Anda di halaman 1dari 10

ISTIADAT NIAS

Dibandingkan dengan pulau-pulau tetangga lain di Sumatera, budaya Pulau Nias telah
mengembangkan dengan jelas tradisi dan adat istiadat unik. Beberapa tradisi ini berhubungan dengan
pemujaan leluhur sebelum kekristenan dan sebagian besar ini telah lenyap. Adat-adat lainnya seperti
perbudakan dan pengayauan juga telah dihapuskan ketika Pulau Nias bergabung dengan dunia modern.
Tetapi banyak adat istiadat Nias masih dipraktekkan, seperti lompat batu, upacara pernikahan dan
terutama sekali, tarian tradisional dan musik.

Lompat batu
Lompat batu (Hombo Batu) adalah praktek budaya Nias yang
unik. Ini juga terkenal oleh orang Indonesia karena, upacara lompat
batu Nias digambarkan pada uang lama seribu rupiah. Awalnya upacara
lompat batu adalah sebagian dari ritual inisiasi pria muda untuk
diterima sebagai orang dewasa dan prajurit. Ketinggian piramida batu
lompat itu adalah di antara 1,8 meter sampai 2,2 meter. Lompat ini
dilakukan tanpa alas kaki dan latihan berulang-ulang diperlukan
sebelum mencoba lompat ini. Keterampilan untuk melompat benda
yang tinggi dikembangkan sebagai teknik pertempuran. Dalam
serangan mendadak, prajurit bisa melompati tembok pertahanan di desa
musuh. Banyak desa di selatan masih memiliki susunan batu untuk upacara ini.

Penghormatan para leluhur


Dibuat patung dari kayu untuk orangtua yang
baru meninggal. Patung itu diresmikan pada hari
keempat sesudah kematian. Kemudian roh orang tua
hadir dalam patung itu (pemujaan leluhur). Segala
peristiwa yang terjadi di dalam satu keluarga
disampaikan dengan doa kepada mereka.

Mengayau
Seorang laki-laki baru boleh nikah, kalau sudah memenggal kepala orang. Pada tahun 851
Sulayman sudah mencatat tradisi ini. Kebutuhan Binu (kepala manusia), menurut kepercayaan orang
Nias dibutuhkan Binu pada berbagai kesempatan.
Kalau ayah sudah meninggal harus ada beberapa Binu sebagai pelayan baginya.
Kalau mendirikan rumah adat besar tengkorak seorang laki-laki ditanam di sebelah bawah tiang rumah
di ujung kanan, dan tengkorak seorang perempuan ditanam di sebelah bawah tiang rumah di ujung kiri.
Kalau hendak mendirikan satu megalit di depan rumah, harus ditanam satu Binu di sebelah bawah.
Untuk mengesahkan hukum adat (fondrak) harus ada Binu, seorang budak dibunuh.

Pemakaman
Pada tahun 1908 pemerintah Belanda perintahkan, bahwa
mayat-mayat harus dikubur. Sebelumnya diletakkan di atas satu
bagan atau para-para yang tinggi. Sesudah dua atau tiga minggu
kepala dari mayat itu diambil, dibersihkan dan diletakkan di
dalam satu peti tengkorak dekat rumah. Mayat-mayat orang biasa
kadang juga digantung pada pohon dengan memakai kursi bambu
sederhana.

Pesta dan upacara


Di masa lalu ada banyak pesta dan upacara untuk merayakan berbagai aspek keluarga dan
kehidupan beragama. Beberapa perayaan-perayaan ini lenyap ketika mayoritas orang Nias menjadi
Kristen. Tetapi masih ada lain yang dirayakan dalam berbagai bentuk:

Pesta hukum adat (Fondrak)


Hukum adat dirumuskan dan disyahkan dalam upacara yang
disebut Fondrak. Pesta hukum itu secara periodis dibaharui.
Hukum adat (fondrak) tersebut disahkan dan ditetapkan dengan
sumpah kutuk. Orang yang melanggar hukum itu dikutuki (larak).
Kerasnya hukuman tergantung dari apa pelanggaran yang dilakukan.
Untuk setiap pelanggaran ada hukuman khusus. Hukuman bisa
berkisar dari membayar denda ke penghukuman mati. Denda bisa dibayar dengan beras, daging babi
atau emas. Hukuman mati bisa dilakukan oleh penembakan, tenggelam atau dengan pedang. Hukuman
mati bisa diubah untuk kehidupan dalam perbudakan jika denda yang besar dibayar, atau jika terpidana
diampuni oleh bangsawan.

Pesta-pesta Adat
Adat dalam bahasa Nias disebut Hada atau Bw, yaitu adat istiadat. Hidup manusia
seluruhnya diatur menurut bw orang Nias. Dan salah satu bw yang sudah diatur yaitu Bw
Wangowalu (adat perkawinan).

Pesta Perkawinan
Perkawinan di Nias adalah eksogami. Mempelai pria harus melunasi emas kawin kepada semua
pihak yang punya hubungan famili dengan mempelai wanita itu, terutama kepada pihak ibunya (uwu).
Kemudian di dalam desa sendiri masih diharapkan supaya mempelai pria mengadakan satu pesta untuk
seluruh warga. Pesta itu merupakan syarat kalau di kemudian hari hendak diadakan pesta jasa (owasa).
Kalau mempelai pria tidak memberi pesta dalam desanya, dia tetap dianggap sebagai anak-anak
[iraono], sekalipun ia sudah tua secara umur, dan tidak punya hak suara dalam desa. Biaya utama dari
pesta pernikahan waktu itu dan masih sampai hari ini adalah pembayaran sebanyak babi yang
dibutuhkan untuk pesta. Sampai hari ini, biaya pesta pernikahan merupakan beban besar pada
pasangan muda yang berencana untuk menikah.

Pesta Jasa (Owasa & Faulu)


Alasan-alasan untuk mengadakan pesta adat atau pesta jasa (owasa) adalah: perkawinan,
mendirikan rumah baru, mendirikan salah satu megalit, mengadakan perhiasan emas, sudah berumur
atau sebelum menghadap ajal. Seluruh warga desa dijamu pada pesta owasa. Siapa pun di desa yang
mampu biayai untuk membeli babi yang diperlukan untuk upacara itu, bisa menyelenggarakan owasa.
Orang yang menyelenggarakan owasa diusung dalam desa dan kepadanya diberi nama yang mulia.
Kemudian osa-osa batu atau tugu batu lainnya didirikan di depan rumahnya.
Perarakan Harimau.
Pada zaman dulu di wilayah Maenaml, Nias Selatan ada
sebuah upacara di mana patung harimau diusung dan diarak keliling.
Karena tidak ada harimau di Nias, patung itu (Adu Harimao) tampak
lebih seperti anjing berkepala kucing. Upacara sakral ini digelar sekali
setiap tujuh atau empat belas tahun. Usungan patung harimau itu
kemudian dipatahkan dan patung harimau dibuang di sungai. Upacara
tersebut dinamakan Famat Harimao. Masyarakat lokal percaya bahwa
semua dosa yang mereka lakukan selama tahun-tahun sebelumnya akan
hanyut bersama dengan patung. Karena sebagian besar dari Orang Nias
menjadi Kristen, upacara Famat Harimao tidak lagi dirayakan. Dalam
upaya untuk melestarikan dan merevitalisasi budaya lokal, upacara perarakan ini kadang-kadang
dilakukan di Nias Selatan di acara-acara tertentu. Hari ini, upacara telah berubah nama menjadi
'Famadaya Harimao' (perarakan patung harimau).

Babi
Orang Nias tidak punya kerbau atau lembu. Mereka juga tak punya sapi. Binatang peliharaan
yang paling penting ialah babi. Pada segala peristiwa dibutuhkan babi, segala pesta adat, setiap perkara
dan perdamaian, pesta hukum [fondrak], setiap tahap dalam pembangunan satu rumah adat, setiap
peristiwa pribadi dalam suatu keluarga, kelahiran anak dan pemberian nama, berbagai jenis
persembahan, u.p. sebelum pergi memburu, pada penyakit dan kalau imam berdoa, lagi pada kematian
seseorang, juga dalam peristiwa mengayau. Tak ada sesuatu pun yang dapat diselesaikan dan
disyahkan tanpa menyembelih babi. Tiada peristiwa dan pesta tanpa babi.
Warna, lambang dan pola Nias
Warna Nias adalah merah, kuning dan hitam. Arti dari warna adalah:

1. Kuning (emas): mewakili kekayaan, kemuliaan dan kesuksesan.


2. Merah (darah): mewakili keberanian dan keganasan pendekar Nias, serta marga mereka
dan keluarga.
3. Hitam (tanah): mewakili tanah air mereka dan tanah yang subur di Nias, serta ketabahan
dari orang-orang biasa.
Pakaian tradisional selalu menggunakan kombinasi dari tiga warna tersebut. Perempuan dari
selatan memakai pakaian yang didominasi warna kuning, sementara perempuan di utara memakai
pakaian yang didominasi warna merah. Pakaian tradisional juga menggabungkan pola dan lambang
desain tertentu. Yang paling biasa digunakan adalah deretan corak segitiga, yang disebut 'Ni'ohulayo'.
Bentuk segitiga menyerupai kiat tombak dan pola ini melambangkan semangat kepahlawanan dari
Orang Nias. Pola ini tidak hanya digunakan dalam pakaian tradisional, namun saat ini sering dikaitkan
dengan budaya atau apapun yang mewakili Nias. Ada sejumlah lambang dan pola ikonik dalam
budaya Nias yang dapat dilihat pada pakaian tradisional, karya batu dan ukiran kayu di rumah-rumah
tradisional.

Pakaian
Pakaian tradisional Nias dinamakan "Baru Oholu" untuk
pakaian pria dan "Baru Ladari" atau "Baru Isit" untuk pakaian
wanita. Pakaian tradisional biasanya merah atau kuning dan
dikombinasikan dengan warna hitam dan emas. Pada zaman dulu
orang-orang di Nias tidak memiliki akses ke tekstil seperti kapas.
Mereka membuat pakaian dari kulit pohon atau dengan menenun
serat-serat dari kulit pohon atau rumput. Pakaian laki-laki terdiri
dari rompi yang pada dasarnya cokelat atau hitam dan dihiasi
ornamen kuning, merah dan hitam. Pakaian wanita hanya terdiri
dari selembar kain yang melilit pinggang dan tanpa baju atas, tapi dihiasi dengan gulungan gelang
kuningan dan anting besar.
Kulit kayu dari pohon oholu untuk membuat cawat (saomb) dan rompi (baru oholu) untuk
laki-laki. Rompi juga bisa dibuat dari serat kulit pohon disebut isit. Itu dipercaya bahwa siapa pun
mengenakan pakaian tenun dengan serat isit menjadi sangat kuasa. Jaket dan rompi yang berkualitas
lebih rendah terbuat dari serat rumput disebut ladari. Serat isit juga digunakan untuk menenun rok
(U'i) dan kain untuk wanita. Katun lembut (afasi niha) yang jarang digunakan bisa dipintal dan ditenun
untuk menutupi bagian-bagian tertentu.

Pakaian kain kapas yang dibuat di Nias (afasi niha) sangat langka dan hanya
bisa diperoleh oleh bangsawan. Akhirnya tekstil dari dunia luar sampai di
Nias dan banyak orang mulai menggunakan bahan-bahan baru. Para wanita
tidak lagi tanpa baju atas dan memiliki pakaian yang terbuat dari katun dan
kain belacu atau bahkan sutra untuk wanita bangsawan. Lebih warna-warni
mulai digunakan; terutama merah dan kuning dengan warna hitam dan emas
sebagai rincian desain overlay.

Perhiasan dari Nias


Secara tradisional laki-laki dan perempuan memakai banyak perhiasan terutamanya
bangsawan. Akun sejarah tertulis pertama dari Nias menyebutkan bahwa masyarakat setempat
memakai banyak perhiasan emas.
Hiasan yang paling penting bagi pria adalah kalung yang terbuat dari tempurung kelapa atau
tempurung kura-kura, yang disebut 'Kalabubu'. Ini hanya bisa dipakai oleh pendekar yang telah
membuktikan diri dalam pertempuran. Bangsawan dan kepala suku memakai hiasan kepala yang
besar. Pria memakai anting-anting hanya di telinga kanan. Di bagian utara, anting-anting ini besar
sekali dan hampir sebesar kepala pria. Sebuah penghiasan yang sangat unik di Nias adalah kumis
logam yang dipakai oleh pendekar.
Wanita memakai perhiasan emas, kuningan, tembaga, kerang dan manik-manik. Seringkali
anting-anting dan gelang berukuran besar sekali. Terutama kalau dibandingkan dengan yang dipakai
saat ini, seperti anting Saru Dalinga. Versi yang lebih kecil dari desain yang sama adalah yang dipakai
hari ini, terutama di pesta pernikahan. Penghiasan wanita memiliki perbedaan dari daerah ke daerah.
Karena itu, dari melihat foto-foto sejarah bisa dikatakan di mana foto tersebut diambil dari melihat
perhiasan perempuan.

Mengunyah sirih pinang: Manafo dan Bola nafo


Seperti di banyak tempat di Asia, mengunyah sirih adalah sesuatu
yang biasa di Nias. Tradisi ini disebut sebagai "manafo". Lima bahan
yang digunakan; daun sirih (tawuo), kapur (betua), gambir (gambe),
tembakau (bago), dan pinang (fino). Ramuan dari lima bahan ini disebut
"Afo". Karena tradisi ini sangat hidup, "manafo" dianggap sebagai satu
simbol budaya Nias dan sering menjadi bagian di acara tradisional di
Nias, seperti upacara menyambut pengunjung penting.
Di upacara penyambutan ini tamu akan ditawarkan sirih, dari tas anyaman indah yang dikenal
sebagai Bola nafo. Bola berarti tempat atau kantong, dan afo adalah ramuan dari lima bahan. Tas Bola
nafo dibuat dengan menganyam rumput yang telah dikeringkan dan diwarnakan. Biasanya dihiasi
dengan simbol dan motif dari Nias, masing-masing dengan makna tersendiri. Motif Ni'otarawa
digunakan oleh bangsawan sementara motif Ni'ohulayo digunakan oleh masyarakat umum. Teknik
yang digunakan untuk menganyam tas Bola nafo dan menenun pakaian tradisional juga digunakan
untuk membuat barang-barang lain seperti tikar dan selimut.
Ni'okindr (anyaman daun janur)
Pada pesta-pesta dan upacara, tempat untuk
acara ini sering dihiasi dengan anyaman daun-daun
janur. Dengan menyambungkan anyaman daun janur
ini, Orang Nias membuat bentuk dan pola yang indah
. Ini disebut Ni'okindr (anyaman daun janur). Gaya
Ni'okindr bervariasi antara daerah ke daerah. Bentuk
yang dibuat oleh daun janur memiliki banyak arti
yang berbeda. Hari ini ketika kunjungan tamu penting ke Nias, mereka sering disajikan dengan kalung
yang dibuat menggunakan teknik ini. Kalung ini dikenal sebagai Nifatali Bulumio. Hanya beberapa
orang yang mampu membuat kalung seperti ini. Di tahun 2016 pada waktu kunjungan Presiden Jokowi
ke Nias, beliau dipersembahkan dengan Nifatali Bulumio yang dibuat oleh karyawan museum.

SIMBOLISME NIAS
Ada beberapa simbol penting dalam budaya Nias yang dapat dilihat pada
pakaian tradisional, ukiran batu dan kayu.

NI'OGOLILIMO
Simbol ini adalah logo Musem. Ini adalah simbol biasa dalam budaya Nias. Ini melambangkan bagian
dalam buah. Ada segmen yang berbeda, tapi kulit luar memegang itu bersama-sama, seperti budaya
orang Nias.

NIONDRFI
Bintang yang terlihat seperti bunga. Melambangkan kekayaan dan karakter yang baik.
NIOSUKHU
Sisir melambangkan bangsawan wanita yang terawat. Simbol sisir ini sering dikombinasikan
dengan simbol-simbol lainnya.

HAGU LASO
Ukiran kayo menggabungkan beberapa simbol dari budaya Nias. Ukiran ini di tempatkan di
dinding ruang utama di rumah rajah desa (Omo Sebua)

NIOHALUYO
Bentuk segitiga menyerupai kiat tombak dan pola ini melambangkan semangat kepahlawanan
dari Orang Nias.
NIOKINDR
Pola berbentuk berlian yang melambangkan emas dan kekayaan.

BALONAFO DAN PENENUNAN