Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Neurodermatitis Sirkumskripta atau juga dikenal sebagai Liken
Simpleks Kronikus adalah peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip, dan
khas ditandai dengan likenifikasi. Keluhan dan gejala dapat mucul dalam
waktu hitungan minggu sampai bertahun-tahun. Keluhan utama yang
dirasakan pasien dapat berupa gatal dan seringkali bersifat paroxismal.(1,2,3)
Lesi kulit yang mengalami likenifikasi umumnya akan dirasakan sangat
nyaman bila digaruk sehingga terkadang pasien secara refleks menggaruk dan
menjadi kebiasaan yang tidak disadari. Pada stadium awal kelainan kulit yang
terjadi dapat berupa eritem dan edema atau kelompok papul, selanjutnya
karena garukan berulang, bagian tengah menebal, kering dan berskuama serta
pinggirnya hiperpigmentasi.(2,3)
Etiopatogenesis dari neurodermatitis sirkumskripta belum diketahui,
diduga pruritus memainkan peranan karena pruritus berasal dari pelepasan
mediator atau aktivitas enzim proteolitik. Disebutkan juga bahwa garukan dan
gosokan mungkin respon terhadap stres emosional.(1)
Belum ada penelitian terbaru mengenai insiden Neurodermatitis
Sirkumskripta, terakhir dilakukan oleh Julius L. Danto dkk. Pada 3700 kasus
penyakit kulit, didapatkan angka kejadian neurodermatitis sirkumskripta
sebesar 14,6% pada masyarakat china. Terbilang cukup besar dan
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sehingga peningkatan
dan pengembangan pengetahuan mengenai etiopatogenesis serta penelitian
mengenai metode penatalaksanaan neurodermatitis sirkumskripta menjadi
sangat urgensi.(4)

1.2 TUJUAN
Untuk mengetahui gambaran mengenai penyakit neurodermatitis dan
bagaimana penetalaksanaannya

1
2

1.3 MANFAAT
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai gambaran
penyakit neurodermatitis dan bagaimana penatalaksanaannya bagi penulis dan
pembaca.
3

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. BU
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 31 Tahun
Alamat : Jl. Plangkowati, Kelurahan Kroboan, Semarang.
Status Pernikahan : Sudah Menikah
Pendidikan Terakhir : SMP
Pekerjaan : Tambal Ban
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

2.2 ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada hari kamis, tanggal 18 September 2017
pukul 10.00 WIB di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr Adhyatma
Semarang.
A. Keluhan Utama
Kaku dan nyeri pada punggung kaki kanan
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang pasien laki-laki berusia 31 tahun datang ke poli kulit RS
Tugurejo untuk kontrol penyakit kulit yang dideritanya. Pasien
mengatakan bahwa luka pada punggung kaki kanannya masih terasa kaku,
kulitnya menebal, dan nyeri saat ditekan maupun digerakan. Keluhan
sudah dialami pasien sejak 1 bulan yang lalu dan sudah beberapa kali
berobat ke poli kulit RS Tugurejo, dan merasa lebih membaik untuk
keluhanya. Pasien mengatakan, awalnya terdapat luka knalpot pada
punggung kaki kanan yang tidak kunjung sembuh dan kaki kanan yang
terus membengkak. Selanjutnya pasien memilih dipijat oleh tukang pijat,
namun pasien merasakan kakinya justru lebih terasa sakit dan belum
membaik. Pasien tidak memiliki alergi obat maupun makanan.
4

C. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Keluhan serupa disangkal
2. Riwayat alergi disangkal
3. Memiliki tekanan darah tinggi
4. Memiliki riwayat kencing manis
5. Memiliki riwayat operasi dada akibat infeksi paru
D. Riwayat Penyakit Keluarga
1. Keluhan serupa dengan pasien disangkal
2. Riwayat alergi disangkal
3. Riwayat tekanan darah tinggi disangkal
4. Riwayat penyakit jantung disangkal
5. Riwayat kencing manis disangkal
E. Riwayat Pribadi dan Sosial
1. Memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol namun tidak banyak
2. Perokok aktif, dahulu 1-2 bungkus, sekarang 1-2 batang
3. Riwayat konsumsi obat terlarang disangkal

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 18 September 2017 Pukul 10.00
WIB di Poli Kulit RS Tugurejo
A. STATUS GENERALIS
1. Keadaan Umum : Baik
2. Kesadaran : Komposmentis, GCS 15 (E4, V5, M6)
3. Vital Sign
Tekanan darah : 118/107 mmHg
Nadi : 107 x/menit, irama reguler, isi cukup
Respiratory rate : 20 x/menit
Suhu : 36,70C (aksila)
4. Status gizi : Kesan gizi cukup
5. Kulit
Warna : Sawo matang
5

Sianosis : Tidak ada


6. Kepala : Bentuk mesocephal, rambut warna hitam, lebat,
dan distribusi merata.
7. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
8. Telinga : Bentuk normal, simetris, inflamasi (-), sekret (-).
9. Hidung : Deviasi septum (-/-), sekret (-/-)
10. Mulut : Bentuk normal dan mukosa tidak anemis
11. Lidah : Tidak pucat, tidak kotor, warna merah muda
12. Tonsil : Tidak ada pembesaran
13. Faring : Tidak hiperemis
14. Leher : Tidak ada pembesaran KGB
15. Thorak
a. Paru-paru
1) Inspeksi :
Bentuk : Simetris
Retraksi : tidak ada
Gerakan napas : Simetris
2) Palpasi :
Ekspansi napas : Simetris
Fremitus taktil : simetris
3) Perkusi : Sonor disemua lapang paru
Batas paru-hepar : ICS 5 linea midclavicula dextra
Peranjakan hepar : ICS 6 linea midclavicula dextra
4) Auskultasi : Vesikuler kanan = kiri, Rh -/-, Wh -/-
b. Jantung
1) Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
2) Palpasi : Nyeri tekan (-), Thrill (-)
3) Perkusi :
Batas jantung kanan`: ICS 4 linea midclavicula dextra
Batas jantung kiri : ICS 5 linea midclavicula sinistra
Pinggang jantung : ICS 3 linea parasternalis sinistra
6

4) Auskultasi : BJ I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)


16. Abdomen :
1) Inspeksi :
Bentuk : Datar
Umbilicus : Ditengah, inflamasi (-)
Tidak tampak massa dan gerakan peristaltik
2) Auskultasi : Bising usus (+) 11x/m
3) Perkusi : Timpani seluruh lapang perut
Hepar : 1 jari bawah arcus costa
Lien : Tidak ada pembesaran
4) Palpasi : Nyeri tekan (-), distensi (-), massa (-)
Hepar : Tidak teraba
Lien : Tidak ada pembesaran,
Ginjal : Tidak teraba
17. Ekstremitas
Akral : Hangat
CRT : <2 dtk
Sianosis : Tidak ada
Edema : (+/-)
B. STATUS DERMATOLOGI
1. Inspeksi :
a. Lokasi : Regio dorsum pedis dextra
b. UKK : Likenifikasi, skuama, dan plak hiperpigmentasi dengan
diameter 10 cm. Bentuk lesi plakat, tidak teratur,
berbatas tegas, polisiklik, dan dasar eritem. Distribusi
unilateral dan regional.
2. Palpasi :
a. Sensoris : +/+
b. Suhu : Teraba hangat
c. Permukaan : Teraba kasar, keras, dan kaku
d. Nyeri : Positif (+) saat ditekan dan digerakan
7

e. Gatal : Negatif (-)


C. STATUS VENEROLOGI
Tidak dilakukan
8

2.4 RESUME
Seorang pasien laki-laki berusia 31 tahun datang ke poli kulit RS
Tugurejo untuk kontrol penyakit kulit yang dideritanya. Pasien mengatakan
bahwa luka pada punggung kaki kanannya masih terasa kaku, kulitnya
menebal, dan nyeri saat ditekan maupun digerakan. Keluhan sudah dialami
pasien sejak 1 bulan yang lalu dan sudah beberapa kali berobat ke poli kulit
RS Tugurejo, dan merasa lebih membaik untuk keluhanya. Pasien
mengatakan, awalnya terdapat luka knalpot pada punggung kaki kanan yang
tidak kunjung sembuh dan kaki kanan yang terus membengkak. Selanjutnya
pasien memilih dipijat oleh tukang pijat, namun pasien merasakan kakinya
justru lebih terasa sakit dan belum membaik. Pasien tidak memiliki alergi
obat maupun makanan.
Pasien menyangkal pernah mengalami keluhan yang serupa dan tidak
memiliki alergi. Namun pasien mengatakan memiliki penyakit tekanan darah
tinggi, kencing manis, dan riwayat operasi dada akibat infeksi paru. Pasien
juga mengatakan keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa, alergi,
maupun penyakit yang mendasari lainnya.
Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan keadaan pasien dalam batas
normal. Namun pada kaki kanan pasien nampak bengkak dan terdapat luka
dan kelainan kulit yang dikeluhkan pasien. Kaki kanan bagian bawah (Regio
cruris anterior) terlihat bengkak dan kemerahan. Pada saat di palpasi teraba
hangat namun pasien tidak merasakan nyeri.
Pada pemeriksaan kelainan kulit di regio dorsum pedis dextra
ditemukan efloresensi berupa likenifikasi, skuama, dan plak hiperpigmentasi
dengan diameter 10 cm. Bentuk lesi plakat, tidak teratur, berbatas tegas,
polisiklik, dan dasar eritem. Distribusi unilateral dan regional.

2.5 DIAGNOSIS BANDING


A. Neurodermatitis
B. Liken Planus
C. Dermatitis atopik
9

D. Dermatitis kontak alergi


E. Prosiasis

2.6 USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Tes Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ada tes yang spesifik untuk
neurodermatitis sirkumskripta. Tetapi walaupun begitu, satu studi
mengemukakan bahwa 25 pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta
positif terhadap patch test. Pada dermatitis atopik dan mikosis fungiodes
bisa terjadi likenefikasi generalisata oleh sebab itu merupakan indikasi
untuk melakukan patch test. Pada pasien dengan pruritus generalisata yang
kronik yang diduga disebabkan oleh gangguan metabolik dan gangguan
hematologi, maka pemeriksaan hitung darah harus dilakukan, juga
dilakukan tes fungsi ginjal dan hati, tes fungsi tiroid, elechtroporesis
serum, tes zat besi serum, tes kemampuan pengikatan zat besi (iron
binding capacity), dan foto dada. Kadar immunoglobulin E dapat
meningkat pada neurodermatitis yang atopik, tetapi normal pada
neurodermatitis nonatopik. Bisa juga dilakukan pemeriksaan potassium
hydroksida pada pasien liken simpleks genital untuk mengeleminasi tinea
cruris.(5)
B. Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosis
neurodermatitis sirkumskripta adalah menunjukkan proliferasi dari sel
schwann dimana dapat membuat infiltrasi selular yang cukup besar. Juga
ditemukan neural hyperplasia. Didapatkan adanya hiperkeratosis dengan
area yang parakeratosis, akantosis dengan pemanjangan rete ridges yang
irregular, hipergranulosis dan perluasan dari papillo dermis. Spongiosis
bisa ditemukan, tetapi vesikulasi tidak ditemukan. Papilomatosis kadang-
kadang ditemukan. Ekskoriasi, dimana ditemukan garis ulserasi punctata
karena adanya jaringan nekrotik bagian superficial papillary dermis.
Fibrin dan neutrofil bisa ditemukan, walaupun keduanya biasanya
10

ditemukan pada penyakit dermatosis yang lain. Pada papillary dermis


ditemukan peningkatan jumlah fibroblas.(5)

2.7 DIAGNOSIS KERJA


Liken Simpleks Kronis (Neurodermatitis Sirkumkripta)

2.8 PENATALAKSANAAN
Terapi Neurodermatitis Sirkumskripta bertujuan untuk memutus itch-
scratch cycle, karena pada dasarnya tindakan menggaruk lesi yang terasa
gatal justru akan memperberat lesi, dan memperberat gatal yang dirasakan.
Penyebab sistemik dari gatal harus diidentifikasi. Hal ini lah yang
menyebabkan penatalaksanaan Dermatitis Sirkumskripta menjadi sangat sulit.
Harus dijelaskan berkali-kali untuk tidak menggaruk atau menggosok lesi
nya.(2,3,6,7)
A. Kortikosteroid
Kortikosteroid Topikal, sampai saat ini masih merupakan pilihan
pengobatan. Pemberiannya akan lebih efektif jika diaplikasikan kemudian
dibalut dengan perban oklusif kering. Yang menjadi pilihan adalah
kortikosteroid dengan potensi tinggi seperti Clobetassol Propionat,
Diflorasone Diasetat, atau bethamethason dipropionat
Pemberian kortikosteroid berupa Triamcinolone secara Intralesi,
biasanya sangat efektif (3mg/ml). Namun harus sangat diperhatikan karena
pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan atrophy.
B. Preparat Tar
Kombinasi 5% crude coal tar dalam pasta zinc oxide ditambah
kortikosteroid kelas II kemudian dibalut dengan perban oklusif kering,
akan efektif jika diaplikasikan pada daerah-daerah yang optimal misalnya
lengan, dan kaki.
C. Perban Oklusif
Preparat kortikosteroid biasanya diberikan pertama, kemudian diikuti
dengan perban oklusif. Jika diberikan perban oklusif saja (tanpa
11

kortikosteroid), juga dapat bermanfaat untuk mencegah pasien menggaruk


lesinya dan merupakan tindakan yang efektif mengingat kebiasan
menggaruk pada pasien neurodermatitis sirkumskripta adalah tindakan
reflex dan kebiasaan yang tidak disadari.
D. Antihistamin
Pemberian topikal, Salep Doxepin 5%, krim capsaicin, atau salep
tacrolimus dapat bersifat efektif dan signifikan pada beberapa pasien dan
dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan. Namun penggunaan
antihistamin topikal ini dapat menyebabkan efek samping ringan berupa
sensasi pusing. Pemberian antihistamin oral secara luas digunakan untuk
mengurangi keluhan pruritus namun peran dan keuntungannya dalam
mengatasi pruritus lokal sangat rendah.

2.9 PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 DEFINISI
Neurodermatitis Sirkumskripta atau juga dikenal sebagai Liken
Simpleks Kronikus adalah peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip, dan khas
ditandai dengan likenifikasi. Likenifikasi merupakan pola yang terbentuk dari
respon kutaneus akibat garukan dan gosokan yang berulang dalam waktu
yang cukup lama. Likenifikasi timbul secara sekunder dan secara histologi
memiliki karakteristik berupa akantosis dan hiperkeratosis, dan secara klinis
tampak berupa penebalan kulit, dengan peningkatan garis permukaan kulit
pada daerah yang terkena sehingga tampak serperti kulit batang kayu.(1,2,3)

Gambar 1. Gambaran Likenifikasi pada Neurodermatitis Sirkumskripta(2)

3.2 EPIDEMIOLOGI
Neurodermatitis Sirkumskripta berlangsung secara kronis dan secara
epidemiologi lebih banyak menyerang kelompok dewasa yang berusia antara
30-50 tahun. Namun pasien yang memiliki riwayat dermatitis atopik dapat
menderita neurodermatitis sirkumskripta pada onset usia yang lebih muda,

12
13

yaitu rata-rata 19 tahun. Selain itu, neurodermatitis sirkumskripta terjadi lebih


sering pada wanita dibanding laki-laki dengan insidensi lebih banyak pada
kelompok ras Asia dan kelompok ras asli Amerika.(2,3)

3.3 ETIOPATOGENESIS
Etiologi pasti neurodermatitis sirkumskripta belum diketahui, namun
diduga pruritus memainkan peranan karena pruritus berasal dari pelepasan
mediator atau aktivitas enzim proteolitik. Disebutkan juga bahwa garukan dan
gosokan mungkin respon terhadap stres emosional. Selain itu, faktor-faktor
yang dapat menyebabkan neurodermatitis seperti pada perokok pasif, dapat
juga dari makanan, alergen seperti debu, rambut, makanan, bahan- bahan
pakaian yang dapat mengiritasi kulit, infeksi dan keadaan berkeringat.(2,3)
Keadaan ini menimbulkan iritasi kulit dan sensasi gatal sehingga
penderita sering menggaruknya. Sebagai akibat dari iritasi menahun akan
terjadi penebalan kulit. Kulit yang menebal ini menimbulkan rasa gatal
sehingga merangsang penggarukan yang akan semakin mempertebal kulit.(3,8)
Liken simpleks kronis ditemukan pada regio yang mudah dijangkau
tangan untuk menggaruk. Sensasi gatal memicu keinginan untuk menggaruk
atau menggosok yang dapat mengakibatkan lesi yang bernilai klinis, namun
patofisiologi yang mendasarinya masih belum diketahui.(2,3) Hipotesis
mengenai pruritus dapat oleh karena adanya penyakit yang mendasari,
misalnya gagal ginjal kronis, obstruksi saluran empedu, limfoma Hodgkin,
hipertiroidia, penyakit kulit seperti dermatitis atopik, gigitan serangga, dan
aspek psikologik dengan tekanan emosi.(9)
Beberapa jenis kulit lebih rentan mengalami likenefikasi, contohnya
kulit yang cenderung ekzematosa seperti dermatitis atopi dan diathesis atopi.
Terdapat hubungan antara jaringan saraf perifer dan sentral dengan sel-sel
inflamasi dan produknya dalam persepsi gatal dan perubahan yang terjadi
pada liken simpleks kronis. Hubungan ini terutama dalam hal lesi primer,
faktor fisik, dan intensitas gatal.(2,3,8)
14

Pada sebuah studi mengenai liken simpleks kronis dengan


menggunakan P-phenylenediamine (PPD) yang terkandung dalam pewarna
rambut menunjukkan bahwa terjadi perbaikan bermakna secara klinis gejala
liken simpleks kronis setelah penghentian pajanan PPD; hal ini menunjukkan
bahwa dasar liken simpleks kronis adalah peran sensitisasi dan dermatitis
kontak.(10)

3.4 HISTOPATOLOGI
Perubahan histopatologi likenifikasi pada neurodermatitis sirkumskripta
bervariasi tergantung dari lokasi dan durasinya. Paling sering ditemukan
akantosis dan hiperkeratosis dengan berbagai tingkatan. Rete ridges tampak
memanjang dengan semua komponen epidermis mengalami hiperplasia.
Dermis bagian papil dan sub-epidermal mengalami fibrosis dan terdapat pula
serbukan infiltrat radang kronis dan limfa histiosit di sekitar pembuluh darah.
Pada lesi yang sudah sangat kronis, khususnya pada likenifikasi yang gigantik
(sangat besar), akantosis dan hiperkeratosis dapat dilihat secara gross, dan
rete ridges tampak ireguler namun tetap memanjang dan melebar.(2,3)

Gambar 2. Perubahan histopatologi pada likenifikasi Neurodermatitis Sirkumskripta. (9,10)


15

3.5 MANIFESTASI KLINIS


Keluhan dan gejala dapat mucul dalam waktu hitungan minggu sampai
bertahun-tahun. Keluhan utama yang dirasakan pasien dapat berupa gatal dan
seringkali bersifar paroxismal. Lesi kulit yang mengalami likenifikasi
umumnya akan dirasakan sangat nyaman bila digaruk sehingga terkadang
pasien secara refleks menggaruk dan menjadi kebiasaan yang tidak
disadari.(8,9,10)
Area predileksi neurodermatitis sirkumskripta antara lain berada di
tengkuk, occiput (liken Simpleks Nuchea), sisi leher, tungkai bawah,
pergelangan kaki dan punggung kaki, skalp, paha bagian medial, lengan
bagian ekstensor, skrotum dan vulva, juga diatas alis atau kelopak mata dan
periauricle.(9)

Gambar 3. Daerah predileksi Neurodermatitis Sirkumskripta(8)

Pada stadium awal kelainan kulit yang terjadi dapat berupa eritem dan
edema atau kelompok papul, selanjutnya karena garukan berulang, bagian
tengah menebal, kering dan berskuama serta pinggirnya hiperpigmentasi.
16

Ukuran lesi lentikular sampai plakat, bentuk umum lonjong atau tidak
beraturan. Kemudian lesi juga dapat berupa plak solid dengan likenifikasi,
seringkali disertai papul kecil di tepi lesi, dan berskuama tipis. Kulit yang
mengalami likenifikasi teraba menebal, dengan garis-garis kulit yang tegas
dan meninggi, serta dapat pula disertai eskoriasis. Warna lesi biasanya merah
tua, kemudian menjadi coklat atau hiperpigmentasi hitam. Distribusi lesi
biasanya tunggal.(8,11)
Khusus pada pasien dengan etnis kulit hitam, likenifikassi dapat
diasumsikan dengan tipe pola yang khusus, tidak ada plak solid, namun
likenifikasinya terdiri atas papul-papul likenifikasi kecil dengan variasi
ukuran 2 s.d 3mm.(2)

3.6 DIAGNOSIS
Diagnosis morfologi dari likenifikasi biasanya tidak sulit, liken planus,
liken amiloides, dan psoriasis harus disingkirkan, dan lesi tipikal harus
tampak pada sisi yang lain. Jika diagnosis likenifikasi telah ditegakkan,
penyebab yang mendasarinya harus dianalisa secara hati-hati. Lesi yang
tersebar simetris dapat menandakan adanya likenifikasi sekunder dari
dermatitis kontak.

3.7 DIAGNOSIS BANDING


Penyakit-penyakit yang perlu diperhatikan sebagai diagnosis banding
neurodermatitis sirkumskripta adalah penyakit lain yang memiliki gejala
pruritus, seperti dermatitis kontak iritan, Dermatitis Kontak Alergi, dermatitis
atopi, liken planus, liken amiloidosis, psoriasis(2,3,8)
Tabel 1. Diagnosis Banding Neurodermatitis Sirkumskripta(2)
Paling menyerupai
Likenifikasi atopik eczema, Dermatitis Kontak Alergi,
Dermatitis Kontak iritan
Likenifikasi Psoriasis
17

Hipertropik Liken Planus


Dipertimbangkan
Genital: Extramammary Paget disease
Dapat selalu disingkirkan
Vulva, perianal: Liken Sklerosus, HPV, Tinea Kruris
Skrotum: HPV, Tinea Kruris

A. Dermatitis Kontak Alergika(1,2)


1. Penderita umunya mengeluh gatal pada area yang terpajan/kontak
dengan sensitizer/alergen.
2. Pada tipe akut: dimulai dari bercak eritematosa yang berbatas tegas
(sirkumskripta), kemudian diikuti oleh edema, papulovesikel, vesikel,
atau bula. Vesikel atau bula yang pecah dapat pecah kemudian
menimbulkan erosi dan eksudasi (basah). DKA di tempat tertentu
misalnya kelopak mata, penis, skrotum, gejala eritema dan edema lebih
dominan daripada vesikel.
3. Pada tipe kronik : kulit terlihat kering, berskuama (bersisik), papul,
likenifikasi, mungkin juga fisur, dan berbatas tidak tegas.
4. DKA dapat meluas dengan cara autosensitisasi. Skalp(kulit kepala),
telapak tangan, dan telapak kaki relatif resisten terhadap DKA(karena
lapisan epidermis yang tebal)
B. Dermatitis Atopik(1,8)
Keluhan gatal dan terdapat likenifikasi. Lokasi Dermatitis Atopik di
lipat siku dan lipat lutut (fleksor), sedangkan pada Liken Simpleks Kronis
di siku dan punggung kaki (Ekstensor), ada pula yang di tengkuk.
Dermatitis Atopik biasanya sembuh dalam usia 2 tahun sedangkan
Neurodermatitis Sirkumskripta dapat berlanjut sampai tua.
C. Liken Planus(1,2,3)
Liken planus ditandai dengan timbulnya papul-papul yang berwarna
merah-biru, berskuama, dan berbentuk siku-siku. Biasanya lesi ini timbul
di ekstremitas sisi fleksor, selaput lendir, dan alat kelamin. Pasien biasanya
18

merasa sangat gatal, dan gejala ini bisa menetap hingga waktu 1-2 tahun.
Selain itu, terdapat pula lesi patognomonik di mukosa, yaitu papul
polygonal, datar dan berkilat, serta kadang ditemukan delle.
Liken planus memiliki lima bentuk morfologi: hipertrofik, folikular,
vesikular dan bulosa, erosif dan ulseratif, serta atrofi. Liken planus bentuk
hipertrofilah yang harus dibedakan dengan neurodermatitis. Bentuk ini
meliputi plak yang verukosa berwarna merah-coklat atau ungu, serta
terletak pada daerah tulang kering.
Diagnosis liken planus yang khas dibantu dengan pemeriksaan
histopatologi, di mana papul menunjukkan penebalan lapisan granuloma,
degenerasi mencair membran basalis dan sel basal. Dapat pula ditemukan
infiltrat seperti pita yang terdiri atas limfosit dan histiosit pada dermis
bagian atas.
Liken planus diobati dengan kortikosteroid topical dan sistemik.
Umumnya pengobatan ini kurang memuaskan, hingga jika perlu dapat
diberikan suntikan setempat atau bebat oklusif. Selain itu dapat juga
ditambahkan krim asam vitamin A 0,05%.
D. Psoriasis(1,2)
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya adalah autoimun,
bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema
berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis dan transparan. Pada
psoriasis terdapat tanda khas fenomena tetesan lilin dan Auspitz, serta
tanda tak khas yaitu fenomena Kobner.
Selain faktor genetik dan faktor imunologik, terdapat berbagai faktor
pencetus psoriasis, di antaranya adalah stress psikis, infeksi fokal, trauma,
endokrin, dan juga alkohol ataupun merokok.
Pasien psoriasis umumnya mengeluh gatal ringan pada kulit kepala,
perbatasan rambut dengan muka, ekstremitas bagian ekstenosr terutama
siku dan lutut, dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak
eritema yang meninggi dengan skuama di atasnya. Eritema berbentuk
sirkumskrip dan merata, tetapi kemerahan di tengahnya dapat menghilang
19

pada stadium penyembuhan. Skuama pada psoriasis sangat khas, yaitu


berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan.
Dua fenomena khas pada psoriasis adalah fenomena tetesan lilin dan
Auspitz. Fenomena tetesan lilin adalah skuama yang berubah warnanya
menjadi putih pada foresan, seperti lilin yang digores. Pada fenomena
Auspitz, setelah skuama habis dikerok dilakukan pengerokan perlahan
hingga tampak serum atau darah berbintik yang disebabkan oleh
papilomatosis. Untuk menegakkan diagnosis psoriasis, perlu dinilai
gambaran klinisnya yang khas. Jika gambaran klinis tersebut sudah sesuai
dengan yang tersebut di atas, maka tidak sulit membuat diagnosis
psoriasis.

3.8 PEMERIKASAAN PENUNJANG


A. Tes Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ada tes yang spesifik untuk
neurodermatitis sirkumskripta. Tetapi walaupun begitu, satu studi
mengemukakan bahwa 25 pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta
positif terhadap patch test. Pada dermatitis atopik dan mikosis fungiodes
bisa terjadi likenefikasi generalisata oleh sebab itu merupakan indikasi
untuk melakukan patch test. Pada pasien dengan pruritus generalisata yang
kronik yang diduga disebabkan oleh gangguan metabolik dan gangguan
hematologi, maka pemeriksaan hitung darah harus dilakukan, juga
dilakukan tes fungsi ginjal dan hati, tes fungsi tiroid, elechtroporesis
serum, tes zat besi serum, tes kemampuan pengikatan zat besi (iron
binding capacity), dan foto dada. Kadar immunoglobulin E dapat
meningkat pada neurodermatitis yang atopik, tetapi normal pada
neurodermatitis nonatopik. Bisa juga dilakukan pemeriksaan potassium
hydroksida pada pasien liken simpleks genital untuk mengeleminasi tinea
cruris.(5,6)
20

B. Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosis
neurodermatitis sirkumskripta adalah menunjukkan proliferasi dari sel
schwann dimana dapat membuat infiltrasi selular yang cukup besar. Juga
ditemukan neural hyperplasia. Didapatkan adanya hiperkeratosis dengan
area yang parakeratosis, akantosis dengan pemanjangan rete ridges yang
irregular, hipergranulosis dan perluasan dari papillo dermis. Spongiosis
bisa ditemukan, tetapi vesikulasi tidak ditemukan. Papilomatosis kadang-
kadang ditemukan. Ekskoriasi, dimana ditemukan garis ulserasi punctata
karena adanya jaringan nekrotik bagian superficial papillary dermis.
Fibrin dan neutrofil bisa ditemukan, walaupun keduanya biasanya
ditemukan pada penyakit dermatosis yang lain. Pada papillary dermis
ditemukan peningkatan jumlah fibroblas.(7)

3.9 TATALAKSANA(2,3,6,7)
Terapi Neurodermatitis Sirkumskripta bertujuan untuk memutus itch-
scratch cycle, karena pada dasarnya tindakan menggaruk lesi yang terasa
gatal justru akan memperberat lesi, dan memperberat gatal yang dirasakan.
Penyebab sistemik dari gatal harus diidentifikasi. Hal ini lah yang
menyebabkan penatalaksanaan Dermatitis Sirkumskripta menjadi sangat sulit.
Harus dijelaskan berkali-kali untuk tidak menggaruk atau menggosok lesi
nya.
A. Kortikosteroid
Kortikosteroid Topikal, sampai saat ini masih merupakan pilihan
pengobatan. Pemberiannya akan lebih efektif jika diaplikasikan kemudian
dibalut dengan perban oklusif kering. Yang menjadi pilihan adalah
kortikosteroid dengan potensi tinggi seperti Clobetassol Propionat,
Diflorasone Diasetat, atau bethamethason dipropionat
Pemberian kortikosteroid berupa Triamcinolone secara Intralesi,
biasanya sangat efektif (3mg/ml). Namun harus sangat diperhatikan karena
pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan atrophy.
21

B. Preparat Tar
Kombinasi 5% crude coal tar dalam pasta zinc oxide ditambah
kortikosteroid kelas II kemudian dibalut dengan perban oklusif kering,
akan efektif jika diaplikasikan pada daerah-daerah yang optimal misalnya
lengan, dan kaki.
C. Perban Oklusif
Preparat kortikosteroid biasanya diberikan pertama, kemudian diikuti
dengan perban oklusif. Jika diberikan perban oklusif saja (tanpa
kortikosteroid), juga dapat bermanfaat untuk mencegah pasien menggaruk
lesinya dan merupakan tindakan yang efektif mengingat kebiasan
menggaruk pada pasien neurodermatitis sirkumskripta adalah tindakan
reflex dan kebiasaan yang tidak disadari.
D. Antihistamin
Pemberian topikal, Salep Doxepin 5%, krim capsaicin, atau salep
tacrolimus dapat bersifat efektif dan signifikan pada beberapa pasien dan
dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan. Namun penggunaan
antihistamin topikal ini dapat menyebabkan efek samping ringan berupa
sensasi pusing.
Pemberian antihistamin oral secara luas digunakan untuk
mengurangi keluhan pruritus namun peran dan keuntungannya dalam
mengatasi pruritus lokal sangat rendah.

3.10 PROGNOSIS
Prognosis untuk penyakit liken simpleks kronis adalah:(12)
A. Lesi bisa sembuh dengan sempurna.
B. Rasa gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahan
pigmentasi dapat diatasi setelah dilakukan pengobatan.
C. Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress atau tekanan emosional
yang meningkat.
D. Pengobatan untuk pencegahan pada stadium-stadium awal dapat
membantu untuk mengurangi proses likenifikasi.
22

Biasanya prognosis berbeda-beda, tergantung dari kondisi pasien,


apabila ada gangguan psikologis dan apabila ada penyakit lain yang
menyertai. Pengobatan yang teratur dapat meringankan kondisi pasien.
Penyebab utama dari gatal dapat hilang, atau dapat muncul kembali.
Pencegahan pada tahap awal dapat menghambat proses penyakit ini.(12)
BAB IV
KESIMPULAN
Neurodermatitis Sirkumskripta juga dikenal sebagai Liken Simpleks
Kronikus adalah peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip, dan khas ditandai
dengan likenifikasi. Likenifikasi timbul secara sekunder dan secara histologi
memiliki karakteristik berupa akantosis dan hiperkeratosis, dan secara klinis
tampak berupa penebalan kulit, dengan peningkatan garis permukaan kulit pada
daerah yang terkena sehingga tampak serperti kulit batang kayu. secara kronis dan
secara epidemiologi lebih banyak menyerang kelompok dewasa yang berusia
antara 30-50 tahun. Penyebab pastinya belum diketahui, diduga pruritus
memainkan peranan karena pruritus berasal dari pelepasan mediator atau aktivitas
enzim proteolitik.
Keluhan dan gejala dapat mucul dalam waktu hitungan minggu sampai
bertahun-tahun. Keluhan utama yang dirasakan pasien dapat berupa gatal dan
seringkali bersifar paroxismal. Area predileksi neurodermatitis sirkumskripta
antara lain berada di tengkuk, occiput (liken Simpleks Nuchea), sisi leher,
tungkai bawah, pergelangan kaki dan punggung kaki, skalp, paha bagian medial,
lengan bagian ekstensor, skrotum dan vulva, juga diatas alis atau kelopak mata
dan periauricle.
Diagnosis neurodermatitis sirkumskripta dinilai dari riwayat perjalanan
penyakit dan morfologi likenifikasi. Diagnosis banding yang perlu
dipertimbangkan adalah penyakit lain yang memiliki gejala pruritus, seperti
dermatitis kontak alergi, dermatitis atopi, liken planus, liken amiloidosis, dan
psoriasis. Pemeriksaan yang paling bermakna pada dermatitis sirkumskripta
adalah pemeriksaan dermatopathology. Pemeriksaan ini dapat memberikan
gambaran yang bervariasi mengenai derajat hiperkeratosis dengan
paraorthokeratosis dan orthokeratosis, serta psoriasiform epidermal hyperplasia
Terapi Neurodermatitis Sirkumskripta bertujuan untuk memutus itch-scratch
cycle, karena pada dasarnya tindakan menggaruk lesi yang terasa gatal justru akan
memperberat lesi, dan memperberat gatal yang dirasakan. Penyebab sistemik dari
gatal harus diidentifikasi. Kortikosteroid Topikal, sampai saat ini masih

23
24

merupakan pilihan pengobatan. Pemberiannya akan lebih efektif jika


diaplikasikan kemudian dibalut dengan perban oklusif kering. Dipilih
kortikosteroid dengan potensi tinggi seperti Clobetassol Propionat, Diflorasone
Diasetat, atau bethamethason dipropionat.
Pemberian kortikosteroid berupa Triamcinolone secara Intralesi, biasanya
sangat efektif (3mg/ml). Pemberian antihistamin topikal, seperti salep Doxepin
5%, krim capsaicin, atau salep tacrolimus dapat bersifat efektif dan signifikan
pada beberapa pasien dan dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan. Namun
penggunaan antihistamin topikal ini dapat menyebabkan sensasi pusing.
Pemberian antihistamin oral secara luas digunakan untuk mengurangi keluhan
pruritus namun peran dan keuntungannya dalam mengatasi pruritus lokal sangat
rendah.
Neurodermatitis sirkumskripta dapat menjadi lesi yang persisten dan
bersifat berulang. Eksaserbasi dapat terjadi bila dipicu adanya respon terhadap
stress emosional.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

1. Sularsito SA, Djuanda Suria. Neurodermatitis sirkumskripta. Dalam Djuanda


A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Keempat.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 2006:147-148.
2. Susan Burgin, MD. Numular Eczema and Lichen Simplex Chronic/Prurigo
Nodularis. Dalam: Fitzpatrick TB, Eizen AZ, Woff K, Freedberg IM, Auten
KF, penyunting: Dermatology in general medicine, 7th ed, New York: Mc
Graw Hill. 2008: 158-162.
3. Odom RB, James WD, Berger TG. Atopic dermatitis, eczema, and
noninfectious immunodeficiency disorders. Dalam: Andrews Diseases of The
Skin: Clinical Dermatology. 9th ed. Philadelphia: WB Saunders: 2000: 69-94.
4. Dalton, L Julius. Incidence Of Lichen Simplex Chronicus In Orientals And
Caucasians. Canad. M. A. J: Dec. 15, 1956, vol. 75.
5. Wolff Klauss, A Lowell. et.all. 2008. Lichen Simplex Chronicus and Prurigo
Nodularis. Dalam: Fitzpatricks Dermatologyin General Medicine7th Edition
volumes 1 & 2. New York: Mc Graw Hill Medical: p. 198-200.
6. Stewart KM. Clinical care of vulvar pruritus, with emphasis on one common
cause, lichen simplex chronicus. Dermatol Clin 2010 Oct; 28(4):669-80.
7. Richards RN. Update on intralesional steroid: focus on dermatoses. J Cutan
Med Surg 2010 Jan-Feb; 14(1):19-23.
8. C.A. Holden & J. Berth-Jones. Lichen Simplex Chronic. Dalam: Rooks Text
Book of Dermatology. Blackwell Publishing. 2004:17.41-17.43.
9. Hogan D J, Mason S H. Lichen Simplex Chronicus. Diakses dari
www.emedicine.com 24 Februari 2011 pukul 16.47 WIB.
10. Rajalakshmi R, Thappa DM, Jaisankar TJ, et al. Lichen simplex chronicus of
anogenital region: A clinico-etiological study. Indian J Dermatol Venereol
Leprol 2011 Jan-Feb; 77(1):28-36.

25
26

11. Gulsum Gencoglan et al. Therapeutic Hotline: Treatment of prurigo nodularis


and lichen simplex chronicus with gabapentin. Dermatologic Therapy Volume
23, Issue 2, March/April 2010:194198.
12. Hunter John, John Savin, Marck Dahl editors. Clinical dermatology: eczema
and dermatitits.3rd edition Blackwell publishing 2002.p.70