Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat yang telah dikaruniakan kepada
penyusun, sehingga Panduan Konseling Tes Sukarela HIV AIDS atau VCT (Voluntary
Counseling and Testing) RSUD Demang Sepulau Raya ini dapat selesai disusun.
Buku Panduan VCT di RSUD Demang Sepulau Raya disusun untuk memantapkan
upaya penanggulangan HIV/AIDS, keselamatan pasien, keselamatan kerja, serta
meningkatkan mutu pelayanan. Dalam panduan ini diuraikan Standar Ketenagaan, Standar
Fasilitas, Tatalaksana Pelayanan Terapi Antiretroviral (ARV), Logistik, Keselamatan Pasien,
Keselamatan Kerja, dan Pengendalian Mutu.
Tidak lupa penyusun sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan
semua pihak dalam menyelesaikan Panduan VCT di RSUD Demang Sepulau Raya.

Gunung Sugih, Agustus 2016

Penyusun
BAB I
DEFINISI

Human Immuno-deficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan AIDS.


Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu gejala berkurangnya
kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV ke dalam tubuh
seseorang. Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah orang yang tubuhnya telah
terinfeksi virus HIV/AIDS.
Indonesia sudah menjadi negara urutan ke 5 di Asia paling berisiko HIV-AIDS,
sehingga tidak bisa dihindari lagi bagi Indonesia untuk menerapkan kesepakatan tingkat
internasional yang diikuti kebijakan nasional. Tes HIV merupakan pintu masuk yang
terpenting pada layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan.
Tes/Pemeriksaan dan Konseling HIV adalah suatu layanan untuk mengetahui adanya
infeksi HIV di tubuh seseorang yang dapat diselenggarakan di layanan kesehatan formal atau
klinik yang berbasis komunitas.
Konseling dan tes HIV sukarela atau Voluntary Conseling and Testing (VCT) adalah
layanan tes HIV secara pasif. Pada layanan tersebut klien datang sendiri untuk meminta
dilakukan tes HIV atas berbagai alasan baik ke fasilitas kesehatan atau layanan tes HIV
berbasis komunitas. Layanan ini menekankan penilaian dan pengelolaan risiko infeksi HIV
dari klien yang dilakukan oleh seorang konselor, membahas perihal keinginan klien untuk
menjalani tes HIV dan strategi untuk mengurangi risiko tertular HIV. VCT dilaksanakan di
berbagai macam tatanan seperti fasilitas layanan kesehatan, layanan VCT mandiri di luar
institusi kesehatan, layanan di komunitas, atau lainnya.
Klien adalah seseorang yang mencari atau mendapatkan pelayanan konseling dan atau
tes HIV. Konselor adalah pemberi pelayanan konseling yang telah dilatih keterampilan
konseling HIV-AIDS dan dinyatakan mampu. Konseling adalah proses dialog antara konselor
dengan klien bertujuan jelas memberikan pertolongan, waktu, perhatian dan keahliannya,
untuk membantu klien mempelajari keadaan dirinya, mengenali dan melakukan pemecahan
masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan.
BAB II
RUANG LINGKUP

Layanan Tes dan Konseling Sukarela (VCT) adalah suatu layanan untuk mengetahui
adanya infeksi HIV di tubuh seseorang. Layanan ini dapat diselenggarakan di layanan
kesehatan formal atau klinik yang berbasis komunitas. VCT didahului dengan dialog antara
klien/pasien dan konselor/petugas kesehatan dengan tujuan meberikan informasi tentang
HIV-AIDS dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan berkaitan dengan tes HIV.

Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Dalam melaksanakan pelayanan VCT di RSUD Demang Sepulau Raya dipimpin oleh
Ketua Tim Penanggulangan HIV/AIDS. Distribusi ketenagaan pelayanan VCT disesuaikan
dengan kualifikasi dan beban kerja yang ada. Untuk distribusi ketenagaan pelayanan VCT
disebutkan dalam tabel 1 sesuai dengan tugas masing-masing.
Tabel 1. Distribusi ketenagaan pelayanan VCT RSUD Demang Sepulau Raya
Klasifikasi Jumla
Nama h Tenaga yang Keteranga
Jabatan Formal Non Formal Kebut Ada n
uhan

Dokter Dokter Pelatihan CST 2 2 Dokter Cukup


Umum sesuai dengan Umum
dan/atau standar WHO atau
Dokter lebih sesuai dengan
Spesialis kebutuhan

Konselor Dokter Pelatihan konselor 3 2 Belum


Umum atau sesuai dengan Terlatih
Bidan, standar WHO atau
Perawat lebih sesuai dengan
kebutuhan

Petugas DIII Analis Pelatihan sesuai 1 2 Cukup


Laboratoriu Kesehatan dengan standar
m atau SMAK WHO atau lebih
sesuai dengan
kebutuhan
Petugas S1 Apoteker Pelatihan sesuai 1 1 Belum
Farmasi dengan standar Terlatih
WHO atau lebih
sesuai dengan
kebutuhan

Petugas DIII Pelatihan sesuai 1 1 Cukup


Administras Administras dengan standar
i i Kesehatan/ WHO atau lebih
S1 sesuai dengan
Keperawata kebutuhan
n

Distribusi Ketenagaan
Tim VCT berjumlah 8 orang, yang terbagi menjadi dokter CST, dokter Spesialis
Penyakit Dalam, Konselor, Petugas Laboratorium, Petugas Farmasi, dan Petugas
Administrasi.

Denah Ruangan
RSUD Demang Sepulau Raya telah memiliki ruang khusus untuk pelayanan VCT,
namun terintegrasi di pusat Rehabilitasi Narkoba Kabupaten Lampung Tengah.

Standar Fasilitas
Fasilitas yang tersedia belum cukup memenuhi standar minimum pelayanan VCT.
Antara lain, belum terdapatnya Alat Peraga, Komputer dan Koneksi Internet, serta Ruang
Pengambilan Darah.
Fasilitas VCT yang terdapat di RSUD Demang Sepulau Raya :
- Ruang Poliklinik (Ruang Tunggu, Ruang Administrasi, Ruang Konseling, Toilet).
- Sarana (Meja dan Kursi Adiministrasi, Lemari Dokumen, Lemari Obat, Bed
Pasien)

Kriteria
Tersedia ruangan khusus pelayanan klien yang berfungsi sebagai pusat pelayanan
HIV/AIDS di RSUD Demang Sepulau Rayameliputi kegiatan konseling, penatalaksanaan,
pencatatan dan pelaporan, serta menjadi pusat jejaring internal atau eksternal pelayanan
HIV/AIDS di RSUD Demang Sepulau Raya.
1. Ruang tersebut memenuhi persyaratan sarana dan prasarana ruangan pelayanan terapi
ARV.
2. Tersedia peralatan untuk melakukan pelayanan terapi ARV.
3. Tersedia ruangan laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan antibodi anti-HIV.
BAB III
TATA LAKSANA PELAYANAN

Prinsip Pelayanan VCT


- Sukarela dalam melaksanakan tes HIV. Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas
dasar kerelaan klien, tanpa paksaan dan tapa tekanan. Keputusan untuk dilakukan
tes terletak ditangan klien.
Persetujuan atau Informed consent bersifat universal yang berlaku pada semua
pasien apapun penyakitnya karena semua tindakan medis pada dasarnya
membutuhkan persetujuan pasien. Informed consent di fasilitas layanan kesehatan
dapat diberikan secara lisan tidak perlu secara tertulis. Aspek penting di dalam
persetujuan adalah sebagai berikut:
Klien telah memahami tentang maksud dan tujuan tes, serta risiko dan
dampaknya.
Informasi bahwa jika hasil tes positif, akan dirujuk ke layanan HIV
termasuk pengobatan ARV dan penatalaksanaan lainnya
Bagi mereka yang menolak tes HIV dicatat dalam catatan medik untuk
dilakukan penawaran tes dan atau konseling ulang ketika kunjungan
berikutnya.
Persetujuan untuk anak dan remaja di bawah umur diperoleh dari orangtua
atau wali/pengampu.
Pada pasien dengan gangguan jiwa berat atau hendaya kognitif yang tidak
mampu membuat keputusan dan secara nyata berperilaku berisiko, dapat
dimintakan kepada isteri/suami atau ibu/ayah kandung atau anak
kandung/saudara kandung atau pengampunya.
- Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas.
Konfidensialitas berlaku secara umum. Semua informasi pasien apapun
penyakitnya, yang berdasarkan undang-undang bersifat konfidensial tidak
diberikan pada pihak yang tidak berkepentingan. Pada saat memberikan konseling
pra tes maka konselor perlu meyakinkan klien bahwa tes HIV tersebut
dilaksanakan secara konfidensial, yang berarti seorang konselor tidak
diperkenankan menyampaikan hasil kepada siapapun di luar kepentingan
kesehatan klien tanpa seijin klien, kecuali:
Klien membahayakan diri sendiri atau orang lain
Tidak mampu bertanggungjawab atas keputusan/tindakannya dan
Atas permintaan pengadilan/hukum/undang-undang
Konfidensialitas tidak bersifat mutlak. Dalam hal ini konselor atau petugas
kesehatan dapat berbagi hasil tes HIV pasien pada mereka yang berkompeten dan
berhubungan secara langsung menangani kesehatan klien/pasien, misalnya jika
pasien membutuhkan dokter penyakit paru, dokter kebidanan, bidan yang akan
memberikan layanan kesehatan kepadanya, rujukan pada tenaga kesehatan lainnya
yang diperlukan pasien dan Pengawas Minum Obat atau kelompok dukungan
sebaya)
- Layanan harus bersifat profesional, mnghargai hak dan martabat semua klien.
Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga kerahasiaannya.

Pendekatan Layanan Konseling dan Tes HIV


- Layanan konseling dan tes atas prakarsa klien (Client-Initiated HIV Testing and
Cunseling). Pendekatan layanan ini dikenal dengan Konseling dan Tes HIV/AIDS
Sukarela (Voluntary Conseling and Testing/ VCT).
- Layanan konseling dan tes HIV atas prakarsa petugas kesehatan (Provider-
Initiated HIV Testing and Conseling/ PITC). Pendekatan ini dilakukan dengan
tujuan mendapatkan keputusan layanan klinis yang memerlukan pengetahuan
status HIV klien. Pada daerah dengan tingkat epidemi HIV rendah dan
terkonsentrasi, pendekatan ini tidak dianjurkan.

Model Pelayanan VCT


Pelayanan konseling dan testing dapat dikembangkan di berbagai ;ayanan terkait yang
dibutuhkan, misalnya klinik IMS, Tb, ART dan sebagainya. Layanan konseling dan testing
dapat di implementasikan dalam berbagai setting, dan sangat bergantung paa kondisi dan
situasi daerah setempat, kebutuhan masyarajat dan profil klien, seperti individual atau
pasangan, perempuan atau laki-laki, dewasa atau anak muda.
Model layanan konseling dan testing terdiri dari :
- Pelayanan konseling dan tes bergerak (Mobile CT)
Layanan konseling dan tes HIV model penjangkauan dan keliling (Mobile CT)
dapat dilaksanakan oleh LSM atau layanan kesehatan yang langsung mengunjungi
sasaran kelompok masyarakat tertentu yang memiliki perilaku berisiko atau
berisiko tertular HIV-AIDS di wilayah tertentu.
- Pelayanan konseling dan tes statis (Static CT)
Pusat konseling dan tes HIV yang terintegrasi dalam sarana kesehatan dan saran
kesehatan lainnya, artinya bertempat dan menjadi bagian dari layanna kesehatan
yangtelah ada.
Perlu diperhatikan dalam pelayanan konseling dan tes HIV adalah :
- Memiliki akses dengan unti rawat jalan.
- Letak ruang konseling, tempat pengambilan darah, dan staff medik hendaknya
berada ditempat yang saling berdekatan.
- Pemeriksaan darah dilakukan dilaboratorium patologi/mikrobiologi yang tidak
jauh dari tempat layanan konseling dan tes, sedangkan pengambilan darah
dilakukan ditempat pelayanan konseling.

Untuk sarana kesehatan lainnya yang mengembangkan pelayanan VCT dapat


mengacu pada denah sarana kesehatan.
Ada 4 jenis konselor yang memberikan layanan konseling berdasarkan model
implementasi dan strategi untuk meningkatkan layanan konseling dan tes :
- Konselor sebaya (Peer Counselor)
- Konselor awam (Lay Counselor)
- Konselor profesional (Profesional Counselor)
- Konselor senior (Senior Counselor)
Untuk memperoleh ke empat jenis konselor yang memenuhi persyaratan diatas;
petugas berasala dari latar belakang tertentu dan telah mengikuti pelatihan sesuai dengan
perjenjangan serta tugas yang akan dilaksanakan.
BAB IV
DOKUMENTASI

Dokumentasi terkait dengan pelayanan VCT merupakan formulir-formulir dan rekam


medis pasien HIV positif meliputi :
1. Formulir Konseling Pra dan Pasca Testing
2. Formulir Informed Concent
3. Formulir Permintaan pemeriksaan Anti-HIV
4. Ikhtisar perawatan pasien HIV/ART
5. Kartu pasien
6. Register pemberian Obat
7. Register Stok Obat
8. Formulir Rujukan

Rujukan

1. Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.


2. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Keputusan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat nomor 9/KEP/1994 tentang
Strategi Nasional Penanggulangan AIDS di Indonesia;
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1278 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Rujukan
bagi ODHA
5. Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Orang
Dewasa, Kementrian Kesehatan, Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, 2011.
6. Pedoman Nasional Tes Dan Konseling HIV dan AIDS Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia Tahun 2013.
7. Pedoman Nasional Manajemen Program HIV dan AIDS Kementerian Kesehatan.
Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2009.