Anda di halaman 1dari 13

A.

ORGANISASI ICU

Pendahuluan

Kapan sebenarnya istilah ICU mulai di kembangkan masih kontroversial, akan tetapi cikal bakal ICU di
mulai ketika pada tahun 1863,

Florence Nightingale menulis : dibeberapa rumah sakit terdapat ruang yang letaknya berdekatan dengan
kamar operasi yang berfungsi sebagai ruang pulih sadar (Recovery Room). Di Jerman tahun 1920
pertama kali berdiri ICU yang sudah terorganisasi dengan baik, untuk menangani klien pasca
bedah.Tonggak ICU dimulai pada tahun 1952 ketika terjadi wabah polimielitis di Denmark, angka
kematian yang semula mencapai 90 % dengan perawatan intensive, dapat di turunkan hingga 40 % yaitu
dengan melakukan bantuan napas secara manual, melalui tracheostomie, yang di kerjakan berhari
hari.Saat ini tampaknya keberadaan suatu ICU di rumah sakit sangat penting. Kendala kendala yang
dihadapi suatu ICU adalah diperlukannya biaya operasional yang tinggi, disamping adanyapersonal baik
dokter atau tenaga keperawatan yang professional.Untuk itulah diperlukan suatu organisasi yang baik
didalam menjalankan ICU, baik dari segi staffing, tata ruang, kriteria masuk dan keluar klien, kebutuhan
alat atau obat, protocol perawatan klien, unit penunjang dan lembar observasi serta adanya pendidikan
dan pelatihan bagi para personilnya.Untuk mengukur kemampuan atau kinerja suatu ICU diperlukan
auditing yang baik sehingga nantinya dapat di ketahui apakah tindakan yang dilakukan pada klien sudah
benar atau belum, dengan menggunakan scoring yang banyak di kembangkan.

Beberapa pengertian :

1. PERAWATAN INTENSIVE

Perawatan maksimal, sebaik mungkin pada klienkritis dengan peralatan yang ada.

2. KLIEN KRITIS / GAWAT

Klien yang mengalami proses penyakit yang bersifat mendadak (akut) yang apabila tidak dilakukan
pengobatan yang cepat dan tepat akan mengakibatkan kematian, kecacatan, dan ketidakmampuan.

3. INTENSIVE CARE UNIT

Tempat perawatan klien kritis/gawat atau klien yang mempunyai resiko tinggi terjadinya kegawatan,
dengan sifat penyakit yang masih reversible, dengan penerapan :

Terapi agresif

Teknologi tinggi

Monitoring invasive/non invasive

Penggunaan obat-obat paten

KLIEN
Klien yang di rawat di ICU bervariasi keadaan klinisnya akan tetapi pada dasarnya mengalami disfungsi
satu macam organ atau lebih, terutama gangguan fungsi nafas dan sirkulasi. Klien dapat berasal dari
kamar operasi, UGD, ruangan lain di rumah sakit atau rujukan di perlukan adanya kriteria keluar dari ICU
(discharge)

Hal tersebut untuk menghindari agar klien yang tidak ada indikasi dirawat di ICU tidak, di pindahkan ke
ICU, sebaliknya klien sudah tidak memerlukan perawatan ICU bisa segera di pindahkan baik ke ruang
intermediate atau ruang biasa.

Terdapat dua golongan klien yang di rawat di ICU:

1. Prioritas tinggi

2. Prioritas rendah

Klien prioritas tinggi : Klien kritis, tidak stabil, penyakitnya masih reversible, memerlukan perawatan
intensive misalnya respirator, obat inotropik, hemodialisis segera dan lain-lain.Pada klien yang
prognosenya dan reversibilitasnya tidak jelas maka dapat di timbangkan perawatan ICU, dengan
mempertimbangkan waktu perawatan di ICU. Tidak berlaku untuk klien dengan penyakit yang bersifat
terminal atau penyakit kronis yang kondisinya sudah jelek.

Klien prioritas rendah : termasuk dalam kelompok ini adalah klien dengan kemungkinan memerlukan
perawatan intensif, dan klien-klien yang penyakitnya irreversible tetapi mengalami kegawatan bukan
karena penyakit dasarnya dengan catatan bahwa klien atau keluarganya sanggup menerima beban akibat
terapi tersebut.

Beberapa keadaan yang merupakan indikasi perawatan ICU :

1. Memerlukan inotropik untuk mempertahankantekanan darah dan perfusi jaringan

2. Tekanan diastolik > 120 dengan : edema paru,hipertensi ensepalopati

3. Gagal nafas, PaO2 < 50 mmHg dengan FiO2 > 0,4 RR > 35/menit

4. Koma apapun sebabnya (GCS < 12)

5. AMI

6. Aritmia jantung yang mengancam jiwa

7. Trauma ganda

8. Pasca bedah operasi besar (trepanasi, operasi jantung, basedow, thorakotomi, dan lain-lain)

STAFF ICU

Medical
Harus ada dokter penanggung jawab ICU, dengan beberapa konsultan. Dibeberapa negara sebagai
penanggung jawab adalah intensive (dokter spesialis ICU) di Indonesia pada umumnya penanggung
jawab di ICU adalah dokter ahli anastesi maka penanggung jawab ICU adalah dokter ahli anastesi maka
penanggung jawab ICU bisa dari disiplin ilmu yang lain.

Perawat

Diperlukan perawat yang sudah mendapat pendidikan khusus, dan memerlukan dedikasi dan motivasi
yang tinggi bagi para perawat yangbekerja di ICU. Para perawat tersebut harus bisa melakukan
interpretasi keadaan klien, mendeteksi perubahan-perubahan fisiologis yang dapat mengancam jiwa,
serta dapat bertindak mandiri untuk menangani kegawatan yang mengancam jiwa, sebelum dokter
datang.

Perbandingan perawat : klien di ICU 1 : 1 atau 2 :3 (artinya 1 perawat untuk 1 klien atau 2 perawatuntuk
3 klien)

Tugas dan tanggung jawab perawat di ICU, cukup berat baik terhadap klien, keluarga dan dokter. Karena
itu di perlukan kesiapan mental, fisik, pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi

TUGAS PERAWAT

TUGAS PERAWAT PADA WAKTU SERAH TERIMA :

1. Sebelum melakukan serah terima diawali dengan doa.

2. Identifikasi masalah

3. Kejadian penting 24 jam terakhir

4. Kardiovaskuler : Tekanan darah, nadi EKG, perfusi perifer, kalau ada CVP

5. Respirasi : setting ventilator, hasil BGA, keluhan dan pemeriksaan fisik, foto thoraks, hasil sputum.

6. Ginjal : Jumlah urine, tiap jam atau dalam 24 jam, hasil elektrolit

7. Pencernaan : pemeriksaan fisik, cairan lambung, intake oral, muntah/ diare, bagaimana beraknya.

8. Tanda infeksi : suhu tinggi atau terendah, kultur atau antibiotika, berapa lama sudah diberikan, kalau
ada kadar obat.

9. Nutrisi klien : enternal atau TNP berapa kalori, berapa protein

10. Hasil lab yang abnormal

11. Periksa posisi ETT, selang selang yang terpasang, apakah obat yang diberikan secara kontinyu sudah
diberi label?

TUGAS RUTIN antara lain :


1. Merubah posisi setiap 2 jam

2. Membersihkan mulut setiap 2 jam

3. Fisioterapi nafas 1x tiap shift, bronchial toilet 1x tiap shift atau kalau di perlukan

4. Mencatat hasil pengamatan atau pengukuran dilembar observasi

5. Komunikasi, baik dengan dokter/ klien atau keluarga klien

6. Mencatat dan mengkomunikasikan masalah masalah yang timbul berkaitan dengan pelaksanaan
perawatan klien.

STRUKTUR ORGANISASI ICU

Struktur organisasi yang baik akan berdampak besar pada kualitas pelayanan klien. Sistem organisasi
terbuka mengakibatkan indikasi masuk ICU tergantung pada selera atau kepentingan dokter yang
merawat, juga mengakibatkan protocol perawatan yang bermacam macam yang dapat menyulitkan
unit, untuk mengatasi kerancuan ini diperlukan seorang yang berfunsi sebagai kapten, yang
mengkoordinasi semua tindakan dari masing masing dokter, demi effisiensi dan penghematan biaya.
Sistem tertutup dimaksudkan bahwa indikasi masuk dan keluar ditentukan oleh seorang yang di tunjuk
sebagai penanggung jawab ICU, dokter tersebut biasanya memerlukan waktu cukup lama (kadang
berjam jam) disamping klien untuk stabilisasi klien, yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh spesialis
yang lain.Jadi sebelum suatu ICU dibuka sebaiknya sudahditepkan sistem yang akan diterapkan, apakah
open, close, atau semi. Pada sistem semi maka ICU dikelolah oleh suatu tim ICU, sehingga semua
tindakan atau rencana tindakan harus sepengetahuan dan disetujui oleh tim tersebut.Dibeberapa rumah
sakit yang maju maka ICU dikembangkan sesuai dengan penyakitnya sehingga dibentuk : ICCU, NICU,
PICU, MICU danlain lain. Untuk keberhasilan penanganan klien harus terjalin kerjasama yang baik
diantara para dokter yang merawat atau antara para perawat atau antara perawat dan dokter.Sesuai
dengan tindakan / prosedur yang dapat dilayani, maka terdapat 3 level ICU yaitu level I, II,III.

Level I (RS tipe C)

Sering juga disebut sebagai High Dependency Unit, prosedur yang dapat dilakukan adalah :1. Monitoring
EKG2. Manual ventilasi (Ambu bag atau bag & mask)3. Nutrisi enteral

Level II (RS tipe B)

Tindakan yang dapat dilakukan adalah :1. Support ventilasi lebih lama2. Diagnostik Patologi, Radiologi

Level III (RS tipe A)


Dapat melakukan semua aspek yang berkaitan dengan perawatan intensif, mempunyai intensivist atau
yang bertindak sebagai intensivist (biasanya dokter anestesi), perawat critical care, fasilitas penunjang
yang lengkap, (radiology, patologi, fisioterapist, farmasist, dialysis, disiplin lain) yang dapat difungsikan
24 jam.

LEMBARAN OBSERVASI

Di dalam lembar observasi harus mencakup :

1. Pengukuran fungsi vital

2. Keadaan neurologist

3. Parameter hemodinamik

4. Setting ventilator

5. Parameter respirasi

6. Keseimbangan cairan masuk dan keluar

7. Data data laboratorium

8. Obat obatan

Masing masing rumah sakit mempunyai bentuk lembar observasi, yang disesuaikan dengan situasi dan
kondisi di tiap unit. Hal yang penting di dalam penyusunan format lembar observasi adalah Clear,
Complete dan Correct.

Referansi :

1. Practical guide to the care of the critically ill patient

2. The ICU therapeutic handbook

3. Intensive care manual

4. ABC of ICUB.

PERANAN PERAWAT DI ICU

Kini telah terjadi pengembangan tugas dari tingkat basic nursing yang paling dasar menuju keperawatan
modern yang kompleks. Dan peran perawat meliputi 3 bidang yakni :

1. Caring Role, memelihara klien dan menciptakan lingkungan biologis, psikologis, sosiokultural yang
membantu penyembuhan
2. Coordinating Role, mengatur keterpaduan tindakan keperawatan, diagnostic dan terapeutiksehingga
terjalin pelayanan yang efektif dan efisien.

3. Therapeutic Role, sebagai pelaksana pelimpahan tugas dari dokter untuk tindakan diagnostic dan
therapeutic.

Lebih rinci lagi, Caring Role dijabarkan antara lain sebagai berikut :

1. Memeriksa keadaan klien secara biologis (tensi, nadi, suhu, nafas serta kondisi lain sepertiluka operasi,
dekubitus, phlebitis dsb)

2. Wawancara menampung keluhan klien, memberi petunjuk, penyuluhan pendidikan serta simpati
untuk meringankan penderitaan/ penyakit serta mempercepat kesembuhan.

3. membantu klien menyelenggarakan kegiatan normal (makan, minum, personal hygiene)

4. Menciptakan lingkungan bio-psiko-sosial yangmenunjang proses penyembuhan (environmental


hygiene)

Sedangkan Coordinating Role antara lain meliputi :

1. Mengatur jadwal tindakan diagnostic (ECG, foto, lavement, periksa lab, mengirim ke fisioterapi)

2. Mengatur pengobatan (penjadwalan puasa, jadwal minum obat, jadwal makanan)

3. Administrasi keuangan, pelaporan, pengawasan

4. Supervisi sesama perawat maupun tenaga pembantu dan tenaga penunjang perawatan.Therapeutik
Role adalah peran tidak mandiri atau disebut Dependent Role karena mendapat tugas limpah dari
dokter. Jelas tugas ini tidak dapat dilimpahkan oleh perawat selaku penerima tugas limpah dari dokter
kepada pihak ketiga, seperti POS. Tidak dalam hal tanggung jawab, tidak juga dalam pelaksanaanya.

1. Memberikan obat, penyuntikan obat.

2. Memberikan infuse, mengatur cairan, mengatur penggantian cairan, menghitung balans cairan

3. Mengganti bebat luka, merawat luka, angkat jahitan

4. Memasang infus perifer, melepas infus perifer/ sentral

5. Mengambil sample darah, kultur

6. Memberi oksigen dan nebulasi

7. Melakukan suction trachea/ tracheostomy

8. Memasang jalan napas bantuan oral/ nasal

9. Memasang pipa lambung dan spoeling


10. Merawat SB Tube dan Spoeling

11. Melakukan pengawasan asepsis, sterilisasi perawatan

Dalam masalah kegawatan ini di perlukan 3 kesiapan, yakni :

1. Siap mental

2. Siap pengetahuan dan ketrampilan

3. Siap alat dan obat

Ketrampilan dan pengetahuan masalah kegawatanUrutan prioritas penanganan kegawatan didasarkan


pada 6B yaitu :

B 1. Breath Sistem pernapasan

B 2. Bleed Sistem peredaran darah (sirkulasi)

B 3. Brain Sistem saraf pusat

B 4. Blader Sistem urogenitalis

B 5. Bowel Sistem pencernaan

B 6. Bone Tulang dan persendian

Kegawatan pada sistem B 1 dan B 3 merupakan prioritas yang paling utama karena kematian dapat
sangat cepat terjadi. Kegawatan sistem B 4, B 5, B 6 (misalnya, retensio urinae, perforasi
peritonitis, fractura, femur) relatif mempunyai tenggang waktu yang lebih panjang.

Jalan napas yang tersumbat pada korban tidak sadar harus segera dibebaskan. Pertolongan napas buatan
harus segera dilakukan jika korban ternyata tidak bernapas. Keadaan keadaan kritis sesaat ini sering
terjadi mengikutisuatu trauma atau kebersamaan dengan penyakit yang berat dan tidak dapat
menunggu kedatangan dokter konsultan.

Untuk mengatasi menit menit kritis ini klien tidak memerlukan terapi definitive atau penyebabnya
(causal) tetapi memerlukan terapi sportif untuk menyelamatkan jiwanya.

Pengobatan causal dapat dikerjakan kemudian.Karena itu perawat ICU harus mampu :

a. Membebaskan jalan napas dari sumbatan

b. Memberikan pernapasan buatan

c. Pijat jantung luar jika jantung berhenti

d. Posisi coam dan posisi shock.


Selanjutnya perawat juga di tuntut mampu mengoperasikan :

a. Memberikan terapi oksigen dan nebulasiMemberikan O2 saja, mengurangi hipoksia (pO2 meningkat)
tetapi tidak mengurangi hypercardia (pCO2 tetap tinggi). Pada hipoventilasi berat, tetapi O2 justru
menyebabkan terjadi paradoxical apnea klien berhenti napas setelah diberi oksigen.

b. Melakukan suction, penghisapan jalan lendir pada napas

c. Memasang infus/ i.v. line untuk memasukkan cairan dan obat

d. Respirator untuk pernapasan bantuan

e. Laryngoscope untuk intubasi trachea

f. Monitor ECG untuk pemantauan aritmia

g. Drain thoraks dan pompanya untuk pneumo/ hematothoraks

h. Memberikan obat obatan seperti :

Adrenalin untuk meningkatkan kontraktilitas miokard, efek choronotropik dan merubah fibrilasi
ventrikel halus menjadi kasar agar mudah konversi DC Shock.

Lidocain untuk berbagai PVC malignan multiple, multifocal, salvo/ run, bigemini, R on T.

Atropin untuk sinus bradicardia

Natrium bicarbonate untuk acidosis metabolic dan sebagainyai. Mengenali aritmia berbahaya

AV block total, bradicardia < 50, PVC malignanj. DC Shock untuk defibrilasik. Merawat klien dengan
tekanan intra cranial meningkat

Disamping kegawatan klien karena penyakitnya, beberapa tindakan di ICU sendiri juga
membawatambahan resiko. Jelas bahwa tambahan resiko ini sudah diperhitungkan karena jauh lebih
kecil daripada manfaat yang diterima. Namun staf perawatan harus melakukan perbandingan
pencegahan/ antisipasi, misalnya :

1. CVP, Central Venous Catheter

Pemasangan dari arah v. basilica, v. jugulari externa atau interna atau v. subclavia membawaujung
catheter mungkin mencapai ventrikel kanan. Ini kadang kadang mencetuskan aritmia jantung yang
serius (dari PVC sampai fibrilasi).

Selain itu juga resiko infeksi, karena cairan dari luar tubuh langsung masuk kedalam aliran darah utama,
kuman masuk dan disebarkan ke jaringan kapiler paru atau terus menyebar keseluruh tubuh

Juga resiko emboli udara thrombus dan resiko aritmia jika cairan yang masuk merangsang jantung
(dopamine, KCl, cimetidine, cairan yang dingin)
2. Bahaya Listrik

Karena banyaknya hubungan klien dengan alat monitor, maka bahaya tersengat arus, baik arus lemah
maupun arus kuat relatif cukup besar.

3. Respirator

Karena tekanan positif yang diberikan maka mungkin terjadi barotraumas berupa kerusakan mukosa
jalan napas jika ringan, sampai pneumothoraks (tension) jika berat.Beberapa klien hidupnya sangat
tergantung mesin ini sehingga jika sambungan terlepas (disconnected) beberapa menit saja sudah fatal
akibatnya.

C. IMPLEMENTASI ETIKA KEPERAWATAN DI RUANG PERAWATAN

Pendahuluan

Pembangunan Nasional pada hakekatnya adalahpembangunan manusia seutuhnya dimana kesehatan


adalah merupakan salah satu aspek yang sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan.

Pelayanan perawatan merupakan bagian integraldari pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk
membantu manusia menciptakan kemandirian dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal. Profesi
perawatan dengan jumlah personil dan jangkauan pelayanan yang lebih dekat kepada klien mempunyai
peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan.

Dalam pengembangan pelayanan perawatan dengan pendekatan pemecahan masalah melalui proses
perawatan akan berhasil lebih mendasar berdasarkan Etika Keperawatan. Bukan hanya penyembuhan
saja, akan tetapi perubahan sikap dan perilaku dari klien, keluargadan masyarakat terhadap penyakitnya.

Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang cenderung akan mengancam dan menimbulkan
masalah kesehatan bagi masyarakat dengan pola perkembangan yang akan meningkat terus menerus
secara kuantitatif, oleh karena itu salah satu profesi dituntut berpartisipasi aktif dalam mengatasi
masalah ini, melalui pelayanan perawatan yang komperhensif dan holistic sesuai dengan kebutuhan
masyarakat.

Pengertian Asuhan Keperawatan dan Hak KlienAsuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian
kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada klien, pada berbagai tatanan
pelayanan kesehatan dengan menggunakan metodelogi proses keperawatan berpedoman pada standart
kup wewenang sertatanggung jawab keperawatan (kelompok kerja keperawatan CHS tahun 1992).

Setiap tindakan keperawatan yang diberikan harus dapat dipertanggungjawabkan dan


dipertanggunggugatkan. Tindakan keperawatan professional menggunakan pengetahuan teoritikyang
mantap dan kokoh dari berbagai ilmu dasar(biologi, fisika biomedi, perilaku dan social). Hal ini sebagai
landasan untuk melakukan pengkajian, diagnosis menyusun perencanaan, melaksanakan asuhan
keperawatan dan evaluasi hasil hasil tindakan keperawatan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
Salah satu karakteristik suatu profesi yaitu adanya standart keperawatan sebagai suatu profesi yang
bertujuan menjamin kualitas pendidikan dan praktek keperawatan sehingga kualitas asuhan
keperawatan yang diberikan kepada masyarakat dapat dipertahankan pada tingkat optimum.

Hal ini sesuai dengan pasal 53 ayat 1, UU No. 23tahun 1992 tentang kesehatan tertulis bahwa : Tenaga
kesehatan berhak peroleh perlindunganhukum dan melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. Dan
ayat 2 tentang perlindungan hak klien. Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk
mematuhi standart profesi dan menghormati hak klien.

Hak Hak Klien

1. Klien berhak memperoleh pemeliharaan kesehatan yan penuh penghormatan dan tenggang rasa.

2. Klien berhak memperoleh info lengkap tentang penyakit, terapi dan prognosis (dari dokter).

3. Klien berhak memperoleh info untuk dapat memberikan persetujuan sebelum memulai tindakan dan
pengobatan (khusus baru).

4. Klien berhak memperoleh pengobatan/ terapi dan diberikan penjelasan tentang konsekuensi medis
dari penolakannya.

5. Klien berhak memperoleh penghormatan atas privasinya yang menyangkut perawatan/ medisnya.

6. Klien berhak berharap agar semua komunikasi dan catatan kesehatannya diperlukan secara rahasia.

7. Klien berhak berharap agar permintaannya terhadap pelayanan ditanggapi secara layak olehrumah
sakit yang melayani. Rumah sakit harus memberikan evaluasi pelayanan dan pengobatan selanjutnya
sesuai urgensi.

8. Klien berhak memperoleh info tentang hubungan rumah sakit dengan unit kesehatan lain/ lembaga
pendidikan, sejauh terkait dengan perawatannya.

9. Klien berhak memperoleh nasehat dokter rumah sakit jika menyelenggarakan eksperimen dengan
subyek manusia, yang mempengaruhi perawatan/ pengobatannya.

10. Pasien berhak berharap memperoleh pemeliharaan kesehatan kesinambungan setelah pulang.

11. Klien berhak memeriksa dan menerima penjelasan tentang biaya pengobatan/ perawatannya tanpa
memandang sumber pembayaran.

12. Klien berhak mengetahui peraturan rumah sakit yang berlaku baginya sebagai klien.Tujuan Etika
Keperawatan/ Peran Perawat/ Hak dan KewajibanTujuan Etika Keperawatan adalah mempertahankan :

1. Kepercayaan klien kepada perawat

2. Kepercayaan diantara sesama perawat

3. Kepercayaan masyarakat kepada profesi perawat


Untuk mencapai tujuan tersebut keperawatan ditantang mengembangkan profesi dan etika profesi
secara berkesinambungan agar dapat :

a. Menampung keinginan dan masalah masalah

b. Mampu meneruskan kepada generasi penerus

c. Melaksanakan landasan falsafah keperawatan setiap perawat mencintai profesinya.

d. Menjadi wasit untuk anggota profesi yang bertindak kurang professional sehingga dapat merubah
kepercayaan masyarakat terhadap profesi keperawatan.

Perilaku Etika dapat dibagi dua kelompok :

1. Etik berorientasi kepada kewajiban. Dalam kelompok ini yang digunakan adalah : apa yang seharusnya
dan wajib dilakukan seseorang untuk mencapai kebaikan.

2. Etik yang berorientasi kepada larangan. Dalam kelompok ini yang digunakan adalah : apa yang dilarang
dan tidak boleh dilakukan untuk mencapai suatu kebaikan.

Peran Perawat

Dalam melaksanakan perannya perawat mengusahakan pendekatan holistic dan asuhan keperawatan.
Ada 6 (enam) aspek peran perawat yaitu :

1. Aspek asuhan/ Care

2. Aspek penyembuhan/ Cure

3. Aspek perlindungan/ Protection

4. Aspek pengajaran/ Teaching

5. Aspek koordinasi/ Coordinate

6. Aspek pembela kepentingan klien/ Advocate

Implementasi Etika Keperawatan

Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan, pada saat menderita gangguan tersebut, adakalanya
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari perlu mendapat bantuan orang lain. Yang dalam hal ini
dokter dan kepada perawatan.

Pelayanan yang diberikan oleh perawat seharusnya dilandasi oleh hubungan saling percaya, sehingga
harapan kedua belah pihak dapat bertemu dengan serasi pada suatu titik tertentu.

Keserasian ini tidak mudah dicapai karena banyak factor factor yang senantiasa mempengaruhi
interaksi antara pemberi jasa pelayanan dengan penerima jasa pelayanan.Oleh karena proses interaksi
itu sifatnya rumit dan multi dimensi, maka masalah kode etika perawatan perlu dikaji berbagai factor
yang mungkin mempengaruhinya. Factor factor yang mempengaruhi adalah sebagai berikut :

1. Masyarakat sebagai penerima jasa pelayanan perawatan

2. Profesi perawatan yang memberi jasa pelayanan perawatan

3. Lingkungan yang mempengaruhi pemberi danpenerima pelayanan

Masyarakat penerima pelayanan dalam kehidupan sehari hari dikendalikan oleh sistem nilai dan norma
norma hidup dalam masyarakat itu. manusia tidak dapat hidup menyendiri, perlu hubungan dengan
orang lain. Itulah sebabnya maka manusia itu adalah makhluk social. Anggota masyarakat harus tunduk
kepada kebiasaan, tradisi dan aturan aturan yang tertulis dan tidak tertulis yang ditentukan oleh
masyarakat.Selain sebagai makhluk social, anggota masyarakat itu adalah makhluk bio-psikologis,
manusia akan tetap hidup seimbang dan sehat apabila tidak terdapat gangguan gangguan kesehatan
yang menimpa dirinya. Sebagai makhluk psikologis manusia sebagai anggota masyarakat itu dikendalikan
oleh egonya, dia memiliki emosi yang dalam perilakunya akan terlihat dalam berbagai reaksi emosional
seperti tersenyum, tertawa, marah, murung dan lain sebagainya. Pada suatu saat dia akan
menampakkan perilaku dalam bentuk kompensasi dari kelemahan kelemahan yang dimilikinya yang dia
sendiri tidak menyadarinya. Sebagai makhluk Tuhan anggota masyarakat itu senantiasa berusaha untuk
bertindak dan berbuat melalui jalan yang benar, dia berusaha untuk lebih mementingkan kesejahteraan
orang lain.

Jika seseorang anggota masyarakat mendapat gangguan kesehatan atau diserang suatu penyakit, maka
perilaku yang dia bawa dan dia tampilkan selalu dipengaruhi oleh factor factor social dan factor
spiritual. Pengaruh ini tampaknya berlainan dari orang ke orang sehingga penampilan perilaku itu
berlainan pula.Jika seorang anggota masyarakat memerlukan pelayanan perawatan, maka dia akan
dihadapi oleh anggota profesi perawatan atau seorang perawat. Perawat ini adalah seorang manusia, dia
adalah makhluk bio psikososial dan makhluk Tuhan juga. Untuk melaksanakan fungsi dan tugas tugas
keperawatan, seorang perawat telah dipersiapkan dalam suatu program pendidikan yang memadai yaitu
disekolah atau akademi perawat. Dengan bekal pendidikan ini diharapkan tampil anggota profesi yang
benar benar memiliki ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sifat yang semua itu terpadu dalam perilaku
professional. Perilaku professional inilah yang sesungguhnya sangat diharapkan oleh setiap individu,
keluarga dan masyarakat yang memerlukan pelayanan perawatan. Perilaku professional dalam bidang
perawatan itu adalah perilaku yang dilandasi oleh pengertian dan penghayatan tentang manusia secara
utuh yaitu manusia sebagai makhluk bio psikososial dan spiritual.Pelayanan perawatan yahng diterima
oleh individu, keluarga dan masyarakat diharapkan dapat memberikan kepuasan bagi pemberi jasa
pelayanan. Kepuasan yang dirasakan oleh keduabelah pihak itu dapat dicapai jika dilandasi oleh sikap
saling percaya dan interaksi yang serasi. Namun demikian keserasian dan saling percaya itu tidak
selamanya berjalan dengan lancar. Hal ini disebabkan karena ada factor lain yang
dapatmempengaruhinya yaitu factor lingkungan.

Factor lingkungan ini sangat luas cakupannya dan pengaruhnya terhadap perilaku masyarakat dan
perilaku professional dalam bidang keperawatan. Dalam hal ini dapat diambil contohlingkungan
ekonomi, lingkungan kerja, lingkungan social budaya dan lingkungan yang tidak menunjang seperti
pengelolaan pelayanan perawatan atau pengelolaan pelayanan rumah sakit secara menyeluruh.

Dengan mengetahui, memahami, menghayati dan menerapkan kode Etik Perawatan dalam
melaksanakan tugas pelayanan perawatan, maka diharapakan ketiga factor diatas dapat saling mengisi
dan pelayanan perawatan itu menghasilkan kepuasan kedua belah pihak yaitupenerima dan pemberi
jasa pelayanan.

Kesimpulan

Setiap anggota profesi perawatan menyadari bahwa masyarakat telah memberikan kepercayaan kepada
para perawat untuk melaksanakan tugas profesinya. Harapan masyarakat akan pelayanan perawatan
yang bermutu, perlu diimbangi dengan perilaku professional yang mantap. Profesi perawatan serta para
anggotanya perlu menyadari bahwa dewasa ini terdapat kelemahan dalam penerapan kode etika
perawatan.Karena kebutuhan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan yang bermutu terus meningkat,
maka hambatan dan kelemahan dari pihak pemberi jasa perawatan serta keadaan yang kurang
menunjang dari lingkungan, perlu dikurangi atau ditiadakan. Untuk mengurangi atau meniadakan
dimaksud, perlu upaya sungguh sungguh dan tekad yang kuat. Upaya dimaksud harus mencakup
semua pihak yang terlibat didalamnya yaitu anggota profesi sebagai pemberi jasa perawatan, lingkungan
kerja yang dapat menunjang kegairahan pada perawat dalam melaksanakan tugasnya termasuk
peningkatan mutu pengelolaan pelayanan perawatan. Di samping itu program dan proses pendidikan
perawatan hendaknya memperhatikan pengalaman belajar dalam penerapan kode etik perawatan
dimanapun pengalaman belajar itu terjadi.Dengan upaya yang terus menerus disertai dengan kesadaran
yang mendalam dan melalui pendekatan secara terpadu diharapkan pelayanan perawatan tetap
bercorak manusiawi,karena sasaran pelayanan perawatan adalah manusia itu sendiri.