Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam pergaulan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dari norma dan aturan yang
berlaku di masyarakat. Apabila semua angota masyarakat mentaati norma dan aturan
tersebut, niscaya kehidupan masyarakat akan tenteram, aman, dan damai. Namun dalam
kenyataannya, sebagian dari anggota masyarakat ada yang melakukan pelanggaran-
pelanggaran terhadap norma dan aturan tersebut. Pelanggaran terhadap norma dan aturan
yang berlaku dalam masyarakat dikenal dengan istilah penyimpangan sosial atau istilah yang
sering digunakan dalam perspektif psikologi adalah patologi sosial (social pathology). Akibat
penyimpangan sosial ini, memunculkan berbagai permasalahan kehidupan masyarakat yang
selanjutnya dikenal dengan penyakit sosial.
Penyimpangan sosial dari sekelompok masyarakat atau individu akan mengakibatkan masalah
sosial, menurut Kartini (2003) kejadian tersebut terjadi karena adanya interaksi sosial
antar individu, individu dengan kelompok, dan antar kelompok. Interaksi sosial berkisar
pada ukuran nilai adat-istiadat, tradisi dan ideologi yang ditandai dengan proses sosial yang
diasosiatif. Adanya penyimpangan perilaku dari mereka terhadap pranata sosial masyarakat.
Ketidaksesuaian antar unsur-unsur kebudayaan masyarakat dapat membahayakan kelompok
sosial kondisi ini berimplikasi pada disfungsional ikatan sosial.
Apabila kejadian tersebut terus terjadi dalam masyarakat, maka perjudian, tawuran antar
pelajar dan mabuk-mabukan tersebut akan menjadi virus mengganggu kehidupan
masyarakat. Masyarakat akan resah dan merasa tidak tenteram. Andaikan tubuh kita
diserang virus, tentu tubuh kita akan merasa sakit. Begitu pula masyarakat yang diserang
virus, tentu masyarakat tersebut akan merasa sakit. Sakitnya masyarakat ini bisa dalam
bentuk keresahan atau ketidak-tenteraman keidupanan masyarakat. Oleh karena itulah,
perjudian, tawuran antar pelajar dan mabuk-mabukan itu dikategorikan sebagai penyakit
masyarakat atau penyakit sosial. Penyakit sosial adalah perbuatan atau tingkah laku yang
bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik,
solidaritas bangsa, disiplin, kebaikan dan hukum formal.
Sebenarnya penyakit sosial itu tidak hanya perjudian, tawuran antar pelajar dan
kriminalitas. Masih banyak perilaku masyarakat yang bisa disebut menjadi virus penyebab
penyakit sosial, misalnya: alkoholisme, penyalahgunaan Napza, pelacuran, dan mungkin masih
banyak lagi perilaku masyarakat yang bisa menimbulkan keresahan dan mengganggu
keteraman masyarakat.
Faktor apa yang menyebabkan timbulnya berbagai penyakit masyarakat tersebut? Para ahli
sosiologi menyatakan bahwa penyakit sosial itu timbul karena adanya pelanggaran-
pelanggaran yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang terhadap norma dan aturan
yang berlaku dalam masyarakat. Pelanggaran terhadap norma dan aturan masyarakat inilah
yang kemudian dikenal dengan penyimpangan sosial.
Beberapa fenomena perilaku perjudian, sebagai salah satu penyakit sosial masyarakat yang
akan diurai dan diharapkan memberikan kontribusi konstruktif dalam penyelesaiannya akan
diketengahkan dalam paper ini, antara lain; Pertama, menjelaskan tentang motif individu
melakukan judi dengan kajian psikologi, Kedua, judi sebagai diasosiatif yang mengakibatkan
terjadinya penyakit sosial masyarakat, dan ketiga upaya pendekatan untuk menyelesaikan
dan merehabilitasi penyakit sosial judi.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian perjudian?
2. Apa yang melatar belakangi terjadinya perjudian di berbagai kalangan masyarakat?
3. Apa dampak dari perjudian?
4. Bagaimana cara dan upaya memberantas perjudian?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui pengertian perjudian
2. Mengetahui Apa yang melatar belakangi terjadinya perjudian di berbagai kalangan
masyaraka
3. Mengetahui
4. mengetahui
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Pengertian
Judi merupakan Penyimpangan Perilaku social. Dengan tegas Islam dan Negara
melarang permainan ini dan menghukum bagi pelaku perbuatan tersebut.
Banyak sekali definisi tentang judi dari berbagai kalangan, diantaranya yaitu :
Menurut UU No. 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Pasal 303 ayat (3) KUHP Yang dimaksud dengan permainan judi adalah tiap-tiap
permainan, dimana kemungkinan untuk menang pada umumnya bergantung pada
peruntungan belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Dalam
pengertian permainan judi termasuk juga segala pertaruhan tentang keputusan
perlombaan atau permainan lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut
berlomba atau bermain, demikian juga segaa pertaruhan lainnya.
Menurut Dra. Kartini Kartono, judi adalah pertaruhan
dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang
dianggap bernilai, dengan menyadari adanya risiko dan harapan-harapan
tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan
dan kejadian-kejadian yang tidak / belum pasti hasilnya.
Dalam Ensiklopedia Indonesia, Judi diartikan sebagai suatu kegiatan
pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan,
permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya.
Sementara Robert Carson & James Butcher (1992) dalam buku Abnormal Psychology
and Modern Life, mendefinisikan perjudian sebagai memasang taruhan atas suatu
permainan atau kejadian tertentu dengan harapan memperoleh suatu hasil atau
keuntungan yang besar.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perjudian adalah perilaku yang melibatkan
adanya risiko kehilangan sesuatu yang berharga dan melibatkan interaksi sosial serta
adanya unsur kebebasan untuk memilih apakah akan mengambil risiko kehilangan tersebut
atau tidak.

Dari sisi Islam judi dikenali sebagai Al-Maisir dan Al-Qimar. Ia bermaksud
permainan yang mengandung unsur taruhan dan orang yang menang dalam permainan itu
berhak mendapat taruhan tersebut Kesemuanya itu diharamkan dalam Islam. Hal tersebut
sesuai Firman Allah dalam al-quran dan hadits Nabi yaitu :
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi (Al-Maisir), katakanlah bahawa pada
keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya
lebih besar dari manfaatnya (Al-Baqarah : 219)
Rasulullah s.a.w bersabda :
Barangsiapa berkata kepada saudaranya marilah kita bermain judi, maka hendaklah dia
bersedekah. (Riwayat Al-Bukhari & Muslim)
Berdasarkan dalil-dali di atas dapat disimpulkan bahawa Islam menjadikan judi sebagai
satu kesalahan yang serius dan memandang hina apa saja bentuk judi tersebut.
1.2. Jenis-Jenis Judi
Dalam PP No. 9 tahun 1981 tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian,
perjudian dikategorikan menjadi tiga, yaitu :
Pertama, perjudian di Kasino yang terdiri dari Roulette, Blackjack, Baccarat, dll.
Kedua, perjudian di tempat keramaian yang terdiri dari lempar pasir atau bulu ayam pada
sasaran atau papan yang berputar (Paseran), dll.
Ketiga, perjudian yang dikaitkan dengan kebiasaan yang terdiri dari adu
ayam, adu sapi, adu kerbau, pacu kuda, karapan sapi, adu domba.

1.3. Unsur-unsur dalam judi


Suatu perbuatan dikatakan judi jika mengandung beberapa unsure berikut, yaitu:
Permainan atau perlombaan. Perbuatan yang dilakukan biasanya berbentuk permainan
atau perlombaan.
Ada unsur sifat menguntungkan maaupun merugikan.. Biasanya perbuatan tersebut
menguntungkan bagi yang menang, dan merugikan bagi yang kalah.
Ada taruhan. Dalam permainan atau perlombaan ini ada taruhan
yang dipasang oleh para pihak pemain atau bandar. Baik dalam bentuk uang ataupun
harta benda lainnya.

1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Berjudi


a. Faktor Sosial & Ekonomi
Bagi masyarakat dengan status sosial dan ekonomi yang rendah perjudian seringkali
dianggap sebagai suatu sarana untuk meningkatkan taraf hidup mereka
b. Faktor Situasional
Situasi yang bisa dikategorikan sebagai pemicu perilaku berjudi, diantaranya adalah
tekanan dari teman-teman atau kelompok atau lingkungan untuk berpartisipasi dalam
perjudian dan metode-metode pemasaran yang dilakukan oleh pengelola perjudian. Tekanan
kelompok membuat sang calon penjudi merasa tidak enak jika tidak menuruti apa yang
diinginkan oleh kelompoknya. Sementara metode pemasaran yang dilakukan oleh para
pengelola perjudian dengan selalu mengekspose para penjudi yang berhasil menang
memberikan kesan kepada calon penjudi bahwa kemenangan dalam perjudian adalah suatu
yang biasa, mudah dan dapat terjadi pada siapa saja (padahal kenyataannya kemungkinan
menang sangatlah kecil).
c. Faktor Belajar
Sangatlah masuk akal jika faktor belajar memiliki efek yang besar terhadap perilaku
berjudi, terutama menyangkut keinginan untuk terus berjudi. Apa yang pernah dipelajari
dan menghasilkan sesuatu yang menyenangkan akan terus tersimpan dalam pikiran
seseorang dan sewaktu-waktu ingin diulangi lagi. Inilah yang dalam teori belajar disebut
sebagai Reinforcement Theory yang mengatakan bahwa perilaku tertentu akan cenderung
diperkuat atau diulangi bilamana diikuti oleh pemberian hadiah atau sesuatu yang
menyenangkan.

d. Faktor Persepsi tentang Probabilitas Kemenangan


Persepsi yang dimaksudkan disini adalah persepsi pelaku dalam membuat evaluasi
terhadap peluang menang yang akan diperolehnya jika ia melakukan perjudian. Para penjudi
yang sulit meninggalkan perjudian biasanya cenderung memiliki persepsi yang keliru tentang
kemungkinan untuk menang. Mereka pada umumnya merasa sangat yakin akan kemenangan
yang akan diperolehnya, meski pada kenyataannya peluang tersebut amatlah kecil karena
keyakinan yang ada hanyalah suatu ilusi yang diperoleh dari evaluasi peluang berdasarkan
sesuatu situasi atau kejadian yang tidak menentu dan sangat subyektif. Dalam benak
mereka selalu tertanam pikiran: "kalau sekarang belum menang pasti di kesempatan
berikutnya akan menang, begitu seterusnya".

D. PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Islam adalah agama yang sejajar dengan fitrah manusia. Islam melarang judi kerana
ia menjadikan manusia menggantungkan harapannya kepada nasib, keuntungan yang tiba-tiba
serta cita-cita kosong bukan kepada pekerjaan dan usaha melalui sebab musabab yang
ditentukan oleh Allah taala.
Islam bertujuan untuk menjaga harta manusia dari musnah dan diambil secara salah.
Sedangkan judi memusnahkan harta penjudi dan membuka pintu untuk mengambil harta
orang lain melalui untung nasib semata-mata.
Perjudian yang sudah ada sejak adanya peradaban manusia dan berkembang seiring
dengan perkembangan manusia. Hal ini memberikan pandangan kepada manusia bahwa
perjudian seakan-akan menjadi lumrah untuk dilaksanakan. Perjudian bahkan cenderung
dianggap sebagai tindakan konvensional yang menyebabkan tindakan penanggulangan
terhadap perjudian sulit untuk dilakukan. Walaupun sudah ada larangan dan hukuman bagi
yang melakukanya, tapi tidak pernah jera dan takut dengan hukuman tersebut. Kurangnya
perhatian dari aparat hukum dan pemerintah serta tidak adanya niat dari masyarakat untuk
menangani perjudian menjadi alasan utama perjudian tetap eksis dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari.
B. Saran
Perjudian sudah menjadi penyakit dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Bahkan
masalah perjudian sudah menjadi penyakit akut masyarakat, maka perlu upaya yang
sungguh-sungguh dan sistematis, tidak hanya dari pemerintah dan aparat penegak hukum
saja, tetapi juga dari kesadaran hukum dan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama dan
bahu membahu menanggulangi dan memberantas semua bentuk perjudian. Baik itu judi
secara terang-terangan dan judi secara sembunyi-sembunyi.
Regulasi yang ada saat ini belum mampu menjawab permasalahan perjudian,
khususnya di Indonesia. Pidana berat belum tentu mampu memberantas perjudian.
Diperlukan mens rea atau niat dari masyarakat yang perlu menjadi pertimbangan dalam
membuat peraturan yang benar-benar mampu menutupi ruang untuk melakukan perjudian.
Untuk itu perlu dibuat peraturan baru yang tidak hanya memberikan peran penting kepada
aparat hukum dan pemerintah dalam menangani perjudian tetapi juga peran penting kepada
masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ickhtiar Baru, Jakarta, 1997, jld 3
Ensiklopedia Nasional Indonesia, Op. cit
Kartini Kartono, op. cit
Solahudin. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Acara Pidana, & Perdata (KUHP, KUHAP,
KUHPdt), Visimedia, Jakarta, 2008

http://www.elsyada.xyz/2011/11/judi-atau-perjudian.html
https://plus.google.com/113433339776683516327/posts/hWoqg76giF5