Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWTAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN

ELIMINASI PADA KLIEN NY.N DENGAN DIAGNOSA MEDIS : KATARAK


DIRUANG NILAM BLUD RS BENYAMIN GULUH KAB KOLAKATAHUN
2016/2017

OLEH :

SUCI RESTISA ( 15.1399)

DI RUANGAN NILAM

MENGETAHUI

C I LAHAN C I INSTITUSI

(NURIDAH,S.Kep,Ns,M.Kes) (NS.YULITA ANASTASIA,S.Kep)

AKADEMI KEPERAWATAN PEMBKAB KOLAKA

2016/2017
LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN ELIMINASI

I. KONSEP TEORI
A. Pengertian
Gangguan eliminasi fekal adalah keadaan dimana seorang individu
mengalami atau berisiko tinggi mengalami statis pada usus besar,
mengakibatkan jarang buang air besar, keras, feses kering. Untuk
mengatasi gangguan eliminasi fekal biasanya dilakukan huknah, baik
huknah tinggi maupun huknah rendah. Memasukkan cairan hangat
melalui anus sampai ke kolon desenden dengan menggunakan kanul
rekti.
Masalah eliminasi fekal yang sering ditemukan yaitu:
1. Konstipasi, merupakan gejala, bukan penyakit yaitu menurunnya
frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran feses yang sulit,
keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat menyebabkan nyeri
rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih
lama, sehingga banyak air diserap.
2. Impaction, merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur,
sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa
dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai pada kolon
sigmoid.
3. Diare, merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang
tidak berbentuk. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon
sangat cepat. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan
yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. Akibatnya
feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan
menahan BAB.
4. Inkontinensia fecal, yaitu suatu keadaan tidak mampu
mengontrol BAB dan udara dari anus, BAB encer dan jumlahnya
banyak. Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spingter
anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor
spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara mental pasien
sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik.
Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat.
5. Flatulens, yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal,
dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan
kram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus
(flatus). Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus
adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas
metan, pembusukan di usus yang menghasilkan CO2.
6. Hemoroid, yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding
rektum (bisa internal atau eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi
yang keras, kehamilan, gagal jantung dan penyakit hati menahun.
Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh
darah teregang. Jika terjadi infla-masi dan pengerasan, maka
pasien merasa panas dan gatal. Kadang-kadang BAB dilupakan
oleh pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. Akibatnya
pasien mengalami konstipasi.

B. ETIOLOGI
1. Gangguan Eliminasi Fekal
a. Pola diet tidak adekuat/tidak sempurna:
Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi
eliminasi feses. Cukupnya selulosa, serat pada makanan,
penting untuk memperbesar volume feses.
Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa
dicerna. Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan
pencernaan, di beberapa bagian jalur dari pengairan feses.
Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Makan yang
tidak teratur dapat mengganggu keteraturan pola defekasi.
Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari
mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada
pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas
peristaltik di colon.
b. Cairan
Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses.
Ketika pemasukan cairan yang adekuat ataupun
pengeluaran (cth: urine, muntah) yang berlebihan untuk
beberapa alasan, tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi
air dari chyme ketika ia lewat di sepanjang colon.
Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal,
menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi
berkurangnya pemasukan cairan memperlambat
perjalananchyme di sepanjang intestinal, sehingga
meningkatkan reabsorbsi cairan darichym
c. Meningkatnya stress psikologi
Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi.
Penyakit- penyakit tertentu termasuk diare kronik, seperti
ulcus pada collitis, bisa jadi mempunyai komponen
psikologi. Diketahui juga bahwa beberapa orang yagn
cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik
dan frekuensi diare. Ditambah lagi orang yagn depresi
bisa memperlambat motilitas intestinal, yang berdampak
pada konstipasi
d. Kurang aktifitas, kurang berolahraga, berbaring lama.
Pada pasien immobilisasi atau bedrest akan terjadi
penurunan gerak peristaltic dan dapat menyebabkan
melambatnya feses menuju rectum dalam waktu lama dan
terjadi reabsorpsi cairan feses sehingga feses mengeras
e. Obat-obatan
Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat
berpengeruh terhadap eliminasi yang normal. Beberapa
menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang besar
dari tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur
pemberian morphin dan codein, menyebabkan konstipasi.
Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi.
Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus dan
memudahkan eliminasi feses. Obat-obatan ini melunakkan
feses, mempermudah defekasi. Obat-obatan tertentu
seperti dicyclomine hydrochloride (Bentyl), menekan
aktivitas peristaltik dan kadang- kadang digunakan untuk
mengobati diare
f. Usia; Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik
feses, tapi juga
pengontrolannya. Anak-anak tidak mampu mengontrol
eliminasinya sampai sistem neuromuskular berkembang,
biasanya antara umur 2 3 tahun. Orang dewasajuga
mengalami perubahan pengalaman yang dapat
mempengaruhi proses pengosongan lambung. Di
antaranya adalahatony (berkurangnya tonus otot yang
normal) dari otot-otot polos colon yang dapat berakibat
pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya
(mengering) feses, dan menurunnya tonus dari otot-otot
perut yagn juga menurunkan tekanan selama proses
pengosongan lambung. Beberapa orang dewasa juga
mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter
ani yang dapat berdampak pada proses defekasi.
g. Penyakit-penyakit seperti obstruksi usus, paralitik ileus,
kecelakaan pada spinal cord dan tumor.
Cedera pada sumsum tulang belakan dan kepala dapat
menurunkan stimulus sensori untuk defekasi. Gangguan
mobilitas bisa membatasi kemampuan klien untuk
merespon terhadap keinginan defekasi ketika dia tidak
dapat menemukan toilet atau mendapat bantuan.
Akibatnya, klien bisa mengalami konstipasi. Atau seorang
klien bisa mengalami fecal inkontinentia karena sangat
berkurangnya fungsi dari spinkter ani.

C. TANDA DAN GEJALA

1. Konstipasi

a) Menurunnya frekuensi BAB


b) Pengeluaran feses yang sulit, keras dan mengejan
c) Nyeri rectum
2. Impaction
a) Tidak BAB
b) Anoreksia
c) Kembung/kram
d) nyeri rectum
3. Diare
a) BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk
b) Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat
c) Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang
menyebabkan
d) meningkatkan sekresi mukosa
e) feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat
mengontrol dan menahan BAB.
f) Inkontinensia Fekal
II. Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

1. Pengumpulan data

a. Biodata
1) Identitas klien
Nama : Ny.N
Tgl.lahir : 31-12-1972
Usia : 60 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Mangolo
Agama : Islam
Suku : Bugis
2) Identitas penanggung jawab
Nama : Ny.H
Usia : 30 tahun
Suku : Bugis
Agama :Islam
Hubungan : Menantu

b. Riwayat kesehatan

1). Keluhan Utama : klien mmengatakan sakit pada


daerah perut
2). Riwayat keluhan utama:
klien mengatakan semenjak habis operasi tanggal
23-01-2017 tidak perna buang air besar sehingga
perut klien sakit
3).Riwayat kesehatan masa lalu
Klien mengatakan tidak perna masuk rumah sakit
sebelumnya
4).Riwayat penyakit keluarga
tidak ada keluarga yang mengalami penyakit ini
c. Pemeriksaan fisik

1). keadaan umum

GCS : Compos mentis

2). pemeriksaan TTV

TD :110/80 Mmgh
N : 68x / menit
P : 20x / menit
S : 36oC
3) pola kegiatan
1) Eliminasi
a. Sebelum sakit : klien biasa BAB 2x sehari
b.Setelah sakit : klien tidak perna BAB
selama dirawat

B. Klasifikasi data

Ds :
Klien mengatakan sakit pada daerah perut
Do :
Pasien tampak meringis
TD :110/80 Mmgh
N : 68x / menit
P : 20x / menit
S : 36oC
C. Analisa Data
Data Etiologi Masalah
Ds : Kurangnya makan makanan berserat Konstipasi
Klien mengatakan sakit
pada daerah
perut Pola BAB tidak Teratur
Do :
Pasien tampak meringis
TD :110/80
Mmgh Eliminasi fases tidak lancar
N : 68x /
menit
P : 20x /
menit konstipasi
S : 36oC

D. Diagnose keperawatan

Konstipasi berhubungan dengan pola defeksi tidak teratur ditandai


dengan
Ditandai dengan :
Ds :
Klien mengatakan sakit pada daerah perut
Do :
Pasien tampak meringis
TD :110/80 Mmgh
N : 68x / menit
P : 20x / menit
S : 36oC

E. Intervensi
No Dx Keperawatan Tujuan/KH Intervensi Rasional
1 Konstipasi Setelah di 1.observasi 1.untuk
berhubungan lakukan TTV mengetahu
dengan pola tindakan i tingkat
defeksi tidak keperawatan kekuranga
teratur ditandai pasien dapat n
dengan defekasi
kandungan
Ditandai dengan : denga teratur
glukosa
Ds : (setiap hari)
Klien dalam
mengatakan sakit KH: darah
pada daerah 1. defekasi 2.berikan 2. nutrisi serat
perut dapat Cakupan tinggi
Do : dilakukan nutria untuk
Pasien tampak 1 x sehari yang melancark
meringis 2.konsistensi berserat an
TD :110/80 feses sesuai eliminasi
Mmgh lembut dengan fecal
N : 68x / menit 3. Eliminasi indikasi
P : 20x / menit feses
S : 36oC tanpa
perlu
3.berikan 3.untuk
mengejan
dengan cairan jika melunakka
berlebiha tidak n eliminasi
n kontra feses
indikasi 2-
3 liter
perhari

4.obsevasi
pemberian 4. untuk
laksatif melunakan
atau feses
enema
sesuai
indikasi