harimau Jawa dinyatakan sudah tak terlihat lagi sejak tahun
1980-an. Pada akhir tahun 1970an, diyakini populasi Harimau Sumatra berkisar sekitar 1.000
inidividu, kemudian menurun menjadi sekitar 400-500an individu pada awal 1990an. Berdasar
data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2007), saat ini estimasi populasi harimau
di delapan kawasan yang telah diidentifikasi dari 18 kawasan yang ada hanya tersisa sekitar
250an individu saja, sementara di 10 kawasan lainnya belum diestimasi. Namun para ahli
harimau yakin populasinya di Sumatra tidak lebih dari estimasi tahun 1990an tersebut.

Kini dunia kembali mengingatkan pentingnya peran si Raja Hutan ini dengan peringatan Hari
Harimau Internasional yang jatuh setiap tanggal 29 Juli.Tahun ini adalah tahun kelima perayaan
Hari Harimau Internasional sejak ditetapkan pada 23 November 2010 lalu di St. Petersburg,
Rusia. Dalam The St. Petersburg Declaration on Tiger Conservation, dibuat kesepakatan bersama
bahwa dunia akan berupaya untuk meningkatkan populasi yang ada sekarang hingga dua kali
lipat di tahun 2022. Peran penting harimau dalam ekosistem disebutkan jelas dalam deklarasi
tersebut, bahwa predator ini adalah salah satu indikator penting ekosistem yang sehat. Rusaknya
ekosistem tidak hanya berdampak pada kepunahan harimau, tetapi juga hilangnya
keanekaragaman hayati. Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang menandatangani
Deklarasi Konservasi Harimau di St. Petersburg, Rusia pada 2010. Bahkan Kementerian
Kehutanan pada 2007 lalu sudah membuat Rencana Aksi Konservasi yang masih berlaku hingga
2017.

Meski sudah ada rencana aksi dan kesepakatan antar negara, laporan kematian Harimau Sumatra
terus membanjiri media. Termasuk konflik dengan petani di Jambi selama dua tahun terakhir
yang mengorbankan 46 ekor harimau, maupun salah urus di Kebun Binatang Surabaya yang
akhirnya juga membuat satu ekor harimau di sana mati. Mengutip judul di atas, Penyelamatan
Harimau Sumatra harus mulai dari mana? Jawabannya tidak sederhana. Untuk menentukan apa
yang harus dilakukan dalam rangka menyelamatkan Harimau Sumatra dari kepunahan, terlebih
dahulu pemutakhiran data dan informasi harus dilakukan. Bagaimana status dan sebaran
Harimau Sumatra terkini ? Berapa jumlah populasi terkini? Apa dan bagaimana tingkatan
ancaman saat ini? Apa yang telah dan dapat dilakukan para pemangku kepentingan untuk
menyelamatkan Si Belang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus bisa dijawab untuk membuat
suatu tindakan yang tepat bagi penyelamatan harimau Sumatra.

Memastikan populasi Harimau Sumatra memang bukan hal yang mudah karena memerlukan
cara dan peralatan tertentu, termasuk menggunakan camera trap. Untuk mengamati Harimau,
camera trap dipasang di tempat yang diperkirakan menjadi kantong populasi harimau secara
sistematis. Sejak 1996, dengan perkiraan populasi yang hanya 400-500 ekor IUCN (International
Union for Conservation of Nature) telah memasukkan Harimau Sumatra dalam Daftar Merah
satwa terancam punah dengan status Kritis (Critically Endangered). Hanya tinggal selangkah
lagi sebelum statusnya dinyatakan punah di alam.

Harimau hidup di kawasasan hutan hujan tropis dataran rendah dan hutan gambut, akan tetapi
habitat harimau semakin menghilang seiring dengan berkurangnya tutupan hutan hampir di
seluruh Pulau Sumatra akibat konversi hutan untuk kepentingan perkebunan sawit, pembangunan
Hutan Tanaman Industri, pemukiman, pembangunan jalan yang membelah kawasan hutan
maupun untuk kepentingan lainnya. Kondisi tersebut menyebabkan menyempitnya dan
fragmentasi wilayah sehingga habitat harimau terpisah dalam blok-blok hutan.

Selain hilangnya habitat, perburuan dan perdagangan secara illegal serta konflk dengan manusia
menjadi penyebab utama berkurangnya populasi Harimau Sumatra. Bahkan diyakini perburuan
dan konflik saat ini menjadi faktor pembunuh Harimau yang paling tinggi, demikian menurut
M.S. Sembiring, Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) yang
menyoroti kondisi Harimau Sumatra. Indikasi itu tercermin dari data yang dirilis jejaring
perdagangan satwa langka internasional, TRAFFIC, bahwa hanya dalam waktu empat tahun
sepanjang 1998-2002, sudah ada 50 harimau Sumatra yang tewas diburu. Hal ini diakui oleh
Konvensi pengendalian perdagangan spesies hidupan liar internasional (Convention on
International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora/CITES) yang memasukkan
program khusus konservasi kucing besar melalui resolusi CITES, sehingga seluruh 181 negara
anggota CITES akan ikut mengontrol dan mengamankannya.

Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan Lembaga Swadaya Masyarakat,


sebenarnya tak tinggal diam untuk mencegah kepunahan Harimau Sumatra. Perlindungan habitat
dan monitoring populasi secara intensif terus dilakukan di beberapa kantong populasi prioritas di
Sumatra, khususnya beberapa kawasan konservasi yang menjadi habitat penting Harimau
Sumatra, seperti TN Gunung Leuser (Aceh dan Sumatera Utara), TN Bukit Tiga Puluh (Riau),
SM Rimbang Baling (Riau), TN Kerinci Seblat (Jambi-Bengkulu-Sumatera Barat-Sumatera
Selatan), TN Bukit Barisan Selatan (Lampung), dan TN Way Kambas (Lampung).
Yayasan KEHATI melalui program Tropical
Forest Conservation Action for Sumatra (TFCA-Sumatera), yang merupakan program kerja
sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat dalam konservasi Hutan
Tropis di Sumatra mendorong penguatan dukungan dan keterlibatan secara aktif masyarakat,
pemerintah dan juga swasta agar harimau tetap terjaga keberadaannya di alam. Yayasan
KEHATI beserta mitra yang bekerja di lapangan mengidentifikasi paling tidak ada lima hal
penting yang harus dilakukan untuk mencapai target peningkatan populasi Harimau Sumatra,
sebagaimana dideklarasikan di St. Petersburg, yaitu:

1) Perlindungan dan pemulihan kawasan yang berfungsi sebagai habitat dan koridor
(penghubung) antar habitat; termasuk patroli perlindungan hutan dan rehabilitasi kawasan
terdegradasi secara kolaboratif oleh Pemerintah bersama pihak Swasta dan Masyarakat.
2) Penataan ruang yang lebih memperhatikan aspek-aspek lingkungan, termasuk evaluasi
Rencana Tata Ruang Wilayah, Rencana Penggunaan Lahan maupun Rencana Pembangunan
Daerah.
3) Perlindungan dan pemantauan populasi secara intensif; termasuk dilakukannya patroli anti
perburuan liar oleh Polisi Hutan dan masyarakat dan pemantauan populasi menggunakan kaidah-
kaidah ilmiah.
4) Penanganan Konflik antara harimau dengan manusia, misalnya dengan peguatan sumberdaya
manusia (masyarakat maupun pemerintah) dalam menangani konflik, peningkatan upaya
pemulihan habitat Harimau, translokasi harimau Sumatra dari daerah-daerah rawan konflik ke
daerah yang lebih aman.
5) Peningkatan kesadaran masyarakat dan penguatan efektivitas penegakan hukum, misalnya
dengan Pembentukan Team Penanggulangan Pemburuan dan Perdagangan Liar Harimau,
program-program peningkatan kapasitas SDM di bidang tindak pidana kehutanan dan satwa liar
dan penyuluhan.

Kembali ke pertanyaan dalam judul di atas: Menyelamatkan Harimau Sumatra: Dimulai dari
Mana? Penyelamatan Harimau Sumatra ini bisa dimulai dari upaya-upaya secara terintegrasi:
pemulihan habitat, penataan ruang yang memperhatikan aspek-aspek lingkungan, penanganan
konflik dengan masyarakat, hingga kampanye dan upaya penegakan hokum yang efektif.
Sebagai bagian dari upaya penyelamatan populasi harimau, TFCA-Sumatera salah satunya
melalui mitra Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatra (PKHS) di kawasan Taman
Nasional Bukit Tiga Puluh telah membentuk tim Patroli untuk mengamankan dan memantau
kawasan penyelamatan harimau. Anggota tim terdiri dari unsur masyarakat dan petugas Taman
Nasional Bukit Tiga Puluh. Hingga saat ini , PKHS telah berhasil mengidentifikasi 58 individu
harimau berdasarkan jepretan camera trap. Sementara di Taman Nasional Kerinci Seblat,
melalui Jaringan AKAR (Aliansi Konservasi Alam Raya),TFCA-Sumatera berperan dalam
menyelamatkan habitat harimau dengan melakukan berbagai upaya untuk mengurangi
perambahan dan upaya advokasi terhadap perencanaan daerah yang dapat merusak habitat
harimau di Taman Nasional Kerinci Seblat.

Kinerja TFCA-Sumatra yang dinilai baik oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika
Serikat dalam upaya penyelamatan Harimau Sumatra dan keanekaragaman hayati Hutan Tropis
Sumatra menjadi dasar Program ini mendapat dukungan dana tambahan sebesar USD 12,6 juta.
Anggaran dana tersebut didedikasikan untuk konservasi harimau dan badak dan satwa lainnya
seperti gajah dan orangutan hingga satu dasawarsa mendatang. Diharapkan adanya alokasi dana
tersebut Indonesia mampu meningkatkan populasi Harimau Sumatra dan jenis satwa langka lain
yang ada di Sumatra sehingga terhindar dari kepunahan.