Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERAN POLA ASUH KELUARGA DALAM


MEMBENTUK PRIBADI SEHAT JIWA

Pokok Bahasan : Peran Pola Asuh keluarga dalam membentuk pribadi sehat jiwa
Hari/Tangal : Rabu , 23 Maret 2016
Pukul : 08.00-8.30 WIB
Sasaran : Pengunjung Poliklinik Rumah Sakit Ernaldi Bahar
Tempat : ruangan poliklinik rumah sakit ernaldi bahar

A. Latar belakang
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pola asuh keluarga
dalam membentuk pribadi sehat jiwa
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti proses penyuluhan diharapkan masyarakat/keluarga
mampu:
a. Menyebutkan pengertian peran pola asuh keluarga
b. Menyebutkan macam-macam peran pola asuh keluarga
c. Menyebutkan akibat lanjut dari peran pola asuh keluarga yang tidak
baik
d. Menyebutkan cara merawat anggota keluarga dengan dengan pola asuh
yang baik dalam membentuk pribadi sehat jiwa
C. Pelaksanaan Kegiatan

1. Topik
Peran pola asuh keluarga dalam membentuk pribadi sehat jiwa
2. Sasaran dan Target
Sasaran : pengunjung poliklinik rumah sakit ernaldi bahar
Target : Masyarakat/keluarga pengunjung poliklinik
3. Metode
Ceramah
Tanya jawab
Diskusi
4. Media dan alat
Leaflet
Clipchart
5. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Rabu /23 Maret 2016
Waktu : 08.00 WIB s.d 08.30 WIB
Tempat : Ruang Poliklinik
6. Pengorganisasian
- Moderator : Indah Verawati
- Presenter : Firmansyah
- Fasilitator :
- Observer :
- Dokumentasi :
7. Tugas Pengorganisasian
a. Penanggung Jawab
Mengkoordinir persiapan dan pelaksanaan penyuluhan.
b. Moderator
- Membuka acara
- Memperkenalkan mahasiswa dan dosen pembimbing
- Menjelaskan tujuan dan topic
- Menjelaskan kontrak waktu, bahasa, tata tertib penyuluhan
- Menyerahkan jalannya penyuluhan kepada pemateri
- Mengarahkan alur diskusi
- Memimpin jalannya diskusi
- Menutup acara
c. Presenter
- Mempresentasikan materi untuk penyuluhan.
- Membuat Materi penyuluhan
d. Fasilitator
- Memotivasi pasien untuk berperan aktif dalam jalannya
penyuluhan.
- Membantu dalam menanggapi pertanyaan dari pasien.
- Membuat absensi
e. Observer
- Mengamati proses pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir.
- Menyampaikan laporan hasil penyuluhan baik secara verbal dan
non verbal.
f. Dokumentasi
- Mendokumentasikan selama kegiatan

Kegiatan Penyuluhan
NO Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan
1. 5 menit Pembukaan
Memberi salam Menjawab Salam
Memperkenalkan anggota penyuluhan Mendengarkan dan
dan pembimbing memperhatikan
Menjelaskan kontrak, waktu, bahasa, Mendengarkan dan
topik dan tujuan penyuluhan mengemukakakn pendapat
2. 20 menit Pelaksanaan
Menggali pengetahuan audience tentang Mengemukakan pendapat
pengertian peran pola asuh keluarga Mendengarkan dan
Memberi reinforcement positif (+) memperhatikan

Menjelaskan pengertian peran pola asuh Mendengarkan dan


keluarga memperhatikan
Mengemukakan pendapat
Menggali pengetahuan audience tentang Mendengarkan dan
Memberi reinforcement positif (+) memperhatikan
Menggali pengetahuan audience tentang Mendengarkan dan
akibat pola asuh yang tidak baik memperhatikan
Memberi reinforcement positif (+) Mengemukakan pendapat
Menjelaskan akibat pola asuh yang Mendengarkan dan
tidak baik memperhatikan

Menggali pengetahuan audience tentang Mendengarkan dan
akibat lanjut peran pola asuh yang tidak memperhatikan
baik Mengemukakan pendapat
Memberi reinforcement posistif (+) Mendengarkan dan
memperhatikan
Menggali pengetahuan audience tentang Mendengarkan dan
cara menerapkan pola asuh dalam memperhatikan
keluarga. Mengemukakan pendapat
Memberi reinforcement positif (+)
Mendengarkan dan
memperhatikan
Mendengarkan dan
memperhatikan

3. 5 menit Sesi Tanya Jawab


Mempersilahkan audience untuk Mengajukan pertanyaan
bertanya/menanggapi pertanyaan
Menjawab pertanyaan Mendengarkan dan
memperhatikan
4. 5 menit Penutup
Melakukan evaluasi Menjawab pertanyaan
Bersama audience menyimpulkan Bersama moderator
materi penyuluhan menyimpulkan materi
penyuluhan
Menutup penyuluhan dan memberikan Menjawab salam
salam

E. Kriteria Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
Diharapkan jumlah peserta yang hadir sesuai dengan perencanaan (10 peserta)
Diharapkan waktu dan tempat sesuai perencanaan
Diharapkan tugas dan peran mahasiswa sesuai perencanaan
Diharapkan media dan alat penyuluhan sesuai rencana
b. Evaluasi Proses
Diharapkan moderator dapat membuka dan menutup acara dengan baik
Diharapkan presenter dapat menguasai materi dengan baik
Diharapkan fasilitator berperan aktif dalam berjalan nya penyuluhan
Diharapkan peserta berperan aktif selama kegiatan
Diharapkan peserta mengikuti penyuluhan dari awal sampai akhir
Diharapkan peserta tidak ada yang meninggalkan tempat penyuluhan
c. Evaluasi Hasil
Diharapkan 80% Peserta mampu :
1. Menyebutkan pengertian pola asuh keluarga dengan bahasanya sendiri dengan benar.
2. Menyebutkan macam macam pola asuh keluarga yang baik dengan bahasanya sendiri
dengan benar.
3. Menyebutkan akibat dari pola asuh keluarga yang tidak baik dengan bahasanya sendiri diri
dengan benar.
4. Menjelaskan cara merawat dengan pola asuh keluarga yang baik bahasanya sendiri dengan
benar.
F. Penutup
a) Kesimpulan
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri
berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri. Harga diri
berkepanjangan termasuk kondisi tidak sehat mental karena dapat menyebabkan berbagai
masalah kesehatan lain, terutama kesehatan jiwa.
b) Saran
Diharapkan setelah melakukan penyulahan keluarga mampu membina pasien
harga diri rendah
Lampiran Materi
1. Pengertian HDR
Harga diri rendah adalah perasaan tidah berharga, tidak berarti, dan rendah diri
berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri.Harga diri
kronik merupakan evaluasi diri negatif yang berkepanjanga/perasaan tentang diri atau
kemampuan diri (herdman,2012)
Harga diri rendah muncul akibat dari penilaian internal individu maupun penilaian
eksternal yang negatif. Penilaian internal adalah penilaian yang berasal dari diri individu itu
sendiri, sedangkan penilaian eksternal merupakan penilaian dari luar dir individu (misal:
lingkungan) yang mempengaruhi penilaian individu tersebut.

2. Penyebab HDR
Harga diri dan konsep diri tidak bisa dipisahkan dari memandang diri sendiri. Harga diri
merupakan penilaian seseorang terhadap diri sendiri, baik bersidat positif maupun negatif.
Sementara konsep diri merupakan penilaian yang berasal dari dalam diri sendiri.
Seseorang yang memilki harga diri rendah maka akan membatasi pergaulannya, kurang
percaya diri, kurang aktif, dan tidak bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Faktor yang menyebabkan seseorang mengalami harga diri rendah, yakni:
1.Pola Asuh Keluarga
Pola asuh yang diterapkan di keluarga sangat berpengaruh terhadap bagaimana
seseorang memandang dirinya sendiri. Pola asuh yang permisif cenderung kurang terkontrol
sehingga seseorang menjadi tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak
bisa diterima masyarakat. Sebaliknya, pola asuh otoriter kadang menyebabkan masalah
maladaptif dalam menilai diri.
2.Tekanan/Trauma
Banyak faktor yang bisa menyebabkan timbulnya trauma, misalnya kekerasan fisik,
seksual, dan peristiwa lain yang bisa mengancam seseorang hingga tidak bisa lepas dari
bayang-bayang kejadian yang tidak menyenangkan tersebut.
3.Keadaan Fisik
Harga diri seseorang juga dipengaruhi oleh kondisi fisik. Kondisi fisik yang
mempunyai kekurangan atau cacat akan membuat seseorang merasa minder. Akibatnya
mereka cenderung menarik diri untuk menyembunyikan kekurangannya.
4.Ketidakberfungsian Secara Sosial
Ketidakberfungsian secara sosial disini adalah tidak mampunya seorang individu
menempatkan dirinya dalam fungsi sosial. Misalnya seorang kepala rumah tangga yang
menganggur, akan merasa rendah diri dalam kehidupan sosialnya
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala HDR dapat di lihat dari ungkapan pasien yang menunjukan penilaian
negatif tentang dirinya dan di dukung dengan data hasil wawancara dan observasi.
a) Data subjektif
Pasien mengungkapan tentang :
1. Hal negatif diri sendiri atau orang lain
2. Perasaan tidak mampu
3. Pandangan hidup yang pesimis
4. Penolakan terhadap kemampuan diri

b) Data objektif
1. Penurunan produktifitas
2. Tidak berani menatap lawan bicara
3. Libik banyak menundukkan kepala saat berinteraksi
4. Bicara lambat dengan nada suara lemah

4. Akibat Lanjut HDR


Klien yang mengalami harga diri rendah bisa mengakibatkan gangguan interaksi sosial:
menarik diri, memicu munculnya perilaku kekerasan yang berisiko mencederai diri, orang
lain dan lingkungan. Isolasi social merupakan keadaan dimana individu dan kelompok
mengalami kebutuhan meningkat keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk
melakukan kontak.

5. Cara Merawat Keluarga Dengan HDR


Tindakan keperawatan harga diri rendah dilakukan terhadap pasien dan keluarga (pelaku
rawat) saat melakukan pelayanan di puskesmas atau kunjungan rumah, perawat menemui
keluarga (pelaku rawat) terlebih dahulu sebelum menemui pasien. Bersama keluarga perawat
mengidentifikasi masalah yang di alami pasien dan keluarga. Tindakan keperawatan untuk
pasien dan keluarga dilakukan pada setiap pertemuan, minimal 4x pertemuan dan dilanjutkan
hingga pasien mampu mengatasi harga diri rendah dan keluarga mampu merawat harga diri
rendah.
a. Tindakan keperawatan untuk pasien HDR
Tujuan: pasien mampu:
1) Membina hubungan saling percaya
2) Mengidentifikasi kemmpuan dan aspek posistif yang dimiliki
3) Menilai kemampuan yang dapat digunakan
4) Menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai kemampuan
5) Melatih kegiatan yang telah dipilih sesuai kemampuan
6) Merencanakan kegiatan yang telah dilatihnya

Tindakan keperawatan:
ubungan saling percaya, dengan cara:
a. Ucapkan salam setiap kali berintekrasi dengan pasien
b. Perkenalakan diri denan pasien: perkenalakan nama dan nama panggilan yang perawat sukai,
serta tanyakan nama dan nama panggilan pasien yang disukai.
c. Tanyakan peraaan dan keluhan pasien saat ini
d. Buat kontrak asuhan: apa ang perawata akan lakukan bersama pasien, berpa lama akan
dikerjakan, dan tempatnya di mana.
e. Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan
terapi.
f. Tunjukan sikap empati tehadap pasien.
g. Penuhi kebutuhan dasar pasien bila memungkinkan
2. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien
Tindakan keperawatan keperawatan yang dilakukan adalah:
a. Identifikasi kemempuan melakukan kegiatan dan aspek positif pasien
b. Beri pujian yang realistik dan hindarkan memberikan penilaian yang negatif setiap kali
bertemu dengan pasien.
3. Membantu pasien dan menilai kemampuan yang dapat digunaan
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah:
a. Bantu pasien menilai kegiatan yang dapat dilakukan saat ini (pilih dari daftar kegiatan):buat
daftar kegiatan yang dapat dilakukan saat ini.
b. Bantu pasien menyebutkan dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri yang
diungkapkan pasien
4. Membantu pasien dapat memilih atau menetapkan kegiatan berdasarkan daftar kegiatan yang
dapat dilakukan
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah:
a. Diskusikan kegiatan yang akan dipilih untuk dilatih saat pertemuan.
b. Bantu pasien memberikan alasan terhadap pilihan yang ia tetapkan.

5. Melatih kegiatan yang akan dipilih pasien sesuai kemampuan:


Tindakan keperawatan yang akan dilakukan adalah:
a. Latih kegiatan yang akan dilatih (alat dan cara melakukannya)
b. Bantu pasien memasukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan dua kali perhari.
c. Berikn dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan yang diperlihatkan pasien.
6. Membantu pasien dapat merencanakan kegiatan sesuai kemampuannya dan menyusun
rencana kegiatan.
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah :
a) Beri kesempatan pada pasien untuk mencoba kegiatan yang telah dilatih.
b) Beri pujian atas aktivitas atau kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap hari.
c) Tindakan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan setiap aktivitas
d) Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihkan bersama pasien dan keluarga.
e) Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan persaannya setelah pelaksanaan kegiatan
f) Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilakukan pasien

DAFTAR PUSTAKA

Keliat budi, ana. 2005. Peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa. EGC.
Modul keperawatan jiwa