Anda di halaman 1dari 6

PERSALINAN PADA PENDERITA PENYAKIT JANTUNG

Sebagian besar penderita penyakit jantung dimungkinkan untuk menjalani persalinan spontan
per vaginam. Bedah sesar hanya di indikasikan bila ada komplikasi obstetri
Tujuan penatalaksanaan adalah mempermudah proses persalinan dan sedapat mungkin
bersifat son-stressful. Persalinan yang berkepanjangan secara fisik atau emosional
memingkatkan resiko infeksi.

POSISI PASIEN
Posisi harus dirasakan nyama bagi pasien. Dia harus berada pada posisi yang senyaman
mungkin meskipun untuk itu dia harus dibantu. Hindari posisi lithotomi oleh karena terjadi
kenaikan mendadak aliran darah balik vena ke jantung kanan bila kaki ditinggikan diatas level
atrium

ANALGESIK
Analgesik yang baik sangay dibutuhkan untuk mencegah terjadinya takikardia yang terkait
dengan nyeri persalinan.
Pilihan utama adalah epidural anaesthesia yang dapat menghidari terjadinya hipotensi
Bila tidak dapat diberikan anelsia epidural, dapat diberi morphin intra muskular.

ANTIBIOTIKA
Berikan antibiotika profilaksis untuk mencegah endokarditis bakterial pada pasien dengan
kelainan struktur jantung.
Disarankan untuk memberikan Ampicilline dan Gentamycin

KALA II
Persalinan spontan per vaginam hanya boleh bila kala II berlangsung normal dan cepat.
Episiortomi dilakukan hanya bila persalinan kepala terhalang dengan perineum yang kaku.
Pasien tidak boleh meneran terlampau hebat dan bila perlu dapat dilakukan persalinan
berbantu dengan ekstraksi cunam atau ektraksi vakum.

PERSALINAN KALA III


Tidak perlu dilakukan secara tergesa gesa. Beri waktu yang cukup agar terjadi penyesuaian
sirkulasi saat darah uterus masuk ke sirkulasi manakala uterus megadakan kontraksi. Resiko
terjadinya perdarahan pasca salin akibat atonia uteri harus memperhatikan resiko takikardia
dan hipotensi akibat penggunaan oksitosin.

EDEMA PARU AKUT


Pasien dengan cepat mengalamiu sesak nafas dan mulut berbusa atau hemoptisis. Pasien
harus segera dalam posisi tegak dan tunghkai dibiarkan bergantung [ada tepi tempat tidur.
Berikan oksigen dengan sungkup.
Beri Morphin 5 15 mg intramuskular dan furosemid (20 40 mg) intravena. Aliran darah balik
vena (venous return) dibatasi dengan memasang torniket di arteri femoralis.
Konsultasi pada kardiologis harus segera dilakukan pada kesempatan paling pertama.

MASA NIFAS
Disarankan untuk melakukan ambulasi dini. Perhatikan adanya tanda tanda infeksi. Bila
menderita demam, lakukan biakan darah.

PERIPARTUM KARDIOMIOPATI
Keadaan ini terjadi pada bulan bulan terakhir kehamilan atau 5 bulan pasca salin. Penyebab
tidak diketahui namun diperkirakan adalah bersifat autoimune atau akibat infeksi virus.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah penatalaksanaan gagal jantung dan diberikan
antikoagulan untuk mencegah pembentukan trombus di jantunh

a. Jantung
Jantung adalah organ berupa otot berbentuk kerucut, berongga, basisnya di atas dan puncaknya di bawah.
Apeks nya miring ke sebelah kiri. Beratnya sekitar 250 300 gram. Jantung berada di dalam torax, antara
kedua paru-paru dan di belakang sternum. Kedudukan yang tepat dapat di gambarkan pada kulit dada.
Sebuah garis yang ditarik dari kosta ke-3 kanan, 2 cm dari sternum, ke atas kosta ke-2 kiri, 1 cm dari sternum
menunjukan kedudukan basis jantung tempat pembuluh darah masuk dan keluar.

Tititk sebelah kiri antara interkosta ke-5 dan ke-6 atau di dalam ruang interkosta ke-5 kiri 4 cm dari garis medial
menunjukan kedudukan apeks jantung, yang merupakan ujung tajam dari ventrikel. Jantung tersusun atas otot
yang bersifat khusus terdiri atas tiga lapis : pericardium (pembungkus luar ), mio kardium (lapisan otot tengah)
dan endo kardium (batas dalam).

Jantung terbagi oleh sebuah septum menjadi dua belah kiri dan kanan. Sesudah lahir tidak ada hubungan
antara kedua belahan ini. Setiap belahan terbagi dalam dua ruang, yang atas disebut atrium yang bawah
disebut ventrikel. Antara atrium kanan dengan ventrikel kanan terdapat katup trikuspidalis. Antara atrium kiri
dan ventrikel kiri terdapat katup bikuspidalis (mitral). Kedua katup ini disebut katup Atrio-ventrikuler. Antara
ventrikel kiri dengan aorta terdapat katup semilunar aorta. Antara ventrikel kanan dengan arteri pulmonalis
terdapat katup semilunar pulmonalis.

b. Pembuluh darah
* Arteri.
Merupakan pembuluh darah yang keluar dari jantung yang membawa darah berisi zat-zat pengatur yang di
kirim ke sel-sel seluruh tubuh. Pembuluh darah arteri yang paling besar yang keluar dari pentrikel kiri disebut
aorta. Arteri mempunyai dinding yang kuat dan tebal tetapi elastis.

* Vena
Merupakan pembuluh darah yang mengembalikan darah dari jaringan ke jantung. Vena mempunyai dinding
lebih tipis, memiliki katup-katup yang berguna untuk mencegah agar darah tidak kembali.

* Kapiler
Merupakan pembuluh darah yang sangat halus, berfungsi sebagai alat penghubung antara arteri dan vena
serta tempat terjadinya pertukaran zat-zat.

Baca juga Definisi Epilepsi, Jenis Epilepsi Dan Anti Konvulsi


Fisiologi Sistem Kardiovaskuler
a. Sirkulasi Sistemik (peredaran darah besar). Adalah aliran darah melalui ventrikel kiri, arteri, kapiler, kembali
ke atrium kanan melalui vena. Darah meninggalkan ventrikel kiri melalui aorta. Aorta bercabang menjadi arteri
lebih kecil yang mengantarkan darah ke berbagai bagian tubuh dimana berlangsung pertukaran zat antara
plasma dan jaringan interstiil di dalam kapiler.

Kemudian kapiler-kapiler ini bergabung membentuk venula kemudian bersatu menjadi vena. Venakapa inferior
mengumpulkan dari badan dan anggota gerak bawah, dan venakapa superior yang mengumpulkan darah dari
kepala dan anggota gerak atas. Kedua pembuluh darah ini menuangkan isinya ke dalam atrium kanan.

b. Sirkulasi Pulmonal (peredaran darah kecil). Adalah aliran darah dari ventrikel kanan, masuk ke dalam paru-
paru dan kembali ke atrium kiri. Darah dari vena kappa superior dan inferior masuk ke atrium kanan kemudian
masuk ke pentrikel kanan yang berkontraksi dan memompakan darah ke arteri pulmonalis yang bercabang dua
untuk mengantarkan darah nya ke paru-paru kiri dan kanan.

Didalam jaringan paru-paru terjadi pertukaran untuk mengambil O2 dan melepas CO2. Kemudian melalui vena
pulmonalis darah dituangkan ke atrium kiri kemudian mengalir masuk ke dalam ventrikel kiri. Ventrikel kiri
berkontraksi dan darah dipompa masuk ke aorta dan mulai sirkulasi sistemik.

c. Mekanisme Kerja Jantung. Jantung berfungsi sebagai pompa, pompa sebelah kanan terdiri dari atrium
kanan dan ventrikel kanan yang memompa darah yang belum teroksigenasi yang berasal dari pembuluh darah
vena ke dalam sirkulasi pulmonal, serta pompa sebelah kiri terdiri dari atrium kiri dan ventrikel kiri yang
memompa darah yang sudah teroksigenasi ke sirkulasi sistemik.

Setiap siklus denyut jantung terdiri dari kontraksi (sistole) dan relaksasi (diastole) kedua atrium dan ventrikel
secara berurutan dan teratur. Dengan adanya sistol dan diastole disertai membuka dan menutupnya katup
menjadikan jantung bekerja sebagai suatu pompa. Penutupan katup-katup jantung menghasilkan bunyi. Bunyi
jantung pertam (S1) timbul akibat penutupan katup trikuspidalis dan mitral.

Bunyinya lebih keras diodeskripsikan sebagai bunyi Lub. Bunyi jantung ke-2 timbul akibat penutupan katu
semilunar yang dideskripsikan sebagai Dub. Jarak kedua bunyi adalah 1 detik atau kurang.
C. Perubahan Sistem Kardiovaskuler Dalam Persalinan
Pada saat persalinan kala1 curah jantung meningkat 20 % dan lebih besar pada kala II, 50% paling umum
terjadi saat kontraksi disebabkan adanya usaha ekspulsip (Ban-zion,1994). Perubahan kerja jantung dalam
persalinan disebabkan karena his persalinan usaha ekspulsip, pelepasan plasenta yang menyebabkan
terhentinya peredaran darah dari plasenta dan kembali kepada peredaran darah umum (1998).

Perubahan selama kontraksi yang ditandai dengan increnetr, decremen merefleksikan peningkatan
metabolisme yang terjadi selama persalinan (Varney, 1997). Peningkatan metabolismenya ini dikarenakan
kecemasan dan aktifitas otot skelet. Peningkatan aktifitas direpleksikan dengan peningkatan suhu tubuh,
denyut jantubf, respirasi cardiac output dan kehilangan cairan. Kompensasinya adalah tekanan darah
meningkat 10-20 mmhg dan peningkatan nadi. Setelah kontraksi sistol kembali ke level semula.
5. Komplikasi
* Dekompensatio kordis yang mengakibatkan kematian
* Abortus, persalinan preterm dan BBLR karena ibu menderita hipoksia dan sianosis
* Kematian perinatal
* Tumbuh kembang janin menjadi terlambat secara intelegensi dan fisik(Manuaba,1998)
* Hipoksia dan gawat janin dalam persalinan
* Endocarditis bacterial (Hanifa,1994)
* Gagal jantung kongestif
* Oedema adan emboli paru
* Ruptur aorta (Ben-Zion,1994)
* 25 % kematian terjadi dalam 48 jam pertama setelah persalinan
* 75 % kematian akibat Kegagalan jantung, oedema paru, endokarditis, demam akut rematik (Seller,1993)

6. Tanda dan gejala


* Riwayat penyakit
* Demam rematik
* Operasi jantung/ gagal jantung
* Aktifitas yang tidak dapat ditoleransi
* Sesak napas
* Nyeri dada
* Pemeriksaan fisik
* Desiran kontinu pada jantung
* Disritmia
* Pembesaran jantung
* Ketegangan otot jantung yang berlangsung lama
* Clubing pada jari tangan dan jari kaki
* Sianosis
* Pemeriksaan Penunjang
* EKG
* Thorak Photo
* Echocardiografi Varney,1997)
* Batuk napas pendek dan cepat
* Ronchi paru
* Bengkak pada tungkai
* Apembesaran hepar
* Penonjolan vena jugolaris
* Ibu hamil dengan anemia didapatkan pucat pada conjungtiva, telapak tangan, dan kuku serta lethargi dan
kelelahan
* Pada stadium lanjut didapatkan gejala gagal jantung :
* Murmur sistolik besar dan keras
* Murmur diastolic, presistolik atau kontinui
* Pembesaran jantung
* Aritmia
* Sianosis (MNH,2002)
* Cepat lelah
* Jantung berdebar
* Sesak napas dan sianosis
* Oedem tungkai
* Bertambah besar rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (Manuaba,1994)
7. Penegakan Diagnosa
Empat kriteria diagnosis penyakit jantung :
* Bising diastolic, presistolik, atau bising jantung terus menerus
* Pembesaran jantung (Dua tanda diatas merupakan tanda khas jantung rematik)
* Bising jantung yang nyaring terutama disertai Thrill (deburan)
* Aritmia yang berat (Burwer & Met Calfe)
Pada persalinan
a. Kala 1
* Penanganan dilakukan oleh Gynekokog, kolaborasi dengan Kardiolog
* Di ruang bersalin disiapkan O2, alat resusitasi, monitor EKG, Morfhin dan diuretikum
* Penderita jantung kelas 1 & 2 dilakukan persalinan pervaginam kerjasama dengan kardiolog dengan
pengawasan ketat. Dengan partus pervaginan angka mortalitas dan morbiditas lebih kecil (Hanifa,1994)
* Membuat daptar his, nadi, resfirasi, tekanan darah, dicatat setiap 15 menit pada kala 1 dan setiap 10 menit
pada kala 2 & 3 (R.Muchtar,1998). Tanda bahaya bila nadi > 115 dan resfirasi > 28 (M.Tobing,1005)
* Bila ada tanda Dekompensatio Cordis obati dengan digitalis
* Diberikan antibiotik untuk menjauhi infeksi (M.Tobing,2005)
* Pengurang rasa nyeri yang adekuat dapat mengurangi peningkatan curah jantung dan tachikardi.

b. Kala 2
* Pimpin persalinan maksimal 15 menit. Bila dalam 15 menit belum lahir dilakukan ekstraksi forsef atau vaccum
dengan anestesi local, posisi kepala dan dada ditinggikan (M.Tobing,2005)
* Bila terjadi Dekompensatio Cordis, ibu dilarang mengedan dan persalinan dilakukan dengan segera, bila
perlu lakukan efisiotomi dan ekstraksi vaccum
* Persalinan dengan Sectio Caesaria dilakukan bila ada indikasi obstetric (Hanifa,1994)
* Sectio Caesaria dilakukan dengan anestesi lokal dan sedasi jangan lahukan anestesi spinal (MNH,2002).

c. Kala 3
* Hindari pemakaian ergometrin kareana akan menghasilkan kontraksi uterus yang bersifat tonik dan akibatnya
terjadi pengembalian darah ke sirkulasi besar sekitar 1 liter (Hanifa,1994)
* Hindari perdarahan post partum karena dengan perdarahan akan memacu kerja jantung
* Hindari therapy intravena karena ekspansi intravaskuler dapat meningkatkan kerja jantung, dapat diberikan
oksitosin dengan intra muscular (Ben-Zion,1994).

d. Kala 4 & Masa Nifas


* Bila memerlukan tranfusi gunakan Pack Red Cell (Ben-Zion,1994)
* Pasang gurita dan kantung pasir di dinding perut dapat dilakukan untuk mencegah perubahaqn mendadak
pada sirkulasi abdomilalis
* Lakukan pengawasan ketat pada TTV, perdarahan, anemia, infeksi, tromboemboli
* Beri antibiotika untuk mencegah endikarditis
* Lakukan pengawasan intensif ( high care ) dalam 24 jam post partum pada kondisi pasien dan tanda dini
decompensatio cordis
* Pasien didukung untuk banyak tidur dan beristirahat
* Pasien dianjurkan untuk berlatih napas dalam guna mencegah kesulitan pada paru-paru
* Laktasi pada penderita jantung kelas 1 & 2 diperbolehkan
* Penderita jantung kelas 3 & 4 tidak diperbolehkan laktasi
* Ibu bersalin dirawat sampai 2 minggu setealah persalinan.

9. Prognosa
- Ibu
* Tergantung dari berat penyakit yang di derita, umur, dan penyulit, therapy, pimpinan persalinan, kerjasama
dengan pasien
* AKI 1-5 %
* AKI penderita berat 15 %
- Bayi
* Penyakit jantung ringan tidak terlalu mempengaruhi
* Penyakit jantung berat biasa menimbulkan gawat janin (Muchtar,1998)
Asuhan Kehamilan Dan Persalinan Dengan Penyakit Jantung
1. Penyakit jantung
Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah dan
berlangsungnya kehamilan, yang harus di penuhi dalam darah ibu. Banyaknya darah yang beredar
bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih berat. Karena itu, dalam kehamilan selalu terjadi
perubahan-perubahan dalam system kardiovaskular yang biasanya masih dalam batas-batas
fisiologik

Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan:

1. karena hidremia (hipervolemia)dalam kehamilan, yang sudah dimulai sejak umur kehamilan
10 minggu dan mencapai puncaknya antara 32 dan 36 minggu;
2. karena uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas, ke kiri,
dan ke depan, sehingga pembuluh-pembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan
dan putaran.

Adams mendapatkan peningakatan volume plasma darah yang dimulai kira-kira akhir trimester
pertama dan mencapai puncaknya pada minggu ke 32-34, yang selanjutnya menetap selama
trimester terakhir kehamilan, di mana volume darah bertambah sebesar 22%. Besar dan saat
terjadinya peningkatan volume plasma berbeda dengan peningkatan volume sel darah merah; hal ini
mengakibatkan terjadinya anemia delusional (pencairan darah)

Setelah 12-24 jam pascapersalinan terjadi peningkatan volume plasma karena proses
imbibisi cairan dari ekstravaskuler ke dalam pembuluh darah yang kemudian akan diikuti oleh
periode diuresis pascapersalinan yang mengakibatkan terjadinya penurunan volume plasma
(adanya hemokonsentrasi). Dua minggu pascapersalinan merupakan periode penyesuaian untuk
kembali ke nilai volume plasma seperti sebelum hamil.