Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1% penduduk di


dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia
remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-laki biasanya antara 15-25 tahun dan pada
perempuan antara 25-35 tahun. Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan
dengan perempuan. Awitan setelah umur 40 tahun jarang terjadi. 4

Diagnosis skizofrenia, menurut sejarahnya, mengalami perubahan-perubahan. Ada


beberapa cara untuk menegakkan diagnosis. Pedoman untuk menegakkan diagnosis adalah
DSM-IV (Diagnostic and statistical manual). Dalam DSM-IV terdapat kriteria objektif dan
spesifik untuk mendefinisikan skizofrenia. Belum ada penemuan yang patognomik untuk
skizofrenia.diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala atau deskripsi klinis dan merupakan suatu
sindrom. 4

Etiologi skizofrenia belum pasti. Berdasarkan penelitian biologic, genetic, fenomenologik


dinyatakan bahwa skizofrenia merupakan suatu gangguan atau penyakit. Ada beberapa subtupe
skizofrenia yang diidentifikasi berdasarkan variable klinik (berpedoman pada ICD-X), yaitu
skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, skizofrenia katatonik, skizofrenia tak terinci,
depresi pasca skizofrenia, skizofrenia residual, skizofrenia simpleks, skizofrenia lainnya dan
skizofrenia yang tak tergolongkan. 4

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan
perjalanan penyakit (tidak selalu bersifat kronis) yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. 6
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari
pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul.kesadaran yang jernih dan
kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu
dapat berkembang kemudian. 6

2.2 EPIDEMIOLOGI
Skizofrenia terjadi dengan frekuensi yang sangat mirip di seluruh dunia. Skizofrenia
terjadi pada pria dan wanita dengan frekuensi yang sama. Gejala-gejala awal biasanya terjadi
pada masa remaja atau awal dua puluhan. Pria sering mengalami awitan yang lebih awal
daripada wanita. 3
Penelitian insiden pada gangguan yang relatif jarang terjadi, seperti skizofrenia, sulit
dilakukan. Survei telah dilakukan di berbagai negara, namun dan hampir semua hasil
menunjukkan tingkat insiden per tahun skizofrenia pada orang dewasa dalam rentang
yangsempit berkisar antara 0,1 dan 0,4 per 1000 penduduk. Ini merupakan temuan utama
dari penelitian di 10-negara yang dilakukan oleh WHO. Untuk prevalensi atau insiden
skizofreniadi Indonesia belum ditentukan sampai sekarang, begitu juga untuk tiap-tiap
subtipeskizofrenia.3
Prevalensinya antara laki-laki dan perempuan sama, namun menunjukkan perbedaan
dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset yang lebih awal
daripada perempuan. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun,
sedangkan perempuan 25 sampai 35 tahun. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa
laki-laki adalah lebih mungkin daripada wanita untuk terganggu oleh gejala negatif dan
wanita lebih mungkin memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki. Pada
umumnya, hasil akhir untuk pasien skizofrenik wanita adalah lebih baik daripada hasil akhir

2
untuk pasien skizofrenia laki-laki.Skizofrenia tidak terdistribusi rata secara geografis di
seluruh dunia. Secara historis, prevalensi skizofrenia di Timur Laut dan Barat Amerika
Serikat adalah lebih tinggi daridaerah lainnya.3
a. Mortalitas dan morbiditas:
Bunuh diri (10%), penyakit-penyakit lain akibat pola hidup yang buruk, efek
samping obat, dan penurunan preawatan kesehatan.
b. = :
Onset lebih awal dan gejala lebih buruk pada , disebabkan karena respon
pengobatan antipsychotic yang lebih baik pada disebabkan pengaruh estrogen.
c. Rasio schizophrenia kembar pada >.
d. Usia:
Puncak onset: (18-25 tahun), (26-45 tahun)
Onset sebelum pubertas dan >45 tahun jarang.
Gejala-gejala dapat membaik perlahan pada usia pertengahan dan lebih tua.
Sembuh spontan jarang terjadi pada beberapa tahun penyakit kronis.

2.3 ETIOLOGI
Belum ditemukan etiologi yang pasti mengenai skizofrenia. Ada beberapa hasil
penelitian yang dilaporkan pada saat ini yaitu :
a. Biologi
Setakat ini tidak ada gangguan fungsional dan struktur yang patognomonik
ditemukan pda penderita skizofrenia. Meskipun begitu pada satu subpopulasi dapat
ditemukan gangguan organik. Gangguan yang paling banyak ditemukan dalam
subpopulasi ini ialah pelebaran ventrikel ketiga dan lateral yang stabil dan dapat
ditemukan sebelum awitan penyakit. Atrofi bilateral lobus temporal medial, lebih
spesifik ialah girus parahipokampus, hipokampus dan amigdala, disorientasi spasial sel
pyramid hipokampus dan penurunan volume korteks prefrontal dorsolateral. Beberapa
penelitian mengatakan semua perubahan ini telah dibawa sejak lahir dan pada beberapa
kasus perjalanannya prgresif. Pada skizofrenia, gangguan hipokampus dikaitkan dengan
impermen memori dan atrofi lobus frontalis berkaitan dengan gejala negative

3
skizofrenia. Kemaknaan penemuan ini belum diketahui tetapi ini menunjukkan adanya
dasar biologi dan heterogenitas skizofrenia. 4

Gambar 1. Abnormalitas otak pada pasien skizofrenia.

b. Biokimia
Etiologi biokimia skizofrenia belum diketahui. Hipotesis paling banyak
yaitu gangguan neurotransmitter sentral yaitu terjadinya peningkatan aktivitas dopamine
sentral (hipotesis dopamin).

Teori lain yaitu terjadinya peningkatan serotonin di susunan saraf pusat (5-HT2A)
dan kelebihan NE di forebrain limbik. 4

c. Genetik
Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara bermakna kompleks
dan poligen. Sesuai dengan penelitian hubungan darah (konsanguinitas), skizofrenia adalah
gangguan yang bersifat keluarga. Semakin dekat hubungan kerabat semakin tinggi risiko.
Pada anak kembar, kembar monozigot berisiko 4-6 kali lebih tinggi dibanding kembar
dizigot. Frekuensi kejadian gangguan non-psikotik meningkat pada keluarga skizofrenia
dan secara genetik dikaitkan dengan gangguan kepribadian ambang dan skizotipal,

4
gangguan obsesif-kompulsif dan kemungkinan ada hubungannya dengan gangguan
kepribadian paranoid dan dissosial. 4

d. Faktor keluarga
Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan penting dalam
menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan remisi. Pasien yang pulang ke rumah
sering relaps pada tahun berikutnya dibanding pasien yang ditempatkan di Panti penitipan.
Pasien yang berisiko ialah pasien yang tinggal dengan keluarga yang hostil, mempelihatkan
cemas yang berlebihan, sangat protektif terhadap pasien, terlalu ikut campur dan terlalu
mengkritik. Pasien skizofrenia sering tidak dibebaskan keluarga. 4

2.4 MANIFESTASI KLINIS


Ada dua gejala yang menyertai schizophrenia yakni gejala negatif dan gejala positif.
Gejala negatif berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya,
seperti mengurung diri di kamar, melamun, menarik diri dari pergaulan, dan sebagainya.
Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya,
seperti mengamuk dan berteriak-teriak.
a. Gejala negatif (pendataran afektif, alogia (miskin bicara, kemiskinan isi bicara, afek
yang tidak sesuai), tidak ada kemauan-apati, anhedonia-asosialitas, tidak memiliki
atensi social.
b. Gejala positif (halusinasi, waham, perilaku aneh (cara berpakaian, perilaku social,
agresif, perilaku berulang), ganggun pikiran formal positif (penyimpangan,
tangensialitas, inkoherensi, dll) 3

Gambaran klinis
Deskripsi Penampilan pasien: dapat tampak sangat berantakan (tidak rapi,
umum tidak mandi, dll), menjerit-jerit, teragitasi hingga orang terobsesi
tampil rapi, sangat pendiam dan imobil.
Perilaku: dapat menjadi teragitasiatau kasar yang disebabkan
karena respon terhadap halusinasi.
Pada stupor katatonik, perilaku pasien tampak seperti tidak

5
bernyawa dan mungkin memperlihatkan tanda membisu,
negativisme, dan kepatuhan otomatis.
Mood, Gejala afektif yang umum pada skizofrenia:adalah menurunnya
perasaan responsivitas emosional yang terkadsng cukup parah sehingga
dan afek disebut sebagai anhedonia serta emosi yang tidak tepat dan sangat
aktifseperti kemarahan, kebahagian, dan ansietas yang ekstrim
Afek dapat datar atau tumpul disebabkan karena skizofrenia sendiri
bukan karena efek samping obat.
Afek tak serasi
Afek labil
Gangguan Halusinasi: halusinasi yang paling umum adalah halusinasi
persepsi audiotorik (mendengar suara-suara yang mengancam, bersifat
cabul, menuduh, menghina, atau mendengar 2 atau lebih suara
yang membicarakan pasien).
Halusinasi visual juga lazim dijumpai
Halusinasi taktil, olfaktorik, dan gustatorik tidak biasa dijumpai.
Jika terdapat halusinasi tersebut, pertimbangkan terdapat masalah
medis/neurologis yang mendasarinya.
Ilusi: misinterpretasi pancaindra terhadap objek
Depersonalisasi: perasaan asing terhadap diri sendiri
Derealisasi: perasaan asing terhadaplingkungan sekitar
Gangguan Gangguan proses pikir:
pikiran Asosiasi longgar: ide tidak nyambung, ide melompat dari
satu topic ke topic lainnya yang tidak berhubungan.
Pemasukan berlebihan: pikiran dimasuki informasi yang
tidak relavan.
Neologisme: pembentukan kata-kata baru
Terhambat: pembicaraan tiba-tiba terhenti dan disambung
beberapa saat kemudian, biasanya dengan topic lain.
Klang asosiasi: pemilihan kata-kata selanjutnya
berdasarkan bunyi kata yang baru saja diucapkan dan

6
bukan isi pikirannya.
Ekolalia, konkritisasi, alogia, dll
Gangguan isi pikir berupa waham. Beberapa jenis
wahamyang biasa ditemukan adalah waham kejar, waham
kebesaran, waham rujukan, penyiaran pikiran, penyisipan
pikiran, dll
Sensorium Orientasi: biasanya orientasi tempat, waktu dan orang baik. Jika
dan kognisi ada gangguan orientasi, selidiki kemungkinanadanya gangguan
otak neurologis atau medis. Beberapa pasien skizofreniamungkin
memberikan jawabansalah atau bizarreterhadap pertanyaan tentang
orientasi, misalnya saya adalah nabi, ini surge, dan sekarang tahun
35 masehi.
Memori: memori biasanya baik. Namun terkadang mustahil
meminta pasien mengerjakan uji memori dengan baik agar
kemampuannya dapat dikaji secara adekuat.
Daya nilai Tilikan: pasien skizofrenia memiliki tilikan yang buruk terhadap
dan tilikan sifat dan keparahan gangguannya.
Tilikan kurang: berpengaruh terhadap kepatuhan terhadap
pengobatan. 5

Perjalanan penyakit schizophrenia terbagi menjadi tiga fase, yaitu:


1) Fase prodromal = fase dimana gejala non spesifik muncul sebelum gejala
psikotik menjadi jelas. Lamanya bisa beberapa minggu, bulan bahakn tahunan.
Gejalanya berupa hendaya pekerjaan, fungsi social, perawatan diri, dan
penggunaan waktu luang.
2) Fase aktif = fase dimana gejala psikotik menjadi jelas seperti perilaku katatonik,
halusinasi, delusi, disertai gangguan afek.
3) Fase residual = fase yang gejala nya mirip seperti fase prodromal tetapi gejala
psikotiknya tidak begitu jelas. 3

7
2.5 PATOFISIOLOGI
Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Pada otak terjadi proses
penyampaian pesan secara kimiawi (neurotransmitter) yang akan meneruskan pesan sekitar
otak. Pada penderita skizofrenia, produksi neurotransmitter-dopamin- berlebihan, sedangkan
kadar dopamin tersebut berperan penting pada perasaan senang dan pengalaman mood yang
berbeda. Bila kadar dopamin tidak seimban;berlebihan atau kurang; penderita dapat
mengalami gejala positif dan negatif seperti yang disebutkan di atas. Penyebab
ketidakseimbangan dopamin ini masih belum diketahui atau dimengerti sepenuhnya. Pada
kenyataannya, awal terjadinya skizofrenia kemungkinan disebabkan oleh kombinasi faktor-
faktor tersebut. Faktor-faktor yang mungkin dapat mempengaruhi terjadinya skizofrenia,
antara lain: sejarah keluarga, tumbuh kembang ditengah-tengah kota, penyalahgunaan obat
seperti amphetamine, stres yang berlebihan, dan komplikasi kehamilan. 3

2.6 DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI


a. Diagnosis
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala-gejala itu kurang jelas :
(a) Thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya
(tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kulitasnya berbeda; atau
- Thought insertion or withdrawal: isi pikiran yang asingdari luar masuk kedalam
pikirannya (insertion)atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar (withdrawal);
dan
- Thought broadcasting: isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;
(b) - delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu
dati luar; atau
- delusion of influence: waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu
dari luar; atau
- delusion of passivity: waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu
kekuatan dari luar; (tentang dirinya: secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota
gerak atau ke pikiran, tindakan atau penginderaan khusus);

8
- delusional perception: pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas
bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;
(c) Halusinasi auditorik :
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau
- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang
berbicara), atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
(d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu,
atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca,
atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
(e) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham
yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas,
ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila
terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
(f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang
berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
(g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisis tubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
(h) Gejala-gejala negative seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan
atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal).
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall
quality) dari beberapa aspek perilaku pribadai (personal behaviour), bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri
(self absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.6
b. Klasifikasi

9
Gejala klinis skizofrenia secara umum dan menyeluruh telah diuraikan di muka,
dalam PPDGJ III skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang mempunyai
spesifikasi masing-masing, yang kriterianya di dominasi dengan hal-hal sebagai berikut

1) Skizofrenia Paranoid
Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia Sebagai tambahan : Halusinasi dan
atau waham harus menonjol :
(a)Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit, mendengung, atau bunyi
tawa.
(b)Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain
perasaan tubuh halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol
(c)Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of
control), dipengaruhi (delusion of influence), atau Passivity (delusion of passivity),
dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas.
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara
relatif tidak nyata / menonjol. Pasien skizofrenik paranoid biasanya berumur lebih tua
daripada pasien skizofrenik terdisorganisasi atau katatonik jika mereka mengalami
episode pertama penyakitnya. Pasien yang sehat sampai akhir usia 20 atau 30 tahunan
biasanya mencapai kehidupan sosial yang dapat membantu mereka melewati
penyakitnya. Juga, kekuatan ego paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik
dan terdisorganisasi. Pasien skizofrenik paranoid menunjukkan regresi yang lambat dari
kemampuan mentalnya, respon emosional, dan perilakunya dibandingkan tipe lain
pasien skizofrenik.
Pasien skizofrenik paranoid tipikal adalah tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak
ramah. Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif. Pasien skizofrenik paranoid
kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka secara adekuat didalam situasi sosial.
Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oleh kecenderungan psikosis mereka dan tetap
intak.

10
2) Skizofrenia Hebefrenik
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia ;

Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau
dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun). Kepribadian premorbid menunjukkan
ciri khas : pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk
menentukan diagnosis. Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya
diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa
gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :

Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta
mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku
menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;

Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai
oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendirir (self-
absorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai
(grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);
Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta
inkoheren. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir
umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol
(fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan
yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku
penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa
maksud (empty of purpose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-
buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahami jalan pikiran pasien. Menurut DSM-IV skizofrenia disebut sebagai
skizofrenia tipe terdisorganisasi.

3. Skizofrenia Katatonik

Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia. Satu atau lebih dari
perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :

11
(a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan
serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):

(b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal)

(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan
posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);

(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah
atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang berlawanan);

(e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya
menggerakkan dirinya);

(f) Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan tubuh
dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan

(g) Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis


terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.

Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan
katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang
memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-
gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat
dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta
dapat juga terjadi pada gangguan afektif. Selama stupor atau kegembiraan katatonik,
pasien skizofrenik memerlukan pengawasan yang ketat untuk menghindari pasien
melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis mungkin ddiperlukan karena
adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau cedera yang disebabkan oleh dirinya
sendiri.

12
4. Skizofrenia tak terinci (Undifferentiated).

Seringkali, pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan
kedalam salah satu tipe. PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak
terinci. Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau


katatonik.
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia. 6

5. Depresi Pasca-Skizofrenia

Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :

(a) Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis umum
skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;

(b) Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran
klinisnya); dan

(c) Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit kriteria
untuk episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu.
Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis menjadi episode
depresif. Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan menonjol, diagnosis harus
tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai. 6
6. Skizofrenia Residual

Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua:
(a) Gejala negative dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan
psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan
inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal yang
buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh,
perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk;

13
(b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofenia;

(c) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan
telah timbul sindrom negative dari skizofrenia;

(d) Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik lain, depresi kronis
atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negative tersebut.
Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang terus menerus
adanya gangguan skizofrenik, tanpa adanya kumpulan lengkap gejala aktif atau gejala
yang cukup untuk memenuhi tipe lain skizofrenia. Penumpulan emosional, penarikan
social, perilaku eksentrik, pikiran yang tidak logis, dan pengenduran asosiasi ringan
adalah sering ditemukan pada tipe residual. Jika waham atau halusinasi ditemukan maka
hal tersebut tidak menonjol dan tidak disertai afek yang kuat. 6

7. Skizofrenia Simpleks

Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung


pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari : gejala
negative yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi,
waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik, dan disertai dengan perubahan-
perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat
yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara
sosial. Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe skizofrenia
lainnya. Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala
utama pada jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali
terdapat. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali. Pada permulaan mungkin penderita
mulai kurang memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. Makin
lama ia makin mundur dalam pekerjaan atau pelajaran dan akhirnya menjadi
pengangguran, dan bila tidak ada orang yang menolongnya ia mungkin akan menjadi
pengemis, pelacur, atau penjahat. 6

14
8. Skizofrenia YTT

Selain beberapa subtipe di atas, terdapat penggolongan skizofrenia lainnya (yang


tidak berdasarkan DSM IV TR), antara lain :

Bouffe delirante (psikosis delusional akut).

Konsep diagnostik Perancis dibedakan dari skizofrenia terutama atas dasar lama
gejala yang kurang dari tiga bulan. Diagnosis adalah mirip dengan diagnosis gangguan
skizofreniform didalam DSM-IV. Klinisi Perancis melaporkan bahwa kira-kira empat
puluh persen diagnosis delirante berkembang dalam penyakitnya dan akhirnya
diklasifikasikan sebagai media skizofrenia. 6

2.6 DIAGNOSIS BANDING

a) Gangguan Psikotik Sekunder dan Akibat Obat


Gejala psikosis dan katatonia dapat disebabkan oleh berbagai macam keadaan
medis psikiatrik dan dapat diakibatkan oleh berbagai macam zat. Jika psikosis atau
katatonia disebabkan oleh kondisi medis nonpsikiatrik atau diakibatkan oleh suatu zat,
diagnosis yang paling sesuai adalah gangguan psikotik akibat kondisi medis umum,
atau gangguan katatonia akibat zat. Manifestasi psikiatrik dari banyak kondisi medis
nonpsikiatrik dapat terjadi awal dalam perjalanan penyakit, seringkali sebelum
perkembangan gejala lain. Dengan demikian klinisi harus mempertimbangkan berbagai
macam kondisi medis nonpsikiatrik dalam diagnosis banding psikosis, bahkan tanpa
adanya gejala fisik yang jelas. Pada umumnya, pasien dengan gangguan neurologist
mempunyai lebih banyak tilikan pada penyakitnya dan lebih menderita akibat gejala
psikiatriknya daripada pasien skizofrenik, suatu kenyataan yang dapat membantu klinisi
untuk membedakan kedua kelompok tersebut. 1
Saat memeriksa seorang pasien psikotik, klinisi harus mengikuti tiga pedoman
umum tentang pemeriksaan keadaan nonpsikiatrik. Pertama, klinisi harus cukup agresif
dalam mengejar kondisi medis nonpsikiatrik jika pasien menunjukkan adanya gejala
yang tidak lazim atau jarang atau adanya variasi dalam tingkat kesadara. Kedua, klinisi
harus berusaha untuk mendapatkan riwayat keluarga yang lemgkap, termasuk riwayat
gangguan medis, neurologist, dan psikiatrik. Ketiga, klinisi harus mempertimbangkan

15
kemungkinan suatu kondisi medis nonpsikiatrik, bahkan pada pasien dengan diagnosis
skizofrenia sebelumnya. Seorang pasien skizofrenia mempunyai kemungkinan yang
sama untuk menderita tumor otak yang menyebabkan gejala psikotik dibandingkan
dengan seorang pasien skizofrenik. 1
b) Berpura-pura dan Gangguan buatan
Baik berpura-pura atau gangguan buatan mungkin merupakan suatu diagnosis
yang sesuai pada pasien yang meniru gejala skizofrenia tetapi sebenarnya tidak
menderita skizofrenia. Orang telah menipu menderita skizofrenia dan dirawat dan
diobati di rumah sakit psikiatrik. Orang yang secara lengkap mengendalikan produksi
gejalanya mungkin memenuhi diagnosis berpura-pura (malingering); pasien tersebut
biasanya memilki alasan financial dan hokum yang jelas untuk dianggap gila. Pasien
yang kurang mengendalikan pemalsuan gejala psikotiknya mungkin memenuhi
diagnosis suatu gangguan buatan (factitious disorder). Tetapi, beberapa pasien dengan
skizofrenia seringkali secara palsu mengeluh suatu eksaserbasi gejala psikotik untuk
mendapatkan bantuan lebih banyak atau untuk dapat dirawat di rumah sakit. 1
c) Gangguan Psikotik Lain

Gejala psikotik yang terlihat pada skizofrenik mungkin identik dengan yang
terlihat pada gangguan skizofreniform, gangguan psikotik singkat, dan gangguan
skizoafektif. Gangguan skizofreniform berbeda dari skizofrenia karena memiliki lama
(durasi) gejala yang sekurangnya satu bulan tetapi kurang daripada enam bulan.
Gangguan psikotik berlangsung singkat adalah diagnosis yang tepat jika gejala
berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan jika pasien tidak
kembali ke tingkat fungsi pramorbidnya. Gangguan skizoafektif adalah diagnosis yang
tepat jika sindroma manik atau depresif berkembang bersama-sama dengan gejala
utama skizofrenia.

Suatu diagnosis gangguan delusional diperlukan jika waham yang tidak aneh
(nonbizzare) telah ada selama sekurangnya satu bulan tanpa adanya gejala skizofrenia
lainnya atau suatu gangguan mood. 1

d) Gangguan Mood

16
Diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood dapat sulit, tetapi penting
karena tersedianya pengobatan yang spesifik dan efektif untuk mania dan depresi.
Gejala afektif atau mood pada skizofrenia harus relative singkat terhadap lama gejala
primer. Tanpa adanya informasi selain dari pemeriksaan status mental, klinisi harus
menunda diagnosis akhir atau harus menganggap adanya gangguan mood, bukannya
membuat diagnosis skizofrenia secara prematur. 1
e) Gangguan Kepribadian

Berbagai gangguan kepribadian dapat ditemukan dengan suatu cirri skizofrenia;


gangguan kepribadian skizotipal, schizoid, dan ambang adalah gangguan kepribadian
dengan gejala yang paling mirip. Gangguan kepribadian, tidak seperti skizofrenia,
mempunyai gejala yang ringan, suatu riwayat ditemukannya gangguan selama hidup
pasien, dan tidak adanya onset tanggal yang dapat diidentifikasi. 1

2.7 PENATALAKSANAAN
a) Terapi biologis
Obat antipsikosis golongan 1 (APG-1).
Disebut juga sebagai antipsikosis tipikal.
Mekanisme kerja APG-1:
Sebagai dopamine receptor antagonist. APG-1 memblokade dopamin pada
reseptor pasca sinaptik neuron di otak, khususnya di sistem limbik dan sistem
ekstrapiramidal sehingga efektif untuk gejala positif.
Efek lainnya: APG-1 potensi rendah (contoh: chlorpromazine) lebih bersifat
sedasi sehingga lebih efektif untuk pasien yang lebih agitatif.
Penggolongan obat APG-1
1. GOLONGAN PHENOTIAZINE
Rantai aliphatic: chlorpromazine
Rantai piperazine: perphenazine, triflouperazine, fluphenazine
Rantai piperidine: thioridazine
2. Golongan butyrophenone: haloperidol
3. Golongan diphenylbutyl piperidine: pimozide
Beberapa obat APG-1 dan dosisnya:

17
No Jenis obat Merk dagang sediaan Dosis
anjuran
1 Chlorpromazine Chlorpromazine Tab 25 ; 150-600
100 mg mg/hari
Promactil Tab 100
mg
Meprosetil Tab 100
mg
Cepezet Amp. 50 50-100
mg/2cc mg(i.m)
setiap 4-6
jam
Perphenazine Perphenazine Tab 4 mg 12-24
trilafon Tab 2;4;8 mg/hari
mg
Triflouperazine stelazine Tab 1;5 10-15
mg mg/hari
Thioridazine melleril Tab 50 ; 150-300
100 mg mg/hari
2 Haloperidol Haloperidol Tab 0,5; 5-15
1,5; 5 mg mg/hari
Haldol Tab 2 ; 5
mg
Lodomer Tab 2 ; 5 5-10
mg mg(i.m)
Amp. 5 tiap 4-6
mg/cc jam
Haldol 50 mg/cc 50 mg
decanoas* (i.m) tiap
2-4

18
minggu
3 Pimozide Orap forte Tab 4 mg 2-4
mg/hari
*haldol decanoas = preparat injeksi kerja panjang

Efek samping :
dosis tinggi dapat menyebabkan sindrome immobilitas, yaitu tonus otot
meningkat dan postur otot meningkat yang disebut katalepsi. Antipsikosis
tipikal dapat menurunkan aktivitas karena bekerja menginaktifkan neuron
dopamin pada substansia nigra.
Ekstrapiramidal sindrom
Tardive diskinesia
Neuroleptik maligna

Obat antipsikosis golongan 2(APG-2)


Disebut juga sebagai antipsikosis atipikal
Obat APG-2 bermanfaat untuk mengontrol gejala positif dan negatif. Obat ini
memiliki efikasi yang lebih baik dan efek samping minimal.
Mekanisme kerja APG-2:
Sebagai serotonin-dopamine receptor antagonist (SDA). Obat ini berafinitas
terhadap dopamine D2 Receptors dan serotonin 5HT2 Receptors, sehingga
bermanfaat untuk gejala positif dan negatif.

Penggolongan obat APG-2:


1. Golongan benzamide: supiride
2. Golongan dibenzodiazepin: clozapine,olanzapine, quetiapine, zotepine
3. Golongan benzioxazole: risperidone, aripiprazole
Beberapa obat APG-2 dan dosisnya:
No Jenis obat Merk dagang Sediaan Dosis anjuran
1. Sulpiride Dogmatil forte Amp 100 3-6 amp/hari (i.m)

19
mg/2cc 300-600 mg/hari
Tab 200 mg
Clozapine Clozaril sizoril
2. Tab 25 ; 100 25-100 mg/hari
mg
Olanzapine Zyprexa Tab 5 ; 10 mg 10-20 mg/hari
Quetiapine Seroquel Tab 25; 100; 50-400 mg/hari
200 mg
Zotepine lodopin Tab 25 ; 50 75-100 mg/hari
mg
2. Risperidone Risperidone Tab 1 ;2 ; 3 2-6 mg/hari
mg
risperdal Tab 1 ; 2 ; 2-6 mg/hari
3mg
Aripiprazole Ability Tab 10 ; 15 10-15 mg/hari5
mg

b) Terapi Kejang Listrik


Terapi kejang listrik (TKL) atau yang dalam bahasa Inggris Electroconvulsive
Treatment (ECT) jarang digunakan saat ini karena begitu mudahnya pemakaian obat-
obatan antipsikotik. Terapi TKL dapat berguna sebagai terapi tambahan pada terapi obat
antipsikosis berbagai jenis, termasuk clozapine, terutama untuk pasien yang memiliki
respon yang kurang terhadap dan perlu pengontrolan perilaku agitasi dengan cepat. TKL
dapat digunakan pada pasien yang tidak merespon terhadap obat-obatan, namun tidak ada
data yang menunjukan pemakaian TKL dapat dilakukan pada pasien skizofren. 3

c) Terapi Psikososial

20
Meskipun obat antipsikotik merupakan pilihan utama dari pengobatan skizofrenia,
terapi nonfarmakologis juga mempunyai peran yang penting bagi kesembuhan pasien.
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat, mendukung pasien,
melatih pasien untuk mandiri, meningkatkan fungsi social dan fungsi bekerja serta
mengurangi beban orang yang menanggungnya. Memberi pelatihan dan dukungan
kepada anggota keluarga merupaqkan hal yang penting terhadap keseluruhan proses
pengobatan.
Pada kebanyakan system kesehatan, program manajemen pengobatan telah
dikembangkan menjadi model program yang tidak mahal, dibandingakan dengan
pasien yang dirawat di rumah sakit. Terdapat seorang pengelola yang akan membantu
pasien mencari tempat tinggal, mengatur keuangan, memperoleh akses ke klinik
psikiatri maupun tempat rehabilitasi, dan akan menjelaskan tentang kegunaan obat-
obat yang dipakai. Dengan demikian, hal tersebut akan memunkinkan pasien untuk
hidup seminimal mungkin, atau bahkan tidak sama sekali, dalam pengawasan tenaga
medis, khususnya tenaga medis bagian kejiwaan. 3

2.8 PROGNOSIS DAN KOMPLIKASI


a) Prognosis

Prognosis baik Prognosis baik


Awitan lambat Awitan muda
Faktor presipitasi jelas Tidak ada faktor presipitasi
Awitan akut Awitan insidius
Riwayat sosial, seksual, Riwayat sosial, seksual, pekerjaan
pekerjaan premorbid baik premorbid buruk
Gejala gangguan mood Perilaku autistik/menarik diri
(terutama gangguan depresif)
Menikah Lajang, cerai (janda atau duda)
Riwayat keluarga dengan Riwayat keluarga dengan skizofrenia
gangguan mood

21
Sistem pendukung baik Sistem pendukung buruk
Gejala positif baik Gejala negatif
Tanda dan gejala neurologis
Riwayat trauma perinatal
Tanpa remisi dalam 3 tahun
Relaps berulang kali
Riwayat melakukan tindakan
penyerangan5

b) Komplikasi
1) Kematian akibat usaha bunuh diri (suicidal attempt) Bunuh diri.
2) Membunuh orang lain.
3) Alkoholik.3

22
BAB III
KESIMPULAN

Dari tinjauan pustaka yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa:


1. Skizofrenia adalah gangguan mental atau kelompok gangguan yang ditandai oleh kekacauan
dalam bentuk dan isi pikiran (contohnya delusi atau halusinasi), dalam mood(contohnya afek
yang tidak sesuai), dalam perasaan dirinya dan hubungannya dengan dunialuar serta dalam
hal tingkah laku.3
2. Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif
dan fase residual. Terdapat beberapa jenis skizofrenia yaitu skizofrenia paranoid,
skizofrenia herbefrenik, skizofrenia katatonik, depresi pasca skizofrenia, skizofrenia
residual, skizofrenia simpleks, skizofrenia tak terinci, skizofrenia lainnya dan skizofrenia
yang tidak tergolongkan. 2
3. Beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang menderita skizofrenia di kemudian hari
antara lain riwayat skizofrenia dalam keluarga, perilaku premorbid, stress lingkungan,status
sosial ekonomi rendah , keterlibatan gen alpha-7nicotine receptor, DISC 1, GRM 3, COMT,
NGR 1, RGS 4, dan G27, Komplikasi masa kehamilan dan persalinan, bentuk tubuh,
penyalahgunaan obat-obatan,dan usia ibu saat hamil di atas 60 tahun.3
4. Penatalaksanaan pasien schizophrenia menggunakan model multimodalitas yang
menggabungkan psikofarmaka dan psikoterapi. Psikofarmaka dapat digunakan antipsikotik
tipikal maupun atipikal. Untuk psikoterapi membutuhkan keterlibatan individu, tenaga
kesehatan, keluarga dan lingkungan yang mendukung kesembuhan pasien
5. Prognosis pasien baik ditentukan oleh riwayat keluarga ttg gangguan mood/afektif, perilaku
dan personalitas premorbid yang baik, sudah menikah, onset akut, gejala kelainan mood
terutama kelainan depresif, gejala positif (positive symptoms) , sistem pembantu (support
systems) yang baik. 3

23
24
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis. Tangerang (Indonesia) : BINARUPA AKSARA; 2010
2. Reski, A. 2010. Skizofrenia. Refarat. Jakarta; FK UPN.
3. Wijaya, I, dkk. 2014. Skizofrenia. Refarat. Palembang; FK Unsri
4. Amir N. Dalam Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2010.178-94
5. Markam, S. 2015. Psychiatry. Jakarta; medical mini mote
6. Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas PPDGJ III. Jakarta: Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.
.

25