Anda di halaman 1dari 52

0

PERBANDINGAN SISTEM PERADILAN


INDONESIA DAN PERANCIS

Diajukan sebagai Tugas Ujian Akhir Semester


Mata Kuliah Perbandingan Sistem Hukum
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Philipus M. Hadjon

Disusun oleh:
ABY MAULANA

PROGRAM DOKTOR ILMU HUKUM


UNIVERSITAS TRISAKTI
TAHUN 2016
1

BAB I
SISTEM PERADILAN INDONESIA

A. Pendahuluan
Pelaksanaan penyelesaian masalah hukum yang diatur dalam
hukum material, secara formal dilakukan oleh Hakim dengan berpedoman
pada proses dan prosedur Hukum Acara di pengadilan. Dalam hal ini,
hukum menjamin kekuasaan Kehakiman yang memiliki kekuasaan yang
bebas dan merdeka, artinya tidak ada lembaga negara lainnya yang dapat
ikut campur tangan dan atau mempengaruhinya. Kekuasaan kehakiman
tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009, tentang
Kekuasaan Kehakiman dalam Pasal 1 menyatakan bahwa Kekuasaan
Kahakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya negara Hukum Republik
Indonesia. Dari ketentuan ini dalam penjelasan resminya dikemukakan
bahwa Kekuasaan Kehakiman yang merdeka ini mengandung pengertian
didalamnya Kekuasaan Kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak
kekuasaan Negara lainnya, dan kebebasan dari kekuasaan direktiva dan
rekomendasi yang datang dari pihak extra judiciil kecuali dalam hal-hal
yang diizinkan oleh Undang-undang.
Kemerdekaan dalam pelaksanaan wewenang judiciil boleh
dikatakan sebagai kemerdekaan yang terukur, bukan kemerdekaan tanpa
batas sama sekali (mutlak), karena Hakim dalam melaksanakan tugasnya
tetap harus berpedoman pada legal standar baik peraturan perundang-
undangan (legal rules), asas-asas hukum (legal principles) dan
kebijaksanaan hukum yang besumber pada Pancasila yang denganya
dapat ditemukan nilai-nilai keadilan, efektifitas dan kebermanfaatnya.
Dilihat dari ketentuan Pasal 1 dan penjelasan resminya ini dan merupakan
asas umum Hukum Acara Indonesia, maka secara terarah dan ajeg
2

kekuasaan Kehakiman yang bebas dari campur tangan kekuasaan


lembaga negara lainnya tidak berarti dapat sewenang-wenang dan
absolut menyelenggarakan tugasnya melainkan wajib memperhatikan
secara benar Perasaan adil bangsa dan rakyat Indonesia.
Dalam menyelesaikan setiap masalah yang berupa mengadili suatu
perkara, maka Hakim yang memiliki kebebasan dan dijamin oleh Undang-
undang itu tidak boleh subyektif. Artinya kebebasan Hakim dalam
mengadili suatu perkara wajib mencerminkan perasaan keadilan
masyarakat dan bukan perasaan keadilan Hakim itu sendiri. Dengan
berpegang kepada obyektivitas diri dari samping memperhatikan secara
wajar adanya pemilikan persamaan kedudukan hukum bagi setiap warga
negara, maka hakim dan penegak hukum lainnya akan dapat memberikan
perasaan adil dan kebenaran dalam menyelesaikan setiap perkara.
Dengan berpegangan kepada obyektivitasnya itu pula setiap perkara yang
diajukan wajib diperiksa dan diadilinya dengan baik. Tidak seorang hakim
pun yang dapat menolak perkara dengan alasan tidak tahu atau kurang
jelas. Kalau suatu perkara kurang jelas, maka kewajiban Hakim
memperjelas dengan menciptakan hukum baru yang seadil-adilnya sesuai
dengan kebutuhan masyarakat melalui putusannya.
Sistem peradilan di Indonesia memiliki catatan berdasarkan lintas
sejarah yang khas, yang dimana tidak dapat dilepaskan dari keberadaan
sistem hukum di Indonesia yang merupakan warisan dari sistem hukum
Belanda yang menganut sistem eropa kontinetal. Pada prinsipnya, Sistem
Hukum Eropa Kontinental memfokuskan hukum positif yaitu pada
peraturan perundang-undangan yang terkodifikasi dan berlaku saat ini
dengan orientasi kepastian hukum. sehingga peradilan yang dibentuk
harus berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada dan tidak
mengenal ada juri serta juriseprudensi (putusan peradilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap) bukan merupakan sumber hukum
yang utama.
3

Pengertian dari sistem peradilan tidak hanya dilihat dari struktur


dan bentuk peradilan yang ada tetapi juga dapat dilihat dari beberapa
unsur yang turut serta dalam melakukan perbuatan dalam sistem
peradilan tersebut seperti: Hakim, Polisi, Jaksa, dan Advokat. Hubungan
antara para penegak hukum dan bentuk sistem peradilan tersebut inilah
yang akan mempengaruhi bentuk hubungan dari Sistem Peradilan
(Integrated justice system).
Akan tetapi, permasalahan yang dihadapi saat ini adalah banyak
peradilan-peradilan khusus yang dibentuk dari peradilan umum yang
memiliki ciri dan bentuk sendiri-sendiri, hal ini sangat membingungkan
para pencari keadilan karena tidak semua peradilan memiliki hukum acara
yang sama dan ketentuan yang sama dalam praktek beracara. Hal inilah
yang perlu dijelaskan dalam tulisan ini dalam pembagian dan hubungan
antar peradilan-peradilan dan struktur peradilan yang dibagi dalam 3
bagian yaitu sistem peradilan berdasarkan pembentukannya dalam UUD
NRI Tahun 1945, sistem peradilan dalam suatu organisasi dan sistem
peradilan dilihat dari berjalannya/proses peradilan.
Sistem Peradilan di Indonesia didasarkan pada UUD NRI Tahun
1945 yang telah diamandemen, Pasal 24 ayat (1): "kekuasaan kehakiman
merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan". Kemudian, pada Pasal 24 ayat
(2): "Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan
badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan
umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer,
lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah
Konsitusi"
Berdasarkan Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2) UUD 45 tersebut yang
dapat melakukan fungsi peradilan di Indonesia hanya 2 yaitu : Mahkamah
Agung (Pasal 24 A) dan Mahkamah Konstitusi.(Pasal 24 C). Mahkamah
Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang,
4

dan mempunyai kewenangan lainnya yang diberikan oleh undang-undang


sedangkan Mahkamah Konsitutisi memiliki kewenangan pada tingkat
pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji
undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa
lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang
Dasar, memutus pembubaran partai politik, memutus perselisihan tentang
hasil pemilu dan wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan
Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau
Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.
Mahkamah Konsitusi merupakan peradilan tingkat pertama dan
terakhir dengan demikian susunan dan kedudukan Mahkamah Konstitusi
hanya satu yaitu yang ada di Ibukota Negara Republik Indonesia, lain
halnya dengan Mahkamah Agung yang memiliki Tingkatan dalam struktur
peradilan di Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Pasal 24 ayat (2),
bahwa: "Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan
peradilan tata usaha negara..."
Kedudukan kehakiman/peradilan merupakan kekuasaan yang
merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum
dan keadilan. Dalam kedudukannya ini tindakan peradilan tidak dapat
dipengaruhi oleh siapapun dan dalam bentuk apapun dengan demikian
independensi pengadilan merupakan hal yang mutlak. Pengaturan
kedudukan, Independensi dan kekuasaan kehakiman ini merupakan
perwujudan dari bentuk negara Republik Indonesia sebagai negara
hukum. (Pasal 1 ayat 3 UUD 45).
Melihat kembali sejarah sistem Peradilan di Indonesia pada Masa
RO "Regie merit of De Regterlijke Organisatie en Het Beleid der Justitie
"(Peraturan tentang susunan Kehakiman dan Kebijaksanan mengadili),
diatur beberapa badan- badan peradilan antara lain :
5

1. Districtgerecht, adalah badan-badan pengadilan yang diselenggarakan


kawedanan untuk orang-orang pribumi, obyek perkaranya adalah
sengketa perdata yang obyeknya berharga tidak lebih dari 20 gulden,
atau pelanggaran pidana yang acaman hukumannya denda maksimal
3 gulden.
2. Regentschaapsgerechts, badan- badan peradilan yang
diselenggarakan di kabupaten-kabupaten untuk orang pribumi.
Hakimnya adalah bupati. Obyek perkaranya adalah sengketa perdata
antara yang obyeknya berharga 20 sampai 50 gulden, atau
pelanggaran pidana yang ancaman hukumannya penjara maksimal 6
hari, atau denda maksimal 10 gulden.
3. Landraad, Pengadilan orang pribumi di Jawa dan Madura, mengadili
sengketa perdata yang obyek berharga sekurang- kurangnya 50
gulden atau yang kurang dari itu, tapi penggugatnya termasuk
golongan penduduk eropa. Putusan Landraad hanya dapat dimintakan
banding (ke Raad van Justitie) atau kasasi (ke Hooggerechtshofs), bila
perkara perdata melibatkan obyek yang berharga lebih dari 500 gulden.
4. Residentiegerecht, pengadilan tingkat pertama untuk orang-orang
eropa atau yang dipersamakan dengan mereka yang berada di
Karisedanan atau Kabupaten untuk perkara pidana dan perdata yang
berkategori ringan atau sederhana.
5. Raad van Justitie, Pengadilan tingkat banding bagi putusan Landraad.
6. Hoogerechtshof, Pengadilan Tinggi dalam hirarki pengadilan kolonial
dan sebagai pengadilan kasasi untuk semua putusan Landraad dalam
perkara perdata, dan pengadilan banding untuk putusan tingkat
pertama yang dibuat oleh Raad van Justitie. Hoogerechtshof bertindak
sebagai pengadilan tingkat pertama, hanya dalam perkara gugatan
perdata terhadap pemerintah atau terhadap Gubemur Jendral.
Kemudian pelaksanaan kekuasaan kehakiman oleh UUDN RI
Tahun 1945 ditentukan dua puncak kekuasaan kehakiman yaitu
Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Dibawah Mahkamah Agung
6

sesuai dengan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 ditentukan badan


yang terdiri dari tempat dilingkungan peradilan, yaitu :
1. Peradilan Umum.
2. Peradilan Agama.
3. Peradilan Militer.
4. Peradilan Tata Usaha Negara.
Pengadilan disusun berjenjang-jenjang dan bertingkat-tingkat. Pada
tingkat pertama dan tingkat kedua, pada dasarnya fakta-fakta yang
terungkap di pengadilan tersebut diperiksa, diadili dan diputus. Kesemua
jenjang ditingkat pengadilan tersebut bermuara ke Mahkamah Agung.
Pada dasarnya, Mahkamah Agung adalah pengadilan negara yang
tertinggi.
Tingkat pada Peradilan Umum ada Pengadilan Negeri, yang
biasanya dibentuk di kebupaten/kota. Pada tingkat kedua (banding) di
peradilan umum dibentuk Pengadilan Tinggi, yang yurisdiksinya, meliputi
wilayah propinsi. Begitu pula peradilan Agama, pada tingkat pertama,
kekuasaannya dilaksanakan oleh Pengadilan Agama. Pada tingkat
banding, yang menjadi kompetensi absolut peradilan Agama dilaksanakan
oleh Pengadilan Tinggi Agama.
Hingga saat ini baru beberapa pengadilan Tata Usaha Negara yang
dibentuk, menggugat perkara mengenai hal yang berkenaan dengan
tindak pejabat administrasi negara relatif tidak cukup banyak. Namun
demikian prinsipnya, produk tata usaha negara juga mengenal jenjang
pengadilan tata usaha negara di pengadilan tinggi tata usaha negara.
Agak berbeda dengan peradilan yang lain, lingkungan peradilan militer
dibentuk berjenjang-jenjang dan bertingkat-tingkat sesuai dengan
kepangkatan militer.
Peradilan umum kompetensinya mengadili perkara pidana dan
perdata (bukan militer). Peradilan Agama kompetensinya mengadili
perkara perdata tertentu yang dihadapi oleh orang-orang Islam dan
Ekonomi Syariah. Peradilan Militer tugasnya mengadili perkara yang
7

dilakukan oleh prajurit Indonesia, khususnya dalam tindak pidana


berdasarkan Hukum Pidana Militer. Peradilan Tata Usaha Negara
tugasnya mengadili perkara atas perbuatan melawan hukum
(onrechtmatige overheidsdaad) oleh pejabat tata usaha negara.

B. Bagan Sistem Peradilan Indonesia

C. Tugas dan Fungsi Pengadilan Dalam Sistem Peradilan di


Indonesia
I. Pengadilan Pidana dan Perdata pada Peradilan Umum
a. Peradilan Pidana
Peradilan pidana atau Hukum Acara Pidana merupakan suatu
rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan
pemerintah yang berkuasa, yaitu kepolisian, kejaksaan, dan
8

pengadilan harus betindak guna mencapai tujuan Negara dengan


mengadakan hukum pidana. Dalam ruang lingkup hukum pidana yang
luas, baik hukum pidana substantif (materiil) maupun hukum acara
pidana (hukum pidana formal) disebut hukum pidana. Hukum acara
pidana berfungsi untuk menjalankan hukum acara materiil, sehingga
disebut hukum pidana formal atau hukum acara pidana.
Hukum pidana formal (hukum acara pidana) mengatur tentang
bagaimana Negara melalui alat-alatnya melaksanakan haknya untuk
memidana dan menjatuhkan pidana. Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP) tidak memberikan definisi tentang hukum
acara pidana, tetapi bagian-bagiannya seperti penyidikan, penuntutan,
mengadili, praperadilan, putusan pengadilan, upaya hukum, penyitaan,
penggeledahan, penangkapan, penahanan, dan lain-lain. Diberi
definisi dalam Pasal 1 KUHAP. Tujuan hukum acara pidana sangat
erat berhubungan dengan tujuan hukum pidana, yaitu menciptakan
ketertiban, ketentraman, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan
masyarakat. Hukum pidana memuat tentang rincian perbuatan-
perbuatan yang termasuk perbuatan pidana yang dapat dihukum,
macam-macam hukum yang dapat dijatuhkan kepada pelanggaran
hukum pidana. Sedangkan hukum acara pidana mengatur bagaimana
proses yang harus dilalui oleh aparat penegak hukum dalam rangka
mempertahankan hukum pidana material terhadap pelanggarnya. Dari
penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa kedua hukum tersebut
saling melengkapi, karena tanpa hukum pidana hukum acara pidana
hukum pidana tidak dapat dijalankan (tidak berfungsi sesuai dengan
tujuannya). Apabila kembali melihat tugas dari hukum acara pidana,
dapatlah disimpulkan bahwa fungsi dari hukum acara pidana adalah
mendapatkan kebenaran material, putusan hakim dan pelaksanaan
keputusan hakim. Tujuan hukum acara pidana sebagaimana
dikemukakan diatas adalah merupakan tujuan akhir, sebelum itu ada
9

tujuan sementaranya yaitu mencari kebenaran material dari suatu


perkara pidana.

b. Peradilan Perdata
Hukum acara perdata adalah perturan hukum yang mengatur
bagaimana menjamin ditaatinya hukum perdata material dengan
perantara hakim. Dapat pula dikatakan bahwa hukum acara perdata
adalah peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya
menjamin pelaksanaan hukum perdata material. Lebih tegas dikatakan
bahwa hukum acara perdata adalah hukum yang mengatur bagaimana
caranya mengajukan serta melaksanakan putusan tersebut.
Hukum acara perdata meliputi tiga tahap tindakan, yaitu
tindakan tahap pendahuluan, tahap penentuan dan tahap pelaksanaan.
Tahap pendahuluan merupakan persiapan menuju ke penentuan atau
pelaksanaan. Pada tahap penentuan diadakan pemeriksaan peristiwa
dan sekaligus pembuktian serta keputusannya. Tahap pelaksanaan
adalah tahap diadakannya pelaksanaan dari putusan.
Hukum acara perdata bertujuan untuk melindungi hak
seseorang. Perlindungan terhadap hak seseorang diberikan oleh
hukum acara perdata melalui peradilan perdata. Dalam peradilan
perdata hakim akan menentukan mana yang benar dan mana yang
tidak benar setelah pemeriksaan dan pembuktian selesai. Dengan
peradilan tersebut sudah barang tentu seseorang dengan melawan
hukum akan diputuskan sebagai pihak yang salah, oleh karenanya dia
diwajibkan menyerahkan kembali apa yang telah dikuasai itu kepada
pemegang hak yang sah menurut hukum. Dengan demikian apa yang
termuat dalam huku perdata material dapat dijalankan sebagaimana
mestinya.
10

II. Pengadilan Khusus dan Kamar Khusus pada Peradilan Umum


Dalam Peradilan umum dikenal adanya pengadilan khusus dan
kamar-kamar khusus berdasarkan perkara-perkara tertentu yang
dimungkinkan untuk diselesaikannya secara khusus.

a. Pengadilan Niaga
Pengadilan Niaga adalah kamar khusus yang berkedudukan pada
Pengadilan Negeri. Pengadilan Niaga hanya berwenang memeriksa
dan memutus perkara pada daerah hukumnya masing-masing.
Pengadilan Niaga merupakan pengadilan khusus yang berada di
bawah Pengadilan umum yang diberi kewenangan untuk memeriksa
dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang. Selain itu, menurut Pasal 300 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, Pengadilan Niaga juga
berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di bidang
perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang.
Perkara lain di bidang perniagaan ini misalnya, tentang gugatan
pembatalan paten dan gugatan penghapusan pendaftaran merek.
Kedua hal tersebut masuk ke dalam bidang perniagaan dan diatur pula
dalam undang-undang yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001
tentang Paten dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang
Merek. Dengan kompetensi absolut ini maka hanya Pengadilan Niaga
sebagai satu-satunya badan peradilan yang berhak memeriksa dan
memutus perkara-perkara tersebut.

b. Pengadilan Perselisihan Hubungan Industrial


Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 17 UU No. 2 Tahun 2004,
Pengadilan Hubungan Industrial adalah pengadilan khusus yang
dibentuk di lingkungan pengadilan negeri yang berwenang memeriksa,
mengadili dan memberi putusan terhadap perselisihan hubungan
industrial. Batasan pengertian perselisihan hubungan industrial
11

berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 Nomor 2 Tahun 2004, adalah


perselisihan Hubungan Industrial adalah perbedaan pendapat yang
mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan
pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh
karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan,
perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat
pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan.

c. Pengadilan Anak
Sekalipun disebut pengadilan anak pada dasarnya merupakan
kamar khusus, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 3
Tahun 1997 jo. Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem
Peradilan Anak. Pengadilan Anak adalah pelaksana kekuasaan
kehakiman yang berada di lingkungan Peradilan Umum. Sidang
Pengadilan Anak yang selanjutnya disebut Sidang Anak, bertugas dan
berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara anak
sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang.
Dalam pengadilan anak Batas umur Anak Nakal yang dapat
diajukan ke Sidang Anak adalah sekurang-kurangnya 8 (delapan)
tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan
belum pernah kawin. Dalam hal anak melakukan tindak pidana pada
batas umur diajukan ke sidang pengadilan setelah anak yang
bersangkutan melampaui batas umur tersebut, tetapi belum mencapai
umur 21 (dua puluh satu) tahun, tetap diajukan ke Sidang Anak. Hakim,
Penuntut Umum, Penyidik, dan Penasihat Hukum, serta petugas
lainnya dalam Sidang Anak tidak memakai toga atau pakaian dinas.

d. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi


Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pengadilan khusus,
merupakan satu-satunya pengadilan yang berwenang memeriksa,
mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi. Yang
12

dimaksud dengan satu-satunya pengadilan adalah pengadilan yang


memeriksa, mengadili, dan memutus perkara yang penuntutannya
diajukan oleh penuntut umum. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Undang-Undang No. 31 Tahun
1999 Jo. Undang-Undang 20 tahun 2002 berwenang memeriksa,
mengadili, dan memutus perkara:
a. tindak pidana korupsi;
b. tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah
tindak pidana korupsi; dan/atau
c. tindak pidana yang secara tegas dalam undang-undang lain
ditentukan sebagai tindak pidana korupsi.

e. Pengadilan HAM Berat


Pengadilan HAM Berat adalah pengadilan khusus untuk
perkara-perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Untuk ikut
serta memelihara perdamaian dunia dan menjamin pelaksanaan hak
asasi manusia serta memberi perlindungan, kepastian, keadilan, dan
perasaan aman kepada perorangan ataupun masyarakat, perlu segera
dibentuk suatu Pengadilan Hak Asasi Manusia untuk menyelesaikan
pelanggaran hak asasi manusia yang berat sesuai dengan ketentuan.
Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus
perkara pelanggaran hakasasi manusia yang berat. Pengadilan HAM
berwenang juga memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak
asasi manusia yang berat yang dilakukan di luar batas teritorial wilayah
negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia. Pengadilan
HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran
hak asasi manusia yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang
berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan
dilakukan. Berdasarkan UU No. 26 tahun 2000, pelanggaran HAM
Kejahatan Genosida sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf
meliputi adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk
13

menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok


bangsa, Membunuh anggota ras, kelompok etnis, kelompok agama.
Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat kelompok;
Menciptakan kondisi kehidupan terhadap anggota-anggota kelompok-
kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik
seluruh memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah
atau sebagiannya; Memindahkan secara paksa anak-anak dari
kelahiran di dalam kelompok; kelompok tertentu ke kelompok lain.

f. Pengadilan Perikanan
Pengadilan perikanan berdasarkan Undang-Undang No. 31 tahun
2004 berwenang memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara
tindak pidana di bidang perikanan yang terjadi di wilayah pengelolaan
perikanan Negara Republik Indonesia, baik yang dilakukan oleh warga
negara Indonesia maupun warga negara asing. Dengan Undang-
Undang ini dibentuk pengadilan perikanan yang berwenang
memeriksa, mengadili, dan memutus tindak pidana di bidang
perikanan. Pengadilan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) merupakan pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan
peradilan umum.

III. Peradilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Pajak


a. Pengadilan TUN
Di negara-negara yang telah maju, konsep tentang Welfare State
dan perkembangan sosial telah sedemikian rupa sehingga mendesak
pemikiran-pemikiran kembali mengenai Peradilan Tata Usaha Negara.
Masalahnya adalah, peranan pemerintah yang bertambah besar dalam
penciptaan Welfare State memerfukan kelincahan yang lebih besar
daripada dalam suatu negara dimana pemerintah hanya bersikap sebagai
polisi dan hanya bertindak atas permintaan perorangan atau apabila ada
kepentingan yang dilanggar. Akan tetapi di lain pihak, terhadap
14

kebebasan bertindak dan mengatur yang bertambah besar dalam negara-


negara ini, perlu dipikirkan cara-cara tepat agar dapat dipelihara
keseimbangan antara kepentingan umum dan kepentingan warga negara.
Campur langan yang lebih besar dalam kegiatan-kegiatan
kehidupan masyarakat sebenarnya merupakan masalah di negara-negara
berkembang, di mana wewenang untuk mengatur dirasa sangat
diperlukan untuk dapat menyelenggarakan pembangunah di segala
bidang dalam rangka pembangunan nasional. Namun di negara-negara
berkembang yang rnenunjang tinggi paham negara hukum, dirasakan
perlunya mencari cara yang di satu pihak dapat menjamin wewenang
bertindak dan mengatur dari pemerintah, dan di lain pihak dapat
menjamin bahwa wewenang bertindak dan mengatur yang kian
bertambah itu tidak sampai melanggar hak-hak asasi warga negara.
Di negara Republik Indonesia kecendrungan akan pemeliharaan
keseimbangan tersebut sudah diletakkan dasar-dasarnya dalam Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman pasal 10 ayat 1 UU tersebut menentukan, bahwa
Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan: a.
Peradilan Umum, b. Peradilan Agama, c. Peradilan Militer, d. Peradilan
Tata Usaha Negara,
Sedangkan yang menjadi dasar hukum peradilan di Negara
Republik Indonesia tercantum dalam pasal 24 UUD 1945 yaitu:
1. Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah
Agung dan lain-lain badan Kehakiman menurut Undang-Undang.
2. Susunan dan kekuasaan badan- badan Kehakiman itu diatur
dengan Undang-Undang.
Selain itu pula keinginan untuk mewujudkan Peradilan Tata Usaha
Negara di Indonesia dapat dijumpai dalam Ketetapan MPR Nomor IV/
MPR/1978 lenatng Garis-garis Besar Haluan Negara pada bagian dasar
dan arah pembangunan serta pembinaan hukum, dengan kata-kata:
"Mengusahakan terwujudnya Peradilan Tata Usaha Negara."
15

Sesungguhnya niat untuk membentuk Peradilan Tata Usaha


Negara telah ada sejak Negara Republik Indonesia baru merdeka, yaitu
terbukti dengan dicantumkannya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1945
mengenai Peraturan tentang Susunan dan kekuasaan Badan-Badan
Kehakiman, yang dalam pasal 6 ayat 1 disebut dengan istilah Peradilan
Tata Usaha Pemerintahan.
Selanjutnya Ketetapan MPRS Nomor D/MPRS/I960 menetapkan
diadakannya Peradilan Adrainistratif. Kemudian ketentuan ini diatur lebih
lanjut dalam tahun 1964 dengan diundangkannya UU No. 19 Tahun 1964
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.
Namun akhirnya UU No.19 Tahun 1948 dan UU No. 19 tahun 1964
tidak diberlakukannya lagi karena alasan politis. Peraturan lainnya yang
memiliki arti penting dalam pembentukan PTUN adalah Reglement op de
Rechterlijke Organisatie en het Beleid der Justitie ( R O ) atau Peraturan
Susunan Pengadilan dan Kebi jaksanaan Kehakiman, yaitu suatu
peraturan produk kolonial yang belum pernah dicabut, jadi masih berlaku
sampai sekarang berdasarkan Peraturan Peralihan pasal II UUD 1945.
Keinginan membentuk Peradilan Tata Usaha Negara pernah
dirumuskan juga dalam bentuk Rancangan Undang-Undang tentang
Peradilan Tata Usaha Negara oleh Lembaga Pembinaan Hukum Nasional
(LPHN) yang sekarang bernama BPHN (Badan Pembinaan Hukum
Nasional ), pada tanggal 10 Januari 1966,
Pada tahun 1975, Lembaga Penelitian Hukum dan Kriminologi
Fakultas Hukum Universitas Pajajaran Bandung melakukan penelitian
mengenai aspek pengaturan Peradilan Administrasi Negara dalam
Undang-Undang, dari pandangan-pandangan ahii di bidang Hukum
Administrasi Negara dari masa ke masa, terutama pendapat ahli-ahli
Indonesia. Kegunaan praktis penelitian adalah agar dapat terwujud
Peradilan Administrasi yang memiliki wewenang konkrit dan tegas,
adanya perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, serta bahan-
bahan dan data- data yang diperoleh tersebut diharapkan dijadikan
16

pedoman pengukuran yang akan memberikan manfaat kepada usaha


penyempumaan perundang-undangan di Indonesia, khususnya mengenai
bentuk dan isi administrasi negara be serta pembentukan Undang-
Undangnya.
Keinginan untuk segera membentuk Peradilan Tata Usaha Negara
ini dipertegas lagi dalam Pidato Kenegaraan Presiden R1 Soeharto di
hadapan Sidang Pleno DPR pada tanggal 16 Agustus. Pidato ini
direalisasikan ke dalam Ketetapan MPR Nomor IV Tahun 1978 tentang
GBHN. Final Draft RUU tentang PTUN pada tahun 1982 berada dalam
penggodokan dan telah dibahas dalam forum DPR, namun karena
keterbatasan waktu dan beratnya mated akhirnya DPR tidak dapat
menyelesaikan pembentukan Undang- Undang PTUN. Adanya ke-
terlambatan dan kegagalan meng- adakan suatu PTUN di Indonesia
meriurut Sunaryati Hartono bersumber pada pendapat dan kekhawatiran
kaiau-kalau (seperti lialnya dengan perkembangan di Perancis, Belanda,
Jerman dan negara-negara lain yang memiliki PTUN) pengadilan itu akan:
1. Merupakan manifeslasi dari falsafah individuaIisme, sehingga
bertentangan dengan Pancasila.
2. Merupakan pengawasan yang terlalu ketat terhadap
kebijaksanaan lembaga-lembaga pemerintah sehingga akan
sangat menghambat jalannya pemerintahan yang efektif dan
efisien.
3. Menyulitkan pelaksanaan politik pemerintah, khususnya dalam
ha! pengambilan keputusan.
Kekhawatiran ini sebenarnya tidak beralasan, karena pembentukan
Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia tidak akan mencontoh belaka
pada sistem Peradilan Tata Usaha Negara di negara lain, tetapi
disesuaikan dengan kebutuhan situasi disesuaikan dengan kebutuhan
siluasi dan kondisi serin perkembangan di Indonesia, bahkan akan
diciptakan sistem sendiri yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan di
Indonesia yang berfaisafah Pancasila.
17

Akhirnya pada bulan April 1986 pemerintah sekali lagi


menyampaikan Rancangan Undang- Undang tentang PTUN yang telah
disempurnakan kepada DPR masa bakti 1982-1987, dan pada tanggal 20
Desember 1986 DPR menyetujui RUU tersebut menjadi Undang- Undang,
yakni Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara. Sedangkan Lembaga Peradilan Tata Usaha Negara itu
sendiri baru terbentuk pada tahun 1991, dengan ditetapkannya Peraturan
Pemerintah Nomor 7 Tahun 1991 tentang pelaksanaan Undang-Undang
tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Peradilan Tata Usaha Negara adalah peradilan yang dilakukan
oleh hakim-hakim yang khusus diangkat untuk mengadili sengketa Tata
Usaha Negara, yang diajukan ke pengadilan dalam lingkungan Peradilan
Tata Usaha Negara, oleh orang atau Badan Hukum Perdata terhadap
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Peradilan Tata Usaha Negara
mengadakan penilaian (hukum) terhadapa tindakan hukum dari Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara itu, yang tindakan hukumnya berupa
Keputusan Tata Usaha Negara. (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara).
Berdasarkan pengertian tersebut, maka pada dasarnya Peradilan
Tata Usaha Negara adalah bertujuan, untuk mengatur hubungan antara
pejabat pemerintah dengan warga negara, atau tepatnya adalah untuk
melindungi warga negara dari perbuatan pemerintah/penguasa yang
memiliki kecendrungan menyalahkan kekuasaannya (onrechtmatige
overheids daad; detournement de pouvoir). Perlindungan warga negara
(individu) dari penguasa ini dilandasi sejarah masa lalu, tepatnya pada
saat kekuasaan tertinggi dipegang oleh seorang raja, ratu, kaisar dan
sebagainya, yakni negara yang membentuk monarki (absolut).
Dalam UU No 5 Tahun 1986 untuk membentuk PTUN dengan
Keputusan Presiden (Keppres). Di Indonesia sampai dengan sekarang
ada 26 PTUN. Berdasarkan Keppres No. 52 Tahun 1990 tentang
Pembentukan PTUN di Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, Ujung
18

Pandang. Keppres No. 16 Tahun 1992 tentang Pembentukan PTUN di


Bandung, Semarang dan Padang. Keppres No. 41 Tahun 1992 tentang
Pembentukan PTUN Pontianak, Banjarmasin dan Manado. Keppres No.
16 Tahun 1993 tentang Pembentukan PTUN Kupang, Ambon, dan
Jayapura. Keppres No. 22 Tahun 1994 tentang Pembentukan PTUN
Bandar Lampung, Samarinda dan Denpasar. Keppres No. 2 Tahun 1997
tentang Pembentukan PTUN Banda Aceh, Pakanbaru, Jambi, Bengkulu,
Palangkaraya, Palu, Kendari, Yogyakarta, Mataram dan Dili. Untuk
wilayah hukum PTUN Dili, setelah Timor Timur merdeka bukan lagi
termasuk wilayah Republik Indonesia.
Kompetensi absolut PTUN adalah sengketa tata usaha negara
yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau Badan
Hukum Perdata dengan Badan atau Pejabat tata usaha negara, baik di
pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan tata
usaha negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 angka 4 UU No. 5 Tahun
1986 jo UU No. 9 Tahun 2004). Obyek sengketa Tata Usaha Negara
adalah Keputusan tata usaha negara sesuai Pasal 1 angka 3 dan Pasal 3
UU No. 5 Tahun 1986 UU No. 9 Tahun 2004. Namun ini, ada
pembatasan-pembatasan yang termuat dalam ketentuan Pasal-Pasal UU
No. 5 Tahun 1986 UU No. 9 Tahun 2004 yaitu Pasal 2, Pasal 48, Pasal
49 dan Pasal 142.

b. Pengadilan Pajak
Pengadilan pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan
Kekuasaan kehakiman di Indonesia bagi wajib pajak atau penanggung
pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak. Dimana yang
dimaksud sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dibidang
perpajakan antara wajib pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai
akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan Banding atau
Gugatan kepada Pengadilan pajak. Itu termasuk gugatan atas
19

pelaksanaan penagihan berdasarkan undang-undang penagihan dengan


surat paksa. Pengadilan pajak dibentuk berdasarkan Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Kedudukan Pengadilan
Pajak berada di ibu kota negara. Persidangan oleh Pengadilan Pajak
dilakukan di tempat kedudukannya, dan dapat pula dilakukan di tempat
lain berdasarkan ketetapan Ketua Pengadilan Pajak. Susunan Pengadilan
Pajak terdiri atas: Pimpinan, Hakim Anggota, Sekretaris, dan Panitera.
Pimpinan Pengadilan Pajak sendiri terdiri dari seorang Ketua dan
sebanyak-banyaknya 5 orang Wakil Ketua. Menurut UU Nomor 14 Tahun
2002 tetang Pengadilan pajak, pembinaan serta pengawasan umum
terhadap hakim Pengadilan Pajak dilakukan oleh Mahkamah Agung.
Sedangkan pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan
ditanggulangi oleh Kementrian Keuangan.

IV. Peradilan Agama


Peradilan Agama merupakan lingkungan peradilan di bawah
Mahkamah Agung sebagai pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan. Eksistensi peradilan agama telah menjadikan Umat Islam
Indonesia terlayani dalam penyelesaian masalah perkawinan, kewarisan,
wasiat, hibah, wakaf dan shadaqah. Peradilan agama hendak
menegakkan substansi nilai-nilai hukum yang mewarnai kehidupan umat
Islam. Perubahan signifikan di bidang ketatanegaraan dalam sistem
peradilan adalah penyatu-atapan semua lembaga peradilan (one roof
system) di bawah Mahkamah Agung RI. Reformasi sistem peradilan
tersebut diawali dengan dimasukkannya Pasal 24 ayat (2) UUD 1945
dalam amandemen ketiga UUD 1945 dan dilanjutkan dengan disahkannya
UU Nomor 4 Tahun 2005 tentang kekuasan kehakiman. Kekuasaan
kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan
yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan
20

peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata


usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Konsekuensi dari penyatu-atapan lembaga peradilan adalah
pengalihan organisasi, administrasi, dan finansial Peradilan Agama dari
Departemen Agama ke Mahkamah Agung. Pengalihan tersebut sebagai
bagian dari perwujudan reformasi hukum untuk menciptakan
kelembagaan negara yang lebih kondusif bagi tercapainya tatanan yang
lebih demokratis dan transparan. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang
Peradilan Agama memberikan perluasan kewenangan sebagaimana
terdapat dalam Pasal 49. Pengadilan Agama bertugas dan menyelesaikan
perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di
bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah,
dan ekonomi syariah.

V. Peradilan Militer
Kompetensi absolut peradilan militer dijelaskan Pasal 9 Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Pada
pokoknya menyatakan :
a. Mengadili Tindak Pidana Militer Mengadili tindak pidana yang
dilakukan oleh seorang yang pada waktu melakukan adalah:
a. Prajurit ;
b. Yang berdasarkan undang-undang dipersamakan dengan
prajurit;
c. Anggota suatu golongan atau jawatan atau badan atau
yang dipersamakan atau dianggap sebagai prajurit
berdasarkan undang-undang ;
d. Seseorang yang tidak termasuk prajurit atau yang berdasarkan
undang-undang dipersamakan dengan prajurit atau anggota
suatu golongan atau jawatan atau badan atau yang
dipersamakan atau dianggap sebagai prajurit ber-dasarkan
21

undang-undang; tetapi atas keputusan Panglima dengan


persetujuan Menteri Kehakiman harus diadili oleh suatu
Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer.
b. Tata Usaha Militer.
Memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha
Angkatan Bersenjata. Wewenang ini berada pada Pengadilan
Militer Tinggi sebagai pengadilan tingkat pertama dan Pengadilan
Militer Utama sebagai pengadilan tingkat banding. Peradilan militer
juga memiliki kompetensi absolut untuk menggabungkan perkara
gugatan ganti rugi dalam perkara pidana bersangkutan atas
permintaan dari pihak dirugikan sebagai akibat yang ditimbulkan
oleh tindak pidana yang menjadi dasar dakwaan dan sekaligus
memutus kedua perkara tersebut dalam satu putusan.
Kompetensi relatif merupakan kewenangan pengadilan sejenis untuk
memeriksa suatu perkara. Menurut Pasal 10 Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer : Pengadilan dalam
lingkungan peradilan militer mengadili tindak pidana yang dilakukan
oleh mereka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 yang :
a. Tempat kejadiannya berada di daerah hukumnya; atau
b. Terdakwanya termasuk suatu kesatuan yang berada di
daerah hukumnya.

VI. Mahkamah Konstitusi


Dalam praktik kenegaraan di Indonesia diakui tiga cabang kekuasaan,
yakni eksekutif, legislatif, dan judikatif. Cabang kekuasaan eksekutif
berada di tangan presiden dan wakil presiden. Pada cabang kekuasaan
legislatif, terdapat dua lembaga yakni Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
dan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Sedangkan cabang kekuasaan
judikatif atau lebih tepatnya kekuasaan kehakiman berada pada
pemerintahan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, tetapi di
samping keduanya ada pula Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas
22

martabat, kehormatan, dan perilaku hakim. Pasal 24 ayat (1), (2), dan (3)
UUD 1945 menyatakan bahwa :
1. kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan.
2. kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan badan-badan peradilan dibawahnya dalam lingkungan
peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh
sebuah Mahkamah Konstitusi.
3. badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan
kehakiman diatur dalam undang-undang.
Sebagai sebuah lembaga negara Mahkamah konstitusi diberikan
kewenangan oleh konstitusi. Kewenangan tersebut antara lain:
1. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
3. memutus pembubaran partai politik;
4. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum;
5. Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat
DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah
melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap
negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau
perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai
Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
23

BAB II
SISTEM PERADILAN PERANCIS

A. Pendahuluan
Perancis memiliki sistem hukum yang berasal dari Romawi hukum
dan berdasarkan hukum dikodifikasi. KUH Perdata dirancang pada 1804
di bawah Napoleon I. Namun demikian hakim memiliki tugas untuk
menafsirkan hukum dan keputusan pengadilan yang lebih tinggi memiliki
pengaruh tertentu pada pengadilan rendah bahkan jika mereka tidak
terikat dengan keputusan pengadilan yang lebih tinggi ini. Yang terakhir
waktu hukuman mati dikeluarkan di Perancis adalah di tahun 1978. Saat
itu secara resmi dilarang pada bulan Oktober 1981. Parlemen, baik Majelis
Nasional dan Senat, memutuskan pada bulan Februari 2007, untuk
mengubah Konstitusi Perancis dalam rangka untuk memasukkan larangan
eksplisit dari hukuman mati. Pernyataan konstitusional bahwa "Tidak ada
yang harus dijatuhi hukuman mati ", membuat Prancis negara ke-17 di
seluruh dunia untuk memasukkan larangan hukuman mati dalam
Konstitusinya.
Sistem Peradilan Perancis memiliki jenjang dari tingkat pengadilan
tingkat pertama, tingkat banding dan tingkat kasasi. Dalam hal ini, bagian
tertinggi sistem peradilan Prancis adalah Pengadilan Kasasi (Cour de
cassation). Seperti tersirat dari namanya, pengadilan ini berfungsi sesuai
prinsip kasasi, yaitu, dapat menganulir keputusan pengadilan di
bawahnya, namun normalnya tidak boleh mengganti keputusan itu
dengan keputusan finalnya sendiri dalam perkara tersebut. Karenanya,
permohonan banding kepada Pengadilan Kasasi dianggap sebagai
sarana hukum luar biasa dan tidak disebut "appel," melainkan "pourvoi en
cassation." Bila putusan pengadilan di bawahnya dianulir, biasanya
perkara akan kembali ke pengadilan tersebut untuk memperoleh
keputusan baru. Namun, di Prancis, perkara tidak diserahkan kembali
kepada pengadilan yang putusannya sudah dianulir itu (biasanya salah
24

satu Court of Appeal), melainkan ke pengadilan lain yang berada pada


tingkat yang sama. Pengadilan ini secara formal tidak diwajibkan
mengikuti sikap Pengadilan Kasasi untuk point of law yang
dipermasalahkan. Namun, bila putusan kedua ini dimintakan banding dan
dianulir oleh Pengadilan Kasasi (yang dalam kasus ini akan terjadi lewat
keputusan Pengadilan yang dihadiri seluruh anggota), maka Court of
Appeal ketiga yang dirujuk untuk perkara tersebut akan terikat untuk
mengikuti pandangan Pengadilan Kasasi terhadap persoalan hukum
tersebut. Pengadilan Kasasi Prancis hanya menangani persoalan-
persoalan hukum (questions of law) dan dianggap terikat oleh temuan-
temuan fakta yang mendasari putusan yang dimintakan banding (putusan
yang menyangkut "appreciation souveraine des juges defait"), yang
artinya, antara lain, bahwa penafsiran kontrak hanya bisa diperiksa
kembali dalam kasus-kasus yang sangat istimewa. Harus diperhatikan
bahwa banding langsung ke Pengadilan Kasasi dapat saja terjadi, meski
untuk kasus-kasus sangat kecil yang telah diputuskan dalam pengadilan
tingkat pertama dan tidak dapat dimintakan banding ke Court of Appeal.
Berkebalikan dengan pengadilan- pengadilan tertinggi di banyak negara,
Pengadilan Kasasi sejak 1958 tidak bisa mengatur beban kerjanya sendiri
dengan menyetujui atau menolak izin untuk mengajukan banding.
Akibatnya, terjadilah penundaan yang panjang karena pengadilan
terpaksa memutuskan ribuan kasus per tahun, termasuk banyak kasus
kecil yang secara prinsip tidak penting. Pengadilan Kasasi dibagi menjadi
enam divisi (chambers), lima di antaranya menangani kasus sipil dan satu
menangani kasus kriminal.
Di bawah Pengadilan Kasasi ada tiga puluh Court of Appeal.
Pengadilan-pengadilan ini dijumpai di kota-kota besar dan memutuskan
banding keputusan yang dikeluarkan berbagai pengadilan tingkat
pertama. Court of Appeal disebut dengan nama kota, misalnya, Cour
d'appel de Bourdeaux. Sitat pada suatu keputusan Court of Appeal ditulis
dalam ben- tuk singkat dengan hanya menyebutkan nama kota dan
25

tanggalnya; misalnya, Paris, 15 Mei 1979 berarti bahwa putusan itu


dikeluarkan oleh Court of Appeal di Paris pada 15 Mei 1979. Setiap kasus
yang dihadapkan ke Court of Appeal diperiksa oleh tiga orang hakim
profesional.
Pemeriksaan pengadilan untuk kasus-kasus sipil yang lebih
penting kira-kira berjumlah 180 tribunaux de grande instance (tribunaux
adalah bentuk jamak dari tribunal), yang sama dengan Court of Appeal,
terdiri dari tiga orang hakim profesional. Dalam kasus-kasus kriminal,
pengadilan yang setara kedudukannya ialah tribunaux correctionnels.
Kasus- kasus kecil (small claims cases) diperiksa oleh satu dari 470
tribunaux d'instance, sedangkan kasus-kasus kriminal kecil oleh tribunaux
de police. Dalam pengadilan-pengadilan ini kasus diputuskan oleh hakim
tunggal profesional. Ada sejumlah pengadilan khusus, termasuk kira-kira
230 pengadilan dagang (tribunaux de commerce), yang ditangani hakim-
hakim kalangan awam (lay judges) yang dipilih dari kalangan pengusaha
sendiri, dan conseils de prud'hommes, yang menangani kasus-kasus
yang berhubungan dengan hukum ketenagakerjaan dan mencakup wakil-
wakil para pekerja dan pemberi kerja. Kasus-kasus yang berhubungan
dengan sewa tanah pertanian diperiksa oleh satu dari 40 tribunaux
paritaires des baux ruraux, yang anggota-anggotanya juga mewakili
kepentingan tertentu. Keputusan dari semua pengadilan ini biasanya
dapat dimintakan banding ke salah satu Court of Appeal dan selanjutnya
ke Pengadilan Kasasi. Namun, perkara-perkara kriminal yang sangat
berat terlebih dahulu diperiksa di depan juri di salah satu cours d'assises
non-permanen, yang keputusannya bisa langsung dimintakan banding ke
Pengadilan Kasasi.
Pembagian kompetensi di antara pengadilan yurisdiksi umum dan
pengadilan dagang sangat penting. Bila yang merupakan usaha bisnis
(commerqant) hanya tergugat, sering-seringnya penggugat bisa memilih
di antara dua tipe pengadilan itu, sementara commerqant hanya dapat
meng- gugat orang pribadi (private person) di pengadilan yurisdiksi umum.
26

Bila kedua pihak sama-sama commerqant, biasanya pengadilan dagang


memegang yurisdiksi eksklusif.
Prancis juga memiliki sejumlah pengadilan administratif. Keputusan
yang dikeluarkan oleh satu dari 33 tribunaux administratifs itu dapat
dimintakan banding ke satu dari lima cours administratives d'appel.
Tingkat tertinggi dari pengadilan administratif itu ialah tingkat kasasi,
Conseil d'Etat. Conseil d'Etat sekaligus berfungsi sebagai badan kon-
sultasi yang menyediakan opini ahli tentang usulan legislasi. Dalam
kasus-kasus yang amat jarang terjadi ketika muncul konflik yurisdiksi
antara pengadilan yurisdiksi umum dengan pengadilan administratif,
Tribunal des conflits akan memutuskan cara proses hukum yang tepat.
Pengadilan yang bersifat khusus ialah Dewan Konstitusi (Conseil
constituionnel), terdiri dari semua mantan presiden Prancis dan sembilan
anggota tambahan. Contohnya, Dewan Konstitusi dapat menyatakan
bahwa suatu usulan undang-undang bertentangan dengan Konstitusi,
namun Dewan hanya boleh mempertimbangkan perkara itu atas
permintaan Presiden Republik, Perdana Menteri, ketua salah satu dari
dua majelis dalam parlemen Prancis (Senat dan Majelis Nasional), atau
suatu kelompok yang terdiri dari sekurang- kurangnya 60 anggota dari
tiap-tiap majelis tersebut.
Pemeriksaan pengadilan khas Prancis untuk suatu kasus sipil dimulai
dengan pelayangan perintah pemanggilan yang disebut assignation
kepada tergugat (le defendeur). Sesudah itu dimulailah pengajuan
sejumlah dokumen yang menjadi dasar perkara (communication des
pieces) bagi penggugat (le demandeur). Tergugat menjawab panggilan
pengadilan dan mengajukan dokumen-dokumennya dengan cara con-
clusions. Dalam pemeriksaan pengadilan itu sendiri, argumen (plaidories)
dan presentasi lisan pengacara sangat penting; argumen dan presentasi
lisan dianggap menjadi esensi dari profesi pengacara itu sendiri. Saksi-
saksi sangat jarang ada dalam kasus sipil. Pemeriksaan tanya-jawab
kepada saksi dilakukan oleh pengadilan, bukan oleh para pihak atau
27

pengacara mereka. Namun, para pihak atau pengacara mereka boleh


meminta pengadilari untuk mengajukan pertanyaan tertentu kepada saksi.
Dalam situasi ketika fakta sangat tidak jelas, pengadilan Prancis dapat
mempergunakan jasa seorang "pakar" yang diharapkari mampu
mengusut dan menyajikan fakta-fakta perkara secara tidak memihak.
Pakar ini tidak harus seorang pakar dalam pengertian biasa kata tersebut,
yaitu, orang yang memiliki pengetahuan khusus atau kualifikasi khusus
dalam bidang tertentu.

B. Bagan Sistem Peradilan Perancis


28

C. Tugas dan Fungsi Pengadilan Dalam Sistem Peradilan di Perancis


I. Peradilan Umum (Perdata dan Pidana)
Terbagi menjadi 3 tingkatan:
1. Pengadilan Tingkat pertama
2. The Cour d'appel (Pengadilan Banding)
3. The Cour de cassasi (Pengadilan Kasasi)

1. Pengadilan Tingkat Pertama


Peradilan terbagi ke dalam dua kategori pengadilan: (1) pengadilan
sipil (perdata) dan (2) pengadilan pidana. Pengadilan sipil menangani
sengketa (antara pemilik dan penyewa, menceraikan pasangan,
konsumen dan produsen, tentang warisan, dll) tapi tidak memberikan
hukuman. Pengadilan pidana menghukum mereka yang merugikan orang
lain, yang merusak barang orang lain atau yang merugikan masyarakat
pada umumnya.

(1) Pengadilan sipil (Perdata)


a. The tribunal de grande instance
Ini berkaitan dengan sengketa perdata antara orang pribadi
(perorangan atau badan hukum) yang tidak dialokasikan untuk
pengadilan sipil lainnya (seperti pengadilan d'misalnya) dan
sengketa perdata yang melibatkan klaim lebih dari 10.000. Ini
memiliki yurisdiksi eksklusif dalam banyak kasus, terlepas dari
jumlah klaim. Hal ini berlaku dalam kasus-kasus yang menyangkut
keturunan, harta, adopsi, warisan, kepemilikan real properti dan
hukum merek dagang. Secara umum aturan sebagai "kuliah",
dengan tiga hakim profesional (magistrats du Sige atau Hakim
Agung), dibantu oleh registrar. Dalam hal spesialis tertentu, seperti
perselisihan keluarga, atau dalam kasus pidana yang melibatkan
pelanggaran kecil, penghakiman akan, bagaimanapun, akan
diberikan oleh hakim tunggal.
29

b. The tribunal dinstance


The tribunal dinstance adalah pengadilan setempat, yang mudah
untuk mengakses. Ini berkaitan dengan semua kasus perdata yang
melibatkan klaim tidak melebihi 10.000, seperti sengketa yang
berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas jalan, sewa yang belum
dibayar, pengerjaan miskin, klaim untuk kerusakan, dll juga memiliki
yurisdiksi untuk menangani perwalian. Tribunaux d'instance juga
memiliki yurisdiksi untuk menangani deklarasi akuisisi kebangsaan
Perancis dan menerbitkan sertifikat kewarganegaraan Perancis.
Kasus selalu didengar oleh hakim tunggal yang memimpin sidang.
Ia mencapai keputusan sendiri, dibantu oleh registrar pengadilan.
Berperkara tidak perlu dibantu oleh pengacara.

c. The tribunal de commerce


The tribunal de commerce berkaitan dengan sengketa antara
orang pribadi dan pedagang atau antara pedagang dan
perusahaan komersial. Ini juga mengadili sengketa yang berkaitan
dengan transaksi komersial antara perusahaan dan antara individu.
Akhirnya, ia memiliki yurisdiksi untuk memerintah pada
konsekuensi dari kesulitan ekonomi perusahaan komersial dan
pengrajin dengan mengambil tindakan pencegahan atau memesan
proses kolektif. Pengadilan de perdagangan terdiri dari hakim non-
profesional. hakim ini adalah pedagang yang menyediakan layanan
mereka secara sukarela dan yang terpilih selama dua atau empat
tahun oleh pedagang lainnya. bangku harus terdiri dari setidaknya
tiga hakim terpilih.

d. Conseil des prud'hommes


Conseil des prud'hommes mengadili perselisihan pribadi antara
karyawan atau magang dan pengusaha, yang timbul sehubungan
dengan kontrak kerja atau magang. conseil tidak menangani
30

perselisihan kolektif, seperti tentang hak mogok. Ketika suatu hal


disebut tubuh ini, itu pasti akan berusaha untuk mendamaikan
pihak-pihak yang menentang. Jika konsiliasi tidak mungkin, maka
menjadikan penghakiman. Seperti perdagangan tribunaux de, yang
conseils des prud'hommes terdiri dari terpilih hakim non-profesional
yang dikenal sebagai "Conseillers prud'homaux". Mereka mewakili
pengusaha dan karyawan, dengan masing-masing kelompok
memiliki perwakilan yang sama.

(2) Pengadilan pidana


a. The tribunal de police
The tribunal de police, misalnya, mencoba pelanggaran kecil,
seperti pelanggaran perdamaian di malam hari, pelanggaran
tertentu dari Kode Highway, atau serangan kecil. Pengadilan aturan
pada contoh terakhir, yaitu tanpa kemungkinan banding, untuk
pelanggaran paling serius. pengadilan selalu hanya terdiri dari satu
hakim. Ini biasanya seorang hakim dari pengadilan d'misalnya,
yang dibantu oleh registrar.

b. The tribunal correctionnel


The tribunal correctionnel merupakan bagian dari pengadilan de
grande misalnya, mencoba pelanggaran ringan (pencurian,
penipuan, penyalahgunaan, serangan serius, dll). Ini bisa
memaksakan hukuman penjara hingga sepuluh tahun (dua puluh
tahun dalam hal pelanggaran kedua) atau alternatif penjara, seperti
pelayanan masyarakat, hukuman percobaan atau masa percobaan.
Hal ini juga dapat mengenakan denda, atau hukuman tambahan
seperti larangan berolahraga kegiatan profesional, atau suspensi
izin mengemudi individu. Secara umum aturan sebagai "kuliah",
dengan tiga hakim profesional dari pengadilan de grande misalnya,
termasuk hakim ketua. Tertentu pelanggaran kurang serius
31

mungkin, bagaimanapun, akan diadili oleh correctionnel pengadilan


duduk dengan hakim tunggal.

c. The Cour dassises


The cour d'assises mencoba mereka yang dituduh melakukan
kejahatan (pembunuhan, pemerkosaan, perampokan bersenjata,
dll), kejahatan berusaha, dan mereka yang dituduh sebagai
aksesoris. The cour d'assises bukan pengadilan permanen,
biasanya pertemuan setiap tiga bulan selama sekitar dua minggu.
Jenis pengadilan ditemukan di setiap departemen. Komposisi dan
modus operandi yang biasa, karena merupakan satu-satunya
pengadilan yang terdiri dari hakim profesional (tiga) dan juri
(sembilan warga dipilih oleh banyak gambar). kejahatan tertentu
diadili oleh cour d'khusus assises tanpa juri, seperti aksi teroris
tertentu atau tindakan yang berhubungan dengan narkoba.
Penilaian dari cour d'assises dapat mengajukan banding. The cour
d'assises d'appel terdiri dari tiga hakim profesional dan juri dari 12
yang memeriksa kembali seluruh kasus. Keputusan cour d'assises
d'appel mungkin sendiri akan mengajukan banding di Cour de
kasasi.

2. The Cour d'appel (Pengadilan Banding)


Terdiri semata-mata hakim profesional, cour d'appel ulang meneliti
penilaian diberikan di sipil, komersial, pekerjaan atau masalah kriminal.
Ini kembali mengkaji dasar hukum dari penilaian, memeriksa bahwa
tidak ada kesalahan yang telah dibuat dalam hukum, dan terlihat lagi
fakta-fakta dari kasus tersebut. Ini mungkin baik untuk mengkonfirmasi
putusan pengadilan yang lebih rendah, atau sisihkan (yaitu
membatalkan atau merevisi itu) secara keseluruhan atau sebagian.
Dalam kasus terakhir, mencapai keputusan baru pada substansi kasus.
32

Keputusan cours d'appel dapat mengajukan banding ke Cour de


kasasi.

3. The Cour de kasasi (Pengadilan Kasasi)


Cour de kasasi adalah pengadilan tertinggi di Perancis. Itu duduk di
Paris dan memiliki yurisdiksi di seluruh wilayah Prancis. Peradilan di
antaranya itu terdiri untuk memeriksa bahwa keputusan pengadilan
yang lebih rendah konsisten dengan hukum, tetapi mereka tidak
mengucapkan pada fakta-fakta kasus yang dirujuk kepada mereka.
Kasus dirujuk ke Cour de kasasi banding. Proses ini dikenal sebagai
"pourvoi en kasasi" (banding atas poin hukum). Jenis banding dapat
diajukan oleh setiap orang yang telah menjadi subyek dari keputusan
pengadilan atau oleh otoritas penuntutan (Procureur gnral prs la
Cour d'appel - Jaksa Penuntut Umum Kepala Sekolah di Cour d'appel).
Ketika Cour de kasasi menganggap bahwa keputusan menantang
tidak konsisten dengan hukum, keputusan rusak ( "casse"). Kasus ini
kemudian dikirim kembali ke pengadilan yang lebih rendah untuk
dipertimbangkan kembali. Jika tidak, jika Cour de kasasi menemukan
bahwa keputusan menantang konsisten dengan hukum, banding
ditolak, yang berjumlah mengkonfirmasikan keputusan. Kewenangan
penuntutan diwakili oleh gnral Procureur dan Avocats Generaux
(JPU pokok dan menuntut pengacara).

II. Pengadilan Administratif


Pada waktu kerajaan di bawah kekuasaan Raja Hugo Capet
(kurang lebih tahun 967 AC), dibentuk lembaga Curia Regis sebagai
Dewan Raja. Peranan Curia Regis lebih nampak sewaktu Louis le Saint
(12261270) memerintah, yaitu Curia Regis berperan sebagai pembantu
Raja yang diberi wewenang:

1. Memberikan nasihat kepada raja, ketika menetapkan


kebijaksanaan berlakunya jenis mata uang.
33

2. Bertindak sebagai Mahkamah Banding terhadap pulusan-putusan


Hakim di daerah para feodal kecil.
Pada masa mnnarki absolut, Curia Regis itu berubah menjadi
Conseil du Roi sebagai badan penasihat Raja dalam masalah- masalah
pemerinlah, administrasi, dan keuangan. Pada saat Louis XIV
memerintah, ke dalam Conseil du Roi dimasukkan beberapa orang ahli
yang menjalankan fungsi yang berbeda- beda dalam beberapa formasi.
Salah salu formasi itu disebut Le Conseil d'Etatprive oudesparties, yang
diberi tugas yurisdiksional.
Pada tahun 1789 pecahlah Revolusi Perancis yang menentang
kesewenang-wenangan raja. Rakyat menunlut persamaan hak dengan
tidak melihat kedudukan atau keturunan, sehingga limbul semboyan
liberie, egalite dan fraternite (kebebasan, persamaan hak, dan
persaudaraan), Setelah Revolusi Perancis, pada saat kekuasaan
dipegang oleh Napoleon Bonaparte, yang terkenal dengan kodifikasinya
yang disebut Code Napoleon, bangsa Perancis merasa sebagai bangsa
yang paling maju di bidang hukunt, hak dan keadilan. Kemajuan tersebut
meliputi bidang peradilan, karena sistern dan pola peradilan Perancis
banyak diterapkan di berbagai negara Eropa, bahkan sampai Yunani dan
negara-negara Francophone di benua Afrika.
Selanjutnya untuk menghin- darkan kesewenang-wenangan raja
terulang kembali, Napoleon Bonaparte pada taliun 1799 mengubah
lembaga Conseil dn Roi (Dewan Penasihai Raja) menjadi Conseil d'Etat
(Dewan Penasihat Negara), yang bertugas utama memberikan nasihat
kepada pimpinan negara, agar kesewenang- wenangan dalam rangka
menjalankan tugas pemerintahan (administrasi negara) tidak terulang
kembali.
Selanjutnya melalui berbagai perkembangan, antara lain per-
kembangan yang semula berfungsi tunggal sebagai penasihat pimpinan
negara, kemudian berfungsi ganda sebagai penasihat dan berfungsi
34

yudikatif. Akhirnya Conseil d'Etat berfungsi sebagai puncak dari lembaga


peradilan administratif/tribunal administratif.
Perkembangan Conseil d'Etat menjadi puncak dari badan-badan
peradilan administrasi yang muncul sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan
menjalankan suatu pemerintahan yang baik, merupakan suatu
konsekuensi logis dari ketentuan hukum dasar yang berlaku di Perancis
sejak Revolusi yang menjadi pemisah mutlak antar kekuasaan eksekulif
administrasi dengan kekuasaan yudikatif (Trias Politika dari
Montesquieu ).
Untuk menampung pengaduan-pengaduan terhadap pelaksanaan
tugas administrasi, maka di lingkungan Conseil d'Etat dibentuk suatu
Comite de Contentiex (Panitia Perselisihan) yang kemudian berfungsi
dalam bitlang yudikatif. Comite de Contentiex merupakan cikal bakal
lembaga yudikatif dalam bidang administrasi yang bertujuan untuk
menampung pengaduan-pengaduan yang menyangkut bidang
administrasi dan mengusulkan benluk penyelesaiannya. Lembaga inilah
yang mendasari keberadaan Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia
yang dibentuk untuk menyelesaikan dengan seadiLadilnya dan secepat-
cepatnya, berdasarkan hukum yang berlaku sebagaimana sewajarnya
dalam negara hukum, Sengketa antara pemerintah dengan anggota mas-
yarakat yang kemungkinan timbul dalam rangka usaha pemerintah
menata kehidupan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.
Jadi di Perancis, lembaga peradilan administrasi banyak
mememgang peranan dalam kehidupan ketatanegaraan sehari-hari.
Fungsi peradilan administrasi ialah menangani persoalan (hukum) yang
terjadi antara pemerintah di satu pihak dengan warganyadi pihak lain, Hal
ini juga merupakan fenomena yang biasa terjadi di beberapa negara
Eropa Barat, bahkan di benua Afrika seperti misalnya Aljazair dan Maroko
Pengadilan administratif terpisah dari "peradilan" pengadilan (yaitu
perdata dan pidana) dan independen dari layanan sipil. Ada tiga tingkat
yurisdiksi:
35

a. Pengadilan Administratf (administratifs tribunaux),


b. Cours administratives d'appel (Banding)
c. Conseil d'Etat.(Kasasi)

1. Pengadilan Administratif (Tingkat Pertama)


Pengadilan administratif mengadili semua kasus terhadap
tindakan dan keputusan dari berbagai cabang negara, kecuali untuk
kasus-kasus yang secara khusus dialokasikan oleh hukum untuk
pengadilan administratif lainnya, seperti Conseil d'Etat. Lebih khusus
lagi, mengadili kasus terhadap tindakan negara, dewan daerah,
departemen, kota (keputusan kotamadya atau tindakan individu yang
melibatkan pegawai negeri, dll), tindakan untuk kerusakan terhadap
pelayanan publik administrasi dan perselisihan yang berkaitan dengan
kontrak dengan negara (seperti sebagai pekerjaan umum kontrak). Ini
juga memiliki yurisdiksi dalam perselisihan tentang pajak langsung dan
pemilihan kota dan kewilayahan, perselisihan kerja dalam pelayanan
publik dan perselisihan mengenai orang asing yang tinggal di Perancis
mengenai hak tinggal, dll.
Kompetensi Tribunaux Administratifs pada prinsipnya adalah
memeriksa, mengadili, dan memutus sengketa akibat keputusan
pemerintah dan semua kebijakan pemerintahan (publik) yang
merugikan warga masyarakat. Pada intinya objek sengketa
mempersoalkan tentang benar tidaknya, atau sah tidaknya tindakan di
bidang urusan pemerintahan yang didasarkan pada ketentuan hukum
publik. Dalam hal Gugatan menyangkut pembatalan keputusan
pemerintah karena melanggar undang-undang, dan dikabulkan oleh
pengadilan maka pemerintah harus mengambil keputusan baru yang
sesuai dengan undang-undang.
Petitum gugatan dapat berupa tuntutan pembatalan keputusan
dipisahkan dengan tuntutan ganti rugi, atau digabungkan. Dalam hal
keputusan dinyatakan illegal dan dibatalkan, Penggugat atas dasar itu
36

menuntut ganti rugi yang diakibatkan oleh keputusan yang illegal


tersebut. Dalam hal ini Penggugat harus membuktikan fakta-fakta
adanya kerugian yang diderita oleh sebab illegalitas keputusan
tersebut.
Dalam pertimbangan hukum putusan, pertama-tama
dipertimbangkan tentang kesalahan pemerintah di dalam menerbitkan
keputusan. Jika unsur kesalahan di dalam penerbitan keputusan tidak
terbukti, Hakim tidak akan mempertimbangkan hal kerugian. Putusan-
putusan yang terdahulu (yurisprudensi) tidak mengikat secara mutlak.
Hakim administrasi di Perancis dapat memutus berbeda (tidak
mengacu pada yurisprudensi sebelumnya) antara lain dipengaruhi oleh
sebab kondisi atau keadaan yang telah berubah di masyarakat, atau
putusan Counseil d'Etat maupun putusan Cour d'Appel, putusan Uni
Eropa, putusan pengadilan HAM di Strassburg, konvensi internasional
maupun ketentuan hukum Uni Eropa (khususnya di bidang ekonomi
dan sosial) yang kesemuanya mengubah atau berbeda dengan
putusan (yurisprudensi) yang ada sebelumnya.
Bahwa dikenal mediasi dalam kasus tertentu dan ada peraturan
untuk itu, misalnya akan dibuat jalur Kereta Api, pemilik took akan
turun omzetnya karena susah masuk toko, maka mereka akan
menuntut kerugian dari adanya proyek tersebut di Pengadilan
Administrasi. Untuk kasus tersebut dibentuk suatu komisi yang diketuai
Hakim Pengadilan Administrasi, wakil dari Pemerintah dan wakil dari
kuasa dagang. Komisi itu yang menentukan berapa jumlah yang harus
dibayar. Apabila warga tidak menerima putusan komisi, warga dapat
menuntut di Pengadilan Administrasi.
Kemudian misalnya kasus pembebasan tanah yang
menyebabkan tergusurnya sebuah toko. Pemilik toko tentu akan
menderita kerugian akibat pembebasan tanah tersebut dan
mengajukan persoalannya ke pengadilan administrasi. Terhadap
37

kasus tersebut dibentuk komisi dengan susunan Ketua Tribunaux


Administratifs, Wakil Pemerintah dan wakil dari kamar dagang dan
industri. Komisi menentukan besarnya ganti rugi yang harus dibayar
oleh pemerintah kepada pemilik toko. Jika pemilik toko belum puas
dengan yang ditetapkan oleh pemerintah, baru mengajukan gugatan
ke pengadilan administrasi.
Pada prinsipnya semua tindakan pemerintahan yang
didasarkan pada ketentuan hukum publik untuk kepentingan umum
yang merugikan warga masyarakat dapat digugat ke pengadilan
administrasi di Perancis (jadi objek sengketanya adalah menyangkut
tindakan pemerintahan).
Terhadap putusan pengadilan administrasi yang tidak
dilaksanakan oleh pemerintah tanpa alasan yang dapat dibenarkan
secara hukum, dapat dikenakan sanksi pembayaran uang paksa
(astrainte). Mekanismenya dibebankan kepada anggaran pemerintah
(Departemen yang bersangkutan) melalui budget (APBN), dalam hal
ini menjadi tanggung jawab jabatan.
Dalam sistim hukum acara peradilan administrasi di Perancis
tidak mengenai Gugatan dengan mengatasnamakan masyarakat
(actio popularis) sehingga gugatan class action dalam praktek
peradilan administrasi tidak dikenal.
Pada peradilan administrasi Perancis tidak dikenakan biaya
perkara (prinsip proses beracara secara cuma-cuma). Di pengadilan
tingkat pertama tidak diwajibkan gugatan diwakilkan kepada
Pengacara, tetapi sebaiknya memakai Pengacara. Pengadilan dalam
kasus-kasus tertentu dapat memerintahkan agar pemerintah
menyediakan Pengacara terhadap Penggugat dengan biaya
pemerintah.
Semua Hakim pengadilan administrasi di Perancis adalah
pejabat negara. Rekruitmen bagi calon Hakim di Conseil d'Etat
38

diambil dari sepuluh lulusan terbaik LENA (Ecole Nationale


d'Administration), yaitu pendidikan tinggi pasca sarjana atau sekolah
tinggi ilmu administrasi tingkat nasional. Namun dibuka rekruitmen
khusus di luar Ecole Nationale d'Administration, yaitu dengan cara
mengambil ahli adminstrasi pemerintahan yang sudah sangat
berpengalaman bekeija pada departemen-departemen pemerintahan.
Semua hakim administrasi di Perancis ada di bawah Dewan
Negara dan hakim administrasi terpisah dari eksekutif (pemerintah).
Tidak dikenal pola mutasi dan promosi yang berlaku di indonesia,
karena hakim administrasi Perancis tidak bisa dipindahkan kecuali
hakim yang bersangkutan yang meminta untuk dipindahkan.
Panitera Pengganti pada pengadilan administrasi di Perancis
secara organisatoris ada di bawah Dewan Negara dan Departemen
dalam negeri. Jumlah perkara yang masuk di Tribunaux Administratifs
Paris rata-rata 20.000 (dua puluh ribu) pertahun. Di seluruh wilayah
Perancis ada 42 Tribunaux Administratifs (pengadilan administrasi
tingkat pertama).

2. The Cour administrasi d'appel


Dibuat pada tahun 1987, Cour administrasi d'appel
menganggap banding terhadap penilaian dari administratifs tribunaux.
Namun, itu tidak memiliki yurisdiksi untuk mempertimbangkan banding
yang melibatkan penilaian terhadap legalitas pemilihan kota dan
kewilayahan maupun untuk mempertimbangkan banding terhadap
peraturan dengan alasan bahwa otoritas telah melampaui
kewenangannya (ultra vires).
Hanya terhadap perkara biasa yang di tangani oleh majelis
hakim (3 orang hakim) dapat diajukan banding. Terhadap perkara
tertentu yang bersifat ringan dan ditangani oleh hakim tunggal tidak
dapat diajukan banding. Namun adapula perkara-perkara tertentu
39

yang langsung diajukan kasasi. Tentang hal ini diatur dalam ketentuan
hukum acara (undang-undang yang menetapkan yuridiksi materil
pengadilan).
Berbeda dengan Conseil d'Etat, pemeriksaan terhadap
perkaranya oleh Cour d'Appel dilakukan secara judex factie. Dalam hal
ini hakim pengadilan administrasi tingkat banding memeriksa dan
memutus perkaranya berdasarkan fakta dan bukti yang terungkap di
persidangan.
Ada delapan pengadilan administrasi tingkat banding di seluruh
wilayah Perancis. Pada pengadilan administrasi tingkat banding
mengenal sistem kamar, dan pada tiap-tiap kamar mengenal
spesialisasi bidang. Setiap kamar ada lima orang hakim dengan ketua
kamar. Gugatan dan prosedur persidangan dilakukan secara tertulis.
Penggugat harus diwakili oleh penasehat hukum (tidak mengenal
prosedur beracara dengan pihak Penggugat prinsipal di persidangan
meskipun yang bersangkutan dapat menghadiri sidang tetapi bukan
dalam kapasitas sebagai pihak)

3. The Conseil d'Etat


Dibuat pada tahun 1799, Conseil d'Etat mengadili banding
terhadap beberapa penilaian dari administratifs tribunaux, termasuk
sengketa yang berkaitan dengan pemilihan kota dan kewilayahan. Ini
bertindak sebagai "cour de kasasi", terutama untuk banding terhadap
keputusan dari cours administratives d'appel dan pengadilan
administratif. keputusannya tidak tunduk pada banding. Ini juga
memiliki yurisdiksi langsung dalam kasus luar biasa atau penting,
terutama petisi mencari pembatalan keputusan yang dikeluarkan oleh
Presiden Republik atau Perdana Menteri, atau terhadap peraturan
yang dikeluarkan oleh Menteri. Sebagai pengadilan administratif
tertinggi, Conseil d'Etat juga menyarankan pemerintah dengan
40

mengkaji dan mengungkapkan pendapat tentang rancangan undang-


undang dan rancangan keputusan yang paling penting.
Kompetensi absolut peradilan administrasi Perancis meliputi
kewenangan untuk memeriksa, mengadili, dan memutus sengketa
antara warga negara dengan pemerintah oleh akibat pelaksanaan
wewenang pemerintahan yang didasarkan pada ketentuan hukum
publik. Jadi semua sengketa administrasi dalam bidang hukum publik
antara warga negara dengan pemerintah dapat digugat oleh warga
negara ke peradilan administrasi di Perancis.
Peradilan administrasi Perancis berpuncak di Conseil d'Etat.
Di Perancis pada saat ini, terdapat 42 pengadilan administrasi tingkat
pertama (Tribunaux Administratifs) yang semula hanya ada 33
pengadilan dan 8 pengadilan administrasi tingkat banding (Cour
d'Appel) yang semula hanya ada 6 pengadilan.
Pada prinsipnya pemeriksaan terhadap sengketanya
dilakukan oleh majelis hakim (terdiri 3 orang hakim). Terhadap kasus-
kasus yang urgent (memerlukan penanganan cepat karena keadaan
mendesak atau kasus- kasus tidak berat), diperiksa oleh hakim tunggal.
Misalnya, untuk kasus ringan yaitu yang menyangkut SIM.
Untuk kasus yang memerlukan penanganan mendesak karena dalam
waktu 48 jam harus diambil keputusan, yaitu kasus yang menyangkut
deportasi. Conseil d'Etat merupakan badan/organ negara yang
mempunyai dua fungsi:
a. Sebagai badan/organ negara yang melaksanakan fungsi
Penasehat terhadap Pemerintah (Dewan Negara).
b. Sebagai badan/organ yang melaksanakan fungsi peradilan
administrasi tertinggi (Badan Peradilan).

Sebagai Badan Penasehat Pemerintah (Dewan Negara)


Conseil d'Etat memberi pendapat tentang legalitas suatu
Undang- undang dan peraturan perundang-undangan lainnya, dekrit-
41

dekrit negara dan dekrit-dekrit pemerintah. Dalam hal ini misalnya


apakah peraturan perundang-undangan daya berlakunya legal atau
illegal. Pendapat Conseil d'Etat tidak mengikat pemerintah, jadi
pemerintah dapat mengikuti pendapatnya atau mengabaikannya.
Namun demikian jika suatu rancangan undang-undang akan diloloskan
oleh parlemen namun dipersoalkan di Mahkamah Konstitusi, maka
Mahkamah Konstitusi akan meloloskan RUU tersebut menjadi undang-
undang jika ada persetujuan atau pendapat tidak berkeberatan dari
Conseil d'Etat. Apabila Conseil d'Etat berkeberatan, maka Mahkamah
Konstitusi akan membatalkan RUU tersebut.
Bahwa pada tahun 2008 ada revisi konstitusi, "Parlemen bisa
meminta pendapatnya Dewan Negara mengenai RUU yang diajukan
oleh Parlemen, baik itu senat maupun Majelis Nasional. Bahwa
sebagai Hakim Dewan Negara tidak berwenang menilai suatu Undang
Undang itu Konstitusional atau tidak. Pengujian terhadap Undang
undang bukan merupakan kewenangan Dewan Negara, tetapi
kewenangan Mahkamah Konstitusi. Tanggal 1 Maret 2010 ada sebuah
reformasi konstitusi yang akan berlaku karena warga Negara bisa
meminta pengujian ke Mahkamah Konstitusi, sebelumnya warga
Negara tidak bias mengjukan hak uji Undang Undang ke Mahkamah
Konstitusi. Atas dasar itu Conseil d'Etat akan melihat apakah
ketentuan perundang-undangan Perancis yang dipakai sebagai dasar
untuk menetapkan deportasi bertentangan atau tidak dengan
ketentuan Uni Eropa atau ketentuan yang termuat dalam konvensi-
konvensi hukum internasional yang harus dihormati. Warga negara
yang bersangkutan dapat menunjukkan pasal-pasal tertentu di
ketentuan Uni Eropa atau konvensi hukum internasional yang
dilanggar dalam penetapan deportasi yang bersangkutan.
42

Sebagai Badan Peradilan Administrasi Tertinggi


Conseil d'Etat memeriksa mengadili, dan memutus semua
sengketa administrasi publik tingkat terakhir dari segi penerapan
hukum (judex iuris). Putusan Conseil d'Etat bersifat erga omnes
(berlaku dan mengikat secara umum terhadap siapapun). Untuk
kasus-kasus biasa Conseil d'Etat memutus dengan tiga orang hakim
(Majelis Hakim). Untuk kasus-kasus berat, Majelis hakim yang
memutus sengketanya terdiri dari 13 (tiga belas orang), bahkan
terhadap kasus-kasus tertentu yang sangat berat dan sangat kompleks
persoalan hukumnya diputuskan dengan melibatkan keseluruhan seksi
sengketa yang ada (9 seksi) yang kurang lebih berjumlah 15 (lima
belas) hakim. Terhadap kasus- kasus yang bersifat mendesak yang
memerlukan penyelesaian segera di tangani oleh hakim tunggal.
Terhadap sengketa yang diputus oleh Conseil d'Etat dimungkinkan
diajukan catatan oleh pihak yang bersengketa dan dapat diajukan
untuk diproses ulang. Prosedur beracara di Conseil d'Etat dilakukan
secara tertulis. Penggugat harus memberikan kuasa kepada
Pengacara dan kuasa hukum Penggugat tersebut yang berurusan
dengan Hakim dalam persidangan.
Apabila pengadilan administrasi tingkat banding (Cour d'Appel)
menghadapi kasus-kasus tertentu yang berat dan di dalamnya ada
persoalan hukum baru serta ada kesulitan yang luar biasa untuk
memutusnya, pengadilan tersebut dapat minta pendapat hukum
kepada Conseil d'Etat. Conseil d'Etat dapat memberi pendapat hukum
dalam tenggang waktu tiga bulan sejak diajukan. Kelebihan prosedur
ini adalah terhadap perkaranya dapat segera diputus oleh pengadilan
banding dengan tidak perlu berlama-lama sampai di tingkat kasasi dan
ada kesamaan hukum terhadap kasus yang sama. Dalam sistem
peradilan di Perancis menganal "duality of jurisdiction", yaitu ada dua
organisasi kekuasaan kehakiman, dengan sistem peradilan
administrasi yang terpisah dari struktur organisasi peradilan umum.
43

Masing-masing lingkungan peradilan mempunyai yurisdiksi dan


kompetensinya sendiri. Untuk lingkungan peradilan umum di Perancis
berpuncak pada cour de cassation (Mahkamah Agung), dan untuk
lingkungan peradilan administrasi di Perancis berpuncak pada Conseil
d'Etat.
Apabila terjadi sengketa yurisdiksi atau kompetensi mengadili
antara dua lingkungan peradilan tersebut di Perancis ada badan
peradilan yang diberi kewenangan memeriksa dan memutus. Badan
peradilan tersebut dinamakan "Tribunal des Conflits". Badan peradilan
ini bersifat kolegial yang anggotanya berjumlah enam orang hakim
yang berasal dari tiga hakim Cour de Casation dan tiga hakim Conseil
d'Etat, ditambah dua orang Panitera Pengganti yang diambil dari Cour
de Casation dan Conseil d'Etat.
Yurisdiksi atau kompetensi mengadili peradilan administrasi. Di
Perancis semua sengketa administrasi berada di bawah
yurisdiksi/kompetensi peradilan administrasi, termasuk sengketa
administrasi di lingkungan militer (Tata Usaha Militer) di Perancis
diperiksa oleh pengadilan administrasi. Hal ini berbeda dalam sistem
peradilan di indonesia, dimana untuk sengketa Tata Usaha Militer
menjadi kompetensi peradilan militer.
44

BAB III
PERBANDINGAN SISTEM PERADILAN INDONESIA DAN PERANCIS

No. Variabel Indonesia Perancis


1. Sistem Hukum Civil Law (Eropa Kontinental) Civil Law (Eropa Kontinental)
2. Pembagian Eksekutif, Legislatif dan Eksekutif, Legislatif dan
Kekuasaan Yudikatif Yudikatif
3. Bentuk Peradilan 1. Mahkamah Agung: a. Peradilan Pidana
a. Peradilan Umum (Pidana b. Peradilan Perdata (Sipil)
dan Perdata) c. Peradilan Administratif,
b. Pengadilan Khusus termasuk Conseil d'Etat
(Anak, Perikanan,
Hubungan Industrial,
Pajak, HAM)
c. Peradilan Agama
d. Peradilan Tata Usaha
Negara
e. Peradilan Militer
2. Mahkamah Konstitusi
4. Tingkatan a. Mahkamah Agung a. Cour deCassation
Pengadilan b. Pengadilan Tinggi (Pengadilan Kasasi)
c. Pengadilan Negeri b. The Cour d'appel
(Pengadilan Banding)
c. Pengadilan Negeri (Tingkat
Pertama)
5. Jumlah Hakim Pengadilan Menggunakan Hakim Tunggal,
yang memeriksa Umum/TUN/Agama/Mliter: kecuali perkara luar biasa.
perkara Acara Biasa Menggunakan
Hakim Majelis, Cepat/Tipiring
dan Praperadilan dengan
45

Hakim Tunggal.
Mahkamah Konstitusi:
Menggunakan Majelis Hakim
(5-9 Hakim Konstitusi)
6. Model Sistem Mixed type (Due Process Due Process Model
Peradilan Pidana Model dan Crime Control
Model)
7. Penanganan Polisi menjalankan fungsi Polisi bertugas melakukan
Perkara Pidana penyelidikan dan penyidikan, penyidikan, dan dapat
tingkat serta tidak mengenal melakukan perdamaian, serta
Kepolisian penyelesaian di luar didampingi Hakim Pengawas.
persidangan secara damai.
8. Jenis Penyidikan Aquisatoir (Penyidik dan Inquisatoir (Tersangka adalah
Tersangka berkedudukan objek penyidikan, dan
seimbang) memungkinkan diperolehnya
pengakuan plead of guilty )
9. Penangaan Jaksa melakukan penuntutan Penuntut Umum bertugas
Perkara Pidana sesuai dengan hasil melakukan penyidikan (sebagai
Tingkat penyidikan yang supervisor), melakukan
Penuntutan dikoordinasikan dengan Penuntutan, dan pelaksana
(Kejaksaan) Penyidik Polisi, penyidikan eksekusi.
untuk tindak pidana tertentu,
dan bertugas sebagai
eksekutor putusan.
10. Lembaga Kepolisian dan Kejaksaan Kepolisian, Kejaksaan dan
Peradilan Pidana sebagai alat kelengkapan Pengadilan dibawah
negara di bawah Presiden, Kementerian Kehakiman
sedangkan Mahkamah Agung
dan Mahkamah Konstitusi
lembaga setingkat Presiden.
46

11. Cikal bakal Keberadaan lembaga Peradilan Administrasi di


pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara Perancis didirikan sebagai
peradilan TUN di Indonesia adalah sebagai akibat dari kekuasaan raja
tuntutan Negara yang absolut dan kesewenang-
Kesejahteraan (Welfare wenangan raja, sehingga
State) sesuai dengan UUD menimbulkan ketidakpuasan
1945, yang memiliki rakyat terhadap penguasa/raja.
konsekuensi logis adanya Akhirnya raja membentuk
campur tangan pemerintah lembaga penasihat raja, yang
yang begitu besar terhadap pada mulanya memiliki tugas
segala kehidupan utama sebagai penasihat raja,
masyarakat. Campur tangan namun lama kelamaan
yang besar dari pemerintah akhirnya berfungsi ganda
tersebut seringkali sebagai lembaga penasihat
menimbulkan benturan raja sekaligus sebagai lembaga
kepentingan antara yudikatif
kepentingan umum dengan
kepentingan warga negara
sehingga menimbulkan
sengketa. Sengketa tersebut
diatasi melalui lembaga
Peradilan Tata Usaha Negara
yang memang berkompeten
mengenai hal tersebut.
12. Fungsi Peradilan Melakukan kontrol hukum Mencakup kewenangan kontrol
Tata Usaha terhadap tindakan hukum terhadap semua
Negara pemerintahan, akan tetapi sengketa administrasi antara
kompetensi mengadili rakyat dan pemerintah yang
Peradilan TUN dibatasi oleh timbul sebagai akibat dari
undang- undang yaitu hanya tindakan pemerintahan di
sebatas melakukan kontrol bidang hukum publik.
47

hukum dan pengujian


keabsahan terhadap
Keputusan TUN
13. Fungsi 1. Menguji undang-undang Menyarankan pemerintah
Mahkamah terhadap Undang-Undang dengan mengkaji dan
Konstitusi Dasar Negara Republik mengungkapkan pendapat
Indonesia Tahun 1945; tentang rancangan undang-
2. Memutus sengketa undang dan rancangan
kewenangan lembaga keputusan yang paling penting.
negara yang
kewenangannya diberikan
oleh Undang-Undang
Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
3. Memutus pembubaran
partai politik;
4. Memutus perselisihan
tentang hasil pemilihan
umum;
5. Mahkamah Konstitusi wajib
memberikan putusan atas
pendapat DPR bahwa
Presiden dan/atau Wakil
Presiden diduga telah
melakukan pelanggaran
hukum berupa
pengkhianatan terhadap
negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana
berat lainnya, atau
perbuatan tercela, dan/atau
48

tidak lagi memenuhi syarat


sebagai Presiden dan/atau
Wakil Presiden
sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
49

DAFTAR PUSTAKA

Buku-Buku:
Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Simposium Sejarah Hukum.
(Jakarta: Binacipta, 1998).
---------, Simposium Peradilan Tata Usaha Negara. (Jakarta: Binacipta,
1977).
Baharuddin Lopa & Andi Hamzah, Mengenal Peradilan Tata Usaha
Negara. (Jakarta: Sinar Grafika, 1991).
Benjamin Mangkoedilaga, Lembaga Peradilan Tata Usaha Negara suatu
Orientasi Pengenalan (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1993).
Dahnial Khumarga,, Sejarah Hukum Sipil di Indonesia, (Jakarta: Pusat
Studi Hukum Bisnis UPH, 1998).
Dwi Putri Cahyawati, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara
(Jakarta: Gramata, 2011)
Mahkamah Agung RI, Laporan Studi Banding Ke Perancis Tentang
Kompetensi Peradilan Administrasi Kerjasama MARI dan Conseil
detat (Tahun 2009)
National Audit Office, Ministry of Justice: Comparing International
Criminal Justice Systems ( Briefing For The House Of Commons Justice
Committee, 2012)

Michael Bogdan, Pengantar Perbandiangan Sistem Hukuum (Bandung:


Nusa Media, 1994).
Jimly Asshiddiqie dan Ahmad Syahrizal, Peradilan Konstitusi di Sepuluh
Negara (Jakarta: Konstitusi Press, 2006).
Paulus Effendi Lotulung, Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum
terhadap Pemerintah. (Jakarta: PT Buana Ilmu Populer, 1986).
Peter de Cruz, Perbandingan Sistem Hukum: Common Law, Civil Law and
Socialist Law (Bandung: Nusa Media, 2016)
Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Jogjakarta:
Gajah Mada University Press, 2001)
Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana Kontemporer (Jakarta:
Fikahati Aneska, 2009)
50

Sjachran Basah. Laporan Penelitian Peradilan Administrasi Negara.


(Jakarta: Binacipta, 1977).
---------------------, Eksistensi dan Tolak Ukur Badan Peradilan Administrasi
di Indonesia.(Bandung: Alumni, 1985).
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia (Jogjakarta:
Liberty, 1988)
Ministry of Justice, The French Legal System, 2012.
The Judicial of French, in The American Law Registers, 1986
The Judiciary in French, From divine origins to a system administered by
the state (France: Ministere De La Justice, 2008).
Tolib Effendi, Sistem Peradilan Pidana: Perbandingan Kompornen dan
Proses Sistem Peradilan Pidana di Beberapa Negara (Jogjakarta:
Pustaka Yustisia, 2013)

Artikel dan Majalah Internet:


Judiciary of France, www.wikipedia.com
Comparative law and justice France, www.wikiversity.com
French Legal System, www.justice.gouv.fr

Peraturan Perundang-undangan:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara.
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek
Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana
Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 jo. Undang-Undang No. 11 Tahun
2012 tentang Sistem Peradilan Anak
51

Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang 20 tahun 2002


tentang Tindak Pidana Korupsi
Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
Undang-Undang No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama
Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1991 tentang Pelaksanaan
Peradilan Tata Usaha Negara.