Anda di halaman 1dari 17

MATA KULIAH

SISTEM PERSYARAFAN II
Diana Rhismawati, S.Kep., Ns.

Kelompok 4
Disusun Oleh:
1. Ade Indriani 11151001
2. Ade Sugarina 11151002
3. Ahmad Hidayat 11151003
4. Anindhya Indah C 11151007
5. Eka Septianti 11151016
6. Laela Tul Damayanti 11151024
7. Putri Metovani Yolanda 11151034
8. Siti Aisiyah 11151041
9. Tiara Azizah 11151042

Kelas: S1 Reguler 8A

STIKES PERTAMINA BINA MEDIKA


Jl. Bintaro Raya No. 10 Tanah Kusir Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, 12240.
Telepon: (021) 7234122, 7207184 Fax: (021) 7234126. Website: www.stikes-
pertamedika.ac.id email: stikespertamedika@gmail.com
Tahun Ajaran 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmatnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Pada penulisan
makalah ini penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah
ini. Meskipun banyak hambatan yang dialami dalam proses pembuatan makalah ini, tapi
penulis berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Dalam hal ini penulis
tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Diana selaku pembimbing mata kuliah Sistem Persyarafan 2 telah membimbing
kami dengan penuh kesabaran
2. Kedua orang tua yang telah memberikan support
3. Teman-teman yang telah membantu demi terselesaikannya makalah ini.
Berkat dorongan dari merekalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis
memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan atau kekurangan yang
kurang jelas dalam makalah ini.

Jakarta, 16 September 2017

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1

C. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi ............................................................................................................................ 3

B. Etiologi ............................................................................................................................ 3

C. Pathway ........................................................................................................................... 4

D. Manifestasi klinik............................................................................................................ 5

E. Pemeriksaan Diagnostik.................................................................................................. 6

F. Penatalaksaan .................................................................................................................. 7

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian ....................................................................................................................... 8

B. Diagnosa ....................................................................................................................... 10

C. Intervensi dan Rasional ................................................................................................. 10

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................................................... 13

B. Saran ............................................................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sklerosis multipel adalah suatu penyakit autoimun yang ditandai oleh


pembentukan antibody terhadap myelin susunan saraf pusat. System saraf perifer tidak
terkena. Respon peradangan berperan menimbulkan penyakit dengan menyebabkan
pembengkakan dan edema yang merusak neuron neuron dan menyebabkan pembentukan
flak jaringan parut pada mielin.

Sklerosis multipel merupakan penyakit berat yang secara medis obatnya sampai
detik ini belum ditemukan dan sampai sekarang belum ada orang yang sembuh 100 %.
Sklerosis multipel memang merupakan penyakit yang terasa atau kelihatan cukup aneh,
bukan saja bagi orang lain tetapi juga bagi penderitanya sendiri. Gejala gejala yang
timbul terjadi secara tiba tiba dan biasa hilang lagi secara sekejap. Atau menetap selama
berhari hari atau berminggu minggu atau bahkan berbulan bulan

B. Rumusan Masalah

1. Apakah Sklerosis Multipel itu ?


2. Bagaimanakah Etiologi Sklerosis Multipel ?
3. Bagaimanakah Klasifikasi Sklerosis Multipel ?
4. Bagaimanakah Patofisiologi Sklerosis Multipel ?
5. Bagaimanakah Manifestasai Klinis Sklerosis Multipel ?
6. Bagaimanakah Komplikasi Sklerosis Multipel ?
7. Bagaimanakah Pemeriksaan diagnostik Sklerosis Multipel ?
8. Bagaimanakah Penatalaksanaan Sklerosis Multipel ?
9. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada klien dengan Sklerosis Multipel ?

1
C. Tujuan Penulisan

Setelah pembahasan asuhan keperawatan klien dengan sclerosis multipel


mahasiswa/i diharapkan mampu :

1.Menjelaskan Pengertian Sklerosis Multipel


2.Menjelaskan Etiologi Sklerosis Multipel
3.Menjelaskan Klasifikasi Sklerosis Multipel
4.Menjelaskan Patofisiologi Sklerosis Multipel
5.Menjelaskan Manifestasi Klinis Sklerosis Multipel
6.Menjelaskan Komplikasi Sklerosis Multipel
7.Menjelaskan Pemeriksaan diagnostik Sklerosis Multipel
8.Menjelaskan Penatalaksanaan Sklerosis Multipel
9.Menjelaskan Asuhan Keperawatan pada klien dengan Sklerosis Multipel

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Multiple Sclerosis adalah penyakit degeneratif system syaraf pusat (SSP) kronis
yang meliputi kerusakan myelin (material lemak dan protein ). Multiple sclerosis secara
umum dianggap sebagai auto imun dimana system imun tubuh sendiri yang normalnya
bertanggung jawab untuk mempertahankan tubuh terhadap terhadap virus dan bakteri,
dengan alasan yang tidak diketahui mulai menyerang atau menghancurkan myelin yaitu
lapisan pelindung syaraf yang melindungi syaraf yang berfungsi untuk melancarkan
pengiriman pesan dari otak ke seluruh bagian tubuh. Ditandai dengan remisi dan
ekaserbasi periodic. Multiple sclerosis menghaisilkan berbagai tanda dan gejala
tergantung pada lokasi lesi, biasanya disebut sebagai plaque.

Multiple sclerosis adalah gangguan demielinasi pada system saraf pusat yang
menyerang lapisan myelin diseputar serabut akson dari serabut serabut saraf di otak
dan sumsum tulang belakang dengan pola yang tersebar (Clark, 1991). Mielin normal
adalah substansi putih yang menutupi serabut saraf yang penting untuk konduksi saraf
normal.

B. Etiologi

Penyebab MS adalah suatu autoimmun yang menyerang myelin dan myelin forming
sel pada otak dan medula spinalis, akan tetapi pada MS sebenarnya bukan suatu
autoimmun murni oleh karena tidak adanya antigen respon immun yang abnormal.
Kausa MS terdiri dari:

1. Virus : infeksi retrovirus akan menyebabkan kerusakan oligodendroglia


2. Bakteri : reaksi silang sebagai respon perangsangan heat shock protein sehingga
menyebabkan pelepasan sitokin
3. Defek pada oligodendroglia
4. Diet: berhubungan dengan komposisi membran, fungsi makrofag, sintesa
prostaglandin
5. Genetika : penurunan kontrol respon immun

3
C. Pathway

Faktor predisposisi: Virus, respon autoimun


dan genetik

Edema dan degenerasi mielin

Demienlinisasi yang mengerut menjadi


multiple plak

Lesi multiple sclerosis terjadi pada substansia


alba SSP

Demielinisasi

Terhentinya alur impuls saraf

Saraf optic dan Serebelum dan Serebrum Medula Spinalis


khiasma batang otak

Gangguan Nistagmus Disfungsi Serebri


Penglihatan Lesi Gg. Sensorik
kortiko Kelemahan
spinalis spastik
Hilangnya daya
Risiko tinggi Ataksia anggota gerak
ingat dan
trauma Serebelar
demensia.
Gg. afek
Kerusakan Distrasia
komunikasi
verbal
Hambatan
mobilitas fisik

Perubahan Euforia, Kehilangan Perubahan eliminasi


kemampuan kemampuan Tirah baring
urine
merawat diri menyelesaikan masalah, lama
Resiko terhadap
sendiri Perubahan mengawasi
disfungsi seksual
keadaan yang kompleks
Resiko tinggi
dan berpikir abstrak.
Defisit Emosi labil, Pelupa,
kerusakan
Perawatan Diri Apatis Loss deep integritas 4
memory jaringan
Perubahan Perubahan proses pikir
nutrisi kurang Kerusakan interaksi
dari kebutuhan sosial Koping keluarga tidak efektif
tubuh Koping individu tidak Perubahan peran dalam keluarga
efektif

D. Manifestasi klinik

MS merupakan penyakit demyelinating yang mengenal serebelum, saraf optikus


dan medula spinalis (terutama mengenai traktus kortikospinalis dan kolumna posterior),
secara patologi memberi gambaran plak multipel di susunan saraf pusat khususnya
periventrikuler subtansia alba.

Gejala Klinis MS.

1. Kelemahan umum : biasanya muncul setelah aktivitas minimal, kelemahan bertambah


berat dengan adanya peningkatan suhu tubuh dan kelembapan tinggi, yang disebut
sebagai Uht holff fenomena (pada akson yang mengalami demylisasi). Kelemahan
seperti ini dapat dosertai kekakuan pada ekstermitas sampai drop foot.
2. Gangguan sensoris : baal, kesemutan, perasaan seperti diikat, ditusuk jarum, dingin
pada tungkai dan tangan, pada pemeriksaan fisik dengan test lhermitte biasa + (30%)
hal ini akibat adanya plek pada kolumna servikal posterior yang kemudian meiritasi
dan menekan medula spinalis.
3. Nyeri : pada kebanyakan pasien MS akan mengalami nyeri (Clifford & Troter), nyeri
bersifat menahun. Nyeri pada MS berbentuk:

a. Nyeri kepala relatif sering didapatkan (27%)


b. Nyeri neurolgia trigeminal: pada orang muda dan bilateral (Jensen, 1982) relatif
jarang (5%)
c. Nyeri akibat peradangan nervus optikus akibat penekanan dura sekitar nervus
optikus
d. Nyeri visceral berupa spasme kandung kemih, konstipasi

5
4. Gangguan Blader : pada 2/3 kasus MS akan mengalami gangguan hoperreflek blader
oleh karena gangguan spincter, pada fase awal areflek dan 1/3 hiporelek dengan gejala
impoten.
5. Gangguan serebelum : 50% kasus memberi gejala intension tremor, ataksia, titubasi
kepala, disestesia, dan dikenal sebagai trias dari Charcott: nistagmus, gangguan
bicara, intension tremor
6. Gangguan batang otak : lesi pada batang otak akan mengganggu saraf intra aksonal,
nukleus, internuklear, otonom dan motorik, sensorik sepanjang traktus-traktus.

a. Lesi N III-IV menyebabkan diplopia, parese otot rektus medial yang menyebabkan
internuklear ophtalmoplegi (INO) patognomonis untuk MS
b. Lesi N VII menyebabkan Bell palsy
c. Lesi N VIII menyebabkan vertigor (sering), hearing loss (jarang)

7. Gangguan N Optikus (Neuritis optika) : terutama pada pasien muda (Reder, 1997)
sebanyak 31%, gejala berupa, penurunan ketajaman penglihatan, skotoma sentral,
gangguan persepsi warna, nyeri pada belakang bola mata, visus akan membaik setelah
2 minggu onset neuritis optika kemudian sembuh dalam beberapa bulan. Penambahan
suhu tubuh akan memperbesar gejala (uht holff)
8. Gangguan fungsi luhur : fungsi luhur umunya masih dalam batas normal, akan tetapi
pada pemeriksaan neuropsikologi didapatkan perlambatan fungsi kognisi sampai
sedang atau kesulitan menemukan kata (Rao, 1991).

E. Pemeriksaan Diagnostik

1. Lumbal punction : pemeriksaan elektroforesis terhadap LCS, didapatkan ikatan


oligoklonal yakni terdapat beberapa pita immunoglobulin gamma G (IgG).
2. DCT Scan : gambaran atrofi serebral
3. MRI : menunjukkan adanya plak-plak kecil dan bisa digunakan mengevaluasi
perjalanan penyakit dan efek dari pengobatan.
4. Urodinamik : jika terjadi gangguan urinarius.
5. Neuropsikologik : jika mengalami kerusakan kognitifif.

6
F. Penatalaksaan

1. Bersifat simtomatik : sesuai dengan gejala yang muncul


2. Farmakoterapi :

a. Kortikosteroid, ACTH, prednisone sebagai anti inflamasi dan dapat


meningkatkan konduksi saraf.
b. Imunosupresan : siklofosfamid (Cytoxan), imuran, interferon, Azatioprin,
betaseron.

3. Baklofen sebagai antispasmodic


4. Blok saraf dan pembedahan dilakukan jika terjadi spastisitas berat dan kontraktur
untuk mencegah kerusakan lenih lanjut.
5. Terapi fisik untuk mempertahankan tonus dan kekuatan otot

7
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas

Pada umunya terjadi pada orang-orang yang hidup di daerah utara dengan
temperatus tinggi, terutama pada dewasa muda (20-40th).

2. Keluhan Utama
Muncul keluhan lemah pada anggota badan bahkan mengalami spastisitas /
kekejangan dan kaku otot, kerusakan penglihatan.
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Biasanya klien pernah mengalami pengakit autoimun.

4. Riwayat Penyakit Sekarang


Pada umunya terjadi demilinasi ireguler pada susunan saraf pusat perier yang
mengakibatkan erbagai derajat penurunan motorik, sensorik, dan juga kognitif
5. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini sedikit lebih banyak ditemukan di antara keluarga yang pernah
menderita penyakit tersebut, yaitu kira-kira 6-8 kali lebih sering pada keluarga
dekat.
6. Pengkajian psikososiospiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respons
emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-
harinya, baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Adanya perubahan
hubungan dan peran karena klien mengalami kesulitan untuk berkomunikasi akibat
gangguan bicara. Pada pola persepsi dan konsep diri, didapatkan klien merasa tidak
berdaya, tidak ada harapan, mudah marah dan tidak kooperatif.perubahan yang
terpenting pada klien dengan penyakit mutiple sclerosis adalah adanya gangguan
afek, berupa euforia. Keluhan lain yang melibatkan gangguan serebral dapat berupa
hilangnya daya ingat dan dimensia.

8
7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Klien dengan mutiple sclerosis umumnya tidak mengalami penurunan
kesadaran. Adanya perubahan pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardi,
hipotensi, dan penurunan frekuensi pernapasan berhubungan dengan bercak lesi
di medula spinalis.
b. B1 (Breathing)
Pada umumnya klien dengan mutiple sclerosis tidak mengalami
gangguan pada sistem pernapasan.pada beberapa klien yang telah lama
menderita mutiple sclerosis dengan tampak dari tirah baring lama, mengalami
gangguan fungsi pernapasan. Pemeriksaan fisik yang didapat mencakup hal-hal
sebagai beikut:
Inspeksi umum : didapatkan klien batuk atau penurunan kemampuan untuk
batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, dan penggunaan otot
bantu napas.
Palpasi : taktil premitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru
Auskultasi : bunyi napas tambahan seperti napas stridor,ronkhi pada klien
dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang
sering didapatkan pada klien dengan inaktivitas
c. B2 (Blood)
Pada umumnya klien dengan mutiple sclerosis tidak mengalami
gangguan pada sistem kardiovaskuler.akibat dari tirah baring lama dan
inaktivitas biasanya klien mengalami hipotensi postural.
d. B3 (Brain)
Pengkajian B3 (brain) merupakan pengkajian fokus atau lebih lengkap
dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya. Inspeksi umum didapatkan
berbagai manifestasi akibat perubahan tingkah laku.
e. B4 (Bladder)
Disfungsi kandung kemih. Lesi pada traktus kortokospinalis
menimbulkan gangguan pengaturan spingtersehingga timbul keraguan,
frekuensi dan urgensi yang menunjukkan berkurangnya kapasitas kandung
kemih yang spatis.selalin itu juga timbul retensi dan inkontinensia.

9
f. B5 (Bowel)
Pemenuhan nutrisi berkurang berhubungan dengan asupan nutrisi yang
kurang karena kelemahan fisik umum dan perubahan status kognitif. Penurunan
aktivitas umum klien sering mengalami konstipasi.
g. B6 (Bone)
Pada keadaan pasien mutiple sclerosisbiasanya didapatkan adanya
kesuliatan untuk beraktivitas karena kelemahan spastik anggota
gerak.kelemahan anggota gerak pada satu sisi tubuh atau terbagi secara
asimetris pada keempat anggota gerak.merasa lelah dan berat pada satu tungkai,
dan pada waktu berjalan terlihat jelas kaki yang sebelah terseret maju, dan
pengontrolan yang kurang sekali. Klien dapat mengeluh tungkainya seakan-
akan meloncat secara spontan terutama apabila ia sedang berada di tempat
tidur.keadaan spatis yang lebih berat disertai dengan spasme otot yang nyeri.

B. Diagnosa
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan, paresis, dan spastisitas.
2. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kerusakan sensori dan penglihatan.
3. Defisit perawatan diri (makan,minum,berpakaian,higiene) berhubungan dengan
perubahan kemampuan merawat diri sendiri, kelemahan fisik spastis.

C. Intervensi dan Rasional


1. Dx 1 : Hambatan mobilitas fisik yang b.d kelemahan, paresis, dan spastisitas

Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam klien mampu melaksanakan aktifitas fisik sesuai
dengan kemampuannya

Kriteria :

a. Klien dapat ikut serta dalam program latihan


b. Tidak terjadi kontraktor sendi
c. Bertambahnya kekuatan otot
d. Klien menunjukkan tindakkan untuk meningkatkan mobilitas
1) Intervensi: Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan, kaji secara teratur fungsi motoric
Rasional: mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktifitas

10
2) Intervensi: Modifikasi peningkatan mobilitas fisik
Rasional: relaksasi dan koordinasi latihan otot meningkatkan efisiensi otot
pada klien multipel sklerosis.
3) Intervensi: Anjurkan teknik aktifitas dan teknik istirahat
Rasional: klien dianjurkan untuk melakukan aktifitas melelahkan dalam
waktu singkat, karena lamanya latihan yang melelahkan ekstremitas dapat
menyebabkan paresis, kebas, atau tidak ada koordinasi.

4) Intervensi: Ajarkan teknik latihan jalan


Rasional: Latihan berjalan meningkatkan gaya berjalan, karena umumnya
pada keadaan tersebut kaki dan telapak kaki kehilangan sensasi positif.

5) Intervensi: Ubah posisi klien tiap 2 jam


Rasional: menurunkan resiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi
darah yang jelek pada daerah yang tertekan.

2. Dx 2 : Resiko cedera yang b.d kerusakan sensori dan penglihatan, dampak tirah
baring lama dan kelemahan spastis
Tujuan : dalam waktu 3x 24 jam resiko trauma tidak terjadi

Kriteria :

a. Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan trauma


b. Decubitus tidak terjadi
c. Kontraktur sendi tidak terjadi
d. Klien tidak jatuh dari tempat tidur
1) Intervensi: Pertahankan tirah baring dan imobilisasi sesuai indikasi
Rasional: meminimalkan rangsangan nyeri akibat gesekkan antara fragmen
tulang dengan jaringan lunak disekitarnya
2) Intervensi: Berikan kacamata yang sesuai dengan klien
Rasional: tameng mata atau kacamata penutup dapat digunakan untuk
memblok implus penglihatan pada satu mata bila klien mengalami diplopia
atau penglihatan ganda
3) Intervensi: Minimalkan efek imobilitas.
Rasional: oleh karena aktifitas fisik dan imobilisasi sering terjadi pada
multipel sklerosis, maka komlikasi yang di hubungkan dengan imobilisasi
mencakup dekubitus dan langka untuk mencegahnya

11
4) Intervensi: Modifikasi pencegahan cedera
Rasional: pencegahan cedera dilakukan pada klien multipel sklerosis jika
disfungsi motorik menyebabkan masalah dalam tidak ada koordinasi dan
adanya kekakuan atau jika ataksia ada, klien resiko jatuh.
5) Intervensi: Modifikasi lingkungan
Rasional: untuk mengatasi ketidak mampuan, klien di anjurkan untuk
dengan kaki kosong pada ruang yang luas untuk menyediakan dasar yang
luas dan untuk meningkatkan kemampuan berjalan dengan stabil
3. Dx 3 : Perubahan pola eliminasi urin yang b.d kelumpuhan saraf perkemihan
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam eliminasi urin terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Pemenuhan eliminasi urin dapat dilaksanakan dengan atau tidak mengguanakan
keteter
b. Produksi 50 cc/jam
c. Keluhan eliminasi urin tidak ada
1) Intervensi: Kaji pola berkemih dan catat urin setiap 6 jam
Rasional: mengetahui fungsi ginjal
2) Intervensi: Tingkatkan kontrol berkemih dengan cara berikan dukungan
pada klien tentang pemenuhan eliminasi urin, lakukan jadwal berkemih,
ukur jumlah urin tiap 2 jam
Rasional: jadwal berkemih diatur awalnya setiap 1 sampai 2 jam dengan
perpanjangan interfal waktu bertahap. Klien diinstruksikan untuk mengukur
jumlah air yang di minum setiap 2 jam dan mencoba untuk berkemih 30
menit setelah minum.
3) Intervensi: Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih
Rasional: menialai perubahan akibat dari inkontinensial urin
4) Intervensi: Anjurkan klien untuk minum 2000 cc/hari
Rasional: mempertahankan funsi ginjal

12
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sklerosis multipel merupakan penyakit pada sistem Persyarafan yang ditandai
dengan lemah, mati rasa, hilnganya fungsi pendengaran dan penglihatan yang biasanya
terjdi pada umur 18-40 tahun dan kapan saja. Sklerosis multipel timbul karena pola
makan yang tidak teratur, pola diet, penggunaan obat, konsumsi alcohol, merokok dan
kurang beraktifitas. Klien perluh diberikan pendidikan kesehatan tentang
pencegahan,dan pengobatan agar dapat menjaga kesehatannya.

B. Saran
Pada makalah ini penulis menyarankan mahasiswa kesehatan senantiasa
menggunakan metode proses keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan
kepada klien dengan Sklerosis multipel serta memberikan pendidikan kesehatan.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi24.pdf

Barbara Engram. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Vol 3. Jakarta. EGC

https://www.scribd.com/doc/220064460/Askep-Multiple-Sclerosis#

https://lusiatmawanti.wordpress.com/2014/06/11/laporan-pendahuluan-multipel-sklerosis/