Anda di halaman 1dari 46

Asuhan Keperawatan Reaksi Transfusi

Wednesday, October 19, 2011

REAKSI TRANSFUSI

A. KONSEP DASAR

1. DEFINISI

Reaksi transfusi adalah suatu pengrusakan secara imunologik sel-sel darah merah yang
inkompatibel yang diperoleh melalui transfusi darah. Reaksi yang terjadi dapat berupa reaksi
pirogen, reaksi alergi, reaksi hemolitik, atau transmisi penyakit-penyakit infeksi.

2. ETIOLOGI

Reaksi pirogen
Disebabkan oleh sensitivitas terhadap sel darah putih, trombosit, atau protein plasma donor.
Sering dijumpai pada penderita yang pernah ditransfusi sebelumnya atau wanita yang pernah
melahirkan anak.

Reaksi alergi
Penyebab reaksi ini diperkirakan akibat sensitivitas terhadap protein darah yang ditransfusikan,
atau transfer pasif antibodi dari donor yang bereaksi dengan berbagai antigen yang dipaparkan
kepada resipien.

Reaksi hemolitik
Dapat disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah, inkompatibilitas plasma atau serum, dan
pemberian cairan nonisotonik.

Transmisi penyakit infeksi


Penyakit yang dapat ditularkan melalui transfusi darah meskipun telah dilakukan penyaringan
donor dan pengujian darah sebelum transfusi, antara lain:
Hepatitis
Malaria
Sindrom Imunodefisiensi Didapat (AIDS)

3. MANIFESTASI KLINIK

Reaksi segera yang mengancam nyawa terjadi pada ketidakcocokan ABO. Manifestasinya
antara lain adalah:
Kemerahan pada wajah yang segera timbul
Rasa hangat di vena yang menerima darah
Demam dan menggigil
Nyeri dada dan pinggang
Nyeri abdomen disertai mual dan muntah
Penurunan tekanan darah disertai peningkatan kecepatan denyut jantung
Sesak napas (dispnu)
Reaksi transfusi terhadap sel darah putih bersifat lebih ringan dan biasanya berupa demam dan
kadang-kadang menggigil.

4. KOMPLIKASI

Dapat terjadi gagal ginjal akibat terbentuknya silinder sel darah merah dan sumbatan
hemoglobin pada nefron.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Kadar bilirubin meningkat, ikterus, dan hemoglobinuria. Akhirnya dapat terjadi oliguria dan
retensi nitrogen yang akan menimbulkan uremia.

6. PENATALAKSANAAN

Reaksi pirogen
Pasien harus diselimuti dan bila mungkin berikan air hangat (minum). Reaksi pirogen biasanya
tidak begitu berbahaya.
Reaksi alergi
Transfusi segera dihentikan.
Berikan epinefrin 1:1.000 sebanyak 0,5-1 ml subkutan (bila perlu berikan 0,5-0,2 ml IV setelah
diencerkan dulu).
Berikan antihistamin, misalnya difenhidramin 50 mg IM.
Preparat kortikosteroid parenteral.
Reaksi hemolitik
Hentikan transfusi.
Berikan diuretik untuk mencegah terjadinya nekrosis tubular akut.
Manitol 10% 10-15 menit diberikan sebanyak 1.000 ml.
Jika terdapat anuria, kemungkinan besar terjadi gagal ginjal. Pengobatan dilakukan terhadap
gagal ginjal akut. Penting diperhatikan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Lakukan pemeriksaan ulang darah donor dan resipien (cross-matched).

B. ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN

Kaji adanya reaksi alergi, mis: kemerahan, urtikaria (biduran) atau gatal-gatal menyeluruh,
wheezing, anafilaksis.
Kaji adanya reaksi hemolitik akut, mis:
Kemerahan pada wajah
Rasa hangat di vena yang menerima darah
Demam dan menggigil
Nyeri dada dan pinggang
Nyeri abdomen disertai mual dan muntah
Penurunan tekanan darah disertai peningkatan kecepatan denyut jantung
Sesak napas (dispnu)
Reaksi hemolitik tertunda:
Biasanya terjadi 2 14 hari
Ditandai dengan demam
Ikterik ringan
Penurunan terhadap Hb.
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan b/d perdarahan.


2. Risiko tinggi infeksi b/d jalur akses vaskular.
3. Keracunan b/d toksisitas sitrat.
4. Risiko tinggi perubahan suhu tubuh b/d infeksi.
5. Risiko tinggi cedera b/d reaksi infus ulang.
6. Kurang pengetahuan b/d risiko transfusi.

III. INTERVENSI

1. Kekurangan volume cairan b/d perdarahan.


Tujuan : TV dipertahankan dalam parameter yang ada untuk mempertahankan perfusi sistemik.
Intervensi :
1) Monitor dan catat masukan dan haluaran.
2) Kaji dan laporkan tanda dan gejala hipovolemia: penurunan TD dan haluaran urin, takikardia,
kelemahan, nadi halus, keluhan haus, penurunan CVP, PCWP.
3) Observasi perdarahan dari selang dada.
4) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium: Hb dan Ht tiap 4 jam sesuai indikasi.

2. Risiko tinggi infeksi b/d jalur akses vaskular.


Tujuan : Mencegah infeksi nosokomial.
Intervensi :
1) Gunakan teknik steril ketat selama penampungan dan infus ulang darah autolog.
2) Infus ulang darah autolog dalam waktu 4-6 jam dari awal penampungan darah.
3) Kaji gejala infeksi: peningkatan suhu, peningkatan SDP, eritema, drainase pada sisi akses.
4) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

3. Keracunan b/d toksisitas sitrat.


Tujuan : Mencegah respon toksik pada antikoagulan.
Intervensi :
1) Kaji pasien terhadap peningkatan risiko yang disebabkan oleh hiperkalemia, hipokalsemia,
asidosis, hipotermia, disfungsi miokard dan disfungsi hepar dan ginjal.
2) Monitor hipotensi, disritmia dan kontraktilitas miokard, bila lebih dari 2000 ml darah dengan
koagulan CPD diberikan lebih dari periode 20 menit.
3) Kolaborasi pemberian kalsium klorida profilaktik sesuai indikasi.
4) Perlambat dan hentikan infus CPD, perbaiki asidosis.
5) Monitor toksisitas dengan gas darah sering dan kadar kalsium serum.

4. Risiko tinggi perubahan suhu tubuh b/d infeksi.


Tujuan : Suhu tubuh tetap dalam batas normal.
Intervensi :
1) Kaji tanda-tanda vital.
2) Periksa suhu sebelum dan sesudah infus ulang.
3) Periksa dan catat suhu tiap satu jam.
4) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
5) Pertahankan teknik aseptik pada semua prosedur.

5. Risiko tinggi cedera b/d reaksi infus ulang.


Tujuan : Transfusi akan terjadi tanpa komplikasi.
Intervensi :
1) Periksa format identifikasi pasien dan label sebelum infus ulang.
2) Infus ulang dalam 4-6 jam dari mulainya penampungan.
3) Observasi tanda reaksi hemolitik, mis: demam, menggigil, hipotensi, nyeri pada akses IV,
nyeri punggung, dispnea, kemerahan pada wajah, hemoglobinuria, penurunan haluaran urin.
4) Kaji pernapasan terhadap frekuensi, kedalaman, regulasi, dan ekspansi dada.
5) Kaji GDA untuk adanya pertukaran gas adekuat.
6) Observasi dan catat tanda koagulasi, mis: hematuria, peningkatan perdarahan dari selang dada,
rembesan perdarahan luka.

6. Kurang pengetahuan b/d risiko transfusi.


Tujuan : Menyatakan pengetahuan tentang taransfusi autolog dan hemolog serta risiko yang
berhubungan.
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan.
2) Berikan informasi yang relevan pada risiko transfusi dan keuntungannya.
3) Dorong untuk mengungkapkan masalah tentang risiko dan prosedur.
4) Beri penyuluhan pada pasien dan keluarga.
5) Kaji tingkat ansietas karena transfusi.

IV. EVALUASI

1. TV dipertahankan dalam parameter yang ada untuk mempertahankan perfusi sistemik.


2. Mencegah infeksi nosokomial.
3. Mencegah respon toksik pada antikoagulan.
4. Suhu tubuh tetap dalam batas normal.
5. Transfusi akan terjadi tanpa komplikasi.
6. Menyatakan pengetahuan tentang taransfusi autolog dan hemolog serta risiko yang
berhubungan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol 2. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.

Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC. Jakarta.

Hudak, Carolyn M. 1997. Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik Vol 1. EGC. Jakarta.

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Ed. 3 Jilid 1. Media Aesculapius. Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRANFUSI DARAH.


09.16 kumpulan artikel kesehatan No comments
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA TRANFUSI DARAH.

I. PENGERTIAN.

Tranfusi darah adalah pemindahan darah atau komponen darah dari donor darah ke dalam
peredaran darah penerima.

Tujuannya adalah sebagai pengobatan untuk kesembuhan penderita.

II. INDIKASI.
1. Darah lengkap (whole blood)
Tranfusi darah lengkap diberikan untuk memperbaiki :
a. Kemampuan transfortasi zat asam oleh sel darah merah.
b. Jumlah darah yang beredar (misalnya ; perdarahan hebat, luka bakar).

2. Sel darah merah (pack red sel.)


Kalau tujuan tranfusi darah hanya untuk menambah jumlah sel darah merah atau memperbaiki
kemampuan transfortasi O2, pemberian sel darah merah lebih baik karena :
a. Sebagian besar plasma tidak diberikan sehingga beban sirkulasi penderita berkurang.
b. Pada penderita dengan gangguan ginjal dimana diperlukan pembatasan pemberian protein.
c. Mengurangi reaksi alergi terhadap protein plasma.
d. Mengurangi reaksi kemungkinan pembentukan badan-badan penangkis (anti leokosit, anti
trombosit).

3. Trombosit.
Pemberian trombosit sering diperlukan pada kasus perdarahan yang disebabkan oleh kekurangan
trombosit. Kekurangan trombosit tersebut dapat berupa primer atau sekunder akibat dari
perdarahan itu sendiri.

4. Plasma darah.
Manfaat darah dan komponennya ialah untuk :
a. Menambah volume dari sirkulasi darah (hipovolemia, luka bakar).
b. Mengganti atau menambah protein darah yang kurang (nefrotik sindrom, sirosis hepatis).
c. Mengganti dan memperbaiki faktor-faktor tertentu dari plasma, misalnya ; glabulin anti
haemophylic faktor).

III. KOMPLIKASI TRANFUSI DARAH.


1. Reaksi hemolitik.
a. Karena golongan darah yang tidak cocok (iricompatible).
b. Bukan karena golongan darah yang tidak cocok.

2. Reaksi non hemolitik.


Alergi. Keracunan citras.
Pyrogen Keracunan kalium.
Kontaminasi bakteri. Gangguan pembekuan.
Overloading. Emboli
Gangguan irama jantung.

3. Penularan penyakit.
Hepatitis.
Malaria.
Syphilis.
HIV

ASUHAN KEPERAWATAN BLOOD TRANFUTION

DATA DASAR PENGKAJIAN.

1. Aktivitas
Gejala : kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas biasanya.
Tanda : Kelelahan otot. Peningkatan kebutuhan tidur, samnolen.

2. Sirkulasi.
Gejala : Palpitasi.
Tanda : Takhikardia, murmur jantung.
Kulit, membran mukosa pucat.
Defisit syaraf kranial dan atau tanda perdarahan serebral.

3. Eliminasi.
Gejala : Diare ; nyeri tekan perianal, nyeri.
Darah merah terang pada tissue, faeces hitam.
Darah pada urien, penurunan haluaran urien.

4. Integritas Ego.
Gejala : Perasaan tidak berdaya / tak ada harapan.
Tanda : Depresi, menarik diri, ancietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan alam
perasaan, kacau.

5. Makanan / cairan.
Gejala : Kehilangan nafsu makan, anorexia, muntah.
Perubahan rasa / penyimpangan rasa.
Tanda : Distensi abdominal, penurunan bunyi usus.

6. Neorosensori.
Gejala : Kurang / penurunan kordinasi.
Perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi kurang konsentrasi.
Pusing, kesemutan, parastesia.
Tanda : otot mudah terangsang, aktivitas kejang.

7. Nyeri / kenyamanan.
Gejala : Nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang / sendi ; nyeri tekan strenal, kram otot.
Tanda : Perilaku berhati-hati / distraksi ; gelisah, fokus pada diri sendiri.

8. Pernafasan.
Gejala : Nafas pendek dengan kerja minimal.
Tanda : Dispnea, takipnea, & batuk.

9. Keamanan.
Gejala : Riwayat infeksi saat ini / terdahulu.
Gangguan penglihatan / kerusakan.
Tanda : Demam, infeksi.
Kemerahan, purpura, perdarahan retina, perdarahan gusi atau epistaksis.

10 Seksualitas.
Gejala : Perubahan libido.
Perubahan aliran menstruasi, menorhaghia.
Impoten.

PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Mencegah infeksi.
2. Mengurangi nyeri.
3. Memberikan dukungan psikologis.
4. Proses pemberian transfusi dapat dipahami.

DIAGNOSA KEPERAWATAN.
1. Resiko tinggi terhadap infeksi.
2. Nyeri (akut).
3. Cemas.
4. Resiko efek samping.
5. Gangguan aktivitas.

REAKSI TRANSFUSI
REAKSI TRANSFUSI
DEFINISI :
Semua kejadian yang tidak menguntungkan penderita , yang timbul selama atau setelah transfusi
, dan memang berhubungan dengan transfuse tersebut.
PEMBAGIAN :
I. REAKSI TRANSFUSI SEGERA : ( < 24 Jam ) .
1. Reaksi transfusi Haemolitik .
2. Reaksi transfusi Panas non Haemolitik
3. Reaksi transfusi oleh karena Darah Tercemar .
4. Reaksi transfusi Allergie .
5. Reaksi transfusi Perdarahan Abnormal .
6. Reaksi transfusi Gagal Jantung
7. Reaksi transfusi Gagal Paru .
8. Reaksi transfusi Keracunan
9. Reaksi transfusi Thrombophlebitis.
II. REAKSI 'I RANSFUSI LAMBAT ( 24 Jam ) .
1. Reaksi transfusi Haemolitik Lambat .
2. Penularan penyakit : Malaria , Hepatitis , HIV , dsb .
3. Haemosiderosis / Haemokromatosis

I. Reaksi Transfusi Haemolitik Segera ( RTHS )


Pada reaksi ini terjadi perusakan sel darah merah setelah / selama transfusi
Jenisnya :
A. Perusakan Sel Darah Merah Intravaskulair .
Biasanya disebabkan oleh ABO incompatibilitas .
Gejala yang terjadi biasanya nyata dan segera .
B. Perusakan Sel Darah Merah Extravaskulair .
Biasanya disebabkan oleh Rh incompatibilitas atau kwalitas darah yang jelek .
Gejala yang timbul adalah minimal , tidak nyata dan lambat .
Gejala yang khas adalah : icterus yang timbul 3-5 jam post transfusi.

Gejala :
Panas pada lengan yang ditransfusi .
Suhu tubuh yang meningkat . Menggigil .
Sesak Nafas Nyeri dada .
Nyeri di daerah lumbal .
Rasa mual / muntah .
Shock -3 Tekanan darah menurun
Terjadi perdarahan yang abnormal - Haematuri .
Produksi urine menurun Gagal Ginjal - Mati .
Apabila penderita berada dalam pembiusan : ingat RTHS bila :
Hipotensi yang tidak sesuai perdarahan .
Terjadi perdarahan yang abnormal -3 DIC .
Terdapat Hemoglobinuria
Pemeriksaan Laboratorium : Anemi , Lekopheni , Thrombopheni
Hb Plasma meningkat , Bilirubin meningkat ,
Fibrinogen menurun , dan terjadi Hb uri .
Tindakan :
STOP Transfusi infus NaC1 0,9% .
Observasi Tensi , Nadi , Respirasi .
Bila timbul Demam beri anti piretik .
Bila terjadi Shock berikan DOPAMIN drip , intravena .
Berikan Lasix , Furosemid . - Diuretika .
Periksakan Faal Hemostasis .
Periksakan sample darah penderita & donor ke Laborat .
Konsult dokter
2. Reaksi Panas Non Haemolitik :
Reaksi ini paling sering terjadi .
Gejala biasanya timbul - 3 jam post transfusi , berupa
Suhu tubuh meningkat Menggigil.
Muntah muntah
Nyeri hebat pada kepala/otot
tindakan :
Stop transfusi,infus NaCl 0,9%
Beri anti piretik
Bila panas badan menurun , boleh di coba lagi atau ganti darah yang lain.

3. Reaksi Transfusi Karena Darah Tercemar :


Kuman yang mencemari darah adalah : Colliform , Pseudomonas . Biasanya kedua kuman ini
menghasilkan endotoxin .
Kontaminasi dapat terjadi oleh karena :
Waktu sampling darah .
Pemakaian Antikoagulant yang kurang steril .
Kuman yang tahan panas tidak mati waktu dipanaskan
Gejala yang timbul :
Panas badan Menggigil .
Bila berat penderita jatuh kedalam Shock . Tanda tanda darah yang tercemar :
Berwarna biru kehitaman
Batas sel dan serum tidak jelas 4 terjadi hemolisa .
Bila dikocok perlahan 4 serum jadi merah .
Tampak bekuan darah kecil kecil 4 DIC . Tindakan :
STOP Transfusi 4 infus NaC1 0,9% .
Beri Antibiotik
Beri Kortikosteroid bila perlu.

4. Reaksi Transfusi Karena Allergic :


Biasanya terjadi karena adanya allergen di dalam darah donor . Gejala yang timbul :
Ringan : urtikaria ( gatal gatal ).
Berat Seasak nafas , Cyanosis , Hypotensi 4 Shock .
Tindakan :
STOP Transfusi 4 infus NaC1 0,9% .
Beri antihistamin .
Beni kortikosteroid bila perlu .
Bila terjadi lharynk oedem berikan adrenaline.
5. Reaksi Transfusi Perdarahan Abnormal :
Reaksi transfusi ini biasanya disebabkan oleh reaksi transfusi hemolitik segera yang selanjutnya
mengalami DIC dan adanya dilusi factor pembekuan darah
Tindakan :
STOP Transfusi 4 infus NaC1 0,9% .
Bila terjadi DIC beri Heparin .
Bila disebabkan dilusi factor pembekuan darah , beri Plasma beku segar / Darah segar .
6. Reaksi Transfusi Kegagalan Jantung :
Reaksi ini biasanya disebabkan karena : Transfusi dengan volume darah yang besar dan dalam
waktu yang singkat , atau pada penderita dengan kelainan jantung Tindakan :
STOP Transfusi 4 infus NaCI 0,9% .
Pasien dibuat posisi setengah duduk .
Beri oksigen .
Beri obat : Digitalis , Diuretik 4 dokter ahli jantung.
Lakukan Phlebotomi bila perlu 4 dokter ahli .
Muntah muntah .
Nyeri yang hebat pada kepala / otot
Tindakan :
STOP Transfusi , 4 infus NaC1 0,9% .
Beri anti piretik .
Bila panas badan menurun boleh dicoba lagi atau ganti darah yg lain.
7. Reaksi Transfusi Kegagalan Paru :
Penyebab : Darah yang tersimpan lama akan terbentuk mikrothrombi 4 shg menyebabkan
infark paru .
Pencegahan : diberi filter 20 mikron waktu transfusi .
8. Reaksi Transfusi Keracunan :
Biasanya disebabkan karena keracunan : Kalium , Sitrat .
9. Reaksi Transfusi Thrombophlebitis :
Biasanya disebabkan oleh karena alat transfusi yang kurang steril.
Reaksi Transfusi Darah

17 Mar
Transfusi darah masif jarang dilakukan, lebih-lebih sebab permintaan darah hampir selalu
tersendat-sendat. Kalau terjadi perdarahan banyak dan persediaan darah kurang, yang diberikan
ialah cairan pengganti darah.
Kadang-kadang transfusi darah masif dapat dilakukan sebab persediaan darah cukup dan kadang-
kadang donor juga cukup banyak. Seandainya persediaan darah cukup, maka pemberian suatu
transfusi masif bukan tanpa risiko untuk terjadinya macam-macam komplikasi, sehingga
diperlakukan alat tambahan untuk memudahkan kita memantau selama pemberian transfusi
masif tersebut. Alat tambahan tersebut antara lain ialah EKG, analisis gas darah, dan CVP.
Selain risiko, penyediaan alat-alat dan pemeriksaan analisis gas darah yang berulang merupakan
beban biaya tambahan bagi penderita.

DEFINISI

Transfusi darah masif adalah pemberian darah dengan kecepatan lebih dari 30 ml/kg BB/jam ( 2
), atau dapat juga dikatakan pemberian darah secara mendadak lebih dari 1,50 kali perkiraan
jumlah darah penderita (5, 8).

KEGUNAAN

Transfusi darah disini digunakan untuk :


1. Memperbaiki kapasitas pengangkutan oksigen.
2. Mempertahankan volume darah (1, 8).
KOMPLIKASI TRANSFUSI DARAH

Pada umumnya komplikasi transfusi ini dibagi menjadi :


I. Reaksi imunologi
II. Reaksi non imunologi
III. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah masif.
I. REAKSI IMUNOLOGI
A. REAKSI TRANSFUSI HEMOLITIK
Reaksi transfusi hemolitik merupakan reaksi yang jarang terjadi tetapi serius dan terdapat pada
satu diantara dua puluh ribu penderita yang mendapat transfusi (8).
1. Lisis sel darah donor oleh antibodi resipien.
Hal ini bisa terjadi dengan cara :
a. Reaksi transfusi hemolitik segera
b. Reaksi transfusi hemolitik lambat.
2. Lisis sel resipien oleh antibodi darah transfusi secara masif.
Reaksi ini sering terjadi akibat kesalahan manusia sebagai pelaksana, misalnya salah memasang
label atau membaca label pada botol darah.
Tanda-tanda reaksi hemolitik lain ialah menggigil, panas, kemerahan pada muka, bendungan
vena leher , nyeri kepala, nyeri dada, mual, muntah, nafas cepat dan dangkal, takhikardi,
hipotensi, hemoglobinuri, oliguri, perdarahan yang tidak bisa diterangkan asalnya, dan ikterus.
Pada penderita yang teranestesi hal ini sukar untuk dideteksi dan memerlukan perhatian khusus
dari ahli anestesi, ahli bedah dan lain-lain.
Tanda-tanda yang dapat dikenal ialah takhikardi, hemoglobinuri, hipotensi, perdarahan yang
tiba-tiba meningkat, selanjutnya terjadi ikterus dan oliguri.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya hemoglobinemi dan hemoglobinuri. Urine menjadi
coklat kehitaman sampai hitam dan mungkin berisi hemoglobin dan butir darah merah. (8).
Terapi reaksi transfusi hemolitik : pemberian cairan intravena dan diuretika. Cairan digunakan
untuk mempertahankan jumlah urine yang keluar.

Transfusi darah masif jarang dilakukan, lebih-lebih sebab permintaan darah hampir selalu
tersendat-sendat. Kalau terjadi perdarahan banyak dan persediaan darah kurang, yang diberikan
ialah cairan pengganti darah.
Kadang-kadang transfusi darah masif dapat dilakukan sebab persediaan darah cukup dan kadang-
kadang donor juga cukup banyak. Seandainya persediaan darah cukup, maka pemberian suatu
transfusi masif bukan tanpa risiko untuk terjadinya macam-macam komplikasi, sehingga
diperlakukan alat tambahan untuk memudahkan kita memantau selama pemberian transfusi
masif tersebut. Alat tambahan tersebut antara lain ialah EKG, analisis gas darah, dan CVP.
Selain risiko, penyediaan alat-alat dan pemeriksaan analisis gas darah yang berulang merupakan
beban biaya tambahan bagi penderita.

DEFINISI
Transfusi darah masif adalah pemberian darah dengan kecepatan lebih dari 30 ml/kg BB/jam ( 2
), atau dapat juga dikatakan pemberian darah secara mendadak lebih dari 1,50 kali perkiraan
jumlah darah penderita (5, 8).

KEGUNAAN

Transfusi darah disini digunakan untuk :


1. Memperbaiki kapasitas pengangkutan oksigen.
2. Mempertahankan volume darah (1, 8).

KOMPLIKASI TRANSFUSI DARAH

Pada umumnya komplikasi transfusi ini dibagi menjadi :


I. Reaksi imunologi
II. Reaksi non imunologi
III. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah masif.
I. REAKSI IMUNOLOGI
A. REAKSI TRANSFUSI HEMOLITIK
Reaksi transfusi hemolitik merupakan reaksi yang jarang terjadi tetapi serius dan terdapat pada
satu diantara dua puluh ribu penderita yang mendapat transfusi (8).
1. Lisis sel darah donor oleh antibodi resipien.
Hal ini bisa terjadi dengan cara :
a. Reaksi transfusi hemolitik segera
b. Reaksi transfusi hemolitik lambat.
2. Lisis sel resipien oleh antibodi darah transfusi secara masif.
Reaksi ini sering terjadi akibat kesalahan manusia sebagai pelaksana, misalnya salah memasang
label atau membaca label pada botol darah.
Tanda-tanda reaksi hemolitik lain ialah menggigil, panas, kemerahan pada muka, bendungan
vena leher , nyeri kepala, nyeri dada, mual, muntah, nafas cepat dan dangkal, takhikardi,
hipotensi, hemoglobinuri, oliguri, perdarahan yang tidak bisa diterangkan asalnya, dan ikterus.
Pada penderita yang teranestesi hal ini sukar untuk dideteksi dan memerlukan perhatian khusus
dari ahli anestesi, ahli bedah dan lain-lain.
Tanda-tanda yang dapat dikenal ialah takhikardi, hemoglobinuri, hipotensi, perdarahan yang
tiba-tiba meningkat, selanjutnya terjadi ikterus dan oliguri.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya hemoglobinemi dan hemoglobinuri. Urine menjadi
coklat kehitaman sampai hitam dan mungkin berisi hemoglobin dan butir darah merah. (8).
Terapi reaksi transfusi hemolitik : pemberian cairan intravena dan diuretika. Cairan digunakan
untuk mempertahankan jumlah urine yang keluar. Diuretika yang digunakan ialah :
a. Manitol 25 %, sebanyak 25 gr diberikan secara intravena kemudian diikuti pemberian 40 mEq
Natrium bikarbonat.
b. Furosemid
Bila terjadi hipotensi penderita dapat diberi larutan Ringer laktat, albumin dan darah yang cocok.
Bila volume darah sudah mencapai normal penderita dapat diberi vasopressor. Selain itu
penderita perlu diberi oksigen.
Bila terjadi anuria yang menetap perlu tindakan dialisis (8).
Cara menghindari reaksi transfusi :
Untuk mengerjakan ini perlu dilakukan :
a. Tes darah, untuk melihat cocok tidaknya darah donor dan resipien.
b. Memilih tips dan saringan yang tepat.
c. Pada transfusi darurat :
Banyak situasi terjadi dimana kebutuhan darah sangat mendesak sebelum dilakukan pemeriksaan
cocok tidaknya darah secara lengkap. Dalam situasi demikian tidak perlu dilakukan pemeriksaan
secara lengkap, dan jalan singkat untuk melakukan tes bisa dikerjakan sebagai berikut :
1. Type-Specific, Partially Crossmatched Blood
Bila kita menggunakan darah un-crossmatched, maka paling sedikit harus diperoleh tipe ABO-
Rh dan sebagian crossmatched.
2. Tipe-Specific, Uncrossmatched Blood.
Untuk penggunaan tipe darah yang tepat maka tipe ABO-Rh harus sudah ditentukan selama
penderita dalam perjalanan ke rumah sakit.
3. O Rh-Negatif (Universal donor) Uncrossmatched Blood
Golongan darah O kekurangan antigen A dan B, akibatnya tidak dapat dihemolisis baik oleh anti
A ataupun anti B yang ada pada resipien. Oleh sebab itu golongan darah O kita sebut sebagai
donor universal dan dapat digunakan pada situasi yang gawat bila tidak memungkinkan untuk
melakukan penggolongan darah atau crossmatched. Tetapi bagaimanapun juga pemberian
darah golongan inipun bukan tanpa resiko ( 1).
B. REAKSI TRANSFUSI NON HEMILITIK
1. Reaksi transfusi febrile
Tanda-tandanya adalah sebagai berikut :
Menggigil, panas, nyeri kepala, nyeri otot, mual, batuk yang tidak produktif.
2. Reaksi alergi
a. Anaphylactoid
Keadaan ini terjadi bila terdapat protein asing pada darah transfusi.
b. Urtikaria, paling sering terjadi dan penderita merasa gatal-gatal. Biasanya muka penderita
sembab.
Terapi yang perlu diberikan ialah antihistamin, dan transfusi harus disetop.
Alergi yang berat jarang terjadi dan ini kita sebut reaksi anafilaksis, dengan tanda-tanda sebagai
berikut : sesak nafas, hipotensi, edema larings, nyeri dada, dan shok. Reaksi anafilaksis ini
disebabkan karena transfusi IgA kepada penderita yang kekurangan IgA dan telah terbentuk anti
IgA. Tipe reaksi ini tidak termasuk tipe kerusakan sel darah merah, kejadiannya sangat cepat dan
biasanya terjadi sesudah mendapat transfusi darah atau plasma hanya beberapa ml. Penderita
yang menunjukkan tanda-tanda reaksi anafilaksis bila perlu mendapat darah, harus diberi sel
darah merah yang telah dibersihkan dari semua sisa donor IgA, atau dengan darah yang sedikit
mengandung protein IgA (1).
II. REAKASI NON IMUNOLOGI
A. Reaksi transfusi Pseudohemolytic
Termasuk disini ialah lisis terhadap sel darah merah tanpa reaksi antigen-antibodi. Hemolisis ini
dapat terjadi akibat obat, macam-macam keadaan penyakit, trauma mekanik, penggunaan cairan
dextrosa hipotonis, panas yang berlebihan dan kontaminasi bakteri.
B. Reaksi yang disebabkan oleh volume yang berlebihan.
C. Reaksi karena darah transfusi terkontaminasi
D. Virus hepatitis.
Risiko terkena hepatitis sesudah transfusi merupakan keadaan klinik yang penting. Tes untuk
HBV (Hepatitis B Virus), penyaringan untuk Non-A dan Non-B juga bisa mengurangi risiko
terkena transmisi penyakit tersebut (5,8,9).
E. Lain-lain penyakit yang terlibat pada terapi transfusi misalnya malaria, sifilis, virus CMG dan
virus Epstein-Barr parasit serta bakteri.
F. AIDS.
III. KOMPLIKASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN TRANSFUSI DARAH MASIF
1. DILUTIONAL COAGULOPATHY
Darah simpan yang diberikan secara masif sering kekurangan faktor V dan VIII (1,2,8). Mutu
atau derajat faktor V pada darah simpan sampai 21 hari sekitar 30% atau lebih, sedangkan derajat
yang dibutuhkan untuk hemostasis antara 15-50%. Derajat faktor VIII pada darah simpan 21 hari
berkisar antara 15-50%.
Jadi terdapat sedikit dasar kebenarannya untuk menyamakan penggunaan FFP pada transfusi
masif. Kenyataannya darah simpan kurang dari 10 hari masih bisa memberikan faktor koagulasi
yang cukup pada penderita.
Satu yang harus diingat ialah bahwa penggunaan FFP yang berlebihan menambah transmisi
penyakit pada penderita, misalnya hepatitis dan AIDS (2).
Kecenderungan terjadinya perdarahan biasanya sesudah penderita mendapat transfusi banyak
dan cepat dengan menggunakan campuran ACD. Ini terjadi bila kita memberikan darah 20-30
unit, dan untuk penderita debil dan anak kecil lebih berkurang lagi (6). Manifestasi kliniknya
yaitu terdapatnya oozing pada daerah operasi, perdarahan pada gusi, petechiae dan
echymosis. Untuk mengatasi ini biasanya penderita mendapat darah ACD lagi. Selama
pemberian darah masif tetap dengan bahan-bahan yang kekurangan faktor-faktor pembeku, maka
selama itu pula perdarahan akan timbul, dan demikian selanjutnya hingga merupakan lingkaran
setan.
Etiologi kecenderungan perdarahan ini kemungkinan adalah terjadinya dilutional
thrombocytopenia, kekurangan faktor-faktor labil, dan DIC (5).
Tujuan terapi disini ialah untuk mempertahankan faktor-faktor V dan VIII mendekati 30%, sebab
20% faktor V dan 30% faktor VIII diperlukan untuk hemostasis penderita yang dioperasi (5).
Untuk mempertahankan faktor V dan VIII pada derajat 30% maka kepada penderita diberikan 2-
3 unit FFP (Fresh Frozen Plasma) untuk tiap 10 unit packed cells dan transfusi plasma protein
fracyion (1,6). Setiap pemberian 5 unit darah perlu diperiksa jumlah platelet (6).
Trombositopenia.
Pada penderita yang mendapat transfusi darah 10 unit atau lebih sering terjadi trombositopenia
dan penderita perlu mendapat platelet (6).
a. Perdarahan selama operasi sering terjadi pada penderita dengan kadar platelet kurang dari
100.000/ cumm (4,6,8). Untuk mempertahankan jumlah platelet antara 50.000-100.000/cumm,
maka penderita diberikan platelet konsentrat sebanyak 6-8 unit tiap pemberian 20 unit darah,
kalau tidak bisa, penderita dapat diberi darah segar yang umurnya kurang dari 6 jam.
b. Tiap unit platelet konsentrat menambah jumlah platelet sebanyak 10-12 ribu/cumm pada
penderita muda dengan berat badan 70 kg.
c. Darah segar dapat mempertahankan kadar platelet pasca operasi di atas 90 ribu/cumm.
Perdarahan yang hebat akibat trombositopenia pada transfusi masif mulai terjadi sesudah
transfusi 10 unit darah atau lebih. Jadi tidak rasional bila kita memberi darah lama pada penderita
yang mendapat transfusi sebanyak 10-15 unit.
2. DISSEMINATED INTRAVASCULAR COAGULATION (DIC)
a. DIC sukar diidentifikasi pada penderita yang mendapat transfusi masif. DIC merupakan
kombinasi antara perdarahan dan trombosis, suatu hal dua kejadian yang bertentangan. Untuk
membantu keadaan yang bertentangan ini, kecenderungan perdarahan diterapi dengan
antikoagulan, yaitu heparin. Pada jaringan hipoksia yang asidotik dengan bendungan aliran
darah, baik langsung ataupun lewat pelepasan beberapa toksin akan terjadi pelepasan
tromboplastin jaringan. Picu ini akan mempengaruhi proses koagulasi, menghasilkan faktor I, II,
VII, VIII dan platelet.
Seandainya trombus dan fibrin mengendap pada mikrosirkulasi organ-organ vital, maka akan
terganggu aliran darahnya.
Sesudah terjadi aktivasi sistem koagulasi yang tidak normal maka trombus dan fibrin akan
mengendap pada mikrosirkulasi (5). Untuk mengatasikeadaan hiperkoagulasi, maka sistem
fibrinolitik diaktifkan sehingga melarutkan fibrin yang berlebihan. Keadaan ini disebut
fibrinolisis sekunder. Fibrinolisis primer dapat juga terjadi pada waktu transfusi masif dengan
tujuan untuk mengaktifkan sistem fibrinolitik tanpa terjadi DIC. Pada fibrinolisis primer
sejumlah besar plasmin atau aktivator fibrinolitik dilepaskan, yang menyebabkan larutnya
penjendalan dan fibrin (5).
Diagnosis didasarkan atas analisis laboratorium terhadap faktor koagulasi, platelet, dan hasil
fibrinolisis.
b. Tujuan utama terapi ialah untuk :
- menghilangkan penyebabnya
- mempertahankan volume normal
- mengganti faktor-faktor pembekuan yang cukup, dengan demikian penderita dapat melanjutkan
proses koagulasi.
Jangan memberikan terapi berlebih karena akan menyebabkan pembekuan yang meluas.
Terapi adalah berupa :
- Fresh Frozen Plasma dan platelet concentrate
- Heparin : Penggunaannya pada DIC masih kontroversial tetapi dapat mencegah terjadinya
mikrotrombi.
- EACA : Penggunaannya sangat jarang, terutama pada fibrinolisis primer.
3. INTOKSIKASI SITRAT (KOMPLIKASI YANG JARANG TERJADI)
Sitrat mengikat kalsium dengan akibat terjadinya hipokalsemi, dan hipokalsemi ini jarang terjadi.
Pemberian kalsium sebaiknya dibatasi sampai didapatkan bukti adanya depresi miokard dan pada
EKG terdapat tanda-tanda hipokalsemi, yaitu terjadinya pemanjangan interval QT (1,7).
Konsentrasi ionisasi kalsium serum akan tetap normal bilamana kecepatan infus tidak lebih dari
30 ml/kg BB/jam (2,3).
Hipokalsemi dapat terjadi pada penderita dengan penyakit hati berat atau syok, karena
kemampuan memetabolisme natrium sitrat berkurang (8).
4. KEADAAN ASAM BASA
Bila larutan ACD diberikan pada darah, maka pH-nya akan menurun sampai 7.0, hal ini
disebabkan terutama karena keasaman larutan ACD. pH darah akan terus turun sampai kira-kira
6.5 sesudah sampai 21 hari disimpan, karena adanya glikolisis yang terus menerus dan
pembentukan asam laktat dan peruvat oleh metabolisme sel. Lagi pula karena botol atau kantong
plastik darah tidak memungkinkan terjadinya mekanisme pelepasan CO2, maka PaCO akan naik
dari 150 sampai 210 torr.
Howland dan Schweizer menganjurkan untuk tiap 5 unit darah ACD yang ditransfusikan perlu
diberikan 44.6 mEq natrium bikarbonat (5,6). Keasaman darah ACD hanya mempengaruhi
penderita yang dalam keadaan syok atau penderita dengan respirasi tidak normal, atau adanya
kompensasi dari ginjal. Miler berkesimpulan bahwa pemberian natrium bikarbonat secara
empirik tidak perlu dan bukan merupakan indikasi, sehingga tidak logis bila pemberian natrium
bikarbonat digunakan sebagai profilaksi untuk penderita yang tidak dapat kita perkirakan
keasamannya. Tiap pemberian natrium bikarbonat harus didasarkan atas hasil analisis gas darah
dan ini bisa dikerjakan setiap pemberian darah 5 unit (1,2,8).
Asidosis terjadi sebagai akibat hipoksia sel darah merah selama penyimpanan. Sesudah transfusi
ion hidrogen dikembalikan ke sel darah merah atau sebagai buffer oleh plasma resipien (8).
5. HIPERKALEMI
Darah dari bank darah berisi ion K antara 17-24 mEq/L pada penyimpanan 21-33 hari (1).
Hiperkalemia merupakan problem yang jarang terjadi. Pada darah simpan akan terjadi
pengurangan isi kalium pada eritrosit dan kenaikkan dalam plasma.
6. HIPOTERMI
Transfusi masif yang menggunakan darah dingin dapat meningkatkan pelepasan energi untuk
menaikkan temperatur tubuh, menaikkan pemakaian O2, afinitas hemoglobin dan O2, kebocoran
ion K dari sel darah merah dan kerusakan metabolisme sitrat.
Umumnya telah diketahui bahwa pemberian beberapa unit darah dingin akan menurunkan
temperatur resipien. Dengan cara memanaskan darah dari bank darah sesuai dengan panas tubuh
sebelum diberikan pada penderita, maka secara bermakna akan mengurangi angka kejadian
aritmi dan cardiac arrest selama transfusi masif. Walaupun Bayan menekan bahwa pemanasan
darah hanya untuk transfusi masif, banyak yang percaya bahwa whole blood yang diberikan
beberapa unit juga perlu dipanaskan bila diberikan selama operasi.
Suatu penurunan temperatur pada esofagus sebanyak 0.5 1 C dapat mengakibatkan penderita
menggigil sesudah operasi, sehingga menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen dan cardiac
out put. Pemberian darah hangat sesuai dengan panas tubuh juga dapat menghindari
menurunnya kecepatan metabolisme sitrat sehingga dapat mengurangi intoksikasi sitrat (6).
Transfusi dengan darah dingin sebanyak 5 unit dalam waktu 30 menit akan dapat menurunkan
temperatur 4 C. pada 33 C, hipotermi dapat menyebabkan asidosis metabolik dan depressi
cardiac out put. Perubahan posisi tubuh atau respirasi dapat menyebabkan cardiac arrest.
Darah harus dihangatkan terlebih dahulu sebelum diberikan pada penderita dengan kecepatan
tinggi dan dalam jumlah besar (8).
7. Post transfusion hepatitis (PTH)
Penemuan yang penting yaitu adanya Australian Antigen (HAA) dan hubungannya yang positif
dengan hepatitis serum merupakan harapan baru untuk mengurangi PTH.
Kebanyakan darah yang diberikan adalah darah yang dibeli dari setiap orang sehingga penularan
hepatitis bisa saja terjadi.
Semua Palang Merah perlu mengetes dan meniadakan donor positifnya HAA. Virus cytomegalo
dapat menular lewat transfusi darah dan merupakan salah satu bagian yang bertanggung jawab
untuk terjadinya PTH. Bila bukti-bukti tampak meyakinkan, dimana dapat dideteksi bahwa darah
mengandung virus tersebut, maka transfusi dengan darah tersebut harus dihindari.
Cara lain untuk mengatasi PTH ialah dengan memberikan modifikasi gamma globulin intravena
sebelum pemberian darah (6).
DIAGNOSIS DAN TERAPI PERDARAHAN
Keberhasilan pengobatan tergantung pada kemampuan menentukan diagnosis penyebab problem
perdarahan. Penderita yang menerima transfusi masif dengan darah ACD akan mendapat
berbagai kelainan hasil laboratorium dan ini membuat kita mendapatkan kesukaran untuk
menentukan sebab-sebab yang jelas. Sebagai contoh trombositopeni mungkin merupakan akibat
dilutional coagulopathy yang akan terjadi selama transfusi masif, atau akibat dari DIC, atau
karena keduanya.
Perdarahan pada penderita dengan trombositopenia mungkin disebabkan oleh dilutional
coagulopathy dengan fibrinolisis primer.
Untuk membedakan ini perlu dideteksi derajad fibrinogen. Walaupun hal ini mudah dikerjakan
dikebanyakan rumah sakit; namun tidak dapat segera memberikan hasil, terutama pada malam
hari. Untuk menghadapi keadaan semacam ini, sesudah mendapatkan contoh darah untuk
menentukan jumlah platelet, derajat fibrinogen plasma, dan partial thromboplastin time (PTT),
kemudian kita periksa bekuan darah dalam hal ukuran dan stabilitasnya. Bila PTT naik secara
tidak normal dan tes yang lain normal maka perdarahan mungkin disebabkan oleh sangat
rendahnya faktor V dan VIII, dan ini bisa diterapi dengan FPP yang berisi semua faktor
koagulasi kecuali platelet.
Bila bekuan darah pada test tube mengalami lisis didalam waktu 1 atau 2 jam, maka terjadi
fibrinolisis berlebihan. Untuk menghambat pembentukan plasmin dan mengurangi fibrinolisis
perlu pemberian Epsilon-aminocaproic acid (EACA). Penderita yang mendapat transfusi
dianjurkan diberikan EACA. Tetapi bila fibrinolisis merupakan akibat sekunder, karena kita
ingin mencegah terjadinya trombosis yang luas pada DIC, pemberian EACA justru akan
memperberat DIC.
Karena tes untuk membedakan fibronolisis primer atau sekunder biasa tidak siap pakai, maka
EACA hanya diberikan setelah heparinisasi dan setelah konsultasi dengan ahli-ahli yang
bersangkutan. Fibrinolisis biasanya terjadinya akibat sekunder DIC, setelah kita mengalami
keraguan yang lama dalam menetapkan pemberian EACA tanpa terlebih dahulu memberikan
heparin pada penderita.
Bila terdapat keadaan tiga serangkai, ialah trombositopenia, hipofibrinogenemi, dan lisis suatu
bekuan darah yang terjadi dalam waktu 2 jam, maka dipikirkan terjadinya suatu DIC. Bahkan
tanpa lisis bekuan, fibrinogen (<100 mg/100 ml) yang bukan akibat dilutional coagulopathy
sudah dianggap sebagai DIC.
Heparin dapat cepat memperbaiki jumlah platelet dan derajat fibrinogen serta dapat mengurangi
perdarahan. Pemberian heparin biasanya dimulai dengan dosis 30 unit/kg BB, dan diberikan
intravena.
Penentuan yang kedua terhadap platelet dan derajat fibrinogen dalam waktu 3 dan 4 jam
mungkin merupakan suatu indikasi pemberian heparin. Bila hasil-hasil pemeriksaan laboratorium
kembali normal dan intensitas perdarahan berkurang, pemberian heparin dapat disetop atau
dikurangi. Setelah pemberian heparin sering terjadi kehilangan faktor pembekuan seperti platelet
dan fibrinogen, sehingga perlu diganti dalam bentuk plasma, konsentrat platelet, atau darah
segar.
DIC yang baru saja terjadi dapat diterapi tanpa heparin, yaitu dengan cara menghilangkan
penyebab yang mempercepat terjadinya DIC. Heparin perlu diberikan pada syok dan DIC yang
berat dan lama. Jadi heparin hanya dipertimbangkan sebagai terapi tambahan dan bukan terapi
yang mujarab untuk penderita syok hipovolemi yang membutuhkan transfusi masif.
Menurut American Association of Blood Banks penderita hanya boleh mendapat komponen-
komponen darah yang diperlukan. Contoh : bila penderita hanya membutuhkan platelet maka
sisa unit darah lainnya, misalnya eritrosit, plasma dan albumin dapat disimpan untuk penderita
lain (5).
Darah segar (kurang dari 6 jam penyimpanan) akan memberikan platelet paling banyak setiap
donor. 90% platelet didapat dari plasma yang merupakan setengah dari jumlah tiap unit darah.
Konsentrat platelet dapat disimpan dalam tempat sebesar 25 ml dan dapat memberikan 70-80%
yang terdapat pada setiap unit darah. Bila yang diperlukan hanya platelet dan bukan lisis maka
konsentrat platelet ini merupakan indikasi untuk diberikan pada penderita. Bila penderita dengan
hipovolemi juga memerlukan penggantian eritrosit, albumin, beberapa faktor koagulasi dan
platelet, maka secara praktis ialah dengan memberikan darah segar. Platelet yang disimpan pada
4 C harus dengan diberikan dalam waktu 6 jam setelah penyimpanan untuk dapat memberikan
kegunaan yang maksimal.
Pada transfusi sel darah merah diperlukan kecocokan antara donor dan resipien. Kita
menggunakan tipe dan saringan infus tertentu, sebab makin meningkatnya jumlah operasi elektif
yang biasanya tidak menggunakan darah. Pada operasi-operasi elektif darah hanya digunakan
pada keadaan tertentu saja. Ini memberikan beberapa keuntungan, ialah :
1. Mengurangi jumalh sel darah setiap harinya.
2. Mengurangi petugas Bank Darah.
3. Ongkos yang dibebankan pada penderita menjadi lebih rendah.
Untuk memantau penderita dengan transfusi masif diperlukan :
1. EKG untuk mengetahui perusahaan kalsium dalam darah.
2. CVP dan kateter urine untuk mengetahui keluarnya urine setiap jam.
3. Analisis gas darah untuk mengetahui PaO2, PaCO2, pH. Ketiga hal tersebut perlu dipantau
setiap pemberian 5 unit darah, untuk menentukan secara tepat berapa natrium biakrbonat yang
harus diberikan.
KESIMPULAN
I. Koagulasi
A. Pertimbangkan pemberian darah segar atau konsentrat platelet setelah pemberian darah 10
unit.
B. Memeriksa jumlah platelet dan bekuan untuk lisis sesudah tiap 5 unit darah ACD yang
diberikan.
C. Bila mungkin memantau partial thromboplastin time dan derajat fibrinogen plasma setiap
10 unit darah.
II. Pemberian darah sesegar mungkin, untuk menghindari sisa-sisa darah yang lewat saringan,
atau pertimbangkan penggunaan filter yang adekuat.
III. Hangatkan darah sebelum ditransfusikan.
IV. Analisis gas darah untuk menentukan PaO2, PaCO2, dan pH. Setiap pemberian 5 unit darah
perlu dipantau ketiga hal di atas untuk menentukan pemberian natrium bikarbonat secara tepat.
V. Memantau EKG terus-menerus untuk mengetahui adanya perubahan kalium dan kalsium
dalam darah, dan pengobatan hanya bila ada indikasi.
VI. Pemasangan CVP dan kateter urine untuk mengetahui jumlah urine yang keluar.
VII. Transfusi darah masif bisa juga terkena hepatitis, AIDS dan malaria.

TRANSFUSI DARAH
Pada pelayanan dan asuhan kebidanan mungkin membutuhkan transfusi darah. Sangatlah penting
untuk menggunakan darah, produk darah, atau cairan pengganti yang sesuai dan memperhatikan
prinsip-prinsip yang dibuat untuk membantu tenaga medis dalam memutuskan kapan (dan kapan
tidak) melakukan transfusi.

Penggunaan produk darah yang sesuai didefinisikan sebagai transfusi produk darah yang aman
untuk mengobati kondisi-kondisi yang akan mengarah morbiditas dan mortalitas, yang tidak
dapat dihindarkan atau ditangani secara efektif oleh cara lain

Perdarahan pascapersalinan dengan syok

Kehilangan darah saat operasi

Anemia berat pada kehamilan lanjut

Catatan : Untuk anemia pada kehamilan awal, obati penyebab anemia dan sediakan hematinik.
Rumah Sakit Kabupaten seyogyanya mempunyai fasilitas untuk transfusi darah setiap saat.
Seharusnya setiap unit pelayanan kebidanan dapat menyediakan darah, terutama tipe 0 dan FFP
(Fresh Frozen Plasma) untuk menyelamatkan jiwa.

PENGGUNAAN PRODUK DARAH YANG TIDAK TEPAT

Jika digunakan secara tepat, transfusi darah dapat menyelamatkan jiwa dan memperbaiki status
kesehatan. Namun, terapi ini juga dapat menimbulkan komplikasi akut juga mempunyai risiko
teljadinya transmisi zat-zat infeksius. Ditambah lagi terapi ini mahal dengan sumber yang
terbatas.

Transfusi sering tidak diperlukan karena :

Kondisi yang tampaknya membutuhkan transfusi, sering dapat dihindari dengan


pengobatan dini atau upaya pencegahan.

Transfusi darah lengkap, sel darah merah, atau plasma sering diberikan untuk
menyiapkan secara cepat seorang ibu untuk menjalani pembedahan yang direncanakan,
atau untuk memulihkan kondisi tubuh agar dapat keluar dari rumah sakit lebih cepat.
Terapi lain, seperti infus cairan, kadang-kadang lebih murah, lebih aman, dan sama
efektifnya.

Transfusi yang tidak tepat dapat mengakibatkan :

Meningkatkan peluang ibu pada risiko-risiko yang tidak perlu.

Menyebabkan menipisnya persediaan produk darah untuk ibu-ibu yang benar-benar


membutuhkan, sementara produk darah merupakan sumber daya yang terbatas dan
mahal.

RESIKO TRANSFUSI

Sebelum memberikan darah atau produk darah untuk seorang ibu, sangatlah penting untuk
mempertimbangkan risiko transfusi dibandingkan dengan risiko tidak melakukan transfusi.

Resiko Transfusi dengan Darah Lengkap atau Transfusi Sel Darah Merah

Reaksi transfusi
Infeksi HIV, hepatitis B, hepatitis C, sifilis, malaria
Kontaminasi bakteri lainnya jika dibuat atau disimpan secara tidak benar

Resiko transfusi plasma


Infeksi seperti di atas

Reaksi transfusi

Sangat sedikit indikasi yang jelas dari transfusi plasma (seperti koagulopati) dan bahkan
risikonya sering melebihi keuntungan yang mungkin dirasakan oleh ibu.

Upaya Mengurangi Risiko

Seleksi donor darah

Penapisan infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi (khususnya HIV-l, HIV-2,
HeV, HbsAg, Treponema pallidum) Program menjaga mutu

Penanganan yang baik terhadap penentuan golongan darah, tes kompatibilitas, pemisahan
komponen darah, penyimpanan, dan transportasi produk darah

Penggunaan darah dan produk darah seeara tepat

PRINSIP TRANSFUSI DARAH

Transfusi darah hanya merupakan satu elemen dari penanganan kasus secara keseluruhan. Bila
terjadi kehilangan darah dalam jumlah banyak dan waktu singkat akibat perdarahan, pembedahan
ataupun komplikasi dari melahirkan, yang paling urgen adalah mengganti cairan yang hilang
dengan segera. Transfusi sel darah merah dapat menjadi penting karena akan mengembalikan
kapasitas pengangkutan 02 oleh darah.

Kurangi kebutuhan transfusi dengan:

Penggunaan Cairan pengganti untuk resusitasi

Minimalkan pengambilan darah untuk kepentingan pemeriksaan darah

Gunakan teknik anestesi dan bedah terbaik untuk meminimalkan kehilangan darah
selama tindakan

Pembersihan dan re-infus darah yang keluar selama prosedur (autotransfusi) jika
mungkin

Prinsip-prinsip yang harus diingat


Transfusi hanya merupakan satu bagian dalam penatalaksanaan seorang pasien.

Keputusan untuk memberikan transfusi harus didasarkan pada petunjuk nasional


mengenai penggunaan klinis dari darah, dengan mempertimbangkan kebutuhan pasien itu
sendiri.

Kehilangan darah harus diminimalkan untuk mengurangi kebutuhan pasien akan


transfusi.

pasien yang kehilangan darah akut sebaiknya menerima resusitasi efektif (eairan
pengganti intravena, oksigen, dan lain-lain) semen tara kebutuhan transfusi
dipertimbangkan.

Kadar hemoglobin pasien, meskipun penting, sebaiknya tidak menjadi faktor penentu
untuk memulai transfusi. Keputusan untuk melakukan transfusi haruslah didukung oleh
kebutuhan untuk menghilangkan gejala dan tanda serta menghindari morbiditas dan
mortalitas.

Klinisi seharusnya waspada terhadap risiko terkena infeksi yang ditularkan oleh transfusi
produk darah yang tersedia.

Transfusi sebaiknya diberikan hanya jika keuntungannya lebih besar bagi pasien
dibandingkan dengan kerugiannya.

Seorang yang terlatih sebaiknya memantau pasien yang mendapat transfusi dan segera
bereaksi jika ada efek samping yang timbul.

Klinisi sebaiknya mencatat alasan dilakukannya transfusi dan memeriksa efek sam ping
yang timbul.

MEMBERIKAN DARAH

Sebaiknya berdasarkan petunjuk nasional mengenai penggunaan klinis darah, dengan


mempertimbangkan kebutuhan pasien tersebut..

Sebelum memberikan darah atau produk darah, harap diingat hal-hal berikut :

Perbaikan yang diharapkan pada kondisi klinis ibu tersebut.

Metode untuk meminimalkan kehilangan darah untuk mengurangi kebutuhan akan


transfusi.
Terapi alternatif yang dapat diberikan, termasuk penggantian cairan intravena atau
oksigen, sebelum mengambil keputusan untuk melakukan transfusi.

Indikasi laboratorium dan klinis yang spesifik untuk transfusi.

Risiko penularan HIV, hepatitis, sifilis, atau infeksi lainnya melalui produk darah yang
tersedia .

Keuntungan transfusi dibandingkan dengan risiko untuk ibu tertentu .

Pilihan terapi lain jika darah tidak tersedia pada saat itu .

Kebutuhan akan orang yang terlatih untuk memantau ibu tersebut dan segera bereaksi
jika timbul efek samping.

Pada akhirnya, jika berada dalam kebimbangan, tanyakan pada diri Anda pertanyaan berikut :
jika darah ini dimaksudkan untuk diri saya atau anak saya, akankah saya menerima transfusi
pada kondisi demikian?

PEMANTAUAN PASIEN YANG DITRANSFUSI

Pemantauan dilakukan pada tahap :

- sebelum transfusi dimulai


- pada saat transfusi dimulai
- 15 menit sesudah transfusi mulai
- setiap 1 jam selama transfusi
- setiap 4 jam setelah transfusi selesai

Pantau ibu dengan ketat selama 15 menit pertama transfusi dan secara teratur ntuk mendeteksi
tanda dan gejala awal reaksi yang berlawanan

Periksa dan catat hal-hal berikut pada setiap tahap:

- nadi
- suhu
- keadaan umum
- tekanan darah
- pernapasan
- keseimbangan cairan (masukan cairan secara oral dan intravena, keluaran urin)

Catat pula:
- waktu transfusi mulai
- waktu transfusi selesai I
- volume dan jenis pro;Wk darah yang ditransfusi
- efek samping Lain
- nomor

PENANGANAN REAKSI TRANSFUSI

Reaksi transfusi dapat ringan (ruam kulit, gatal) sampai berat (gagal ginjal, hemolisis, syok
anafilaktik). Hentikan transfusi, berikan cairan intravena (garam fisiologik atau Ringer Laktat)
semen tara membuat penilaian awal dari reaksi transfusi akut dan cari bantuan medis. Jika
reaksinya tergolong minor, berikan prometazin 10 mg melalui oral dan observasi.

Penanganan Syok Anafilaktik

Tata laksana syok (hal. M-l) dan berikan:

- adrenalin 1:1000 (0,1 ml dalam 100 ml NaCl atau Ringer Laktat) perlahan-lahan secara LV,
- prometazin 10 mg LV,
- dan hidrokortison 1 g LV setiap 2 jam jika perlu.

Jika ada bronkospasme, berikan aminofilin 250 mg dalam NaCl at au Ringer Laktat 10
ml perlahan-lahan secara LV

Lakukan tindakan tersebut di atas sampai keadaan ibu stabil.

Pantau tanda vital dan rujuk untuk perawatan intensif. Catat saat terjadi reaksi trans-fusi,
demikian pula catat jumlah produksi urin.

Jika terdapat reaksi transfusi, ambil contoh/botol darah disertai darah beku dan 1 botol
berisi darah dari vena kontralateral yang diberi antikoagulan (+EDTA).

Jika dicurigai adanya sepsis karena darah yang telah terkontaminasi, buatlah kultur dari
darah transfusi tersebut.

CAIRAN PENGGANTI: ALTERNATIF SEDERHANA TERHADAP TRANSFUSI

Hanya garam fisiologik (NaCl 0,9%) atau eairan garam seimbang lainnya yang memiliki
konsentrasi yang sam a dengan natrium pada plasma, yang merupakan eairan pengganti yang
efektif. Oleh karena itu, cairan ini harus tersedia di semua rumah sakit yang menggunakan eairan
pengganti intravena.

Cairan pengganti' digunakan untuk menggantikan kehilangan abnormal dari darah, plasma, atau
eairan ekstraselular, dengan eara meningkatkan volume kompartemen vaskular. Cairan pengganti
digunakan pada:

penatalaksanaan ibu dengan hipovolemia yang nyata (seperti syok hemoragik).


penatalaksanaan ibu normovolemia dengan kehilangan cairan yang terus-menerus (pada
kehilangan darah akibat pembedahan).

Terapi Pengganti Intravena

Terapi pengganti intravena merupakan terapi baris pertama untuk hipovolemia. Pengobatan
awal dengan eairan ini dapat menolong nyawa seseorang dan dapat memberikan waktu untuk
mengendalikan perdarahan dan mendapatkan darah untuk transfusi jika dibutuhkan.

Untuk mengganti cairan yang hilang, infus NaCI atau Ringer Laktat Cukup efektif, misalnya
pada syok perdarahan atau kehilangan cairan pada pembedahan.

Cairan Kristaloid

Cairan kristaloid sebagai cairan pengganti :

- konsentrasi sama dengannatrium plasma.


- tidak dapat memasuki sel karena membran sel tidak permeabel terhadap natrium.
- dapat masuk ke eruang ekstraseluler

Diperlukan volume cairan kristaloid sekurangnya 3 kali volume yang hilang


untukmempertahankan volume intravaskular.

Larutan dekstrosa (glukosa) merupakan cairan pengganti yang buruk. Jangan gunakan cairan ini
untuk mengobati kasus hipovolemia kecuali tidak ada alternatif lainnya.
Cairan Koloid

Larutan koloid terdiri atas suspensi partikel-partikel yang lebih besar dibandingkan
dengan kristaloid. Koloid cenderung untuk bertahan dalam darah dan akan menyerupai
protein plasma untuk menjaga atau meningkatkan tekanan osmotik koloid darah.
Koloid hanya diberikan dengan volume yang sesuai denga jumlah darah yang hilang.
Pada banyak kondisi dimana permeabilitas kapiler meningkat (pada trauma dansepsis)
kebocoran sirkulasi akan terjadi dan infu tambahan dibutuhkan untuk menjaga volume
darah.

Hal-hal yang perlu diingat


Belum terdapat bukti bahwa larutan koloid (albumin, dekstran, gelatin, hydroxy ethyl
starch) mempunyai keuntungan dibandingkan dengan garam fisiologik ataupun larutan
garam lainnya untuk resusitasi.
Terdapat bukti bahwa larutan koloid mungkin mempunyai efek samping pada
keselamatan.
Larutan koloid lebih mahal dibandingkan dengan garam fisiologik dan larutan garam
seimbang lainnya
Plasma manusia sebaiknya tidak digunakan sebagai cairan pengganti. Semua bentuk
plasma mempunyai risiko yang sarna dengan darah lengkap yang dapat rnenularkan
infeksi seperti HIV dan hepatitis.
Air rnurni tidak pernah digunakan untuk infus intravena karena air akan menyebabkan
hemolisis dan berakibat fatal.

Sebelum memberikan cairan per infus:

cek segel botol/kantong cairan tidak sobek;


cek waktu kadaluwarsa;
periksa bahwa cairan terlihat jernih dan bebas dari partikel-partikel yang terlihat.

Gunakan cairan kristaloid, seperti dekstrose atau dekstrose dalam NaCl, untuk mengganti cairan
yang keluar melalui kuIit, paru, feses, dan urin. Jika dapat diketahui bahwa ibu tersebut akan
menerima cairan LV. selama 48 jam atau lebih, infuslah dengan larutan elektrolit yang
seimbang (contoh Kalium klOl'ida 1,5 g dalam 1 I cairan LV.) dengan dekstrose. Volume cairan
yang dibutuhkan seorang ibu sangat bervariasi, khususnya jika ibu tersebut menderita demam
atau memiliki suhu at au kelembaban sekitar yang tinggi.

Melalui oral dan sonde lambung

Cairan melalui oral dapat diberikan pada keadaan hipovolemi ringan dan pasien dapat
minum.
Cairan per oral atau sonde lambung jangan diberikan pada:
hipovolemi berat,
pasien tidak sadar,
bstruksi gastrointestinal,
pembedahan dengan anestesi umum.

Melalui rektum

Tidak dapat diberikan pada pasien hipovolemi b


Keuntungan pemberianmelalui rektum :

- Absorpsi berhenti dan cairan dikeluarkan sewaktu hidrasi selesai.


- Dapat segera diabsorpsi sampai hidrasi tercapai.
- Cairan ini diberikan melalui suatu selang plastik atau karet yang dimasukkan ke
dalam rektum dan dihubungkan ke suatu kantong atau botol cairan.
- Kecepatan cairan dapat dikontrol dengan menggunakan set intravena.
- Cairan tidak perlu steril. Cairan yang cukup aman dan efektif untuk rehidrasi rektal
adalah 1 liter air minum ditambah 1 sendok teh garam meja.

Pemberian cairan secara subkutan dianjurkan bilamana cara-cara lain tidak dapat
dilakukan, tetapi tidak bermanfaat untuk pasien hipovolemi berat.

Cairan steril diberikan secara subkutan (biasanya pada dinding perut).

MAKALAH TRANSFUSI DARAH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Transfusi Darah adalah proses pemindahan darah dari donor yang sehat kepada penderita.
Individu atau orang yang menyumbangkan darahnya, dengan tujuan untuk membantu yang lain
khususnya yang pada kondisi memerlukan suplai darah dari luar, karena sampai saat ini darah
belum bisa di sintesa sehingga ketika diperlukan harus diambil seseorang/individu. Pada tahun
1900 Dr. Loustiner menemukan 4 macam golongan darah :
1. Golongan darah A
2. Golongan darah B
3. Golongan darah AB
4. Golongan darah O
Selain itu tahun 1940 ditemukan golongan darah baru yaitu Rhesus Faktor positif dan rhesus
faktor negatif pada sel darah merah (erythrocyt). Rhesus Faktor positif banyak terdapat pada
orang Asia dan Negatif Pada orang Eropah, Amerika, Australia.
Transfusi diberikan untuk:
- meningkatkan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen
- memperbaiki volume darah tubuh
- memperbaiki kekebalan
- memperbaiki masalah pembekuan
Tergantung kepada alasan dilakukannya transfusi, bisa diberikan darah lengkap atau komponen
darah (misalnya sel darah merah, trombosit, faktor pembekuan, plasma segar yang
dibekukan/bagian cairan dari darah atau sel darah putih).
Jika memungkinkan, akan lebih baik jika transfusi yang diberikan hanya terdiri dari komponen
darah yang diperlukan oleh resipien.
Memberikan komponen tertentu lebih aman dan tidak boros.

Teknik penyaringan darah sekarang ini sudah jauh lebih baik, sehingga transfusi lebih aman
dibandingkan sebelumnya.
Tetapi masih ditemukan adanya resiko untuk resipien, seperti reaksi Alergi dan infeksi.
Meskipun kemungkinan terkena AIDS atau Hepatitis melalui transfusi sudah kecil, tetapi harus
tetap waspada akan resiko ini dan sebaiknya transfusi hanya dilakukan jika tidak ada pilihan lain.

B. Rumusan masalah
1.) Apa syarat-syarat seseorang yang dapat menjadi pendonor darah?
2.) Dalam keadaan apakah orang yang tidak bisa menjadi pendonor darah?
3.) Apa tujuan donor darah?
4.) Bagaimana proses transfusi darah?

C. Manfaat
1.) Agar mengetahui syarat-syarat seseorang yg dapat menjadi pendonor darah.
2.) Agar menegetahui dalam keadaan apakah seseorang tidak dpat menjadi pendonor darah.
3.) Agar mengetahui tujuan donor darah.
4.) Agar mengetahui proses transfusi darah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Syarat-Syarat Transfusi Darah
Syarat-syarat seseorang yang dapat menjadi pendonor darah,yaitu:

1. Umur 17 60 tahun ( Pada usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat ijin
tertulis dari orangtua. Sampai usia tahun donor masih dapat menyumbangkan darahnya dengan
jarak penyumbangan 3 bulan atas pertimbangan dokter )
2. Berat badan 50 kg atau lebih
3. Temperatur tubuh : 36,6 - 37,5o C (oral
4. Kadar Hemogblin 12,5 g/dl atau lebih
5. Tekanan darah 120/140/80 100 mmHg
6. Nadi 50-100/menit teratur
7. Tidak berpenyakit jantung, hati, paru-paru, ginjal, kencing manis, penyakit perdarahan,
kejang, kanker, penyakit kulit kronis.
8. Tidak hamil, menyusui, menstruasi (bagi wanita)
9. Bagi donor tetap, penyumbangan 5 (lima) kali setahun.
10. Kulit lengan donor sehat.
11. Tidak menerima transfusi darah/komponen darah 6 bulan terakhir.
12. Tidak menderita penyakit infeksi ; malaria, hepatitis, HIV/AIDS.
13. Bukan pencandu alkohol/narkoba
14. Tidak mendapat imunisasi dalam 2/4 bulan terakhir.
15. Beritahu Petugas bila makan aspirin dalam 3 hari terakhir.
16. Jumlah penyumbangan pertahun paling banyak 5 kali, dengan jarak
penyumbangan sekurang-kurangnya 3 bulan. Keadaan ini harus sesuai dengan keadaan umum
donor.

B. Orang Yang Tidak Dapat Menjadi Pendonor.


Seseorang tidak boleh menjadi donor darah pada keadaan:
1. Pernah menderita hepatitis B.
2. Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis.
3. Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah transfusi.
4. Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah tattoo/tindik telinga.
5. Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi.
6. Dalam jangka wktu 6 bulan sesudah operasi kecil.
7. Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar.
8. Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, cholera, tetanus
dipteria atau profilaksis.
9. Dalam jangka waktu 2 minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis epidemica,
measles, tetanus toxin.
10. Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies therapeutic.
11. Dalam jangka waktu 1 minggu sesudah gejala alergi menghilang.
12. Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah transpalantasi kulit.
13. Sedang hamil dan dalam jangka waktu 6 bulan sesudah persalinan.
14. Sedang menyusui.
15. Ketergantungan obat.
16. Alkoholisme akut dan kronik.
17. Sifilis.
18. Menderita tuberkulosa secara klinis.
19. Menderita epilepsi dan sering kejang.
20. Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh balik) yang akan ditusuk.
21. Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya, defisiensi
G6PD, thalasemia, polibetemiavera.
22. Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi
untuk mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks,
pemakai jarum suntik tidak steril).
23. Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan pada saat donor darah.

C. Manfaat Donor Darah


1. Dapat memeriksakan kesehatan secara berkala 3 bulan sekali seperti tensi, Lab
Uji Saring .(HIV, Hepatitis B, C, Sifilis dan Malaria).
2. Mendapatkan piagam penghargaan sesuai dengan jumlah menyumbang darahnya
antara lain 10, 25, 50, 75, 100 kali.
3. Donor darah 100 kali mendapat penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari
Pemerintah.
4. Merupakan bagian dari ibadah.

D. Proses Transfusi Darah


1. Pengisian Formulir Donor Darah.
2. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan golongan, tekanan darah dan hemoglobin darah.
3. Pengambilan Darah
Apabila persyaratan pengambilan darah telah dipenuhi barulah dilakukan pengambilan darah.
4. Pengelolahan Darah
Beberapa usaha pencegahan yang di kerjakan oleh PMI sebelum darah diberikan kepada
penderita adalah penyaringan terhadap penyakit di antaranya :
a. Penyakit Hepatitis B
b. Penyakit HIV/AIDS
c. Penyakit Hipatitis C
d. Penyakit Kelamin (VDRL)
Waktu yang di butuhkan pemeriksaan darah selama 1-2 jam
5. Penyimpanan Darah
Darah disimpan dalam Blood Bank pada suhu 26 derajat celcius.
Darah ini dapat dipisahkan menjadi beberapa komponen seperti :
PRC,Thrombocyt,Plasma,Cryo precipitat

E. TINDAKAN PENCEGAHAN & REAKSI KERACUNAN

Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya reaksi selama transfusi, dilakukan beberapa


tindakan pencegahan.
Setelah diperiksa ulang bahwa darah yang akan diberikan memang ditujukan untuk resipien yang
akan menerima darah tersebut, petugas secara perlahan memberikan darah kepada resipien,
biasanya selama 2 jam atau lebih untuk setiap unit darah.

Karena sebagian besar reaksi ketidakcocokan terjadi dalam15 menit pertama, , maka pada awal
prosedur, resipien harus diawasi secara ketat.
Setelah itu, petugas dapat memeriksa setiap 30- 45 menit dan jika terjadi reaksi ketidakcocokan,
maka transfusi harus dihentikan.

Sebagian besar transfusi adalah aman dan berhasil; tetapi reaksi ringan kadang bisa terjadi,
sedangkan reaksi yang berat dan fatal jarang terjadi.
Reaksi yang paling sering terjadi adalah demam dan reaksi alergi (hipersensitivitas), yang terjadi
sekitar 1-2% pada setiap transfusi.

Gejalanya berupa:
- gatal-gatal
- kemerahan
- pembengkakan
- pusing
- demam
- sakit kepala.
Gejala yang jarang terjadi adalah kesulitan pernafasan, bunyi mengi dan kejang otot.
Yang lebih jarang lagi adalah reaksi alergi yang cukup berat.

Walaupun dilakukan penggolongan dan cross-matching secara teliti, tetapi kesalahan masih
mungkin terjadi sehingga sel darah merah yang didonorkan segera dihancurkan setelah
ditransfusikan (reaksi hemolitik0.
Biasanya reaksi ini dimulai sebagai rasa tidak nyaman atau kecemasan selama atau segera
setelah dilakukannya transfusi.

Kadang terjadi kesulitan bernafas, dada terasa sesak, kemerahan di wajah dan nyeri punggung
yang hebat.
Meskipun sangat jarang terjadi, reaksi ini bisa menjadi lebih hebat dan bahkan bisa berakibat
fatal.

Untuk memperkuat dugaan terjadinya reaksi hemolitik ini, dilakukan pemeriksaan untuk melihat
apakah terdapat hemoglogin dalam darah dan air kemih penderita.

Resipien bisa mengalami kelebihan cairan.


Yang paling peka akan hal ini adalah resipien penderita penyakit jantung, sehingga transfusi
dilakukan lebih lambat dan dipantau secara ketat.

Penyakit graft-versus-host merupakan komplikasi yang jarang terjadi, yang terutama mengenai
orang-orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan karena obat atau penyakit.
Pada penyakit ini, jaringan resipien (host) diserang oleh sel darah putih donor (graft).
Gejalanya berupa demam, kemerahan, tekanan darah rendah, kerusakan jaringan dan syok
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Seorang calon pendonor yang akan mendonorkan darahnya harus memiliki fisik tubuh yang
baik dan sehat.
2. Seorang calon pendonor darah harus memenuhi syarat seorang pendonor darah.
3. Seorang pendonor harus memperhatiikan keadaannya sebelum mendodnorkan darahnya kepada
penderita.

B. Saran
1. Pembaca yang membaca makalah ini agar dapat memberikan saran dan masukkan terhadap
makalah yang telah kami jawab.

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR
.
DAFTAR
ISI

BAB I
PEMDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG

B. RUMUSAN
MASALAH.
C. MANFAAT
..
BAB II
PEMBAHASAN
A. SYARAT-SYARAT TRANSFUSI
DARAH
B. ORANG YANG TIDAK DAPAT MENJADI
PENDONOR
C. MANFAAT DONOR
DARAH
D. PROSES TRANSFUSI
DARAH
E. TINDAKAN PENCEGAHAN DAN REAKSI
KERACUNAN
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

B. SARAN

DAFTAR
PUSTAKA

Diposkan oleh Yazhid Bashar LD di 01.36
Transfusi Darah
Transfusi Darah
Pemeriksaan Pre Transfusi
Tujuan : adalah memilih darah atau komponen darah yang kompatibel, sehingga dapat
meyelamatkan jiwa seseorang dengan tidak merusak sel darah merah resipien atau tidak
merugikan resipien.
Prosedur Permintaan Darah
Bila memerlukan darah untuk transfusi, maka sekitar 5-10 ml darah resipien diambil dan
dimasukkan kedalam tabung kering untuk memastikan serum yang cukup banyak untuk
melakukan uji silang serasi.
Sampel darah harus diberi pengenal yang jelas dengan nama lengkap pasien, nomor registrasi
rumah sakit serta nama bangsal, kemudian dikirim secepatnya kelaboratorium bersamaan dengan
formulir permintaan darah lengkap.
Formulir Permintaan Darah
Sebaiknya disertai keterangan tentang pasien, dan harus ditandatangani oleh dokter yang
merawat pasien. formulir permintaan darah harus berisikan informasi sebagai berikut :
1. Tanggal permintaan
2. Nama lengkap resipien
3. Tanggal lahir atau usia
4. Jenis kelamin
5. Nomor registrasi rumah sakit
6. Ruang rawat/bangsal
7. Alamat resipien
8. Diagnosis resipien
9. Golongan darah bila sudah diketahui
10. Keberadaan setiap antibody, bila sudah diketahui
11. Riwayat transfusi sebelumnya
12. Riwayat reaksi transfusi sebelumnya, bila ada
13. Jumlah dan jenis darah atau produk darah yang dibutuhkan
14. Tanggal dan waktu darah dibutuhkan
15. Tanda tangan dokter yang meminta darah.

Contoh darah
Pengambilan contoh darah resipien dengan pemberian label yang benar dari resipien yang akan
ditransfusikan merupakan hal yang kritis untuk keselamatan transfusi darah.
Petugas yang mengambil contoh darah harus mengidentifiasi resipien dengan membandingkan
informasi yang ada didalam formulir permintaan darah dengan informasi pada tanda pengenal
resipien yang ada dirumah sakit tersebut.
Masalah dapat timbul bila ada ketidakjelasan identitas pada saat pengambilan darah dan
transfusi, sehingga perlu diambil lagi contoh darah baru untuk mengabsahkan identitas.
Keadaan Contoh Darah
Untuk pemeriksaan pretransfusi dapat digunakan serum atau plasma. Darah yang hemolisis tidak
dapat digunakan. Hemoglobin yang bebas dalam serum dapat menutupi hemolisis yang
diakibatkan oleh antibody.
Usia Contoh Darah
Uji silang serasi harus dilakukan dengan contoh darah yang diambil dalam waktu <3 br=""
dan="" hari="" inaktivasi="" kesalahan="" komplemen="" menghindari="" pendataan.=""
untuk="">Konfirmasi Identitas Contoh darah di Bank Darah.
Bila contoh darah sudah diterima di Bank darah, petugas yang berkompeten harus
mengonfirmasikan kesesuaian contoh darah dengan formulir permintaan darah. Bila ada keragu-
raguan, bank darah harus memperoleh contoh darah baru. Tidak diperkenankan seseorang
memperbaiki atau menyalahkan contoh darah tersebut.

Penyimpanan contoh darah


Contoh darah resipien dan donor harus ditutup dan disimpan dengan baik pada suhu 2-60C
minimal 7 hari setelah transfusi untuk pemeriksaan ulang bila ada laporan terjadinya reaksi
transfusi.
Pendataan
Setiap permintaan darah dan pemeriksaan darah harus ada pendataan yang lengkap agar dapat
dilakukan penelusuran kembali bila dibutuhkan sewaktu-waktu. Pada setiap uji silang serasi
harus dilakukan pendataan pemeriksaan darah sebelumya pada pasien-pasien yang mempunyai
riwayat serologis. Bila pasien pernah diperiksa sebelumnya, maka hasil pemeriksaan yang baru
harus dibandingkan dengan hasil pemeriksaan sebelumnya.
Pemeriksaan serologis
Untuk darah lengkap (whole Blood) dan komponen darah lainnya seperti sel darah merah cuci
(washed erythrocyte), eritosit konsentrat, atau trombosit konsentrat yang mengandung 5 mL sel
darah merah harus diuji silang serasi terlebih dahulu antara darah donor dengan darah resipien.
Pemeriksaan Golongan Darah
Darah adalah suatu suspensi yang terdiri atas plasma dan sel-sel darah. Antigen (aglutinogen)
golongan darah terikat pada sel darah merah sedangkan antibody (agglutinin) terdapat dalam
plasma darah. Sifat golongan darah adalah diturunkan, terikat somatik kromosom dan bersifat
abadi (kebakaan). Baik antigen maupun antibody dari golongan darah terdapat dalam darah kita
dalam bentuk ketidak sesuaian. Pada golongan darah system ABO dibagi menjadi 4 golongan
darah yaitu A; B; AB dan O. golongan A terdapat antigen A dan anti B; golongan B terdapat
antigen B dan anti A; golongan AB terdapat antigen AB dan tidak terdapat antibody; golongan O
tidak terdapat antigen dan terdapat anti-A dan Anti-B

Tujuan Pemeriksaan :
1. Menentukan adanya antigen A; B; Rhesus pada sel darah merah serta adanya anti-A dan anti-
B pada serum atau plasma darah.
2. Untuk memastikan tidak adanya antibody-antibodi pada darah pasien yang akan bereaksi
dengan darah donor bila ditransfusikan atau sebaliknya.
Persiapan
Bahan dan Reagen :
1. Darah pasien
2. Darah donor
3. Anti-A
4. Anti-B
5. Anti-D IgM
6. Anti-D IgG
7. Bovine albumin 22%
8. Coombs serum
9. Larutan saline (NaCl 0,9%)
10. Aquadest
11. Larutan alsever
12. Low Ionic Strenght Saline (LISS) : 0,2% larutan garam faali dan larutan 7% sukrosa
13. Reagen gel tes
14. Desinfektan (hipoclorit 0,5%)
15. Detergent
Peralatan yang digunakan pada pemeriksaan golongan darah :
1. Sentrifus untuk pemisahan darah menggunakan tebung reaksi
2. Sentrifus untuk pemeriksaan golongan darah metoda tabung
3. Sentrifus untuk pemeriksaan metode gel
4. Incubator 370C
5. Incubator 370C untuk pemeriksaan metode gel
6. Refrigerator (lemari es)
7. Tabung reaksi ukuran 12 x 75 mm
8. Rak tabung reaksi
9. Pipet Pasteur
10. Bloodgrouping plate
11. Pipet adjustable ukuran 200-1000uL
12. Pipet adjustable ukuran 5-50 uL
13. Tissue
14. Objek glass
15. Mikroskop
16. Tips Kuning
17. Tips biru
18. Label
19. Spidol White Board
20. Wadah melamin untuk mencuci pipet
21. Sarung tangan
22. Masker
23. Jas Laboratorium
24. Gunting
25. Kantong plastic hitam untuk limbah

Pemisahan Serum/ plasma dari sel darah merah


Prinsip : Darah sitrat dengan pemutaran akan terjadi pemisahan antara plasma dan sel-sel
darah
Tujuan : Memisahkan plasma dari sel-sel darah
Kegunaan :
1. Persiapan pembuatan suspense sel darah merah
2. Persiapan penentuan antigen golongan darah
Cara Kerja :
1. Darah dimasukkan kedalam tabung sentrifus
2. Putar 3300 rpm selama 1,5-2 menit
3. Supernatant diambil dengan pipet tetes dan dipindahkan kedalam tabung dan diberi label
plasma kemudian disimpan terpisah
4. Sel darah merah terdapat pada bagian bawah tabung
Transfusi Darah
DEFINISI

Transfusi Darah adalah pemindahan darah atau suatu komponen darah dari seseorang (donor)
kepada orang lain (resipien).

Transfusi diberikan untuk:


- meningkatkan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen
- memperbaiki volume darah tubuh
- memperbaiki kekebalan
- memperbaiki masalah pembekuan.

Tergantung kepada alasan dilakukannya transfusi, bisa diberikan darah lengkap atau komponen
darah (misalnya sel darah merah, trombosit, faktor pembekuan, plasma segar yang
dibekukan/bagian cairan dari darah atau sel darah putih).
Jika memungkinkan, akan lebih baik jika transfusi yang diberikan hanya terdiri dari komponen
darah yang diperlukan oleh resipien.
Memberikan komponen tertentu lebih aman dan tidak boros.

Teknik penyaringan darah sekarang ini sudah jauh lebih baik, sehingga transfusi lebih aman
dibandingkan sebelumnya.
Tetapi masih ditemukan adanya resiko untuk resipien, seperti reaksi Alergi dan infeksi.
Meskipun kemungkinan terkena AIDS atau Hepatitis melalui transfusi sudah kecil, tetapi harus
tetap waspada akan resiko ini dan sebaiknya transfusi hanya dilakukan jika tidak ada pilihan lain.

PENGUMPULAN & PENGGOLONGAN DARAH.

Penyumbang darah (donor) diperiksa keadaan kesehatannya.


Denyut nadi,
tekanan darah
dan suhu tubuhnya diukur,
dan contoh darahnya diperiksa untuk mengetahui adanya anemia.

Ditanyakan apakah pernah atau sedang menderita keadaan tertentu yang menyebabkan darah
mereka tidak memenuhi syarat untuk disumbangkan.
Keadaan tersebut adalah hepatitis, penyakit jantung, kanker (kecuali bentuk tertentu misalnya
kanker kulit yang terlokalisasi), Asma yang berat, malaria, kelainan perdarahan, AIDS dan
kemungkinan tercemar oleh virus AIDS.
Hepatitis, kehamilan, pembedahan mayor yang baru saja dijalani, tekanan darah tinggi yang
tidak terkendali, tekanan darah rendah, anemia atau pemakaian obat tertentu; untuk sementara
waktu bisa menyebabkan tidak terpenuhinya syarat untuk menyumbangkan darah.

Donor hanya diperbolehkan menyumbangkan darahnya 1 kali setiap 3 bulan.

Standard unit pengambilan darah hanya sekitar 0,48 liter.


Darah segar yang diambil disimpan dalam kantong plastik yang sudah mengandung bahan
pengawet dan komponen Anti pembekuan.

Sejumlah kecil contoh darah dari penyumbang diperiksa untuk mencari adanya penyakit infeksi
seperti AIDS, hepatitis virus dan sifilis.
Darah yang didinginkan dapat digunakan dalam waktu selama 42 hari.
Pada keadaan tertentu, (misalnya untuk mengawetkan golongan darah yang jarang), sel darah
merah bisa dibekukan dan disimpan sampai selama 10 tahun.

Karena transfusi darah yang tidak cocok dengan resipien dapat berbahaya, maka darah yang
disumbangkan, secara rutin digolongkan berdasarkan jenisnya; apakah golongan A, B, AB atau
O dan Rh-positif atau Rh-negatif.
Sebagai tindakan pencegahan berikutnya, sebelum memulai transfusi, pemeriksa mencampurkan
setetes darah donor dengan darah resipien untuk memastikan keduanya cocok: teknik ini disebut
cross-matching.

DARAH & KOMPONEN DARAH.

Seseorang yang membutuhkan sejumlah besar darah dalam waktu yang segera (misalnya karena
perdarahan hebat), bisa menerima darah lengkap untuk membantu memperbaiki volume cairan
dan sirkulasinya.
Darah lengkap juga bisa diberikan jika komponen darah yang diperlukan tidak dapat diberikan
secara terpisah.

Komponen darah yang paling sering ditransfusikan adalah packed red blood cells (PRC), yang
bisa memperbaiki kapasitas pengangkut oksigen dalam darah.
Komponen ini bisa diberikan kepada seseorang yang mengalami perdarahan atau penderita
anemia berat.
Yang jauh lebih mahal daripada PRC adalah frozen-thawed red blood cells, yang biasanya
dicadangkan untuk transfusi golongan darah yang jarang.

Beberapa orang yang membutuhkan darah mengalami alergi terhadap darah donor.
Jika obat tidak dapat mencegah reaksi alergi ini, maka harus diberikan sel darah merah yang
sudah dicuci.

Jumlah trombosit yang terlalu sedikit (trombositopenia) bisa menyebabkan perdarahan spontan
dan hebat.
Transfusi trombosit bisa memperbaiki kemampuan pembekuan darah.

Faktor pembekuan darah adalah protein plasma yang secara normal bekerja dengan trombosit
untuk membantu membekunya darah.
Tanpa pembekuan, perdarahan karena suatu cedera tidak akan berhenti.
Faktor pembekuan darah yang pekat bisa diberikan kepada penderita kelainan perdarahan
bawaan, seperti hemofilia atau penyakit von Willebrand.

Plasma juga merupakan sumber dari faktro pembekuan darah.


Plasma segar yang dibekukan digunakan pada kelainan perdarahan, dimana tidak diketahui
faktor pembekuan mana yang hilang atau jika tidak dapat diberikan faktor pembekuan darah
yang pekat.
Plasma segar yang dibekukan juga digunakan pada perdarahan yang disebabkan oleh
pembentukan protein faktor pembekuan yang tidak memadai, yang merupakan akibat dari
kegagalan hati.

Meskipun jarang, sel darah putih ditransfusikan untuk mengobati infeksi yang mengancam
nyawa penderita yang jumlah sel darah putihnya sangat berkurang atau penderita yang sel darah
putihnya tidak berfungsi secara normal.
Pada keadaan ini biasanya digunakan antibiotik.

Antibodi (imunoglobulin), yang merupakan komponen darah untuk melawan penyakit, juga
kadang diberikan untuk membangun kekebalan pada orang-orang yang telah terpapar oleh
penyakit infeksi (misalnya cacar air atau hepatitis) atau pada orang yang kadar antibodinya
rendah.

PROSEDUR DONOR DARAH KHUSUS.

Pada transfusi tradisional, seorang donor menyumbangkan darah lengkap dan seorang resipien
menerimanya.
Tetapi konsep ini menjadi luas.

Tergantung kepada keadaan, resipien bisa hanya menerima sel dari darah, atau hanya menerima
faktor pembekuan atau hanya menerima beberapa komponen darah lainnya.
Transfusi dari komponen darah tertentu memungkinkan dilakukannya pengobatan yang khusus,
mengurangi resiko terjadinya efek samping dan bisa secara efisien menggunakan komponen
yang berbeda dari 1 unit darah untuk mengobati beberapa penderita.

Pada keadaan tertentu, resipien bisa menerima darah lengkapnya sendiri (transfusi autolog).

Aferesis.

Pada aferesis, seorang donor hanya memberikan komponen darah tertentu yang diperlukan oleh
resipien.
Jika resipien membutuhkan trombosit, darah lengkap diambil dari donor dan sebuah mesin akan
memisahkan darah menjadi komponen-komponennya, secara selektif memisahkan trombosit dan
mengembalikan sisa darah ke donor.

Karena sebagian besar darah kembali ke donor, maka donor dengan aman bisa memberikan
trombositnya sebanyak 8-10 kali dalam 1 kali prosedur ini.

Transfusi autolog.

Transfusi darah yang paling aman adalah dimana donor juga berlaku sebagai resipien, karena hal
ini menghilangkan resiko terjadi ketidakcocokan dan penyakit yang ditularkan melalui darah.

Kadang jika seorang pasien mengalami perdarahan atau menjalani pembedahan, darah bisa
dikumpulkan dan diberikan kembali.
Yang lebih sering terjadi adalah pasien menyumbangkan darah yang kemudian akan diberikan
lagi dalam suatu transfusi.
Misalnya sebulan sebelum dilakukannya pembedahan, pasien menyumbangkan beberapa unit
darahnya untuk ditransfusikan jika diperlukan selama atau sesudah pembedahan.

Donor Terarah atau Calon Donor.

Anggota keluarga atau teman dapat menyumbangkan darahnya secara khusus satu sama lain, jika
golongan darah resipien dan darah donor serta faktor Rhnya cocok.

Pada beberapa resipien, dengan mengetahui donornya akan menimbulkan perasaan tenang,
meskipun darah dari anggota keluarga atau teman belum pasti lebih aman dibandingkan dengan
darah dari orang yang tidak dikenal.

Darah dari anggota keluarga diobati dengan penyinaran untuk mencegah penyakit graft-versus-
host, yang meskipun jarang terjadi, tetapi lebih sering terjadi jika terdapat hubungan darah
diantara donor dan resipien.

TINDAKAN PENCEGAHAN & REAKSI.

Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya reaksi selama transfusi, dilakukan beberapa


tindakan pencegahan.
Setelah diperiksa ulang bahwa darah yang akan diberikan memang ditujukan untuk resipien yang
akan menerima darah tersebut, petugas secara perlahan memberikan darah kepada resipien,
biasanya selama 2 jam atau lebih untuk setiap unit darah.

Karena sebagian besar reaksi ketidakcocokan terjadi dalam15 menit pertama, , maka pada awal
prosedur, resipien harus diawasi secara ketat.
Setelah itu, petugas dapat memeriksa setiap 30- 45 menit dan jika terjadi reaksi ketidakcocokan,
maka transfusi harus dihentikan.
Sebagian besar transfusi adalah aman dan berhasil; tetapi reaksi ringan kadang bisa terjadi,
sedangkan reaksi yang berat dan fatal jarang terjadi.
Reaksi yang paling sering terjadi adalah demam dan reaksi alergi (hipersensitivitas), yang terjadi
sekitar 1-2% pada setiap transfusi.

Gejalanya berupa:
- gatal-gatal
- kemerahan
- pembengkakan
- pusing
- demam
- sakit kepala.
Gejala yang jarang terjadi adalah kesulitan pernafasan, bunyi mengi dan kejang otot.
Yang lebih jarang lagi adalah reaksi alergi yang cukup berat.

Walaupun dilakukan penggolongan dan cross-matching secara teliti, tetapi kesalahan masih
mungkin terjadi sehingga sel darah merah yang didonorkan segera dihancurkan setelah
ditransfusikan (reaksi hemolitik0.
Biasanya reaksi ini dimulai sebagai rasa tidak nyaman atau kecemasan selama atau segera
setelah dilakukannya transfusi.

Kadang terjadi kesulitan bernafas, dada terasa sesak, kemerahan di wajah dan nyeri punggung
yang hebat.
Meskipun sangat jarang terjadi, reaksi ini bisa menjadi lebih hebat dan bahkan bisa berakibat
fatal.

Untuk memperkuat dugaan terjadinya reaksi hemolitik ini, dilakukan pemeriksaan untuk melihat
apakah terdapat hemoglogin dalam darah dan air kemih penderita.

Resipien bisa mengalami kelebihan cairan.


Yang paling peka akan hal ini adalah resipien penderita penyakit jantung, sehingga transfusi
dilakukan lebih lambat dan dipantau secara ketat.

Penyakit graft-versus-host merupakan komplikasi yang jarang terjadi, yang terutama mengenai
orang-orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan karena obat atau penyakit.
Pada penyakit ini, jaringan resipien (host) diserang oleh sel darah putih donor (graft).
Gejalanya berupa demam, kemerahan, tekanan darah rendah, kerusakan jaringan dan syok.

Darah itu dibagi menjadi dua bagian besar.


1. Selular (terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan trombosit)
2. Non selular (terdiri dari plasma dan benda-benda lain yang larut di dalamnya, contoh antibodi,
faktor pembekuan darah, glukosa, dll)
Alasan seseorang kekurangan suatu xat (baik selular maupun non selular) dalam darah, bisa
karena beberapa hal.
1. Produksinya yang kurang
2. Pengrusakan atau kehilangan yang berlebihan.

Contoh yang pertama adalah karena bahan dasar yang kurang. Kalau seseorang tidak punya
bahan untuk membuat darah, maka tubuhnya tidak akan bisa buat darah. Contoh lain adalah
rusaknya pabrik (dalam hal ini pabriknya adalah sumsum tulang).

Contoh nomor dua adalah penyakit talasemia (sel darah merah yang ada dirusak lebih cepat dari
waktunya) dan perdarahan berat (darah keluar dari pembuluh darah).

Pada kasus yang pertama, biasanya tubuh sudah punya kompensasi, sehingga sering kali tidak
butuh transfusi darah. Tapi pada hal yang kedua, biasanya diperlukan transfusi darah karena
tubuh tidak sempat untuk membuat kompensasi.

Seperti yang dikatakan, pemberian transfusi darah dapat berupa darah lengkap (semuanya) atau
bagian"/komponen nya saja (contoh sel darah merah pekat, trombosit pekat).

Baik pemberian darah lengkap dan komponennya mempunyai risiko yang besar. Oleh karena itu,
seorang dokter seharusnya berpikir sejuta kali sebelum menentukan seorang pasien perlu
mendapat transfusi darah atau tidak.

Penentuan pemberian darah atau komponen darah tergantung pada keadaan si pasien. Kalau
seorang pasien mempunyai masalah pembentukan sel darah merah, maka dia hanya perlu
mendapat sel darah merah, dia tidak perlu mendapatkan tambahan trombosit, antibodi, faktor
pembekuan, dll.

Kadang, ada pasien yang membutuhkan semuanya. Pada saat seperti itu dapat diberikan darah
lengkap. Contoh pada pasien yang mengalami perdarahan berat.
Diposkan oleh chikal blog.com di 07.42 Tidak ada komentar: