Anda di halaman 1dari 4

KAJIAN TAFSIR SURAH AL-FURQAN (25): 63-77

Disarikan dari Pengajian Umum

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

pada tanggal 22 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 menggambarkan, bahwa ada sebelas sifat yang dimiliki
oleh orang-orang yang beriman. Menurut Allah, orang-orang beriman yang memiliki sebelas
sifat tersebut memperoleh gelar ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang akan
mendapatkan rahmat yang paling besar di sisi Allah SWT. Rahmat-rahmat Allah yang paling
besar tersebut yaitu kedudukan atau derajat-derajat yang paling tinggi yang diperoleh oleh
mereka di surga kelak.

Orang-orang yang beriman itu harus melaksanakan seluruh kewajiban yang diwajibkan
oleh Allah kepada mereka. Apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban tersebut, maka
mereka akan mendapatkan siksaan yang amat pedih dari Allah SWT. Sebaliknya, apabila mereka
menunaikan kewajiban-kewajiban yang diberikan tersebut, maka mereka akan mendapatkan
ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Sifat-sifat yang dikemukakan di sini adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang
beriman setelah menunaikan berbagai kewajiban yang diwajibkan kepada mereka. Seperti yang
termaktub pada Surah al-Furqaan ayat 63-77, sebelas sifat yang dimaksud tersebut adalah:

Pertama, sifat tawadhu.

Tawadhu adalah lawan dari sifat takabbur. Tawadhu adalah sifat yang selalu merendah,
merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah. Jika orang yang memiliki sifat ini adalah orang
yang sangat disukai oleh Allah, maka orang yang memiliki sifat takabbur adalah orang yang
sangat dibenci oleh Allah SWT. Di dalam suatu hadits disebutkan, jika ada seseorang yang di
dalam dirinya terdapat sifat sombong walaupun hanya sebesar biji zarrah (biji sawi), maka Allah
akan mengharamkan surga baginya.

Takabbur adalah orang yang menganggap dirinya besar, padahal dia tidak besar. Orang
yang mengaku memiliki banyak hal, tapi sebenarnya ia tidak memiliki apa-apa. Padahal kata
Allah, bahwa apa yang mereka miliki itu tidak ada maknanya sedikitpun. Karena itulah, mereka
menambahkan sifat di dalam dirinya dengan apa yang tidak mereka miliki. Untuk menjadikan
diri kita tawadhu adalah dengan berpandangan bahwa apa yang kita miliki tidak ada arti apa-apa
dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Allah SWT.
Sifat sombong adalah sifat yang merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada setiap
manusia. Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki sifat sombong. Hanya saja, ada orang yang
membiarkan kesombongannya menjadi subur, dan ada juga yang bisa menahan
kesombongannya, sehingga kesombongannya tidak pernah muncul.

Firman Allah pada Surah Al-Furqaan ayat 63:

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas
bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan
kata-kata yang baik. (Q.S. Al-Furqaan: 63)

Pada ayat tersebut dengan jelas menyebutkan, bahwa ibaadurrahman itu adalah mereka
yang berjalan di muka bumi ini dalam keadaan tawadhu, dalam keadaan tunduk, dalam keadaan
merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat kecil, tak mempunyai kekayaan apapun, tak
memiliki ilmu apapun, walaupun orang lain memandang bahwa dirinya adalah orang yang
berilmu, orang yang kaya, ataupun orang yang memegang jabatan tinggi.

Pertanyaannya, mampukah kita bersikap tawadhu? Harus diingat, bahwa sikap takabbur
itu akan muncul kapanpun dan di manapun. Jika kita tidak berhati-hati, maka sikap tersebut akan
menjadi subur, akan berkembang dengan sendirinya karena kondisi dan keadaan di mana kita
hidup. Karena itulah, menurut Rasulullah, sombong terhadap orang yang sombong itu adalah
sebuah kebajikan sedekah. Mengapa? Karena kalau kita menahan kesombongan seseorang,
sebenarnya kita mendekatkan orang tersebut kepada surga. Karena, jika ada kesombongan di
dalam hati seseorang, maka diharamkan kepadanya untuk mendapatkan surga. Jika kita sombong
terhadap orang yang sombong sehingga orang tersebut menjadi tidak sombong, maka sebenarnya
kita telah menjauhkannya dari neraka dan mendekatkannya kepada surga.

Kedua, selalu mengucapkan ucapan-ucapan yang baik (al-kalamuth thayyib).

Maksudnya adalah, bahwa orang tersebut senantiasa mengucapkan kalimat-kalimat yang


baik, walaupun orang lain selalu mengejeknya dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan.
Artinya, bahwa ibaadurrahman adalah orang-orang yang senantiasa mengeluarkan ucapan-
ucapan yang baik, senantiasa bersikap dengan sikap yang baik, senantiasa menimbulkan
kebajikan-kebajiikan walaupun di tengah orang-orang yang tidak mau berbuat kebajikan
kepadanya.

Biasanya, jika mendengar ada orang yang mengejek kita, maka kita akan membalasnya
dengan ucapan-ucapan yang lebih kasar dibandingkan orang yang mengejek kita tersebut. Kalau
ada yang memaki kita, maka kita akan membalasnya lebih dari satu kali makian. Jika ada orang
yang berbuat jahat kepada kita sebanyak sekali, maka kita akan membalasnya lebih dari sekali.
Itulah fitrah manusia.

Dalam ayat ini disebutkan, bahwa jika ada orang-orang yang bodoh yang menyapa dia,
kalau ada orang-orang yang mengejek dia dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan
baginya, maka dia akan menyampaikan kalimat-kalimat yang baik kepada orang yang
mengejeknya itu. Tapi secara fitri, hal ini tak mudah untuk dilakukan. Malahan sebaliknya,
seringkali perbuatan kebajikan dibalas dengan kejahatan (air susu dibalas dengan air tuba).

Rasulullah menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang-orang yang
apabila diputuskan hubungan silaturahmi, maka ia tidak akan memutuskan hubungan tersebut.
Misalkan: ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, tapi kita tetap mendatangi rumah
orang tersebut. Hal ini tak mudah untuk dilakukan, karena biasanya jika ada orang yang tidak
mau datang ke rumah kita, maka kita akan semakin menjauhi orang tersebut.

Rasulullah juga menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang
suka memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadanya.

Ketiga, yaitu orang beriman yang suka tahajjud di malam hari.

Firman Allah pada Al-Furqaan ayat 64:

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (Q.S.
Al-Furqaan: 64)

Bangun di malam hari setelah tidur, untuk kemudian melakukan shalat tahajjud bukanlah
hal yang mudah dilakukan. Tetapi apabila kita membiasakan diri, maka secara otomatis pada
saatnya kita akan terbangun, sehingga hal seperti ini mudah saja untuk dilakukan. Mengapa
tahajjud ini penting? Karena jika ibadah dilakukan di tempat yang sepi, maka konsentrasi kita
akan lebih terpusat, dibandingkan ibadah di tengah keramaian.

Menurut pandangan para ulama, shalat tahajjud merupakan shalat sunnat muakkad, yaitu
shalat sunnat yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah. Shalat sunnat tahajjud biasa dilakukan
paling tidak dua rakaat, umumnya dilakukan delapan rakaat, ditambah dengan witir tiga
rakaat. Begitu besar pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang senantiasa melaksanakan
shalat tahajjud, karena tidak banyak orang yang mampu melakukan shalat tahajjud itu pada
setiap malamnya.

Keempat, yaitu merasa takut akan siksa Allah SWT.

Firman Allah pada Al-Furqan ayat 65-66:

(65) Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami,
sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.

(66) Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (Q.S.
Al-Furqaan: 65-66)

Orang yang senantiasa takut terhadap azab Allah, maka akan menyebabkannya selalu
mematuhi dan mentaati perintah-perintah Allah dan senantiasa meninggalkan segala yang
dilarang oleh Allah SWT. Di dalam Al-Quran digambarkan, bahwa di saat menghadapi
sakaratul maut, maka bagi mereka yang belum memiliki persiapan menghadapi alam kubur dan
alam akhirat itu lalu meminta kepada Allah untuk menunda kematiannya, karena mereka belum
banyak melakukan ibadah kepada Allah. Lalu Allah menjawab, Apabila ajal mendatangi
seseorang, maka ajal tersebut tak bisa diundur dan tidak juga bisa dipercepat.

Jika kita selalu mengingat akan azab Allah, maka pada saat itulah keinginan kita akan
muncul untuk melakukan ibadah kepada-Nya. Patut diingat, bahwa azab yang kita terima tak
pernah ada habisnya. Dimulai pada saat kita menjalani sakaratul maut, kemudian berlanjut ketika
berada di dalam kubur. Kemudian terus berlanjut hingga ketika dibangkitkan dan dikumpulkan
di padang mahsyar. Menurut riwayat, bahwa di padang mahsyar nanti matahari itu sejengkal di
atas kepala, dan manusia pada saat itu kondisinya berbeda-beda. Ada yang selalu merasa dingin
dan sejuk, walaupun matahari berada di atas kepalanya. Ada juga yang merasa badannya
terbakar, karena dibakar oleh matahari.

Pendeknya, ketika di padang mahsyar, maka manusia sudah merasakan alam atau suasana
yang berbeda sesuai dengan amal kebajikannya. Bagi yang mendapatkan siksaan, maka siksaan
tersebut akan terus berlanjut. Ketika berada di dalam neraka, siksaan tersebut takkan pernah ada
habisnya. Setelah kulitnya terbakar oleh api neraka, kemudian kulit tersebut diganti lagi dengan
yang baru. Setelah itu dibakar lagi, kemudian diganti lagi, dan begitu seterusnya tak pernah
berhenti.

Seorang muslim yang baik yang akan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti
adalah mereka yang senantiasa ada di dalam dirinya itu rasa takut terhadap siksaan Allah SWT.
Dan karena rasa takut akan siksaan Allah itulah, maka kita akan menjadi orang yang senantiasa
patuh terhadap perintah-Nya.

Kelima, yaitu sederhana (moderat) di dalam berinfaq.