Anda di halaman 1dari 15

PRAKTIKUM COMPONDING DISPENDING

RHEUMATOID ARTHRITIS

Oleh : Kelas B1/Kelompok 4

Kharisma Alfiani (1720343774)

Krisdita Sundari P P (1720343775)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Rheumatoid arthritis adalah penyakit kronis yang menyebabkan nyeri, kekakuan,


pembengkakan dan keterbatasan gerak serta fungsi dari banyak sendi. Rheumatoid arthritis
dapat mempengaruhi sendi apapun, sendi-sendi kecil di tangan dan kaki cenderung paling
sering terlibat. Pada rheumatoid arthritis kekakuan paling sering terburuk di pagi hari. Hal ini
dapat berlangsung satu sampai dua jam atau bahkan sepanjang hari. Kekakuan untuk waktu
yang lama di pagi hari tersebut merupakan petunjuk bahwa seseorang mungkin memiliki
rheumatoid arthritis, karena sedikit penyakit arthritis lainnya berperilaku seperti ini.
Misalnya, osteoarthritis paling sering tidak menyebabkan kekakuan pagi yang
berkepanjangan.

Gangguan yang terjadi pada pasien rheumatoid arthritis lebih besar kemungkinannya
untuk terjadi pada suatu waktu tertentu dalam kehidupan pasien. Kebanyakan penyakit
rheumatoid arthritis berlangsung kronis yaitu sembuh dan kambuh kembali secara berulang-
ulang sehingga menyebabkan kerusakan sendi secara menetap. Rheumatoid arthritis dapat
mengancam jiwa pasien atau hanya menimbulkan gangguan kenyamanan. Masalah yang
disebabkan oleh penyakit rheumatoid arthritis tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak
jelas pada mobilitas dan aktivitas hidup sehari-hari tetapi juga efek sistemik yang tidak jelas
yang dapat menimbulkan kegagalan organ. Rheumatoid arthritis dapat mengakibatkan
masalah seperti rasa nyeri, keadaan mudah lelah, perubahan citra diri serta gangguan tidur.
Dengan demikian hal yang paling buruk pada penderita rheumatoid arthritis adalah pengaruh
negatifnya terhadap kualitas hidup. Bahkan kasus rheumatoid arthritis yang tidak begitu
parah pun dapat mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan seseorang untuk produktif
dan melakukan kegiatan fungsional sepenuhnya. Rheumatoid arthritis dapat mengakibatkan
tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari seutuhnya.

Penderita penyakit kronik seperti rheumatoid arthritis mengalami berbagai macam


gejala yang berdampak negatif terhadap kualitas hidup mereka. Banyak usaha yang dilakukan
agar pasien dengan rheumatoid arthritis dapat merasa lebih baik dan dapat memperbaiki
kualitas hidup mereka. Pengobatan saat ini tidak hanya bertujuan mencegah atau berusaha
menyembuhkan rheumatoid arthritis, tujuan utama pengobatan juga untuk mengurangi akibat
penyakit dalam hidup pasien dengan meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi kecacatan.

Pemberian terapi rheumatoid arthritis dilakukan untuk mengurangi nyeri sendi dan
bengkak, meringankan kekakuan serta mencegah kerusakan sendi sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup pasien. Pengobatan rheumatoid arthritis yang dilakukan hanya
akan mengurangi dampak penyakit, tidak dapat memulihkan sepenuhnya. Rencana
pengobatan sering mencakup kombinasi dari istirahat, aktivitas fisik, perlindungan sendi,
penggunaan panas atau dingin untuk mengurangi rasa sakit dan terapi fisik atau pekerjaan.
Obat-obatan memainkan peran yang sangat penting dalam pengobatan rheumatoid arthritis.
Obat-obat untuk mengatasi Rheumatoid Arthritis yang dapat diberikan secara swamediasi
antaralain adalah obat-obat golongan NSAID.

2. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi Rheumatoid Arthritis ?
2. Bagaimana klasifikasi Rheumatoid Arthritis ?
3. Bagaimana epidemiologi dari Rheumatoid Arthritis ?
4. Bagaimana etiologi dari Rheumatoid Arthritis ?
5. Apa saja faktor resiko Bagaimana epidemiologi dari Rheumatoid Arthritis ?
6. Apa saja obat Rheumatoid Arthritis yang bisa diberikan secara swamedikasi ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Rheumatoid Arthritis

Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang berarti sendi.
Kedua, itis yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang sendi. Sedangkan
rheumatoid arthritis adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi
tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan
seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Rheumatoid arthritis
adalah penyakit jaringan penyambung sistemik dan kronis dikarakteristikkan oleh inflamasi
dari membran sinovial dari sendi diartroidial.

2. Klasifikasi Rheumatoid Arthritis

klasifikasi rheumatoid arthritis dibagi menjadi 4 tipe, yaitu:

1) Rheumatoid arthritis klasik pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala
sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
Universitas Sumatera Utara
2) Rheumatoid arthritis defisit pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala
sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
3) Probable rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala
sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
4) Possible rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala
sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.

3. Epidemiologi

Prevalensi RA relatif konstan yaitu berkisar antara 0,5-1% di seluruh. Dalam ilmu
penyakit dalam Harrison edisi 18, insidensi dan prevalensi RA bervariasi berdasarkan lokasi
geografis dan diantara berbagai grup etnik dalam suatu negara. Misalnya, masyarakat asli
Ameika, Yakima, Pima, dan suku-suku Chippewa di Amerika Utara dilaporkan memiliki
rasio prevalensi dari berbagai studi sebesar 7%. Prevalensi ini merupakan prevalensi tertinggi
di dunia. Beda halnya, dengan studi pada populasi di Afrika dan Asia yang menunjukkan
prevalensi lebih rendah 10 sekitar 0,2%-0,4%.
Prevalensi RA di India dan di negara barat kurang lebih sama yaitu sekitar 0,75%.
Sedangkan, di Jerman sekitar sepertiga orang menderita nyeri sendi kronik mulai dari usia 20
tahun dan juga seperduanya berusia 40 tahun. Satu dari penyebab utama nyeri yang timbul,
dengan konsekuensi yang serius, merupakan RA . RA adalah penyakit inflamasi reumatik
yang paling sering dengan prevalensi 0,5% sampai 0,8% pada populasi dewasa. Insidensinya
meningkat seiring usia, 25 hingga 30 orang dewasa per 100.000 pria dewasa dan 50 hingga
60 per 100.000 wanita dewasa.

Studi RA di Negara Amerika Latin dan Afrika menunjukkan predominansi angka


kejadian pada wanita lebih besar dari pada laki-laki, dengan rasio 6-8:1. Gambar 3.
Prevalensi global penyakit artritis reumatoid. Di Cina, Indonesia dan Filipina prevalensinya
kurang dari 0,4% baik didaerah urban ataupun rural. Hasil survey yang dilakukan di Jawa
Tengah mendapatkan prevalensi RA sebesar 0,2% di daerah rural dan 0,3% di daerah urban.
Sedangkan penelitian yang dilakukan di Malang pada penduduk berusai diatas 40 tahun
mendapatkan prevalensi RA sebesar 0,5% didaerah kotamadya dan 0,6% didaerah kabupaten.
Di poliklinik reumatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, kasus baru RA 11
merupakan 4,1% dari seluruh kasus baru pada tahun 2000 dan pada periode januari s/d juni
2007 didapatkan sebanyak 203 kasus RA dari jumlah seluruh kunjungan sebanyak 12.346
orang (15,1%). Prevalensi RA lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan dengan
laki-laki dengan rasio 3:1 dan dapat terjadi pada semua kelompok umur, dengan angka
kejadian tertinggi didapatkan pada dekade keempat dan kelima.

Prevalensi RA yang hanya sebesar 1 sampai 2 % diseluruh dunia, pada wanita di atas
50 tahun prevalensinya meningkat hampir 5%. Puncak kejadian RA terjadi pada usia 20-45
tahun. Berdasarkan penelitian para ahli dari universitas Alabama, AS, wanita yang memderita
RA mempunyai kemungkintan 60% lebih besar untuk meninggal dibanding yang tidak
menderita penyakit tersebut. Dari data presurvey di Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
didapatkan bahwa penyakit RA menjadi salah satu dari 10 penyakit terbesar sejak tahun
2011. Pada presurvey ini dilakukan pengamatan data sejak tahun 2007 sampai dengan 2012.
RA muncul pada tahun 2011 menempati urutan kedelapan dengan angka diagnosa sebanyak
17.671 kasus (5,24%) dan naik ke urutan keempat pada tahun 2012 dengan 50.671 kasus
(7,85%) . Dan dari profil kesehatan di dinas kesehatan sejak tahun 2007-2011 didapatkan
penyakit RA muncul menjadi salah satu dari 10 penyakit terbesar di kota Bandar Lampung
pada tahun 2009 di urutan keempat dengan presentase sebesar 5,99%, tahun 2010 menjadi
urutan ketiga sebesar 7,2% dan tahun 2011 pada urutan keempat dengan presentasi sebesar
7,11% . Di poliklinik penyakit dalam untuk pasien rawat jalan di RSUD Abdoel Meoloek,
pada presurvey yang telah dilakukan peneliti pada tahun 2012 periode Januari-Desember
terjadi 1.060 kasus.

4. Etiologi

Etiologi RA belum diketahui dengan pasti. Namun, kejadiannya dikorelasikan dengan


interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.

a. Genetik, berupa hubungan dengan gen HLA-DRB1 dan faktor ini memiliki angka
kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 60%.
b. Hormon Sex, perubahan profil hormon berupa stimulasi dari Placental Corticotraonin
Releasing Hormone yang mensekresi dehidropiandrosteron (DHEA), yang merupakan
substrat penting dalam sintesis estrogen plasenta. Dan stimulasi esterogen dan
progesteron pada respon imun humoral (TH2) dan menghambat respon imun selular
(TH1). Pada RA respon TH1 lebih dominan sehingga estrogen dan progesteron
mempunyai efek yang berlawanan terhadap perkembangan penyakit ini.
c. Faktor Infeksi, beberapa agen infeksi diduga bisa menginfeksi sel induk semang
(host) dan merubah reaktivitas atau respon sel T sehingga muncul timbulnya penyakit
RA.
d. Heat Shock Protein (HSP), merupakan protein yang diproduksi sebagai respon
terhadap stres. Protein ini mengandung untaian (sequence) asam amino homolog.
Diduga terjadi fenomena kemiripan molekul dimana antibodi dan sel T mengenali
epitop HSP pada agen infeksi dan sel Host. Sehingga bisa menyebabkan terjadinya
reaksi silang Limfosit dengan sel Host sehingga mencetuskan reaksi imunologis.
e. Faktor Lingkungan, salah satu contohnya adalah merokok.
5. Faktor Resiko

Faktor resiko dalam peningkatan terjadinya RA antara lain jenis kelamin perempuan,
ada riwayat keluarga yang menderita RA, umur lebih tua, paparan salisilat dan merokok.
Resiko juga mungkin terjadi akibat konsumsi kopi lebih dari tiga cangkir sehari, khusunya
kopi decaffeinated (suarjana, 2009). Obesitas juga merupakan faktor resiko.

6. Patofisiologi

RA merupakan penyakit autoimun sistemik yang menyerang sendi. Reaksi autoimun


terjadi dalam jaringan sinovial. Kerusakan sendi mulai terjadi dari proliferasi makrofag dan
fibroblas sinovial. Limfosit menginfiltrasi daerah perivaskular dan terjadi proliferasi sel-sel
endotel kemudian terjadi neovaskularisasi. Pembuluh darah pada sendi yang terlibat
mengalami oklusi oleh bekuan kecil atau sel-sel inflamasi. Terbentuknya pannus akibat
terjadinya pertumbuhan yang iregular pada jaringan sinovial yang mengalami inflamasi.
Pannus kemudian menginvasi dan merusak rawan sendi dan tulang Respon imunologi
melibatkan peran sitokin, interleukin, proteinase dan faktor pertumbuhan. Respon ini
mengakibatkan destruksi sendi dan komplikasi sistemik (Surjana, 2009).

Sel T dan sel B merupakan respon imunologi spesifik. Sel T merupakan bagian dari
sistem immunologi spesifik selular berupa Th1, Th2, Th17, Treg, Tdth, CTL/Tc, NKT.
Sitokin dan sel B merupakan respon imunologi spesifik humoral, sel B berupa IgG, IgA, IgM,
IgE, IgD (Baratwidjaja, 2012). Peran sel T pada RA diawali oleh interaksi antara reseptor sel
T dengan share epitop dari major histocompability complex class II (MHCII-SE) dan peptida
pada antigen-presenting cell (APC) pada sinovium atau sistemik. Dan peran sel B dalam
imunopatologis RA belum diketahi secara pasti.

7. Manifestasi Klinis
RA dapat ditemukan pada semua sendi dan sarung tendo, tetapi paling sering di
tangan. RA juga dapat menyerang sendi siku, kaki, pergelangan kaki dan lutut. Sinovial
sendi, sarung tendo, dan bursa menebal akibat radang yang diikuti oleh erosi tulang dan
destruksi tulang disekitar sendi.

Ditinjau dari stadium penyakitnya, ada tiga stadium pada RA yaitu

a. Stadium sinovitis. Artritis yang terjadi pada RA disebabkan oleh sinovitis, yaitu
inflamasi pada membran sinovial yang membungkus sendi. Sendi yang terlibat umumnya
simetris, meski pada awal bisa jadi tidak simetris. Sinovitis ini menyebabkan erosi
permukaan sendi sehingga terjadi deformitas dan kehilangan fungsi. Sendi pergelangan
tangan hampir selalu terlibat, termasuk sendi interfalang proksimal dan
metakarpofalangeal.
b. Stadium destruksi Ditandai adanya kontraksi tendon saat terjadi kerusakan pada jaringan
sinovial.
c. Stadium deformitas Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang
kali, deformitas dan gangguan fungsi yang terjadi secara menetap

Manfestasi artikular RA terjadi secara simetris berupa inflamasi sendi, bursa, dan
sarung tendo yang dapat menyebabkan nyeri, bengkak, dan kekakuan sendi, serta hidrops
ringan. Tanda kardinal inflamasi berupa nyeri, bengkak, kemerahan dan teraba hangat
mungkin ditemukan pada awal atau selama kekambuhan, namun kemerahan dan perabaan
hangat mungkin tidak dijumpai pada RA kronik. Sendi-sendi besar, seperti bahu dan lutut,
sering menjadi manifestasi klinis tetap, meskipun sendi-sendi ini mungkin berupa gejala
asimptomatik setelah bertahun-tahun dari onset terjadinya

8. Obat Reumatoid Arthritis yang dapat diberikan secara Swamedikasi

Obat RA yang dapat diberikan secara swamedikasi adalah obat-obat golongan obat
bebas, obat bebas terbatas, dan OWA. Untuk mengatasi nyeri sendi pada RA dapat diberikan
obat-obat antiinflamasi baik oral maupun topikal. Antara lain:

a. Natrium Diklofenak (OWA 3)


Indikasi : antiinflamasi dan antirematik
Maksimal 10 tablet 25 mg
Efek samping : mual, dada terasa panas, perut kembung, konstipasi, diare, nyeri kepala,
mengantuk, dan pusing
b. Peroksikam
Indikasi : antiinflamasi dan antirematik (OWA 3)
Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi (OWA 2)
1 Tube
Maksimal 10 tablet 10 mg
Efek samping : sembelit, diare, pusing, kembung, sakit kepala, mulas, mual, sakit perut,
muntah
c. Ibuprofen (OWA 2)
Tab 400 mg, 10 tablet
Tab 800 mg, 10 tablet Diubah menjadi Obat Bebas Terbatas
Efek samping : mual, muntah, diare, gastritis, sakit perut
d. Metilprednisolon (OWA 2)
Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi
1 Tube
Efek samping : Mual dan muntah, nyeri ulu hati, sakit perut, gangguan pencernaan.
lemas dan lelah, mengeluarkan banyak keringat, sulit tidur, hipertensi
e. Prednison (OWA 2)
Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi
1 Tube
Efek samping : Mual dan muntah, nyeri ulu hati, sakit perut, gangguan pencernaan.
lemas dan lelah, mengeluarkan banyak keringat, sulit tidur, hipertensi
f. Dexametason (OWA 2)
Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi
1 Tube
Efek samping : Gangguan pada saluran pencernaan seperti sakit perut dan mual, Infeksi
jamur oportunis, Kebingungan dan gangguan tidur, Peningkatan berat badan
Kelemahan pada otot tubuh, Menstruasi tidak lancar, Pengeroposan tulang atau
osteoporosis, Gangguan pada pertumbuhan
g. Hidrokortison (OWA 2)
Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi
1 Tube
Efek samping : Kulit terasa panas atau seperti terbakar Terasa gatal di kulit. Kulit
mengalami kekeringan. Atrofi kulit (penipisan dan pengerutan kulit). Infeksi sekunder.
stretch mark. kulit lebam. perubahan warna kulit. Munculnya pembuluh darah halus di
permukaan kulit.

Kasus

Seorang bapak berumur 60 tahun dating ke apotek dengan keluhan lengan bagian kanan pegal
dan sering kesemutan serta bengkak pada bagian pergelangan tangan.

Tugas:

Lakukan assessment pada pasien (data diri, penyakit dan obat)


Pilhkan terapi yang tepat untuk pasien

Dialog:

Di pagi hari yang cerah, datanglah seorang bapak lanjut usia ke apotek Kita Sehat

Apoteker : selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?

Pasien : selamat pagi juga mbak, iya mbak.

Apoteker : kira-kira apa yang bisa saya bantu ya pak?


Pasien : ini mbak saya mau beli obat buat lengan saya yang pegal trus sering
kesemutan, dan pergelangan tangan saya juga bengkak mbak.

Apoteker : boleh saya liat bengkaknya mbak?

Pasien : iya, silahkan mbak.

Apoteker : dari yang saya liat, mungkin bapak terkena rematik tapi untuk lebih jelasnya
lagi apakah bapak bersedia melakukan konseling?

Pasien : boleh saja mbak, tapi konseling itu buat apa ya mbak? Dan kira-kira lama
tidak mbak?

Apoteker : konseling itu seperti saya memberikan pengetahuan ke bapak tentang


penyakit, efek samping obat, cara pakai, juga dosis obat yang akan di
konsumsi bapak. tidak terlalu lama kok pak, sekitar 10-15menit.

Pasien : oh begitu ya mbak, baiklah saya bersedia mbak.

Apoteker : baik pak, untuk lebih enaknya mari silahkan masuk dulu pak ke ruangan
konseling. Biar lebih nyaman lagi pak.

Di dalam ruang konseling

Apoteker : silahkan duduk pak.

Pasien : baik mbak.

Apoteker : sebelum melakukan konseling pertama-tama saya perkenalkan diri dulu ya


pak. Nama saya Krisdita apoteker di apotek ini. Kalau boleh tahu, nama bapak
siapa ya? Buat mengisi data diri bapak.

Pasien : nama saya pak Charles, mbak.

Apoteker : pak Charles alamat lengkapnya dimana ya pak? Dan nomor hp atau telepon
yang bias dihubungi?

Pasien : tegal mulyo rt3/rw2 gang merbabu no. 4 mbak. Nomor hp saja mbak
082187403213
Apoteker : baik pak. Sebelumnya apakah bapak sudah pernah periksa ke dokter? Kira-
kira dari keluhannya bapak tadi apakah masih ada lagi keluhan yang lainnya
pak?

Pasien : belum pernah mbak. ada mbak, hanya itu saja yang saya rasakan.

Apoteker : apakah bapak seorang perokok? Dan bapak juga merasakan pusing, mual dan
muntah juga?

Pasien : tidak mbak. Dan saya juga selama sebulan ini sedang berusaha untuk
berhenti merokok mbak.

Apoteker : apakah bapak merasakan demam dan apakah badan bapak sering meriang?

Pasien : iya mbak, tapi itu kalau saya mandi agak malam saja mbak, habis mandi itu
badan saya terasa demam juga meriang mbak.

Apoteker : sebelumnya apakah bapak pernah mempunyai riwayat penyakit rematik pak?
Dan apakah bapak sering merasakan ngilu di tulang atau sendi? Trus apakah
bapak sudah pernah minum obat untuk keluhan bapak ini?

Pasien : tidak punya mbak. Tapi katanya anak saya sepertinya saya kena rematik
karena akhir-akhir ini sering mandi kemalaman. Saya juga sering merasakan
itu semuanya mbak. Dan saya juga belum pernah minum obat untuk keluhan
saya ini pak.

Apoteker : begitu ya pak. Dari gejala yang saya lihat dan keluhan yang bapak katakan
sepertinya bapak memang terkena rematik.

Pasien : begitu ya mbak. Berarti benar apa yang dikatakan anak saya.

Apoteker : iya pak, seperti itu. Tapi bukan karena mandi malam yang buat bapak bisa
terkena rematik. Itu hanya asumsi orang yang tidak mengetahui pak.
Kemungkinan bapak sudah terkena rematik, hanya saja bapak tidak
mengetahuinya. Dengan mandi malam karena suhunya dingin, makanya bapak
merasakan demam setelah mandi, juga meriang. Serta tangan bapak jadi terasa
pegal juga kesemutan. Karena salah satu factor rematik itu suhu pak.

Pasien : begitu ya mbak, trus kira-kira obat buat rematiknya saya ini apa ya mbak.
Apoteker : untuk obat rematik ada beberapa pilihannya pak, yaitu na diklofenak dan
peroksikam pak.

Pasien : itu bedanya apa mbak semua obat itu untuk rematik?

Apoteker : kalau untuk na diklofenak itu bisa digunakan untuk sakit akibat rematik,
nyeri, peradangan, pembengkakkan, kekakuan dan nyeri sendi. Dosis
penggunaanya sehari 150mg-200mg atau 3-4tablet pak. Serta memiliki efek
samping seperti perut kembung, sakit perut, pusing, juga mual muntah. Tetapi
na diklofenak tidak dianjurkan untuk orang yang perokok pak. Untuk efek
samping pun tidak terlalu berpengaruh karena tiap orang mendapatkan efek
samping yang berbeda-beda pak. Peroksikam sendiri mempunyai khasiat yang
sama dengan na diklofenak. Untuk dosisnya 10mg-20mg pak. Dan piroksikam
ini pun memiliki efek samping yang sama. Piroksikam ini masih bisa
dianjaurkan untuk bapak, karena bapak kan sudah mulai untuk berhenti
merokok. Sediaannya ada yang tablet ada juga yang gel. Untuk tablet dosisnya
10mg ya pak, diminumnya 2 kali sehari. Obat ini sebaiknya diminum pada
saat sedang makan. Dan untuk gel ini nama dagangnya scandene dioleskan 3-
4kali sehari pada tempat yang sakit.

Pasien : begitu ya pak, trus obat yang tepat buat saya yang mana ya mbak?

Apoteker : buat bapak saya sarankan untuk memilih obat yang piroksikam ini pak.

Pasien : ya sudah mbak saya pilih piroksikam saja.

Apoteker : Bapak mau yang tablet atau gel?

Pasien : saya pilih yang peroksikam tablet saja mbak. Saya tidak suka pake gel
soalnya baunya tidak enak.

Apoteker : baiklah pak, tunggu sebentar ya pak. Saya ambilkan obatnya dulu.

Paien : iya mbak.

Beberapa saat kemudian apoteker dating membawa obat yang diinginkan.

Apoteker : ini pak obatnya. Piroksikam ini dosisnya 10mg ya pak, diminumnya 2 kali
sehari. Obat ini sebaiknya diminum pada saat sedang makan. Penyimpanannya
sendiri bisa disimpan di suhu ruang, atau tempat yang jauh dari paparan
matahari juga jangkauan anak-anak. Untuk efek sampingnya seperti yang saya
sudah katakana tadi yaitu seperti perut kembung, sakit perut, pusing, juga
mual muntah. Dan kalau bisa bapak memperbanyak minum air putih,
melakukan diet, menghindari kelelahan dan jangan mandi malam-malam lagi
pak. Apakah sudah jelas pak?

Pasien : iya pak sudah.

Apoteker : baik kalau bapak sudah jelas. Bisa bapak ulangi yang saya katakana tentang
penggunaan obat ini pak serta hal lain yang dilakukan selain minum obat pak?

Pasien : dosisnya ini 10mg, diminumnya 2 kali sehari. Obat ini sebaiknya diminum
pada saat sedang makan. Dan untuk penyimpanannya sendiri bisa disimpan di
suhu ruang, atau tempat yang jauh dari paparan matahari juga jangkauan anak-
anak. Untuk efek sampingnya yaitu seperti perut kembung, sakit perut, pusing,
juga mual muntah. Juga memperbanyak minum air putih, melakukan diet,
menghindari kelelahan dan jangan mandi malam-malam lagi.

Apoteker : baik sepertinya bapak sudah jelas dan mengerti. Jika dalam 3 hari
pengobatan belum ada kemajuan bapak dapat segera ke dokter untuk diperiksa
ya pak. Untuk obatnya ini harganya ini 1 stripnya isi 10 Rp. 6.600,-.
Pembayarannya bisa bapak lakukan di kasir nanti. Dan

Pasien :baik mbak

Apoteker : kalau begitu terima kasih atas waktunya ya pak Charles. Ini kartu nama saya
jika terjadi masalah atau bapak masih membutuhkan konseling, dan semoga
cepat sembuh ya pak.

Pasien : iya mbak, terima kasih ya mbak.

Apoteker : iya pak, sama-sama.


BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Rheumatoid arthritis adalah penyakit kronis yang menyebabkan nyeri, kekakuan,
pembengkakan dan keterbatasan gerak serta fungsi dari banyak sendi. Obat-obat nyeri sendi
yang dapat diberikan secara swamedikasi adalah obat anti inflamai yang termasuk dalam
golongan NSAID dan kortikosteroid. Pada kasus ini pasien diberikan piroxicam yaitu
golongan NSAID yang termasuk OWA 3. Karena lini pertama untuk RA lebih didahulukan
NSAID daripada kortikostroid dan dari segi efek samping juga lebih aman.

2. DAFTAR PUSTAKA
Longo, Dan L. MD., Kasper, Dennis L. MD., et al. 2012. Harrisons Principle of Internal
Medicine ed.18 Chapter 231: Rheumatoid Arthritis. McGrawHill Companies,
Inc. USA.
Suarjana, I Nyoman.2009. Artritis Reumatoid Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Edisi V. Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, Idrus, et al. Interna Publishing.
Jakarta.