Anda di halaman 1dari 14

Statistik Deskriptif

Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif berhubungan dengan aktivitas penghimpunan, penataan, peringkasan dan penyajian
data dengan harapan data mudah dibaca dan dipahami oleh pengguna data. Statistik deskriptif
memberikan deskripsi atau gambaran secara umum karakteristik objek yang diteliti tanpa melakukan
generalisasi.

Pengolahan data yang dilakukan dalam analisis statistik deskriptif misalnya adalah melakukan
penghitungan ukuran pemusatan data (rata-rata, mediandan modus), penghitungan ukuran penyebaran
data (range, koefisien variasi, varian dan standar deviasi), serta kecenderungan suatu gugus data
(kemencengan dan keruncingan).

Selain itu, supaya data lebih mudah dipahami maka data ditabulasi serta disajikan dalam bentuk grafik
atau diagram. Grafik dan diagram dimaksudkan agar data yang disajikan lebih menarik dan lebih
komunikatif.

Rata-rata Hitung (Mean)

Rata-rata atau Mean adalah ukuran statistik kecenderungan terpusat sama halnya
seperti Median dan Modus.

Rata-rata ada beberapa macam, yaitu rata-rata hitung (aritmatik), rata-rata geometrik, rata-rata harmonik
dan lain-lain. Tetapi jika hanya disebut dengan kata "rata-rata" saja, maka rata-rata yang dimaksud
adalah rata-rata hitung (aritmatik).

Penghitungan

Penghitungan rata-rata dilakukan dengan menjumlahkan seluruh nilai data suatu kelompok sampel,
kemudian dibagi dengan jumlah sampel tersebut. Jadi jika suatu kelompok sampel acak dengan jumlah
sampel nn, maka bisa dihitung rata-rata dari sampel tersebut dengan rumus sebagai berikut.

Jika dinotasikan dengan notasi sigma, maka rumus di atas menjadi:

Contoh Penghitungan

Misalkan kita ingin mengetahui rata-rata tinggi badan siswa di suatu kelas. Kita bisa mengambil sampel
misalnya sebanyak 10 siswa dan kemudian diukur tinggi badannya. Dari hasil pengukuran diperoleh data
tinggi badan kesepuluh siswa tersebut dalam ukuran sentimeter (cm) sebagai berikut.
172,167,180,170,169,160,175,165,173,170
Dari data di atas dapat dihitung rata-rata dengan menggunakan rumus rata-rata:
Dari hasil penghitungan, bisa diambil kesimpulan bahwa rata-rata tinggi badan siswa di kelas tersebut
adalah 170,1 cm. Hasil tersebut bisa dibuktikan dengan menggunakan Microsoft Excel di
halaman Menghitung Rata Dengan Microsoft Excel.

Contoh Soal No. 1

Hitunglah rata-rata dari data 6,6,4,6,2,5,5,6,7,6,8!

Jawab:

Dari data tersebut dapat kita ketahui bahwa jumlah data adalah 11 (n=11). Dengan menggunakan rumus
kita dapat menghitung rata-ratanya.

Rata-rata dari data tersebut adalah 5,55.

Contoh Soal No. 2

Diberikan data sebagai berikut: 4,3,5,4,6,3,6,7,8,7,8,8. Hitunglah rata-ratanya!

Jawab:

Banyaknya data di atas adalah 12 (n=12). Rata-rata dari data di atas adalah

Rata-rata dari data tersebut adalah 5,75.

Contoh Soal No. 3


Rata-rata nilai ujian matakuliah statistika 29 orang mahasiswa adalah 70. Ketika nilai ujian matakuliah
statistika milik Andi digabungkan dengan nilai-nilai mahasiswa tersebut, rata-rata nilai naik menjadi 71.
Berapakah nilai Andi tersebut?

Jawab:

Soal tersebut dapat diselesaikan dengan menambahkan total keseluruhan nilai mahasiswa dengan nilai
Andi kemudian dibagi dengan jumlah mahasiswa yang nilainya dijumlahkan (termasuk Andi).

Dari soal diketahui jumlah mahasiswa sebelum nilai Andi dimasukkan adalah 29 (n=29) dan rata-ratanya
adalah 70 (x=70). Total keseluruhan nilai mahasiswa sebelum nilai Andi dimasukkan adalah

Dengan masuknya nilai Andi, jumlah mahasiswa bertambah menjadi 30 (n=30) dan rata-rata nilainya
naik menjadi 71 (x=71). Selanjutnya nilai Andi dapat diketahui dengan memasukkan komponen yang
baru tersebut pada rumus rata-rata.

Dengan demikian, nilai rata-rata Andi adalah 100

Contoh Soal No. 4

Berikut ini adalah data nilai mahasiswa untuk mata kuliah statistika, nilai mahasiswa diurutkan dari yang
terendah ke yang tertinggi:
4,4,4,5,5,5,5,5,6,6,6,6,7,7,7,7,7,7,8,9
Menurut pertimbangan dosen, mahasiswa harus mengulang ujian kembali untuk memperbaiki nilai
apabila nilai yang mereka dapatkan berada di bawah rata-rata. Berapa orangkah yang harus
memperbaiki nilainya tersebut?

Jawab:

Sebelum menghitung jumlah mahasiswa yang harus memperbaiki nilainya, kita harus menghitung dulu
rata-rata nilai tersebut. Diketahui banyaknya data adalah 20 (n=20), sehingga nilai rata-ratanya dapat
dihitung sebagai berikut.
Rata-rata nilai mahasiswa adalah 6, dengan demikian mahasiswa yang harus mengulang ujian adalah
mahasiswa yang nilainya berada di bawah 6. Jumlah mahasiswa yang nilainya di bawah 6 adalah 8
orang.

Contoh Soal No. 5

Sebuah keluarga memiliki 8 orang anak, yaitu A, B, C, D, E, F, G, H. Umur A adalah 2x+1 tahun, umur B
adalah x+1 tahun, umur C, D, E, F, G dan H berturut-turut
adalah x+2, x+3, x+4, x+5, x+6 dan x+7 tahun. Jika rata-rata umur semua anak tersebut adalah 7.
Berapakah umur A?

Jawab:

Umur A adalah 2x+1, dimana untuk menghitungnya, nilai x harus kita ketahui terlebih dahulu. Dari soal
diketahui rata-rata umur adalah 7 dan banyaknya data adalah 8 (n=8). Jika komponen-komponen yang
diketahui dalam soal di atas dimasukkan ke dalam rumus rata-rata, maka

Nilai x adalah 3, dengan demikian umur A adalah 2(3)+1=7 tahun.

Median Data Tunggal

Median adalah nilai tengah dari data yang telah disusun berurutan mulai dari yang terkecil sampai
dengan yang terbesar. Secara matematis median dilambangkan dengan Me yang dapat dicari dengan
cara sebagai berikut.

Median untuk jumlah data (n) ganjil

Median untuk jumlah data (n) genap


Keterangan:
Me = Median
n = jumlah data
x = nilai data

Contoh 1:
Lima orang anak menghitung jumlah kelereng yang dimilikinya, dari hasil penghitungan mereka diketahui jumlah
kelereng mereka adalah sebagai berikut.

5, 6, 7, 3, 2

Median dari jumlah kelereng tersebut adalah?

Jawab:
Karena jumlah data adalah ganjil, maka penghitungan median menggunakan rumus median untuk data ganjil. Proses
penghitungannya adalah sebagai berikut.

Dari rumus matematis di atas, diperoleh bahwa median adalah x3. Untuk mengetahui x3, maka data harus diurutkan
terlebih dahulu. Hasil pengurutan data adalah sebagai berikut.

2, 3, 5, 6, 7

Dari hasil pengurutan dapat kita ketahui mediannya (x3) adalah 5.

Contoh 2:
Sepuluh orang siswa dijadikan sampel dan dihitung tinggi badannya. Hasil pengukuran tinggi badan kesepuluh
siswa tersebut adalah sebagai berikut.

172, 167, 180, 171, 169, 160, 175, 173, 170, 165

Hitunglah median dari data tinggi badan siswa!

Jawab:
Karena jumlah data genap, maka penghitungan median menggunakan rumus median untuk data genap. Proses
penghitungannya adalah sebagai berikut.

Untuk melanjutkan penghitungan, kita harus terlebih dahulu mengetahui nilai x5 dan x6. Kedua nilai data tersebut
dapat diperoleh dengan mengurutkan semua data. Hasil pengurutan adalah sebagai berikut.

160, 165, 167, 169, 170, 171, 172, 173, 175, 180

Dari pengurutan tersebut diperoleh nilai x5 sama dengan 170 dan x6 sama dengan 171. Dengan demikian
penghitungan median dapat dilanjutkan.
Modus Data Tunggal

Modus (mode) adalah penjelasan tentang suatu kelompok data dengan menggunakan nilai yang sering
muncul dalam kelompok data tersebut. Atau bisa dikatakan juga nilai yang populer (menjadi mode) dalam
sekelompok data.

Jika dalam suatu kelompok data memiliki lebih dari satu nilai data yang sering muncul maka sekumpulan
data tersebut memiliki lebih dari satu modus. Sekelompok data yang memiliki dua modus disebut dengan
bimodal, sedangkan jika lebih dari dua modus disebut multimodal.

Jika dalam sekelompok data tidak terdapat satu pun nilai data yang sering muncul, maka sekelompok
data tersebut dianggap tidak memiliki modus.

Modus biasanya dilambangkan dengan Mo.

Contoh 1:
Sepuluh orang siswa dijadikan sebagai sampel dan diukur tinggi badannya. Hasil pengukuran tinggi
badan adalah sebagai berikut.

172, 167, 180, 170, 169, 160, 175, 165, 173, 170

Tentukan modus tinggi badan siswa!

Jawab:
Untuk mengetahui modus dari data di atas, kita tidak menggunakan rumus apapun. Kita menentukan
modus hanya melalui pengamatan saja.

Dari hasil pengamatan, hanya nilai data 170 yang sering muncul, yaitu muncul dua kali. Sedangkan nilai
data lainnya hanya muncul satu kali. Jadi modus data di atas adalah 170.

Untuk mempermudah pengamatan dalam mendapatkan modus, kita bisa juga mengurutkan data
tersebut. Hasil pengurutan data adalah sebagai berikut.

160, 165, 167, 169, 170, 170, 172, 173, 175, 180

Dengan mudah kita peroleh modus yaitu 170.

Contoh 2:
Delapan buah mobil sedang melaju di suatu jalan raya. Kecepatan kedelapan mobil tersebut adalah
sebagai berikut.

60 , 80, 70, 50, 60, 70, 45, 75

Tentukan modus kecepatan mobil!

Jawab:
Jika data diurutkan, maka hasilnya adalah sebagai berikut.

45, 50, 60, 60, 70, 70, 75, 80

Hasil pengamatan dari pengurutan di atas bisa diketahui nilai data 60 dan 70 adalah nilai data yang
paling sering muncul (masing-masing dua kali). Oleh karena itu modus sekelompok data di atas ada 2
adalah 60 dan 70.

Contoh 3:
Sembilan orang siswa memiliki nilai ujian sebagai berikut.
77, 62, 72, 54, 76, 57, 81, 70

Tentukan modus nilai siswa!

Jawab:
Jika diurutkan, susunannya akan seperti berikut ini.

54, 57, 62, 70, 72, 76, 77, 81

Dari pengamatan, tidak ada satupun nilai data yang sering muncul. Oleh karena itu, data di atas tidak
memiliki modus.

Kuartil Data Tunggal

Kuartil adalah nilai-nilai yang membagi data yang telah diurutkan kedalam 4 bagian yang sama besar.
Kuartil dinotasikan dengan notasi QQ. Kuartil terdiri dari 3, yaitu kuartil pertama (Q1),(Q1), kuartil
kedua (Q2),(Q2), dan kuartil ketiga (Q3).(Q3).

Untuk menentukan kuartil pada data tunggal, kita harus mempertimbangkan banyaknya
data (n)(n) terlebih dahulu. Penghitungan kuartil tergantung dari kondisi banyaknya data tersebut.

Sebagai ilustrasi, misalkan terdapat seperangkat data yaitu x1,x2,,xn.x1,x2,,xn.Letak-letak kuartil pada
data tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Penentuan kuartil menurut kondisi banyaknya data adalah sebagai berikut.

1. Kuartil untuk banyaknya data (n)(n) ganjil dan n+1n+1 habis dibagi 4.

2. Kuartil untuk banyaknya data (n)(n) ganjil dan n+1n+1 tidak habis dibagi 4.
3. Kuartil untuk banyaknya data (n)(n) genap dan habis dibagi 4.

4. Kuartil untuk banyaknya data (n)(n) genap dan tidak habis dibagi 4.

Rumus-rumus di atas sangat baik digunakan untuk jumlah data banyak. Untuk jumlah data yang kecil,
penentuan kuartil lebih mudah ditentukan dengan piramida berikut ini.

1. Kuartil untuk jumlah data (n)(n) ganjil.


2. Kuartil untuk jumlah data (n) genap.

Jika kuartil terletak di antara dua nilai, maka nilai kuartil adalah rata-rata dari kedua nilai tersebut.

Contoh Soal No. 1

Berikut ini adalah data panjang jalan di sebuah daerah dalam satuan kilometer.

5, 6, 7, 3, 2

Hitunglah kuartil dari data panjang jalan tersebut?

Jawab:

Karena jumlah data adalah ganjil dan tidak banyak, maka penghitungan kuartil menggunakan piramida
kuartil untuk data ganjil. Pada piramida tersebut, letak kuartil adalah sebagai berikut.

1. Kuartil 1 terletak antara data pertama dan kedua.


2. Kuartil 2 adalah data ketiga.
3. Kuartil 3 terletak antara data keempat dan kelima.
Sebelumnya data diurutkan terlebih dahulu menjadi sebagai berikut.

2, 3, 5, 6, 7

Kuartilnya adalah sebagai berikut.


Contoh Soal No. 2

Sepuluh orang mahasiswa sebuah perguruan tinggi dijadikan sampel dan dihitung tinggi badannya. Hasil
pengukuran tinggi badan kesepuluh mahasiswa tersebut adalah sebagai berikut.

172, 167, 180, 171, 169, 160, 175, 173, 170

Tentukan nilai kuartil dari data tinggi badan mahasiswa tersebut!

Jawab:

Karena banyaknya data genap dan tidak banyak, maka penentuan kuartil bisa menggunakan piramida
kuartil data genap. Pada piramida tersebut, letak kuartil adalah sebagai berikut.

1. Kuartil 1 adalah data ketiga.


2. Kuartil 2 terletak antara data kelima dan keenam.
3. Kuartil 3 adalah data kedelapan.
Sebelumnya, data harus kita urutkan terlebih dahulu. Hasilnya adalah sebagai berikut: 160, 165, 167,
169, 170, 171, 172, 173, 175, 180. Dengan demikian, nilai-nilai kuatil adalah
Q1Q2Q3=167=170+1712=170,5=173Q1=167Q2=170+1712=170,5Q3=173

Contoh Soal No. 3

Jumlah data adalah 223. Tentukan letak kuartilnya!

Jawab:

Jumlah data adalah ganjil dan jika n ditambah 1, hasilnya habis dibagi 4. Oleh karena itu penentuan
kuartil menggunakan kondisi pertama.

Contoh Soal No. 4


Jumlah data adalah 197. Tentukan letak kuartilnya!

Jawab:

Jumlah data adalah ganjil dan jika n ditambah 1, hasilnya tidak habis dibagi 4. Oleh karena itu penentuan
kuartil menggunakan kondisi kedua.

Contoh Soal No. 5

Jumlah data 400. Tentukan letak kuartilnya!

Jawab:

Jumlah data adalah genap dan habis dibagi 4. Oleh karena itu penentuan kuartil menggunakan kondisi
ketiga.

Contoh Soal No. 6

Jumlah data 350. Tentukan letak kuartilnya!

Jawab:

Jumlah data adalah genap dan tidak habis dibagi 4. Oleh karena itu penentuan kuartil menggunakan
kondisi keempat.
Varian dan Standar Deviasi (Simpangan Baku)

Varian dan standar deviasi (simpangan baku) adalah ukuran-ukuran keragaman (variasi) data statistik
yang paling sering digunakan. Standar deviasi (simpangan baku) merupakan akar kuadrat dari varian.
s=s2s=s2
Oleh karena itu, jika salah satu nilai dari kedua ukuran tersebut diketahui maka akan diketahui juga nilai
ukuran yang lain.

Penghitungan

Dasar penghitungan varian dan standar deviasi adalah keinginan untuk mengetahui keragaman suatu
kelompok data. Salah satu cara untuk mengetahui keragaman dari suatu kelompok data adalah dengan
mengurangi setiap nilai data dengan rata-rata kelompok data tersebut, selanjutnya semua hasilnya
dijumlahkan.

Namun cara seperti itu tidak bisa digunakan karena hasilnya akan selalu menjadi 0.

Oleh karena itu, solusi agar nilainya tidak menjadi 0 adalah dengan mengkuadratkan setiap pengurangan nilai data
dan rata-rata kelompok data tersebut, selanjutnya dilakukan penjumlahan. Hasil penjumlahan kuadrat (sum of
squares) tersebut akan selalu bernilai positif.

Nilai varian diperoleh dari pembagian hasil penjumlahan kuadrat (sum of squares) dengan ukuran data (n).

Namun begitu, dalam penerapannya, nilai varian tersebut bias untuk menduga varian populasi. Dengan
menggunakan rumus tersebut, nilai varian populasi lebih besar dari varian sampel.

Oleh karena itu, agar tidak bias dalam menduga varian populasi, maka n sebagai pembagi penjumlahan kuadrat (sum
of squares) diganti dengan n-1 (derajat bebas) agar nilai varian sampel mendekati varian populasi. Oleh karena itu
rumus varian sampel menjadi:
Nilai varian yang dihasilkan merupakan nilai yang berbentuk kuadrat. Misalkan satuan nilai rata-rata adalah gram,
maka nilai varian adalah gram kuadrat. Untuk menyeragamkan nilai satuannya maka varian diakarkuadratkan
sehingga hasilnya adalah standar deviasi (simpangan baku).

Untuk mempermudah penghitungan, rumus varian dan standar deviasi (simpangan baku) tersebut bisa diturunkan :

Rumus varian :

Rumus standar deviasi (simpangan baku) :

Keterangan:
s2 = varian
s = standar deviasi (simpangan baku)
xi = nilai x ke-i
= rata-rata
n = ukuran sampel

Contoh Penghitungan

Misalkan dalam suatu kelas, tinggi badan beberapa orang siswa yang dijadikan sampel adalah sebagai berikut.

172, 167, 180, 170, 169, 160, 175, 165, 173, 170

Dari data tersebut diketahui bahwa jumlah data (n) = 10, dan (n - 1) = 9. Selanjutnya dapat dihitung komponen
untuk rumus varian.
Dari tabel tersebut dapat ketahui:

Dengan demikian, jika dimasukkan ke dalam rumus varian, maka hasilnya adalah sebagai berikut.

Dari penghitungan, diperoleh nilai varian sama dengan 30,32.

Dari nilai tersebut bisa langsung diperoleh nilai standar deviasi (simpangan baku) dengan cara mengakarkuadratkan
nilai varian.