Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

dengue I, II, III, dan IV, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty dan Aedes

albopictus. Sejak tahun 1968 penyakit ini di temukan di Surabaya dan di Jakarta,

selanjutnya sering terjadi kejadian luar biasa dan meluas ke seluruh wilayah republik

Indonesia. Oleh karena itu, penyakit ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang

awalnya banyak menyerang anak tetapi akhir-akhir ini menunjukkan pergeseran

dengan menyerang orang dewasa (Soegijanto, 2006).

World Health Organization (WHO), demam berdarah dengue (DBD)

merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat secara global, nasioanal dan

local. Lebih dari 2,5 milyar penduduk (lebih dari 40% populasi dunia) beresiko

terinfeksi DBD. Saat ini, DBD menjadi penyakit endemic di lebih dari dari 100

negara di Afrika, Amerika, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat dan

untuk pertama kalinya dilaporkan terjadi kasus demam berdarah dengue (DBD) di

Prancis, Kroasia dan beberapa Negara lain (WHO 2012)

CFR (Case Fatality Rate) penyakit DBD mengalami penurunan dari tahun ke

tahun walaupun tetap masih tinggi. CFR tahun 1968 sebesar 43%, tahun 1971 sebesar

14 %, tahun 1980 sebesar 4,8 %, dan tahun 1999 masih di atas 2 %. Data dari

1
2

Departemen Kesehatan RI melaporkan bahwa pada tahun 2004 tercatat 17.707 orang

terkena DBD di 25 provinsi dengan kematian 322 penderita selama bulan Januari dan

Februari. (Widoyono, 2011)

Gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang telah

terinfeksi oleh virus dengue dari penderita penyakit DBD (demam berdarah dengue)

sangat mustahil dapat memutus rantai penularan jika masyarakat tidak terlibat sama

sekali. Peran serta masyarakat ini dapat berwujud pelaksanaan kegiatan 3 M

(Menguras, Menutup, Menabur) di sekitar rumah dan melaksanakan PSN

(Pemberantasan Sarang Nyamuk) pada lingkungannya. Ketidakberhasilan

pemberantasan DBD secara menyeluruh dapat terjadi di karenakan tidak semua

masyarakat melakukan upaya pemberantasan vektor penular dan pemberantasan

sarang nyamuk tidak mungkin dapat dilakukan apabila anggota masyarakat dari

perkotaan sampai lingkungn pedesaan atau rumah tangga tidak mau melakukannya

(Depkes, 2008).

Perjalanan penyakit infeksi dengue sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu

masuk keadaan umumnya tampak baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan

tidak tertolong (Stadium Sindrom Syock Dengue = SSD). Sampai saat ini masih

sering dijumpai penderita demam berdarah dengue (DBD) yang semula tidak tampak

berat secara klinis dan laboratories, namun mendadak syock sampai meninggal dunia.

Sebaliknya banyak pula penderita DBD yang klinis maupun laboratories nampak

berat namun teryata selamat dan sembuh dari penyakitnya. Kenyataan di atas

membuktikan bahwa sesungguhnya masih banyak misteri dalam imunopatogonesis


3

infeksi dengue yang belum terungkap, walaupun sampai saat ini tidak sedikit peneliti

yang mendalami bidang tersebut, namun hasil yang memuaskan belum terlihat secara

jelas di dalam mengungkapkan berbagai faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut

di atas.

Penyakit ini termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan

wabah, maka sesuai dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1984 tentang wabah

penyakit menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, setiap

penderita termasuk tersangka DBD harus segera dilaporkan selambat-lambatnya

dalam jangka waktu 24 jam oleh unit pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas,

poliklinik, balai pengobatan, dokter praktik swasta, dan lain-lain) (Depkes 2008 RI)

Indonesia mempunyai resiko besar untuk terjangkit penyakit demam berdarah

dengue karena virus dengue dan nyamuk penularnya yaitu Aedes aegypti tersebar luas

di seluruh daerah-daerah pedesaan maupun perkotaan, baik di rumah-rumah maupun

di tempat-tempat umum, kecuali daerah yang ketinggiannya lebih dari 1.000 meter

dari permukaan air laut. Iklim tropis juga mendukung berkembangnya penyakit ini,

lingkungan fisik (curah hujan) yang menyebabkan tingkat kelembaban tinggi,

merupakan tepat potensial berkembangnya penyakit ini. Nyamuk ini berkembang

biak di tempat-tempat penampungan air atau tandon, seperti bak kamar mandi, drum,

tempayan danbarang bekas yang dapat menampung air hujan baik di rumah, sekolah,

dan tempat umum lainnya .

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sumut disebutkan hingga September

2012 sebanyak 3.060 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumatera Utara
4

(Sumut). Namun dari jumlah tersebut sebanyak 18 orang yang meninggal. Kabid

Penanggulangan Masalah Kesehatan, Sukarni SKM mengatakan, Kota Medan

merupakan yang terbesar jumlah kasus DBD yaitu 956 orang, diikuti Simalungun 423

kasus dan 1 meninggal, Pematang Siantar 381 kasus, Deli Serdang 343 kasus dan

Asahan 115 kasus dan 1 meninggal, namun berdasarkan insiden rate (IR) atau angka

kejadian yang timbul dibandingkan jumlah penduduk, Siantar lebih tinggi insiden rate

yaitu 160,8. Medan IRnya 45,2 maksudnya dari 100 ribu penduduk ada 45 orang

yang DBD. Kalau Siantar kasusnya 381 tapi IRnya 160,8, artinya dalam 100 ribu

penduduk ada 160 kasus DBD.( Sofyan Akbar, akses 2 Pebruari 2014)

Medan merupakan salah satu kota dengan kasus Demam Berdarah (DBD)

yang cukup tinggi dengan jumlah kasus yang mencapai 956 kasus, Kasus demam

berdarah tersebar pada 21 kecamatan di kota medan, dengan tingakat kasusu demam

berdarah tertinggi pada daerah kecamatan medan Helvetia, di ikuti dengan wilayah

kecamatan Medan Belawan (Dinkes Kota Medan 2012)

Tahun 2010 kecamatan Medan Belawan mempunyai 63 kasus DBD dengan

kematian 2 orang (Dinkes Kota Medan, 2010), tahun 2011 kecamatan Medan

Belawan mempunyai 77 kasus DBD dan tidak ada kematian, Salah satu wilayah

kelurahan yang memiliki distribusi penyebaran teringgi adalah di wilayah Kelurahan

Belawan Bahagia

\Adapun jumlah penderita demam berdarah dengue di wilayah kerja

Puskesmas Belawan dari Tahun 2010 2012 dimana pada bulan januari sampai

desember terdapat 25 kasus ,kemudian terjadi peningkatan pada tahun 2011 terdapat
5

43 kasus, dan selanjutnya pada tahun 2012 terjadi penurunan penderita drastis hingga

menjadi sebanyak 18 kasus. (Data Puskesmas Belawan, 2012).

Selain memiliki Jumlah penduduk yang cukup padat yakni 15.924 jiwa pada

luas wilayah 54 Ha (Profil Kec.Belawan 2013) wilayah Kelurahan Belawan Bahagia

merupakan daerah pasang surut serta sebagian masayarakat tinggal pada hunian

apung yang pada umumnya memanfaatkan banyak container penampungan air

sebagai tempat penampungan air baku rumah tangga, Kondisi ini dapat menyebabkan

tingginya angka jentik nyamuk Aedes sp pada container air yang jarang dibersihkan.

Salah satu upaya untuk dapat menekan angka kejadian DBD adalah dengan

melaksanakan kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur) di sekitar rumah dan

melaksanakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) pada lingkungannya.

Berdasarkan hal diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang

Hubungan pengelolaan dan praktek PSN dengan Keberadaaan Jentik Vektor

Denggue.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian adalah untuk

mengetahui apakah ada Hubungan pengelolaan dan praktek PSN dengan

Keberadaaan Jentik Vektor Denggue. Diwilayah kerja Puskesmas Medan Selayang.


6

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui bagaimana Hubungan

pengelolaan dan praktek PSN dengan Keberadaaan Jentik Vektor Denggue.

Diwilayah kerja Puskesmas Medan Selayang.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui Pengelolaan dan dan Pelaksanaan Praktek PSN Diwilayah

kerja Puskesmas Medan Selayang.

b. Untuk Mengetahui Keberadaan Jentik Vektor dengue pada wilayah

Puskesmas Medan Selayang.

c. Hubungan pengelolaan dan praktek PSN dengan Keberadaaan Jentik Vektor

Denggue. Diwilayah kerja Puskesmas Medan Selayang.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin disampaikan dalam penelitian ini adalah:

a. Bagi Masyarakat

Sebagai bahan masukkan untuk dapat meningkatkan partisipasi

masyarakat dalam kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit

DBD.

b. Bagi Puskesmas
7

Sebagai bahan masukkan bagi Puskesmas Medan Selayang dalam

melakukan upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan demam berdarah

dengue.

c. Bagi Dinas Kesehatan

Sebagai bahan masukkan bagi Dinas Kesehatan setempat di wilayah

Kecamatan Belawan Bahagia Medan Belawan dalam menentukan langkah

selanjutnya untuk melakukan pencegahan DBD.

d. Bagi Peneliti

Mendapat pengetahuan dan pengalaman penelitian tentang pengaruh

perilaku masyarakat dalam menguras, menutup, mengubur dalam

menghindari diri dari gigitan nyamuk terhadap kejadian DBD di wilayah

Puskesmas Medan Selayang maupun bagi masyarakat sebagai bahan

informasi dan bahan tambahan yang dapat menambah pengetahuan

tentang perilaku pencegahan penyakit DBD melalui kegiatan

pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan 3M di lingkungan tempat

tinggal mereka.

e. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan masukan bagi peniliti selanjutnya dalam penerapan

PSN dan 3M tepat guna dalam pencegahan DBD di Wilayah

Puskesmas Kecamatan Medan Selayang.