Anda di halaman 1dari 41

CEENGINEERMU

Home
kuliah
ORAGANISASI
DOKUMENT

Pemisahan Dan Pemurnian


BAB 1

PENDAHULUAN

http://ceengineermu.weebly.com/pemisahan-dan-
pemurnian.html

1.1 Latar Belakang

Pemisahan dan pemurnian merupakan suatu cara


yang dilakukan untuk memisahkan atau memurnikan
suatu ssenyawa atau sekelompok senyawa yang
mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu
bahan, baik dalam skala laboratorium maupun skala
industri. Pada prinsipnya, pemisahan
dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih
yang saling bercampur, sedangkan pemurnian
dilakukan untuk mendapatkan zat murni dari suatu
zat yang telah tercemar oleh zat lain.

Pemisahan dan pemurnian campuran memiliki


manfaat yang sangat penting dalam ilmu kimia,
industri maupun dalam kehidupan sehari-hari, dalam
banyak kasus kita dapat menggunakan material tanpa
pemurnian, baik material itu dari alam (misalnya
minyak tanah) atau yang disintesis di laboratorium,
Pemisahan atau pemurnian dengan metode tertentu
perlu dilakukan. Demikian pula dalam pekerjaan di
laboratorim maupun dalam proes industi banyak
yang melibatkan pemisahan dan pemurnian.
Misalnya pengolahan bijih dari pertambangan,
pemisahan logam dari mineralnya, pengolahan
minyak bumi, pengolahan air minum dan lain-lain.
Sedangkan contoh sederhana pemisahan dan
pemurnian yang sering dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari misalnya pemisahan ampas kelapa
dengan santannya yang dilakukan dengan metode
penyaringan.

Dalam melakukan pemisahan dan pemurnian


diperlukan pengetahuan dan keterampilan, terutama
jika harus memisahkan komponen dengan kadar
yang sangat kecil. Untuk tujuan itu, dalam ilmu
kimia telah dikembangkan berbagai cara pemisahan
dari pemisahan sederhana yang serig dilakukan
sehari-hari sampai metode pemisahan dan pemurnian
yang kompleks atau tidak sederhana.

Zat atau materi dapat dipisah dari campurannya


karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat,
itulah yang mendasari pemisahan campuran atau
dasar pemisahan.

Dalam kenyataannya pemisahan dan pemurnian


tidak dapat dipisah satu sama lain. Kita akan melihat
bahwa ketika metode pemisahan dan pemurnian baru
dikembangkan, ilmu kimia akan mendapatkan
kemajuan yang besar.

Percobaan pemisahan dan pemurnian ini dilakukan


agar kita dapat mengetahui jeni-jenis pemisahan dan
pemurnian pada campuran dan bagaimana
aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh
karena itu percobaan ini perlu dilakukan.

1.2Tujuan

- Mendapatkan zat murni dari suatu zat yang


telah tercemar oleh zat lain

- Untuk mengetahui warna sirup setelah disaring


dengan norit dan kertas saring

- Untuk mengetahui ap yang terjadi setelah


campuran air dan pasir dipisahkan

- Untuk mengetahui apa yang terbentuk setelah


campurn grm dan air dipisahkan dengan cara
Kristalisasi.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Suatu campuran diklarifikasikan sebagai homogeny


dan heterogen. Campuran heterogen terdiri atas fasa-
fasa tersendiri. Dan sifat-sifat yang teramati
merupakan gabungan daripada fasa-fasa tunggal.
Sementara campuran homogen terdiri atas fasa
tunggal yang sangat berbeda dari komponen-
komponen tunggalnya.

Larutan didefinisikan sebagai zat homogeny yang


merupakan campuran dari dua komponen atau lebih,
yang dapat berupa gas, cairan, atau padatan. Larutan
gas dibuat dengan cara mencampurkan suatu gas
dalam gas lainnya. Karena semua gas bercampur
dalam semua perbandingan, maka setiap campuran
gas adalah homogen dan ia merupakan larutan.

Ada sistem yang tidak dapat dikategorikan homogen


maupun heterogen, senyawa tersebut dikenal sebagai
koloid. Antara suspense kasr dan larutan
sesungguhnya terdapat daerah perubahan dari
heterogen ke homogen. Koloid terdapat dlam daerah
antar tersebut. Biasanya definisi koloid didasarkan
pada ukurannya. Bila partikel memiliki ukuran
antara 10-7 dan 10-4 ( 10 Ao 10.000 Ao), maka
disperse dapat disebut koloid, suspense, koloidal,
atau larutan koloidal.

Dua pengertian yang penting dalam larutan adalah


solut (zat yang dilarutkan) dan solven (zat pelarut).
Pengertian ini dapat dinyatakan bila senyawa dalam
jumlah yang lebih besar maka disebut solven dan
untuk senyawa yang berada dalam jumlah kecil
disebut solut. Meskipun demikian pernyataan ini
dapat dibalik bila ia lebih tepat.

Larutan cairan dapat dibuat dengan melarutkan gas,


cairan, atau padatan dalam suatu cairan. Jika
sebagian cairan adalah air, maka larutan disebut
larutan berair. Larutan padatan adalah padatan
padatan dalam satu komponen terdistribusi tak
beraturan pada atom atau molekul dari komponen
lainnya. (Sastrohamidjojo, 2005)

Material dapat diklarifikasikan menjadi dua


kelompok murni da campuran. Namun dalam
kenyataannya hal ini bukanlah hal yang sederhana.
Pertama, sebagian besar material disekitar kitaadalah
campuran multi komponen. Udara adalah contoh
yang paling baik. Komponen utama udara adalah
nitrogen dan oksigen. Jadi udara adalah campuran,
bukan material murni.

Dalam beberapa kasus kita tidak dapat menggunakan


material tanpa pemurnian, baik material itu yang
berasal dari alam atau yang disintesis dilaboratorium.
Pemisahan atau pemurnian dengan metode tertentu
perlu dilakukan. Dalam proses pemurnian air,
sejumlah karbon dioksida tertentu masih terlarut
dalam air. Selain itu, sejumlah sangat
kecil ion tenatrium mungkin berasal dari dinding
alat destilasi. Diperlukan cara tertentu untuk
menghilangkan ion ini.

Dasar Pemisahan Campuran

Zat atau materi dapat dipisahkan dari campurannya


karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat.
Itulah yang mendasari pemisahan campuran atau
dasar pemisahan. Beberapa dasar pemisahan
campuran antara lain sebagai berikut:

a) Perbedaan ukuran partikel

Jika ukuran partikel suatu zat yang diinginkan


berbeda dengan zat yang tidak diinginkan (zat
pencampur), dapat dipisahkan dengan metode
filtrasi (penyaringan). Untuk keperluan ini kita
harus mengunakan penyaring dengan ukuran yang
sesuai. Partikel zat hasil akan melewati penyaringan
dan disebut hasil penyaringan sedangkan zat
pencampurnya akan terhalang dan disebut residu.

b) Perbedaan titik didih

Untuk memisahkan campuran zat yang memiliki


perbedaan titik didih, kita dapat melakukannya
dengan menggunakan metode destilasi. Zat yang
memiliki titik didih yang lebih tinggi akan terlebih
dahulu menguap. Jika yang kita inginkan adalah zat
yang memiliki titik didih yang lebih tinggi, maka
langkah selanjutnya kita mengembunkan uap dari zt
tersebut (pendinginan) dan mengalirkannya kewadah
tertentu. Jika yang kita inginkan adalah zat yang
memiliki titik didih lebih rendah, maka kita cukup
memanaskan campuran tersebut saja. Sampai suhu
mencapai titik didih zat yang akan dicari.

c) Perbedaan kelarutanu zat

Suatu zat yang selalu memiliki spesifikasi kelarutan


yang berbeda, artinya suatu zat mungkin larut dalam
pelarut A tapi tidak larut dalam pelarut B, atau
sebaliknya. Secara umum pelarut dibagi menjad dua,
yaitu pelarut polar (pelarut yang memiliki kutub) dan
pelarut nonpolar (pelarrut organic) seperti alkohol,
methanol, eter dan kloroform.dengan prinsip
perbedaan kelarutan, kita dapat memisahkan
campuran dari pelarut tersebut.

d) Perbedaan pengendapan

Suatu zat memiliki kecepatan mengendap yang


berbeda dalam larutan yang berbeda. Zat yang
memiliki berat jenis lebih besar daripada pelarutnya
akan mudah mengendap. Bila dalam suatu campuran
mengandung satu atau beberapa zat dengan
kecepatan pengendapan yang berbeda, maka
pemisahan campuran tersebut dapat dilakukan
dengan metode sedimentasi atau sentrifugsi
(pemusingan). Jika dalam campuran terdapat lebih
dari satu zat yang akan kita inginkan, maka
digunakan metode presipitasi yang akan
dikombinasikan dengan metode filtrasi.

e) Difusi

Dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur


dapat berdifusi satu sama lain. Aliran ini dapat
dipengaruhi oleh muatan listrik. Listrik yang diatur
sedemikian rupa (baik besar tegangan nya maupun
kuat arusnya) akan menarik partikel zat hasil kearah
tertentu untuk memperoleh zat yang murni. Metode
pemisahan campuran dengan menggunakan bantuan
listrik disebut elektrodialisis. Selain itu, kita
mengenal juga istilah elektroforesis, yaitu pemisahan
zat yang berdasarkan banyaknya nukleotida (satuan
penyusun DNA) dapat dilakukan dengan
elektroforesis, menggunakan suatu media yang
disebut gel agarosa.

f) Adsorpsi

Adsorpsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat


lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan
pengadsorpsian. Penggunaan metode ini diterapkan
pada pemurnian air dan kotoran renik atau
organisme.

Metode Pemisahan Standar

Tidak ada cara unik untuk memisahkan campuran


menjadi komponennya. Satu-satunya cara adalah
dengan menggunakan perbedaan sifat kimia dan
fisika masing-masing komponen titik kritisnya dapat
menggunakan perbedaan sifat yang sangat kecil.
a) Filtrasi

Biasanya filtrasi alami yang digunakan, misalnya


sampel yang akan disaring dituang kecorong yang
didasarnya ditaruh kertas saring. Fraksi cairan
melewati kertas saring dan padatan tinggal diatas
kertas saring. Bila sampel cairan terlalu kental,
filtrasi dilakukan dengan penghisapan. Digunakan
alat khusus untuk mempercepat filtrasi dengan
menvakumkan penampung filtrat yang digunakan.
Filtrasi dengan penghisapan tidk cocok bila
cairannya adalah pelarut organic mudh menguap.
Dalam kasus ini, tekanan perharus diberikan pada
permukaan cairan atau larutan.

b) Adsorpsi

Tidak mudah menyingkirkan partikel yang sedikit


dengan filtrasi sebab partikel semacam ini akan
cenderung menyumbat penyaringannya. Dalam
kasus ini direkomendasikan penggunaan penyaringan
yang secara selektif mengadsorpsi sejumlah kecil
pengotor. Bantuan penyaring apapun akan bisa
digunakan bila saringannya berpori, hidrofob atau
solvofob dan memiliki kisi yang kaku. Celit, keramik
diatom, dn tanah liat teraktivasi sering digunakan.
Karbon teraktivasi memiliki luas permukaan yang
besar dan dapat mengadsorpsi banyak senyawa
organic dan sering digunakan untuk menyingkirkan
zat yang berbau dari udara atau air. Silika gel dapat
mengadsorpsi air dan digunakan meluas sebagai
desikan.

c) Rekristalisasi

Metode ini cukup sederhana, material padatan ini


terlarut dalam pelarut yang cocok pada suhu tinggi
(pada atau dekat dengan titik didih pelarutnya) untuk
mendapatkan larutan jenuh atau dekt jenuh. Ketika
larutan panas perlahan didinginkan, Kristal akan
mengendap karna kelarutan padatan biasanya
menurun bila suhu diturunkan. Diharapkan pengotor
tidak akan mengkristal karena konsentrasinya dalam
larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai januh.

Saran untuk membantu rekristalisasi :

Kelarutan material yang akan dimurnikan


harus memiliki ketergantungan yang besar pada
suhu.
Kristal tidak harus dari larutan jenuh dengan
pendinginan karena mungkin terbentuk super jenuh.

Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut


dan zat terlarut, penggunaan pelarut polar lebih
disarankan. Namun, pelarut nonpolar cenderung
merupakan larutan yang buruk untuk senyawa polar.
Kita harus hati-hati bila menggunakan pelarut polar.

Pelarut dengan titik didih rendah umumnya


lebih diinginkan. Namun, sekali lagi pelarut dengan
titik didih lebih rendah biasanya
nonpolar. (Tekeuchi, 2006)

d) Destilasi

Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair dari


campurannya berdasarkan perbedaan titik didih.
Pada proses destilasi sederhana, suatu campuran
dapat dipisahkan bila zat-zat penyusunnya
mempunyai perbedaan titik didih yang cukup tinggi.
Pada pemisahan campuran dari dua cairan yang
menguap atau yang titik didihnya berdekatan lebih
banyak persoalannya sehingga tidak dapat dilakukan
dengan destilasi biasa. Suatu cara yang sering
digunakan untuk memperoleh hasil yang lebih baik
disebut destilasi bertingkat, yaitu proses dimana
komponen-komponennya secara bertingkat diuapkan
dan diembunkan. Dalam proses ini campuran
dididihkan pada kisaran suhu tertentu pada tekanan
uap yang dilepaskan dari dalam cairan tidak murni
yang berasal dari satu komponen tetapi masih
mengandung campuran kedua komponen dengan
komposisi yang biasanya berbeda dengan komposisi
cairan yang mendidih. Bila sebagian cairan yang
telah dididihkan uapnya diembunkan, maka
campuran akan terbagi menjadi tilatdua bagian.
Bagian pertama terdiri dari uap yang terembun
disebut destilat, dan mengandung lebih banyak
komponen yang nudah menguap disbanding cairan
aslinya. Bagian kedua adalah cairan yang tertinggal
disebut residu, yang susunannya lebih banyak
komponen yang sukar menguap. Hal ini dapat
diulangi lagi beberapa kali sampai akhirnya
diperoleh salah satu komponen murni yang mudah
menguap.

Pada pemisahan campuran yang membentuk larutan


non ideal dapat menunjukan prilaku yang lebih
rumit. Campuran tersebut tidak dapat dipisahkan
secara menyeluruh kedalam komponen-
komponennya, karena bila dididihkan campuran
akan mendidih dengan konstanta campuran semacam
ini disebut azeotrop, yaitu campuran yang mendidih
pada suhu konstan dangan komposisi yang konstan.

e) Ekstraksi

Ekstraksi mempunyai peranan yang penting dalam


laboratorium dan teknik. Di dalam laboratorium
ekstraksi pelarut digunakan untuk mengambil zat-zat
terlarut dalam air dengan menggunakan pelarut
organic yang tidak bercampur dengan fase air seperti
: eter, kloroform, dan benzene. Ekstraksi pelarut juga
digunakan untuk memekatkan suatu spesi yang
dalam larutan air terlalu encer untuk dianalisa.

Dalam industri, umumnya ekstraksi pelarut


digunakan dalam analisis untuk memurnikan zat-zat
dari pengotor yang tidak diinginkan dalam hasil.

Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi,


ekstraksi dibedakan menjadi :

Ekstraksi padat-cair, zat yang diekstraksikan


terdapat didalam campuran yang berbentuk padatan

Ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksikan


terdapat didalam campuran yang berbentuk cair.
Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi
pelarut. Banyak dilakukan untuk memisahkan zat
seperti iod atau logam-logam tertentu dalam larutan
cair.

Menurut proses pelaksanaanya ekstraksi dibedakan


menjadi :

Ekstraksi kontinyu. dalam ekstraksi ini, pelarut


yang sama digunakan secara berulang-berulang
sampai proses ekstraksi selesai.

Ekstraksi bertahap. Dalam ekstraksi ini selalu


digunakan pelarut yang baru sampai proses ekstraksi
selesai. (Estein, 2005)

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Sendok

Gelas kimia 100 ml

Corong kaca

Tabung reaksi

Corong pisah

Cawan penguap

Batang pengaduk

Hot plate

Cobek

3.1.2 Bahan

Garam dapur

Kapur tulis pasir

Naftalena

Minyak goring

Norit

Sirup

Kertas saring

3.2 Prosedur Percobaan

3.2.1 Dekantasi

Dimasukan 1 sendok pasir kedalam gelas kimia


100 ml

Ditambahkan aquades 50 ml
Diaduk dengan batang pengaduk

Didiamkan dan diamati hasilnya

Dibuang fase cairnya

3.2.2 Filtrasi

Dimasukan 1 sendok kapur tulis kedalam gelas


kimia

Ditambahkan aquades 50 ml

Diaduk dengan batang pengaduk

Disiapkan corong kaca dan kertas saring

Dituang campuran air dan kapur tulis

Diamati hasilnya

3.2.3 Adsorpsi

Dimasukan 1 sendok norit, diletakkan diatas kertas


saring pada corong kaca

Dituang sirup diatas norit pada kertas saring

Diamati norit yang berada diatas kertas saring


tertahan dan sirup yang dituang masuk melalui pori-
pori kertas saring

3.2.4 Kristalisasi

Dimasukan 1 sendok garam dapur kedalam gelas


kimia

Ditambah aquades 10 ml

Diaduk hingga homogen

Dipanaskan hingga pelarutnya menguap

Diamati hasilnya

3.2.5 Ekstraksi

Dimasukan 25 ml aquads kedalam corong pisah


Ditambahkan 25 ml minyak goring

Dikocok

Didiamkan dan diamati hasilnya

Dibuang fase cairannya

3.2.6 Sublimasi

Dimasukan garam dan naftalena kedalam cawan


penguap

Ditutup dengan kertas saring yang telah dibolongi

Diletakan corng kaca teralik yang telah disumbat


lehernya

Dipanaskan diatas hot plate

Diamati hasilnya

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

NO.

Perlakuan

Pengamatan

1.

Dekantasi

- Dimasukan 1 sendok pasir kedalam gelas kimia

- Ditambahkan aquades 50 ml

- Diaduk diamkan dan diamati

Dibuang fasa cairnya

Warna aquades menjadi keruh setelah diaduk dan


setelah didiamkan terdapat endapan pasir
didalamnya
2.

Filtrasi

- Dimasukan 1 sendok kapur tulis kedalam gelas


kimia

- Ditambahkan aquades 50 ml

Setelah disaring air yang sebelumnya keruh menjadi


jernih kembali seperti semula

3.

Adsorpsi

- Diletakan 1 sendok norit diatas kertas saring


pada corong kaca

- Dituang sirup diatas norit

- Diamati

Setelah disaring warna sirup lebih muda

4.

Kristalisasi

- Sendok garam dapur di masukkan dalam gelas


kimia.

- Ditambah aquades 10 ml

- Diaduk hingga homogeny

- Dipanaskan hingga pelarut menguap

Di amati

Garam yang terlarut mengkristal kembali

5.

Ekstraksi

- Dimasukkan 15 ml dalam corong pisah

- 25 ml minyak goring
- Di kocok

- Didiankan dan diamati

- Dibuang fasa cairnya

Terbentuk 2 fase polar air

Non polar minyak goreng

6.

Sublimasi

- Dimasukkan garam dan naftalena dalam cawan


penguap di tutup dengan kertas saring yang telah di
bolongi.

- Diletakakan corong kaca terbalik yang


tersumbat lehernya

- Dipanaskan di atas hotplate

- Di amati

Naftalena menguap dan uapnya menempel di corong


kaca, garam tidak menguap.

4.2 Pembahasan

Dekantasi didasrkan pada zat padat yang tidak larut


dalam zat cair. Apabila dicampur lama-kelamaan zat
padat akan mengendap karena perbedaan massa jenis
dan gaya gravitasi. Contohnya adalah campuran
pasir dengan air.

Fitrasi didasarkan pada perbedaan ukuran partikel


dengan ukuran pori-pori alat penyaring. Ukuran
partikel yang lebih besar dari besarnya pori-pori
kertas saring akan tertahan di alat penyaring.
Contohnya penyaringan antara campuran kapur dan
air.

Adsorpsi terjadi ketika suatu zat terikat kepada suatu


padatan atau cairan (zat penyerap) dan akhirnya
membentuk suatu lapisan tipis.

Kristalisasi didasarkan pada perbedaan kelarutan dari


komponen campuran pada pelarut tertentu.
Contohnya pemisahan garam. Sedangkan
rekritalisasi adalah proses pemurnian yang
merupakan pengulangan kembali dari proses
kristalisasi.

Ekstraksi terbagi menjadi dua yaitu ekstraksi zat padt


dan ekstraksi zat cair. Ekstrak padatsi zat ini
didasarkan pada keadaan bahwa salah satu
komponen campuran tersebut dapat larut kedalam
pelarut. Ekstraksi zat cair didasrkan oleh satu
komponen cairan dari campuransebut dapat larut
kedalam pelarut.

Sublimasi didasarkan pada adanya partikel padatan


dari berucampuran tersebut yang dapat berubah dari
fase yang padat menjadi gas. Sublimasi dapat
digunakan untk memisahkan komponen yang dapat
menyublim dari campurannya yang tidak dapat
menyublim. Contohnya pemisahan naftalena dari
campuran garam.

Dekantasi (pengendapan) adalah metode pemisahan


cairan dari padatan yang tidak terlarut dengan cara
menuang secara langsung.

Filtrasi (penyaringan) ialah pemisahan campuran


berdasarkan perbedaan ukuran partikel.

Adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika


suatu zat terikat kepada suatu padatan atau cairan
(zat penyerap) yang akhirnya membentuk suatu
lapisan tipis.

Kristalisasi adalah pemisahan campuran dengan cara


menguapkan larutannya.

Ekstraksi adalah cara pemisahan suatu zat dari


campuran dengan melarutkan zat itu pada pelarut
yang sesuai. Sublimasi ialah pemisahan campuran
pada zat yang dapat menyublim.

Dalam percobaan pertama, campuran pasir dengan


air dapat dipisahkan dengan cara dekantasi
(pengendapan). Hasil dekantasi terlihat air keruh dan
pasir yang mengendap. Hal ini membuktikan bahwa
partikel pasir tidak dapat larut pada air dan partikel
pasir mengendap terlebih dahulu. Karena ukuran
partikel pasir lebih besar daripada massa jenis air.
Dalam percobaan ini , pasir adalah suspensi kasar
berupa koloid dan air merupakan dispersi koloid,
sedangkan debu yang terkandung di dalam pasir
merupakan koloid. Dua jenis campuran suspensi
kasar dan disperse koloid bersifat heterogen sehingga
dapat dipisahkan secara mekanis.

Dalam percobaan kedua, campuran kapur dengan air


dapat dipisahkan dengan cara filtrasi karena ukuran
partikel kapur lebih besar daripada pori-pori kertas
saring, maka kapur akan tertahan pada kertas saring
sementara air dapat melewatinya. Dalam hal ini,
kapur disebut residu sedangkan air disebut filtrate.

Dalam percobaan ketiga, corong kaca yang telah


dilapisi kertas saring, dan diletakan bubuk norit
diatasnya, kemudian dituang sirup pada kertas sring
tersebut. Sirup yang tadinya berwarna orange,
setelah disaring berubah warna menjadi lebih muda.
Dalam hal ini norit berkerja sebagai penyerap warna
dari sirup.

Dalam percobaan keempat, campuran garam dan air


merupakan larutan yang bersifat homogeny dan tidak
bisa dipisah secara mekanis seperti campuran pasir
dengan air dan kapur dengan air. Campuran garam
dengan air merupakan larutan sejati jenuh, sehingga
pemisahan dilakukan dengan cara kristalisasi. Cara
ini digunakan karena titik didih air lebih
kecilsehingga pada saat dipanaskan air akan
menguap. Hal ini digunakan untuk mengurangi kadar
air sehingga larutan lewat jenuh kemudian
didinginkan dan garam akan mengkristal.

Dalam percobaan kelima, pemisahan air dan minyak


dapat dilakukan dengan corong pisah. Air dan minyk
dimasukan kedalam corong pisah kemudian dikocok
dan didiamkan, sehingga terlihat minyak berada
diatas dan air berada dibawah. Hal ini dikarenakan
massa jenis minyak lebih kecil daripada massa jenis
air. Dalam percobaan ini air bersifat polar dan
minyak bersifat nonpolar. Sehingga air dan minyak
tidak dapat bercampur.

Dalam percobaan keenam, pencampuran antara


kapur barus dengan garam dapat dipisahkan dengan
cara sublimasi. Kapur barus atau naftalena jika
berbentuk cair dapat menguap dan jika dalam bentuk
padat dapat menyublim. Dalam percobaan ini ,
garam dan naftelena dimasukkan kedalm cawan
penguap yang ditutup dengan kertas saring yang
telah dilubangi kecil-kecil dan diatasnya diletakan
corong kaca terbalik yang telah disumbat lehernya,
kemudian dipanaskan. Pada saat dipanaskan muncul
gas dan seperti bintik-bintik yang menempel pada
sisi corong. Pada sublimasi ini, naftalena menyublim
terlebih dahulu dan garam mengkristal. Hal ini
dipengaruhi titik didih.

Dalam percobaan ini garam dapur digunakan sebagi


bahan untuk melakukan percobaan kristalisasi dan
sublimasi. Garam dapur dipilih sebagai bahan untuk
melakukan percobaan ini karena garam dapur dapat
bercampur secara homogen dengan air.

Minyak goreng digunakan sebagi bahan untuk


melakukan percobaan ekstraksi. Karena minyak
goreng bersifat nonpolar dan tidak dapat bercampur
dengan air.naftalena digunakan sebai bahan dalam
percobaan sublimasi.

Naftalena merupakan zat padat yang dapat


menyublim sehingga dipilih dalam percobaan ini.
Norit digunakan sebagai bahan dalam percobaan
adsorpsi karena dapat berlaku sebagai adsorben.

Sendok dalam percobaan pemsahan dan pemurnian


berfungsi untuk memindahkan bahan yang ingin
digunakan kedalam gelas kimia. Gelas kimia dalam
percobaan pemisahan dan pemurnian berfungsi
untuk menampung zat kimia, memanaskan zat kimia,
dan mengukur volume larutan yang tidak
memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi. Corong
gelas dalam percobaan ini berfungsi sebagai alat
penyaring dan memindahkan larutan ketempat yang
lebih kecil. Tabung reaksi dalam percobaan ini
berfungsi sebagai tempat untuk mereaksikan bahan
kimia dan terbuat dari bahan porselen. Cawan
penguap dalam perobaan ini berfungsi sebagai alat
untuk menguapkan suatu zat atau bahan yang ada
didalamnuya. Corong pisah dalam percobaan ini
berfungsi sebagai sebuah alat yang digunakan untuk
memisahkan cairan yang saling bercampur tapi tidak
saling larut satu sama lain. Batang pengaduk dalam
percobaan ini berfungsi sebagai alat pengaduk cairan
dalam gelas kimia.

Proses pemisahan dan pemurnian banyak sekali


diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, dalam pemurnian garam dapur. Air laut
banyak mengandung mineral terutama NaCl. Petani
dapur memishkan garam dapur dengan menjemur air
laut pada sebuah bangunan yang datar dan lapang.
Garam yang diperoleh kemudian diolah di industry
untuk dicuci dan ditambah iodium.

Saat memeras kelapa yang telah diparut, juga telah


terjadi proses pemisahan dan pemurnian secar
sederhana. Dengan menggunakan metode
penyaringan, ampas kelapa akan tertahan pada alat
saring dan santannya lolos dari alat saring.

Dalam pengolahan air, air dibersihkan dari


kekeruhan. Untuk mengendapkan kotoran dibubuhi
tawas. Gumpalan yang terjadi pada proses koagulasi
dipisahkan dengan penhyaringan menggunakan
pasir, kerikil dan ijuk.

Pemisahan dan pemurniaan juga dapat digunakan


dalam proses penyingkiran zat yang berbau dari
udara atau air. Untuk menghilangkan rasa anyir pada
air yang mengandung zat besi atau mangan dapat
menggunakan kapur.

Dalam pengolahan minyak bumi, minyak mentah


dipanaskan dalam suhu 370oc, kemudian uap yang
dihasilkan dan diembunkan pada suhu yang sesuai,
fraksi minyak bumi yang tidak terkondensasi terus
naik kebagian atas sehingga keluar sebagai gas alam.

Minyak goreng dan naftalena memiliki unsur sebagai


berikut :

Stuktur minyak goreng

H2c O C (Ch2 )7 Ch = Ch (Ch2)7 Ch3

H C O C (CH2)7 CH = CH CCH2)7 CH3

H2C O C (CH2)7 CH = CH (CH2)7 CH3

Adsorpsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat


lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan
adsorpsi. Namun, jika penyerapan atau penarikan
suatu zat oleh zat lain sampai ke bawah permukaan
disebut absorpsi.

Campuran homogeny merupakan campuran yang


tiap bagiannya mengandung jumlah zat terlarut sama
besar atau campuran yang tidak dapat dibedakan zat
pendispersi dan zat terdispersinya. Contohnya
adalah, larutan gula, larutan garam, campuran
CuSO4 dan air.

Campuran heterogen merupakan campuran yang


dapat dibedakan antar zat pendispersi dan zat
terdispersi atau campuran tersebut mengandung zat
terlarut dengan jumlah yang tidak sama. Contohnya
adalah, air kopi, campuran air dengan pasir, dan
campuran air dengan tepug beras.

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

- Untuk mendapatkan zat murni dari suatu yang


telah tercemar di lakukan proses pemisahan dan
pemurniaan.

- Setelah disaring menggunakan kertas saring


yang dilapisi norit, warna sirup berubah
menjadi muda.

- Setelah air dan pasir dipisah denagan


menggunakan metode dekantasi terjadi endapan dan
air menjadi keruh.

- Campuran garam dan air yang dipisahkan


dengan cara kristalisasi membuat terbentuknya
Kristal garam.

5.2 Saran

Sebaiknya pasir yang digunakan dalam proses


dekantasi adalah pasir yang bersih, sehingga
penghambatan tidak terganggu adanya zat lain selain
pasir.

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pembuatan larutan adalah suatu cara mempelajari


cara pembuatan larutan dari bahan cair atau padat
dengan konsentrasi tertentu. Untuk menyatakan
kepekaaan atau konsentrasi suatu larutan dapat di
lakukan berbagai cara tergantung pada tujuan
penggunaannya. Adapun satuan yang digunakan
untuk menentukan kepekaan larutan adalah
molaritas. Molaritas, persen berat, persen volume,
atau sebagainya

Dalam dunia kimia, larutan adalah campuran


homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat
yang jumlahnya sedikit didalam larutan disebut zat
terkarut atau solut, sedangkan jumlahnya yang lebih
banyak dari pada zat-zat lain dalam larutan disebut
pelarut atau solven. Proses pencampuran zat terlarut
dan pelarut membentuk larutan disebut pelarut atau
solvasi. Contoh larutan yang umum sering di jumpai
adalah padatan yang di lakukan dalam cairan. Seperti
garam atau gula yang dilarutkan dalam air. Gas dapat
pula dilakukan dalm cairan. Setelah itu, airan dapat
pula larut dalam cairan lain,dan gas larut dalam gas
lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloy dan
mieral tertentu.

Dalam pembutan larutan, dapat diketahui reaksi


reaksi apa saja yang terjadi jika zat terlarut dan zat
pelarut saling bercampur membentuk larutan.
Reaksi-reaksi yang muncul itu tidak hanya terjadi
dalam labotarium namun juga bisa terjadi dialam
kita. Sehingga percobaan ini juga sangat erat
kaitannya dengan keterampilan dasar dalam bekerja
di labotarium kimia.

1.2 Tujuan

- Mempelajari cara membuat larutan NaCl dan


HCL dengan konsentrasi tertentu.

- Mengetahui reaksi eksotern dan endoteren

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Campuran campuran yang homogen disebut larutan


yang memiliki komposisi merata atau serba sama
diseluruh bagian volumnya. Suatu larutan
mengandung zat terlrut atau lebih dari suatu pelarut.
Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya
sedikit, sedangkan pelarut adalah komponen yang
terdapat pada jumlah yang banyak.

Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat terlarut


zat terlarut yang dalam larutan lebih banyak daripada
zat terlarut yang seharusnya dapat melarutkan pada
temperatur tersebut. Larutan yang demikian disebut
larutan lewat jenuh. Banyaknya zat terlarut yang
dapat menghasilkan lautan jenuh, dalam jumlah
tertentu pelarut pada temperatur konstan disebut
kelarutan. Kelarutan suatu zat bergantung pada sifat
zat itu. Molekul pelarut, temperature dan tekanan.
Meskipun larutan dapat mengandung banyak
komponen, tetapi pada kesempatan ini hanya dibahas
larutan yang mengandung dua komponen yaitu
larutan biner. Komponen dari larutan biner yaitu zat
telarut dan zat pelarut.

a. Konsentrasi larutan

Konsentrasi didefenisikan sebagai jumlah zat terlarut


dalam setiap satuan larutan atau pelarut. Pada
umumnya konsentrasi dinyatakan dalam satuan fisik
dan satuan kimia. Cara menyatakan konsentrasi
dalam satuan fisik yaitu, persen berat (%.), persen
berat volume berat (%,%), persen volume (%.),
persen berat volume (%,), gram zat terlarut dalam
satu liter larutan, milligram zat terlarut dalm satuan
milliliter larutan, parts per million (ppm), part per
billion (ppb).

Cara menyatakan konsentrasi dalam satuan kimia


yaitu, kemolaran (M), kenormalan (n), keformalan
(m), fraksi mol. Di bidang kedokteran dan ilmu-ilmu
biologi biasanya digunakan satuan konsentrasi dalam
persen berat volume (%,), persen milligram,
equivalen (Eq), miliekivalen (m Eq)
dan keosmolaran.

- Persen berat (%, w/w)


%

- Persen volume (% ,)

- Perssen berat volume (% )

Persen ini biasanya digunakan larutan dalam air yang


sangat encer dari zat padat

- Part per million dan part per billion (PPB)

Komsentrasi inidigunakan jika larutan sangat encer

1 PPM =

1 PPB =

- Fraksi mol (x)

- Fraksi mol zat terlarut =

- Fraksi mol pelarut =

Kemolaran (F)

F=

- Kemolaran (M)

Kemolaran tidak bergantung pada temperatur dan


digunakan dalam bidang kimia fisika teristimewa
dalam sifat koligatif

M=

Kemolalan (m)

Kemolalan tidak bergantung pada temperatur dan


digunakan dalam bidang kimia fisika teristimewa
dalam sifat koligatif

m=

- Kenormalan (N)

Cara menyatakan konsentasi dengan kenormalan


biasanya digunakan dalam bidang analisis volumetri.
Setelah memperoleh harga konsentrasi dalam
kemolaran, masih harus menghitung konsentrasi
lainnya.

kenormalan =

- Persen miligram (% mg)

(%mg) =

- Keosmolar

Para ahli dibidang biologi dan kedokteran


mengguanakan keosmolaran untuk menyatakan
partikel yang aktif secara osmotik

b. Pelarutan

pada proses pelarutan, tarikan antar partikel


komponen murni terpecah dan tergantikan dengan
tarikan antar pelarut dengan zat terlarut. Terutama
jika pelarut dan zat terlarut samaa- sama polar, akan
terbentuk suatu struktur suatu zat pelarut
mengelilingi zat terlarut, hal ini memungkinkan
interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil.

Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat


dipengaruhi oloh berbagai faktor lingkungan, seperti
suhu tekanan dan kontaminasi secara umum
kelarutan suatu zat sebanding terhadap suhu. Hal ini
terutama berlaku pada zat padat, walupun ada
pengecualian. Kelarutan zat cair dalam zat lainnya
secara umum kurang peka terhasap suhu, dari pada
kelarutan padatan atau gas dalam zat cair. Kelarutan
gas dalam air umumnya berbanding terbalik
terhadap suhu.

c. Larutan ideal

Bila reaksi antar molekul komponen komponen


larutan sama besar dengan interaksi antar molekul
komponen komponen tersebut pada keadaan murni,
terbentuklah suatu idealisasi yang disebut larutan
ideal. Larutan ideal mematuhi hukum Raolt, yaituh
bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding lurus
dengan fraksi mol pelaraut dalam larutan. Larutan
yang benar - benar ideal tidak terdapat dalam, namun
beberapa larutan memenuhui kukum Raolt sampai
batas batas tertentu. Contoh larutan di yang dianggap
ideal adalah campuran benzena dan toulena. Ciri lain
larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan
penjumlah tepat volume komponen kompone
penyusunnya. Pada larutan non ideal, penjumlahnya
teapat volume zat terlarut murni dan pelarut murni
tidaklah sama dengan volume larutan. (S.S achmadi,
2001)

d. Larutan non ideal

Larutan yang tidak memenuhi atau menyimpan dari


hukum Raolt disebut larutan non ideal terjadinya
penyimpangan (deviasi) di sebabkan perbedaan
gaya tarik antara molekul sejenis dan molekul tidak
sejenis dalam larutan.

larutan non ideal di bedakn menjadi 2 yaitu:

- Larutan non ideal deviasi positif

Larutan ini terjadi di sebabkan gaya tarik antara


molekul yang berbedah lebih kecil dari pada gaya
tarik antara molekul yang sama. Dalam larutan
molekul dari tiap zat terikat lebih lemah, sehingga
lebih mudah menguap dari pada keadaan murninya.
Hal ini membuat pembentukan larutannya menyerap
panas (endoterm).

- Larutan non ideal deviasi negatif

Larutan ini terjadi bila gaya tertarik antara molekul


yang berbeda lebih besar daripada gaya tarik antar
molekul yang sama. Setiap zat dalam larutan terikat
lebih kuat. Sehingga sulit menguap daripada keadaan
murninya. Hasilnya tekanan uap dari larutanya lebih
kecil dari huku Raolt dan terjadi deviasi negatif.
Akibatnya proses pembentukan larutannya melepas
panas (eksotern). ( dan terjadi deviasi negatif.
Akibatnya proses pembentukan larutannya melepas
panas (eksotern). (Yazid Ekstien,2005).

Karena larutan adalah campuran molekul( atom atau


ion dalam beberapa hal), biasanya molekul molekul
pelarut agak berjahuan dalam larutan dibanding
dalam larutan murni. Jadi pembentukan larutan dapat
dibuat sebagai proses hipotesis sebagai berikut:

Pertama jarak antara moleku molekul meningkat


menjadi jarak rata rata yang ditampilkan dalam
larutan. Tahap ini memerlukan penyerapan energi
untuk melampaui gaya gaya intermolekul kohesi.
Tahap ini disertai dengan peningkatan enatalpi,
reaksinya adalah endoterm. Dalam tahap endoterm
kedua, pemisahan yang sama terhadap molekul
molekul terlarut terjadi. Tahap ketiga dan terakhir
adalah membiarkan molekul - molekul pelarut dan
terlarut untuk bercampur. Gaya tarik intermolekul
diantara molekul tidak sejenis menyebabkan
pelepasan energi, enalpi menur dalam tahap ini.

Larutan yang memgguanakan air sebagai pelarut


dinamakan larutan dalam air atau aquades. Larutan
yang mengandung zat terlarut dalam jumlah
yang banyak dinamakan larutan pekat. Jika zat
jumlah zat terlarut sedikit, larutan dinamakan larutan
encer. Larutan istilah yang biasanya mengandung
arti pelarut cair dengan cairan, padatan atau gas
sebagai zat terlarut.

Larutan dapat pul molekul gas terpisah jauh,


molekul molekul dalam campuran gas berbaur
secara acak, semua campuran gas adalah larutan
dalam larutan padat, pelarutnya adalah zat padat.
Kemampuan membentuk larutan padat sering
terdapat pada logam, dan larutan ini di namakan
larutan padatan subtitusional, yang ukuran atom
pelarut dan terlarutya kira - kira sama.

e. Sifat sifat koligatif

Terdapat empat sifat yang berhubungan dengan


larutan encer, atau kira kira pada larutan yang lebih
pekat, yang tergantung pada jumlah partikel terlarut
yang ada. Kegunaan praktisi sifat sifat koligatif
banyak dan beragam. Penelitian sifat sifat koligatif
juga memaikan peranan penting dalam metode
penempatan bobot molekul dan pengembangan teori
larutann empat sifat koligatif antara lain:

- Penurunan tekanan uap

Pada tahun 1880 an kimia prancis. F.M Raoult


mendapati bahwa melarutan suatu zat terlarut
mempunyai efek penurunan tekanan uap dari pelarut.
Banyaknya penurunan tekanan uap (p) terbukti
sama dengan hasil kali fraksi mol terlarut (Xb) dan
tekanan uap pelarut murni (Pao ) yaitu p=Xb. Pa

- Peningkatan titk didih danpermukaan titik


bekuh.
Titik bekuh adalah suatu pada potongan garis
tekanan tetap pada 1 atm dengan kurva peleburan,
sedangkan titik didih adalah suhu pada potongan
garis tekanan tetap pada 1 atm dengan kurva
penguapan. Peenurunan titik beku dan peningkatan
titik didih, sama seperti penurunan tekanan uap
sebanding dengan fraksi molnya.secara historis,
penurunan titik bekuh telah digunakan untuk
menetapkan bobot molekul. Namun ada keterbatasan
metode ini yang harus dipahami. Ingat bahwa titik
didih cairan tergantung pasa tekanan atmosfer.

- Tekanan Osmotik

Tekanan osmotik adalah tekanan yang dapat


menghentikan aliran molekul dari pelarut murni
kedalam larutan melalui selaput semi permabel.
Tekanan osmotik termaksud dalam sisfat siafat
koligatif karena besarnya hanya bergantung pada
jumlah partikel zat terlarut par satuan volume
larutan. Tekanan osmotik tidak tergantung pada jenis
zat terlarut.

Tekanan osmotik merupakan metode sangat penting


dalam penentuan bobot molekul, terutama untuk
mengukur larutan yang sangat encer atau zat terlarut
dengan bobot molekul sangat tinggi. (ralph. H .
Petrucci, 187)

BAB 3

MEDOLOGI PERCOBAAAN

3.1 Alat Dan Bahan

3.2.1 Alat Alat

- Neraca analitik

- Labutakar 100ml

- Gelas kimia 100 ml

- Pipet ukur 10 ml

- Pipet

- Batang pengaduk
- Corong kaca

- Spatula

3.2.2 Bahan bahan

- HCL

- NaCl

- Aquades.

3.2 Prosedur percobaan

3.2.1 Penimbangan.

- Di timbang 10 gram NaCl.

- Dilarukan dalam aquades dalam labu takar 100


ml.

- Di homogenkan.

3.2.2 Pengenceran.

- Diambil jumlah volume HCL seseuai kebutuhan


(25 ml).

- Di masukkan dalam labu takar sampai tanda


tera 100 ml.

- Di homogenkan.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil pengamatan

No

Perlakuan

pengamatan
1.

Penimbangan

- Ditimbang 10 gram NaCl

- Dilarutkan dalam aquades dalam labu takar 100


ml

- Dihomogenkan

Warna bening, setelah di homogenkan warna teteap


bening tetapi lautan terasa dingin

1.

Pegenceran

- Diambil jumlah volum HCL 25 ml

- Dimasukkan dalam labutakar

- Ditambahkan aquades sampai volum tera 100 ml

Warna bening setelah di homogenkan warna tetap


bening dan terdapat gelembung gelembung

4.2 Reaksi

- Penimbangan

Na Cl + H2O NaCl+ + Cl-

- Pengenceran

HCL + H2O H+ + CL-

4.3 Perhitungan

4.3.1 Penimbangan

Dik: konsentrasi NaCl = 10%

V larutan = 100 ml

% =

Gram zat terlarut =


= 10 gram NaCl

4.3.2 Pengenceran

Pembuatan . Larutan HCL 1 molar dari larutan


HCL 0,25 molar dalam labu takar 100 ml .

Dik : M1= 1 molar

M2= 0,25 molar

V1 = 100 ml

V2 = 100 ml

M1 . V1 = M2 . V2

V1 =

V1 = 25 ml

4.4 Pembahasan

4.4.1 Pembuatan larutan HCL

Pada proses pembuatan larutan HCL dengan dengan


menambahkan aquades ke dalam labutakar dan di
homogenkan, sampai pada titik tera, maka terjadi
reaksi ditandai dengan larutan menggelembungnya
larutan terswbut dan setelah di homogenkan larutan
tetap bening reaksi kimia terjadi.

HCL(aq) H+ CL-(aq)

4.4.2 Penimbangan larutan NaCl

Pada proses pembuatan NaCl, NaCl ditimbang


menggunakan neraca analitik. Dan menambahkan
aquades ke dalam labu takar, dan di homogenkan
sampai pada titik tera, maka terjadi reaksi di tandai
dengan warna tetap bening dan terdapat gelembung
gelembung, dan di tandai larutan menjadi dingin.

Pembuatan larutan itu sendiri terjadi yang dimana


eksoteren dan endoterm dan kedua reaksi itu
memiliki pengertian yaitu:

- Eksoterem
Eksoterem proses terjadi reaksi yang terhadi pada
sistem ke lingkungan atau proses reakasi pelepasan
panas

- Endoterm

Endoterm adalah proses reaksi yang terjadi pada


lingkungan ke sistem atau reaksi penyerapan panas.

Campuran merupakan kumpulan berbagai macam


larutan yang bergabumg dalam satu larutan dengan
konsentrasi tertentu. Dan campuran tersebut terdiri
dari larutan disperensi koloid, dab , suspensi. Maka
ketiga campuran tersebut adalah:

- Larutan

Larutan yaitu campuran yang bersifat homogen,


misalnya larutan gula, larutan cuka, dan larutan
garam.

- Disperensi koloid

Disperensi koloid adalah campuran yang bersifat


homogen dan heterogen misalnya kabut, susu, asap,
dan lain lain.

- Suspensi

Suspensi adalah campuran yang bersifat heterogen,


misalya campuran air dan sabun, air teh, air kopi.

4.4.3 Macam macam konsensentrasi

Konsentrasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara


yaitu:

- Persen volume

Persen volum menyatakan jumlah zat terlarut dalam


100 liter larutan misalnya, alkohol 76% berarti dalam
100 liter alkohol terdapat 76 liter lakohol murni.

- Persen massa

Persen massa menyatakan jumlah gram zat terlarut


dalam 100 gram larutan contohnya sirup merupakan
larutan gula 80% artinya dalam 100 gram setiap
terdapat gula.
- Molaritas

Molaritas merupakan atau menyatakan jumlah mol


zat terlarut dalam 1 liter larutan.

- Molalitaas

Molalitas menyatakan jumlah mol zat terlarut


perkilogram pelarut terkandung dalam satuan larutan
molaritas (m) dan tidak dapat dihitung dengan molar
(M) kesuali rapatan larutan tersebut diketahui.

- Normalitas

Normalitas suatu larutan adalah jumlah mol ekuvalen


zat terlarut yang terkandung dalam 1 liter larutan.
Batas ekuvalen adalah fraksi bobot molekul yang
berkenan dengan satu satuan tertentu.

4.4.4 Pecobaan

Metode percobaan larutan yaitu diperlakuan tentang


pemurniaan dan pengenceran untuk percoiti sendiri
mudah untuk didefenisikan adalah dengan
menambahkan komponen kedalam sempel dan
percobaan untuk mengamati perubahan sebagai
respon di dalam.

Pada percobaan larutan NaCl suatu larutan yang


biasa di kenal dengan garam ternyata dapat terlarut
dengan aquades, dan larutan tersebut tanpak sama
dengan larutan sebelumnya. Namun larutan NaCl
pada percobaan tersebut tanpak gelembung
gelembung yang menunujukkan bahwa larutan
aquades dan NaCl sudah bergabung atau bercampur.

Pada percobaan pengenceran bahwa yang digunakan


adalah HCL, akan tetapi HCL tersebut mempunyai
sifat yang sama dengan larutan NaCl, yaitu larutan
tersebut dapat bereaksi dengan aquades yaitu
munculnya gelembung gelenbung dan suhu pada
larutan tersebut menjadi berubah.

- Fungsi perlakuan dan fungsi reagen

Pada fungsi perlakuan percobaan dalam percobaan


yaitu HCL. Pada percobaan HCL untuk
perlakuannya yaitu HCL mengalami perubahan suhu
dan juga reaksi, yang dimana reaksinya tersebut
munculnya gelembung gelembung kecil pada
larutan dan berubah suhu suatu larutan manejadi
dingin. Dan NaCl pada percobaan larutan NaCl
untuk perlakuannya yaitu mengalami perubahan shu
dan reaksi dimana reaksi NaCl munculnya
gelembung gelembung kecil dan perubahah suhu
yang biasa menjadi dingin. Hal tersebut merupak
reaksi yang terjadi karena adanya dua campuran
yang berbeda bergabung menjadi satu.

- Fungsi reagen

Fungsi reagen dalam percobaan yaitu perlakuan


salam percobaan dimulai dari penimbangan untuk
menentukan jumlah berat larutan yang diperlukan
dalam suatu percobaan.

HCL pada percobaan larutan yang menggunakan


HCL yaitu larutan di lakukan suatu pengukuran
dengan cara melakukan pengukuran itu dengan gelas
kimia. Ternyata dalam pengukuran tersebut belum
dapat dipastikan kebenarannya dengan hanya
memperkiraan. Tetapi dilakukan pengukuran denga
neraca. Neraca analitik tersebut dapat mengukur
berapa banyak larutan dipergunakan secara tepat.

NaCl pada percobaan penimbangan NaCl pada


percobaan tersebut penimbangan menggunakan
neraca analitik, dan ternyata dalam pengukuran
tersebut digunakan lagi almunium foild untuk
memberi wadah pada suatu larutan, dan ditimbang
lagi. dalam percobaan tersebut NaCl ,mengalami
reaksi dengan Aquades yaitu munculnya gelembung
gelembung kecil dan perubahan suhu pada
campuran.

4.5.4 Faktor kesalahan

Dalam percobaan pembuatan larutan, faktor


kesalahan dalam pembuatan larutan NaCl yaitu
terjadinya kesalahan atau kurang telitian dalam
pengukuran menggunakan neraca analitik. Tetapi
pengukuran tersebut terdapat lagi kendala atau
masala yaitu kurang persediaan botool untuk
menyimpan larutan, dan kurang bersihnya keadaan
botol saat dipergunakan untuk percobaan. Namun
kesalahan tersebut terjadi karena kurangnya
kedisiplinan dalam bekerja.

Namun kesalahan terjadi juga pada percobaan


pengenceran yaitu pembuatan larutan HCL yang
telah dibuang dan larutan tersebut tidak disimpan
dalam botol yang telah disediakan. Kendala tersebut
akibat kurangnya ketelitian dalamperlakuan
percobaan. Dan kurang perhatian dalam pengamatan
yang dianjurkan dalam materi sistem.

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

- Pembuatan larutan dari bahan zat padat dan bahan


zat cair, dapat dilakukan dengan secara langsung
dengan perlakuan yang secara langsung dengan
pelarutnya yang sesuai.

- Reaksi eksoterm terjadi dalam paembuatan larutan


HCL reaksi endoterm terjadi dalam pembuatan
larutan NaCl.

- Larutan HCL dan NaCL dapat dibuat dengan cara


melarutkan denga cara melarutkan secara langsung
dengan pelarutnya yang sesuai.

5.2 Saran

Sebaiknya percobaan ini dilakukan dengan senyawa


yang lebih, tidak hanya dengan menggunakan HCL
dan NaCl. Agar hasilnya yang bisa diamati lebih
beragam

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan


yang dewasa ini telah banyak digunakan
dibandingkan metode lain seperti destilisasi,
Kristalisasi, pengendapan, ekstraksi dan lain-lain
mempunyai keuntungan dalam pelaksanaan yang
telah lebih sederhana. Penggunaan waktu yang
singkat terutama, mempunyai kepekaan yang tinggi.
Serta mempunyai kemampuan memisahkan yang
tinggi. Metode ini dapat digunakan jika dengan
metode lain tidak dapat digunakan misalnya karena
jumlah cuplikan sangat sedikit atau campurannya
kompleks.

Istilah kromatografi mula-mula ditemukan oleh


molekul Tewett (1903), Serang ahli Botani, Rusia. Ia
menggunakan kromatografi untuk memisahkan
klorofil dan pigmen-pigmen lain dari ekstrak
tanaman dengan cara ini. Nama kromatografi
diambil dari bahasa Yunani yaitu (Choromos =
penulisan) dan (Graver = Warna). Kromatografi
berarti tulisan dengan warna. Saat ini telah dikenal
berbagai macam kromatografi. Namun istilah
kromatografi yang sebenarnya sudah tidak tepat lagi.
Karena dengan kromatografi juga dapat dipisahkan
senyawa-senyawa yang tidak berwarna seperti gas.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kromatografi


adalah suatu proses migrasi diferensial dinamis
dalam sistem di mana komponen-komponen
cuplikan dikatakan secara selektif oleh fase diam.

Prinsip kromatografi adalah cara pemisahan


pemukiman yang didasarkan atas perbedaan
distribusi dan komponen-komponen campuran
tersebut di antara dua fase yaitu fase diam dan fase
bergerak. Untuk mengetahui penerapannya dari
praktikum kromatografi yang penerapannya sangat
banyak di temukan dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Tujuan

- Untuk mengetahui sifat sampel ketika/saat diuji


dengan pelarut.

- Mengamati sampel yang saat diuji dengan


alkohol.

- Mengamati sampel yang diuji dengan air.

- Mengamati sampel yang diuji dengan N-


Heksana

BAB 2

TINJAUAN PUSATAKA

Kromatografi dapat digolongkan berdasarkan pada


jenis fase-fase yang digunakan dalam kromatografi.
Fase gerak dapat berupa gas atau cair. Dan fase diam
dapat berupa zat padat atau zat cair. Maka
berdasarkan fase bergerak, fase diam terdapat empat
macam sistem kromatografi. Yaitu, kromatografi gas
cair, kromatografi gas padat, kromatografi cair -
padat, dan kromatografi cair-cair.

Kromatografi juga dapat didasarkan atas prinsipnya,


misalnya kromatografi partisi (Partikel
Chromotography) dan kromatografi serapan
(Adsorbtion Chromotography). Sedangkan menurut
teknis kerja yang digunakan, misalnya kromatografi
kolam, kromatografi lapis tipis (KLT), dan
kromatografi kertas juga kromatografi gas. Selain itu
ada juga yang digabung, misalnya partisi
kromatografi partisi gas cair, kromatografi cair
cair, kromatografi cair padat, dan lain-lain. Juga
dikenal kromatografi penukar ion dan kromatografi
altrasi gel yang prinsipnya berbeda dari prinsip
kromatografi yang telah disebutkan sebelumnya.

Dalam kromatografi hubungan suatu molekul


komponen sampel yang tertahan (terabsorpsi) atau
terdistribusi di antara fase diam dan fase gerak dapat
dilakukan dengan berbagai istilah. Istilah-istilah
yang sering digunakan dalam kromatografi
dinyatakan sebagai berikut :

a. Kesetimbangan Distribusi.

Kesetimbangan yang terjadi pada kromatografi


bersifat dinamis. Molekul sampel atau zat terlarut
berada bolak-balik di antaranya fase diam dan fase
bergerak sehingga konsumsi rata-ratanya mengikuti
hukum distribusi.

Keterangan :

Kd = Koefesiensi Distribusi atau partisi

Cs = Konsentrasi zat terlarut dalam persediaan

Cm = Konsentrasi zat dalam fase bergerak

Persamaan di atas memperlihatkan bahwa jika harga


koefesiensi distribusi (Kd) besar berarti jumlah
molekul yang berada dalam fase diam lebih banyak
dalam fase bergerak dan akan tinggal lebih lama
dalam fase diam.
b. Faktor Retardasi

Faktor Retardasi (Rf), merupakan parameter


kromatografi kromotogon kertas dan kromatografi
lapis tipis. Harga Rf merupakan ukuran kecepatan
migrasi suatu komponen pada kromatografi dan pada
kondisi tetap merupakan peranan karakteristik dan
produksibel. Rf didefinisikan sebagai perbandingan
jarak yang ditempuh komponen terhadap jarak yang
ditempuh pelarut. (Fase bergerak).

Hubungan ini berlaku jika Kd dan penampang


lintang tidak tetap sepanjang zat terlarut.

c. Fraksi Waktu

Fraksi waktu (R) tunggal dalam molekul dalam fase


bergerak dinyatakan sebagai perbandingan molekul
dalam fase bergerak terhadap jumlah metal molekul.

Merah lembayung

Indikator PP + Mg(OH)2

4.3 Pembahasan

Unsur alkali adalah unsur-unsur golongan I A dalam


tabel periodik unsur, yaitu Li (lithium), Na
(Natrium), K (Kalium), Rb (Rubidium), Cs (sesium)
dan Fr (Fransium). Fransium merupakan unsur
radioaktif. Disebut logam alkali karena oksidanya
larut dalam air dan menghasilkan larutan yang
bersifat sangat basa (alkalis).

Unsur alkali tanah adalah unsur-unsur golongan II A


dalam tabel periodik unsur yaitu Be (Berilium), Mg
(Magnesium), Ca (Kalsium), Sr (Strontium), Ba
(Barium), dan Ra (Radium). Radium merupakan
unsur radioaktif. Disebut alkali tanah sebab
oksidanya bersifat basa.

Beberapa sifat fisik unsur-unsur logam alkali sebagai


berikut :

- Jari-jari atom unsur alkali dalam tabel


periodik bertambah dari atas ke bawah. Begitu juga
dengan jari-jari ion positifnya. Ion positif terbentuk
apabila atom netral melepas elektron, sehingga jari-
jari ion positif lebih kecil daripada jari-jari atom.

- Merupakan logam lunak karena titik didih


dan titik leleh rendah. Titik didih dan titik leleh
logam alkali dalam tabel periodik dari atas ke bawah
semakin kecil.

- Logam alkali merupakan logam ringan


karena masa jenis logam alkali kecil.

- Logam alkali adalah logam yang sangat


lunak dan dapat diiris dengan pisau.

Selain sifat fisik logam alkali juga memiliki


sifat kimia antara lain :

- Atom logam alkali mudah membentuk ion


positif karena logam alkali mempunyai 1 elektron
valensi (ns1)

- Daya oksidasi logam alkali sangat besar. Hal


ini disebabkan jari-jari atom logam alkali sangat
besar sehingga sangat mudah melepaskan elektron
dari atas ke bawah tabel periodik unsur daya
oksidasinya makin bertambah.

- Logam alkali merupakan reduktor


(pereduksi) yang sangat kuat. Unsur-unsur logam
alkali sangat mudah melepaskan elektron.

- Energi ionisasi, afinitas elektron, dan


keelektronegatifan

- Spektra emisi dengan warna nyala yang


khas.
Beberapa sifat fisik unsur-unsur logam alkali tanah
adalah sebagai berikut :

- Jari-jari atom unsur alkali tanah dalam


periodik bertambah dari atas ke bawah. Demikian
juga ion positifnya. Ion terbentuk apabila atom netral
melepas elektron.

- Titik cair dan kekerasan melebihi logam


alkali

Selain memiliki sifat fisik logam alkali tanah juga


memiliki sifat-sifat kimia antara lain :

- Logam alkali tanah mudah membentuk ion


positif karena logam alkali tanah mempunyai 2
elektron valensi (ns2)

- Kereaktifan logam alkali tanah besar. Hal ini


disebabkan jari-jari atom logam alkali tanah besar,
sehingga mudah melepas elektron. Dari atas ke
bawah sifat kereaktifannya semakin bertambah.

- Logam alkali tanah merupakan reduktor


(pereduksi kuat)

- Energi ionisasi, afinitas elektron, dan


keelektronegatifan cukup besar

- Garam logam alkali tanah menghasilkan


nyala dengan warna tertentu.

Perbedaan Alkali dan Alkali Tanah

ALKALI

ALKALI TANAH

- Logam yang kuat, lunak, dan mengkilap

- Jari-jari atom besar

- Energi ionisasi rendah

- Afinitas elektron rendah

- Keelektronegatifan rendah
- Sangat reaktif

- Titik leleh rendah

- Titik didih rendah

- Densitas rendah

- Sifat basa lebih kuat daripada logam alkali


tanah

- Logam yang lebih kuat dan lebih padat

- Jari-jari atom lebih kecil dibandingkan logam


alkali seperiode

- Energi ionisasi lebih besar daripada logam


alkali seperiode

- Afinitas elektron lebih besar daripada logam


alkali seperiode

- Keelektronegatifan lebih besar daripada


logam alkali seperiode

- Kurang reaktif dibanding logam alkali


seperiode

- Titik leleh melebihi logam alkali

- Titik didih melebihi logam alkali

- Densitas melebihi logam alkali

- Bersifat basa

Secara umum sifat-sifat unsur dalam sistem periodik


unsur :

Kereaktifan adalah kemampuan suatu unsur untuk


bereaksi. Kereaktifan golongan I A (logam alkali)
dari atas ke bawah dalam tabel periodik unsur
semakin besar / bertambah. Karena pada logam
semakin besar jari-jari maka akan semakin reaktif
hal itu disebabkan semakin besar jari-jari logam,
maka elektron terluar semakin mudah untuk
dilepaskan, sehingga semakin reaktif. Jadi, Fr lebih
reaktif dari Cs, Cs lebih reaktif dari Rb, Rb lebih
reaktif dari Na, Na lebih rektif dari Li dan Li lebih
reaktif dari H.

Pada percobaan pertama ini bertujuan untuk


mengetahui kelarutan garam sulfat pada golongan II
A, yang pertama dilakukan adalah menambahkan
H2SO4 1 M pada BaCl 0,1 M dan CaCl 0,1. Pada
BaCl2 yang telah ditambahkan H2SO4, campuran itu
menjadi keruh dan banyak terdapat endapan putih.
Sedangkan pada CaCl2 yang telah ditambahkan
H2SO4 campurannya tetap berwarna putih jernih
dan tidak terdapat endapan. Dari percobaan ini dapat
diketahui bahwa kelarutan garam sulfat dari
golongan II A adalah kelarutannya akan tambah /
meningkat dari bawah ke atas.

Pada percobaan kedua ini bertujuan untuk


mengetahui kelarutan garam hidroksida pada
golongan II A, yang pertama dilakukan adalah
menambahkan NaOH 1 M pada BaCl2 0,1 M dan
CaCl 0,1 M. Pada larutan BaCl2 yang telah
ditambahkan NaOH, larutan menjadi keruh namun
terbentuk endapan tidak terlalu banyak. Sedangkan
pada larutan CaCl2 yang ditambah NaOH larutan
menjadi keruh dan terdapat banyak endapan.
Sehingga dari percobaan ini dapat diketahui bahwa
kelarutan garam hidroksida pada golongan II A
adalah kelarutannya bertambah dari atas ke bawah.

Pada percobaan ketiga bertujuan untuk mengetahui


kereaktifan logam Mg dan K. Logam Mg
dimasukkan ke dalam air yang telah dipanaskan.
Dibutuhkan waktu yang cukup lama hingga semua
Mg larutan dalam air. Pada saat terjadi reaksi
terdapat gelembung-gelembung H2. Ketika
dimasukkan indikator pp ke dalam larutan tersebut,
larutan tersebut berwarna merah lembayung. Hal ini
menandakan bahwa larutan itu mengandung /
bersifat basa. Percobaan berikutnya digunakan logam
K. Logam K dimasukkan ke dalam air. Reaksinya
begitu cepat. Pada saat reaksi terdapat percikan api.
Percikan api itu berasal dari gas H2 yang terbentuk
langsung terbakar karena reaksi sangat eksoterm.
Setelah ditambahkan indikator pp ke dalam larutan,
larutan berubah warna menjadi merah lembayung.
Hal ini menandakan bahwa larutan ini bersifat basa.
Dari percobaan tersebut dapat diketahui bahwa
golongan I A lebih reaktif daripada golongan II A.

Terdapat beberapa faktor kesalahan yang


menyebabkan hasil yang dapat kurang maksimal.
Seperti memasukkan indikator pp larutan Mg yang
belum terlarut sempurna dengan air atau Mg
dimasukkan ke dalam air yang belum panas
kemudian diberikan indikator pp hal tersebut
menyebabkan larutan tidak berubah warna menjadi
merah lembayung dan tidak bisa diidentifikasi
apakah larutan itu bersifat basa.

Semua perlakuan yang dilakukan dalam percobaan


ini mempunyai fungsi masing-masing. Aquades yang
digunakan untuk melarutkan Mg dipanaskan terlebih
dahulu adalah untuk meningkatkan kereaktifan Mg
karena Mg kurang reaktif jika dibandingkan dengan
K. Tetapi aquades yang digunakan untuk melarutkan
K tidak perlu dipanaskan karena K sangat reaktif dan
bereaksi hebat dengan H2O sehingga apabila
aquades dipanaskan terlebih dahulu akan
menimbulkan ledakan. BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa :

- CaCl2 memiliki kelarutan garam sulfat yang


lebih besar dibanding kelarutan garam sulfat BaCl2,
karena saat H2SO4 ditambahkan pada BaCl2
menghasilkan endapan sedangkan pada CaCl2 tidak
menghasilkan endapan.

- Ca memiliki kelarutan hidrooksida yang kecil.


Sedangkan Ba memiliki kelarutan hidrooksida yang
besar maka tidak mudah mengendap.

- Golongan I A memiliki kereaktifan yang sangat


besar karena elektron valensi yang dimiliki golongan
I A hanya berjumlah 1.

- Golongan II A memiliki kereaktifan yang


rendah karena elektron valensi yang dimiliki
golongan II A hanya berjumlah 2.

5.2 Saran

Sebaiknya dalam percobaan ini digunakan


juga logam dari golongan I A dan II A yang lain agar
hasil yang didapat lebih beragam.

Powered by