Anda di halaman 1dari 37

Konsep Dasar Seni Tari

Seni Tari Tradisi Bengkulu, Seni Tari Nusantara dan

Mancanegara

Dosen Pengampu :

Dwi Anggraini, S.Sn., M.Pd

Disusun Oleh :

Kelompok V

1. Rizqa Dwi Shofiya Maghfira Izzania A1G015054


2. Mugi Lestari A1G015060
3. Ade Agustin A1G015042
4. Verona Elfa A1G015082
5. Diki Afriansyah A1G015048
6. Melisa Sufilcha A1G015024
7. Ita Yulianingsih A1G015072
8. Tiara Yustika A1G015036

i
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2017

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas rahmat dan berkat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Seni Tari Tradisi Bengkulu, Seni Tari Nusantara dan Mancanegara dengan baik.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu persyaratan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Konsep Seni Tari yang bertujuan untuk
memperoleh ilmu pengetahuan pada mata kuliah yang bersangkutan.
Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari akan keterbatasan dan
kemampu-an sehingga kami banyak mendapat masukan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, sudah sepantasnya kami mengucapkan terima kasih kepada Dwi
Anggraini, S.Sn., M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Konsep Seni
Tari yang telah memberikan bimbingan serta masukan kepada kami dalam
menyelesaikan makalah ini.
Sebagai manusia lemah, kami masih membutuhkan berbagai masukan.
Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan
demi penyempurnaan isi dari makalah ini, akan kami terima sebagai input yang
positif.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita sekalian

Bengkulu, September 2017

ii
Kelompok 5

DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul ...................................................................................................... i
Kata Pengantar....................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah....................................................................................... 1
C. Tujuan Masalah........................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Tari Tradisional........................................................................ 2
B. Sejarah Tari Tradisional............................................................................. 4
C. Fungsi Tari Tradisional............................................................................... 5
D. Sejarah Tari Piring di Kota Bengkulu........................................................ 7
E. Fungsi Tari Piring........................................................................................ 7
F. Pakaian, Jumlah Penari dan Gerakan Tari Piring........................................ 8

iii
G. Alat Penari dan Alat Musik Tari Piring....................................................... 8
H. Eksistensi Seni Dendang di Kota Bengkulu............................................... 9

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan................................................................................................. 10
B. Saran........................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 11

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam seni Tari Tradisional ini kami membuat agar semua kalangan-kalangan
remaja ikut berpartisipasi. Karena pada umumnya, tari tradisional ini cukup menyusut
dengan tarian-tarian moderen masa kini. Maka dari itu kami ingin menjelaskan apa
manfaat dari tari tradisional yang begitu kurang akan peminatnya. Banyak sebagian
remaja yang tidak mengetahui apakah makna tari tradisional dan manfaatnya. Selain itu
tari tradisional juga bisa membuat ketertarikan tersendiri bagi remaja-remaja saat ini.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa Pengertian Tari Tradisional?
2. Bagaimana Sejarah Tari Tradisional?
3. Apa Saja Fungsi Tari Tradisional?
4. Bagaimana Sejarah Tari Piring di Kota Bengkulu?
5. Apa Saja Fungsi Tari Piring?
6. Bagaimana Pakaian, Jumlah Penari dan Gerakan Tari Piring?
7. Apa Saja Alat Penari dan Alat Musik Tari Piring?
8. Bagaimana Eksistensi Seni Dendang di Kota Bengkulu?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui Pengertian Tari Tradisional.
2. Untuk Mengetahui Sejarah Tari Tradisional.
3. Untuk Mengetahui Fungsi Tari Tradisional.
4. Untuk Mengetahui Sejarah Tari Piring di Kota Bengkulu.
5. Untuk Mengetahui Fungsi Tari Piring.
6. Untuk Mengetahui Pakaian, Jumlah Penari dan Gerakan Tari Piring.
7. Untuk Mengetahui Alat Penari dan Alat Musik Tari Piring.

1
BAB II
SENI TARI TRADISIONAL

A. Pengertian Seni Tari Tradisional


Seni tari ialah suatu gerak badan yang secara berirama yang dilakukan di tempat
serta waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkap perasaan, maksud serta
pikiran. Menurut Herbert Read seni adalah suatu usaha untuk menciptakan bentuk-
bentuk yang menyenangkan. Bentuk yang demikian itu memuaskan kesadaran
keindahan kita dan rasa indah ini terpenuhi bila kita menemukan kesatuan atau harmoni
dari hubungan bentuk-bentuk yang kita amati itu. Keindahan adalah sesuatu yng dapat
menimbulkan rasa senang dan seni adalah keindahan.
Tari merupakan salah satu bentuk kesenian yang memiliki media ungkap atau
substansi gerak, dan gerak yang terungkap adalah gerak manusia. Gerak- gerak dalam
tari bukanlah gerak realistis atau gerak keseharian, melainkan gerak yang telah diberi
bentuk ekspresif. Gerak ekspresif ialah gerak yang indah, yang bisa menggetarkan
perasaan manusia. Gerak yang di stilir mengandung ritme tertentu,yang dapat
memberikan kepuasan batin manusia. Gerak yang indah bukan hanya gerak-gerak yang
halus saja, tetapi gerak-gerak yang kasar, keras, kuat, penuh dengan tekanan-tekanan,
serta gerak anehpun dapat merupakan gerak yang indah. Gerak merupakan elemen
pertama dalam tari, maka ritme merupakan elemen kedua yang juga sangat penting
dalam tari.
Soedarsono mengetengahkan sebuah definisi Tari adalah ekspresi jiwa manusia
yang di ungkapkan dengan gerak-gerak ritmis yang indah. untuk menghasilkan gerak
yang indah membutuhkan proses pengolahan atau penggarapan terlebih dahulu,
pengolahan unsur keindahannya bersipat stilatif dan distortif.
1. Gerak Stilatif yaitu: gerak yang telah mengalami proses pengolahan (penghalusan)
yang mengarah pada benuk-bentuk yang indah.
2. Gerak Distorsif yaitu: pengolahan gerak melalui proses perombakan dari aslinya dan
merupakan salah satu proses stilasi.
Dari hasil pengolahan gerak yang telah mengalami stilasi dan distorsi lahirlah
dua jenis gerak tari yaitu, gerak murni (pure movement) dan gerak maknawi.

2
1) Gerak murni: dalam pengolahannya tidak mempertimbangkan suatu pengertian
tertentu, yang dipentingkan factor keindahan gerak saja.
2) Gerak maknawi: dalam pengolahannya mengandung suatu pengertian atau maksud
tertentu, disamping keindahannya. Gerak maknawi di sebut juga gerak Gesture,
bersifat menirukan (imitative dan mimitif).
a. Imitatif adalah gerak peniruan dari binatang dan alam.
b. Mimitif adalah gerak peniruan dari gerak-gerik manusia.
Tari merupakan komposisi gerak, berdasarkan bentuknya ada 2 jenis tari yaitu:
1. Tari Representasional yaitu tari yang menggambarkan sesuatu secara jelas. Tari
bersumber pada kehidupan sehari-hari. Contoh: Tari perang, tari tani dll.
2. Tari Non Representasional yaitu tari yang idak menggambarkan sesuatu,
menekankan pada keindahan gerak semata.
Keindahan dalam seni tari tidak hanya pada gerak tubuh, untuk keutuhannya
memerlukan dukungan seni lain sebagai kelengkapan seperti: busana, rias, properti,
musik, tata pentas, drama dan sastra. Sehingga seni tari menjadi bentuk seni yang
komplek, yang mengandung beberapa macam unsur seni.
Pengertian seni menurut para ahli
1. Menurut La Mery tari ialah ekspresi yang berbentuk simbolis dalam wujud yang
lebih tinggi yang harus diinternalisasikan untuk menjadi bentuk yang nyata.
2. Menurut Kamala Devi Chattopadhyaya tari adalah suatu instinct atau desakan
emosi didalam diri kita yang mendorong kita untuk mencari ekspresi pada tari.
3. Menurut Sussanne K. Langer tari adalah gerak ekspresi manusia yang indah.
Gerakannya dapat dinikmati melalui rasa ke dalam penghayatan ritme tertentu.
4. Menurut Corry Hamstrong tari merupakan gerak yang diberi bentuk dalam ruang.
5. Menurut Suryodiningrat tari merupakan gerak dari seluruh anggota tubuh yang
selaras dengan irama musik (gamelan) yang diatur oleh irama yang sesuai dengan
maksud tertentu.
6. Menurut Judith Lynne Hanna tari adalah seni plastis dari gerak yang visual terlihat
sepintas.
7. Menurut Aristoteles tari adalah gerakan ritmis yang bertujuan untuk menghadirkan
karakter manusia, sebagaimana mereka bertindak dan menderita.

3
8. Menurut Suadarsa Pringgo Broto tari adalah ketentuan bentuk-bentuk gerakan
tubuh dan ruang.
9. Menurut Jazuli irama musik sebagai pengiring dapat digunakan untuk
mengungkapkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pencipta tari melalui
penari.
10. Menurut Hawkins tari ialah ekspresi perasaan manusia yang diubah ke dalam
imajinasi dalam bentuk media gerak sehingga gerak yang simbolis tersebut sebagai
ungkapan si penciptanya.
B. Sejarah Tari Tradisional
Kita mengenal banyak jenis Tari, namun tahukah anda bagaimana perjalanan
sejarah dari tari tersebut hingga berkembang menjadi saat ini ? Berikut uraian singkat
tentang perkembangan tari tersebut :
1. Zaman prasejarah adalah zaman sebelum lahirnya kerajaan di Indonesia.Wujud dan
bentuk tariannya cendrung menirukan gerak alam lingkungannya yang bersifat
imitatif. Sebagai contoh menirukan binatang yang akan diburu, pemujaan, dan
penyembuhan penyakit.
2. Zaman Indonesia Hindu, seni tari mulai digarap dan banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan dari India.Beberapa jenis tari pada zaman Indonesia Hindu,seperti tari-
tarian adat dan keagamaan berhasil disempurnakan menjadi tarian yang mempunyai
nilai artistik yang tinggi.Sebagai contoh,Wayang Wong,Klana Topeng,Dramatari
Topeng,dan Wayang Topeng.
3. Zaman Indonesia Islam, seni tari mengalami kejayaan penggarapannya di lingkungan
keraton,yaitu di Kasunanan dan Kasultanan.Kedua kerajaan tersebut
mengembangkan identitasnya yang akhirnya muncul menjadi dua jenis tari,yaitu
Kasunanan (Bedaya Ketawang, Serimpi, Gamyong, Wayang Wong, dan
Langendriyan), dan Kasultanan (Tari Merak, Joget Mataram, Bedaya Semang, dan
Langen Mandrawanara).
4. Zaman Penjajah, tari-tarian mengalami kesuraman sebab dalam suasana penjajahan.
Untuk mengangkat semangat kepahlawanan akibat penjajahan muncul jenis tari
Pejuang, Prajuritan, Bondoyudo, dan Prawiroguna.
5. Zaman Setelah Merdeka sampai Sekarang, perkembangan seni tari kembali mulai
difungsikan, yaitu untuk upacara keagamaan dan untuk hiburan.

4
C. Fungsi Tari Tradisional
Fungsi dan Peranan Seni Tari Sebagai suatu kegiatan, seni tari memiliki
beberapa fungsi, yaitu seni tari sebagai sarana upacara, seni tari sebagai hiburan, seni
tari sebagai media pergaulan, seni tari sebagai penyaluran terapi, seni tari sebagai media
pendidikan, seni tari sebagai pertunjukkan, dan seni tari sebagai media katarsis.
(Wardhana, 1990 : 21-36).
1. Seni tari sebagai sarana upacara
Tari dapat digunakan sebagai sarana upacara. Jenis tari ini banyak macamnya,
seperti tari untuk upacara keagamaan dan upacara penting dalam kehidupan manusia.
2. Seni tari sebagai hiburan
Tari sebagai hiburan harus bervariasi sehingga tidak menjemukan dan
menjenuhkan. Oleh karena itu, jenis ini menggunakan tema-tema yang sederhana,
tidak muluk-muluk, diiringi lagu yang enak dan mengasyikkan. Kostum dan tata
panggungnya dipersiapkan dengan cara yang menarik.
3. Seni tari sebagai penyaluran terapi
Jenis tari ini biasanya ditujukan untuk penyandang cacat fisik atau cacat mental.
Penyalurannya dapat dilakukan secara langsung bagi penderita cacat tubuh atau bagi
penderita tuna wicara dan tuna rungu, dan secara tidak langsung bagi penderita cacat
mental. Bagi masyarakat timur, jenis tarian ini pantangan kerena perasaan iba atau
tak sampai hati.
4. Seni tari sebagai media pendidikan
Kegiatan tari dapat dijadikan media pendidikan, seperti mendidik anak untuk
bersikap dewasa dan menghindari tingkah laku yang menyimpang. Nilai-nilai
keindahan dan keluhuran pada seni tari dapat mengasah perasaan seseorang.
5. Seni tari sebagai media pergaulan
Seni tari adalah kolektif, artinya penggarapan tari melibatkan beberapa orang.
Oleh karena itu, kegiatan tari dapat berfungsi sebagai sarana pergaulan. Kegiatan
tari, seperti latihan tari yang rutin atau pementasan tari bersama, adalah sarana
pergaulan yang baik.
6. Seni tari sebagai media pertunjukkan
Tari bukan hanya sarana upacara atau hiburan, tari juga bisa berfungsi sebagai
pertunjukkan yang sengaja digarap untuk dipertontonkan. Tari ini biasanya

5
dipersiapkan dengan baik, mulai dari latihan hingga pementasan, diteliti dengan
penuh perhitungan. Tari yang dipentaskan, lebih menitikberatkan pada segi
artistiknya, penggarapan koreografi yang mantap, mengandung ide-ide, interprestasi,
konsepsional serta memiliki tema dan tujuan.
7. Seni tari sebagai media katarsis
Katarsis berarti pembersihan jiwa. Seni tari sebagai media katarsis lebih mudah
dilaksanakan oleh orang yang telah mencapai taraf atas, dalam penghayatan seni.
D. Unsur Elemen dan Komposisi Tari Tradisional
Elemen pokok tari adalah gerak. Rodolf laban pakar tari kreatif menyatakan
bahwa gerak merupakan fungsional dari body (gerak bagian kepala, badan, tangan dan
kaki), space (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak atau tingkatan gerak), time
(berhubungan dengan durasi gerak, perubahan sikap, posisi, dan kedudukan), dinamik
(kualitas gerak menyangkut kuat, lemah, elastis dan penekanan gerakan).
a. Ruang
Jika kamu melakukan gerakan di tempat tanpa berdiri berarti melakukan gerak di
ruang pribadi, sedangkan jika kamu bergerak berpindah tempat maka kamu
melakukan gerak diruang umum. Gerak di ruang dapat dilakukan sendiri,
berpasangan atau berkelompok.
b. Waktu
Setiap gerak yang dilakukan membutuhkan waktu baik gerak estesis maupun
gerak fungsional. Gerak fungsional seperti berjalan menuju ke tempat umum tentu
membutuhkan waktu. Jika jarak yang ditempuh dekat maka waktu yang dibutuhkab
lebih sedikit dibandingkan dengan jarak yang jauh. jika jarak yang jauh ingin sama
cepat nya dengan jarak yang dekat tiba ditempat, maka gerak yanf dilakukan
haruslah memiliki kecepatan 2 atau 3 kali dari jarak yang dekat. Perbedaan
cepat atau lambat gerak berhubungan dengan tempo. Jadi, tempo merupakan cepat
atau lambatnya gerak yang dilakukan.
c. Tenaga
Penggunaan tenaga dalam gerak tari meliputi :
1) Intesitas, yang berkaitan dengan kuantitas tenaga dalam tarian yang menghasilkan
tingkan ketegangan gerak.
2) Aksen/tekanan muncul ketika gerakan dilakukan secara tiba-tiba dan kontras

6
3) Kualitas berkaitan dengan cara penggunaan atau penyaluran tenaga.
E. Jenis-Jenis Tari Tradisional Bengkulu
1. Tari Piring
a. Sejarah Tari Piring
Pada awal mulanya sejarah tari piring ini masih rancu di masyarakat, karena
tidak ada sejarah khusus yang menceritakan tentang sejarah tari piring ini sebagai
tari tradisi Bengkulu. Hanya terdapat beberapa anggapan dari para pemuka adat
sekitar mengenai awal mula adanya tari piring di Bengkulu. Tari Piring dipercaya
telah ada sejak sekitar abad ke 12 Masehi, terlahir dari kebudayaan asli masyarakat
Minangkabau di Sumatera Barat. Tarian ini dulunya merupakan tarian persembahan
bagi para dewa yang telah mengkaruniakan hasil panen yang berlimpah selama
setahun. Perlu diketahui bahwa sebelum masuknya Islam, masyarakat Minangkabau
mayoritas masih memeluk Agama Hindu, Budha dan Animisme.
Masuknya Islam ke tanah Sumatera pada abad ke 14 secara tidak langsung ikut
mempengaruhi perkembangan tari piring. Semenjak ajaran Islam mulai dianut oleh
mayoritas masyarakat, peruntukan tari piring pun berubah. Tari Piring bukan lagi
ditujukan sebagai tari persembahan bagi para dewa, melainkan hanya sebagai
tontonan bagi masyarakat. Tarian ini dipertunjukan setiap kali ada acara hajatan
sebagai hiburan semata. Dalam perjalanan sejarahnya, tari piring kontemporer
mengalami banyak pembaharuan, mulai dari musik yang mengiringinya, gerakan,
koreografi hingga komposisi pemain.
Kehadiran tari piring bagi masyarakat Bengkulu pada zaman dahulu
merupakan suatu hal yang sangat menarik. Rasa keingintahuan masyarakat terhadap
suatu benda yang baru muncul menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk
dijadikan properti lain di luar alat makan. Jadi, tari piring tradisi Bengkulu ini
terinspirasi dari tari piring Sumatera Barat. Yang dalam perkembangannya di
Bengkulu di gunakan dalam acara hajatan atau bimbang sebagai bagian dari prosesi
bedendang, yang merupakan tradisi rakyat Bengkulu.
b. Fungsi Tari Piring
Tari piring berfungsi sebagai bagian dari acara bedendang yang biasa
digunakan dalam upacara pernikahan atau keagamaan. Tari piring ini merupakan

7
pertunjukkan yang di lakukan dalam acara bedendang. Selain itu, tari piring juga
digunakan sebagai sarana hiburan, media pergaulan, dan media pendidikan.
Dapat dilihat dari fungsinya bahwa tari piring tradisi Bengkulu ini sebagai
sarana hiburan bagi masyarakat, dimana masyarakat yang tidak tergabung dalam
acara bedendang atau penarinya hanya menikmati tari piring ini sebagai hiburan.
Kemudian, sebagai sarana pergaulan dimana saat dilakukan latihan bedendang
banyak orang-orang yang ikut latihan dan banyak masyarakat yang menontonnya.
Maka hal tersebut, menjadikan pergaulan masyarakat semakin erat dan luas.
Selanjutnya sebagai media pendidikan, kita akan tahu bahwa tradisi itu harus dijaga
agar tidak pudar. Dengan para pemuka adat yang terlibat dalam acara bedendang
mereka akan mengajarkan budaya-budaya dan tradisi yang sudah lama kepada
penerusnya. Ada anak-anak yang di buat kelompok kecil untuk mengikuti latihan
proses bedendang dengan tujuan agar anak-anak dapat belajar mengenai budaya
dan tradisi yang ada di sekitarnya. Dan membentuk penerus-penerus yang akan
menjaga tradisi dan budaya di Kota Bengkulu ini.
c. Pakaian, Jumlah Penari dan Gerakan Tari Piring
Pakaian :
Pakaian yang digunakan dapat dilihat dari simbol adat masing-masing, seperti
memakai baju jas teluk belango, kain sarung dan peci. Tari piring ini hanya boleh
dimainkan oleh pria, untuk wanita itu lebih ke tari kreasinya, yang biasa ditarikan
dari sanggar-sanggar.
Jumlah Penari :
Jumlah penari tari piring tidak mutlak harus berapa, hanya orang-orang yang mahir
menarikan tari piring yang menjadi penarinya. Tetapi biasanya, penarinya
berpasang-pasangan.
Gerakan Tari Piring :
Ada tiga macam gerakan Tari Piring dalam bedendang yaitu :
1. Pertama keluang balik makan
2. Kedua salin piring
3. Ketiga tupai begelut.
d. Alat Penari dan Alat Musik Tari Piring
Alat Penari :

8
Alat yang digunakan penari untuk menarikan tari piring ini adalah piring yang
berukuran kecil, berbeda dengan piring yang digunakan pada tari piring Sumatera
Barat yang menggunakan piring berukuran besar. Selain menggunakan piring ada
sepasang cincin dengan ukuran besar yang di pasang di jari tengah penari yang
akan menimbulkan suara dentingan pada piring yang menambah kesan menarik saat
menari.
Alat Musik :
Musik yang biasa di gunakan pada tari piring ini adalah musik dendang. Dengan
menggunakan alat-alat seperti serunai, gendang dan biola.
2. Tari Sapu Tangan
a. Sejarah Tari Sapu Tangan
Kisah ini adalah cerita rakyat yang berlatar belakang dari suatu cerita nenek
moyang dahulu kala yang perlakuannya adalah suatu pelampiasan dari kata hati
dengan kegembiraan yang di ekspresikan melalui gerak. Oleh masyarakat
pemakainya dijadikanlah suatu tari yang diiringi dengan bermacam alat sebagai
penambah supaya lebih meriah. Tari Saputangan memakai properti saputangan
sebagai tanda dari percintaannya. (wawancara Cawang, dan Dulani pada tanggal 30
Mei 2014).
Tari Saputangan ini sudah turun temurun diturunkan dan penerus yang masih
ada adalah Arsyd Mesatip yang mengajarkan tari Saputangan kepada Saiman dan
beberapa orang lainnya. karena Arsyd sudah tua dan sudah tidak bisa bergerak
dengan kuat maka Saiman dan temannya mewarisi tari Saputangan tersebut. Penari
dalam tari Saputangan ini berjumlah 2 atau 4 orang semuanya laki-laki. Kostum
yang dipakai kain sarung, kemeja/jas, dan tuguak itam. Gerak yang dipakai dalam
tari Saputangan ada empat macam gerak yaitu gerak bepapasan, gerak nyerang,
gerak bimbang dan gerak besanding.Tempat pertunjukan tari Saputangan di atas
pengujung yang telah dibuat di halaman rumah tuan rumah yang mengadakan acara
Bimbang Adat.
Dahulunya Tari Saputangan dilaksanakan dalam upacara seperti : memotong
rambut, mendiami rumah baru, sunat rasul, Bimbang Adat dan hari-hari besar
nasional lainnya. Akan tetapi sekarang ini sangat disayangkan tari Saputangan
hanya ditampilkan pada acara Bimbang Adat dan tidak ada ditampilkan di upacara

9
lainnya. Tari Saputangan telah banyak berkurang frekuensi penggunaannya sejak
tahun 2003 karena harus bersaing dengan tari modern yang bergaya hip-hop, disco,
musik organ tunggal dan sebagainya. Masyarakat sekarang tidak banyak yang ingin
mempertahankan apa yang mereka miliki, padahal kesenian merupakan kekayaan
warisan nenek moyang yang harus dipertahankan. Apabila kesenian itu hilang maka
daerah tersebut tidak memiliki kekayaan yang melambangkan ciri khas daerah
tersebut. (wawancara Saiman pada tanggal 30 Mei pukul 20.00 WIB)
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa tari Saputangan merupakan tari
tradisional yang harus dijaga dan dilestarikan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian
tentang tari Saputangan agar tidak hilang ditelan zaman yang salah satu caranya
yaitu dengan mendokumentasikan dalam bentuk tulisan. Dalam tulisan ini akan
ditinjau dari Bentuk Penyajian Tari Saputangan dalam Bedindang pada acara
Bimbang Adat Di kota Manna Kabupaten Bengkulu Selatan.
Teori yang digunakan adalah Menurut Smith (dalam Soeharto, 1985 : 34),
bahwa Melihat tari, penonton tak ingat setiap gerak dan urutannya, tetapi
mengingat kesan keseluruhan yaitu wujud, apakah melingkar pada pemulaan,
mempunyai daya pikat pada pengembangan sampai klimaks, pesan pokok yang
disampaikan dan bagaimana orisinalitas sehingga begitu menarik dilihat dari
keseluruhan.
Bentuk Penyajian adalah bentuk pertunjukan tari dapat diartikan sebagai wujud
rangkaian gerak yang disajikan dari awal hingga akhir pertunjukan.
Dengan demikian, untuk melihat bentuk penyajian tari, perlu dijelaskan
elemen-elemen dari bentuk penyajian tari. Dalam hal ini akan digunakan elemen-
elemen komposisi tari seperti yang diungkapkan Soedarsono (1977 : 40-41) bahwa
Apabila diperinci, ada cukup banyak elemen-elemen komposisi tari yang
harus diketahui, yaitu : gerak, desain lantai atau floor desaign, desain atas atau air
desaign, desain musik, desain dramatik, dinamika, koreografi kelompok atau group
choreography, tema, risa dan kostum, properti tari, pementasan atau staging, tata
lampu dan penyusunan acara.
Dalam penampilan sebuah tari, perwujudan susunan gerak, desain lantai,
desain musik adalah bentuk yang merupakan hal pokok dalam pertunjukan.
Sedangkan agar bentuk tersebut lebih sempurna dalam penyajiannya, maka terdapat

10
perlengkapan-perlengkapan yang mendukung sebuah tari tersebut, yaitu : kostum,
tata rias, properti, tempat pertunjukan, dan tata lampu atau lighting.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis akan membahas lebih lanjut mengenai
: gerak, desain lantai atau floor design, penari, musik, tata rias dan busana, properti
dan tempat pertunjukan.
Tari Saputangan dalam bedindang pada acara Bimbang Adat di Kota Manna
Kabupaten Bengkulu Selatan merupakan tari tradisional di daerah tersebut. Tari
Saputangan ini dilakaukan pada malam hari sesudah acara akad nikah pada siang
harinya. Tari Saputangan ini dimulai pada pukul 20.00 WIB. Tari Saputangan ini
merupakan tari kedua setelah tari Lemas. Tari Saputangan ini ditarikan di atas
pengujung, awalnya penari mengambil Saputangan yang di sediakan oleh panitia
setelah itu penari berjalan ke tengah pengujung dengan membentuk pola lantai
persegi dengan penari saling berhadapan berpasangan. Selanjutnya pemusik
memainkan rabana dan biola bersamaan penari menarikan tari Saputangan tersebut.
Selama menari penari membentuk bermacam pola lantai setelah selesai penari
berbaris membentuk posisi horizontal dengan salam penutup. Bentuk Penyajian tari
Saputangan akan membahas tentang gerak , desain lantai atau floor design, penari,
musik, tata rias dan busana, properti dan tempat pertunjukan.
b. Unsur Tari Sapu Tangan
1) Gerak
Tari Saputangan mengandung gerak yang ada silatnya yang sama-sama
memperlihatkan kepandaiannya dalam gerakan. Nama-nama gerakan tari
Saputangan ini adalah gerak bepapasan, gerak nyerang, gerak bimbang, , dan
gerak besanding
2) Penari
Tari Saputangan ini ditarikan oleh laki-laki. Penari yang menarikan tari
Saputangan ini sudah berumur diatas 30 tahun. Sebenarnya yang boleh
mempelajari tari ini dari umur 15 tahun ke atas.Akan tetapi anak laki-laki zaman
sekarang tidak ada yang mau mempelajari tari tersebut. Penari tari Saputangan ini
berjumlah genap 2 orang atau 4 orang laki-laki.
3) Musik

11
Musik yang dipakai dalam tari Saputangan adalah music eksternal karena
diringi oleh alat-alat musik biola dan rabana. Tempo musik yang digunakan yang
pertama sedang dan akhirnya tempo musiknya menjadi cepat. Dendang yang
dipakai dalam tari Saputangan ini adalah dendang lagu duau. Dendangnya berisi
pantun. Dendang yang di lantunkan tidak tetap pada setiap tari Saputangan karena
isi dendangnya di lantunkan secara spontan oleh pendendangnya.
4) Busana dan Tata Rias
Penari maupun pemusik tari Saputangan ini memakai pakaian yang rapi
seperti kain sarung, kemeja, tuguak (peci warna hitam) dan jas boleh dipakai
boleh tidak. Penari tidak menggunakan alat make up karena penari merupakan
karakter laki-laki yang menunjukan ketegasan laki-laki itu sendiri, bagi orang
terdahulu alat make up hanya dipakai bagi kaum wanita saja.
5) Properti
Tari Saputangan ini memakai properti yakni saputangan atau yang dikenal
dengan nama serbet kain. Dengan Saputangan menambah keindahan dan ekspresi
gerak dengan beberapa bentuk saputangan dalam gerak tari Saputangan. Bentuk
saputangan seperti saputangan berbentuk segitiga (saputangan dilipat dua hingga
membentuk ssegitiga). Saputangan digerakan ke kiri ke kanan, diputar, dan di
ayun-ayunkan. Saputangan dipakai property sebagaimana dikatakan manfaatnya
sebagai keperaktisan sehingga mudah digerakkan dalam tari Saputangan.
6) Tempat dan Waktu Pertunjukan
Di Kota Manna Tempat pertunjukan tari Saputangan di halaman rumah tuan
rumah pengantin putrid yang dibuat tersendiri yang dinamai pengujung.
Pengujung inilah arena yang akan dilalui penari dalam Bedindang. Pengujung
dibuat di halaman rumah pengantin di tempat terbuka agar penonton dapat
menyaksikan secara langsung, sehingga dapat menghibur para tamu dan
menggambarkan kegembiraan pengantin.
3. Tari Kejei
Tari Kejei merupakan kesenian rakyat Rejang yang dilakukan pada setiap
musim panen raya datang. Tarian Kejei tersebut dimainkan oleh para muda-mudi di
pusat-pusat desa pada malam hari di tengah-tengah penerangan lampion. Kekhasan
tari ini adalah alat-alat musik pengiringnya terbuat dari bambu, seperti kulintang,

12
seruling dan gong. Tarian dimainkan sekelompok orang yang membentuk lingkaran
dengan berhadap-hadapan searah menyerupai jarum jam. Tarian ini pertama kali
dicatat oleh seorang pedagang Pasee, bernama Hassanuddin Al-Pasee yang
berniaga ke Bengkulu pada tahun 1468. Tapi, ada pula keterangan dari Fhathahillah
Al Pasee, yang pada tahun 1532 berkunjung ke Bengkulu.
Tari Kejei dipercaya sudah ada sebelum kedatangan para biku dari Majapahit.
Sejak para biku datang, alat musiknya diganti dengan alat dari logam, seperti yang
digunakan sampai saat ini. Acara kejei dilakukan dalam masa yang panjang, bisa
sampai 9 bulan, 3 bulan, 15 hari atau 3 hari berturut-turut. Tari ini adalah tarian
sakral yang diyakini masyarakat mengandung nilai-nilai mistik,sehingga hanya
dilaksanakan masyarakat Rejang Lebong dalam acara menyambut para biku,
perkawinan dan adat marga. Pelaksanaan tari ini disertai pemotongan kerbau atau
sapi sebagai syaratnya.
a. Kegunaan Tari Kejei
Tari kejei ini biasanya digunakan untuk merayakan pernikahan, khitanan,
panen raya, dan kegiatan-kegiatan lain yang berbau kedaerahan.
Pada saat pernikahan, pengantin pria dan wanita dianjurkan untuk mengikuti
tarian ini. Pengantin berada di tengah-tengah para penari, tepatnya berada diposisi
ketiga jika jumlah penarinya ada 4 orang .
b. Sejarah Tari Kejei
Tari Kejei adalah tarian yang paling terkenal di daerah Rejang Lebong dan
merupakan tarian yang sakral. Gerakan tarian ini sangatlah sederhana, dan berbeda
dengan gerakan tarian pada umumnya. Gerakan tari Kejei ini tidak boleh terlalu
gemulai untuk penari wanitanya, sedangkan untuk penari prianya haruslah
menunjukan kegagahan. Mungkin dalam 3 kali latihan kita sudah hafal semua
gerakan tarian ini.
Tarian ini di bawakan oleh para pemuda dan pemudi yang tidak dalam satu
suku. Sebelum dan sesudah menampilakan tari Kejei, di adakan ritual terlebih
dahulu, yaitu pemotongan tebu hitam dan diberikan langir yang telah diberikan
mantra oleh seorang sesepuh sebelum memulai tarian. Ada beberapa mitos yang
berkembang tentang tarian ini, yaitu: penari haruslah remaja dalam keadaan perjaka
dan perawan. Jika ada salah satu dari penari tidak perjaka atau perawan lagi, maka

13
kulintang sebagai alat music pukul sederhana yang mengiringi tarian tersebut akan
pecah.
Penulis masih teringat cerita dari guru kesenian di SMA sekaligus sebagai
pelatih penari kami. Pada saat itu beliau mencoba merubah gerakan tarian daerah
tersebut dengan menambahkan dengan tarian kreasi dan diberi nama tarian
Raflesia, tetapi pada saat penampilannya, salah satu penari wanita mengalami
kesurupan, dan akhirnya meminta tumbal seekor ayah hitam yang dipotong
kemudian diletakkan di bukit Kaba.
Bukan hanya itu, beliau juga pernah mendapatkan pengakuan dari salah satu
penarinya. Setelah selesai tampil menari, dia mengaku tidak merasa melakukan
gerakan-gerakan tarian, tetapi badannya terasa digerakan oleh makhluk halus. Dan
ternyata wanita tersebut melanggar salah satu syarat dalam melakukan tarian ini,
yaitu haruslah dalam keadaan suci.
Dibalik misteri dari tarian ini, ternyata pada saat ini masih ada perbedaan
gerakan tarian dari setiap kelompok atau sanggar tari. Walau pun pada dasarnya
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong telah menetapkan
gerakan-gerakan yang terdapat pada tari Kejei ini.
c. Alat Music Pengiring Tari Kejei
Gong, kulintang, dan redap merupakan alat music khas tradisional suku
Rejang, yang dari jaman dahulu kala sudah di pakai pada music pengiring tarian
sakral dan agung suku Rejang, yaitu tari kejei dengan keterangan satu buah gong, 5
buah kulintang dan satu buah redap.
Ke-3 alat music tradisional tersebut sangat penting perannya dalam tarian kejei,
oleh sebab itu sebelum dimulai tariannya, oleh suku Rejang gong, kulintang, dan
redap tersebut disaratkan dalam ritual te muun gung klintang.
Adapun music pengiring tari Kejei yang telah disepakati oleh BMA Rejang
Lebong menggunakan salah satu dari tujuh lagu tarian Kejei atau gabungan dari
beberapa lagu rejang yang disepakati, antara lain:
i. Ombak laut
ii. Tupai melompat
iii. Siamang balik bukit
iv. Percang naik tebing

14
v. Kumbang mengharap bunga
vi. Burung klating
vii. Diwo menimbang anak
d. Pakaian Penari
Pakaian yang dikenakan oleh penari pria berupa:
i. Baju jas belango warna hitam
ii. Celana dasar hitam
iii. Penutup kepala yang disebut dengan cekulew
iv. Selempang dari kanan ke kiri
v. Songket
vi. Kris
Untuk pakaian yang dikenakan penari wanita berupa:
i. Baju kurung beludru warna merah yang ditabur logam warna kuning emas
ii. Mengenakan songket
iii. Selendang
iv. Motif bagian bawahnya berbentuk pucuk rebung
v. Sungting goyang dan cempaka harus ganjil
vi. Mengenakan gelang
vii. Kemudian burung-burung
e. Balie Kejei
Balie Kejei adalah tempat yang dibuat khusus untuk tempat pelaksanaan semua
profesi kejei. Balai Kejei pada zaman dahulu didirikan kurang lebih seminggu
sebelum acara itu sendiri dimulai, dibuat secara gotong royong. Ukuran balai
6x8m.
Setelah balai kejei selesai didirikan, tugas diserahkan pada tuwei batin istilah
dalam bahasa rejangnya semreak kumat dan untuk bidang tugas diluar balai
kejei diserahkan kepada ginde dusun/desa bersangkutan tempat Kejei diadakan.
Dan terdapat sebuah meja yang diletakkan di tengah untuk diputari oleh para
penari pada saat tarian dimulai. Meja tersebut disebut dengan penei.
Meja penei bukanlah sebuah meja kosong biasa. Penei merupakan lambang
dari kemakmuran, yang terdiri dari:
1. Pisang emas setandan

15
2. Sirih beserta gagangnya
3. Pinang beserta gagangnya
4. Daun setawar beserta batangnya
5. Daun sedingin beserta batangnya
6. Buah kundur
7. Tebu sebatang panjang
8. Penyeluwang beserta batangnya
9. Beronang tanjak pane tanjak
10. Teleng (tampa)
11. Ambin dogan atau selendang cele
12. Tombak kojoa, pedang, sewar atau keris sebagai lambing keamanan
13. Payung agung sebagai lambang perlindungan, dan disusun di atas meja, pada
meja terdapat
a. Bakul sirih
b. Bueak minyak
c. Lampu dammar kurun
d. Talam berisi beras dan gula merah
e. Perasapan dan sesajenan
f. Ayam jantan monok biing
4. Tari Ganau
Tari Ganau dari Bengkulu, merupakan tarian yang diiringi dengan musik.
Didominasi oleh iringan musik tradisional Bengkulu seperti mandolin, rebab dan
kendang serta lagu dengan irama melayu.
Tarian tradisional Ganau ini dimainkan oleh sekelompok penari wanita dan
laki-laki. Dimulai dengan tempo gerakan yang lambat diakhiri dengan gerakan
yang cepat dan menghentak-hentak. Gerakan tangan, serta melompat dan formasi
yang harmonis dengan iringan musik merupakan ciri khas yang dari tarian ini
5. Tari Persembahan
Penyambutan di Inspirasi Tari Kejai yang sakral dan Agung di Tanah
Rejang. Tari Persembahan Penyambutan Tamu adalah Tari Kreasi Baru yang diatur
sedekat mungkin dengan Tari Kejai. Terinspirasi oleh tari Kejai karena Suku

16
Rejang sendiri jaman dahulu tidak mempunyai Tari Penyambutan, di jaman dahulu
penyambutan tamu dilakukan dengan upacara adat.
Tari Kejai adalah tarian sakral dan agung, sehingga sangat pantas untuk di
persembahkan untuk Penyambutan Tamu, seperti Pejabat Tinggi Negara, Menteri,
Bupati yang berkunjung ke Tanah Rejang, atau pada even-even lain yang bersifat
ceremonial, seperti pada acara penyambutan piala Adipura yang tiba di Kota Curup
tanggal 7 juni lalu. Jumlah penari tidak dibatasi,sesuai dengan tempat,bisa putra
bisa pula putri, bisa juga berpasangan. Di Rejang Lembak Tari Penyambutan
disebut Tari Kurak, namun dalam pembahasan disepakati menggunakan Tari
Penyambutan yang telah dibakukan. Musik yang mengiringi Tari Penyambutan di
inspirasi oleh tarian sakral dari Tanah Rejang, musik dan alat musik Tari
Penyambutan memakai alat musik khas tradisional Suku Rejang, yaitu gong dan
kalintang, yang dari jaman dahulu kala di pakai pada musik pengiring tarian sakral
dan agung Suku Rejang yaitu Tari Kejai. Pada umumnya dipakai irama lagu Lalan
belek dan Tebo Kabeak.
6. Tari Lanan Belek
Tari ini diangkat berdasarkan cerita rakyat tentang seorang bidadari yang
terpaksa tertinggal, karena saat lagi mandi bersama-sama temannya yang lain
selendangnya diambil orang. Suatu saat selendangnya ditemukan kembali dan
bidadari tersebut kembali pulang meninggalkan si pemuda yang mendendam.

17
BAB III
SENI TARI NUSANTARA

A. Pengertian Seni Tari Nusantara


B. Jenis-Jenis Seni Tari Nusantara
1. Tari Cokek dari Daerah Tangerang

Tari Cokek adalah seni pertunjukan yang berkembang pada abad ke 19 M di


Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. Tarian ini dimainkan oleh sepuluh orang
penari wanita, dan tujuh orang laki-laki pemegang gambang kromong, alat musik
yang mengiringinya. Alunan musik gambang kromong merupakan hasil kombinasi
suara yang ditimbulkan oleh rebab dua dawai, suling, kempul, gong, kendang dan
kecrek.

2. Tari Seudati dari Daerah Istimewa Aceh

Tari Seudati, berasal dari Arab dengan latar belakang agama Islam. Sebuah
tarian dinamis penuh keseimbangan dengan suasana keagamaan. Tarian ini sangat
disenangi dan terkenal di daerah Aceh. Tari Seudati adalah nama tarian yang
berasal dari provinsi Aceh. Seudati berasal dari kata Syahadat, yang berarti saksi /
bersaksi/pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad
utusan Allah.

3. Tari Legong dari Daerah Bali

Legong merupakan sekelompok tarian klasik Bali yang memiliki


pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh
pengiring yang konon merupakan pengaruh dari gambuh. Kata Legong berasal dari
kata "leg" yang artinya gerak tari yang luwes atau lentur dan "gong" yang
artinya gamelan. "Legong" dengan demikian mengandung arti gerak tari yang
terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang
dipakai mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.

4. Tari Andun dari Daerah Bengkulu

Tari Andun merupakan salah satu tarian rakyat yang dilakukan pada saat pesta
perkawinan. Biasanya dilakukan oleh para bujang dan gadis secara berpasangan

18
pada malam hari dengan diringi musik kolintang. Pada zaman dahulu, tari andun
biasanya digunakan sebagai sarana mencari jodoh setelah selesai panen padi.
Sebagai bentuk pelestariannya, saat ini dilakukan sebagai salah satu sarana hiburan
bagi masyarakat khususnya bujang gadis.

5. Tari Selampit Delapan dari Daerah Jambi

Tari Selampit Delapan merupakan tari tradisional yang berasal dari Provinsi
Jambi. Tari ini pertama kali diperkenalkan oleh M. Ceylon ketika bertugas pada
Dinas Kebudayaan Provinsi Jambi pada tahun 1970-an. Dalam perkembangannya,
tari tersebut kemudian ditetapkan menjadi salah satu tarian khas Provinsi Jambi.

6. Tari Reog Ponorogo dari Daerah Jawa Timur

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian
barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Reog
adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-
hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Reog modern biasanya
dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari
besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3
tarian pembukaan. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang
tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya
pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton.

7. Tari Cakalele dari Daerah Maluku

Tarian Cakalele atau tarian kebesaran adalah tarian perang yang saat ini lebih
sering dipertunjukan untuk menyambut tamu agung maupun untuk acara yang
bersifat adat. Cakalele merupakan tarian tradisional Maluku yang dimainkan oleh
sekitar 30 laki-laki dan perempuan. Para penari cakalele pria biasanya
menggunakan parang dan salawaku sedangkan penari wanita menggunakan lenso
(sapu tangan). Cakelele merupakan tarian tradisional khas Maluku.

8. Tari Tanggai dari Daerah Sumatera Selatan

Tari tepak atau tari tanggai yang biasa digelarkan untuk menyambut tamu-tamu
terhormat. Tarian ini memiliki persamaan dengan tari Gending Sriwijaya.
Perbedaannya pada jumlah penari dan busananya. Tari tepak atau tanggai

19
dibawakan oleh 5 penari sedangkan tari Gending Sriwijaya 9 penari. Tari Tanggai
sering dipergunakan dalam acara pernikahan masyarakat Sumatera Selatan, acara-
acara resmi organisasi dan pergelaran seni di sekolah-sekolah. Sanggar-sanggar
seni di kota Palembang banyak yang menyediakan jasa pergelaran tarian tanggai
ini, lengkap dengan kemewahan pakaian adat Sumatera Selatan.

9. Tari Topeng dari Daerah Betawi

Tarian Topeng, salah satu khazanah budaya di Indonesia. Jakarta merupakan


hasil perpaduan antara budaya masyarakat ada di dalamnya. Tari Topeng adalah
visualisasi gerak, yang dibuat nenek moyang tanpa melalui konsep. Ada pengaruh
budaya Sunda, namun memiliki ciri khasnya berupa selancar. Para penarinya
menggunakan topeng yang mirip dengan Topeng Banjet Karawang Jawa Barat,
namun dalam topeng betawi memakai bahasa Betawi. Dalam topeng betawi sendiri
ada tiga unsur: musik, tari dan teater.

10. Tari Serampang Dua Belas dari Daerah Sumatra Utara

Tari Serampang Dua Belas merupakan salah satu dari sekian banyak tarian
yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang di Kabupaten Serdang Bedagai
(dahulu Kabupaten Deli Serdang). Tari ini merupakan jenis tari tradisional yang
dimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesan tentang perjalanan kisah
anak muda dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai memasuki tahap
pernikahan.

11. Tari Tor-Tor dari Daerah Batak

Tari tor-tor adalah tarian yang gerakannya se-irama dengan iringan musik
(Margondang) yang dimainkan dengan alat-alat musik tradisional seperti gondang,
suling, terompet batak, dan lain-lain. Menurut sejarahnya tari tor-tor digunakan
dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh, dimana roh tersebut dipanggil
dan "masuk" ke patung-patung batu (merupakan simbol dari leluhur), lalu patung
tersebut tersebut bergerak seperti menari akan tetapi gerakannya kaku. Gerakan
tersebut meliputi gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

20
12. Tari Jaipong dari Daerah Jawa Barat

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang
seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang
salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul
perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau
Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam
gerak minced dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk
mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Tari jaipong atau yang sering disebut dengan "Jaipongan" adalah sebuah tarian
tradisonal yang menampilkan suatu jenis tarian dan musik yang merujuk dari
kekayaan seni di indonesia, khususnya Jawa Barat. tari jaipong ditemukan
oleh Gugum Gumbira, seorang seniman asal kota kembang Bandung sekitar tahun
1960-an.

Jaipongan adalah tarian yang digunakan oleh masayarakat untuk bergaul, tari
ini juga disebut sebagai tari Pergaulan masyarakat sunda. tari ini semakin
berkembang dan terus dikembangkan, hingga akhirnya tarian ini dapat diterima
oleh masyarakat dan populer di mata masyarakat sejak tahun 1970-an.

Seni pertunjukan tarian ini merupakan sebuah tarian yang sangat populer
dengan sebutan Perkembangan Ketuk Tilu, karena memang sebenarnya tarian ini
merupakan tarian yang di rajut dari Ketuk Tilu yang di kembangkan hingga
akhirnya diberi nama Tari Jaipong (Jaipongan). Adapun ciri khas yang sangat
kental dapat dilihat dari tarian ini yaitu tarian yang sederhana alami dan apa adanya,
dilakukan dengan spontanitas, serta tarian ini menampilkan keceriaan, erotis,
humoris dan tentunya semangat yang luar biasa, hal ini dapat kita lihat secara
langsung dari pertunjukannya.

Meski tarian ini tergolong dalam golongan tarian yang masih berusia muda
tarian ini sudah dapat menjadi tarian resmi asal Jawa Barat yang sudah sering di
gunakan pada saat upacara-upacara penyambutan tamu dari negara asing.

21
13. Tari Klasik Keraton Surakarta dari Jawa Tengah

Disebut sebagai tari klasik Surakarta karena bersumber pada tradisi budaya di
lingkungan kraton. Semua gerakan baik itu tangan, kaki, badan maupun kepala
memiliki aturan sendiri-sendiri. Gerakan tertentu bahkan memiliki filosofi yang
sarat pesan, tidak sekedar melambangkan sebuah aktivitas. Belum lagi pakaian
yang harus dikenakan dan musik yang mengiringi. Unsur-unsur itulah yang
membuatnya berbeda dengan tari-tarian rakyat yang bersumber pada ekspresi
masyakarat tempat dimana tarian itu berkembang. Menikmati tari klasik jawa di
tempatnya dilahirkan, ibarat menjadi bangsawan di masa kerajaan.

14. Tari Serimpi dari Jawa Tengah

Tari Serimpi adalah jenis tarian tradisional Daerah Jawa Tengah. Tarian ini
diperagakan oleh empat orang penari yang semuanya adalah wanita. Jumlah ini
sesuai dengan arti kata serimpi yang berarti 4. Menurut Kanjeng Brongtodiningrat,
komposisi empat penari sebagai simbol dari empat penjuru mata angin yakni Toya
(air), Grama (api), Angin(udara) dan Bumi (tanah). Sedangkan nama peranannya
adalah Batak, Gulu, Dhada dan Buncit yang melambangkan tiang Pendopo.

Nama serimpi sendiri oleh Dr. Priyono dikaitkan dengan akar kata impi atau
mimpi. Gerakan lemah gemulai tarian serimpi yang berdurasi hingga 1 jam itu
dianggap mampu membawa para penonton ke alam lain (alam mimpi). Konon,
munculnya tari Serimpi berawal dari masa kejayaan Kerajaan Mataram, saat Sultan
Agung memerintah antara 1613-1646. Dan tarian ini dianggap sakral karena hanya
dipentaskan dalam lingkungan keraton sebagai ritual kenegaraan hingga peringatan
Naik Takhta Sultan.

15. Tari Barong dari Bali


Tari Barong adalah tarian khas Bali yang berasal dari khazanah kebudayaan
Pra-Hindu. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan
kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan
kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh
Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.

22
Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di
antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan, Barong Landung.
Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan
wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian
cukup lengkap.

Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa,


harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-
potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan.
Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari
mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong,
sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor
Barong.

Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa
dipertunjukkan oleh masyarakat Cina. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam
pertunjukan ini berbeda, yaitu cerita pertarungan antara Barong dan Rangda yang
dilengkapi dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti,
Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda.

16. Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi itu diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku
Buwono X setahun setelah dinobatkan menjadi raja Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat. Karya seni tari yang dicukil dari serat Pararaton itu mengkisahkan
pergulatan asmara serta kepemimpinan yang dipersembahkan Sultan HB X untuk
mengenang ayahanda, Sri Sultan HB IX. Pergelaran tari itu memperlihatkan gerak
dan penataan koreografis tanpa cacat dalam menggambarkan kisah Ken Arok dan
sangPradnya Paramitha Ken Dedes di sebuah masa yang berbunga dan padat politik
kerajaan itu. Menari memang tak hanya sekedar menghafal gerak. Menari adalah
efek ekspresi jiwa, sehingga dengan begitu seluruh tubuh jumbuh, menyatu dalam
sebuah kesatuan gerak. Gerakan tubuh bukan sekedar interprestasi dari fisik
semata-mata, tapi juga batin. Roso. Perasaan. Memang ada sebuah motif di sana.
Pemerintahan Sang Amurwabhumi agaknya mengusahakan harmoni antara

23
kepercayaan Hindu dan Budha. Di kraton Yogyakarta ada ketentraman budaya
yang selalu diupayakan agar ia terawat baik, bagi kehidupan juga bagi bangsanya

24
BAB IV
SENI TARI MANCANEGARA

A. Pengertian Tarian Mancanegara


Pengertian dasar sebuah seni tari adalah olahan gerak tubuh dari manusia, yang
terlepas dari unsur waktu, ruang serta tenaga. Berdasarkan dari pengertian tersebut,
maka seni tari mancanegara dapat didefinisikan sebagai seni olah gerak tubuh manusia,
terlepas dari unsur waktu, ruang dan tenaga yang mencirikan budaya dan tradisi di
mancanegara. Haukins seorang pakar tari, pada 1990 menyatakan. Bahwa sebuah tarian
adalah ekspresi jiwa dari manusia. Ekspresi tersebut kemudian diubah oleh imajinasi
serta diberi bentuk. Ekspresi tersebut membutuhkan media gerak sebagai ungkapannya.
Sehingga menjadi sebuah bentuk gerak simbolis sebagai ungkapan rasa Sang Pencipta.
Lain Haukins, lain lagi yang diungkapkan oleh Soeryodiningrat, seorang pakar tari
nasional dari tanah air. Bahwa sebuah tarian pada umumnya mengedepankan ekspresi
subyektif, namun diberi bentuk yang obyektif. Selanjutnya dalam kesempatan lain,
Soeryodiningrat menyatakan bahwa warna khazanah tari umumnya lebih menekankan
kepada gerak tubuh berirama. Seperti terungkap bahwa tari merupakan gerak anggota
tubuh nan selaras. Diiringi bunyi musik atau gamelan yang teratur, dan diatur oleh
irama yang sesuai dengan tujuan tarian tersebut (1986). Sedangkan CurtSach
menambahkan bahwa tari dianggap sebagai gerak yang ritmis (CurtSach: 1978, 4).
La Mery ikut mengungkapkan pendapatnya, bahwa seni tari adalah ekspresi yang
mengambil bentuk simbolik di dalam wujud yang lebih tinggi. Dengan unsur yang harus
diinternalisasikan.
Lain lagi definisi tari yang diutarakan oleh M.Jazuli dalam buku yang ditulis oleh
Soeryobrongto, tahun 1987, halaman 12-34. Bahwa sebuah tarian adalah merupakan
gerak-gerik anggota tubuh yang selaras, sesuai dengan bunyi musik. Itulah tari. Dalam
pandangan M.Jazuli, bahwa unsur pengiring musik adalah sebuah pengiring yang dapat
dipergunakan untuk mengungkapkan maksud serta tujuan dari maksud yang ingin
disampaikan oleh sang pencipta tari. Demikian M.Jazuli pada 1994.

25
B. Macam-Macam Tari Mancanegara
1. Tari nasional
2. Tari internasional
3. Tari kontemporer
4. Tari modern

C. Fungsi Tari Mancanegara


1. Tari sebagai media pergaulan, artinya kegiatan ini sebagai interaksi antar pencinta
seni
2. Tari sebagai hiburan
3. Tari sebagai pertunjukan theatrical dance, tari jenis ini adalah tari yang disusun
sengaja untuk dipertontonkan, maka dalam penyajiannya mengutamakan segi segi
artistiknya, penggarapan koreografi yang baik serta tema dan tujuan yang jelas.

D. Contoh Tarian Mancanegara


1. Tari Sema dari Timur Tengah
Tari sema telah dipertunjukkan selama 700 tahun oleh kaum sufi.
Devish (bahasa Turki dan Arab) berasal dari kata Persia darwish (berarti kerangka
pintu) yang menggambarkan kaum sufi yang berada pada ambang pencerahan.
Banyak yang mengatakan istilah kaum sufi (sufi dalam bahasa Arab berarti wol)
muncul dari kebiasaan para nabi yang menggunakan mantel wol. Tari sema dimulai
dengan pujian kepada para nabi. Lalu, terdengar suara drum yang menjadi simbol
sang pencipta diikuti improvisasi musik dari alat musik (sejenis seruling) yang
menyimbolkan embusan napas sang pencipta yang memberi kehidupan kepada
semua makhluk. Pemimpin memberi hormat lalu memimpin para darwish
membentuk lingkaran. Saat melewati posisi sang pemimpin, para darwish akan
saling memberi hormat sebagai lambang penghormatan antarjiwa yang berbalut
dalam bentuk raga. Setelah tiga putaran, mereka melepas mantel. Setiap orang akan
mendekati pemimpin, memberi salam, mencium tangan, dan membentuk formasi
sesuai intruksi pemimpinnya. Dengan berputar, mereka melepas kehidupan duniawi
dan bergabung dengan Allah. Mereka membuka kedua tangan dengan tangan kanan
menghadap ke atas agar mendapat berkah dari surga dan tangan kiri menghadap

26
kebawah untuk memberikan berkah ke bumi. Tarian diakhiri dengan pembacaan Al-
Quran.
Para darwish berputar-putar secara simultan selama 10 menit lalu berhenti dan
berlutut. Kemudian berdiri dan muali lagi. Proses ini diulang sebanyak empat kali,
yang memiliki arti : o kelahiran manusia sebagai bukti Allah sebagai pencipta dan
peran manusia sebagai makhluk. o kegembiraan manusia menjadi saksi penciptaan. o
kegembiraan akan cinta dan pengorbanan akan pikiran untuk mencinta, untuk
menggenapi perintah. o akhir perjalanan spiritual, termasuk kembali kepada
kehidupan sehari-hari dan pengabdian kepada Allah. Pakaian semua terdiri dari topi
tinggi yang menggambarkan ego mereka, jubah putih panjang dengan rok lebar
menggambarkan penutup ego, dan mantel hitam yang menggambarkan kehidupan
duniawi yang kemudian mereka lepaskan.
2. Tarian Haka dari New Zealand
Tarian Haka adalah tarian traditional Maori - penduduk asli - New Zealand,
tarian ini diikuti oleh teriakan dan dilakukan secara group. Tarian perang haka pada
mulanya merupakan tarian yang dilakukan oleh para warriors sebelum perang,
dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan mereka dengan tujuan
mengintimidasi pihak lawan. Tarian ini sesungguhnya tidak khusus merupakan
tarian perang, atau hanya dilakukan oleh sekelompok pria, tarian haka juga bisa
dilakukan oleh wanita, campuran pria dan wanita, bahkan bisa dilakukan oleh anak-
anak. Pada masa kini, tarian ini biasa dipentaskan dalam berbagai acara seperti pada
saat penyambutan tamu kehormatan atau pada acara-acara pertandingan olah raga
tingkat national atau internasional. Bermacam aksi dipertontonkan, misalnya
ekspresi wajah yang memperlihatkan warna putih mata dan menjulurkan lidah
(mereka menantang dengan cara menjulurkan lidah), atau memukulkan tangan ke
tubuh dan menghentakkan kaki. Teriakan dan geraman juga digunakan. Semua
gerakan tubuh seperti tangan, kaki, suara, mata dan lidah merupakan kombinasi
untuk memperlihatkan keberanian atau kegagahan, rasa jengkel, kegembiraan atau
perasaan lain tergantung tujuan dari tarian tersebut. Dalam pertandingan olah raga,
salah satu cara mereka menantang adalah dengan menjulurkan lidah.

27
3. Tari Limbo dari Afrika Barat
Tarian limbo berasal dari Negara Afrika Barat. Kata Limbo berasal dari kata
Limber, yang berarti lentur. Tari limbo ini mengandung filosofi hidup, dimana
manusia harus selalu berusaha menghadapi rintangan yang datang, dan semakin
dewasa manusia, maka rintangan yang akan ia dapatkan akan semakin sulit (hal ini
digambarkan dengan tiang horizontal yang makin diturunkan ke bawah). Kini,
tarian limbo sering dimainkan di berbagai negara, tapi sebagian besar negara yang
memainkan tarian adalah negara-negara di afrika dan amerika tengah. Tarian
Limbo biasanya dimainkan ketika ada acara resepsi pernikahan.
4. Tari Kathak, India. Kathak
(Hindi: Urdu: ) merupakan salah satu dari lapan bentuk tarian
klasik India, berasal dari India Utara. Tarian ini boleh dijejak asalnya kepada
pencerita lisan nomad India utara silam, dikenali sebagai Kathaks, atau pencerita.
Pencerita ini, membuat persembahan di lapangan kampung dan laman kuil,
kebanyakannya khusus dalam mengisahkan kisah mitos dan moral dari kitab, dan
menokok pengisahan mereka dengan alunan tangan dan mimik muka.
Ia pada asasnya merupakan teater, menggunakan alatan dan bunyi muzik
bersama gerak tangan, bagi menghidupkan penkisahan. Dalam bentuk kini
terkandung bekas tarian kuil dan adat, dan pengaruh pergerakan bhakti. Sejak abad
ke-16 seterusnya ia menyerap sesetengah ciri tarian Parsi dan tarian Asia Tengah
yang diimport oleh istana diraja era Mughal. Terdapat tiga jurusan utama atau
Gharana bagi Kathak dari mana pengamal masa kini menyusur susur galurnya:
gharana dari Jaipur, Lucknow dan Benares (lahir di istana Kachwaha raja Rajput,
Nawab dari Oudh, dan Varanasi mengikut turutan); terdapat juga gharana
Raigarh yang kurang menonjol dan lebih muda dari mana teknik ketiga-tiga
gharana sebelumnya digabung tetapi menjadi terkenal kerana komposisinya yang
berbeza. Tarian Kathak merupakan salah satu lagi tarian klasikal India yang berasal
dari utara India. Perkataan Kathak berasal dari perkataan India Katha yang
bermaksud 'seni bercerita'.
5. Tari Flamenco, Spanyol.
Tari flamenco merupakan tarian Istana Moor yang kemudian dikembangkan
dan dikreasikan oleh kaum Gipsi di kota Andlusia yang akhirnya dikenal sebagai

28
tari flamenco. Pada dasarnya pertunjukan flamenco merupakan pertunjukan musik
dan tari, sehingga terkadang menggunakan alat musik kastanyet untuk menambah
warna musik yang dibawakan. Namun tak jarang juga penari yang menolak
penggunaan alat musik yang satu ini dengan alasan bisa mengurangi keindahan
gerak tari flamenco. Para penari tari flamenco biasanya menggunakan pakaian
dengan warna warna mencolok sehingga menimbulkan kesan ceria dalam tarian
tersebut. Sedangkan untuk jumlah penari dalam suatu pertunjukan tari flamenco
biasanya sangat bervariasi, kadang penari membawakannya secara solo,
berpasangan atau berkelompok. Seperti kostum yang digunakan, gerakan pada tari
flamenco juga menunjukan gairah sang penari dengan mengandalkan gerakan
tubuh yang cepat yang enerjik dan menarik.
Disertai beberapa improvisasi gerakan yang membuat tarin ini semakin
menarik. Apalagi jika ditambah gerakan penari saat menepuk tangan atau
menjentikan jari di tengah tengah gerakan tari. Meskipun para penari sering
berimprovisasi dengan gerakan tari flamenco, namun tari flamenco tetap memiliki
gerakan yang menajdi ciri khas dan tidak dapat dipisahkan dari tarian tersebut. Ciri
khas dalam tari flamenco adalah gerakan filigrano dan zapateado. Gerakan filigrabo
adalah gerakan di mana penari menaikan tangannya kemudian menyimpulkan
telapak tangan yang diselingi dengan tepukan tangan dan jentikan jari penari.
Sedangkan gerakan zapateado adalah gerakan di mana penari melengkungkan
punggungnya sambil terus menghentakan kaki mengikuti irama. Ketikan
menampilkan tari flamenco biasanya penari seolah olah sedang terlena dengan
emosi yang ditimbulkan oleh musik dan tarian tersebut, atau sering disebut sebagai
duende.
Sehingga dalam membawakan tarian ini, para penari pria dituntut untuk
menampilkan sisi kemaskulinannya. Sedangkan penari wanita dituntut untuk
menampilkan ketenangan yang disertai rasa bangga dan sensualitas yang terkendali.
6. Tari Morris, Inggris.
Tarian ini dipertunjukkan dalam festival-festival. Dulu hanya laki-laki yang
menari Morris, namun sekarang semua orang menarikan tarian ini. Biasanya
kostum yang mereka pakai adalah baju putih, topi dengan hiasan bunga, dan
selempang dua warna yang disematkan bel kecil. Mereka juga membawa tongkat

29
kecil atau sapu tangan. Sebuah tarian morris adalah suatu bentuk tarian rakyat
Inggris biasanya disertai dengan musik. Hal ini didasarkan pada berirama
melangkah dan pelaksanaan tokoh koreografer oleh sekelompok penari. Alat seperti
tongkat, pedang, saputangan dan lonceng juga dapat dikerahkan oleh para penari.
Dalam sejumlah kecil tarian untuk satu atau dua orang, langkah ini dilakukan dekat
dan di sepasang pipa tembakau diletakkan di tanah liat satu sama lain di lantai.
Klaim bahwa catatan Inggris, dating kembali ke 1448, menyebutkan tari morris
terbuka untuk sengketa. Tidak ada menyebutkan morris menari lebih awal dari
abad ke-15 akhir, meskipun catatan awal seperti Bishops Visitasi Artikel
menyebutkan menari pedang, kegiatan menari guising dan lainnya serta memainkan
mumming. Selanjutnya, catatan paling awal selalu menyebutkan Morys dalam
pengaturan pengadilan, dan baik laki-laki dan perempuan yang disebutkan sebagai
menari, dan sedikit kemudian di Walikota Tuhan Prosesi di London. Hanya
kemudian bahwa itu mulai disebutkan sebagai sesuatu yang
dilakukan di paroki-paroki. Tidak tentu saja tidak ada bukti bahwa itu adalah
ritual pra-Kristen, seperti yang sering diklaim.
7. Tari Kipas, Korea.
Penari kipas dari Korea menggunakan kipas yang besar dalam berbagai warna.
Lalu mereka menyatukan kipas mereka dan menggerakkannya secara teratur
mengayun ke atas dan ke bawah. Sejak demam Korea melanda Indonesia, semua
hal berbau Korea pun ikut diikuti. Kita bisa melihat dari menjamurnya produk-
produk fashion Korea yang laris manis di Indonesia, belum lagi meningkatnya
jumlah kursus-kursus bahasa korea yang pesertanya juga bak kacang goreng.
Budaya-budaya korea pun banyak menjadi fokus perhatian orang. Saya sebagai
salah satu penggemar Korea (namun tidak terlalu freak) menilai, Korea Selatan
sangat bagus mempromosikan budaya mereka ke dunia, khususnya lewat
entertainment. Lewat K-Pop, fashion dan film-film, Korea Selatan dengan pintar
mengemas juga budaya-budaya mereka, sehingga masyarakat dunia pun sadar
dengan kebudayaan mereka. Satu langkah yang patut dicontoh Indonesia. Salah
satu bukti bahwa kebudayaan Korea sudah mulai disadari oleh masyarakat
dunia adalah dengan dikenalnya salah satu tarian tradisional masyarakat Korea.
Mereka suka menyebut Tari Kipas Korea atau bahasa Koreanya Buchaechum.

30
Buchaechum merupakan tarian tradisional Korea dimana sekelompok wanita
menari menggunakan kipas yang berhiaskan bunga Peony dan menggunakan
Hanbok (tarian tradisional Korea) yang berwarna mencolok.
8. Tari Naga, China.
Dalam mitologi China, naga menggambarkan kegagahan, keningratan dan
keberuntungan. Tari naga digunakan untuk mengusir setan dan membawa
keberuntungan bagi semua orang. Penarinya memiliki kemampuan bela diri.

Tari Naga(karakter sederhan: ; karakter tradisional : ; pinyin w

lng) atau disebut juga Liang Liong di Indonesia adalah suatu pertunjukan dan
tarian tradisional dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa. Seperti juga Tari Singa
atau Barongsai, tarian ini sering tampil pada waktu perayaan-perayaan tertentu.

Orang Tionghoa sering menggunakan istilah 'Keturunan Naga'(atau

, lng de chun rn) sebagai suatu simbol identitas etnis. Dalam tarian ini,

satu regu orang Tionghoa memainkan naga-nagaan yang diusung dengan belasan
tongkat. Penari terdepan mengangkat, menganggukkan, menyorongkan dan
mengibas-kibaskan kepala naga-nagaan tersebut yang merupakan bagian dari
gerakan tarian yang diarahkan oleh salah seorang penari. Terkadang bahkan kepala
naga ini bisa mengeluarkan asap dengan menggunakan peralatan pyrotechnic.
Para penari menirukan gerakan-gerakan makhluk naga ini --- berkelok-kelok
dan berombak-ombak. Gerakan-gerakan ini secara tradisional melambangkan
peranan historis dari naga yang menunjukkan kekuatan yang luar biasa dan
martabat yang tinggi. Tari naga merupakan salah satu puncak acara dari perayaan
Imlek di pecinan-pecinan di seluruh dunia. Naga dipercaya bisa membawa
keberuntungan untuk masyarakat karena kekuatan, martabat, kesuburan,
kebijaksanaan dan keberuntungan yang dimilikinya. Penampilan naga terlihat
menakutkan dan gagah berani, namun ia tetap memiliki watak yang penuh
kebajikan. Hal-hal inilah yang pada akhirnya menjadikannya lambang lencana
untuk mewakili kekuasaan kekaisaran.
9. Tari Samba Brazil Samba
(lafal: [s b ]) adalah tarian Brasil dan genre musik yang berakar
dari Afrika. Hal ini diakui di seluruh dunia sebagai simbol dari Brasil dan Karnaval

31
Brasil. Dianggap sebagai salah satu ungkapan paling populer budaya Brasil, samba
telah menjadi ikon identitas nasional Brasil.
Samba de Roda (tari lingkaran) dari Bahia, yang menjadi warisan dunia oleh
UNESCO bidang kemanusiaan pada tahun 2005, adalah akar utama dari Carioca
samba, samba yang dimainkan dan ditarikan di Rio de Janeiro.
Secara tradisional, samba dimainkan dengan senar (cavaquinho dan berbagai
jenis gitar) dan berbagai instrumen perkusi seperti tamborim. Dengan pengaruh
orkestra Amerika sejak Perang Dunia Kedua dan dampak budaya musik AS pasca
perang, mulai digunakan juga instrumen tiup seperti trombon, terompet, choro, flute
dan klarinet.
10. Tari Hula Hawai
Hula atau hula-hula adalah jenis tarian asal Kepulauan Hawaii yang diiringi
nyanyian atau lagu. Hula diciptakan oleh orang Polinesia dari Kepulauan Hawaii.
Lagu yang mengiringi tarian disebut mele. Hula menggambarkan atau
mendramatisasikan mele. Ada banyak jenis hula. Hula bisa digolongan menurut
gaya, tema, atau periode. Hula Preservation Society mencatat sekitar 300 jenis
hula.[1]
Berdasarkan gaya penyajian, hula dibagi menjadi dua kategori:
1) Kahiko
Adalah hula kuno yang dipentaskan sebelum warga kulit putih tiba di Hawaii.
Kahiko diiringi dengan nyanyian dan permainan alat musik tradisional. Hula
yang berkembang melalui pengaruh Barat disebut
2) auana
Hula ini juga diiringi nyanyian dan permainan alat musik tradisional yang sudah
mengkombinasikan alat musik modern seperti gitar, ukulele, dan kontrabass.
Selain itu, terdapat pula 2 kategori hula yang lain:
monarchy dan ai kahiko.
3) Monarchy
Merujuk kepada berbagai jenis hula yang diciptakan dan dikoreografikan
selama abad ke-19. Pada waktu itu, masuknya kebudayaan Barat ke Hawaii
memberikan perubahan yang signifikan bagi kesenian Hawaii, termasuk pada
hula.

32
4) Ai Kahiko
(berarti "dalam gaya lama") adalah hula yang ditulis di antara abad ke-20
sampai abad ke-21 yang mengikuti aturan gaya hula kahiko. Sanggar tari yang
mengajarkan hula disebut hlau. Di Hawaii terdapat ratusan sanggar hula. Guru
tari hula disebut kumu hula , kumu berarti sumber ilmu pengetahuan. Dalam tari
hula terdapat banyak gerakan yang ditarikan melambangkan aspek alam, seperti
hula dasar dan gerakan Pohon Kelapa, atau gerakan kaki dasar seperti Kaholo,
Ka'o, dan Ami. Ada banyak jenis tarian yang berasal dari kepulauan Polinesia
lain seperti dari Tahiti, Samoa, Tonga dan Aotearoa (Selandia Baru); namun,
hula adalah keunikan dan khas Kepulauan Hawaii.

33