Anda di halaman 1dari 11

Pengaruh Pigmen Melanin dan Mutasi Gen pada Penderita Albino

Veronica Rahayu (A1)


102013164
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta
Alamat Korespodensi: veronica.2013fk164@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Albino adalah kelainan genetik, bukan penyakit infeksi dan tidak dapat ditransmisi
melalui kontak, tranfusi darah, dsb. Albino timbul dari perpaduan gen resesif. Penderita
albino tidak mempunyai pigmen melanin, yang berfungsi melindungi kulit dari radiasi
ultraviolet yang datang dari matahari. Ciri-ciri seorang albino adalah mempunyai kulit dan
rambut secara abnormal putih susu atau putih pucat dan memiliki iris merah muda atau biru
dengan pupil merah. Ada dua kategori utama dari albino pada manusia yaitu, oculocutaneous
albinism (berarti albino pada mata dan kulit), kehilangan pigmen pada mata, kulit, rambut dan
ocular albinism, hanya kehilangan pigmen pada mata. Mutasi juga merupakan salah satu dari
beberapa gen menjadi penyebab paling umum dari albinisme.
Kata kunci: Albino, oculocutaneous albinism, ocular albinism, mutasi gen.

Abstract
Albino is a genetic disorder, not a disease and infection can not be transmitted
through contact, blood transfusions, etc.. Albino arising from the combination of recessive
genes. People with albinism have no melanin pigment, which serves to protect the skin from
ultraviolet radiation coming from the sun. The characteristics of an albino has a skin and hair
are abnormally white or pale white milk and have a slice of pink or blue with red pupils.
There are two main categories of albinism in humans, namely, oculocutaneous albinism
(albino means to eyes and skin), loss of pigment in the eyes, skin, hair and ocular albinism,
only the loss of pigment in the eye. Mutation is also one of the few genes become the most
common cause of albinism.
Keywords: Albino, oculocutaneous albinism, ocular albinism, the gene mutation.

Pendahuluan

Albinisme adalah suatu kelainan pigmentasi kulit bawaan, kelainan ini disebab kan karena
kurang atau tidak adanya pigmen melanin di dalam kulit. Keadaan tersebut bersifat genetik
atau diwariskan. Albino ada lah murni penyakit kelainan genetik, bukan penyakit infeksi dan
tidak dapat ditularkan memalui kontak fisik ataupun melalui transfusi darah. Sebenarnya
albino adalah panyakit perpaduan gen resesif pada orang tua dan menjadi gen dominan pada
anak mareka. Gen resesif sendiri adalah gen yang tidak muncul pada diri kita sedangkan gen
dominan adalah gen yang muncul pada diri kita dan menjadi sifat fisik dari kita. Jika
seseorang memiliki satu gen normal dan untuk pigmentasi satu gen untuk albinisme, ia akan
1
memiliki informasi yang cukup genetik untuk membuat pigmen normal dan tidak akan
menderita penyakit tersebut. Ketika kedua orang tua membawa gen dan tidak satu pun dari
mereka memiliki albinisme (opera tor), maka ada kemungkinan 25% bahwa bayi akan lahir
dengan albinisme. Jenis warisan disebut warisan resesif autosomal. Di sisi lain dua orang
dengan albinisme tidak akan secara otomatis menghasilkan seorang anak albino meskipun
risiko beberapa kali lebih tinggi.

Albino (dari bahasa Latin albus yang berarti putih), disebut juga hypomelanism atau
hypomelanosis, adalah salah satu bentuk dari hypopigmentary congenital disorder. Ciri
khasnya adalah hilangnya pigmen melanin pada mata, kulit, dan rambut (atau lebih jarang
hanya pada mata). Albino timbul dari perpaduan gen resesif. Anak albino sangat rentan
terkena sinar matahari terlalu banyak. Resiko terkena kanker kulit jauh lebih besar akibat
kurangnya pigmen melanin yang bisa melindungi kulit. Dari kasus skenario E ini, saya akan
membahas tentang albino yang membuat tampilan seorang berbeda dengan tampilan orang
normal lainnya.1

Definisi Albino

Albino (dari bahasa Latin albus yang berarti putih), disebut juga hypomelanism atau
hypomelanosis, adalah salah satu bentuk dari hypopigmentary congenital disorder. Ciri
khasnya adalah hilangnya pigmen melanin pada mata, kulit, dan rambut (atau lebih jarang
hanya pada mata). Albino timbul dari perpaduan gen resesif. Ciri-ciri seorang albino adalah
mempunyai kulit dan rambut secara abnormal putih susu atau putih pucat dan memiliki iris
merah muda atau biru dengan pupil merah. Albino adalah kelainan genetik, bukan penyakit
infeksi dan tidak dapat ditransmisi melalui kontak, tranfusi darah, dsb. Gen albino
menyebabkan tubuh tidak dapat membuat pigmen melanin. Sebagian besar bentuk albino
adalah hasil dari kelainan biologi dari gen-gen resesif yang diturunkan dari orang tua,
walaupun dalam kasus-kasus yang jarang dapat diturunkan dari ayah/ibu saja. Ada mutasi
genetik lain yang dikaitkan dengan albino, tetapi semuanya menuju pada perubahan dari
produksi melanin dalam tubuh. Albino dikategorikan dengan tirosinase positif atau negatif.
Dalam kasus dari albino tirosinase positif, enzim tirosinase ada, namun melanosit (sel
pigmen) tidak mampu untuk memproduksi melanin karena alasan tertentu yang secara tidak
langsung melibatkan enzim tirosinase. Dalam kasus tirosinase negatif, enzim tirosinase tidak
diproduksi atau versi nonfungsional diproduksi.

2
Seseorang dapat menjadi karier dari gen albino tanpa menunjukkan fenotif tertentu,
sehingga seorang anak albino dapat muncul dari orang tua yang tidak albino. Albino tidak
terpengaruh gender, kecuali ocular albino (terkait dengan kromosom X), sehingga pria lebih
sering terkena ocular albino. Karena penderita albino tidak mempunyai pigmen melanin
(berfungsi melindungi kulit dari radiasi ultraviolet yang datang dari matahari), mereka
menderita karena sengatan sinar matahari, yang bukan merupakan masalah bagi orang biasa.2

Tipe Albino
Sekitar satu dari tujuh belas ribu orang menjadi albino, walaupun 1-70 orang adalah
pembawa, bukan penderita. Ada dua kategori utama dari albino pada manusia yaitu :
Oculocutaneous albinism (berarti albino pada mata dan kulit), kehilangan pigmen pada
mata, kulit, dan rambut. Ocular albinism, hanya kehilangan pigmen pada mata. Orang-orang
dengan oculocutaneous albinism bisa tidak mempunyai pigmen dimana saja sampai ke tingkat
hampir normal. Orang-orang dengan ocular albinism mempunyai warna rambut dan kulit
yang normal, dan banyak dari mereka mempunyai penampilan mata yang normal.
Tipe lain, yaitu :
Recessive total albinism with congenital deafness
Albinism black-lock cell-migration disorder syndrome (ABCD)
Albinism-deafness syndrome (ADFN) (yang sebenarnya lebih berhubungan dengan
vitiligo).
Hanya tes genetik satu-satunya cara untuk mengetahui seorang albino menderita kategori
yang mana, walaupun beberapa dapat diketahui dari penampilannya.2,3

Kategori Albino

a. Albino tirosinase positif


Enzim tirosinase ada, namun melanosit (sel pigmen) tidak mampu untuk
memproduksi melanin karena alasan tertentu yang secara tidak langsung melibat kan
enzim tirosinase.
b. Albino tirosinase negative
Enzim tirosinase tidak diproduksi atau versi non fungsional diproduksi.
Albinisme merupakan cacat menurun dimana seseorang tidak mempunyai tirosin yang
akan diubah menjadi pigmen melanin. Akibatnya alis, rambut, dan kulit tampak putih
(albino), dan matanya peka terhadap cahaya. Gen yang menyebabkan albino bersifat

3
resesif, sedangkan alel dominannya mengendalikan sifat normal. Seorang anak albino
lahir dari pasangan suami isteri yang masing masing membawa gen albino (carrier).3
Pewarisan Sifat Autosomal pada Manusia
Sifat autosomal merupakan sifat keturunan yang ditentukan oleh gen pada pada
autosom. Sifat autosoml ada dua yaitu dominan dan resesif. Laki-laki dan perempuan
mempunyai autosom yang sama sehingga sifat keturunan yang ditentukan oleh gen autosomal
dapat dijumpai pada laki-laki maupun perempuan.4
Penurunan Autosom Dominan
Adanya sebuah gen dominan didalam genotif seseorang. Sifat/trait heterosigot muncul
pada setiap generasi tanpa selang. Sifat diwariskan oleh penderita ke setengah jumlah anak.
Orang normal tidak mewariskan sifat kepada anaknya. Pewarisan sifat tidak dipengaruhi oleh
jenis kelamin sehingga penderita laki-laki dan perempuan sama banyaknya (50%:50%).
Kelainan yang terikat pada penurunan autosom dominan, antaralain :
PTC pada manusia
Dentiogenesis Imperfekta
Achondoplasia
Polidaktili
Warna rambut
Penurunan Autosom Resesif
Suatu sifat yang diwariskan sebagai autosom resesif hanya berekspresi dalam genotipe
homosigot resesif. Kriteria penurunan autosom resesif yaitu kedua orangtua normal, rata-rata
seperempat dari keturuanan sebagai penderita, kedua orangtua mungkin mempunyai
hubungan darah (sepupu) dan pada penderita laki-laki dan perempuan sama banyak. Kelainan
dalam penurunan autosom resesif antaralain :
Albinisme
Phenylketonuria
Bisu tuli
Alkaptonuria
Kreatinisme
Genetika Populasi Persilangan Albino
Gen albino dikendalikan oleh gen resesif a, sedangkan gen A menentukan sifat kulit
normal. Penderita Albino mempunyai genotip aa, sedangkan orang normal mempunyai
fenotip AA atau Aa.
4
Dimisalkan dalam persilangan berikut:
P1 : (normal) AA X aa (albino)
Gamet : A a
F1 : Aa (normal)
P2 : (normal) Aa X Aa (normal)
Gamet : A, a A, a
F2 : AA, Aa, aA = Normal
aa, = Albino
Jadi dari perkawinan seorang pria normal dengan wanita normal yang keduanya heterozigot
menghasilkan keturunan dengan rasio fenotip normal : albino = 3 : 1.3,4
Penyebab Albino
Mutasi salah satu dari beberapa gen menjadi penyebab paling umum dari albinisme.
Masing-masing gen akan memberikan petunjuk kode kimia untuk membuat salah satu dari
beberapa protein yang terlibat dalam produksi melanin. Mutasi gen dapat menyebabkan
jumlah melanin menurun bahkan mungkin melanin tidak diproduksi sama sekali. Seseorang
dapat mengalami gangguan albinisme jika dia mewarisi dua salinan gen yang bermutasi (satu
dari setiap orang tua). Namun, jika ia hanya memiliki satu salinan gen saja, ia tidak akan
mengalami gangguan albinisme. Albino tidak terpengaruh gender, kecuali ocular albino
(terkait dengan kromosom X), sehingga pria lebih sering terkena ocular albino. Karena
penderita albino tidak mempunyai pigmen melanin (berfungsi melindungi kulit dari radiasi
ultraviolet yang datang dari matahari), mereka menderita karena sengatan sinar matahari,
yang bukan merupakan masalah bagi orang biasa. Mutasi karena perubahan struktur
kromosom atau kerusakan bentuk kromosom disebut juga dengan istilah aberasi.5

Mutasi gen

Pasangan basa nitrogen pada DNA, antara timin dan adenine atau antara guanine dan
sitosin dihubungkan oleh ikatan hydrogen yang lemah. Atom-atom hydrogen dapat berpindah
dari satu posisi ke posisi lain pada purin atau pirimidin. Perubahan kimia sedemikian disebut
perubahan tautomer. Misalnya secara tidak normal, adenine berpasangan dengan sitosin dan
timin dengan guanine. Peristiwa perubahan genetic seperti ini disebut mutasi gen karena
hanya terjadi di dalam gen. Mutasi gen disebut juga dengan mutasi titik (point mutation).
Mutasi gen dapat terjadi karena substitusi basa N. Macam macam mutasi gen antara lain:5

5
a. Delesi atau defisiensi
Mutasi karena kekurangan segmen kromosom. Macam-mcam delesi antara lain :
Delesi terminal; ialah delesi yang kehilangan ujung segmen kromosom.
Delesi interstitial; ialah delesi yang kehilangan bagian tengah kromosom.
Delesi cincin; ialah delesi yang kehilngan segmen kromosom sehingga berbentuk
lingkaran seperti cincin.
Delesi loop; ialah delesi cincin yang membentuk lengkungan pada kromosom
lainnya.Hal ini terjadi pada waktu meiosis, sehingga memungkinkan adanya
kromosom lain (homolognya) yang tetap normal.
b. Duplikasi
Mutasi karena kelebihan segmen kromosom.
c. Translokasi
Translokasi adalah mutasi yang mengalami pertukaran segmen kromosom ke
kromosom non homolog . Macam-macam translokasi antara lain :
Translokasi homozigot (resiprok); ialah translokasi yang mengalami pertukaran
segmen kedua kromosom homolog dengan segmen kedua kromosom non
homolog.
Translokasi Heterozigot (non resiprok); ialah translokasi yang hanya mengalami
pertukaran satu segmen kromosom ke satu segmen kromosom non homolog.
Translokasi Robertson (fusion)
d. Inversi
Inversi adalah mutasi yang mengalami letak gen-gen, karena selama meiosis
kromosom terpilin dan terjadi kiasma. Macam-macam inverse antara lain :
Inversi parasentrik; terjadi pada kromosom tidak bersentromer
Inversi perisentrik; terjadi pada kromosom bersentromer.

Dogma Central Genetika Molekuler

Yang dimaksud disini adalah Dogma central semua informasi yang terkandung dalam
DNA, kemudian akan digunakan untuk menghasilkan molekul RNA melalui transkripsi, dan
beberapa informasi pada RNA tersebut akan digunakan untuk menghasilkan protein melalui
proses yang disebut translasi. Berikut adalah mekanisme prosesnya: Sebenarnya dalam proses
dogma central, ada beberapa referensi yang mencakup replikasi DNA, dan ada yang tidak.
Karena ada yang mengartikan dogma central adalah proses ekspresi gen dari DNA > RNA

6
> protein. Ada pula yang menyebutkan sebelum ekspresi gen berlangsung, DNA harus dilipat
gandakan dulu.6

Replikasi

Proses replikasi DNA adalah proses pengandaan DNA dimana proses ini diperlukan
dalam pembelahan sel. Sebelum proses ekspresi gen, biasanya DNA dilipatgandakan menjadi
lebih banyak. Proses replikasi DNA pada dasarnya adalah 1 double stranded DNA dicopy
menjadi 2 buah, dari 2 buah akan dicopy menjadi 4 buah. Jadi berawal dari denaturasi DNA
yang akan membuka pilinan dari double stranded menjadi single stranded. Kemudian dengan
bantuan sebuah enzim yang disebut DNA polimerase, DNA akan terikat DNA polimerase
kemudian copy DNA terjadi. Melalui prinsip replikasi DNA ini lah PCR (Polymerase Chain
Reaction) dilakukan.7

Transkripsi

Ini merupakan tahap awal dalam proses sintesis protein yang pada akhirnya proses ini
akan mengekspresi sifat-sifat genetik yang muncul sebagai fenotip. Dan untuk mempelajari
biologi molekuler tahap dasar yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mekanisme sintesis
protein dapat dinyatakan sebagai sehingge fenotipe. Transkripsi adalah sintesis molekul RNA
dalam template DNA.Proses ini terjadi dalam inti sel (nukleus) tepatnya pada kromosom.
Komponen yang terlibat dalam proses transkripsi yaitu: DNA template yang terdiri dari basa
nukleotida Adenin (A), Guanin (G), Timin (T), Sitosin (S); enzim polimerase RNA, faktor
transkripsi, prekursor (bahan yang ditambahkan sebagai diinduksi) .

Hasil dari proses sintesis tiga jenis RNA, yaitu mRNA messeger RNA), tRNA
(transfer RNA), rRNA (RNA ribosomal). Sebelum itu saya akan menjelaskan terlebih dahulu
bagian utama dari gen. Gen terdiri atas: promoter, bagian struktural (terdiri dari gen yang
mengkode sifat yang akan diekspresikan), dan terminator. Sedangkan struktur RNA
polimerase terdiri atas: beta, beta-prime, alpha, sigma. Pada struktur beta dan beta-prime
bertindak sebagai katalisator dalam transkripsi. struktur Sigma untuk polimerase RNA
holoenzim berlangsung hanya menempel promotor.Bagian yang disebut enzim inti terdiri dari
alfa, beta, dan beta-prime.8

Tahapan dalam proses transkripsi pada dasarnya terdiri dari 3 tahap:

7
1. Inisiasi (Pengawalan)

Transkripsi tidak dimulai di mana saja pada DNA, tapi di hulu (upstream) dari gen
promotor. Salah satu bagian terpenting dari promoter adalah kotak Pribnow (TATA
box). Inisiasi dimulai ketika holoenzim RNA polimerase menempel pada promotor. Tahapan
dimulai dari pembentukan kompleks promoter tertutup, pembentukan kompleks promoter
terbuka, penggabungan beberapa nukleotida awal, dan perubahan konformasi RNA
polimerase karena struktur sigma holoenzim kompleks dihapus.

2. Elongasi (pemanjangan)

Proses selanjutnya adalah perpanjangan. Berikut ini adalah pemanjangan nukleotida


perpanjangan. Setelah promotor RNA polimerase melekat pada enzim tersebut akan terus
bergerak sepanjang molekul DNA, mengurai dan meluruskan heliks tersebut. Dalam
pemanjangan, nukleotida ditambahkan secara kovalen pada ujung 3 molekul RNA yang baru
dibentuk. Misalnya, DNA template nukleotida A, maka nukleotida RNA yang ditambahkan
adalah U, dan seterusnya. Pemanjangan maksimum tingkat molekul transkrip RNA berrkisar
antara 30-60 nukleotida per detik. Pemanjangan kecepatan tidak konstan.

3. Penghentian (Terminasi)

Penghentian juga tidak terjadi di sembarang tempat. Transkripsi berakhir ketika


sebuah nukleotida spesifik melihat kodon STOP.Selain itu, terlepas dari template DNA RNA
ribosom.

Translasi

Tahap selanjutnya setelah transkripsi adalah terjemahan.Penerjemahan adalah suatu


proses penerjemahan urutan nukleotida molekul mRNA yang ada dalam rangkaian asam
amino yang menyusun suatu polipeptida atau protein. Apa yang dibutuhkan dalam proses
penerjemahan adalah: mRNA, ribosom, tRNA, dan asam amino. Sebelumnya, saya pertama
akan menjelaskan tentang struktur ribosom. Ribosom terdiri atas subunit besar dan
kecil. Ketika dua subunit digabungkan untuk membentuk sebuah monosom. subunit kecil
berisi peptidil (P), dan Aminoasil (A). Sedangkan subunit besar mengandung Exit (E), P, dan
A. Kedua subunit mengandung satu atau lebih molekul rRNA. rRNA sangat penting untuk

8
mengidentifikasi bakteri pada tingkat biologi molekuler, pada prokariotik dan eukariotik 16 S
18 S.9

Seperti transkripsi, terjemahan ini juga dibagi menjadi tiga tahap:

1. Inisiasi
Pertama tRNA mengikat asam amino, dan ini menyebabkan acara diaktifkan atau tRNA
disebut asilasi-amino. Amino-asilasi proses dikatalisis oleh enzim tRNA sintetase. Kemudian
ribosom mengalami pemisahan menjadi subunit besar dan kecil.Selanjutnya molekul mRNA
subunit kecil menempel pada tongkat dengan kodon awal: 5 - AGGAGG 3. Situs order
dimana subunit kecil disebut urutan Shine-Dalgarno. Subunit kecil dapat menempel pada
mRNA bila IF-3. IF-3/mRNA-fMet IF-2/tRNA-fMet pembentukan kompleks dan asam amino
yang disebut N-formylmethionine dan memerlukan banyak GTP sebagai sumber
energi. tRNA-fMet, melekat pada kodon pembuka P subunit kecil.Selanjutnya, subunit besar
menempel pada subunit kecil. Dalam proses ini IF-1 dan IF-2 dilepas dan GTP dihidrolisis
terhadap GDP, dan siap untuk perpanjangan.

2. Pemanjangan
Perbedaan dalam proses transkripsi, terjemahan dari asam amino diperpanjang. Langkah-
langkah yang diambil dalam proses perpanjangan, yang pertama adalah pengikatan tRNA ke
sisi A pada ribosom. Transportasi akan membentuk ikatan peptida.

3. Penghentian
Terjemahan akan berakhir pada satu waktu dari tiga kodon terminasi (UAA, UGA, UAG)
yang berada dalam posisi A pada mRNA mencapai ribosom. Pada E. coli ketiga sinyal
penghentian proses translasi diakui oleh protein yang disebut faktor rilis (RF).Anil RF pada
kodon terminasi mengaktifkan enzim transferase peptidil yang menghidrolisis ikatan antara
polipeptida dng tRNA pada P dan menyebabkan tRNA kosong translokasi ke sisi memiliki E
(exit). Itulah mekanisme transkripsi dan proses penerjemahan. Proses selanjutnya adalah
protein tersebut akan diekspresikan oleh tubuh kita dalam bentuk fenotipe.10

Penanganan Albino
Perlindungan sinar matahari
Penderita albino diharuskan menggunakan sunscreen ketika terkena cahaya matahari

9
untuk melindungi kulit prematur atau kanker kulit. Baju penahan atau pelindung kulit
dari cahaya matahari yang berlebihan.
Bantuan daya lihat
Beberapa penderita albino sangat cocok menggunakan bifocals (dengan lensa yang
kuat untuk membaca), sementara yang lain lebih cocok menggunakan kacamata baca.
Penderita pun dapat memakai lensa kontak berwarna untuk menghalangi tranmisi
cahaya melalui iris. Beberapa menggunakan bioptik, kacamata yang mempunyai
teleskop kecil di atas atau belakang lensa biasa, sehingga mereka lebih dapat melihat
sekeliling dibandingkan menggunakan lensa biasa atau teleskop.
Pembedahan pada mata
Pembedahan mungkin untuk otot mata untuk menurunkan nystagmus, strabis mus, dan
kesalahan refraksi seperti astigmatisma. Pembedahan strabismus mungkin mengubah
penampilan mata. Pembedahan nistagmus mungkin dapat mengurangi perputaran bola
mata yang berlebihan. Efektifitas dari semua prosedur ini bervariasi masing-masing
individu. Namun harus diketahui, pembedahan tidak akan mengembalikan fovea ke
kondisi normal dan tidak memperbaiki daya lihat binocu lar. Dalam kasus esotropia
(bentuk crossed eyes dari strabismus), pembedahan mungkin membantu daya lihat
dengan memperbesar lapang pandang (area yang tertangkap oleh mata ketika mata
melihat hanya pada satu titik).11
Kesimpulan

Albino merupakan penyakit dari pewarisan sifat autosom yang timbul dari perpaduan
gen resesif. Ciri khas penderita albino adalah hilangnya pigmen melanin pada mata, kulit, dan
rambut. Gen albino menyebabkan tubuh tidak dapat membuat pigmen melanin. Mutasi juga
menjadi penyebab paling umum dari albinisme. Masing-masing gen akan memberikan
petunjuk kode kimia untuk membuat salah satu dari beberapa protein yang terlibat dalam
produksi melanin. Mutasi gen dapat menyebabkan jumlah melanin menurun bahkan mungkin
melanin tidak diproduksi sama sekali yang akan menyebabkan albino.

Daftar Pustaka

1. Roberts JAF. Genetika Kedokteran: suatu pengantar (An introduce to medical


genetics). 8th ed. Jakarta; ECG; 2005. p. 42-58
2. Suryo. Genetika Manusia. Yogyakarta. Gajah Mada Universty Press; 2009. P.126-8

10
3. Dorlan. Kamus Kedokteran Dorland. Philadelphia: W.B. Sauders Company;2007.
p.1518
4. Cooper ,G.M. dan R.E. Hausmann. 2009. The Cell A Molecular Approach, Third
Edition. Washington: ASM Press. Sinawer Associates ,Inc.Washington ,DC.
Sunderland, Massachusetts.
5. Reece C, Mitchelll. Biology. Biologi: Dasar Molekuler Penurunan Sifat. 5th ed.
Jakarta: Erlangga; 2011.p.298-312.
6. Anonymous. 2010. Penyakit Genetik. Diunduh dari :
http://penyakitgenetik.blogspot.com/, 1 Januari 2014
7. Fitspatrick TB. Dermatology in General Medicine. 5yh ed. United State of America:
The McGraw-Hill Company; 2010. P.925-36
8. Anonymous. Molecular Genetics. Diunduh dari :
hhtp://www.miami.edu/~cmallery/150/gene/mol_gen.htm. diakses 2 Februari 2014.
9. Strayer, L. 2007. Biokimia vol 2 edisi 4. Jakarta: Buku kedokteran EGC.
10. Suryani, Yoni. 2012. Biologi Sel dan Molekuler. Yogyakarta: FMIPA UNY.
11. Penanganan Albino. Diunduh dari http://bumi.blogspot.com/2014/02/albino.html. Diakses 2
Januari 2014.

11