Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN
Pasien dengan gangguan TB Paru
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Respirasi 1 oleh dosen
Baharudin S.Kep,Ns,.M.Kep

Di susunoleh :
1. Anita (1532100 )
2. Bayu Virgian Saputra (153210051)
3. Desi Bela Rohma (153210055)
4. Hartini (153210060)
5. Imam Farudin Imran (153210061)
6. Inchi Avita Rera (153210062)
7. Khairul Anam (153210066)
8. Nita Devi Erviani (153210072)
9. Nova Suci A (153210073)
10. Rieski Dwi Maharani (153210076)
11. Sandi (1332100 )

Program Studi S1 Keperawatan/4B


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEIA MEDIKA
JOMBANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas dengan judul MAKALAH ASUHAN
KEPERAWATAN TB PARU . Dalam penyusunan makalah ini penulis mengucapkan
terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Adapun
ucapan terimakasih penulis tunjukkan kepada pihak-pihak sebagai berikut :
1. Bapak Bambang Tutuko,S.Kep,.Ns,.SH,.MH Selaku Ketua STIKES Insan Cendekia
Medika Jombang yang telah member izin dan fasilitas sehingga Makalah ini
terselesaikan dengan baik.
2. Inayatur Rosyidah S.Kep,Ns,.M.Kep Sebagai dosen pengampu mata kuliah Sistem
Respirasi 1.
3. Pihak-pihak yang tidak bisa disebut satu persatu
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah in imasih jauh dari kata
sempurna, baik dari segi penyusunan, pembahasan ataupun penulisannya. Oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran kepada pembaca yang sifatnya membangun.
Sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Jombang, 28 Februari 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...i


DAFTAR ISI .............ii

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah .............................................................................1
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................................1
1.3. Tujuan Penulisan ........................................................................................1
1.4. Batasan Pembahasan ............................................................................................2
Bab II Pembahasan
2.1. Konsep Teori TB Paru..........................................................................................4
2.2. Konsep Asuhan Keperawatan ........................................................................................11

Bab III Penutup


3.1. Kesimpulan ...............................................................................................15
3.2. Saran .........................................................................................................15

Daftar Pustaka ......................................................................................................16


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh
Mycobakterium tuberculosis, suatu basil tahan asam yang ditularkan melalui udara.Penyakit ini
ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi.Komplikasi. Penyakit TB
paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis, efusi
pleura, empiema, laryngitis dan TB usus.

Di Indonesia, angka kematian akibat TB mencapai 140.000 orang per tahun atau 8 persen
dari korban meninggal di seluruh dunia. Setiap tahun, terdapat lebih dari 500.000 kasus baru TB,
dan 75 persen penderita termasuk kelompok usia produktif. Jumlah penderita TB di Indonesia
merupakan ketiga terbesar di dunia setelah India dan China.

Oleh karena itu penulis akan membahas tentang penyakit TB Paru pada maalah yang
berjudul MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TB PARU.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang sudah dijabarkan maka penulis mengambil rumusan masalah
sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep teori penyakit TB Paru?


2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada penyakit TB Paru?

1.3 Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah diatas kita akan mengetahui tujuan dari penulisan makalah.
Sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan memahami konsep teori pada penyakit TB Paru


2. Untuk mengetahui dan memahami konsep asuhan keperawatan pada penyakit TB Paru
1.4 Batasan Pembahasan

1. Dalam konsep teori TB Paru kita akan membahas tentang definisi, etiologi, manimfestasi
klinis, Patofisiologi, penatalaksanaan medis, pemeriksaan penunjang dan komplikasi
2. Dalam konsep asuhan keperawatan TB Paru kita akan membahas tentang anamneses,
diagnose keperawatan. Intervensi keperawatan yang dibuat, implementasi keperawatan
yang dilakukan dan evaluasi.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Teori TB Paru


2.1.1 Definisi

Tuberkulosis (TB) Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh


Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi. (Mansjoer, 2009: hal
472).
Tuberkulosis adalah penyakit infeksius yang disebabkan Mycobacterium
Tuberkulosis terutama menyerang parenkim paru, dapat juga ditularkan ke bagian tubuh
lainnya, termaksuk meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe. (Brunner, 2002: hal 349).
Tuberkulosis (TB) penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosis yang mampu menginfeksi secara laten maupun progresif. (Elin, 2009: hal
918). Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosis dan biasanya menjangkiti paru. (Esther, 2010: hal 193).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa TB Paru adalah infeksi yang disebabkan oleh
mycobacterium tubercolusa yang terdapat pada saluran nafas dan menyebabkan
gangguan.
2.1.2 Etiologi
Penyebab penyakit tuberkulosis adalah bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan
Mycobacterium Bovis. Kuman tersebut mempunyai ukuran 0,5 4 mikron x 0,3 0,6
mikron dengan bentuk batang tipis, lurus atau agak bengkok, bergranular atau tidak
mempunyai selubung, tetapi mempunyai lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid
(terutama asam mikolat).
Di dalam jaringan kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni di dalam
sitoplasma makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena
banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukan bahwa
kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini
tekanan oksigen pada bagian apical paru paru lebih tinggi dari bagian lain, sehingga
bagian apical ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberculosis. (Widoyono, 2008:
hal 15).
2.1.3 Manimfestasi Klinis
a. Demam
Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat
ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
b. Batuk atau batuk darah
Gejala ini banyak di temukan.Batuk terjadi karena adanya iritasi pada
bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar.
Karena terlibatnya bronkus di setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk
baru ada setelah batuk berkembang dalam jaringan paru yakini setelah
berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan bermula. Sifat batuk dimulai
dari batuk kering (non Produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi
produktif (menghasilkan sputum).Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah
karena terdapat pembuluh darah yang pecah.Kebanyakan batuk darah pada
tuberculosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding
bronkus.
c. Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas.
Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya
sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
d. Nyeri dada
Gejala ini agak jarang ditemukan, nyeri dada tibul bila infiltrasi radang
sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua
pleura sewaktu pasien menarik atau melepaskan napasnya.
e. Malaise
Gejala malaise sering ditemukan berupa aneroksia, tidak ada nafsu maka,
badan makin kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat
malam dan lain-lain.
2.1.4 Patofisiologi
Seseorang yang menghirup basil M. Tbercolussa akan menyebar melalui
jalan nafas menuju alveoli. Apabila basil ini bias dikeluarkan melalui bersin maka
sembuh tanpa pengobatan. Basil yang ada dalam saluran nafas bias berdiam
dalam alveoli atau terbawa ke bagian tubuh yang lain melalui alira darah atau di
bagan paru-paru yang lain. System kekebalan tubuh akan merespon dengan
melakukan reaksi inflamasi. Pegeuaran zat pironegen akan merangsng tub uh
untuk hypertermi. Imun akan melakukan fagositosis dan jaringan akan bereaksi
mengakibatkan adanya eksudat dan menyebabkan bronkopneumonia.
Peradangan yang terjadi bertahun pada bronkus akan berkembang dan
merusak jaringa ikat disekitarnya dan nekrosis membentuk jaringan seperti keju
dan secret. Pertahanan primer yang tidak adekuat membentuk tuberkel dan akan
merusak membrane alveoli. Kerusakan alveli akan membentuk sputum dan terjadi
penurunan efek paru sehingga alveolus mengalami konsolidasi dan eksudasi.
PATHWAY

Mycobacterium TB droplet infection masuk lewat jalan nafas

Dibersihkan menetap didalam paru


Migrofag
Sembuh inflamasi

Pengeluaran tumbuh dan berkembang


Zat perinoge di sitoplasma macrofag

hypertermy menyebar organ lain

pembentukan tuberkel radang tahunan bronkus

kerusakan alveoli berkembang mengahancurkan


jaringan ikat
pembentukan sputum berlebih efek paru
nikrosis
ketidakefektifan jalan nafas alveolus
konsulidasi dan eksudan secret kelar saat batuk

gangguan pertukaran gas batuk berat droplet infeksi

distensi abdomen resiko infeksi

mual muntah

ketidakseimbangan nutrisi
2.1.5 Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium darah rutin : LED normal / meningkat, limfositosis.
b. Pemeriksaan sputum BTA : untuk memastikan diagnostik TB paru, namun
pemeriksaan ini tidak spesifik karena hanya 30 70 % pasien yang dapat
didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini.
c. Tes PAP (Peroksidase Anti Peroksidase)
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen staining untuk
menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB.
d. Tes Mantoux / Tuberkulin
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen staining untuk
menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB.
e. Tehnik Polymerase Chain Reaction
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam meskipun hanya
satu mikroorganisme dalam spesimen juga dapat mendeteksi adanya resistensi.
f. Becton Dickinson diagnostic instrument Sistem (BACTEC)
Deteksi growth indeks berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam
lemak oleh tuberculosis.
g. MYCODOT
Deteksi antibody memakai antigen liporabinomannan yang direkatkan pada suatu
alat berbentuk seperti sisir plastic, kemudian dicelupkan dalam jumlah memadai
memakai warna sisir akan berubah.
h. Pemeriksaan radiology : Rontgen thorax PA dan lateral
Gambaran foto thorax yang menunjang diagnosis TB, yaitu :
1. Bayangan lesi terletak di lapangan paru atas atau segment apikal lobus
bawah
2. Bayangan berwarna ( patchy ) atau bercak ( nodular )
3. Adanya kavitas, tunggal atau ganda
4. Kelainan bilateral terutama di lapangan atas paru
5. Adanya klasifikasi
6. Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
7. Bayangan millier
2.1.6 Penatalaksaan Medis
a. Medikamenosa
1. Kategori I (2 HRZE/4 H3R3) untuk pasien TBC baru.
2. Kategori II (2 HRZES / HRZE/5 H3R3E3) untuk pasien ulangan (pasien yang
pengobatan kategori 1 nya gagal).
3. Kategori III (2 HR/ 4H3R3) untuk pasien yang baru dengan BTA negative RO
positif
4. Sisipan (HRZE) digunakan sebagai tambahan bila ada pemeriksaan akhir tahap
intensif dari pengobatan dengan kategori I atau kategori II ditemuukan BTA
positif. Obat diminum sekaligus 1 jam sebelum sarapan pagi
b. Indikasi Pembedahan
1. semua pasien yang telah mendapat OAT tetapi sputum tetap posoitif
2. Pasien batuk darah masih tidak dapat diatasi dengan cara konservatif
3. Pasien dengan fisula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi
secara konservatif.
2.1.7 Komplikasi
a. Pleuritis tuberkulosa
Terjadi melalui fokus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening, sebab
lain dapat juga dari robeknya perkijuan ke arah saluran getah bening yang menuju
ronggal pleura, iga atau columna vertebralis.
b. Efusi pleura
Kelaurnya cairan dari peembuluh darah atau pembuluh limfe ke dalam jaringan selaput
paru, yang disebabkan oleh adanya penjelasan material masuk ke rongga pleura.
Material mengandung bakteri dengan cepat mengakibatkan reaksi inflamasi dan
exudat pleura yang kaya akan protein.
c. Empiema
Penumpukann cairana terinfeksi atau pus (nanah) pada cavitas pleura, rongga pleura
yang di sebabkan oleh terinfeksinya pleura oleh bakteri mycobacterium tuberculosis
(pleuritis tuberculosis).
d. Laryngitis
e. TBC Milier (tulang, usus, otak, limfe)
Bakteri mycobacterium tuberculosis bila masuk dan berkumpul di dalam saluran
pernapasan akan berkembang biak terutama pada orang yang daya tahan tubuhnya
lemah, dan dapat menyebat melalaui pembuluh darah atau kelenjar getah bening, oleh
karena itu infeksi mycobacterium tuberculosis dapat menginfeksi seluruh organ tubuh
seperti paru, otak, ginjal, dan saluran pencernaan.
f. Keruskan parennkim paru berat
Mycobacterium tuberculosis dapat menyerang atau menginfeksi parenkim paru,
sehingga jika tidak ditangani akan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada parenkim
yang terinfeksi.
g. Sindrom gagal napas (ARDS)
Disebabkan oleh kerusakan jaringan dan organ paru yang meluas, menyebabkan gagal
napas atau ketidak mampuan paru-paru untuk mensuplay oksigen ke seluruh jaringan
tubuh.
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
1. Anamnese : mengidentifikasi identitas klien yang erlu diketahui
2. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Keluhan utama: adanya batuk berdarah dan demam pada sore dan
malam hari dan hilang timbul serta timbul lama, anoreksia, penrunan
BB dan malaise.
b. Riwayat penyakit sekarang: berisi tentang keluahan lan yang
dirasakan saat ini dan bagamana klien bias merasakan keluhan
yangterjadi.
c. Riwayat penyakit dahulu : berisi data apakah klien juga pernah
mengalami penyakit serupa berupa TB Paru atau infeksi saluran
nafas yang lain.
d. Riwayat penyakit keluarga : dalam lingkup keluarga apakah juga
ada yang menderita TB Paru
e. Pengkajian BioPsikoSosio dan Spiritual klien
f. Pemeriksaan Fisik Review of Sistem : pemeriksaan keadaan umum
dan TTV Klien
1) B1 Breating : Inspeksi berupa ketidaksimetrisan bentuk dada,
klien yang kurus terlhat pergerakan dada saat bernafas,
adanya pelebaran ICS, gerakan nafas tidak ada perubahan.
Palpasi berupa penurunan gerakan dindig paru, getaran saat
perawat meletkan tagan di dada klien dank lien berbcara.
Terdapat taktil fremitus. Perkusi berupa tanpa kompliasi
akan menimbulkan suara sonor jika terdapat efaporasi pleura
maka akan redup hingga pekak. Jika pneumothorak maka
akan mengahasilkan bunyi hperresonan. Auskultasi berupa
bunyi ronchi pada sisi sakit akan terjadi penurunan resonan
voka pada efapurasi paru dan pneumothorak.
2) B2 Blood : inspeksi berupa kelemahan fisik. Palapasi berupa
penurunan denyut nadi perifer.
3) B3 Brain : kesadaran composmetis dan didapat knjungtiva
enemis pada TB Paru dengan gangguan fungsi hati
4) B4 Bladder : adanya oliguria sebagai tanda syok dan
pemantuan fungsi ginjal apakah normal atau adanya
gangguan.
5) B5 Bowel : klien mengalami mual muntah, penurunan nafsu
makan dan penurunan BB.
6) B6 Bone :adanya kelemahan, kelelahan dan insomenia serta
gangguan kativitas sehari-hari.
2.2.2 Diagosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubngan dengan eksudat dalam elviolar
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane alveolus
3. Hpertermi berhubungan dengan proses inflamasi
4. Resiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronik TB Paru
2.2.3 Intervensi Keperawatan
NO DIAGNOSA NOC DAN KRITERIA NIC
HASIL
1. Ketidakefektifan NOC: NIC:
bersihan jalan nafas status pernafasan : Manajemen jalan nafas
berhubngan dengan kepatenan jalan nafas 1. gunakan APD lengkap
eksudat dalam status pernafasan : 2. gunakan alat saction kateter
elviolar ventilasi untuk mengeluarkan eksudat
setelah dilakukan pada jalan nafas
tindakan 3x24 maka 3. intruksikan pasien nafas pelan
pasien mampu: saat dilakukan suction
1. bernafas dengan suara 4. monitor adanya nyeri
nafas bersih Monitor TTV
2. jalan nafas yang paten 1. monitor pernafasan, TD, Nadi
dan tidak ada sumbatan dan suhu degan tepat
jalan nafas 2. monitor adanya pola nafas
yang abnormal
3. monitor adanya suara nafas
tambahan terkait adanya secret
karena eksudat alveoli
2. Gangguan NOC: NIC:
pertukaran gas status resprasi : Menejemen jalan nafas
berhubungan pertukaran gas 1. Posisikan pasien untuk
dengan perubahan status tanda-tanda memaksimalkan ventilasi
membrane alveolus vital 2. Identifikasi penggunaan alat
setelah dilakukan asuhan bantu nafas
3x24 jam maka klien 3. Keluarkan secret dengan batuk
mampu : atau suction
1. memelihara paru-paru Monitor TTV
dan terbebasdari 1. Lakukan pemeriksaan
distress nafas nadi,TD, suhu dan
2. tanda-tanda vital pernafasan
dalam rentang normal 2. Monitor respirasi status dan
status O2
3. Monitor suara nafas

3. Hpertermi NOC: NIC:


berhubungan Thermoregulasi Perawatan Demam
dengan proses Setelah dilakkan 1. Monitor suhu sesering
inflamasi tindakan 3x24 jam mungkin
maka: 2. Berikan kompres pada lipatan
1. Suhu tubuh dalam paha dan aksila
rentang normal 3. Tingkatkan input cairan klen
4. Kolaborasi pemberian
antipireutik
5. Anjurkan pasien memakai
pakaian tipis
4. Resiko infeksi NOC: NIC:
berhubungan Control resiko : Kontrol infeksi:
dengan penyakit penyakit menular 1. Bersihkan lingkungan setelah
kronik TB Paru Keparahan infeksi digunakan pasien
Setelah dilakukan 2. Isolasi orang yang terkena
tindakan 3x24 jam infeksi
maka dengan criteria 3. Gunakan APD sesuai kebutuhan
hasil: 4. Cuci tngan sebelum dan sesudah
1. Klien bebas dari prosedur tindakan ke pasien
tanda infesi 5. Anjuran pasien cuci tangan
2. Tidak ada dengan tepat
penyebaran infeksi di 6. Kolaborasi pemberian antibiotic
lingkungan yang sesuai

2.2.4 Evaluasi
1. Pasien tidak mengalami hambatan saat bernafas
2. Pasien mampu mendapat sulai o2 dan mengeluarkan CO2 secara adekuat
3. Pasien terhindar dari hypertermi
4. Tidak ada pengebaran infeksi yang lebihuas bagi pasien dan lingkungan
sekitar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
TB Paru adalah infeksi pada saluran nafas diparu yang disebabkan oleh infeksi
bacterium Tubercolussa. Bakteri ini bersifat anaerob dan dapat menular hanya dari
droplet. Orang yag terkena infeksi biasanya akan mengalami demam, batuk kering atau
berdarah dan juga malaise. Dalam asuhan keperawatan diagnose keperawatan yang sering
muncul pada TB Paru yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas, gangguan pertukaran
gas, hypertermi dan resiko infeksi.
3.2 saran
Dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Karena setiap saat ilmu
pengetahuan dapat berubah dan diperbaharui. Dengan adanya makalah ini semoga kita
semua mengetahui bagaimana penanganan ada TB Paru. Kami menerima kritik dan saran
pembaca. Semoga makalah ini dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa keperawatan
atau masyarakat awam.
DAFTAR PUSTAKA
Dojodibroto, Darmanto . Respiologi(respiratory medicine). 2009. Diana Susanto: Jakarta
Somatri, Irman. KMB : Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Respirasi . 2008. Salemba Medika: Jakarta