Anda di halaman 1dari 4

KERANGKA ACUAN KINERJA SKRINING GANGGUAN REFLEKSI

PADA ANAK SEKOLAH UPT BLUD PUSKESMAS SELABATU KOTA


SUKABUMI

A. PENDAHULUAN
Sejak tahun 1996, persentase penderita kebutaan di Indonesia masih berada pada angka 1,5%. Ini
merupakan angka kebutaan terbesar di wilayah Asia Tenggara, sebanding dengan negara di sub-sahara
Afrika. Kebutaan disebabkan oleh berbagai kelainan/penyakit pada mata, antara lain katarak (baik sejak lahir,
proses penyakit, atau penuaan), glaukoma, kelainan refraksi, dan gangguan metabolik seperti kencing manis
dan tekanan darah tinggi. Padahal, 80% kasus kebutaan bisa dicegah.

Penyebab tersering kebutaan adalah katarak, kebutaan pada anak, dan gangguan refraksi (WHO, 2011). Di
Indonesia, dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun), 10% mengalami gangguan akibat kelainan refraksi.
Angka pemakaian kacamata koreksi pun masih rendah, yaitu 12,5%.

Tentu ini menarik untuk diperhatikan. Apabila tidak ditangani secara sungguh-sungguh, hal tersebut bisa
berpengaruh pada perkembangan kecerdasan anak. Proses belajar anak yang terhambat dapat
mempengaruhi mutu/kualitas, kreativitas, dan produktivitas pada usia produktif kelak (15-64 tahun).

Oleh karena itu, masalah penglihatan tak semata menjadi tanggung jawab pelayanan kesehatan, tetapi juga
pemerintah dan masyarakat secara umum. Orangtua misalnya, perlu memperhatikan apakah anaknya
menunjukkan gejala penurunan tajam penglihatan. Contohnya gejala tersebut di antaranya menonton televisi
dengan jarak dekat, anak kesulitan membedakan warna, memicingkan mata bila melihat sesuatu, atau
pandangan mata tidak lurus kedepan,

Pelaksanaan program skrining gangguan refleksi pada anak sekolah dilaksnakan sesuai visi UPT BLUD
PUSKESMAS SELABATU KOTA SUKABUMI yaitu terwujudnya pusat pelayanan kesehatan dasar yang
berkualitas guna menunjang tercapainya masyaratakat KOTA SUKABUMI yang sehat dan mandiri,pemberian
pelayanan yang diberikan secara kompeten professional dan berkualitas sesuai dengan tata nilai UPT BLUD
PUSKESMAS SELABATU yaitu kompeten,inovatif motivatif,entrepereuship,professional dan berkualitas.

Latar Belakang

Gangguan fungsi penglihatan merupakan masalah kesehatan yang serius. Mengapa? Karena terganggunya
proses melihat dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup seseorang. Bahkan, setiap tahunnya
badan kesehatan dunia (WHO) memperingati hari penglihatan sedunia yang jatuh pada hari kamis minggu
kedua bulan Oktober.

Tidak hanya pada orang dewasa, gangguan melihat juga dapat terjadi pada anak-anak, khususnya anak usia
sekolah dasar. Mereka seringkali tidak menyadari bahkan mengabaikannya. Oleh karena itu, diperlukan
peranan aktif dari petugas kesehatan, orangtua, guru, dan teman sebaya untuk screening awal terhadap
kemampuan penglihatan.

Screening (pemeriksaaan) awal terhadap kemampuan penglihatan dapat dilakukan dengan sederhana.
Cukup dengan membaca kartu Snellen yang berjarak 6 meter, seseorang dapat diketahui ada tidaknya
gangguan penglihatan. Tajam penglihatan optimal (6/6) menunjukkan bahwa anak dapat melihat huruf pada
kartu Snellen yang berjarak 6 meter, yang juga dapat dibaca oleh anak dengan penglihatan normal. Jika
ada murid dengan tajam penglihatan tidak 6/6, ia harus segera dilaporkan serta dirujuk ke Puskesmas atau
dokter ahli mata.
Penyebab paling umum gangguan mata pada anak usia sekolah di antaranya mata silindris (astigmatisme),
miopi, dan mata malas (ambliopi). Masyarakat Indonesia cenderung memiliki kelainan refraksi karena
adanya faktor genetis. Idealnya, pemeriksaan penglihatan dilakukan setiap 6 bulan.
Berdasarkan data di atas maka di susunlah kerangka acuan program skrining gangguan
refleksi pada anak sekolah
Tujuan :
a. Umum
Agar diketahui secara dini kelainan mata pada murid SD Khususnya visus sehingga diharapkan
murid tidak terganggu dalam proses belajar mengajar dan untuk mencegah kasusnya menjadi
lebih parah.
b. Khusus
Agar anak tidak terganggu karena belum paham akan kekurangannya
Untuk mengetahui tingkat prevalensi kecenderungan myopia (rabun jauh) pada anak
usia sekolah

1. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan


NO Kegiatan Pokok Rincian Kegiatan
1 Pemeriksaan visus 1.
Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan penglihatan memerlukan
pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata yang mengakibatkan turunnya visus. Visus
perlu dicatat pada setiap mata yang memberikan keluhan.

2. Cara melaksanakan kegiatan.


Pemeriksaan visus dapat dilakukan dengan menggunakan Optotype Snellen, kartu cincin Landolt,
kartu uji E, dan kartu uji Sheridan / Gardiner. Optotype snellen terdiri atas sederetan hurup
dengan ukuran yang berbeda dan bertingkat serta disususn dalam baris mendatar, hurup teratasa
adalah hurup yang besar, makin kebawah makin kecil. Penderita membaca Optotype Snellen dari
jarak 6 meter, karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau
tanpa akomodasi. Pembnilang menunjukkan jarak pasien dengan kartu, sedangkan penyebut
adalah jarak pasien yang penglihatannya masih normal bisa membaca baris yang sama pada kartu.
3. Sasaran
Adapun yang menjadi sasaran program skrining mata adalah seluruh siswa / siswi sekolah dasar
(SD)
4. Jadwal pelaksanaan kegiatan
Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan setiap tahun
Pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan jadwal yang telah disepakati antara pihak
sekolah dengan tim Puskesmas

JADWAL RENCANA / PROGRAM SKRINING MATA


PUSKESMAS PEMURUS DALAM
TAHUN 2016

PELAKSANAAN / BULAN
NO KEGIATAN BIDANG
JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOV DES
1 MATA 1 YANKES
2
5. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan
Hasil dari pelaksanaan skrining mata dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Bagian YANKES dengan
format yang sudah ditentukan oleh Dinas Kesehatan
6. Pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan
Kegiatan skrining mata dilakukan setiap satu tahun sekali, dan hasil pelaksananan dilaporkan ke
Dinas Kesehatan. Evaluasi dilaksanakan satu tahun sekali untuk menjadi acuan pelaksanaan
kegiatan pada periode berikutnya.