Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

Maag-Duodenography

Disusun oleh:
Rika Wulandari 12310399
C

Pembimbing :
dr. Elsa P. Surbakti, Sp. Rad

DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


SMF RADIOLOGI RSU KABANJAHE
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
2017

1
BAB 1
PENDAHULUAN

Maag duodenography adalah pemeriksaan secara radiografi dengan menggunakan

media kontras (positif dan negative) untuk menampakkan kelainan pada lambung dan

Duodenum. Biasanya merupakan satu paket pemeriksaan dengan oesophagus (OMD =

Oesophagus Maag duodenography).

Indikasi pemeriksaan Maag duodenography yaitu untuk pasien-pasien dengan

keluhan nyeri epigastric, rasa penuh seperti terbakar di ulu hati, kembung, adanya kelainan pada

lambung dan duodenum, maupun untuk mengetahui adanya keganasan pada labung dan

duodenum.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 . Anatomi Gaster dan Duodenum

a. Gaster

Gaster (Lambung) tertutup oleh peritoneum, kecuali pada lintasan pembuluh

darah sepanjang curvature epigastrica dam pada daerah kecil di sebelah dorsal ostium

cardiacum. Kedua lembar Omentum minus meluas, mengelilingi gaster dan melepaskan

diri pada curvature gastric major sebagai omentum majus.

Permukaan ventral gaster bersentuhan dengan :

Diafragma
Lobus Hepatis sinistra
Dinding Abdomen ventral

Palungan lambung (Stomach bed), yaitu tempat sebuah gaster pada sikap

terlentang dibentuk oleh dinding dorsal bursa omentalis dan struktur yang terdapat antara

dinding tersebut dan dinding abdomen dorsal :

Diafragma
Colon Transversum, Mesocolon transversum, pancreas, spleen, truncus

coeliacus serta ketiga cabangnya


glandula suprarenalis sinistra dan bagian cranial ren sinistra

gaster memiliki struktur sebagai berikut:

Curvatura gastric minor sebagai tep gaster yang cekung

3
Curvatura gastrica major sebagai tep gaster yang cembung dan lebih

panjang
sebuah takik tajam kira-kira dua pertiga distal jarak curvature gastrica

minor disebut incisura angularis sebagai patokan batas antara corpus

gastricus dengan pylorus


cardia sekitar muara oesophagus
fundus gastricus, yaitu bagian cranial yang melebar dan berbatas pada

kubah diafragma sebelah kiri


Corpus gastricum yang terdapat antara fundus dan antrum pyloricum
Pars pylorica, bagian gaster yang menyerupai corong; bagian yang lebar

yakni antrum pyloricum beralih kebagian yang sempit, yakni canalis

pyloricum
Pylorus, daerah sfingter yang menebal disebelah distal untuk membentuk

musculus sphincter pylori yang berguna untuk mengatur pengosongan isi

gaster melalui ostium pyloricum ke dalam duodenum.

4
Gambar bagian-bagian gaster

Vaskularisasi Gaster

Arteri-arteri gaster berasal dari truncus coeliacus dan cabangnya:

Aa. gastrica sinistra berasal dari truncus coeliacus dan melintas ke dalam

omentum minus ke cardia, lalu berjalan mengikuti curvature gastrica

minor dan beranastomosis dengan Aa. Gastrica dextra


Aa. gastrica dextra berasal dari arteria hepatica dan melintas ke kiri

mengikuti curvature gastrica major lalu mengadakan anastomosis dengan

arteria gastrica sinistra


Aa. gastroepiploica dextra merupakan cabang arteria gastroduodenalis dan

melintas ke kiri sepanjang curvature gastrica major, lalu mengadakan

anastomosis dengan arteria gastro omentalis sinistra

5
Arteria gastro-omentalis sinistra berasal dari arteria splenica dan

beranastomosis dengan arteri gastromentalis dextra


Arteria gastrica breves berasal dari ujung distal arteria splenica dan

menuju ke fundus

Vena vena gaster mengikuti arteri-arteri yang sesuai dengan hal dan letak. Vena

gastrica dextra dan vena gastrica sinistra mencurahkan isinya ke dalam vena porta

hepatis.

Vena gastrica breves dan vena gastro-omentalis membawa isinya ke vena splenica

yang berate dengan vena mesenterica superior untuk membentuk vena portae hepatis.

Inervasi parasimpatis gaster berasal dari Truncus vagalis anterior et posterior .

Inervasi simpatis berasal dari segmen medulla spinalis T6 T9 melalui pleksus coeliacus.

Gambar Vaskularisasi gaster

6
b. Duodenum

Duodenum adalah bagian intestinum tenue terpendek dan terlebar. lintasannya

merupakan huruf C yang meliputi caput pancreastis. Duodenum berawal dari pylorus

disebelah kanan dan berakhir pada peralihan duodenojejunal junction disebelah kiri.

Duodenum dibedakan menjadi 4 bagian yaitu :

Bagian proximal (pertama) yang pendek (5 cm) terletak ventrolateral

terhadap corpus vertebrae L1, yakni pars superior


Pars descendens melintas ke kaudal sejajar dengan sisi kanan vertebrae

L1-L3
Pars horizontalis , melintas ventral terhadap vertebrae L3
Pars Ascendens, berawal disebelah kiri vertebrae L3, lalu melintas ke

cranial sampai setinggi tepi cranial vertebrae L2

7
Vaskularisasi Duodenum
Arteri-arteri duodenal berasal dari truncus coeliacus dan arteri mesenterica

superior. Truncus coeliacus melalui arteri gastroduodenalis superior dan cabangnya arteri

pancreaticoduodenalis memasok darah ke duodenum yang terletak proximal dari muara

ductus choleduchus. Arteri mesenterica superior, melalui cabangnya

A.pancreaticoduodenalis inferior memasok darah ke bagian duodenum yang terdapat di

distal dari ductus choleduchus.


Vena-vena duodenal mengikuti arteri-areteri dan bermuara ke dalam vena portae

hepatis.
Inervasi duodenum berasal dari nervus vagus dan saraf simpatis melalui pleksus

disekitar A.pancreaticoduodenalis.

8
2.2. Pemeriksaan Maag Duodenography

2.2.1. Definisi Maag duodenography

Maag duodenography adalah pemeriksaan secara radiografi dengan menggunakan

media kontras (positif dan negative) untuk menampakkan kelainan pada lambung dan

Duodenum. Biasanya merupakan satu paket pemeriksaan dengan oesophagus (OMD =

Oesophagus Maag duodenography).

2.2.2. Indikasi dan Kontraindikasi pemeriksaan Maag Duodenography

Indikasi Pemeriksaan untuk gaster

Gastritis : radang gaster ( baik akut maupun kronik )

Divertikula : penonjolan keluar darimaag yang membentuk kantung ( banyak terjadi pada

fundus )

9
Hematemesis : perdarahan)

Neoplasma ( tumor atau kanker )

Hernia hiatal : hingga sebagian lambung tertarik keatas diafragma karena esophagus yang

pendek.

Stenosis pylorus:penutupan atau penyempitan dari lumen pylorus

Bezoat / Undigested material (biasanya berupa rambut, serat sayuran atau bahan kayu )

Ulcers : erosi dari mukosa dinding lambung (karena cairan gaster, diet, rokok, bakteri )

Ulcer/ulkus/tukak : luka terbuka pada permukaan selaput lendir lambung

Perforasi regurgitasi

Kontraindikasi

Persangkaan perforasi tidak boleh menggunakan BaSO4 tetapi menggunakan water

soluble kontras (urografin, iopamiro )

Obstruksi usus besar

Indikasi Pemeriksaan Duodenum :

Kelainan congenital

-atresi duodeni

-spasme duodeni(pada foto roentgen tampak double bubble)

10
Radang

Gejala duodenitis :
rasa sakit di epigastrum
rasa mulas
kadang diare
Tumor

- Tumor jinak (diverticle)

Adalah kantong yang menonjol pada dinding usus terdiri atas lapisan mukosa dan muskul

aris mukosa.

- Tumor ganas pada duodeni

Tanda- tandanya; berat badan menurun , nafsu makan menurun, melena, Haematemesis ,

Teraba massa

2.2.3. Teknik Pemeriksaaan Maag-Duodenography

Persiapan Pasien

o Pasien diberi penjelasan tentang pemeriksaan yang akan dilakukan ( kooperatif )

o 2 hari sebelum pemeriksaan pasien diet rendah serat untuk mencegah

pembentukan gas akibat fermentasi

o Lambung harus dalam kondisi kosong dari makanan dan air, pasien puasa 8-9 jam

sebelum pemeriksaan

o Pasien tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat obatan yang mengandung

substansi radioopaque seperti steroid, pil kontrasepsi,dll.

11
o Sebaiknya colon bebas dari fecal material dan udara bila perlu diberikan zat

laxative.

o Tidak boleh merokok ( nicotine merangsang sekresi saliva )

o Pasien diminta mengisi informed concent.

Persiapan Alat

o Pesawat X-Ray + Fluoroscopy

o Baju Pasien

o Sarung tangan Pb

o Kaset + film ukuran 30 x 40 cm, 24 x 30 cm.

o Bengkok

o X-Ray marker

o Tissue / Kertas pembersih

o Bahan kontras barium sulfat

o Barium encer dengan air hangat ( BaSO4 : air = 1 :4 )

o Obat emergency : dexametason, delladryl,dll)

o Air Masak Sendok / Straw ( pipet ) dan gelas

Persiapan Bahan
1. Media kontras barium Sulfat

12
Pemeriksaan Maag Duodenography menggunakan jenis kontras Barium

Meal dengan cara meminum media kontras.


2. Cara Pemberian Media Kontras
Kontras positif yang biasanya digunakan dalam pemeriksaan radiologi

saluran pencernaan adalah Barium Sulfat. bahan ini merupakan suatu

garam berwarna putih, mempunyai berat atom yang besar dan tidak larut

dalam air. Bahan diaduk dengan air dalam perbandingan tertentu, sehingga

menjadi suspense. Suspensi tersebut harus diminum oleh pasien dalam

pemeriksaan maag duodenography.


Untuk pemeriksaan lambung dan duodenum setelah pasien diberi suspense

barium kurang lebih 200 ml, kemudian pasien disuruh berbaring di atas

meja pemeriksaan dan diminta untuk memutar badan ke kiri dank e kanan

sebanyak 2-3 kali dengan maksud agar barium sulfat dapat melapisi

lambung dan duodenum secara merata. Setelah itu segera dilakukan

pengambilan radiograf setelah kurang lebih 2-3 menit post media kontras.

Body habitus

o Tipe dari body habitus memberikan efek yang sangat besar terhadap lokasi organ

pencernaan pada rongga abdomen.

o Untuk keakuratan dan konsistensi posisi dari organ pencernaan perlu diketahui

karakteristik dan klasifikasi dari body habitus.

o Terdapat 4 kelompok dari body habitus yaitu : hypersthenic, sthenic, hyposthenic

dan asthenic

13
Proyeksi Pemotretan

1. PA erect ( film 30 x 40 ) untuk melihat type dan posisi lambung

2. Lateral erect untuk melihat space retrogastric kiri

3. PA recumbent untuk melihat gastroduodenal surface

4. PA Obliq ( RAO ) untuk melihat pyloric canal dan duodenal bulb

14
5. Right Lateral Decubitus utk melihat duodenal loop, duodenojujunal junction dan

retrogastric space

6. AP Recumbent utk melihat bagian fundus terutama pada teknik double kontras, rotasi

lateral untuk melihat lesi pada dinding anterior dan posterior, retrogastric portion dari

jejunum dan illium

7. Variasi supine dengan mengatur kepala lebih rendah 250 300 untuk melihat hernia

hiatal dan 10 15 derajat dan rotasi pasien ke depan ( sisi kanan dekat meja ) untuk

melihat gastroesophageal junction juga untuk melihat regurgitasi.

Proyeksi PA (film 30 x40)

o Fungsi : untuk memperlihatkan polip, divertikul, gastritis, pada pylorus lambung

o Posisi Pasien : berdiri, prone menghadap kaset

o Posisi Objek : MSP pada pertengahan meja / kaset. Batas Atas : Xyphoid ( Th 9-

10 ), Batas Bawah: SIAS, diyakinkan tidak ada rotasi abdomen.

o CR : Tegak Lurus

o CP : Pada pylorus dan bulbus duodeni.

Stenik : 1-2 inchi dibawah L2 menuju lateral batas costae dan 1 inchi

kekiri dari C. Vertebrae

Astenic : 2 inchi dibawah L2

Hiperstenic : 2 Inchi diatas level duodenum

15
o Expose : ekspirasi dan tahan nafas.

o Kriteria Radiograf :

Struktur yang tampak daerah lambung dan duodenum

Body dan pylorus tercover

Struktur gambar dapat menampakkan jaringan dari lambung dan

duodenum.

Tampak struktur anatomis sesuai dengan kelainan dan patologi yang ada

Proyeksi Lateral Erect (Lateral kanan)

16
o Fungsi : memperlihatkan proses pada daerah retrogastric seperti divertikel, tumor,

ulkus gastric, trauma pada perut dan batas belakang lambung.

o Posisi Pasien : pasien miring arah kanan, atur kaki dan dan tangan mengikuti

kemiringan pasien

o Posisi Objek : bahu dan daerah costae dalam posisi lateral, batas atas xyphoid,

batas bawah crista iliaka

o Central Ray : Tegak Lurus

o Central Point : bulbus duodenum pada L1

Stenik : 1-1,5 ke depan dari mid coronal plane

Astenic : 2 inchi dibawah L1

Hiperstenic : 2 Inchi diatas L1

o FFD : 100 cm

o Expose : ekspirasi dan tahan nafas.

o Kriteria Radiograf :

Struktur yang tampak daerah lambung dan duodenum tercover celah

retrogastric, pylorus dan lengkung duodenum akan terlihat jelas khususnya

pada tipe hiperstenic

Lengkung duodenum terletak pada sekitar L1

17
Dapat memperlihatkan anatomi dan kelainan yang ada.

Proyeksi LPO (left posterior oblique)

o Fungsi : bila digunakan double kontras akan dapat memperlihatkan dengan jelas

batas antara udara dengan dinding pylorus dan bulbus sehingga jelas untuk

GASTRITIS dan ULKUS

o Posisi Pasien : pasien recumbent, punggung menempel kaset.

o Posisi Objek : dari posisi supine dirotasikan 30 60 derajat dengan bagian kiri

menempel meja, tungkai difleksikan untuk menopang, Batas atas

:proc.xyphoideus, Batas bawah : SIAS

o CR : Tegak Lurus

o CP : pertengahan crista iliaca

Stenik : L1

18
Astenic : 2 inchi dibawah L1 mendekat mid line

Hiperstenic : 2 Inchi diatas L1

FFD : 100 cm

Expose : ekspirasi dan tahan nafas.

o Kriteria Radiograf :

Struktur yang tampak daerah lambung dan duodenum, bulbus duodenum

tanpa superposisi dengan pylorus

Fundud tampak tertempeli BaSO4

Pada double kontras tampak batas body dan pylorus dengan batas udara

Tidak ada pergerakan dan kekaburan gambaran lambung dan duodenum

Proyeksi PA Oblique (RAO)

19
o Posisi Pasien : recumbent, prone

o Posisi Objek : Abdomen diatur sehingga abdomen membentuk sudut 40 70

derajat dengan tepi depan MSP, lengan tangan sebelah kiri flexi ke depan, knee

joint flexi.

o Central Ray : vertical tegak lurus

o Central Point : daerah bulbus duodeni

Stenik : 1-2 inch dari L2

Asthenic : 2-5 inchi di bawah L2

Hiperstenic : 2-5 inchi di atas L2

o FFD : 100 cm

o Eksposi : ekspirasi dan tahan nafas

o Kriteri radiograf :

Struktur ditampakkan : daerah lambung dan lengkung duodenum

membentuk huruf C

Tampak bagian bagian dari lambung bebas superposisi

Dapat menampakkan daerah yang mempunyai indikasi / kelainan

Tidak tampak kekaburan dan pergerakan.

20
Proyeksi AP

o Posisi Pasien : Supine

o Posisi Objek : MSP pada mid line meja, pastikan tubuh tidak ada rotasi

o CR : tegak lurus dengan kaset

o CP : pada L1 ( diantara xypoid dan batas bawah costae )

Stenik : L1

Asthenic : 2 inchi di bawah L1

Hiperstenic : 1 inchi di atas L1

o FFD : 100 cm

o Eksposi : ekspirasi dan tahan nafas

21
o Kriteria radiograf :

Struktur ditampakkan : lambung dan duodenum, diafragma dan paru-paru

bagian bawah

Tampak bagian bagian dari lambung bebas superposisi

Dapat menampakkan daerah yang mempunyai indikasi / kelainan

Tidak tampak kekaburan dan pergerakan.

o Catatan :

Variasi supine dengan mengatur kepala lebih rendah 25 30 derajat untuk

melihat hernia hiatal.

10 15 derajat dengan rotasi pasien ke depan ( sisi kanan dekat meja )

untuk melihat gastroesophageal junction juga untuk melihat regurgitasi.

Gambar normal dari Gaster dan duodenum setelah Maag duodenography

22
23