Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk yang dinamis, ketidak terbatasan kebutuhan manusia dan
keterbatasan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhanya telah menghadapkan manusia untuk
hidup berorganisasi. hal ini didukung pula dengan karakteristik manusia sebagai makhluk sosial
yang tidak memungkinkan hidup wajar tanpa berorganisasi. Organisasi telah dibentuk sejak
manusia pertama hidup di muka bumi, sekelompok manusia yang mempunyai orientasi dan
tujuan yang relatif sama berhimpun dan berusaha untuk mencapai tujuan tersebut.
Dengan mempelajari peran serta organisasi seseorang atau organisasi itu bisa
mendapatkan pengetahuan-pengetahuan mengenai organisasi. Organisasi merupakan sebuah
perkumpulan yang beranggotakan orang-orang yang mempunyai kesamaan tujuan. Setiap orang
memiliki dasar untuk memimpin yang juga merupakan bagian dari organisasi, paling tidak
setiap masing masing orang mampu memimpin dirinya sendiri dalam menjalankan kehidupan
sehari-hari.
Dewasa ini juga organisasi semakin berkembang, karena organisasi sangat diperlukan
pada organisasi, dan juga tata kerja dalam pembagian tugas baik secara individual ,maupun
social (bersama-sama). Maka dari itu penting bagi kita,mempunyai pengetahuan tentang
organisasi, manajemen, maupun tata kerja. Agardapat mengembangkan potensi diri sebaik
mungkin, terutama dalam keorganisasian.
Perusahaan sebagai suatu organisasi akan menghadapi berbagai masalah terkait dengan
individu-individu yang ada di dalamnya, yaitu pegawai atau pekerja. Hubungan antara
perusahaan dengan pekerja menurut De George dibuat berdasarkan kontrak implicit yang disebut
employment at will. Pemberi kerja bebas menerima siapa pun yang mereka pilih untuk bekerja
dan memberhentikan mereka setiap saat, dengan atau tanpa alasan. Pekerja juga bebas memilih
untuk bekerja pada siapa pun dan berhak berhenti bekerja kapanpun mereka inginkan. Karena
berlaku timbale balik, tampak antara perusahaan dengan pekerja terdapat hubungan yang sejajar.
Namun, kenyataannya hubungan antara pekerja dan perusahaan tidak sejajar. Terlebih lagi dalam
kondisi oversuplly tenaga kerja seperti Indonesia, pekerja tidak mempunyai kebebasan untuk
menentukan kondisi pekerjaannya, sementara itu pemberi kerja sapat bebas menentukan kondisi
kerja yang diinginkan.

1
Berkaitan dengan etika individu dan organisasi yang akan dibahas adalah kondisi
hubungan antara individu (pekerja atau pegawai) dengan organisasi (perusahaan) yang meliputi
hak pegawai, kewajiban pegawai terhadap perusahaan dan kewajiban perusahaan terhadap
pegawai serta konflik-konflik yang timbul dari hubungan tersebut. Tentu saja uraian dibatasi
pada beberapa hal yang dianggap penting, karena tidak mungkin dapat diungkapkan semua hak,
kewajiban dan konflik kepentingan yang terjadi dalam hubungan antara individu dan organisasi.
Semoga usaha penilis yang sangat sederhana ini mendapat ridlo dari allah, sehingga
kehadiarannya makalah di di temgah-tengah masyarakat Islam mendapat sambutan hangat serta
di amalkan isinya dan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

RUMUSAN MASALAH
Masalah yang akan dibahas dalam topik kali ini adalah:
1. Apa saja kewajiban seorang pegawai?
2. Apa saja kewajiban perusahaan terhadap pegawai?
3. Apa peranan Organisasi politik?
4. Bagaimana implementasi perlindungan terhadap pekerja di Indonesia?

2
PEMBAHASAN

Organisasi Rasional
Model organisasi bisnis yang rasional yang lebih tradisional mendefenisikan organisasi
sebagai suatu struktur hubungan formal (yang didefenisikan secara eksplisit dan digunakan
secara terbuka) yang bertujuan mencapai tujuan teknis atau ekonomi dengan efisiensi maksimal.
E. H. Schein memberikan satu defenisi ringkas tentang organisasi dari prespektif tersebut yaitu
organisasi adalah koordinasi rasional atas aktivitas-aktivitas sejumlah individu untuk mencapai
tujuan atau sasaran eksplisit bersama, melalui pembagian tenaga kerja dan fungsi dan melalui
hirarki otoritas dan tanggung jawab.
Berbagai tingkatan dalam organisasi dan yang mengatur semua individu ke dalam tujuan
organisasi dan hirarki formal adalah kontrak. Hal ini mengasumsikan bahwa pegawai sebagai
agen yang secara bebas dan sadar telah setuju untuk menerima otoritas formal organisasi dan
berusaha mearaih tujuan organisasi, dan sebagai gantinya mereka memperoleh dukungan dalam
bentuk gaji dan kondisi kerja yang baik. Dari perjanjian kontraktual tersebut, pegawai menerima
tanggungjawab moral untuk mematuhi atasan dalam usaha mencapai organisasi, dan selanjutnya
organisasi juga memiliki tanggungjawab moral untuk memberikan dukungan ekonomi pada para
pegawai seperti yang telah dijanjikan. Teori utilitarian memberikan dukungan tambahan pada
pandangan bahwa pegawai memiliki kewajiban untuk berusaha mencapai tujuan perusahaan
secara loyal.
Tanggungjawab etis dasar yang muncul dari aspek-aspek rasional organisasi difokuskan pada
dua kewajiban moral yakni a) kewajiban atasan untuk mematuhi atasan dalam organisasi dalam
mencapai tujuan-tujuan organisasi, dan b) kewajiban atasan untuk memberikan gaji yang adil
dan kondisi kerja yang baik.

a. Kewajiban pegawai terhadap perusahaan


Dalam pandangan rasional perusahaan, kewajiban moral utama pegawai adalah untuk
bekerja mencapai tujuan perusahaan dan menghindari kegiatan-kegiatan yang mungkin
mengancam tujuan tersebut. Kewajiban karyawan dan perusahaan dibagi menjadi tiga yaitu:

3
1. Kewajiban Ketaatan
Dalam kewajiban ketaatan karyawan harus taat kepada atasannya di perusahaan, tetapi karyawan
tidak harus mematuhi semua perintah yang diberikan oleh atasannya. Perintah-perintah tersebut
antara lain seperti etika atasan menyuruh karyawan tersebut untuk melakukan hal yang tidak
bermoral, seperti membunuh musuh atasannya, atau dapat pula berupa korupsi. Dapat pula dalam
bentuk mengerjakan tugas pribadi atasannya, misalnya untuk kepentingan pribadi atasan bukan
untuk kepentingan perusahaan, seperti mencuci mobil dan merenovasi rumah pribadi milik
atasannya. Karyawan juga tidak perlu mematuhi perintah yang memang demi kepentingan
perusahaan, tetapi tidak sesuai dengan penugasan yang disepakati, misalnya sekretaris diberi
tugas untuk bersih-bersih, dan lain sebagainya. Cara untuk menghindari terjadinya kesulitan
seputar kewajiban ketaaatan adalah membuat deskripsi pekerjaan yang jelas dan cukup lengkap
pada saat karyawan mulai bekerja di perusahaan. Namun deskripsi pekerjaan ini harus dibuat
cukup luwes sehingga kepentingan perusahaan selalu bisa di beri prioritas.
1. Kewajiban Konfidensialitas
Kewajiban ini adalah kewajiban untuk menyimpan informasi yang bersifat konfidensial atau
rahasia yang telah diperoleh dengan menjalankan suatu profesi. Kewajiban ini tidak hanya
berlaku selama karyawan bekerja di perusahaan tetapi berlangsung terus setelah ia pindah kerja.
Kewajiban ini menjadi lebih aktual ketika karyawan tersebut pindah kerja di perusahaan baru
yang bergerak di bidang yang sama. Contohnya adalah seorang akuntan, ia tidak boleh
membocorkan kondisi finansial perusahaan lama ke perusahaan baru. Kewajiban konfidensialitas
ini terbatas pada informasi perusahaan. Hal-hal lain yang diperoleh atau diketahui sambil bekerja
di perusahaan pada prinsipnya tidak termasuk kewajiban konfidensialitas. Misalnya keterampilan
yang dikembangkan oleh karyawan itu dengan bekerja pada perusahaan yang sama. Alasan etika
yang mendasari kewajiban ini adalah bahwa perusahaan menjadi pemilik informasi rahasia itu.
2. Kewajiban Loyalitas
Kewajiban loyalitas adalah konsekuensi dari status seseorang sebagai karyawan perusahaan ia
harus mendukung tujuan-tujuan perusahaan dan turut merealisasikan tujuan tersebut. Faktor
utama yang dapat membahayakan terwujudnya loyalitas adalah konfilk kepentingan (conflict of
interest) artinya konflik kepentingan pribadi karyawan dan kepentingan perusahaan. Karyawan
tidak boleh menjalankan kepentingan pribadi yang bersaing dengan kepentingan perusahaan.
Misalnya karyawan memproduksi produk yang sama dengan produk perusahaan dan menjualnya

4
dengan harga murah. Konflik kepentingan tidak selalu berkaitan dengan masalah uang.
Contohnya, seorang yang bekerja di suatu perusahan memutuskan untuk membeli peralatan
kantor dari perusahaan tempat dimana anaknya bekerja, walaupun sebenarnya ada penawaran
harga yang lebih baik dari perusahaan lain.
3. Kewajiban Melaporkan kesalahan
Ada dua macam pelaporan kesalahan perusahaan atau whistle blowing, secara internal dan
eksternal. Dalam pelaporan internal, pelaporan kesalahan dilakukan di dalam perusahaan sendiri
dengan melewati atasan langsung. Misalnya seorang karyawan bawahan melaporkan suatu
kesalahan langsung kepada direksi, dengan melewati kepala bagian dan manajer umum. Pada
pelaporan eksternal, karyawan melaporkan kesalahan perusahaan kepada instansi pemerintah
atau kepada masyarakat melalui media komunikasi. Misalnya karyawan melaporkan bahwa
perusahaannya tidak memenuhi kontribusinya kepada Jamsostek atau tidak membayar pajak
melalui media massa atau pihak eksternal lainnya.
Terdapat sebuah pertanyaan etika dalam melakukan pelaporan kesalahan perusahan ini, apakah
whistle blowing ini boleh dilakukan karena pada prinsipnya bertentangan dengan kewajiban
loyalitas karyawan terhadap perusahaannya? Namun setelah didiskusikan lebih mendalam,
jawabnya adalah boleh karena karyawan tidak hanya mempunyai kewajiban loyalitas kepada
perusahaan tetapi ia juga mempunyai kewajiban kepada masyarakat umum apabila perusahaan
tersebut melakukan kesalahan.
Pelaporan bisa dibenarkan secara moral, bila lima syarat berikut terpenuhi:
1. Kesalahan perusahaan harus besar.
Kesalahan ini hanya dapat dilaporkan jika menyebabkan kerugian bagi pihak ketiga, terjadi
pelanggaran hak-hak asasi manusia, dan kegiatan yang dilakukan perusahaan bertentangan
dengan tujuan perusahaan.
2. Pelaporan harus didukung oleh fakta yang jelas dan benar.
3. Pelaporan harus dilakukan semata-mata untuk mencegah terjadinya kerugian bagi pihak
ketiga, bukan karena motif lain.
Misalnya karyawan memutuskan berhenti dari suatu pekerjaan karena kecewa dengan atasannya.
Setelah ia pergi dari perusahaan itu, ia membuka praktek kurang etis dari perusahaan seperti
tidak membayar pajak. Motif pelaporan ini adalah untuk balas dendam.

5
4. Penyelesaian masalah secara internal harus dilakukan dulu, sebelum kesalahan perusahaan
dibawa ke luar.
Jika karyawan merasa bertanggungjawab, ia harus berusaha dulu untuk menyelesaikan masalah
di dalam perusahaan sendiri melalui jalur yang tepat. Hal ini juga sesuai dengan kewajiban
loyalitasnya. Baru setelah upaya penyelesaian secara internal gagal, ia boleh memikirkan whistle
blowing.
5. Harus ada kemungkinan nyata bahwa pelaporan kesalahan akan mencatat sukses.
Jika sebelumnya orang tahu bahwa pelaporan kesalahan tidak akan menghasilkan apa-apa,
misalnya tidak bisa mencegah terjadinya kerugian untuk pihak ketiga, lebih baik orang tersebut
tidak melapor.

Whistle blowing adalah masalah etis yang tidak enak untuk semua pihak yang
bersangkutan. Untuk perusahaan ataupun pelaku bisnis, whistle blowing akan membawakan
banyak kerugian secara materil maupun moril. Mulai dari turunnya pamor perusahaan terhadap
produknya, hingga menurunnya keuntungan yang didapatkan akibat pelaporan ini. Untuk
pelapor, whistle blowing adalah langkah yang diambil dengan berat hati karena resiko yang akan
didapatkannya cukup besar. Di beberapa negara ada kode etik profesi, misalnya kode etik
insinyur yang secara tidak langsung menganjurkan whistle blowing. Dalam kode etik ini memuat
ketentuan bahwa keamanan dan keselamatan masyarakat harus di tempatkan di atas segalanya.
Ada juga negara yang melindungi para whistle-blowers melalui jalur hukum, seperti Inggris
dengan undang-undang yang disebut The Public Interest Disclosure Act (1998).
Ada sejumlah situasi dimana pegawai gagal melaksanakan kewajiban untuk mencapai tujuan
perusahaan, yaitu sebagai berikut:
1. Konflik Kepentingan
Konflik kepentingan dalam bisnis muncul saat seorang pegawai atau pejabat duatu perusahaan
melaksanakan tugasnya, namun dia memiliki kepentingan-kepentingan pribadi terhadap hasil
dari pelaksanaan tugas tersebut yang (a) mungkin bertentangan dengan kepentingan perusahaan,
dan (b) cukup substansial sehingga kemungkinan mempengaruhi penilaiannya sehingga tidak
seperti yang diharapkan perusahaan. Konflik kepentingan bisa bersifat aktual dan potensial.
Konflik kepentingan aktual terjadi saat seseorang melaksanakan kewajibannya dalam satu cara
yang mengganggu perusahaan dan melakukannya demi kepentingan pribadi. Konflik

6
kepentingan potensial terjadi saat seseorang, karena didorong kepentingan pribadi, bertindak
dalam suatu cara yang merugikan perusahaan.
2. Pencurian Pegawai dan Komputer
Pegawai perusahaan memiliki perjanjian kontraktual untuk hanya menerima keuntungan tertentu
sebagai ganti hasil kerjanya dan menggunakan sumber daya perusahaan hanya dalam usaha
untuk mencapai tujuan perusahaan. Tindakan pegawai yang mencari tambahan keuntungan
pribadi atau menggunakan sumber daya perusahaan untuk dirinya sendiri merupakan tindakan
pencurian karena keduanya berarti mengambil atau menggunakan properti milik orang lain
(perusahaan) tanpa persetujuan pemilik yang sah.
Tindakan memeriksa, menggunakan atau menyalin informasi atau program komputer merupakan
pencurian. Disebut pencurian karena informasi yang dikumpulkan dalam bank data komputer
oleh suatu perusahaan dan program komputer yang dikembangkan atau dibeli perusahaan
merupakan properti dari perusahaan yang bersangkutan.
3. Insider Trading
Insider trading sebagai tindakan membeli dan menjual saham perusahaan berdasarkan informasi
orang dalam perusahaan. Informasi dari dalam atau dari orang dalam tentang suatu
perusahaan merupakan informasi rahasia yang tidak dimiliki publik di luar perusahaan, namun
memiliki pengaruh material pada harga saham perusahaan. Insider trading adalah ilegal dan tidak
etis karena orang yang melakukannya berarti mencuri informasi dan memperoleh keuntungan
yang tidak adil dari anggota masyarakat lain. Namun demikian, sejumlah pihak menyatakan
bahwa insider trading secara sosial menguntungkan dan menurut prinsip utilitarian, tindakan ini
seharusnya tidak dilarang, malah dianjurkan.

b. Kewajiban perusahaan terhadap pegawai


Kewajiban moral dasar perusahaan terhadap pegawai, menurut pandangan rasional, adalah
memberikan kompensasi yang secara sukarela dan sadar telah mereka setujui sebagai imbalan
atas jasa mereka. Ada dua masalah yang berkaitan dengan kewajiban ini: kelayakan gaji dan
kondisi kerja pegawai. Gaji dan kondisi kerja merupakan aspek-aspek kompensasi yang diterima
pegawai dari jasa yang mereka berikan, dan keduanya berkaitan dengan masalah apakah pegawai
menyetujui kontrak kerja secara sukarela dan sadar. Jika seorang pegawai "dipaksa" menerima

7
pekerjaan tanpa upah yang memadai atau kondisi kerja yang layak, maka kontrak kerja tersebut
dianggap tidak adil.
1) Gaji
Setiap perusahaan menghadapi dilema ketika menetapkan gaji pegawai seperti, bagaimana
menyeimbangkan kepentingan perusahaan untuk menekan biaya dengan kepentingan pegawai
untuk memperoleh kehidupan yang layak bagi diri mereka sendiri dan keluarga? Tidak ada
rumus sederhana untuk menentukan "gaji yang layak". Kelayakan gaji sebagian bergantung pada
dukungan yang diberikan masyarakat (jaminan sosial, perawatan kesehatan, kompensasi
pengangguran, pendidikan umum, kesejahteraan, dan sebagainya), kebebasan pasar kerja,
kontribusi pegawai, dan posisi kompetitif perusahaan. Meskipun tidak ada cara untuk
menentukan gaji yang layak dengan pasti, namun kita setidaknya bisa mengidentifikasi sejumlah
faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan gaji dan upah, yaitu: a) Gaji dalam industri
dan wilayah tempat seseorang bekerja, b) Kemampuan perusahaan, c) Sifat pekerjaan, d)
Peraturan upah minimum, e) Hubungan dengan gaji lain, dan f) Kelayakan negosiasi gaji.
2) Kondisi Kerja: Kesehatan dan Keamanan
Keselamatan kerja bisa terwujud bilamana tempat kerja itu aman, bebas dari resiko terjadinya
kecelakaan yang mengakibatkan si pekerja cedera atau bahkan mati. Hampir semua negara
modern mempunyai peraturan hukum guna melindungi keselamatan dan kesehatan kaum
pekerja. Dalam hal ini peraturan hokum disemua negara belum tentu sama dan belum tentu
memuaskan. Terlepas dari aturan hukum para ajikan tidak bebas dari kewajiban tetapi terikat
dengan alasan
alasan etika. Keselamatan dan kesehatan pekerja tidak pernah boleh dikorbankan kepada
kepentingan ekonomis. Resiko memang tidak selalu bisa dihindari, tetapi harus dibatasi sampai
seminimal mungkin, walaupun upaya itu bisa mengakibatkan biaya produksi bertambah. Selain
itu si pekerja harus menerima resiko itu dengan bebas, setelah lebih dahulu ia diberikan ekstra
untuk mengimbangi resiko, baik dalam gaji langsung maupun asuransi khusus.
3) Kondisi Kerja: Kepuasan Kerja
Spesialisasi pekerjaan yang berlebihan memang tidak baik karena alasan lain, yaitu bahwa cara
ini memberikan beban yang tidak adil pada pekerja. Juga ada banyak bukti bahwa cara ini tidak
mendukung efisiensi. Pekerjaan yang dispesialisasikan dalam dua dimensi yaitu secara
horizontal dengan membatasi jangkauan tugas dan membatasi repetisi atau pengulangan dalam

8
cakupan tugasnya. Jangkauan tugas yang terlampau jauh melewati batas kemampuan pegawai
dapat menyebabkan pegawai frustasi. Demikian juga kerja rutin yang berulang dalam jangka
waktu panjang dapat lebih cepat menciptakan kejenuhan. Selain secara horizontal, pekerjaan
juga bisa dispesialisasikan secara vertikal dengan mebatasi rentang pengwasan dan pengambilan
keputusan atas kegiatan-kegiatan dala suatu pekerjaan.
4) Tidak melakukan diskriminasi
Perusahaan dalam operasinya tidak akan terhindar dari tindakan membeda-bedakan pegawai.
Contohnya saja diskiminasi yang terjadi dimana mana seperti AS, Indonesia dan lain lain.
Diskriminasi baru akan terhapus betul bila suatu negara semua warganya mempunyai hak yang
sama dan diperlakukan dengan cara yang sama pula. Diskriminasi timbul biasanya disertai
dengan alasan yang tidak relevan.

c. Organisasi Politik
Dalam model organisasi politik, individu dilihat berkumpul membentuk koalisi yang
selanjutnya saling bersaing satu sama lain memperebutkan sumber daya, keuntungan, dan
pengaruh. Dengan demikian, "tujuan" organisasi menjadi tujuan yang dibentuk oleh koalisi yang
paling kuat dan paling dominan. Tujuan tidak ditetapkan oleh otoritas yang "sah", namun
ditetapkan melalui tawar menawar antara berbagai koalisi. Realita dasar organisasi, menurut
model ini, bukanlah otoritas formal atau hubungan kontraktual, namun kekuasaan: kemampuan
individu (atau kelompok individu) untuk mengubah perilaku pihak lain menuju cara yang
diinginkan tanpa harus mengubah perilaku mereka sendiri menuju cara yang tidak diinginkan.
Jika kita memfokuskan pada kekuasaan sebagai dasar realita organisasional, maka permasalahan
etis utama yang akan kita temui saat kita mengamati suatu organisasi adalah masalah yang
berkaitan dengan akuisisi dan pelaksanaan kekuasaan. Masalah etis utama difokuskan bukan
pada kewajiban kontraktual perusahaan dan pegawai, namun pada hambatan-hambatan moral
terhadap penggunaan kekuasaan di dalam organisasi. Etika perilaku organisasional yang dilihat
dari perspektif model politik difokuskan pada pertanyaan: Apa batasan moral, jika ada, pada
pelaksanaan kekuasaan dalam organisasi? Dalam bagian-bagian berikut ini, kita akan membahas
dua aspek dari pertanyaan ini, yaitu: (a) Apa, jika ada, batasan moral pada kekuasaan manajer
yang dapat diterapkan pada pegawai? (b) Apa, jika ada, batasan moral pada kekuasaan pegawai
yang dapat diterapkan pada pegawai lain?

9
d. Organisasi yang penuh perhatian
Aspek kehidupan organisasional tidak cukup baik digambarkan dalam model
kontraktual yang merupakan dasar dari organisasi "rasional", ataupun dengan model kekuasaan
yang mendasari organisasi "politik". Mungkin aspek tersebut paling tepat digambarkan sebagai
organisasi penuh perhatian (caring), di mana konsep-konsep moral utamanya sama
dengan konsep yang mendasari etika memberi perhatian. Jeanne M. Lied tka menggambarkan
organisasi semacam itu sebagai organisasi, atau bagian organisasi, di mana tindakan memberi
perhatian merupakan: a) Difokuskan sepenuhnya pada individu (pribadi), bukan "kualitas",
"keuntungan", atau gagasan-gagasan lain yang saat ini banyak dibicarakan; b) Dilihat sebagai
tujuan dalam dan dari dirinya sendiri, serta bukan hanya sarana untuk mencapai kualitas,
keuntungan, dan sebagainya; c) Bersifat pribadi, dalam artian bahwa hal tersebur melibatkan
individu-individu tertentu yang memberikan perhatian, pada tingkat subjektif, pada individu
tertentu lainnya; dan d) Pendorong pertumbuhan bagi yang diberi perhatian, dalam artian bahwa
tindakan ini menggerakkan mereka menuju pemanfaatan dan pengembangan kemampuan
seutuhnya, dalam konteks kebutuhan dan aspirasi mereka sendiri.
Dalam organisasi caring, kepercayaan tumbuh subur karena orang merasa wajib saling
memercayai jika mereka melihat diri mereka sebagai pihak-pihak yang saling membutuhkan dan
saling terkait. Karena kepercayaan tumbuh subur dalam organisasisemacam itu, maka organisasi
tidak perlu melakukan banyak investasi untuk mengawasi para pegawainya dan memastikan
bahwa mereka tidak melanggar perjanjian kontraktual.
Dalam model kontraktual, masalah etis penting muncul dari kemungkinan terjadinya
pelanggaran terhadap hubungan kontraktual. Dalam model politik, masalah etis penting muncul
dari kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan. Lalu apa masalah etis penting dari perspektif
organisasi carin? Jawabannya adalah memberikan perhatian terlalu banyak atau kurang banyak.

10
PENUTUP

Kesimpulan
Semua manusia tidak akan bisa lepas dari masalah etika, bila disadari secara jujur.
Apalagi sebuah perusahaan yang tidah berdiri sendiri, yang mempekerjakan banyak tenaga kerja,
bila tidak hati hati dalam mengelola dapat merugikan semua pihak, tidak hanya perusahaan tapi
juga pekerjaan masyarakat. Pada jaman sekarang masalah etika bisnis sangatlah penting untuk
diperhatikan karena menyangkut perilaku jujur dan bermoral karena ada kaitanya dengan
manusia. Dalam setiap langkah bisnis, apabila pekerja dan pengusaha selalu memperhatikan hak
dan kewajiban masing masing yang tidak menyimpang dari kepentingan bersama dalam arti
tidak melanggar etika maka semua akan dapat survive terus. Adapun kewajiban pekerjaan
terhadap perusahaan merupakan hak sedangkan kewajiban perusahaan terhadap karyawan antara
lain tidak diskriminasi, upah adil, menjamin kesehatan dan keselematan, tidak memberhentikan
karyawan dengan semena mena dan lain lain. Kewajiban ini bagi karyawan merupakan hak
karyawan dan hak tersebut bila tidak dipenuhi termasuk perbuatan yang kurang etis. Sekali lagi
bahwa dalam bisnis modern yang penuh persaingan ketat, para pengusaha menyadari bahwa
pengakuan, penghargaa dan jaminan atas hak hak pekerja dalam jangka panjang akan sangat
menentukan sehat tidaknya kinerja suatu perusahaan. Hal ini disebabkan karena jaminan atas hak
hak pekerja pada akhirnya berpengaruh langsung secara positif atas sikap, komitmen, loyalitas,
produktivitas dan kinerja setiap pekerja.

11
DAFTAR PUSTAKA

Velasquez, Manuel G. ETIKA BISNIS Konsep dan Kasus, Edisi 5, Penertbit Andi, Yogyakarta
Dewi, Sutrisna. 2011.ETIKA BISNIS Konsep Dasar Implementasi dan Kasus.Denpasar:
Udayana University Press

12
LAMPIRAN
Pelanggaran Etika Individu dan Etika Organisasi dalam Kasus Citibank
Pada era globalisasi ini, kualitas dipandang sebagai salah satu alat untuk
mencapai keunggulan kompetitif, karena kualitas merupakan salah satu faktor utama yang
menentukan pemilihan produk dan jasa bagi konsumen. Kepuasan konsumen akan tercapai
apabila kualitas produk dan jasa yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya. Kualitas jasa yang
baik merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan kepuasan pelanggan, namun
untuk memahami bagaimana mengevaluasi kualitas yang diterima oleh konsumen
tidaklah mudah. Sebagian besar kualitas jasa diberikan selama penyerahan jasa terjadi dalam
proses interaksi diantara konsumen dan terdapat kontak personil dengan penyelenggara jasa
tersebut. Untuk menciptakan good performance, bank tidak dapat menghindari fungsinya
dari pelayanan nasabah. Pelayanan yang diberikan kepada nasabahnya akan mencerminkan baik
tidaknya bank tersebut. Salah satu faktor yang mendongkrak pangsa pasar adalah peningkatan
kualitas pelayanan. Kualitas dari suatu pelayanan memang merupakan kewajiban bagi
perbankan. Pelayanan merupakan kunci sukses dari sebuah perbankan. Oleh karena
itu pelayanan harus menjadi faktor perhatian manajemen perbankan dalam menjalankan
suatu usaha. Demikian pula yang dilakukan oleh Citibank dengan alasan menciptakan
good performance dan mendongkrak pangsa pasarnya, memberikan kepuasan kepada
nasabah, Citibank memberikan pelayanan yang private kepada nasabah Citygold-nya dengan
memberikan Customer service tersendiri, yang melayani seluruh kebutuhan perbankan customer
di Citibank. Tujuan Citibank diatas tersebut sangat baik sekali menunjang bisnis perbankannya
dan memiliki etika bisnis yang baik terhadap nasabahnya, namun hal tersebut tidak dibarengi
dengan kontrol organisasi dan dukungan dari salah satu karyawannya, salah satu
karyawannya menyalah-gunakan kebijakan yang diterapkan Citibank tersebut. Sebut saja
Malinda Dee alias Inong Malinda yang telah menyalah gunakan kebijakan Citibank tersebut
dan melakukan penyalahgunakan kepercayaan nasabah, penyalahgunaan blanko yang
seharusnya tidak boleh ditandatangani lebih dulu oleh nasabah, tapi telah
ditandatangani. Selain itu, BI yang turut menangani kasus Malinda Dee juga menemukan adanya
penyetoran uang nasabah melalui Malinda. Padahal, cara seperti ini tidak boleh dilakukan.
Penyetoran harus nasabah yang datang langsung ke teller atau kasir. Memang kasus
pembobolan dana nasabah oleh Malinda ini dipicu oleh lemahnya pengawasan internal

13
dan tak bekerjanya pengawasan dari para atasan di Citibank. Namun kurangnya kontrol
diri dan etika individu adalah pemicu utama terjadinya pelanggaran etika dan tindak kriminal
tersebut. Lemahnya pengawasan internal dan tak bekerjanya pengawasan dari para
atasan di Citibank menjadi masalah pelanggaran etika organisasi juga, hal ini terlihat pada
kasus Irzen Okta, 50 tahun,yang meninggal dunia di kantor Citibank Cabang Menara Jamsostek,
Jakarta, Selasa pekan lalu. Sekretaris Jenderal Partai Pemersatu Bangsa itu diduga tewas akibat
tekanan psikis dari para debt collector lantaran mempertanyakan tagihan kartu
kreditnya yang membengkak dari Rp 48 juta menjadi Rp 100 juta.
Identifikasi Kasus:
Dari kasus diatas, jelaslah bahwa perilaku individu dalam organisasi sangat
mempengaruhi organisasi tempatnya bernaung. Baik buruknya suatu organisasi tercermin dari
individu yang berada dalam suatu kelompok tersebut. Pada kasus Citibank diatas, Malinda
sebagai sosok individu yang mencoreng nama organisasinya, yakni citibank. Kepercayaan yang
diberikan Citibank disalahgunakan oleh Malinda demi kesejahteraannya pribadi. Seharusnya, ia
lebih mementingkan kepentingan kelompok, daripada kepentingannya pribadi. Karena
bagaimanapun, jika kita berada dalam suatu organisasi atau kelompok, kita harus berkomitmen
bersama-sama untuk memajukan organisasi atau kelompok tersebut, tanpa berusaha mendahului
kepentingan kita pribadi. Segala permasalahan dalam suatu kelompok harus diselesaikan
secara bersama, dan dituntut agar setiap individu yang terlibat dalam kelompok
tersebut berpartisiasi untuk menyumbangkan pendapatnya. Sesuatu yang dimusyawarahkan
atau diselesaikan secara bersama akan lebih cepat menemukan jalan keluarnya, dibandingkan
harus diselesaikan sendiri. Dalam suatu kelompok, kita tidak hanya berbagi duka saja, namun
juga berbagi suka. Jangan hanya ingin menang sendiri. Kita harus merasakan susah senang
bersama-sama. Dalam suatu kelompok, kejujuran haruslah dijunjung tinggi, karena hanya
individu yang berlandaskan kejujuranlah yang akan membawa kelompoknya ke arah yang lebih
baik. Individu yang jujur dan terbuka lebih diperlukan dalam suatu organisasi, daripada individu
yang tertutup. Untuk itu, dalam kasus Citibank ini, Malinda seharusnya lebih bersikap jujur
dan terbuka terhadap segala wewenang yang dipercayakan kepadanya. Tidak semestinya
ia berbuat kecurangan apalagi berimbas pada Citibank yang dicap tidak baik oleh masyarakat.
Dari sisi organisasi atau kelompok sendiri, perlu diadakan pengontrolan terhadap individu

14
atau anggota kelompoknya. Setiap organisasi harus mengadakan evaluasi secara berkala, serta
pengawasan yang ketat terhadap anggota-anggotanya, dan membimbing anggotanya untuk tidak
melakukan kecurangan atau hal yang dapat merugikan kelompok tersebut. Organisasi tersebut
harus menetapkan kebijakan yang tegas bagi setiap individu (anggota) yang melanggar kebijakan
yang telah ditetapkan. Dalam kasus ini, sebaiknya Citibank lebih mengadakan pengawasan atau

15