Anda di halaman 1dari 29

MODUL

PEMELIHARAAN KELISTRIKAN KENDARAAN RINGAN


XI/GASAL

Penyusun
HARTONO

TEKNIK KENDARAAN RINGAN OTOMOTIF


SMK ADI SUMARMO COLOMADU
2017

1
VERIFIKASI BAHAN AJAR

Pada hari ini selasa tanggal 02 bulan Oktober tahun 2017 Bahan Ajar Mata Pelajaran
Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan ringan Otomotif
Sekolah SMK Adi Sumarmo Colomadu telah diverifikasi oleh Ketua Jurusan/Ketua Program
Keahlian Teknik Kendaraan Ringan.

Karanganyar, 02 Oktober 2017


Ketua Program Keahlian Penulis

Dhanar Dhono, S.T,. M.Pd Hartono


NIP. --- NIP.---

2
PRAKATA

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rachmat dan karunia-
Nya.Sehingga kami dapat menyusun bahan ajar modul manual untuk bidang keahlianTeknologi dan
Rekayasa, program keahlian Teknik Kendaraan Ringan sebagai konsekuensi logis dari Kurikulum
2013 yang menggunakan pendekatan saintifik.
Sumber dan bahan ajar pokok Kurikulum 2013 adalah modul , baik modul manual maupun
interaktif modul dengan judul Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan merupakan bahan ajar
yang digunakan sebagai panduan peserta diklat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk
membentuk level kualifikasi tingkat mekanik junior.
Buku modul ini berisi tentang kerja mandiri untuk memandu peserta diklat memperoleh kompetensi
dalam melaksanakan tugas kegiatan belajar.Seluruh kegiatan diharuskan dikerjakan/dilakukan secara
mandiri atau kelompok secara tuntas, oleh peserta diklatuntuk memperdalam pengetahuan dan
keterampilan dirinya dalam menyelesaikan berbagai tugas yang terkait. Pada proses pelaksanaan
seluruh kegiatan dilakukan oleh setiap siswa, dengan arahan guru pembimbing/instruktur yang di beri
tugas, pada akhir diklat seluruh materi pada modul akan di ujikan secara mandiri, untuk memenuhi
tuntutan kompetensi dan standard kompetensi industri/perusahaan

Semarang, 02 Oktober 2017


Penulis

Hartono

3
DESKRIPSI MATA PELAJARAN

A. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar


Kompetensi Inti
KI 3 Menerapkan, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang
pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai
dengan bidang dan lingkup kerja Teknik Kendaraan Ringan Otomotif pada
tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks
pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia
kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional
KI 4 Melaksanakan Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan dengan
menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta
memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Teknik Kendaraan
Ringan Otomotif. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu
dan kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif,
kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif
dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya
di sekolah, serta mampu melaksanakan di Pemeliharaan Mesin Kendaraan
Ringan bawah pengawasan langsung.
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan,
gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu
melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung

Kompetensi Dasar
3.13.Mendiagnosis kerusakan sistem starter
4.13.Memperbaiki sistem starter
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
Berdasarkan dimensi pengetahuan dan proses kognigtif, maka IPK dari KD pengetahuan di atas
adalah sebagai berikut:

3.13.1.Menentukan cara pemeriksaan kerusakan sistem starter


3.13.2.Mendeteksi letak kerusakan komponen sistem starter
4.13.1.Memperbaiki kerusakan sistem starter
4.13.2.Mengevaluasi hasil perbaikan sistem starter

C. Tujuan Pembelajaran
1. Dapat menentukan cara pemeriksaan kerusakan system starter sesuai buku literatur dengan
teliti, santun, bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain.
2. Dapat dapat mendeteksi letak kerusakan system starter sesuai buku literatur dengan teliti,
santun, bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain.
3. Melalui praktik siswa dapat memperbaiki kerusakan system starter sesuai Service Manual
dengan teliti, konsisten, rasa percayadiri, teliti dan disiplin.
4. Melalui praktik siswa dapat mengevaluasi hasil perbaikan system starter sesuai Service
Manual dengan teliti, konsisten, rasa percayadiri, teliti dan disiplin.

4
DAFTAR ISI

Halaman sampul .. 1
Verifikasi Bahan Ajar.......................................................................................... 2
Prakata .................................................................................................................. 3
Deskripsi Mata Pelajaran ....................................................................................... 4
Daftar Isi ................................................................................................................ 6
BAB I Mendiagnosa dan memperbaiki kerusakan Blok silinder ........................... 7
A. Deskripsi Singkat ...................................................................................... 7
B. Tujuan Pembelajaran ................................................................................ 7
C. Materi ........................................................................................................ 7
D. Rangkuman ............................................................................................... 38
E. Latihan Soal .............................................................................................. 40
Daftar Pustaka ........................................................................................................ 41

5
BAB I
MENDIAGNOSA DAN MEMPERBAIKI KERUSAKAN SISTEM STARTER

A. Deskripsi Singkat
Modul Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan yang membahas tentang diagnose
dan perbaikan kerusakan system starter. Tujuan dari modul ini agar siswa memiliki kompetensi
yaitu mampu mendiagnosa dan memperbaiki kerusakan pada Blok silinder dan kelengkapannya.
Materi modul yang akan dipelajari meliputi :
1. Menjelaskan fungsi motor starter pada mesin mobil
2. Menyebutkan fungsi dari bagian bagian motor starter.
3. Menjelaskan cara kerja motor starter sekrup.
4. Menjelaskan macam- macam starter dorong dan sekrup elektromagnetis.
5. Menjelaskan nama bagian bagian motor starter dan cara kerjanya
6. Mendiagnosa kerusakan yang terjadi pada sistem starter

B. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui menggali informasi dari referensi dan diskusi, siswa dapat menentukan cara
pemeriksaan kerusakan mekanisme blok silinder dan kelengkapannya sesuai buku literatur
dengan teliti, santun, bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain.
2. Melalui menggali informasi dari referensi dan diskusi, siswa dapat mendeteksi letak
kerusakan mekanisme blok silinder dan kelengkapannya sesuai buku literatur dengan teliti,
santun, bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain.
3. Melalui praktik siswa dapat memperbaiki kerusakan mekanisme blok silinder dan
kelengkapannya sesuai Service Manual dengan teliti, konsisten, rasa percayadiri, teliti dan
disiplin.
4. Melalui praktik siswa dapat mengontrol hasil perbaikan mekanisme blok silinder dan
kelengkapannya sesuai Service Manual dengan teliti, konsisten, rasa percayadiri, teliti dan
disiplin.

C. Materi

Sistem Starter

Karena mesin mobil tidak bisa berputar dengan sendirinya, maka dibutuhkan tenaga dari
luar untuk mengengkol / memutar dan membantunya untuk hidup. Sistem starter sebagai
penggerak mula untuk menghidupkan mesin , sekarang pada umumnya mesin mobil
menggunakan motor listrik yang dikombinasikan dengan magnitig switch untuk
mendorong pinion gear yang berputar kedalam atau keluar dari /hubungan dengan ring
gear yang ada pada roda penerus . Mesin motor starter harus dapat membangkitkan
momen puntir yang besar dari sumber tenaga baterai yang terbatas. Pada waktu yang

6
bersamaan harus ringan dan kompak. Oleh karena itu dipergunakanlah motor serie DC (
direct current ). Mesin tidak dapat start sebelum melakukan siklus operasionalnya
berulang ulang yaitu: langkah isap, kompresi, pembakaran dan buang. Langkah pertama
menghidupkan mesin,
Kemudian memutarkannya dan menyebabkan siklus pembakaran pendahuluan. Motor
starter minimal harus dapat memutarkan mesin minimal pada kecepatan

75

7
minimal yang diperlukan untuk memperoleh pembakaran awal.kecepata putar minimum
yang diperlukan untuk menghidupkan mesin berbeda tergantung pada konstruksi dan
kondisi operasinya tetapi pada umumnya 60 sampai dengan 90 rpm untuk mesin bensin,
80 sampai 200 untuk mesin diesel tanpa menggunakan pemanas, 60 sampai 140 mesin
diesel dengan pemanas.
Mengapa mesin tidak akan hidup sampai kecepatan putarannya mencapai tingkat tertentu
meliputi :
a. Bahan bakar tidak teratomisasi sepenuhnya pada putaran rendah. Pada mesin bensin
kecepatan udara masuk berpengaruh terhadap kerja karburator.Pada mesin diesel
kecepatan pompa injeksi yang rendah tidak memungkinkan terjadinya atomisasi bahan
bakar secara sempurna.
b. Temperatur yang terlalu rendah. Pada mesin bensin, temperatur silinder yang rendah
menghambat pengabutan bahan bakar. Pada mesin diesel, hingga temperature udara
yang dikompresikan di dalam silinder tercapai, bahan bakar masih dapat saja gagal
terbakar.
c. Karena karakter motor starter semakin rendah putarannya, akan mengambil arus listrik
yang lebih besar dari baterai, dan baterai mungkin tidak mampu untuk memberikan
tenaga listrik yang cukup ke sistem pengapian selama pemutaran awal, karena
tegangan listrik pada terminal baterai banyak turun. Bila ini terjadi , maka kemampuan
pembakaran akan menjadi turun, karena
tegangan yang masuk kekumparan primer dari coil pengapian tidak cukup,
menyebabkan tegangan sekender yang dikirim ke busi tidak cukup juga.
Berikutrangkaian sistem starter pada kendaraan ringan yang sering dipergunakan :

Gambar 3. 1 Rangkaian Sistem Starter

8
1. Kunci kontak. 2. Roda penerus. 3. Gigi pinion. 4. Motor starter. 5. Baterai

Gambar sistem starter pada mesin

Prinsip Kerja Motor Starter

Gambar 3. 2 Garis gaya magnit

Cara Kerja :

1. Bila arus mengalir dalam suatu penghantar (conductor),medan magnet akan bangkit
pada arah yang terlihat pada ilustrasi di bawah sesuai kaidah Ampere dari ulir kanan.
2. Bila penghantar ditempatkan diantara kutub N dan S dari sebuah magnet yang terjadi
oleh arus listrik dalam penghantar dan garis gaya magnet dari magnet permanen saling
berpotongan menyebabkan magnetic flux bertambah dibagian bawah penghantar dan
berkurang di bagian atas penghantar.

Kita dapat menganggap bahwa magnetic flux adalah sebagai sabuk karet yang telah di
tegangkan. Jadi magnetic flux, maka gaya akan cenderung menarik pada satu garis lurus
lebih kuat di bagian bawah penghantar.

Akibatnya dari hal ini bahwa penghantar akan memperoleh gaya yang cenderung
mendorongnya ke atas (kaidah tangan kiri fleming).

9
Gambar 3. 3 Kekuatan gaya Elektro magnitik

Kekuatan Gaya Elektromagnetik


Kekuatan F dari suatu gaya elektromagnetik bervariasi sebanding dengan densitas
magnetic flux B (jumlah garis gaya magnet dari gaya persatuan luas), arus I yang
mengalir pada penghantar dan panjang penghantar L yang dinyatakan sebagai berikut :
F=B I l
Dengan kata lain, gaya elektromagnetic akan lebih besar bila medan magnetnya kuat, bila
arus listrik yang mengalir pada penghantar makin besar, atau bila panjang penghantar
yang berada pada medan magnet semakin besar.
Sebuah lilitan kawat yang diletakkan diantara kutub magnet permanen akan mulai
berputar bila diberi arus. Hal ini disebabkan arus mengalir dengan arah yang berlawanan
pada masing-masing lilitan, jadi gaya yang saling memotong dari lilitan dengan dari
magnet itu sendiri.
Akibatnya lilitan kawat akan berputar searah dengan jarum jam.

Gambar 3. 4 Arah garis-garis gaya magnit

Petunjuk
Tanda X dalam lingkaran merupakan penampang kawat, menunjukkan bahwa
arus mengalir menjauhi pembaca; titik (.) menunjukkan bahwa arus mengalir menuju
pembaca.

10
Dengan waktu yang tepat, dengan membalik arah aliran arus dengan
menggunakan komutator, maka lilitan akan terdorong berputar terus pada arah yang
sama. Gambar di bawah menunjukkan model yang paling sederhana dari kerjanya motor.

Gambar 3. 5. Prinsip kerja motor stater.

Pada motor yang sebenarnya, beberapa set kumparan dipergunakan untuk membatasi
ketidak teraturan putaran dan menjaga kecepatan agar tetap konstan, tetapi prinsip
kerjanya sama.
Selanjutnya, motor seri DC yang dikombinasikan pada motor starter menggunakan
sejumlah kumparan yang disebut field coil yang dirangkai secara seri dengan beberapa
kumparan armature sebagai pengganti magnet kumparan. Konstruksi Starter Listrik

11
Gambar 3. 6 Starter listrik jenis dorong dan sekrup elektro magnetik

Bagian-bagian starter dapat digolongkan dalam 3 bagian :


Bagian yang menghasilkan momen putar (motor listrik)
Bagian pinion, kopling jalan bebas dan sistem penggerak pinion
Bagian solenoid

Motor Starter
Motor starter adalah motor seri arus searah yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga
mekanik
Motor seri artinya kumparan medan dihubungkan seri dengan Anker
Tenaga mekanik yang dihasilkan berupa tenaga putar dari poros anker ke roda penerus
lewat pinion.

12
Gambar 3.7.Relay starter./solenoid

Macam konstruksi starter sekrup dapat dibedakan menurut :


1. Penggerak unit pinion
a. Starter sekrup tanpa kopling jalan bebas
Pegas peredam kejut berfungsi meredam kejutan saat pinion berhubungan dan
meneruskan momen putar dari poros anker ke poros berulir memanjang
b. Starter sekrup dengan kopling dengan kopling jalan bebas
Dengan kopling jalan bebas maka sewaktu motor mulai akan hidup pinion tetap
akan berkaitan dengan roda gaya
2. Macam penggunaan motor listrik
a. Motor seri
b. Motor listrik dengan magnet permanen

13
Keuntungan motor dengan magnet permanen
a. Bentuk konstruksi sederhana
b. Bentuk lebih kecil
c. Putaran konstan, karena medan magnet pada sepatu kutub tetap pada setiap
keadaan
Kerugian :
Tanpa reduksi putaran momen putar kecil (terbatas) sehingga hanya untuk motor kecil

3. Macam rangkaian listrik


a. Dengan sakelar mekanis
1) Bentuk sederhana tapi mkurang nyaman dalam penggunaannya
2) Kabel yang digunakan lebih panjang sehingga kerugian tegangan lebih besar

b. Dengan relai :
1) Rangkaian menjadi praktis
2) Kabel ke motor starter lebih pendek sehingga kerugian tegangan kecil
3) Dapat dikendalikan dengan kunci kontak
4) Starter Dorong dan Sekrup

14
Gambar 3.8.Skema konstruksi starter dorog dan sekrup

Keterangan Gambar di atas :


1. Pinion.
2. Kopling jalan bebas.
3. Tuas pendorong.
4. Pegas pengembali.
5. Kumparan penarik.
6. Kumparan penahan.
7. Kumparan medan.
8. Anker.
9. Kumparan medan.
10. Poros ulir memanjang.
11. Cincin pendorong.
12. Tabung penggerak.
13. Pegas pengembali

15
Kegiatan Belajar : Memelihara Sistem Starter

1). Pemeriksaan Sistem Starter pada Mobil dan pada Test Bench

ALAT BAHAN WAKTU

Kotak alat Mobil atau engine stand Instruksi : 2 jam


Multimeter Starter Latihan : 5 jam
Hidrometer Kabel penghubung
Ampermeter 0-500 A
Keselamatan kerja :

Jangan start mesin selama masih ada orang yang bekerja pada mobil kopling selalu harus
ditekan.Terjadi gangguan pada starter

Gambar 3. 9 Mobil mengalami gangguan sistem starter.

16
Langkah kerja :
Tes pada mobil

Periksa kondisi baterai dengan


hydrometer
Bila baterai kosong isi baterai
dengan alat pengisianer
Bila baterai terisi di atas 70 % tes 2
Gambar 3.10 Pemeriksaan BJ
baterai dengan hidrometer

Periksa hubungan pada klem


klem kabel baterai
Apabila hubungan klem
klem baterai kurang baik
(kotor, kendor, atau korosi)
perbaiki

Gambar 3.52 Membersihkan terminal


Gambar 3.11 Membersihkankabel terminal kabel
Matikan sistem pengapian
dengan melepas kabel pada
terminal 1 (-) pada koil
pengapian.
Ukur tegangan antara
terminal baterai saat distart.

Gambar 3. 12 Matikan sistem pengapian

17
Bila tegangan terukur
kurang dari 10 volt isi
atau ganti baterai
Bila tegangan terukur
diatas 10 volt tes 4

Gambar 3. 13 mengukur tegangan baterai

Ukur tegangan pada terminal


50 saat mesin di start
Ukur tegangan pada terminal 50

Gambar 3. 14 Pemeriksaan tegangan terminal 50

Jika tegangan terukur minimal


10 volt
Tes 5
Jika tegangan terukur kurang
dari 10 volt periksa rugi
tegangan dari kunci kotak ke
solenoid

Gambar 3. 15 Pemeriksaan rugi tegangan

18
Ukur tegangan terminal
utama starter saat di
start
Jika terjadi kerugian
tegangan kurang lebih 0,5
volT
pengabelan sistem starter
baik
Jika terjadi kerugian
Gambar 3. 16 Pemeriksaan rugi tegangan + tegangan lebih
besar dari 0,5 volt
Tes 6

Ukur rugi tegangan antara


terminal positif baterai
dengan terminal utama
motor starter saat di start

Gambar 3. 17 Pemeriksaan rugi tegangan


terminal 30

19
o Jika tegangan terukur tetap nol
berartibaik Tes 7
Jika tegangan terukur lebih
besar 0,5 volt periksa
hubungan dari baterai,
solenoid dan starter

Gambar 3. 18 Pemeriksaan rugi tegangan

Ukur rugi tegangan antara


terminal 30 dan terminal
utama pada solenoid saat
starter bekerja

Gambar 3. 19 Mengukur rugi tegangan terminal 30


dan solenoid

Jika tegangan terukur tetap


nol Tes 8
Jika terjadi rugi tegangan
lebih besar 0,25 volt solenoid
diperbaiki atau diganti

Gambar 3.20 Mengukur rugi tegangan 30 dengan


solenoid

20
Ukur rugi tegangan antara
terminal negatif baterai
dengan bodi starter saat di
start

Gambar 3.21 Mengukur rugi tegangan terminal


negatif

Jika rugi tegangan terukur


nol maka rangkaian massa
baik
Jika terukur lebih dari 0,2
volt perbaiki hubungan
massa dari baterai ke
Gambar 3.22 Besaran rugi tegangan pada penghantar
bodi dan mesin
negatif

21
Utama
Ukur arus utama dan
tegangan saat mesin di
start

Ukur arus utama dan


tegangan saat mesin di
start dengan gigi
percepatan tiga dan
direm tangan
Bandingkan hasil
pengukuran tersebut
dengan buku manual
Lepas klem 30 dan 50
pada solenoid
Gambar 3.23 Pemeriksaan arus

Contoh : Beberapa gejala gangguan, penyebab gangguan, dan tindakan yang perlu dilakukan
pada sistem starter dijelaskan pada tabel berikut :
Gejala Kemungkinan penyebab Tindakan
1. Baterai sudah mati
2. Fusible link sudah rusak 1. Periksa keadaan baterai
3. Ada sambungan yang lepas 2. Ganti fusible link
atau kendur 3. Bersihkan dan kencangkan
4. Kerusakan pada kunci sambungannya
Mesin tidak kontak 4. Periksa kunci kontak,
berputar 5. Kerusakan pada solenoid, ganti jika diperlukan
relay, saklar netral atau 5. Periksa bagian-bagiannya,
saklar kopling ganti bila perlu
6. Kerusakan mekanis pada 6. Periksa mesin
mesin

1. Periksa baterai, ganti jika


1. Baterai lemah diperlukan
2. Sambungan kendor atau 2. Bersihkan dan kencangkan
berkarat sambungan
Mesin berputar 3. Kerusakan pada motor 3. Periksa dan lakukan
lambat starter pengujian motor starter
4. Ada masalah mekanis pada 4. Cek mesin dan starter,
mesin atau motor starter ganti komponen yang
rusak

22
1. Periksa gigi pinion dan
1. Kerusakan gigi pinion atau
ring gear dari keausan atau
ring gear
kerusakan
2. Kerusakan plunyer pada
2. Periksa dan Tes pull-in
Starter berputar solenoid
dan hold-in coil
terus 3. Kerusakan kunci kontak atau
3. Periksa kunci kontak dan
rangkaian kontrolnya
rangkaiannya
4. Kunci kontak macet
4. Cek kunci kontak

1. Kerusakan pada kopling 1. Periksa kopling


Starter berputar starter starter,periksa kerjanya
tetapi mesin tidak 2. Kerusakan atau keausan gigi 2. Cek roda gigi dari keausan
berputar pinion dan ring gear dan kerusakan

1. Periksa dan ganti jika


1. Kerusakan pada solenoid perlu
Starter tidak dapat
2. Pinion gear atau ring gear 2. Cek roda gigi dari
berkaitan atau lepas
aus kerusakan dan keausan,
dengan lembut
ganti jika perlu

D. Aktifitas Pembelajaran Pengisian


Setelah selesai kegiatan pembelajaran sistem pengisian /charging, anda hendaknya
mengidentifikasi nama , fungsi komponen cara kerja sistem dan jalannya aliran listrik
pada rangkaian. Berilah arah arus listrik pada saat kunci kontak ON. Dan seyogyanya
selalu siapkan dalam proses pembelajaran
tentang Model, Alat bantu mengajar atau Teaching Aids untuk efektifitas dalam proses
pembelajaran.Selain itu juga anda perlu sekali mengindentifikasi macam- macam
gangguan yang terjadi pada sistem rangkaian , pada karakteristik komponen komponen.

E. Latihan/Kasus/Tugas Sistem starter


1. Jika pada saat mekanik bekerja melepas motor starter pada mesin mobil,keamanan dan
keslamatan kerja yang harus diperhatikan adalah :
a. Kunci kontak harus OFF.
b. Lampu kepala harus mati.
c. Lampu tanda belok harus OFF.

23
d. Kabel baterai plus harus dilepas.
2. Pada waktu akanmenstarter mesin mobil , agar keslamatan mobil dan pengemudi aman
dan tidak terjadi kerusakan , hal yang harus diperhatikan adalah :

a. Posisi gigi transmisi mundur.


b. Posisi roda kemudi lurus.
c. Posisi gigi transmisi Parkir.
d. Posisi gigi transmisi harus netral.
3. Pada saat mengetes kerja motor starter pada mesin mobil,supaya mesin tidak hidup,
maka tindakan yang harus diperhatikan adalah :
a. Kabel terminal B kunci kontak harus dilepas..
b. Kabel terminal C motor starter harus dilepas.
c. Kabel ke terminal negatip Coil harus dilepas.
d. Kabel terminal ST pada motor starter harus dilepas.
4. Pada saat menstarter mesin mobil , perbedaan tegangan kerja kabel positip
baterai dan positip pada motor starter yang diperbolehkan maksimum
..volt.
a. 0,5
b. 0,3.
c. 0,2.
d. 0,1.
5. Pada saat pengemudi kendaraan menstarter , motor starter bereaksi klik- klik, motor
starter tidak bisa berputar. Diagnosa kerusakan npada sistem starter adalah :
a. Roda gigi pinion motor starter rusak.
b. Roda gigi ring pada mesin rusak.
c. Kurang pelumasan. pada sistem starter
d. Tegangan kerja baterai lemah.

F. Rangkuman
1. Bahwa mesin tidak dapat hidup dan hidup dengan sendirinya, walaupun campuran
udara dan bahan bakar dapat disalurkan kedalam ruang bakar.Oleh sebab itu
dibutuhkaan suatu sistem yang dapat merubah energi listrik menjadi energi mekanik
yang berupa gerak putar.Untuk memutar poros engkaol dari

24
mesin , sehingga mesin bisa hidup.kecepatan minimum dibutuhkan untuk menstart
mesin. Dalam hal ini motor starter digunakan untuk memutar motor pertama kali
sampai tercapai putaran tertentu dalam usaha memulai pembakaran sehingga motor
bisa hidup.
2. Motor starter sebagai penggerak mula pada mesin,maka harus dapat mengatasi
hambatan hambatan seperti :Tekanan kompresi mesin,gesekan dari bagian bagian
yang bergerak, minyak pelumas,mekanik katup dan lain
lain.
3. .Motor starter sekrup adalah : pinion dalam melekukan gerakan , menyekrup maju, dan
gerakan mundur, pada poros berulir panjang yang diputar oleh angker.Dimana gerakan
menyekrup maju gigi pinion untuk berhubungan dengan roda gaya atau fly wheel,
sehingga poros engkol berputar.
4. Starter Dorong dan sekrup, terdiri dari :
a. Motor arus searah, sebagai pembangkit tenaga.
b. Unit penggerak pinion yang terdiri dari ; pinion, kopling jalan bebas dan tabung
penggerak, poros berulir memanjang angker, tuas pendorong.
c. Solenoid atau saklelar magnit .
5. Fungsi utama dari sakelar magnit ( magnetic switch) adalah untuk menghubungkan
dan melepaskan starter clutch dengan roda gigi roda penerus atau roda gaya., dan
sekaligus mengalirkan arus listrik yang besar ke motor starter melalui terminal utama.
Atau sebagai relai dan penggerak tuas pendoronga.
6. Starter Angker Dorong.
Starter model ini gerakan dorong aksial pinion dilakukan oleh langsung oleh angker
itu sendiri. Oleh sebab itu komutatornya lebih panjang dari pada starter lainnya. Dan
model starter angker dorong
mempunyai tiga kumparan , antara lain : Kumparan penarik ( pull in coil ), kumparan
penahan ( hold in coil), kumparan seri/utama.
7. Starter Batang Dorong Pinion.
Starter model ini biasanya dipergunakan pada kendaraan yang diesel bertenaga besar,
generator bertenaga besar, diesel pada kapal laut.Daya motor starter sampai dengan 6
swampai 18 HP.

25
8. Pada saat di start tegangan kerja pada kedua pool baterai terukur kurang dari 10 Volt,
bila kurang baterai harus diganti.
9. Solenoid sistem Starter model batang dorong pinion berfungsi untuk :
a. Mendorong gigi pinion hingga mengait dengan roda gaya.
b. Menghubungkan arus utama untuk memutarkan jangkar atau angker.
10. Sistem Starter model dorong pinion digunakan pada mobil yang bertenaga besar
seperti Motor Diesel, diesel Generator Diesel pada Kapal laut dan lain
lain.

G. Umpan Balik dan Tindak lanjut


Peserta diklat/ Guru setelah menyelesaiakan latihan dalam modul ini , diharapkan
menelaah /mempelajari kembali bagian bagian yang belum dikuasainya. Tujuannya
adalah untuk memahami secara mendalam sebagai bekal dalam melaksanakan tugas
keprofesian guru dan untuk bekal dalam mencapai hasil pelaksanaan Uji Kompetensi
guru dengan ketuntasan minimal materi modul 80 %.

Setelah menuntaskan modul ini , maka langkah selanjutnya / peserta diklat guru
berkwajiban untuk mengikuti kegiatan pembelajaran selanjutnya sesuai ketetapan yang
telah ditentukan. Pada struktur program mapping kendaraan ringan.

H. Kunci Jawaban soal latihan.


Pilihlah Jawaban Yang Paling Benar Pada Pilihan Jawaban

1. Jika pada saat mekanik bekerja melepas motor starter pada mesin mobil,keamanan dan
keslamatan yang harus diperhatikan adalah :
a. Kunci kontak harus OFF.
b. Lampu kepala harus mati.
c. Lampu tanda belok harus OFF.
d. Kabel baterai plus harus dilepas.
2. Pada waktu akan menstarter mesin mobil , agar keselamatan mobil dan
pengemudi aman dan tidak terjadi kerusakan , hal yang harus diperhatikan adalah:
a. Posisi gigi transmisi mundur.

26
b. Posisi roda kemudi lurus.
c. Posisi gigi transmisi Parkir.
d. Posisi gigi transmisi harus netral.
3. Pada saat mengetes kerja motor starter pada mesin mobil,supaya mesin tidak hidup,
maka tindakan yang harus diperhatikan adalah :
a. Kabel terminal B kunci kontak harus dilepas..
b. Kabel terminal C motor starter harus dilepas.
c. Kabel ke terminal negatip Coil harus dilepas.
d. Kabel terminal ST pada motor starter harus dilepas.
4. Pada saat menstarter mesin mobil , perbedaan tegangan kerja kabel positip
baterai dan positip pada motor starter yang diperbolehkan maksimum
..volt.
a. 0,5
b. 0,3.
c. 0,2.
d. 0,1.
5. Pada saat pengemudi kendaraan menstarter , motor starter bereaksi/bunyi cetuk- cetuk,
motor starter tidak bisa berputar. Diagnose kerusakan pada sistem starter adalah :
a. Roda gigi pinion motor starter rusak.
b. Roda gigi ring pada mesin rusak.
c. Kurang pelumasan. pada sistem starter
d. Tegangan kerja baterai lemah./rendah

27
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L.W., dan Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and
Assesing: A Revision of Blooms Taxonomy of Educatioanl Objectives. New
York: Addison Wesley Longman, Inc.

Dave, R. H. (1975). Developing and Writing Behavioural Objectives. (R J Armstrong,


ed.): Educational Innovators Press.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 60 Tahun 2014 Tentang Kerangka
Dasar & Struktur Kurikulum SMK/MAK. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 61 Tahun 2014 Tentang Pedoman
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta : Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 62 Tahun 2014 Tentang Kegiatan
Ekstrakurikuler Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 63 Tahun 2014 Tentang Pendidikan
Kepramukaan Sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib Pada Pendidikan Dasar
dan Pendidikan Menengah. Press

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2015. Penguatan Pemahaman


Kurikulum 2015 Sekolah Menengah Kejuruan, Handout Pendampingan
Implementasi Kurikulum SMK Tahun 2015. Jakarta : Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan

https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/01/revisi-taksonomi-bloom.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/AHMAD_SAMSUDIN/E
valuasi_Pembelajaran_Fisika/KATA_KERJA_OPERASIONAL_%5BCom
patibility_Mode%5D.pdf

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2007. Pengembangan Kurikulum.


Jakarta : Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia

Molenda, Michael dkk. 2006 Instructional Media And Technology For Teaching And
Learning. New York: Practice-Hall Inc

Soeparno (1988). Media Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Inter-Pariwisata.

83

28
Sukamto. 1988. Perencanaan & Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Teknologi dan Kejuruan. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan

Nasution. 1990. Azas-azas Pengembangan Kurikulum. Bandung : Jenmars

Suwardi, 2007, Sistem Menejemen Pembelajaran : Menciptakan Guru yang


Kreatif, Temprina Media Grafika.

Tyler, Ralph W. 1973. Basic Principles of Curriculum and Instruction.


Chicago and London : The University of Chichago

_____ 2008, Quantum Teaching. Mempraktekkan metode Quantum learning


di ruang kelas. (Terjemahan). Bandung: Kaifaies