Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit paru-paru obstruksi menahun (PPOM) merupakan suatu istilah yang
sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan
ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara. Ketiga penyakit yang
membentuk satu kesatuan yang ditandai dengan sebutan PPOM adalah : Bronkhitis,
Emifisema paru-paru dan Asma bronkial.
Perjalanan PPOM yang khas adalah panjang dimulai pada usia 20-30 tahun
dengan batuk merokok atau batuk pagi disertai pembentukan sedikit sputum mukoid.
Mungkin terdapat penurunan toleransi terhadap kerja fisik, tetapi biasanya keadaan ini
tidak diketahui karena berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Akhirnya serangan
brokhitis akut makin sering timbul, terutama pada musim dingin dan kemampuan kerja
penderita berkurang, sehingga pada waktu mencapai usia 50-60 an penderita mungkin
harus mengurangi aktifitas. Penderita dengan tipe emfisematosa yang mencolok,
perjalanan penyakit tampaknya tidak dalam jangka panjang, yaitu tanpa riwayat batuk
produktif dan dalam beberapa tahun timbul dispnea yang membuat penderita menjadi
sangat lemah. Bila timbul hiperkopnea, hipoksemia dan kor pulmonale, maka prognosis
adalah buruk dan kematian biasanya terjadi beberapa tahun sesudah timbulnya penyakit.
(Price & Wilson, 1994 : 695)

1.2 Tujuan
1. Untuk memahami konsep dasar dan asuhan keperawatan yang diberikan dengan
Masalah Pernafasan (PPOM).
2. Mengetahui tentang definisi dari PPOM.
3. Mengetahui penyebab dari PPOM.
4. Mengetahui tanda dan gejala dari PPOM.
5. Mengetahui Penatalaksanaan PPOM pada lansia.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( PPOK ) atau Penyakit Paru Obstruktif
Menahun (PPOM) merupakan satu kelompok penyakit paru yang mengakibatkan
obstruksi yang menahun dan persisten dari jalan nafas di dalam paru. Termasuk dalam
kelompok ini yaitu : bronchitis menahun, emfisema paru, beberapa bentuk dari pada
asma, bronkiektasis, dan lain lain. Walaupun masing masing penyakit mempunyai
karalteristik tersendiri tetapi sering secara klinik, radiologic dan fisiologik terdapat
overlapping satu sama lain hingga diagnosis pasti daripada salah satu penyakit sukar
ditetapkan. Secara fungsional semuanya akan mengakibatkan peningkatan tahanan
saluran nafas (airways resistance).
Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD)
2006, PPOM dibagi atas 4 derajat:
1. PPOM Ringan: biasanya tanpa gejala, faal paru VEP1/KVP < 70%
2. PPOM Sedang: VEP1/KVP < 70%, atau 50% =< VEP1 < 80% prediksi
3. PPOM Berat: VEP1/KVP < 70%, atau 30%=<VEP1<50% prediksi
4. PPOM Sangat Berat: VEP1/KVP < 70% atau VEP1<30% atau VEP1<50% disertai
gagal napas kronik

2.2 Etiologi
Berbagai penyakit yang dapat menyebabkan penyakit paru obstruksi menahun antara lain:
1. Emfisema
Emfisema paru merupakan suatu definisi anatomik, yaitu suatu perubahan
anatomik paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian
distal bronkus terminalis, yang disertai kerusakan dinding alveolus. Sesuai dengan
definisi tersebut, maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara
(alveolus) tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak
termasuk emfisema, melainkan hanya sebagai "overinflation". Emfisema akan
menyebabkan defek pada aliran udara.
2. Bronchitis kronik
Bronchitis adalah penyakit pernapasan dimana selaput lendir pada saluran-
saluran bronchial paru meradang. Ketika selaput yang teriritasi membengkak dan

2
tumbuh lebih tebal, hal ini menyebabkan penyempitan bronkus, berakibat pada
serangan-serangan batuk yang disertai oleh dahak dan sesak napas
3. Asma bronkiale
Asma merupakan suatu penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang-
cabang trakeobronkial terhadap berbagai jenis rangsangan. Keadaan ini bermanifestasi
sebagai penyempitan saluran-saluran napas secara periodic dan reversible akibat
bronkospasme
4. Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah dilatasi bronkus dan bronkiolus kronik yang mungkin
disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk infeksi paru dan obstruksi bronkus,
aspirasi benda asing, muntahan, atau benda-benda dari saluran pernapasan atas, dan
tekanan terhadap tumor, pembuluh darah yang berdilatasi dan pembesaran nodus
limfe.

2.3 Factor Resiko


1. Factor resiko yang dapat dimodifikasi:
a. Kebiasaan merokok
Pada perokok berat kemungkinan untuk terjangkit PPOM menjadi lebih
tinggi. Rokok, yang dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lender
bronchus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut merupakan
media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
b. Polusi lingkungan
Individu yang tinggal di kota kemungkinan untuk terkena PPOM lebih
tinggi dari pada individu yang tinggal di desa, karena di kota polusi udaranya lebih
tinggi dibandingkan di desa, polusi udara tersebut dapat disebabkan oleh industry-
industri, kendaraan bermotor, dll.
2. Factor resiko yang tidak dapat dimodifikasi:
a. Bertambahnya usia
b. Jenis kelamin
c. Infeksi bronkus yang berulang
d. Alergi maupun hipersensitif pada bronkus
e. Factor genetic Dimana terdapat alfa2 protease inhibitor yang rendah (penghambat
alfa2 protease)
f. Ras
g. Defisiensi alfa-1 antitripsin
3
h. Defisiensi anti oksidan
i. Pekerjaan
Pekerja tambang yang bekerja di lingkungan yang berdebu akan lebih mudah
terkena PPOM.

2.4 Patofisiologi
1. Bronchitis
a. Peningkatan muchus
Muchus yang berlebihan terjadi akibat:
1. displasia sel-sel penghasil mucus di bronchus.
2. Silia yang melapisi bronchus mengalami kelumpuhan atau disfungsi serta meta
plasia karena iritasi yang disebabkan oleh udara pernafasan.
Perubahan ini menyebabkan gangguan system escalator mukosiliaris dan
menyebabkan penumpukan muchus kental, dalam jumlah besar yang sulit
dikeluarkan dari saluran nafas. Sebagai akibat bronkiolus dapat menjadi menyempit
dan tersumbat sehingga membuat fase ekspirasi lebih lama dari keadaan normal.
Penumpukan muchus akan menjadi media persemaian microorganism sehingga
menyebabkan infeksi. Adanya infeksi menyebabkan muchosa menjadi purulen,
kemudian timbul peradangan dan menyebabkan edema dan pembengkakan
jaringan.
Alveoli yang berdekatan dengan bronkiolus dapat menjadi rusak dan
membentuk fibrosis, mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar yang
berperan penting dalam menghancurkan partikel asing termasuk bakteri.
Penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi sebagai akibat perubahan fibrotik yang
terjadi dalam jalan napas. Pada waktunya mungkin terjadi perubahan paru yang
ireversibel, kemungkinan mengakibatkan emfisema dan bronkiektasis.
b. Pembentukan edema
Alveoli adalah tempat dimana oksigen dari udara diambil oleh darah yang
melaluinya, dan karbon dioksida dalam darah dikeluarkan kedalam alveoli untuk
dihembuskan keluar. Alveoli normalnya mempunyai dinding yang sangat tipis yang
mengizinkan pertukaran udara ini, dan cairan biasanya dijauhkan dari alveoli
kecuali dinding-dindig ini kehilangan integritasnya.
Adanya infeksi-infeksi yang parah, trauma, luka paru, penghirupan racun-
racun, infeksi-infeksi paru, merokok kokain, atau radiasi pada paru-paru dapat
menyebabkan edema. Gagal ginjal dan ketidakmampuan untuk mengeluarkan
4
cairan dari tubuh dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam pembuluh-
pembuluh darah, berakibat pada pulmonary edema.
Pulmonary edema terjadi ketika alveoli dipenuhi dengan kelebihan cairan
yang merembes keluar dari pembuluh-pembuluh darah dalam paru sebagai gantinya
udara. Ini dapat menyebabkan persoalan-persoalan dengan pertukaran gas (oksigen
dan karbon dioksida), berakibat pada kesulitan bernapas dan pengoksigenan darah
yang buruk.
c. Kontraksi bronki
Terjadi karena reaksi alergi, hal ini menyebabkan antibodi IgE berikatan
dengan allergen menyebabkan degranulasi sel mast. Degranulasi ini menyebabkan
terlepasnya histamine yang mengakibatkan :
a. Konstriksi otot polos bronchialis.
b. Merangsang pembentukan mucus dan meningkatkan permeabilitas kapiler.
2. Emfisema
Emfisema merupakan kelainan dimana terjadi kerusakan pada dinding
alveolus yang akan menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. Perjalanan
udara akan terganggu akibat dari perubahan ini. Kesulitan selama ekspirasi pada
emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli,
jalan napas kolaps sebagian, dan kehilangan elastisitas untuk mengerut atau recoil.
Pada saat alveoli dan septum kolaps, udara akan tertahan diantara ruang aveolus
(disebut blebs) dan diantara parenkim paru-paru (disebut bullae). Proses ini akan
menyebabkan peningkatan ventilatory pada dead space atau area yang tidak
mengalami pertukaran gas atau darah. Kerja napas meningkat dikarenakan terjadinya
kekurang fungsi jaringan paru-paru untuk melakukan pertukaran O2 dan CO2.
Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru-paru, selanjutnya terjadi
penurunan perfusi O2 dan penurunan ventilasi. Emfisema masih dianggap normal jika
sesuai dengan usia, tetapi jika hal ini timbul pada pasien yang berusia muda biasanya
berhubungan dengan bronkhitis kronis dan merokok.
3. Asma
Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun yang buruk
terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang
sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan
antigen dengan antibody, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut
mediator) seperti histamine, baradikinin, dan prostaglandin serta anafilaksis dari
substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru
5
memperngaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme,
pembengkakan membrane mukosa, dan pembentukan mucus yang sangat banyak.

2.5 Manifestasi klinik (Tanda dan gejala)


1. Bronchitic
a. Batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan)
b. Sesak napas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan
c. Sering menderita infeksi pernapasan (misalnya flu)
d. Lelah
e. Pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan
f. Wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan
g. Pipi tampak kemerahan
h. sakit kepala

6
2. Emfisema
a. Dispnea
b. Takipnea
c. Inspeksi : barrel chest, penggunaan otot bantu pernapasan
d. Perkusi : hiperresonan, penurunan fremitus pada seluruh bidang paru
e. Auskultasi bunyi napas : krekles, ronchi, perpanjangan ekspirasi
f. Hipoksemia
g. Hiperkapnia
h. Anoreksia
i. Penurunan BB
j. Kelemahan
3. Asma
a. Batuk
b. Dispnea
c. Hipoksia
d. Takikardi
e. Berkeringat
f. Pelebaran tekanan nadi

2.6 Komplikasi
1. Hipoxemia
Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg,
dengan nilai saturasi Oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan
mood, penurunan konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul cyanosis.
2. Asidosis Respiratory
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul
antara lain : nyeri kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea.
3. Infeksi Respiratory
Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus,
peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran
udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea.
4. Gagal jantung
Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus
diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali

7
berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat
mengalami masalah ini.
5. Cardiac Disritmia
Timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis
respiratory.
6. Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial.
Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak
berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan
distensi vena leher seringkali terlihat.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan radiologist
Pada bronchitis kronik secara radiologis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a. Tubular shadows atau farm lines terlihat bayangan garis-garis yang parallel, keluar
dari hilus menuju apeks paru. Bayangan tersebut adalah bayangan bronkus yang
menebal.
b. Corak paru yang bertambah
Pada emfisema paru terdapat 2 bentuk kelainan foto dada yaitu:
1. Gambaran defisiensi arteri, terjadi overinflasi, pulmonary oligoemia dan bula.
Keadaan ini lebih sering terdapat pada emfisema panlobular dan pink puffer.
2. Corakan paru yang bertambah.
3. Pemeriksaan faal paru
Pada bronchitis kronik terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang
bertambah dan KTP yang normal. Pada emfisema paru terdapat penurunan
VEP1, KV, dan KAEM (kecepatan arum ekspirasi maksimal) atau MEFR
(maximal expiratory flow rate), kenaikan KRF dan VR, sedangkan KTP
bertambah atau normal. Keadaan diatas lebih jelas pada stadium lanjut, sedang
pada stadium dini perubahan hanya pada saluran napas kecil (small airways).
Pada emfisema kapasitas difusi menurun karena permukaan alveoli untuk difusi
berkurang.

8
2. Analisis gas darah
Pada bronchitis PaCO2 naik, saturasi hemoglobin menurun, timbul sianosis,
terjadi vasokonstriksi vaskuler paru dan penambahan eritropoesis. Hipoksia yang
kronik merangsang pembentukan eritropoetin sehingga menimbulkan polisitemia.
Pada kondisi umur 55-60 tahun polisitemia menyebabkan jantung kanan harus bekerja
lebih berat dan merupakan salah satu penyebab payah jantung kanan.
3. Pemeriksaan EKG
Kelainan yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bila sudah terdapat
kor pulmonal terdapat deviasi aksis kekanan dan P pulmonal pada hantaran II, III, dan
aVF. Voltase QRS rendah Di V1 rasio R/S lebih dari 1 dan V6 rasio R/S kurang dari
1. Sering terdapat RBBB inkomplet.
4. Kultur sputum, untuk mengetahui petogen penyebab infeksi.
5. Laboratorium darah lengkap

2.8 Penatalaksanaan
a. Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah:
1. Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya pada fase akut,
tetapi juga fase kronik.
2. Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian.
3. Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih
awal.
b. Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut:
1. Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan merokok,
menghindari polusi udara.
2. Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
3. Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi antimikroba
tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai dengan kuman
penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik.
4. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan
kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih
kontroversial.
5. Pengobatan simtomatik.
6. Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
7. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan dengan
aliran lambat 1 - 2 liter/menit.
9
c. Tindakan rehabilitasi yang meliputi:
1. Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus.
2. Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernapasan yang
paling efektif.
3. Latihan dengan beban olah raga tertentu, dengan tujuan untuk memulihkan
kesegaran jasmani.
4. Vocational guidance, yaitu usaha yang dilakukan terhadap penderita dapat kembali
mengerjakan pekerjaan semula.

d. Pathogenesis Penatalaksanaan (Medis)


1. Pencegahan : Mencegah kebiasaan merokok, infeksi, dan polusi udara
2. Obat bisolvon : Bisolvon bekerja dengan mengencerkan sekret pada
saluran pernafasan dengan jalan menghilangkan serat-serat mukoprotein dan
mukopolisakaridayangterdapat pada sputum/dahaksehingga lebih mudah
dikeluarkan.
3. N-acetylcysteine (NAC). NAC selain sebagai agen mukolitik, juga berperan
sebagai antioksidan dan anti-inflamasi, serta imunomodulator. NAC sebagai agen
mukolitik bekerja dengan cara menghancurkan/memecah jembatan disulfida dari
makromolekul mukoprotein yang terdapat dalam sekresi bronkial, sehingga mukus
menjadi lebih encer, serta bekerja dengan cara memperbaiki kerja silia saluran
napas.
Dengan adanya kerja silia yang membaik ini, maka akan sedikit mukus yang
melekat pada epitel dan menyebabkan penetrasi antibiotika ke dalam jaringan akan
meningkat, dan hal ini akan mengurangi kolonisasi bakteri. Efek ini dikenal sebagai
anti adherens bacteria dari NAC.
Peranan NAC sebagai anti-inflamasi yaitu menghambat pelepasan sitokin pro-
inflamasi, dan sebagai imunomodulator dengan cara meningkatkan fungsi sel-sel
imunitas seperti limfosit dan makrofag terhadap radikal bebas dan bakteri atau
benda asing.
4. Terapi eksaserbasi akut di lakukan dengan :
a. Antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya disertai infeksi
Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S. Pneumonia, maka
digunakan ampisilin 4 x 0.25-0.56/hari atau eritromisin 40.56/hari Augmentin
(amoksilin dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman penyebab
10
infeksinya adalah H. Influenza dan B. Cacarhalis yang memproduksi B.
Laktamase Pemberiam antibiotik seperti kotrimaksasol, amoksisilin, atau
doksisiklin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat
penyembuhan dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun
hanya dalam 7-10 hari selama periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi
sekunder atau tanda-tanda pneumonia, maka dianjurkan antibiotik yang kuat.
b. Terapi oksigen diberikan jika terdapat kegagalan pernapasan karena hiperkapnia
dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2
c. Fisioterapi membantu pasien untuk mengelurakan sputum dengan baik.
d. Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya
golongan adrenergik b dan anti kolinergik. Pada pasien dapat diberikan
salbutamol 5 mg dan atau ipratopium bromida 250 mg diberikan tiap 6 jam
dengan nebulizer atau aminofilin 0,25 - 0,56 IV secara perlahan.
5. Terapi jangka panjang di lakukan :
a. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 40,25-
0,5/hari dapat menurunkan kejadian eksaserbasi akut.
b. Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap
pasien maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari
fungsi faal paru.
c. Fisioterapi
6. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik
7. Mukolitik dan ekspektoran
8. Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II
dengan PaO2 (7,3 Pa (55 MMHg)

Rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan


terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi.

11
e. Penatalaksanaan menurut derajat PPOK
1. Berhenti merokok/mencegah pajanan gas/partikel berbahaya
2. Menghindari faktor pencetus
3. Vaksinasi Influenza
4. Rehabilitasi paru
5. Pengobatan/medikamentosa di antaranya penggunaan bronkodilator kerja singkat
(SABA, antikolinergik kerja singkat), penggunaan bronkodilator kerja lama
(LABA, antikolinergik kerja lama), dan obat simtomatik. Pemberian kortikosteroid
dapat digunakan berdasarkan derajat PPOK.
6. Pada PPOK derajat sangat berat diberikan terapi oksigen
7. Reduksi volume paru secara pembedahan (LVRS) atau endoskopi (transbronkial)
(BLVR)

12
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses
keperawatan tersebut. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga didapatkan
informasi yang tepat. Adapun hal yang perlu dikaji dalam kasus ini antara lain ;
a. Identitas klien
Nama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama/suku, warga Negara,
bahasa yang digunakan, penanggung jawap meliputi : nama, alamat, hubungan
dengan klien.
b. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan.
Kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien, apa upaya dan dimana
kliwen mendapat pertolongan kesehatan, lalu apa saja yang membuat status
kesehatan klien menurun.
c. Pola nutris metabolik.
Tanyakan kepada klien tentang jenis, frekuensi, dan jumlah klien makan dan
minnum klien dalam sehari. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang, kaji
adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena, penggunaan selang enteric,
timbang juga berat badan, ukur tinggi badan, lingkaran lengan atas serta hitung
berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi.
d. Pola eliminasi.
1) Kaji terhadap rekuensi, karakteristik, kesulitan/masalah dan juga pemakaian
alat bantu seperti folly kateter, ukur juga intake dan output.
2) Eliminasi proses, kaji terhadap prekuensi, karakteristik,
kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi
dalam Bab.
e. Pola aktivitas dan latihan
Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga
penggunaan alat bantu seperti tongkat, kursi roda dan lain-lain. Tanyakan kepada
klien tentang penggunaan waktu senggang. Adakah keluhanpada pernapasan,
jantung seperti berdebar, nyeri dada, badan lemah.
f. Pola tidur dan istirahat
Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari, jumlah jam tidur, tidur siang.
Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca, minum susu,
menulis, memdengarkan musik, menonton televise. Bagaimana suasana tidur

13
klien apaka terang atau gelap. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri,
gatal, berkemih, sesak dan lain-lain.
g. Pola persepsi kogniti
Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan,
pendengaran. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu, bagaimana klien
mengatasi tak nyaman : nyeri. Adakah gangguan persepsi sensori seperti
pengelihatan kabur, pendengaran terganggu. Kaji tingkat orientasi terhadap
tempat waktu dan orang.
h. Pola persepsi dan konsep diri
Kaji tingkah laku mengenai dirinya, apakah klien pernah mengalami putus
asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya.
i. Pola peran hubungan dengan sesame
Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga, bagaimana hubungan klien di
masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. Kaji apakah ada gangguan komunikasi
verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain.
j. Pola produksi seksual
Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang
timbul. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien.
k. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress.
Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri, tempat
klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. Kaji
keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri, ugkapan,
penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri.
l. Pola system kepercayaan
Kaji apakah klien sering beribadah, klien menganut agama apa. Kaji apakah ada
nilai-nilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tak efektif b.d peningkatan produksi secret, sekresi tertahan dan
tebal
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi
c. Pola nafas tak efektif b.d nafas pendek, obstruksi jalan nafas
d. Nyeri b.d proses peradangan pada selaput paru-paru
e. Kelebihan volume cairan b.d hipertrofi pada kelenjar-kelenjar mucus
f. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan secara menyeluruh
g. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit b.d kurang informasi
14
3. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
. Keperawata Hasil
n
1. Bersihan Setelah diberikan1. Kaji /pantau Pernapasan dapat
jalan nafas asuhan keperawatan frekuensiperna- melambat dan
tak efektif b.d diharapkan tidak terjadi pasan. Catat frekuensi ekspirasi
peningkatan peningkatan produksi rasio inspirasi memanjang
produksi secret, /ekspirasi. dibanding inspirasi
secret, sekresi ventilasi/oksigenisasi 2. Berikan pasien
tertahan dan adekuat untuk posisi yang Peninggian kepala
tebal kebutuhan, pencapaian nyaman, tempat tidur
klirens jalan nafas misalnya mempermudah
dengan KH : peninggian fungsi pernapasan
1. RR dalam batas normal kepala tempat dengan
2. Irama nafas dalam batas tidur, duduk dan menggunakan
normal sandaran tempat gravitasi
3. Pergerakan secret keluar tidur.
dari jalan nafas 3. Auskultasi
4. Bebas dari suara nafas bunyi napas,
tambahan catat adanya Beberapa derajat
bunyi napas spasme bronkus
misalnya : terjadi dengan
mengi, krokels obstruksi jalan napas
dan ronki. dan dapat/tidak
dimanifestasikan
dengan adanya bunyi
napas adventisius,
misalnya :
penyebaran, krekels
basah (bronchitis),
bunyi napas redup
dengan ekspirasi
4. Tingkatkan mengi (emfisema),

15
masukan cairan atau tidak adanya
sesuai toleransi bunyi napas (asma
jantung. berat).

5. Dorong latihan Hidrasi membantu


napas abdomen menurunkan
kekentalan secret,
mempermu-dah
6. Kolaborasi : pengeluaran secret.
a. Berikan obat
sesuai indikasi :
bronkodilator, Memberi pasien
Xantin, beberapa cara untuk
Kromolin, mengatasi dan
Steroid oral/IV mengontrol dispnea
dan inhalasi,
antimikrobial, Menurunkan spasme
analgesic jalan napas, mengi
b. Berikan dan produksi secret
humidifikasi
tambahan : misal
nebuliser
ultranik
c. Fisioterapi dada
d. Awasi GDA,
foto dada, nadi
oksimetri
2. Gangguan Setelah diberikan
1. Kaji frekuensi, Berguna dalam
pertukaran asuhan keperawatan kedalaman evaluasi derajat
gas diharapkan tidak terjadi pernapasan, distress pernapasan
berhubungan gangguan pertukaran catat dan kronisnya proses
dengan gas, mempertahankan pengguanaan penyakit.
ketidaksamaa tingkat oksigen yang otot aksesorius,
n ventilasi- adekuat untuk napas bibir,

16
perfusi keperluan tubuh dengan ketidakmampua
(obstruksi KH : n
jalan napas
1. Tanpa terapi oksigen, bicara/berbincan
oleh sekret, SaO2 95 % dan g. Sianosis mungkin
spasme pasien tidak mengalami2. Kaji/awasi perifer (terlihat pada
bronkus). sesak napas. secara rutin kulit kuku) atau sentral
2. Tanda-tanda vital dalam dan warna (terlihat sekitar bibir
batas normal membrane atau danun telinga).
3. Tidak ada tanda-tanda mukosa. Keabu-abuan dan
sianosis. dianosis sentral
mengindikasikan
beratnya hipoksemia
3. Tinggikan Pengiriman oksigen
kepala tempat dapat diperbaiki
tidur, bantu dengan posisi duduk
pasien untuk tinggi dan laithan
memilih posisi napas untuk
yang mudah menurunkan kolaps
untuk bernapas. jalan napas, dispnea
Dorong napas dan kerja
dalam perlahan napas.Kental tebal
atau napas bibir dan banyak sekresi
sesuai dengan adalah sumber utama
kebutuhan/tolera
nsi individu

4. Dorong Gangguan pertukaran


mengeluar-kan gas pada jalan napas
sputum/secret kecil, dan pengisapan
pengisapan bila dibuthkan bila batuk
diindikasikan tak efektif.
5. Auskultasi
bunyi napas, Bunyi napas mingkin
catat area redup karena

17
penurunan aliran penurrunan aliran
udara dan/atau udara atau area
bunyi tambahan. konsolidasi. Adanya
mengi
mengindikasikan
spasme bronkus/ter-
tahannya sekret.
Krekles basah
menyebar
6. Berikan oksigen
menunjukan cairan
tambahan yang
pada
sesuai dengan
interstisial/dekompen
indikasi hasil
sasi jantung.
GDA dan
Dapat
toleransi pasien.
memperbaiki/menceg
ah memburuknya
hipoksia. Catatan ;
emfisema koronis,
mengatur pernapasan
pasien ditentikan
oleh kadar CO2 dan
mungkin
dikkeluarkan dengan
peningkatan PaO2
berlebihan.
3. Pola nafas tak Setelah diberikan
1. Ajarkan pasien Membantu pasien
efektif b.d asuhan keperawatan pernafasan memperpanjang
nafas pendek, diharapkan terjadi diafragmatik dan waktu ekspirasi.
obstruksi perbaikan dalam pola pernafasan bibir Dengan teknik ini
jalan nafas pernafasan dengan KH 2.
: Berikan pasien akan bernafas
1. Pasien tidak mengalami dorongan untuk lebih efisien dan
sesak napas. menyelingi efektif.
2. Tanda-tanda vital dalam aktifitas dengan Memungkinkan
batas normal periode istirahat pasien untuk

18
3. Berikan melakukan aktivitas
dorongan tanpa distres
penggunaan berlebihan.
pelatihan otot-
otot pernafasan
Menguatkan dan
mengkondisikan
otot-otot pernafasan
4. Nyeri b.d Setelah diberikan
1. Kaji skala nyeri Nyeri dada biasanya
proses asuhan keperawatan di- ada dalam beberapa
peradangan harapkan nyeri pasien derajat pneumonia,
pada selaput berkurang /hilang juga dapat timbul
paru-paru dengan KH : komplikasi seperti
1. Skala nyeri 0-1 2. Pantau TTV perikarditis dan
2. Wajah pasien tidak endokarditis.
meringis
Perubahan frekuensi
3. Pasien tidak mengeluh
jantung atau TD
nyeri
menunjukan bahwa
pasien mengalami
3. Berkan teknik
nyeri, khususnya bila
relaksasi/dis-
alasan lain untuk
traksi pijatan
perubahan tanda-
punggung,
tanda vital.
perubahan
Dapat mengurangi
posisi, musik
rasa nyeri yang
tenang/perbinca
dirasakan oleh pasien
ngan,
relaksasi/latihan
napas.
4. Kolaborasi
dalam
pemberian
Obat ini dapat
analgetik dan
digunakan untuk
antitusif sesuai
menekan batuk non

19
dengan indikasi produktif/proksimal
atau menurunkan
mukosa berlebihan,
meningkatkan
kenyamanan/istira-
hat.
5. Kelebihan Setelah diberikan
1. Kaji status Pembatasan cairan
volume cairan asuhan keperawatan cairan dengan akan menentukan BB
b.d hipertrofi diharapkan pasien tidak menimbang BB ideal, haluaran urin,
pada kelenjar- mengalami kelebihan perhari, dan respon terhadap
kelenjar cairan dengan KH : keseimbangan terapi
mucus 1. Tidak ada edema masukan dan
2. Input & output haluaran, turgor
seimbang kulit tanda-tanda
vital
2. Batasi masukan
cairan
3. Jelaskan pada
Pemahaman
pasien dan
meningkatkan
keluarga tentang
kerjasama pasien dan
pembatasan
keluarga dalam
cairan
pembatasan cairan
4. Anjurkan pasien
/ ajari
pasien Untuk mengetahui
untuk mencatat keseimbangan input
penggunaan dan output
cairan terutama
pemasukan dan
haluaran
6. Intoleransi Setelah diberikan
1. Kaji pasien Mempengaruhi
aktivitas b.d asuhan keperawata dalam pilihan intervensi/
kelemahan diharapkan pasien tidak melakukan bantuan
secara mengalami intoleransi aktivitas
menyeluruh aktivitas dengan KH : 2. Awasi TTV Manifestasi

20
1. Pasien dapat melakukan klien selama dan kardiopulmonal dari
aktivitas seperti biasa sesudah upaya jantung dan
2. Pasien tidak tampak aktivitas. Catat paru-paru untuk
lemah respon terhadap membawa jumlah
tingkat aktivitas oksigen adekuat ke
(pe-ningkatan jaringan
denyut
jantung/teka-nan
darah, pusing,
dispnea,
takipnea, dan
sebagai-nya)
3. Berikan bantuan Membantu bila perlu,
aktivitas/ harga diri diting
ambulasi bila katkan bila pasien
perlu melakukan sesuatu
sendiri.
4. Rencanakan
kemajuan Meningkatkan secara
aktivitas dengan bertahap tingkat
klien. aktivitas sampai
Tingkatkan normal daan
tingkat aktivitas memperbaiki tonus
sesuai toleransi otot
7. Kurang Setelah diberikan
1. Kaji ulang Memberikan dasar
pengetahuan asuhan keperawatan proses penyakit/ pengetahuan dimana
mengenai diharapkan klien dan prognosis dan klien dapat membuat
proses dan keluarga klien kemungkinan pilihan berdasarkan
prognosis menyatakan pemahaman yang dialami informasi
penyakit b.d kondisi/ proses penyakit,
2. Diskusikan obat
kurang dan pengobatan dengan pernapasan, efek Pasien sering
informasi KH : samping dan mendapatkan obat
1. Klien dan keluarganya reaksi yang tidak pernapasan banyak
mau berpartisipasi diinginkan sekaligus yang

21
prosedur pengobatan mempunyai efek
yang akan dilakukan samping hamper
2. Menunjukkan/melakuka sama dan potensial
n perubahan pola hidup interaksi obat.
yang perlu Penting bagi pasien
memahami
perbedaan antara
efek samping
3. Diskusikan pada menganggu (obat
klien dan dilanjutkan) dan efek
keluargan-nya samping merugikan
mengenai (obat mungkin
prosedur dihentikan/diganti).
pengobatan yang
akan dilakukan Klien dan
keluarganya
4. Berikan umpan mengetahui prosedur
balik positif pengobatan yang
untuk upaya/ akan dilakukan dan
keterlibatan mau berpartisipasi
dalam terapi dalam prosedur
pengobatan

Meningkatkan harga
diri, mendorong
partisipasi dalam
program terapi
selanjutnya

22
4. Evaluasi
1. Tidak terjadi peningkatan produksi secret, ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk
kebutuhan, pencapaian klirens jalan nafas.
2. Tidak terjadi gangguan pertukaran gas, mempertahankan tingkat oksigen yang
adekuat untuk keperluan tubuh.
3. Terjadi perbaikan dalam pola pernafasan.
4. Nyeri pasien berkurang /hilang.
5. Pasien tidak mengalami kelebihan cairan.
6. Pasien tidak mengalami intoleransi aktivitas dan dapat beraktifivitas secara normal.
7. Pasien dan keluarga pasien menyatakan pemahaman kondisi/ proses penyakit, dan
pengobatan

23
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. PPOM adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa
memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan saluran
nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa
waktu.PPOM terdiri dari kumpulan tiga penyakit yaitu Bronkitis kronik, Emfisema
paru dan Asma.
2. Faktor resiko dari PPOM adalah : merokok sigaret yang berlangsung lama, Polusi
udara, Infeksi paru berulang, Umur, Jenis kelamin, Ras, Defisiensi alfa-1 antitripsin,
Defisiensi anti oksidan.
3. Penatalaksanaan pada penderita PPOM : Meniadakan faktor etiologi dan presipitasi,
Membersihkan sekresi Sputum, Memberantas infeksi, Mengatasi Bronkospasme,
Pengobatan Simtomatik, Penanganan terhadap komplikasi yang timbul, Pengobatan
oksigen, Tindakan Rehabilitasi.

3.2 Saran
1. Untuk Klien
Menghindari faktor resiko :
a. Anjurkan klien untuk tidak merokok
b. Anjurkan klien untuk cukup istirahat
c. Anjurkan klien untuk menghindari allergen
d. Anjurkan klien untuk mengurangi aktifitas
e. Anjurkan klien untuk mendapatkan asupan gizi yang cukup.

2. Untuk keluarga
Memberikan dukungan :
a. Anjurkan keluarga untuk memberi perhatian pada klien
b. Anjurkan keluarga untuk memantau kondisi klien
c. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang kondusif

24
DAFTAR PUSTAKA
Rab tabrani. 1996. Ilmu penyakit paru. Jakarta : hipokrates
Robbins Stanley L. 1995. Buku ajar patologi II edisi 4. Egc: Jakarta
Corwin elizabet j..patofisiologi
Junadi, purnawan. 1982. Kapita selekta kedokteran. Edisi kedua. Media Aesculapius: Jakarta
Baratawidjaja, G.K.. 1990. Asma Bronkhiale dalam Soeparman Ilmu Penyakit Dalam
jilid II. Jakarta: FK UI.

25