Anda di halaman 1dari 151

KASUS-KASUS ALIRAN/PAHAM

KEAGAMAAN AKTUAL DI INDONESIA

Editor
H. Ahmad Syafii Mufid

DEPARTEMEN AGAMA RI
BADAN LITBANG DAN DIKLAT
PUSLITBANG KEHIDUPAN KEAGAMAAN
2009
PENGANTAR EDITOR
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Tim Peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan
Kasus-Kasus Aliran/Paham Keagamaan Aktual di Indonesia
Cet. 1. Alhamdulillah, hasil penelitian dan kajian tentang Kasus-
Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan 2009 kasus Aliran/Paham Keagamaan Aktual di Indonesia Tahun
xii + 288 hlm; 15 x 21 cm. Anggaran 2006 yang mencakup berbagai pemahaman, dan gerakan
ISBN : 978-602-8739-02-3 keagamaan telah dapat disajikan dalam sebuah buku. Kajian ini
mencakup wilayah diskursus keagamaan yang luas, dan
beranekawarna bagaikan bianglala. Ada sajian membahas tentang
kelompok Salafi dan non-Salafi di Lombok Barat Nusa Tenggara
Hak cipta pada penulis
Barat, Perguruan Silat Mahesa Kurung di Bogor, Penggagalan
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, Peresmian Masjid Jamiyyatul Islamiyyah di Padang, Fahmina
termasuk dengan cara penggunaan mesin fotocopy tanpa izin sah dari penerbit Institute di Cirebon, Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) di
Cetakan pertama, Agustus 2009 Bandung, Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII) di Medan,
Penegakan Syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan
PERDA Bernuansa Syariat di Bulukumba Sulawesi Selatan.
Tim Peneliti Keagamaan
Laporan ini disajikan dalam bentuk buku bertujuan pertama
Kasus-Kasus Aliran/Paham Keagamaan Aktual di Indonesia
untuk memperkenalkan informasi dan latar belakang munculnya
Editor : Drs. H. Ahmad Syafii Mufid, MA, APU kasus, tokoh, ajaran dan luas pengaruh aliran/paham dan gerakan
keagamaan dan respon dari masyarakat. Kedua hasil penelitian
Hak penerbit pada Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Jakarta
diharapakan dapat dijadikan dasar pemahaman tentang bagaimana
individu dan kelompok keagamaan memberikan respon keagamaan
terhadap perubahan sosial dan budaya serta lingkungan. Ketiga,
Desain cover dan Layout oleh : Suka, SE
informasi ini sangat penting bagi pimpinan Departemen Agama
dalam menangani dan membina berbagai paham, aliran dan gerakan
Puslitbang Kehidupan Keagamaan
Badan Litbang Dan Diklat Departemen Agama RI keagamaan yang berkembang di beberapa daerah di Indonesia.
Gedung Bayt al-Quran dan Museum Istiqlal Manfaatnya, tentu saja dapat menjadi pelajaran bagi hidup bersama
Komplek Taman Mini Indonesia Indah dengan perbedaan pemahaman keagamaan (toleransi) antarsesama
Telp./Fax. (021) 87790189 Jakarta warga bangsa.
Informasi berkaitan dengan kasus-kasus yang ditampilkan
Dicetak oleh CV. PRASASTI masih bersifat permulaan. Meskipun demikian, melalui pembacaan
yang kritis, kita mengetahui bahwa ajaran agama senantiasa
mempengaruhi masyarakat pemeluknya di satu sisi, dan pada sisi
yang lain, ajaran agama senantiasa ditafsirkan sesuai dengan

iii
tuntutan kebutuhan penganutnya. Beberapa kecenderungan yang Pesan yang ingin disampaikan melalui editorial ini adalah
membuktikan proposisi tersebut adalah, muncul dan berkembang bagimana kita dapat membaca laporan ini sebagai sebuah karya
paham Salafi. Kehadirannya, mengisyaratkan respon terhadap yang memberikan gambaran tentang upaya para tokoh, pemimpin
ketidak-fungsionalnya ajaran atau paham tradisional (Salafiyyah) dan penganut paham keagamaan yang ada di Indonesia dalam
dalam menjawab masalah kontemporer. Bagi kelompok ini Salafi merespon realitas sosial dan kebudayaan. Memang banyak
atau Islam Tekstual merupakan pilihan satu-satunya dan menafikan informasi yang masih elementer, namun untuk kepentingan
pandangan keIslaman lainnya. Eksklusifitas semacam ini melahirkan pemahaman awal karya ini patut dipertimbangkan untuk dibaca,
konflik di berbagai tempat. Kehadiran Fahmina, Ijabi atau Jamaah didiskusikan dan akhirnya disikapi secara apa adanya.
Islamiyah juga sebagai respon terhadap realitas sosial yang
Akhirnya, kami mengharapkan kepada para pembaca dapat
menggejala di wilayah yang bersangkutan. Kalau Ijabi muncul di
memberikan kritik, saran dan masukan untuk penyelenggaraan
perkotaan dan pusat-pusat pendidikan tinggi, sedangkan Fahmina
kajian yang lebih mendalam dan berkesinambungan berkaitan
memiliki basis dukungan kalangan pesantren, sedangkan Jamaah
dengan tumbuhkembang paham, aliran dan gerakan keagamaan di
Islamiyah berupaya mendekatkan pemaknaan Islam secara
Indonesia.
kontekstual, semuanya ingin memberikan sumbangan kepada
Semoga bermanfaat, Amin.
masyarakat dalam keagamaan, kemasyarakatan dan peradaban.
Begitu pula dengan Gereja Kemenangan Iman Indonesia pada
awalnya adalah pandangan dan gerakan menggugat tradisi. Ketika
pandangan dan gerakan keagamaan tersebut berhadap dengan Jakarta, Agustus 2009
komunitas keagamaan yang terlebih dahulu eksis, maka yang terjadi Editor
adalah penolakan bahkan pertentangan. Hal-hal yang demikian
adalah natural dalam kehidupan sosial.
Respon masyarakat terhadap realitas sosial di Indonesia
ternyata tidak terbatas pada pengembangan wacana keagamaan Ahmad Syafii Mufid
seperti dikembangkan oleh IJABI dan Fahmina atau pengembangan
paham-paham transnasional dan lokal, tetapi juga dalam formalisasi
ajaran agama dalam tata sosial, kultural dan pemerintahan
sebagaimana penerapan Syariat Islam di Bulukumba dan Nangro
Aceh Darusalam. Fenomena itu juga dapat dibaca sebagai
eksperimen dan harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Masalah selalu muncul dalam kaitan dengan diskursus keagamaan
adalah bila eksklusifitas lebih menonjol ketimbang inklusifitas,
pemaknaan gagasan dan gerakan akan dilihat sebagai sesuatu yang
berada di luar kita. Pada bentuk dan sikap pertama pasti
melahirkan penolakan dan perlawanan, sedangkan pola yang kedua,
yakni inklusifitas, tentu akan mendorong partisipasi dan dialog yang
konstruktif.

iv v
KATA SAMBUTAN
KEPALA BADAN LITBANG DAN DIKLAT
DEPARTEMEN AGAMA RI

Beberapa tahun belakangan, Indonesia dikejutkan oleh


banyak kasus keagamaan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan
pemahaman keagamaan dan lainnya bercorak gerakan keagamaan.
Buku Kasus-kasus Aliran/Paham Keagamaan Aktual di Indonesia
yang ada di hadapan pembaca merupakan hasil telaah atas kasus-
kasus yang berkembang sekitar tahun 2006. Bagi peminat sejarah,
muncul dan berkembangnya paham dan gerakan keagamaan
berkaitan dengan pemberontakan kaum petani pada abad XIX dan
awal abad XX. Gerakan-gerakan, misianik, revivalis, maupun
sektarian tumbuh subur di Jawa pada masa itu mendorong
perlawanan terhadap tatanan kolonial yang mulai rapuh (lihat
Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java, Kuala Lumpur,
Oxford University Press 1973).
Kasus Salafi di Lombok Barat, NTB, Jamiatul Islamiyah,
Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Gereja Kemenangan
Iman Indonesia, Fahmina Institute merupakan fenomena dinamika
pemahaman dan gerakan keagamaan. Begitu juga dengan perguruan
silat Mahesa Kurung yang dapat digolongkan sebagai gerakan
nativistic, menghidupkan kembali warisan kebudayaan masa lalu.
Sementara pelaksanaan Syariat Islam di NAD dan Perda keagamaan
di Bulukumba dapat dikatakan sebagai kritik terhadap hukum dan
penerapannya di Indonesia. Revitalisasi pemahaman dan gerakan
keagamaan seperti ini dapat dibandingkan baik secara sinkronik
yaitu membandingkan pemahaman dan gerakan keagamaan dalam
kurun waktu yang sama dengan kawasan lain, Pakistan dan Mesir
misalnya. Perbandingan fenomena sekarang dengan masa lalu

vi vii
(diakronik) juga sangat berarti bagi pemahaman terhadap realita KATA PENGANTAR
keagamaan pada umumnya.
KEPALA PUSLITBANG KEHIDUPAN KEAGAMAAN
Terlepas dari keterbatasan yang ada, buku ini dapat
memberikan informasi dinamika keagamaan di era reformasi. Tidak
saja aliran atau paham yang memiliki induk aliran-aliran yang
digolongkan menyimpang juga menggejala pada satu dasawarsa
terakhir ini. Oleh karena itu, buku ini dapat dijadikan informasi
awal untuk menyimak perkembangan dan perubahan lingkup Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena
keagamaan di Indonesia setelah masa Orde Baru. dengan hidayah dan rahmat-Nya, laporan hasil penelitian tentang
Buku ini bukan hanya polemik tetapi pemahaman tentang Kasus-kasus Aliran/Paham Keagamaan Aktual di Indonesia Tahun
realita pemahaman dan gerakan keagamaan yang ada di Indonesia. Anggaran 2009 dapat diterbitkan dalam bentuk buku.
Pembaca dari berbagai kalangan akan memperoleh manfaat dan
Upaya penulisan kembali hasil penelitian Kasus-kasus
pemahaman tentang dinamika umat beragama dalam menjawab
Keagamaan merupakan salah satu bentuk akuntabilitas kinerja
perubahan sosial yang terus berlangsung. Oleh karena itu saya
Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat
menyambut baik penerbitan buku ini, semoga bermanfaat.
Departemen Agama, agar masyarakat Indonesia menjadi mengerti
apa sesungguhnya yang sedang terjadi di dalam masyarakat
Jakarta, Agustus 2009 beragama. Dinamika pemikiran dan gerakan keagamaan adalah
Kepala Badan Litbang dan Diklat sebuah keniscayaan. Masyarakat perlu mengerti mengapa kasus-
Departemen Agama RI, kasus keagamaan terjadi dan sikap seperti apa yang perlu diambil
oleh warga masyarakat yang bersangkutan. Buku ini juga menjadi
berarti bagi pemerintah khususnya Departemen Agama dan
lembaga pemerintah terkait penanganan kasus-kasus keagamaan.
Prof. Dr. H. M. Atho Mudzhar Pola terjadinya kasus keagamaan seperti dipaparkan melalui buku
NIP. 19481020 196612 1 001 ini juga dapat diambil manfaat oleh para peneliti berikutnya dalam
studi-studi dan analisis lanjutan.
Tentu saja buku ini tidak akan pernah terbit jika tidak ada
hasil penelitian. Laporan penelitian juga kami edit ulang agar tingkat
keterbacaannya dan kekurangannya dapat diperbaiki. Untuk itu
kami ucapkan terima kasih kepada editor H. Ahmad Syafii Mufid
dan segenap tim peneliti. Kegiatan penelitian dan penerbitan buku
seperti ini tidak akan pernah ada tanpa dukungan dan kebijakan
Kepala Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, kepada

viii ix
Prof. Dr. H. M. Atho Mudzhar, untuk itu semua kami ucapkan DAFTAR ISI
terima kasih. Halaman
Akhirnya, dengan mohon petunjuk dan hidayah-Nya, PENGANTAR EDITOR ....................................................... iii
semoga karya ini dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya
untuk semua. KATA SAMBUTAN .............................................................. vii
KATA PENGANTAR ............................................................ ix
DAFTAR ISI .......................................................................... xi
Jakarta, Agustus 2009 KASUS-KASUS ALIRAN/PAHAM KEAGAMAAN
Kepala AKTUAL DI INDONESIA
Puslitbang Kehidupan Keagamaan
1. Kelompok Salafi di Kabupaten Lombok Barat .............. 1
Oleh : Drs. H. Nuhrison M. Nuh, APU
2. Perguruan Mahesa Kurung di Jawa Barat ..................... 43
Prof. H. Abd. Rahman Masud, Ph.D Oleh : Drs. Wakhid Sugiyarto, M.Si
NIP. 19600416198903 1 005
3. Jamiyatul Islamiyah di Kota Padang ............................. 77
Oleh : Dra. Hj. Kustini, M.Si
4. Pemikiran Fahmina Institut di Kota Cirebon ................ 123
Oleh : Drs. H. Muchit A. Karim, M.Pd, APU
5. Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) di Jawa
Barat ..................................................................................... 157
Oleh : Drs. Wakhid Sugiyarto, Msi
6. Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII) di Kota
Medan ............................................................................... 199
Oleh : Drs. H. Bashori A. Hakim, M.Si
7. Pelaksanaan Syariat Islam di Kota Banda Aceh ............ 221
Oleh : Drs. H. Ahsanul Khalikin
8. Perda Keagamaan di Kabupaten Bulukumba ............... 253
Oleh : H. Muhammad Adlin Sila, S.Ag, MA

x xi
KELOMPOK SALAFI
DI KABUPATEN LOMBOK BARAT
Oleh : Drs. H. Nuhrison M. Nuh, APU

xii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

A
gama besar yang berkembang di Indonesia telah
mengalami dinamika yang cukup fenomenal baik
dalam aspek ideologi, ritual, intelektual, eksperensial
maupun dalam gerakan sosialnya disebabkan karena faktor internal
dan eksternal. Faktor internal antara lain disebabkan karena adanya
perbedaan penafsiran terhadap pokok-pokok ajaran agama,
paradigma pemikiran yang dipergunakan dalam menafsirkan,
penekanan pengamalan agama secara ekslusif yang hanya mengakui
paham mereka saja yang benar, sedangkan paham lainnya dianggap
kafir dan sesat. Sedangkan faktor eksternal adalah pengaruh
pemikiran dari luar seperti pemikiran yang dianggap liberal atau
literal dalam memahami teks-teks agama, maupun cara merespon
terhadap realitas kehidupan yang berkembang dewasa ini.
Dinamika sebuah pemahaman dan gerakan keagamaan
seringkali bersinggungan antara satu dengan yang lain. Ada
kecenderungan untuk bekerjasama, atau persaingan bahkan tidak
jarang yang kemudian dari persaingan yang tidak sehat tersebut
menjurus menjadi konflik. Pertentangan penganut paham
keagamaan di Indonesia bukan sesuatu yang baru, karena telah
terjadi sejak awal kedatangan Islam di negeri ini. Dalam karya sastra
klasik misalnya, di Jawa, terdapat pertentangan antara penganut
paham wujudiyah yang dikembangkan oleh syaikh Siti Jenar
berhadapan dengan para wali lainnya yang menekankan laku
syariah. Di Sumatera, Aceh, juga terjadi hal yang sama antara
Syaikh Nuruddin Ar Raniri versus Syaikh Hamzah Fansuri. Pada
abad ke XIX pertentangan antara kelompok Paderi (Wahabi) dengan
kelompok tradisional malah berkembang menjadi perang yang
berkepanjangan dan melibatkan pemerintah colonial Belanda. Pada

3
abad ke-XX kehadiran paham modernis juga direspon negatif. dari sebab pertentangan. Masih banyak sebab lain yang diduga
Konflik terjadi di beberapa tempat di Jawa, dan juga wilayah yang mempengaruhi terjadinya kasus pertentangan dalam masyarakat.
lain1. Untuk kepentingan informasi dan sekaligus antisipasi kejadian yang
sama agar tidak menjadi lebih besar dan mengganggu kerukunan
Di Kabupaten Lombok Barat Propinsi Nusa Tenggara Barat,
intern maupun antarumat beragama, Puslitbang Kehidupan
belum lama ini muncul kelompok Salafi yang menyebarkan paham
Keagamaan memandang perlu melakukan penelitian untuk
keagamaan berdasarkan atas Al Quran, Sunnah dan Salaf as saleh2 .
mengetahui lebih mendalam mengapa kasus-kasus semacam ini
Kehadiran kelompok ini dituduh sebagai aliran keagamaan baru
masih saja terjadi. Siapa dan bagaimana kelompok Salafi melakukan
yang tidak sesuai dengan paham yang dianut oleh masyarakat
diseminasi paham terhadap warga masyarakat yang telah menganut
setempat. Kehadirannya tidak dikehendaki masyarakat setempat
paham keagamaan tertentu (Syafiiyah). Bagaimana respon
karena dianggap menyesatkan. Tidak ada dialog, penduduk
masyarakat dan mengapa kekerasan menjadi cara untuk melakukan
setempat yang tidak sepakat dengan kehadiran kelompok baru ini
penyelesaian pertentangan.
kemudian melakukan tindakan anarkis dengan melakukan
pengrusakan masjid kelompok Salafi. Para penganjur dan pengikut
B. Masalah Penelitian
Salafi diperingatkan dan diancam akan diusir dari kampung
halamannya jika tetap mengajarkan paham tersebut. Sebagaimana Sejalan dengan latar belakang di atas, permasalahan yang
diberitakan oleh harian Kompas tanggal 18 Juni 2006 dengan judul dikaji dalam penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan sebagai
Dua Jamaah Salafi Minta Perlindungan. Jamaah Salafi meminta berikut:
perlindungan kepada aparat Kepolisian Resort Lombok Barat, NTB, 1. Apa yang melatarbelakangi lahirnya kelompok Salafi di Lombok
karena warga menolak acara pengajian yang diadakan oleh Jamaah Barat;
Salafi di Dusun Beroro Desa Jembatan Kembar Kecamatan Lembar 2. Siapa tokoh pendiri dan bagaimana riwayat hidupnya;
Kabupaten Lombok Barat. Harian Koran Tempo tanggal 6 April 2006 3. Bagaimana kronologi munculnya keresahan dan penanganannya;
juga melaporkan ratusan warga kembali merusak fasilitas Pondok 4. Paham atau ajaran keagamaan Salafi seperti apa yang
Pesantren Ihya-as-sunnah di lingkungan Dusun Repok Gapuk, Desa dikembangkan;
Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, 5. Bagaimana respon pemerintah, pemuka agama dan masyarakat
NTB. Alasannya pesantren ini dianggap meresahkan warga, karena terhadap eksistensi paham/aliran Salafi di Lombok Barat.
membawa ajaran Salafi yang bertentangan dengan ajaran Islam.
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Kasus-kasus sejenis seringkali muncul di masyarakat.
Meskipun secara sederhana dapat diduga bahwa pertentangan Penelitian ini bertujuan untuk menggali, memahami dan
dalam masyarakat tersebut disebabkan oleh perbedaan paham, mengolah informasi berkaitan dengan kelompok Salafi di Lombok
tetapi dalam realitas perbedaan paham tersebut hanyalah sebagaian Barat Nusa Tenggara Barat untuk menjawab beberapa pertanyaan
dan masalah penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
1
Lihat Ahmad Syafii Mufid. Tangklukan, Abangan dan Tarekat: Kebangkitan Agama di memberikan masukan berupa rekomendasi kepada pimpinan
Jawa, Jakarta, Obor, 2006.
2 Departemen Agama dalam rangka memeliharan kerukunan hidup
Tentang paham Salafi dan gerakannya, lihat antara lain. Jamhari dan Jajang Jahrani. Salafi
Radikal di Indonesia, Jakarta, Rajawali Press. 2006

4 5
intern umat Islam dan sekaligus peningkatan pemahaman dan sumber selain Al Quran. Kedua, dorongan untuk mendobrak
pengamalan agama sebagaimana seharusnya. kemapanan paham keagamaan mainstream yang berkaitan dengan
kebebasan setiap muslim untuk menjadi pemimpin bagi dirinya
D. Kerangka Teoritis dalam memahami ajaran Islam dan tidak terikat kepada taklid buta
Paham keagamaan lahir setelah pendiri atau pembawanya dalam bentuk apapun. Ketiga pandangan tentang sistem
meninggal. Islam adalah agama yang sempurna, dan diridhai oleh kemasyarakatan yang diidealisasikan, seperti kepemimpinan
Allah (Q.S.4: 3), namun setelah nabi wafat umat mengalami tunggal di bawah seorang Amir, atau sistem ummah wahidah (satu
keterbelahan. Sebagian menganggap nabi telah memberikan ummat). Keempat, sikap terhadap pengaruh Barat seperti
penunjukan (wasiat) kepada siapa kepemimpinan pasca Rasulullah modernisme, sekulerisme, kapitalisme, dan lain-lain. Dalam hal ini
diserahkan. Di sisi lain, muncul pandangan bahwa Nabi tidak Islam ditempatkan sebagai alternatif yang mengungguli paham atau
meninggalkan wasiat kepemimpinan. Deprivasi3 merupakan cikal ideologi tersebut6.
bakal lahirnya pemahaman dan gerakan sosial baru. Imam Konsep deprivasi yang diajukan Glock and Stark tampaknya
Tholkhah dan Abdul Azis yang menjelaskan bahwa konsep masih relevan dalam konteks kasus di Indonesia. Meskipun
deprivasi Glock dan Stark sangat relevan untuk menjelaskan demikian deprivasi bukan satu-satunya prive mover bagi tumbuh
munculnya berbagai gerakan keagamaan di Indonesia4. kembangnya paham/aliran dan gerakan keagamaan baru. Tradisi
Konsep deprivasi dalam konteks Islam sangat relevan, kebebasan memahami agama yang dibangun Al Quran sendiri,
terutama mengenai kasus-kasus keagamaan di Indonesia, meskipun sebagaimana diungkapkan Ahmad Amin, memberi andil besar bagi
bukan satu-satunya yang menjadi motivasi bagi tumbuh dan kelahiran sebuah aliran baru. Oleh sebab itu, deprivasi harus
berkembangnya aliran keagamaan baru. Kelahiran suatu aliran ditempatkan dalam konteks yang menyeluruh mengenai kelahiran
keagamaan baru diilhami oleh tradisi kebebasan dalam memahami suatu aliran keagamaan yang kemudian tumbuh menjadi aliran
agama yang telah diajarkan oleh al-Quran.5. keagamaan baru.

Imam Tholkhah dan Abdul Azis, membuat generalisasi yang Konteks tersebut meliputi: perubahan sosial yang dialami
sama, terutama terhadap kehadiran gerakan kontemporer. Menurut individu-individu. Deprivasi yang mereka rasakan bersama melalui
keduanya asal usul gerakan tersebut, setidaknya bersumber dari proses interaksi sosial antar mereka; absennya lembaga yang mereka
empat faktor laten. pandang mampu mengatasi deprivasi; tumbuhnya harapan-harapan
baru yang diberikan oleh ajaran keagamaan baru untuk mengatasi
Pertama, pandangan tentang pemurnian agama yang tidak deprivasi; munculnya pemimpin yang mampu menyediakan
hanya terbatas kepada praktik keagamaan, melainkan juga lembaga baru guna mewujudkan harapan-harapan baru dan
pemurnian atas sumber agama itu sendiri, yakni penolakan atas membimbing individu-individu tersebut ke arah perilaku kolektif
(collective behaviour); serta transformasi perilaku kolektif menjadi
3
Secara harfiyah deprivasi berarti pencabutan atau kehilangan (hak). Dalam sosiologi
istilah ini mengacu pada kehilangan keyakinan, nilai-nilai lama karena tergurus oleh nilai-nilai
baru (editor)
4
Abdul Azis, Varian-varian Fundamentalisme Islam di Indonesia, Diva Pustaka, Jakarta, 2004,
hal. 5
5 6
Ibid, hal. 6 7. Ibid, hal 7.

6 7
keyakinan umum (generalized belief) yang dituntun oleh simbol- cita sosial maupun keagamaan untuk mempertahankan lembaga itu
simbol keagamaan.7 dalam perjalanan sejarah. Namun bagi mereka yang gagal dalam
menterjemahkan kemauan dari para pendukungnya, maka secara
Konteks yang menyeluruh mengenai kelahiran aliran
pelan-pelan akan ditinggalkan oleh pendukungnya.
keagamaan itu meliputi perubahan sosial yang dialami oleh
individu-individu, yaitu ketidakseimbangan antara realitas Dalam pengalaman Islam, pakar sejarah, Ahmad Amin
implementasi ajaran agama itu sendiri dengan harapan yang dicita- mengajukan perspektif yang berbeda dengan kedua pakar di atas,
citakan. Dalam kondisi seperti itu, organisasi keagamaan yang maka faktor laten yang menyebabkan kelahiran suatu gerakan
sudah melembaga tidak mampu mengatasi kesenjangan, sehingga keagamaan baru sebagaimana dijelaskan oleh Imam Tholkhah dan
muncul ketidakpuasan yang dirasakan secara masal oleh publik Abdul Azis menjadi sangat relevan. Menurut Ahmad Amin,
pendukungnya. Oleh karena itu ketika muncul lembaga baru, timbulnya aliran-aliran dalam Islam disebabkan oleh dua faktor,
pemimpin baru, program baru, fasion yang berbeda dan mampu yaitu internal dan eksternal. Faktor internal tersebut diantaranya:
memberi harapan guna mewujudkan tercapainya cita-cita bersama
1. Al Quran selain mengandung seruan ke-Esa-an Allah (Tauhid)
itu, maka lembaga baru itupun segera mendapat pengakuan secara
dan Nubuwat, juga mengandung perdebatan terhadap berbagai
massal. Apalagi jika lembaga baru itu mampu melakukan
kepercayaan dan agama yang telah ada.
transformasi secara baik hingga pada akhirnya proses pengakuan
itu menjadi lebih cepat. Lembaga itu akan berkembang menjadi 2. Perkembangan pola berfikir. Para tokoh agama cenderung ke
organisasi yang mampu menyaingi lembaga yang telah ada. arah filsafat, mempertanyakan berbagai hal ihwal keagamaan
yang mereka anut secara kritis. Keyakinan agama yang samar-
Transformasi di atas menjadi sebuah cara dalam perjuangan
samar digali tafsirnya.
mendefinisikan realitas karena perbedaannya dengan lembaga-
lembaga yang ada sebelumnya yang lebih mapan. Lahan yang 3. Setelah Nabi wafat, timbul perbedaan pandangan politik
dijadikan medan perjuangan yang efektif berperan dalam proses mengenai khilafah dengan warna agama, sehingga mengambil
pergulatan tafsir keagamaan yang berbeda dengan mainstream yang bentuk perbedaan aliran.
dinilai lebih argumentatif. Dalam pergulatan mendefinisikan realitas Adapun sebab eksternal yang mendorong timbulnya aliran-
itu, sosok pemimpin menjadi sangat penting untuk mencapai aliran keagamaan antara lain:
keberhasilan yang diinginkan oleh para pendukungnya dan adanya
keyakinan umum yang diberikan oleh para pemimpinnya. Hal itu 1. Pemeluk Islam baru masih membawa tradisi lama mereka ke
untuk mengikat anggota dalam bentuk wujud gerakan, doktrin, dalam kehidupan beragama.
mitos dan cara-cara pencapaian tujuan akan sangat menentukan 2. Aliran-aliran dalam Islam yang dipelopori oleh Mutazilah,
bagaimana posisi lembaga baru itu dalam suatu sistem perubahan berusaha mengembangkan ajaran dengan kritis, dialog dan
sosial. Bagi mereka yang mampu meyakinkan, baik secara debat. Akibatnya mengundang aliran-aliran lain untuk
argumentatif dalam tauhid, muaamalah dan sebagainya serta model
dan cita-cita yang mampu memberikan harapan terwujudnya cita-

7
Ibid, hal 8.

8 9
melakukan hal yang sama dan membakukan ajaran masing- untuk eksis dan berperan); (4) ideologi (kepentingan untuk
masing.8 mempertahankan dan mengembangkan suatu pandangan hidup).
Mengenai gerakan keagamaan, dikenal sedikitnya ada tiga Manakala kepentingan-kepentingan ini terjamin dan tidak
jenis gerakan keagamaan (religious movements) yaitu endogenous terganggu, maka organisasi keagamaan itu boleh dikatakan eksis
religious movement, exogenous religious movement, dan generative dalam equilibrium atau harmoni dengan lingkungannya. Sebaliknya,
religous movement. Dalam gerakan keagamaan tipe pertama ketika sebagian atau seluruh kepentingan-kepentingan itu
(endogenous religious movement) perubahan yang terjadi menyangkut terganggu, maka kepemimpinan organisasi-organisasi keagamaan
sistem kepercayaan, sistem simbol, sistem ritus, pengamalan dan akan bereaksi terhadap lingkungannya itu untuk menjamin dan
organisasi keagamaan. Perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek meningkatkan diperolehnya kembali kepentingan-kepentingan
ini telah menimbulkan perubahan penting dalam sejarah agama- tersebut. Dalam gerakan seperti itu para pemimpin organisasi
agama di dunia. Dalam agama Kristen perubahan ini melahirkan keagamaan tersebut biasanya menjustifikasi gerakannya itu dengan
sekte-sekte baru dalam suatu komunitas yang satu sama lain boleh nilai-nilai transedental dari ajaran agama yang dianutnya. Bahkan
jadi saling mendekat atau saling menjauh.9 tujuan gerakannya itu terkadang disebut sebagai bagian dari
kehendak wahyu Tuhan.11
Perubahan endogenous religious movement ini dalam bidang
teologi dapat menimbulkan perubahan bentuk sacred canopy yang Sedangkan generative religious movement tipe ketiga ditandai
dipercaya sebelumnya, baik dalam sitem cosmogeny, anthropogeny oleh kesengajaan upaya untuk melahirkan agama baru di luar
maupun system teodicy. Setelah perubahan itu boleh jadi wilayah agama-agama yang ada. Mula-mula mungkin agama baru yang
yang dicakup oleh the sacred canopy itu semakin meluas atau diperkenalkan itu merupakan bagian dari tradisi agama yang ada
menyempit, atau bentuk sacred canopy itu berubah, atau bertambah atau tradisi lokal yang ada, atau campuran keduanya. Tradisi agama
atau berkurang dekorasinya.10 yang ada itu boleh jadi diimport dari agama lain dan tradisi lokal
yang ada itupun telah berumur lama, sehingga tidak pernah
Adapun gerakan keagamaan yang bersifat external (exogenous
dipandang berpotensi mengkristal berdiri sendiri. Lama-kelamaan
religious movement) biasanya merupakan reaksi dari organisasi-
didorong oleh lingkungan sosial, politik, cultural yang ada, tradisi
organisasi keagamaan terhadap lingkungan sekitarnya yang
itu mengkristal menjadi suatu tradisi yang berdiri sendiri yang
berubah. Para ahli sosiologi mengatakan bahwa keberadaan
kemudian dipercaya sebagai agama yang berdiri sendiri.12
organisasi-organisasi keagamaan dalam masyarakat itu sedikitnya
mempunyai empat kepentingan; (1) survival (mempertahankan Selain hal-hal yang dikemukakan di atas, ada satu konsep lagi
hidup); (2) economic (kepentingan ekonomi); (3) status (kepentingan yang perlu diperhatikan yaitu elective affinities. Konsep ini merujuk
kepada kenyataan bahwa seringkali sesuatu agama itu mempunyai
8
Ibid, hal 5-7. hubungan kedekatan dengan sesuatu budaya, struktur sosial, atau
9
10
Ibid, hal 8-9 kelompok sosial atau kelompok etnik tertentu. Di Indonesia
Yang dimaksud dengan Cosmogeny, yaitu riwayat tentang bagaimana dan mengapa dunia ini
diciptakan oleh Tuhan. Anthropogeny yaitu cerita tentang proses kejadian manusia dan bagaimana mereka terdapat pula hubungan elective affinity antara agama dengan daerah
memikirkan tentang diri mereka, sedangkan yang dimaksud dengan Theodicy adalah penjelasan agama
menyangkut masalah kehadiran malaikat, makhluk-makhluk halus dan kematian di dunia, dan perhatian
11
tentang tradisi-tradisi keagamaan. Lihat Lester R. Kurtz, Gods in The Global Village, the Worlds Religion in Ibid, hal 9-10.
12
Sociological Perspective, 1995, Pine Forge Press, California, hal 52 -57. Ibid, hal 10.

10 11
tertentu atau etnik tertentu. Secara teoritik hubungan itu dapat 2. Jenis data yang dihimpun
dipisahkan sehingga peranperan seseorang dalam masyarakat juga a. Asal dan makna nama paham Salafi;
dapat dipisahkan dalam statusnya sebagai pemeluk agama tertentu b. Faktor penyebab munculnya konflik;
atau sebagai anggota etnik tertentu atau sebagai anggota kelas sosial c. Titik yang menjadi konflik (ajaran/ perbedaan tradisi
ekonomi tertentu atau sebagai kelas pekerja tertentu. Di dalam keagamaan);
kenyataannya pemisahan peran itu tidak mudah dilakukan bahkan d. Tokoh dan riwayat hidup pendiri paham Salafi;
terkadang mudah sekali terkacaukan. Sebagai akibatnya maka e. Sejarah ringkas keberadaan paham Salafi;
interaksi, konflik atau consensus dari berbagai pengelompokan sosial f. Paham dan ajaran yang dianggap berbeda dengan kelompok
itu sedikit banyak, cepat atau lambat mempengaruhi interaksi, lainnya;
konflik atau konsensus antara komunitas-komunitas keagamaan g. Struktur organisasi/Kepemimpinan;
yang ada.13 h. Respon Pemuka Agama dan Masyarakat terhadap ajaran
keagamaan yang dikembangkan;
Perkembangan salafi di Lombok Barat NTB dapat dilihat
i. Aktivitas kelompok baik ritual maupun sosial.
sebagai perubahan internal ( Ahmad Amin ), sedangkan respon
kelompok Salafiyah terkait dengan elective Affinties, yakni Islam 3. Teknik pengumpulan data
Lombok yang telah eksis mengahadapi perubahan yang
Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi yaitu
mengakibatkan disorganisasi dan disintegrasi.
kajian pustaka, wawancara mendalam serta pengamatan
lapangan. Kajian pustaka dilakukan baik sebelum maupun
E. Metodologi
sesudah pengumpulan data lapangan. Kajian pustaka
1. Bentuk studi ditekankan pada usaha mengenal kasus yang hendak diteliti dan
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat merumuskan permasalahan penelitian serta menentukan fokus
eksploratif/kualitatif dalam bentuk studi kasus. Peneliti penelitian. Sedangkan kajian pustaka dilakukan setelah
merupakan instrument utama yang bergantung pada penelitian adalah untuk menganalisis dokumen-dokumen yang
kemampuannya dalam menjalin hubungan baik dengan subjek dimiliki oleh pimpinan dan anggota kelompok paham tersebut
yang diteliti. Interaksi antara peneliti dengan yang diteliti pada temuan lapangan. Wawancara dilakukan dengan para
diusahakan berlangsung secara alamiah, tidak menonjol, tidak tokoh dan para pengikutnya, pemuka agama setempat, tokoh
dipaksakan.14 Dalam memahami data yang ditemui di lapangan, masyarakat, masyarakat sekitar, Kepala Desa/Lurah, KUA,
peneliti lebih bertumpu pada pendekatan fenomenologis yang Camat dan Kepala Kandepag. Pengamatan dilakukan berkaitan
berusaha memahami subjek dari sudut pandang mereka sendiri, dengan aktivitas sehari-hari penganut paham Salafi dan
memaknai berbagai fenomena sebagaimana dipahami dan interaksi antara pengikut dan bukan pengikutnya.
dimaknai oleh para pelaku.15

13
Ibid, hal 11.
14
Lexy.J. Moleong, 1999, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya.
15
Robert Bogdan & Steven Taylor, 1992, Introduction to Qualitative Reserach Methode: A
Phenomenological Approach to the Social Science, Alih Bahasa Arief Furchan, Surabaya, Usaha Nasional.

12 13
BAB II perkebunan/kehutanan, dan sub-sektor perikanan/kelautan.
GAMBARAN UMUM KABUPATEN Sebagian kecil di bidang jasa, kerajinan dan pertambangan.
Kehidupan perekonomian masyarakat Kabupaten Lombok Barat
LOMBOK BARAT
tergolong pra-sejahtera. Pelabuhan penyeberangan ke Pulau Bali
berada di Kecamatan Lembar dirasakan dapat menopang
perekonomian di sektor perikanan/kelautan dan jasa.
Masyarakat Lombok Barat merupakan penduduk pribumi
A. Geografi dan Demografi
keturunan asli dengan budaya Sasak. Mayoritas penduduk
abupaten Lombok Barat merupakan salah satu

K
beragama Islam. Ajaran, nilai-nilai dan kebiasaan yang mengacu
kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara pada kebudayaan Islam dapat menjadi ikatan dan interaksi sosial
Barat. Luas wilayahnya adalah 1.672,15 km2.. Sebelah mereka sangat kental. Nilai-nilai Islam menjadi unsur pemersatu
utara dibatasi oleh Laut Jawa dan sebelah selatan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sehari-hari, sehingga potensi
dengan terdapat Samudra Indonesia, sebelah barat dibatasi oleh tersebut dirasakan sangat menguntungkan untuk merajut kehidupan
Selat Lombok dan Kota Mataram dan sebelah timur berbatasan sosial dan menjaga kerukunan umat.
dengan Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur.
Secara administratif Kabupaten Lombok Barat terdiri dari 15 C. Kehidupan Keagamaan
kecamatan dengan 121 desa/kelurahan dan 937 dusun. Jumlah
Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (Kabupaten
penduduk pada tahun 2005 tercatat sebanyak 743.484 jiwa dengan
Lombok Barat Dalam Angka 2005) jumlah penduduk menurut
223.527 KK, yang terdiri 359.506 (48%) laki-laki dan 383.978 (52%)
pemeluk agama adalah sebagai berikut :
perempuan. Penyebaran penduduk merata di seluruh pelosok
hingga pingiran hutan dan pantai. Jumlah penduduk paling banyak Rumah
terdapat di Kecamatan Narmada dan Gunungsari, sedangkan yang Agama Pemeluk Prosentase Jumlah
Ibadah
paling sedikit terdapat di Kecamatan Pemenang. Masjid 834
Islam 679.206 92 %
Mushola 510
B. Keadaan Pendidikan, Ekonomi dan Sosial
Kristen 306 0,04 %
Gereja -
Lingkungan sosial yang berkaitan dengan dunia pendidikan Katholik 59 0,00 8%
bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Hindu 50.260 6,8 % Pura 124
Maha Esa, budi pekerti, ketrampilan dan semangat kebangsaan, Budha 8.626 1,17 % Wihara 25
sehingga dapat melahirkan sumberdaya manusia yang mampu
Dari gambaran di atas diketahui bahwa mayoritas penduduk
membangun diri dan bangsanya cukup tersedia. Sarana pendidikan
baik negeri maupun swasta yang ada di Kabupaten Lombok Barat Kabupaten Lombok Barat beragama Islam dengan jumlah
adalah: TK 93 buah, SD 450 buah, SLB 2 buah, SLTP 47 buah, SMA banyaknya masjid dan mushola. Sebaliknya sampai saat ini umat
Kristen dan Katholik di Kabupaten Lombok Barat belum memiliki
24 buah, dan SMK 9 buah. (Lombok Barat Dalam Angka 2005). Mata
pencaharian penduduk sebagian besar berada pada sektor pertanian,

14 15
sarana gereja sehingga mereka pergi ke Kota Mataram untuk BAB III
melaksanakan ritual keagamaan. TEMUAN PENELITIAN DAN ANALISA
Nilai-nilai agama dan norma sosial adalah satu kesatuan yang
kuat, yang berfungsi untuk mengatur kehidupan beragama di
masyarakat. Latar belakang suku Sasak sangat kental dengan
budaya dan adat yang menjadikan kondisi kehidupan yang A. Sekilas tentang Sejarah dan Ajaran Salafi.16
harmonis dan kehidupan spiritualnya diwarnai oleh nilai-nilai lokal.

D
alam Ensiklopedi Islam dan Ensiklopedi Tematis Dunia
Di Kabupaten Lombok Barat banyak dijumpai tokoh agama Islam dijelaskan bahwa gerakan pemikiran Islam
sekaligus tokoh adat. Jika dia pernah mukim di Arab selama 9 tahun Salafiyah adalah gerakan pemikiran yang berusaha
akan mendapat predikat Tuan Guru Haji (TGH). Aktivitas menghidupkan kembali atau memurnikan ajaran Islam yang
keagamaan seperti ceramah agama, pondok pesantren, pengajian, berdasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah seperti yang diamalkan
tahlil dan yasinan, dan berbagai acara selamatan (maulidan, Isra oleh para Salaf (umat terdahulu). Tujuannya adalah agar umat Islam
Miraj dan ruwahan) dilaksanakan secara besar-besaran. kembali kepada dua sumber utama Islam, yakni kitab suci Al-Quran
dan Sunnah Rasulullah SAW, serta meninggalkan pendapat ulama
mazhab yang tidak berlandaskan pada dua sumber ajaran tersebut.
Selain itu juga memurnikan ajaran Islam agar tidak bercampur
dengan kepercayaan-kepercayaan lama yang menyesatkan dan
terbebas dari ajaran tasawuf, seperti mengkultuskan para ulama,
kegiatan memuja kuburan para wali atau tokoh agama tertentu.17
Gerakan Salafi pada awalnya disebut dengan gerakan tajdid
(pembaharuan), ishlah (perbaikan), dan gerakan reformasi. Doktrin
awal dari gerakan pemikiran Salafiyah ini adalah pandangan bahwa
pintu ijtihad tetap terbuka sepanjang masa dengan penuh kehati-
hatian. Gerakan ini mengharamkan taklid buta dan menyerukan agar
perdebatan theologis dihindarkan. Aliran ini mengkritik

16
Kaum Salafiyah di Timur Tengah bukan satu kelompok saja, tetapi ada empat kelompok, yaitu:
pertama; Salafiyun, kelompok Salafiyah politik, lebih menekankan pada persoalan-persoalan politik dari
pada masalah akidah; kedua Salafiyun Al-Baniyun, yang mengikuti Syaikh Al-Muhaddis Nasiruddin Al-
Albani, mereka memerangi fanatisme mazhab fikih, dan menolak taklid, sekalipun oleh kalangan awam;
ketiga, Salafiyun Al-Jamiyun (Salafiyun yang beringas), kelompok ini gemar menyalahkan dan menyerang
semua ulama maupun dai yang bertentangan dengan mereka. Tak ada figur yang selamat dari serangan
kelompok ini, baik klasik maupun modern. Salafiyun pengikut Syekh AbdurrahmanAbdul Khalik di Kuwait;
keempat, Salafiyun pengikut Syekh Bin Bazz dan Syekh Usaimin di Saudi Arabia. Kedua kelompok
terakhir ini belum berbentuk organisasi yang rapi.
17
Imam Tholkhah, Gerakan Islam Salafiyah di Indonesia, Jurnal Edukasi, Volume 1, Nomor 3,
Juli-September 2003, hal 33.

16 17
penggunaan logika dalam memahami theologi Islam dan Pada awal abad ke-20 Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad
menawarkan metodologi yang digunakan oleh ulama Salaf, para Abduh dan Rasyid Ridhlo adalah tokoh gerakan Salaf yang
sahabat dan tabiin. Konsep yang mereka sodorkan dalam berorientasi liberal. Untuk merespon modernisasi, menurut ketiga
memahami ayat-ayat Al-Quran yang cenderung harfiyah, tekstual. tokoh ini kaum muslimin harus kembali pada ajaran Islam Al-
Quran dan Sunah serta mengaitkan diri dengan penafsiran teks.
Pada abad ke 12 Hriah, pemikiran Salayah ini mengkristal
Selanjutnya yang menjadi penggerak utama gerakan Salafiyah
dalam sebuah gerakan yang dinamakan gerakan Wahabi, yang
adalah Muhamad Rasyid Ridhlo (pendiri majalah Al-Manar, penulis
dipelopori oleh Muhammad Abdul Wahab (1703-1787 M) yang
tafsir Al-Manar, serta berbagai buku reformis lainnya) yang banyak
memiliki misi memurnikan ajaran Islam, mengajak kembali kepada
diwarnai oleh gurunya Muhammad Abduh. Abduh dinilai sangat
ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi SAW, sebagaimana yang
terbuka dengan pemikiran Barat. Hal tersebut menjadikan Rasyid
diamalkan oleh generasi awal Islam18.
Ridhlo tidak terlalu dilirik oleh Salafiyun Modern. Mereka tidak
Menurut Abou El-Fadl, Gerakan Salafi dan Gerakan Wahabi memanfaatkan aliran pembaharuan Rasyid Ridhlo sebagaimana
memiliki kesamaan.19 Muhammad bin Abdul Wahab berusaha mestinya. Padahal, ia adalah pemimpin sejati dari aliran Salafiyah
membersihkan Islam dari unsur-unsur yang merusak agama. Dia yang tercerahkan21.
menerapkan literalisme ketat, menjadikan teks sebagai satu-satunya
Pada awal 1970-an Paham Wahabi berhasil mengubah Salafi
sumber otoritas yang syah dan menampilkan permusuhan ekstrim
dari theologi yang berorientasi modernis liberal, menjadi theologis
kepada intelektualisme, mistisisme, dan semua perbedaan paham
literalis, puritan, dan konservatif. Harga minyak yang naik tajam
yang ada dalam Islam. Menurut doktrin Wahabi, penting artinya
pada 1975, menjadikan Arab Saudi memiliki andil besar terhadap
kembali pada kemurnian, kesederhanaan, dan kelurusan Islam yang
tersebarnya Aliran Wahabi yang diwarnai oleh pemikiran Salafi.22.
sepenuhnya diperoleh dengan menerapkan perintah Nabi secara
harfiah dan dengan ketaatan penuh terhadap praktik ritual yang
B. Gerakan Salafi di Indonesia
benar. Wahabi menolak semua upaya untuk menafsirkan hukum
Allah secara historis dan kontekstual karena dapat menimbulkan Di Indonesia, ide-ide gerakan pemikiran Salafiyah
multi tafsir ketika seiring dengan perkembangan zaman. Wahabi berkembang sejak era kolonial Belanda. Salah satu gerakan
menganggap sebagian besar sejarah umat Islam merupakan unsur pemikiran Salafi awal di Indonesia terdapat di Minangkabau.
perusak Islam dari kemurniannya. Wahabi juga mendefinisikan Gerakan ini dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo, tokoh kaum Paderi
ortodoksi secara sempit dan sangat tidak toleran terhadap semua dari Koto Tuo Ampek Angkek Candung (1784-1803 M). Seperti
kepercayaan adat (lokal) yang bertentangan dengan halnya gerakan Wahabi di Saudi Arabia, kelompok ini juga
kepercayaannya . 20 melakukan kritik terhadap kehidupan keagamaan setempat.
Akhirnya terjadilah pertempuran kaum Paderi dengan kaum tradisi
yang melibatkan Belanda. Perang ini dinamakan dengan Perang
18
Imam Tholkhah, Ibid, hal.34. Lihat juga Jamhari dan Jajang Jahroni (Ed); Gerakan Salafi
21
Radikal di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. vi. Yusuf Qardhawi, Kebangkitan Gerakan Islam: Dari Transisi Menuju Kematangan; (Terj.)
19
Khaled Abou El-Fadl, Toleransi Islam: Cita dan Fakta (Bandung, Arsy, 2004). Abdullah Hakam Syah dan Ainul Abied Syah, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2003), hal. 236. Dikutip dari
20
M.Imdadun Rahmat; Arus Baru Islam Radikal, Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke M.Imdadun Rahmat, op. cit, hal. 68.
22
Indonesia (Jakarta, Erlangga, 2005), hal. 66-67. M.Imdadun Rahmat, ibid.

18 19
Paderi. Sumber kepustakaan menjelaskan bahwa gerakan Paderi ini pemahaman agama sesuai dengan tradisi yang sudah berjalan,
dipengaruhi oleh gerakan keagamaan Wahabi (1703-1792 M) yang sedangkan Kaum Muda terus mengembangkan pembaharuan
waktu itu cukup mempengaruhi para jamaah haji dari ranah Minang pemikiran. Demikian juga penganut Muhammadiyah dan Persis
yang belajar ke Makkah.23 mendapat tantangan dari umat Islam tradisionalis.
Gerakan pemikiran Salafi di Indonesia mengalami
C. Kronologi Munculnya Konflik
perkembangan seirama dengan munculnya tokoh-tokoh gerakan
pemikiran Salafi di Timur Tengah (Mesir) seperti Syeikh Jamaluddin Menurut Imdadun Rahmat persentuhan awal para aktivis
Al-Afghani (1839-1897M), Muhammad Abduh (1849-1905), dan Gerakan Salafi di Indonesia dengan pemikiran Salafi terjadi pada
Rasyid Ridhlo (1865-1935). Para tokoh pembaharuan Mesir ini, di tahun 1980-an bersamaan dengan dibukanya Lembaga Pengajaran
samping mengajak umat Islam kembali kepada Al-Quran dan Bahasa Arab (LPBA) di Jakarta. Lembaga yang kemudian berganti
Sunnah Nabi Muhammad SAW, juga mengajak umat Islam agar nama menjadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab
meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk (LIPIA) ini memberikan sarana bagi mereka untuk mengenal dan
mencapai kemajuan, menghilangkan kebodohan dan mengatasi mendalami pemikiran-pemikiran para ulama Salafi. LIPIA adalah
keterbelakangan. Orang-orang Indonesia yang menunaikan ibadah cabang dari Universitas Muhammad Ibnu Saud di Riyadh Saudi
haji di Makkah kemudian bermukim untuk belajar Agama Islam. Arabia, sebagai cabang ketiga di Indonesia yang dibuka pada awal
Setelah pulang secara individu atau melalui organisasi melakukan tahun 1980. Pembukaan cabang baru ini terkait dengan gerakan
gerakan pembaharuan Islam mengikuti aliran Salafi.24 penyebaran ajaran Wahabi ke seluruh dunia Islam. LIPIA telah
menghasilkan ribuan alumni, yang umumnya berorientasi Wahabi
Di Indonesia muncul organisasi-organisasi yang bercorak
Salafi dengan berbagai variannya. Sebagian menjadi aktivis Partai
Sala Modern seperti: Muhammadiyah (1912), Sarikat Islam (1912),
Keadilan dan sebagian lain menjadi dai beraliran Salafi.
Al-Irsyad (1914), Jong Islamiten Bond (1925-1942), Persatuan Islam
(1923) dan Partai Islam Indonesia (1938). Upaya-upaya yang Penyebaran dakwah Salafi sampai di Kabupaten Lombok
dilakukan oleh para tokoh gerakan keagamaan tersebut adalah Barat, di mana di daerah ini terdapat banyak pondok pesantren.
mengajak umat Islam meninggalkan praktek-praktek keagamaan Tokoh Dakwah Salafi di daerah ini adalah Akhmad Khumaidi dan
yang bernuansa bidah, khurafat, taklid dan mendorong mereka Mukti Ali. Akhmad Khumaidi pernah mondok di Pondok Pesantren
melakukan ijtihad.25 Islahudin selama 9 tahun dari tahun 1964-1975. Setelah
menyelesaikan pendidikan, Khumaidi mengajar di sebuah
Kehadiran gerakan pemikiran Salafiyah bukan tidak
madrasah di Kecamatan Kediri Lombok Barat. Pada tahun 1978 ia
menimbulkan pertentangan. Di mana-mana, baik di Timur Tengah
melaksanakan umrah dan tidak kembali ke Indonesia, tapi
maupun di Indonesia, gerakan pemikiran Salafi berbenturan dengan
bermukim di Mekkah selama 8 tahun dari tahun 1978-1986.
kelompok Islam tradisionalis. Di Minangkabau, gerakan pemikiran
Salafi ditentang oleh Kaum Tua. Kaum Tua mempertahankan Pada tahun 1986 sampai dengan 2004 dia mengajar di
Mushalla Nurul Yaqin (Tarbiyah), sebuah mushalla milik seorang
23
Imam Tholkhah, op. cit, hal. 35.
tuan guru di Desa Gelogor, Kecamatan Kediri. Kemudian pada
24
25
Imam Tholkhah, ibid. tahun 2004 ia berangkat ke Jakarta untuk belajar di LIPIA Jakarta.
Ibid, hal. 36.

20 21
Sepulang dari Jakarta pada tahun 2005 dia mulai membina dijadikan rujukan adalah Al-Quran, As-Sunnah dan ijma ulama.
masyarakat setempat dengan mengajarkan paham Salafi. Dalam Kitab yang dibaca antara lain Riyadush Shalihin, Bulughul Maram
dakwahnya dia banyak menyalahkan paham yang telah dianut oleh dan kitab-kitab aqidah. Ulama Salafi antara lain Syafii, Abu Hanifah
mayoritas masyarakat setempat. Diantaranya shalat tarawih hanya 8 dan Ibnu Taimiyah. Menurut Khumaidi hukum yang dipakai oleh
rakaat bukan 20 rakaat, tidak melakukan zikir jahar (suara keras- ulama tersebut adalah sunnah, itu yang disebut Salafi.
keras), melarang melakukan perayaan Maulid besar-besaran, karena
Dakwah yang disampaikan ustadz Khumaidi berhasil
dianggap pemborosan dan mengakibatkan kemiskinan. Dia
menarik minat masyarakat, sehingga pengikutnya terus bertambah
melarang kegiatan upacara nelung26, mituh27, nyiwak28, yang
dan menyebar ke beberapa daerah, seperti di Kecamatan Lembar
diadakan untuk orang yang meninggal dunia, dan memakan
dan Kecamatan Sekotong Tengah. Hal ini nampaknya menimbulkan
makanan yang disediakan pada acara itu haram hukumnya. Hukum
kerisauan di kalangan Tuan Guru. Maklum, para pengikut itu
mengirim bacaan zikir dan tahlil kepada orang yang meninggal
merupakan aset bagi Tuan Guru jika ditinjau dari segi sosial
dunia pahalanya tidak sampai kepada yang meninggal, karena
keagamaan, politik dan ekonomi. Maka muncullah berbagai konflik
alamatnya tidak jelas.
berupa pelarangan-pelarangan melakukan kegiatan, sampai dengan
Menurut Ustadz Khumaidi yang dimaksud dengan zikir itu perusakan terhadap bangunan pondok pesantren.
adalah membaca Al-Quran dan nasehat agama. Membaca zikir
Konflik bermula dari pelarangan terhadap ustadz Khumaidi
cukup sirri (tidak nampak), dengan membaca La ilaha illa Allah,
berkhutbah di masjid desa Gelogor dan kegiatan pengajian yang
karena kalau dilakukan dengan jahar (terang-terangan) akan tidak
diadakan di rumahnya oleh masyarakat sekitarnya. Kemudian
teratur, seperti yang dilakukan oleh kelompok tarekat. Menurutnya
konflik menyebar hingga ke Kecamatan Sekotong Tengah dengan
zikir dan doa dilakukan secara perorangan, sebab maksud setiap
terjadinya perusakan pondok pesantren, pelarangan shalat Jumat di
orang itu berbeda-beda. Kalau untuk kepentingan umum, maka doa
masjid milik kelompok tersebut di Kecamatan Lembar, dan
boleh dilakukan secara bersama-sama. Perayaan Maulid merupakan
pembubaran pengajian di Dusun Beroro Desa Jembatan Kembar.
suatu aktivitas keagamaan baru, yang tidak pernah dilakukan oleh
Nabi dan para sahabat yang disebut dengan bidah. Kekerasan terjadi di Dusun Kebun Talo Desa Labuhan Tereng
Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat yaitu perusakan
Ustadz Khumaidi mendirikan majelis taklim yang diberi nama
terhadap mushalla milik kelompok Salafi karena dakwahnya
As-Sunnah di sebuah mushalla yang merupakan peninggalan
dianggap menyinggung kelompok lainnya. Untuk memecahkan
ayahnya yang juga seorang tokoh agama di Desa Gelogor.
masalah tersebut diadakanlah pertemuan di KUA Kecamatan
Menurutnya, para pengikutnya sekarang ini berjumlah 270 orang,
Lembar pada tanggal 28 Juli 2005 yang dihadiri oleh para tokoh
terdiri atas 137 orang laki-laki dan 133 orang perempuan. Ciri khas
agama dan tokoh masyarakat Kebon Talo Desa Labuan Tereng yang
dari kelompok Salafi antara lain berpakaian berwarna putih, peci
terdiri dari TGH Badrun, Ustadz Munawar Khalil, Abdul Hafidz,
putih, baju panjang, dan memelihara jenggot. Sumber hukum yang
H.Taufik Azhari (Kades) dan Abdul Karim (Ketua Remas). Untuk
mengatasi konflik tersebut diambil kesepakatan-kesepakatan, yaitu:
26
nelung adalah upacara tiga hari setelah kematian
27
mituh adalah upacara tujuh hari setelah kematian
28
nyiwak adalah upacara sembilan hari setelah kematian

22 23
1. Pengajian yang dilaksanakan di Mushalla Fakhriah Amin Yang menolak pendirian shalat Jumat beralasan agar masyarakat
Mertak, Mushalla Darussalam Langitan di Ponpes Al-Hamid di tidak terpecah belah sehingga dikhawatirkan akan terjadi gesekan
RT Tibu Timuk boleh berjalan dengan materi yang telah ada, antara kedua belah pihak. Tidak menutup kemungkinan masyarakat
namun harus dipimpin oleh TGH/Ustadz). Sedangkan Dusun Kebon Talo Utara yang lain akan mendirikan Jumatan di
TGH/Ustadz yang berasal dari luar (daerah/kecamatan lain) tempat yang lain dengan pertimbangan terlalu dekat jarak masjid
harus diistirahatkan; induk dengan mushalla Fakhriyah Amin. Sedangkan pihak yang
2. Membentuk pembina bagi masing-masing kelompok pengajian; mau mendirikan Jumatan beralasan merasa dilecehkan.
3. Pengajian utama diadakan di masjid yang dihadiri semua
Pada tanggal 5 September 2005 Camat Lembar mengirim surat
jamaah Dusun Kebon Talo yang materi dan gurunya ditentukan
kepada Abdul Fatah pengurus mushalla Fakhriyah Amin, yang
dengan musyawarah.
isinya menghentikan pelaksanaan shalat Jumat sebelum
Akibat konflik itu, pada tanggal 19 Agustus 2005 kelompok Sala di mendapatkan izin dari Bupati Lombok Barat. Selanjutnya pada
Dusun Kebon Talo Utara mendirikan shalat Jumat sendiri yang tanggal 21 September 2005 Camat Lembar mengirim laporan kepada
dihadiri oleh 55 orang bertempat di mushalla Fakhriyah Amin. Bupati Lombok Barat yang isinya antara lain:
Pelaksanaan shalat Jumat tersebut dilakukan karena kelompok
1. Mendukung alasan-alasan yang dikemukakan oleh sebagian
Salafi/Wahabi merasa kecewa terhadap masyarakat Kebon Talo yang
masyarakat Kebon Talo, karena selain itu jarak masjid Baitul
tidak menerima kehadiran mereka. Kegiatan kelompok Salafi
Amin Dusun Kebon Talo masih bisa menampung jamaah
diprotes oleh masyarakat dengan meminta Camat Lembar untuk
walaupun masyarakat berdomisili terpencar.
memberikan keputusan apakah kegiatan tersebut diizinkan atau
2. Dikhawatirkan terjadi benturan/gesekan pada saat melaksanakan
tidak. Untuk menyelesaikan kasus tersebut diadakan musyawarah
ibadah maupun kegiatan-kegiatan keagamaan.
yang hasilnya: Ketua MUI, Kepala Kandepag Lombok Barat dan Camat
3. Meminta jamaah mushalla Fakhriah Amin tidak melaksanakan
dan aparat lainnya akan turun ke lapangan untuk mengecek situasi dan
shalat Jumat sebelum mendapat izin dari Bupati.
kondisi sebagai bahan pertimbangan dan rekomendasi kepada Bupati
4. Meminta Bupati untuk secepatnya membuat keputusan.
Lombok Barat. Hasilnya, kegiatan shalat Jumat di mushalla
Fakhryiah Amin dihentikan sementara. Shalat Jumat dilaksanakan Secara diam-diam kelompok Salafi tetap melakukan
setelah ada pertimbangan dari Kepala Desa, Camat, MUI dan kegiatannya. Pemerintah terlambat memberikan keputusan. Terlihat
Kandepag Kabupaten Lombok Barat dan mendapat izin dari Bupati. riak-riak kecil dalam masyarakat, maka pada tanggal 6 Januari 2006
KUA Kecamatan Lembar mengingatkan jamaah pengajian mushola
Pada tanggal 23 Agustus 2005 Ustadz Munawar Khalil selaku
Fakhriyah Amin agar patuh pada hasil musyawarah tanggal 28 Juli
pengurus Mushalla Fakhriyah Amin, mengirim surat kepada Bupati
2005.
agar memberikan izin mendirikan shalat Jumat dengan alasan:
jamaah telah memenuhi syarat secara syary dan kondisi Kamtibmas Pada tanggal 22 April 2006 jam 22.30 WITA terjadi
stabil dan terjamin. Menyikapi keinginan kelompok Salafi untuk pengrusakan/pembobolan tembok mushola jamaah Fakhriah Amin.
mendirikan shalat Jumat, pengurus BPD Desa Labuan Tereng Untuk mengatasi peristiwa tersebut dilakukan rapat Muspika,
mengadakan musyawarah dan jajak pendapat peserta yang hadir. Kepala Desa dan Ketua/anggota BPD Desa Labuan Tereng dengan

24 25
membuat keputusan-keputusan: memecat Kadus Kebon Talo dan pengajian atau gerakan salafi yang mendasarkan ajarannya
Ketua BPD karena merupakan pengurus mushalla Fakhriyah Amin. pada teks-teks suci dan dimaknai secara harfiah. Di luar itu
Kemudian pada tanggal 29 April 2006 Camat bersama anggota dianggap bidah. Masyarakat Desa Gelogor dan Jembatan
Muspika Kecamatan Lembar mengadakan pertemuan dengan Kades Kembar di Lombok Barat adalah pengikut mainstream
Labuan Tereng, Kadus Kebon Talo, kegiatan kelompok jamaah Muhammadiyah yang pengamalan keagamaannya mirip
mushalla Fakhriyah Amin dihentikan dan kembali bergabung dengan Wahabi tidak ada masalah. Kaum Salafi sebagai
dengan masyarakat lainnya yang dipusatkan di masjid Baitul Amin pendatang baru menimbulkan masalah karena saat ceramah
Dusun Kebon Talo, dan Camat kembali meminta Bupati untuk mengatakan di berbagai pengajian umum, bahwa dzikir jahar,
segera membuat keputusan terhadap tuntutan itu. dan talqin adalah sia-sia, bidah dan masuk neraka.
Permasalahannya adalah kelompok ini secara terang-terangan
D. Respon Pejabat Pemerintah dan Masyarakat Terhadap menunjuk orang lain berbuat bidah dan sesat. Sedangkan
Gerakan Salafi amalan yang dipandang bidah itu merupakan amalan yang
diajarkan oleh para Tuan Guru dan diamalkan bersama
1. Tanggapan Pejabat Pemerintah
pendukungnya. Masyarakat berpendapat pengajian setelah
a. Kepala Kanwil Departemen Agama Provinsi NTB shalat adalah bidah, karena itu tidak lazim dan meresahkan
Kepala Kanwil Departemen Agama Provinsi NTB masyarakat Yang benar setelah shalat adalah dzikir, wirid dan
berpendapat bahwa sebenarnya ajaran yang disampaikan oleh berdoa. Masyarakat tidak setuju dengan pengajian setelah
kelompok Salafi tidak tergolong sesat, dan termasuk masalah shalat,.29
khilafiyah. Perbedaan tersebut tak ubahnya terjadi antara b. Kasubbag TU Kandepag Lombok Barat
paham Muhammadiyah dan NU ketika kedua organisasi ini
Supriadi, Kasubbag TU Kandepag Lombok Barat
baru berdiri. Hanya yang disayangkan mereka bersifat
menuturkan bahwa aktivitas gerakan Salafi di Lombok Barat
eksklusif dan cenderung menyalahkan kelompok lain.
ada di 4 desa yang berada di 3 kecamatan. Keempat desa itu
Sedangkan bagi kelompok non-Salafi ajaran ini dianggap
adalah Desa Gelogor (Kecamatan Kediri), Desa Kebon Talo
sesat, karena berbeda dengan ajaran yang mereka peroleh dari
dan Desa Labuhan Tereng (Kecamatan Lembar), dan Desa
Tuan Guru. Perseteruan ini juga disebabkan bukan hanya
Sesele (Kecamatan Gunung Sahari). Sudah ada perjanjian
faktor ajaran, tetapi juga berkaitan dengan masalah politik.
antara masyarakat yang berselisih. Namun aksi anarkis
Kelompok Salafi umumnya dikenal sebagai pendukung Partai
berupa perusakan pesantren masih terjadi di Kecamatan
Keadilan Sejahtera, sedangkan masyarakat umumnya
Sekotong Tengah pada hari Sabtu 30 September 2006.
pendukung Golkar dan PPP.
Masyarakat tidak menyukai kebiasaan kelompok Salafi yang
Menurut penuturan Lalu Suhaimy, kakanwil Depag selalu mencela budaya masyarakat Sasak dengan
NTB, di Gelogor, Lombok Barat ustadz Khumaidi menuduhnya sesat (dlolalah).
mengajarkan paham keagamaan yang ajarannya sama dengan
ajaran Muhammadiyah, yang sering disebut orang dengan
29
Diolah dari wawancara dengan Drs. H. Lalu Suhaimy Asmi 29 September 2006

26 27
Kelompok Salafi tidak mau tahu tentang sejarah c. Kepala KUA Kecamatan Lembar
masuknya agama Islam ke Lombok yang dibawa oleh Sunan
M. Abu Arif Aini, S.Ag, Kepala KUA Kecamatan
Prapen. Dalam menyebarkan Islam, Sunan Prapen
Lembar mengatakan dahulu Muhammadiyah berdakwah
memanfaatkan unsur budaya masyarakat setempat agar Islam
dikenal keras, tetapi sekarang telah berubah dan menjadi lebih
dapat diterima mereka, seperti melaksanakan Maulidan.
moderat. Para pendukung Muhammadiyah tidak berubah
Kaum Salafi hanya menilai maulidan adalah aktivitas yang
menjadi sempalan. Desa Kebon Talo dan Desa Labuhan
menelan biaya sangat besar dan dianggap perbuatan sia-sia.
Tereng, Kecamatan Lembar komunitas penduduknya sekitar
Hampir setiap keluarga memotong sapi dan berpesta adat
400 KK, terdapat 50 % pendukung Sala dan 50 % pendukung
dengan berbagai kegiatan. Orang berfikir bila tidak dapat
non-salafi. Konflik terjadi karena munculnya gesekan akibat
memotong sapi saat maulidan merupakan sebuah kehinaan
perbedaan penafsiran antar dua kelompok terhadap masalah-
dan aib keluarga. Pada acara Maulid itu Sunan Prapen
masalah khilafiah. Kelompok Salafi kurang memiliki kearifan
mengajarkan dengan membaca barzanji, lalu menyediakan
lokal dan menerjemahkan ajaran Islam (secara tekstual),
hidangan di masjid. Aktivitas ini hingga kini telah mendarah
sementara non-Salafi mengikuti penafsiran ulama-ulama
daging dalam kehidupan masyarakat Lombok. Kebiasaan
terdahulu yang sangat arif terhadap budaya lokal.
tersebut selalu ditentang oleh kaum salafi dengan mengatakan
kegiatan tersebut adalah budaya orang Bali yang harus Gesekan antar dua komunitas pendukung ajaran agama
ditinggalkan. Inilah pemicu konflik itu. akhirnya meledak dalam bentuk kerusuhan yang terjadi pada
bulan Juli 2004, ketika komunitas pengajian salaf penganjur
Substansi dan sikap kelompok Salafi sama dengan
Wahabi mengajarkan materi ibadah mahdoh, berbeda dengan
dakwah Muhammadiyah di Lombok. Yang membedakan
kebiasaan masyarakat Lombok. Pengajian kelompok salafi
adalah dakwah di kalangan Muhammadiyah dalam
sebenarnya sudah berjalan selama 10 tahun dan tidak pernah
memberantas budaya pemborosan tidak dilakukan dengan
terjadi apa-apa, meskipun kelompok Salafi dalam pengajian
keras, menelanjangi kelemahan adat di depan umum
umum selalu mencela tradisi.
(pengajian umum). Budaya ruwah misalnya, anggota
Muhammadiyah masih mau mengikuti tradisi ini. Mereka Laporan masyarakat ke KUA mengenai pengajian Salafi
mengundang orang-orang ke rumah untuk tasyakuran. antara lain bahwa kebiasaan umat Islam yang tidak tertulis
Sementara itu, kelompok Salafi selalu menegur bahwa tradisi secara tekstual di dalam kitab (Al Quran atau hadist) adalah
tersebut bidah yang sesat dan masuk neraka. menyimpang. Pada tahun 2004 di Desa Kebon Talo,
Kecamatan Lembar, ada pengajian 2 kelompok (sala dan
Kelompok Salafi ini juga sering mengatakan bahwa
non-salafi) yang waktunya bersamaan sama-sama
dzikir bersama (tahlil) adalah bidah yang dosanya lebih besar
menggunakan pengeras suara. Keduanya saling menyerang
dari pada berzina dengan ibunya30.
kemudian menimbulkan keributan. Pada tanggal 28 Juli 2004
tokoh agama dua belah pihak dipanggil KUA, masing-masing
2 orang tokoh masyarakat, bersama kepala desa dan 2 remaja
30 masjid. Dalam pertemuan dibuat kesepakatan menyelesaikan
Diolah dari wawancara dengan Supriadi, 28 September 2006

28 29
masalah. Salah satu pihak merasa dirugikan. Dengan terpaksa kegiatan maulidan dan ruwahan, sehingga masyarakat protes.
ditanda tangani kesepakatan-kesepakatan itu yang antara lain: Massa yang menyerang berbagai pengajian Salafi dikoordinir
pertama, mengembalikan pendukung Salafi dan non-Salafi secara rapi, sehingga masyarakat yang diserang sering tidak
dikembalikan ke koordinator semula; kedua pengajian yang mengenal para penyerang.
mendatangkan ustad dari luar untuk sementara dihindari;
Di wilayah Kecamatan Kediri terdapat banyak
ketiga untuk menyambung komunikasi diadakan pengajian di
pesantren, ulama dan kyai. Pada dasarnya beberapa
masjid dengan ustad-ustad dan kitab-kitab yang disepakati
penyerangan mengindikasikan perebutan jamaah sebagai
bersama. Setelah 3 minggu dari kejadian itu, bulan Agustus
sumber ekonomi, politik dan pengaruh. Kitab yang digunakan
2004 pihak non-Salafi melaporkan tentang adanya kegiatan
kelompok Salafi bersumber sama dari Duratun Nasikin,
sholat Jumat di mushola yang dilakukan oleh kelompok
Riyadus Salikin, dan kitab-kitab lainnya, sehingga sangat
Sala yang jaraknya tidak lebih dari 100 meter dari masjid
tergantung pada kearifan dan metode dakwah dalam
Jami, padahal demikian itu sudah berjalan bertahun-tahun.
menafsirkan ciri-ciri Syafii atau Hanafi (Hambali ? editor).31
Laporan itupun ditanggapi oleh Kepala KUA dan Camat
Lembar dan meminta agar kelompok Salafi tidak melanjutkan d. Kepala Kandepag Lombok Barat
shalat Jumat. Di bawah tekanan pejabat pemerintah, semula Kepala Kandepag Lombok Barat Drs. H. Syaban
kelompok Salafi menyetujuinya. Tapi ternyata tetap menuturkan kelompok salafi sehabis shalat Jumat selalu
mengadakan kegiatan shalat Jumat. Kepala KUA pun terjun mengadakan pengajian yang diikuti oleh banyak orang.
ke lapangan. Kebiasaan pengajian bada shalat Jumat tidak disukai
Pada bulan Mei 2006 masyarakat meminta Muspika, oleh masyarakat Dusun Beroro. Hal ini sering
KUA, dan BPD sebagai fasilitator untuk dilakukan dimanfaatkan oleh elit politik desa mereka. Salah satu
musyawarah. Hasilnya adalah agar kelompok Salafi contoh jika salah satu calon kades kalah, tidak jarang
menghentikan aktivitasnya dan tidak mengadakan sholat kemudian mengerahkan massa untuk menggagalkan
Jumatan sendiri. Tekanan itu tidak dituruti oleh kelompok hasil Pilkades.
Salafi. Akhirnya pada bulan Januari-Pebruari 2006 terjadi
perusakan Madrasah di Sekotong oleh kelompok non-Salafi. Kelompok non-Salafi biasanya dengan jargon jika si
Kasus-kasus lain juga terjadi di Desa Kebon Talo, Desa Beloro, Fulan menang, maka masyarakat di desa ini akan dijadikan
Desa Jembatan Kembar. Salafi dan adat akan dihancurkan. Cara-cara ini masih efektif,
karena memang pada umumnya masyarakat desa masih
K.H. Ahmad Khumaidi dan Ustad Mukti Ali sama- tradisional dalam memahami agama maupun cara berfikirnya.
sama alumni dari Arab Saudi merupakan tokoh Salafi,
memiliki kelompok pengajian di beberapa desa yang aktifitas Berdasarkan kajian Kepala KUA dengan LSM agama,
kegiatannya dibubarkan oleh masyarakat namun tidak terjadi ternyata Kelompok Salafi mengangkat kembali masalah-
pengrusakan. Di desanya Gelogor Kecamatan Kediri masalah yang dahulu pernah diperdebatkan oleh kalangan
kegiatannya juga digrebeg, karena isi ajaranya melarang
31
Diolah dari wawancara dengan M.Abu Arif Aini, S.Ag , 29 September 2006

30 31
Muhammadiyah dan NU sebagai pemicu. Hal ini karena telah dilakukan untuk menghindari konflik horizontal.
sebelumnya perbedaan antara kalangan Muhammadiyah dan Pengajian atau dakwah kelompok Salafi sering dilakukan di
NU sudah selesai dan saling menghormati. Karena itu Masjid Raya Lombok yang kemudian juga menjadi pusat
meskipun ada perbedaan paham mereka dapat hidup rukun. aktivitas mereka. Mereka mendata secara rapi orang-orang
Di Desa Beloro salah satu pemicunya mantan Kadus yang menjadi pendukung Salafi, kemudian dikirim dan
menyalonkan diri menjadi Kadus tetapi kalah, tidak lama dilaporkan kepada lembaga yang di Arab Saudi. Berdasarkan
berselang ada pemilihan calon Kades. Dalam pemilihan laporan tersebut mereka mendapatkan dana pembinaan yang
kepala desa salah satu jagonya adalah Zainuddin mantan tidak sedikit.32
Kadus yang kalah dalam pemilihan Kadus sebelumnya.
Dalam pilkades itu Zainuddin yang kebetulan pendukung e. Anggota Seksi Tramtib Kecamatan Lembar
Salafi juga kalah, sehingga timbul masalah yang Lalu Mulyadi, anggota Seksi Tramtib Kecamatan
berkepanjangan, meskipun Zainuddin tidak dapat berbuat Lembar menuturkan bahwa pada tahun 2005, pengajian Salafi
apa-apa atas kekalahannya. Tetapi para pendukungnya selalu di Desa Kebon Talo dihentikan oleh masyarakat, karena
mencari kesempatan untuk menghalang-halangi jalannya menggunakan pengeras suara dan saling debat di pinggir
pemerintahan desa dengan membuat masyarakat tidak tenang jalan. Setelah pengajian dihentikan, kelompok Salafi
dan mempertentangkan secara terus menerus masalah mendirikan shalat Jumat sendiri. Namun kegiatan ini juga
khilafiyah. Kebetulan, persoalan agama merupakan persoalan dihentikan masyarakat dengan alasan demi stabilitas
yang diminati masyarakat bahkan sangat antusias. keamanan. Pihak Kecamatan Lembar tidak pernah melarang
Di Kebon Talo berdiri Pondok Al-Hamidi yang bukan paham-paham keagamaan, tetapi demi keamanan siapa pun
Salafi di mana masyarakatnya 50% pendukung Sala dan 50% boleh mengembangkan pahamnya sepanjang masih ada
bukan Salafi. Dalam pesantren itu terjadi persoalan keluarga, silaturahmi. Oleh karena itu kegiatan pengajian, secara umum
karena ada beberapa anggota keluarga pesantren yang oleh pemerintah tidak melarang, tetapi pemerintah memiliki
menjadi juru dakwah Salafi. Prosesnya menjadi persoalan tugas untuk menjaga dan mendamaikan serta mengamankan
politik, persaingan keluarga dan perebutan pengaruh antar setiap aktifitas masyarakat termasuk pengajian.
keluarga. Para tokoh Salafi diantaranya Abdul Fatah
Faktor terjadinya konflik diantaranya adalah
(sekarang ke Arab Saudi), dan Ustad Munawar (Pengurus
rendahnya tingkat pendidikan dan SDM masyarakat.
DDII), Ust. Sati, Ahmad Humaidi, Mukti Ali, dan lain-lain
semuanya alumni Pondok Nurul Hakim, Kecamatan Kediri.
Juga karena letak mereka di daerah terpencil sehingga
tidak jarang menyebabkan perbedaan pemahaman
Isu yang berkembang di masyarakat adalah bahwa fikhiyah, yang minoritas dianggap mengganggu
masjid hanya boleh diisi oleh pendukung Salafi. Orang lain
mayoritas. Kondisi di lapangan baik yang pro maupun
tidak boleh masuk ke masjid itu karena dianggap najis. Masih
kontra tidak saling mengancam, tetapi terjadinya konflik
banyak isu yang tidak jelas kebenarannya, padahal kelompok
Salafi tidak pernah menajiskan orang lain. Usaha preventif
32
Diolah dari wawancara dengan Drs. H. Syaban , 29 September 2006

32 33
sering kali secara mendadak (spontan) antara 2) Bidah dalam ibadah:
pendukung sebuah paham dengan mereka yang ? adzan 2 kali dalam shalat Jumat;
menolaknya. ? khatib shalat Jumat memakai tongkat;
? tawasul dalam doa;
Menurut Akmanullah, Kabid Penamas dan ? membaca dzikir secara berjamaah;
Pekapontren Kanwil Departemen Agama Provinsi NTB ? majelis tahlil;
masalah khilafiyah di NTB tidak jauh berbeda dengan ? memperingati Maulid Nabi Muhammad saw;
pandangan dan sikap imam di Masjidil Haram yang terus ? Peringatan Isra Miraj;
menerus membicarakan khilafiah/bidah. Persoalannya adalah,
paham Wahabi di NTB yang dikembangkan oleh kelompok Pada dasarnya masyarakat belum siap dengan
Salafi menurut masyarakat awam tidak sesuai dengan kultur perbedaan. Karena wacana yang mendekonstruksi
setempat. Mereka tidak suka terhadap Wahabisme karena pemahaman lama maka akan ada pembelaan dan perlawanan.
budaya ini pasti akan membenturkan kelompok-kelompok Apalagi kalau ada pandangan bahwa ulama terdahulu
yang ada disebabkan masalah yang tidak mendasar. dianggap salah semua dalam mengajarkan agama kepada
masyarakat, maka struktur kebudayaan masyarakat setempat
Sebagai contoh terdapat beberapa kegiatan yang selama ini mengalami kontraksi yang akhirnya menimbulkan konflik.
diajarkan oleh alim ulama kepada masyarakat Lombok dan
dibidahkan33 oleh kelompok Salafi: 3) Bidah dalam masalah-masalah lain:
? pembacaan talqin pada waktu penguburan jenazah;
1) Bidah yang berkaitan dengan teknis ibadah ? menyirami kuburan dengan miyak dan kembang;
? membaca niat dengan dilafalkan dianggap bidah ? peringatan 1 hari, 3 hari, 7 hari, 9 hari dan 40 hari,;
sehingga, semua kegiatan ibadah bidah; ? pembacaan tahlil dan doa untuk yang orang meninggal;
? membaca basmallah dilafalkan dalam surat Al Fatihah ? membaca Al Quran mendoakan yang meninggal;
waktu sholat; ? ziarah Qubur.
? membaca syayidina Muhammmad pada waktu takhiyat;
? membaca salam dengan menyempurnakan hingga Topik yang menyentuh khilafiyah sering diangkat oleh
wabarakatuh; ustad-ustad yang baru menjadi juru dakwah. Masalah
? membaca wirid setelah shalat fardu; khilafiyah kalau disampaikan kepada yang sepaham atau
? membaca wirid menggunakan tasbih; kepada ustad-ustad dan basis masyarakat terdidik niscaya
? membaca doa qunut dalam shalat subuh; tidak akan menimbulkan masalah. Namun jika disampaikan
? shalat sunah setelah shalat witir; kepada masyarakat awam akan menimbulkan masalah.34
? shalat tarawih 23 atau 11 rakaat.

33
Kelompok Salafi/Wahabi setiap mengawali pengajian dengan menyitir sebuah hadis yang
berbunyi kullu bidatin dhalalah wa qulli dhalaalatin fin naar . Pemahaman sederhananya
adalah peribadatan yang dilakukan oleh kelompok non Salafi adalah bidah dan itu artinya
34
neraka. Diolah dari wawancara dengan Akmanullah, 29 September 2006

34 35
2. Tanggapan Tokoh Masyarakat menghasut anggota masyarakat yang lain, sehingga
terprovokasi yang berbau hasutan dan berbuat anarkis.
1) H. Mukhtar
Ketika pengajian oleh kelompok Salafi berlangsung, biasanya
Menurut H. Mukhtar (Guru Agama di SMAN 2 Warga para murid-murid Tuan Guru mengikuti ceramah pengajian
Desa Gelogor Kediri) masyarakat sebenarnya bersatu asal tersebut, kemudian menyampaikan ke Tuan Guru. Sebaliknya
tidak ada yang memprovokasi. Para tokoh agama tidak Tuan Guru sendiri terkadang kurang tabbayun, secara tidak
mampu mengendalikan para pendukungnya berlomba-lomba langsung memprovokasi para pendukungnya. Masyarakat
dalam pembangunan masjid yang baru dengan biaya yang awam menjadi bingung, karena sikap para Tuan Guru yang
besar. Seiring dengan pembangunan masjid baru juga muncul memiliki ambisi tega menghancurkan yang lain.
pemahaman baru. Perbedaan dalam memahami teks agama
Cara dakwah kelompok Salafi keliru karena
adalah realitas yang mestinya harus diterima oleh semua
mengenyampingkan masalah keamanan. Sebaliknya, metode
pihak, termasuk para tokoh agama. Tetapi ketika seorang
dakwah dengan santun dan menghargai budaya masyarakat
tokoh agama memandang tidak ada kebenaran lain, kecuali
merupakan langkah baik. Budaya yang tidak sesuai dengan
kebenaran yang mereka bawa, maka dia sudah seperti Tuhan
ajaran agama niscaya akan hilang dengan sendiri, jangan
sehingga merasa berhak menghakimi siapa saja yang tidak
malah dicemooh dan dicela. Kegiatan kelompok Salafi
disenangi.35 Inilah masalah yang sering terjadi di Lombok dan
memang nampak semakin solid. Inilah diantara faktor
Nusa Tenggara Barat pada umumnya.
penyebab timbulnya kecemburuan sosial, terutama terhadap
para Tuan Guru.
2) Tuan Guru Haji Badrun Kelompok Salafi tidak henti-hentinya mengkritisi
Tuan Guru Haji Badrun bersahabat dengan Ustadz aktivitas masyarakat awam. Kejadian Kebon Talo berawal di
Ahmad Khumadi (Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Al mana mantan Kadus yang ikut kegiatan pengajian Salafi. Para
Hamidy Desa Kebon Talo Kecamatan Lembar) sejak masih di ustadznya mengkritik masalah peringatan Maulid Nabi yang
pondok pesantren, dan setelah lulus sama-sama berdakwah. disamakan dengan persembahan sesaji ke Pura, dzikir besar
Namun sekarang dia, Ahmad Khumaidi, menyampaikan dan kecil, dan lain-lain. Keikutsertaan mantan Kadus (pada
dakwah terlalu keras, padahal masyarakat awam belum siap waktu masih menjabat) itu pada kegiatan Salafi menimbulkan
untuk menerima materi dakwahnya dengan cara demikian. protes masyarakat dan menuntutnya agar mundur dan
Selama ini masyarakat tidak pernah mendengar pengajian dipecat. Namun Kadus itu tidak menggubris tuntutan
dengan bahasa atau kata-kata aneh dari Tuan Guru. warganya. Akhirnya masyarakat melakukan demonstrasi
menuntut agar Kadus turun jabatan. Anggota BPD yang ikut
Masalah khilafiyah diangkat kembali dengan suara
Jamaah Salafi harus turun. Selain itu kegiatan pengajian Salafi
lantang dan keras. Akhirnya anggota masyarakat yang satu
sementara harus diberhentikan. Akhirnya Kadus yang baru
pun terpilih pada masa jabatan 2006-2011.

35
Diolah dari wawancara dengan H.Muhtar, 30 September 2006

36 37
Kesepakatan-kesepakatan masyarakat awam seringkali (MTs, SDIT dan RA) yang sudah berlangsung 3 tahun. Jumlah
tidak masuk akal, karena faktor rendahnya pendidikan murid sekitar 60 orang yang berasal dari beberapa daerah.
mereka. Tuan Guru H. Badrun mengusulkan kepada MUI dan Rata-rata mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Departemen Agama agar duduk bersama menyelesaikan Maka mereka pun dibebaskan dari membayar SPP, bahkan
masalah. mendapat baju, buku, pulpen dan lain-lain. Alasan perusakan
oleh massa itu adalah para pengurusnya tidak melakukan
3) Ismail Darwan
sosialisasi kepada masyarakat. Ditambah lagi mereka
Kejadian di Desa Jembatan Kembar menurut Ismail mengajarkan paham Salafi.
Darwan (Kadus Beroro, Desa Jembatan Kembar Kecamatan
Lembar) tidak seperti yang disiarkan TV swasta (SCTV) yang
hanya menurunkan potongan berita gambar pengrusakan 5) Ustadz Munawar
pondok pesantren itu. Kejadian yang sebenarnya adalah Menurut Ustadz Munawar, Ustadz yang tinggal di
pengajian bada sholat Jumat yang mendatangkan ustadz dari Dusun Kebon Talo Utara Desa Labuhan Tereng, secara yuridis
luar dilakukan oleh kelompok Salafi, dibubarkan oleh formal menuntut adanya fatwa tentang keberadaan salafi.
masyarakat. Sebelumnya antara kelompok Salafi dan non- Harapannya fatwa MUI bisa menjelaskan kepada masyarakat
Salafi sudah ada masalah-masalah kecil yang dapat bahwa keberadaan salafi menyimpang atau tidak, selama ini
menyebabkan masyarakat dusun terpecah. Agar tidak timbul selalu menunggu keputusan MUI yang belum kunjung turun.
masalah yang tidak diinginkan, maka masyarakat Perlu upaya mensosialisasikan secepatnya agar dapat
mengharapkan pengajian yang mendatangkan penceramah mengkondisikan situasi masyarakat untuk menghindarkan
dan jamaah dari luar daerah harus dihentikan/ditutup. kekecewaan mereka. Selama ini kelompok salafi mentaati
Namun harapan itu tidak terwujud, bahkan pengajian itu peraturan dan tidak melawan.
tetap berlanjut. Kemudian terjadilah demonstrasi masyarakat
menuntut dibubarkannya pengajian di Dusun Beroro itu. Prinsipnya kelompok salafi di Dusun Kebon Talo Utara
keberatan jika kegiatan pengajian mereka dilarang tanpa ada
4) Ismail batasan waktu yang jelas. Ancaman dari PAM Swakarsa Desa
Bangunan madrasah yang dirobohkan di Kecamatan Kelet dirasakan mengancam keselamatan mereka, maka
Sekotong Tengah menurut Ismail (Pengurus MTs, SDIT dan mereka meminta perlindungan kepada pihak polisi.
RA Ihyaussunah Kecamatan Sekotong Tengah) berdiri di
tengah lingkungan minus secara ekonomi. Pesantren ini
memiliki 3 lokal bangunan masing-masing berukuran 7 x 15.
Kerugian yang diderita diperkirakan mencapai Rp 250 juta.
Untuk memperbaiki pesantren yang rusak itu,
pengurus memperoleh dana bantuan rehab mutu dari ADB
sebesar 150 juta baru dipakai 50 juta untuk kegiatan madrasah

38 39
BAB IV ceramah tidak boleh memakai pengeras suara sehingga tidak
PENUTUP didengar oleh orang lain.
2. MUI harus mengambil peran sebagai penengah, bukan
memihak kepada kelompok tertentu. MUI memberikan
informasi dan penyuluhan dengan fatwanya bahwa ajaran yang
A. Kesimpulan dikembangkan kelompok Salafi tidak sesat.

etelah melakukan kajian, baik melalui studi di lapangan 3. Pejabat Departemen Agama hendaknya bertindak sebagai

S maupun studi literatur, maka dapat diambil beberapa


kesimpulan, sebagai berikut:
penengah/mediator kedua belah pihak yang berkonflik, tidak
memihak kepada salah satu kelompok. Tidak memihak pada
salah satunya dan menghimbau masyarakat untuk saling
1. Faktor penyebab konflik antara kelompok Salafi dan
menghormati.
Non-Salafi adalah karena adanya dakwah yang bersifat
eksklusif dan menyalahkan paham orang lain. Dan juga karena
kurangnya sikap menghargai perbedaan pendapat.
2. Konflik ini terus berlanjut karena Bupati tidak berani membuat
keputusan. Bila memenuhi tuntutan masyarakat dikuatirkan
dianggap melanggar HAM, sedangkan apabila memberikan
izin kepada kelompok Salafi dikuatirkan menimbulkan
perpecahan dalam masyarakat.
3. Solusi yang dibuat oleh Camat dan kepala KUA, terlalu
memihak pada kelompok tertentu, sehingga tidak dapat
memuaskan semua pihak.
4. Menurut beberapa tokoh masyarakat dan agama dari segi
ajaran menganggap ajaran yang dikembangkan Salafi tidak
sesat, tetapi merupakan masalah khilafiah.

B. Saran-saran
1. Sebaiknya Bupati segera membuat keputusan yang melindungi
dan memberikan kenyamanan kepada setiap kelompok
mengadakan aktifitasnya tanpa menimbulkan ekses-ekses
negatif dengan menentukan persyaratan yang harus dipenuhi:
seperti tidak boleh menyalahkan paham orang lain dan

40 41
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Azis, Varian-arian Fundamentalisme Islam di Indonesia, Diva


Pustaka, Jakarta, 2004
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES,
Jakarta
Khaled Abou El Fadl, Toleransi Islam: Cita dan Fakta, Arsy, Bandung,
2004.
PERGURUAN MAHESA KURUNG
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya,
Bandung 1999
DI JAWA BARAT
M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, Transmisi Revivalisme Oleh : Drs. Wakhid Sugiyarto, M.Si
Islam Timur Tengah ke Indonesia, Erlangga, Jakarta, 2005.
Mufid, Ahmad Syafii, Tangklukan, Abangan dan Tarekat: Kebangkitan
Agama di Jawa. Jakarta, Obor, 2006.
Robert Bog dan dan Steven Taylor, Introduction to Qualitative Research
Methode: A Phenomenological Approach to The Social Science, Alih
Bahasa Arief Furchan, Usaha Nasional, Surabaya, 1992.

42
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

A
gama Islam di Indonesia mengalami perkembangan
sangat signifikan (santrinisasi) dan fenomenal baik
dalam ideologis, ritual, intelektual, ekspresi maupun
gerakan sosialnya sejak awal abad 20 lalu ditandai berdirinya
Persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta oleh KH. Ahmad
Dahlan. Pendirian Persyarikatan Muhammadiyah itu didorong oleh
realitas umat Islam kala itu yang tenggelam dalam budaya sesat,
taqlid, bidah dan churafat (TBC) yang merusak tatanan asli Islam.
Gerakan ini mendapat raksi keras dari kelompok tradisional yang
dipelopori oleh KH. Hasyim Asyari dan KH. Wahab Chasbullah,
pendiri Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Ulama)1.
Kelahiran Muhammadiyah menimbulkan perdebatan sengit
dengan kaum tradisional hampir di seluruh pelosok tanah air,
kecuali di Sumatra Barat. Perbedaan terkadang diikuti dengan
perebutan masjid berkaitan dengan khilafiah dalam memahami dan
mentafsirkan nash al-Quran dan al-Hadits. Perdebatan itu
kemudian berbuntut saling menyesatkan dan mengejek. Dalam
beberapa kurun waktu keadaan tersebut tidak juga menyadarkan
dua kelompok itu untuk mencari titik temu dalam sebuah
kesepakatan. Sejalan dengan perkembangan waktu, Muhammadiyah
kemudian melakukan definisi ulang terhadap realitas dari identitas
kultural agar keberadaannya tidak dimusuhi. Pelan tapi pasti, usaha
Muhammadiyah tersebut berhasil memaksa kaum tradisionalis untuk
menerima kehadirannya sebagai organisasi sosial keagamaan di
Indonesia. Muhammadiyah menjadi arus utama (mainstream) yang

1 Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 1942, LP3ES, Jakarta, hal. 5-6.

45
kokoh dan sebagai pelopor di antara kelompok-kelompok satuan pemuda bela diri Putra Asad, SI memiliki pasukan beladiri
keagamaan dalam kategori penganut paham modernis seperti; Winongo. Setelah SI pecah menjadi SI Putih dan SI Merah. Winongo
Persis, SI, Al-Irsyad, LDII, dan DDII. Stigma awal terhadap kaum pecah dengan munculnya SH Teratai.3 Kalangan NU memiliki Pagar
modernis adalah kurang arif terhadap tradisi. Sementara kelompok Nusa (NU), Pagar Bumi (Bela diri Ponpes Darul al-
lainnya, kaum tradisional, mempertahankan mati-matian Mawa/Condromowo, Sidomulyo, Ngawi), Bunga Islam, Kembang
ketradisionalannya dengan mengagungkan tradisi berupa ritual Setaman, Mahesa Kurung dan sebagainya. Di samping itu banyak
yang tidak dikenal di kalangan modernis2. pula perguruan silat yang tidak menunjukkan afiliasinya terhadap
agama apapun dan dari kelompok organisasi social keagamaan
Nahdlatul Ulama sebagai kelompok terdepan tradisional
manapun, seperti; Satria Nusantara, LEMKARI, Injukkan,
mendapat dukungan luas secara ideologis maupun secara
Taekwondo, Merpati Putih, Garuda Hitam, Sekar Sore, Kembang
organisatoris dari Nahdlatul Wathan, Al-Washliyah, Mathlaul
Sore dan sebagainya.
Anwar, Persatuan Tarbiyah Al Islamiyah (PERTI) dan Persatuan
Secara hipotesis, munculnya berbagai perguruan silat atau
Umat Islam. Kemudian diikuti oleh kalangan santri pedesaan, atau
bela diri itu dapat dianalogikan dengan kemunculan berbagai
masyarakat kota yang mengikuti cara berfikir madzhab Syafiiyah.
gerakan keagamaan di tanah air. Apakah munculnya Perguruan
Persaingan dan pertentangan antara dua arus utama Silat Mahesa Kurung di Bogor yang akhir-akhir ini mencuat dalam
organisasi dan gerakan Islam tersebut ternyata tidak hanya terjadi opini dan pemberitaan juga termasuk dalam analogi di atas?
dalam lingkup politik, keagamaan, sosial, pendidikan dan
Setelah dilakukan kajian mendalam, di luar jurus-jurus fisik
sebagainya, tetapi memasuki dunia persilatan. Hampir seluruh
yang dimiliki oleh Perguruan Silat Mahesa Kurung, model yang
organisasi keagamaan yang ada di Indonesia memiliki satuan
dimiliki perguruan tersebut dapat dikategorikan ke dalam kelompok
keamanan atau kelaskaran (bela diri/sayap militer/barisan muda)
arus utama model bela diri tradisional.
untuk menjaga kelangsungan, baik dari kalangan modernis maupun
Perguruan Silat Mahesa Kurung menjadi fokus kajian ini
tradisional. Seni beladiri tersebut di samping sebagai wahana
karena; pertama, eksistensi Mahesa Kurung yang menjadi berita
pendisiplinan diri, olah raga, meningkatkan rasa percaya diri, ajang
sensasi di tingkat Nasional pada April dan Mei 2006; kedua, fatwa
silaturahmi, juga menjadi pengawal dari organisasi induknya.
MUI Kota Bogor tentang eksistensi perguruan Mahesa Kurung dan
Biasanya muncul dalam berbagai even seperti Munas, Muswil,
ketiga, hasil kajian awal oleh peneliti senior Puslitbang Kehidupan
Muktamar dan unjuk rasa yang dilakukan oleh organisasi induknya.
Keagamaan sebagai tindak lanjut terhadap kajian sebelumnya.
Peran mereka menjadi SATGAS keamanan kegiatan organisasi
Kajian sebelumnya mengungkapkan bahwa Mahesa Kurung sebagai
induk tersebut.
gerakan keagamaan sempalan yang menyimpang dari Islam dan
Muhammadiyah misalnya, memiliki satuan pemuda beladiri
harus diteliti secara mendalam. Indikasi demikian dianggap
yang disebut Tapak Suci Putra Muhammadiyah, LDII memiliki
beralasan, karena; pertama, unsur kebohongan publik yaitu

2 Ibid, hal. 7-8. Lihat pula bukunya Siradjuddin Abbass, Empa Puluh Masalah Agama.
Dalam buku ini terlihat begitu kerasnya perdebatan persoalan-persoalan agama yang dipersoalkan 3 Ahmad Sutarto, Winongo dalam Lintasan Sejarah Perjuangan Bangsa, tp, 1995, hal
oleh kalangan modernis. Penulis membaca dalam buku itu, tidak ada satupun argumentasi 10. SH Teratai pada mulanya adalah milik SI Merah yang lebih dekat dengan Islam abangan.
Siradjuddin Abas, yang bersandarkan al-Quran dan hadits sahih atau hasan, kecuali berlandaskan Sampai hari ini Teratai dominan di pedesaan Karesidenan Madiun, Kediri dan beberapa
hadits dhaib dan logika pengarang buku yang dikutifnya. kabupaten di Jawa Tengah)

46 47
menerima wangsit/ilham yang dibukukan dalam 8 buku pegangan bahan penyusunan rekomendasi untuk para pejabat di lingkungan
bagi anggota Mahesa Kurung yang disebut dengan Risalah al- Departemen Agama dalam menangani kasus-kasus keagamaan
Mukarromah; kedua, melakukan praktek perdukunan; ketiga, dalam rangka pembinaan kehidupan beragama dan pemeliharaan
mengajarkan mistisisme yang menjurus kepada perbuatan syirik; kerukunan masyarakat.
keempat, aliran tersebut sudah dilaporkan kepada polisi, tetapi tidak
mendapat tanggapan; dan kelima, mengajarkan aliran sesat D. Penjelasan Teori Gerakan
menyesatkan4. Berangkat dari hal tersebut, maka dilakukanlah Dalam latar belakang pemikiran atau masalah, secara sepintas
kajian lapangan untuk mendalami eksistensi Perguruan Silat Mahesa dipaparkan bahwa deprivasi adalah sebagai cikal bakal munculnya
Kurung di Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat. gerakan sosial baru. Imam Tholkhah dan Abdul Azis memperjelas
konsep deprivasi Glock dan Stark berkaitan dengan munculnya
B. Permasalahan Penelitian gerakan keagamaan. Menurutnya, asal usul gerakan keagamaan itu
Masalah dalam penelitian ini adalah tumbuh-kembangannya pada dasarnya merupakan aliran keagamaan dengan ajaran, tokoh
paham atau aliran keagamaan di dalam masyarakat. Masalah dan kelembagaan sendiri yang bersumber pada empat faktor laten.
tersebut kemudian dirumuskan dalam beberapa pertanyaan berikut; Pertama, pandangan tentang pemurnian agama yang tidak terbatas
kepada praktek keagamaan, melainkan juga pemurnian sumber
1. Apa yang melatarbelakangi berdirinya Perguruan Mahesa
agama yakni penolakan sumber selain al-Quran dan al-Hadits.
Kurung;
Kedua, dorongan untuk mendobrak kemapanan paham keagamaan
2. Siapa tokoh dan riwayat hidup pendiri Perguruan Mahesa
mainstream, khususnya berkaitan dengan kebebasan setiap muslim
Kurung;
menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dalam memahami ajaran
3. Ajaran apa saja yang dikembangkan oleh pimpinan Perguruan
Islam dan tidak terikat kepada struktur taqlid. Ketiga, pandangan
Mahesa Kurung;
tentang sistem kemasyarakatan yang diidealisasikan, seperti
4. Bagaimana respon pemuka agama dan masyarakat terhadap
kepemimpinan tunggal di bawah seorang Amir, atau sistem ummah
ajaran dan eksistensi Perguruan Mahesa Kurung;
wahidah (satu umat). Keempat, sikap terhadap pengaruh Barat dalam
5. Bagaimana kronologi munculnya fatwa sesat MUI Bogor
bentuk berbagai paham atau aliran seperti modernisme,
terhadap eksistensi Perguruan Mahesa Kurung.
sekularisme, kapitalisme, dan seterusnya. Dalam hal ini, Islam
ditempatkan sebagai alternatif yang mengungguli ideologi-ideologi
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian tersebut5. Dalam konteks ke-Islaman, konsep deprivasi ini sangat
Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah menggali informasi relevan, terutama pada kasus-kasus di Indonesia meskipun bukan
selengkap-lengkapnya seputar Perguruan Mahesa Kurung untuk satu-satunya yang menjadi motivasi bagi tumbuhkembangnya aliran
menjawab permasalahan penelitian. Hasil dari penelitian ini menjadi keagamaan baru. Deprivasi ditempatkan dalam konteks menyeluruh

4 Surat Nahar Nahrawi kepada Kapuslitbang Kehidupan Keagamaan dan memo


Kapuslitbang Kehidupan Keagamaan kepada Kabid I untuk membuat surat kepada Kepala Badan
Litbang dan Diklat Departemen Agama yang dilampiri surat Nahar Nahrawi. Kemudian pemilihan
topik dalam pembahasan Desain Operasional Penelitian tentang Kasus-Kasus Aliran Paham
Keagamaan Aktual di Indonesia, Perguruan Mahesa Kurung menjadi salah satu yang dipilih untuk 5 Abdul Azis, Varian-Varian Fundamentalisme Islam di Indonesia, Diva Pustaka,
diteliti secara mendalam. Jakarta, 2004, hal. 5

48 49
mengenai kelahiran suatu aliran keagamaan, lalu tumbuh menjadi bagi mereka yang gagal dalam menterjemahkan kemauan para
aliran keagamaan baru6. pendukung, maka secara pelan-pelan akan ditinggalkan.
Konteks menyeluruh mengenai kelahiran aliran keagamaan Dalam dunia persilatan, juga terjadi deprivasi itu dalam
itu meliputi perubahan sosial yang dialami tiap individu, yaitu bentuk fisik yang lain. Namun secara substansial pada hakekatnya
ketidakseimbangan antara realitas implementasi ajaran agama itu terdapat kesamaan. Pengalaman panjang pemimpin utama
sendiri dengan harapan yang dicita-citakan. Organisasi induk Perguruan Mahesa Kurung dalam rimba persilatan, mengilhaminya
dipandang tidak mampu mengakomodasi harapan mereka, maka untuk mendirikan lembaga persilatan baru yang berbeda dengan
muncul ketidakpuasan secara massal oleh pendukungnya. Ketika perguruan silat lain. Para eksponen Perguruan Silat Mahesa Kurung
muncul lembaga, pemimpin, program, fashion yang berbeda dan itu juga terlibat dalam pendefinisian realitas yang ada untuk
mampu memberi harapan, lembaga baru itupun segera mendapat mendapatkan pengakuan yang wajar dari publik. Dalam
pengakuan secara massal. Apalagi jika lembaga baru tersebut secara pengembaraannya dalam rimba persilatan sebelum mendirikan
realistis mampu melakukan transformasi secara baik kepada para Perguruan Mahesa Kurung, jurus-jurus yang mereka pelajari tidak
pendukungnya, maka proses pengakuan itu kian lebih cepat dan berkaitan dengan dasar-dasar dari ajaran-ajaran agama Islam,
berkembang menjadi organisasi yang mampu menyaingi lembaga semata-mata jurus-jurus fisik saja. Kemudian mereka merasakan
yang telah ada. hasilnya kurang maksimal karena para eksponen pendiri Perguruan
Silat Mahesa Kurung memanfaatkannya untuk kepentingan
Transformasi itu sendiri menjadi sebuah cara dalam
Islamisasi. Kemudian jurus-jurus yang bersifat fisik tersebut
perjuangan dalam pendefinisian realitas itu dikarenakan oleh
dilengkapi dengan Asmaul Husna untuk memaksimalkan hasil.
adanya perbedaan dengan lembaga-lembaga yang sudah mapan
Pendefinisian perguruan silat ini rupanya berhasil meyakinkan para
yang ada sebelumnya. Lahan yang dijadikan medan perjuangan
pendukungnya sehingga berkembang ke seluruh dunia.
itupun berperan dalam proses pergulatan tafsir keagamaan yang
dipandang lebih argumentatif. Dalam pergulatan pendefinisian Penggunaan Asmaul Husna, atau ayat-ayat Quran dalam
realitas itu, sosok pemimpin menjadi sangat penting demi mencapai dunia persilatan, baik untuk memperkuat jurus-jurus fisik maupun
keberhasilan yang diinginkan. Dengan didukung oleh keyakinan untuk pengobatan memicu reaksi dari kalangan lain yang tidak
umum yang diberikan oleh para pemimpin dalam mengikat anggota sepaham. Pertarungan antara dua kelompok ini tidak terelakkan,
dalam wujud gerakan, doktrin, mitos dan cara-cara pencapaian ketika dua kelompok ini dihadapkan secara frontal satu dengan
tujuan akan sangat menentukan bagaimana posisi lembaga baru itu lainnya dalam satu forum maupun media massa. Penafsiran
dalam sistem perubahan sosial. Bagi mereka yang mampu monopolis dari kalangan yang secara agama adalah tekstual,
dilawan oleh mereka yang kontekstual, karena mereka merasakan
meyakinkan, baik secara argumentatif dalam tauhid, muaamalah
terdapat hasil dari penafsiran kontekstual itu dalam berbagai sisi
dan sebagainya serta model dan cita-cita yang mampu memberikan
kehidupan, termasuk dunia persilatan. Perguruan Silat Mahesa
harapan terwujudnya cita-cita sosial maupun keagamaan akan
Kurung pun, berhasil menempatkan diri sebagai lembaga yang kuat,
mempertahankan lembaga itu dalam perjalanan sejarahnya. Namun
baik secara definitif maupun secara publik. Usaha-usaha dari
kelompok lain yang hendak melumpuhkan gerakan Perguruan Silat
Mahesa Kurung ini nampaknya akan menemui hambatan, karena
6 Ibid, hal. 6 - 7

50 51
Mahesa Kurung ini mendapatkan dukungan dari berbagai kelompok Agama Kota Bogor, MUI Kabupaten Bogor, Pemuka Agama di
keagamaan tradisional di Kota Bogor, Jawa Barat, bahkan di Bogor, pengikut perguruan Mahesa Kurung dan masyarakat
Indonesia. Pada umumnya mereka memiliki pengalaman emosi sekitar.
keagamaan, geneologis maupun ideologis yang sama.
D. Sistematika Penulisan
E Metodologi Penelitian
Laporan penelitian ini tersusun dalam sebuah sistematika
1. Bentuk Studi yang dibagi menjadi beberapa bab; pada bab pertama menjelaskan
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, permasalahan
eksploratif kualitatif terbatas 7 dalam bentuk studi kasus (khusus penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan teori gerakan,
Perguruan Mahesa Kurung). Dalam penelitian ini, sebagaimana metodologi penelitian dan sistematika penelitian.
paradigma penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen
Bab kedua menjelaskan temuan lapangan yang meliputi, latar
utama dalam penelitian dalam menjalin hubungan baik dengan
subyek yang diteliti. Dalam memahami data di lapangan, belakang berdirinya, tokoh dan riwayat hidup pendiri, kronologi
peneliti tidak memiliki pretensi apapun terhadap eksistensi munculnya fatwa sesat MUI Bogor, serta respon pemuka agama dan
Perguruan Mahesa Kurung. Oleh karena itu peneliti tidak masyarakat terhadap eksistensi Perguruan Silat Mahesa Kurung.
menilai apakah Perguruan Mahesa Kurung sesat atau tidak, Laporan ini ditutup dengan bab tiga yang menjelaskan
melainkan memahami subyek dari sudut pandang pelaku tentang kesimpulan dan saran yang diberikan oleh peneliti ini
(eksponen yang ada di Perguruan Mahesa Kurung maupun berkaitan dengan eksistensi Perguruan Silat Mahesa Kurung, Bogor.
kelompok yang memandang sesat). Begitu pula dalam
memaknai fenomena yang ada di dalamnya8.
2. Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui kajian pustaka,
wawancara dan pengamatan lapangan (triangulasi). Kajian
pustaka dilakukan sebelum dan sesudah penelitian lapangan.
Sebelum ke lapangan, kajian pustaka ditekankan pada usaha
untuk lebih mengenal kasus perguruan Mahesa Kurung yang
sensasional melalui internet, merumuskan masalah sebagaimana
telah ditentukan oleh desain operasional serta memilih fokus
dalam mengekplorasi eksistensi perguruan Mahesa Kurung.
Wawancara dilakukan dengan Kepala Kantor Departemen

7 Eksplorasi kualitatif terbatas, karena persyaratan sebagai penelitian dengan pendekatan


kualitatif belum sepenuhnya terpenuhi persyaratannya.
8 Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya, Bandung,
1999.

52 53
BAB II melestarikannya. Sebab jurus-jurus yang diajarkan secara turun-
PERGURUAN MAHESA KURUNG temurun dari zaman dahulu hingga kini tidak kalah dengan
berbagai jurus persilatan yang ada di tanah air sekarang. Seiring
dengan perubahan zaman, yaitu dengan munculnya gerakan
Islamisasi dan santrinisasi di seantero Nusantara, maka jurus-jurus
A. Sejarah Berdirinya fisik yang dahulu didukung oleh ilmu kedigdayaan versi Hindu
dirubah dengan versi Islam. Salah satu pelopornya adalah Abah MK.

P
erguruan Mahesa Kurung adalah sebuah organisasi Dasar-dasar jurus-jurus fisik bela diri yang diajarkan sebenarnya
beladiri yang berdiri tahun 1986 di Bandung. Pada tahun sederhana terhimpun dalam 12 jurus. Namun kembangan-
1995 pindah ke Bogor, beralamatkan di jalan Waya kembangannya cukup banyak dan bisa dikembangkan sendiri oleh
Kusuma Raya No. 74 Komplek Perumahan Yasmin (sebuah para pendekarnya.
komplek perumahan mewah) di Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor.
Penggunaan nama Mahesa Kurung adalah karena keinginan Saat ini perguruan Mahesa Kurung mengklaim memiliki
pendirinya untuk mempertahankan budaya silat Sunda yang sudah anggota sebanyak 23 juta orang tersebar di seluruh dunia. Dalam
ada sejak jaman dahulu. Mahesa dalam bahasa Jawa kuno adalah struktur organisasi, Mahesa Kurung memiliki 921 cabang dan 4.790
sebutan dari kerbau (sapi), merupakan sebutan dari satuan ranting perguruan. Sementara di Kabupaten dan Kota Bogor,
pengaman dari Kerajaan Tarumanegara. Sementara itu Kurung perguruan Mahesa Kurung memiliki sekitar 9.000 anggota. Seluruh
menurutnya merupakan istilah dari kemampuan dan kedigdayaan anggotanya beragama Islam. Memang pada awalnya banyak di
dari para pengawal kerajaan tersebut. Jadi Mahesa Kurung berarti antara mereka yang non-muslim, tetapi setelah melakukan
pengawal raja yang mempunyai kemampuan kedigdayaan dan konsultasi spiritual dengan Abah MK dengan menjalani ritual
supranatural tinggi9. penyembuhan berbagai penyakit serta manfaat jurus-jurus bela
dirinya, akhirnya mereka masuk Islam.
Abah MK, sebutan kebanggaan pemimpin tertinggi Mahesa
Kurung, menjelaskan bahwa sebenarnya seluruh raja Jawa adalah B. Tokoh Pendiri
keturunan dari raja-raja dari Taruma Negara. Dalam sejarah
Perguruan Mahesa Kurung didirikan oleh Al-Mukarram
disebutkan, bahwa Tarumanegara adalah raja tertua di Jawa
As-Sayyid Al- Habib Faridh Al-Attros Al Kindhy yang dikenal
sebelum Kerajaan Kalingga. Dari Taruma Negara pindah ke
dengan sebutan Abah MK. Abah MK lahir di Jakarta pada tahun
Mataram Hindu Kuno, kemudian ke Jawa Timur (Kahuripan,
1961 berdarah campuran Sunda, Kalimantan dan Timur Tengah
Jenggala, Kediri, Singasari, Majapahit), Demak dan Cirebon, Pajang,
(Hadhramaut). Abah MK menamatkan SD, SMP, SMU dan S1-nya di
Banten, Giri Kedaton, Kasunanan Surakarta, dan terakhir
Jakarta. Semasa sekolah, Abah MK pernah mengikuti berbagai
Mangkunegaran dan Mataram Islam. Perguruan Mahesa Kurung
perguruan silat di Jakarta, dan Bandung. Kemudian mendirikan
yang mengajarkan seni beladiri sebagai hasil peninggalan pengawal
Perguruan Silat Mahesa Kurung di Kota Kembang Bandung.
raja-raja Taruma Negara merasa memiliki tanggungjawab untuk
Abah MK yang saat ini memiliki satu isteri dan tiga anak, kemudian
memindahkan pusat Perguruan Mahesa Kurung ke Bogor pada
9 Wawancara dengan Abah Mahesa Kurung, Oktober 2006

54 55
tahun 1995. Di sela-sela kesibukannya sebagai guru besar perguruan seorang anak kecil. Rumah Abah MK ini juga memiliki gapura yang
Mahesa Kurung, Abah MK sempat menyelesaikan S2 dan S3 di dijaga oleh Satpam yang dibayar tiap bulan oleh Abah MK. Seluruh
Baghdad Irak. Tidak jelas tahun berapa studinya tersebut dinding luar rumahnya dicat warna biru cerah. Cat yang digunakan
diselesaikan10. tergolong berkwalitas tinggi dan mahal harganya. Di setiap puncak
rumahnya terdapat hiasan simbol para raja (topi raja). Rumah
Sebagai orang yang dihormati oleh jutaan anggotanya,
pribadi Abah MK tergolong rumah paling mewah di antara rumah
Abah MK selain sebagai guru besar Mahesa Kurung juga seorang
di komplek Yasmin itu.
pebisnis ulung. Beliau menjadi komisaris dari 5 perusahaan besar di
Kabupaten dan Kota Bogor yang bergerak di bidang ekspor-impor, Sejak kecil saat menyelesaikan sekolah formal, Abah MK
kontraktor, advertising, garmen dan distributor/suplier. Di samping sudah serius mempelajari ilmu kasyaf (batin) dan mengikuti berbagai
itu juga memimpin tiga buah yayasan yang bergerak di bidang jenis seni bela diri di Jakarta. Para anggota keluarganya merupakan
sosial, seperti penyembuhan narkoba, santunan anak yatim dan pendukung awal dari perguruan Mahesa Kurung ini. Kemudian
sebagainya11. Dari ketiga yayasan itu, perguruan Mahesa Kurung murid-murid berduyun-duyun datang dari luar anggota keluarga.
dapat mengumpulkan dana yang besar dan menjadi modal Perguruan Mahesa Kurung akhirnya berkembang dan didatangi
mengelola yayasan, menggerakkan organisasi bela dirinya, dan beribu-ribu orang dari segala penjuru untuk belajar bela diri itu.
memenuhi kehidupan mewahnya.
Pada mulanya, perguruan itu tidak memiliki nama karena
Abah MK memiliki lima buah rumah di kompleks Yasmin merupakan kombinasi dari berbagai jurus silat dari berbagai jenis
itu. Satu buah untuk rumah pribadinya, tiga buah untuk yayasan, kelompok bela diri yang pernah diikutinya. Meskipun demikian,
dan 1 buah untuk kantor pusat perguruan Mahesa Kurung. Rumah Abah MK, tidak puas dengan kondisi ini. Mulailah Abah MK
khusus pribadinya terdiri dari tiga lantai dan terdapat tidak kurang melakukan perjalanan spiritual, melakukan kontemplasi dan sering
dari delapan kamar mewah. Dalam rumah terdapat berbagai shalat malam memohon petunjuk dari Allah. Pada suatu malam,
aksesoris mewah, mulai patung macan dan kang sepanjang 1,5 Abah MK mendapat wangsit agar memelihara jurus-jurus silat
meter dan tinggi 60 cm yang terbuat dari porselin. Segala jenis peninggalan para pengawal raja kerajaan Taruma Negara yang
piagam yang tergantung di hampir seluruh dinding dalam rumah banyak menggunakan doaa-doa Hindu. Dalam wangsit itu juga
tersebut, juga mebel mewah hingga relief dinding, patung liberty, dijelaskan, bahwa jurus-jurus itu akan menjadi lebih hebat jika
perpustakaan, berbagai jenis tasbih, gambar-gambar para tokoh sufi, disucikan dengan ayat-ayat al-Quran, wirid, dzikir sirri dan
foto-foto keluarga, foto-foto bersama para jenderal dan tokoh Asmaul Husna12. Penerimaan wangsit melalui mimpi itu terjadi
keagamaan Indonesia tertentu serta foto-foto pertunjukkan bela diri setelah beberapa kali dia melakukan shalat malam. Nampaknya hal
dari anggota perguruan Mahesa Kurung semua terpajang lengkap. inilah yang menjadi salah satu awal tuduhan dari MUI Kabupaten
Di garasi mobil terdapat tiga mobilnya yaitu, BMW, Mercy dan Bogor dan sebagai kajian pendahuluan dari Nahar Nahrawi, peneliti
Kang Innova. Halaman rumahnya cukup luas, sekitar 200 meter, senior Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama13.
yang dipenuhi taman, lengkap dengan kolam ikan dan patung
12 Ibidhal, 8 dan wawancara dengan Abah MK, Oktober 2006
13 Lihat surat Muh. Nahar Nahrawi kepada Kapuslitbang Kehidupan Keagamaan Badan
10 Ibid, hal. 13-14 Litbsang Departemen Agama dalam Kasus Mahesa Kurung di Bogor: Sebuah Kajian Awal, Mei
11 Ibid, hal. 15 2006 dan lampirannya.

56 57
Dalam wangsit itu juga diperlihatkan dengan jelas makna tersembunyi yang terkandung di dalamnya. Hal ini
bagaimana jurus-jurus yang dimiliki oleh para pengawal raja mengingat turunnya ayat tidak semata-mata hanya untuk
Taruma Negara tersebut. Abah MK sudah terbiasa dengan berbagai menanggapi masalah secara fisik manusia. Al-Quran memiliki
jurus persilatan dari berbagai jenis perguruan silat, sehingga dengan makna seluas langit dan bumi, sebagaimana dijelaskan oleh Allah
mudah ia mengingat jurus-jurus yang berasal dari wangsit itu. sendiri bahwa ilmu Allah itu luas. Ilmu-Nya tidak akan pernah habis
Seluruh jurus ada bacaan-bacaan khusus dari ayat-ayat suci al- bila ditulis dengan menghabiskan tinta seluas lautan dan pohon-
Quran atau Asmaul Husna. Tidak semua jurus menggunakan pohon menjadi penanya. Oleh karena itu, al-Quran harus menjadi
Asmaul Husna yang sama. petunjuk awal dalam menyelesaikan semua urusan kehidupan, baik
itu urusan fisik maupun metafisik. Al-Quran dapat digunakan
Menurutnya, setiap Asmaul Husna memiliki kekuatan
untuk mengusir syetan (jin dan manusia) jahat, bahkan untuk
yang berbeda-beda. Baginya yang paling penting adalah jurus itu
memanggil syetanpun juga bisa jika itu yang dikehendaki oleh
sesuai dengan bacaan Asmaul Husna dengan menyesuaikannya
Allah16.
kapan harus digunakan. Dalam dunia persilatan, pertarungan dunia
persilatan harus memiliki etika. Tidak semua peristiwa ditanggapi Abah MK mulai populer setelah mendapat saran dari
dengan jurus yang sama. Apalagi jika ingin menggunakan jurus Dewan Guru Senior, Dewan Guru Yunior dan anggota perguruan
pamungkas bila ingin segera menyelesaikan pertarungan dengan pada tahun 1997 dengan membuat tulisan di berbagai media cetak di
cepat14. sela-sela kesibukannya sebagai guru besar (tidak dijelaskan media
cetak apa dan kapan). Dewan Guru Senior yang dipimpn Ir. Lisman
Penggunaan Asmaul Husna yang dijadikan bacaan
Sumardjani, MBA menjelaskan bahwa ajaran Abah MK dalam
seperti mantra oleh Perguruan Silat Mahesa Kurung inilah yang
bentuk selebaran atau bulletin terkumpul dan dibukukan
dituding menyimpang dan menyelewengkan ajaran Islam. Mereka
menjadilah Risalah al-Mukarromah I. Rencananya, buku itu akan
yang tidak setuju dengan hal ini, menuduh sebagai perbuatan
diterbitkan setelah diedit dan direvisi. Namun, rencana tersebut
khurafat karena menjadikan ayat-ayat al-Quran untuk
belum terealisasi karena risalah itu sudah berada di tangan MUI
mendapatkan kekuatan jurus silat atau pengobatan15.
Kabupaten Bogor dan telah dipublikasikan secara luas. Publikasi itu
Namun menurut Abah MK, al-Quran tidak hanya menggemparkan dan meresahkan masyarakat17.
dipelajari isinya secara tekstual, namun lebih dari itu al-Quran
memiliki multi fungsi, misalnya; berfungsi penenang hati bagi yang C. Doktrin Keagamaan
sering membacanya, menjadi obat serta menjadi pedoman hidup.
Mahesa Kurung merupakan organisasi beladiri atau sebuah
Dengan al-Quran, seseorang dapat mengetahui rahasia kekuasaan
perguruan silat yang mengajarkan jurus-jurus silat secara fisik dan
Ilahi dengan izin-Nya. Dengan demikian al-Quran tidak dipandang
sempit, hanya dipelajari secara tekstual dan dilaksanakan pula
dhohirnya saja, namun harus dipelajari secara menyeluruh meliputi 16 Wawancara
17
dengan Abah MK, Oktober 2006
Diolah dari wawancara dengan Endang dan Lisman Sumardjani, Oktober 2006, dan
lihat pula bulletin yang diterbitkan sejak 2001 yang berisi banyak persoalan-persoalan dalam
agama Islam, terutama mengenai hal-hal keajaiban-keajaiban ayat-ayat al-Quran dan hijab
14 Wawancara dengan Abah MK., Oktober 2006 hikmahnya bagi manusia. Yang diterbitkan oleh Center for Islamic Spiritualism Studies (CISS),
15 Lihat hasil Tim Investigasi MUI Kabupaten Bogor, Hasil Telaah terhadap Risalah al- Bogor. Bulletin ini kemudian dikumpulkan oleh Endang diurutkan dan dirapikan yang disebutlah
Mukarrammah I Risalah al-Mukarrammah yang menggemparkan dunia sosial keagamaan itu.

58 59
dijadikan sebagai sarana syiar dakwah Islam. Hal ini tentu saja hubungan dekat dengan KH Hasyim Muzadi, Ketua PBNU. Mereka
menjadikan Mahesa Kurung memiliki pemahaman keagamaan tidak cocok dengan pemahaman Islam modernis, apalagi
tertentu. Dasar keyakinan mereka adalah bahwa gerakan atau jurus- pemahaman kalangan liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla dan
jurus silat itu tidak akan pernah berarti banyak jika tidak dijiwai Komunitas Utan Kayu. Pendidikan yang diterapkan kepada anak-
dengan Asmaul Husna. Perguruan Mahesa Kurung ini menurut anak mereka adalah pendidikan keagamaan tradisional NU.
pengakuan para eksponen pimpinannya telah meng-Islamkan
beribu-ribu orang yang sebelumnya menjadi non-muslim. Oleh D. Pro dan Kontra Mahesa Kurung
karena itu, jika seseorang sudah menjadi anggota Perguruan Mahesa
1. Mahesa Kurung yang Sensasional
Kurung, maka dia bersumpah setia atas nama Allah, setia pada
semua ajaran Perguruan Mahesa Kurung yang tidak bertentangan Perguruan silat Mahesa Kurung adalah sebuah
dengan ajaran agama Islam18. organisasi beladiri yang berada di kompleks perumahan mewah
Yasmin Bogor yang mengajarkan jurus-jurus silat seperti pada
Dari proses wawancara yang cukup panjang dengan beberapa
umumnya perguruan silat. Mahesa Kurung mengamalkan
eksponen Perguruan Mahesa Kurung, terungkap bahwa
Asmaul Husna pada setiap jurusnya. Berita tentang kesesatan
pemahaman keagamaan yang dianutnya adalah pemahaman
Perguruan Mahesa Kurung muncul sejak lama melalui situs
keagamaan mainstream tradisional. Pada saat shalat subuh selalu
internet yang cenderung menguraikan keburukan Mahesa
diikuti dengan doa qunut, kemudian berdoa dengan menggunakan
Kurung sebagai aliran sesat yang diungkapkan dengan bahasa
wasilah, menyukai pengiriman hadiah tahlil kepada orang yang
yang penuh emosional. Kalau dicermati secara obyektif lebih
sudah mati, sangat menyukai amalan-amalan bacaan Asmaul
cenderung mengandung unsur kepentingan jangka pendek
Husna di setiap kesempatan, menyukai marhabanan dan
penulisnya. Berita yang tersebut disertai dengan berita gambar
manakiban, menyukai hizb dan dalail. Shalat terawih dilakukan
berbagai aktifitas dan atraksi para anggota Mahesa Kurung dan
sebanyak 23 rakaat, adzan Jumat dikumandangkan sebanyak dua
foto-foto bintang film dimana oleh pihak Mahesa Kurung
kali dan sebagainya. Mereka menziarahi makam para wali dan para
dipandang sebagai hal yang naif.
tokoh agama, mencium tangan orang yang dianggap lebih dihormati
dan sebagainya. Semua jenis dan tatacara beramal dalam berbagai Mahesa Kurung mencuat setelah surat kabar Radar
hal tersebut jelas merupakan ciri dari pemahaman keagamaan Bogor menurunkan beritanya pada tanggal 3 Maret 2006
tradisional sebagaimana lazimnya orang-orang yang berada dalam tentang kesesatan Mahesa Kurung. Gatra pada tanggal 7 Juli
komunitas Nahdhatul Ulama (NU). 2003 juga menginformasikan seluk beluk Mahesa Kurung,
namun tidak mengulas kesesatannya. Pada tanggal 6 Mei 2006,
Kedekatannya dengan pemahaman dan pengamalan agama
Gatra menurunkan berita tentang Mahesa Kurung. Habib
sebagaimana NU ini dinyatakan sendiri oleh Abah MK dan
Abdurrahman Assegaf merespon dengan segera berita yang
eksponen Perguruan Mahesa Kurung. Menurutnya mereka sangat
dipublikasikan oleh Radar Bogor itu. Dia adalah salah seorang
dekat dengan Kyai-Kyai NU di Bogor Jawa Barat. Mereka memiliki
Habib yang ikut memimpin penghancuran pusat pendidikan
Ahmadiyah di Parung Bogor. Assegaf menemui Abah MK dan
18 Diolah dari wawanvara dengan Abah MK Oktober 2006 dan lihat pula lembar Sumpah
mendiskusikan masalah-masalah keagamaan yang ada dalam
Perguruan.

60 61
Risalah al-Mukarromah itu yang kemudian diangkat oleh harian Perguruan Silat Mahesa Kurung, karena hampir seluruh
Radar Bogor itu. Dari diskusi itu, kemudian Assegaf penerbit yang ada di Indonesia pernah mengalami kesalahan
melaporkannya kepada MUI Kabupaten Bogor dengan cetak. Seperti contohnya Departemen Agama yang
membawa kopian Kitab Ar-Risalah al-Mukarromah. MUI pun mengeluarkan SK bersama, Menteri Agama dan Menteri
segara membentuk tim investigasi dengan berbekal laporan Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1994, pernah
Assegaf tersebut. melakukan kesalahan transliterasi bahkan hingga naik cetak.
Namun, dari kesalahan transliterasi tersebut tidak membuat
2. Investigasi MUI Kabupaten Bogor dan Tanggapan Perguruan Mahesa
Departemen Agama atau Diknas menjadi sesat.
Kurung
Kedua, nama-nama Nabi dan Rasul yang wajib diketahui. Bagi
a. Hasil Investigasi MUI Kabupaten Bogor
MUI, jumlah Nabi dan Rasul yang wajib diketahui adalah 25
MUI Kabupaten Bogor dengan tim investigasi yang orang dan jelas urutannya. Dalam Kitab ar-Risalah al-
dibentuknya menelaah buku Ar-Risalah al-Mukarromah yang Mukarromah, nama Nabi dan Rasul yang lazim diketahui umat
terbagi menjadi 8 judul itu. Abah MK pada awalnya tidak tahu Islam hilang tiga nama (Hud, Luth dan Ilyasa), tetapi muncul
menahu hal tersebut. Menurut penuturan sekretaris pribadinya nama baru (Sist, Khidir dan Dzulqarnain). MUI mempersoalkan
yang bernama Endang, Risalah al-Mukarromah adalah referensi tiga nama Nabi tersebut. Kesalahan penyebutan Nabi
kumpulan bulletin sejak tahun 2001 yang kemudian dibukukan maupun ruang lingkup historisnya itu diakui oleh Mahesa
menjadi sebuah buku dengan judul Ar-Risalah al-Mukarromah I Kurung memang mengandung kekeliruan. Oleh karena itu,
setebal 717 halaman19. pihaknya siap memperbaiki sesuai dengan yang sudah menjadi
Dari delapan judul itu terdapat delapan persoalan pengetahuan umum umat Islam. Kesalahan pengetahuan sejarah
yang dikonfrontir dengan Abah MK. Pertama, masalah seperti ini, sebenarnya bukan masalah besar yang harus
transliterasi Arab ke Indonesia menurut MUI dianggap tidak dihukum sesat, karena berkaitan dengan ilmu pengetahuan,
sesuai dengan ketentuan penulisan. Bagi MUI, kesalahan bukan suatu amalan dari ajaran Islam. Bahkan, banyak Kyai atau
transliterasi Arab ke Indonesia akan menimbulkan kesalahan Ulama saat ini masih mempercayai keberadaan Nabi Khidir
arti dan ini tidak dapat dimaafkan, karena menyesatkan para masih hidup hingga kini;
pembacanya. Sementara itu pihak perguruan Mahesa Kurung Ketiga, Tentang para Nabi dan Rasul, isteri dan usia. Dalam
telah mengakui kekhilafan itu, karena memang tidak memiliki buku itu dijelaskan, misalnya Nabi Nuh isterinya berjumlah 41
acuan sebagaimana yang dimiliki oleh penerbit buku-buku orang dan usianya 600 tahun, Nabi Muhammad isterinya 41
Islam. Pihak Mahesa Kurung pun siap untuk merevisi orang dan usianya 70 tahun. MUI pun mempertanyakan
kesalahan-kesalahan transliterasi itu20. Kesalahan transliterasi masalah ini. Pihak Mahesa Kurung menyatakan siap
tersebut menurut mereka bukan merupakan kesalahan memperbaiki dan mengembalikannya sesuai dengan
pengetahuan umat Islam,
19 Wawancara dengan Endang, Sekretaris Pribadi Abah MK, Oktober 2006.
20 Wawancara dengan Abah MK dan Endang, Oktober 2006 dan lihat pula pengakuan
Keempat, dalam Ar-Risalah al-Mukarromah halaman 100
Abah MK dihadapan para Ulama yang tergabung dalam PC NU Kota Bogor dan surat PCNU Kota disebutkan Abu Jahal masih hidup saat penaklukan Kota
Bogor kepada MUI Kabupaten Bogor.

62 63
Mekah, sementara menurut MUI Abu Jahal telah tewas dalam menyembah patung, pohon besar, atau memotong kambing di
perang Badar; tempat-tempat keramat dan sebagainya;
Kelima, dalam ar-Risalah al-Mukarromah disebutkan bahwa Kedelapan, mengenai referensi Ghoibul Haqq yang akan muncul
seluruh huruf hijaiyah dan surat-surat al-Quran memiliki setelah 7.777 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Khadamul Ghoiby (penjaga huruf) (halaman 120-122). MUI MUI mempersoalkan hal tersebut tidak jelas ujung pangkalnya.
meminta bukti kepada Abah MK dan referensinya. Keyakinan Pendapat seperti ini secara ilmiah tidak dapat
yang berbau khurafat banyak ditemui di masyarakat, apalagi di dipertanggungjawabkan dengan pembuktian. Keyakinan yang
kalangan Nahdiyin yang sering kali tidak dapat dibuktikan berbau gugon tuhon (tahayul) ini menghinggapi masyarakat
dengan menyebutkan referensinya. Buku-buku mujarabat yang muslim, terutama kalangan masyarakat arus bawah.
banyak berisikan tentang khasiat ayat-ayat al-Quran tidak
Setelah mengkaji delapan masalah yang dianggap
pernah mendapat fatwa sesat, namun beredar luas di kalangan
sebagai masalah besar, maka MUI Kabupaten Bogor menilai
umat Islam;
merupakan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan. Menurut
Keenam, dalam Ar-Risalah al-Mukarromah disebutkan Hanya MUI, berdasarkan hasil investigasi terhadap delapan masalah
dengan bambu kuning dan Kitab falaqiyah, anda dijamin itu menetapkan bahwa perguruan Mahesa Kurung Al-
menjadi seorang peramal ulung yang ampuh dalam bertuah dan Mukarromah adalah sesat dan menyesatkan. Setelah fatwa itu,
tidak pernah meleset, serta tidak ada sesuatu pun yang dapat MUI menghimbau Abah MK dan Lisman Sumardjani, beberapa
bersembunyi dari anda (halaman 282-622). Hal ini dipandang hal, yaitu: pertama, agar menyadari bahwa bagaimanapun
MUI sebagai praktek perdukunan, padahal perdukunan itu tuntunan yang ada dalam buku itu tidak dapat diterima oleh
haram dalam Islam. Mengajarkan ilmu utuk menjadi peramal umat Islam; kedua, segera bertaubat dan menarik semua buku
yang dapat mengetahui segala yang gaib sehingga menganggap dan bulletin itu dari pasaran karena sesat dan menyesatkan;
tidak ada yang tersembunyi karena dengan bantuan jin ketiga, agar seluruh anggota di manapun berada untuk
meninggalkan syirik; keempat, segera menghentikan setiap
Ketujuh, pada halaman 326 dabarkan bahwa syirik adalah
pemikiran, gagasan, tulisan dan tindakan yang menjurus
masalah hati dan perasaan, hanya Allah Yang Maha Tahu. Oleh
kepada syirik, khurafat, kufur dan murtad.
karena itu jangan mudah memvonis seseorang berbuat syirik,
karena kalau salah dapat dikategorikan ke dalam perbuatan b. Tanggapan Perguruan Mahesa Kurung
fitnah. MUI memandang bahwa syirik bukan sekedar urusan
Hasil investigasi itu kemudian dijadikan dasar oleh
hati akan tetapi mencakup hati, perkataan dan perbuatan.
MUI untuk mengeluarkan fatwa sesat perguruan Mahesa
Menuduh orang atau kelompok sebagai musyrik tentu saja
Kurung Al-Mukarromah, melalui surat dengan nomor
kurang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini mengingat
02/X/KHF/MUI-KABUPATEN/III/06 tertanggal 13 Maret 2006.
bahwa memang yang tahu hati manusia itu syirik atau tidak
Fatwa itu menggegerkan masyarakat Kota Bogor. Pada bulan
hanya Allah. Sedangkan manusia hanya menangkap gejala,
Maret hingga April 2006, media elektronik Jakarta pun
kecuali secara telanjang dapat dilihat melakukan perbuatan
meliputnya. Pihak perguruan kaget dengan hal ini, karena
syirik. Syirik yang nampak, seperti; seseorang sedang

64 65
merasa bukan sebagai organisasi keagamaan, apalagi keluar membahas masalah yang dipersoalkan itu dengan Pemerintah
fatwa sesat. Endang, Sekretaris Pribadi Abah MK menuturkan: Daerah Kabupaten Bogor, Kepala Kantor Departemen Agama
Fatwa MUI itu mengada-ngada dan menggelikan. Pertama, Kota dan Kabupaten Bogor sebagai fasilitatornya. Pertemuan
bagaimana mungkin MUI Kabupaten Bogor dapat mengeluarkan fatwa dilakukan pada tanggal 2 April 2006 di kantor Polwil Bogor.
sesat, sementara mereka belum melakukan klarifikasi kepada kami; Pertemuan ini adalah pertemuan lanjutan dari pertemuan
Kedua, fatwa itu sendiri salah alamat, karena kami bukan organisasi tanggal 22 Maret 2006 di Masjid Raya Bogor yang tidak
dan aliran keagamaan baru; Ketiga, perguruan tidak mengajarkan menghasilkan rumusan apapun. Hal ini terjadi karena pihak
detailnya masalah agama, melainkan hanya mengajarkan jurus-jurus MUI mengerahkan umat Islam dalam pertemuan itu dan fatwa
dari perguruan bela diri Mahesa Kurung. Kalau mau belajar bela diri sesat sudah datuhkan tanggal 13 Maret 2006. Dalam pertemuan
silahkan datang, tetapi kalau belajar agama saya tunjukkan di mana di Kantor Polwil Bogor juga tidak menghasilkan rumusan
harus belajar agama (pesantren atau ustadz yang mereka kenal). Dalam apapun, karena MUI Kota Bogor mengerahkan umat Islam
jurus-jurus bela diri itu kemudian diperkuat dengan lafal-lafal Asmaul mengepung Polwil Bogor. Bapak Saeroji, sebagai fasilitator
Husna dan ayat-ayat lain yang sesuai dengan tujuannya. Tidak ada merasa heran melihat situasi ramai di luar ruang pertemuan.
yang aneh, karena banyak perguruan bela diri yang mempraktekkan Berikut penuturannya:
cara dan metode ini. Keempat, Perguruan Mahesa Kurung berusaha
Saya dan Kantor Departemen Agama Kabupaten Bogor
membersihkan diri dari syirik karena syirik itu merupakan dosa yang
memfasilitasi pertemuan itu agar kedua belah pihak dapat melakukan
tidak terampuni. Boleh percaya boleh tidak, penggunaan al-Quran
klarifikasi (tabayyun) sebagaimana diajarkan oleh Islam. Tetapi pihak
sebagai dasar dan penguat dari semua jurus silat yang ada akan jelas
MUI ternyata sudah menjatuhkan fatwa sesat dan menyesatkan
lebih Islami dibandingkan misalnya dengan Debus dari Banten. Jadi
terhadap Perguruan Mahesa Kurung pada tanggal 13 Maret 2006 dan
kami ini bukan aliran keagamaan, tetapi merupakan aliran bela diri,
saya menerima tembusannya pada tanggal 22 Maret 2006 pada saat
meskipun dengan sebutan aliran juga kurang tepat. Hal tersebut
mau berangkat ke Masjid Raya Bogor. Dalam perjalanan, saya sudah
karena jurus dan dasar al-Quran yang digunakan sangat lazim
merasa ada yang tidak beres. Ternyata benar, di Masjid Raya telah
dilakukan oleh berbagai perguruan silat di berbagai tempat di
berkumpul ratusan orang, sehingga pertemuan gagal dilakukan karena
Indonesia, lebih-lebih di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi kami fatwa
pihak perguruan melihat gelagat tidak sehat dari orang-orang yang
tersebut tidak masuk akal. Menurut kami, MUI melakukan
dikerahkan oleh MUI Kabupaten Bogor itu. Hal ini terulang lagi ketika
kedhaliman, menebar fitnah dan kebencian. Mereka tidak sadar sedang
akan dilakukan pertemuan di Polwil Bogor. Di Kantor Polwil itu sudah
diadu domba oleh orang-orang tertentu, yang tidak senang umat Islam
berkumpul ratusan orang. Akhirnya pertemuan berubah menjadi
itu kuat. Mereka tidak merasa bahwa mereka sedang melakukan praktek
penghakiman terhadap Perguruan Mahesa Kurung, dan saya
saling menjegal sesama pengawal Islam. Kalau dalam buku itu ada
kebingungan, bagaimana bisa begini. Perguruan Mahesa Kurung tidak
yang salah, kenapa tidak melakukan klarifikasi terlebih dahulu21.
melakukan reaksi apapun dan meninggalkan ruangan bersama Kombes
Upaya klarifikasi sebenarnya telah dilakukan, dengan Pol Drs. Sukrawardi Dahlan ke ruang Kombes. Pertemuan itu pun
harapan MUI dan Abah MK dan jajarannya duduk bersama gagal dan masa dibubarkan22.

22 Wawancara dengan Saeroji, Kepala Kantor Departemen Agama Kota Bogor, Oktober
21 Wawancara dengan Endang, Sekretaris pribadi Abah MK. 2006

66 67
3. Tanggapan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat hendaknya dikonsultasikan dengan MUI Pusat terlebih dahulu;
keempat, dalam menetapkan fatwa disertai dengan dalil yang shahih.
Sebelum keluar fatwa sesat dan menyesatkan dari MUI
Kabupaten Bogor itu, MUI Pusat belum menerima informasi detail Gejala munculnya fatwa sesat sendiri sebenarnya sudah
mengenai profil Perguruan Mahesa Kurung. Informasi yang sampai dirasakan cukup lama oleh pimpinan perguruan, karena sebelum itu
kepada MUI adalah pengaduan masyarakat muslim Kota Bogor beredar selebaran gelap yang mendeskreditkan perguruan Mahesa
perihal Perguruan Mahesa Kurung. Kurung Al-Mukarromah. Pimpinan Mahesa Kurung pun
menugaskan anak buahnya untuk menelusuri asal-usul selebaran
Pihak MUI Pusat mendapatkan salinan fatwa MUI
gelap itu. Hasil penelusuran tim dari perguruan itu menyimpulkan
Kabupaten Bogor, hasil telaah Ar-Risalah al-Mukarromah I dan hasil
bahwa yang membuat dan menyebarkannya adalah mantan anggota
investigasi MUI Kabupaten Bogor. Menurut penelusuran penulis,
perguruan sendiri, berinisial Har dan isterinya, padahal dia adalah
tidak terdapat informasi perihal pernah diadakannya pertemuan
orang kawakan di perguruan serta sangat dihormati oleh anggota
antara MUI Kabupaten Bogor dengan pihak Abah MK. Sementara
perguruan, bahkan oleh orang-orang dekat Abah MK. Har sendiri
itu MUI Pusat melakukan telaah terhadap Ar-Risalah al-
adalah mantan orang dekat Abah MK. Har melakukan perbuatan
Mukarromah I dan mendatangi Abah MK di rumahnya, kemudian
yang dinilai memalukan perguruan hingga berulang sebanyak 12
mendiskusikan Ar-Risalah al-Mukarromah I dengan para abdinya.
kali, akhirnya Abah MK memecatnya.
Mereka melaksanakan shalat berjamaah. Temuan MUI Pusat dari
hasil pertemuan itu diantaranya, Pertama, MUI Pusat menemukan Pada saat ini sedang terjadi pertarungan hukum yang
kesalahan dalam buku Ar-Risalah al-Mukarromah I, baik bersifat sengit antara perguruan Mahesa Kurung dengan MUI Kabupaten
teknis penulisan maupun substansinya, sehingga perlu perbaikan; Bogor, karena pihak perguruan melakukan somasi kepada MUI
Kedua, MUI Pusat meminta kepada Mahesa Kurung untuk tidak Kabupaten Bogor. Karena tidak mendapat respon sampai batas
menulis buku-buku keagamaan, bulletin dan sebagainya tanpa waktu yang ditentukan, akhirnya pihak perguruan melaporkan
rujukan yang shahih; Ketiga, MUI Pusat menghimbau kepada kepada pihak berwajib. Pada saat ini sedang dalam proses di
seluruh jajaran perguruan mulai pimpinan sampai anggota, selain Pengadilan Kabupaten Bogor. Perguruan pun menunjuk kuasa
mempelajari bela diri juga memperdalam ilmu agama agar hukumnya, yaitu Ujang Sujai & Associates dengan menyampaikan
agamanya benar23. gugatan kepada MUI Kota Bogor secara material sebesar Rp 5 miliar
dan immaterial sebesar Rp 500 milyar, terkecuali MUI bersedia
Kepada Pimpinan MUI Kabupaten Bogor, MUI Pusat
mencabut fatwa dan meminta maaf kepada perguruan 24.
menyampaikan himbauan, diantaranya agar; pertama
memperhatikan prosedur dan mekanisme yang telah ditetapkan
MUI Pusat; kedua, bila substansi masalah berkaitan dengan E. Respon Pengurus NU Cabang Kota Bogor
kehidupan sosial kemasyarakatan, hendaknya melakukan tabayyun
Berbagai ragam tanggapan masyarakat terhadap munculnya
dan klarifikasi; ketiga, penetapan fatwa yang berdampak luas
fatwa sesat dan menyesatkan oleh MUI Kabupaten Bogor. Pengurus

23 Draft Rekomendasi Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang penyelesaian 24 Ujang Sujai Tojiri, SH, MH dan Rachmat Imron Hidayat, SH, Berkas Somasi kepada
perguruan Mahesa Kurung. Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor, 13 April 2006.

68 69
Cabang NU Kota Bogor misalnya, menanggapi fatwa MUI kepada pihak lain haruslah menggunakan bahasa yang baik, dan
Kabupaten Bogor tidak bersih dari kepentingan kelompok tertentu. bersih dari kepentingan kelompok. Fatwa yang menggunakan
Pimpinan Cabang NU Kota Bogor merasa prihatin dengan fatwa bahasa emosional mencerminkan ketidakarifan penyusun fatwa itu.
sesat dan menyesatkan itu. Menurutnya kondisi sosial masyarakat
Para Pengurus Cabang NU Kota Bogor juga menyatakan
muslim saat ini sedang dilanda banyak cobaan, fitnah, dengan
bahwa MUI Kabupaten Bogor berkali-kali telah melakukan
perilaku manusia yang rendah melebihi binatang. Tambahnya lagi,
shilaturrahim dengan Abah MK, namun semuanya baik-baik saja
ujian itu datangnya dari ulama yang semestinya menjadi panutan
tidak nampak tanda bahwa perguruan Mahesa Kurung itu sesat dan
dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi kaum muslimin.
menyesatkan. Para pengurus NU Cabang Kota Bogor
Bagaimana mungkin mengatasi masalah baru dengan memunculkan
menyampaikan beberapa hal, yaitu; pertama, Mahesa Kurung
masalah baru. Dia mengibaratkan bila hendak meluruskan sesuatu
merupakan sebuah organisasi perguruan silat, bukan aliran suatu
yang bengkok dengan kebodohan, maka akan melahirkan buruk
paham dari agama tertentu; Kedua, Faridhal Attros al-Kindi sangat
sangka, ghurur (tipu daya), ihtiqar (penghinaan) dan merasa benar
terbuka menjawab semua pertanyaan serta mengakui kekhilafan,
sendiri. Yang muncul adalah demi kepentingan golongan dan
kesalahan dan kekurangan yang ada, baik manajemen organisasi
kedudukan pribadi dilakukan dengan cara memukul kelompok lain
maupun kitab ar-Risalah al-Mukaramah I yang dipermasalahkan
yang tidak sepaham25.
banyak orang itu; Ketiga, Fardhal Attros al-Kindi, bersedia
Dalam suratnya kepada Majelis Ulama Indonesia Kabupaten melakukan perbaikan dan penyempurnaan di segala bidang, karena
Bogor, Pengurus Cabang NU Kota Bogor menyatakan Bila sebaik-baik manusia adalah yang mau mengakui kekurangan dan
mendengar berita kurang baik, mohon tidak tergesa-gesa mempercayai dan kesalahannya, lalu memperbaikinya. Dalam ar-Risalah al-
menyimpulkannya, karena bisa jadi berita itu tidak benar. Kemudian bila Mukarramah memang ada kesalahan penulisan dan kesalahan
ingin menyelesaikannya atau mengatasinya, maka haruslah melakukan sejarah. Pihak Perguruan Mahesa Kurung mengakui hal tersebut dan
mawas diri agar bersih dari berbagai kepentingan jangka pendek. Dan yang bersedia untuk melakukan perbaikan. Mengenai isi Risalah al-
paling penting adalah menggali informasi itu dari sumbernya dan Mukarromah I pada halaman 382 622 yang dinilai oleh MUI
melakukan penyelesaian masalah sesuai dengan syariat yang santun, Kabupaten Bogor mengandung unsur perdukunan, adalah amalan
sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah. Jadi bila ingin memperbaiki yang yang suka diwiridkan oleh sebagian Kyai di Indonesia bahkan
salah harus dengan cara yang baik dan benar, sehingga tidak menimbulkan dunia.26
masalah dan fitnah lebih besar. Obyek sudah menjadi korban namun tidak
ada yang bertanggungjawab.
F. Respon Paguyuban Masyarakat Robabil
Pimpinan Cabang NU Kota Bogor meminta dalam (Rombongan Ababil) Kota Bogor
mengeluarkan fatwa harus merujuk kepada petunjuk yang
Pemuka Paguyuban Masyarakat Robabil (Rombongan Ababil)
dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia Pusat. Dalam pedoman
yang berpusat di Lelongok Empang Bogor, yang beranggotakan 40
menentukan fatwa, bahasa yang digunakan harus mencerminkan
Kyai pesantren di Sukabumi dan Jabotabek mengatakan bahwa
bahasanya para ulama, halus, indah dan santun. Memberi nasehat

25 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Bogor, 21 April 2006 26 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Bogor, 21 April 2006

70 71
perguruan Mahesa Kurung tidak sesat. Pernyataan dibuat tanggal menindas lawan. Sedangkan Rasulullah telah bersabda: Ketika kita
tanggal 7 April 2006 dan ditanda tangani oleh 40 Kyai tersebut. berselisih, berbeda paham atau pendapat, segeralah lihat hati dan jiwa kita,
Dalam salah satu pernyataannya yang diwakili oleh KH. Numan sehatkah atau sakitkah. Ini sangat penting untuk melihat perbedaan itu.
Istichori mengatakan: Kesalahan huruf dan sejarah adalah biasa, bukan Apalagi ketika mendengar berita kurang baik, jangan tergesa-gesa percaya
merupakan kesalahan yang prinsipil yang membuatnya sesat dan dan menyimpulkannya, karena bisa jadi berita itu tidak benar28.
menyesatkan serta tidak mengakibatkan kekufuran. Jadi tidak perlu
KH. TB. Bahrum Zaman Pimpinan Ponpes Al Umm Bogor,
dipersoalkan. Namun, jika Abah MK mengamalkan wirid, dzikir, tawassul
menyayangkan akan keberadaan Perguruan Mahesa Kurung. Dia
dan penggunaan Asmaul Husna dalam bela diri dianggap kafir, maka sama
mengatakan: Masalah ini tidak nyambung, dan MUI Kabupaten Bogor
saja dengan mengkafirkan saya, sebab saya mengamalkannya. Ketika saya
tetap memfatwakan sesat. Sebab Tim yang dikatakan sebagai Tim
bertanya kepada Abah MK, yaitu bagaimana pada saat ditanya MUI
Investigasi itu didominasi ulama-ulama anti qunut, anti tahlil, anti
mengenai hal-hal yang dipersoalkan, dia menjawab: Saya tidak tahu harus
manakiban, anti marabanan, anti talqin, anti tawassul anti hizb dan dalail.
bilang apa, dipanggil saja tidak, ketemu tidak, apalagi kenal juga tidak.
Jadi tidak saling berkait. Seharusnya mereka bersikap toleran terhadap
Saya sendiri tahu kalau saya dan anggota MK di vonis sesat itu dari Surat
masalah khilafiyah. Sebab salah satu tugas ulama adalah membuat umat ini
Kabar. Anehnya mereka baru menanyakan isi buku ini pada 18 Maret 2006,
tenang, bukan malah menjadi resah. Kalau ada masalah, seharusnya
ketika vonis sesat sudah jatuh. Saya menganggap perbuatan MUI itu
didiskusikan bersama, tidak usah melibatkan massa. Karena hal itu sangat
merupakan persekongkolan jahat yang sudah direncanakan sebelumnya.
berbahaya yang menyebabkan bisa saling menghancurkan demi
Bukankah QS An Nahl ayat 125 mengatakan: Sesungguhnya Tuhanmu,
mempertahankan suatu keyakinan. Orang lain tertawa dan tepuk tangan29.
Dialah yang telah mengetahui mengenai siapa yang tersesat dijalan-Nya.
Jika kita simak makna ayat tersebut, maka MUI Kabupaten Bogor telah Bapak Saeroji sebagai Kepala Kantor Departemen Agama
bertindak seperti Tuhan. Jadi sebenarnya bisa jadi MUI Bogor sendirilah ketika bersama-sama melakukan dialog dan wawancara seputar
yang sesat dan yang meresahkan umat Islam.27 masalah Mahesa Kurung berpendapat secara teknis MUI Kabupaten
Bogor salah, karena tidak melakukan klarifikasi kepada Abah MK.
Sementara itu pengurus NU Cabang Kota Bogor, menjelaskan
Jika hal ini dilakukan, niscaya tidak akan terjadi peristiwa demikian.
sebagai berikut:
Pada saat ini MUI kesulitan menghadapi gugatan di Pengadilan
Kami prihatin dengan kondisi umat Islam yang sedang penuh Cibinong. Karena ternyata gugatan itu tidak main-main hingga
cobaan, ujian, fitnah dan akhlak manusia telah begitu rendah lebih dari dalam proses putusan. Jika MUI tidak suka dengan ajaran-ajarannya,
binatang. Dalam kondisi seperti ini, apa yang akan kita lakukan? Apakah maka sesungguhnya tabayyun lebih baik untuk dilakukan MUI30.
kitapun akan masuk jurang yang sama? Membiarkan yang sakit tambah
Di kalangan pesantren Salaf di Jawa, pengajaran jurus-jurus
parah, membiarkan yang lemah menjadi tambah kepayahan, membiarkan
silat dengan menggunakan bacaan wirid, dzikir, puasa wishal (7 hari
yang salah menjadi tambah rusak, membiarkan yang sesat menjadi lebih
7 malam berturut-turut), puasa sunah 40 hari, membaca Asmaul
sesat, mengatasi masalah dengan masalah, meluruskan yang sesat dengan
Husna dan berbagai jenis model sesuai dengan kreatifitas Kyainya,
kebodohan sehingga buruk sangka, gurur bahkan ihtiqar, egois pribadi,
kepentingan golongan dan kedudukan dijadikan alat menghukum dan
28 Wawancara dengan H.M. Yusuf Sy, Rois Syuriah PC. NU Kota Bogor, Oktober 2006.
29 Wawancara dengan KH. TB. Bahrum Zaman, Oktober 2006.
27 Wawancara dengan KH. Numan Istichori, Oktober 2006 30 Wawancara dengan Saeroji, Oktober 2006

72 73
merupakan hal biasa. Mereka tidak dikatakan sebagai sesat dan BAB III
menyesatkan. Prinsipnya bukan untuk satu tujuan kemungkaran, PENUTUP
namun untuk tuntunan hidup. Fatwa sesat MUI Kabupaten Bogor
terhadap perguruan Mahesa Kurung dinilai lebih bermuatan politis
dari pada pemurnian agama. Menurut HM. Yusuf Sy, MUI
A. Kesimpulan
Kabupaten Bogor saat ini didominasi oleh kelompok tekstual.

D
engan mencermati paparan di atas dapat disimpulkan
bahwa munculnya perguruan silat yang dipimpin Abah
MK adalah karena ketidakpuasan Abah MK terhadap
berbagai jenis persilatan yang pernah diikutinya di
Jakarta. Hal ini sama halnya dengan munculnya gerakan-gerakan
keagamaan yang sudah lama ada, baik di kalangan tradisionalis
maupun modernis.
Perguruan silat yang menggunakan metode pengayaan wirid,
dzikir siri, puasa, Asmaul Husna, benda-benda keramat dan
sebagainya ditengarai sebagai bagian dari tradisi kalangan arus
utama tradisional di Jawa. Di kalangan modernis hal demikian juga
terjadi meskipun secara teknis berbeda. Fatwa sesat terhadap
perguruan Mahesa Kurung dipertanyakan kemurniaanya, terdapat
unsur kepentingan-kepentingan kelompok yang sedang
mendominasi MUI Kabupaten Bogor.
Masalah keagamaan yang sebenarnya bukan pada aliran,
paham atau gerakan bela diri Mahesa Kurung tetapi pada keluarnya
fatwa MUI Kabupaten Bogor. Diskursus keagamaan tidak dapat
berlangsung dengan wajar karena terdapat pemaksaan dan
dukungan fisik terhadap kepentingan untuk memenangkan sebuah
kepentingan. Di sini sekali lagi terdapat kecendrungan menguatnya
paham puritan atau Salafi dalam diskursus keagamaan tradisional.

B. Saran
Kepada semua pihak, baik tokoh agama, tokoh
masyarakat, tokoh politik maupun tokoh pemuda, hendaknya tidak
mudah membuat kesimpulan terhadap masalah-masalah yang

74 75
belum jelas kebenarannya. Kesimpulan yang salah karena data-data
yang salah dapat megakibatkan putusan yang salah dan meresahkan
masyarakat sebagaimana terjadi pada fatwa sesat Mahesa Kurung
yang dikeluarkan oleh MUI Kabupaten Bogor.

DAFTAR PUSTAKA
JAMIYATUL ISLAMIYAH
DI KOTA PADANG
Abdul Azis, Varian-Varian Fundamentalisme Islam di Indonesia, Diva
Pustaka, Jakarta, 2004. Oleh : Dra. Hj. Kustini, M.Si
Ahmad Sutarto, Winongo dalam Lintasan Sejarah Perjuangan Bangsa,
1995.
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 1942, LP3ES,
Jakarta, tt.
Endang, Sekilas Biografi Guru Besar Perguruan Mahesa Kurung Al-
Mukarromah, yayasan Air Kehidupan, 2000.
Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda
Karya, Bandung, 1999.
Siradjuddin Abbass, Empa Puluh Masalah Agama, tt.
Wakhid Sugiyarto, Respon terhadap Aliran Sempalan Islam dan Hindu
Tamil Medan, 2006, tidak diterbitkan.

76
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

S alah satu faktor yang sering muncul dalam kerangka


hubungan antar umat beragama adalah masalah pendirian
rumah ibadat. Kehadiran sebuah rumah ibadat baru sering
mengganggu hubungan antar umat beragama sehingga kerap kali
memicu konflik. Penyebabnya karena lokasinya berada di tengah
komunitas yang mayoritas telah menjadi penganut agama lain.
Rumah ibadat bukan hanya dipandang sebagai tempat untuk
melaksanakan kegiatan keagamaan semata, namun merupakan
simbol keberadaan suatu kelompok agama. Permasalahan menjadi
rumit ketika rumah ibadat tersebut oleh pihak lain dipandang tidak
sekedar memenuhi kebutuhan jamaah, melainkan untuk
kepentingan penyiaran agama kepada komunitas lain yang telah
memeluk suatu agama. (Lihat: Pidato Menteri Agama RI pada
Kursus Singkat Angkatan XIV Lemhanas RI Tanggal 29 Mei 2006).
Hasil kajian Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama
tentang masalah rumah ibadat antara lain menyimpulkan bahwa
gangguan hubungan antar umat beragama akibat persoalan rumah
ibadat biasanya terjadi karena kurangnya komunikasi antara pihak-
pihak yang hendak mendirikan rumah ibadat dengan umat dan
pemuka agama di sekitar lokasi pendirian rumah ibadat itu(Lihat
Naskah Sosialisasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri
Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 tahun 2006).
Penyebab lainnya adalah karena ketidakjelasan aturan tentang
pendirian rumah ibadat. Sebagaimana diketahui SKB Nomor 1
Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan
dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan
Pengembangan dan Ibadat Agama oleh Pemeluk-Pemeluknya,

79
dalam beberapa hal dianggap tidak memberi kejelasan tentang Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama,
syarat dan prosedur pendirian rumah ibadat. Akibatnya Pemberdayaan Forum Kerukunan, dan Pendirian Rumah Ibadat.
implementasi di berbagai daerah menjadi bervariasi. Di samping itu Salah satu substansi dari PBM tersebut adalah pedoman tentang
tidak ada standar pelayanan terukur untuk merespon permohonan pendirian rumah ibadat.
pendirian rumah ibadah. Hal-hal di atas seringkali menjadi
Kasus terganggunya hubungan umat beragama karena
penghambat dalam proses permohonan izin rumah ibadah. Oleh
pendirian rumah ibadat kembali terjadi di wilayah Sumatera Barat,
karena itu sebagian pihak berpendapat bahwa keberadaan SKB No.
tepatnya di Kota Padang. Peristiwa itu terjadi dua hari menjelang
1 Tahun 1969 menghambat pendirian rumah ibadat.
peresmian masjid yang diberi nama Masjid Baitul Izza Baiti Jamak
Realitasnya, SKB Nomor 1 Tahun 1969 tidak menghalangi Islamiyah. Padahal peresmian masjid tersebut sudah dipersiapkan
berdirinya rumah ibadat baru. Data menunjukkan bahwa selama jauh hari dan akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera
lebih dari dua dasawarsa setelah SKB berlaku, rumah ibadat dari Barat. Dilihat dari segi fisik, bangunan itu cukup megah yang
setiap kelompok agama bertambah. Lihat tabel berikut: merupakan perpaduan antara nilai-nilai Islam dengan adat
setempat. Menarik untuk diamati mengapa peresmian masjid di
Tabel 1. Perbandingan Jumlah Rumah Ibadat di Indonesia wilayah yang berfalsafah adat basandi syara, syara basandi kitabullah
Tahun 1997 dan 2004 tersebut ditentang oleh umat Islam sendiri.
Rumah Ibadat Tahun
% Kenaikan
Agama 1997 2004 B. Rumusan Masalah
Islam 392.044 643.834 64,22 Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan penelitian
Kristen 18.977 43.909 131,38 dirumuskan ke dalam beberapa pertanyaan berikut:
Katholik 4.934 12.473 152,80
Bagaimana kronologi proses pembangunan masjid Baitul Izza
Hindu 4.247 24.431 475,24
Baiti Jamak Islamiyah? Faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi
Buddha 1.523 7.129 368,09
terjadinya konflik terkait rencana peresmian rumah ibadat itu?
Jumlah/Rata-rata 421.725 731.776 238,35
Bagaimana respon pemerintah daerah maupun masyarakat terhadap
Sumber: Naskah Sosialisasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri konflik tersebut? Bagaimana respon Jamiyyatul Islamiyah dalam
Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006. menanggapi kasus pembangunan masjid tersebut?
Mencermati berbagai permasalahan terkait dengan rumah
ibadat, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri membentuk satu C. Tujuan dan Kegunaan
tim untuk membahas penyempurnaan SKB Nomor 1 Tahun 1969. Sejalan dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian
Proses penyempurnaan dilakukan dengan melibatkan anggota tetap ini adalah untuk: Mengetahui dan menggambarkan kronologi proses
dari Majelis-Majelis Agama masing-masing 2 (dua) orang. Hasil pembangunan masjid Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah;
kajian tersebut dirumuskan dalam bentuk Peraturan Bersama Mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi
Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 terjadinya konflik terkait rencana peresmian rumah ibadat itu;
Tahun 2006 tentang Pedoman Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Mengetahui respon pemerintah daerah maupun masyarakat

80 81
terhadap konflik tersebut; dan Mengetahui respon Jamiyyatul 5. Jamiyyatul Islamiyah; hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi
Islamiyah dalam menanggapi kasus penggagalan peresmian masjid bahan evaluasi untuk terus melakukan dialog dan sosialisasi
tersebut. terhadap berbagai permasalahan khususnya terkait dengan
penafsiran terhadap ajaran-ajaran agama dari kalangan jamiyah
Sebagai sebuah penelitian kebijakan, hasil penelitian ini
yang sering mendapat tanggapan negatif dari masyarakat luas.
diharapkan dapat digunakan oleh berbagai pihak dalam
menghadapi masalah kehidupan keagamaan khususnya terkait
D. Metodologi
dengan kasus pendirian rumah ibadat. Berbagai pihak dimaksud
antara lain: Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan
strategi studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik
1. Jajaran Departemen Agama di daerah; baik di Kanwil
triangulasi yaitu kajian dokumen, wawancara mendalam, maupun
Departemen Agama Propinsi Sumatera Barat maupun Kantor
observasi lapangan. Informan kunci terdiri atas Pengurus DPD
Departemen Agama Kota Padang. Penelitian ini diharapkan
Jamiyyatul Islamiyah Propinsi Sumatera Barat, Pengurus DPP
dapat menjadi masukan dalam membina lembaga keagamaan
Jamiyyatul Islamiyah di Jakarta, pejabat Departemen Agama di
serta evaluasi terhadap implementasi Peraturan Bersama
Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sumatera Barat
Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan Nomor
maupun Kantor Wilayah Departemen Agama Kota Padang,
9 Tahun 2006;
Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Propinsi Sumatera Barat,
2. Departemen Dalam Negeri; khususnya Kesatuan Bangsa dan pengurus masjid dan masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
Politik baik di pusat maupun daerah. Hasil penelitian ini Dokumen tentang Jamiyyatul Islamiyah dan peristiwa penggagalan
diharapkan dapat menjadi masukan bagi pembinaan lembaga- peresmian masjid diperoleh dari pengurus DPD Jamiyyatul
lembaga sosial berdasarkan agama sehingga aktivitasnya tidak Islamiyah Propinsi Sumatera Barat maupun dari DPP Pusat di
menyimpang dari penanaman nilai-nilai kebangsaan; Jakarta. Dokumen tersebut secara khusus berkaitan dengan kejadian
penggagalan, juga dokumen-dokumen lama yang merespon
3. Pemerintah Daerah; khususnya Pemerintah Kota Padang,
keberadaan Jamiyyatul Islamiyah, baik yang mendukung atau yang
hendaknya dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai
menolak. Dokumen terkini tentang Jamiyyatul Islamiyah diperoleh
acuan dan pertimbangan dalam rangka penyesuaian prosedur
dari DPP Jamiyyatul Islamiyah di Jakarta, antara lain tentang
pendirian rumah ibadat sebagaimana tertuang dalam Peraturan
momentum silaturrahim di Kabupaten Kerinci yang merupakan
Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9
acara rutin warga Jamiyyatul Islamiyah setiap Idul Adha,
dan Nomor 8 Tahun 2006
berkunjung ke masjid dan makam K.H.A. Karim Djamak di
4. Majelis Agama dan organisasi keagamaan; khususnya yang Kebupaten Kerinci Propinsi Jambi.
bercirikan Islam, diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat
Lokasi penelitian adalah di Kota Padang. Sedangkan
mengambil manfaat untuk menjalin komunikasi dan dialog
waktunya adalah pada awal bulan Desember 2006 dengan
dengan sesama organisasi keagamaan tanpa ada prasangka yang
pertimbangan pada saat itu konflik mulai mereda, sehingga berbagai
menyudutkan, namun dapat bersikap tabayyun dengan penuh
pihak -khususnya para informan- dapat berpikir lebih jernih dan
bijaksana;

82 83
obyektif dalam memberikan informasi. Namun, karena peristiwa besar wilayah Kota Padang yaitu sekitar 51,01% adalah hutan
tersebut belum belangsung lama (sekitar dua bulan sebelum lindung. Bangunan dan pekarangan seluas 62,88 km2 atau 9,05
penelitian ini) diharapkan rentetan kejadian dan penyebab- persen. Sementara itu, lahan yang digunakan sawah seluas 52,55 km2
penyebabnya masih terekam baik oleh masyarakat. atau 7,52%. Selain daratan, Kota Padang memiliki 19 pulau. Nama
lima pulau dengan urutan terluas adalah Pulau Bintangur (56,78ha),
E. Gambaran Umum Kota Padang Sikuai (48,12 ha), Toran (33,67 ha), Bindalang (27,06 ha), dan Pulau
Kota Padang mengingatkan kita pada banyak hal; pertama, Pisang 26,19 ha). (Padang Dalam Angka; 2004: 3).
masyarakat Minangkabau yang memiliki karakteristik khusus baik Menurut Umar Yunus (1997: 250 251) desa adat pada
dari segi penampilan fisik maupun budaya; kedua, system masyarakat Minangkabau disebut nagari merupakan daerah
kekerabatan yang menganut sistem matrilineal; ketiga, masyarakat kediaman utama dan pusat sebuah desa. Nagari biasanya ditentukan
Padang yang identik dengan Islam; keempat, kemampuan oleh adanya sebuah masjid, sebuah balai adat dan pasar. Ketiga
masyarakat Minang, termasuk di dalamnya masyarakat Minang di bagian penting tersebut terletak di suatu tempat sebagai pusat
Padang dalam mengekspresikan ide-idenya dalam bentuk tulisan kehidupan sebuah desa. Ada juga taratak yang merupakan wilayah
(roman); kelima, masyarakat yang memiliki semangat merantau. hutan dan ladang. Taratak dapat diartikan sebagai daerah terpencil
Kota Padang adalah salah satu kota tertua di pantai barat dari pusat nagari yang berpencar di sudut-sudut yang agak jauh dari
Lautan Hindia. Menurut sumber sejarah, sekitar abad 17 Kota nagari .
Padang dihuni oleh para nelayan, petani garam dan pedagang. Sejak empat atau lima abad silam, nagari telah memiliki
Ketika itu Padang belum begitu penting, karena arus perdagangan otonomi penuh. Semua anggota masyarakat mempunyai kekuasaan
orang Minang mengarah ke pantai timur melalui sungai-sungai untuk mengatur persoalan-persoalan yang timbul. Mereka tidak
besar. Namun sejak Selat Malaka tidak lagi aman dari persaingan mengenal kekuasaan yang lebih tinggi yang dapat mengatur
dengan bangsa Asing serta banyaknya peperangan dan pembajakan, kehidupannya kecuali Tuhan. Bila orang Minangkabau pernah
maka arus perdagangan berpindah ke pantai barat Pulau Sumatera. mempunyai raja, maka raja itu sebatas sebagai pemimpin formal
Luas wilayah Kota Padang pada mulanya adalah 33 km2, yang diberi penghargaan dan penghormatan dalam batas-batas
terdiri atas 3 kecamatan yaitu Kecamatan Padang Barat, Padang tertentu saja. Di dalam nagari, setiap penduduk merupakan majikan
Selatan dan Padang Timur. Ketiga kecamatan itu terbagi atas 13 bagi dirinya sendiri.1 .
buah kampung. Melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 dan Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1980 yang dikeluarkan Pemerintahan Desa, dalam pandangan Gusti Asnan (2006) telah
tanggal 21 Maret 1980, wilayah Kota Padang menjadi 694,96 km2 meluluhlantakkan keberadaan nagari. Pemerintah Daerah Sumatera
yang terdiri dari 11 kecamatan dan 193 kelurahan. Sejak otonomi Barat tidak punya pilihan lain selain melaksanakan Undang-Undang
daerah pada tanggal 1 Januari 2001, wilayah administratif Kota tersebut. Seluruh pejabat Pemerintah Daerah di Sumatera Barat dan
Padang dibagi menjadi 11 kecamatan dan 103 kelurahan.
1
Harsja W. Bachtiar (1984) menggunakan kata negeri bukan nagari untuk
Dari 11 kecamatan yang ada di Kota Padang, Kecamatan Koto menyebut kesatuan masyarakat Minangkabau. Untuk konsistensi penulisan, maka
Tangah merupakan wilayah terluas mencapai 232,25 km2. Sebagian penulis tetap menggunakan kata nagari bukan negeri.

84 85
masyarakat luas menyambut Undang-Undang tersebut dengan Lubuk Kilangan 39. 628 0 72 0 0 39.700
sangat hati-hati, paling tidak karena 2 (dua) hal; pertama, Nagari
Lubuk Begalung 94.482 488 561 7 1 95.539
merupakan lembaga sosial politik yang telah membudaya di
Sumatera Barat (kecuali Mentawai). Setiap upaya untuk mengubah Padang Selatan 51.192 3.900 1.959 4 1.723 58.780
atau menghilangkan keberadaan nagari selalu mengalami kegagalan
seperti yang pernah terjadi tahun 1946 dan awal tahun 1950-an; Padang Timur 80.206 244 911 41 25 81.427

kedua, masyarakat memandang bahwa pembentukan pemerintahan Padang Barat 42.523 5.477 1.277 919 8.224 58.420
desa adalah penghapusan nagari, sama artinya penghapusan
kesatuan hukum adat sekaligus menghilangkan identitas Padang Utara 70.985 82 140 22 27 71.256

masyarakat Minangkabau. Nanggalo 53.747 308 400 9 52 54.516

Kekhawatiran masyarakat Minangkabau dengan Kuranji 107.928 19 82 0 0 108.029


penyeragaman sistem pemerintahan desa cukup beralasan.
Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 menimbulkan Pauh 49.133 0 24 1 5 49.163
setidaknya 4 (empat) persoalan (Gusti Asnan; 2006: 267 268): Koto Tangah 143.556 247 1.318 0 72 145.193
Desa tidak mempunyai kekayaan sendiri untuk dijadikan sumber
Jumlah 756.014 10.774 6.815 1.003 10.134 784.740
daya penerimaan dan pendapatan desa yang memadai, sehingga
sulit untk menyelenggarakan urusan rumah tangga desa; Fasilitas
Sumber: Padang Dalam Angka 2004
sarana dan prasarana untuk mendukung kelancaran
penyelenggaraan pemerintahan desa belum siap sehingga relatif
singkat dan terbatas; Pandangan masyarakat terhadap Kepala Desa Tabel berikut adalah jumlah rumah ibadat menurut
dipandang merendahkan, sehingga sulit mencari orang yang mau Kecamatan di Kota Padang Tahun 2005:
menjadi Kepala Desa dan aparat desa; Persatuan dan kesatuan nagari
menjadi terpecah. Setiap desa ingin memiliki masjid atau pasar Tabel 3. Jumlah rumah ibadat di Kota Padang Tahun 2005
sendiri sehingga menyebabkan masjid nagari menjadi lengang dan Gereja
Kecamatan Mesjid Mushola Pura Vihara
sering timbul perkelahian memperebutkan hasil pasar. Kath Krst

Bungus T Kabung 13 70 - - - -
Secara statistik, angka pemeluk agama setiap kecamatan di
Lubuk Kilangan 25 78 - - - -
Kota Padang dapat dilihat pada tabel berikut.
Lubuk Begalung 61 94 - - - -
Tabel 2. Jumlah Penganut Agama di Kota Padang 2004 Padang Selatan 35 66 - 4 - 1

Kecamatan Islam Katholik Kristen Hindu Budha Jumlah aPa Padang Timur 54 76 - 1 - -

Bungus T Kabung 22.634 9 71 0 3 22.717 Padang Barat 40 39 4 - - 1

86 87
Padang Utara 49 62 - - - - BAB II
Nanggalo 34 44 - - - - JAMIYYATUL ISLAMIYAH
Kuranji 60 177 - - - -
Pauh 35 104 - - - -
Koto Tangah 112 195 - - - - A. Sejarah Berdirinya Jamiyyatul Islamiyah

Padang 2005
2004
2003
518
488
459
1.005
1.095
569
4
2
5
5
7
4
-
-
-
2
2
1
J amiyyatul Islamiyah terdaftar sebagai salah satu organisasi
kemasyarakatan bertaraf nasional. Data pada Direktorat
Jenderal Sosial Politik Departemen Dalam Negeri
menunjukkan bahwa sampai dengan bulan Juli 1994
2002 451 774 5 4 - 1 tercatat 738 (tujuh ratus tiga puluh delapan) organisasi
2001 448 716 5 4 - 1 kemasyarakatan bertaraf nasional yang keberadaannya telah
memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985,
Sumber: Padang Dalam Angka 2005 Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1986 dan Peraturan Menteri
Data kependudukan di atas menunjukkan bahwa pemeluk Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1986.2 Jamiyyatul Islamiyah
Islam di wilayah ini sangat dominan dilihat dari sisi kuantitatif. Oleh merupakan organisasi kemasyarakatan nomor urut ke 20 (dua
karena itu kalau ada seorang Minangkabau yang tidak menganut puluh) dari 298 ormas berdasarkan agama.
agama Islam, maka hal itu merupakan suatu keganjilan meskipun Jamiyyatul Islamiyah didirikan pada hari Jumat tanggal 12
muslim sebagai mayoritas secara nominal (Umar Yunus, 1997: 261). Maret 1971, bertepatan dengan 14 Muharram 1391 H, oleh Buya
Nilai-nilai Islam tercermin dalam petuah adat basandi sara, sara K.H.A. Karim Djamak di Sungai Penuh Kabupaten Kerinci. Secara
basandi kitabullah. Surau sebagai tempat ibadah menjadi salah satu hukum, lahirnya Jamiyyatul Islamiyah ditandai oleh pelaksanaan
ciri komunitas masyarakat Islam Minangkabau. Jika anak laki-laki
tidak mau nginap di surau, orang tua dianggap gagal dalam 2
Organisasi Kemasyarakatan yang berjumlah 738 tersebut diklasifikasikan
mendidik. ke dalam 5 (lima) kategori berdasarkan kesamaan, yaitu kategori kegiatan (95
organisasi), profesi (183 organisasi), fungsi (119 organisasi), agama (298
organisasi), dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (43 organisasi).
(Lihal Lampiran I Memorandum Jamiyyatul Islamiyah & Penggagalan Peresmian
Penggunaan Masjid Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah Jl. Proklamasi 55 57
Padang; 2004). Namun pada Direktori Organisasi Kemasyarakatan yang diterbitkan
Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik tahun 2005, nama organisasi Jamiyyatul
Islamiyah tidak terdaftar. Hal itu terjadi karena berbagai ormas yang tidak
melapor kembali. Setiap ada pergantian pengurus atau pindah alamat,
setiap ormas yang telah terdaftar harus melapor sehingga data bisa terus
diperbaharui (Wawancara dengan Drs. Denty Ierdan, MM. Kasubdit
Fasilitasi Organisasi Keagamaan dan LSM, Direktorat Fasilitasi Organisasi
Politik dan Kemasyarakatan Departemen Dalam Negeri 3 Januari 2007).

88 89
Muktamar I Jamiyyatul Islamiyah tanggal 17 Agustus 1986 di dituduh melakukan tindakan a-moral, menggauli istri almarhum
Sungai Penuh Kerinci. Muktamar tersebut berhasil merumuskan Alamsyah yang bernama Harino. Alamsyah adalah mantan ketua
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Urwatul Wutsqo. Namun tuduhan itu dibantah oleh Harino sendiri
Merespon berbagai perkembangan, AD/ART telah beberapa kali melalui surat pernyataan yang dibuatnya tanggal 8 Mei 1999 yang
disesuaikan. AD/ART yang sekarang digunakan merupakan hasil juga diketahui dan ditandatangani oleh anaknya, yaitu Hidayat
rumusan Muktamar Luar Biasa Jamiyyatul Islamiyah yang Alamsyah (Danramil Kecamatan Air Hangat), serta Kepala Desa
dilaksanakan di Bekasi tanggal 19 Oktober 2006. Koto Lanang Kecamatan Air Hangat. K.H.A. Karim Djamak
meninggal dunia pada tanggal 28 April 1996 di RS Pelni Jakarta
Jamiyyatul Islamiyah sangat lekat dengan nama tokoh
dalam usia 90 tahun.
pendirinya, yaitu Buya K.H.A. Karim Djamak. Tokoh pendiri lain,
tetapi namanya tidak setenar K.H.A. Karim Djamak, adalah Mayor Menanggapi berbagai tuduhan tersebut, K.H.A. Karim
Min Harafat dari Sekber Golkar. Berikut ini adalah profil singkat Djamak mengundang K.H. Tohir Widjaja yang saat itu menjabat
tentang Buya K.H.A. Karim Djamak. Ketua Umum Majelis Dakwah Islamiyah Pusat, K.H. Moh.
Tarmoedji sebagai Ketua DPP Golkar di Jakarta, mendapatkan
Buya Karim Djamak lahir di tengah-tengah keluarga yang taat
dukungan moral. Kedua tokoh Golkar ini akhirnya diberikan
beragama. Ia tidak pernah bersekolah formal, tetapi selama sekitar
kehormatan sebagai penasehat serta pelindung Jamiyyatul
14 tahun pernah belajar agama Islam pada madrasah di Dusun
Islamiyah. DPP Jamiyyatul Islamiyah juga mengundang Bapak Prof.
Mendapo Rawang Maliki, Air Besar, Koto Teluk Sungai Penuh
Ibrahim Husen, LML selaku Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.
Kerinci Propinsi Jambi.
Jamiyyatul Islamiyah meminta bantuan beliau untuk meneliti
Buya K.H.A. Karim Djamak mendapat pendidikan keagamaan keberadaan warga dan ajaran Jamiyyatul Islamiyah di beberapa
dari orang-orang terdekat di lingkungan keluarganya. Mereka daerah, antara lain di Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Barat dan
antara lain H. Maktib (Hakim zaman Belanda), H. Moh. Thaib Kabupaten Kerinci. Setelah dipandang tidak ada yang menyimpang
(kakek, bapak dari ibunya), K.H. Kari Ahmad (kakek paman dari ajaran Islam, Prof. Ibrahim Husen, LML bergabung dengan
kandung dari ibu), dan Tengku Mohammad Jumat, ayahandanya Jamiyyatul Islamiyah dan pada tanggal 3 Juni 1994 beliau
yang juga termasuk ulama di Desa Tanjung Rawang. Buya K.H.A. dikukuhkan sebagai pelindung Jamiyyatul Islamiyah.
Karim Djamak sejak usia 7 tahun telah belajar ilmu qih, tauhid dan
Dalam membina warganya, Jamiyyatul Islamiyah tidak
tasawuf. Pada usia 20 tahun Buya K.H.A. Karim Djamak dipercaya
mendokumentasikan ajaran-ajaranya melalui sebuah buku, atau
memegang jabatan sebagai pemangku adat dengan gelar: Timo
dokumen lainnya, melainkan lebih mengandalkan ajaran lisan yang
Daharo Tunggak Nagari Mandopo Rawang Kuto Teluk Tiang Agama Sakti
disampaikan para pengurus, para penceramah atau tokoh-
Alam Kerinci.
tokohnya.3 Oleh karena itu, setelah beberapa sesepuh atau tokoh
Dalam usahanya membina dan mengembangkan Jamiyyatul
Islamiyah, K.H.A. Karim Djamak banyak memperoleh rintangan,
caci maki bahkan fitnah dari berbagai kalangan seperti tuduhan 3
Dalam Memorandum Jamiyyatul Islamiyah dan Penggagalan
sebagai dukun, dan penyebar ajaran sesat. Bahkan beliau pernah Peresmian Penggunaan Masjid Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah (2006: 22)
dinyatakan bahwa: Buya K.H.A. Karim Djamak tidak pernah mengarang

90 91
pendiri meninggal, Jamiyyatul Islamiyah merasa sangat kehilangan Islamiyah masa bakti 2003 2008 dapat dilihat pada Surat
sumber pengetahuan. Mereka yang telah meninggal antara lain Keputusan DPP Jamiyyatul Islamiyah Nomor Kep-201/DPP-
K.H.A. Karim Djamak, K.H. Tohir Wijaya, K.H. Moh. Tarmizi dan JmI/XII/2006 tentang Perubahan dan Penambahan Antar Waktu
K.H. Amir Usman. Untuk menggantikan para tokoh tersebut, Komposisi dan Personalia DPP Jamiyyatul Islamiyah Masa Bakti
Jamiyyatul Islamiyah mengundang para cendekiawan khususnya 20032008. Surat Keputusan tersebut juga mengesahkan perubahan
ahli agama untuk memberikan pengetahuan kepada seluruh warga dan penambahan antar waktu komposisi dan personalia DPP
Jamiyyatul Islamiyah. Mereka antara lain: (1) Prof. Dr. H. Azhar Jamiyyatul Islamiyah Masa Bakti 2003 2008. Susunan
Arsyad MA, Rektor UIN Alauddin Makasar; (2) Prof. DR. H. Ahmad selengkapnya dari kepengursan DPP Jamiyyatul Islamiyah adalah
Sewang seorang ahli sejarah; Prof. DR. Mohammad Amin MA, ahli sebagai berikut:
hadits. Untuk memperkuat bidang organisasi, Jamiyyatul Islamiyah
mengundang DR. Ir. Azwar Anas Datuk Rajo Sulaeman dan Prof. Sri
Edi Swasoso sebagai Penasehat Kehormatan.

B. Struktur Organisasi dan Kepengurusan


Salah satu kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah organisasi
kemasyarakatan tingkat nasional adalah organisasi tersebut
memiliki struktur berjenjang dan keberadaannya sekurang-
kurangnya setengah jumlah propinsi di seluruh Indonesia.4 Dari 33
propinsi yang ada, Saat ini Jamiyyatul Islamiyah telah memiliki
cabang di 23 propinsi.5 Susunan Pengurus DPP Jamiyyatul

atau membuat buku atau sejenis lainnya untuk dijadikan buku pegangan
bagi Jamiyyatul Islamiyah selain Al Quran dan Sunnah/Hadits.
4
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1986 tentang Ruang
Lingkup, Tata Cara Pemberitahuan Kepada Pemerintah serta Papan Nama, BAB I
Ruang Lingkup Organisasi Kemasyarakatan, Pasal 2: Organisasi kemasyarakatan
yang mempunyai ruang lingkup nasional adalah organisasi yang mempunyai tujuan
dan program yang bersifat nasional serta kegiatannya menjangkau kepentingan
nasional berwawasan Nusantara: di samping merupakan organisasi yang strukturnya
berjenjang dan keberadaannya sekurang-kurangnya setengah jumlah propinsi
seluruh Indonesia.
5
Masih ada 10 propinsi yang belum memiliki DPD Jamiyyatul Islamiyah
yaitu: Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi
Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Irian Jaya
Barat dan Propinsi Papua. Wilayah-wilayah tersebut berada di wilayah Indonesia Islamiyah adalah di Sumatera atau wilayah Indonesia bagian barat yang secara
bagian barat dan bagian timur. Hal ini bisa dipahami karena lahirnya Jamiyyatul perlahan berkembang ke wilayah-wilayah lainnya.

92 93
PERUBAHAN ANTAR WAKTU KOMPOSISI DAN PERSONALIA
DEWAN PIMPINAN PUSAT JAMIYYATUL ISLAMIYAH Departemen Organisasi
MASA BAKTI 2003 2008 Ketua : Drs. H. M. Arief Bidjaksana, AK.
PER-1 DESEMBER 2006 Wakil Ketua : H. Harsya Denny Suryo, MSc.
Anggota : Ir. H. Andra Aditiyawarman W.D. MSc
Penasehat Kehormatan
H. Budi Fitriadi, ST., MM
Dewan Penasehat : Letjen TNI (Purn.) Ir. H. Azwar Anas Leily Akmalia Ali, ST

Ketua : H. Sofyan Sastra Atmadja


Departemen Hubungan Masyarakat dan Protokol
Wakil Ketua : Drs. H.M. Arief Warga Dalem Ketua : H. Alex Kumara
Wakil Ketua : Dhoya Satyabima Sugrada, SE., MM
Anggota : Ir. H. Azhari Warga Dalem, M. Sc.
Anggota : H. Djunaidi Tohir
H. Widjaja Sugarda, SH.
Hj. Elsya Evina Noor
Drs. H. Achmad Maulana Sulaiman, M. Sc.
H. Fredy Ali
H. Asri Rose, SH.
H. Rinaldo Yulianto Noor, SE
H. Syarifuddin Datau.
Kasman Kiyai

PENGURUS HARIAN
Departemen Pelatihan
Ketua Umum : Dr. H. Aswin Rose Ketua : Drs. H. Ahmad Adri, AK. MBA.
Ketua I : Ir. H. Sutadi Soeparlan, MSc. Wakil Ketua : Alex Iskandar Munaf, MBA.
Ketua II : Ir. H. Maulana Ibrahim, MBA. Anggota : Hening Pandji Irawan, SE.
Sekretaris Jenderal : DR. H. Syaikhu Usman Emir Maulana Madransyah, SE.
Wakil I Sekjen : H. R. M. Ridwan Tarmizi H. Wisnu Bernandi, SE.
Wakil II Sekjen : Ir. H. Ari Permadi, MLA
Bendahara : Dra. Hj. Yunita Hiryudani Arief, AK. Departemen Pemeliharaan Dan Pengawasan Harta Kekayaan (Aset)
Wakil I Bendahara : Hj. Nyta S. Julia, SE. Ketua : Drs. H. Supono Suparlan, MM.
Wakil II Bendahara : Ir. Hj. Vera Sandriaty Kinan Wakil Ketua : Drs. H. Tridjoko Subandrio
Anggota : H. Harmon Kahar
DEPARTEMEN-DEPARTEMEN Hj. Tissa Anastasia Munaf
H. Dendy Fahrizal Noor, SE.
Departemen Dakwah Datin Nina Priscilla Avrianty, BBA
Ketua : Drs. H. Efendi Piliang
Wakil Ketua : H. Muali Muchtar Departemen Penelitian Dan Pengembangan
Anggota : H.Amir Wachid, BSc. Ketua : Dra. Hj. Fatmawati Yazid, MSi.
Wakil Ketua : Dr. Hj. Midi Haryani, SpKK.
Anggota : H. Ali Yahya, SE.
Dra. Hj. Tri Mulyati
Ir. H. Adnan Alamsyah Sulaiman

94 95
Perubahan Anggaran Rumah Tangga yang keduanya ditetapkan di
Departemen Pembinaan Pemuda Jakarta tanggal 22 November 2006.
Ketua : Kombes (Pol.) Drs. H. Faisal Ramadnus
Wakil Ketua : H. Jimmy Djauhari Struktur organisasi Jamiyyatul Islamiyah terdiri atas: (1)
Anggota : Hj. Marina Datau, SE. Organisasi Tingkat Pusat yang dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan
H. M. Reza Arfiansyah, S.Sos.
Irfan Rumaini, ST.
Pusat berkedudukan di Jakarta; (2) Organisasi Tingkat Propinsi oleh
Departemen Wanita Dewan Pimpinan Daerah Tingkat Propinsi; (3) Organisasi Tingkat
Ketua : Dra. Hj. Adawiyah Kesuma Kota/Kabupaten yang dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan Daerah
Wakil Ketua : Hj. Latifah Faisal Tingkat Kota/ Kabupaten; (4) Organisasi Tingkat Kecamatan yang
Anggota : Hj. Mona Vera ANK.
Dra. Hj. Lucy Susana
dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan Cabang; dan (5) Organisasi
Hj. Kesuma Mutiara Dewi, S.Sos. Tingkat Desa/Kelurahan yang dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan
Ranting.
Departemen Kesehatan
Ketua : Dr. H. Bobby Natanel Nelwan, SpOT. Sesuai namanya yaitu Organisasi Pengajian Jamiyyatul
Wakil Ketua : Dr. Marly Susanti, SpOG. Islamiyah, maka kegiatan organisasi ini bergerak dalam bidang
Hj. Shanti Ellya Noor
pengajian, bersifat non-politis dan terbuka. Dengan demikian,
Hj. Ria Anasri Sangkuriani
H. Azhari, S.Si Jamiyyatul Islamiyah menempatkan diri sebagai organisasi yang
BIDANG-BIDANG : berfungsi untuk wadah pembinaan dan pengembangan usaha
Bidang Pembangunan dakwah Islamiyah (lihat Pasal 3 dan 4 Anggaran Dasar Organisasi
Koordinator : Ir. H. Ari Permadi, MLA
Pengajian Jamiyyatul Islamiyah).
Anggota : Hj. Mitha Hikmayudi
Bidang Hukum Dalam rangka memenuhi kewajiban menjaga persatuan dan
Koordinator : Hj. Nini Nuraini Halim, SH.
kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, organisasi ini
Anggota : Dra. Hj. Lientje Siswadi
H. Kristio Pramadi, SH. secara jelas menyatakan berazas Pancasila dan Undang-Undang
Hj. Reiny Wati Pandjaitan Dasar 1945 dan secara eksplisit menyebutkan Al Quran dan
Sunnah/Hadits sebagai landasannya. Dengan demikian, setidaknya
Sebagai sebuah ormas, Jamiyyatul Islamiyah memiliki
ada 2 (dua) tujuan pembentukan organisasi ini, yaitu: (1)
AD/ART setelah beberapa kali mengalami penyesuaian. AD/ART
Meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat Islam kepada Allah;
yang ada saat ini merupakan hasil Muktamar Luar Biasa Jamiyyatul
(2) membangun manusia Indonesia seutuhnya yang adil dan
Islamiyah yang dilaksanakan di Bekasi tanggal 19 Oktober 2006.
makmur, lahir maupun batin. Untuk mencapai tujuan tersebut,
Perubahan tersebut kemudian dikukuhkan oleh Notaris dan PPAT
Jamiyyatul Islamiyah melaksanakan beberapa usaha, yaitu dakwah
Ferdian, S.H. dalam bentuk Akta Pernyataan Keputusan Muktamar
dan pendidikan, kegiatan sosial, serta mendirikan masjid, musholla
Luar Biasa Nomor 36 tentang Perubahan Anggaran Dasar
dan balai pengajian, (lihat Pasal 3, 4, 5, 6 ,7 dan 8 Anggaran Dasar
Organisasi Jamiyyatul Islamiyah, dan Nomor 37 tentang
Organisasi Pengajian Jamiyyatul Islamiyah).
Pernyataan Keputusan Muktamar Luar Biasa Nomor 36 tentang
C. Ajaran dan Dugaan Adanya Penyimpangan

96 97
Dalam perjalanan dan pertumbuhannya, Jamiyyatul 1. Pengarahan Direktur Jenderal Sosial Politik Departemen Dalam
Islamiyah banyak menerima kritik, baik yang ditujukan kepada Negeri pada Musyawarah Daerah Jamiyyatul Islamiyah
pribadi K.H.A. Karim Djamak maupun terhadap ajaran-ajarannya. Daerah Tingkat I Sumatera Barat, Tanggal 7 Februari;
Larangan terhadap ajaran Jamiyyatul Islamiyah dapat dilihat
2. Surat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
dalam dokumen berikut:
Nomor: B-13/MENKO/KESRA/V/1995 tertanggal 30 Mei 1994
1. Surat Keputusan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat yang ditujukan kepada Menteri Agama RI. Isi surat tersebut
Nomor: KEP-B.92/J.3.3/11/1981 tentang Larangan Ajaran antara lain: setelah membaca dan meneliti Kesimpulan dan
Jamiyyatul Islamiyah yang dikarang K.H.A. Karim Djamak Pendapat dari Tim Sub-Direktorat Pakem Kejaksaan Agung RI
Diperbanyak/Dikembangkan oleh Darussamin Datuk Pangka disampaikan bahwa tidak ada bukti kuat bahwa Buya K.H.A
Sinaro. Karim Djamak telah mengajarkan hal-hal yang menyimpang
dari Al Quran dan Hadits. Di akhir surat Menko Kesra
2. Sikap Majelis Ulama Indonesia Propinsi Sumatera Barat
mengharapkan agar Menteri Agama mengambil langkah arif
terhadap Organisasi Al Jamiyyatul Islamiyah antara lain
dengan melakukan dialog dengan DPP Jamiyyatul Islamiyah,
menyatakan: Organisasi Al Jamiyyatul Islamiyah yang ada di
Prof. DR. K.H. Ibrahim Hosen selaku Pelindung Jamiyyatul
Propinsi Sumatera Barat sebagian ajarannya sesat lagi
Islamiyah, K.H. A. Thohir Widjaya selaku Penasehat Jamiyyatul
menyesatkan dan karenanya kami tidak dapat mengakui
Islamiyah serta Buya K.H.A. Karim Djamak;
keberadaannya serta mendukung SK Kejati Sumbar yang
melarang kegiatan organisasi ini semenjak tahun 1981. 3. Surat pernyataan permohonan maaf dari Darussamin Dt.
Pangka Sinaro tertanggal 9 Agustus 1993 yang ditujukan kepada
3. Surat Majelis Ulama Indonesia Dati I Jambi Nomor A-
Ketua DPD Jamiyyatul Islamiyah Propinsi Sumatera Barat.
114/MUI/JBI/VII/1994 tanggal 19 Juli 1994 ditujukan kepada
Dalam surat tersebut Darusamin menyatakan menyesali
Dewan Pimpinan MUI di Jakarta. Dalam surat itu disebutkan
perbuatannya telah menyusun, memperbanyak dan
bahwa MUI Dati I Jambi memeriksa atau menginterogasi K.H.A.
mengedarkan buku yang berisi ajaran Jamiyyatul Islamiyah,
Karim Djamak. Hasilnya antara lain K.H.A. Karim Djamak
tanpa sepengetahuan Buya K.H.A. Karim Djamak.
mengaku sebagai guru pengajian Urwatul Watsqo yang pernah
dilarang oleh pihak berwajib. Ketika dilakukan interogasi beliau Dari berbagai dokumen tersebut terlihat bahwa ajaran
disodori Al Quran, tetapi ternyata dia tidak mampu membaca Jamiyyatul Islamiyah dari waktu ke waktu selalu diperdebatkan di
Al Quran dengan baik. masyarakat.
Di samping pendapat-pendapat yang mempertanyakan
perilaku maupun ajaran yang dikembangkan K.H.A. Karim Djamak,
tidak sedikit pula yang menyatakan Jamiyyatul Islamiyah adalah
organisasi yang legal. Kalaupun ada hal-hal yang kurang baik, maka
beberapa pihak menyarankan untuk memberikan pembinaan. Lihat
dokumen berikut:

98 99
BAB III agama. Amal perbuatan yang pertama kali dihisab oleh Allah pada
PENGGAGALAN PERESMIAN MASJID hari kiamat adalah salat. Bila salatnya baik maka amalnya baik,
demikian juga sebaliknya. Batas antara orang Islam dengan orang
kafir adalah salat. Barang siapa yang mengerjakan salat dia muslim,
dan yang tidak mengerjakan salat adalah kafir. Jadi bukan
bangsanya, bukan orangnya, tetapi amalannya (Memorandum
A. Kronologi Pembangunan Masjid Baitul Izza Baiti Jamak Jamiyyatul Islamiyah dan Penggagalan Peresmian Penggunaan
Islamiyah Masjid Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah Jl. Proklamasi Padang, 2006

J amiyyatul Islamiyah telah berdiri lebih dari 35 tahun. Dengan halaman 4).
berdirinya Dewan Pimpinan Daerah di 23 propinsi Padang merupakan salah satu kota yang dipilih oleh
menunjukkan bahwa organisasi ini telah berkembang pesat. Jamiyyatul Islamiyah untuk mendirikan masjid yang diberi nama
Di beberapa propinsi telah didirikan masjid-masjid Jamiyyatul Masjid Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah yang beralamat di Jalan
Islamiyah yang diresmikan oleh tokoh-tokoh nasional, antara lain: Proklamasi 55 57 Padang. Masjid didirikan di sebuah tanah milik
1. Masjid Ar-Ridlo Baiti Jamak Islamiyah yang terletak di Jl. Al keluarga besar Rose. Sudah sejak lama di atas tanah itu berdiri
Husna Cikunir Jakarta yang diresmikan tanggal 17 Juni 2000 rumah keluarga Rose. Secara hukum, bangunan rumah tersebut
oleh Ketua MPR RI saat itu yaitu Bapak Prof. DR. H. Amin Rais. legal karena memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang
2. Masjid Baiturrahim Baiti Jamak Islamiyah di Batam yang dikeluarkan oleh Dinas Perizinan dan Pengawasan Pembangunan
diresmikan tanggal 28 Maret 2003 oleh Bapak H. Tauq Kiemas. Kota Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Padang dengan
3. Masjid Baiti Jamak Islamiyah di Gorontalo yang diresmikan nomor 314/DP3K-IMB/1992 atas nama Amihar Rose. Dalam IMB
pada tanggal 3 Mei 2002 oleh Gubernur Gorontalo Ir. H. Fadel dinyatakan bahwa izin diberikan kepada Sdr. Amihar Rose alamat
Muhammad. di Jl. Proklamasi 55 Padang untuk mendirikan tambahan bangunan
4. Masjid Baitul Atiq Baiti Jamak Islamiyah Jl. Dr. Wahidin Nomor tingkat.
1 Palembang, diresmikan tanggal 28 Januari 2005 oleh Wakil
Tanggal 11 Agustus 2005 Hj. Enny Rose mengajukan surat
Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Mahyuddin, MS. Sp.Og.
permohonan kepada Pemerintah Walikota Padang tentang Izin
Sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar, bahwa salah Mendirikan Bangunan tambahan keperluan tempat tinggal. Maka
satu usaha yang dilaksanakan Jamiyyatul Islamiyah adalah pada tanggal 15 Agustus 2005 terbit juga Keputusan Walikota
mendirikan masjid, musholla dan balai pengajian (lihat Anggaran Padang Nomor 632/IMB/ TT/Lt.2/PS.02/2005 yang isinya antara lain:
Dasar Jamiyyatul Islamiyah Pasal 8). Secara khusus bertujuan Memberikan Izin kepada Hj. Enny Rose, alamat Jl, Proklamasi
bahwa Jamiyyatul Islamiyah tidak berhenti membangun masjid di Nomor 55 Kel. Alang Laweh Kecamatan Padang Selatan untuk Izin
lokasi-lokasi yang dianggap perlu. Masjid dipersembahkan untuk Mendirikan Bangunan Tambahan Keperluan Tempat Tinggal .
masyarakat luas, karena mendirikan masjid berarti mengajak umat
Tanggal 25 Pebruari 2006 keluarga besar Rose mengadakan
Islam untuk melaksanakan salat. Salat merupakan tiang agama. Oleh
rapat anggota kaum almarhumah Fatimah antara lain memutuskan:
karena itu barang siapa yang mengerjakan salat berarti mendirikan
bangunan yang ada saat ini semaksimal mungkin digunakan untuk

100 101
pemersatu seluruh kaum dan masyarakat sekitarnya. Bila diizinkan oleh enam kamar berjejer lengkap dengan kamar mandi. Secara
Pemda, akan dibangun sarana ibadah. Surat hasil keputusan tersebut keseluruhan, kondisi ruangan sangat bersih dan tertata.
ditandatangani oleh H. Asri Rose sebagai Mamak Kepala Waris.
Untuk mengawali penggunaan masjid tersebut, Pengurus
Proses pengalihan dari rumah tempat tinggal menjadi masjid Jamiyyatul Islamiyah Propinsi Sumatera Barat merencanakan
telah disetujui oleh Walikota Padang melalui Keputusan Walikota peresmiannya oleh salah seorang pejabat. Semula dijadwalkan
Padang Nomor 152 Tahun 2006 tentang Pengukuhan Masjid Baitul Menteri Agama yang akan membuka. Tetapi karena khawatir akan
Izza Baiti Jamak Islamiyah Buya KH Abdul Karim Djamak adanya demonstrasi mahasiswa IAIN, maka beberapa pihak,
Kelurahan Alang Laweh Kecamatan Padang Selatan. Proses khususnya Kepala Kanwil Departemen Agama Propinsi Sumatera
perizinan tersebut dijelaskan Fauzi Bahar Walikota Padang sebagai Barat menyarankan agar Menteri Agama untuk sementara waktu
berikut: tidak ke Padang. Kemudian Pimpinan Jamiyyatul Islamiyah
meminta Gubernur untuk membuka dan akhirnya setuju. Pada
Semula memang pemilik bangunan itu mengajukan izin untuk
surat undangan ditulis bahwa peresmian Masjid Baitul Izza Baiti
sebuah rumah tinggal, bukan untuk pembangunan masjid. Akan
Jamak Islamiyah Buya K.H.A. Karim Djamak akan dilaksanakan
tetapi dalam waktu bersamaan designnya berubah menjadi masjid.
Selasa tanggal 19 September 2006 oleh Gubernur Sumatera Barat H.
Karena pengalihan dari rumah tinggal menjadi masjid memiliki
Gamawan Fauzi, SH. MM. Surat Undangan ditandatangani oleh
manfaat yang lebih besar, maka Pemerintah Kota Padang memberi
Ketua Umum Jamiyyatul Islamiyah Dr. H. Aswin Rose dan Sekjen
izin untuk meneruskan pembangunan dengan pengukuhan
Dr. H. Syaikhu Usman. Di bagian bawah undangan tercatat: Turut
pembangunannya melalui Surat Keputusan Walikota Nomor 152
mengundang yaitu Walikota Padang Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si dan
Tahun 2006. Bangunan masjid pun selesai dan peresmian segera
Penasehat Kehormatan Jamiyyatul Islamiyah Letjen (Purn) DR. Ir.
tiba. Pemerintah kota pun merasa lega karena pada saat bersamaan
H. Azwar Anas Dt. R. Sulaiman.
kita sedang menggalakkan kehidupan Islami, Qurani dan Imani bagi
seluruh warga Kota Padang. Bahkan waktu itu bertepatan dengan Undangan untuk anggota Jamiyyatul Islamiyah di seluruh
awal Ramadhan di mana masjid amat diperlukan untuk Indonesia sudah disebar. Tetapi dua hari menjelang peresmian,
menyemarakkan syiar Islam (Fauzi Bahar; 2006). sejumlah umat Islam mengadakan demonstrasi di sekitar masjid
menolak peresmian masjid tersebut. Sebagian demonstran adalah
Dibanding dengan masjid-masjid lainnya, Masjid Baitul Izza
masyarakat sekitar termasuk jamaah dari masjid terdekat.
terlihat sangat megah. Menurut beberapa sumber, biaya
Akibatnya, peresmianpun gagal. Ketika demonstrasi terjadi, beredar
pembangunan masjid tersebut tidak kurang dari 4 (empat) miliar
selebaran yang menyatakan bahwa pemilik masjid tersebut
rupiah. Jika dilihat sepintas dari luar, bangunan tersebut tidak mirip
merupakan pengikut dari aliran sesat Jamiyyatul Islamiyah.
dengan masjid, tetapi lebih mirip sebuah rumah megah dengan atap
Membaca selebaran itu, masyarakat semakin beringas dan
ciri khas rumah Minang. Tetapi ketika masuk, khususnya di lantai 2,
kemudian mendesak Walikota Padang untuk mencabut surat izin
maka dengan jelas bahwa bangunan adalah tempat salat berjamaah
tersebut dan membongkar bangunannya.
dengan beberapa ciri seperti tempat imam atau lukisan kaligrafi di
sekeliling dinding. Sementara lantai satu didesain untuk sebuah
ruang tamu atau ruang pertemuan. Di bagian belakang ada sekitar

102 103
B. Gugatan Umat Islam terhadap Walikota Padang segera merealisasikan janjinya untuk mencabut SK Walikota Padang
Nomor 152 Tahun 2006 tentang Pengukuhan Masjid Baitul Izza Baiti
Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa rencana
Jamak Islamiyah Jl. Proklamasi Nomor 55 Kelurahan Alang Laweh
peresmian itu dilakukan karena ada izin pengukuhan masjid dari
Kecamatan Padang Selatan. Jika dalam waktu yang telah ditentukan
Walikota Padang. Dalam demonstrasi itu masyarakat Islam
Bapak Walikota tidak menepati janjinya, maka kami akan mengambil
mendesak Walikota agar mencabut surat keputusan tersebut. Umat
tindakan dan akan mengambil sikap mosi tidak percaya kepada Pak
Islam kemudian mengadakan rapat yang dihadiri tidak kurang dari
Walikota karena telah melakukan tindakan pembohongan publik (Surat
50 (lima puluh) orang dari berbagai ormas maupun tokoh
Umat Islam Sumatera Barat kepada Walikota Padang tanggal 10
masyarakat mengatas namakan Umat Islam Sumatera Barat,
Oktober 2006).
tertuang dalam sebuah surat tertanggal 10 Oktober 2006 yang
ditujukan kepada Ketua dan Anggota DPRD Kota Padang. Pada Menanggapi surat tersebut, dalam kesempatan Dengar
tanggal yang sama, kelompok Umat Islam Sumatera Barat juga Pendapat dengan DPRD Kota Padang, Walikota Padang menjelaskan
mengirim surat kepada Walikota Padang perihal Pencabutan SK bahwa Walikota tidak mungkin mengambil keputusan sebelum ada
Walikota Padang Nomor 152 Tahun 2006. pembicaraan antara Jamiyyatul Islamiyah dengan MUI Sumbar
karena yang berhak menyatakan sesat atau tidak adalah Majelis
Dalam surat yang ditujukan kepada Ketua dan Anggota DPR
Ulama Indonesia. Di samping itu, alasan lain, menurut Walikota,
antara lain tertulis:
adalah bahasa surat dari Umat Islam Sumatera Barat yang dinilainya
.....kami memohon bantuan kepada DPRD Kota Padang untuk kurang sopan karena memberikan deadline satu minggu yang
melakukan fungsi kontrol kepada Badan Eksekutif yaitu Walikota dianggapnya pemaksaaan. Setelah dikomunikasikan dengan
Padang karena telah melakukan pembohongan publik dalam hal ini pembuat surat, akhirnya mereka memperbaiki surat itu dengan
tidak menepati janjinya. Serta kami juga memohon kerjasama dari bahasa yang lebih santun.
DPRD Kota Padang untuk mendesak Walikota Padang agar segera
Dengan berbagai pertimbangan dan dalam rangka menjaga
memenuhi janjinya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ajaran
perdamaian, Walikota Padang kemudian mengeluarkan Surat
Jamiyyatul Islamiyah sudah secara nyata dinyatakan SESAT melalui
Keputusan Walikota Padang Nomor 250 Tahun 2006 tanggal 13
Fatwa MUI Sumatera Barat. Demikian juga hasil rapat BAKOR
Oktober 2006 tentang Pencabutan Keputusan tentang Pengukuhan
PAKEM pada bulan September 2006 menyatakan dengan tegas bahwa
Masjid Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah.
ajaran Jamiyyatul Islamiyah sesat dan dilarang (Surat Umat Islam
Sumatera Barat kepada Ketua dan Anggota DPRD Kota Padang
C. Faktor Penyebab Penggagalan Peresmian Masjid
tertanggal 10 Oktober 2006).
Dari berbagai informasi yang berhasil dihimpun, setidaknya
Dalam surat yang ditujukan kepada Walikota Padang, Umat
ada 3 (tiga) penyebab terjadinya protes yang mengakibatkan
Islam Sumatera Barat mengajukan tuntutan serupa antara lain
batalnya peresmian masjid tersebut, yaitu (1) Faktor intern konik
dianggap telah melakukan pembohongan publik:
anggota keluarga; (2) Pengeluaran Surat Izin Pengukuhan Masjid
Untuk itu kami memberikan waktu kepada Bapak Walikota Padang yang tidak sesuai dengan prosedur; (3) Adanya dugaan tentang
agar dalam waktu maksimal 1 (satu) minggu dari tanggal surat ini, ajaran sesat yang dianut oleh jamaah masjid tersebut.

104 105
Konflik keluarga yang menjadi salah satu penyebab membangun rumah. Tetapi ternyata dibuat masjid. Biaya untuk
masyarakat melakukan demonstrasi diungkapkan oleh salah membangun masjid itu sekitar 4,5 milyar. Saya heran mengapa uang
seorang Pengurus DPD Propinsi Sumatera Barat: sebanyak itu dibangun untuk masjid, padahal 300 meter dari masjid
itu ada masjid Al Munawarroh. Kalau mereka berniat baik, berikan
Tanah tempat masjid didirikan merupakan tanah wakaf yang
saja dana itu untuk memperbaiki masjid ini. Atau gunakan saja dana
semula didirikan rumah yang kemudian digunakan untuk tempat
itu untuk membina anak jalanan. Itu lebih berarti. Mereka memang
ibadah. Rencana pembangunan masjid ini sudah disetujui oleh para
pernah mengirim surat kepada pengurus masjid Al Munawarroh
ahli waris. Kami sudah mengirim surat kepada pengurus dua masjid
agar diizinkan untuk mendirikan masjid. Dalam surat balasan, kami
terdekat untuk meminta izin akan adanya rencana pembangunan
sampaikan bahwa agar pengurus Jamiyyatul Islamiyah
masjid. Tetapi tidak ada jawaban. Sementara salah satu keluarga
berkonsultasi dengan pihak-pihak yang berwenang memberikan izin
Rose yang kebetulan jadi pengurus masjid Al Mukminun (terletak
pendirian rumah ibadat (Wawancara dengan Dodi Effendi, M. Pd
sekitar 400 meter dari Masjid Baitul Izza) kurang setuju dengan
tanggal 8 Desember 2006) 7.
pembangunan masjid yang rencananya juga akan dilengkapi dengan
balai kesehatan. Disini memang ada unsur konflik keluarga yaitu Tentang tidak adanya surat izin pendirian masjid yang
tidak adanya kesepakatan terhadap rencana pembangunan masjid menurut kelompok masyarakat merupakan salah satu penyebab
dan balai kesehatan. Hal ini dapat dimaklumi karena dia sebagai timbulnya penolakan dibantah oleh pengurus masjid Baitul Izza
dokter sehingga muncul kekhawatiran akan tersaingi. Ketidakpuasan Baiti Jamak. Mereka mengatakan bahwa rencana pendirian masjid
itulah yang menginspirasinya mempengaruhi jamaah masjid Al itu telah memperoleh surat izin dari Walikota Padang melalui
Mukminun dan masyarakat untuk menentang peresmian masjid Keputusan Walikota Padang Nomor 152 Tahun 2006 tentang
Baitul Izza (Wawancara dengan Dr. H. Azis Jamal, M. Sc. Kepala Pengukuhan Masjid Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah Buya K.H.
Rumah Tangga Masjid Jamiyyatul Islamiyah Propinsi Sumatera Abdul Karim Djamak Kelurahan Alang Laweh Kecamatan Padang
Barat, tanggal 5 Desember 2006).6 Selatan. Salah satu butir keputusan tersebut adalah: Mengukuhkan
masjid Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah Buya K.H. Abdul Karim Djamak
Masalah konflik keluarga nampaknya menjadi salah satu
Jl. Proklamasi Nomor 55 Kelurahan Alang Laweh Kecamatan Padang
alasan penolakan peresmian itu. Sekelompok masyarakat
Selatan, sebagai tempat sarana ibadah dan pembangunan kehidupan
menganggap bahwa pendirian masjid tersebut tidak memenuhi prosedur
beragama di Kota Padang.
yang telah ditetapkan, sebab seharusnya ada persetujuan dari
masyarakat sekitar. Simak ungkapan salah seorang pengurus masjid Dengan terbitnya Surat Keputusan Walikota Padang ternyata
Al Munawaroh: tidak menyurutkan rasa ketidakpuasan masyarakat terhadap
keberadaan masjid Baitul Izza Baiti Jamak. Bahkan sebagian
Mereka (maksudnya pengurus Jamiyyatul Islamiyah, peneliti.)
telah melakukan kebohongan kepada publik. Awalnya mereka 7
Surat mohon persetujuan mendirikan tempat ibadat (masjid) disampaikan
tanggal 23 Maret 2006 kepada Pengurus Masjid Al-Munawwarah Terandam Padang.
6
Pernyataan adanya konflik antar anggota keluarga, yaitu ketidaksetujuan Surat tersebut ditandatangani oleh H. Asri Rose, SH atas nama Mamak Kepala
penggunaan harta warisan untuk digunakan sebagai masjid, juga diungkapkan oleh Waris/Ketua Pembangunan. Balasan dari Pengurus Masjid Al-Munawwarah
Dr. Aswin Rose Ketua DPP Jamiyyatul Islamiyah dalam wawancara dengan disampaikan melalui surat Nomor 31/B/M-AT/IV/2006 tertanggal 5 April 2006
peneliti di tempat kediamannya di Jakarta tanggal 15 Desember 2006. perihal Pendirian Rumah Ibadat.

106 107
menuduh bahwa terbitnya surat keputusan tersebut tidak melalui Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006, peneliti)
prosedur yang sebenarnya tetapi lebih karena adanya kedekatan disebutkan salah satu syarat permohonan pendirian rumah ibadat
antara para pengurus Jamiyyatul Islamiyah dengan beberapa adalah rekomendasi dari Departemen Agama. Di samping itu ada hal
pejabat termasuk pejabat di lingkungan Kota Padang. Terkait lain yang membuat masyarakat merasa tidak puas. Awalnya, izin
dengan tidak lengkapnya dokumen akta resmi pendirian rumah yang dimiliki adalah untuk rumah tinggal, kemudian berubah
ibadat tersebut, Kepala Kantor Departemen Agama Kota Padang menjadi masjid. Mereka ingin meresmikan masjid itu secara besar-
menjelaskan: besaran. Menteri Agama dijadwalkan membuka. Tetapi karena
sedang ada masalah di IAIN Imam Bonjol, saya menyarankan ke
Pembangunan Masjid Baitul Izza Baiti Islamiyah tidak ada
Menteri Agama untuk tidak ke Padang dulu. Kemudian mereka
rekomendasi dari Departemen Agama. Ini jelas melanggar
meminta Gubernur Sumatera Barat untuk membuka. Tetapi
Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri
Gubernur agak ragu karena organisasi Jamiyatul Islamiyyah ini
Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006. Bab IV Pendirian Rumah Ibadat
pernah dilarang oleh Kejaksanaan Tinggi Sumatera Barat pada
Pasal 14. Memang betul bahwa izin pendirian rumah ibadat tersebut
tahun 1985. (Wawancara dengan Drs. H. Darwas Kepala
dikeluarkan oleh Bupati/Walikota. Tetapi, sebelum keluar surat izin
Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sumatera Barat,
tersebut harus ada rekomendasi dari Departemen Agama dan FKUB.
tanggal 7 Desember 2006).
Kemungkinan besar permohonan surat izin mendirikan masjid
disampaikan langsung kepada Walikota. Tetapi semestinya staf Masalah izin rumah ibadat yang tidak sesuai dengan
penelaah. (Bagian Sosial dan Kesbangpol) memberikan pertimbangan prosedur bukanlah hal yang baru terjadi. Beberapa hasil kajian
dan konsultasi dulu dengan Kantor Departemen Agama Kota Puslitbang Kehidupan Keagamaan menunjukkan bahwa pendirian
Padang. Namun kenyataannya tidak. 8 rumah ibadat atau penggunaan bangunan yang bukan rumah ibadat
untuk beribadat sering menjadi salah satu sebab terganggunya
Masalah perizinan yang berujung pada penolakan masyarakat
hubungan antar umat beragama.9 Oleh karena itu diduga kuat ada
terhadap peresmian masjid itu, diungkapkan Kepala Kantor
faktor lain yang menyebabkan penolakan masyarakat terhadap
Wilayah Departemen Agama Propinsi Sumatera Barat sebagai
penggunaan rumah ibadat itu. Faktor tersebut adalah adanya
berikut:
dugaan dari beberapa kelompok masyarakat bahwa pemilik dan
Surat izin mendirikan masjid tersebut memang cacat hukum karena pengguna bangunan rumah ibadat itu mengajarkan aliran sesat.
diantaranya tidak ada persetujuan dari masyarakat sekitar dan tidak Dalam sejarah perkembangan Jamiyyatul Islamiyah, dugaan
ada rekomendasi dari Kantor Departemen Agama. Padahal dalam tersebut bukanlah peristiwa yang baru. Hal itu dapat dilihat pada
peraturan (maksudnya Peraturan Bersama Menteri Agama dan beberapa dokumen:
1. Surat Keputusan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat
8
Disampaikan oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kota Padang Drs.H. Nomor: KEP-B.92/J.3.3/11/1981 tanggal 30 Nopember 1981
Syamsul Bahri pada Rapat Konsultasi dengan Komisi D/Kesra DPRD Kota Padang tentang Larangan terhadap buku Ajaran Jamiyyatul Islamiyah
di Press Room DPRD Kota Padang, Kamis tanggal 12 Oktober 2006 (Lihat Padang
Ekspres, Oktober 2006). Pernyataan senada disampaikan Kepala Kantor Departemen
9
Agama Kota Padang ketika wawancara dengan peneliti di ruang kerjanya tanggal 7 Lihat Hasil Penelitian tentang Riset Aksi Pengembangan Wadah
Desember 2006. Kerukunan dan Ketahanan Masyarakat Lokal Tahun 2002 2004.

108 109
yang dikarang oleh K.H.A. Karim Djamak, kemudian c. Manusia tidak berasal dari Allah tetapi karena pada ibu dan
diperbanyak dan dikembangkan oleh Darussamin Datuk Pangka bapak terdapat Nur Muhammad maka pertemuan keduanya
Sinaro. itu terjadilah anak;
d. Dalam beribadah diperlukan wasilah yaitu Muhammad
2. Surat Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat Nomor B-200/J.3/11/1985
Abdi Rasulullah. Kalau tidak ada wasilah tidak ada yang
tertanggal 27 Nopember 1985 Perihal Keterangan Lanjut Press
menjadi saksi. Melihat hal demikian, maka Kejaksaan
Release Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat tentang
Negeri Sungai Penuh melarang ajaran dan kegiatan
Pengajian Jamiyyatul Islamiyah. Lampiran Surat Keputusan
Jamiyyatul Islamiyah.
tersebut menetapkan dua hal: (1) Melarang pengembangan dan
penyebaran Ajaran Jamiyyatul Islamiyah berdasarkan Buku 4. Majelis Ulama Indonesia Daerah Tingkat I Sumatera Barat pada
Keluarga Besar Jamiyyatul Islamiyah yang dikembangkan oleh tanggal 15 Juni 1995 mengeluarkan sikap tentang keberadaan
Darussamin Datuk Pangka Sinaro; (2) Mewajibkan kepada pihak Organisasi Jamiyyatul Islamiyah di Sumatera Barat tertuang
yang masih menyimpan atau memiliki Buku Keluarga Besar dalam surat Nomor I.52/MUI-SB/VI/1995 yang menyatakan:
Jamiyyatul Islamiyah yang dikembangkan oleh Darussamin organisasi Jamiyyatul Islamiyah yang berada di Propinsi
Datuk Pangka Sinaro untuk diserahkan kepada Kejaksaan Sumatera Barat, sebagian ajarannya sesat dan menyesatkan.
Negeri setempat. Dengan demikian Keputusan Kejaksaan Tinggi Oleh karena itu kami tidak mengakui keberadaannya dan
Sumatera Barat bukanlah melarang pengajian Jamiyyatul mendukung SK Kejati Sumatera Barat yang melarang kegiatan
Islamiyah yang diasuh Buya K.H.A. Karim Djamak, melainkan organisasi ini sejak tahun 1981.
Jamiyyatul Islamiyah berdasarkan buku yang ditulis oleh
Berbagai keputusan tentang penyimpangan ajaran yang
Darussamin Datuk Pangka Sinaro.
dikembangkan oleh K.H.A. Karim Djamak kemudian muncul
3. Keputusan Kepala Kejaksaan Negeri Sungai Penuh Nomor: kembali pada saat akan dilaksanakannya peresmian masjid
KEP-02/0.5.12/Dsb.1/11/1995 tanggal 17 Nopember 1995 tentang tersebut. Beberapa media massa yang terbit di Padang dengan
Larangan Terhadap Ajaran dan Kegiatan Jamiyyatul Islamiyah gencar menurunkan berita terkait dengan keberadaan
yang dikembangkan oleh K.H.A. Karim Djamak. Dalam Jamiyyatul Islamiyah.10
konsideran Menimbang dijelaskan bahwa K.H.A. Karim
Djamak mengajarkan beberapa hal menyimpang dari ajaran
Islam antara lain:
a. Muhammad ada dua yaitu: (1) Muhammad bin Abdullah
yang telah meninggal dan ada kuburannya; (2) Muhammad
Abdi Rasulullah yang bukan laki-laki dan bukan
10
perempuan, tidak binasa; Tulisan tersebut antara lain: Tragedi Alang Laweh oleh Isa Kurniawan
Direktur Eksekutif LSM LAPAN (Haluan, Jumat, 29 September 2006);
b. Ketika salat harus menghadirkan diri seolah-olah berada di Jamiyyatul Islamiyah. Tetap Dilarang (Padang Ekspres, Jumat, 29
Baitullah dan Allah beserta Rasul berada dalam Kabah; September 2006); Fatwa MUI Soal JMI Sudah Jelas. Gusrizal: Izin Masjid
Harus Dicabut (Singgalang, 13 Oktober 2006); Fatwa MUI Sumbar: Ajaran
Jamiyyatul Islamiyah Sesat (Haluan 13 September 2006).

110 111
BAB IV menyampaikan kepada masyarakat bahwa MUI sudah mengakui
ajarannya (Wawancara dengan Gusrizal Gazahar Ketua Komisi
PRO DAN KONTRA
Fatwa MUI Propinsi Sumatera Barat, tanggal 7 Desember 2006)11.
TERHADAP JAMIYYATUL ISLAMIYAH
MUI juga mendesak agar Walikota Padang tidak ragu untuk
mencabut izin Masjid Baitul Izza. MUI menilai Walikota Padang
tidak memiliki sikap yang tegas. Dalam menghadapi para
A. Respon Masyarakat Dan Pemerintah demonstran yang menuntut Walikota mencabut putusannya,
Walikota berjanji akan segera mencabutnya. MUI memandang

R eaksi masyarakat terhadap keberadaan Jamiyyatul


Islamiyah dan khususnya kegagalan peresmian masjid
Baitul Izza Baiti Jamak Islamiyah dapat dilihat dari
pendapat beberapa pihak: 2.
Walikota Padang tidak menepati janjinya karena belum
mencabut surat izin itu dengan alasan menunggu fatwa MUI.
Dosen IAIN Imam Bonjol Padang
1. Majelis Ulama Indonesia Propinsi Sumatera Barat DR. Duski Samad, dosen IAIN Imam Bonjol Padang pada
tahun 1997 melakukan penelitian tentang Jamiyyatul Islamiyah
Majelis Ulama Indonesia Propinsi Sumatera Barat tetap
dan mewawancarai salah seorang yang simpatik pada Karim
berpegang pada Pernyataan Sikap terhadap Keberadaan
Djamak, yaitu Ir. Azwar Anas. Menurut Duski Samad,
Jamiyyatul Islamiyah yang dikeluarkan tahun 1995 bahwa
Jamiyyatul Islamiyah kini hadir dalam bentuk organisasi yang
ajaran Jamiyyatul Islamiyah menyesatkan. Jika Pernyataan
kokoh yang didukung oleh sumber daya manusia yang
Sikap tersebut menyebutkan: sebagian ajaran Jamiyyatul
berpotensi, yaitu mantan pejabat, pejabat, pengusaha maupun
Islamiyah sesat dan menyesatkan, maka MUI Propinsi Sumatera
para profesional. Kehadirannya menimbulkan berbagai polemik
Barat menegaskan kembali bahwa tidak hanya sebagian tetapi
dan unjuk rasa masyarakat Alang Laweh dan ormas Islam
keseluruhan dari ajaran Jamiyyatul Islamiyah itu menyesatkan.
lainnya. Terkait kasus Masjid Baitul Izza, menurut Duski Samad,
Kami tidak membuat fatwa baru tentang Jamiyyatul Islamiyah, tetapi Jamiyyatul Islamiyah tidak mengindahkan prosedur pendirian
hanya mengukuhkan apa yang telah diputuskan MUI Propinsi rumah ibadah dan dianggap sebagai tindakan keliru, maka
Sumatera Barat tahun 1994. Jika sebelumnya ditegaskan bahwa ajaran menimbulkan kecurigaan terhadap banyak hal yang
yang menyesatkan adalah yang dikembangkan oleh Darusamin Datuk disembunyikan.
Pangka Sinaro, maka kami tidak lagi membedakan antara ajaran yang
DR. Duski Samad mengutip hasil wawancara dengan Dr.
dikembangkan oleh Darusamin dengan yang dikembangkan oleh Karim
Aziz, pengurus Jamiyyatul Islamiyah tentang beberapa ayat Al-
Djamak. Terkait dengan masjid tersebut, kami telah mengundang
Quran dan pengertiannya sebagai berikut: (1) Yang dimaksud
pengurus Jamiyyatul Islamiyah dan secara tegas kami nyatakan sikap
ini. Mereka (maksudnya anggota Jamiyyatul Islamiyah; peneliti) diam
11
saja. Dalam beberapa kesempatan, mereka selalu mengatakan minta Pernyataan bahwa keseluruhan ajaran Jamiyyatul Islamiyah sesat
diarahkan dan dibina oleh MUI. Tapi bagi kami itu hanyalah semacam juga diungkapkan Gusrizal dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi
siasat. Sebab kalau mereka pernah berdialog dengan MUI, mereka akan D, DPRD Padang tanggal 12 Oktober 2006 (Lihat Singgalang, 13 Oktober
2006).

112 113
dengan gaib dalam surat Al Baqarah ayat 2 adalah yang ada 4. Walikota Padang
dalam dada kita, yaitu hati, tempat berdirinya nur Muhammad.
Ketika terjadi demonstrasi, Walikota Padang menjadi salah
Nur Muhammad itulah yang sebenarnya diri. Ini harus selalu
satu sasaran karena telah menerbitkan Surat Keputusan
diingat dan disadari terus agar kita selalu bersama Tuhan. (2)
Pengukuhan Masjid Baitul Izza yang kemudian digunakan oleh
Yang dimaksud dengan maqam Ibrahim sebagai tempat salat
Jamiyyatul Islamiyah untuk mengukuhkan keberadaan masjid
seperti yang terdapat dalam Surat Al Baqarah: 125 adalah
tersebut. Menanggapi tuntutan para demonstran dan tuntutan
tempat salat itu di hati. Hatilah yang salat, mengingat Allah. (3)
Majelis Ulama Indonesia, akhirnya Walikota mencabut surat
Q.S. Al Baqarah: 150. Yang dimaksud dengan palingkan
keputusan tersebut. Bagi Walikota, ia menghadapi kondisi yang
wajahmu ke arahnya, bukanlah kabah di Mekkah tetapi kabah
sangat dilematis.
yang ada di setiap hati manusia.
Menyikapi protes dan desakan masyarakat, saya sebagai Walikota
Menurut DR. Duski Samad, pernyataan DR. Aziz tentang
Padang harus mengambil sikap. Kalau tidak, khawatir terjadi
pengertian ayat-ayat di atas, jika merujuk pada tafsir standar
pertumpahan darah dan kerusuhan sosial yang besar. Pemilik masjid
dan terjemahan yang diterbitkan Departemen Agama RI sangat
terus melunak dan berpikiran lebih jernih. Dengan sukarela mereka
jauh berbeda.
menyerahkan masjid itu sepenuhnya untuk kepentingan Pemerintah
3. Pengurus Masjid Al Munawarroh, Mahasiswa S3 Universitas Negeri Kota Padang. Pemerintah Kota Padang diberi kewenangan dan hak
Padang). penuh untuk mengubah nama masjid itu dan menggunakannya untuk
berbagai kepentingan syiar Islam di Padang. Saya pun berada di
Pengurus Masjid Al-Munawaroh Dodi Efendi, M. Pd.,
simpang jalan. Solusi yang amat dilematis akhirnya saya ambil yaitu
yang juga Mahasiswa Program S-3 Universitas Negeri Padang
dengan mencabut Surat Keputusan Walikota tentang Pengukuhan
mengungkapkan tentang keberadaan Jamiyyatul Islamiyah
Masjid Baitul Izza Baiti Jamak. Sekarang semua sudah selesai, masjid
dalam wawancara berikut.
itu sudah dipulangkan kepada empunya untuk rumah tinggal. Di satu
Kami pengurus Masjid Al Munawaroh pernah mengadakan sisi Kota Padang kembali aman. Tetapi di sisi lain jelas kita rugi karena
rapat menjelang peresmian masjid tersebut. Dalam rapat dibahas masjdi itu akhirnya tidak bisa dimanfaatkan. Semua ini saya
adanya tuduhan kesesatan ajaran Jamiyyatul Islamiyah, misalnya pulangkan kembali kepada warga Kota Padang tercinta. (Fauzi
naik haji ke Kerinci, ketika salat harus menghadap gambar atau Bahar, Walikota Padang. Keputusan Dilematis Pencabutan SK
foto Karim Djamak, atau ketika membaca Allahu Akbar dalam Masjid BIBJ Itu Harus Diambil, dalam Haluan, Fokus Minggu,
sholat harus ditambah kata Uwo yaitu panggilan kehormatan Minggu 29 Oktober 2006).
untuk Karim Djamak. Tetapi saya sendiri tidak bisa membuktikan
kebenaran tuduhan itu karena tidak pernah melakukan penelitian B. Respon Jamiyyatul Islamiyah.
secara mendalam. Terkait dengan masjid, memang seharusnya
Bagi warga Jamiyyatul Islamiyah, demonstrasi di luar dugaan
tidak didirikan masjid karena tidak digunakan untuk masyarakat
mereka. Sebagai sebuah organisasi yang mapan, mereka merasa
setempat, dan di sini sudah ada dua masjid yang berdekatan
telah menempuh jalur yang benar. Surat izin penyelenggaraan sudah
(Wawancara tanggal 8 Desember 2006).
dipegang, demikian pula izin dari Dinas Perhubungan mengenai

114 115
penggunaan sebagian badan jalan untuk acara pembukaan tersebut 3. Bahwa dengan mempertimbangkan ha-hal di atas, maka dengan
sudah ada. Demikian juga, permohonan surat izin masjid ke ikhlas pula kami mengembalikan masjid tersebut kepada
Walikota Padang telah dikeluarkan. Ketika demonstrasi terjadi, pemilik aslinya yang berhak untuk menempatinya sebagai
mereka bersikap diam dan tidak melakukan perlawanan. Sikap itu tempat tinggal.
dianggap lebih bijak untuk menenangkan keadaan walau mereka
Sikap warga Jamiyyatul Islamiyah dinilai oleh Walikota
memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melawan.
Padang sebagai sikap yang bijak didasari oleh pikiran jernih. Lebih
Kalau kami mau, kami bisa melawan dengan kekerasan. Pada saat lanjut Walikota Padang mengakui bahwa pimpinan Jamiyyatul
itu jamaah kami sudah berdatangan dari berbagai daerah dan mereka Islamiyah memohon kepada Walikota agar masjid itu tidak dicabut
adalah orang-orang terpilih. Tetapi menahan nafsu bagi kami jauh izinnya dan tidak dibongkar. Mereka menyerahkan bangunan itu
lebih penting. Yang kami harapkan saat itu adalah kami diberi untuk keperluan Pemerintah Kota Padang. Dengan berbagai
kesempatan untuk bertemu dengan anggota kami yang sudah pertimbangan, Walikota tetap mencabut surat keterangan tentang
berdatangan dari berbagai daerah dan menjelaskan kepada seluruh pengukuhan masjid.
anggota bahwa acara peresmian masjid sementara ditunda. Namun
Mengenai tuduhan sebagai aliran sesat yang ditujukan kepada
demikian hal tersebut tidak bisa kami lakukan. (Wawancara
pengikut Jamiyyatul Islamiyah, dalam surat yang dialamatkan
dengan Dr. Aswin Rose, Ketua DPP Jamiyyatul Islamiyah,
kepada Walikota Padang tanggal 16 Oktober 2006, pengurus
tanggal 15 Desember 2006).
Jamiyyatul Islamiyah menyatakan selalu menunggu semua pihak
Menyikapi Keputusan Walikota Padang tentang Pencabutan agar memahami dan mengerti bahwa keputusan Kejaksaan Tinggi
Surat Keputusan Penggunaan Masjid Baitul Izza, pada tanggal 16 Sumatera Barat Nomor Kep-B.92/J.3.3/11/1981 tertanggal 30
Oktober 2006 DPP Jamiyyatul Islamiyah mengirim surat kepada November 1981 ditujukan kepada ajaran yang dikembangkan
Walikota Padang antara lain berbunyi: Darusamin Datuk Pangka Sinaro dan tidak ada hubungan dan tidak
dapat disamakan dengan ajaran yang dikembangkan Buya K.H.A.
1. Bahwa kami seluruh warga Jamiyyatul Islamiyah di seluruh
Karim Djamak.
Indonesia dengan ini menyatakan dengan kesungguhan dan
dengan hati ikhlas menerima keputusan sebagaimana tertera Bilamana ajaran atau praktek-praktek amalan agama yang
dalam SK Walikota berkaitan dengan masjid tersebut. dilakukan warga Jamiyyatul Islamiyah saat ini dianggap tidak
sesuai atau menyimpang dari ajaran Islam, maka dalam berbagai
2. Bahwa pembangunan masjid ini dilaksanakan dengan niat yang
kesempatan pimpinan Jamiyyatul Islamiyah bersedia untuk
tulus karena Allah melalui swadana. Dengan niat yang ikhlas
menerima bimbingan atau berdialog dengan Majelis Ulama
pula kami peruntukkan kepada umat Islam di Sumatera Barat,
Indonesia. Mereka membenarkan tuduhan bahwa sebagian dari
khususnya Kota Padang. Namun, karena adanya hal-hal yang
warga Jamiyyatul Islamiyah bukanlah orang yang secara khusus
menyebabkan peresmian masjid itu ditunda, maka tidak ada
yang dapat kami lakukan selain menyerahkan seluruhnya
kepada Allah dan RasulNya.

116 117
belajar agama. Oleh karena itulah mereka bersedia untuk Kesra mengharapkan agar Menteri Agama mengambil langkah
dibimbing.12 arif dan mengadakan dialog dengan DPP Jamiyyatul Islamiyah,
Prof. DR. K.H. Ibrahim Hosen selaku Pelindung Jamiyyatul
Usaha Jamiyyatul Islamiyah untuk menjelaskan ke berbagai
Islamiyah, K.H. A. Thohir Widjaya selaku Penasehat Jamiyyatul
pihak tentang perbedaan antara ajaran yang dikembangkan oleh
Islamiyah serta Buya K.H.A. Karim Djamak;
Darusamin dengan ajaran Buya K.H.A. Karim Djamak, merupakan
proses yang telah berlangsung lama. Untuk memperkuat usaha itu, 3. Surat pernyataan permohonan maaf dari Darusamin Dt. Pangka
Jamiyyatul Islamiyah memiliki banyak dokumen tertulis antara lain: Sinaro tertanggal 9 Agustus 1993 yang ditujukan kepada Ketua
DPD Jamiyyatul Islamiyah Propinsi Sumatera Barat. Dalam
1. Surat Kawat Menteri Dalam Negeri tertanggal 29 Desember 1986
surat tersebut Darusamin menyatakan menyesali perbuatannya
yang ditujukan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
telah menyusun, memperbanyak dan mengedarkan buku yang
Propinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat serta ditujukan
berisi ajaran Jamiyyatul Islamiyah, tanpa sepengetahuan Buya
kepada Kadit Sospol Medan dan Padang. Isi surat kawat
K.H.A. karim Djamak;
tersebut antara lain: bahwa organisasi Jamiyyatul Islamiyah
dianggap tidak ada masalah. Organisasi tersebut perlu dibina 4. Surat pernyataan 20 Kepala Desa di Kecamatan Sungai Penuh
dan jika ada issue negatif seyogyanya diselesaikan secara Kabupaten Kerinci yang menyatakan bahwa kegiatan
situasional. Mengenai rencana penyelenggaraan Musyawarah Jamiyyatul Islamiyah berupa ceramah agama dan pengajian
Daerah, Ditjen Sospol tidak keberatan, kebijaksanaan diserahkan dirasa tidak meresahkan masyarakat.
kepada di daerah.
Dari berbagai dokumen tersebut, tuduhan adanya ajaran
2. Surat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat sesat yang dikembangkan oleh Jamiyyatul Islamiyah tampaknya
Nomor: B-13/MENKO/KESRA/V/1995 tertanggal 30 Mei 1994 harus dikaji lebih mendalam lagi.
yang ditujukan kepada Menteri Agama RI. Isi surat tersebut
antara lain: setelah membaca dan meneliti kesimpulan dan
pendapat dari Team Sub-Direktorat Pakem Kejaksaan Agung RI,
disampaikan bahwa tidak ada bukti yang kuat yang menyatakan
bahwa Buya K.H.A Karim Djamak mengajarkan hal-hal
menyimpang dari Al Quran dan Hadits. Di akhir surat, Menko

12
Ketika warga Jamiyyatul Islamiyah menyatakan bersedia untuk
dibimbing, kemudian dikonfirmasikan kepada MUI Propinsi Sumatera Barat,
MUI menanggapi sikap itu hanya siasat agar mereka merasa ada yang
melindungi. Demikian juga sikap diam yang diambil waga Jamiyyatul
Islamiyah ketika terjadi demonstrasi, dipahami oleh MUI sebagai
pengakuan bersalah dari Jamiyyatul Islamiyah (Wawancara dengan Gusrizal
Gazahar Ketua Komisi Fatwa MUI Propinsi Sumatera Barat, tanggal 7 Desember
2006).

118 119
BAB V pejabat di lingkungan Kanwil Departemen Agama maupun
PENUTUP Kantor Departemen Agama Kota Padang melihat penyebab
permasalahan adalah karena terkait dengan belum (tidak)
sesuainya prosedur perizinan pembangunan rumah ibadat. Bagi
Pemerintah Kota Padang, penerbitan Surat Keputusan Walikota

D ari uraian singkat di atas, dapat diambil beberapa tentang pengukuhan masjid didasari keinginan untuk
kesimpulan sebagai berikut: mendayagunakan bangunan bagi kepentingan umat Islam.
4. Warga Jamiyyatul Islamiyah menerima segala keputusan
1. Jamiyyatul Islamiyah adalah organisasi sosial keagamaan yang Walikota Padang yang telah mencabut surat keputusan
terus mengembangkan dirinya menjadi organisasi yang solid. pengukuhan masjid dan menyerahkan bangunan masjid kepada
Kegiatan utamanya adalah melakukan pengajian dan Pemerintah Kota Padang untuk kepentingan umat Islam. Hal itu
mengembangkan syiar Islam melalui pendirian masjid. Saat ini didasari keinginan tulus untuk membina hubungan baik dengan
Jamiyyatul Islamiyah memiliki pengikut dari berbagai semua pihak. Berkenaan dengan tuduhan adanya ajaran sesat,
kelompok masyarakat termasuk pejabat, intelektual maupun Jamiyyatul Islamiyah berpegang teguh pada keputusan MUI
tokoh-tokoh nasional. Dalam perkembangannya, Jamiyyatul Propinsi Sumatera Barat bahwa yang dilarang adalah ajaran
Islamiyah mendapat banyak tantangan karena diduga yang dikembangkan oleh Darussamin datuk Pangka Sinaro,
mengajarkan aliran sesat. bukan yang diajarkan oleh Buya K.H. A. Karim Djamak.
2. Kasus penggagalan peresmian Masjid Baitul Izza Baiti Jamak Dari kesimpulan di atas, kajian ini setidaknya
Islamiyah di Kota Padang terjadi paling tidak karena tiga faktor merekomendasikan 4 (empat) hal:
yaitu konflik internal keluarga, prosedur pendirian masjid yang
1. Masyarakat luas khususnya organisasi keagamaan Islam
belum sesuai dengan Peraturan Bersama Menteri Agama dan
hendaknya menanggapi keberadaan Jamiyyatul Islamiyah
Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 serta
secara lebih obyektif, tidak hanya berkaca pada peristiwa yang
dugaan adanya ajaran sesat yang dikembangkan oleh warga
terjadi di masa lalu, namun lebih melihat prospek ke depan
Jamiyyatul Islamiyah. Dari ketiga faktor tersebut, faktor
yaitu sumbangan Jamiyyatul Islamiyah bagi pembinaan umat
terakhir merupakan faktor utama terjadinya penolakan
Islam. Kesediaan anggota Jamiyyatul Islamiyah untuk terus
masyarakat terhadap kehadiran masjid tersebut.
dibimbing dan diarahkan dalam hal pemahaman dan praktek
3. Majelis Ulama Indonesia Propinsi Sumatera Barat menanggapi agama, sebaiknya dilihat sebagai upaya dari Jamiyyatul
peristiwa penggagalan peresmian masjid sebagai wujud Islamiyah untuk terus memperbaiki diri;
keberatan umat Islam karena ajaran sesat yang dikembangkan
2. Kantor Departemen Agama Kota Padang hendaknya terus
Jamiyyatul Islamiyah. MUI tidak lagi membedakan ajaran
melakukan sosialisasi dan memantau proses perizinan rumah
Jamiyyatul Islamiyah yang bersumber dari buku Darusamin
ibadat dengan berpedoman kepada Keputusan Bersama Menteri
Datuk Pangka Sinaro, tetapi keseluruhan ajaran Jamiyyatul
Islamiyah dianggap menyebarkan aliran sesat. Sementara

120 121
Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8
Tahun 2006.
3. Bagi Jamiyyatul Islamiyah sebaiknya selalu berinteraksi dengan
berbagai pihak sehingga menghilangkan kesan eksklusif. Dalam
usaha membangun masjid, Jamiyyatul Islamiyah hendaknya
berkomunikasi dengan masyarakat sekitar dan mengikuti
peraturan yang ada.
4. Terkait dengan dugaan penyimpangan ajaran Jamiyyatul
Islamiyah dari Al Quran dan Hadits, hendaknya Jamiyyatul
Islamiyah mengintensifkan sosialisasi ajaran-ajarannya baik
melalui ceramah di berbagai media maupun penerbitan (buku, PEMIKIRAN FAHMINA INSTITUT
majalah) yang menjelaskan tentang ajaran Jamiyyatul DI KOTA CIREBON
Islamiyah.

Oleh : Drs. H. Muchit A. Karim, M.Pd, APU

122
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


esucian agama tercermin pada ajarannya yang dianggap

K sakral oleh para pengikutnya. Setiap penganut agama


berupaya mengaktualisasikan ajaran agamanya sebagai
acuan normatif dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu
maupun kelompok sebagai manifestasi dari ketaqwaan kepada
Tuhan yang Maha Esa.
Penduduk Indonesia yang majemuk terdiri dari beragam etnis,
sistem nilai sosial budaya, pendidikan dan keyakinan keagamaan,
memungkinkan terjadi berbagai perbedaan persepsi, interpretasi
atau ekspresi keagamaan. Bahkan di kalangan mereka yang berasal
dari dan menjadi penganut agama yang sama. Benda-benda atau
perilaku keagamaan tertentu yang dipandang sakral oleh suatu
kelompok agama, mungkin dianggap sebagai benda atau perilaku
yang biasa-biasa saja oleh kelompok agama yang lain.
Perbedaan intepretasi dan ekspresi keagamaan tersebut,
dalam kondisi dan tingkat tertentu dapat menimbulkan adanya
aliran-aliran keagamaan. Interpretasi atau ekspresi keagamaan dapat
ditimbulkan oleh seseorang atau kelompok orang yang dalam
aktualisasinya cenderung mengambil bentuk gerakan keagamaan.
Pada satu sisi, perbedaan paham keagamaan dapat
memperkaya kemajemukan budaya bangsa, namun di sisi lain
perbedaan dan keberagaman keagamaan dapat menjadi faktor
pemicu terjadinya konflik sosio religius, baik konflik eksternal
maupun internal biasa yang disebut dengan kasus keagamaan aktual
seperti kasus pemikiran keagamaan Fahmina Institute di Kota
Cirebon.

125
Dalam rangka memahami informasi mengenai perkembangan E. Metodologi Penelitian
pemikiran keagamaan Fahmina Institute di Kota Cirebon secara
1. Pendekatan dan Teknik Pengumpulan Data
komprehensif perlu dilakukan kajian secara sistematik dan
mendalam. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan berbagai
informasi berkaitan dengan Fahmina Institute. Informasi
B. Masalah tersebut diperoleh melalui wawancara mendalam kepada para
infoman baik dari kalangan aktifis Fahmina maupun non aktifis.
Yang menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah
Selain itu, pengamatan juga dilakukan untuk mengumpulkan
bagaimana sesungguhnya pemikiran atau aliran/paham keagamaan
informasi berkaitan dengan aktifitas atau kejadian-kejadian yang
yang dikembangkan oleh Fahmina Institute dan bagaimana respon
berlangsung pada saat penelitian terkait dengan Fahmina. Lebih
masyarakat serta pemerintah setempat terhadap paham ini.
lanjut, pendekatan yang sering disebut kualitatif diuraikan
C. Tujuan Penelitian dalam alinia berikut

Melalui kajian ini ingin diperoleh gambaran lebih jelas tentang Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan
aliran Fahmina Institute di Kota Cirebon serta berbagai respon yang dokumen, wawancara terhadap beberapa orang tokoh, dan
dilakukan pihak-pihak terkait. Tujuan kajian ini meliputi hal-hal anggota Fahmina Institute, tokoh-tokoh agama, serta beberapa
sebagai berikut: pimpinan instansi pemerintah yang terkait dalam pembinaan
1. Mengumpulkan informasi tentang masalah-masalah pemikiran dan pelayanan masyarakat. Analisis data dilakukan dengan cara
keagamaan Fahmina Institute, latar belakang kelahiran, tokoh mengambil tema-tema yang sama dari informasi yang
pendiri atau penggaras, keorganisasian, kepengurusan, dikumpulkan . Tema tersebut dihubungkan satu dengan yang
keanggotaan, aktifitas dan paham keagamaan yang lain sehingga membentuk proposisi, tentu saja membandingkan
dikembangkan. dan mewacanakan pemikiran tokoh merupakan teknik analisis
2. Respon masyarakat terhadap pemikiran dan aktifitas organisasi yang dipilih.
Fahmina Institute.
3. Solusi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait.

D. Kegunaan Hasil Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan berguna dan menjadi
masukan berharga bagi pihak-pihak berwenang dalam menentukan
kebijakan. Selain itu diharapkan dapat dijadikan informasi awal bagi
mereka yang berminat untuk melakukan studi secara lebih
mendalam.

126 127
BAB II paling besar pemberian sumbangannya adalah walikota. Terakhir,
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN sekitar bulan September 2003, tercatat dana dari masyarakat lebih
dari 60 juta rupiah. Bahkan ada pembicaraan diantara anggota
dewan, beberapa pengusaha dipungut dana 50 juta per-orang.
Tetapi bagaimana kebijakan penyaluran dana tersebut, tidak ada
publikasi. Masyarakat kecewa. Pengusahapun menggerutu, karena
A. Geografi, Kependudukan dan Pemerintahan pada tahun berikutnya mereka tetap dipungut dengan alasan untuk
dan pendidikan.1

C irebon terbagi menjadi dua daerah administrasi, Kota


Cirebon dan Kabupaten Cirebon. Kota Cirebon terletak di
bagian Timur Provinsi Jawa Barat pada jalur Pantura. Secara
geogras terletak pada posisi 108o-50BT dan 6o-70LS. Luas
Di bidang pembangunan kota, Pemda lebih berorientasi
pada pengembangan perdagangan, dunia usaha dan jasa. Ini terlihat
pada visi dan misi Kota Cirebon yang dicanangkan masa
wilayahnya 3,735 ha, terdiri dari lima kecamatan yang terbagi kepemimpinan walikota. Bisa jadi pendidikan diartikan terbatas
menjadi 22 kelurahan. Wilayah Kota Cirebon memiliki iklim tropis sebagai bisnis jasa pendidikan daripada sebagai hak rakyat untuk
dengan suhu udara 24oC-33oC dan rata-rata 28oC. Kelembaban udara memperoleh pendidikan. Secara konsep, kebijakan-kebijakan daerah
bulanan berkisar 48%-93% dengan kelembaban tertinggi pada bulan memang mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2002
Januari-Maret dan terendah pada bulan Juni-Agustus. Curah hujan tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Kota Cirebon 2000-2004,
rata-rata pertahun adalah 2.751 mm dengan jumlah hari pertahun dan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Program
121 hari. Sebagian wilayah merupakan dataran rendah dengan Pembangunan Daerah Kota Cirebon 2002-2004, mengenai visi, misi
ketinggian berkisar antara 0-40%, dimana lereng meningkat di dan program prioritas. Disebutkan Visi Kota Cirebon, adalah Kota
bagian selatan, wilayah datar dengan kemiringan 0-3% berada di Cirebon menjadi Kota Perdagangan dan Jasa yang Maju pada tahun 2005.
bagian pantai, secara berangsur merupakan daerah berkarakteristik, Dalam penjelasan formalnya, pemerintah Kota Cirebon tidak
dan daerah dengan kemiringan 25-40% merupakan daerah hanya memfokuskan pembangunan daerah pada persoalan bisnis
pinggiran. semata. Pembangunan mal-mal di Kota Cirebon berkembang
meskipun ditentang banyak pihak terutama para budayawan,
B. Kebijakan Pembangunan Kota karena merusak situs dan cagar budaya. Ruang publikpun semakin
Penduduk Kota Cirebon berharap pendidikan akan lebih baik sempit tanpa ada rancangan alternatif yang jelas.
dan lebih maju yang ditangani langsung oleh Walikota. Namun Sebagian besar penduduk Kota Cirebon beragama Islam, tapi
pada kenyataannya kebijakan yang diberikan pada sektor di dalam kehidupan keagamaan, juga terdapat non-muslim.
pendidikan tidak memiliki urgensi maupun signifikansi yang Masyarakat muslim Kota Cirebon patuh melaksanakan kewajiban
menonjol. Ketika mencuat persoalan anak-anak yang drop out, tidak salat lima waktu, menjalankan puasa, menunaikan ibadah haji ke
nampak kebakan yang nyata. Pada tahun 2004 walikota pernah tanah suci. Masyarakat Kota Cirebon gemar pergi ke makam-makam
mencanangkan Dompet Peduli Pendidikan (DPP), dipublikasikan
bekerja sama dengan Harian Lokal Radar. Tercatat orang yang
1
Faqihuddin Abdul Kodir, Op.cit, hal. 31

128 129
suci sebagai tanda haul atau menyampaikan permohonan dan restu kebijakan publik. Nama Fahmina (yang dalam bahasa
sebelum mengadakan sesuatu usaha, pesta atau perlawatan. Arab tertulis dengan harakat kasrah, padahal secara tata
Kepercayaan kepada ceritera-ceritera mite dan ajaran-ajaran agama bahasa mestinya fahmuna, dengan harakat di atas dan
sering diliputi oleh kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib. bulat dlammah), sengaja dipilih sebagai penegasan jati
Upacara-upacara yang berhubungan dengan salah satu fase diri bahwa Fahmina berasal dan berada untuk
lingkaran hidup, atau yang berhubungan dengan haul, atau memberdayakan masyarakat yang berada pada lapisan
mendirikan rumah, menanam padi, yang mengandung banyak bawah (grassroot society), baik secara sosial, politik,
unsur-unsur bukan Islam, masih sering dilakukan.2 maupun gender.3
b. Sejarah berdirinya
C. Lembaga Fahmina
a. Nama lembaga Fahmina-Institute didirikan sebagai lembaga nirlaba dan
non-pemerintah yang bergerak pada wilayah kajian agama,
Lembaga ini diberi nama Fahmina, menurut pendirinya
sosial dan penguatan masyarakat. Bersifat terbuka, dengan
mengandung makna :
keanggotaan lintas etnis, ideologis dan geografis. Pendirian
1) Nama Fahmina diambil dari bahasa Arab dari kata lembaga ini berawal dari pergumulan anak-anak muda
fahmun yang berarti pemahaman, nalar, dan perspektif pesantren Kota Cirebon, yang memunculkan kesadaran
dan kata na (nahnu) yang berarti kita. Dengan demikian, berbagai pihak untuk mengembangkan tradisi intelektual
Fahmina bisa berarti pemahaman kita, nalar kita, atau dan etos sosial pesantren. Pembentukan JILLI (Jaringan
perspektif kita, baik tentang teks keagamaan maupun Informasi untuk Layanan Lektur Islam) di Kota Cirebon
tentang realitas sosial. Nama ini sengaja diambil untuk pada akhir 1999, dan Bildung, digagas sebagai basis
menggugah sebuah kesadaran bahwa apa yang transformasi intelektual pesantren untuk penguatan sosial,
dianggap sebagai kebenaran, dalam tataran melalui kajian karya-karya ulama klasik. JILLI, Bildung
antropologis, sebenarnya adalah baru sebatas maupun forum-forum yang bermunculan saat itu
pemahaman tentang kebenaran. Oleh karena itu, tidak merupakan wadah yang cair, terbuka dan tidak mengikat
selayaknya memaksa kehendak kepada orang lain untuk siapapun. Seiring dengan perkembangan sosial politik, baik
meyakini kebenaran yang dianut. di tingkat nasional maupun di tingkat Kota Cirebon sendiri,
2) Fahmina adalah sebuah pengakuan bahwa kebenaran dipandang perlu mendirikan lembaga untuk mengelola
dan kebaikan bisa ada pada komunitas dan kelompok agenda-agenda pengembangan wacana dan tradisi
manapun. Fahmina juga bisa berarti perspektif atau cara intelektual, penguatan masyarakat, dan pendidikan agen-
pandang terhadap realitas masyarakat Indonesia, yang agen perubahan sosial. Berangkat dari itu semua, pada
pada umumnya berada pada posisi marjinal, lemah, dan bulan November 2000 Fahmina didirikan oleh Aandi
tidak banyak dilibatkan dalam proses perumusan Mochtar, Marzuki Wahid, Husein Muhammad dan

3
Affandi Muchtar, Dustur Fahmina Institute, ditetapkan pada tanggal 20 Juni 2004 di
2
Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indoensia, Jembatan Jakarta, h. 315. Kuningan Jawa Barat.

130 131
Faqihuddin Abdul Kodir. Pada bulan Pebruari 2001 2) Affandi Mochtar
kemudian disosialisasikan ke publik dan didaftarkan pada
Lahir di Kota Cirebon, 12 Pebruari 1964, adalah
Akta Notaris Idris Abas, SH, No. 01 tanggal 03 Januari 2003
seseorang yang penuh inisiatif dan inspiratif. Bukan sesuatu
dengan nama Lembaga Fahmina yang berkedudukan di
yang kebetulan kalau ia mengambil peran dalam pendirian
Kota Cirebon.4
dan pengembangan Fahmina. Dalam pandangan hidupnya,
c. Latar Belakang Pendiri merubah bersama-sama orang lain adalah tugas penting
1) KH. Husein Muhammad manusia. Affandi menempuh salah satu tahap dalam proses
pendidikannya di McGill University Kanada memiliki
Dia dikenal luas sebagai Kyai gender ini lahir di Kota
pergaulan cukup luas, baik lokal, nasional dan
Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953 dari pasangan Kyai Haji
internasional. Meskipun, ia menyadari seluas-luas pergaulan
Muhammad Asyrofuddin dan Ummu Salma Syathori.
seseorang tetap saja ia hanya mengisi salah satu sudut kecil
Suami dari Nihayah Fuad Amin ini dikarunia lima orang
dalam ruang dan waktu yang tak terbatas pembatasnya.
anak, Hilya Auliya (lahir: 1991), Layali Hilwa (lahir 1992),
Muhamamd Fayya Mumtaz (lahir 1994), Najla Hammadah Pada 1987 ia memulai tugasnya sebagai tenaga pengajar
(lahir: 2002) Fazla Muhammad (lahir: 2003). Menempuh di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kota
pendidikan dasar tahun 1966 lalu SLTPN I Arjawinangun Cirebon. Sebagai akademisi, ia aktif menulis dan meneliti.
(1969). Kemudian menempuh pendidikan pesantren di Mulai tahun 2000, ia mengemban tugas di Direktorat
Lirboyo Kediri sampai tahun 1973. Pendidikan tinggi Perguruan Tinggi Agama Islam, Departemen Agama RI
ditempuh di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program-
Jakarta (1980). Terakhir pernah mengenyam pendidikan di program kerjasama perguruan tinggi. Ia menangani
Dirasah Khassah, Al-Azhar Kairo, Mesir tahun 1983. Aktif sejumlah program kerjasama internasional. Terakhir ia
sebagai peserta dan juga sebagai nara sumber dalam terlibat dalam penanganan kerjasama dengan Canadian
berbagai pelatihan, lokakarya dan seminar, baik nasional International Development Agency (CIDA), Indonesia
maupun internasional. Sehari-hari aktif di berbagai kegiatan Australia Institute, Indonesia-Australia Spesialized Training
dan organisasi sosial; pondok pesantren, masjid, ormas NU, Program (IASTP), Indonesia-Netherlands in Islamic Studies
persaudaraan haji, partai politik (PKB), yayasan pendidikan (INIS), dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC)
dan sosial dan sejumlah NGO, terutama Rahima, Puan Amal untuk pengembangan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu
Hayati dan Fahmina. Aktif menulis di media lokal dan Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
nasional dan di forum-forum internasional. Hidayatullah Jakarta. Dia juga terlibat dalam misi-misi
teknis ke beberapa negara seperti Belanda, Mesir, Jerman,
Australia, Sudan, dan Iran.
Di luar konsentrasinya di Direktorat Perguruan Tinggi
Agama Islam, ia tetap menekuni minatnya dalam
4
Satori, Manager Operasional Sekjen Fahmina, Profil Fahmina Institute, Cirebon pengembangan masyarakat. Sejak tahun 2002, ia berperan
Jawa Barat Indonesia, Website: www.Fahmina. 029

132 133
dalam pengembangan program kesehatan reproduksi aktif di gerakan PMII Cabang DI Yogyakarta dan Forum
remaja (Adolescent Reproductive Health) dalam skema Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FKGMNU).
South-South Collaboration antara Lembaga Kesehatan Kini aktif di PP LAKPESDAM-NU Jakarta, Klub pengajian
Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) dengan beberapa Bildung Kota Cirebon dan staf peneliti pada Institute for
lembaga di Malaysia, Thailand, dan India dengan sponsor Culture and Religion Studies (INCReS) Bandung. Buku yang
dari European Commission. Dalam lingkup yang lebih pernah dieditnya adalah Pesantren Masa Depan: Wacana
konkrit, ia kini sedang mengembangkan satu program Transformasi dan Pemberdayaan Pesantren, (Bandung
pelatihan enterpreunership bagi masyarakat berbasis Pustaka Hidayah, 1998), Geger di Republik NU (Jakarta:
pesantren. Melalui lembaga pendidikan Al-Biruni yang Kompas-Lakpesdam NU, 1999), Dinamika NU: Perjalanan
bermarkas di lingkungann pesantren Babakan Ciwaringin Sosial NU dari Muktamar Cipasung (1995) ke Muktamar
Kota Cirebon, ia ingin mewujudkan ambisinya untuk Kediri (1999) (Jakarta Kompas-Lakspesdam NU, 1999)
mengembangkan kemandirian ekonomi masyarakat. Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan
3) Marzuki Wahid Gerakan Gus Dur (Bandung: Rosdakarya-INCReS, 2000).
Kontributor, Tubuh, Eskualitas, dan Kedaulatan Perempuan;
Lahir di Kota Cirebon, 20 Agustus 1971. Setelah Bunga Rampai Ulama Muda, (Yogyakarta : LKIS-Rahima,
menamatkan Madrasah Ibtidaiyah Assunniyyah (1983) di 2001)
Losari Kota Cirebon, ia nyantri di PP Rawdlatut Thalibin
4) Faqihuddin Abdul Kodir
Babakan Ciwaringin Kota Cirebon sambil menyelesaikan
MTsN (1986) di lingkungan Pesantren. Melanjutkan nyantri Suami dari Mimin Muminah dan ayah dari Shiya Silmi
di KH. Ali Maksum PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta Hasif dan Isyqie bin-Nabiy, lahir di Kota Cirebon tahun
hingga menyelesaikan sekolah di MAN I (1989) dan 1971. Menempuh pendidikan dasar di Madrasah
program Sarjana (S1) Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalaga Ibtidaiyyah Wathoniyyah Gintunglor-Susukan-Kota
(1995). Studi Strata 2 (S2) ditempuh di IAIN Syarif Cirebon (1983), lalu memasuki pendidikan pesantren di
Hidayatullah Jakarta (1998); dan sekarang tengah Daar Al Tauhid Arjawinangun Kota Cirebon asuhan Syaikh
menyelesaikan program Doktor (S3) pada Program Abdurrahman Ibn Ubaidillah Syathori dan KH. Husein
Pascarjana IAIN yang sama. Sejak tahun 1998 menjadi Dosen Muhammad (1983-1989). Menyelesaikan Sarjana dari Islamic
Fakultas Syariah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Call College Libya-Cabang Damaskus (1995), Sarjana dari
Kepala Seksi Penelitian dan Pengkajian Ilmiah, Direktorat Fakultas Syariah Universitas Damaskus-Syiria (1996),
Peguruan Tinggi Islam Departemen Agama RI, sejak tahun Diploma Hukum Pidana dan Perdata Islam dari Universitas
2001 hingga sekarang. Khortoum-Cabang Damaskus-Syiria (1997), Master Fiqh,
Ushul Fiqh dari Fakultas Ilmu Wahyu Universitas Islam
Selama menjadi mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga
International-Kuala Lumpur Malaysia (1999). Sepulang ke
Yogyakarta, pernah menjadi ketua umum Senat Mahasiswa
Indonesia (tahun 2000), bergabung dengan Rahima-Jakarta
Fakultas (SMF) Syariah dan aktif di Kelompok Mahasiswa
sebagai sta peneliti (mulai 2000) dan Redaktur Tamu
Pro-Demokrasi (KMPD). Di organisasi ekstra kampus, ia

134 135
Majalah Swara Rahima (2001-2002), bergabung dengan (diskriminasi), dan peminggiran (marjinalisasi) baik
Forum Kajian Kitab Kuning (FK3)-Ciganjur bersama Ibu secara struktural maupun kultutral.
Sinta Nuriyah (mulai 2001), dosen Hadits Ahkam di STAIN
3. Nilai-Nilai
Kota Cirebon (mulai 2001), Sekretaris Eksekuktif (2001-2002),
Direktur Eksekutif (2002-2004), lalu Sekjen di Fahmina- Nilai-nilai yang menjadi landasan pengelolaan lembaga
Institute Kota Cirebon (mulai 2004) adalah: kejujuran dan keterbukaan, konsistensi dan
kemandirian, keragaman dan kebersamaan, kesetaraan
d. Visi, Misi, Nilai dan Tujuan
dan keadilan gender.
1. Visi
a). Kejujuran adalah komitmen untuk mengikatkan diri
Visi perjuangan Fahmina-Institute adalah terwujudnya pada visi transformasi sosial, kapanpun,
masyarakat sipil yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam dimanapun, dan dengan siapapun. Keterbukaan
bersikap, berdaya dalam martabat, dan berkeadilan dalam adalah kesiapan diri untuk berubah ke arah yang
tatanan kehidupannya. Dengan keadilan, setiap orang lebih baik dan terbuka terhadap segala hal untuk
akan berdaya dan memiliki kesempatan untuk menjadi perubahan tersebut.
kuat, baik secara politik, sosial maupun budaya. b). Konsistensi adalah komitmen untuk menghormati
segala upaya perubahan kearah yang lebih baik, bisa
2. Misi
berupa kesepakatan, keputusan maupun aturan.
Misi Fahmina-Institute adalah: mengembangkan dan Kemandirian adalah kemampuan untuk
menyebarluaskan wacana keagamaan kritis, mengembangkan pertanggungjawaban diri secara
memfasilitasi keberdayaan dan melakukan pembelaan jujur, memaksimalkan potensi diri, dan
terhadap masyarakat yang tertindas. Yang dimaksud mengembangkan kreatifitas untuk memutus
dengan wacana keagamaan kritis adalah wacana ketergantungan terhadap kekuatan lain.
reflektif keagamaan terhadap pengalaman hidup c). Keragaman adalah penghargaan dan pengakuan
keterpurukan, kebodohan, kemiskinan dan baik dalam sikap, tindakan, maupun keputusan
ketertindasan, yang dijadikan dasar dalam memahami terhadap perbedaan dan ragam manusia, baik
kembali pemahaman keagamaan dan merumuskan dalam hal ras, suku, kelompok, status, jenis kelamin,
pemahaman yang transformatif untuk ditawarkan pandangan politik, maupun agama. Kebersamaan
kepada masyarakat, dan direfleksikan kembali menjadi adalah tindakan dan perilaku yang membuat orang
pemahaman alternatif agar bisa menjadi motor memiliki kesempatan untuk bisa berkembang,
penggerak transformasi untuk mewujudkan keadilan mampu dan kuat secara bersama, meskipun dalam
sosial. Sedangkan masyarakat tertindas dalam konteks keragaman dan perbedaan.
ini adalah kelompok atau anggota masyarakat yang d). Kesetaraan dan keadilan gender adalah komitmen
mengalami kekerasan, ketidak-adilan, pembedaan keberpihakan terhadap perempuan, sebagai korban
dari struktur sosial yang timpang, untuk

136 137
mewujudkan kehidupan yang lebih adil dan setara 5) Dewan Kebijakan menunjuk salah seorang
secara gender. anggotanya sebagai Sekretaris Jenderal
Fahmina-institute yang menjadi pelaksana
4. Tujuan
harian mempresentasikan Dewan Kebijakan
Tujuan utama pendirian dan keberadaan Fahmina- 6) Masa bakti Dewan Kebijakan adalah dua tahun,
Institute adalah memfasilitasi tumbuhnya agen-agen dan setelah itu dapat diangkat kembali.
transformasi sosial yang mampu membuka ruang-ruang
b. Badan Eksekutif
partisipasi dan menghasilkan kajian-kajian wacana
1) Badan Eksekutif adalah pelaksana kebijakan
keagamaan kritis. Dengan tujuan utama ini, Fahmina-
yang dibuat dan ditetapkan oleh Dewan
Institute:
Kebijakan
a). Mengambil peranan aktif dalam mewujudkan
2) Badan Eksekutif terdiri dari Manajer
kehidupan yang lebih adil,
Administrasi dan keuangan, dan sejumlah
b). Memberikan kesempatan belajar yang lebih luas
Manager Program sesuai dengan kebutuhan
bagi upaya-upaya perbaikan dan perubahan, dan
3) Badan Eksekutif diangkat dan diberhentikan
c). Mempromosikan setiap usaha, karya, sosok dan
oleh Dewan Kebijakan
lembaga yang memiliki komitmen tinggi bagi
4) Badan Eksekutif bertanggung jawab kepada
perwujudan kehidupan yang adil, demokratis, dan
Dewan Kebijakan
berkeadaban.
5) Masa kerja Badan Eksekutif adalah satu tahun
5. Struktur Organisasi 6) Untuk hal-hal tertentu masa kerja Badan
Fahmina-Institute memiliki tiga badan: Dewan Eksekutif sesuai masa letter of agreement/akad
Kebijakan, Badan Eksekutif, dan Staf Pelaksana. kesepakatan yang disepakati dan setelah itu
dapat diangkat kembali
a. Dewan Kebijakan
1) Dewan Kebijakan adalah instansi tertinggi c. Staf Pelaksana
dalam pengambilan keputusan kelembagaan Staf pelaksana adalah Badan Eksekutif dan seluruh
2) Dewan Kebijakan terdiri atas seorang ketua, staf pelaksana yang bekerja untuk masa kerja tidak
seorang sekretaris, seorang bendahara dan tertentu (staf tetap) serta untuk masa kerja tertentu
maksimal empat orang anggota (staf dengan perjanjian kerja). Dan menerima upah
3) Dewan Kebijakan beranggotakan para pendiri sebagai balas jasa atas pekerjaan yang dilaksanakan.
Fahmina Institute yang tidak menjadi badan
eksetutif D. Wewenang, Kewajiban, dan Hak
4) Dewan Kebijakan melengkapi keanggotaannya
1. Dewan Kebijakan memiliki kewenangan: menetapkan dan
sesuai dengan butir (b)
mengubah dustur lembaga; menentukan arah kebijakan strategis
lembaga; memutuskan kebijakan asset, keuangan, dan sumber

138 139
daya lembaga, untuk kepentingan pengembangan dan memperoleh kompensasi sesuai dengan peraturan yang
keberlangsungan lembaga; mengangkat dan memberhentikan berlaku; menggunakan fasilitas lembaga untuk kepentingan
Badan Eksekutif; mengangkat dan memberhentikan staf lembaga sesuai peraturan yang berlaku; melakukan
pelaksana atas usul Badan Eksekutif, meminta konsultasi dengan dewan kebijakan.
pertanggungjawaban Badan Eksekutif.
Dewan Kebijakan berkewajiban : menjaga kelangsungan E. Program Kerja dan Kegiatan
lembaga; membuka akses dan mencarikan alternatif untuk
1. Program Kerja
pengembangan kapasitas lembaga.
Program yang dikembangkan Fahmina-Institute
Dewan Kebijakan berhak : Memberikan konsultasi pada
diorientasikan kepada tiga wilayah sosial-intelektual, sosial-
pengelolaan lembaga dan pelaksanaan program; memonitor dan
budaya dan sosial-politik. Pada periode 2005-2008, program-
mengevaluasi kepada Badan Eksekutif demi kepentingan
program Fahmina akan difokuskan pada pengembangan
lembaga; memberikan persetujuan atau penolakan untuk
perpustakan publik, penelitian peta sosial politik seluruh
bekerjasama dengan pihak lain; memperoleh kompensasi sesuai
wilayah Kota Cirebon, pendidikan dan pendampingan
dengan peraturan yang berlaku; menggunakan fasilitas lembaga
masyarakat marginal, pendidikan kyai-kyai muda, pendidikan
untuk kepentingan lembaga berdasarkan peraturan yang
kader ulama perempuan, pendidikan Islam untuk aktivis
berlaku; mengangkat tenaga ahli untuk membantu pekerjaan
perempuan sekuler, pusat studi ke-Cirebonan, pusat kajian
Dewan Kebijakan.
kebijakan publik dengan perspektif perempuan dan penguatan
2. Badan Eksekutif mempunyai wenang: mengajukan usulan kapasitas lembaga
pengangkatan dan pemberhentian staf pelaksana; mengelola
Program-program yang dikembangkan didasarkan pada
asset, keuangan, dan sumber daya lembaga untuk kepentingan
beberapa acuan dasar di bawah ini :
pengembangan; meminta pertanggungjawaban staf pelaksana;
a. Mengacu pada visi dan misi
mengusulkan kepada dewan kebijakan untuk melakukan
b. Mendasarkan pada rekomendasi pada hasil penelitian
kontrak kerjasama dengan pihak lain kepada Dewan Kebijakan.
pendahuluan (preliminary research).
a. Badan Eksekutif berkewajiban: menjalankan, menaati, dan
c. Berorientasi pada transformasi sosial melalui pengguliran
mengembangkan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan
issue-issue strategis dari kenyataan sosial yang digeluti oleh
oleh Dewan Kebijakan; membina, membimbing, mengawasi,
masyarakat.
dan mengevaluasi kinerja staf pelaksana;
mempertanggungjawabkan pengelolaan lembaga dan d. Mendasarkan pada argumen-argumen teologis pada
pelaksana program kepada Dewan Kebijakan; melakukan khazanah intelektual dan peradaban keislaman, baik klasik
koordinasi antar manajer dalam badan eksekutif. maupun kontemporer
b. Badan Eksekutif berhak : memonitor dan mengevaluasi staf e. Memprioritaskan pada penguatan tiga ranah; yakni sosial-
pelaksana demi kepentingan lembaga; memberikan bahan- intelektual, sosial-budaya, dan sosial-politik.
bahan pertimbangan dan usulan kepada Dewan Kebijakan;

140 141
f. Mengupayakan realisasi program melalui beberapa strategi ini terlaksana bekerjasama dengan berbagai lembaga dan
berikut ini : instansi pemerintahan :
1) Kajian dan penelitian yang berorientasi pada perubahan a. Kegiatan penelitian;
struktur sosial ke arah yang lebih adil. b. Kegiatan Seminar dan Dialog Publik
2) Produksi hasil-hasil kajian dan karya-karya intelektual c. Kegiatan pendidikan dan pelatihan;
bermazhab kritis bagi perubahan sosial
Mengacu pada program-program di atas, Fahmina
3) Pembentukan agen-agen perubahan dan komunitas
Institute sebagai lembaga melaksanakan pendidikan dan
intelektual kritis yang solid
perubahan masyarakat dengan mendirikan perpustakaan publik
4) Fasilitasi tumbuhnya kelompok-kelompok kritis
sebagai wadah yang menyalurkan minat semua orang untuk
strategis, dalam bentuk organisasi rakyat, aliansi-aliansi
mempelajari ilmu yang membebaskan dan bisa berinteraksi
kelas menengah, institusi-institusi yang berkecimpung
dengan dunia yang membangkitkan. Wadah ini diberi nama
tata kelola, yang bergerak memperjuangkan cita
Baitulhikmah yang artinya rumah ilmu dan pengetahuan
keadilan sosial, demokratisasi, dan hak asasi manusia.
sebagai ingatan dan kilas balik terhadap kejayaan Islam pada
5) Advokasi kebijakan publik agar berpihak kepada
masa khilafah Abbasiyah.
masyarakat yang tertindas demi keadilan sosial
Wadah ini mempuyai visi dan misi terbentuknya
g. Berfokus pada masyarakat yang berorientasi pada dua sisi
masyarakat yang secara berkesinambungan melakukan dialog
sekaligus
perubahan dengan berbagai kearifan dan ragam peradaban.
1) ke luar sesuai dengan misi lembaga.
Dengan tujuan :
2) ke dalam, program diorientasikan untuk memperkuat
1. Menumbuhkembangkan budaya baca masyarakat untuk
dan meningkatkan kapasitas SDM Fahmina-institute
kebangkitan peradaban dan perubahan keadilan
dan kaderisasi
2. Mengembangkan tradisi intelektual dan dialog
h. Untuk menunjang program di atas, Fahmina-Institute berpengetahuan dalam kehidupan bermasyarakat
melakukan kegiatan dan usaha lain yang tidak bertentangan 3. Mensosialisasikan karya-karya monumental dunia terhadap
dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. seluruh lapisan masyarakat
4. Memudahkan akses masyarakat terhadap sumber-sumber
Pada tataran administrasi kelembagaan, program-program
pengetahuan
Fahmina diklasifikasi dalam dua wilayah spesifikasi yaitu:
a. Pengembangan Wacana Sosial-Keagamaan Kritis Untuk mencapai empat tujuan di atas, pada tahun
b. Penguatan Otonomi Komunitas perdana Baitulhikmah akan melakukan beberapa kegiatan :
2. Kegiatan Fahmina 1. Pengembangan Perpustakaan Publik
Selama hampir lima tahun, Fahmina telah melakukan Perpustakaan ini akan diisi dengan berbagai kitab referensi
berbagai kegiatan dalam konteks program pengembangan berbahasa Asing (Arab, Inggris, dan yang lain), buku-buku
wacana dan penguatan otonomi komunitas. Program-program kajian kontemporer tentang keislaman, filsafat, sosial, politik

142 143
dan ekonomi. Ke depan akan diupayakan agar perpustakaan Hal yang harus terus dipegang dalam pembacaan
ini bisa melengkapi diri untuk kepentingan studi ke- kontemporer itu, adalah acuan pada prinsip-prinsip tauhid.
Cirebonan. Perpustakaan akan dibuka untuk publik mulai
Pesan-pesan tauhid yang terkandung dalam Al-Quran tidak
bulan Nopember 2005, pas lima tahun kelahiran Fahmina-
diturunkan dalam kondisi hampa budaya. Menurutnya
Institute.
wahyu Allah diturunkan dalam sebuah budaya yang
2. Bulan Bedah Buku diskriminatif, seperti masalah perempuan. Hal inilah yang
menjadi salah satu akar permasalahan yang membuat
Pada setiap tanggal 1 awal bulan, setelah zuhur, di
perempuan menderita karena adanya ketimpangan gender
Baitulhikmah akan diadakan kegiatan bedah buku untuk
dalam masyarakat Indonesia.
buku-buku yang baru diterbitkan, dengan menghadirkan
orang-orang yang berkompeten pada bidang masing- Kondisi semacam ini memperlihatkan bahwa kesulitan-
masing. Bulan bedah buku ini akan mulai diselenggarakan kesulitan yang dihadapinya karena penafsiran konservatif
pada bulan Mei 2005. yang tidak adil terhadap perempuan harus dilawan dengan
gigih.
3. Pengembangan Media Alternatif
(2) Pembelaan terhadap perempuan menurut Husain belum
Untuk memudahkan desiminasi keilmuan dan pengetahaun,
nampak jelas. Feminisme liberal menganggap bahwa
akan dikembangkan media yang bisa menjembatani
ketertindasan perempuan karena perempuan sendiri tidak
kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan dan
bisa bersaing dengan laki-laki maka yang harus dilakukan
pengamalan yang bisa membebaskan ke arah kehidupan
adalah dua cara. Cara pertama adalah melakukan
yang adil dan sejahtera. Pengembangan ini berupa bulletin
pendekatan psikologis dengan cara membangkitkan
resensi buku, dialog buku, pengembangan website dan
kesadaran individu. Cara kedua dengan menuntut
mailing list.
pembaharuan hukum yang tidak menguntungkan
Pada tataran sosial intelektual dan sosial politik dapat dilihat perempuan, dan mengubah hukum ini menjadi peraturan
pandangan-pandangan tokoh pendiri lembaga ini antara lain: baru yang memperlakukan perempuan setara dengan laki-
a. KH Husein Muhammad mengatakan: laki. 5

(1) Teks-teks agama tidak dapat ditafsirkan dan dipahami b. Faqihuddin Abdul Kadir, mengatakan :
secara skripturalis dan statis, sehingga dalam membaca teks- (1) Orang yang melakukan poligami telah merendahkan
teks keagamaan tidak hanya menggunakan pemahaman perempuan dan tidak memandangnya sebagaimana
masa lalu, namun juga nuansa kultural, struktur sosial dan memandang dirinya, poligami ternyata hanya untuk
logiknya. Pemahaman yang lebih tepat adalah dengan kepentingan laki-laki dengan berlindung pada kepentingan-
pembacaan yang sesuai dengan konteks kontemporer
termasuk sisi sejarah dan logika, dan perkembangan sosial. 5
Arif Budiman, Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan Sosiologis
tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1981) h. 41. Dalam Islam
Agama Ramah Perempuan Pembinaan Kyai Pesantren, Fahmina-Institute, hal 11

144 145
kepentingan sosial. Jika poligami dilakukan atas dasar peran dan keterlibatan perempuan yang sangat terbatas.
demikian sebaiknya poligami tidak menggunakan dalil-dalil Wajah busuk kekuasaan, yang porosnya adalah penindasan,
agama. Sebab misi agama jauh lebih mulia daripada sekedar memang kemudian tidak akan mempertimbangkan aspek
membenarkan perasaan nafsu biologis yang berakibat derita gender. Sumber ketidakadilan itu yang membuat perkara
lahir batin perempuan. kesepakatan kemudian jadi masalah. Sektor wisata hanya
usaha untuk menjual potensi, bahkan berujung pada
Al-Quran dan sunah datang untuk menegaskan semangat
bagaimana bisnis pelacuran dan perdagangan perempuan
kritik terhadap poligami. Dengan semangat kritik ini,
marak. Posisi perempuan yang tersudut dan terkucil itulah,
poligami tidak bisa dijadikan pilihan perkawinan dalam
yang kemudian menjadikan kebijakan publik, tidak sensitif
Islam. Islam justru memilih monogami sebagai perkawinan
dan tidak peka terhadap kalangan perempuan.7
ideal, yang lebih menempatkan laki-laki dan perempuan
Dalam Buletin Jumat Waraqatul Bashar yang diterbitkan
secara adil dan setara.6
Fahmina memuat tulisan tentang pluralisme, jilbab sebagai
(2) Dalam sebuah bukunya yang berjudul : Bukan kota wali, budaya Arab.8
Relasi Rakyat Negara dalam Kebijakan Pemerintah Kota
Menyuguhkan sebuah realitas mikro bagaimana nasib
rakyat yang terlantar. Bidang yang disoroti adalah
pendidikan dan kesehatan yang masih meninggalkan
pekerjaan rumah. Pekerja pendidikan belum optimal.
Demikian pula halnya yang bergerak pada bidang kesehatan
masih berhadapan dengan problem akses dan
keterjangkauan layanan berkualitas. Faqih menyatakan
bagaimana pendidikan dan kesehatan menjadi dasar utama
keberhasilan sistem politik. Kekuasaan yang mengabaikan
dua masalah tersebut berhadapan dengan: merosotnya
kualitas sumber daya manusia, rendahnya tingkat
kompetensi daerah dan yang mencemaskan hilangnya
generasi. Jawabannya adalah peran kalangan usaha
menyelesaikan persoalan utama ini.
(3) Perspektif kebijakan yang ditempuh pemerintah kota tidak
peka gender. Hal tersebut terlihat dalam perancangan
anggaran maupun perumusan kebijakan tampak bagaimana
7
Faqihuddin Abdul Kadir, Dewi Laily Purnamasari, Ipah Jakrotaunnasiyah, Obeng
Nur. Rasyid, Bukan Kota Wali Relasi Rakyat-Negara Dalam Kebijakan Pemerintah Kota,
Penerbit Kutub Fahimna h. XXXIV
6 8
Faqihuddin Abdul Kadir, 2005, Memilih Monogami Pembacaan Atas Al-Quran dan Prof. Dr. Salim Badjeri, Aktivis Forum Umat Islam Cirebon, Wawancara tanggal 28
Hadits Nabi, Penerbit Pustaka Pesantren (Kelompok Penerbit LKIS) Yogyakarta. Setpember 2006 di Cirebon

146 147
BAB III Budi Firmansyah, seorang peserta demonstran menyatakan LSM
Fahmina disegel karena telah menolak pengesahan RUUAPP. Aksi
RESPON MASYARAKAT, TOKOH AGAMA
penyegelan ini sebagai bentuk penekanan terhadap aktifitas LSM
DAN POTENSI KONFLIK tersebut.9
Sekretaris gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat Forum
Ukhuwah Islamiyah (FUI) Alan Pasha mengatakan memiliki
sejumlah bukti keterlibatan Fahmina dalam jaringan Islam Liberal.
A. Respon Pemicu Potensi Konflik Dengan menggunakan dana dari Asia Foundation, Fahmina
melakukan kegiatan indoktrinasi sekuler kepada masyarakat.

P
aham yang dikembangkan para tokoh Fahmina Institute
Selama ini Fahmina memperjuangkan persamaan gender yang
memperoleh tanggapan dari berbagai kalangan. Hal itu
dimulai dengan menentang Rancangan Undang-Undang Pornografi.
bisa dilihat dari adanya ribuan orang yang tergabung dari
Karena alasan itu, FUI menyegel kantor Fahmina.
berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) dan partai
beraliran Islam yang berunjuk rasa mendukung Rancangan Undang- Husein Muhammad, Ketua Fahmina tidak merasa tertekan.
Undang Anti Pornogra dan Pornoaksi (RUUAPP), Minggu 21/5- Namun, teman-teman dan sesama pengurus lainnya merasa
2005. Aksi diwarnai penyegelan kantor Lembaga Swadaya diintimidasi dengan kejadian itu. Maka mereka berencana
Masyarakat (LSM) Fahmina Institute oleh sebagian masyarakat, melakukan proses hukum untuk menjamin keselamatan mereka.
karena LSM ini dinilai menolak RUU APP. Ketika ditanyakan apakah Fahmina pernah mengeluarkan
pernyataan menolak keberadaan Rancangan Undang-Undang Anti-
Demonstrasi yang diikuti antara lain oleh massa dari Forum
Pornografi dan Anti-Pornoaksi, Husein menyatakan mereka sama
Ukhuwah Islamiyah (FUI), Mujahidin, Hizbut Tahrir, GP Anshar,
sekali belum pernah mengeluarkan pernyataan resmi tentang RUU
PKS dan lainnya itu dimulai pukul 08.00 WIB. Setelah berkumpul di
itu.10
lapangan Kesepuhan Kota Cirebon, massa melakukan long march
menuju alun-alun Kejaksaan. Sesampainya di alun-alun Kejaksaan, Penyegelan kantor Fahmina Institute seperti yang
dengan dikawal ratusan petugas Polresta Cirebon, massa membuat dilaporkan oleh Tempo pada saat mengutip pernyataan Gus Dur
barisan hingga menutup jalan raya dan berorasi. Massa ketika menghadiri dialog lintas agama di Gedung PKK di Jalan RE
membubarkan diri dari lapangan Kejaksaan sekitar pukul 11.00. Martadinata, Purwakarta pada Selasa 22 Mei 2006. Saat itu dia
mengatakan bahwa Al-Quran merupakan kitab suci paling porno.
Tetapi, puluhan massa lain melanjutkan aksinya menuju
Pernyataan yang dilontarkan Abdurahman Wahid menjadi
Kantor LSM Fahmina yang terkenal memperjuangkan pluralisme
pembicara dalam dialog bertajuk Pluralisme dalam Bingkai
dan gender itu, puluhan orang mulanya ingin bertemu dengan
Masyarakat Mandiri, yang diadakan Gerakan Pemuda Anshor,
pimpinan LSM. Karena hanya ditemui stafnya, massa
Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan organisasi
menyampaikan pesan untuk pimpinannya agar Fahmina ditutup.
kepemudaan non-Islam. Pernyataan itu oleh FUI dianggap melukai
Bersamaan dengan itu, massa menempelkan poster di pintu dan
dinding kantor LSM Fahmina dengan tulisan-tulisan antara 9
Massa segel Kantor LSM Fahmina, dianggap tolak RUUAPP, Tribun Jabar Senin 22
lainFahmina dan Ford Foundation Antek Asing, Fahmina dan Ford Mei 2006
10
Foundation Racun, Fahmina ditutup karena menjual ayat-ayat Allah. Koran Tempo, Lembaga Fahmina Institute Laporkan Forum Ukhuwah Islamiyah,
Koran Tempo, 23 Mei 2006

148 149
perasaan umat Islam karena menafsirkan Al-Quran dengan yang banyak meresahkan masyarakat. Bahkan, secara tegas H. Azis
sekehendak logika pribadi.11 Rasyid menyatakan bahwa yang diusung kelompok Fahmina
Institute berbau anti-Islam dan meresahkan masyarakat sehingga
Sebaliknya forum ulama setempat dari kalangan Pondok
memancing kemarahan umat Islam.
Pesantren, Garda Bangsa, Gerakan Pemuda Anshor mendesak
aparat pemerintah bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok Azis mengakui dirinya sering bergabung dengan FUI untuk
yang dianggap melecehkan agama. menetralisir adanya hubungan baik antar berbagai kalangan ormas
Islam di Kota Cirebon. Tetapi dia menghimbau Fahmina agar jangan
B. Respon Potensi Kerukunan dengan sengaja menjelekkan umat Islam.12
Saling melontarkan opini antara Forum Ukhuwah Islamiyah Sesepuh NU Kota Cirebon yang juga pimpinan Pondok
(FUI) Kota Cirebon dengan LSM Fahmina Institute mengundang Pesantren Kempek Ayip Usman dan intelektual NU Prof. Dr. H.
keprihatinan banyak pihak. Salah satunya Hizbut Tahrir Indonesia. Maksum Muchtar menyayangkan kejadian penyegelan Fahmina.
Pengurus DPD HTI Jawa Barat, Arif Rahman Hakim, Ketua HTI Menurut mereka, perbedaan ide-ide dapat diselesaikan dengan
Kota Cirebon, Ir. Aksana Widyatmaka didampingi Humas HTI Kota dialog dan diskusi, bukan dengan intimidasi kekerasan.
Cirebon Abdullah Sukarto, SE, menyayangkan terjadinya hal
Keduanya memandang bahwa aktivitas Fahmina dan ide-
tersebut.
idenya masih wajar, karena masing-masing memiliki perspektif
Baginya, dibalik konflik tersebut ada upaya sistematis untuk sendiri-sendiri dalam mensikapi suatu masalah.13
mengalihkan fokus umat dari upaya pemberantasan pornografi dan
pornoaksi menjadi fokus perseteruan FUI dan Fahmina. Baik Arif,
Aksana mupun Abdullah meminta masyarakat untuk tidak terjebak
dalam konflik tersebut. Sebab akibatnya bisa melupakan agenda
menegakkan syariat Islam dalam memberantas pornografi dan
pornoaksi.
Gerakan atau ormas Islam maupun pesantren, adalah aset
umat bagi tegaknya syariat Islam. Jika terjadi konflik terbuka antar
gerakan atau ormas Islam dengan pesantren, tentu yang akan
bertepuk tangan adalah kelompok sekuler dan musuh-musuh Islam.
Dan jika berlarut-larut, sudah pasti banyak agenda penegakan
syariat Islam menjadi terbengkalai dan yang merugi adalah umat
Islam sendiri.
Ada statemen menarik yang disampaikan sesepuh NU Kota
Cirebon, H. Azis Rasyid tentang kiprah dan sikap aktivis Fahmina
Institue. Beliau prihatin atas tindak tanduk para aktifis Fahmina
12
Radar Cirebon, HTI Imbau Waspadai Pihak Ketiga, Sabtu 27 Mei 2006
11 13
Ibid Radar Cirebon, Hindari Konflik Horisontal, Senin 29 Mei 2006

150 151
sipil yang memiliki kepekaan untuk melakukan perubahan
BAB IV
struktur sosial ke arah yang lebih adil. Dengan struktur yang
PENUTUP adil, setiap orang akan berdaya dan memiliki kesempatan
untuk bisa menjadi kuat, baik secara politik, sosial maupun
budaya.
b. Misi, mengembangkan dan menyebarluaskan wacana
A. Kesimpulan keagamaan kritis, memfasilitasi kebersamaan dan
1. Fahmina Institute merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan pemberantasan terhadap masyarakat yang
yang bergerak di bidang kajian agama, sosial dan masyarakat tertindas.
dan bersifat terbuka dimana anggotanya terdiri atas lintas etnis, c. Landasan pengelolaan lembaga, adalah nilai-nilai kejujuran
ideologis dan geografis. Pendirian ini berawal dari pergumulan dan keterbukaan, konsistensi dan kemandirian, keragaman
anak-anak muda pesantren Kota Cirebon yang sadar untuk dan kebersamaan, kesetaraan dan keadilan gender.
mengembangkan tradisi intelektual dan etos sosial pesantren. d. Tujuan utama, adalah memfasilitasi tumbuhnya agen-agen
transformasi sosial yang mampu membuka ruang-ruang
Pembentukan JILLI (Jaringan Informasi untuk Layanan Lektur partisipasi dan menghasilkan kajian-kajian wacana
Islam) di Kota Cirebon, pada akhir tahun 1999 dan Bildung keagamaan kritis.
digagas untuk mengembangkan sistem transformasi intelektual
pesantren demi kepentingan sosial melalui kajian-kajian karya 4. Kegiatan Fahmina-Institute diprioritaskan pada penguatan
ulama klasik. Seiring dengan perkembangan sosial politik, baik ranah, yaitu sosial-intelektual, sosial budaya dan sosial politik.
di tingkat nasional maupun tingkat Kota Cirebon sendiri, Dari kegiatan-kegiatan tersebut nampak paham/pandangan-
dipandang perlu mendirikan lembaga yang bisa lebih efektif pandangan komunitas ini antara lain :
mengelola agenda-agenda pengembangan wacana dan tradisi a. Pemahaman terhadap teks-teks agama menurut komunitas
intelektual, penguatan masyarakat dan pendidikan sebagai ini tidak bisa ditafsirkan semata-mata secara skripturalis dan
agen-agen perubahan sosial. statis. Dengan begitu ketika membaca teks-teks keagamaan,
2. Pada bulan November 2000 Fahmina didirikan oleh Aandi seharusnya tidak hanya menggunakan pemahaman masa
Mochtar, Harzuki Wahid, Husein Muhammad, dan Faqihuddin lalu tetapi juga pada nuansa-nuansa kultural, struktur sosial
Abdul Kadir. Pada Februari 2001 disosialisasikan ke publik dan dan logiknya. Hal yang harus dipegang secara terus
didaarkan pada Akta Notaris Idris Abas, SH, No. 01 tanggal 23 menerus dalam pembacaan kontemporer adalah acuan pada
Januari 2003 dengan nama Lembaga Fahmina yang prinsip-prinsip tauhid. Pesan-pesan tauhid yang terkandung
berkedudukan di Kota Cirebon. dalam Al-Quran tidak diturunkan dalam kondisi hampa
budaya, sebaliknya diturunkan dalam sebuah kebudayaan
3. Fahmina-Institute mempunyai : yang sangat diskriminatif, termasuk terhadap perempuan.
a. Visi terwujudnya masyarakat sipil yang kritis dalam
berpikir, terbuka dalam bersikap, berdaya dalam martabat b. Poligami menurut Fahmina adalah merendahkan
dan berkeadilan dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat perempuan dan tidak memandang perempuan sebagaimana

152 153
memandang dirinya. Sebaliknya poligami tidak itu dan tidak setuju bila menyelesaikan masalah dengan cara
menggunakan dalih-dalih agama, sebab menurutnya misi kekerasan. Seharusnya perbedaan ide diselesaikan dengan
agama jauh lebih mulia daripada sekedar membenarkan dialog dengan semangat kekeluargaan.
nafsu biologis yang berakibat derita lahir batin perempuan.
B. Saran
Islam datang mengkritik poligami, sehingga poligami tidak
dapat dijadikan pilihan perkawinan dalam Islam. Islam 1. Perlu adanya saling pengertian dan kerjasama di kalangan
justru telah memilih monogami sebagai pernikahan ideal. pimpinan berbagai institusi, baik pemerintah maupun
masyarakat di Kota Cirebon. Jangan sampai ternodai oleh
c. Masih rendahnya perhatian pekerja pendidikan yang
provokasi dan interes kurang sehat dari beberapa oknum yang
hanya bergerak pada persoalan lama, pemerataan dan
mengatasnamakan agama atau simbol kebenaran lain yang
kualitas. Masalah kesehatan masih berhadapan dengan
dapat mengakibatkan keonaran, penistaan atau tindakan-
problem akses dan keterjangkauan layanan berkualitas. Jika
tindakan massa lainnya yang merugikan. Untuk itu perlu
mengangkat persoalan sebaiknya pendidikan dan kesehatan
didorong terus menerus agar tercapai tujuan bersama, yaitu
dijadikan dasar utama untuk menilai sebuah sistem politik.
Islam sebagai rahmatan lil-alamin
Dua hal inilah yang menentukan kualitas sumber daya
manusia. Pemerintah kota dipandang tidak peka gender 2. Kepada semua pihak untuk saling mengingatkan akan
dengan membatasi peran langsung perempuan dalam kebenaran ajaran Islam dalam melaksanakan dan
kegiatan sosial kemasyarakatan. mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam
harus menerus menyempurnakan pemahaman dan
5. Masyarakat menilai bahwa Fahmina adalah lembaga yang
pengamalannya terhadap ajaran Islam. Kepada pihak-pihak
mengembangkan dan menyebarkan pluralisme agama,
yang terkait khususnya kantor Departemen Agama Kota
sekularisme dan liberalisme. Melalui penerbitan bulletin Jumat
Cirebon untuk lebih meningkatkan perannya melakukan
Waraqatul Basyar yang memuat isyu-isyu liberalisme.
pembinaan kerukunan intern umat beragama mengingat masih
6. Respon masyarakat terhadap kelompok ini diklasifikasikan banyak orang Islam yang masih belum memahami dan
menjadi dua yaitu respon yang berpotensi menumbuhkan mengamalkan ajaran Islamnya secara baik dan benar.
konflik dan respon yang berpotensi menumbuhkan kerukunan.
a. Respon yang berpotensi konflik bisa dilihat pada kasus
penyegelan Kantor Fahmina di Jalan Suratno, karena
informasi yang menyatakan bahwa orang-orang di Fahmina
menolak Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan
Pornoaksi (RUU APP). Massa menyegel kantor ini karena
dianggap antek asing dan Yahudi.
b. Respon yang berpotensi kerukunan beberapa tokoh
menyayangkan dan merasa prihatin atas kasus penyegelan

154 155
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Affandi Muchtar, Riwayat Hidup, Profil Fahmina-Institute, Kubu


Fahmina, Kuningan 20 Juni 2004
Dewi Laily Purnamasari dkk, 2006, Bukan Kota Wali, Relasi Rakyat
Negara dalam Kebijakan Pemerintah Kota, Kutub Fahmina
Kota Cirebon
Faqihuddin Abdul Kadir, Memilih Monogami, 2006 Pembacaan Atas IKATAN JAMAAH AHLUL BAIT INDONESIA
Al-Quran dan hadtis Nabi, Penerbit Pustaka Pesantren
(Kelompok Penerbit LKIS Yogykarta) (IJABI)
Husain Muhamamd, Islam Agama Ramah Perempuan Pembelaan Kiai DI JAWA BARAT
Pesantren, Fahmina Institute LKIS Yogyakarta, 2004
Oleh : Drs. Wakhid Sugiyarto, M.Si

156
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

K asus-kasus keagamaan yang muncul dan


dipersoalkan secara besar-besaran di kalangan umat
Islam adalah sejak berdirinya Persyarikatan
Muhammadiyah di Yogyakarta oleh KH. Ahmad Dahlan, 18
Nopember 19121. Sejak saat itu gugatan atas pemahaman agama
Islam yang bercampur dengan tradisi, takhayul, bidah dan khurafat
terus menguat dari para pendukung Persyarikatan. Gerakan
Muhammadiyah memicu tumbuhnya kesadaran akademis di
kalangan intelektual muslim Indonesia.

Berangkat dari tumbuhnya kesadaran itu, agama Islam yang


dipeluk sebagian besar penduduk Indonesia mengalami
perkembangan sangat menakjubkan. Bentuk perkembangan yang
menyolok adalah meningkatnya kesalehan normatif (santrinisasi)
maupun kesalehan sosial. Perubahan sosial keagamaan ini menjadi
sangat fenomenal baik dalam ideologi, ritual, intelektual, ekspresi
maupun gerakan sosial sejak awal abad 20 lalu. Di kalangan muslim
tradisional, rupanya tidak dapat menerima wacana kritis dan
gerakan dekonstruksi berbagai tradisi dengan memproduksi
keyakinan baru yang berbeda dengan umumnya kaum muslimin
waktu itu. Kalangan muslim tradisional yang dipelopori oleh KH.
Hasyim Asyari dan KH. Wahab Chasbullah, mendirikan Nahdhatul

1
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 1942, LP3ES, Jakarta, hal.
84

159
Ulama (NU) di Surabaya2. NU didirikan sebagai representasi di Indonesia, namun memiliki pengaruh sangat besar dalam
eksistensi kelompok tradisional dan produksi pemikiran dan paham berbagai bidang kehidupan, seperti bidang sosial, ekonomi,
tradisional. pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan sebagainya.

Persoalan-persoalan yang digugat oleh kalangan Adapun NU sebagai kelompok tradisional atau konservatif,
Muhammadiyah itu akhirnya menimbulkan perdebatan sengit antar diikuti oleh kalangan santri pedesaan, atau orang-orang kota yang
dua ormas besar di seluruh pelosok tanah air. Perbedaan itu cara berfikir keagamaannya masih berdasarkan pada tradisi
terkadang diikuti dengan perebutan masjid, karena teknis ritual keagamaan tersebut. Kelompok tradisional, memiliki simpatisan
yang berbeda akibat dari perbedaan rujukan dan perbedaan yang sangat besar di Indonesia, dan memiliki potensi sangat besar
penafsiran teks al-Quran dan al-Hadits3. Perdebatan dalam masalah jika dikelola secara baik. Harapan ini tidak mudah untuk dicapai,
khilafiyah itu menyeret keduanya hingga saling menyesatkan dan sebab kondisi sosio cultural pendukung tradisi ini sebagian besar
saling mengejek. Sementara itu Muhammadiyah (meminjam istilah masih tergolong penyandang masalah kemiskinan dan kebodohan,
Abdul Azis yang mendefinisikan realitas dari identitas kultural atau termasuk mereka yang juga terpinggirkan.
simbol) dengan keberadaannya tidak menimbulkan resistensi dari
Masyarakat yang tidak berdaya secara keagamaan ini
kalangan tradisional. Secara pelan tetapi pasti, usaha mendefinisikan
menjadi penyangga utama bagi eksistensi lembaga kekyaian di
realitas dan identitas kultural itu telah berhasil memaksa kaum
pedesaan. Tidak mengherankan jika mereka resah dan memusuhi
tradisional menerima kehadirannya secara sukarela. Bahkan
kelompok-kelompok baru yang berbeda. Kehadiran paham dan
kemudian, Muhammadiyah menjadi mainstream tersendiri yang
gerakan keagamaan baru selalu dianggap sebagai rival bahkan
kokoh dan pelopor di antara kelompok-kelompok keagamaan dalam
ancaman. Seperti munculnya Lembaga Dakwah Islam Indonesia
mainstream modernis.
yang memiliki metode yang mirip dalam memanfaatkan sumber
Pada masa berikutnya, karena deprivasi keagamaan daya jamaahnya. Apapun alasannya, untuk pengembangan agama
muncullah berbagai organisasi yang berdiri belakangan dan menjadi atau sabilillah, secara substansial adalah sebangun.
pendukungnya. Kondisi seperti ini sama dengan kondisi yang
Pada waktu mendatang, organisasi sosial keagamaan dari
dialami oleh kalangan tradisional4. Mainstream modernis, menurut
kedua mainstream di atas akan terus bermunculan. Tidak ada kotak
Deliar Noer adalah kalangan terpelajar di kota-kota. Simpatisannya
lain yang tersedia. Kelompok sosial keagamaan apapun namanya,
diperkirakan hanya sekitar 35 % dari jumlah umat Islam yang ada
akan selalu dapat ditarik benang merahnya dengan kedua
mainstream yang telah mapan itu. Beberapa organisasi sosial
2
Deliar Noer, Ibid. hal. 235 -237. keagamaan modernis adalah Persis (KH. Zam-Zam, Bandung 1920)5,
3
Ibid, hal. 7-8. Lihat pula bukunya Siradjuddin Abbass, Empa Puluh Masalah Agama.
Dalam buku ini terlihat begitu kerasnya perdebatan persoalan-persoalan agama yang
dipersoalkan oleh kalangan modernis.
4
Wakhid Sugiyarto, Respon terhadap Aliran Sempalan di Indonesia: Kajian terhadap
5
Jemaat Ahmadiyah dan Hindu Tamil di Kota Medan, 2006, Ibid, hal. 84.

160 161
Persyarikatan Ulama (KH. Abdul Halim, Majalengka 1911)6, Di kalangan Sunni di Indonesia yang terdiri dari berbagai
Syarikat Islam (SDI, H. Syamanhudi, Solo 1906 dan menjadi SI 1911), kelompok keagamaan, juga ada yang mengklaim akan masuk surga
Sumatra Thawalib (Haji Rasul 1919)7, LDII (KH. Nur Hasan 1948)8, sendirian, sementara yang lain masuk neraka. Di kalangan muslim
DDII (M. Natsir Jakarta 1968) dan sebagainya. Sementara itu di Sunni modernis yang puritan memiliki pengalaman wacana akan
kalangan mainstream tradisional setelah lahirnya Nahdhatul Ulama masuk surga sendirian itu, sekaligus menunjuk yang lain masuk
(KH. Wahab Khasbullah, Jombang 1926)9, muncul Persatuan Umat neraka (Islam Jamaah dan LEMKARI pernah menuduh sesat
Islam (PUI) sebagai jawaban atas munculnya Persyarikatan Ulama)10, kelompok lainnya dan masuk neraka).
Al- Washliyah (Medan), Mathlaul Anwar (Menes), DDI (Sulsel),
Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di kalangan
Nahdhatul Waton (NW, Mataram), PERTI (Bukit Tinggi)11 dan lain
tradisional. Di kalangan ini tidak ada klaim-klaim kebenaran pada
sebagainya.
tataran syariat, karena semua ajaran boleh-boleh saja sesuai dengan
Kedua mainstream keagamaan (modernis dan tradisional selera kyainya. Di sebuah pengajian suatu desa, kyai pesantren yang
atau pembaharu dan konservatif) dilihat dari pemahaman sangat dihormati menyampaikan bahwa Nabi Khidzir hingga kini
dikategorikan sebagai firqah Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni). Dari masih hidup bukanlah merupakan keyakinan yang dapat
pemahaman model ini, ada sebagian yang mengharuskan mengganggu ketentraman. Ayat-ayat tertentu yang dapat digunakan
bermadzhab (NU-tradisional) dan tidak bermadzhab untuk ilmu kanuragan, bahkan banyak yang mengamalkan dan
(Muhammadiyah modernis). Kalangan Sunni mengklaim dirinya mengajarkan kepada murid-muridnya yang terpilih13. Di kalangan
sebagai salah satu firqah terbesar, terbaik, terbenar, termasyhur dan pengamal tarekat, dikenal tarikat yang mutabarah dan ghairu
terjamin masuk surga di antara 73 rqah dalam Islam. Sementara itu, mutabarah. Tarekat yang mutabarah diklaim sebagai tarekat paling
72 rqah yang lain masuk neraka12. Tidak jelas, sejak kapan selamat dan paling dekat menuju surga, yang saat ini berjumlah
semboyan masuk surga sendirian dari kalangan Sunni ini muncul, sekitar 77 buah (yang diakui kyai NU), sementara yang ghairu
sebab kemunculanya berabad-abad setelah Nabi Muhammad mutabarah dianggap sebagai tarekat yang salah, sesat dan jalan
(Asyari hidup pada 2 abad setelah kenabian). dekat menuju neraka (tidak jelas jumlahnya).

Di luar firqah di atas, terdapat firqah lain yang sebagian juga


eksis dan berkembang di seluruh dunia. Misalnya Syiah banyak
6
dianut di Iran, Irak, Turki, Libanon, Mesir, Yordania, Suriah,
Ibid. hal. 80.
7
Ibid. hal. 95 Pakistan, India dan juga di Indonesia. Di dalam firqah Syiah terdapat
8
Majalah Nuansa, Vol 1. V11/12/2003, khusus yang membahas Sejarah Berdirinya
LDII, DPP LDII, Jakarta, 2003
9 13
Deliar Noer, hal 244 Malah, hampir semua sayap pemuda beladiri yang tergabung dalam berbagai
10
Ibid. hal. 265 orgaisasi keagamaan tidak hanya memepajari jurus-jurus fisik beladiri, tetapi juga ditopang
11
Ibid. hal. 236 dengan doa-doa yang dianmbil dari al-Quran dan al-Hadits, atau rumusan para pendekarnya
12
Umar Hasyim, Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlu Sunnah wal Jamaah ?, yang terdahulu atau sekarang.
Bina Ilmu, Surabaya, 1982, hal 23 - 26

162 163
aliran-aliran dan paham yang mengklaim kebenaran, merasa dirinya C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
yang masuk surga dan yang lain masuk neraka. Ikatan Jamaah Ahlul
Tujuan penelitian ini adalah menggali informasi selengkap
Bait Indonesia (IJABI) dipandang sebagai pelopor Syiah di
mungkin seputar Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia untuk
Indonesia, karena memiliki keyakinan dan pandangan keagamaan
menjawab permasalahan penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan
yang berbeda dengan yang telah mapan.
menjadi bahan rekomendasi kepada pimpinan Departemen Agama
Pada tahun 1990-an, banyak kalangan yang memojokkan dalam menangani kasus yang berkaitan dengan pembinaan
Syiah sebagai firqah sesat dan harus dihalang-halangi, kehidupan beragama di masyarakat, terutama kaitannya dengan
pertumbuhannya di Indonesia, bahkan Majelis Ulama Indonesia eksistensi IJABI.
(MUI) pernah memfatwakan sesat14. MUI juga menghimbau umat
Islam Indonesia mewaspadai gerakan Syiah dan menjauhkan diri D. Penjelasan tentang Teori Gerakan
dari buku-buku terbitan penerbit yang ditengarai sebagai
Asal usul gerakan keagamaan itu (pembaharu maupun
pendukung Syiah. Salah satu perkumpulan atau organisasi yang
tradisional) pada dasarnya merupakan aliran keagamaan dengan
dikaitkan dengan paham Syiah adalah Ikatan Jamaah Ahli Bait
ajaran, tokoh dan kelembagaan sendiri yang bersumber setidaknya
Indonesia (IJABI). IJABI sebenarnya berpusat di Bandung,
empat faktor laten. Pertama, pandangan tentang pemurnian agama
sedangkan kantor pusatnya berada di Jakarta.15
yang tidak terbatas kepada praktik keagamaan, melainkan juga
Terlepas dari sesat atau tidaknya ajaran IJABI, kajian ini pemurnian atas sumber agama itu sendiri yakni penolakan atas
tetap menarik dilakukan untuk mencari hal-hal yang sebenarnya sumber selain al-Quran dan al-Hadits. Kedua, dorongan untuk
belum banyak diketahui oleh publik. mendobrak kemapanan paham keagamaan mainstream, khususnya
berkaitan dengan kebebasan setiap orang Islam untuk menjadi
B. Rumusan Masalah
pemimpin bagi dirinya sendiri dalam memahami ajaran Islam dan
Rumusan masalah dari permasalahan di atas yang dijadikan tidak terikat kepada taqlid dalam bentuk apapun. Ketiga, pandangan
kajian dalam penelitian ini adalah; tentang sistem kemasyarakatan yang ideal, seperti kepemimpinan
1. Apa yang melatarbelakangi berdirinya IJABI; tunggal di bawah seorang Amir atau Imam, atau sistem ummah
2. Siapa tokoh dan riwayat hidup pendiri IJABI: wahidah (umat yang bersatu). Keempat, sikap terhadap pengaruh
3. Apa paradigma ajaran yang dikembangkan IJABI; Barat dalam bentuk isme-isme seperti modernisme, sekulerisme,
4. Apa kegiatan IJABI; kapitalisme, dan seterusnya. Dalam hal ini Islam ditempatkan
5. Bagaimana respon pemuka agama dan masyarakat terhadap sebagai alternatif yang mengungguli ideologi-ideologi tersebut16.
IJABI.

14 16
Majelis Ulama Indinesia, Kumpulan Fatwa Majelis Ulama Indonesia, 1997 Abdul Azis, Varian-Varian Fundamentalisme Islam di Indonesia, Diva Pustaka,
15
Diolah dari wawancara dengan Sutrasno Jakarta, 2004, hal. 5

164 165
Dalam konteks ke-Islaman, konsep deprivasi ini sangat Transformasi itu sendiri secara simbolik maupun substantif,
relevan, terutama dalam kasus Indonesia, meskipun bukan satu- menjadi sebuah cara dalam perjuangan mendefinisikan realitas
satunya yang menjadi motivasi bagi tumbuh dan berkembangnya karena perbedaannya dengan lembaga-lembaga yang ada
aliran keagamaan baru. Tradisi kebebasan dalam memahami agama sebelumnya dan lebih mapan. Lahan yang dijadikan medan
yang dibangun oleh al-Quran, memberi andil besar bagi kelahiran perjuangan yang efektif adalah melalui simbol keagamaan dan turut
sebuah aliran keagamaan baru. Deprivasi dapat ditempatkan dalam serta dalam proses pergulatan tafsir keagamaan yang berbeda
konteks yang menyeluruh mengenai kelahiran suatu aliran dengan arus utama. Simbol yang digunakan dan substansi yang
keagamaan yang kemudian tumbuh menjadi aliran keagamaan dipublikasikan sendiri diusahakan begitu argumentatif, sehingga
baru17. sasaran transformasi hanya berkata siap dan tidak ada jawaban
tidak. Dalam pergulatan mendefinisikan realitas itu, sosok
Konteks yang menyeluruh mengenai kelahiran aliran
pemimpin menjadi sangat penting untuk mencapai keberhasilan
keagamaan itu meliputi perubahan sosial yang dialami oleh
yang diinginkan oleh para pendukungnya. Pemimpin harus mampu
individu-individu, yaitu ketidakseimbangan antara realitas
meyakinan pendapat umum dan kemampuan mengikat publik
implementasi ajaran agama itu sendiri dengan harapan yang dicita-
untuk menjadi anggota dalam bentuk mewujudkan gerakan.
citakan. Dalam kondisi seperti itu, organisasi keagamaan yang
Termasuk juga di dalamnya adalah, doktrin, mitos dan cara-cara
sudah melembaga tetapi tidak mampu mengatasi kesenjangan,
pencapaian tujuan dengan argumentasi yang kuat sehingga posisi
mengakibatkan munculnya ketidakpuasan secara massal dari publik
lembaga baru itu dalam suatu sistem perubahan sosial menjadi kuat.
pendukungnya. Dapat dipahami, ketika muncul lembaga baru,
Kemampuan meyakinkan secara argumentatif di bidang tauhid,
pemimpin baru, program baru, fasion yang berbeda dan mampu
muamalah dan cita-cita, serta mampu memberikan harapan kepada
memberi harapan guna mewujudkan tercapainya cita-cita bersama
para pendukungnya, maka lembaga baru itu akan bertahan dalam
itu, maka lembaga baru segera mendapat pengakuan secara massal.
perjalanan sejarah. Bagi mereka yang gagal menterjemahkan
Apalagi lembaga baru itu mampu melakukan transformasi
kemauan dari para pendukungnya, maka secara pelan tetapi pasti,
pengetahuan dan pemahaman yang dibutuhkan dan akan dijadikan
akan ditinggalkan oleh para pendukungnya.
sebagai rujukan bagi para pendukungnya secara baik, maka proses
pengakuan itu menjadi lebih cepat. Para pendukung ini biasanya Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pada dasarnya
dituntun dengan simbol-simbol keagamaan yang sifatnya ideologis, juga merupakan gerakan keagamaan yang berusaha
praktis, memukau atau menarik dan solid, akan berkembang menterjemahkannya realitas kehidupan keagamaan di Indonesia,
menjadi organisasi besar yang mampu menyaingi lembaga atau baik simbol maupun subtansinya. Ahlul Bait adalah keluarga Imam
organisasi yang telah ada. Ali dan para pendukungnya atau Bani Hasyim dan para
pengikutnya. Pendirian IJABI yang didasarkan salah satunya adalah
ingin mengembangkan ajaran Islam dari sudut pemahaman Ahlul
17
Ibid, hal. 6 - 7

166 167
Bait. Ini dapat diterjemahkan sebagai, respon terhadap ajaran Islam memahami data di lapangan, peneliti tidak memiliki pretensi
yang sudah mapan selama ini karena dipandang kurang lengkap apapun terhadap seputar eksistensi IJABI. Oleh karena itu peneliti
sumber rujukannya tanpa melibatkan pemahaman Ahlul Bait itu. tidak berpretensi apalagi menilai apakah Ikatan Jamah Ahlul Bait
Dapat juga diterjemahkan sebagai ketidakpuasan atas realitas Indonesia sesat atau tidak, apakah Syiah atau bukan. Peneliti hanya
keagamaan yang sudah berjalan berabad-abad sejak munculnya memahami subyek dari sudut pandang para pelaku sendiri
Khalifah Muawiyah, karena sejak saat itu Ahlul Bait tersingkir dan (eksponen yang ada di IJABI Bandung maupun masyarakat sekitar
tertutup semua aksesnya. Kelompok pendukung Ahlul Bait atau kantor IJABI Bandung), begitu pula dalam memaknai fenomena
pendukung Ali, akhirnya menjadi kelompok yang sekarang sering yang ada di dalamnya19.
disebut dengan Syiah. Tersingkirnya keluarga Ali dari arena politik,
2. Tehnik Pengumpulan Data
mendorong para pengikutnya mengelompok dalam satu gerakan
ideologi dan politik Syiah. Gerakan Syiah yang kemudian Pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka,
memfokuskan diri pada membangun tradisi intelektual yang kuat wawancara dan pengamatan lapangan untuk melihat informasi yang
sekaligus yang memelihara hadits-hadits dari jalur Ali yang tidak terkumpul dalam bingkai kritis (triangulasi). Kajian pustaka
banyak dikenal di kalangan Sunni. Hadits yang diriwayatkan oleh dilakukan sebelum dan sesudah penelitian lapangan. Sebelum ke
para perawi hadits di kalangan Sunni, menurut pandangan ini lapangan, kajian pustaka ditekankan pada usaha untuk lebih
sudah terdistorsi oleh keculasan Muawiyah dan keturunannya, mengenal IJABI yang banyak dikaitkan dengan Syiah itu di
sehingga Islam yang dipahami oleh kaum muslimin adalah khas internet. Wawancara dilakukan dengan pejabat Kanwil Depag Jawa
Islamnya Muawiyah. Barat, Kandepag Kota Bandung, MUI Kota Bandung, pemuka agama
dan masyarakat di sekitar kantor IJABI.
E. Metodologi Penelitian

1. Bentuk Studi

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat eksploratif


kualitatif terbatas18 dalam bentuk studi kasus (khusus Ikatan Jamah
Ahlul Bait Indonesia). Dalam penelitian ini, sebagaimana paradigma
penelitian kualitatif, pendekatan emik dipilih oleh peneliti
merupakan instrumen utama dalam penelitian ini untuk mampu
menjalin hubungan baik dengan subyek yang diteliti. Dalam

18
Eksplorasi kualitatif terbatas, karena persyaratan sebagai penelitian dengan
pendekatan kualitatif belum sepenuhnya terpenuhi, sebagaimana dijelaskan oleh Fedyani
19
Syaifuddin pada seminar tentang Kajian Paham Pemikiran Islam Liberal di Perkotaan, Oktober Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya, Bandung,
2006. 1999.

168 169
BAB II kecintaan kaum muslimin kepada Rasululullah Muhammad
TEMUAN PENELITIAN SAW. Kecintaan kepada Rasulullah tidak dapat dipenuhi tanpa
ada kecintaan kepada Ahlul Bait atau keluarga Bani Hasyim.
Kecintaan kepada Ahlul Bait ini pula yang melatarbelakangi
pengambilan nama IJABI21. Kecintaan umat Islam kepada Ahlul
Bait mengejawantah dalam berbagai bentuk tradisi keagamaan
A. Sejarah IJABI kaum muslimin di seluruh dunia.
1. Latar Belakang Lahirnya ABI Di kalangan muslim Jawa tradisional misalnya, kecintaan
kepada Ahlul Bait diwujudkan dengan selamatan pada 1 Syura

I
katan Jamaah Ahlul Bait Indonesia yang disingkat IJABI
tercatat oleh Akta Notaris di Bandung pada hari Senin, 26 sekaligus menyambut tahun baru Islam. Dalam selamatan itu
Juni 2006, jam 11.10 WIB di hadapan Notaris Erny selalu tersedia bubur dengan warna putih dan warna merah
Kencanawati, SH.MH. Tokoh pendirinya adalah Dr. H. Jalaluddin sebagai simbol darah sucinya Hasan dan Husein yang syahid di
Rahmat M.Sc, dan Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Ing. IJABI Karbala. Doa yang dibaca pun dikhususkan untuk Kanjeng
dideklarasikan di Gedung Merdeka Bandung pada 29-3-1421 H Nabi Muhammad, Fatimah (Kanjeng Ratu Fatimah), Hasan dan
bertepatan dengan 1 Juli 2000 berdasarkan Mutamar Ke 1 Ikatan Husein. Ada juga acara shalawatan dalam bentuk kesenian khas
Jamaah Ahlul Bait Indonesia 1 Juni 2000. Gedung Merdeka biasanya Jawa dan pembacaan barzanji yang menggambarkan
hanya dikhususkan untuk acara-acara kenegaraan. Namun atas kecintaannya kepada Nabi dan Ahlul Bait-nya. Di kalangan
usaha Jalaluddin Rahmat, acara pendeklarasian IJABI dapat masyarakat Betawi tradisional, acara tradisi apapun didahului
dilaksanakan di gedung ini yang dihadiri langsung oleh Gus Dur dengan tahlilan dan pembacaan barzanji, yang menunjukkan
yang waktu itu masih menjabat sebagai Presiden RI. Kepengurusan kecintaannya kepada Nabi dan Ahlul Bait-nya. Bahkan di
ABI periode sekarang yaitu 2004 2008 adalah hasil Mutamar Ke-2 kalangan pengamal tarekat, nama guru mursyid selalu
ABI yang diadakan di Jakarta pada tanggal 27 s/d 29 Februari 2004 bersambung kepada Ahlul Bait. Tetapi orang Jawa dan Betawi
mengangkat KH. Jalaluddin Rahmat M.Sc, sebagai Ketua Dewan yang mencintai Ahlul Bait itu tidak pernah disebut sebagai
Syura. Sedangkan Ketua Umum Tanfidziyahnya adalah Furqan pendukung Syiah.
Buchari dan Muhammad Neil Yasser sebagai Sekretaris Jenderal20. Di Iran, Irak, Libanon, Pakistan dan sebagainya, terutama
Pendirian Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia kalangan Syiah, kecintaan kepada Ahlul Bait diwujudkan dalam
dilatarbelakangi oleh; tradisi yang menurut kalangan Sunni dipandang berlebihan.
Kalangan Syiah ini memperingati syahidnya Hasan dan Husein
a. Pertama, kecintaan kepada Ahlul Bait oleh kaum muslimin dengan dramatis berupa arak-arakan atau karnaval yang diiringi
Indonesia apapun madzhab dan pemahaman keagamaannya. prosesi menyakiti diri sendiri, memukul-mukul diri sendiri
Kecintaan kepada Allah tidak dapat dilakukan tanpa melalui

20 21
Erny Kencanawati, SH, MH, Notaris di Kota Bandung, Akta Pendirian Organidsasi DPP IJABI, Pedoman Organisasi Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI),
Kemasyarakatan Ikatan Jamaah Ahlul bait Indonesia (IJABI), Nomor 24 tanggal 26 Juni Moqadimah Anggaran Dasar Ikatan Jama;ah Ahlul bait Indonesia (IJABI) 2004 - 2008,
2006. Bandung, 2006, hal.1 dan wawancara dengan Sutrasno, Desember 2006.

170 171
sampai berdarah-darah sebagai tanda berduka yang mendalam c. Ketiga, perlakuan Muawiyah dan para pendukungnya sebagai
atas syahidnya Hasan dan Husein. Mirip dengan tradisi penguasa waktu itu terhadap Ahlul Bait dinilai tidak layak23.
Taipushan22 yang dilakukan oleh Hindu Tamil di Kota Medan Dalam sejarah Islam sendiri dijelaskan, pembunuhan dengan
dan sekitarnya yang menampilkan pertunjukan berjalan di atas meracun Hasan dan pemenggalan kepala Husain di Karbala,
bara api, tidur di atas paku, menusuk lidah dan sebagainya. kemudian diarak ramai-ramai ke Damaskus (Syuriah), dan
keluarganya dihabisi secara kejam menjadi peristiwa paling
b. Kedua, adalah ketidakrelaan para tokoh pendiri IJABI atas
dramatis dalam sejarah Islam. Untuk mengenang peristiwa itu
hilangnya satu sisi sumber ajaran kebenaran Islam yang berasal
berbagai tradisi muncul di berbagai belahan bumi kaum
dari kalangan Ahlul Bait atau Bani Hasyim. IJABI mencoba
muslimin, baik itu di kalangan Sunni maupun kalangan Syiah.
menawarkan dan memberi warna lain dalam wacana
Di pedesaan pulau Jawa misalnya, hingga hari kini peringatan 1
keagamaan di Indonesia yang mayoritas berpaham Sunni.
Muharram selalu dikaitkan dengan Syuran dengan menyediakan
Warna yang dimaksud adalah ajaran Islam dari pemahaman
ada bubur syuran (selamatan yang dilengkapi dengan bubur
Ahlul Bait, yang otentisitasnya dapat dipertanggungjawabkan
merah dan bubur putih) sebagai perlambang kesucian darah
secara historis, ilmiah maupun keagamaan.
Hasan dan Husein sang cucu Nabi. Doa-doa yang dipanjatkan
Dalam kajian para pendiri IJABI selama puluhan tahun, ternyata oleh para pemimpin doa dan diamini peserta begitu menyentuh
sumber-sumber wacana keagamaan dari kalangan Ahlul Bait kalbu dan mengharukan. Hal ini karena mereka sangat hormat
sangat banyak dan logis, karena tradisi kritis para kepada Hasan dan Husein sebagai cucu Nabi.
pendukungnya. Tradisi kritis terhadap sumber ajaran Islam ini,
Dalam sejarah Islam dijelaskan bahwa pada masa Muawiyah
sangat dijunjung tinggi di kalangan Syiah. Tradisi yang baik ini
sebagai khalifah, ia melarang semua khatib Jumat di seluruh
juga diadopsi oleh IJABI sebagai cara dalam memahami agama.
negeri menyampaikan hadits yang diriwayatkan oleh Ali dan
Penawaran nilai dan sumber otentik Islam yang lain itu adalah
keluarga serta para sahabat dekatnya. Muawiyah juga
untuk menyeimbangkan pemahaman masyarakat antara Sunni
membayar dan memberi kehidupan mewah bagi para ahli hadits
dan Syiah. Dengan demikian, munculnya IJABI diharapkan
yang bersedia menenggelamkan peran Ali dan Bani Hasyim dan
dapat melengkapi sumber wacana keagamaan yang mapan di
membesar-besarkan peran Muawiyah dan Bani Umayyah
Indonesia. Dalam sejarah munculnya firqah-firqah Islam,
dalam revolusi Muhammad SAW itu24. Abu Hurairah disinyalir
realitanya adalah seluruh akses Ahlul Bait telah ditutup oleh
mampu memproduksi sekitar 40.000 hadits bahkan ada yang
rezim Muawiyah. Wajar jika sumber ajaran Islam dari kalangan
mengatakan 400.000 hadits. Menurut kalangan Ahlul Bait hal itu
Ahlul Bait hampir-hampir tidak populer sebagai sumber hukum
dipertanyakan mengingat masa kenabian Muhammad sekitar 23
Islam.
tahun, sementara Ali yang sejak kecil bersama Muhammad
menurut mereka meriwayatkan tidak lebih dari 20 buah saja.

22 23
Lihat makalah hasil penelitian Wakhid Sugiyarto dkk, tentang Respon Masyarakat Diolah dari wawancara dengan Sutrasno, Wakil Sekjen DPP IJABI, Desember 2006
24
terhadap Gerakan Islam Sempalan: Kajian tentang Gerakan Jemaah Ahmadiyah dan Hindu Jalaluddin Rahmat, Al-Mustafa, Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi SAW,
Tamil di Kota Medan, khususnya yang membahas tentang tradisi Thaipushan. Muthahari Press, Bandung, 2006, ha. 12 - 20l.

172 173
Padahal Ali adalah gerbang ilmu pengetahuan seperti diakui d. menjalin dan memelihara hubungan baik dengan seluruh
oleh semua firqah dalam Islam. organisasi Islam dan lembaga-lembaga kemanusiaan
lainnya26.
Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban dan sebagainya dengan sangat
bersusah payah membukukan hadits yang telah bercampur Usaha yang dilakukan IJABI adalah;
aduk dengan hadits-hadits palsu masa rezim Muawiyah. Bila a. mengadakan dan mengembangkan lembaga pendidikan,
diteliti secara cermat, sebenarnya masih banyak hadits yang ekonomi, sosial dan dakwah;
bertentangan dengan al-Quran yang harus ditolak. Logika b. mengadakan dan mengembangkan perpustakaan Islam;
kekuasaan, dapat menjelaskan hal ini, karena penguasa yang melakukan penelitian, pengkajian keislaman dan
tidak adil dapat berbuat apa saja sesuai dengan seleranya, pengabdian masyarakat;
termasuk dalam memilah-milah hadits. Ribuan hadits baru c. menerbitkan bulletin, buku-buku, majalah dan koran;
diciptakan sesuai kemauan Muawiyah dan para d. mengadakan pendekatan-pendekatan kepada ormas-ormas
pendukungnya. Islam dan menciptakan ukhuwah Islamiyah. IJABI ini
bersifat independen dan non-sektarian27.
d. Keempat, IJABI mengambil berkah dari sabda Nabi SAW,
Perumpamaan Ahlul Bait seperti bahtera Nabi Nuh AS (dikala taufan ABI dewasa ini memiliki 19 Pengurus Wilayah (PW), 4
dan banjir). Barang siapa menaiki bahtera itu akan selamat dan Kordinator Wilayah (calon PW), 49 Pengurus Daerah (PD), 98
barangsiapa meninggalkannya akan tenggelam dan terhempas. IJABI Pengurus Cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. IJABI juga
berusaha menjadi wadah untuk mengumpulkan kaum muslimin memiliki lembaga otonom seperti Fathimiyah IJABI, baik di tingkat
yang mencintai Ahlul Bait, apapun madzabnya. Para pendirinya pusat, wilayah, daerah maupun cabang. Jumlah anggota tepatnya
juga sadar benar jika kemunculannya akan dinilai miring oleh tidak diketahui, karena tidak semua pendukung IJABI terdaftar
masyarakat. Kenyataannya, tidak benar jika IJABI hanya diikuti sebagai anggota yang dibuktikan dengan kartu anggota. Tetapi
oleh mereka yang memiliki kaitan dengan Syiah25. anggota dan simpatisan ABI diperkirakan sudah mencapai 300.000
orang28.
2. Tujuan dan Usaha ABI
Tujuan didirikannya IJABI adalah B. Biografi Jalaluddin Rahmat (Pendiri IJABI)
a. membangun kehidupan secara berjamaah dan berimamah;
1. Asal Usul Keluarga
b. mengenalkan dan menyebarkan ajaran Islam yang
diriwayatkan melalui jalur keluarga Nabi SAW; Tokoh penting dalam pendirian IJABI adalah Jalaluddin
c. pemberdayaan masyarakat ekonomi kecil dan lemah Rahmat, yang lahir di Bandung pada 29 Agustus 1949. Alumnus
(mustadhafin); mengembangkan kajian spiritual dan Fakultas Komunikasi Universitas Pajajaran ini dilahirkan dari
intelektual; dan keluarga Nahdliyin (orang-orang NU). Kakeknya memiliki

26
AD/ART IJABI Pasal 4
27
Ibid, pasal 5 dan 6
25 28
Diolah dari wawancara dengan Sutrasno, Wakil Sekjen DPP IJABI, Desember 2006 Pedoman organisasi IJABI, Jakarta, 2006, hal 25 32.

174 175
pesantren di puncak bukit Cicalengka dan ayahnya sendiri pernah 3. Mendirikan IJABI
terlibat gerakan keagamaan untuk menegakkan Syariat Islam
Latar belakang seperti inilah yang kemudian mendorong
(DI/TII Sutrasno). Sepeninggal ayahandanya, Kang Jalal pergi ke
Kang Jalal untuk mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Muthahari
kota untuk belajar. Mula-mula bergabung dengan Persatuan Islam
yang kemudian dicurigai sebagai pelopor Syiah di Indonesia.
(PERSIS) dan masuk kelompok diskusinya yang disebut Rijalul Ghad,
Padahal dalam kurikulumnya justru mengajarkan semua madzhab
atau pemimpin masa depan. Pada saat yang sama, Kang Jalal juga
dan tidak pernah mengajak orang untuk masuk Syiah. Pernyataan
menjadi aktifis Muhammadiyah dan terlibat beberapa kali dalam
ini, boleh jadi berlawanan dengan realita, mengingat simbol-simbol
training Darul Arqam dan pusat perkaderan Muhammadiyah. Latar
yang dapat ditelisik di kantor IJABI maupun SMA Plus Muthahari
belakang dalam dua organisasi modernis ini, membawanya pada
mencerminkan nuansa Syiah. Di ruang kantor terpajang gambar
kegiatan melakukan pemberantasan terhadap takhayul, bidah dan
Imam Khomeini, Imam Ali Khamenei, Muthahari, Imam Hasan dan
khurafat (TBC) di kampungnya. Misi paling penting waktu itu
Imam Husain. Tidak ada gambar Presiden dan Wakil Presiden RI di
adalah menegakkan Muhammadiyah dan me-Muhammadiyahkan
ruang itu, apalagi gambar tokoh nasional Indonesia lainnya. Di
orang lain29.
samping itu, buku-buku yang ada di perpustakaan dan yang
2. Masa Pencerahan Keagamaan dijualnya hampir seluruhnya berkaitan dengan tokoh-tokoh Syiah
atau berbau kecintaannya pada Ahlul Bait. Oleh karena itu sangat
Karena berlebihan, Kang Jalal bertengkar dengan pamannya
logis, jika orang menganggapnya sebagai pelopor Syiah di
yang berhaluan NU. Pada suatu ketika, pada salat Jumat, Kang Jalal
Indonesia. Di kalangan IJABI dan SMU Muthahari, diajarkan agar
tidak melakukan salat qabliyah, sementara semua orang berdiri
semua pendukung IJABI dan murid-murid kritis menyikapi semua
untuk melaksanakan salat sunnah qabliyah. Selesai salat Jumat,
wacana, terutama berkaitan dengan masalah keislaman. Kekritisan
Kang Jalal hampir dipukuli penduduk yang salat di masjid itu
dalam wacana ilmu keagamaan merupakan ciri khas Syiah.31
karena membawa fiqih baru. Belakangan, Kang Jalal memahami
bahwa fiqih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada 4. Aktifitas di luar IJABI
sumber yang sama, yaitu al-Quran dan Sunnah. Kekeliruannya
Kang Jalal selain aktif sebagai dosen di berbagai perguruan
adalah menganggap bahwa fiqih memiliki otoritas seperti al-Quran
tinggi di Bandung, ia juga mengajar di Jakarta. Salah satunya
dan al-Hadits. Artinya orang menentang keduanya berarti murtad
menjadi pengajar di Universitas Paramadina Jakarta. Paramadina
dan kafir. Tetapi kalau menentang pendapat orang tentang al-
dicurigai sebagai basis Islam Liberal di Indonesia. Di samping itu ia
Quran dan Sunnah tidak boleh disebut sebagai kafir. Akhirnya dia
juga berdakwah membantu kalangan mustadhafin. Ia membina
berhipotesis bahwa yang mempersatukan umat Islam adalah akhlak,
jamaah berbagai masjid dan masyarakat kumuh dan gelandangan
karena semua orang setuju dan ada rasa ukhuwah Islamiyah30.
di Bandung dan Jakarta. Belakangan ia mendirikan SMP Muthahari
di Cicalengka, yang dikhususkan untuk anak-anak orang miskin.
Obsesinya yang paling tinggi dalam pendidikan adalah berdirinya

29
Jalaluddin Rahmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan,
31
Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006, hal. 5. Diolah dari wawancara dengan Joko Santoso yang tinggal tidak jauh dari SMU plus
30
Ibid, hal. 6 - 7 Muthahari, Desember 2006

176 177
SMP Muthahari di seluruh pelosok tanah air khusus untuk orang santri semakin menguat di hampir seluruh perguruan tinggi umum
miskin, sehingga mereka tidak terputus pendidikannya. Meskipun dan Indonesia.34
gratis, namun mutu dan kualitasnya tidak kalah dengan sekolah-
6. Pandangan Masyarakat Sekitar
sekolah mahal di tanah air32.
Menurut Taufik Effendi, Kang Jalal kurang ramah, bahkan
5. Sebagai Tokoh Nasional
ada kesan sombong karena kurang bertegur sapa dengan
Kang Jalal bersama tokoh nasional yang lain seperti Gus tetangganya, senyum saja tidak ada. Simak pernyataannya;
Dur, Quraish Shihab, Dawam Rahardjo dan lain-lain memperoleh
Kang Jalal memang dikenal sebagai orang yang amanah, namun agak
atribut sesat lewat sebuah buku berjudul Aliran-aliran Sesat.
kurang mengenal orang-orang yang hidup di sekitar kantor IJABI
Baginya sekedar numpang beken belaka, ketika disandingkan
maupun SMU-Plus Muthahari, bahkan ada kesan kurang ramah
dengan orang-orang yang yang dipandang sesat oleh kalangan
kepada tetangga. Mungkin karena ia orang sibuk, sehingga tidak ada
muslim tertentu. Ia sangat toleran terhadap Ahmadiyah yang
waktu untuk bergaul dengan tetangga walau sekedar saling menyapa.
difatwa sesat pula oleh MUI Pusat. Bahkan Kang Jalal juga sangat
Bahkan di Muthahari sendiri, Kang Jalal menampakkan gaya
toleran dengan non-muslim. Dia juga sering diundang untuk
nepotisme dalam pengelolaan SMU-Plus Muthahari. Konon katanya,
berbicara di gereja dan forum umat Kristiani. Baginya, Tuhan
para pengelola sekolah dan gurunya terdiri dari kalangan keluarganya
menciptakan berbagai agama itu dimaksudkan untuk menguji iman
sendiri.35.
kaum muslimin, seberapa banyak kaum muslimin berguna untuk
umat manusia, sesuai dengan keyakinan bahwa Islam itu rahmatan Kondisi ini boleh jadi sama sekali tidak disadari oleh
lilalamin33. Jalaluddin Rahmat sendiri, mengingat dalam realitasnya Kang Jalal
memang orang sibuk dan bisa saja selalu serius dan tidak ada waktu,
Pada tahun 1980-an, Jalaluddin dikenal sebagai tokoh yang
apalagi sekedar kenal dengan tetangganya. Informasi miring tentang
memperkenalkan sistem pendidikan agama Lembaga Dakwah
nepotisme di IJABI, oleh masyarakat dipandang sebagai penyebab
Kampus (LDK) yang secara berkala melakukan diklat dakwah bagi
semakin kurang menariknya SMU-Plus Muthahari.
mahasiswa Islam di berbagai perguruan tinggi di Kota Bandung.
Pada awalnya, hampir seluruh kampus di tanah air mengirimkan
mahasiswanya untuk mengikuti diklat dakwah yang dilakukan oleh C. Paradigma Ajaran IJABI
Kang Jalal ini. Bahkan kemudian dijadikan model pembinaan
Sebagai organisasi keagamaan, IJABI memiliki paradigma
keagamaan bagi mahasiswa di beberapa perguruan tinggi
keagamaan sendiri, yaitu;
terkemuka di tanah air, seperti UI, ITB, IPB, UNDIP, UGM, UNAIR,
UNBRAW, ITS dan sebagainya. Hasilnya, peran mahasiswa muslim 1. Non-sektarian
IJABI memandang bahwa agama Islam yang berkembang
sekarang ini, sumber ajaran yang dijadikan rujukan tidak komplit,
32
Jalaluddin Rahmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan,
34
Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006, hal 8-9. Diolah dari wawancara dengan Sutrasno, Desember 2006
33 35
Ibid, hal 9-10. Wawancara dengan Taufik Effendi, Desember 2006

178 179
sehingga berakibat pada lahirnya sikap sektarian, yang tidak Kaum Sunni menganggap kritik terhadap hadits masih
moderat. Selama ini, di kalangan kaum Sunni , terdapat sumber tabu, sehingga sangat banyak hadis dhaif, mauquf dan maudhu
ajaran yang tidak dijadikan rujukan, padahal keotentikannya dapat digunakan kaum muslimin. Kitab Ihya Ulumiddin, ditengarai oleh
dipertanggungjawabkan baik secara historis maupun secara ilmiah, banyak ahli hadits memuat hadits dhalif.37 Menurut Sutrasno, kunci
yaitu sumber ajaran dari pemahaman Ahlul Bait (pendukung terakhir ajaran IJABI adalah pada buku Islam dan Pluralisme:
keluarga Ali). Akibatnya, kaum muslimin dalam memahami agama Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan yang ditulis sendiri oleh
Islam menjadi kurang lengkap, karena terbatasnya sumber ajaran. Jalaluddin Rahmat. Menurut Sutrasno, IJABI merupakan alat untuk
Dalam sejarah kebudayaan Islam, dapat diketahui bahwa mengembangkan ajaran Islam sesuai yang dipahami oleh kalangan
Muawiyah ketika mulai berkuasa berusaha memantapkan dirinya Ahlul Bait dan buku itu sangat penting sebagai kepanjangan dari
sebagai khalifah dengan segala cara. Salah satu cara untuk pemahaman IJABI yang akan dikembangkan38.
mengokohkan dirinya sebagai khalifah itu adalah dengan cara
Dalam buku itu memang terdapat tiga bagian yang
mensortir hadits-hadits yang berasal dari riwayat Ali dan
temanya berbeda-beda. Pada bagian pertama berisi ajaran tentang
pendukungnya36. Hal ini berakibat pada tergusurnya semua
bagaimana menyikapi agama lain yang dibahasakan sebagai
pemahaman Islam versi Ahlul Bait. Imam Ali yang oleh berbagai
pluralisme dalam Quran39; memahami makna agama; Yang
firqah dalam Islam diakui sebagai gerbang ilmu pengetahuan,
eksklusif dan yang inklusif tentang Din dan Islam40; serta menyikapi
ternyata hanya sedikit meriwayatkan hadits versi perawi hadits dari
perbedaan: Telaah ulang Skisme dalam Islam41. Bagaimana cara
kalangan Sunni .
menyikapi agama lain yang sesuai dengan al-Quran, maka
Penggusuran hadits-hadits dari pendukung Ali dipandang landasannya juga harus didasarkan kepada al-Quran pula. Untuk
sebagai strategi pengamanan kekuasaan. Untuk melengkapi semua itu IJABI dalam menyikapi agama lain ini berdasarkan pada al-
ajaran yang tertuang dalam hadits yang digusur oleh para Quran surat al-Baqarah: 111 113;
pendukung Muawiyah itu, penawaran ulang terhadap wacana
Mereka berkata: Tidak masuk surga kecuali Yahudi atau
keagamaan dalam pemahaman versi Ahlul Bait, menjadi niscaya.
Nasrani. Itulah angan-angan hampa mereka. Katakanlah:
Dengan cara ini, akhirnya dapat menciptakan keseimbangan
Tunjukkan buktimu, jika kalian benar; Sungguh, orang yang
pemahaman Islam di kalangan muslim. Bagaimanapun, agar Islam
pasrah sepenuhnya kepada Allah sambil berbuat baik, maka
selamat dan dapat menjadi rujukan umum semua firqah, maka
baginya pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut bagi
pemahaman Islam harus dibersihkan dari kepentingan-kepentingan
mereka dan tidaklah mereka berdukacita. Berkata Yahudi:
politik sesaat. Oleh karena itu, budaya kritik terhadap sumber ajaran
Nashara tidak akan mendapatkan apa-apa. Berkata Nashara:
menjadi niscaya untuk membersihkan hadits-hadits yang
dinisbatkan kepada Rasulullah bersih dari usaha-usaha jahil dari 37
Jalaluddin Rahmat, Al-Mustafa, Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi SAW,
kelompok penentang Ahlul Bait atau karena ketidaktahuan kaum khususnya yang membahas tentang Pengujian Tarikh Nabi dengan al-Quran serta Kritik
muslimin. Matan Hadits, Muthahari Press, Bandung, 2006
38
Diolah dari wawancara dengan Sutrasno, Desember 2006
39
Jalaluddin Rahmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan,
Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006, hal 15 - 34
40
Ibid, hal. 35 -63
36 41
Ahmab Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1986, hal 54. Ibid, hal. 65 - 99

180 181
Yahudi tidak mendapatkan apa-apa. Padahal mereka membaca. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi,
Seperti itu juga berkata orang-orang yang tidak mengerti, seperti orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di
pembicaraan mereka. Maka Allah akan menyelesaikan pada hari antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kiamat apa yang mereka perselisihkan42. kemudian, dan beramal shaleh, mereka tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati44.
Ayat di atas oleh IJABI dimaknai, bahwa para dai sudah
saatnya untuk tidak berusaha mengislamkan orang yang tidak Islam Gamal al-Banna berubah dari seorang ekslusif menjadi
dengan cara-cara kuno, yaitu dengan logika kekerasan, baik lisan pluralis. Secara sederhana, umat beragama yang ekslusif
maupun fisik. Para dai juga tidak pantas lagi mengatakan dan berpendapat bahwa hanya pemeluk agamanya yang selamat dan
mengklaim bahwa manusia yang tidak beragama Islam seperti yang masuk surga, akhirnya seluruh umat manusia yang berada di luar
dianut oleh kaum muslimin, akan beramai-ramai masuk neraka dan lingkungan agama kita, semuanya rama-ramai masuk neraka. Dalam
hanya kaum muslimin saja yang masuk surga. Karena sikap seperti bahasa Gamal al- Banna, merasa menguasai gudang-gudang
ini melanggar terhadap kewenangan Allah, sebagaimana dijelaskan rahmat Tuhan dan menahannya hanya untuk kelompoknya saja.
dalam al-Quran surat al-Maidah: 105; Wahai orang-orang yang Rahmat Tuhan itu meliputi bumi dan langit, tetapi kasih sayang
beriman, diri kalian adalah tanggungjawab kalian. Orang yang orang eksklusif terbatas bagi orang di rumahnya sendiri. Mereka
tersesat tidak akan membahayakan kalian ketika kalian mendapat berkata Yang akan masuk surga hanya orang Islam saja. Sebagian
petunjuk adalah menjadi saksi atas manusia. Para dai hanya lagi mengatakan, itupun tidak semua orang Islam, sebab dalam
bertugas memperkenalkan Islam kepada mereka kemudian Islam itu ada 73 golongan, semua masuk neraka kecuali golonganku.
menyerahkan segalanya kepada mereka. Urusan konversi agama Lebih lanjut, dalam golonganku sendiri, semuanya masuk neraka
tidak hanya menyangkut iman dan teori. Ini juga menyangkut kecuali mereka masuk organisasi keagamaan si fulan, dan
hubungan sosial dan konsekuensi-konsekuensi selanjutnya. Hidayah selanjutnya adalah semua masuk neraka kecuali mengikuti ajaran
hanya datang dari Allah, bukan dari seorang Rasul, apalagi para dai agama model ustadz si Fulan dan seterusnya. Dengan cara silogisme
dan umat Islam lainnya43. seperti ini, maka rahmat Allah yang luasnya seluas bumi dan langit
menjadi nyelip di sudut surau atau mushala yang sempit dan
Ayat-ayat pluralisme yang dijadikan standar oleh IJABI
mungkin hanya di komunitas lokal tertentu pula45.
cukup banyak, misalnya Apakah orang-orang kafir (non muslim)
menerima pahala amal salehnya? Benar menurut al-Baqarah: 62 Pemahaman sempit kaum ekslusif ini sesungguhnya karena
yang diulang dengan redaksi berbeda pada al-Maidah: 69 dan al- mereka memahami tentang ayat al-Quran Surat Ali Imran ayat 85
Hajj: 17. juga tipikal khas eksklusivis, Dan barang siapa menganut Din
selain Islam, maka sekali-kali ia tidak akan diterima dan ia diakhirat
termasuk orang yang merugi46. Bertolak dari konsep din al-haqq di
42
atas, maka din itu dapat dibedakan menjadi dua: din al-haqq, yaitu
Al-Quran dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Tahun 1999.
43
Jalaluddin Rahmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan,
Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006, hal. 18 19, lihat pula Gamal al-Banna, al-
44
Taaddudiyyah fi al-Mujtama al-Islami, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Al-Quran dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Tahun 1999
45
Taufik Damas Lc. dengan judul Doktrin Pluralisme dalam al-Quran, Penerbit Menara, Bekasi Gamal al-Banna,Opcit,, hal. 19 21.
46
2006, hal. 38 40. Ibid, Al-Quran dan Terjemahannya, Departemen Agama RI

182 183
Islam yang membawa ajaran dasar tauhid, akhlak dan ajaran yang konsili yang berusaha mempersatukan semua denominasi dan
berhubungan dengan aspek jiwa, akal, materi dan sosial. Dan din penyatuan kembali Kristen, tetapi gagal total. Di kalangan muslim
yang dianut orang-orang Yahudi dan Nasrani yang juga mengklaim ada keinginan untuk bersatu di antara kelompok-kelompok yang
diri sebagai pengikut din al-haqq dan golongan lainnya yang telah berbeda yang diusahakan oleh, misalnya Jamaluddin al-Afghani
mengubah petunjuk-Nya dengan mereka. Mereka yang disebut (tidak jelas Sunni atau Syiah), Syeikh Syalthut (Sunni ) dan Kasyief
terakhir secara prinsipil telah mengubah hakikat din yang benar. Githa (Syiah), tetapi usaha itu gagal total karena umat Islam lebih
Oleh karena itu, Allah memberikan penegasan bahwa, siapa saja mendengarkan politisi daripada cendekiawan49.
yang menganut din selain Islam akan tertolak dan mereka itu di
Dalam Islam, dua kelompok besar yang tidak dapat
akhirat akan digolongkan sebagai orang-orang yang merugi47.
dikompromikan secara utuh adalah antara Sunni dan Syiah, karena
Klaim-klaim bahwa hanya agamanya saja yang selamat dan masuk
persoalan-persoalan politik pada awal-awal muncul dan
surga, telah mengakibatkan munculnya sekte-sekte dan paham
berkembangnya Islam. Satu pihak sedang berkuasa dan kemudian
eklusivisme di kalangan muslim, Yahudi dan Nasrani.
berusaha melegitimasi kekuasaannya dengan cara culas dan licik
Ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur, di mendorong kelompok lainnya sebagai pecundang. Kelompok lain
Barat Kristen telah terbelah dua arus utama besar, yaitu Gereja itu kemudian berusaha mempertahankan diri dan mengelompokkan
Romawi dan Gereja Yunani. Dua gereja ini kemudian memperbesar diri secara solid dan kuat, bahkan juga menciptakan hadits palsu
perbedaan dan bahkan saling berlawanan dalam berbagai hal dan meskipun mungkin dalam jumlah terbatas. Kalangan Syiah
saling mengkafirkan satu dengan yang lainnya. Dalam Kristen kemudian, mengatakan bahwa hak imamiah adalah hak Ilahi,
kondisi seperti ini disebut dengan skisme, yang dalam perakteknya sementara Sunni mengatakan bahwa imamiah adalah masalah
ada skisme besar dan skisme kecil yang hal itu terus terjadi dalam politik, maka terserah kepada umat Islam menginginkan siapa yang
Kristen, sehingga bermunculan denominasi-denominasi secara terus menjadi pemimpinnya50.
menerus di seluruh dunia48.
Antroposentris Arabia, mendorong lahirnya usaha-usaha
Kondisi ini sesungguhnya mirip dengan munculnya memperkuat kabilahnya sendiri, yang hal ini sudah terjadi sejak
perpecahan di kalangan muslim, yang secara garis besar adalah sebelum munculnya Islam yang dibawa Muhammad SAW. Pada
karena pertikaian politik kekuasaan yang sudah tidak dapat masa kenabian dan khulafaurrasyidin, tidak ada kabilah yang
dikompromikan. Dalam pertikaian politik itu saling memperkuat diunggulkan atau direndahkan oleh Muhammad SAW, semua
dengan legitimasi al-Quran dan al-Hadits, bahkan tidak segan- menempati posisi sesuai dengan perannya masing-masing. Tetapi
segan menciptakan hadits palsu hanya untuk memperkuat pasca khulafaurrasyidin, Bani Umaiyah dalam banyak hal kemudian
kekuasaan. Di dunia Kristen masing-masing kelompok membangun menyingkirkan Bani Hasyim, di mana di dalamnya ada Nabi
teologinya sendiri yang berbeda, dan kondisi ini dalam batas Muhammad. Rivalitas itu terjadi terus menerus hampir satu abad
tertentu juga terjadi di kalangan muslim. Di Kristen ada gerakan pada masa kekhalifahan Bani Umaiyah. Sementara itu Ahlul Bait
yang juga Bani Hasyim, tersingkir peranannya dari berbagai aspek
47
Jalaluddin Rahmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan,
49
Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006, 34 - 36 Ibid, hal. 68 - 70
48 50
ibid hal. 66-67. ibid, hal 71

184 185
kehidupan, kecuali ke Irak dan Iran yang kemudian menekuni ilmu deskripsi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perlawanan terhadap
pengetahuan dan mempelajari semua sumber Islam secara kritis. ketidakadilan memang dapat menggunakan banyak cara, tetapi
Persoalan yang sebenarnya adalah bagaimana cara memandang tidak mesti dengan pemberontakan, terkecuali kepada pemerintahan
perbedaan di antara para pemeluk agama Islam yang masing- yang memang dhalim dan melarang kebebasan menjalankan ibadah
masing mengklaim dirinya paling benar. Oleh karena itu semestinya bagi umat beragama. Upaya Abu Hanifah mendukung
umat Islam tidak mengunggulkan yang lain dan merendahkan yang pemberontakan adalah karena ingin menegakkan pemerintahan
lainnya, sehingga tidak memunculkan sekte-sekte yang merugikan yang adil kepada rakyatnya. Resiko bahwa akhirnya Abu Hanifah
Islam sendiri51. harus dipenjara dan disiksa adalah konsekuensi sebagai seorang
mujahid yang telah diketahuinya sejak sebelum mengambil
Pada bagian kedua, dibahas mengenai mengenal Allah:
keputusan mendukung pemberontakan58.
Tuhan yang disaksikan, bukan Tuhan yang didefinisikan52; menjadi
manusia: konsep-konsep anthropologi dalam Quran53; arti turunnya Keserakahan Muawiyah telah mengorbankan kebenaran
manusia di bumi: ragam alienasi dan dehumanisasi54. Berperang Islam. Oleh karena itu dengan memelihara ajaran Islam versi Ahlul
membela Tuhan: psikologi kaum fundamentalis55; masa depan Bait ini, kebenaran agama Islam yang dipahami oleh kaum
Tuhan; ihwal atheisme dan materialisme56. Dengan mengutip muslimin akan menjadi lebih lengkap dan lebih argumentatif59.
perkataan Jalaluddin Rumi, Jalaluddin Rahmat menjelaskan bahwa
2. Mendahulukan Akhlak dari pada Fiqih
keintelektualan seseorang tidak dapat mengantarkan manusia pada
Tuhan yang tak terbatas, tetapi hanya sampai pada Tuhan yang Akhlak merupakan puncak dari pengamalan ajaran Islam
dedefinisikan. Mengetahui makna Tuhan harus dengan pengabdian, sebagai simbol ketakwaan seseorang kepada Allah SWT. Tanpa
bukan dengan fikiran. Karena itu yang benar adalah mengenal akhlak, pengamalan ajaran agama lainnya akan menjadi sia-sia.
Tuhan, bukan mendefinisikannya. Dengan pengetahuan, hanya Orang dapat berbeda dan berdebat masalah fikih, tetapi hampir
mengantarkan manusia pada keraguan dan kenisbian, tetapi dengan tidak ada yang memperdebatkan perlunya akhlak mulia bagi umat
hati dan pengabdian manusia dapat merasakan rahmat-Nya yang Islam. Terhadap akhlak, kaum muslimin sepakat sebagai suatu
tak terbatas. Oleh karena itu, tidak perlu belajar tauhid kepada kebaikan yang harus dipelihara termasuk akhlak terhadap bukan
filosof karena akan membingungkan, yang benar adalah kepada ahli muslim. Perbedaan adalah fitrah manusia, ikhtilaf adalah rahmat,
hikmah yang memiliki pengalaman spiritual57. sementara khilaf adalah dosa . Oleh karena itu perbedaan dalam
menafsirkan teks suci yang berimplikasi pada lahirnya hukum
Dan pada bagian ketiga berisi tentang menghadang
dalam fikih juga harus diterima sebagai fakta. Yang penting
kemungkaran sosial yang ditulis dari halaman 202 292. Dalam
landasan dasarnya sama yaitu Kitabullah dan Sunnah. Menentang
al-Quran dan Sunnah adalah murtad dan kafir, tetapi tidak sepakat
51
Ibid, hal 76- 85
dengan fikih para ulama tidak boleh disalahkan secara mutlak.
52
Ibid, hal. 104 - 115 Setiap individu memiliki otoritas sendiri dalam memandang
53
Ibid hal 119 - 137
54
Ibdi. Hal. 141 - 159
55 58
Ibid, hal. 165 - 176 ibid, hal. 254 - 260
56 59
Ibid, hal. 179 - 1997 Diolah dari wawancara dengan Sutrasno dan Dani di Kantor Sekretariat IJABI
57
Ibid, hal. 104 - 108 Bandung Kiara Condong, jl. Kampus, Desember 2006

186 187
kebenaran, sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya. Yang pikuknya korupsi bangsa, tetapi dengan rekonsiliasi yang masuk
paling utama dalam membina kerukunan hidup umat beragama akal. Ada pembatasan tertentu bagi para pelaku ketidakadilan agar
adalah mendahulukan akhlak, sementara fikih harus ditempatkan mereka menyadari kesalahannya, bukan melakukan pembelaan
pada level kedua atau berikutnya. Tidak semestinya orang keras habis-habisan agar selamat dari tuduhan. Semua orang harus
kepala karena memegang kebenaranya dalam fikih, karena fikih itu mengandalkan nurani, karena cinta itu bermuara dalam hati dan
rumusan para ulama yang dapat dipahami secara berbeda oleh hati adalah tempat berlabuhnya cinta. Kalbu adalah curahan rasa
kalangan muslim sendiri60. kasih dan sayang. Hati adalah persinggahan kapal yang diterjang
ombak. Kalbu adalah naungan rasa yang diharubiru kehidupan
3. Paradigma cinta
dunia. Di dalam hati atau kalbu inilah cinta berlabuh. Tidak akan
Ketika seluruh bangsa dilanda krisis, semua menuntut ada dua hal mengisi kalbu dalam satu saat. Jika kita mencintai
perubahan. Revolusi menjadi strategi yang terbaik untuk sesuatu, maka hanya dialah yang ada dalam hati kita, hanya dialah
mempercepat perubahan itu dan reformasi dianggap terlalu lamban, yang bersemayam di dalam kalbu kita. Tidak mungkin dua cinta
sementara perut sudah tidak dapat diajak kompromi. Bila penyakit bersemayam dalam satu hati dalam waktu yang sama. Sebagai
sosial sudah berurat berakar dalam tubuh bangsa, kita memerlukan seorang muslim, tentu kita tidak akan memberikan pelabuhan ini,
bedah total dalam bentuk revolusi. Ada kerinduan untuk untuk sesuatu yang tidak berharga. Cinta sejati adalah yang saling
menyongsong revolusi dan ada kebanggaan sebagai orang bersambut. Kepada siapa akan kita curahkan cinta dan kasih?
revolusioner. Banyak bangsa besar lahir dari revolusi, yang selalu Kepada siapa akan kita relakan jiwa dan raga? Seorang muslim sejati
berdarah-darah. Tidak mengherankan jika pada saat yang sama ada pasti menjawab, Allah Tuhan seru sekalian alam. Allahlah satu-
ketakutan akan munculnya revolusi. Revolusi diterjemahkan dan satunya yang patut dicintai dan disembah61.
dipahami sebagai kondisi yang menakutkan dan mengerikan karena
Dalam ranah tradisi intelektual yang terbiasa kritis, ada tiga
akan banyak korban berjatuhan yang terkadang termasuk orang
jenis revolusi yang akan mempengaruhi suatu bangsa. Pertama,
yang tidak tahu apa-apa. Karena itu wajar, jika seorang tokoh
revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental dan
reformis ditawarkan sebuah revolusi, mengatakan bahwa bangsa
berskala luas. Inti revolusi terletak pada keluasan dan kedalaman
Indonesia sudah terlalu banyak menderita selama beberapa
perubahan. Revolusi menjadi lawan dari reformasi, karena reformasi
dasawarsa ini, apa kita akan semakin membuat mereka menderita,
tidak merubah secara luas dan mendalam, tetapi hanya aspek
sementara hasil revolusi juga belum tentu lebih baik.
tertentu saja. Revolusi harus menimbulkan perubahan dalam semua
Menginginkan kondisi yang lebih baik, lebih damai dan adil aspek kehidupan, sementara reformasi hanya menyentuh sebagian
adalah dambaan semua orang. Tetapi mekanisme menuju kondisi saja. Kedua, revolusi yang menitikberatkan pada penggunaan
itu banyak cara yang dapat dilakukan untuk menuju mayarakat kekerasan dalam perjuangan, menghancurkan yang lama dan
yang berubah. Cara terbaik adalah dengan paradigma cinta, dalam membangun yang baru, dan seluruhnya harus berubah secara cepat
arti tidak menyakiti semua orang yang terlibat dalam hiruk dalam melakukan penyesuaian dengan sistem baru yang

61
Miftah, F. Rahmat, Cinta Illahi dan Revolusi Cinta, Bahtera: Pencerahan dan
60
Miftah F. Rahmat, Klarifikasi Ajaran IJABI, Makalah yang disampaikan pada Pemberdayaan, Bidang Media dan Teknologi Informasi IJABI dan Muthahari Press, Bandung,
seminar yang diadakan oleh Badan Litbang dan Diklat Dep. Agama, Januari 2006 2006, hal. 84 87.

188 189
dikehendaki publik. Revolusi menjadi lawan dari evolusi yang Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) sebagai
menghendaki perubahan secara evolusioner, dan terkesan tidak ada organisasi kemasyarakatan memiliki program-program kegiatan
perubahan apapaun kecuali sesuai dengan kehendak sosiologis yang dilaksanakan sepanjang tahun dalam bentuk program jangka
belaka. Ketiga, menggabungkan kedua sistem dalam satu sisten panjang dan jangka pendek. Program jangka panjang dimaksud
yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu, adalah peogram umum IJABI yang disusun untuk jangka waktu
perubahan harus terjadi secara cepat, tetapi tidak dengan kekerasan tertentu (4 tahun) guna memberi arah bagi penyusunan program
dan semua eksponen menyadarinya bahwa ia harus berubah jangka pendek yang biasanya dibuat per tahun. Program jangka
paradigmanya dalam memandang aspek kehidupan. Trasformasi panjang diarahkan pada;
berjalan sangat cepat, perebutan kekuasaan terjadi secara sukarela
Memelihara, melanjutkan dan mewujudkan cita-cita, visi
dari mereka yang merasa gagal kepada penggantinya. Model ketiga
dan misi organisasi dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan
inilah yang disebut dengan revolusi cinta62.
berbagai bidang yang dipandang mampu mewujudkan cita-cita
Dalam kehidupan beragamapun, kaum muslimin harus organisasi, visi dan misi organisasi;
bersedia melakukan revolusi cinta. Jangan menjual ayat-ayat Tuhan
IJABI mengacu pada nilai-nilai ajaran Islam sebagai
dengan harga murah, hanya karena ingin mempertahankan
manifestasi ajaran al-Quran dan al-Hadits dari jalur Ahlul Bait yang
kemapanan. Agama harus dipandang sebagai ajaran yang mengajak
telah disepakati oleh organisasi dan menjadikannya sebagai pola
manusia berubah secara cepat sesuai dengan al-Quran dan as-
dasar langkah organisasi;
Sunnah, tanpa harus dilegalformalkan oleh kekuasaan. Oleh karena
itu, ajaran-ajaran yang dikembangkan dilakukan secara kritis, untuk Terwujudnya kehidupan organisasi yang berkualitas dan
mendorong manusia secara cepat ke dalam pangkuan Ilahi. IJABI mandiri sehingga partisipasi dalam mewujudkan cita-cita bangsa
mengajarkan kekritisan ini yang mungkin secara spesifik berbeda Indonesia yaitu masyarakat yang adil dan makmur yang dirdlai oleh
dengan yang diajarkan oleh organisasi keagamaan lainnya. IJABI Allah serta turut menjaga eksistensi bangsa di tengah interaksi
karena bertujuan mengembangkan ajaran Islam sesuai dengan jalur bangsa-bangsa di dunia.64
pamahaman dari Ahlul Bait, maka sebagian besar ajaran Islam yang Program jangka pendek bertujuan; pertama, memantapkan
dikembangkan adalah juga berdasarkan pada ajaran agama dari implementasi ajaran Islam yang diriwayatkan melalui jalur Ahlul
jalur Ahlul Bait itu. Tetapi secara khsusus, sebenarnya keinginan Bait, sosialisasi organisasi IJABI, penguatan organisasi Ahlul Bait di
IJABI adalah menerima ajaran Islam dari manapun asalnya, tetapi daerah, konsolidasi organisasi dalam rangka meningkatkan
harus dengan kritik tinggi, sehingga terhindar dari kepalsuan63. profesionalisme dan mendukung partisipasi masyarakat yang utuh
dan terpadu; kedua, memelihara keserasian dan konsistensi
4. Kegiatan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia pelaksanaan semua program agar tetap merupakan bagian yang
integral dari program jangka panjang. Prioritas program jangka
pendeknya adalah sosialisasi organisasi IJABI, sosialisasi ajaran
62
Jalaluddin Rahmat, Rekayasa Sosial: Reformasi, Revolusi atau Manusia Besar, Islam melalui pemahaman jalur Ahlul Bait, konsolidasi komunitas
Penerbit Rosda Karya, 1999 hal 46- 57
63
Jalaluddin Rahmat, Al-Mustafa, Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi SAW,
64
khususnya yang membahas tentang Pengujian Tarikh Nabi dengan al-Quran serta Kritik DPP IJABI, Garis Besar Program Kerja Nasional dan Rekomendasi IJABI, Jakarta,
Matan Hadits, Muthahari Press, Bandung, 2006, hal 78 82 dan 91 - 93. 2006, hal 43

190 191
Ahlul Bait di Indonesia dan membentuk kerjasama dengan organisasi Pejabat Kanwil Departemen Agama Jawa Barat menyatakan
lainnya65. tidak mengenal sama sekali IJABI.67 Kalau dengan Jalaluddin mereka
mengenalnya, tetapi dengan IJABI hanya pernah mendengar
Program kerja jangka pendek dibagi dalam dua bidang, yaitu
namanya saja. Mengenai kantor IJABI, pengurusnya siapa saja,
bidang intern dan ekstern. Bidang intern melaksanakan program
kegiatannya apa saja dan ajaran keagamaannya juga tidak
mendidik dan membina para anggota IJABI. Kemudian untuk
mengetahui. Mereka lebih mengenal Muthahari sebagai yayasan
spesifikasi kerja yang optimal, maka bidang intern dibagi menjadi
pendidikan yang mengelola pendidikan SMU-Plus dari pada
departemen-departemen yang jumlahnya 13 departemen. Sebuah
mengenal Muthahari sebagai bagian dari IJABI. Dalam pendidikan,
organisasi yang memiliki kerja besar jika jumlah departemennya saja
IJABI menginduk kepada Dinas Pendidikan Nasional, bukan ke
mencapai 13 buah. Program kerja bidang ekstern melaksanakan
Departemen Agama. Oleh karena itu wajar jika tidak ada
program yang bersifat keluar atau sosialisasi segala hal berkaitan
komunikasi yang intens antara IJABI dengan Kanwil Departemen
dengan IJABI dan dengan contoh perilaku yang sesuai dengan al-
Agama Jawa Barat dan Kantor Departemen Agama Kota Bandung.
Quran dan al-Hadits. Misalnya; dakwah secara lisan, tulisan dan
perilaku mulia dan sebagainya. Kemudian untuk spesifikasi kerja
2. Tokoh Agama di Kiaracondong
demi hasil yang optimal, bidang eksternal ini di bagi dalam tiga
departemen, yaitu Dep. Organisasi, Departemen Sosial dan Beberapa tokoh agama Islam yang diwawancarai di
Mustadafin dan Departemen Dakwah66 Kiaracondong mengatakan bahwa pada dasarnya ajaran yang
dikembangkan oleh IJABI tidak ada masalah. Persoalannya adalah,
mengapa menyatakan hanya memahami dan mengajarkan agama
D. Respon Pemuka Agama dan Masyarakat
Islam sesuai dengan pemahaman jalur Ahlul Bait saja. Sementara,
1. Respon Kanwil Depag Jawa Barat dan Kandepag Kota Bandung masyarakat yang tidak paham isi dari IJABI, IJABI dipandang
sebagai pelopor Syiah di Indonesia. Mengapa pula mereka
Kemunculan IJABI seolah menjadi deklarasi dan
memasang gambar-gambar dari tokoh kalangan Syiah jika
pembuktian bahwa memang IJABI adalah pelopor Syiah di
memang tidak menjadi pendukungnya. Pernyataan M. Mubarak
Indonesia, meskipun dalam realitasnya jarang berbicara mengenai
dapat disimak dibawah ini.
Syiah. Bagi kalangan IJABI, Syiah itu bukanlah firqah, tetapi
madzhab (madzhab lebih kecil dari firqah, karena mazdhab Kami mengenal dengan sangat baik Kang Jalal, beliau ramah,
merupakan bagian dari firqah). Misalnya dalam firqah Sunni ada pemahaman Islamnya mendalam, peduli pendidikan, peduli kemiskinan
madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Namun pada dan amanah. Kalau Kang Jalal ingin kaya secara materi, sudah lama ia
umumnya masyarakat muslim memandang Syiah sebagai firqah menjadi kaya karena banyak orang mengetahui kualitas Kang Jalal
yang bersanding dengan Sunni , Mutazillah, Khawarij dan yang tidak mudah dicari tandingannya di negeri ini. Kang Jalal itu
sebagainya. mantan aktifis mahasiswa Universitas Pajajaran, lulusan luar negeri
dan ahli komunikasi sehingga sangat jelas jika menjelaskan paham

65 67
Ibid, hal. 44 45 dan wawancara dengan Sutrasno, Desember 2006 Wawancara dengan pejabat Kanwil Departemen Agama Jawa Barat di
66
Ibid. hal. 47 Bandung pada bulan Desember 2006

192 193
keagamaan kapada para pendengar. Dia seorang dosen terbang di BAB III
mana-mana dan supersibuk. Dalam kondisi seperti itu, kang jalal
PENUTUP
masih sempat memimpin SMU-Plus Muthahari dan telah mendirikan
SMP Muthahari pula di Cicalengka untuk kaum miskin. Tidak banyak
orang dengan kesibukan seperti dia dapat menyisihkan waktu untuk
memikirkan kepentingan sosial masyarakat miskin. Sayang memang
A. Kesimpulan
jika, IJABI merupakan pelopor Syiah di Indonesia, sebab MUI Pusat

D
telah memfatwakan bahwa Syiah itu sesat dan sesat itu masuk ari deskripsi di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut;
neraka68.
1. IJABI adalah organisasi keagamaan baru yang
Dari respon masyarakat seperti ini, memang IJABI dituntut
mengembangkan ajaran Islam versi Ahlul Bait,
untuk mampu menjelaskan dan mendefinisikan realitas dirinya
karena ajaran Islam garis Sunni dipandang kurang lengkap
secara argumentatif, sehingga tidak dipandang miring oleh
rujukannya. Hal ini terjadi karena meninggalkan ajaran Islam
kelompok organisasi lain di Indonesia. Apakah masa depan IJABI
jalur ahli bait, yang secara historis dan ilmiah dapat
akan menjadi lebih baik, kesemuanya tergantung dari kemampuan
dipertanggungjawabkan;
sang tokoh, program, pendukung, pemenuhan harapan dan cita-cita
para pendukungnya. Semakin baik memerankan diri sebagai 2. IJABI dapat dikategorikan sebagai pelopor Syiah di Indonesia,
pemberi harapan nyata dalam pergulatan sosial di Indonesia, maka meskipun sesungguhnya IJABI mengajarkan semua firqah dan
akan semakin besar pula dukungan terhadap IJABI. Secara kultural, madzhab dan non sektarian;
IJABI sudah memiliki pendukung tradisional, yaitu dari kaum 3. IJABI mengajak kaum muslimin untuk kritis dalam menerima
muslimin pecinta Ahlul Bait yang diwujudkan dalam berbagai tradisi ajaran Islam dari siapapun dan dari manapun untuk
dan tarekat di Indonesia ini. Jika gagal memenuhi harapan menghindari kepalsuan dan kesesatan;
pendukungnya, maka IJABI akan segera ditinggalkan para
pendukungnya. 4. Pejabat pemerintah dan masyarakat umum belum mengenal
keberadaan IJABI. Mereka hanya mengenal tokohnya, Jalaluddin
Rahmat.

B. Rekomendasi
1. Hendaknya semua pihak tidak mudah memvonis kelompok
tertentu sebagai sesat menyesatkan tanpa klarifikasi yang
memadai, sebab buku-buku madzhab Syiah, pada dasarnya
argumentatif, logis dan dapat dipertanggungjawabkan secara
historis dan ilmiah.

68
Diolah dari wawancara dengan Ahmad Mubarak, Desember 2006

194 195
2. Organisasi ini perlu mendaftarkan diri ke instansi pemerintah
sesuai dengan Undang-undang Keormasan agar legalitas
DAFTAR PERPUSTAKAAN
organisasi ini terjamin. Selain itu, tidak ada salahnya dalam
berbagai aktivitasnya mengundang pejabat Departemen Agama
Abdul Azis, Varian-Varian Fundamentalisme Islam di Indonesia, Diva
agar diketahui keberadaannya oleh pemerintah dan masyarakat.
Pustaka, Jakarta, 2004.
3. IJABI tidak semestinya dikait-kaitkan dengan Syiah, meskipun
Ahmab Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta,
hanya mementingkan ajaran Islam versi Ahlul Bait yang dalam
1986.
realitasnya memang didukung oleh Syiah.
Al-Quran dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Tahun 1999.
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 1942, LP3ES,
Jakarta.
DPP IJABI, Pedoman Organisasi Ikatan Jama;ah Ahlul Bait Indonesia
(IJABI), Moqadimah Anggaran Dasar Ikatan Jamaah Ahlul Bait
Indonesia (ABI) 2004 - 2008, Bandung, 2006.
Gamal al-Banna, (pent. Taufik Damas), Doktrin Pluralisme dalam al-
Quran, Penerbit Menara, Bekasi 2006.
Jalaluddin Rahmat, Al-Mustafa, Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi
SAW, Muthahari Press, Bandung, 2006.
Jalaluddin Rahmat, Rekayasa Sosial: Reformasi, Revolusi atau Manusia
Besar, Penerbit Rosda Karya, 1999.
__________, Al-Mustafa, Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi SAW,
khususnya yang membahas tentang Pengujian Tarikh Nabi
dengan al-Quran serta Kritik Matan Hadits, Muthahari Press,
Bandung, 2006.
__________, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan,
Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006.
Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda
Karya, Bandung, 1999.
Majalah Nuansa, Vol 1. V11/12/2003, Sejarah Berdirinya LDII, DPP
LDII, Jakarta, 2003

196 197
Majelis Ulama Indinesia, Kumpulan Fatwa Majelis Ulama Indonesia,
1997.
Miftah, F. Rahmat, Cinta Illahi dan Revolusi Cinta, Bahtera:
Pencerahan dan Pemberdayaan, Bidang Media dan Teknologi
Informasi IJABI dan Muthahari Press, Bandung, 2006.
Umar Hasyim, Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlu Sunnah wal
Jamaah ?, Bina Ilmu, Surabaya, 1982.
Wakhid Sugiyarto, Respon terhadap Aliran Sempalan di Indonesia:
Kajian terhadap Gerakan Jemaat Ahmadiyah dan Hindu Tamil di GEREJA KEMENANGAN IMAN INDONESIA
(GKII)
Kota Medan, 2006.

DI KOTA MEDAN

Oleh : Drs. H. Bashori A. Hakim, M.Si

198
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

A gama-agama besar di dunia mengalami


perkembangan fenomenal baik ideologi, ritual,
eksperiensial maupun gerakan sosialnya.
Perkembangan tersebut terjadi akibat perbedaan
penafsiran terhadap pokok-pokok ajarannya sehubungan adanya
perbedaan paradigma pemikiran keagamaan dan pengaruh dari
luar, misalnya kencangnya arus pemikiran liberal dalam memahami
teks.
Dalam kehidupan beragama, perbedaan itu memunculkan
berbagai macam aliran maupun paham keagamaan. Di antara aliran
maupun paham keagamaan yang timbul, menurut kelompok
mainstream terdapat kelompok yang bisa ditolerir, karena masih
dalam kerangka ajaran pokok dan wilayah perbedaan. Namun ada
pula yang dianggap telah menyimpang dari ajaran pokok yang
memunculkan keresahan masyarakat. Sebagai contoh, di Malang
pada tahun 2005 terdapat kelompok yang mengerjakan salat dua
bahasa yang digagas dan dikembangkan oleh Yusman Roy.
Akhirnya ajaran tersebut mendapat tentangan keras dari Majelis
Ulama Indonesia (MUI) setempat karena dianggap menghina Islam.
Atas perbuatannya itu, oleh pengadilan setempat, Yusman Roy
datuhi hukuman 5 tahun penjara. Di Banggai muncul paham Ali
Taetang yang mengaku dirinya sebagai nabi. Di ParungBogor,
Cianjur dan Kuningan muncul paham Ahmadiyah yang mengakui
Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Paham ini mendapat serangan
dari masyarakat setempat yang mengakibatkan beberapa masjid dan
rumah dihancurkan massa. Di beberapa tempat di Jawa Barat

201
terdapat kasus penutupan beberapa gereja karena meresahkan 2. Tokoh pendiri, ajaran serta keluasan pengaruhnya dalam
masyarakat. masyarakat;
3. Respon masyarakat atau tokoh agama terhadap keberadaan
Terlepas dari berbagai kasus keagamaan dengan ragam
GKII.
akibatnya tersebut di atas, di Kota Medan seorang tokoh Kristen
yakni Pendeta Dr. Benyamin Munthe berhasil mengembangkan
teknik pengobatan melalui pendekatan keagamaan yang dikenal D. Kegunaan
dengan kesembuhan Ilahi. Saat ini, pengikutnya tersebar di berbagai
Hasil kajian ini diharapkan menjadi bahan informasi bagi
daerah di Indonesia. Untuk menampung pelaksanaan peribadatan ia
Pimpinan Departemen Agama untuk dijadikan referensi
mendirikan gereja dengan nama Gereja Kemenangan Iman
penyusunan kebijakan dalam rangka memberikan pelayanan
Indonesia (GKII). Selain itu dalam praktek perkawinan di gereja, ia
kepada masyarakat, khususnya untuk meningkatkan kerukunan
mengajarkan kepada pengikut-pengikutnya untuk meninggalkan
hidup beragama.
adat perkawinan (Karo) yang selama ini diterapkan secara turun-
temurun oleh masyarakat Karo. Menurut informasi, tokoh pendiri E. Metodologi
GKII ini pernah berkata kepada saudaranya bahwa GKII paling baik
(benar). Mengingat keberadaan Gereja Kemenangan Iman Indonesia Kajian ini menggunakan metode kualitatif dalam bentuk
(GKII) di Kota Medan belum banyak diketahui dan menarik untuk kajian studi kasus dan bersifat deskriptif.
dikaji, maka kegiatan studi kasus keagamaan di Kota Medan ini Sebagai kajian yang menggunakan metode kualitatif, seperti
terkonsentrasikan pada gereja tersebut. asumsi yang dikemukakan oleh Merriam (1988), dalam kajian ini
peneliti merupakan instrumen pokok dalam proses pengumpulan
B. Permasalahan dan analisis data. Sedangkan data diperoleh melalui wawancara
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi hal- (John W. Creswell, (Ed.) Aris Budiman, et all, 2002:140).
hal berikut: Ditinjau dari tujuan dan kegunaannya, kajian ini termasuk
1. Apa latar belakang dan bagaimana kronologi timbulnya GKII; studi terapan (applied research). Studi dilakukan melalui pendekatan
2. Siapa tokoh pendiri dan latar belakangnya; evaluatif yang bersifat normatif dengan maksud ingin memperoleh
3. Apa saja ajaranajaran yang dikembangkan dan sejauh mana umpan-balik (feedback) suatu aktivitas, digunakan untuk
jangkauan penyebarannya; meningkatkan hasil produksi (Sugiyono,2001:5) dan untuk
4. Bagaimana respon masyarakat/pemuka agama terhadap memperoleh informasi dari umat Kristen di luar kelompok Jemaat
keberadaan GKII. GKII yang mengetahui dengan baik aktivitas GKII. Selanjutnya
digunakan untuk meningkatkan kerukunan hidup beragama (
C. Tujuan produk).

Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui: Data dikumpulkan melalui teknik wawancara dan
1. Latar belakang dan kronologi timbulnya GKII; penelusuran literatur. Wawancara dilakukan dengan para informan
terdiri atas: beberapa tokoh Kristen atau masyarakat yang

202 203
mengetahui keberadaan GKII, para Pejabat Pemerintah Daerah F. Lokasi Kajian
(dalam hal ini Pejabat Bimas Kristen Kantor Departemen Agama
Kajian ini dilaksanakan di Kota Medan Propinsi Sumatera
setempat), serta unsur Pimpinan/ Pengurus GKII sendiri. Secara
Utara, dengan konsentrasi kajian Gereja Kemenangan Iman
konkret, wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman
Indonesia yang terdapat di kota tersebut.
wawancara yang mengacu pada tujuan studi (Ida Bagoes Mantra,
2004:86). Sedangkan kajian pustaka atau dokumentasi dilakukan
dengan menelusuri naskah atau dokumen terkait dengan
permasalahan yang dikaji.
Data yang berhasil dikumpulkan diolah melalui tahap:
editing, klasifikasi, komparasi dan selanjutnya interpretasi untuk
memperoleh pengertian baru sebagai bahan penyusunan laporan
hasil kajian/penelitian.
Dalam proses pengolahan data terutama komparasi data,
dipergunakan prinsip triangulasi, yakni menyilangkan data atau
informasi yang diperoleh dari sumber data, kemudian data yang sah
dipergunakan untuk mengungkap hasil kajian. Dalam penelitian
kualitatif ada empat (4) macam triangulasi (Suharsimi Arikunto,
2002:16), namun karena terbatasnya waktu dan dana, maka peneliti
hanya menggunakan dua (2) macam triangulasi yaitu: (1)
trianggulasi data atau memperkaya data; dan (2) mengadakan
pengecekan dengan peneliti/data lain.
Untuk memastikan keabsahan/akurasi data, diupayakan
pemeriksaan data yang didasarkan atas kriteria berikut: derajat
keterpercayaan (credibility), ketergantungan (dependability),
keteralihan (transferability) dan kepastian (confirmability) (Lexy J.
Moleong, 2004:324).
Di dalam memahami data yang diperoleh di lapangan
dipergunakan pendekatan fenomenologis, dalam arti peneliti
berusaha memahami subyek dari sudut pandang mereka sendiri
dan memaknai berbagai fenomena sebagaimana dipahami dan
dimaknai oleh para pelaku (Robert Bogdan & Steven Taylor, Alih
Bhs.: Arief Furchan, 1992).

204 205
BAB II yang dimanifestasikan dalam bentuk marga yang menjadi perekat
PROFIL KOTA MEDAN dalam kehidupan bermasyarakat.
Mengacu pada topik kajian ini, uraian tentang gambaran
umum lokasi kajian ini lebih difokuskan pada uraian mengenai
gambaran umum kehidupan keagamaan di Kota Medan, terutama
agama Kristen.

K ota Medan adalah ibukota Propinsi Sumatera Utara


merupakan salah satu kota besar di Indonesia setelah
Jakarta. Sebagai ibukota propinsi, Medan berpenduduk
multiras dan etnis sehingga memiliki tingkat
Penduduk Kota Medan terdiri dari berbagai macam
pemeluk agama. Penduduk muslim adalah mayoritas, dengan
jumlah 1.046.906 jiwa. Penduduk Kristen berjumlah 247.351 jiwa,
keragaman yang tinggi. penduduk Katholik berjumlah 209.008 jiwa, penduduk Hindu
berjumlah 7.393 jiwa dan beragama Buddha berjumlah 416.862 jiwa
Keragaman agama masyarakat mengindikasikan keragaman (Kantor Departemen Agama Kota Medan, 2005). Berdasarkan
etnis. Keragaman etnis dan agama itu merupakan khazanah informasi yang digali, kebanyakan umat Kristen maupun Katholik
kekayaan budaya bangsa yang perlu dijaga, dilestarikan dan terdiri atas etnis Batak, terutama Batak Karo. Sedangkan umat
dikelola sedemikian rupa, sehingga tercipta rajutan persatuan yang Buddha mayoritas etnis Cina.
kokoh dalam kehidupan masyarakat. Namun di sisi lain, keragaman
itu berpotensi memicu konflik yang sering kita temui dalam Umat Islam di Kota Medan memiliki masjid 738 buah dan
kehidupan masyarakat. Keadaan demikian terjadi di daerah mana mushalla 200 buah, umat Kristen memiliki gereja 578 buah, umat
saja, tak terkecuali di Kota Medan. Oleh karena itu, dalam Katholik 53 buah, umat Hindu memiliki Kuil 40 buah, serta umat
kehidupan sehari-hari masyarakat di Kota Medan di satu sisi Budhha memiliki vihara 125 buah (Data Kantor Departemen Agama
kehidupan mereka yang harmonis. Namun, di sisi lain terdapat Kota Medan, 2005).
faktor-faktor yang memunculkan dis-harmoni dalam masyarakat. Dilihat dari segi persebaran penduduk di Propinsi Sumatera
Ada beberapa hal yang dianggap menjadi penyebab Utara pada umumnya, Kota Medan berpenduduk paling banyak.
terjadinya konflik, karena perbedaan agama dalam masyarakat, Dari jumlah 13.063.096 jiwa penduduk Propinsi Sumatera Utara,
antara lain: mengenai pendirian rumah ibadat, pembentukan jemaat sebanyak 2.374.939 jiwa menjadi penduduk kota Medan (Bidang
atau kelompok agama serta pemahaman agama yang dangkal yang Bimas Kristen, Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi
terekspresikan dalam tindakan sehingga mengakibatkan umat lain Sumatera Utara, 2006). Keadaan demikian dapat dimengerti karena
tersinggung ( Jajat Burhanuddin & Subhan, 1998 ). Kota Medan sebagai ibukota Propinsi yang menjadi pusat
perekonomian masyarakat.
Ada suatu mekanisme yang dimiliki dan diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Kota Medan sehingga Persebaran penduduk dilihat dari segi agama, mayoritas
dengan keragaman itu dapat meredam timbulnya konflik. Di antara umat Kristen di Propinsi Sumatera Utara bertempat tinggal di kota
mekanisme dimaksud adalah dalihan na tolu dan sistem kekerabatan Medan. Dari 4.084.205 umat Kristen di Propinsi Sumatera Utara
(Data Bidang Bimas Kristen Kantor Wilayah Departemen Agama

206 207
Propinsi Sumatera Utara), sebanyak 247.351 jiwa menjadi BAB III
penduduk Kota Medan.(Kantor Departemen Agama Kota Medan, HASIL-HASIL KAJIAN
2005).
Kehidupan keagamaan umat Kristen di Kota Medan
sebagaimana umat Kristen di daerah lain di Sumatera Utara dan di
Indonesia pada umumnya- diwarnai oleh adanya denominasi-
denominasi atau organisasi gereja. Di kota Medan terdapat tidak A. Sejarah Lahirnya GKII
kurang dari 80 buah organisasi gereja termasuk Gereja Kemenangan atar belakang timbulnya Gereja Kemenangan Iman

L
Iman Indonesia (GKII). (Data Seksi Bimas Kristen Kandepag Kota Indonesia (GKII) adalah karena pengalaman rohani
Medan, 2005) dengan jumlah pendeta, penatua, guru jemaat, pendirinya, yakni Pdt. DR. Benjamin Munthe. Menurut
evagelis dan diakones masing-masing organisasi gereja secara penuturan Pdt. Riani Silalahi (Sekretaris Gembala GKII)
bervariasi. yang didampingi Pdt. P. Tanjung, mengisahkan bahwa pada tahun
1970-an DR. Benjamin Munthe mengalami sakit gagal ginjal dan
berobat ke Rumah Sakit Cikini-Jakarta. Kala itu ditangani oleh (alm)
dr. Sidabutar dokter spesialis ginjal. Dr. Sidabutar memutuskan
untuk melakukan operasi. Pada saat menunggu proses operasi,
Benjamin Munthe diberi kesempatan untuk berdoa. Menurut
pengakuan Benyamin, pada saat ia berdoa, Kuasa Tuhan bekerja dan
menyembuhkan penyakitnya secara total. Saat memasuki ruang
operasi, sebelum dioperasi dr. Sidabutar melakukan cek ulang dan
ternyata di luar dugaan, penyakit Benjamin Munthe sudah sembuh
total sehingga operasi tidak jadi dilakukan. Pada hal ketika itu dr.
Sidabutar meramalkan umur Benjamin Munthe hanya sampai 60
tahun karena penyakit itu. Ternyata Tuhan menentukan lain.
Menurut pengakuan Benjamin, penyakitnya sembuh total hingga
sekarang hingga usianya saat ini mencapai 65 tahun. Sementara
penyakitnya itu tidak pernah kambuh berkat kemenangan karena
iman.
Pengalaman rohani yang dialami DR. Benjamin Munthe itu
selanjutnya memberikan inspirasi kepadanya untuk melakukan
kegiatan sosial kepada sesama dengan melakukan praktek
penyembuhan berbagai penyakit yang diderita orang-orang
terutama yang tinggal di daerah pedesaan dan kurang mampu.

208 209
Setelah sembuh dari penyakitnya, DR. Benjamin Munthe memulai Keberhasilannya dalam memberikan pelayanan kepada
kegiatan sosialnya untuk masyarakat berupa pelayanan Injil di desa- orang-orang sakit itu tidak lepas dari dukungan secara medis dan
desa Kabupaten Deli Serdang, Langkat dan Karo. Praktek pelayanan peran aktif isterinya yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak
pengobatannya itu diberi nama Kesembuhan Ilahi. yakni dr. Rehmana Sembiring.
Atas keinginan orang-orang yang berhasil disembuhkan
C. Ajaran dan Pengaruhnya
maupun orang-orang yang masih dalam proses penyembuhan agar
diadakan ritual bersama, maka tergeraklah DR. Benjamin Munthe Ajaran yang dikembangkan GKII pada dasarnya hampir
untuk mendirikan gereja dan diberinya nama Gereja Kemenangan sama dengan yang dilakukan oleh denominasi-denominasi yang
Iman Indonesia (GKII). lain, yaitu sama-sama berpegang kepada al-Kitab. Demikian
penuturan unsur pimpinan GKII, Sekretaris Gembala GKII.
Nama orgasnisasi gereja itu atas ide DR. Benyamin Munthe
berdasarkan pada al-Kitab Satu Johanes 5 ayat 4 b: Inilah yang Ajaran tentang keyakinan, pada prinsipnya sama saja
mengalahkan dunia, yaitu iman kita. Bertitik tolak dari ayat tersebut, dengan denominasi yang lain, berdasarkan Injil Sepenuh. Demikian
maka timbullah inspirasi untuk menamakan organisasi gerejanya pula ajaran tentang ibadah sama dengan denominasi yang lain.
dengan Gereja Kemenangan Iman Indonesia. Hanya saja dalam pelaksanaan ibadatnya dilakukan untuk
menyembah mencintai Tuhan, sehingga terkesan lebih suka
B. Tokoh Pendiri beribadah. Begitu pula ajaran tentang moral terdapat kesamaan
dengan denominasi lain.
Sebagaimana dipaparkan di bagian terdahulu bahwa
Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII) didirikan oleh Pdt. DR. Dalam praktek-praktek tertentu seperti dalam
Benjamin Munthe. Ia lahir di Kabanjahe tanggal 29 Nopember 1941. mengaktualisasikan ajaran agama, terdapat perbedaan yaitu
Latar belakang etnisnya adalah Suku Karo, dari Marga Ginting perbedaan interpretasi. Perbedaan yang ada tidak menyangkut
Munthe. Adapun latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi ajaran prinsip, namun mengenai hal-hal atau wilayah yang memang
keluarganya berasal dari keluarga kelas menengah ke atas dan diperbolehkan berbeda, misalnya praktek ibadah yang diwarnai
cukup berpengaruh di lingkungan masyarakat. Pendidikan terakhir budaya. Perbedaan diperbolehkan itu berkisar pada upacara
diperolehnya di Amerika Serikat, di Sekolah al-Kitab DR. Moris keagamaan, seperti: tata cara baptisan selam, upacara perkawinan dan
Cerullo Amerika Serikat. ajaran tentang Kesembuhan Ilahi.
Dia merintis berdirinya Gereja Kemenangan Iman Indonesia Dalam acara baptisan selam, dilakukan dengan cara
(GKII) berangkat dari nol. Ketika belum memiliki anggota jemaat, menenggelamkan anak yang dibaptis ke air. Setelah mengaku sudah
Pendeta Benyamin melakukan kegiatan sosial, seperti melayani selamat dengan mengaku Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, maka
orang-orang sakit di pedalaman Tanah Karo, Kabupaten Langkat, penenggelaman pun berakhir. Cara demikian sebenarnya sama
Kabupaten Deli Serdang dan kabupaten lain di Sumatera Utara. seperti dilakukan oleh Gereja Kharismatik, tetapi berbeda dengan
Dari hasil jerih payahnya ini, ia memperoleh penghargaan gelar yang dilakukan HKBP, HKI, GKPI, GBKP dan lainnya.
Doktor Honoris Causa dari Amerika Serikat.

210 211
Upacara perkawinan sebagai ritual dilakukan secara khusus yang berantakan, korban narkoba dan sebagainya. Di antara mereka
di gereja berdasarkan Injil. Tata cara adat perkawinan Karo atau itu yang sudah sembuh ada yang menjadi pendeta, seperti Pendeta
adat lainnya tidak ditinggalkan. GKII dalam upacara perkawinan Amos Jibuan yang semula preman, sekarang menjadi Pendeta GKII
meninggalkan adat pemakaian ulos dan upacara jambar. Upacara adat di Sibolga. Pendeta Ramsudin Sinaga pada mulanya adalah tukang
seperti itu dianggap warisan budaya leluhur/nenek moyang, bukan becak, sekarang menjadi Pendeta di Sidikalang. Para pasien datang
dari agama. bermula dari mendengar berita penyembuhan dengan metode Ilahi
di GKII. Jadi penyembuhan di GKII bukan tidak ada unsur paksaan.
Kesembuhan Ilahi merupakan salah satu ciri yang menonjol
dalam kegiatan GKII. Para pasien yang datang untuk berobat Hingga kini, di Kota Medan terdapat 4 buah GKII yang
dilakukan penyembuhan melalui perantaraan Injil dengan cara tergolong besar, masing-masing terletak di Jl. Hasanuddin No.4, di
berdoa Dengan Nama Yesus Kristus, yang diistilahkan dengan Jl. TD. Pardede No. 21, di Jl. SM. Raja No.249, dan di Jl.
Kesembuhan Ilahi. Kegiatan seperti itu hanya dilakukan oleh GKII. Pancing/Willem Iskandar No.247. Selain itu ada 8 buah gereja GKII
yang tergolong kecil.
Pelayanan Injil di lakukan mula-mula oleh pendirinya yakni
DR. Benjamin Munthe di desa-desa di berbagai kabupaten di Jumlah jemaat GKII di Kota Medan sekitar 7.000 jemaat,
Sumatera Utara sebagaimana telah diutarakan di atas, dibantu oleh menyebar di berbagai gereja GKII yang terdapat di beberapa
isterinya yang secara kebetulan seorang dokter spesialis anak. wilayah tersebut. Dilihat dari segi pendidikan, para jemaat sebagian
Karena adanya berbagai permintaan, di Medan dilaksanakan besar berpendidikan tingkat SLTA ke bawah. Sekitar 25%
praktek pelayanan di Jl. Hasanuddin, nomor 6 Medan, yang dalam berpendidikan sarjana. Dilihat dari segi etnis, sekitar 50% jemaat
perkembangannya menjadi pusat GKII hingga sekarang. Para pasien berasal dari etnis Batak (Batak Karo), Simalungun, Toba dan Nias.
yang datang antara lain orang-orang asal India (beragama Hindu) Sisanya adalah etnis Jawa, Cina, India, Menado dan Toraja.
dan Cina (beragama Buddha). Para pasien dilayani dengan praktek
Perkembangan anggota jemaat GKII semakin meningkat.
penyembuhan dengan pelayanan Injil, berdoa atas Nama Yesus
Keadaan ini menunjukkan bahwa keberadaan GKII semakin
Kristus (kesembuhan Ilahi) dan banyak yang berhasil memperoleh
diminati masyarakat, terutama umat Kristiani. Keikutsertaannya
kesembuhan.
membantu menanggulangi permasalahan kesehatan masyarakat
Gereja yang didirikan di Jl. Hasanuddin, No. 6 Medan itu semakin dirasakan sebagai alternatif. Oleh karena itu, dapat
dibangun di atas tanah warisan dari orang tua isteri Benjamin dimengerti jika saat ini GKII telah menyebar di 30 propinsi di
Munthe. Di lokasi itu sebelumnya telah ada bangunan rumah milik seluruh Indonesia, dengan jumlah gereja sebanyak 380. Demikian
mertua tersebut untuk tempat praktek dokter dan rumah tinggal di seperti yang dituturkan oleh Sekteratis Gembala GKII.
atas tanah seluas 2.000 m. Tanah dan rumah itu kemudian
Untuk membantu memberikan penerangan tentang nilai-
diwariskan untuk membangun gereja dengan dana yang sebagian
nilai ajaran agama sebagai pesan keagamaan, GKII telah
diperoleh dari para jemaat.
menerbitkan antara lain brosur kecil yang disebut Traktat
Di antara pasien terdapat golongan ekonomi lemah, anak Keselamatan untuk kalangan sendiri yang terbit secara berkala,
gelandangan, orang sakit yang tak punya biaya berobat, keluarga seperti yang telah diterbitkan pada tanggal 18 Juli 1987.

212 213
D. Respon Para Pemuka Agama aktifitas Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII), sementara
orang tua mereka tidak menghendaki anak-anaknya terpengaruh
Berdasarkan penuturan berbagai kalangan intern umat
GKII. Lambat-laun keresahan mereka hilang. Umat Kristen yang
Kristen yang berhasil diwawancarai, dapat dikemukakan bahwa
tidak seirama dengan GKII menyadari dan membiarkan adanya
keberadaan GKII secara umum tidak menjadi masalah bagi mereka,
keragaman dalam agama mereka. Yang terpenting masih berpegang
karena GKII melaksanakan ibadah berdasarkan al-Kitab. GKII
kepada al-Kitab. Terbukti dengan makin berkembangnya pengikut
melaksanakan praktek Kesembuhan Ilahi yang diperintahkan
jemaat GKII, baik di Kota Medan maupun di berbagai daerah di
Tuhan. Jadi sebenarnya mereka tidak membuat paham baru dalam
Indonesia. Hal demikian kemungkinan karena perubahan sikap di
Kristen, tetapi hanya mempunyai ciri khas penonjolan praktek
kalangan umat Kristen denominasi lain (bukan GKII) terhadap
ibadah tertentu yang berbeda dengan yang lain sebagaimana yang
GKII. Rasa kebersamaan antar sesama umat Kristen yang sama-
diajarkan al-Kitab. Di dalam Markus Pasal 16 dinyatakan: Pergilah
sama memiliki satu al-Kitab. Juga tidak lepas dari peran Pemerintah
kamu ke seluruh muka bumi (Ayat 15 s/d 18): Melaksanakan amanat
Daerah yaitu Pejabat Kantor Departemen Agama dan para tokoh
agung (bersaksi), membaptis yang percaya kepada Yesus, dan
atau pimpinan agama untuk melakukan pembinaan dan
menyembuhkan orang sakit dengan kuasa Tuhan. Maka dapat
peningkatan kerukunan intern maupun antar umat beragama. Pada
dikatakan apa yang dilakukan Benjamin merupakan perintah dan
tanggal 29 November 2006 terbentuklah Badan Kerjasama Antar
Firman Tuhan. Demikian antara lain penuturan Bishop P. Zebua
Gereja (BKAG) di Kota Medan. Para pengurus terdiri atas berbagai
(Pimpinan Gereja Tuhan Indonesia) dan Pdt. S. Siagian (Sekretaris
unsur/ kelompok baik dari agama Katholik maupun Kristen.
Gereja Tuhan Indonesia).
Sebelumnya telah ada BAMA, tetapi tidak melibatkan agama
Persoalan GKII yang meninggalkan adat perkawinan Karo, Katholik dan stagnan. Dengan adanya BKAG maka BAMA melebur
seperti yang dituturkan oleh salah satu pengikutnya mengatakan dan menyatu dengan BKAG. Organisasi yang baru terbentuk itu
bahwa merekalah yang paling baik, dan Gereja Tabernakel juga diharapkan benar-benar efektif untuk meningkatkan kerukunan
demikian. Jadi itu bukan hal baru. Yang penting mereka tetap khususnya internal umat Kristen dan umat beragama lainnya.
menghargai yang lain. Dari kenyataan demikian diperkirakan
lambat laun banyak umat Kristen yang meninggalkan adat karena
adat adalah tradisi manusia, bukan dari Tuhan.
Tentang interaksi para pimpinan GKII dengan kelompok
lain, terlihat cukup baik. Bahkan dalam kegiatan Jaringan Doa se-
Kota Medan yang diadakan sebulan sekali, Benjamin Munthe selalu
aktif sebagai pendukung kegiatan dengan menyertakan jemaatnya.
Beberapa informan lain menuturkan, memang pada
mulanya keberadaan GKII yang menonjolkan ajaran mengenai
pemberantasan adat perkawinan Karo, dirasa meresahkan sebagian
umat Kristen. Terlebih banyak anak muda yang tertarik mengikuti

214 215
BAB IV Amerika Serikat. Keberhasilannya dalam melayani
PENUTUP penyembuhan orang sakit tidak lepas dari peran aktif isterinya
yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak, yang membantu
proses penyembuhan.
3. Ajaran yang dikembangkan GKII pada dasarnya sama dengan
A. Kesimpulan ajaran yang dilakukan umat Kristen lainnya, yang sama-sama
berdasarkan al-Kitab. Ajaran dimaksud antara lain: tentang

B
erdasarkan hasil kajian tersebut di atas dapat
keyakinan/keimanan, ibadah/kebaktian, dan ajaran tentang
disimpulkan beberapa hal berikut:
moral. Namun, secara spesifik ada ciri ajaran yang ditonjolkan
dan dikembangkan, yaitu: baptisan selam, perkawinan dengan
1. Latar belakang munculnya GKII adalah pengalaman meninggalkan adat Batak/Karo, serta kesembuhan Ilahi. Sampai
spiritual/keagamaan pendirinya yakni DR. Pdt. Benjamin saat ini GKII telah menjangkau hingga 30 propinsi di Indonesia,
Munthe pada waktu menderita penyakit gagal ginjal. Menurut dengan jumlah gereja 380 buah. Di Kota Medan, hingga saat ini
keyakinannya, penyakitnya sembuh atas Kuasa Tuhan berkat terdapat 4 buah gereja GKII yang cukup besar dan 8 gereja yang
doa yang dilakukannya sebelum dioperasi. Kesembuhan tergolong kecil. Jumlah anggota GKII di Kota Medan mencapai
penyakit lantaran doa yang dilakukannya itu disebutnya sebagai sekitar 7.000 jemaat.
kesembuhan Ilahi. Pengalaman spiritual yang dialami Pdt. 4. Kalangan intern pemuka Kristen pada umumnya bersikap
Benjamin Munthe itu juga memberinya inspirasi untuk permisif terhadap keberadaan GKII. Semula mereka merasa
melakukan Pelayanan Injil melalui kesembuhan Ilahi dengan resah atas keberadaan GKII karena meninggalkan adat Karo
cara berdoa. Karena orang yang dilayani semakin banyak dan (misalnya pemakaian ulos dalam upacara perkawinan),
memerlukan tempat untuk melakukan kebaktian, maka lambat-laun mereka tidak merasa resah dan tidak
didirikan gereja dengan nama Gereja Kemenangan Iman mempermasalahkan. Perubahan sikap tersebut dikarenakan
Indonesia (GKII). Pemberian nama demikian berangkat dari mereka makin memahami dan menyadari bahwa adat
pengalaman spiritual Pdt. Benjamin Munthe yang meyakini perkawinan (antara lain ulos) itu bukan prinsip dalam ajaran
kesembuhan penyakitnya dengan kemenangan iman. agama, melainkan merupakan adat kebiasaan yang diwarisi
2. Tokoh pendiri GKII adalah DR. Pdt. Benjamin Munthe, lahir di dari nenek moyang.
Kabanjahe pada tanggal 29 Nopember 1941. Ia berasal dari
etnis Karo dari marga Ginting Monthe, dengan latar belakang
sosial tergolong kelas menengah. Pendidikan tinggi diraihnya
dari pendidikan al-Kitab DR. Moris Cerullo di Amerika Serikat.
B. Rekomendasi
Atas keberhasilannya mengelola GKII dan aktivitas pelayayan
Injil kepada masyarakat/umat Kristen, ia mendapat GKII yang salah satu ciri ajarannya yaitu meniadakan adat
penghargaan berupa gelar Doctor Honoris Causa dari Karo dalam upacara perkawinan, sebenarnya cukup potensial bagi

216 217
kemungkinan timbulnya konflik intern umat Kristen karena masih DAFTAR KEPUSTAKAAN
ada, sementara kalangan umat Kristen khususnya dari kalangan
etnis Karo- yang menganggap adat perkawinan seperti ulos-
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian Sauatu Pendekatan
merupakan adat yang warisan Batak/Karo secata turun-temurun,
Praktek, Jakarta, PT. Rineka Cipta, Edsisi Revisi V, Cet.
sehingga perlu dilestarikan. Mewaspadai kondisi demikian maka
Keduabelas.
diharapkan pihak Kantor Departemen Agama setempat bekerjasama
dengan para tokoh/pimpinan agama terkait menggalang persatuan Creswell, John W., (Ed.: Aris Budiman), 2002, Research Design,
di kalangan umat Kristen, diantaranya dengan memfasilitasi BKAG Qualitative & Quantitative Approaches, Pendekatan Kualitatif &
agar melakukan kegiatan-kegiatan memperkokoh kebersamaan di Kuantitatif, Jakarta, KIK Press, Edisi Revisi, Cet. Kedua.
kalangan mereka. Kantor Departemen Agama Kota Medan, 2005, Data Jumlah Penduduk
Menurut Agama, Medan, Kandepag Kota Medan.
--------------- , 2005, Data Rumah Ibadah, Medan, Kandepag Kota
Medan.
--------------- , 2005, Data Jumlah Organisasi Gereja Kota Medan, Medan,
Kandepag Kota Medan, Seksi Bimas Kristen Kandepag Kota
Medan.
Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sumatera Utara, 2006,
Data Jumlah Penduduk Menurut Agama, Medan, Bidang Bimas
Kristen Kanwil Depag Propinsi Sumatera Utara.
Mantra, Ida Bagus, 2004, Filsafat Studi dan Metode Studi Sosial,
Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Moleong, Lexy J., 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung,
Remaja Rosdakarya.
Sugiyono, 2001, Metode Studi Administratif, Bandung, Alfabeta.

218 219
PELAKSANAAN SYARIAT ISLAM
DI KOTA BANDA ACEH

Oleh : Drs. H. Ahsanul Khalikin

220
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


ebagian orang menerima propaganda yang menyatakan

S bahwa hukum pidana Islam sangat sadis, kejam,


melanggar hak asasi manusia, dan telah kadaluarsa.
Akibatnya ketika lahir keinginan untuk menerapkan
syari'at Islam, muncul perdebatan antara yang pro dan kontra.
Daerah Nanggroe Aceh Darussalam berusaha meyakinkan
masyarakat bahwa Islam adalah rahmatan lil'alamin dalam
menegakkan supremasi hukum sehingga tidak perlu ada
kekhawatiran terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Islam telah
menentukan pilihan dengan menempatkan manusia pada tempat
yang terhormat.
Undang-undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus
Nanggroe Aceh Darussalam telah menghantarkan sebuah kepastian
pelaksanaan hukum di Aceh, yaitu hukum syariaat Islam. Elit
politik beretorika merencanakan terwujudnya sistem peradilan yang
dapat mengadili dan menyelesaikan perkara jinayat (kriminal).
Pengadilannya dinamakan dengan Mahkamah Syariah. Berbagai
persiapan dirancang untuk mewujudkannya. Undang-undang No.
14 Tahun 1970 jo Undang-Undang No. 35 Tahun 1999 tentang
Kekuasaan Pokok-Pokok Kehakiman, di Indonesia ada empat
macam jenis Peradilan; (1). Peradilan Umum; (2). Peradilan Agama;
(3). Peradilan Militer; (4). Peradilan Tata Usaha Negara. Untuk
lingkungan Peradilan Agama keluar Undang-Undang No. 7 Tahun
1989. Ada tiga jenis kewenangan yang berbeda-beda. Untuk Pulau
Jawa/Madura diberi nama dengan Peradilan Agama (Raad Agama)
dengan kewenangan yang sangat terbatas (Stbt, 1882 No. 116).

223
Peradilan ini bertugas menyelesaikan masalah Perkawinan. Untuk untuk tingkat Kemukiman, qadhi, ulama untuk tingkat ulee balang,
sebagian Kalimantan Selatan berdasarkan hukum Stbt 1937 No. 638 qadhi malikul adil dan Sultan untuk tingkat kerajaan.
mempunyai kewenangan tertentu pula. Selebihnya tunduk di bawah
Pejabat-pejabat ini bertindak sebagai hakim menurut tingkat
Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1957 yaitu penjabaran PP No.
dan jenis sengketa/delik yang dihadapi. Pejabat- pejabat permanen
29 Tahun 1957 yang khusus berlaku untuk daerah Aceh. Jadi PP No.
di bidang yudikatif ini akan melengkapi majelis hakim menurut
45 Tahun 1957 itu berlaku di luar Pulau Jawa/Madura dan di luar
kebutuhan dan perkara yang dihadapinya. Makin rumit masalah
Kalimantan Selatan.
yang dihadapi makin selektif cerdik pandai yang diundang untuk
Sistem Peradilan di Aceh telah ada bersamaan dengan menyelesaikan masalah yang diajukan dan bertindak sebagai majelis
berlakunya syari'at Islam dalam masyarakat Aceh. Sistem peradilan mahkamah.
adalah salah satu komponen penting dalam hukum (syari'at). Aceh
Yang menarik untuk direnungkan adalah bahwa pihak yang
pernah mencapai zaman kejayaan pada masa silam, dan salah satu
dihukum atau kalah, tidak merasa bahwa yang bersangkutan telah
tanda kemajuan itu adalah terwujudnya kepastian hukum dan
dihukum atau kalah. Hal ini disebabkan. Majelis Mahkamah dapat
peradilan.
menghantarkan pihak-pihak yang tersangkut melalui proses
Syariat Islam adalah sistem landasan hukum. Oleh karena itu penyelesaian damai, bukan putusan, meskipun dalam bidang jinayat
jika hendak membangun syari'at Islam berarti membangun suatu sekalipun. Justru itu tidak ada kesan dendam, iri hati dan tidak perlu
sistem hukum dengan syarat-syaratnya yang harus dipenuhi. pula untuk melakukan kolusi.
Setelah sekian lama mengikuti peradilan umum, sebagaimana
Pada zaman Sultan lskandar Muda mahkamah menjalankan
daerah lainnya. Setelah keluar UU No 18 Tahun 2001 tentang
syari'at Islam dengan menerapkan suatu sistem peradilan. Ada
Otonomi Khusus, maka di daerah Aceh diterapkan sistem peradilan
peradilan di tingkat Gampong, Mukim, Ulee balang dan tingkat
yang berdasarkan Syariat Islam, namun setelah beberapa tahun
tertinggi yaitu Sultan. Keempat tingkat peradilan ini mempunyai
berjalan belum diketahui bagaimana pelaksanaannya di lapangan.
kewenangan masing-masing. Jenis-jenis sengketa/delik tertentu
Melihat kondisi demikian Puslitbang Kehidupan Keagamaan
hanya diselesaikan di tingkat gampong. Dan dalam hal-hal tertentu
Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama merasa perlu
diajukan banding ke tingkat mukim, dan ulee balang. Hal-hal yang
melakukan kajian dan penelitian secara sistematik dan mendalam
sangat spesifik saja yang dapat diajukan kasasi ke tingkat Sultan.
dengan harapan dapat dijadikan bahan bagi penyempurnaan
Penyelesaian semua sengketa/delik harus melalui damai, pelaksanaannya.
bukan melalui sebuah keputusan. Maka hasil penyelesaian di
masing-masing tingkat peradilan tidak ada istilah menang atau B. Masalah Penelitian
kalah, semua pihak harus merasa puas, bahkan masyarakat umum Yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah:
pun harus merasa puas. Hakim majelis pada tingkat-tingkat
1. Bagaimana pengertian syariat Islam menurut masyarakat di
peradilan ini tidak permanen. Pejabat yang permanen adalah
Kota Banda Aceh?
Keuchik, lmum untuk tingkat gampong, Kepala Mukim, lmum Syiek
2. Bagaimana bentuk pelaksanaan syariat Islam di Kota Banda
Aceh selama ini?

224 225
3. Apa saja kebijakan pemerintah daerah Kota Banda Aceh dalam tokoh masyarakat, dan masyarakat, tetapi juga dengan tokoh-tokoh
rangka penegakkan syariat Islam? kunci (opinion leaders).
4. Respon masyarakat terhadap pelaksanaan syariat Islam di Kota 2. Lokasi dan waktu penelitian
Banda Aceh; dan pengaruh/dampak dilaksanakannya syariat
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Banda Aceh. Waktu
Islam di Kota Banda Aceh?
penelitian adalah pada bulan September sampai dengan Nopember
2006.
3. Prosedur pengumpulan data
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Sedangkan tujuan dan kegunaan penelitian ingin ; Metodologi penelitian ini dilakukan melalui pendekatan
kualitatif, yang mencakup; digalinya sejumlah literatur,
1. Mendiskripsikan pelaksanaan Syariat Islam di Kota Banda Aceh
dokumentasi yang terkait dengan Peraturan dan kebijakan tentang
sesuai apa yang terjadi selama ini;
Pelaksanaan Syariat Islam di Kota Banda Aceh, laporan kajian yang
2. Sebagai bahan informasi untuk kebijakan pemerintah pusat terkait, pengurus organisasi keagamaan, tokoh dan warga
maupun pemerintah daerah dalam rangka penyempurnaan UU masyarakat setempat, pejabat pemerintah setempat, serta kenyataan-
dan pelaksanaannya di Nangroe Aceh Darussalam. kenyataan aktual yang ada hubungannya dengan tujuan penelitian
ini. Teknik pengumpulan data: wawancara, telaah dukumen atau
study text, dan pengamatan langsung.
D. Metodologi Penelitian
4. Analisa data
1. Jenis dan Teknik Penelitian
Data yang terkumpul dianalisis secara induktif, sekaligus
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang mencoba untuk dipahami memahami dengan mengkaitkan antara
mendeskripsikan tentang Pelaksanaan Syariat Islam di Kota Banda aspek yang satu dengan aspek lainnya guna mempertajam
Aceh. pembahasan. Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik: (1) observasi dan pemahaman (insight) yang menyeluruh (whole) dan tuntas
telaah dokumen, (2) wawancara mendalam (in dept interview) (exhaustive) tentang aspek-aspek yang relevan dengan rumusan
terhadap responden terpilih. Observasi dan telaah dokumen masalah dan tujuan penelitian.
dilakukan untuk mendapatkan bukti-bukti empirik berbagai 5. Triangulasi Data
perangkat aturan dan informasi tentang Pelaksanaan Syariat Islam
di Kota Banda Aceh Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Sedangkan Untuk mencari kebenaran data maupun penafsirannya peneliti
wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara juga melakukan triangulasi data terhadap responden atau informan
dilakukan agar data yang diperoleh terarah sesuai dengan rumusan kunci. Data tersebut diperoleh melalui wawancara serta teknik
masalah dan tujuan penelitian. Wawancara tidak saja dilakukan pengamatan secara langsung sehingga bila terdapat kekurangsuaian,
kepada beberapa orang pejabat, pakar hukum Islam, tokoh adat, dapat sesegera mungkin dilakukan pengulangan dalam

226 227
pengumpulan data, atau sama sekali tidak menggunakan informasi Islam itu bersifat konkrit dan konstan yang terkait dengan proses
tersebut bila diduga tidak membantu memperkaya analisis. turunnya wahyu dari Allah swt melalui Rasulullah saw yang
Penelitian ini juga dilakukan melalui pendekatan: multi- langsung menjadi jawaban atas pertanyaan yang timbul atau
approaches yaitu kesejarahan, sosiologikal, dan textual. Analisis: langsung menjadi solusi terhadap aneka persoalan yang terjadi di
comparative study (antara pandangan konservatif versus liberal. masa kerasulan nabi Muhammad saw. Saat itu, setiap wahyu yang
Teknik pengumpulan data: wawancara, telaah dukumen atau study mengandung norma hukum baik yang berisi kaedah larangan
teks. Informan: para pakar bidang syariat Islam, dosen IAIN Banda (muharomat), kewajiban (fardu atau wajibat), anjuran positif (sunnah),
Aceh Fak. Syariah, Kepala Mahkamah Syariah Propinsi, Kepala anjuran negatif (makruh), ataupun kebolehan (ibahah), dapat disebut
Dinas Syariat Propinsi, Pimpinan Wilayatul Hisbah, dan beberapa sebagai norma hukum (al-ahkaam) yang disebut dengan Hukum
informan lainnya. Islam.
Pada hirarki makna yang kedua, pengertian Hukum Islam
itu dapat dikaitkan dengan masa sepeninggal Rasulullah saw, ketika
E. Definisi Konseptual
dibutuhkan usaha pengumpulan dan penulisan wahyu Ilahi itu ke
Jika pembahasan ini dibatasi pada pengertian hukum, maka dalam satu naskah.
perbedaan antara istilah Syariat Islam dengan pengertian luas
hukum syariat harus jelas. Di samping itu, pengertian tentang
hukum dalam arti fiqih harus ditata karena fiqih merupakan cabang
ilmu ke-Islaman yang membahas masalah syariat. Pengertian fiqh
itu harus dikembangkan secara rinci ke dalam pengertian qanun
yang berisi kaedah yang perlu dikukuhkan oleh sistem kekuasaan
umum (negara). Dengan demikian, antara aspek isi atau esensi dan
bentuk hukum (qanun) itu harus dipandang sebagai sesuatu yang
niscaya dalam pemahaman mengenai proses penataan kembali
pengertian mengenai hukum syariat Islam.
Sehubungan dengan digunakannya istilah-istilah hukum
Islam, syariat Islam, fiqh Islam, dan qanun Islam maka penting
adanya hirarki makna dalam konsep-konsep mengenai hukum Islam
tersebut. Melalui pendekatan hirarki makna, kita akan mengetahui
bahwa istilah-istilah yang biasa digunakan dalam hubungannya
dengan terminologi hukum Islam itu, tidak saja mengandung
perbedaan pengertian semantik, tetapi memang berbeda secara
konseptual dan maknawi karena perkembangan sejarah. Pada
hirarki pertama, pengertian tentang norma atau kaedah hukum

228 229
BAB II Sementara di seluruh Aceh, prosentasenya adalah Islam sebanyak
GAMBARAN UMUM KOTA BANDA ACEH 98,72%, Protestan sebanyak 0,98%, Katolik sebanyak 0,14%, Hindu
sebanyak 0,02%, dan Budha sebanyak 0,16%.
Jumlah penganut masing-masing agama pada tahun 2004 di
kota Banda Aceh adalah sebagai berikut:
No Kecamatan Islam Kristen Katholik Hindu Budha
A. Sekilas tentang Nanggroe Aceh Darussalam 1 Meuraksa 28.158 - - - -
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Banda Aceh yang 2 Banda Raya 17.802
merupakan ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). 3 Jaya Baru 21.137
Kota Banda Aceh terbagi ke dalam sembilan kecamatan, yaitu 4 Baiturrahman 32.422 276 260 - 373
5 Lueng Bata 15.053 - 11 - -
kecamatan Meuraksa, Baiturrahman, Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda
6 Kuta Alam 46.379 994 998 - 1.967
Raya, Jaya Baru, Lueng Bata, Kuta Raja dan Ulee Kareng. Menurut
7 Kutaraja 18.144 63 50 30 133
data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh,
8 Syiah Kuala 26.433 45 99 - -
penduduk kota Banda Aceh pada tahun 2002 berjumlah 225.996 juta
9 Ulee Kareng 15.169 - - - -
jiwa. Jumlah 220.697 1.536 1.308 245 2.473
Dipilihnya kota Banda Aceh sebagai tempat penelitian Sumber: Departemen Agama Kota Banda Aceh

tentang Pelaksanaan Syariat Islam bukan saja karena kota ini


merupakan ibukota Propinsi, tetapi juga didasarkan atas berbagai B. Implementasi Syariat Islam di NAD
pertimbangan lainnya. Salah satu alasan mendasar adalah karena
Landasan yuridis pelaksanaan Syariat Islam di Propinsi
penduduk kota Banda Aceh terdiri dari berbagai agama yang ada di
Naggroe Aceh Darussalam mengacu kepada Undang-Undang
Indonesia dan kesempatan masing-masing umat beragama untuk
Nomor 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh
mengamalkan agamanya terbuka dengan lebar dibandingkan
dan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2001 tentang Otonomi
dengan situasi di kota dan kabupaten lainnya di propinsi NAD.
Khusus untuk Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada ayat 2
Umat beragama, baik yang beragama Islam, Kristen, Katolik, pasal 4 undang-undang nomor 44 tahun 1999 disebutkan bahwa:
Hindu, dan Budha melaksanakan aktifitas keagamannya di rumah Yang dimaksud dengan mengembangkan dan mengatur
ibadah masing-masing. Di kota Banda Aceh terdapat 90 buah masjid, penyelenggaraan kehidupan beragama adalah mengupayakan dan
4 buah Gereja Protestan, 1 buah Gereja Katolik, 1 buah Kuil, dan 4 membuat Kebijakan Daerah untuk mengatur kehidupan masyarakat
buah Vihara. yang sesuai dengan ajaran Islam serta meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah SWT. Disamping itu, pemeluk agama lain
Tabel di bawah ini menggambarkan bahwa prosentase
dijamin untuk melaksanakan ibadah agamanya sesuai dengan
penduduk kota Banda Aceh berdasarkan kelompok agama adalah:
keyakinan masing-masing. Pada tahun 2000, pemerintah Propinsi
Islam sebanyak 98,30%, Protestan sebanyak 0,45%, Katholik
Daerah Istimewa Aceh mengeluarkan peraturan Daerah Nomor 5
sebanyak 0,48%, Hindu sebanyak 0,01%, dan Budha sebanyak 0,76%.

230 231
tentang Pelaksanaan Syariat Islam di propinsi NAD sebagai Pada tahun 2003, Dinas syariat Islam propinsi NAD mulai
penjabaran dari kedua undang-undang di atas. merekrut anggota yang bertugas sebagai WH. Karena fungsinya
sebagai pengawas maka kepada anggota WH diberikan dan dilatih
Menindaklanjuti amanat undang-undang dan PERDA
ilmu-ilmu dasar kepolisian sehingga mereka lebih dikenal oleh
tersebut, maka pada tahun 2001 Pemerintah Daerah mengeluarkan
masyarakat dengan sebutan Polisi Syariat. Pada saat WH
PERDA Nomor 33 yang berisikan tentang pembentukan Susunan
melakukan aktifitas lapangan seperti melakukan razia dan
Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Syariat Islam di Propinsi Daerah
pembinaan, aktifitas WH ini didampingi oleh anggota kepolisian
Istimewa Aceh dan Kepala Kantor Dinas ini menduduki jabatan
yang berasal dari Polres Banda Aceh dibawah koordinasi Kaba. Bina
eselon II.a. Dinas ini bertugas dan bertanggung jawab untuk
Mitra yang berpangkat Ajun Komisaris Polisi.
mempersiapkan dan mengurusi berbagai hal yang berkaitan dengan
pelaksanaan syariat Islam di propinsi ini. Salah satu kegiatan yang Ada beberapa aspek yang layak diamati dari pelaksanaan
menonjol dari Dinas ini adalah mempersiapkan berbagai qanun syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di kota Banda
(Peraturan Daerah) yang berkaitan dengan syariat Islam. Dalam Aceh, yaitu busana muslimah dan razia yang dilakukan oleh WH.
PERDA Nomor 5 disebutkan bahwa pelaksanaan Syariat Islam di Bagi sebagian besar masyarakat, busana muslimah telah menjadi
Aceh meliputi: aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, pendidikan dan sebuah simbol identifikasi diri seorang wanita bahwa ia adalah
dakwah islamiyah/amar maruf nahi munkar, baitul mal, seorang muslimah. Demikian pula halnya di Aceh para wanita
kemasyarakatan, syiar islam, pembelaan islam, qadha, jinayat, banyak yang memakai busana muslimah. Terlepas dari faktor yang
munakahat dan mawaris. melatarbelakangi mereka memakai jilbab kesadaran agama atau
takut pada razia sejak busana muslimah menjadi salah satu aturan
Sejak syariat Islam diberlakukan hingga penelitian ini
yang tertuang dalam qanun, kuantitas wanita yang memakai busana
dilaksanakan pemerintah daerah melalui Dinas Syariat Islam telah
muslimah semakin meningkat di Banda Aceh.
menghasilkan beberapa qanun yang kesemuanya telah disahkan oleh
DPRD. Qanun-qanun tersebut adalah qanun nomor 10 tahun 2002 Aktifitas WH tidak terbatas pada razia busana muslimah
tentang Peradilan Syariat Islam, nomor 11 tahun 2002 tentang tetapi juga pada perilaku khalwat (mesum). Dengan dibantu oleh
Pelaksanaan Syariat Islam, nomor 12 tahun 2003 tentang minuman aparat keamanan (TNI dan Polri) WH sering melakukan razia di
khamar dan sejenisnya, nomor 13 tahun 2003 tentang Maisir daerah-daerah yang sering menjadi tempat berkumpulnya muda
(Perjudian), nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat (mesum). mudi seperti tempat-tempat rekreasi. Mereka yang tertangkap
sedang berkhalwat akan ditangkap dan dilepas kembali setelah
Untuk mengimplementasikan syariat Islam dalam kehidupan
menandatangai surat pernyataan tidak akan mengulangi lagi,
sosial maka diperlukan sebuah institusi yaitu Wilayatul Hisbah (WH)
kemudian orang tua atau wali harus menjemputnya.
sebagai badan pengawas yang membantu polisi. WH yang dibentuk
berdasarkan Qanun nomor 11 tahun 2002 selain bertugas Demikian pula tentang penerapan qanun nomor 11 tahun 2002
mensosialisasikan syariat Islam dan sebagai pengawas agar pasal 7-11 tentang shalat berjamaah, shalat Jumat, dan bulan
masyarakat mematuhi peraturan yang ada serta membina pelaku Ramadhan meskpun hal ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat
pelanggaran agar mematuhi qanun yang telah diatur. Aceh. Pada hari Jumat, misalnya menjelang shalat jumat aktifitas
toko, kedai, dan angkutan umum harus dihentikan. Pasal ini bukan

232 233
hal baru, namun sebagai upaya legalitas terhadap kebiasaan yang Ketika syariat Islam akan diberlakukan di Aceh, ada perasaan
telah dijalankan oleh orang Aceh selama ini. ketakutan di masyarakat Aceh, khususnya penduduk yang bukan
beragama Islam. Perasaan ketakutan ini adalah wajar mengingat
Aspek lainnya yang menonjol dari pelaksanaan syariat Islam
bahwa keyakinan agama merupakan hak asasi manusia yang paling
adalah penulisan nama kantor, toko, dan badan usaha dengan
fundamental dalam kehidupan manusia. Salah satu pertanyaan
menggunakan huruf Arab Melayu, sebagaimana yang tertuang pada
pokok yang sering dipertanyakan adalah tentang bagaimana posisi
qanun Nomor 11, pasal 12 tahun 2002. Akibat dari aturan tersebut
penganut non-muslim dalam penerapan syariat Islam di NAD.
seluruh nama kantor pemerintah dan sebagian besar nama toko di
Selain pertanyaan di atas, juga muncul perasaan ketakutan terhadap
Banda Aceh ditulis dengan menggunakan huruf Arab Melayu.
Syariat Islam bahwa di Aceh akan segera diterapkan hukum
Namun karena kaidah penulisannya belum ada yang baku dan
qishas, potong tangan, dan rajam bagi semua orang yang melakukan
seragam, maka sering kali terjadi perbedaan penggunaan huruf
tindak kejahatan. Ketakutan yang terakhir ini bukan hanya
antara nama satu instansi dengan instansi lain.
dihinggapi oleh masyarakat non-Islam tetapi juga dialami oleh
Di Banda Aceh banyak nama toko yang pemiliknya adalah penduduk yang beragama Islam.
WNI keturunan Cina dan bukan beragama Islam menuliskan nama
tokonya dengan menggunakan huruf Arab Melayu. Salah seorang C. Kehidupan Masyarakat Non-Muslim
pemilik toko WNI keturunan tersebut mengatakan bahwa Selama
Pemberlakuan syariat Islam di Aceh sebagai sebuah aturan
ini tidak ada pemaksaan kepada kami untuk menulis nama toko
hukum hanya ditujukan kepada umat Islam. Dengan kata lain,
dengan huruf itu. Kami tidak ada masalah dengan huruf Arab, yang
penduduk yang bukan beragama Islam tidaklah terkena dengan
penting kita bisa hidup aman1. Menurutnya, ia belum pernah
qanun-qanun yang telah disebutkan diatas. Hal ini disebutkan
membaca SK Gubernur nomor 47 tahun 2001 dan qanun nomor 11
dengan jelas dalam ayat 2 Pasal 2 PERDA Nomor 5 tahun 2000 yaitu:
tahun 2002 yang berisikan tentang penulisan nama dengan huruf
Keberadaan agama lain di luar agama Islam tetap diakui di daerah
Arab Melayu. Ia hanya ikut-ikutan menulis karena melihat beberapa
ini, dan pemeluknya dapat menjalankan agamanya masing-masing.
toko dan instansi pemerintah telah menulis nama bangunannya
dengan huruf tersebut. Secara umum penelitian ini menemukan bahwa penerapan
syariat Islam di NAD sesuai dengan qanun-qanun yang telah
Demikian pula halnya dengan toko makanan dan restoran
tersebutkan di atas tidaklah menimbulkan kegoncangan dalam
yang pemiliknya adalah WNI keturunan Cina dan non-muslim
kehidupan antar umat beragama di Banda Aceh. Dengan kata lain,
mengatakan bahwa selama penerapan Syariat Islam di NAD hasil
sejak diterapkannya qanun-qanun tersebut, masyarakat yang bukan
dagangannya tidak mengalami penurunan. Artinya, jumlah
beragama Islam tidak terganggu dengan qanun-qanun tersebut2.
pelanggannya yang notabene adalah beragama Islam tetap datang
mencari makanan ke toko milik mereka, walaupun beda agama. 2
Pada tahun 2001, yayasan Ukhuwah, sebuah LSM yang bergerak di bidang
kajian sosial di Banda Aceh, mengadakan lokakarya sosialisasi syariat Islam kepada
tokoh dan pemuka agama non Islam di Banda Aceh. Dalam acara tersebut sebagian
besar pemuka agama non Islam menyatakan tidak keberatan diberlakukan syariat
1
Informan adalah seorang wanita pemilik sebuah apotik di Banda Aceh. Ia Islam di Aceh, yang penting jangan diterapkan hukum cambuk dan potong tangan
tidak ingin namanya disebutkan. (wawancara dengan Direktur LSM Ukhwah.

234 235
Bahkan mereka turut berpartisipasi dalam rangka mensukseskan Sejak diberlakukannya syariat Islam, mayoritas perempuan
pelaksanaannya. Aceh yang telah berusia remaja dan dewasa jika hendak keluar
rumah harus mengenakan penutup kepala yang disebut jilbab. Jilbab
Walaupun demikian, karena penerapan syariat Islam di Aceh
di Aceh pada masa kini dapat dipandang sebagai sebuah simbol
mengandung unsur-unsur politis yaitu sebagai salah satu cara untuk
identitas diri yang sekaligus berfungsi sebagai pembeda antara
meredam konflik Aceh yang berkepanjangan, maka Pastor
wanita Islam dengan wanita non-muslim. Dengan kata lain, jika ada
Ferdinando Severi yang merupakan pemuka agama Katolik pernah
perempuan telah remaja keluar rumah tidak menggunakan jilbab,
berkomentar bahwa penerapan syariat Islam di Aceh bersifat
maka orang yang melihatnya akan bertanya-tanya apakah dia Islam
memaksa, karena masyarakat tidak pernah dimintai pendapat
atau non-muslim?.
kepada rakyat (referendum) sehingga proses demokrasi tidak
terjadi didalamnya (Tabloit Suluh, edisi 16-31/8/2003). Dari Jilbab sebagai sebuah identitas diri wanita Islam di era
perspektif yang lain, pendapat pastor Ferdinando dapat dipahami pelaksanaan syariat Islam juga dibenarkan oleh seorang anggota
sebagai sebuah kecemasan akan terganggunya kerukunan hidup WH yang sering melakukan razia jilbab. Menurutnya, anggota WH
atar umat beragama yang telah terbina selama ini. yang sedang melakukan razia jilbab harus berhati-hati ketika
bertemu dengan perempuan yang tidak memakai jilbab apakah
Aspek lainnya yang diatur dalam qanun no. 11 tahun 2002
anda beragama Islam?. Jika ternyata wanita tersebut mengatakan
adalah tentang kewajiban menutup toko pada waktu salat Jumat3.
bahwa dirinya bukan muslim, maka anggota WH akan minta maaf
Jauh sebelum aturan tersebut dituangkan dalam bentuk qanun, para
dan mempersilahkannya untuk melanjutkan perjalanan. Sebaliknya,
pedagang di kota Banda Aceh baik yang muslim maupun non-
jika wanita tersebut beragama Islam namun tidak memakai jilbab
muslim telah menutup toko-toko mereka menjelang tiba waktunya
berpakaian amat ketat, maka wanita tersebut akan dicatat identitas
untuk melaksanakan salat Jumat. Hal ini merupakan bukan hal
dirinya atau dibawa ke kantor Dinas Syariat Islam untuk diberi
yang baru.
nasehat agar mematuhi aturan Islam4.
Seorang pedagang alat-alat mobil WNI keturunan Cina
Sejak diberlakukannya Syariat Islam di Aceh, pelajar putri di
mengungkapkan bahwa ia tidak keberatan sama sekali terhadap
sekolah negeri dan swasta dari tingkat SMP hingga SMA diharuskan
aturan penghentian aktifitas perdagangan menjelang dan pada salat
memakai seragam sekolah berbusana muslimah. Beberapa Sekolah
Jumat berlangsung. Karena selama 26 tahun kebiasaan menutup
Dasar juga menerapkan aturan berbusana muslimah untuk siswa
toko pada waktu tersebut telah ia lakukan. Ketika peneliti bertanya
kelas IV hingga kelas VI. Namun aturan ini tidak berlaku untuk
apakah ia pernah membaca qanun yang mengatur hal tersebut, ia
pelajar putri non-muslim. Mereka tidak diwajibkan memakai
mengatakan bahwa ia belum pernah membaca aturan tentang hal itu
seragam busana muslimah. Salah seorang pelajar putri non-muslim
sebagaimana yang diatur dalam qanun nomor 11 tahun 2002.
yang belajar di SMA Negeri 1 Banda Aceh mengungkapkan bahwa
ia tidak merasa berbeda, guru dan teman-temannya juga tidak
3
Dalam Pasal 8, ayat 2 qanun nomor 11 tahun 2002 disebutkan bahwa
:Setiap orang, instansi pemerintah, badan usaha dan atau/institusi masyarakat wajib
4
menghentikan kegiatan yang dapat menghalangi atau mengganggu orang Islam Wawancara dengan Muhammad Najmi, S.Ag. anggota Wilayatul Hisbah
melaksanakan shalat Jumat. (WH) Dinas Syariat islam Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

236 237
membedakan dirinya dengan pelajar lain dalam mengikuti pelajaran Jawa, baik hukum acara maupun hukum materil lainnya. Alasannya
dan berinteraksi sesama pelajar. terkesan dicari-cari. Kemudian Belanda membeda-bedakan jenis
peradilan. Dalam satu keluarga jenis peradilannya bisa berbeda.
Dalam hal mengontrak rumah atau membeli tanah,
Orang-orang yang menyatakan tunduk kepada hukum Belanda akan
masyarakat non-muslim selalu menghadapi kendala. Bapak Drs.
berhadapan dengan peradilan khusus, sedangkan orang biasa
Holomoa Balau Koordinator Penyuluh Agama Katholik
(inlander) akan berhadapan dengan peradilannya yang telah
mengungkapkan bahwa jamaahnya sulit mendapatkan rumah sewa
dirumuskan dalam perundang-undangan. Dalam hukum pidana
di Banda Aceh. Sering kali terjadi setelah proses negosiasi
Belanda berusaha menyatukannya dalam hukum materi KUHP di
berlangsung dan masing-masing pihak telah sepakat. Ketika pemilik
bawah satu jenis peradilan.
rumah atau tanah mengetahui bahwa yang membeli tanah atau
menyewa rumah bukan muslim, maka kesepakatan tadi dibatalkan. Keadaan inilah yang telah menghilangkan semangat untuk
menyelesaikan perkara-perkara pidana (jinayat) di tingkat gampong,
Apa yang diungkapkan oleh Koordinator Penyuluh Agama
mukim dan tingkat-tingkat di atasnya secara damai.
Katolik tentang pengalaman hidup masyarakat non-muslim di
Banda Aceh merefleksikan kegundahan masyarakat non-muslim E. Sistem Peradilan Zaman Kemerdekaan
tentang eksistensi mereka di Provinsi NAD sejak dimulainya
Usaha untuk mengembalikan suatu sistem peradilan yang
penerapan syariat Islam. Sebenarnya masalah mereka disebabkan
sesuai dengan sistem masyarakat terus diusahakan. Pemerintah
oleh kekalahan dalam kuantitas, bukan karena Aceh telah berlaku
Indonesia menanggapinya dengan menetapkan direktorat pertama
syariat Islam. Demikian pula halnya dengan jabatan untuk eselon
di bawah Departemen Agama adalah bidang pembinaan peradilan
yang lebih tinggi, sebenarnya jauh sebelum syariat Islam diterapkan,
agama. Pemerintah mempersempit kewenangan mahkamah yang
jabatan-jabatan seperti itu memang hampir tidak pernah diberikan
telah berlaku di seluruh nusantara sebelum Indonesia merdeka.
kepada masyarakat non-muslim. Masalah-masalah yang dihadapi
Mahkamah ini tidak mampu lagi memberikan penyelesaian yang
oleh non-muslim sebenarnya telah berlangsung lama sebelum
melegakan semua pihak sehingga kewenangannya dikurangi.
syariat Islam diberlakukan.5 Namun karena di Propinsi NAD telah
diberlakukan syariat Islam, maka pemberlakuan syariat Islam Sekarang ini masyarakat Aceh meminta kewenangan
dijadikan alasan pembenaran. mahkamah untuk dikembalikan. Mahkamah yang disebut dengan
Mahkamah Syari'ah meminta agar semua sengketa/delik yang
D. Sistem Peradilan Zaman Penjajah
dilakukan oleh umat Islam diselesaikan seperti yang pernah berlaku
Penjajah Belanda berhasil memisah-memisahkan hukum di pada zaman dahulu. Mahkamah Syari'ah bermaksud akan
Indonesia. Hukum di pulau Jawa berbeda dengan di luar pulau memberikan "kedamaian" bukan memberi putusan.

5
Mahkamah Syariah di Aceh yang bermaksud menyelesaikan
Sebuah pengalaman dituturkan oleh Bapak Zikri bahwa ada sebuah kavling sengketa pidana berdasarkan Undang-Undang dan sejumlah qanun
tanah akan terjual di sebuah komplek perumahan. Namun ketika penjual mengetahui
bahwa calon pembelinya bukan beragama Islam, padahal harga tanah yang ditawar bukan kewenangan baru. Mahkamah Syariah/Peradilan Agama di
oleh calon pembeli di atas harga rata-rata, maka pemilik tanah tersebut enggan seluruh Indonesia pernah menyelesaikan perkara jinayat. Selama ini
menjualnya. Peristiwa ini telah berlangsung lama, tahun 1991, jauh sebelum Peradilan Agama sering menangani sengketa yang pembuktiannya
formalisasi syariat Islam di Propinsi NAD.

238 239
berada dalam bingkai hukum acara pidana. Peradilan Agama sering Ketetapan MPR tersebut ditegaskan bahwa Peraturan Daerah
menangani sengketa suami-isteri yang saling pukul/aniaya. Juga merupakan peraturan untuk melaksanakan aturan hukum di
masalah perceraian apakah sudah dukhul atau belum. Hal itu atasnya, dan menampung kondisi khusus dari daerah yang
kemudian dibuktikan dengan visum et repertum. bersangkutan. Memang benar, berdasarkan prinsip lex superiore
derogat lex infiriore maka secara hirarkis peraturan perundang-
Kewenangan Mahkamah Syariah mengadili kasus jinayat
undangan tingkat bawah tidak boleh bertentangan dengan
bukanlah pekerjaan baru. Para hakim diberi semangat untuk
peraturan yang tingkatannya lebih tinggi. Namun, dalam hukum
memperluas wawasan untuk meningkatkan percaya diri dalam
juga berlaku prinsip lex specialis derogat lex generalis yang artinya
menyelesaikan perkara-perkara jinayat. Mereka tidak perlu
peraturan khusus dapat mengesampingkan berlakunya peraturan
melakukan magang di peradilan lain. Hakim pada Pengadilan
yang bersifat umum.
Agama telah memiliki ilmu yang cukup, namun banyak yang perlu
diberikan berupa ketajaman menganalisa delik pidana untuk Karena itu, meskipun sudah ada peraturan yang tingkatannya
membuktikan unsur-unsur delik yang diajukan. lebih tinggi yang mengatur suatu hal, tetapi jika misalnya kondisi
khusus Daerah Istimewa Aceh menghendaki ketentuan yang khusus
Sebagai contoh Undang-Undang No, I Tahun 1974 tentang
dan berbeda, maka kekhususan itu dapat ditampung pengaturannya
kewenangan Peradilan Agama untuk menyelesaikan delik pidana.
dalam bentuk Peraturan Daerah. Peraturan Daerah itu sendiri untuk
Undang-undang yang mengatur tentang perkawinan ini
daerah propinsi dibuat oleh DPRD bersama Gubernur, sedangkan
menyebutkan bahwa segala yang diatur dalam Undang-Undang ini
untuk daerah kabupaten/kota dibuat oleh DPRD setempat bersama
akan diselesaikan oleh Peradilan Pemerintah Nanggroe Aceh
Bupati/Walikota. Peraturan Daerah itu termasuk di dalamnya
Darussalam dalam menjalankan Otonomi Khusus bidang penegakan
Peraturan Desa atau yang setingkat dapat dibuat oleh Badan
hukum dan syari'at Islam, mengganti nama Pengadilan Agama
Perwakilan Desa atau yang setingkat menurut tata cara pembuatan
dengan Mahkamah Syariah dengan kewenangan yang luas.
peraturan desa atau yang setingkat yang diatur dalam Peraturan
Keluasan ini mencakup kewenangan yang selama ini Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
diselesaikan oleh pengadilan agama ditambah dengan bidang
Ketentuan mengenai tata cara pembuatan Peraturan Daerah
mu'amalat dan jinayat di kalangan umat Islam di Aceh.
ini, seperti ditentukan dalam Pasal 6 TAP No.III/MPR/2000 tersebut
F. Bentuk Peraturan Hukum (Qanun) lebih lanjut diatur dengan undang-undang. Akan tetapi, jiwa dan
Sehubungan dengan itu, maka pengakuan dan penerimaan semangat kebijakan otonomi daerah itu menghendaki tumbuhnya
negara terhadap keberadaan sub-sistem hukum syariat Islam di kemandirian dan inovasi dari bawah. Sesuai dengan Ketetapan MPR
Indonesia, memerlukan format atau bentuk hukum tertentu yang No.IV/MPR/2000 tentang Kebakan Dalam Penyelenggaraan
disepakati bersama. Dalam Pasal 2 Ketetapan MPR No.III/MPR/2000 Otonomi Daerah, masyarakat dan pemerintah di daerah tidak perlu
tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang- menunggu petunjuk, arahan ataupun peraturan-peraturan pusat.
Undangan, disebutkan adanya tata urutan yang mencakup UUD, Sebelum peraturan pusat yang diperlukan itu ditetapkan, daerah
Ketetapan MPR, Undang-Undang, Perpu, Peraturan Pemerintah, diperbolehkan membuat dan menetapkan sendiri peraturan daerah
Keputusan Presiden, dan Peraturan Daerah. Dalam Pasal 2 ayat (7) menurut kebutuhan. Jika peraturan pusat telah dikeluarkan,

240 241
peraturan daerah itu disempurnakan sehingga tidak bertentangan mengembangkan inovasi atau ijtihad-ijtihad baru di lapangan
dengan peraturan pusat. Artinya, semangat yang dikandung dalam hukum yang lebih luas, misalnya di lapangan hukum pidana
kebijakan daerah seirama dengan peraturan yang disusun oleh ataupun hukum tatanegara. Sebagaimana kita dapat mengadopsi
daerah. berbagai pemikiran dan tradisi hukum barat ataupun hukum asing
lainnya yang positif bagi perkembangan hukum di Indonesia, kita
Pemberlakuan syariat Islam di Aceh telah ditetapkan melalui
juga dapat mengadopsi sistem dan tradisi Hukum Islam yang
Undang-Undang yang bersifat khusus yang memungkinkan hal itu
didasarkan atas kesadaran iman bangsa Indonesia yang dikenal
dilaksanakan segera. Karena itu, sejak berlakunya kebijakan otonomi
sebagai bangsa pemeluk agama Islam terbesar di dunia dewasa ini.
daerah dan Undang-Undang khusus tersebut, pembentukan
Peraturan Daerah yang berisi materi hukum syariat Islam sudah G. Proses penegakan dan nilai universal
dapat segera dilakukan di Aceh. Tinggal lagi tugas para pakar
Salah satu tugas mulia yang dipikul oleh masyarakat dan
membantu Gubernur dan para anggota DPRD di Aceh untuk
Pemda NAD, khususnya Dinas Syariat Islam adalah memuluskan
menyusun agenda perancangan yang rinci berkenaan dengan
program penerapan syariat Islam secara substantif. Beberapa alasan
pembentukan Peraturan Daerah tersebut. Idealnya, Peraturan
logis tanggung jawab yang sangat mulia tersebut; Pertama, perlu
Daerah itu tidak lagi mengatur hukum syariat Islam dalam judul
dipahami bahwa sejak pasca era Rasul dan Khulafaur Rasyidin,
besarnya melainkan sudah mengatur hal-hal yang rinci dan spesifik.
sampai detik ini belum ada satu pola penerapan syariat Islam yang
Misalnya ada PERDA khusus berkenaan dengan sistem perbankan
kaaffah (totalitas) dan dapat dijadikan cetak biru (blue print) bagi
syariat, ada PERDA tentang Hakam dan Arbitrase Muamalat, ada
pemberlakuan syariat Islam di Aceh. Meski Arab Saudi, Iran, Sudan
PERDA tentang Tijaroh, ada PERDA tentang Waqf, ada PERDA
atau Pakistan mengaku sebagai negara yang menerapkan syariat
tentang Wisata Ziarah, ada PERDA tentang Sandang Pangan, dan
Islam, tapi kenyataannya ukuran totalitas tersebut masih diragukan.
sebagainya. Semuanya memuat substansi tentang hukum syariat
Substansi syariah yang coba ditegakkan berbeda dari satu tempat
Islam itu secara konkrit. Dalam sistem hukum Islam, status
dengan tempat lainnya sesuai dengan pandangan umum yang
peraturan daerah itu sama dengan qanun yang merupakan
berlaku di tempat itu. Jika NAD mengkopi mentah-mentah pola
pelembagaan resmi materi fiqh Islam.
penegakan syariat Islam di negara-negara tersebut, maka tentu akan
Demikianlah beberapa contoh yang dapat diperbincangkan timbul persoalan spesifik mengingat bahwa secara sosio-kultural
berkenaan dengan upaya melakukan elaborasi terhadap pengertian negara-negara itu berbeda dengan Aceh. Karena itu, masyarakat
kita mengenai hukum syariat Islam yang harus dituangkan dalam NAD harus berangkat dari nol. Inilah tugas berat yang diemban
bentuk Peraturan Daerah itu. Dengan demikian, di era reformasi ini seluruh masyarakat Aceh; Kedua, perkembangan zaman yang
terbuka peluang yang luas bagi sistem Hukum Islam untuk senantiasa bergerak progresif dan dinamis telah melahirkan
memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Kita dapat beragam tantangan yang jumlahnya tidak sedikit. Era industri yang
melakukan langkah-langkah pembaruan dan bahkan pembentukan kemudian disusul dengan revolusi di bidang informasi dan
hukum baru yang bersifat mengadopsi tradisi sistem Hukum Islam teknologi pada akhirnya terbukti sukses menyebarkan paham-
untuk dijadikan norma hukum positif dalam sistem Hukum paham konstruktif maupun destruktif. Tanpa terasa duniapun
Nasional kita. Bahkan, dapat pula dipikirkan kemungkinan menjadi kian sempit dibuatnya. Virus-virus konsumerisme,

242 243
hedonisme maupun materialisme serasa tidak terbendung mewabah bahwa munculnya persepsi sedemikian rupa adalah negatif dan
dan merasuki pikiran manusia di berbagai pelosok dunia, termasuk patut dicurigai. Yang perlu dipahami adalah bahwa pemikiran
di Aceh, tanah tercinta. tersebut merefleksikan betapa rakyat Aceh senantiasa peduli dan
kritis dengan masa depan daerah mereka. Di samping itu, persepsi
Karena itu tidak tidak mengherankan jika anak-anak lebih
tersebut merupakan masukan-masukan terbaik bagi Pemerintah
kenal dengan Doraemon, Sinchan, atau Spiderman dibanding
Daerah NAD, khususnya Dinas Syariat Islam dalam menjalankan
dengan Umar bin Khatab atau Ali bin Abi Thalib. Tidak perlu takjub
tugas-tugasnya.
bila anak-anak gadis lebih mengidolakan Britney Spears, Mariah
Carey atau Janet Jackson daripada Khadijah Al-Kubro, Aisyah atau Yang penting untuk dijadikan catatan, meskipun blue print
Fatimah. Anak-anak lelaki juga lebih suka meniru gaya hidup penjalanan syariat Islam secara kaffah sulit ditemukan seperti yang
Jamrud, Slank, Sheila on 7, Guns and Roses atau West Life, telah diuraikan, bukan berarti kemudian harus pesimis untuk
dibanding dengan meneladani sirah Rasulullah saw dan para menerapkannya. Sebab nilai-nilai universal pasti bisa hidup dimana
sahabat. saja dan diterima dengan terbuka oleh semua pihak. Namun
diperlukan kesadaran kolektif, semangat optimistis, keterpaduan
Contoh-contoh di atas merupakan contoh kecil, sebenarnya
langkah dan kerjasama yang baik antar seluruh elemen dalam
masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa diangkat untuk
masyarakat Aceh, maka implementasi Syariat Islam secara
menggambarkan betapa beratnya tugas menjalankan syariat Islam
komprehensif dapat direalisasikan.
secara sempurna (kaffah) karena hal ini berkenaan dengan proses
bagaimana mengubah cara pandang dunia (world view) seseorang. Pemegang otoritas untuk penegakan syariah di Aceh perlu
memahami dan mengakomodasi isu-isu kontemporer yang
Beranjak dari pemikiran tersebut maka dapat dipahami bahwa
dijunjung tinggi oleh masyarakat sedunia mulai dari Hak Asasi
sesungguhnya implementasi syariat Islam secara kaffah memang
Manusia (HAM), penghormatan terhadap status wanita (gender),
tidak bisa dilaksanakan dengan instan dan siap saji layaknya
pluralisme dan sebagainya. Hal ini dirasa sangat krusial mengingat
indomie. Terutama ketika penguasa dan pengelola badan penegakan
semua pihak mendambakan wajah Islam yang tersenyum (The
hukum syariah belum menguasai secara kaffah substansi nilai Islam
Smiling Islam) dan rahmatan lil alamin, Bukan Islam eksklusif, kaku
yang menyeluruh. Tanggung jawab mulia ini pada hakikatnya
(rigid), ketinggalan zaman (out of date) atau menyeramkan. Tentu ini
adalah sebuah proses panjang berliku-liku sehingga memerlukan
akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi umat Islam di seantero
waktu untuk bisa menikmati hasilnya. Parameter yang dipakai juga
jagat raya, bila Aceh menjadi pelopornya.
tidak bisa dihitung sebulan-dua bulan atau setahun-dua tahun, akan
tetapi kira-kira 10 atau 15 tahun yang akan datang. Proses qanunisasi hendaknya menjadikan kemaslahatan
masyarakat banyak sebagai salah satu inspirasi pokok yang
Penilaian bahwa implementasi syariat Islam di Aceh masih
didukung dengan pemahaman komprehensif mengenai aspek sosio-
belum menunjukkan hasil yang signifikan meski bisa dimaklumi
kultural masyarakat Aceh dan bukan hanya sekadar copy paste
dari cara pandang parsial (sepotong-sepotong) seperti telah
pemikiran-pemikiran dari para ulama muslim klasik. Mengapa?
disinggung di awal tulisan ini- adalah tidak rasional bila kita mau
Karena pemikiran-pemikiran ijtihadi mereka tanpa mengurangi
berpikir secara komprehensif. Namun demikian bukan berarti
apresiasi yang mendalam terhadap sumbangsih yang mereka

244 245
berikan- sudah barang tentu tidak lahir dari ruang hampa. Artinya, BAB III
produk-produk ijtihadi mereka yang biasanya kita kenal dengan HASIL KAJIAN PELAKSANAAN SYARIAT ISLAM
istilah fiqh sangat besar kemungkinannya dipengaruhi oleh kondisi
DI KOTA BANDA ACEH
sosio-kultural di mana mereka berdomisili. Dengan demikian belum
tentu kesemuanya cocok untuk diakomodir atau bahkan dibakukan
sebagai qanun lalu dinikmati oleh masyarakat Aceh. Maka perlu
kehati-hatian dan kejernihan langkah.
Perjalanan Aceh menggapai idealismenya menggapai A. Hasil Kajian
masyarakat Islami dengan nilai-nilai universal memang tidak serta
Masyarakat Aceh identik dengan Islam, pelaksanaan syariat
merta dapat terwujud dan diketahui hasilnya cukup membalikkan
Islam adalah bagian dari tradisi masyarakat Aceh. Ungkapan yang
tangan, namun memerlukan proses panjang, bertahap (gradual) dan
menyatakan bahwa hukum dengan adat seperti zat dengan sifat
serba berliku. Inilah yang seharusnya dimaklumi dan dipahami oleh
sudah menjadi tradisi kehidupan sehari-hari. Syariat Islam telah
penguasa dan seluruh masyarakat Aceh.
menjadi bagian tradisi kehidupan sehari-hari dan orang tidak
Menegakkan nilai-nilai Islami yang substansial disertai mempermasalahkan.
dengan pengalihan kepemilikan dan otoritas kepada masyarakat
Istilah syariat Islam ini muncul setelah ada tawaran dari
akan melahirkan pengamalan Islam yang kaffah, inklusif, kompatibel
pemerintah Indonesia yang mengusulkan damai di Aceh dengan
dengan nilai-nilai universal, sebuah wujud dari The Smiling Islam.
solusi pelaksanaan syariat Islam. Ketika Gubernur Abdullah Puteh
Sebaliknya, jika sekedar penggunaan simbol-simbol dan jargon
menerima tawaran itu, beliau mendeklarasikan bahwa Aceh akan
Islam hanya akan menguntungkan kelompok penguasa,
melaksanakan syariat Islam. Setelah itu orang banyak
meminggirkan, dan merusak nilai-nilai Islam yang universal
membicarakan, meskipun sebelumnya orang sehari-hari telah
tersebut.
melaksanakan syariat Islam. Setelah itu dibentuklah Dinas Syariah,
Rasulullah Saw sendiri sebagai manusia pilihan yang diutus di bentuk qanun, sehingga orang melihat syariat Islam telah
ke dunia memerlukan proses panjang dan tidak sekali jadi. Namun terbentuk dalam qanun dan ditetapkan dalam syariat Islam.
dengan optimisme dan kesabaran yang tinggi di bawah bimbingan
Masalah yang muncul yaitu ketika diterapkan hukuman
langsung Allah Swt, beliau akhirnya mampu menjalankan misi
cambuk pertama kali di Bireun, sempat menarik perhatian
nubuwah dan tercatat dalam tinta emas sebagai orang yang paling
masyarakat Internasional. Para wartawan-wartawan baik dalam
berpengaruh dalam lintasan sejarah manusia.
negeri maupun asing datang untuk menyaksikan. Penggunaan jilbab
bagi perempuan sebagai salah satu yang ditekankan syariat Islam
untuk menghindarkan diri dari mengumbar aurat bagi perempuan,
melarang khalwat, judi dan hamar. Konsekuensi dari
pemberlakukan ini mengundang pertanyaan masalah hukum dan
memunculkan kesan yang melanggar syariat Islam akan diberikan

246 247
hukuman. Ketika dikonfrontir dengan Dinas Syariat Islam, hukumannya dicambuk. Sengketa-sengketa perdata, ekonomi,
dijelaskan bahwa di Aceh akan diterapkan syariat Islam secara perbankkan sudah masuk ke Mahkamah Syariah, sedangkan
keseluruhan (kaffah) sehingga pelaksanaannya bertahap. Perbedaan menyangkut masalah jinayat ditentukan dalam qanun dan sudah
pelaksanaan syariat Islam sebelum dengan sesudah diterapkan.
dideklarasikannya ada titik-titik penekanannya. Penulisan nama
Syariat Islam tidak mesti merujuk pada fiqih-fiqih klasik yang
toko-toko atau label-label lain yang menggunakan tulisan Arab-Jawi
sudah ada, tapi perumus atau pembuat undang-undang harus
menimbulkan kerancuan dan memunculkan kritik-kritik. Dikatakan
mampu merumuskan sesuai Al-Quran dan Hadits, sesuai dengan
di Aceh syariat Islam hanya simbol semata, bismillah hanya di kop
kebutuhan masyarakat akan keadilan hukum. Masyarakat di
surat saja tanpa ruh.
kampung-kampung seperti tengku-tengku, imam mereka sangat
Dinas Syariat Islam menjelaskan tahap demi tahap syariat mendukung karena qanun ini untuk mencegah nahi mungkar.
Islam akan dilaksanakan secara menyeluruh, segala aspek
kehidupan masyarakat Aceh akan ditata sesuai dengan syariat
Islam. Meskipun di sisi lain interpretasi pemerintah atau pembuat
undang-undang terhadap syariat Islam menimbulkan perdebatan.
Menurut Pegawai Dinas Syariat itu merupakan hal yang wajar jika
pembuatan qanun dan undang-undang memunculkan pro dan
kontra. Yang terpenting pemerintah memiliki sikap untuk
menerapkanya meskipun dalam keragaman pendapat.
Dari aspek pemahaman ada diantara tokoh-tokoh agama yang
berbeda. Ada yang menginginkan dalam jalur Ahlu Sunnah Wal
jamaah, ada juga yang menolak. Ada yang menginginkan satu
mazhab tertentu, ada juga yang menginginkan tidak merujuk
mazhab tertentu.
Pada abad permulaan sedikit menimbulkan konflik. Seiring
dengan perjalanan waktu, ada upaya mempertemukan ulama
pesantren dengan tokoh-tokoh IAIN Ar-Raniry untuk mencari
solusi. Ini terjadi saat (alm) Sofwan Idris menjadi rekor IAIN Ar-
Raniri.
Pelaksanaan syariat Islam di Banda Aceh baru sebatas
mengingatkan perempuan menggunakan busana muslimah, WH
mengawasi agar tidak memunculkan tindakan-tindakan a-susila,
kemaksiatan dan perjudian. Kalau ditemukan pelanggaran, maka

248 249
BAB IV pelaksanaannya benar-benar mendapat dukungan luas dari
PENUTUP masyarakat.
2. Dalam pelaksanaan hukum qanun harus tetap memperhatikan
hak-hak asasi manusia. Sebab Islam menempatkan manusia
dalam posisi yang sangat terhormat.
A. Kesimpulan
Melihat aspek-aspek yang terdapat dalam qanun-qanun
tentang penerapan syariat Islam di Kota Banda Aceh, terlihat bahwa
kultur keberagamaan masyarakat masih bersifat normatif, bahkan
legalistik. Keberagamaan diukur berdasarkan pada ketundukan
terhadap hal-hal formal ajaran agama, sedangkan semangat ajaran
agama kurang dihiraukan dan didalami. Dalam konteks
pelaksanaan syariat Islam di Aceh, qanun-qanun yang telah disahkan
hanya membicarakan hal-hal yang telah membumi di masyarakat
Aceh.
Pada tataran yang nampak, sejak diformalkannya syariat Islam
di Kota Banda Aceh hingga kini tidak menimbulkan kegoncangan
dalam sistim kerukunan hidup antar umat beragama. Walaupun
demikian, ada yang menuding syariat Islam sebagai alasan
pembenar atas berbagai hal yang kurang memuaskan bagi
kalangan non-muslim yang tinggal di Kota Banda Aceh. Hal tersebut
dikawatirkan akan mengganggu kerukunan antar umat beragama
yang telah terbina, khususnya pada dataran psikologis. Oleh sebab
itu banyak hal yang harus diperhitungkan dalam setiap
perbincangan tentang kehidupan antar umat beragama di Kota
Banda Aceh, seperti aspek budaya dan sejarah.

B. Rekomendasi
Setelah melakukan kajian di atas, hal berikut ini adalah
rekomendasi untuk pengambilan kebijakan, diantaranya adalah:
1. Dalam pembuatan qanun, sebaiknya tidak bersifat top down,
tetapi berdasarkan kebutuhan masyarakat, sehingga dalam

250 251
DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, Alyasa (2003), Tanya Jawab Pelaksanaan Syariat Islam di


Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Dinas Syariat Islam
Propinsi NAD, Banda Aceh.
Eendi, Djohan (1986), Agama dan Pembangunan, dalam M.
Sastrapratedja, et.all, Menguak Mitos-Mitos Pembangunan,
Telaah Etis & Kritis. Gramedia, Jakarta.
Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) NAD, Banda Aceh. (2003)
Kumpulan Undang-Undang PERDA, Qanun dan Instruksi
PERDA KEAGAMAAN
Gubernur tentang Keistimewaan Nanggroe Aceh Darussalam
DI KABUPATEN BULUKUMBA
Mulyosudarmo, Suwoto (1999), Kebebasan Beragama dalam Perspektif
HAM, dalam Komaruddin Hidayat (ed), Passing Over,
Melintasi Batas Agama, PT. Gramedia Pustaka Umum dan Oleh : H. Muhammad Adlin Sila, S.Ag, MA
Yayasan Waqaf Paramadina, Jakarta.
Sulaiman, M. Isa (1997), Sejarah Aceh, Sebuah Gugatan Terhadap
Tradisi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Syamsuddin, Nazaruddin (1990), Pemberontakan Kaum Republik,
Kasus Darul Islam Aceh, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta.
Tambunan, R. Friest (2002), Pelaksanaan Syariat Islam: Sebuah
Refleksi Berdasarkan Pengalaman Gereja, dalam Fairus M.
Nur (ed). Syariat di wilayah Syariat, Dinas Syariat Islam NAD,
Banda Aceh.
UPTD Dakwah Islamiyah Dinas Syariat Islam Propinsi NAD,
Banda Aceh, (2004), Qanun Bahan Sosialisasi Pelaksanaan Syariat
Islam secara Kaffah.

252
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


etiap yang mengaku dirinya muslim, tentu akan senang

S apabila umat Islam dapat menjalankan seluruh syariat


Islam dengan sebaik-baiknya. Yang menjadi persoalan
apakah syariat Islam tersebut harus dilembagakan? Isu
pemberlakuan Syariat Islam memang telah lama bergulir
di tanah air. Di Sulawesi Selatan tuntutan pemberlakuan Syariat
Islam muncul pertama kali di kota Makassar ketika diadakan
Kongres Umat Islam II. Saat itu fungsionaris DPP PAN yaitu AM.
Fatwa mengatakan bahwa perjuangan menuntut pemberlakuan
Syariat Islam harus tetap berlangsung, namun tidak harus dengan
pemaksaan atau dengan kekerasan
Gagasan diberlakukannya Syariat Islam di Makassar
khususnya di Kabupaten Bulukumba, dipandang sangat urgen
untuk direalisasikan agar kaum muslimin dalam menjalankan
syariat ajaran agamanya dengan sebaik-baiknya, seperti
mengerjakan salat tepat pada waktunya. Peranan Pemerintah
Daerah yaitu Bupati H. Andi Patabai Pabokori sangat besar.
Dukungan organisasi keagamaan Muhammadiyah dan NU
(Nahdatul Ulama) juga sangat besar. Kedua ormas besar di tanah air
ini sepakat untuk mendukung komitmen Pemerintah Daerah
Bulukumba.1
Kedua organisasi ini menjadi ujung tombak lahirnya Crash
Program Pemerintah Daerah di bidang keagamaan. Salah satu
wujud perjuangannya adalah menciptakan kondisi keagamaan di

1. H.A.Patabai Pabokori Mengenal Bulukumba Ke Gerbang Syariat Islam, hal 57.

255
lingkungan keluarga yang dilandasi dengan kebersihan lahir bathin. Prioritas kegiatan keagamaan yang terbingkai dalam Crash
Orang tua menjadi figur di tengah keluarga dalam meningkatkan Program tersebut, pada awalnya diterima oleh sebagian masyarakat
ketaatan kepada Allah SWT. sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Dalam perkembangan
selanjutnya, tidak sedikit di antara kelompok masyarakat yang
Crash Program Keagamaan artinya memacu pelaksanaan
berpendapat program pemerintah tersebut adalah strategi
rencana kerja Pemerintah Daerah untuk meningkatkan pembinaan,
kampanye Bupati dalam menghadapi para demonstran yang
pemberdayaan dan peningkatan ketaqwaan umat Islam melalui
menggulirkan reformasi4.
kegiatan yang sistematis. Program ini, merupakan jawaban atas
emosi religius masyarakat dan pembakuan manajemen secara Keberhasilan Bupati H. Andi Patabai Pabokori membangun
sistemik, sinergik dan berkelanjutan.2 suasana kesejukan spiritual di tengah umat adalah komitmennya
dalam membangun daerah Bulukumba kini dirasakan oleh semua
Sebagai Bupati, Andi melihat masalah dari sisi manajemen
lapisan masyarakat.5
pemerintahan. Dia mulai merencanakan strategi dengan meramu
fenomena religius menjadi landasan moral pembangunan di segala Majelis Taklim, yang sebelumnya diwarnai perbedaan paham,
bidang. Dengan dukungan para Tokoh Agama dan Ormas Islam, lambat laun menjadi forum ukhuwah Islamiyah untuk
pada tahun 1998 Crash Program Keagamaan Pemerintah Daerah di mengembangkan wawasan keagamaan. Kajian fiqih yang bersumber
bidang keagamaan dicetuskan oleh Gubernur Propinsi Sulawesi dari Kitab Kuning menjadi referensi keilmuan dalam praktek ibadah
Selatan. dan muamalah. Kendati demikian hal ini tidak menjadi syarat,
namun pada umumnya Majelis Taklim menerimanya sebagai bahan
Ide tersebut merupakan tonggak awal dilakukannya sebuah
kajian untuk pengembangan pengetahuan syariat Islam.6
manajemen Pemerintahan Kabupaten Bulukumba yang tercermin
dalam delapan segmen kegiatan untuk mengembangkan syiar Islam Penilaian negatif masyarakat pun berubah dengan sendirinya,
sebagai skala prioritas, yaitu; setelah melihat hasil pelaksanaan PERDA ini yang ternyata banyak
1. Pembinaan dan pengembangan remaja masjid, membawa perubahan ke arah lebih baik dari sebelumnya. Yang
2. Pembinaan dan pengembangan Taman KanakKanak Al Quran paling menonjol adalah keberadaan remaja masjid, baik di kota
dan Taman Pendidikan Al Quran, maupun di desa makin bergairah menunjukkan perannya.
3. Pembinaan dan pengembangan majelis taklim, Mengingat para remaja adalah generasi penerus bangsa. Di tangan
4. Pembinaan dan pengembangnan perpustakaan masjid, para remaja keberlangsungan negeri ini ditentukan. Semangat
5. Pembinaan dan pengembangan hifzil Quran berorganisasi berkembang seiring meningkatnya pembinaan yang
6. Pembinaan dan pengembangan seni bernuansa Islami. dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Melalui dana bantuan rutin dari
7. Pemberdayaan Zakat, Infaq dan Shadaqah. pos pembiayaan di dalam APBD Kabupaten Bulukumba, Crash
8. Pelestarian Keluarga Sakinah, Sejahtera dan Bahagia. 3 Program Keagamaan menjadi lekat di hati masyarakat.

4 Ibid,hal 59
5 H. A. Patabai Pabokori, Mengenal Bulukumba Ke Gerbang Syariat Islam, Editor
2 Ibid, hal. 58 Mahrus Andi, Penerbit Karier Utama, Jl. Toddopuli Raya No. 24 Makassar, Cet. Pertama, hal. 57
3 Ibid 6 Ibid, hal. 58

256 257
Para remaja masjid itu menamakan diri mereka hanya sekedar untuk menampung kebutuhan masyarakat setempat
denganJundullah menyatakan siap berjuang menegakkan syariat dan tetap dalam kerangka NKRI.
Islam. Gerakan mereka ini tidak hanya meneriakkan kalimat Allahu
Melihat kenyataan ini, Puslitbang Kehidupan Keagamaan
Akbar di gedung parlemen, tetapi juga turun langsung ke tempat-
Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama merasa perlu untuk
tempat maksiat, seperti kedai minuman keras. Ternyata kondisi ini
melakukan sebuah kajian guna mengetahui sejauhmana perubahan
membuat sibuk petugas keamanan karena aparat harus selalu siap
hukum positif yang ada di Bulukumba ini ke arah hukum yang
mengantisipasi terjadinya benturan fisik yang dapat menimbulkan
bernuansa syariat Islam.
instabilitas di tengah masyarakat Bulukumba.7
Bupati bersama unsur Pimpinan Daerah Kabupaten B. Rumusan Masalah
Bulukumba memandang perlu segera mengakomodasi keinginan Berangkat dari latar belakang diatas, maka rumusan masalah
masyarakat. Langkah awal yang dilakukan Pemerintah Daerah ialah dapat dipaparkan sebagai berikut:
mengakumulasi idealisme keagamaan ke dalam bingkai kebijakan
politik melalui Peraturan Daerah (PERDA). Pada tahun 2002 Dewan 1. Bagaimana bentuk PERDA Keagamaan bernuansa syariat Islam
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bulukumba menetapkan dan pelaksanaannya di Kabupaten Bulukumba ?
PERDA Nomor 03 tahun 2002 tentang Larangan, Pengawasan, 2. Bagaimana tanggapan berbagai pihak terhadap pelaksanaan
Penertiban dan Penjualan Minuman Beralkohol. Satu tahun PERDA Keagamaan yang bernuansa syariat Islam di Kabupaten
kemudian, 3 (tiga) Peraturan Daerah secara bersamaan ditetapkan. Bulukumba ?
Ketiga PERDA itu adalah: 3. Bagaimana dampak dilaksanakannya PERDA Keagamaan
bernuansa syariat Islam di Kabupaten Bulukumba?
1. PERDA No. 02 tahun 2003 tentang Pengelolaan Zakat Profesi,
Infaq dan Shadaqah, C. Kegunaan dan Tujuan Penelitian.
2. PERDA No. 05 tahun 2003 tentang Busana Muslim dan Dengan mengetahui permasalahan di atas, penelitian ini ingin
Muslimah, mendiskripsikan bentuk PERDA keagamaan dan pelaksanaannya di
3. PERDA No. 06 tahun 2003 tentang Pandai Baca al-Quran bagi Kabupaten Bulukumba, mengetahui tanggapan berbagai pihak dan
Siswa dan Calon Pengantin. dampaknya dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan tujuannya
Keluarnya PERDA ini disambut positif oleh umat Islam. adalah sebagai bahan informasi untuk pemerintah pusat maupun
Tetapi, di sisi lain memunculkan isu negatif. Hal tersebut terjadi daerah dalam rangka memperbaiki pelaksanaannya pada masa akan
karena negara kita bukan negara Islam. Keluarnya PERDA tersebut datang.
dianggap diskriminatif terhadap umat beragama lainnya. Sebaiknya
dalam negara Pancasila itu tidak ada aturan yang hanya mengatur D. Metodologi Penelitian
kelompok tertentu dalam masyarakat. Oleh sebab itu, perlu dikaji Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan:
apakah PERDA tersebut mengarah pada pelaksanaan PIAGAM multi-approaches yang mencakup kesejarahan, sosiologi dan textual.
JAKARTA yang selalu dianggap momok bagi umat non-Islam, atau ia Teknik pengumpulan data dengan wawancara, telaah dukumen
atau studi teks. Sedangkan tehnik lainnya yaitu melakukan
7 Ibid, hal. 91 wawancara dengan beberapa orang pakar bidang keagamaan, yaitu

258 259
mantan Kepala Kandepag, Kepala Kandepag Kabupaten Bulukumba membina, memberdayakan dan meningkatkan ketakwaan umat
dan pejabat di jajarannya, tokoh-tokoh agama, Asisten III Islam melalui penentuan kegiatan berdasarkan sistem prioritas.
Pemerintah Daerah Bulukumba, Kabag Humas dan Kabag Dengan Crash Program Keagamaan itu, Pemerintah Daerah
Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Daerah Bulukumba, dan Bulukumba berupaya meramu fenomena religius masyarakat
beberapa informan lainnya. menjadi landasan moral bagi proses pembangunan di segala bidang.
Atas dukungan tokoh agama, ormas Islam dan Lembaga-lembaga
E. Kerangka Konseptual.
Keagamaan lainnya, pada tahun 1998 Crash Program Pemerintah
Kabupaten Bulukumba yang terletak di ujung selatan Propinsi Daerah di bidang keagamaan itu dicetuskan peresmiannya oleh
Sulawesi Selatan, semenjak dahulu dikenal sebagai wilayah Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan, H. ZB. Palaguna.
pengembangan syiar Islam. Kehadiran ulama tasawuf Khatib
Crash Program Keagamaan tersebut memprioritaskan 8
Bungsu,8 bergelar Dato Ri Tiro pada awal abad ke 17 Masehi (1605)
(delapan) aspek kegiatan keagamaan, sebagai berikut :
menjadi tonggak sejarah bagi tumbuhnya syiar Islam di daerah ini.
1. Pembinaan dan pengembangan pemuda remaja masjid.
Hingga kini masyarakat Bulukumba dikenal sebagai
2. Pembinaan dan pengembangan Taman Kanak Kanak Al
masyarakat religius dan taat menjalankan perintah agama. Kondisi
Quran (TKA) dan Taman Pendidikan Al Quran (TPA).
ini merupakan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan
3. Pembinaan dan pengembangan majelis taklim
menjadi landasan utama bagi proses pembangunan daerah di semua
4. Pembinaan dan pengembangan perpustakaan masjid
aspek kehidupan.
5. Pembinaan dan pengembangan hifzil Quran.
Melihat kondisi spiritual masyarakat Bulukumba tersebut, 6. Pembinaan dan pengembangan seni bernuansa islami.
Pemerintah Kabupaten Bulukumba meletakkannya sebagai 7. Pemberdayaan zakat, infaq dan shadaqah.
kerangka Pembangunan Daerah di atas landasan visi Mewujudkan 8. Pelestarian keluarga sakinah, sejahtera dan bahagia.
Bulukumba sebagai pusat pelayanan di bagian selatan Sulawesi
Seluruh aspek di atas dikatakan sebagai proses awal
Selatan yang berbasis pada sumber daya lokal yang bernafaskan
membimbing masyarakat Bulukumba menuju pembentukan sikap
keagamaan.
dan perilaku masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai syariat
Suasana keagamaan masyarakat Bulukumba yang Islam.
terakumulasi dalam visi pembangunan mendorong itikad baik
Untuk menunjang agar program-program tersebut dapat
pemerintah daerah untuk mewujudkan cita-cita religius ke arah
terlaksana dengan baik, maka Pemerintah Daerah telah berhasil
terciptanya kondisi kehidupan masyarakat yang sejahtera lahir dan
menentukan empat buah PERDA, yaitu:
batin serta taat menjalankan perintah agama.
1. PERDA Nomor 03 Tahun 2002 tentang Larangan, Pengawasan,
Implementasi citacita dimaksud berupa Crash Program
Penertiban dan Penjualan Minuman Beralkohol.
Keagamaan yang artinya memacu kinerja Pemerintah Daerah dalam
2. PERDA No. 02 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Zakat Profesi,
Infaq dan Shadaqah.

8 Ibid, hal. 103

260 261
3. PERDA No. 05 Tahun 2003 tentang Berpakaian Muslim dan BAB II
Muslimah. GAMBARAN UMUM WILAYAH
4. PERDA No. 06 Tahun 2003 tentang Pandai Baca al-Quran bagi
Siswa dan Calon Pengantin.

A. Kondisi Geografis
Kabupaten Bulukumba wilayahnya terletak di bagian Selatan
jazirah Sulawesi yang berjarak 153 KM dari Propinsi Sulawesi
Selatan. Kabupaten ini terletak antara 05 2 - 05 40 Lintang Selatan
dan 119 58 - 120 38 Bujur Timur. Di sebelah utara, Kabupaten
Bulukumba berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, sebelah Timur
berbatasan dengan Teluk Bone, sebelah Selatan berbatasan dengan
Laut Flores dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten
Bantaeng.
Adapun luas wilayah Kabupaten Bulukumba adalah 1.154,67
Km atau sekitar 1,85% dari luas keseluruhan wilayah Sulawesi
Selatan. Secara administratif kabupaten ini membawahi 10
kecamatan dan terbagi menjadi 125 desa/kelurahan dengan
perincian sebanyak 24 kelurahan dan 101 desa. Dari 10 kecamatan
yang ada terdapat Kecamatan Gangkeng dan Kecamatan
Bulukumba yang paling luas, masing-masing seluas 173,51 Km dan
171,33 Km atau kurang lebih (29,87%) dari luas Kabupaten
Bulukumba. Wilayah lainnya Kecamatan Ujungbulu yang
merupakan pusat Kabupaten dengan luas 14,44 Km atau hanya
sekitar 1,25%.
Ketinggian wilayahnya hampir 95,35% berada pada ketinggian
0 1.000 M di atas permukaan laut dengan tingkat kemiringan tanah
umumnya 0 40 derajat. Di Kabupaten Bulukumba ini terdapat 25
aliran sungai sepanjang 481,25 Km yang dapat mengairi sawah
seluas hingga 19.531 hektar, sehingga daerah ini mempunyai
wilayah pertanian yang cukup luas. Curah hujannya pun cukup

262 263
tinggi, rata-rata diatas 1.000 mm per-tahun dengan rata-rata hujan 10 orang murid dan 75 orang guru, sedangkan SMK swasta 1 buah
(sepuluh) hari perbulan. dengan jumlah 231 orang murid dan 17 orang guru.

B. Kondisi Demografi, Ekonomi dan Pendidikan C. Sejarah Singkat


Penduduk Kabupaten Bulukumba pada Tahun 2005 berjumlah Bulukumba merupakan wilayah yang sejak lama dikenal di
379.411 jiwa yang tersebar di sepuluh kecamatan. Dengan dalam cerita legenda. Menurut mithos, nama Bulukumba berasal
perbandingan komposisi penduduk laki-laki 199.473 jiwa dan dari bahasa Bugis Buluku dan Mupa yang berarti Tetap Gunung
penduduk perempuan 179.938 jiwa. Luas wilayah yang dihuni Milik Saya. Mitos ini muncul pertama kali pada abad 17 M ketika
penduduk kepadatannya mencapai 329 orang/Km. Kecamatan yang terjadi perang saudara antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Di
paling padat penduduknya adalah Kecamatan Ujungbulu yaitu pesisir pantai yang sekarang bernama Tana Kong Kong utusan
2.859 orang/Km. Hal ini terjadi karena kecamatan tersebut Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai
merupakan ibukota Kabupaten Bulukumba. dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing.
Bongking Boki yang merupakan lereng bukit dari gunung Lumpu
Penduduk usia kerja yang berusia sepuluh tahun ke atas
Buttang diklaim oleh pihak kerajaan Gowa sebagai batas wilayah
terdiri dari penduduk angkatan kerja dan penduduk usia bukan
kekuasaannya, mulai dari Kindang sampai ke wilayah Timur.
angkatan kerja. Yang termasuk angkatan kerja adalah mereka yang
Namun pihak kerajaan Bone tidak sependapat dan mempertahankan
sudah bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Yang termasuk bukan
Bongking Boki sebagai wilayah kekuasaannya, mulai dari Barat
angkatan kerja adalah yang bersekolah, mengurus rumah tangga
sampai ke Selatan. Tercetuslah kalimat Bulukumupa pada akhirnya
atau yang melakukan kegiatan lain.
berubah menjadi Bulukumba. Sejak itulah nama Bulukumba
Penduduk usia kerja di Kabupaten Bulukumba pada Tahun digunakan dan hingga saat ini menjadi sebuah kabupaten.
2005 adalah 301.762 jiwa terdiri dari 161.797 penduduk perempuan Peresmian Bulukumba menjadi kabupaten memiliki peristiwa
dan 139.965 penduduk laki-laki. Sedangkan tingkat pengangguran bernilai sejarah.
pada Tahun 2005 mencapai 5,04%. Lapangan usaha sebagian besar
Produk hukum yang telah diterbitkan diawali dengan
penduduk bekerja disektor pertanian (55.993 orang) atau 44,43% dari
undang-undang nomor 29 tahun 1999 tentang pembentukan daerah-
jumlah penduduk yang bekerja.
daerah tingkat II di Sulawesi. Pada tanggal 25 Maret 1994 dengan
Peningkatan partisipasi pendidikan masyarakat untuk nara sumber Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada (ahli sejarah dan
memperoleh ilmu pengetahuan di bangku pendidikan harus budaya), ditetapkanlah hari jadi Kabupaten Bulukumba yaitu
didukung oleh berbagai peningkatan sarana fisik dan SDM yang tanggal 4 Pebruari tahun 1960 melalui PERDA nomor 13 tahun 1994.
memadai. Di Kabupaten Bulukumba terdapat 34 buah SMP Negeri Untuk menunjukkan simbol jati diri, Pemerintah Daerah Bulukumba
dengan jumlah murid 10.495 murid dan 800 guru. Terdapat 10 buah mengekspresikan ke dalam lambang logo Pemerintah Daerah.
SMA Negeri dengan jumlah 5.525 murid dan 337 orang guru, Penetapan hari jadi pada tanggal itu disetujui oleh DPR dan secara
terdapat 3 buah SMA swasta dengan jumlah 1.056 orang murid dan resmi Bulukumba menjadi daerah tingkat II. Mengenai lambang
69 orang guru. SMK Negeri berjumlah 3 buah dengan jumlah 1.045

264 265
Pemerintah Daerah diatur dalam PERDA Kabupaten Bulukumba para pendatang. Meskipun umat Islam sebagai mayoritas, namun di
Nomor 5 tahun 1978 . wilayah ini nyaris tidak pernah terjadi konflik antar umat beragama.
Majelis Taklim mengadakan kegiatannya di masjid dengan berbagai
Kondisi spiritual masyarakat Bulukumba sangat tinggi untuk
kegiatan keagamaan yang pesertanya kebanyakan ibu-ibu dan
mengemban amanah, mewujudkan persatuan dan kesatuan demi
bapak-bapak. Sedangkan para remaja terorganisir dalam kelompok
terwujudnya keselamatan dan kemaslahatan bersama, damai sentosa
remaja masjid.
lahir batin, material spiritual, dunia akhirat. Semboyan yang dimiliki
oleh masyarakat Bulukumba adalah Mali Siparappi, Tallang Sipa Kegiatan para remaja digalakkan untuk mengantisipasi
Gowa. Slogan pembangunannya adalah Bulukumba Berlayar, terjerumusnya generasi muda dalam perbuatan maksiat seperti
akronim dari kausalitas Bersih Lingkungan atau yang Ramah. mengkomsumsi minuman keras (narkoba). Wilayah Bulukumba
Sentuhan ajaran agama Islam yang dibawa oleh ulama besar dari berada dekat dengan daerah penghasil buah Enau (Lontar) yang
Sumatera yang bergelar Datuk Tiro (Bulukumba), Datuk Ribandang dapat menghasilkan dua minuman khas, yaitu minuman manis
(Makassar) dan Datuk Patimang (Luwu) telah menimbulkan tidak mengandung beralkohol dan yang mengandung alkohol.
kesadaran religius masyarakat hingga menimbulkan keyakinan Kaum remaja menyukai minuman jenis ini karena dijual bebas
untuk berlaku zuhud, suci lahir batin, selamat dunia dan akhirat terutama di wilayah wisata pantai.
dalam keadaan iman, Appassiu Wang (Mengesakan Allah SWT).
Dengan berfalsafah pada semboyan inilah Kabupaten Bulukumba
mengembangkan kiprah dirinya di berbagai sektor pembangunan.
Visi Kabupaten Bulukumba adalah Mewujudkan Bulukumba
sebagai pusat pelayanan di bagian Selatan Sulawesi Selatan yang bertumpu
pada kekuatan lokal dan bernafaskan keagamaan.

D. Kehidupan Keagamaan
Mayoritas penduduk Kabupaten Bulukumba adalah muslim.
Sedangkan jumlah penduduk muslim dan penganut agama lain
sebagai berikut; muslim sebanyak 376.187 jiwa (99,75%), Kristen
berjumlah 473 jiwa (0,12%), Katolik 214 jiwa (0,06%), Hindu 21 orang
(0,01%), dan Budha 212 jiwa (0,05%). Jumlah sarana ibadah masing-
masing agama adalah sebagai berikut: umat Islam terdapat 591 buah
Masjid, 108 buah Langgar dan 21 buah Mushalla. Umat Kristen
memiliki 2 buah Gereja. Jumlah ulama sebanyak 52 orang, Muballigh
447 orang, Penyuluh 110 orang dan Khatib 525 orang.
Penduduk pribumi Bulukumba umumnya beragama Islam.
Sedangkan penduduk non-muslim mereka umumnya terdiri dari

266 267
BAB III 1. PERDA Nomor 3 Tahun 2002 tentang Larangan, Pengawasan,
PELAKSANAAN PERDA KEAGAMAAN Penertiban, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol.
2. PERDA nomor 2 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Zakat Profesi,
DI KABUPATEN BULUKUMBA
Infaq dan Shadaqoh.
3. PERDA nomor 5 Tahun 2003 tentang Busana Muslim dan
Muslimah
4. PERDA nomor 6 tahun 2003 tentang Pandai Baca Al Quran Bagi
Siswa dan Calon Pengantin.9
Sebelum berlakunya PERDA Nomor 3 Tahun 2002 tentang Berikut ini adalah deskripsi tentang PERDA itu.
Larangan, Pengawasan, Penertiban, Peredaran dan Penjualan
Minuman Beralkohol, para pemakai dan penjual minuman keras 1. PERDA Nomor 3 Tahun 2002 tentang Larangan,
merasa terancam. Minuman keras banyak dikonsumsi oleh pengawasan, penertiban, peredaran dan penjualan minuman
penduduk di pantai yang dampaknya sering memicu pertengkaran beralkohol
atau tawuran antar preman dan antar penduduk. Demikian juga a. Kondisi sebelum keluarnya PERDA
tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak-anak usia remaja 1) Miras banyak beredar di Masyarakat
sebagai akibat dari meminum minuman keras meningkat. 2) Perbuatan kriminal meningkat sebagai dampak dari
Karena minuman keras, terjadilah bentrokan remaja kampung minuman keras
Kasimpuran dan kampung Nipa yang dibatasi oleh sebuah aliran 3) Stabilitas ketertiban dan keamanan terganggu
sungai. Saat bentrok anak-anak remaja itu tidak segan-segan b. Strategi Penegakan
mempersenjatai diri dengan senjata tajam. Hal inilah yang membuat 1) Sosialisasi dan pendekatan persuasif
semua pihak di Bulukumba prihatin. 2) Melakukan tindakan tegas terhadap pelanggaran
Dengan hadirnya PERDA Syariat ini, menurut para PERDA
penggagasnya dianggap sebagai salah satu langkah menjaga 3) Membentuk tim Buserda
ketertiban dan keamanan dengan sendirinya menegakkan Syariat 4) Melakukan operasi di lapangan
Islam. Sesuai dengan hasil pengamatan, pemberlakukan PERDA 5) Memberdayakan majelismajelis taklim
Keagamaan ini sangat besar peranannya untuk mengatasi masalah 6) Pemberian bantuan modal usaha untuk pengalihan
remaja yang gemar mabuk-mabukan. Mereka yang mabuk-mabukan profesi yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam
itu meresahkan masyarakat dan mengganggu keamanan. 7) Membuka jaringan pengaduan bagi masyarakat
c. Kondisi Setelah Lahirnya PERDA
A. Pelaksanaan PERDA Keagamaan di Kabupaten Bulukumba 1) Kriminalitas menurun drastis + 80 %
PERDA Keagamaan yang bernuansa Syariat Islam di 2) Stabilitas ketertiban dan keamanan kondusif
Kabupaten Bulukumba ada empat, yaitu :
9 Pemda Kabupaten Bulukumba, Perda Keagamaan Kabupaten Bulukumba, Tahun
2006

268 269
3) Telah dilakukan operasi penertiban dan pemusnahan 3) Kesadaran wanita untuk menggunakan busana
Miras + 250.000 botol dan ballo + 15.000 liter (Hasil muslimah bagi karyawati Pemda Bulukumba sebanyak
operasi terakhir Polres Bulukumba) 6 %.
b. Kondisi setelah lahirnya perda
2. PERDA nomor 2 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Zakat
1) Kesadaran masyarakat untuk mengenakan busana
Profesi, Infaq dan Shadaqoh.
muslim, khususnya siswi SLTP, SLTA dan perguruan
a. Kondisi sebelum diberlakukannya PERDA
tinggi kurang lebih 100%.
Kesadaran Ummat Islam Bulukumba dalam menunaikan 2) Kesadaran wanita untuk menggunakan busana
kewajiban membayar zakat, infaq dan sadaqah masih muslimah (jilbab) di masyarakat meningkat.
rendah. 3) Kesadaran wanita untuk menggunakan busana
b. Kondisi setelah lahirnya PERDA muslimah bagi karyawati Pemda Bulukumba sebanyak
1) Kesadaran masyarakat, pegawai negeri dan pengusaha 100 %.
membayar zakat, infaq dan sadaqah mengalami c. Strategi penegakan perda
peningkatan. 1) Dengan memberi contoh / tauladan.
2) Telah terbentuk 12 desa pelopor zakat/desa muslim. 2) Sosialisasi ke Sekolah-sekolah dan masyarakat.
3) Pemberian bantuan beasiswa kepada siswasiswi 3) Lomba-lomba busana muslim mulai tingkat SD,SLTP,
kurang mampu melalui dana Bazkab. SLTA, majelis taklim dan umum.
4) Bantuan kepada sarana peribadatan, ekonomi lemah, 4) Membentuk tim dawah
TPA/TKA dan madrasah. 5) Pemberian bantuan pakaian muslim
c. Strategi Penegakan 6) Himbauan melalui tempat pelayanan umum
1) Sosialisasi / seminar
2) Membentuk desa pelopor zakat (percontohan) 4. PERDA No. 6 Tahun 2003 (Pemberantasan Buta Huruf Baca al-
3) Pembentukan Unit Pengelola Zakat (UPZ) di masing- Quran)
masing desa/kelurahan dan instansi
a. Latar belakang lahirnya PERDA
3. PERDA nomor 5 Tahun 2003 tentang Busana Muslim dan 1) Perkembangan syariat Islam dimulai pada saat
Muslimah kehadiran ulama tasawuf Khatib Bungsu yang bergelar
a. Kondisi sebelum lahirnya perda Dato Ri Tiro pada awal abad ke 17 Masehi.
1) Kesadaran masyarakat untuk mengenakan busana 2) Diperkirakan Jumlah Penduduk Bulukumba yang Buta
muslim, khususnya siswi SLTP, SLTA dan perguruan Aksara al-Quran +20 % dari 360.126 jiwa (+72.252).
tinggi kurang lebih 2 %. 3) Tingkat kesadaran Masyarakat untuk mempelajari,
2) Kesadaran wanita untuk menggunakan busana membaca, mendalami dan mengamalkan al-Quran
muslimah (jilbab) di masyarakat kurang lebih 5 %. masih rendah.

270 271
b. Kondisi setelah lahirnya perda 3. Mengangkat tenaga guru ngaji di seluruh TPA/TKA di wilayah
Kabupaten Bulukumba (tahun 2004 dimulai dengan jumlah guru
1) Jumlah Buta Aksara al-Quran mengalami penurunan
160 orang).
(diperkirakan + 5,5 %).
4. Menjalin kerja sama dengan IAIN Alauddin Makassar melalui
2) Tingkat Kesadaran Masyarakat dalam mempelajari,
Program Diploma II Instruktur Baca Tulis al-Quran (IBTQ).
membaca, mendalami dan mengamalkan al-Quran
5. Memasyarakatkan al-Quran melalui pemberian hadiah
meningkat (berkembangnya TPA/TKA sebanyak 648
tambahan berupa al-Quran kepada pemenang lomba olah raga
buah, Majelis Taklim 143 buah).
dan seni.
c. Strategi penegakan 6. Penunjukan organisasi LPPTKA-BKPRMI untuk mengeluarkan
1) Melakukan pendataan terhadap kelompok-kelompok ijazah/sertifikat pandai baca tulis al-Quran (SK BKDA No.
pengajian tradisional yang dilakukan oleh masyarakat 307/VI/2004).
untuk dibina dalam bentuk pengajian modern. 7. Menetapkan kebijakan mata pelajaran al-Quran sebagai muatan
2) Menginstruksikan pembentukan TKA/TPA (TKA usia 4 lokal di SD, SMP dan SMA dengan menambah jam pelajaran
6 tahun, TPA usia 7 12 tahun) dari tingkat kabupaten agama menjadi 4 jam setiap minggu (SK Bupati No. 306/VI/2004,
sampai kecamatan, desa dan TPA orang tua. tentang Pembentukan Tim Penyusun Kurikulum Muatan Lokal
3) Memperkuat fungsi dan peranan lembaga BKPRMI Mata Pelajaran al-Quran).
Kabupaten Bulukumba sebagai Leading Sektor 8. Bekerjasama dengan Departemen Agama Bulukumba,
Pembinaan dan Pengembangan melalui Pendataan dan memprogramkan kegiatan pembinaan baca al-Quran bagi para
pengorganisasian lembaga TPA/TKA serta calon jamaah haji.
mengembangkan teknik pembinaan baca tulis al-Quran 9. Memberikan penghargaan/satya lencana kepada para pembina
TPA/TKA berprestasi dan tokoh-tokoh agama.
B. Pelaksanaan Kegiatan TKA/TPA 10. Menyelenggarakan festival anak saleh (FASI) setiap tahun dan
Adapun langkah-langkah yang diambil dalam menjalankan PORSENI pemuda remaja masjid yang dimulai sejak tahun 1996
kegiatan ini adalah. sampai sekarang.
11. Menetapkan kebijakan Pemda tentang pemberlakuan
1. Menyediakan anggaran pembinaan TKA/TPA melalui pos persyaratan pandai baca al-Quran kepada :
APBD sejak tahun 1995 sampai sekarang (Bantuan pembinaan a. Calon Pegawai Negeri Sipil (SK No. 800/5701/2003).
berupa dana pengelolaan, dana pengadaan sarana prasarana b. Calon siswa SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi.
pendukung belajar dan bantuan material berupa al-Quran, c. Pegawai yang akan naik pangkat termasuk guru sebagai
buku metode Iqra dan toga wisuda). tenaga fungsional
2. Komitmen Bupati menghadiri Prosesi Wisuda para santri d. Calon mempelai/pengantin.
madrasah setelah selesai menyelesaikan pembelajaran al-Quran e. Pegawai yang akan dipromosikan menduduki jabatan
dan Hadits. struktural maupun fungsional.

272 273
f. Calon Kepala Desa, Perangkat Desa dan BPD, sesuai surat bernapaskan Islam; 7) Pembinaan pemberdayaan zakat, infaq dan
Bupati No. 240/84/PMD. shadaqah; 8) Pembinaan keluarga sakinah dan keluarga sejahtera10.
g. Calon jamaah haji.
Setelah dimasukkan dalam Crash Program maka perlu ada
12. Membentuk tim pemantauan pelaksanaan PERDA No. 5/2003
payung hukum yaitu PERDA pelarangan penjualan minuman
dan PERDA No. 6/2003 ditiap jenjang pendidikan (SK Bupati
keras/beralkohol yang telah ditetapkan dengan nomor 3 Tahun 2002
No. 308/VI/2004).
dan sosialisasinya di tengah-tengah masyarakat.
13. Membentuk tim fasilitator kegiatan Crash Program Pemerintah
Kabupaten Bulukumba Bidang Keagamaan, (SK Bupati No. Pelaksanaan PERDA tersebut menemui kendala yang berasal
Kpts. 305/VI/2004). dari umat Islam itu sendiri karena sebagai penjual minuman keras
14. Pembentukan tim penguji tetap bagi pejabat yang akan sekaligus pemilik Caf. Mereka membentuk sebuah aliansi dan
menduduki jabatan struktural dan fungsional. melakukan demonstrasi. Tidak kurang dari 30 orang mereka
15. Mengeluarkan Surat Edaran Bupati kepada Kepala Sekolah- menentang PERDA dimaksud dengan alasan karena itu merupakan
Kepala Sekolah SLTP, SMU/SMK, tentang pelaksanaan PERDA sumber mata pencahariannya. Sebab menurut mereka, jika PERDA
keagamaan di sekolah-sekolah (SE. No. 378b/DP-DIK/IX/2003). itu diberlakukan mereka akan kehilangan pekerjaan.
16. Menjalin kerjasama dengan Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Umat Islam dari unsur Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama
Makassar Program Diploma II Jurusan Bimbingan Penyuluh dan KPPSI yang berpusat di Makassar sebelumnya mengadakan
Agama Islam. rapat untuk berdemonstrasi ke DPRD. Kurang lebih 3.000 orang
17. Melaksanakan gerakan wakaf al-Quran. umat Islam melakukan aksi demonstrasi mendukung
18. Pemberian bantuan pakaian wisuda (toga) TPA/TKA kepada diberlakukannya PERDA ini. Mereka menuntut Pemerintah Daerah
para Ketua BKPRMI Kecamatan sebanyak 2.000 pasang. Bulukumba tetap memberlakukan PERDA.
19. Mengembangkan sekolah-sekolah Arab dan Madrasah Diniyah.
20. Membentuk Sekolah Model Islam di tingkat TK, SD dan SLTP. Satu bulan kemudian pada tahun 2002 terbit PERDA nomor 3
21. Mengembangkan hifzil Quran di pesantren-pesantren dengan tentang pelarangan penjualan minuman keras/beralkohol. Yang
memberikan bantuan fisik dan bea siswa bagi santri. menggagas PERDA adalah masyarakat dari ormas-ormas
22. Membuat tugas keagamaan, tokoh-tokoh agama serta masyarakat yang
23. Membentuk desa muslim. menginginkan terwujudnya lingkungan yang kondusif, aman dan
tenteram.
PERDA yang ada di Bulukumba bukan PERDA Penegakkan
Syariat Islam, tapi PERDA Keagamaan yang pada akhirnya mampu Bupati Bulukumba cukup arif melihat keadaan ini. Dengan
melaksanakan Syariat Islam. Konsep awalnya bermula dari Crash pendekatan persuasif dia mengundang makan bersama para
Program Pemerintah dalam bidang keagamaan terdiri dari 8 poin penentang dan melakukan dialog. Bupati meminta mereka
penting yaitu ; 1) Pembinaan TPA/TKA; 2) Pembinaan Majelis menyampaikan alasan penolakan dan keberatan mereka. Dalam
Taklim; 3) Pembinaan remaja masjid; 4) Pembinaan perpustakaan dialog itu Bupati menyarankan mereka untuk beralih profesi,
masjid; 5) Pembinaan tahz al-Quran; 6) Pembinaan seni yang
10
Wawancara dengan Drs. Tjamiruddin (Mantan Kandepag Kab. Bulukumba & Ketua
Badan Amil Zakat Bulukumba) pada hari Rabu, tanggal 6 Desember 2006

274 275
misalnya dengan menjual minuman yang tidak memabukkan atau menelaah dan memahami al-Quran, kemudian mengamalkannya
mencari pinjaman modal berdagang komoditi dengan sistem kredit. dalam kehidupan sehari-hari.
Ternyata usulan Bupati itu mereka tanggapi dengan antusias.
Keseriusan dan komitmen Bupati untuk menggalakkan baca
Larangan berlaku bagi pedagang minuman keras untuk tidak huruf al-Quran nampak pada saat acara wisuda para anak santri
menjual minuman keras berjarak pada radius 1 Km dari masjid, (TPA/TKA). Bupati menghadiri acara wisuda itu meskipun pada
sekolah, pemukiman dan pasar. Meskipun demikian, pelanggaran saat bersamaan ada undangan rapat dinas dengan Gubernur.
atas peraturan ini tetap terjadi. Larangan itu diberlakukan, namun
Tes membaca al-Quran diberlakukan pada saat seleksi anak-
minuman keras bisa didapat dengan mudah ditempat lain. Untuk
anak usia sekolah. Bagi siswa yang akan masuk Sekolah Dasar dan
mengatasi hal ini, petugas keamanan memiliki peranan penting
Sekolah Menengah, selain memiliki ijazah juga harus memiliki
mengawal PERDA ini.
sertifikat TPA atau TKA. Untuk jenjang SD dan SLTP ada tes
Garda pengawal PERDA dibentuk oleh Pemerintah Daerah membaca dan menghafal surah-surah pendek. Tim penguji adalah
dengan nama Buserda (Buru Sergap Daerah) yang bertugas gabungan dari pegawai Pemda, pegawai Departemen Agama,
memburu pelanggar PERDA ke lokasi pelanggaran atas PERDA itu. pegawai Diknas, dan tokoh agama.
Bupati menyediakan layanan pesan singkat (SMS) bagi masyarakat
Jika terjadi kecurangan dalam seleksi ini, seperti jika terdapat
yang ingin mengadukan masalahnya.
calon siswa yang belum bisa membaca al-Quran , tetapi lulus
Tjamiruddin (mantan Kakandepag Bulukumba) yang seleksi, maka kepala sekolah akan di panggil untuk dimintai
menjabat sebagai pembantu Bupati mengatakan bahwa untuk pertanggungjawaban. Kepada siswa bersangkutan diberikan
melaksanakan Crash Program Keagamaan, perlu ada payung kesempatan selama waktu satu semester untuk belajar al-Quran
hukumnya. Payung hukum itu diresmikan pada tahun 1999. PERDA dengan sebaik-baiknya.
ini awalnya adalah ide yang ditampung oleh Departemen Agama
Bagi pasangan calon penganten yang akan melaksanakan akad
kemudian disampaikan kepada Bupati.
nikah juga harus melewati tes baca al-Quran. Bila tidak bisa atau
Bupati Andi Patabai menunjukkan komitmen tinggi. Melalui belum benar bacaannya, terutama bagi pasangan pengantin laki-laki
lembaga BKPRMI Bulukumba dia menata dan memajukan Sistem maka akad nikahnya ditunda. Calon pengantin laki-laki pada saat
Pendidikan Dasar al-Quran. Hal ini semakin menarik perhatian akad nikah akan dilaksanakan, dia akan diuji bacaan al-Quran yang
masyarakat. Dengan kesadaran sendiri, keluarga muslim yang didengarkan oleh para hadirin. Sementara bagi calon pengantin
memiliki putra/putri usia sekolah TPA atau TKA serentak perempuan tes bacaan al-Quran dilaksanakan pada saat
mendaftarkan anak-anak mereka di TPA atau TKA itu. Mereka pendaftaran. Tujuan dilakukan ujian ini adalah untuk membentuk
termotivasi karena agama mengajarkan kaum muslimin untuk generasi Qur'ani. Peraturan ini tidak berlaku bagi muallaf laki-laki.
mensucikan lahir dan batin sesuai dengan perintah Rasulullah
Tes membaca al-Quran juga berlaku bagi pegawai atau calon
dalam Al-Hadist Kebersihan adalah sebahagian dari iman. Satu-
pegawai. Masyarakat yang akan menjadi pegawai atau yang akan
satunya cara untuk membersihkan batin adalah dengan membaca,
dipromosikan jika tidak atau belum bisa baca al-Quran , akan
ditunda pelaksanaannya sekitar tiga bulan dengan harapan agar dia

276 277
memiliki waktu untuk mempelajari al-Quran terlebih dahulu anak-anak usia sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi. Anak
hingga bisa membaca al-Quran. Dampak dari pemberlakuan perempuan wajib memakai jilbab.
PERDA ini adalah bermunculan berdirinya TPA/TKA.
Peraturan ini juga berlaku bagi karyawan semua instansi, baik
Sebelum PERDA nomor 3 tahun 2002 tentang pemberatasan tingkat bawah hingga tingkat atas kecuali bagi karyawan non-
minuman keras diberlakukan, pernah terjadi dimana seorang muslim. Penyanyi yang melakukan aktifitasnya di atas panggung
oknum polisi mengkonsumsi minuman keras. Kejadian ini diketahui diwajibkan mengenakan busana muslim.
oleh masyarakat, lalu masyarakatpun melaporkannya kepada atasan
Suatu contoh kejadian dimana seorang biduanita naik di atas
di instansinya. Setelah PERDA diberlakukan kasus itu tidak
panggung tidak memakai kerudung. Bupati melihat keadaan ini,
berulang lagi. Hal ini mengindikasikan terjadinya kerjasama yang
lalu Bupati naik panggung dan memakaikan kerudung padanya.
baik antara aparat keamanan dengan masyarakat.
Contoh kejadian lain yaitu pada saat acara pertemuan pejabat
Pelaksanaan PERDA memang dinilai keras. Namun, melihat beserta isteri-isterinya. Tamu-tamu wanita semuanya berbusana
dampak dari diberlakukannya PERDA ini yang cenderung muslimah kecuali salah seorang isteri pejabat (isteri pejabat baru
menunjukkan ke kondisi lebih baik, maka Pemerintah Daerah gencar Kodim Bulukumba) tidak memakai jilbab. Lalu pejabat itu
mensosialisasikannya di tengah masyarakat. menanyakan kepada salah seorang yang hadir, apakah ada
aturannya tentang memakai busana muslim? Setelah mendapat
Penjualan dan peredaran minuman keras di Kabuapten
jawaban ternyata benar, ada aturannya, dia pun menyuruh isterinya
Bulukumba memang tergolong marak dan mengkhawatirkan. Suatu
pulang untuk mengenakan busana muslimah.
ketika ditemukan seorang penjual minuman yang mengelabui
pembeli dengan cara menukar isi botol coca-cola dengan bir. Hampir Contoh kasus lain dimana suatu saat Bupati mengadakan
semua caf- caf di sepanjang pantai melakukan tindakan ini. pertemuan dengan para pegawainya, lalu dia melihat ada pegawai
Setelah diberlakukannya PERDA, caf yang masih melakukan hal wanita yang belum mengenakan jilbab. Lalu dia memerintahkan
demikian izin usahanya akan dicabut. Namun demikian, ternyata pembantu pribadinya untuk mengambil jilbab dari dalam mobilnya,
minuman keras masih didapatkan dengan cara men-supply dari kemudian diberikan kepada yang wanita itu. Inilah cara Bupati
daerah lain seperti Kabupaten Banteang, Kabupaten Jenoponto, dan melaksanakan sosialisasi (jilbab) pada para karyawannya.
Kabupaten Kendang.
Pelaksanaan PERDA oleh Bupati yang baru juga berlanjut dan
PERDA nomor 3 Tahun 2002 dinilai efektif untuk menata bahkan lebih intensif. Dana yang dikucurkan pun meningkat dari
kehidupan masyarakat dengan aman dan damai. Masyarakat sangat tahun sebelumnya. Pada tahun Tahun 2004 anggaran masing-masing
peduli dengan pelaksanaan PERDA ini, terbukti apabila masyarakat desa mencapai 140 juta yang sifatnya untuk pembangunan sik.
melihat pelanggaran, mereka segera melaporkannya ke aparat Namun, pada tahun anggaran 2006, alokasi dana tersebut meningkat
keamanan. Aparat keamanan akan menjaga rahasia pihak yang menjadi 150 juta rupiah per-desa yang dititik beratkan pada
melapor itu dari publikasi. pembinaan dan penyuluhan. Pada mulanya dilakukan pengambilan
PERDA nomor 5 Tahun 2003 mengatur tentang berbusana
muslim dan muslimah. Hal ini lebih ditekankan penerapannya pada

278 279
sampel sebanyak 15 desa muslim.11 Pembinaan dan penyuluhan akhirnya pihak yang kontra pun bisa menerima. Bagi yang tidak
dilakukan pada waktu sore hari yaitu tentang pendidikan, busana, setuju dengan pemberlakuan PERDA ini disebabkan sering kali
sholat berjamaah, kesehatan dan minuman keras. Respon karena orang-orang yang mensosialisasikannya sendiri tidak paham
masyarakat sangat bagus sekali. dengan maksud dan tujuan diberlakukannya PERDA itu. Maka,
seharusnya sosialisasi itu harus dilakukan oleh orang yang mengerti
Menurut Andi Mahrus12 sebenarnya inti pengembangan nilai-
dan memahaminya.
nilai Islam di suatu daerah tergantung pada pimpinannya. Karena
pemimpin memiliki otoritas dan kebijakan yang strategis dalam Untuk mensosialisasikan keberadaan PERDA ini, telah
melaksanakan suatu peraturan. disusun sebuah buku yang berjudul: Mengawal Bulukumba ke
Gerbang Syariat. Maksud dari judul buku itu adalah suatu proses
Pelaksanaan PERDA Keagamaan ini mendapat respon
berupa aturan-aturan untuk sampai ke tujuan (gerbang) yang dicita-
masyarakat di luar Bulukumba, baik dalam maupun luar negeri.
citakan. Pemerintah Daerah Bulukumba berharap kepada semua
Pernah tamu dari Semarang dan Sumatera Barat bahkan dari
pihak agar tidak menanggapi diberlakukannya peraturan itu sebagai
Malaysia dan Jepang datang ke Bulukumbang untuk melakukan
upaya yang menjurus kepada diberlakukannya syariat Islam.
studi banding tentang mekanisme dan proses awal terwujudnya
PERDA keagamaan tersebut.
Dipaparkan dalam studi banding itu bahwa pada proses
diberlakukannya PERDA merupakan pekerjaan yang tidak mudah.
PERDA Keagamaan tidak lahir begitu saja, tapi diawali dengan
lahirnya kebijakan pemerintah daerah di bidang keagamaan yang
disebut dengan Crash Program Keagamaan yang tersusun dalam
delapan poin yang disosialisasikan bertujuan mendekatkan nilai-nilai
Islam kepada masyarakat. Setelah masyarakat mengetahui dan
menerima dan menjadikannya sebagai bagian dari hidup mereka,
secara pelan-pelan kemudian dikembangkan menjadi PERDA
Keagamaan.
Berbagai pihak baik di Bulukumba dan maupun di luar
Bulukumba memandang diberlakukannya PERDA Keagamaan ini
dengan tanggapan berbeda-beda, ada yang pro dan ada yang kontra.
Pihak yang kontra, disebabkan karena mereka tidak paham. Setelah
mengetahui dan memahami urgensi dari pemberlakuan PERDA ini,

11 Wawancara dengan Tadjuddin (Ketua Muhammadiyah Bulukumba) pada hari Kamis, 7


Desember 2006
12 Wawancara dengan Andi Mahrus (Asisten III Pemda Bulukumba) pada hari Jumat,
tanggal 8 Desember 2006

280 281
Disamping ada kelompok yang pro dengan diberlakukannya
BAB IV PERDA Keagamaan, ada juga yang kontra. Sebuah organisasi yang
RESPON MASYARAKAT TERHADAP menamakan diri dengan Lembaga Pendidikan Anak Rakyat
PELAKSANAAN PERDA KEAGAMAAN (LAPAR) di Jakarta menentang PERDA Keagamaan yang ada
DI KABUPATEN BULUKUMBA tersebut. Pemerintah Daerah Bulukumba berharap pihak yang
kontra di wilayah Kabupaten Bulukumba dengan lapang dada
melihat keberhasilan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Daerah
ini.

Antusiasme dan kesadaran masyarakat untuk menerima dan Bupati Kepala Daerah Bulukumba yang sekarang, belum
menjalankan PERDA Keagamaan semakin membaik. Hal ini membentuk kebijakan baru, artinya masih melanjutkan kebijakan
dibuktikan dengan penggunaan simbol-simbol yang bernuansa yang dibuat oleh pendahulunya. Dalam waktu dekat, masyarakat
keagamaan. Identitas suatu lembaga atau instansi disamping berharap pemberlakuan ini meningkat ke wilayah yang lebih tinggi
menggunakan bahasa Indonesia juga menggunakan tulisan yaitu propinsi. Seperti pengembangan sebelumnya dimana
berbahasa Arab. Seperti tulisan papan nama sekolah-sekolah, pemberlakukannya dimulai dari tingkat desa, kemudian meningkat
instansi pemerintahan seperti Departemen Perindustrian menjadi wilayah kecamatan, kemudian kabupaten.
Kepariwisataan dan Budaya, Departemen Agama, dan instansi Secara perlahan-lahan PERDA itu diterima dengan baik oleh
lainnya. masyarakat. Ini berarti mereka mulai sadar dan mengerti akan
Dari keempat PERDA yang sudah diberlakukan kemungkinan luhurnya nilai-nilai syariat Islam. Upaya yang dilakukan oleh
akan ada penambahan PERDA lain, seperti PERDA yang mengatur pelaksana lapangan adalah dengan menggalakkan peranan majelis-
jual beli dan sistem perbankan bagi hasil (sistem Bank Syariah). majelis taklim13.

Masyarakat non-muslim memandang bahwa setelah Meskipun pelaksanaan PERDA dinilai menunjukkan hasil,
diberlakukannya PERDA mereka merasa nyaman dan aman, harta namun bukan berarti tidak ada lagi pelanggaran-pelanggaran
benda mereka terlindungi. Maka mereka tidak melakukan protes. kriminal seperti minuman keras, perjudian, pencurian dan
Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Andi Mahrus dan sebagainya. namun, jika diprosentase bilangannya kecil
Tjamiruddin. dibandingkan dengan sebelum diberlakukannya PERDA itu.

PERDA yang mengatur tentang zakat, infaq dan shadaqah Rasa aman dan damai dirasakan oleh semua pihak di
bagi yang belum menyadari kewajiban ini perlu diberikan Bulukumba. Sebagai contoh bila terjadi pertikaian, tokoh agama
penjelasan dan pemahaman. Infaq bagi para pegawai bila sangat berperan untuk mendamaikan. Dengan nasehat dan taushiah,
dilaksanakan akan terkumpul dana yang dapat digunakan untuk pihak yang bertikai pun menyadari dan akhirnya damai kembali
menekan angka kemiskinan dan kebodohan. Keberhasilan dalam suasana kekeluargaan.
pelaksanaan PERDA zakat, infaq dan shadaqah ini bergantung
kepada tingkat kesadaran masyarakat. 13 Wawancara dengan K.H. Mahdy Hakmah, BA. (Ketua MUI Bulukumba) pada hari
Sabtu, tanggal 9 Desember 2006

282 283
Saling membantu dan mendukung juga menjadi contoh BAB V
dampak dari pemberlakuan PERDA ini. Kriminalitas berupa ANALISIS
pencurian seringkali disebabkan oleh tidak adanya lapangan
pekerjaan. Kemudian orang yang mampu, memberikan pekerjaan
pada orang yang tidak memiliki pekerjaan sebagai mata
pencarahriannya. Karena letak wilayah Bulukumba dekat dengan
pantai, maka jumlah nelayan juga banyak. Salah seorang nelayan Isu pemberlakuan syariat Islam cukup lama berkembang di
memiliki perahu tapi kondisinya tidak layak untuk berlayar mencari daerah ini. Tuntutan pemberlakukan syariat Islam muncul di
ikan. Perahu itu lalu diperbaiki. Setelah dirasa layak untuk melaut, Makassar dalam Kongres Umat Islam II yang dilaksanakan pada
perahu itupun diberikan kepada orang yang tidak punya pekerjaan tanggal 30 Desember 2001. Bahkan untuk kasus Sulawesi Selatan,
itu untuk mencari ikan. Satu masalah terpecahkan. Ini satu contoh. fungsionaris DPP PAN, AM. Fatwa menegaskan bahwa perjuangan
untuk menuntut pemberlakuan syariat Islam harus tetap
Contoh lain adalah anak yang putus sekolah karena
berlangsung, namun tidak harus dengan pemaksaan atau kekerasan.
keterbatasan biaya. Orang kaya tak segan-segan menunjukkan
kepeduliannya dengan membiayai anak tersebut hingga selesai. Hal Sebelum pemberlakuan PERDA keagamaan ini, Bupati
ini dicontohkan sendiri oleh Bupati lama. Bulukumba Patabai Pabokori bersama dengan jajarannya berusaha
dapat membuat payung hukumnya berdasarkan visi dan misi yang
Penataan desa secara fisik juga menunjukkan geliatnya. Desa-
dimiliki oleh Kabupaten Bulukumba. Karena dengan visi itu
desa terlihat bersih dan tertata rapi sebagai bukti kongkret jaminan
diharapkan dapat mewujudkan masyarakat Bulukumba yang
mutu keberhasilan pelaksanaan pemerintahan di Bulukumba.
sejahtera dan berkualitas dengan memanfaatkan potensi sumber
Lomba Kebersihan di seluruh tingkat, baik desa maupun kecamatan
daya daerah yang berlandaskan pada moral agama dan nilai-nilai
sering kali diselenggarakan. Hal ini dapat memacu kesadaran
luhur budaya.
seluruh masyarakat. Pembinaan di bidang rohani dan mental juga
digalakkan dengan didukung oleh seluruh masyarakat. Siapapun yang mengaku sebagai muslim sudah pasti
bertanggung jawab atas tegaknya syariat Islam. munculnya ide
Masyarakat Bulukumba melalui para pemimpin dan tokoh-
Crash Program Keagamaan disambut antusias oleh masyarakat dan
tokoh agama berharap agar pemerintah pusat memberikan payung
mendukungnya. Tersusunnya konsep itu berangkat dari keinginan
hukum kepada PERDA ini. Mereka merasa berjalan sendiri tanpa
pihak-pihak yang menginginkan Bulukumba menjadi wilayah yang
ada dukungan dari pemerintah pusat. Menurut mereka, ada pejabat
aman, tentram, damai dan sejahtera bagi penduduknya maupun
tingkat pusat yang menolak datang ke Bulukumba karena penilaian
bagi orang luar yang berkunjung ke Bulukumba, meskipun pada
negatifnya terhadap PERDA ini. Penilaian negatifnya yaitu di
prakteknya menemui banyak kendala dan tantangan. Ternyata
Kabuapten Bulukumba hendak diberlakukan syariaat Islam.
kendala dan tantangan yang muncul berasal dari umat Islam sendiri.
Pandangan seperti itu menurut mereka adalah pandangan yang
Ini yang dipandang sebagai tugas yang berat.
keliru.
Hal-hal yang melatarbelakangi lahirnya PERDA No. 6 Tahun
2003 adalah :

284 285
1. Perkembangan syariat Islam yang dimulai sejak kehadiran BAB VI
ulama tasawuf Khatib Bungsu yang bergelar Dato Ri Tiro pada PENUTUP
awal abad ke 17 masehi.
2. Diperkirakan jumlah penduduk Bulukumba yang buta aksara al-
A. Kesimpulan
Quran kira-kira 20% dari jumlah 360.126 jiwa .
1. Pelaksanaan PERDA bermula dari adanya Crash Program
3. Tingkat kesadaran masyarakat untuk mempelajari, membaca,
Keagamaan Kabupaten Bulukumba.
mendalami dan mengamalkan al-Quran masih rendah.
2. Antusias dan kesadaran masyarakat untuk menerima dan
Kemudian kondisi setelah lahirnya PERDA No. 6 Tahun 2003
menjalankan PERDA Keagamaan sangat baik. PERDA yang
adalah sebagai berikut:
dimaksud adalah PERDA Nomor 3 tahun 2002 tentang
1. Jumlah Buta Aksara al-Quran mengalami penurunan Larangan, Pengawasan, Penertiban, Peredaran dan Penjualan
(diperkirakan 5,5%). Minuman Beralkohol. Sebelum pemberlakuan PERDA ini sering
2. Tingkat kesadaran masyarakat dalam mempelajari, membaca, terjadi pertikaian antar kampung akibat dari minuman keras.
mendalami dan mengamalkan al-Quran meningkat ( dengan Kemudian PERDA No. 05 tahun 2003 tentang Berpakaian
berkembangnya TPA/TKA sebanyak 648 buah, Majelis Taklim Muslim dan Muslimah. Kemudian PERDA No. 06 tahun 2003
sebanyak 143 buah ). tentang Pandai Baca al-Quran bagi Siswa dan Calon Pengantin,
serta PERDA No. 02 tahun 2003 tentang Pengelolaan Zakat
Memperhatikan uraian sebagaimana diungkapkan di atas, Profesi, Infaq dan Shadaqah.
ternyata lahirnya PERDA mempunyai dampak positif bagi
kehidupan masyarakat. Tetapi sebaiknya Pemerintah Daerah tidak 3. Sejak diberlakukan PERDA Keagamaan di Kabuapten
hanya membuat PERDA yang bersifat normatif, tetapi juga Bulukumba hingga kini tidak ada reaksi negatif (protes) dari
membuat PERDA yang dapat menjawab kebutuhan nyata bagi umat non-muslim bahkan mereka merasa lebih aman dan terjaga
masyarakat. harta bendanya.

B. Rekomendasi
1. PERDA Keagamaan tidak hanya yang bersifat normatif, tetapi
juga hendaknya yang berkaitan langsung dengan masalah yang
dihadapi oleh masyarakat Kabupaten Bulukumba.
2. Perlu dilakukan sosialisasi secara terus menerus terhadap pihak-
pihak yang masih belum dapat menerima kehadiran PERDA
yang bernuansa Syariat Islam tersebut. Dan sebaiknya PERDA
tersebut tidak dikaitkan dengan Syariat Islam, sebab beberapa
kelompok tertentu masih alergi dengan kata-kata tersebut.

286 287
DAFTAR PUSTAKA

A. H. Patabai Pobokori, editor Mahrus Andi, Mengenal Bulukumba ke


Gerbang Syariat Islam, Editor Mahrus Andi, penerbit Karier
Utama, Cetakan Pertama, 2005.
Bulukumba Dalam Angka tahun 2005 (BPS).
Zuly Qodir, Syariah Demokratik (Pemberlakuan Syariah Islam di
Indonesia), Pustaka Pelajar, 2004.

288