Anda di halaman 1dari 10

Relevansi dan efesiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantagan sesuai

dengan tuntunan perubahan kehidupan lokal, nasional , dan global sehingga perlu
dilakukan pembaruan pendidikan secara terencana, terarah,dan berkesinambungan.

Undang-undan No 2 Tahun 1989 tentang Sisten Pendidikan Nasional tidak


memadai lagi dan perlu diganti serta disempurnakan agar sesuai deagn amanat
perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Oleh sebab
itu, ditetpkanlah Undang-Undang Negara Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.

Dalam proses pembahasan Undang-undang ini terjadi benturan pendapat, pro dan
kontra dikalangan anggota legislatif dan anggota masyarakat, baik akademisi maupun
praktisi pendidikan. Masing-masing pihak melihat untung dan rugi berdasarkan
kepentingan masing-masing. Perdebatan demi perdebatan berlangsung cukup a lot.
Namun akhirnya, pemerintah bersama DPR menetapkan Undang-undang yang
dipandang memadai untuk mengakomodasi semua kepentingan dan mengatasi masalah
pendidikan nasional, yaiuu Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem
pendidikan Nasional (SISDIKNAS).

Undand-undang ini mengayomi smua bentuk, jenis, jalur, dan jenjangpendidikan


yang ada di negri ini. Pendidikan agama (dengan berbagai ragamnya) merupakan
bagian(subsistem) mendapat tempat yang sama. Tulisan ini tidak bermaksud untuk
membahas perdebatan, pro dan kontra dalam proses pembahasan rancangan Sistem
Pendidikan Nasional dimaksud, tetapi ingin melihat bagaimana kedududkan pendidikan
islam dalam Sistem Pendidikan Nasional(sisdiknas). Hal tersebut dapatdilihat antara lain
dari tinjauan tujuan, tinjauan metode, tinjauan peserta didik dan kurikulum, serta tijauan
kelembagaan. (222)

B. TINJAUAN TUJUAN

Tujuan adalah suatu kondisi yangingin dicapai dengan melaksanakan suatu


aktifitas. Dalam aktifitas pendidikan islam, tujuan dapat dibedakan dari segi ruang
lingkupnya dan penahapan pencapaiannya. Dari segi ruang lingkup, tujuan pendidikan
islam dapat dibedakan menjadi tutjuan umun dan tujuan khusus. Dari segi penahapan ,
tujuan pendidikan Islam dapat dibedakan menjadi tujuan semntara dan tujuan akhir.

Tujuan umun pendidikan Islam adalah tujuan yang ingin dicapai oleh semua
bentuk aktifitas pendidikan Islam. Tujuan akhir merupakan tujuan yang ingin dicapai
setelah proses pendidikan Islam mencapai tujuan-tujuan semntara. Kedua jenis tujuan
tersebut sering disebuttujuan pendidikan Islam.

Para ahli telah mengemukakan berbagai formulasi tujuan pendidikan Islam. Al-
Qabisi dalam Ali Al-Jumbulati(1994: 87) mengemukakan bahwa pendidikan Islam
bertujuan menumbuhkembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai islam yang
benar, mengembangkan kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta agama,
berpegang teguh kepada ajaran-ajarannnya, berperilaku sesuai dengan nilai-nilai agama
yang murni, memiliki keterampilan, dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung
kemampuannnya mencari nafkah. Kompetensiyang didinginkan dalam rumusan ini
mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Al-Ghozali dalam Sulaeman(1986: 24) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam


adalah (1) membentuk insan purna yang pada akhirnya dapat mendekatkan diri kepada
llah dan (2) membentuk insan purna yangm emperoleh kebahagiaan hidup, baik
didunia maupun di akherat. Dari kedua tujuan ini dapat dipahami (223) bahwa tujuan
pendidikan Islam versi Al-Ghozali tidak hanya bersifat ukhurawi (mendekatkan diri
kepada Allah) , sebagaimana yang dikenal denagn kesufiannya, tetapi juga bersifat
duniawi.

Seminar pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7 11 Mei 1960 di Bogor menyepakati


formulasi tujuan pendidikan islam untuk menanamkan takwa dan akhlak serta
menegakan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berkepribadian dan
berbudi luhur menurut ajaran Islam. ( Arifin,1991 : 41)

Apabila dicermati rumusan diatas, tujuan pendidikan Islam sejalan dengan


maksud Al-qura Surah Al Hujurat (49:13). Dalam ayat ini ditegaskan bahwa posisi
manusia yang paling tinggi disisi Allah adalah orang yang berkualifikasi
paling.bertakwa. Selain itu, tujuan pendidikan Islam juga sejalan dengan hadis Nabi
SAW yang mengatakan bahwa misi pokok beliau sebagai Rasuladalah perbaiki akhlak
umat.

Rumusan yang lebih komprehensif disepakati dalam kongres pendidkan Islam


sedunia tahun 1980 di Islamabad. Dalam Arifin ( 1996: 1320 dikemukakan bahwa
pendidikan Islam harus ditujukan kearah pertumbuhan yang berkeseimbangan dari
kepribadian manusia yang menyeluruh melalui latihan spiritual, kecerdasan dan rasio,
perasaan dan pancadindra. Oleh karena itu,pendidikan harus memberikanpelayanan
kepada pertumbuhan manusia dalam semua aspek, yaitu aspek spiritual, intelektual,
imajinasi, jasmaniah, ilmiah, lingustik, baik secara individual maupun kolektif, serta
mendorong semau aspek tersebut ke arah kebaikan dan pencapaian keempurnaan.
Tujuan akhir sepenuhnya kepada Allah pada tingkat individual, masyarakat, dan pada
tingkat kemanusiaan.(224)

Menurut rumusan tersebut terlihat bahwa tujuan pendidikan Islam tidak sempit.
Tetapi menjangkau seluruh lapangan hidup manusia yang bertitik optimal pada
penyerahan dan manusia kepada Khaiknya, Allah.

Dari berbagai rumusan tujuan pendidikan Islam tersebut dapat dilihat berbagai
kompetensi yang harus dimilki oleh setiap peserta didik . Kompetensi-kompetensi
dimaksud mencakup: beriman dan bertakwa, beraklak mulia, mendekatkan diri kepada
Allah, mencintai agama, menegakkan kebenaran, berbudi luhur, pertumbuhan
kepribadian muslim yang seimbang, memilkiketerampilan dan keahlian, dan berbahagia
didunia dan di akhirat.

Apabila dicermati rumusan tujuan pendidikan nasional (pasal 3) , maka kita akan
melihat kompetensi yang di ingikan dan proses pendidikan nasional tersebut meliputi
perkembangannya potensi peserta didik menjadi orang yang beriman dan bertakwa,
berakhlak mulia, sehat, berimu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Dari pemaparan formulasi tujuan pendidikan Islam dan tujuan pendidikan
nasional telihat secara jelas bahwa kempetensi yang diinginkan oleh pendidikan Islam
juga menadi kompetensi tujuan pendidikannasional. Dengandemikian, segalaupaya
untuk mencapai tuuan pendidikan Islam berarti juga upaya untuk mencapai tujuan
pendidikan Nasional. Sekaligus, pendidikan nasional memayungi pelasanaan pendidika
Islam di Indonesia. Dengan demikian, pendidikan islam menempati posisi yang penting
dan mempunyai kedudukan yang kuat dalam keseluruhan Sistem Pendidikan Nasioanal.
(225)

C. TINJAUAN METODE

Al-Ghozali dalam Arifin (1996: 103) menulis bahwa guru harus memberi contoh yang
baik dan teladan yang iindah di mata anak didik sehingga anak senang mencontoh
tingkah lakunya. Ia harus berjiwa halus, sopan serta lapang dada(tasamuh), murah hati,
dan terpuji. Dalam hal metode, Al-Ghozali memandang pemberian teladan sebagai
sesuatu yang harus dilakukan oleeh pendidik karena anak(peserta didik) senang dan
mudah meniru.

Abdurrahman n-Nahlawi (1989: 283) mengemukakan bahwa pendidikan Islam


dapat digunakan berbagai metode yang meliputi metode hiwar qurani dan nabawi, kisah
qurani dan nabawi, perumpamaan, teladan,latihan dan pengalaman,ibrah dan
mauizhah,serta targhib dan tarhib.

Di antara berbagai metode tersebut, metode keteladanan merupakan metode yang


sangat penting. Banyak ahli pendidikan yang berpedapat bahwa pendidikan dengan
teladan merupakan metode yang paling berhasil guna karena pada umumnya, lebih
mudah menangkap yang kongkret daripada yang abstrak. Abdullah Ulwan (1978: 633)
mengatakan bahwa pendidik merasa lebih mudah mengomunikasikan pesannya secara
lisan. Namun, anak akan merasa kesulitan dalam memahami pesan apabila ia tidak
diberikan contoh dalam masalh yang disampaikan kepadanya. Dalam al quran
ditemukan beberapa ayat yang menunjukan kepentingan penggunaan keteladanan dalam
pendidikan. Antara lain terlihat pada ayat-ayat yang mengemukakan pribadi-pribadi
teladan, antara lain:




Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kamu, (yaitu)
bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan
dia banyak menyebut Allah (QS. Al-Ahzab (33): 21). (226)

Urgensi keteladan sebagaiman dikemukakan di atas bukan berarti bahwa metode


lain tidak dibutuhkan lagi. Masing-masing metode mempunyai keunggulan dan
keterbatasan sendiri-sendiri. Namun, apabila dihubungkan dengan pembinaan akhlak
sebagai slah satu aspek utama tujuan pendidikan Islam, keteladan merupakan metode
efektif.

Dalam Sistem Pendidikan Nasional, metode keteladanan mendapat tempat dan


perhatian khusus seperti terlihat pada Pasal 40 ayat(2) Pendidik dan tenaga
kependidikan berkewajiban: (a) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna
,menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (b) mempuyai komitmen secara
profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; (c) memberi teladan dan menjag
anama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai kepercayaaan yang diberikan
kepadamya. Dalam pasal ini dipahami bahwa memberikan contoh/keteladanan
merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksankan oleh setiap pendidik.

Apabila Pasal 40 ayat (2) khususnya poin c dilaksankan secara konsisten disetiap
lembaga dan satuan pendidikan, maka setiap pendidik yang menampilkan akhlak jelek
perlu mendapat perhatiam yang serius dari berbagai pihak terkait. Pengawasan yang
cermat perlu dilakukan. Apabila tidak dapat diperbaiki, maka berdasarkan undang-
undang, pendidik yang bersagngkutan dapat doipertimbangkan untuk dinonaktifkan.
(227)

Undang-undang ini memprioritaskan penggunaan etode yang efektif dalam


pendidikan Islam. Dengan demikian, metode pendidikan Islam mendapat kedudukan
yang kuat dalam Sistem Pendidikan Nasional.

D. TINJAUAN PESERTA DIDIK DAN KURIKULUM


Peserta didik adalah anggota masyarakat yangberusaha mengembangkan potensi diri
meaui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan
tertentu (Sisdiknas, Pasal 1 : 4). Dalam pendidikan Islam, peserta didik tidak dibatasi
pada usia dan golongan tertentu. Orang dewasa dan ynag sudah tua pun dapat, atau
bahkan harus mejadi peserta didik. Hal tersebut disebabkan kebutuhan manusia selalu
berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Peserta didik memilki banyak kebutuhan. Law Head dalam Jalaludin (1993 : 63)
mengemukakan bahwa peserta didik mempunyai beberapa kebutuhan yang
meliputi:kebutuhan jasmani rohani, kebutuhan jasmani ruhani, kebutuhan sosial, dan
kebutuhanyang lebih tinggi sifatnya, yaitu kebutuhan akan agama.

Agama dibutuhkan oleh mausia dalam kehidupa karena dalam agam terdapat
petunjuk-petunjuk Allah untuk mencapai kebahagian dunia & akhirat . Atas dasar
tersebut , ajaran agama perlu diberikan kepada anak melalui prose pendidikan. Tanpa
pendidikan agama, kebutuhan teringgi anak tidak akan terpenuhi.

Menurut Asy-Syaibani (1979: 523), salah satu prinsip yang harus diperhatikan
dalam menyusun kurikulum adalah keterpautan (228) dan keterkaitan kandungan
kurikulum dengan kebutuha para peserta didik dan masyarakat. Atas dasar ini , semua
kebutuhan peserta didik termasuk kebutuhan akan agama harus terakomodai dalam
kurikulum pendidikan.

Dalam Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan kemutlakan pelajaran agama bagi


setiap peserta didik. Hal tersebutdapat dilihat dalam Pasal 36 ayat (3). Kurikulum
disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan memperhatikan : a) peningkatan iman dan takwa; b) peningkatan
akhlak mulia ; c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; d)
keragaman potensi daerah dan lingkungan ; e) tuntutan pembangunan daerah da
nasional; f) tuntutan dunia kerja; g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan
seni; h) agama; i) dinamika perkembangan global dan j) persatuan nasional dan nilai-
nilai kebangsaan.
Pasal 37 ayat (1) menegaskan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah
wajib memuat ; a) pendidikan agama; b) pendidikan kewarganegaraan ; c) bahasa; d)
matematika; e) ilmu pengetahuan alam; f) ilmu pengetahuan sosial; g) seni dan budaya ;
h) pendidikan jasmani dan olah raga; i) keterampilan/kejuruan; dan j) muatan lokal.
Pasal 47 ayat (2) memuat bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat: a)
pendidikan agama; b) pendidikan kewarganegaraan; dan c) bahasa.

Dari ketentuan-ketentuan diatas terlihat dengan jelas bahwa semua satuan di


semua jalur pendidikan di Indonesia ini harus memasukkan agama dalam kurikulumnya
. Pendidikan agam yang harus dimasukkan dalam satuan pendidikan tertentu harus
disesaikan pula dengan agama yang di anut oleh peerta didk di satuan pendidikan yang
bersangkutan. Hal tersebut diatursecar ategas dalam Pasal12 ayat (1 poain a) Setiap
peserta didik pada setiapsatuan pendidikan berhak mendapat pendidikan agam sesuai
dengan agama yang di anutnya dan diajarkan oleh pendidikan yang seagama.

Berdasarkan ketentuan diatas (Pasal12 ayat 1 poin a), semua peserta didik yang
beragam Islam harus mendapatkan pendidikan agama Islam di satuan pendidikan
manapun ia belajar, kendatipun secara kelembagaan ia berada di bawah koordinasi
yayasan non muslim. Selain, pendidikannya harus pula beragama Islam.

Apabila dikomparasikan dengan Sistem Pendidikan Nasional sebelumnya terlihat


bahwa perjuangan umat islam kelihatannya semakin sukses. Pasal yang disebutkan
terakhir telah memperkuat kedudukan pendidikanIslam dalam Sistem Pendidikan
Nasional. Suatu hal yang sangat penting adalah bagaimana umat islam memanfaatkan
peluang emas ini.

E. TINJAUAN KELEMBAGAAN

Semua aktifitas pendidikan berlangsung dan dilaksanakan dalam lembaga(badan)


pendidikan. Lembaga pendidikan adalah organisasi atau kelompok manusia , yang
karena satu dan lain hal memikul tanggung jawab ats terlaksananya pendidikan. Badan
ini bertugas memberi pendidikan kepda si terdidik , sesuai dengan badan tersebut .
(Marimba,1986: 57).
Sidi Gazalba (1970 : 26)menulis bahwa lembaga yang berkewajiban
melaksanakan pendidikan Islam adalah

1) Rumah tangga, yaitu pendidikan primer untuk fase bayi dan fase kanak-kanak
sampai usia sekolah . Pendidikannya adalah orang tua, sanak kerabat, family,
saudara-saudara, teman sepermainan dan kenalan pergaulan; (230)
2) Sekolah, yaitu pendidikan sekunder yang mendidik anak mulai dari usia masuk
sekolah samapai ia keluar dari sekolah tersebut. Pendidikannya adalah guru dan
profesional;
3) Kesatuan sosial, yaitu pendidikan tersier yang merupakan pendidikan terakhir
tetapi bersifat permanen. Pendidikannnya adalah kebudayaan, adat istiadat dan
suasana masyrakat setempat.

Pendapat yang senada dikemukakan oleh Zuhairini(1992: 177).Menurutnya, pada


garis besarnya lembaga-lembaga pendidikan Islam itu dapt dibedakan kepad 3
macam, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Dalam Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (10) ditegaskan bahwa lembaga
pendidikan dikelompokan kedalam 3 jalur, yaitu alur formal, nonformal, dan
informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

Saat ini lembaga pendidikan is;am sudah banyak, baik yang berada di jalur
formal, informal, maupun nonformal. Dijalur formal, ada Madrasah Ibtidaiyah,
Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan PerguruanTinggi Islam dengan
berbagai stratanya. Dijalur nonformal,ada Raudatul Athfal (RA), Taman Pendidikan
Al-Quran(TPA). Taman Pendidikan Seni Baca Al-Quran (TPSA),Didikan Subuh
(DSS), Pondok pesantren, Majlis Talim dengan berbagai fasilitas variasinya ,
Remaja Masjid dan sebagainya (Pasal 26 ayat 4).

Dalam Sistem Pendidikan Nsional ditegaskan bahwa

1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang


pendidikan menengah;
2) Pendidikan dasar berbetuk sekolah dasar (SD) dalam Madrasah Ibtidaiyah (MI)
atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah (231)mwnwngahpertama (SMP)
dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yag sederajat. (Pasal 17 ayat
(1 dan 2) Dalam pasal ini, edudukan MI disamakan dengan SD dan MTs
disamakn dengan SMP.

Dalam Pasal 18 dinyatakam bahwa pendidikan menengah berbentuk sekolah


menegah atas (SMA), madrasah aliayah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK),
dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat (Pasal 18 ayat
(3).). Dalam pasal ini, kedudukan madrasah aliyah disamakan dengan SMA.

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan,


kelompok belajar,pusat kegiatan belajar masyarakat,dan majlis taklim, serta satuan
pendidikan yang sejenis (Pasal 26 ayat (4)). Dalam bagian ini, kedudukan majlis
taklim juga diakui sebagai lembaga pendidikan. Pengakuan ini tentu
berkonsekusensi logis dengan memberikan fasilitas , bantuan dana, dan perlindungan
kepada lembaga pendidikan islam yang non formal.

Mengenai pendidikan keagamaan dikemukakan dalam Pasal 3- ayat (1)


Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok
masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan; (2)
Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/ atau
menjadi ahli ilmu agama; (3) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada
jalur pendidikan formal, nonoformal,dan informal; dan (4) Pendidikan keagamaan
berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera dan bentuk
lain yang sejenis . (232)

Dalam mengimplementasikan pasalini, pemerintah bukan hanya melindungi


pendidikan keagamaan, melainkan lebih daripada itu yakni menyelenggarakan
pendidikan keagamaan. Bagi umat islam, pendidikan keagamaan adalah pendidikan
yang diselnggarakan dalam institusi pendidikan islam . Terkait dengan
penyelenggaraan , pemerintah berkewajiban mempersiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan dalam proses pendidikan formal, pendidikan keagamaaan islam, Selain
lembaga pendidikan formal, pendidikan keagamaan Islam nonformal seperti diniyah
, pesantren, dan majelis taklim perlu dibina dan dekembangkan oleh pemerintah.

Dari beberapa paragraf diatas di pahami bahwa lembaga pendidikan Islam , baik
yang formal maupun nonformal memilki kedudukan yang kokoh dalam Sistem
Pendidikan Nasional. Dengan demikian, tidak ada pihak yamg , karena alasan
rasionalitas , efesiensi, apalagi tidak senang, dapat menghalangi pelaksanaan
pendidikan Islam. Apabila ada upaya piha-pihak tertentu untuk mempersulit apalagi
menghambat proses pendidikan Islam, itu berarti aksi yang tidak simpatik dengan
Undang-Undang Sitem Pendidikan Nasional, sekaligus termasuk yindakan-tindakan
melawan pemerintah.

F. KESIMPULAN

Dalam Sistem Pendidikan Nasional telah diterapkan aturan-aturan pokok


sehubungan dengan berbagai aspek pendidikan. Aturan-aturan ini bersifat mengikat
seluruh warga negara dalam menyelenggarakan pendidikan, baik sebagai
penyelenggara maupun masyarakat yang menikmatinya, Dalam aturan ini terdapat
kekuatan yang dapat menjamin eksistensi berbagai institusi dan satuan pendidikan .
Bahkan, kekuatan untuk melaksanakan proses pendidikan(233)