Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH AGAMA ISLAM

TAUHID MENURUT NON AL-ASYARIYAH DAN AL-MATURUIDIYAH


INTEGRASI KETAUHIDAN DALAM KEILMUAN DAN PERILAKU

Disusun Oleh :

Heru Purbo Waseso NIM : 1652006


Awang Dwi Karyanto NIM : 1652008

PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK LISTRIK D III


INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
Jl. Bendungan Sigura-gura No.2 Malang 65145.Telp.(0341) 551431.Fax.(0341) 553015
Jl.Raya Karanglo.Km 2 Malang.Telp.(0341) 417636.Fax.(0341) 417634
Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat,
taufik, dan hidayahNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Harapan kami, semoga
makalah ini berguna untuk membantu pembaca dalam mempelajari ketauhidan menurut non Al-
Asyariyah dan Al-Maturuidiyah serta integrasi ketauhidan dalam keilmuan dan perilaku.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan pengerjaan makalah ini masih banyak
kekurangan, sehingga penulis berharap saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak
agar makalah ini dapat lebih bermanfaat.

Malang,05 Oktober 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................................i


DAFTAR ISI .......................................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................................................1
1.1. Latar Belakang .....................................................................................................................1
1.2. Tujuan...................................................................................................................................1
1.3. Batas Masalah.......................................................................................................................1
BAB II.TAUHID................................................................................................................................2
3.1. Macam-macam Tauhid Menurut Non Al-Asyariyah Dan
Al- Maturuidiyah.............................................................................................................2
3.2. Integrasi Ketauhidan Dalam Keilmuan Dan Perilaku.....................................................4
BAB III. PENUTUP............................................................................................................................6
4.1.Kesimpulan ...........................................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................................7

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Munculnya berbagai macam golongan-golongan aliran pemikiran dalam Islam telah
memberikan warna tersendiri dalam agama Islam. Pemikiran-pemikiran ini muncul setelah
wafatnya Rasulullah SAW. Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya berbagai
golongan dengan segala pemikiranya. Diantaranya adalah faktor politik sebagaimana yang telah
terjadi pertentangan antara kelompok Ali dengan pengikut Muawiyah, sehingga memunculkan
golongan yang baru yaitu golongan khawarij.
Golongan-golongan tersebut mempunyai pemikiran yang berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya. Ada yang masih dalam koridor Al-Quran dan sunnah, akan tetapi ada juga yang
menyimpang dari kedua sumber ajaran Islam tersebut. Ada yang berpegang pada wahyu, dan ada
pula yang menempatkan akal yang berlebihan sehingga keluar dari wahyu. Dan ada juga yang
menamakan dirinya sebagai ahlussunnah wal jamaah.
Adapun ungkapan ahlussunnah (sering juga disebut sunni) dapay dibedakan menjadi dua
pengertian, yaitu umum dan khusus. Sunni dalam pengertian umum adalah lawan dari kelompok
syiah. Dalam pengertian ini mutazilah termasuk juga asyariyah masuk dalam barisan sunni.
Sunni dalam arti khusus adalah mahzab yang berada dalam barisan Asyariyah dan merupakan
lawan mutazilah. Pengertian kedua inilah yang dipakai dalam pembahasan ini. Selanjutnya, term
ahlussunnah banyak dipkai setelah munculnya aliran Asyariyah dan Maturidiyah, dua aliran
yang menentang aliran mutazilah.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui macam-macam tauhid
menurut non Al-Asyariyah dan Al-Maturuidiyah serta memahami integrasi ketauhidan .
dalam keilmuan dan perilaku

1.3 Batasan Masalah


Untuk menjaga agar pembahasan materi dalam makalah ini lebih terarah, maka penulis
menetapkan beberapa batasan masalah sebagai berikut :
1.Menjelaskan macam-macam tauhid menurut non Al-Asyariyah dan Al-Maturuidiyah
2.Menjelaskan integrasi ketauhidan dalam keilmuan dan perilaku

1
BAB II
TAUHID

3.1. Macam-macam Tauhid Menurut Non Al-Asyariyah Dan Al- Maturuidiyah


Adapun macam-macam tauhid menurut Non Al-Asyariyah sebagai berikut:
A. Tuhan dan sifat-sifatnya
Al-asyari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok mujasimah
(antropomorfis) dan kelompok musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat
yang disebutkan dalam Al-Quran dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut harti
harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain adalah esensi-
esensinya.
Al-asyari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu, seperti mempunyai
tangan dan kaki dan ini tidak boleh diartikan secara hartiah, sifat-sifat Allah itu unik sehingga
tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.

B. Kebebasan dalam berkehendak (free will)


Dari dua pendapat yang ekstrim, yakni jabariah dan fatalistic dan penganut faham
pradterminisme semata-mata dan mutazilah yang menganut faham kebebasan mutlak dan
berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Al-asyari membedakan antara
khaliq dan kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan
manusia sendiri yang mengupayakannya (muktasib), hanya Allah lah yang mampu menciptakan
segala sesuatu (termasuk keinginan manusia).

C. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk


Walaupun Al-asyari dan orang-orang mutazilah mengakui pentingnya akan dan wahyu,
mereka berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal
dan wahyu. Al-asyari mengutamakan wahyu, sementara mutazilah mengutamakan akal.

D. Qadimnya Al-Quran
Mutazilah mengatakan bahwa Al-Quran diciptakan (makhluk) sehingga tak qadim serta
pandangan mazhab Hambali dan Zahiriah yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah kalam
Allah (yang qadim dan tidak diciptakan). Zahiriah bahkan berpendapat bahwa semua huruf, kata
dan bunyi Al-Quran adalah qadim. Dalam rangka mendamaikan kedua pandangan yang saling
bertentangan itu Al-asyari mengatakan bahwa walaupun Al-Quran terdiri atas kata-kata, huruf
dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim.

E. Melihat Allah
Al-asyari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah yang
menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akherat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di
1 Hamid,Jalal Muhammad Abd,Al-, Nasyiah Al-Asyariyah wa Tatawwaruh,Dar Al-
Kitab,Beirut,1975.
2
Arsy. Selain itu ia tidak sependapat dengan mutazilah yang mengingkari ruyatullah (melihat
Allah) di akherat. Al-asyari yakin bahwa Allah dapat dilihat atau bilamana ia menciptakan
kemampuan penglihatan manusia untuk melihatnya.

F. Keadilan
Pada dasarnya Al-asyari dan mutazilah setuju bahwa Allah itu adil. Al-asyari tidak
sependapat dengan mutazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa
orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak
memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlaq.
G. Kedudukan orang berdosa
Menurut Al-asyari mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab
iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.

Adapun macam-macam tauhid menurut Al- Maturuidiyah sebagai berikut:


A. Akal dan wahyu
Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat
diketahui dengan akal. Kemampuan akal dalam mengetahui dua hal tersebut sesuai dengan ayat-
ayat Al-Quran yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memperoleh
pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang
mendalam tentang makhluk ciptaannya.
B. Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu
dalam wujud ini adalah ciptaannya. Dalam hal ini, Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar
sebagai perbuatan manusia dan qudrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia.
C. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
Menurut Al-Maturidi qudrat Tuhan tidak sewenang-wenang (absolut), tetapi perbuatan
dan kehendaknya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkannya
sendiri.
D. Sifat Tuhan
Dalam hal ini faham Al-Maturidi cenderung mendekati faham mutzilah. Perbedaan
keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan
mutazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
2

E. Melihat Tuhan
Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Hal ini diberitahukan
oleh Al-Quran, antara lain firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 22dan 23. namun melihat
Tuhan, kelak di akherat tidak dalam bentuknya (bila kaifa), karena keadaan di akherat tidak sama
dengan keadaan di dunia.

2 Hamid,Jalal Muhammad Abd,Al-, Nasyiah Al-Asyariyah wa Tatawwaruh,Dar Al-


Kitab,Beirut,1975.
3
F. Kalam Tuhan
Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara
dengan kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau kalam abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim
bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadist).
G. Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi, tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini, kecuali
semuanya atas kehendak Tuhan, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan
kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri.
H. Pengutusan Rasul
Pandangan Al-Maturidi tidak jauh beda dengan pandangan mutazilah yang berpendapat
bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat
berbuat baik dan terbaik dalam kehidupannya.
I. Pelaku dosa besar
Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di
dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat.

3.2. Integrasi Ketauhidan Dalam Keilmuan Dan Perilaku

A)Integrasi Agama Dan Ilmu Pengetahuan


Telah jelas bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tidak ada pertentangan, bersifat
integral, tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Hubungan tersebut menunjukkan
betapa positifnya Islam memandang ilmu pengetahuan (dan hal-hal yang berkaitan dengan
kegiatan ilmiah). Dalam kaitan ini, pendidikan Islam bisa dihayati dan dipahami secara lengkap
dan kaffah (utuh dan menyeluruh tidak dikotomi antara pendidikan agama dengan pendidikan
umum).
Sebagai konsekuensi dari tidak adanya pemisahan antar ilmu dan agama, dapat pula
ditegaskan bahwa tidak ada pemisahan antara apa yang disebut ilmu agama dan ilmu umum.
Munir Mursi menyatakan bahwa seluruh ilmu adalah Islami sepanjang berada di dalam batas-
batas yang digariskan Allah kepada kita.
3

Dalam konsep Islam (Timur), semua yang dipikirkan,. dikehendaki, dirasakan dan diyakini,
rnembawa manusia kepada pengetahuan dan secara sadar menyusunnya ke dalam sistem yang
disebut Ilmu. Tetapi berbeda dengan konsep Barat, yang mengelompokkan ilmu itu kepada tiga:
1. Natural Sciences (ilmu-ilmu kealaman, murni, biologi, fisika, kimia dan lainnya)
2. Social Sciences (ilmu- ilmu kemasyarakatan yang menyangkut perilaku manusia dalam
interaksinya dalam masyarakat, dan

3 Hamid,Jalal Muhammad Abd,Al-, Nasyiah Al-Asyariyah wa Tatawwaruh,Dar Al-


Kitab,Beirut,1975.
4
3. The Humanities (humaniora), ialah ilmu-ilmu kemanusiaan yang menyangkut kesadaran
akan perasaan kepribadian dan nilai- nilai yang menyertainya sebagai manusia.

B)Integrasi antara Tauhid dan Perilaku

Kajian relasi antara Tauhid dan Perilaku adalah sama halnya dengan kajian terhadap
sumber aktivitas dan aktivitas itu sendiri. Jika sumbernya baik sholih maka dapat di pastikan
bahwa hasilnyapun bersih dan baik, karena keduanya adalah satu kesatuan. Dalam pandangan ar-
Rz bahwa hubungan Tauhid dengan etika adalah keterkaitan baik dan buruknya akhlak atau
etika yang sangat bergantung pada bersih dan kotornya jiwa dan mencerminkan kualitas dari
iman dan tauhid itu sendiri.Artinya keduanya bagaikan kesatuan yang tak terpisahkan integrated.

Prinsip Etika dalam Islam


Mengingat etika Islam berlandaskan pada al-Quran dan sunnah nabi Muhammad, maka
itu merupakan titik awal mula seseorang akan dinilai baik dan buruk. Karena hal ini merupakan
cerminan kuwalitas dan tingkatan etika yang ada pada dirinya. Untuk itu etika bukan hanya
sekedar konsep yang terpaku tanpa ada penerapannya, melainkan mempunyai wujud yang real
dalam agama.
4

BAB III
PENUTUP

4.1.Kesimpulan
Kelompok Asyariyah dan Al-maturidi muncul karena ketidakpuasan Abul Hasan Al-
Asyari dan Abu Manshur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Al-Maturidi terhadap
argumen dan pendapat-pendapat yang dilontarkan oleh kelompok Muktazilah. Dalam

4.http://ustadzmuis.blogspot.com/2009/02/paham-kalam-asyariyah.html#uds-search-results

5
perjalannya, Asyari sendiri mengalami tiga periode dalam pemahaman akidahnya, yaitu
Muktazilah, kontra Muktazilah, dan Salaf.
Antara Asyariyah dan Maturidiyah sendiri memiliki beberapa perbedaan, di antaranya
ialah dalam hal-hal sebagai berikut: Tentang sifat Tuhan, tentang perbuatan manusia, tentang
Al_Quran,kewajiban tuhan, Pelaku dosa besar, Rupa tuhan, dan juga janji tuhan.
Pokok-pokok ajaran al-Maturidiyah pada dasarnya memiliki banyak kesamaan dengan
aliran al-Asy'ariyah dalam merad pendapat-pendapat Mu'tazilah.Perbedaan yang muncul bisa
dikatakan hanya dalam penjelasan ajaran mereka atau dalam masalah cabang.
Pemikiran-pemikiran al Maturidi jika dikaji lebih dekat, maka akan didapati bahwa al
Maturidi memberikan otoritas yang lebih besar kepada akal manusia dibandingkan dengan
Asyari. Namun demikian di kalangan Maturidiah sendiri ada dua kelompok yang juga memiliki
kecenderungan pemikiran yang berbeda yaitu kelompok Samarkand yaitu pengikut-pengikut al
Maturidi sendiri yang paham-paham teologinya lebih dekat kepada paham Mutazilah dan
kelompok Bukhara yaitu pengikut al Bazdawi yang condong kepada Asyariyah.
Mengingat etika Islam berlandaskan pada al-Quran dan sunnah nabi Muhammad, maka
itu merupakan titik awal mula seseorang akan dinilai baik dan buruk. Karena hal ini merupakan
cerminan kuwalitas dan tingkatan etika yang ada pada dirinya. Untuk itu etika bukan hanya
sekedar konsep yang terpaku tanpa ada penerapannya, melainkan mempunyai wujud yang real
dalam agama.

6
DAFTAR PUSTAKA

Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Cet. 1; Jakarta: Pustaka Al Husna Baru: 2003),

Abd2ul Kadir bin Tahir bin Muhammad, Al-Farqu Bainal Firaq (Dar al-Kutub al-ilmiah: Beirut:
Hamid,Jalal Muhammad Abd,Al-, Nasyiah Al-Asyariyah wa Tatawwaruh,Dar Al-
Kitab,Beirut,1975.

http://ustadzmuis.blogspot.com/2009/02/paham-kalam-asyariyah.html#uds-search-results

Al-Faruqi, Ismail Raji, 1998, Tauhid, Bandung: Penerbit Pustaka.


Aminah, Wiwin Siti, dkk, Sejarah, Teologi, dan Etika Agama-agama, Yogyakarta: Interfidei.
Jarman Arroisi, 2013, Integrasi Tauhid dan Akhlak dalam Pandangan Fakhruddin Ar-Razi,
dalam Tsaqofah, Vol 9, Nomor 2, Gontor, Institut Studi Islam Darussalam (ISID)..