Anda di halaman 1dari 16

1

Materi Blok 4
Oleh:
Dr. Irfannuddin,SpKO,AIF,DmedEd, MPdKed
2
I. PRINSIP DASAR SISTEM TUBUH

Fisiologi atau disebut juga dengan ilmu faal adalah ilmu yang mempelajari fungsi pada zat
hidup yang berada dalam kondisi normal. Berdasarkan zat hidup yang dipelajari, maka dikenal
berbagai macam fisiologi. Ilmu yang mempelajari fungsi pada tumbuhan disebut sebagai
fisiologi tumbuhan. Ada pula fisiologi hewan, fisiologi mikroba dan lain-lain.

Ilmu yang mempelajari fungsi zat hidup dalam keadaan tidak normal disebut dengan
patofisiologi
Fisiologi Manusia adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana tubuh manusia bekerja.
Ilmu ini mempelajari tentang fungsi berbagai organ dan jaringan, serta bagaimana fungsi-
fungsi tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain.
Hubungan fungsi dari berbagai organ disebut sistem. Dengan kata lain, sistem adalah
gabungan dari beberapa organ yang membentuk satu kesatuan fungsi.
Di dalam tubuh manusia, terdapat berbagai sistem antara lain :
1. Sistem Kardiovaskular
Sistem kardiovaskular merupakan gabungan dari organ jantung (kardio) dan pembuluh darah
(vaskular) yang membentuk kesatuan fungsi yang sama yaitu fungsi transportasi/sirkulasi.
Sistem ini berperan menghantarkan oksigen (O 2), zat-zat nutrisi, dan zat-zat metabolit lain ke
seluruh tubuh. Di samping itu, sistem ini juga berfungsi mengangkut sisa-sisa metabolisme
yang membahayakan seperti karbon dioksida (CO2) dan urea ke organ lain untuk dibuang.
Berdasarkan jenis zat yang diangkut, sistem kardiovaskular dapat dibagi menjadi dua, yaitu
sistem sirkulasi kaya akan O2 yang dihisap oleh paru-paru. O 2 tersebut selanjutnya akan
dipompa bersama darah oleh jantung ke seluruh tubuh. Selain itu, terdapat sistem sirkulasi
yang kaya akan CO2 yang berasal dari sisa metabolisme sel. Zat ini kemudian akan dipompa
oleh jantung ke paru-paru untuk di ekspirasi ke udara bebas.
Aktivitas sistem kardiovaskular akan meningkat bila kebutuhan tubuh akan O 2 dan zat nutrisi
meningkat misalnya pada saat berolahraga dan setelah makan.
Kebutuhan O2 dan nutrien meningkat setelah makan karena tubuh kita harus bekerja lebih giat
untuk mencerna makanan di sistem pencernaan.
2. Sistem Respirasi / Pernafasan
Sistem ini terdiri dari gabungan berbagai organ mulai dari hidung, mulut, trakea, dan paru-
paru. Beberapa organ tersebut membentuk kesatuan fungsi yaitu mengeluarkan dan
menghisap udara dari dan ke paru-paru. Selanjutnya udara tersebut akan ditransfer ke sistem
kardiovaskular di parenkim paru. Tujuan utama dari sistem respirasi ini adalah menghisap O 2
dan mengeluarkan CO2.
Fase ketika udara masuk ke dalam paru-paru disebut dengan fase inspirasi. Pada saat itu,
terjadi kontraksi otot diafragma ke bawah dan kontraksi otot-otot dinding dada sehingga
rongga dada mengembang (volumenya meningkat). Rongga dada yang mengembang akan
menurunkan tekanan di dalam rongga dada/toraks menjadi lebih rendah di banding tekanan
udara luar. Hal ini menyebabkan udara akan terhisap ke dalam paru-paru.
Fase ketika udara keluar dari paru-paru ke dunia luar disebut dengan fase ekspirasi. Pada saat
itu, otot diafragma dan otot-otot dinding dada berelaksasi, sehingga dengan daya
3
elastisitasnya, diafragma akan kembali ke atas dan otot-otot dinding dada kembali ke seperti
semula. Hal ini menyebabkan volume rongga toraks mengecil dan tekanannya meningkat
melebihi tekanan udara luar. Kondisi tersebut menyebabkan udara keluar dari paru-paru ke
alam bebas.
Diafragma adalah otot yang membatasi rongga toraks (dada) dengan rongga abdomen (perut).
Udara yang dihisap akan sampai ke alveoli. Di dalam alveoli akan terjadi pertukaran O 2 dan
CO2, di mana O2 akan berdifusi menembus dinding alveoli masuk ke dalam pembuluh darah.
Untuk selanjutnya O2 akan diikat oleh hemoglobin di dalam sel darah merah (eritrosit)
membentuk ikatan HbO2 yang kemudian akan dihantarkan ke seluruh tubuh. Sementara itu
ikatan HbCO2 akan lepas dan CO2 akan masuk ke dalam alveoli untuk selanjutnya di keluarkan
ke udara bebas. Proses pertukaran ini bergantung kepada tekanan parsial O2 dan CO2.

Alveoli adalah sekumpulan kantong-kantong kecil di dalam parenkim paru. Bila kantong
tersebut hanya 1, disebut dengan alveolus
3. Sistem Gastrointestinal / Pencernaan
Sistem ini melibatkan banyak organ pencernaan mulai dari mulut dan gigi sampai ke anus.
Organ-organ tersebut bekerja secara sinergis dengan tujuan untuk mencerna/ menghaluskan
kompleks molekul makanan yang besar menjadi zat-zat nutrisi yang halus. Selanjutnya zat-zat
nutrisi tersebut akan diabsorbsi/ diserap untuk masuk ke sistem kardiovaskular.
Makanan pertama kali masuk ke dalam mulut, kemudian dikunyah oleh gigi dan lidah
bercampur dengan air ludah. Makanan tersebut kemudian ditelan masuk ke saluran cerna. Di
dalam saluran cerna, makanan diuraikan oleh berbagai enzim pencernaan dan mengalami
suasana asam dan suasana basa. Setelah itu, di dalam usus halus (duodenum-jejenum-ileum)
dan usus besar (kolon) makanan akan diabsorbsi. Setelahnya, sisa-sisa makanan yang tidak
diabsorbsi akan dikeluarkan dalam bentuk feses (kotoran).
4. Sistem Hepatik
Hepar/hati merupakan pusat metabolisme. Seluruh zat yang dibawa dari usus (nutrien, obat
dll) melalui darah langsung masuk ke hepar. Sistem ini juga melibatkan jaringan vena porta,
kandung empedu dan saluran empedu. Fungsi hepar adalah:
a. Mengatur suplai, pemakaian, degradasi/penghancuran, ekskresi/pengeluaran
zat-zat nutrisi
b. Mengubah zat-zat tertentu menjadi zat lain sehingga dapat dipakai oleh jaringan
tertentu. Misalnya: dalam keadaan tertentu hepar mengubah zat protein menjadi
glukosa untuk kebutuhan jaringan otak.
c. Menguraikan zat-zat sisa dan zat toksik/beracun yang membahayakan tubuh.
5. Sistem Ekskresi/Pengeluaran
Organ utama dari sistem ekskresi adalah ginjal, sedangkan organ yang lain adalah kelenjar
keringat/ekrin. Selain itu, sistem ini juga melibatkan jaringan pembuluh darah, vesika urinaria
(kandung kemih), uretra dan otot-otot perineum. Ginjal berfungsi mengekskresikan zat-zat
sisa misalnya urea dan sisa obat-obatan serta zat toksik lainnya. Ada 3 proses yang terjadi di
ginjal yaitu: filtrasi/penyaringan, reabsorbsi/penyerapan kembali zat yang masih bermanfaat,
dan ekskresi/pembuangan zat sisa. Melalui mekanisme reabsorbsi, ginjal menseleksi zat-zat
yang masih bermanfaat untuk tubuh.
4
6. Sistem Kontrol Fungsi Viscera
Sistem ini berfungsi untuk mengatur berbagai fungsi dari berbagai sistem di tubuh.
Pengaturan yang dilakukan berada di luar kesadaran. Ada 2 sistem yang berperan dalam
pengaturan di luar kesadaran ini, yaitu: sistem saraf otonom dan sistem endokrin/hormon.
a. Sistem Saraf Otonom
Sistem ini bekerja dengan mencetuskan transimisi kimia berupa neurotransmiter di ujung
saraf yang akan ditangkap oleh reseptor sel. Sistem ini bekerja dengan cepat. Respon tubuh
akan timbul segera setelah sistem ini bekerja. Contoh mekanisme yang diatur oleh sistem ini
adalah peningkatan tekanan darah dan suhu tubuh.
Pada saat marah/malu, sistem otonom langsung bekerja memvasodilatasi/melebarkan
pembuluh darah kulit di pipi, sehingga pipi kita kelihatan merah.
b. Sistem endokrin/ kelenjar buntu
Sistem ini bekerja dengan mencetuskan transmisi kimia berupa hormon yang dilepas oleh
endokrin ke darah untuk selanjutnya dihantarkan ke reseptro yang dituju. Respon tubuh yang
akan timbul lebih lambat dan berlangsung lama. Misalnya proses tumbuh kembang pada anak-
anak, perubahan komposisi cairan tubuh, dan dinamikan siklus reproduksi pada perempuan.
7. Sistem Lokomotor dan Kontrol Gerakan
Organ-organ yang terlibat pada sistem ini adalah otot skeletal/rangka, saraf, pancaindra dan
tulang. Sistem ini bekerja dibawah koordinasi susunan saraf pusat (SSP)/ otak sampai ke
medulla spinalis. Sistem ini bekerja di atas kesadaran, di mana kita dapat mengatur sesuai
keinginan. Sistem ini memiliki 2 jalur perjalanan sinyal/ impuls saraf:
1. Afferent. Impuls bermula dari reseptor sensoris yang umumnya merupakan sistem
indera yang akan dikirimkan ke susunan saraf pusat (SSP). Tubuh menerima
rangsang dari luar seperti rasa, bau, cahaya, suara, raba, dan sebagainya.
2. Efferent. Impuls berasal dari SSP yang dihantarkan ke jaringan (biasanya jaringan
otot) berupa reaksi dari rangsangan sensoris
8. Sistem Reproduksi
Beberapa organ yang terlibat pada sistem ini adalah gonad, organ genitalia interna misalnya
uterus dan organ genitalia eksterna misal vagina ataupun penis. Fungsi utama sistem ini
adalah untuk membentuk individu yang baru, di mana terjadi transmisi genetik dari induk/
orang tua ke anaknya. Ada 2 sel penting yang dihasilkan oleh sistem ini yaitu spermatozoa dan
ovum. Ke-2 sel tersebut nanti akan berfertilisasi (pembuahan) di dalam tubuh ibu untuk
berkembang menjadi janin.

HOMEOSTASIS
Kondisi homeostatik adalah kondisi di tubuh untuk mempertahankan keadaan seimbang dan
harmonis. Sebagai contoh: paru-paru selalu menghisap oksigen dan mengeluarkan CO 2, ginjal
selalu menjaga keseimbangan asam basa dan mereabsorbsi zat-zat yang masih dibutuhkan
tubuh, usus selalu mengolah dan menyediakan sumber nutrisi. Masing-masing fungsi tersebut
bekerja dan berinteraksi satu sama lain secara harmonis, dan masing-masing akan mendapat
5
keuntungan dari yang lain. Bila salah satu fungsi tersebut terganggu maka akan
mempengaruhi fungsi yang lain.
Kondisi homeostasis bertujuan agar sel kita mampu melakukan reaksi metabolisme yang
sangat dibutuhkan untuk kehidupan sel, reaksi tersebut adalah:
CH2O + O2 H2O + CO2
Berbagai sistem ditubuh kita bekerja secara harmonis untuk menjamin agar reaksi tersebut
berlangsung dengan baik. Sistem digestif dan sistem hepatik, berperan penting untuk
mensuplai nutrien. Sistem respirasi berperan penting untuk mensuplai oksigen. Sistem
kardiovaskular, sistem darah dan cairan berperan penting untuk menjamin transportasi
nutrien dan oksigen sampai ke sel. Sistem ginjal berperan penting agar sisa metabolisme dapat
dibuang dari tubuh. Bila ada gangguan infeksi atau keganasan, sistem darah memiliki peran
imunitas untuk melindungi tubuh kita. Semua proses untuk mencapai reaksi tersebut diatur
oleh sistem saraf dan endokrin. Disamping itu, terdapat sistem-sistem yang lain untuk
menunjang homeostasis seperti sistem sensoris dan sistem reproduksi.
PENUAAN
Penuaan merupakan proses fisiologi yang mempengaruhi sel dan sistem yang dibentuk.
Beberapa teori dikemukakan untuk menjelaskan proses penuaan:
1. Penuaan merupakan hasil kumulatif kerusakan jaringan tubuh oleh rantai/radikal
bebas yang terjadi karena proses metabolisme, atau karena mutasi DNA
2. Diperkirakan setiap mamalia memiliki jam biologi di dalam hipotalamus yang
bertanggung jawab terhadap penuaan.
6

II.PRINSIP DASAR CAIRAN TUBUH


Air adalah salah satu sumber kehidupan yang sangat penting bagi tubuh. Ada 3 fungsi air yang
bermanfaat bagi tubuh mahluk hidup.
1. Seluruh proses metabolisme sel berlangsung di dalam lingkungan cair yang terdiri dari air
(H2O) dan substansi terlarut.
2. Cairan bersifat mobil sehingga dapat berpindah-pindah dan memungkin zat-zat terlarut
ikut berpindah. Berbagai jenis substansi seperti nutrien, enzim, dan zat-zat lain dapat
berpindah ke reseptor yang dituju dengan menggunakan media cairan.
3. Molekul besar akan terurai menjadi molekul sederhana karena proses hidrolisis yang
menggunakan air.
Jumlah cairan di dalam tubuh orang dewasa berkisar 2/3 (60%) dari berat badan. Jumlah
cairan tersebut berbeda-beda satu sama lain. Semakin tua usia maka jumlah cairan semakin
banyak. Laki-laki memiliki jumlah cairan yang lebih banyak dari perempuan, dan semakin
gemuk seseorang maka jumlah cairan di dalam tubuhnya semakin sedikit. Jumlah cairan pada
perempuan lebih sedikit, karena perempuan lebih banyak mengandung lemak.
Cairan di dalam tubuh dapat dibagi menjadi cairan ekstra sel (CES) dan cairan intra sel (CIS).
CES terbagi manjadi 3 komponen, yaitu: cairan interstisial, plasma darah dan cairan
transeluler. (Lihat gambar)
Gambar III.1. Tempat cairan
Plasma
CIS

Interstisial

Cairan interstisial terletak di ruang antar sel di luar pembuluh darah. Cairan ini berfungsi
sebagai medium antar sel. Plasma darah terletak di dalam pembuluh darah dan merupakan
bagian dari darah. Cairan plasma banyak mengandung protein sehingga memiliki tekanan
osmotik. Cairan transeluler adalah cairan yang terletak di dalam organ-organ tertentu, seperti:
cairan intra okuler (di dalam bola mata), cairan cerebrospinal (otak), cairan sendi, cairan usus
dan cairan limfe. Jumlah cairan transeluler tidak begitu bermakna. Akan tetapi walau
jumlahnya sedikit cairan ini sangat menentukan kondisi fisiologis organ-organ tersebut.
Berikut ini adalah tabel komposisi cairan di dalam tubuh:
7
Tabel III.1. Komposisi cairan tubuh
Jenis cairan Volume % Berat
(ltr) Badan
Plasma 3,5 5%
Interstisial 12 17%
Total CES 15,5 22%
Total CIS 26,5 38%
Jumlah 42 60%
Masing-masing cairan banyak mengandung zat terlarut (solut) yang mengandung muatan
listrik. Oleh karena itu, cairan di dalam tubuh merupakan cairan elektrolit. CES banyak
mengandung natrium dan klorida sedangkan CIS banyak mengandung kalium dan fosfat. Coba
lihat tabel berikut:
Tabel III.2. Komposisi zat solut dalam cairan (mmol/liter)
Zat Solut Plasma Interstisial Intra
sel
Kation
Natrium (Na+) 142 145 10
Kalium (K+) 4 4 160
Kalsium (Ca++) 2 1 1
Magnesium (Mg+) 1 1 13
Anion
Klorida (Cl-) 101 114 3
Fosfat (PO4 )
-
1 1 50
Bicarbonat (HCO3-) 27 31 10

GERAKAN CAIRAN
Agar tetap berfungsi baik, sel harus selalu mempertahankan komposisinya. Akan tetapi, karena
selalu beraktivitas, komposisi sel terutama cairan selalu berubah. Oleh karena itu, untuk
mengembalikan komposisi sel ke seperti sedia kala, perlu terjadi pemindahan komposisi ion
keluar masuk sel.
Pemindahan zat solut/ ion keluar masuk sel melalui 2 mekanisme yaitu difusi dan transpor
aktif. Difusi adalah gerakan zat/solut secara bebas karena pengaruh gaya kinetik. Kedua
mekanisme tersebut dipengaruhi oleh tekanan osmotik cairan di sekitar membran sel.
Transpor aktif adalah pemindahan zat melalui ikatan dengan pengemban (karier). Gerakan ini
berlawanan dengan gaya kinetik sehingga memerlukan energi.
Dengan kata lain, difusi berarti solut berpindah dengan sendirinya karena dipengaruhi oleh
gaya dari tempat lain
Gambar III.2. Difusi (atas) dan transpor aktif (bawah)
8

OSMOLARITAS TUBUH
Cairan terdiri dari air dan solut (zat larut). Pada membran yang semipermeabel, air bisa
melewati dinding sel (difusi), tetapi tidak semua solut bisa lewat. Sudah menjadi hukum alam
(fisika) bahwa cairan akan bergerak dari tempat yang zat solutnya sedikt (encer) ke tempat
yang zat solutnya banyak (kental). (Lihat gambar III.3)
Zat solut yang dimaksud adalah zat solut yang tidak bisa berdifusi (ukuran besar sehingga
tidak bisa melewati membran sel)
Semakin banyak zat solut yang tidak berdifusi (semakin kental) maka semakin tinggi tingkat
osmosisnya, dan berarti semakin tinggi kemampuannya untuk menghisap air dari tempat lain.
Satuan osmosis disebut dengan osmol. Osmol adalah kemampuan zat terlarut untuk
menimbulkan gerakan (difusi) cairan. Kemampuan osmosis sering kali disebut dengan
tekanan osmotik. Artinya cairan yang memiliki tekanan osmotik yang tinggi maka kemampuan
osmosisnya (kemampuan menghisap air dari tempat lain) juga tinggi.
Sekitar 80% kemampuan osmosis CES dipengaruhi oleh Na + dan Cl-. Jika kadar Na+ dan Cl-
tinggi maka tingkat osmosis juga tinggi. Selain itu, sekitar 50% kemampuan osmosis CIS
dipengaruhi oleh kadar K+.
Bila gaya yang menghisap cairan disebut tekanan osmotik, maka gaya yang mendorong cairan
disebut tekanan hidrostatik. Tekanan hidrostatik di pembuluh darah berasal dari gaya dorong
pompa jantung

DINDING KAPILER
Kita membahas perpindahan zat di sekitar kapiler secara khusus, karena proses di tempat ini
sangat penting untuk mengatur keseimbangan cairan dan suplai sumber energi di tingkat sel.
Kapiler adalah tempat pertukaran antara zat nutrisi yang dibawa oleh darah dan sisa
9
metabolisme yang berasal dari sel. Diamater kapiler hanya sekitar 7 9 mikron. Dinding
kapiler terdiri dari 1 lapis sel endotel tipis bermembran. Di antara sel endotel terdapat celah
(saluran) tempat lewat zat-zat terlarut dan air. Tebal dinding hanya 0,5 mikron. (Gambar III.4)

Gambar III.3. Air masuk ke dalam sel karena di dalam sel lebih kental

Gambar III.4. Dinding Kapiler

Gambar III.4. Pembuluh kapiler

PERTUKARAN CAIRAN ANTARA INTRA KAPILER DAN INTERSTISIAL


Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya bahwa dinding kapiler bersifat permeabel yang
berarti ada beberapa zat yang dapat menembus keluar masuk dinding. Pertukaran tersebut
bertujuan untuk suplai zat yang dibutuhkan oleh sel dan mengambil zat sisa metabolisme sel.
Sebelum sampai ke sel, zat-zat tersebut harus melewati ruang interstisial.
10
Sel dapat diibaratkan sebagai rumah di dalam kompleks yang dikelilingi halaman (interstisial).
Oksigen yang berasal dari pabrik (alveoli) dikirimkan dengan mobil truk (hemoglobin)
melewati jalan besar (arteri), jalan kecil (arteriola), dan akhirnya masuk ke gang (kapiler).
Tentu saja sebelum masuk rumah, oksigen harus melewati halaman (interstisial) dahulu.
Oksigen/substansi masuk ke dalam rumah melewati pintu tertentu (reseptor/celah sel). Di
dalam rumah (sel) oksigen langsung ke dapur (mitokondria) untuk diolah dan dimasak
(posforilasi oksidasi) manjadi makanan (ATP).
Cairan dari kapiler keluar ke interstisial disebut dengan filtrasi. Keluarnya cairan dari dalam
kapiler karena ada daya dorong dari tekanan hidrostatik yang berasal dari daya pompa
jantung. Cairan yang berasal dari interstisial dapat masuk ke dalam kapiler peristiwa ini
disebut reabsorbsi. Cairan masuk ke kapiler karena ada daya hisap dari tekanan osmotik di
kapiler yang kental karena banyak mengandung protein plasma.
Cairan dapat keluar masuk kapiler karena ada perbedaaan tekanan hidrostatik dan tekanan
osmotik. Filtrasi terjadi pada kapiler dekat ujung arteri karena di tempat tersebut tekanan
hidrostatik kapiler lebih tinggi dari tekanan osmotiknya. Reabsorbsi terjadi di kapiler dekat
ujung vena karena tekakan hidrostatik kapiler di tempat tersebut lebih rendah dari tekanan
osmotiknya.

DISTRIBUSI NATRIUM DAN KALIUM


a. Natrium
Natrium (Na+) merupakan kation (muatan positif) utama yang paling banyak pada cairan
ekstra sel. Zat ini merupakan komponen utama yang mengatur tekanan osmotik di ekstra sel.
Jumlah total Na+ di dalam tubuh sekitar 58 meq/kg. Berikut distribusi Na+ di dalam tubuh:
Konsentrasi Na+ tergantung/ diatur oleh 2 mekanisme:
1. Umpan balik negatif dengan Anti Diuretik Hormon (ADH)
2. Mekanisme haus
Tabel III.3. Tabel distribusi Natrium di dalam tubuh
Tempat Na+ meq/kg %
CES:
Plasma 6,5 11,2
Interstisial 16,8 29,0
Transeluler:
Jaringan Ikat 6,8 11,7
Tulang 22,7 38,1
Total 52,8 91
CIS 5,2 9

Umpan Balik ADH


Jika tubuh kekurangan air maka konsentrasi Na+ meningkat sehingga meningkatkan
osmolaritas. Tekanan osmotik yang tinggi akan memacu ginjal untuk mensekresi
(memproduksi) ADH. ADH akan menyebabkan ginjal meretensi (menahan) cairan agar tidak
keluar dari ginjal ke ureter.
11
Rasa Haus
Konsentrasi Na+ yang tinggi juga akan merangsang pusat haus di hipotalamus sehingga timbul
sensasi rasa haus. Adanya rasa haus akan mendorong seseorang untuk minum.
b. Kalium
Kalium (K+) merupakan kation utama di intra sel. Sekitar 89% kalium berada di dalam sel.
Jumlah total K+ di dalam tubuh sekitar 50 meq/kg. Kadar K+ tergantung pada efek mekanisme
aldosteron. Bila kadar K+ di darah meningkat maka akan memacu ginjal untuk memproduksi
aldosteron. Aldosteron akan memacu ginjal untuk mengeluarkan K + dalam jumlah yang lebih
banyak sehingga kadar K+ kembali turun.
INTAKE-OUTPUT CAIRAN TUBUH
Dalam kondisi tubuh yang normal dan pada suasana cuaca yang normal, tubuh kita
membutuhkan cairan sekitar 2400 ml per hari (12 gelas belimbing). Sekitar 2/3 cairan
tersebut berasal dari air minum dan 1/3-nya bercampur dengan makanan. Hal ini disebabkan
karena dalam cuaca yang normal tubuh kita kehilangan cairan sekitar 2400 ml dalam 1 hari.
Cairan keluar dari tubuh dalam bentuk: urin, feces, keringat, uap dari pulmonal dan kulit.
Tubuh kita tidak menyadari pengeluaran cairan dalam bentuk uap dari pulmonal dan kulit.
Lihat tabel berikut:
Tabel III.4. Output cairan dari tubuh (ml/hari)
Bentuk Suhu normal Cuaca panas Olahraga lama
Uap dari kulit 350 350 350
Uap dari 350 250 650
pulmonal
Urin 1400 1200 500
Keringat 100 1400 5000
Feces 200 200 200
TOTAL 2400 3400 6700

PENGATURAN KESEIMBANGAN ASAM BASA


Keseimbangan asam dan basa bergantung pada kadar ion hidrogen (H +) di dalam cairan tubuh.
Perubahan sedikit kadar ion H+ dalam tubuh akan menyebabkan perubahan kecepatan reaksi
kimia sel. Perubahan reaksi tersebut dapat menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Jika ion H +
meningkat, maka tubuh akan mengalami asidosis (asam yang berlebihan) yang dapat
menyebabkan kematian karena koma. Bila kadar ion H + terlalu rendah maka tubuh akan
mengalami alkalosis (basa berlebihan) yang dapat menyebabkan kematian karena
kejang/tetani.
Kadar ion H+ dinyatakan dengan pH (pH = log 1/kadar H+). pH yang tinggi berarti kadar ion
H+ turun dan cairan tubuh dalam keadaan basa. pH yang rendah berarti kadar ion H + naik dan
cairan tubuh dalam keadaan asam.
Di dalam arteri, pH normal adalah 7,4, sedang pH vena normal 7,35. Keseimbangan pH di arteri
sangat penting bagi kehidupan. Bila pH arteri kurang dari 7,4 (asidosis) maupun lebih dari 7,4
(alkalosis) maka orang hanya dapat bertahan hidup dalam hitungan jam. Sel tubuh manusia
memiliki pH yang bervariasi mulai dari 4,5 (misal di vagina) sampai 7,4. Namun secara rata-
rata berkisar 7,0.
12
Karena kadar pH yang seimbang sangat penting bagi kehidupan, maka tubuh kita memiliki
berbagai upaya untuk mempertahankan keseimbangan asam basa, antara lain:
1. Sistem buffer/penyangga
2. Kontrol respirasi/pernafasan
3. Ekskresi urea oleh ginjal
1. Sistem Buffer/penyangga
Buffer merupakan suatu larutan zat kimia yang akan bercampur dengan suatu asam/basa kuat
sehingga kadar ion H+ kembali seperti semula. Ada 3 sistem buffer pada tubuh manusia yaitu:
a. Buffer bikarbonat
Buffer bikarbonat terdiri dari 2 komponen yaitu asam karbonat (H 2CO3) yang
merupakan asam lemah dan natrium bikarbonat (NaHCO 3) yang merupakan basa
lemah. Kadang-kadang unsur Na digantikan oleh unsur Mg, K, dan Ca. Bila suasana
asam (HCl naik), maka HCl tersebut akan bercampur dengan natrium bikarbonat
menjadi H2CO3 dan NaCl. Sehingga suasana menjadi asam lemah. Bila suasana basa
(NaOH/natrium hidorksida naik) maka akan bercampur dengan asam karbonat
menjadi NaCO3 + H2O sehingga menjadi netral.
HCl + NaHCO3 H2CO3 + NaCl
NaOH + H2CO3 NaCO3 + H2O
b. Buffer fosfat
Buffer fosfat adalah Na2HPO4 yang dapat menguraikan HCl (asam kuat) dan NaH 2PO4
yang dapat menguraikan NaOH (basa kuat).
c. Buffer protein
Buffer protein merupakan sistem buffer yang paling kuat, (75% dari seluruh buffer
tubuh). Protein dapat memfasilitasi difusi CO 2 dan bikarbonat. Selain itu, protein
sendiri dapat menetralisir keadaan asidosis dan alkalosis karena asam amino memiliki
gugusan asam dan basa lemah.
2. Kontrol Respirasi/pernafasan
Bila kadar asam meningkat maka akan merangsang pernafasan untuk bekerja lebuh cepat
(hiperventilasi). Keadaan ini akan mempercepat pengeluaran CO 2 ke udara bebas, sehingga
kadar CO2 di cairan ekstra sel turun. Ternyata pengeluaran CO2 diikuti penurunan kadar ion H+.
H2O + CO2 H2CO3 H+ + HCO3-
Atas dasar reaksi tersebut maka kadar HCO 3- dan CO2 menjadi dasar diagnosis keadaan
asidosis dan alkalosis di dalam tubuh. Gejala sesak nafas dengan gangguan sistem paru-paru
yang tidak jelas memberi arti klinis yang bermakna terhadap keadaan keseimbangan asam
basa.
3. Ekskresi Urea oleh Ginjal
Bila darah mengalami suasana asam maka ginjal akan mengekskresi ion H + dan menyerap
HCO3-. Demikian pula sebaliknya bila berlaku sebaliknya, bila darah mengalami suasana asam
maka ion H+ akan dipertahankan dan HCO3- akan dieksresi. Orang-orang yang mengalami
gangguan ginjal akan berisiko mengalami gangguan keseimbangan asam basa.
III. PERAN ILMU FISIKA DAN APLIKASINYA DI BIDANG KEDOKTERAN
13
Oleh:
dr. Irfannuddin, SpKO, AIF, MPdKed

Peran Ilmu Alam dalam Pendidikan Dokter


Dalam Kurikulum Inti Pendidikan Dokter ke-2, Ilmu Alam yaitu Biologi, Kimia dan
Fisika mendapat tempat tersendiri pada tahap awal pendidikan dokter. Sebelum mempelajari
ilmu kedokteran, mahasiswa dibekali dahulu denganpengulangan ilmu-ilmu alam. Hal ini
dilakukan karena, secara strutur dasarnya, manusia adalah bagian dari alam semesta. Struktur
dan fungsi kehidupan di dalam tubuh manusia tidak terlepas dari kejadian yang terjadi sesuai
hukum alam. Beberapa fenomena alam juga terjadi pada tubuh manusia. Oleh karena itu,
dengan mempelajari fenomena alam yang terdapat dalam ilmu biologi, fisika dan kimia, maka
diharapkan mahasiswa akan lebih mudah mencapai pemahaman ketika mempelajari ilmu
kedokteran.
Berikut ini adalah beberapa fenomena fisika yang juga berlaku di dalam tubuh manusia.
Anda akan mengamati bahwa fenomena gelombang elektromagnetik yang terjadi di alam ini
juga berlaku pada persepsi gelombang elektromagnetik di dalam retina mata untuk proses
penglihatan. Proses pendengaran dan perabaan sesungguhnya adalah mekanisme yang
berkaitan erat dengan gelombang mekanik yang terjadi di koklea telinga dan di kulit. Kita bisa
berjalan, bergerak dan tidak mudah jatuh, karena di dalam sistem muskulo skeletal kita
berlaku prinsip biomekanika. Selain itu, anda bisa mengukur dan mendeteksi perubahan
tekanan darah, karena pada sistem kardiovaskular tersebut berlaku prinsip hidrodinamika.
Berikut ini beberapa cabang ilmu fisika yang perlu dipelajari untuk memberikan famahaman
yang lebih baik dalam ilmu kedokteran yaitu:
- Bioakustik proses pendengaran, pemeriksaan jantung dan paru

- Elektromagnetik proses penglihatan, foto rongten, MRI

- Biomekanika meraba, trauma, ergonomi

- Biofluida prinsip dinamika darah dan cairan tubuh

- Biolistrik proses penghantaran listrik di syaraf

- Termodinamika prinsip pengaturan suhu tubuh

- Bio-optik proses pembiasan pada mata

Berikut ini adalah contoh aplikasi ilmu fisika pada penentuan tekanan darah:
14

APLIKASI FISIKA DI BIDANG KEDOKTERAN


Ilmu fisika memiliki peran yang penting dalam aplikasi ilmu kedokteran. Pada
dasarnya, ada 2 peran aplikasi ilmu fisika di bidang kedokteran yaitu untuk proses diagnostik
dan terapi. Diagnostik bertujuan untuk mendeteksi adanya gangtguan homeostasis/ penyakit
dan terapi bertujuan untuk membantu tubuh mengembalikan diri ke kondisi homeostasis/
penyembuhan.
Berikut beberapa contoh alat diagnostik yang dipakai dengan menggunakan prinsip fisika
yaitu:
- Termometer yang menggunakan prinsip termodinamika

- Tensimeter yang menggunakan prinsip hidro/hemo dinamika

- Stetoskop dan fetoskop yang menggunakan prinsip bioakustik

- Ultrasonografi/ ultrasound yang menggunakan prinsip bioakustik

- Elektrokardiografi yang menggunakan prinsip biolistrik

- Foto Rontgen, CT-scan, MRI yang menggunakan prinsip gelombang elektromagnetik

Prinsip Termodinamika
Alat yang digunakan adalah termometer. Alat ini bekerja dengan prinsip termodinamika
bahwa kenaikan suhu menyebabkan perubahan struktur molekul (air rakasa) sehingg terjadi
pemuaian. Pengukuran termometer dinilai dengan mengukur seberapa besar tingkat
pemuaian tersebut. Pengukuran suhu tubuh bertujuan sebagai indikator adanya proses
imflamasi dan infeksi serta proses pertumbuhan abnormal sel (misal kanker)

Prinsip Hidrodinamika
Alat diagnostik yang menggunakan prinsip hidrodinamika misalnya tensimeter, tono
meter pada mata dan esofagometer. Ketiga alat tersebut bertujuan untuk mengukur tekanan.
Alat-alat tersebut mengukur seberapa besar gaya hidrostatik yang ditimbulkan oleh cairan di
dalam tubuh. Tensimeter mengukur tekanan hidrostatik di dalam darah, tonometer mengukur
tekanan hidrostatik di dalam bola mata dan esofagometer mengukur tekanan hidrostatik di
dalam esofagus.

Prinsip Bioakustik
Ada beberapa alat diagnostik yang menggunakan prinsip bioakustik yaitu garputala,
stetoskop, fetoskop, dan ultrasonografi (USG). Pada prinsipnya alat ini mendeteksi gelombang
mekanik yang dihantarkan oleh berbagai media. Garputala berfungsi mendeteksi fungsi
pendengaran. Alat ini mampu mendeteksi gelombang mekanik suara yang dihantarkan melalui
udara dan tulang. Stetoskop berfungsi untuk mendeteksi bunyi jantung, bunyi pernafasan dan
bunyi usus yang dihantarkan melalui jaringan. Alat ini tentu berfungsi untuk menilai fungsi
organ-organ dalam tubuh. Organ dalam tubuh seperti jantung, paru dan usus mengeluarkan
bunyi yang dapat dideteksi oleh stetoskop. Fetoskop berperan untuk mendeteksi bunyi jantung
janin pada ibu hamil.
15

Secara fisika, suara juga menghasilkan energi dan dapat dipantulkan (efek echo/gema).
Berdasarkan prinsip itu, lahirlah apa yang disebutkan efek doppler. Efek doppler membahas
bahwa semakin dekan suara maka energinya akan semakin membesar. Enegi suara tersebut
bila mengenai suatu massa benda akan dipantulkan. Atas dasar prinsip Doppler itu, maka
lahirlah alat yang disebut Ultrasonografi (USG) atau sering disebut juga ultrasound. USG
memiliki perangkat yang mengeluarkan energi suara dan mampu menangkap kembali energi
yang dipantulkan oleh jaringan keras didalam tubuh untuk diterjemahkan dalam bentuk
gambar. Sesungguhnya alat USG ini mengadopsi dari alat Sound Navigation and Ranging
(SONAR) yang sering dipakai di kapal laut.
USG berguna untuk mendeteksi bentuk dan posisi janin, denyut jantung suara aliran
darah janin dan deteksi massa benda di dalam tubuh. Alat seperti USG juga dipakai di bidang
ilmu penyakit dalam yaitu mendeteksi fungsi jantung yang disebut echokardiografi.

Prinsip Bioelektrik
Pada prinsipnya listrik selalu mengalir ke arah tertentu yaitu dari arah kutub positif ke
arah kutub negatif. Arah aliran listrik inilah yang dapat direkam oleh sebuah alat yang
ditemukan oleh Einthoven (1924). Alat itu disebut dengan Elektrokardiografi (EKG). Alat ini
mampu merekam pola dan arah aliran listrik jantung. Aliran ini kemudian akan diterjemahkan
dalam bentuk pola garis. Jantung adalah organ tubuh yang dapat menghasilkan dan
menghantarkan potensial listrik. Dengan mengetahui pola aliran listrik jantung, kita dapat
mengetahui apa yang terjadi pada organ jantung. Alat yang mirip dengan EKG juga dibuat
untuk mendeteksi fungsi otot (elektromyografi/ EMG), dan fungsi otak (elektroensefalografi/
EEG).

Prinsip Elektromagnetik
Kemajuan ilmu fisika mampu mengungkapkan bahwa cahaya adalah kombinasi dari
unsur magnet dan unsur listrik. Retina mata memiliki reseptor foto (sel kerucut dan sel
batang) yang mampu menterjemahkan gelombang elektromagnetik menjadi potensial aksi
listrik, dan dilanjutkan ke otak untuk menjadi persepsi gambar. Atas dasar itu, manusia
mengembangkan amplifikasi magnet dari cahay menjadi bayangan gambar. Alat yang sering
digunakan dari teknologi fisika ini adalah Radio Detecting and Ranging (RADAR). Atas prinsip
RADAR, maka berkembanglah teknologi Magnetic Resonance Image (MRI). Alat ini mampu
mendeteksi bayangan jaringan lunak tubuh.
Sebelumnyanya, Tn Rontgen menemukan suatu gelomabang elektromagnetik berenergi
besar yang disebut dengan sinar-X. Karena daya tembus yang kuat, sinar dipakai di bidang
kedokteran untuk mendeteksi jaringan di dalam tubuh. Selanjutnya, prinsip sinar-X
dikembangkan lagi menjadi Computed Tomography Scanning (CT-Scan).

APLIKASI FISIKA DALAM TERAPI


Beberapa alat yang dipakai untuk mendiagnosis penyakit ternyata dapat dipakai juga
untuk terapi. USG ternyata juga mampu menghasilkan panas sehingga sekaligus mampu
memperbaiki kerusakan jaringan lunak seperti otot, sendi dan saraf. Alat USG untuk terapi
disebut dengan diatermi. Efek panas untuk terapi juga dapat dihasilkan dengan alat yang
disebut sinar inframerah.
Foto rontgen juga dipakai untuk terapi. Proses ini disebut dengan radioterapi. Sinar-X
yang berenergi besar ternyata juga mampu menghancurkan massa jaringan. Oleh karena itu
alat ini sering dipakai untuk menghancurkan massa kanker. Penghancuran massa kanker juga
16
dapat dilakukan dengan menggunakan alat Light Amplification by Stimulated Emission of
Radiation (LASER).
Terapi juga dapat menggunakan energi listrik. Contohnya adalah electrocraniotherapy
(ECT) untuk menstabilisasi impuls listrik pada otak pada pasien gangguan jiwa. Dan elctric
shock (GC-shock) untuk menstabilkan listrik jantung.